*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 11-03*
Karya. : SH Mintardja
Kedatangan Mahisa Agni telah menambah mantap orang-orang Rajasa dan Sinelir yang sedang bertempur bersama Mahisa Wonga Teleng. Karena itu, maka mereka pun bertempur semakin gigih. Senjata mereka berputaran dan korban pun berjatuhan semakin banyak.
“Bagaimana keadaan tuan?” bertanya Mahisa Agni.
“Kami berhasil paman.” jawab Mahisa Wonga Teleng.
“Jika demikian, baiklah. Aku akan menahan prajurit yang mengejarku.” berkata Mahisa Agni.
Dengan serta merta maka Mahisa Agni pun kemudian memerintahkan pengikutnya untuk menyiapkan diri melawan sekelompok prajurit yang mengejarnya.
Namun mereka bukan lawan yang cukup kuat. Sejenak kemudian mereka pun telah pecah dan berlari-larian memencar mencari kawan-kawannya yang lain dan menggabungkan diri di arena pertempuran yang lain.
Dalam pada itu, Panglima Pasukan Pengawal pun telah meninggalkan tempatnya pula untuk menolong pasukannya yang terdesak di beberapa bagian dari arena di halaman istana itu. Bahkan sebagian besar dari lingkaran-lingkaran pertempuran benar-benar telah dikuasai oleh prajurit yang setia kepada Tohjaya.
Sementara itu, Lembu Ampal yang bertempur di luar dinding istana pun harus berjuang mati-matian untuk dapat bertahan. Jumlah orang-orang Rajasa dan Sinelir memang tidak cukup banyak. Sebenarnyalah, bahwa mereka mengharapkan bantuan yang datang dari luar kota, untuk membantu menahan sergapan prajurit-prajurit yang sedang marah sekaligus mencari muka.
Betapa usaha Lembu Ampal untuk menolong orang-orang Rajasa dan Sinelir, namun mereka tidak akan dapat berbuat melampaui kemampuan mereka. Karena itu, maka orang-orang Rajasa dan Sinelir semakin lama menjadi semakin terdesak menjauhi dinding istana.
Dalam pada itu, di dalam istana, Mahisa Agni, kedua Panglima, Mahisa Wonga Teleng dan orang-orang terpilih hanya mampu menolong Pasukan Pengawal dan Pelayan Dalam yang berada disekitarnya dan terbatas sekali. Tetapi keadaannya masih agak lebih baik dengan kawan-kawannya yang berada di luar dinding istana.
Namun dalam pada itu, pertempuran di pintu gerbang dan regol-regol lorong di dinding kota pun terjadi dengan sengitnya. Pasukan Ranggawuni dan Mahisa Cempaka melanda prajurit Singasari yang mempertahankan kota itu dengan dahsyatnya.
Tetapi sebenarnyalah, bahwa pasukan Ranggawuni dan Mahisa Cempaka, bukannya yang berada di mulut gerbang dap regol itu sajalah yang akan menerobos memasuki kota. Sebagian dari mereka, justru telah berada memasuki kota. Sebagian dari mereka, justru telah berada di dalam. Mereka memasuki kota tanpa bertempur sama sekali, karena mereka menyamar sebagai orang-orang yang akan berjualan hasil kerja mereka dan hasil bumi dari luar kota.
Orang-orang itulah yang sudah berada di dalam. Mereka mencari tempat untuk menanggalkan pakaian penyamaran mereka dan mengenakan pakaian tempur yang sudah mereka bawa tersembunyi di bawah barang dagangan. Dengan tergesa-gesa mereka mengenakan lawe di pergelangan tangan sebagai ciri yang sudah ditentukan.
Barulah kemudian mereka memencar. Mereka merayap mendekati dinding halaman istana dari segala jurusan. Bahkan mereka tidak langsung terjun ke arena pertempuran, karena beberapa orang di antara mereka sempat memasuki pintu-pintu rumah yang tertutup rapat. Dengan agak memaksa pintu-pintu itu pun terbuka. Penghuninya dengan gemetar menatap orang-orang yang tidak dikenalnya berdiri di depan pintu.
“Jangan takut.” berkata pengikut Ranggawuni dan Mahisa Cempaka, “Aku adalah prajurit-prajurit Singasari yang setia kepada sumbernya pemimpin pemerintahan yang sebenarnya. Kami adalah pendukung-pendukung tuanku Ranggawuni dan tuanku Mahisa Cempaka, keturunan Ken Dedes.”
Orang-orang itu bagaikan membeku sambil mendengar keterangan itu.
“Nah, tenanglah. Kami akan berjuang bagi kalian melawan Tohjaya yang tamak.”
Sepeninggal orang-orang yang berdiri dengan senjata di tangan di muka pintu rumah-rumah mereka itu, barulah mereka mulai berpikir. Dan sebagaian besar dari mereka mulai disentuh oleh harapan, “Bukankah tuanku Ranggawuni itu putera tuanku Anusapati, sedangkan tuanku Mahisa Cempaka adalah putera tuanku Mahisa Wonga Teleng?”
Orang-orang yang mendatangi pintu-pintu rumah yang tertutup itu ternyata terkejut ketika mereka melihat seorang yang terluka berIari-Iari memasuki halaman dan berusaha bersembunyi di balik dinding. Tetapi ketika orang yang terluka itu sedang berusaha menahan darah yang keluar dengan kain panjangnya, ia terkejut melihat beberapa orang mendatanginya.
Meskipun ia sudah terluka, namun dengan sigapnya ia meloncat dan mengacukan senjatanya.
“Kenapa kau ki Sanak?” bertanya orang-orang yang baru datang.
Orang yang terluka itu heran. Apakah orang-orang itu tidak mengetahui bahwa sedang terjadi perang di seluruh bagian kota di sekitar dinding istana?
Namun tiba-tiba ketika terpandang olehnya gelang lawe di pergelangan tangannya maka orang yang terluka itu pun berkata, “Apakah kau menyadari bahwa lawe di tanganmu itu mempunyai arti?”
“Tentu.” jawab orang-orang itu. Dan hampir di luar kesadaran mereka, mereka pun serentak memandang pergelangan tangan orang yang terluka itu. Orang itu pun mengenakan lawe di tangannya meskipun sudah menjadi merah oleh darah.
“Kau orang Rajasa atau Sinelir?”
“Bukan. Tetapi aku berada dipihaknya. Aku adalah pembantu di rumah seorang Senapati Pasukan Pengawal. Aku adalah pekatiknya.”
“O.” sahut orang yang baru datang itu, “Dimana Senapatimu sekarang?”
“Bertempur. Tetapi agaknya orang-orang Rajasa dan Sinelir terdesak, dan bahkan hampir tidak dapat bertahan lagi.”
Orang-orang itu terkejut. Dengan serta merta salah seorang dari mereka bertanya, “Jadi orang-orang Rajasa dan Sinelir sudah terdesak?”
“Ya. Berat sekali.”
Mereka berpandangan sejenak, lalu salah seorang bergumah, “Kita memang sudah menduga. Tetapi tidak secepat itu. Karena itu, marilah, kita segera saja turun ke medan.”
Orang yang terluka itu termangu-mangu. Lalu katanya, “Jika kalian segera membantu, keadaan tentu akan berubah. Aku pun akan memampatkan luka ini. Seterusnya aku akan memanggil para pelayan dan pembantu yang lain. Siapapun, asal ia seorang laki. Demikian juga yang dilakukan oleh Senapati-Senapati yang lain.”
Orang-orang itu tidak menyahut. Segera mereka berlari-larian menyusur lorong menuju ke arah istana.
Hampir bersamaan waktunya, kawamnya yang tersebar pun mulai menyadari bahwa keadaan memang sudah menjadi gawat sekali.
Sebenarnya, bahwa pada saat itu orang-orang Rajasa dan Sinelir sudah terdesak semakin jauh. Mereka bertempur sambil menarik diri. Bahkan sebagaian dari mereka telah bertempur di padesan yang ditumbuhi oleh pepohonan yang rimbun.
Dalam keadaan yang demikian itulah beberapa orang muncul dari lorong-lorong sempit, justru dari padesan-padesan. Beberapa kali terdengar suitan-suitan nyaring sebagai isyarat kehadiran mereka dan sekaligus perintah dan isyarat bagi kawan-kawan mereka agar segera turun ke medan.
Beberapa orang Rajasa dan Sinelir yang melihat kehadiran mereka bersorak dengan serta merta. Orang-orang yang mempunyai tanda lawe berwarna putih di pergelangannya itu tentu pasukan yang telah berhasil menyusup memasuki kota dan segera akan bertempur bersama mereka.
Demikianlah yang sebenarnya segera terjadi. Orang-orang yang bermunculan dari lorong-lorong sempit dari segala arah di seputar dinding halaman istana itu pun segera bersiaga menghadapi setiap kemungkinan.
Prajurit-prajurit yang sedang mendesak dan bahkan mulai mengejar orang-orang Rajasa dan Sinelir yang terpaksa menarik diri itu pun terkejut. Semula mereka menyangka bahwa yang datang itu hanyalah beberapa orang yang tidak berarti. Tetapi ternyata bahwa beberapa orang itu muncul di setiap lorong, sehingga jumlah mereka seluruhnya tentu akan mempengaruhi pertempuran di sekitar istana itu.
Dalam pada itu, orang- Rajasa dan Sinelir yang semakin mundur itu pun seolah-olah mendapatkan tenaga baru di dalam diri mereka. Dengan sepenuh kemampuan mereka berusaha untuk bertahan.
Sejenak kemudian, orang-orang yang bermunculan dari lorong-lorong itu pun telah terjun pula kemedan. Prajurit-prajurit yang semula mendesak orang-orang Rajasa dan Sinelir, terpaksa membagi diri. Sebagian dari mereka terus berusaha mendesak orang-orang Rajasa dan Sinelir, sedang yang lain melawan musuh-musuh mereka yang baru.
Namun dengan demikian, maka kekuatan mereka mulai terpecah. Apalagi orang-orang Rajasa dan Sinelir mulai bertahan dengan sekuat kemampuan. Karena lawan mereka menjadi berkurang, maka mereka tidak lagi harus mundur terus menerus dan apalagi bersembunyi dan bertempur sambil berlari-lari di kebun-kebun yang ditumbuhi pepohonan.
Karena itulah maka pertempuran di luar halaman istana itu menjadi semakin riuh. Perlahan-lahan orang-orang Rajasa dan Sinelir yang telah mendapat kekuatan baru itu berhasil menghentikan desakan lawan-lawannya. Bahkan kemudian pertempuran yang terjadi di luar dinding itu seolah-olah menjadi seimbang.
Namun dalam pada itu, di dalam dinding halaman, orang-orang Rajasa dan Sinelir masih mendapatkan kesulitan. Prajurit Singasari yang setia kepada Tohjaya, dengan kemarahan yang meluap-luap dibumbui oleh harapan untuk mendapatkan hadiah atau pujian telah membuat mereka bagaikan liar. Senjata mereka seolah-olah menjadi binatang buas yang kehausan. Sedangkan darah adalah minuman yang sangat menggairahkan.
Mahisa Agni yang semula masih mempertimbangkan semua tingkah lakunya, walaupun di peperangan, mulai menjadi semakin garang. Ia telah didorong oleh perhitungan tentang kemungkinan-kemungkinan yang paling pahit akan terjadi pada Pasukan Pengawal dan Pelayan Dalam yang semakin terdesak.
Dengan demikian, maka Mahisa Agni pun kemudian berusaha untuk melemahkan musuhnya sebanyak-banyaknya. Meskipun ia tidak berhasrat membunuh semata-mata, tetapi jika kemudian terjadi kematian, adalah akibat dari perselisihan yang tidak dapat diselesaikan dengan peradaban manusia yang seharusnya menjadi semakin berkembang.
Kegarangan Mahisa Agni itu ternyata mempunyai pengaruh yang luas. Bersama-sama dengan para pengawal khususnya yang membelitkan sehelai kain putih di lehernya, Mahisa Agni mengamuk seperti benteng yang terluka. Setiap kelompok lawan yang dilanda olehnya bersama kelompok kecilnya, menjadi pecah berserakan.
Dalam keadaan yang demikian itulah, maka orang-orang Rajasa dan Sinelir mengambil keuntungan. Selagi prajurit-prajurit itu belum dapat menyesuaikan dirinya, maka mereka pun harus dilumpuhkannya sama sekali.
Demikian juga kedua Panglima yang ada dihalaman itu. Mereka pun bertempur dengan gigihnya, tanpa memperhatikan nasib mereka sendiri.
Sementara itu, Mahisa Wonga Teleng, oleh Mahisa Agni dimintanya untuk tetap berada di bangsalnya sambil melindungi ibundanya Ken Dedes dan keluarganya. Mereka masih harus tetap berwaspada. Setiap saat kelompok-kelompok yang lain akan datang dan berusaha membinasakan seluruh keluarga itu.
Usaha Mahisa Agni dan para Panglima itu sedikit dapat menolong suasana. Bukan saja Pasukan Pengawal dan Pelayan Dalam yang mengalami tekanan yang berat, tetapi prajurit-prajurit lawannya kadang-kadang harus berlarian bercerai berai dilanggar oleh pasukan Mahisa Agni yang tidak saja berada di arena tertentu.
Tetapi meskipun demikian, adalah sangat sulit bagi orang orang Rajasa dan Sinelir untuk tetap bertahan. Tekanan yang rasa-rasanya semakin berat, hampir tidak tertanggungkan lagi. Sedangkan regol-regol halaman dan gerbang di depan istana sudah di tutup rapat-rapat oleh prajurit-prajurit yang bertugas.
Dengan demikian maka para prajurit dari Pasukan Pengawal dan Pelayan Dalam yang ada di dalam, tidak akan dapat menarik diri keluar dari halaman. Sedangkan yang ada di luar tidak akan dapat masuk.
Tetapi keadaan itu justru membuat orang-orang Rajasa dan Sinelir bagaikan kehilangan pilihan. Tidak ada cara lain daripada bertempur sampai mati.
Mereka yang berhati kecil, kadang-kadang hampir menjadi putus asa. Tetapi jika mereka melihat Mahisa Agni dan para pengawal khususnya mengamuk dan memecah setiap kelompok prajurit yang mencoba menghalanginya, maka keberanian mereka pun menjadi berkembang kembali. Dengan serta merta mereka menyerbu dan mempergunakan kesempatan sebaik-baiknya. Prajurit yang sedang tercerai berai itu pun kemudian, diserang tanpa ragu-ragu, sehingga korban pun berjatuhan.
Namun sekali lagi orang-orang Rajasa dan Sinelir harus mengakui kelebihan kekuatan para prajurit. Mereka selalu menekan orang-orang Rajasa dan Sinelir dengan jumlah yang seolah-olah tidak pernah berkurang, justru bertambah-tambah.
Apalagi kemudian Panglima prajurit itu yang berada di bangsal Tohjaya, setelah menerima laporan dari penghubungnya, segera mengambil keputusan, “Perang ini harus cepat selesai. Jika tidak, maka Mahisa Agni akan mengurangi jumlah prajurit kita sedikit demi sedikit, sehingga akhirnya menjadi lemah.”
“Jadi, bagaimana maksudmu?”
“Ampun tuanku. Jika berkenan, maka hamba akan melepaskan prajurit-prajurit cadangan di sekitar bangsal ini. Mereka harus bergerak serentak untuk menumpas lawan dalam waktu yang dekat.”
“Jadi bagaimana dengan bangsal ini.”
“Hamba akan meninggalkan pengawal secukupnya.”
“Dan kau!”
“Hamba harus menahan sergapan Mahisa Agni di seluruh medan. Ia berada di mana-mana dan memungut korban sebanyak–banyaknya. Karena itu hamba harus menahannya agar ia terikat disatu tempat. Biarlah Senapati pilihan menghentikan gerak kedua Panglima yang berkhianat, sedang yang lain harus menyelesaikan tuanku Mahisa Wonga Teleng.”
“Dan ibunda Ken Dedes. Anak-anaknya dan menantunya.”
“Hamba tuanku.”
“Tetapi kau harus meninggalkan prajurit yang cukup di sekitar bangsal ini.”
“Tentu tuanku.”
“Pergilah, dan cepat kembali.”
Panglima itu pun kemudian keluar dari bangsal dengan pengawal-pengawal pilihan. Ia sudah bertekad untuk mencoba kemampuan Mahisa Agni yang seolah-olah seperti dongengan tentang dewa-dewa yang turun dari langit, dan tidak terkalahkan oleh manusia yang manapun juga.
Selain ia sendiri turun kemedan, maka ia pun telah melepaskan sebagian dari kelompok-kelompok pasukan cadangannya yang ditempatkan di sekitar bangsal Tohjaya.
Dengan demikian maka keadaan medan menjadi semakin berat sebelah. Orang-orang Rajasa dan Sinelir menjadi semakin terdesak. Bahkan kemudian sekelompok prajurit telah berniat untuk membinasakan Mahisa Wonga Teleng dan saudaranya, sekaligus Ken Dedes dan menantunya, ibu Ranggawuni.
Mahisa Agni dan kedua Panglima yang berada di pihak Ranggawuni menjadi gelisah. Mereka melihat gelombang yang seakan-akan bergulung-gulung datang melanda pasukan orang-orang Rajasa dan Sinelir.
Beberapa orang Senapati memang menjadi seakan-akan berputus asa Bahkan ada di antara mereka yang menjadi kecewa, seolah-olah mereka telah terjebak oleh rencana Ranggawuni dan Mahisa Cempaka.
“Kita harus hancur lebih dahulu. Baru kemudian mereka akan memetik buahnya.”
Namun dengan demikian, mereka yang menjadi berputus asa itu pun justru menjadi sangat berbahaya. Mereka bertempur tanpa pengekangan diri lagi. Bagi mereka sudah tidak ada pilihan lain kecuali mati.
Dalam pada itu, di luar dinding istana, prajurit-prajurit dan rakyat yang berpihak kepada Ranggawuni semakin banyak berdatangan. Ketika salah satu pertahanan para prajurit yang menjaga pintu gerbang dapat dipecahkan, maka bagaikan bendungan yang tersobek oleh banjir bandang, maka pasukan yang berada di luar dinding kota pun berdesakan masuk. Mereka langsung berIari-Iarian menyerbu ke arah istana.
Baru kemudian mereka menyadari, bahwa baru sebuah pintu gerbang yang dapat mereka susupi. Dengan demikian, maka mereka pun kemudian memencar kebeberapa arah untuk membantu kawannya yang sedang bertempur dengan sengitnya.
Sementara itu, Lembu Ampal menjadi agak berlega hati. Ia mulai yakin bahwa prajurit-prajurit yang mempertahankan istana itu pun akan segera dapat dipecahkan.
Tetapi ternyata pertahanan dipintu-pintu gerbang halaman istana cukup rapat. Pintu-pintu besi yang besar telah diturunkan. Bukan saja digerbang induk, tetapi di setiap pintu yang menembus keluar dinding halaman.
Namun Lembu Ampal tidak saja dapat menikmati kemenangan yang perlahan-lahan mulai nampak di luar dinding istana. Tetapi ia mulai membayangkan, bagaimanakah nasib orang-orang Rajasa dan Sinelir di dalam dinding istana. Tetapi Lembu Ampal sama sekali tidak menemukan sebuah regol pun yang terbuka.
Untuk beberapa saat lamanya, Lembu Ampal mencari cara yang sebaik-baiknya, agar ia dapat membantu pasukan yang ada di dalam halaman. Meskipun di dalam halaman itu ada Mahisa Agni, kedua Panglima dari Pasukan Pengawal dan Pelayan Dalam, Mahisa Wonga Teleng dan adik-adiknya, namun jumlah pasukannya tentu belum memadai untuk melawan prajurit yang terlampau kuat di dalam halaman itu.
Di luar halaman, keadaan orang-orang Rajasa dan Sinelir menja di semakin baik. Jumlah mereka semakin lama menjadi semakin bertambah dengan pasukan yang berhasil menyusup ke dalam kota. Meskipun jumlah mereka tidak melonjak terlampau cepat, karena baru sebuah regol yang dapat ditembus, namun keadaan mereka yang bertempur di luar kota sudah menjadi semakin baik dan meyakinkan.
Dalam pada itu, Tiba-tiba Lembu Ampal teringat, bagaimana ia di malam hari memasuki halaman tidak melalui regol yang manapun juga. Karena itu, maka ia pun segera menemui beberapa orang pemimpin kelompok dan memberikan beberapa petunjuk kepada mereka.
“Kita harus segera memasuki halaman. Jika tidak, keadaan kawan-kawan kita di dalam tentu akan menjadi sangat parah.” berkata Lembu Ampal.
“Bagaimana kita dapat memasuki halaman istana itu?” bertanya seorang pemimpin kelompok.
“Memang tidak ada pintu regol yang dapat kita buka dari luar. Tetapi dinding itu tidak terlampau tinggi. Kita akan meloncatinya.”
“Tidak terlampau tinggi? Tetapi kami tidak akan dapat meloncat begitu saja.”
Lembu Ampal mengerutkan keningnya. Memang kebanyakan prajurit tidak akan dapat meloncat begitu saja. Dengan ilmu yang wantah maka dinding itu memang terlampau tinggi.
“Carilah sebatang bambu. Kita akan memanjat naik, ke mudian meloncat turun.” Ia berhenti sejenak, lalu, “Maksudku sebatang untuk kelompok, agar dapat bersama-sama meloncat beberapa orang sekaligus. Jika kita meloncat masuk seorang demi seorang, maka dada kita akan diterima oleh ujung tombak tanpa perlawanan. Tetapi jika lima enam orang bersama-sama, maka keadaannya akan berbeda.”
Kawan-kawannya termenung sejenak. Mereka menyadari bahaya yang ada dibalik dinding itu. Bahkan terbayang diangan-diangan mereka ujung tombak yang mencuat seperti daun ilalang yang yang tumbuh dengan lebatnya.
“Tetapi kita harus masuk.” desis seorang prajurit muda.
“Ya.” sahut yang lain, “Kita mencari beberapa batang bambu atau kayu yang cukup panjang.”
“Di padesan itu.”
Beberapa orang pun kemudian berlari-larian mencari batang-batang bambu. Mereka tidak menghiraukan lagi pertempuran yang terjadi di luar dinding halaman, karena kawan-kawan mereka agaknya akan segera berhasil menguasai keadaan.
Sejenak kemudian maka mereka pun telah kembali sambil membawa batang-batang bambu yang akan mereka pakai untuk memanjat.
“Hati-hatilah.” berkata Lembu Ampal, “Jagalah jangan sampai ujung bambumu mencuat dan nampak dari dalam. Jika mereka melihat lebih dahulu, maka mereka akan siap menunggu dengan ujung senjatanya.”
Prajurit-prajurit itu berpandangan sejenak. Namun mereka pun segera menyadari keadaan. Karena itu, dengan tangkasnya mereka menarik pedang mereka dan memotong bambu-bambu itu setinggi dinding halaman.
Prajurit-prajurit Singasari tidak sempat berbuat apa pun juga karena mereka harus mempertahankan diri dari tekanan lawannya. Jumlah mereka yg berpihak kepada Ranggawuni dan Mahisa Cempaka menjadi semakin lama semakin bertambah-tambah.
Sesaat kemudian bambu-bambu itu pun telah tersandar pada dinding. Lembu Ampallah yang pertama-pertama siap untuk memanjat sambil berkata, “Marilah. Kita harus segera membantu kawan kawan kita yang pasti mendapatkan kesulitan di dalam halaman itu.”
Beberapa orang pun segera bersiap. Mereka masih ragu-ragu sejenak. Namun ketika mereka melihat Lembu Ampal mulai memanjat, maka yang lain pun segera memanjat pula.
Sebenarnya Lembu Ampal tidak memerlukan bambu-bambu itu tetapi seolah-olah ia sengaja memberikan contoh kepada kawan-kawan nya, bagaimana mereka memasuki dinding halaman istana itu.
Ketika mereka sampai di bibir dinding halaman itu, maka Lembu Ampal pun segera memberikan isyarat. Kawan-kawannya segera berloncatan turun memasuki halaman dengan senjata terhunus.
Beberapa orang prajurit yang sedang menekan dengan yakin akan dapat membinasakan orang-orang Rajasa dan Sinelir yang terdorong sampai ke sudut halaman itu pun terkejut bukan buatan. Mereka melihat beberapa orang tiba-tiba saja telah meloncat turun dengan senjata di tangan.
Bahkan sebelum mereka sempat berbuat apa-apa, maka orang kedua telah memanjat pada setiap batang bambu yang tersandar pada dinding batu itu, dan yang sejenak kemudin telah meloncat masuk pula.
Sejenak kemudian, seorang Senapati yang menyadari keadaan, segera meneriakkan aba-aba. Beberapa orang prajurit pun segera menyerbu menyerang orang-orang yang meloncat memasuk halaman itu.
“Binasakan mereka, selagi jumlah mereka belum bertambah lagi.”
Namun ketika aba-aba itu diteriakkan, dan gemanya masih belum lenyap, maka orang-orang berikutnya telah memasuki halaman pula.
Dengan demikian maka sekelompok prajurit dengan tergesa-gesa menyerang mereka. Mereka berdatangan dari segala arah.
Meskipun demikian sebagian dari prajurit-prajurit itu masih harus tetap di tempatnya, karena mereka sedang terlibat di dalam pertempuran.
Orang-orang Rajasa dan Sinelir yang tertekan sampai kesudut, dan yang semula sudah tidak mengharapkan dapat lolos dari maut, sehingga mereka bertempur membabi buta karena putus asa, merasa sedikit berpengharapan. Yang pasti adalah lawan mereka berkurang, sehingga jika mereka harus mati, maka mereka akan dapat memperpanjang umurnya beberapa saat lagi.
Pertempuran yang kemudian timbul antara para prajurit dan orang-orang yang berloncatan masuk itu pun menjadi semakin sengit. Prajurit yang kemudian mengepung mereka yang meloncat turun dari atas dinding batu itu menjadi semakin banyak pula. Satu dua orang masih berloncatan turun terus menerus.
Namun pada suatu saat, arus orang-orang yang meloncat dinding itu pun terhenti. Orang-orang yang sudah ada di dalam, dipimpin langsung oleh Lembu Ampal menjadi heran. Jumlah yang sudah ada di dalam itu masih terlampau sedikit. Sedang yang lain tiba-tiba saja menghentikan bantuannya.
“Belum banyak artinya.” berkata Lembu Ampal di dalam hati.
Namun bagi mereka yang sejak semula merasakan tekanan yang sangat berat di dalam halaman itu, merasa bahwa bantuan itu telah dapat menumbuhkan tekad yang baru di dalam dada masing-masing. Terlebih adalah mereka yang bertempur didekat orang orang itu meloncat dari luar halaman.
Lembu Ampal menjadi termangu-mangu sejenak. Apakah orang orang yang ada diluar dinding telah dapat ditekan pula sehinga mereka tidak dapat membantu pasukan yang ada di dalam.
Tetapi Lembu Ampal tidak dapat merenungi hal itu terus menerus. Ia pun segera sadar, bahwa ia harus bertempur. Bukan merenung.
Ternyata bahwa ketika Lembu Ampal mulai mengayunkan senjatanya dengan segenap kemampuannya, maka orang-orang yang mengepungnya terdesak surut meskipun tidak segera terpecah. Tetapi kemampuan Lembu Ampal benar-benar mereka segani. Senjatanya bagaikan angin prahara yang menyambar-nyambar tidak henti-hentinya.
Dengan demikian maka kelompok yang dipimpin oleh Lembu Ampal dan yang masih terkepung melekat dinding itu telah menghisap kekuatan yang cukup besar dari prajurit Singasari yang sedang berjuang mempertahankan kekuasaan Tohjaya itu.
Tetapi jumlah kelompok kecil yang memasuki halaman itu masih belum memadai. Betapa gigihnya mereka bertempur, dan betapa besar kemampuan Lembu Ampal, namun dibawah pimpinan dua orang Senapati yang sekaligus melawan Lembu Ampal, maka kelompok kecil itu benar-benar telah terkepung rapat rapat, seperti sekelompok orang-orang Rajasa dan Sinelir yang masih saja tersudut tidak begitu jauh dari kelompok yang dipimpin oleh Lembu Ampal. Namun orang-orang Rajasa dan Sinelir itu merasa bahwa tekanan atas mereka sudah menjadi berkurang meskipun mereka belum berhasil memecahkan kepungan atas mereka.
Namun yang terjadi kemudian adalah diluar dugaan para prajurit dan bahkan Lembu Ampal sendiri. Ternyata pasukan yang ada d:luar dinding halaman, tidak berniat menghentikan usahanya membantu orang-orang Rajasa dan Sinelir yang ada di dalam. Namun salah seorang dari mereka berpendapat, bahwa sebaiknya mereka berpindah tempat, agar pasukan yang memasuki halaman itu agak terpencar.
Dengan demikian maka mereka pun segera mengangkat bambu-bambu yang tersandar pada dinding halaman, dan memindahkannya beberapa puluh langkah ke samping.
Baru sejenak kemudian maka beberapa orang mulai memanjat bambu itu, dan sambil berteriak nyaring berloncatan turun beberapa puluh langkah dari pasukan yang dipimpin oleh Lembu Ampal.
Kehadiran mereka pun masih juga mengejutkan orang-orang yang ada di dalam. Namun para prajurit pun segera menyadari bahwa orang-orang itu pun dapat menjadi sangat berbahaya bagi mereka sehingga sekejap kemudian sebagian dari mereka pun segera menyerbu dan mengepungnya.
Tetapi yang sudah terjadi itu pun segera terulang lagi. Setelah beberapa orang meloncat masuk dan terlibat dalam perkelahian yang seru, maka batang-batang bambu itu pun bergeser lagi, dan beberapa orang telah berloncatan pula memasuki halaman.
Lembu Ampal yang melihat cara yang dipilih oleh pasukannya itu tersenyum di dalam hati. Ia memuji kecerdikan mereka, sehingga dengan demikian, maka musuh pun seakan-akan telah terpecah-pecah dalam kelompok-kelompok kecil.
Dalam pada itu. sejenak kemudian keadaan di satu sisi itu segera berubah. Tetapi kedatangan pasukan yang berloncatan dari dinding itu belum mempengaruhi keseluruban dari pertempuran. Prajurit-prajurit yang dilepas dari tugasnya di sekitar bangsal Tohjaya pun telah turun kedalam pertempuran, sehingga seolah-olah jumlah mereka pun menjadi bertambah-tambah banyak.
Namun dalam pada itu, orang-orang yang berloncatan masuk itu pun ternyata mengalir tidak henti-hentinya di tempat yang selalu bergeser di seputar halaman istana Singasari itu.
Para prajruit yang setia kepada Tohjaya mulai menjadi berdebar-debar. Mereka mencoba membagi diri untuk menahan arus orang-orang yang berloncatan masuk. Meskipun mereka tidak lebih dari enam atau tujuh orang setiap kali, namun berturut-turut tidak ada henti-hentinya.
Akhirnya prajurit-prajurit Singasari yang mempertahankan kedudukan Tohjaya itu pun tidak dapat menahan orang-orang yang merembes semakin banyak itu. Beberapa orang di antara mereka berhasil lolos dan langsung menusuk kepusat halaman istana Singasari.
Yang membuat prajurit-prajurit Singasari menjadi cemas adalah karena sebagian dari mereka yang memasuki halaman itu adalah prajurit-prajurit Singasari pula yang telah beberapa lama bertugas di Kediri, ditambah dengan anak-anak muda yang dengan latihan khusus telah menggabungkan diri kedalam pasukan Ranggawuni dan Mahisa Cempaka.
Keadaan pertempuran dihalaman itu mulai berubah. Di mana-mana mulai terasa ada perubahan. Orang-orang Rajasa dan Sinelir yang terkepung di mana-mana, merasakan kepungan itu menjadi kendor.
Baru kemudian mereka menyadari, bahwa tentu ada bantuan yang sudah berhasil memasuki halaman dalam jumlah yang cukup, sehingga prajurit-prajurit Tohjaya itu harus melawan musuh yang lebih banyak.
Sementara itu Panglima prajurit yang setia kepada Tohjaya menyusup di antara pertempuran dihalaman untuk mencari Mahisa Agni. Bagi Panglima itu. Mahisa Agni adalah orang yang paling berbahaya yang harus lebih dahulu dibinasakan.
Dengan pengawal yang cukup banyak, dan beberapa orang Senapati yang memiliki kemampuan yang hampir sempurna, Panglima itu berhasrat untuk membinasakan Mahisa Agni terlebih dahulu sebelum pengikut-pengikutnya.
“Betapapun tinggi ilmunya, ia tidak akan dapat melawan kita berlima.” berkata Panglima itu kepada empat orang Senapatinya yang memiliki ilmu yang melampaui kawan-kawannya. Bahkan di antara Senapati yang lain, keempat orang itu beserta Panglimanya merupakan sekelompok prajurit yang tidak akan dapat dikalahkan oleh siapapun juga.
Sejenak mereka menyusuri daerah pertempuran yang semakin seru. Tetapi Panglima beserta keempat Senapati terpilih itu, bersama pengawalnya tidak menghiraukaan lagi lawan-lawannya yang lain. Hanya kadang-kadang mereka berhenti sejenak, menggilas orang-orang yang mencoba menghalangi langkah mereka.
Dalam pada itu, Panglima Pelayan Dalam yang bertempur dengan sengitnya, melihat sekelompok prajurit pilihan itu.
Sejenak ia termangu-mangu. Ia menyadari arti kelima orang yang pilih tanding itu, sehingga dengan demikian, maka ia tidak mau dengan tergesa-gesa menghalanginya. Tetapi dengan diam-diam ia berusaha mengikuti kemana ia pergi.
Pengawalnya menjadi terheran-heran. Tetapi ketika mereka melihat Panglima prajurit yang setia kepada Tohjaya itu melintas bersama empat Senapati dan para pengawalnya, maka para pengawal Panglima Pelayan Dalam itu pun menyadari, bahwa di arena itu telah turun lawan yang sangat berat. Karena itu, para pengawal itu pun sekedar mengikuti Panglimanya tanpa berbuat sesuatu. Hanya kadang-kadang mereka bertempur melawan prajurit-prajurit yang menyerang mereka dengan tiba-tiba.
Tetapi agaknya nasib mereka agak kurang baik. Dengan tanpa disadari, maka Panglima prajurit itu telah melihat Panglima Pelayan Dalam itu, sehingga dengan menggeram ia berkata, “Kita selesaikan tikus itu, sebelum kita bertemu dengan Mahisa Agni.”
Keempat Senapati yang menyertainya melihat Panglima Pelayan Dalam itu pula. Salah seorang dari mereka berkata, “Silahkan Panglima mencari Mahisa Agni. Biarlah aku singgah sejenak untuk menyelesaikannya.”
“Ia cukup berbahaya. Karena itu agar pekerjaan kita menjadi cepat selesai, biarlah kita pergi bersama-sama.”
Keempat Senapati dan para pengawalnya tidak ada yang membantah lagi. Mereka mengikuti saja ketika Panglima itu berbelok dan menuju kearah Panglima Pelayan Dalam yang menjadi berdebar-debar.
“Ia melihat aku.” berkata Panglima itu.
“Ya.” sahut pengawalnya, “Ia datang bersama para Senapati berwajah hantu yang empat itu.”
“Apa boleh buat.” geram Panglima Pelayan Dalam, “Sebenarnya aku tidak gentar melawan Panglima itu seorang lawan seorang. Tetapi bersama-sama dengan empat Senapati berhati iblis itu, mereka mempunyai kekuatan yang luar biasa.”
“Kami sudah siap.” desis seorang pengawalnya, “Memang tidak ada pilihan lagi. Kita harus bertempur.”
Dalam pada itu, Panglima prajurit yang setia kepada Tohjaya itu semakin lama menjadi semakin dekat. Orang-orang Rajasa dan Sinelir yang mencoba menghalanginya, seakan-akan dengan mudahnya disibakkan seperti daun ilalang.
Panglima Pelayan Dalam itu pun segera mempersiapkan diri. Meskipun ia sadar, melawan mereka berlima adalah suatu pekerjaan yg tidak mungkin. Seandainya pengawalnya mampu menahan pengawal-pengawal Panglima itu, tetapi keempat Senapati itu tentu akan berhasil lepas dan bersama-sama mencincangnya.
“Hanya Mahisa Agni lah yang mungkin dapat melawan mereka berlima sakaligus. Itu pun jika memang Mahisa Agni mempunyai ilmu ajaib yang disebut Gundala Sasra.” berkata Panglima itu di dalam hatinya.
Sementara itu, Panglima dan empat orang Senapati yang disebut berhati iblis itu pun menjadi semakin dekat. Wajah mereka menjadi tegang dan menakutkan, mencerminkan warna hati iblis mereka.
Dalam ketegangan itu, tiba-tiba Panglima Pelayan Dalam merasa seseorang menggamitnya. Ketika ia berpaling dilihatnya Panglima Pasukan Pengawal telah berdiri dibelakangnya bersama beberapa orang pengawalnya.
“He, apakah kau akan melawannya?” bertanya Panglima Pasukan Pengawal.
“Tidak ada pilihan lain.” desis Panglima Pelayan Dalam.
“Sebaiknya kau mengelak lebih dahulu sebelum kau mendapat kekuatan yang cukup. Mereka berlima adalah kekuatan yang tidak ada bandingnya.”
“Semula aku hanya mengamatinya dari kejauhan. Tetapi mereka melihat aku dan mereka mendatangi. Aku tidak akan ingkar akan tugas keprajuritanku.”
Panglima pasukan Pengawal itu termenung sejenak. Lalu katanya, “Memang. Tidak seharusnya kita ingkar.” ia termenung sejenak, lalu, “Baiklah. Aku bersamamu sekarang.”
Panglima Pelayan Dalam itu memandanginya sejenak. Desisnya, “Apakah kau akan melawan mereka pula.”
“Apa boleh buat.”
Kedua Panglima itu pun kemudian mengambil jarak. Karena jumlah pengawal mereka bertambah, maka masing-masing telah menyiapkan sekelompok kecil prajurit yang paling baik untuk bersama-sama melawan kelima orang lawan yang tidak ada bandingnya itu.
“Setidak–tidaknya kita harus berusaha menahan mereka.” berkata Panglima Pasukan Pengawal kepada prajurit-prajurit terpilih yang mengawalnya, “Karena itu. kita harus bertempur sebaik–baiknya. Mereka tentu akan terbagi dan melawan kami berdua. Tetapi aku dan Panglima Pelayan Dalam harus melawan mereka dalam kelompok pula.”
Prajuritnya mengangguk-angguk. Tetapi mereka pun sadar, siapakah Panglima dan keempat Senapati yang disebut berhati iblis itu.
Namun mereka adalah prajurit juga. Prajurit yang pernah mendapatkan ilmu keprajuritan. Bukan saja dari pimpinan mereka tetapi sejak mereka memasuki lapangan keprajuritan, mereka merasa sudah memiliki bekal dari perguruan masing-masing.
Itulah sebabnya, mereka bahwa mereka bukan hanya sekedar akan membunuh diri. Apalagi dalam jumlah yang lebih banyak.
Namun dalam pada itu, Panglima Pelayan Dalam dengan diam-diam telah memerintahkan dua orang penghubungnya untuk mencari Mahisa Agni, dengan pesan, “Panglima prajurit bersama keempat Senapati berhati iblis itu tidak dapat dibatasi tingkah lakunya.”
Sementara itu. Panglima yang diikuti oleh keempat Senapatinya itu pun menjadi semakin dekat. Wajah mereka nampak tegang dan memancarkan kebencian tiada taranya.
Keempat Senapati yang disebut berhati iblis itu pun segera bergeser salig menjauh, seakan-akan mereka akan mengepung kedua Panglima bersama pengawalnya.
“Pengkhianat.” geram Panglima yang setia kepada Tohjaya itu, “Kalian begitu bernafsu membunuh pengikut–pengikut Anusapati saat itu. Sekarang kalian mencoba melawan tuanku Tohjaya dan seluruh kekuatan Singasari.”
Panglima Pasukan Pengawal melangkah maju sambil menjawab, “Semuanya sudah berubah. Tuanku Tohjaya pun sudah berubah. Itulah sebabnya maka pendirianku pun berubah.”
“Persetan. Apakah kau sadar, bahwa pengkhianatanmu itu harus kau tebus dengan nyawamu dan nyawa semua pengikutmu.”
“Kau bermimpi.” sahut Panglima Pelayan Dalam, “Keadaan pertempuran di halaman ini pun sudah berubah. Pasukanmu mulai terdesak di mana-mana. Lihat, orang-orang yang memasuki halaman ini dengan meloncati dinding semakin lama menjadi semakin banyak.”
“Tetapi mereka adalah orang-orang dungu yang tidak mampu berperang.”
“Mereka adalah anak buahmu. Mereka adalah prajurit-prajurit Singasari yang ada di Kediri dan yang lain adalah prajurit-prajurit yang tersebar di beberapa daerah Singasari yang lain.”
“Pengkianat mereka juga pengkhianat seperti kau.”
“Mereka dapat memilih, manakah yang benar dan yang manakah yang salah.”
Panglima itu menggeram. Lalu katanya, “Itulah sebabnya kau tidak berani berbuat apa-apa terhadap Mahisa Agni.”
“Akulah yang membawanya dari Kediri.” berkata Panglima Pelayan Dalam itu, “Tetapi aku menyadari kekuatan yang ada di belakangnya.”
“Dan kekuatan itu sekarang kau pergunakan untuk berkhianat.”
“Salah.” potong Panglima Pasukan Pengawal, “Tuanku Tohjaya lah yang memaksa kami untuk melawannya.”
“Persetan, Aku tidak peduli. Sekarang kau berdua harus mengalami akibat yang sangat buruk dari pengkhianatanmu. Kau berdua akan mengalami nasib seperti kedua Senapatimu yang mati dan dibuang kekali untuk menjadi makanan burung–burung liar pemakan bangkai.”
Kedua Panglima itu saling berpandangan sejenak, seakan-akan masing-masing ingin mengetahui, apakah mereka sudah bersiap.
“Marilah.” berkata Panglima prajurit yang setia kepada Tohjaya itu, “Kita akan segera mulai.”
Panglima Pelayan Dalam memandang keempat Senapati lawan itu sekilas. Namun disebelah menyebelahnya, pengawal-pengawalnya pun sudah bersiap sepenuhnya. Dan mereka bukannya prajurit yang baru kemarin siang mendapat wisuda, tetapi mereka prajurit-prajurit pilihan yang berpengalaman pula.
Meskipun demikian, kedua Panglima itu harus mengakui, bahwa pengawalnya tidak akan dapat menyamai keempat Senapati berhati iblis itu.
Tetapi tidak ada pilihan lain. Adalah wajar sekali apabila kedua Panglima itulah yang harus melawan mereka. Jika yang harus menghadapi kelima orang itu hanyalah prajurit-prajurit dan Senapati-Senapati yang lain, maka korban tentu akan berjatuhan seperti menebang batang ilalang saja.
Sejenak kemudian, mereka masih saling mempersiapkan diri. Keempat Senapati yang disebut berhati iblis itu pun segera membagi diri. Yang seorang akan bertempur bersama Panglimanya, dan yang tiga orang akan bertempur berpasangan.
Panglima Pasukan Pengawal menyadari, agaknya Panglima prajurit yang telah mendesak kedudukan Pasukan Pengawal itu telah bersiaga melawannya bersama seorang Senapatinya, sedang ketiga Senapati yang lain telah bersiap untuk bertempur melawan Panglima Pelayan Dalam.
Kedua belah pihak ternyata benar-benar telah bersiaga. Mereka agaknya sudah tidak akan berbicara lagi. Selangkah demi selangkah mereka saling mendekati, sehingga akhirnya, senjata-senjata pun mulai bergerak.
Panglima prajurit yang setia kepada Tohjaya itu pun segera mengayunkan senjatanya. Sebilah pedang yang tajam di kedua belah sisinya. Sedang Senapati pembantunya yang seorang itu pun telah meloncat pula dengan garrangnya. Ditangannya tergenggam sebuah canggah bertangkai pendek.
Dilingkaran yang lain, ketiga Senapati yang berhati iblis itu pun telah mulai menyerang pula. Senjata mereka pun sangat mendebarkan hati. Yang seorang membawa sebilah tongkat besi yang bergerigi seperti duri pada daun pandan dalam empat jalur. Yang seorang lagi membawa sebuah bindi kayu galih asem ditangan kanan, sedang ditangan kirinya tergenggam sebilah pedang pendek. Sedang yang seorang lagi hanya memegang sebilah pedang biasa yang tidak terlampau besar.
Kedua Panglima yang melawan mereka itu pun telah menggenggam senjata pula di tangan masing-masing. Sehelai pedang panjang.
Sejenak kemudian, maka pertempuran segera terjadi dengan sengitnya. Ternyata bahwa Panglima Pasukan Pengawal dan Panglima Pelayan Dalam, tidak harus melawan musuhnya seorang diri. Beberapa orang pengawal pilihan pun segera mendampinginya melawan prajurit-prajurit berhati iblis itu.
Agaknya para pengawal pilihan itu pun mempunyai kebanggaan mereka masing-masing. Senjata mereka ternyata bukannya senjata yang biasa dipergunakan oleh prajurit Singasari, apalagi bagi Pasukan Pengawal dan Pelayan Dalam yang mempergunakan senjata seragam. Tetapi di dalam perang yang dahsyat dan di dalam mempertaruhkan nyawa, mereka lebih senang mempergunakan senjata yang mereka pelajari diperguruan masing-masing sebelum mereka memasuki lingkungan keprajuritan.
Bahkan ada di antara mereka yang bersenjatakan sebatang tombak, pendek yang ujungnya bergerigi. Ada pula yang membawa sepasang rongkat besi yang dihubungkan dengan rantai baja. Dan ada pula yang bersenjatakan tongkat pendek yang tajam dikedua ujungnya.
Demikianlah maka pertempuran itu menjadi semakin lama semakin seru. Berbagai macam jenis senjata telah beradu. Apalagi mereka yang memiliki kelebihan di dalam olah kanuragan. Para Panglima dan Senapati.
Sejenak kemudian pertempuran ditempat itu pun segera menarik perhatian. Beberapa orang prajurit justru tertegun menyaksikan. Namun sementara itu. mereka masing-masing masih harus bertempur pula di dalam lingkaran pertempuran mereka sendiri.
Lembu Ampal yang sudah ada dihalaman itu pun segera tertarik pula oleh pertempuran yang sengit itu. Karena itulah maka ia pun kemudian meninggalkan daerah pertempurannya sendiri, karena kawamnya sudah semakin banyak berdatangan. Ia ingin melihat, siapakah yang terlibat di dalam pertemputan itu.
Ketika ia menjadi semakin dekat, maka hatinya pun menjadi semakin berdebar-debar. Ia melihat tiga orang Panglima dan empat orang Senapati yang disebut berhati iblis itu sedang bersabung.
“Panglima Pasukan Pengawal dan Panglima Pelayan Dalam itu tentu tidak akan dapat bertahan lebih lama lagi.” berkata Lembu Ampal, karena ia pun tahu kemampuan kelima orang itu. Sedangkan para pengawal hanya dapat sekedar membantu dan merupakan pelarian sementara jika kedua Panglima itu sudah menjadi sangat terdesak.
“Mereka tidak boleh dibiarkan.” berkata Lembu Ampal pula kepada diri sendiri, meskipun ia masih tetap ragu-ragu, apakah kehadirannya akan dapat menolong kedua Panglima iru. Namun setidak-tidaknya, kehadirannya diarena itu akan mampu memperingan beban kedua Panglima itu. atau salah seorang dari mereka.
Demikianlah, maka Lembu Ampal pun segera mendekati arena itu. Kemudian dengan serta merta ia meloncat memasuki arena dengan pedang ditangannya.
“Lembu Ampal.” desis Panglima parjurit yang setia kepada Tohjaya itu.
“Ya, aku adalah Lembu Ampal.”
“Kau turut berkhianat?”
“Tidak. Aku berdiri dipihak yang benar. Aku menolak untuk menjalankan perintah tuanku Tohjaya, membunuh tuanku Ranggawuni dan tuanku Mahisa Cempaka yang tidak bersalah.”
Panglima prajurit yang setia kepada Tohjaya itu tertegun sejenak. Dipandanginya Lembu Ampal dengan sorot mata yang memancarkan kebencian.
“Kau datang untuk menyerahkan nyawamu Lembu Ampal. Memang sudah menjadi nasib seorang pengkhianat untuk mati dimanapun juga.”
“Jika demikian, marilah kita lihat, siapakah yang akan mati di antara kita. Yang mati itu adalah pengkhianat.”
“Bagus.” teriak Panglima itu sambil meloncat menyerang Lembu Ampal.
Lembu Ampal memang sudah siap menghadapi segala kemungkinan. Karena itu, maka serangan Panglima itu pun tidak mengejutkannya.
Dengan tangkasnya Lembu Ampal mengelak. Namun ia pun segera membalas serangan itu dengan serangan yang tidak kalah dahsyatnya.....
Bersambung....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar