Sabtu, 30 Januari 2021

SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG JILID 11-03

*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 11-03*

Karya.   : SH Mintardja

Kedatangan Mahisa Agni telah menambah mantap orang-orang Rajasa dan Sinelir yang sedang bertempur bersama Mahisa Wonga Teleng. Karena itu, maka mereka pun bertempur sema­kin gigih. Senjata mereka berputaran dan korban pun berjatu­han semakin banyak.

“Bagaimana keadaan tuan?” bertanya Mahisa Agni.

“Kami berhasil paman.” jawab Mahisa Wonga Teleng.

“Jika demikian, baiklah. Aku akan menahan prajurit yang mengejarku.” berkata Mahisa Agni.

Dengan serta merta maka Mahisa Agni pun kemudian me­merintahkan pengikutnya untuk menyiapkan diri melawan sekelompok prajurit yang mengejarnya.

Namun mereka bukan lawan yang cukup kuat. Sejenak kemudian mereka pun telah pecah dan berlari-larian memencar mencari kawan-kawannya yang lain dan menggabungkan diri di arena pertempuran yang lain.

Dalam pada itu, Panglima Pasukan Pengawal pun telah meninggalkan tempatnya pula untuk menolong pasukannya yang terdesak di beberapa bagian dari arena di halaman istana itu. Bahkan sebagian besar dari lingkaran-lingkaran pertempuran benar-benar telah dikuasai oleh prajurit yang setia kepada Tohjaya.

Sementara itu, Lembu Ampal yang bertempur di luar din­ding istana pun harus berjuang mati-matian untuk dapat bertahan. Jumlah orang-orang Rajasa dan Sinelir memang tidak cukup banyak. Sebenarnyalah, bahwa mereka mengharapkan bantuan yang da­tang dari luar kota, untuk membantu menahan sergapan prajurit-prajurit yang sedang marah sekaligus mencari muka.

Betapa usaha Lembu Ampal untuk menolong orang-orang Ra­jasa dan Sinelir, namun mereka tidak akan dapat berbuat me­lampaui kemampuan mereka. Karena itu, maka orang-orang Rajasa dan Sinelir semakin lama menjadi semakin terdesak menjauhi dinding istana.

Dalam pada itu, di dalam istana, Mahisa Agni, kedua Pa­nglima, Mahisa Wonga Teleng dan orang-orang terpilih hanya mam­pu menolong Pasukan Pengawal dan Pelayan Dalam yang ber­ada disekitarnya dan terbatas sekali. Tetapi keadaannya masih agak lebih baik dengan kawan-kawannya yang berada di luar dinding istana.

Namun dalam pada itu, pertempuran di pintu gerbang dan regol-regol lorong di dinding kota pun terjadi dengan sengitnya. Pa­sukan Ranggawuni dan Mahisa Cempaka melanda prajurit Si­ngasari yang mempertahankan kota itu dengan dahsyatnya.

Tetapi sebenarnyalah, bahwa pasukan Ranggawuni dan Mahisa Cempaka, bukannya yang berada di mulut gerbang dap regol itu sajalah yang akan menerobos memasuki kota. Seba­gian dari mereka, justru telah berada memasuki kota. Sebagian dari mereka, justru telah berada di dalam. Mereka memasuki kota tanpa bertempur sama sekali, karena mereka menyamar sebagai orang-orang yang akan berjualan hasil kerja mereka dan hasil bumi dari luar kota.

Orang-orang itulah yang sudah berada di dalam. Mereka men­cari tempat untuk menanggalkan pakaian penyamaran mereka dan mengenakan pakaian tempur yang sudah mereka bawa ter­sembunyi di bawah barang dagangan. Dengan tergesa-gesa mereka mengenakan lawe di pergelangan tangan sebagai ciri yang su­dah ditentukan.

Barulah kemudian mereka memencar. Mereka merayap mendekati dinding halaman istana dari segala jurusan. Bahkan mereka tidak langsung terjun ke arena pertempuran, karena be­berapa orang di antara mereka sempat memasuki pintu-pintu rumah yang tertutup rapat. Dengan agak memaksa pintu-pintu itu pun ter­buka. Penghuninya dengan gemetar menatap orang-orang yang tidak dikenalnya berdiri di depan pintu.

“Jangan takut.” berkata pengikut Ranggawuni dan Mahisa Cempaka, “Aku adalah prajurit-prajurit Singasari yang setia kepada sumbernya pemimpin pemerintahan yang sebenarnya. Kami adalah pendukung-pendukung tuanku Ranggawuni dan tuanku Mahisa Cempaka, keturunan Ken Dedes.”

Orang-orang itu bagaikan membeku sambil mendengar ketera­ngan itu.

“Nah, tenanglah. Kami akan berjuang bagi kalian mela­wan Tohjaya yang tamak.”

Sepeninggal orang-orang yang berdiri dengan senjata di tangan di muka pintu rumah-rumah mereka itu, barulah mereka mulai ber­pikir. Dan sebagaian besar dari mereka mulai disentuh oleh harapan, “Bukankah tuanku Ranggawuni itu putera tuanku Anusapati, sedangkan tuanku Mahisa Cempaka adalah putera tuanku Mahisa Wonga Teleng?”

Orang-orang yang mendatangi pintu-pintu rumah yang tertutup itu ternyata terkejut ketika mereka melihat seorang yang terluka berIari-Iari memasuki halaman dan berusaha bersembunyi di balik dinding. Tetapi ketika orang yang terluka itu sedang berusaha menahan darah yang keluar dengan kain panjangnya, ia terke­jut melihat beberapa orang mendatanginya.

Meskipun ia sudah terluka, namun dengan sigapnya ia meloncat dan mengacukan senjatanya.

“Kenapa kau ki Sanak?” bertanya orang-orang yang baru datang.

Orang yang terluka itu heran. Apakah orang-orang itu tidak mengetahui bahwa sedang terjadi perang di seluruh bagian kota di sekitar dinding istana?

Namun tiba-tiba ketika terpandang olehnya gelang lawe di pergelangan tangannya maka orang yang terluka itu pun berkata, “Apakah kau menyadari bahwa lawe di tanganmu itu mempunyai arti?”

“Tentu.” jawab orang-orang itu. Dan hampir di luar kesada­ran mereka, mereka pun serentak memandang pergelangan tangan orang yang terluka itu. Orang itu pun mengenakan lawe di tangannya meskipun sudah menjadi merah oleh darah.

“Kau orang Rajasa atau Sinelir?”

“Bukan. Tetapi aku berada dipihaknya. Aku adalah pembantu di rumah seorang Senapati Pasukan Pengawal. Aku ada­lah pekatiknya.”

“O.” sahut orang yang baru datang itu, “Dimana Se­napatimu sekarang?”

“Bertempur. Tetapi agaknya orang-orang Rajasa dan Sinelir terdesak, dan bahkan hampir tidak dapat bertahan lagi.”

Orang-orang itu terkejut. Dengan serta merta salah seorang da­ri mereka bertanya, “Jadi orang-orang Rajasa dan Sinelir sudah ter­desak?”

“Ya. Berat sekali.”

Mereka berpandangan sejenak, lalu salah seorang bergu­mah, “Kita memang sudah menduga. Tetapi tidak secepat itu. Karena itu, marilah, kita segera saja turun ke medan.”

Orang yang terluka itu termangu-mangu. Lalu katanya, “Jika kalian segera membantu, keadaan tentu akan berubah. Aku pun akan memampatkan luka ini. Seterusnya aku akan me­manggil para pelayan dan pembantu yang lain. Siapapun, asal ia seorang laki. Demikian juga yang dilakukan oleh Senapati-Senapati yang lain.”

Orang-orang itu tidak menyahut. Segera mereka berlari-larian me­nyusur lorong menuju ke arah istana.

Hampir bersamaan waktunya, kawamnya yang tersebar pun mulai menyadari bahwa keadaan memang sudah menjadi gawat sekali.

Sebenarnya, bahwa pada saat itu orang-orang Rajasa dan Sine­lir sudah terdesak semakin jauh. Mereka bertempur sambil menarik diri. Bahkan sebagaian dari mereka telah bertempur di padesan yang ditumbuhi oleh pepohonan yang rimbun.

Dalam keadaan yang demikian itulah beberapa orang muncul dari lorong-lorong sempit, justru dari padesan-padesan. Beberapa kali terdengar suitan-suitan nyaring sebagai isyarat kehadiran mere­ka dan sekaligus perintah dan isyarat bagi kawan-kawan mereka agar segera turun ke medan.

Beberapa orang Rajasa dan Sinelir yang melihat kehadir­an mereka bersorak dengan serta merta. Orang-orang yang mempu­nyai tanda lawe berwarna putih di pergelangannya itu tentu pasukan yang telah berhasil menyusup memasuki kota dan se­gera akan bertempur bersama mereka.

Demikianlah yang sebenarnya segera terjadi. Orang-orang yang bermunculan dari lorong-lorong sempit dari segala arah di seputar dinding halaman istana itu pun segera bersiaga menghadapi setiap kemungkinan.

Prajurit-prajurit yang sedang mendesak dan bahkan mulai menge­jar orang-orang Rajasa dan Sinelir yang terpaksa menarik diri itu pun terkejut. Semula mereka menyangka bahwa yang datang itu hanyalah beberapa orang yang tidak berarti. Tetapi ternyata bahwa beberapa orang itu muncul di setiap lorong, sehingga jumlah mereka seluruhnya tentu akan mempengaruhi pertem­puran di sekitar istana itu.

Dalam pada itu, orang- Rajasa dan Sinelir yang semakin mundur itu pun seolah-olah mendapatkan tenaga baru di dalam diri mereka. Dengan sepenuh kemampuan mereka berusaha untuk bertahan.

Sejenak kemudian, orang-orang yang bermunculan dari lorong-lorong itu pun telah terjun pula kemedan. Prajurit-prajurit yang semula men­desak orang-orang Rajasa dan Sinelir, terpaksa membagi diri. Seba­gian dari mereka terus berusaha mendesak orang-orang Rajasa dan Sinelir, sedang yang lain melawan musuh-musuh mereka yang baru.

Namun dengan demikian, maka kekuatan mereka mulai terpecah. Apalagi orang-orang Rajasa dan Sinelir mulai bertahan dengan sekuat kemampuan. Karena lawan mereka menjadi ber­kurang, maka mereka tidak lagi harus mundur terus menerus dan apalagi bersembunyi dan bertempur sambil berlari-lari di kebun-kebun yang ditumbuhi pepohonan.

Karena itulah maka pertempuran di luar halaman istana itu menjadi semakin riuh. Perlahan-lahan orang-orang Rajasa dan Sine­lir yang telah mendapat kekuatan baru itu berhasil menghen­tikan desakan lawan-lawannya. Bahkan kemudian pertempuran yang terjadi di luar dinding itu seolah-olah menjadi seimbang.

Namun dalam pada itu, di dalam dinding halaman, orang-orang Rajasa dan Sinelir masih mendapatkan kesulitan. Prajurit Si­ngasari yang setia kepada Tohjaya, dengan kemarahan yang meluap-luap dibumbui oleh harapan untuk mendapatkan hadiah atau pujian telah membuat mereka bagaikan liar. Senjata me­reka seolah-olah menjadi binatang buas yang kehausan. Sedang­kan darah adalah minuman yang sangat menggairahkan.

Mahisa Agni yang semula masih mempertimbangkan se­mua tingkah lakunya, walaupun di peperangan, mulai menjadi semakin garang. Ia telah didorong oleh perhitungan tentang kemungkinan-kemungkinan yang paling pahit akan terjadi pada Pasukan Pengawal dan Pelayan Dalam yang semakin terdesak.

Dengan demikian, maka Mahisa Agni pun kemudian beru­saha untuk melemahkan musuhnya sebanyak-banyaknya. Meskipun ia tidak berhasrat membunuh semata-mata, tetapi jika kemudian terjadi kematian, adalah akibat dari perselisihan yang tidak dapat diselesaikan dengan peradaban manusia yang seharus­nya menjadi semakin berkembang.

Kegarangan Mahisa Agni itu ternyata mempunyai penga­ruh yang luas. Bersama-sama dengan para pengawal khususnya yang membelitkan sehelai kain putih di lehernya, Mahisa Agni mengamuk seperti benteng yang terluka. Setiap kelompok la­wan yang dilanda olehnya bersama kelompok kecilnya, menja­di pecah berserakan.

Dalam keadaan yang demikian itulah, maka orang-orang Rajasa dan Sinelir mengambil keuntungan. Selagi prajurit-prajurit itu belum dapat menyesuaikan dirinya, maka mereka pun harus dilum­puhkannya sama sekali.

Demikian juga kedua Panglima yang ada dihalaman itu. Mereka pun bertempur dengan gigihnya, tanpa memperhati­kan nasib mereka sendiri.

Sementara itu, Mahisa Wonga Teleng, oleh Mahisa Agni dimintanya untuk tetap berada di bangsalnya sambil melindungi ibundanya Ken Dedes dan keluarganya. Mereka masih ha­rus tetap berwaspada. Setiap saat kelompok-kelompok yang lain akan datang dan berusaha membinasakan seluruh keluarga itu.

Usaha Mahisa Agni dan para Panglima itu sedikit dapat menolong suasana. Bukan saja Pasukan Pengawal dan Pelayan Dalam yang mengalami tekanan yang berat, tetapi prajurit-prajurit la­wannya kadang-kadang harus berlarian bercerai berai dilanggar oleh pasukan Mahisa Agni yang tidak saja berada di arena tertentu.

Tetapi meskipun demikian, adalah sangat sulit bagi orang orang Rajasa dan Sinelir untuk tetap bertahan. Tekanan yang rasa-rasanya semakin berat, hampir tidak tertanggungkan lagi. Se­dangkan regol-regol halaman dan gerbang di depan istana sudah di tutup rapat-rapat oleh prajurit-prajurit yang bertugas.

Dengan demikian maka para prajurit dari Pasukan Pe­ngawal dan Pelayan Dalam yang ada di dalam, tidak akan da­pat menarik diri keluar dari halaman. Sedangkan yang ada di ­luar tidak akan dapat masuk.

Tetapi keadaan itu justru membuat orang-orang Rajasa dan Sinelir bagaikan kehilangan pilihan. Tidak ada cara lain daripa­da bertempur sampai mati.

Mereka yang berhati kecil, kadang-kadang hampir menjadi pu­tus asa. Tetapi jika mereka melihat Mahisa Agni dan para pe­ngawal khususnya mengamuk dan memecah setiap kelompok prajurit yang mencoba menghalanginya, maka keberanian me­reka pun menjadi berkembang kembali. Dengan serta merta mereka menyerbu dan mempergunakan kesempatan sebaik-baiknya. Prajurit yang sedang tercerai berai itu pun kemudian, di­serang tanpa ragu-ragu, sehingga korban pun berjatuhan.

Namun sekali lagi orang-orang Rajasa dan Sinelir harus me­ngakui kelebihan kekuatan para prajurit. Mereka selalu mene­kan orang-orang Rajasa dan Sinelir dengan jumlah yang seolah-olah tidak pernah berkurang, justru bertambah-tambah.

Apalagi kemudian Panglima prajurit itu yang berada di bangsal Tohjaya, setelah menerima laporan dari penghubung­nya, segera mengambil keputusan, “Perang ini harus cepat selesai. Jika tidak, maka Mahisa Agni akan mengurangi jum­lah prajurit kita sedikit demi sedikit, sehingga akhirnya men­jadi lemah.”

“Jadi, bagaimana maksudmu?”

“Ampun tuanku. Jika berkenan, maka hamba akan me­lepaskan prajurit-prajurit cadangan di sekitar bangsal ini. Mereka ha­rus bergerak serentak untuk menumpas lawan dalam waktu yang dekat.”

“Jadi bagaimana dengan bangsal ini.”

“Hamba akan meninggalkan pengawal secukupnya.”

“Dan kau!”

“Hamba harus menahan sergapan Mahisa Agni di seluruh medan. Ia berada di mana-mana dan memungut korban sebanyak–banyaknya. Karena itu hamba harus menahannya agar ia terikat disatu tempat. Biarlah Senapati pilihan menghentikan gerak kedua Panglima yang berkhianat, sedang yang lain harus me­nyelesaikan tuanku Mahisa Wonga Teleng.”

“Dan ibunda Ken Dedes. Anak-anaknya dan menantunya.”

“Hamba tuanku.”

“Tetapi kau harus meninggalkan prajurit yang cukup di sekitar bangsal ini.”

“Tentu tuanku.”

“Pergilah, dan cepat kembali.”

Panglima itu pun kemudian keluar dari bangsal dengan pengawal-pengawal pilihan. Ia sudah bertekad untuk mencoba kemam­puan Mahisa Agni yang seolah-olah seperti dongengan tentang dewa-dewa yang turun dari langit, dan tidak terkalahkan oleh ma­nusia yang manapun juga.

Selain ia sendiri turun kemedan, maka ia pun telah mele­paskan sebagian dari kelompok-kelompok pasukan cadangannya yang ditempatkan di sekitar bangsal Tohjaya.

Dengan demikian maka keadaan medan menjadi semakin berat sebelah. Orang-orang Rajasa dan Sinelir menjadi semakin ter­desak. Bahkan kemudian sekelompok prajurit telah berniat untuk membinasakan Mahisa Wonga Teleng dan saudaranya, sekaligus Ken Dedes dan menantunya, ibu Ranggawuni.

Mahisa Agni dan kedua Panglima yang berada di pihak Ranggawuni menjadi gelisah. Mereka melihat gelombang yang seakan-akan bergulung-gulung datang melanda pasukan orang-orang Rajasa dan Sinelir.

Beberapa orang Senapati memang menjadi seakan-akan ber­putus asa Bahkan ada di antara mereka yang menjadi kecewa, seolah-olah mereka telah terjebak oleh rencana Ranggawuni dan Mahisa Cempaka.

“Kita harus hancur lebih dahulu. Baru kemudian mere­ka akan memetik buahnya.”

Namun dengan demikian, mereka yang menjadi berputus asa itu pun justru menjadi sangat berbahaya. Mereka bertem­pur tanpa pengekangan diri lagi. Bagi mereka sudah tidak ada pilihan lain kecuali mati.

Dalam pada itu, di luar dinding istana, prajurit-prajurit dan rak­yat yang berpihak kepada Ranggawuni semakin banyak berda­tangan. Ketika salah satu pertahanan para prajurit yang men­jaga pintu gerbang dapat dipecahkan, maka bagaikan bendu­ngan yang tersobek oleh banjir bandang, maka pasukan yang berada di luar dinding kota pun berdesakan masuk. Mereka langsung berIari-Iarian menyerbu ke arah istana.

Baru kemudian mereka menyadari, bahwa baru sebuah pintu gerbang yang dapat mereka susupi. Dengan demikian, maka mereka pun kemudian memencar kebeberapa arah untuk membantu kawannya yang sedang bertempur dengan sengitnya.

Sementara itu, Lembu Ampal menjadi agak berlega hati. Ia mulai yakin bahwa prajurit-prajurit yang mempertahankan istana itu pun akan segera dapat dipecahkan.

Tetapi ternyata pertahanan dipintu-pintu gerbang halaman is­tana cukup rapat. Pintu-pintu besi yang besar telah diturunkan. Bu­kan saja digerbang induk, tetapi di setiap pintu yang menem­bus keluar dinding halaman.

Namun Lembu Ampal tidak saja dapat menikmati keme­nangan yang perlahan-lahan mulai nampak di luar dinding istana. Tetapi ia mulai membayangkan, bagaimanakah nasib orang-orang Rajasa dan Sinelir di dalam dinding istana. Tetapi Lembu Ampal sama sekali tidak menemukan sebu­ah regol pun yang terbuka.

Untuk beberapa saat lamanya, Lembu Ampal mencari ca­ra yang sebaik-baiknya, agar ia dapat membantu pasukan yang ada di dalam halaman. Meskipun di dalam halaman itu ada Mahisa Agni, kedua Panglima dari Pasukan Pengawal dan Pelayan Dalam, Mahisa Wonga Teleng dan adik-adiknya, namun jumlah pasukannya tentu belum memadai untuk melawan prajurit yang terlampau kuat di dalam halaman itu.

Di luar halaman, keadaan orang-orang Rajasa dan Sinelir menja di semakin baik. Jumlah mereka semakin lama menjadi sema­kin bertambah dengan pasukan yang berhasil menyusup ke dalam kota. Meskipun jumlah mereka tidak melonjak terlampau cepat, karena baru sebuah regol yang dapat ditembus, namun keadaan mereka yang bertempur di luar kota sudah menjadi semakin baik dan meyakinkan.

Dalam pada itu, Tiba-tiba Lembu Ampal teringat, bagaimana ia di malam hari memasuki halaman tidak melalui regol yang manapun juga. Karena itu, maka ia pun segera menemui beberapa orang pemimpin kelompok dan memberikan beberapa petunjuk kepada mereka.

“Kita harus segera memasuki halaman. Jika tidak, kea­daan kawan-kawan kita di dalam tentu akan menjadi sangat parah.” berkata Lembu Ampal.

“Bagaimana kita dapat memasuki halaman istana itu?” bertanya seorang pemimpin kelompok.

“Memang tidak ada pintu regol yang dapat kita buka dari luar. Tetapi dinding itu tidak terlampau tinggi. Kita akan meloncatinya.”

“Tidak terlampau tinggi? Tetapi kami tidak akan da­pat meloncat begitu saja.”

Lembu Ampal mengerutkan keningnya. Memang keba­nyakan prajurit tidak akan dapat meloncat begitu saja. De­ngan ilmu yang wantah maka dinding itu memang terlampau tinggi.

“Carilah sebatang bambu. Kita akan memanjat naik, ke mudian meloncat turun.” Ia berhenti sejenak, lalu, “Mak­sudku sebatang untuk kelompok, agar dapat bersama-sama meloncat beberapa orang sekaligus. Jika kita meloncat masuk se­orang demi seorang, maka dada kita akan diterima oleh ujung tombak tanpa perlawanan. Tetapi jika lima enam orang bersama-sama, maka keadaannya akan berbeda.”

Kawan-kawannya termenung sejenak. Mereka menyadari baha­ya yang ada dibalik dinding itu. Bahkan terbayang diangan-diangan mereka ujung tombak yang mencuat seperti daun ilalang yang yang tumbuh dengan lebatnya.

“Tetapi kita harus masuk.” desis seorang prajurit muda.

“Ya.” sahut yang lain, “Kita mencari beberapa batang bambu atau kayu yang cukup panjang.”

“Di padesan itu.”

Beberapa orang pun kemudian berlari-larian mencari batang-batang bambu. Mereka tidak menghiraukan lagi pertempuran yang terjadi di luar dinding halaman, karena kawan-kawan mereka agaknya akan segera berhasil menguasai keadaan.

Sejenak kemudian maka mereka pun telah kembali sambil membawa batang-batang bambu yang akan mereka pakai untuk me­manjat.

“Hati-hatilah.” berkata Lembu Ampal, “Jagalah jangan sampai ujung bambumu mencuat dan nampak dari dalam. Ji­ka mereka melihat lebih dahulu, maka mereka akan siap me­nunggu dengan ujung senjatanya.”

Prajurit-prajurit itu berpandangan sejenak. Namun mereka pun segera menyadari keadaan. Karena itu, dengan tangkasnya me­reka menarik pedang mereka dan memotong bambu-bambu itu seting­gi dinding halaman.

Prajurit-prajurit Singasari tidak sempat berbuat apa pun juga karena mereka harus mempertahankan diri dari tekanan lawannya. Jumlah mereka yg berpihak kepada Ranggawuni dan Ma­hisa Cempaka menjadi semakin lama semakin bertambah-tambah.

Sesaat kemudian bambu-bambu itu pun telah tersandar pada dinding. Lembu Ampallah yang pertama-pertama siap untuk memanjat sambil berkata, “Marilah. Kita harus segera membantu ka­wan kawan kita yang pasti mendapatkan kesulitan di dalam halaman itu.”

Beberapa orang pun segera bersiap. Mereka masih ragu-ragu sejenak. Namun ketika mereka melihat Lembu Ampal mulai memanjat, maka yang lain pun segera memanjat pula.

Sebenarnya Lembu Ampal tidak memerlukan bambu-bambu itu tetapi seolah-olah ia sengaja memberikan contoh kepada kawan-kawan nya, bagaimana mereka memasuki dinding halaman istana itu.

Ketika mereka sampai di bibir dinding halaman itu, maka Lembu Ampal pun segera memberikan isyarat. Kawan-kawannya segera berloncatan turun memasuki halaman dengan senjata terhunus.

Beberapa orang prajurit yang sedang menekan dengan yakin akan dapat membinasakan orang-orang Rajasa dan Sinelir yang terdorong sampai ke sudut halaman itu pun terkejut bu­kan buatan. Mereka melihat beberapa orang tiba-tiba saja telah meloncat turun dengan senjata di tangan.

Bahkan sebelum mereka sempat berbuat apa-apa, maka orang kedua telah memanjat pada setiap batang bambu yang tersan­dar pada dinding batu itu, dan yang sejenak kemudin telah meloncat masuk pula.

Sejenak kemudian, seorang Senapati yang menyadari keadaan, segera meneriakkan aba-aba. Beberapa orang prajurit pun segera menyerbu menyerang orang-orang yang meloncat memasuk halaman itu.

“Binasakan mereka, selagi jumlah mereka belum ber­tambah lagi.”

Namun ketika aba-aba itu diteriakkan, dan gemanya masih belum lenyap, maka orang-orang berikutnya telah memasuki hala­man pula.

Dengan demikian maka sekelompok prajurit dengan tergesa-gesa menyerang mereka. Mereka berdatangan dari segala arah.

Meskipun demikian sebagian dari prajurit-prajurit itu masih ha­rus tetap di tempatnya, karena mereka sedang terlibat di dalam pertempuran.

Orang-orang Rajasa dan Sinelir yang tertekan sampai kesudut, dan yang semula sudah tidak mengharapkan dapat lolos dari maut, sehingga mereka bertempur membabi buta karena putus asa, merasa sedikit berpengharapan. Yang pasti adalah lawan mereka berkurang, sehingga jika mereka harus mati, maka me­reka akan dapat memperpanjang umurnya beberapa saat lagi.

Pertempuran yang kemudian timbul antara para prajurit dan orang-orang yang berloncatan masuk itu pun menjadi semakin sengit. Prajurit yang kemudian mengepung mereka yang me­loncat turun dari atas dinding batu itu menjadi semakin ba­nyak pula. Satu dua orang masih berloncatan turun terus me­nerus.

Namun pada suatu saat, arus orang-orang yang meloncat din­ding itu pun terhenti. Orang-orang yang sudah ada di dalam, dipim­pin langsung oleh Lembu Ampal menjadi heran. Jumlah yang sudah ada di dalam itu masih terlampau sedikit. Sedang yang lain tiba-tiba saja menghentikan bantuannya.

“Belum banyak artinya.” berkata Lembu Ampal di dalam hati.

Namun bagi mereka yang sejak semula merasakan tekanan yang sangat berat di dalam halaman itu, merasa bahwa bantuan itu telah dapat menumbuhkan tekad yang baru di dalam dada masing-masing. Terlebih adalah mereka yang bertempur didekat orang orang itu meloncat dari luar halaman.

Lembu Ampal menjadi termangu-mangu sejenak. Apakah orang orang yang ada diluar dinding telah dapat ditekan pula sehinga mereka tidak dapat membantu pasukan yang ada di dalam.

Tetapi Lembu Ampal tidak dapat merenungi hal itu te­rus menerus. Ia pun segera sadar, bahwa ia harus bertempur. Bukan merenung.

Ternyata bahwa ketika Lembu Ampal mulai mengayun­kan senjatanya dengan segenap kemampuannya, maka orang-orang yang mengepungnya terdesak surut meskipun tidak segera ter­pecah. Tetapi kemampuan Lembu Ampal benar-benar mereka sega­ni. Senjatanya bagaikan angin prahara yang menyambar-nyambar ti­dak henti-hentinya.

Dengan demikian maka kelompok yang dipimpin oleh Lembu Ampal dan yang masih terkepung melekat dinding itu telah menghisap kekuatan yang cukup besar dari prajurit Si­ngasari yang sedang berjuang mempertahankan kekuasaan Tohjaya itu.

Tetapi jumlah kelompok kecil yang memasuki halaman itu masih belum memadai. Betapa gigihnya mereka bertempur, dan betapa besar kemampuan Lembu Ampal, namun dibawah pimpinan dua orang Senapati yang sekaligus melawan Lembu Ampal, maka kelompok kecil itu benar-benar telah terkepung rapat rapat, seperti sekelompok orang-orang Rajasa dan Sinelir yang ma­sih saja tersudut tidak begitu jauh dari kelompok yang dipim­pin oleh Lembu Ampal. Namun orang-orang Rajasa dan Sinelir itu merasa bahwa tekanan atas mereka sudah menjadi berkurang meskipun mereka belum berhasil memecahkan kepungan atas mereka.

Namun yang terjadi kemudian adalah diluar dugaan para prajurit dan bahkan Lembu Ampal sendiri. Ternyata pasukan yang ada d:luar dinding halaman, tidak berniat menghentikan usahanya membantu orang-orang Rajasa dan Sinelir yang ada di dalam. Namun salah seorang dari mereka berpendapat, bahwa sebaiknya mereka berpindah tempat, agar pasukan yang mema­suki halaman itu agak terpencar.

Dengan demikian maka mereka pun segera mengangkat bambu-bambu yang tersandar pada dinding halaman, dan memindah­kannya beberapa puluh langkah ke samping.

Baru sejenak kemudian maka beberapa orang mulai me­manjat bambu itu, dan sambil berteriak nyaring berloncatan turun beberapa puluh langkah dari pasukan yang dipimpin oleh Lembu Ampal.

Kehadiran mereka pun masih juga mengejutkan orang-orang yang ada di dalam. Namun para prajurit pun segera menyadari bahwa orang-orang itu pun dapat menjadi sangat berbahaya bagi me­reka sehingga sekejap kemudian sebagian dari mereka pun sege­ra menyerbu dan mengepungnya.

Tetapi yang sudah terjadi itu pun segera terulang lagi. Se­telah beberapa orang meloncat masuk dan terlibat dalam perkelahian yang seru, maka batang-batang bambu itu pun bergeser lagi, dan beberapa orang telah berloncatan pula memasuki halaman.

Lembu Ampal yang melihat cara yang dipilih oleh pasu­kannya itu tersenyum di dalam hati. Ia memuji kecerdikan me­reka, sehingga dengan demikian, maka musuh pun seakan-akan te­lah terpecah-pecah dalam kelompok-kelompok kecil.

Dalam pada itu. sejenak kemudian keadaan di satu sisi itu segera berubah. Tetapi kedatangan pasukan yang berloncatan dari dinding itu belum mempengaruhi keseluruban dari per­tempuran. Prajurit-prajurit yang dilepas dari tugasnya di sekitar bang­sal Tohjaya pun telah turun kedalam pertempuran, sehingga seolah-olah jumlah mereka pun menjadi bertambah-tambah banyak.

Namun dalam pada itu, orang-orang yang berloncatan masuk itu pun ternyata mengalir tidak henti-hentinya di tempat yang selalu bergeser di seputar halaman istana Singasari itu.

Para prajruit yang setia kepada Tohjaya mulai menjadi berdebar-debar. Mereka mencoba membagi diri untuk menahan arus orang-orang yang berloncatan masuk. Meskipun mereka tidak lebih dari enam atau tujuh orang setiap kali, namun berturut-turut tidak ada henti-hentinya.

Akhirnya prajurit-prajurit Singasari yang mempertahankan kedu­dukan Tohjaya itu pun tidak dapat menahan orang-orang yang me­rembes semakin banyak itu. Beberapa orang di antara mereka berhasil lolos dan langsung menusuk kepusat halaman istana Singasari.

Yang membuat prajurit-prajurit Singasari menjadi cemas adalah karena sebagian dari mereka yang memasuki halaman itu ada­lah prajurit-prajurit Singasari pula yang telah beberapa lama bertu­gas di Kediri, ditambah dengan anak-anak muda yang dengan lati­han khusus telah menggabungkan diri kedalam pasukan Rang­gawuni dan Mahisa Cempaka.

Keadaan pertempuran dihalaman itu mulai berubah. Di mana-mana mulai terasa ada perubahan. Orang-orang Rajasa dan Sinelir yang terkepung di mana-mana, merasakan kepungan itu menjadi kendor.

Baru kemudian mereka menyadari, bahwa tentu ada ban­tuan yang sudah berhasil memasuki halaman dalam jumlah yang cukup, sehingga prajurit-prajurit Tohjaya itu harus melawan mu­suh yang lebih banyak.

Sementara itu Panglima prajurit yang setia kepada Tohja­ya menyusup di antara pertempuran dihalaman untuk mencari Mahisa Agni. Bagi Panglima itu. Mahisa Agni adalah orang yang paling berbahaya yang harus lebih dahulu dibinasakan.

Dengan pengawal yang cukup banyak, dan beberapa orang Senapati yang memiliki kemampuan yang hampir sempurna, Panglima itu berhasrat untuk membinasakan Mahisa Agni terlebih dahulu sebelum pengikut-pengikutnya.

“Betapapun tinggi ilmunya, ia tidak akan dapat mela­wan kita berlima.” berkata Panglima itu kepada empat orang Senapatinya yang memiliki ilmu yang melampaui kawan-kawannya. Bahkan di antara Senapati yang lain, keempat orang itu beserta Panglimanya merupakan sekelompok prajurit yang tidak akan dapat dikalahkan oleh siapapun juga.

Sejenak mereka menyusuri daerah pertempuran yang se­makin seru. Tetapi Panglima beserta keempat Senapati terpilih itu, bersama pengawalnya tidak menghiraukaan lagi lawan-lawannya yang lain. Hanya kadang-kadang mereka berhenti sejenak, meng­gilas orang-orang yang mencoba menghalangi langkah mereka.

Dalam pada itu, Panglima Pelayan Dalam yang bertempur dengan sengitnya, melihat sekelompok prajurit pilihan itu.

Sejenak ia termangu-mangu. Ia menyadari arti kelima orang yang pilih tanding itu, sehingga dengan demikian, maka ia ti­dak mau dengan tergesa-gesa menghalanginya. Tetapi dengan di­am-di­am ia berusaha mengikuti kemana ia pergi.

Pengawalnya menjadi terheran-heran. Tetapi ketika mereka melihat Panglima prajurit yang setia kepada Tohjaya itu melintas bersama empat Senapati dan para pengawalnya, maka para pengawal Panglima Pelayan Dalam itu pun menyadari, bahwa di arena itu telah turun lawan yang sangat berat. Kare­na itu, para pengawal itu pun sekedar mengikuti Panglimanya tanpa berbuat sesuatu. Hanya kadang-kadang mereka bertempur me­lawan prajurit-prajurit yang menyerang mereka dengan tiba-tiba.

Tetapi agaknya nasib mereka agak kurang baik. Dengan tanpa disadari, maka Panglima prajurit itu telah melihat Pang­lima Pelayan Dalam itu, sehingga dengan menggeram ia ber­kata, “Kita selesaikan tikus itu, sebelum kita bertemu dengan Mahisa Agni.”

Keempat Senapati yang menyertainya melihat Panglima Pelayan Dalam itu pula. Salah seorang dari mereka berkata, “Silahkan Panglima mencari Mahisa Agni. Biarlah aku singgah sejenak untuk menyelesaikannya.”

“Ia cukup berbahaya. Karena itu agar pekerjaan kita menjadi cepat selesai, biarlah kita pergi bersama-sama.”

Keempat Senapati dan para pengawalnya tidak ada yang membantah lagi. Mereka mengikuti saja ketika Panglima itu berbelok dan menuju kearah Panglima Pelayan Dalam yang menjadi berdebar-debar.

“Ia melihat aku.” berkata Panglima itu.

“Ya.” sahut pengawalnya, “Ia datang bersama para Senapati berwajah hantu yang empat itu.”

“Apa boleh buat.” geram Panglima Pelayan Dalam, “Sebenarnya aku tidak gentar melawan Panglima itu seorang la­wan seorang. Tetapi bersama-sama dengan empat Senapati berhati iblis itu, mereka mempunyai kekuatan yang luar biasa.”

“Kami sudah siap.” desis seorang pengawalnya, “Memang tidak ada pilihan lagi. Kita harus bertempur.”

Dalam pada itu, Panglima prajurit yang setia kepada Toh­jaya itu semakin lama menjadi semakin dekat. Orang-orang Rajasa dan Sinelir yang mencoba menghalanginya, seakan-akan dengan mudahnya disibakkan seperti daun ilalang.

Panglima Pelayan Dalam itu pun segera mempersiapkan diri. Meskipun ia sadar, melawan mereka berlima adalah suatu pekerjaan yg tidak mungkin. Seandainya pengawalnya mampu menahan pengawal-pengawal Panglima itu, tetapi keempat Senapati itu tentu akan berhasil lepas dan bersama-sama mencincangnya.

“Hanya Mahisa Agni lah yang mungkin dapat melawan mereka berlima sakaligus. Itu pun jika memang Mahisa Agni mempunyai ilmu ajaib yang disebut Gundala Sasra.” berkata Panglima itu di dalam hatinya.

Sementara itu, Panglima dan empat orang Senapati yang disebut berhati iblis itu pun menjadi semakin dekat. Wajah mereka menjadi tegang dan menakutkan, mencerminkan warna hati iblis mereka.

Dalam ketegangan itu, tiba-tiba Panglima Pelayan Dalam merasa seseorang menggamitnya. Ketika ia berpaling dilihat­nya Panglima Pasukan Pengawal telah berdiri dibelakangnya bersama beberapa orang pengawalnya.

“He, apakah kau akan melawannya?” bertanya Pang­lima Pasukan Pengawal.

“Tidak ada pilihan lain.” desis Panglima Pelayan Da­lam.

“Sebaiknya kau mengelak lebih dahulu sebelum kau mendapat kekuatan yang cukup. Mereka berlima adalah keku­atan yang tidak ada bandingnya.”

“Semula aku hanya mengamatinya dari kejauhan. Tetapi mereka melihat aku dan mereka mendatangi. Aku tidak akan ingkar akan tugas keprajuritanku.”

Panglima pasukan Pengawal itu termenung sejenak. Lalu katanya, “Memang. Tidak seharusnya kita ingkar.” ia termenung sejenak, lalu, “Baiklah. Aku bersamamu sekarang.”

Panglima Pelayan Dalam itu memandanginya sejenak. De­sisnya, “Apakah kau akan melawan mereka pula.”

“Apa boleh buat.”

Kedua Panglima itu pun kemudian mengambil jarak. Ka­rena jumlah pengawal mereka bertambah, maka masing-masing telah menyiapkan sekelompok kecil prajurit yang paling baik untuk bersama-sama melawan kelima orang lawan yang tidak ada ban­dingnya itu.

“Setidak–tidaknya kita harus berusaha menahan mereka.” berkata Panglima Pasukan Pengawal kepada prajurit-prajurit terpilih yang mengawalnya, “Karena itu. kita harus bertempur sebaik–baiknya. Mereka tentu akan terbagi dan melawan kami berdua. Tetapi aku dan Panglima Pelayan Dalam harus melawan me­reka dalam kelompok pula.”

Prajuritnya mengangguk-angguk. Tetapi mereka pun sadar, sia­pakah Panglima dan keempat Senapati yang disebut berhati iblis itu.

Namun mereka adalah prajurit juga. Prajurit yang pernah mendapatkan ilmu keprajuritan. Bukan saja dari pimpinan me­reka tetapi sejak mereka memasuki lapangan keprajuritan, me­reka merasa sudah memiliki bekal dari perguruan masing-masing.

Itulah sebabnya, mereka bahwa mereka bukan hanya seke­dar akan membunuh diri. Apalagi dalam jumlah yang lebih banyak.

Namun dalam pada itu, Panglima Pelayan Dalam dengan diam-diam telah memerintahkan dua orang penghubungnya untuk mencari Mahisa Agni, dengan pesan, “Panglima prajurit ber­sama keempat Senapati berhati iblis itu tidak dapat dibatasi tingkah lakunya.”

Sementara itu. Panglima yang diikuti oleh keempat Sena­patinya itu pun menjadi semakin dekat. Wajah mereka nampak tegang dan memancarkan kebencian tiada taranya.

Keempat Senapati yang disebut berhati iblis itu pun segera bergeser salig menjauh, seakan-akan mereka akan mengepung kedua Panglima bersama pengawalnya.

“Pengkhianat.” geram Panglima yang setia kepada Tohjaya itu, “Kalian begitu bernafsu membunuh pengikut–pengikut Anusapati saat itu. Sekarang kalian mencoba melawan tuanku Tohjaya dan seluruh kekuatan Singasari.”

Panglima Pasukan Pengawal melangkah maju sambil men­jawab, “Semuanya sudah berubah. Tuanku Tohjaya pun sudah berubah. Itulah sebabnya maka pendirianku pun berubah.”

“Persetan. Apakah kau sadar, bahwa pengkhianatanmu itu harus kau tebus dengan nyawamu dan nyawa semua pengikutmu.”

“Kau bermimpi.” sahut Panglima Pelayan Dalam, “Keadaan pertempuran di halaman ini pun sudah berubah. Pasu­kanmu mulai terdesak di mana-mana. Lihat, orang-orang yang memasuki halaman ini dengan meloncati dinding semakin lama menjadi semakin banyak.”

“Tetapi mereka adalah orang-orang dungu yang tidak mampu berperang.”

“Mereka adalah anak buahmu. Mereka adalah prajurit-prajurit Singasari yang ada di Kediri dan yang lain adalah prajurit-prajurit yang tersebar di beberapa daerah Singasari yang lain.”

“Pengkianat mereka juga pengkhianat seperti kau.”

“Mereka dapat memilih, manakah yang benar dan yang manakah yang salah.”

Panglima itu menggeram. Lalu katanya, “Itulah sebab­nya kau tidak berani berbuat apa-apa terhadap Mahisa Agni.”

“Akulah yang membawanya dari Kediri.” berkata Panglima Pelayan Dalam itu, “Tetapi aku menyadari kekuatan yang ada di belakangnya.”

“Dan kekuatan itu sekarang kau pergunakan untuk ber­khianat.”

“Salah.” potong Panglima Pasukan Pengawal, “Tuan­ku Tohjaya lah yang memaksa kami untuk melawannya.”

“Persetan, Aku tidak peduli. Sekarang kau berdua harus mengalami akibat yang sangat buruk dari pengkhianatanmu. Kau berdua akan mengalami nasib seperti kedua Senapatimu yang mati dan dibuang kekali untuk menjadi makanan burung–burung liar pemakan bangkai.”

Kedua Panglima itu saling berpandangan sejenak, seakan-akan masing-masing ingin mengetahui, apakah mereka sudah bersiap.

“Marilah.” berkata Panglima prajurit yang setia kepa­da Tohjaya itu, “Kita akan segera mulai.”

Panglima Pelayan Dalam memandang keempat Senapati lawan itu sekilas. Namun disebelah menyebelahnya, pengawal-pengawalnya pun sudah bersiap sepenuhnya. Dan mereka bukannya prajurit yang baru kemarin siang mendapat wisuda, tetapi mere­ka prajurit-prajurit pilihan yang berpengalaman pula.

Meskipun demikian, kedua Panglima itu harus mengakui, bahwa pengawalnya tidak akan dapat menyamai keempat Senapati berhati iblis itu.

Tetapi tidak ada pilihan lain. Adalah wajar sekali apabila kedua Panglima itulah yang harus melawan mereka. Jika yang harus menghadapi kelima orang itu hanyalah prajurit-prajurit dan Senapati-Senapati yang lain, maka korban tentu akan berjatuhan seper­ti menebang batang ilalang saja.

Sejenak kemudian, mereka masih saling mempersiapkan diri. Keempat Senapati yang disebut berhati iblis itu pun sege­ra membagi diri. Yang seorang akan bertempur bersama Panglimanya, dan yang tiga orang akan bertempur berpasangan.

Panglima Pasukan Pengawal menyadari, agaknya Pangli­ma prajurit yang telah mendesak kedudukan Pasukan Penga­wal itu telah bersiaga melawannya bersama seorang Senapati­nya, sedang ketiga Senapati yang lain telah bersiap untuk ber­tempur melawan Panglima Pelayan Dalam.

Kedua belah pihak ternyata benar-benar telah bersiaga. Mereka agaknya sudah tidak akan berbicara lagi. Selangkah demi se­langkah mereka saling mendekati, sehingga akhirnya, senjata-senjata pun mulai bergerak.

Panglima prajurit yang setia kepada Tohjaya itu pun se­gera mengayunkan senjatanya. Sebilah pedang yang tajam di kedua belah sisinya. Sedang Senapati pembantunya yang seo­rang itu pun telah meloncat pula dengan garrangnya. Ditangannya tergenggam sebuah canggah bertangkai pendek.

Dilingkaran yang lain, ketiga Senapati yang berhati iblis itu pun telah mulai menyerang pula. Senjata mereka pun sangat mendebarkan hati. Yang seorang membawa sebilah tongkat besi yang bergerigi seperti duri pada daun pandan dalam em­pat jalur. Yang seorang lagi membawa sebuah bindi kayu ga­lih asem ditangan kanan, sedang ditangan kirinya tergenggam sebilah pedang pendek. Sedang yang seorang lagi hanya meme­gang sebilah pedang biasa yang tidak terlampau besar.

Kedua Panglima yang melawan mereka itu pun telah meng­genggam senjata pula di tangan masing-masing. Sehelai pedang pan­jang.

Sejenak kemudian, maka pertempuran segera terjadi dengan sengitnya. Ternyata bahwa Panglima Pasukan Penga­wal dan Panglima Pelayan Dalam, tidak harus melawan mu­suhnya seorang diri. Beberapa orang pengawal pilihan pun se­gera mendampinginya melawan prajurit-prajurit berhati iblis itu.

Agaknya para pengawal pilihan itu pun mempunyai ke­banggaan mereka masing-masing. Senjata mereka ternyata bukannya senjata yang biasa dipergunakan oleh prajurit Singasari, apa­lagi bagi Pasukan Pengawal dan Pelayan Dalam yang memper­gunakan senjata seragam. Tetapi di dalam perang yang dah­syat dan di dalam mempertaruhkan nyawa, mereka lebih senang mempergunakan senjata yang mereka pelajari diperguruan ma­sing-ma­sing sebelum mereka memasuki lingkungan keprajuritan.

Bahkan ada di antara mereka yang bersenjatakan sebatang tombak, pendek yang ujungnya bergerigi. Ada pula yang membawa sepasang rongkat besi yang dihubungkan dengan rantai baja. Dan ada pula yang bersenjatakan tongkat pendek yang tajam dikedua ujungnya.

Demikianlah maka pertempuran itu menjadi semakin la­ma semakin seru. Berbagai macam jenis senjata telah beradu. Apalagi mereka yang memiliki kelebihan di dalam olah kanuragan. Para Panglima dan Senapati.

Sejenak kemudian pertempuran ditempat itu pun segera menarik perhatian. Beberapa orang prajurit justru tertegun menyaksikan. Namun sementara itu. mereka masing-masing masih ha­rus bertempur pula di dalam lingkaran pertempuran mereka sendiri.

Lembu Ampal yang sudah ada dihalaman itu pun segera tertarik pula oleh pertempuran yang sengit itu. Karena itulah maka ia pun kemudian meninggalkan daerah pertempurannya sendiri, karena kawamnya sudah semakin banyak berdatangan. Ia ingin melihat, siapakah yang terlibat di dalam pertemputan itu.

Ketika ia menjadi semakin dekat, maka hatinya pun men­jadi semakin berdebar-debar. Ia melihat tiga orang Panglima dan empat orang Senapati yang disebut berhati iblis itu sedang bersabung.

“Panglima Pasukan Pengawal dan Panglima Pelayan Da­lam itu tentu tidak akan dapat bertahan lebih lama lagi.” ber­kata Lembu Ampal, karena ia pun tahu kemampuan kelima orang itu. Sedangkan para pengawal hanya dapat sekedar mem­bantu dan merupakan pelarian sementara jika kedua Panglima itu sudah menjadi sangat terdesak.

“Mereka tidak boleh dibiarkan.” berkata Lembu Ampal pula kepada diri sendiri, meskipun ia masih tetap ragu-ragu, apakah kehadirannya akan dapat menolong kedua Panglima iru. Namun setidak-tidaknya, kehadirannya diarena itu akan mam­pu memperingan beban kedua Panglima itu. atau salah seorang dari mereka.

Demikianlah, maka Lembu Ampal pun segera mendekati arena itu. Kemudian dengan serta merta ia meloncat memasuki arena dengan pedang ditangannya.

“Lembu Ampal.” desis Panglima parjurit yang setia kepada Tohjaya itu.

“Ya, aku adalah Lembu Ampal.”

“Kau turut berkhianat?”

“Tidak. Aku berdiri dipihak yang benar. Aku menolak untuk menjalankan perintah tuanku Tohjaya, membunuh tuan­ku Ranggawuni dan tuanku Mahisa Cempaka yang tidak ber­salah.”

Panglima prajurit yang setia kepada Tohjaya itu tertegun sejenak. Dipandanginya Lembu Ampal dengan sorot mata yang memancarkan kebencian.

“Kau datang untuk menyerahkan nyawamu Lembu Ampal. Memang sudah menjadi nasib seorang pengkhianat untuk mati dimanapun juga.”

“Jika demikian, marilah kita lihat, siapakah yang akan mati di antara kita. Yang mati itu adalah pengkhianat.”

“Bagus.” teriak Panglima itu sambil meloncat menye­rang Lembu Ampal.

Lembu Ampal memang sudah siap menghadapi segala ke­mungkinan. Karena itu, maka serangan Panglima itu pun tidak mengejutkannya.

Dengan tangkasnya Lembu Ampal mengelak. Namun ia­ pun segera membalas serangan itu dengan serangan yang tidak kalah dahsyatnya.....

Bersambung....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...