Jumat, 29 Januari 2021

SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG JILID 01-02

*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : JILID-01-02*


Karya.   : SH Mintardja

Di pagi harinya, ketika penghuni padukuhan itu keluar dari rumah masing-masing, maka mulailah cerita tentang orang-orang bersenjata itu tersebar. Ternyata beberapa buah rumah telah dimasukinya dan mengatakan ancaman yang serupa.

Beberapa orang di antara mereka, memandang Supa dengan penuh curiga. Tetapi orang yang menerima Supa di rumahnya meyakinkan kepada mereka, bahwa Supa malam itu ada di rumah bersamanya.

“Kita tidak dapat menuduhnya. Ia tetap berada di rumah malam itu,” berkata orang yang memberikan tempat kepada Supa.

“Ia dapat memberikan beberapa petunjuk kepada orang-orang yang tidak kita kenal itu.”

“Ternyata orang-orang bersenjata itu masih mencari-cari. Jika seseorang telah memberikan petunjuk kepada mereka, maka mereka tidak akan memasuki setiap rumah dan mengancam setiap orang.”

Mereka yang mencurigai Supa mengangguk-anggukkan kepala. Mereka mulai mempercayainya, bahwa Supa memang tidak bersalah.

“Jika demikian, apakah yang sebaiknya kita lakukan?”

“Kita bersiaga. Kita tidak mau menjadi sasaran tanpa bersalah dan tanpa berbuat sesuatu.”

“Ya. Kita harus bersiaga. Jika ia kembali lagi ke padukuhan ini, maka kita harus sudah siap mengusirnya.”

Beberapa orang mengangguk-anggukkan kepala. Dan mereka pun bersepakat untuk bersiaga menghadapi semua kemungkinan.

Namun dalam pada itu, Supa yang melihat orang di padukuhan itu mempersiapkan diri menghadapi kedatangan orang-orang bersenjata itu pun bertanya kepada salah seorang dari mereka, “Kenapa kalian bersiaga dengan senjata?”

“Apakah kau tidak mendengar berita tentang orang-orang yang bersenjata itu?”

“Ya, aku mendengar.”

“Kenapa kau bertanya tentang kesiagaan ini?”

“Maksudku, aku ingin bertanya, apakah kita akan melawan dengan senjata?”

“Tentu. Kita tidak akan membiarkan diri kita mati tanpa berbuat sesuatu.”

“Tetapi bukankah kita pernah sependapat, bahwa kita mempercayakan diri kita kepada perlindungan Singasari?”

Orang-orang yang mendengar pertanyaan Supa itu menjadi ragu-ragu. Namun kemudian salah seorang dari mereka bertanya, ”Tetapi apakah Singasari benar-benar akan melindungi kita?”

“Aku mengira demikian. Karena itu, sebaiknya salah seorang dari kita melaporkannya.”

“Kepada Tuanku Anusapati?”

“Tentu tidak perlu langsung kepada Tuanku Anusapati. Tentu ada pasukan yang mendapat tugas dan wewenang di daerah ini. Kita melaporkan kepada panglima yang memimpin pasukan pengamanan kota. Bukankah daerah ini sebenarnya masih berada di dalam lingkungan kota raja meskipun sudah di pinggiran?”

“Kita berada di luar dinding kota raja.”

“Lapis pertama. Lingkungan itu adalah lingkungan pusat pemerintahan. Tetapi bukankah gerbang di lapis kedua berada di luar daerah ini.”

Orang-orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya, “Baiklah. Kita akan melaporkannya kepada perwira yang berwenang di daerah ini. Namun demikian, apabila orang-orang itu datang sebelum prajurit sempat mengambil langkah tertentu, kita memang harus bersiaga seperlunya saja.”

Supa tidak dapat mencegahnya. Adalah wajar bahwa di dalam kecemasan yang demikian, orang-orang itu mempersenjatai diri.

Dalam pada itu, beberapa orang pun segera menjumpai perwira yang bertanggung jawab di daerah itu. Dengan singkat mereka melaporkan apa yang telah terjadi.

“Berapa orang menurut dugaanmu? “bertanya perwira itu.

“Kira-kira sepuluh orang.”

“Baiklah. Kami akan mengirimkan beberapa orang prajurit yang akan melindungi padukuhanmu dan mencegah pertumpahan darah.”

Orang itu pun kembali dengan hati yang lapang. Mereka percaya bahwa prajurit-prajurit Singasari itu akan segera datang memberikan perlindungan.

Tetapi sampai pada saatnya malam tiba, tidak seorang prajurit pun yang nampak. Karena itu, maka orang-orang di padukuhan itu menjadi cemas. Dan dalam kecemasan itulah mereka kembali mengambil senjata mereka untuk melindungi isi padukuhan itu dari sergapan orang-orang bersenjata yang tidak dikenal itu.

Hampir setiap laki-laki di dalam pendukuhan itu pun bersiaga. Bahkan salah seorang dari mereka berkata, “Apakah kita perlu memanggil kawan-kawan kita dari padukuhan lain.”

“Tidak. Tidak perlu. Kita cukup kuat. Tetapi jika kita tidak dapat menahan mereka yang barangkali akan datang dalam jumlah yang lebih besar, kita akan membunyikan isyarat.”

Dan kesiagaan itu telah mencemaskan Supa. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Bahkan dengan ketakutan ia pun kemudian berada di lingkungan orang-orang bersenjata yang berkumpul di banjar padukuhan selain pengawas di pinggir padukuhan itu.

Dalam pada itu, selagi orang-orang di padukuhan tempat Supa berlindung itu bersiaga, maka di padukuhan yang lain, telah terjadi hal yang serupa. Beberapa orang bersenjata menjelang malam hari telah datang dan mengetuk beberapa pintu sambil membentak-bentak.

“Di mana pemimpinmu?”

“Pemimpin yang mana?” bertanya salah seorang dari penghuni padukuhan itu.

“Pemimpin kalian, yang ingin memaksakan kehendak kalian untuk memanjatkan kembali nama Akuwu Tunggul Ametung di dalam pemerintahan yang dipimpin oleh Anusapati”

“Ah.”

“Berterus-teranglah.”

“Kami tidak pernah merasa bahwa kami telah melakukannya dengan kekerasan. Kami memang mengharap bahwa Tuanku Anusapati tidak melupakan lantaran kelahirannya. Karena kami anggap bahwa yang menurunkan Tuanku Anusapati, serta modal dari kelahiran Singasari adalah Tumapel, maka kami mempunyai keinginan agar kita tidak melupakan Akuwu Tunggul Ametung. Hanya itu. Tetapi kami sama sekali tidak mimpi untuk melakukan kekerasan atas keinginan tersebut. Sekedar keinginan seperti orang-orang lain mempunyai keinginan.”

“Omong kosong. Kalian sudah melakukan kekerasan. Tetangga kami yang paling baik sudah kalian bunuh.”

“He? Kamilah yang telah kehilangan. Orang tua yang sangat kami hormati telah terbunuh.”

“Omong kosong. Laki-laki itu mabuk tuak dan mati di dalam lumpur sawah. Jangan bercerita tentang sesuatu yang tidak pernah terjadi.”

“Dan laki-laki yang kau sebut tetanggamu yang baik itu pun tidak mati terbunuh oleh orang lain. Ia terbunuh oleh tetangga-tetangganya sendiri karena mencuri.”

“Diam!” bentak orang-orang bersenjata itu, “jika aku tidak berhasil menemukan pemimpin kalian, maka kalian akan merasakan akibatnya. Aku dapat berbuat apa saja untuk melepaskan kekecewaan kami.”

Demikianlah maka orang-orang bersenjata itu pergi sambil melepaskan ancaman. Sehingga karena itu, maka orang-orang padukuhan yang merasa dirinya diancam itu pun segera mempersiapkan diri.

“Karena kita harus menyiapkan senjata?” bertanya Raka yang tinggal di antara mereka.

“Apakah kita harus menyerahkan leher kita.”

“Kenapa kita tidak melaporkannya kepada prajurit Singasari yang bertugas di daerah ini?”

Beberapa orang menjadi termangu-mangu. Namun kemudian salah seorang berkata, ”Baik, baik. Kita akan melaporkannya agar dengan demikian nama kita akan terlindung dari ancaman hukuman bahwa kita sudah bertindak sendiri. Namun demikian kita pun harus bersiap jika terjadi sesuatu sebelum perlindungan itu datang.”

Raka tidak dapat mencegahnya pula ketika mereka kemudian menyiapkan senjata di tangan mereka, sementara beberapa orang datang kepada para prajurit Singasari yang bertugas.

“Baik, adalah tugas kami untuk melindungi kalian,” berkata perwira yang memimpin prajurit-prajurit itu.

Namun dalam pada itu, juga di padukuhan itu ternyata tidak mendapat perlindungan dari seorang prajurit pun.

Dengan demikian maka kedua padukuhan yang agak berjauhan letaknya itu telah menyiagakan diri. Bahkan kemudian dari hari ke hari kesiagaan itu telah menjalar. Padukuhan-padukuhan lain yang merasa mempunyai sikap dan pendirian yang sama, telah bersiap pula karena mereka pun akan dapat menjadi sasaran orang-orang bersenjata yang tidak mereka kenal. Namun masing-masing menganggap bahwa orang-orang bersenjata itu datang dari pihak yang lain, yang akan menuntut balas kematian-kematian yang pernah terjadi.

Dalam pada itu, suasana menjadi semakin lama semakin panas. Jika prajurit Singasari tidak mengambil sikap, maka akan dapat timbul perang di antara mereka. Perang yang tidak akan mendatangkan keuntungan bagi siapa pun juga, kecuali mereka yang memang menginginkan Singasari goyah dari dalam tubuhnya sendiri.

Tetapi ternyata prajurit Singasari yang sudah mendapat laporan tentang hal itu sama sekali tidak berbuat apa-apa. Bahkan mereka sama sekali tidak meneruskan laporan itu kepada atasan mereka.

“Kita tinggal menunggu,” berkata salah seorang dari mereka, “jika hal itu sudah terjadi, barulah kita datang. Tetapi pertentangan itu tentu sudah akan meluas, dan dendam menjadi semakin dalam.”

“Ya. Dan itu akan segera terjadi. Singasari akan goyah. Dan Tuanku Anusapati akan kehilangan kewibawaan di mata rakyatnya.”

“Para panglima tidak akan mengetahui apa yang terjadi, karena kita di sini tidak meneruskan laporan itu.”

Prajurit-prajurit itu tertawa. Katanya, “Semua sudah ada di bawah pengaruh kita. Kita akan segera mendapatkan kesempatan yang sangat baik.”

“Tetapi bagaimana jika sampai saatnya kita berpindah tugas dari tempat ini ke tempat yang lain, tetapi perang di antara mereka itu belum terjadi? Dan mungkin pasukan yang menggantikan kita akan segera mengirimkan perlindungan kepada mereka kedua belah pihak?”

“Tentu kita tidak akan memberitahukan persoalan itu. Jika demikian suasananya akan lebih menguntungkan. Kita tidak bertanggung jawab sama sekali, dan pihak istana dan panglima akan menuntut pertanggungan jawab prajurit-prajurit yang menggantikan kita itu.”

Kawannya mengangguk-anggukkan kepala sambil tersenyum.

Dalam pada itu, keadaan semakin lama memang menjadi semakin panas. Prajurit Singasari sama sekali tidak ada yang datang ke tempat yang telah mereka sanggupkan.

Dengan demikian maka orang-orang yang merasa dirinya terancam itu pun menjadi semakin cemas dan persiapan mereka untuk melindungi diri pun menjadi semakin kuat.

“Mereka masih menunggu,” berkata salah seorang prajurit.

“Kita harus memancing lagi,” berkata yang lain.

“Bagaimana pendapat pemimpin kita?”

“Belum ada perintah.”

Prajurit-prajurit itu mengangguk-angguk. Namun mereka pun semakin lama menjadi semakin gelisah, karena mereka belum melihat akibat yang terjadi setelah sekelompok orang-orang bersenjata mendatangi kedua belah pihak.

“Kita memang harus berbuat sesuatu,” berkata perwira yang memimpini prajurit-prajurit yang bertugas itu.

“Ya, jika tidak, maka mereka pun hanya akan menunggu.”

“Ambil seorang dari masing-masing pihak. Bawa kemari, atau kalian dapat membunuhnya, tetapi mayatnya jangan sampai ditemukan oleh pihak masing-masing. Dengan demikian mereka akan mencari dan bentrokan akan terjadi.”

“Kapan kita lakukan?”

“Malam nanti.”

Para prajurit itu pun kemudian bersiap. Sepuluh orang dengan pakaian yang beraneka warna akan mendatangi padukuhan-padukuhan yang sedang bertentangan itu dan mengambil seorang dari antara mereka, siapa pun juga.

Sementara itu, orang-orang yang bersikap melindungi diri masing-masing itu pun menjadi semakin gelisah. Mereka seakan-akan tidak sabar lagi menunggu, sehingga salah seorang dari mereka berkata, “Marilah kita berbuat suatu. Kita tidak dapat menunggu terus menerus sehingga rasanya kita seperti tersiksa siang dan malam berhari-hari.”

“Apa yang dapat kita lakukan?” bertanya Supa.

“Kita mencari orang-orang yang datang kemari itu.”

“Ke mana?”

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Lalu, “Ke padukuhan itu.”

“Dengan demikian tentu akan timbul benturan bersenjata. Dan kitalah yang akan dipersalahkan, karena kita yang datang seakan-akan menyerang ke padukuhan yang lain.”

“Tetapi aku menjadi gila menunggu. Di siang hari aku tidak dapat bekerja dengan tenang, dan di malam hari rasa-rasanya tidak dapat tidur sama sekali.”

“Bukankah kita sudah mengatur penjagaan? Kita percaya kepada diri kita. Kepada kawan-kawan kita yang bertugas. Bukankah jika kita berada di sawah, di ladang, di rumah dan di gardu, kita sudah bersenjata? Jika terjadi sesuatu, kita sudah siap untuk membela diri. Ingat, sekedar membela diri.”

Orang-orang tua di padukuhan itu pun ternyata sependapat dengan Supa, sehingga mereka pun mengangguk-anggukkan kepala ketika mereka mendengarkan pembicaraan itu.

Tetapi seseorang yang masih muda dan bertubuh kekar berkata, “Supa, kau adalah pendatang. Kami, orang-orang padukuhan ini berpendapat bahwa kami sebaiknya menyerang saja daripada tersiksa oleh waktu.”

Yang menjawab kemudian bukannya Supa, tetapi orang-orang tua. Salah seorang dari mereka berkata, “Jangan tergesa-gesa. Kita harus waspada. Seandainya memang kita harus menyerang dan mencari orang-orang bersenjata yang telah mengejutkan kita, maka kita harus tahu, apakah yang sudah dilakukan oleh orang-orang padukuhan yang akan kita datangi. Jika mereka pun sudah bersiap dengan kekuatan yang jauh lebih besar, maka kedatangan kita akan sia-sia dan justru kitalah yang akan menyerahkan korban terlampau banyak. Apalagi dari sudut pandangan prajurit Singasari, kitalah yang telah bersalah, menyerang padukuhan lain dengan kekerasan senjata.”

Ternyata bahwa orang-orang yang kehilangan kesabaran itu pun terpaksa menurut dengan pendapat orang-orang tua. Mereka mengangguk betapapun hati mereka sebenarnya bergejolak.

Ternyata yang serupa, telah terjadi pula di padukuhan yang lain. Dengan susah payah Raka terpaksa membujuk mereka agar tidak melakukan kekerasan. Sebab dengan demikian maka yang terjadi tidak lebih dari pertumpahan darah. Sedang mereka tidak akan mendapatkan penyelesaian daripada persoalan yang sedang berkecamuk itu. Bahkan yang akan terjadi adalah dendam yang semakin membara

Agaknya kedua belah pihak masih menahan diri. Tetapi mereka sama sekali tidak mengetahui, bahwa apabila malam tiba, sekelompok orang-orang bersenjata akan melakukan kekerasan untuk memancing kekeruhan di antara mereka.

Demikianlah ketika malam turun perlahan-lahan, di kedua padukuhan itu telah siap beberapa orang yang bertugas mengawasi keadaan di setiap lorong. Beberapa orang bersenjata duduk di gardu sambil berbicara hilir mudik untuk mencegah kantuk yang mulai meraba-raba mata mereka.

“Beberapa lama lagi aku masih harus duduk di sini,” gumam salah seorang dari mereka.

“Tengah malam mereka akan menggantikan kita,” jawab yang lain.

“Dan tengah malam itu masih terlalu lama.”

Kawan-kawannya tidak menyahut. Mereka duduk bersandar di dinding gardu yang dibuat dari anyaman bambu. Sementara senjata mereka pun mereka letakkan di pangkuan.

Namun dalam pada itu, para prajurit yang akan memancing kekeruhan itu pun sudah siap. Para prajurit itu sudah mengetahui bahwa di kedua padukuhan itu diadakan penjagaan yang rapat. Tetapi mereka adalah prajurit-prajurit yang cukup berpengalaman.

Para prajurit itu mengetahui dengan pasti, bahwa orang-orang di kedua padukuhan itu mengawasi setiap jalan masuk ke dalam padukuhan masing-masing. Tetapi bagi para prajurit, jalan masuk bukannya regol-regol padukuhan itu saja. Tetapi dengan meloncati dinding padukuhan, mereka akan sampai juga di dalam.

Demikianlah ketika saatnya sudah tiba menjelang tengah malam, maka beberapa orang prajurit telah mengubah diri mereka masing-masing di dalam kelompok-kelompok kecil. Setiap kelompok terdiri dari lima orang.

“Nah,” berkata perwira yang memimpin mereka, “setiap padukuhan harus didatangi oleh dua kelompok. Bukankah sudah cukup?”

“Cukup,” sahut seorang prajurit, “kita hanya akan menghadapi cucurut-cucurut kecil. Mereka akan segera lari ketakutan apabila kita sudah mulai bertindak. Mungkin perlu satu dua orang korban jatuh. Selain seorang yang harus hilang.”

“Kalian tidak perlu membunuh jika tidak perlu selain seorang itu. Kalian boleh melukai mereka. Akhirnya mereka akan saling membunuh sendiri tanpa kalian.”

“Tetapi,” tiba-tiba seorang prajurit berkata, “bagaimana jika para panglima mengetahui?”

“Tidak. Mereka tidak akan mengetahui.”

Para prajurit itu mengangguk-anggukkan kepalanya

“Nah, berangkatlah. Hati-hati. Kalian mengetahui apa yang harus kalian lakukan. Kalian memasuki padukuhan itu lewat dua jalan. Kemudian kalian berbuat sesuatu untuk mengacaukan orang-orang yang menurut perhitungan kalian bersenjata. Setelah jatuh satu dua orang korban, kalian segera melarikan diri. Dengan demikian maka dendam telah menyala di setiap dada. Dan mereka akan segera bertindak sendiri-sendiri.”

Demikianlah maka prajurit-prajurit yang sudah menyamar diri masing-masing itu pun segera berangkat, kelompok kecil menuju kedua padukuhan yang mereka anggap paling peka untuk menerima pancingan serupa ini.

Rasa-rasanya keempat kelompok yang dibagi menjadi dua arah itu menjadi semakin cepat maju ketika mereka menjadi semakin dekat dengan padukuhan yang menjadi sasaran mereka masing-masing. Rasa-rasanya mereka ingin segera berbuat sesuatu. Jika usaha mereka berhasil, maka mereka akan mendapat hadiah yang tidak sedikit. Apalagi apabila Singasari benar-benar goyah dan kemudian terjadi perubahan pada pucuk pimpinan pemerintahan. Maka mereka pasti akan mendapat bukan saja hadiah harta dan benda, tetapi juga jabatan dan pangkat.

Demikianlah mereka menjadi semakin dekat dengan padukuhan-padukuhan itu. Sebelum mereka memasuki padukuhan-padukuhan itu dengan meloncati dinding, maka mereka lebih dahulu memperhatikan setiap regol pada jalur jalan yang memasuki padukuhan-padukuhan itu, terutama jalan induk.

Tetapi para prajurit yang menyamar itu menjadi heran. Ternyata pintu-pintu regol itu tetap terbuka, seolah-olah tidak terjadi sesuatu pada padukuhan-padukuhan itu.

“Aneh?” desis salah seorang dari mereka, “Rasa-rasanya mereka tidak menghiraukan apa yang dapat terjadi atas mereka.”

“Memang aneh. Tetapi aku melihat sendiri, semalam mereka masih tetap bersiaga di regol-regol. Pintu-pintu regol itu tertutup dan beberapa orang berjaga-jaga di gardu-gardu.”

“Lihat gardu-gardu itu!” perintah pemimpin kelompok. Dua orang kemudian merayap mendekati gardu di regol induk untuk melihat apakah ada beberapa orang peronda. Namun ternyata gardu itu kosong. Demikian juga di gardu induk padukuhan yang satu lagi.

“Aneh?” desis pemimpin kelompok yang mendapat laporan itu, “Aku tidak tahu, apakah artinya ini.”

“Memang aneh. Tetapi aku kira mereka benar-benar tidak ingin berkelahi.”

“Tetapi sampai semalam mereka benar-benar sudah bersiap meskipun mereka tidak mau menyerang.”

“Tetapi,” tiba-tiba salah seorang berkata, “apakah mereka tidak sabar menunggu, dan kini orang-orang di padukuhan ini mulai menyerang?”

Pemimpin kelompok itu berpikir. Namun kemudian, “Seandainya demikian, tentu regol-regol padukuhan itu ditutup dan dijaga sebaik-baiknya. Ternyata tidak seorang pun yang kelihatan.”

“Agaknya mereka berusaha menjebak kita.”

“Bagaimana mungkin mereka akan menjebak.”

“Kenapa tidak. Mereka menunggu kita masuk, kemudian mereka menyerang kita beramai-ramai.”

“Jika demikian mereka benar-benar bodoh. Apa mereka mengira dapat mengalahkan kita?”

“Mereka tidak tahu, bahwa kita adalah prajurit-prajurit.”

Kawan-kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Jika demikian maka tentu hanya sebuah regol saja yang terbuka. Marilah kita melihat regol yang lain.”

Demikianlah prajurit-prajurit itu melihat regol-regol yang lain. Namun seperti regol di jalan induk itu, maka semuanya terbuka dan tidak seorang pun yang menjaganya.

“Aneh sekali. Dengan demikian, aku menjadi curiga.”

“Lalu?”

“Kita batalkan saja rencana yang lain, tetapi tetap mengambil salah seorang dari mereka. Orang yang kita ambil itu akan hilang. Dengan demikian maka mereka tentu akan mencarinya.”

“Kita tidak perlu melukai satu dua orang?”

“Jika terpaksa. Tetapi jika padukuhan itu memang kosong, atau orang-orangnya menjadi ketakutan, kita tidak perlu bersusah payah. Seorang sudah cukup untuk membakar dendam mereka.”

“Jadi kita masuk ke dalam padukuhan itu.”

“Tidak lewat jalur jalan. Kita meloncati dinding.”

Namun seseorang masih juga bertanya, “Jika mereka memang ketakutan, apa gunanya kita mengambil seorang dari mereka, dan membuat kesan bahwa orang itu hilang karena ia tidak pernah kembali dan tidak ditemukan mayatnya? Mereka yang ketakutan itu tentu tidak akan mencarinya.”

“Kita mengharap bahwa dendam mereka akan mengatasi ketakutan itu,” sahut pemimpin kelompok, “tetapi jika mereka tetap tidak berbuat apa-apa, kita akan memikirkan cara lain.”

Tidak ada yang bertanya lagi, sehingga pemimpin kelompok itu pun mulai membawa anak buahnya merayap maju mendekati dinding yang melingkari padukuhan.

Peristiwa yang serupa terjadi pula di padukuhan yang lain. Yang sengaja dibakar kemarahannya agar dendam menyala di antara kedua belah pihak.

Dalam pada itu, pada padukuhan tempat Supa berlindung, benar-benar sesepi padang di pinggir hutan. Tampaknya tidak ada seorang pun yang keluar rumahnya, sehingga regol-regol, gardu dan simpang-simpang empat yang sering dikunjungi beberapa orang sekedar untuk duduk dan berbicara tanpa ujung pangkal, benar-benar sunyi.

Demikian padukuhan yang menyimpan Raka di dalamnya. Tidak ada sesosok tubuh pun yang nampak di jalan-jalan padukuhan. Pintu-pintu rumah sudah ditutup rapat dan diselarak dari dalam.

Dalam pada itu, maka orang-orang bersenjata itu pun mulai berloncatan memasuki padukuhan. Sejenak mereka mengamati keadaan. Namun agaknya padukuhan itu benar-benar sepi.

“Apa yang akan kita lakukan. Tidak seorang pun yang kita jumpai.”

“Ya. Tetapi kita harus mengambil seseorang.”

“Siapa? Apakah kita akan mengambil Ki Buyut padukuhan ini, atau siapa?”

“Siapa saja. Marilah kita berjalan menyusuri jalan ini. Kita tidak perlu memisahkan diri. Biarlah kedua kelompok ini berjalan bersama. Kita mengambil orang dari rumah yang pertama kita jumpai.”

“Ya. Dan itu adalah nasibnya. Kita tidak menentukan siapa yang bernasib jelek itu.”

Demikianlah maka orang-orang bersenjata itu pun mulai menyusuri jalan di dalam padukuhan yang sepi itu. Sekali pemimpin kelompok itu tertegun ketika ia mendengar suara burung kedasih yang seakan-akan sedang meratapi nasibnya yang malang.

“Burung kedasih?” desis seorang prajurit yang menyamar.

“Ya, suara burung kedasih.”

“Pertanda kepedihan. Di padukuhan ini akan terjadi peristiwa yang sedih. Suara burung kedasih adalah pertanda tangis.”

“Apa boleh buat bahwa seseorang harus menitikkan air mata karena kehilangan.”

“Mungkin bukan hanya seseorang. Mungkin dua tiga orang. Istri dan anak-anaknya.”

“Dan akan disusul oleh tangis dan ratap di seluruh padukuhan. Manakah yang akan lebih dahulu menyerang melepaskan dendam. Padukuhan yang ini atau padukuhan yang lain, yang malam ini juga akan kehilangan salah seorang penghuninya. Mungkin malam ini juga terdengar suara burung kedasih di padukuhan itu,” gumam seorang di antara para prajurit itu.

Tetapi tidak ada seorang pun yang menjawab.

Dalam pada itu, mereka melangkah terus semakin dalam. Pada padukuhan yang sepi itu, mereka sudah memutuskan untuk memasuki rumah yang pertama dan mengambil penghuni laki-lakinya siapa pun orang itu.

Ketika mereka melihat sebuah regol halaman rumah digantungi oleh lampu minyak, maka seseorang berdesis, “Malanglah nasib penghuni rumah itu. Kita akan memasukinya dan membawa penghuninya.”

Demikianlah sekelompok prajurit itu pun kemudian berdiri di muka regol, sedang yang lain bertugas memasuki halaman rumah yang pertama-tama mereka jumpai itu.

“Kita tidak memilih,” desis seorang prajurit muda, “nasib kadang-kadang berbuat dengan kejam. Mimpi apakah gerangan laki-laki ini.”

“Ah kau. Jika kita terlampau banyak membuat pertimbangan maka kerja kita tidak akan dapat selesai.”

Prajurit muda itu terdiam. Tetapi ada sesuatu yang tidak mapan di dalam hatinya.

Sejenak kemudian maka pemimpin kelompok itu sudah mengetuk pintu. Perlahan-lahan, tetapi semakin lama semakin keras.

“Siapa?” terdengar suara seorang perempuan.

“Aku! Buka pintu!”

“Suamiku tidak ada di rumah,” jawab suara perempuan itu.

“Di mana?”

“Pergi, sejak sore hari.”

“Buka pintu!”

“Besok pagi sajalah.”

“Buka pintu!” pemimpin kelompok itu menjadi tidak sabar sehingga ia berteriak “jika kau tidak mau membuka, aku akan merusaknya.”

Sejenak tidak terdengar sesuatu. Namun kemudian terdengar suara perempuan itu lagi, “Jangan, jangan kau rusak pintu. Aku akan membukanya.”

“Cepat!”

“Tunggu.”

Tetapi pemimpin kelompok itu menjadi curiga. Karena itu, maka tanpa berkata apapun lagi, ia pun segera mendorong pintu rumah itu.

Tetapi ternyata ia salah hitung. Pintu itu sama sekali tidak dipalang, sehingga karena dorongan kekuatannya sendiri ia pun kehilangan keseimbangan dan jatuh terjerembab.

Tetapi orang yang terjatuh itu pun segera meloncat bangun dengan hati yang terbakar.

Dengan sorot mata yang bagaikan bara, orang yang terjatuh itu memandang seorang perempuan yang berdiri gemetar dengan menggendong seorang anak kecil. Ketakutan yang amat sangat membayang di wajah perempuan itu, sedangkan anak yang ada di dalam gendongannya itu pun sudah mulai terisak-isak. Tetapi seakan-akan anak itu mengetahui, bahwa ia tidak boleh menangis berteriak-teriak, sebab dengan demikian akan dapat membahayakan dirinya.

“Gila!” bentak orang yang terjatuh itu, “Kenapa kau tidak menyelarak pintu, sehingga aku terjatuh karenanya?”

“Aku, aku lupa,” jawab perempuan itu ketakutan.

“Persetan! Di mana suamimu?” bertanya pemimpin kelompok itu sambil menyeringai karena punggungnya terasa agak sakit.

“Suamiku pergi.”

“Ke mana?”

“Aku tidak tahu. Tetapi ia pergi sejak sore. Mungkin ia pergi ke sawah karena tetangga-tetangga mengatakan bahwa parit mulai mengalir,” perempuan itu berhenti sejenak, lalu, “tetapi apakah maksud kalian mencari suamiku.”

“Jangan bohong! Di mana suamimu?”

“Pergi, aku bersumpah. Ia tidak ada di rumah.”

Pemimpin kelompok itu berpikir sejenak. Namun tiba-tiba ia memberi perintah kepada orang-orangnya, “Lihat seisi rumah!”

Serentak anak buahnya pun bergerak memasuki setiap bilik dengan senjata telanjang di tangan. Dilihatnya segenap sudut dan di bawah pembaringan. Tetapi mereka memang tidak menemukan seseorang.

“Tidak ada seorang laki-laki pun,” lapor salah seorang anak buahnya.

Pemimpin kelompok itu menggeram. Katanya kemudian, “Cari di halaman! Bawalah tiga orang dari kelompok yang ada di luar. Yang lain menjaga regol. Aku tetap di sini.”

Demikianlah orang-orang bersenjata itu pun segera memencar di halaman dan di kebun belakang. Mereka mencari ke dalam lumbung, kandang, dan di segala sudut. Tetapi mereka tidak menemukan yang dicarinya.

“Tidak ada, memang tidak ada. Mungkin perempuan itu memang tidak berbohong,” desis salah seorang prajurit yang menyamar itu.

“Jadi bagaimana?” sahut yang lain.

“Terserah kepada pemimpin kelompok. Mungkin kita harus memasuki rumah berikutnya. Jika kita menemukan laki-laki di sana, kita akan membawanya. Agaknya nasib laki-laki di rumah ini memang masih cukup baik.”

Kawannya tidak menyahut. Mereka pun kemudian menyampaikan hal itu kepada pemimpin kelompok yang ada dijalani rumah itu.

“Gila!” geramnya, “Jadi kita tidak menemukan laki-laki itu?”

“Mungkin ia ada di sawah,” sekali lagi perempuan itu menjelaskan dengan suara gemetar.

“Persetan!” tiba-tiba pemimpin kelompok itu membelalakkan matanya, “apa suamimu sudah tahu bahwa aku akan datang sehingga ia sengaja pergi mengungsi?”

“Tidak. Kami tidak tahu apa-apa. Yang aku dengar, suamiku berbicara tentang air.”

Pemimpin kelompok itu menarik nafas dalam-dalam, seakan-akan ia ingin mengendapkan hatinya yang terbakar oleh kemarahan yang me-luap-luap.

“Ternyata suamimu masih sempat hidup,” pemimpin kelompok itu bergumam, lalu katanya kepada anak buahnya, “kita pergi ke rumah berikutnya.”

Demikianlah maka orang-orang bersenjata itu pun meninggalkan halaman rumah itu dengan hati yang kesal. Agaknya laki-laki yang tinggal di rumah itu masih belum sampai saatnya dijemput oleh maut.

Beberapa puluh langkah kemudian, mereka pun sudah berdiri di depan sebuah regol halaman. Halaman yang agak lebih luas dari halaman yang pertama.

“Kita masuk ke dalam!” perintah pemimpin kelompok, “Kita akan mengambil laki-laki yang ada di rumah ini. Ternyata laki-laki inilah yang sedang bernasib buruk. Jika kita menemukan laki-laki di ujung lorong itu, maka laki-laki penghuni rumah ini tidak akan diraba oleh maut.”

Demikianlah maka sekelompok dari orang-orang bersenjata itu tetap berada di luar agak terpencar, sedang sekelompok yang lain berdiri di muka pintu rumah itu.

Mereka tidak lagi mengetuk pintu dengan sabar. Tiba-tiba saja mereka memukul daun pintu dengan kerasnya.

“Cepat buka pintu!”

Sejenak mereka tidak mendengar jawaban.

“Cepat! Buka pintu!”

Lambat-lambat terdengar suara dari dalam, “Siapa?”

“Jangan bertanya lagi! Buka pintu! Atau aku akan membakar rumah ini.”

Terdengar langkah tergesa-gesa mendekati pintu dan sejenak kemudian pintu itu pun terbuka. Seorang perempuan setengah tua berdiri ketakutan di muka pintu itu.

Pemimpin kelompok itu pun segera meloncat masuk diikuti oleh anak buahnya. Dengan garangnya ia bertanya, “Di mana suamimu?”

“Oh,” perempuan itu melangkah surut, “suamiku sudah meninggal lima tahun yang lalu.”

“Oh, di mana anak-anakmu. Atau siapa pun laki-laki di rumah ini.”

“Anakku laki-laki sedang pergi ke sawah. Ia mendengar parit sudah mengalir.”

“Gila! Siapa yang berkata tentang parit itu kepadamu?”

“Sore tadi bebahu padukuhan ini pergi berkeliling ke setiap rumah. Mereka memberitahukan bahwa parit sudah mengalir. Padi yang hampir kering itu harus diairi.”

Pemimpin kelompok itu termangu-mangu sejenak. Namun tiba-tiba saja ia berteriak, “Bohong! Di mana laki-laki rumah ini?”

Perempuan itu menjadi ketakutan sekali. Dan dengan gemetar ia berkata terbata-bata, “Suamiku sudah mati lima tahun yang lalu. Aku mempunyai enam orang anak. Dua perempuan dan empat laki-laki. Tetapi semuanya sudah kawin dan berumah sendiri, kecuali anak laki-lakiku yang bungsu, yang kini sedang pergi ke sawah.”

Tetapi pemimpin kelompok itu berteriak, “Cari! Cari di seluruh ruangan dan cari di segenap sudut halaman.”

Orang-orangnya pun kemudian mencari di dalam rumah dan yang lain di luar rumah. Namun mereka tidak menemukan seseorang. Mereka memang menemukan pakaian seorang laki-laki bergantungan di dinding bambu. Tetapi seperti yang dikatakan oleh perempuan itu, bahwa anaknya yang bungsu sedang pergi mengairi sawahnya.”

“Di mana letak sawah itu?” pemimpin kelompok itu pun akhirnya bertanya.

“Di sebelah selatan padukuhan ini. Sudah dua pekan bendungan rusak dan air tidak mengalir. Tanaman kami mulai menjadi kuning. Tenaga kami telah terperas habis untuk menaikkan air dengan timba. Dan siang tadi bendungan sudah dapat diselesaikan setelah seluruh isi padukuhan ini, laki-laki perempuan, tua muda bekerja memperbaikinya. Dan ternyata sore tadi air sudah naik dan parit sudah mengalir. Hampir setiap orang pergi ke sawah selain mengairi sawah, juga melihat hasil jerih payah kami. Tetapi aku tidak dapat pergi karena aku menunggui rumah ini.”

“Gila!” teriak pemimpin kelompok itu. Lalu tiba-tiba, “Kita pergi ke selatan padukuhan ini. Kita harus menemukan laki-laki.”

“Tidak semua laki-laki pergi ke sawah,” desis seorang prajuritnya, “tentu ada yang tinggal di rumah. Jika isi rumah terdiri dari beberapa orang laki-laki, maka mereka tidak akan pergi seluruhnya.”

“Mungkin sekali mereka pergi seluruhnya karena mereka ingin melihat hasil jerih payah mereka setelah memperbaiki bendungan. Karena itu, kita pergi ke sawah. Kita dapat mengambil tidak hanya seorang laki-laki.”

Prajuritnya tidak menyahut. Mereka pun kemudian meninggalkan halaman rumah itu dan menyusur jalan yang membelah padukuhan itu, pergi ke selatan untuk mencari dan kemudian mengambil salah seorang laki-laki dari padukuhan itu.

Ternyata bahwa regol padukuhan yang menghadap ke selatan pun kosong seperti regol-regol yang lain. Tidak seorang pun yang menjaganya dan dibiarkan pintu regol itu terbuka.

“Kita akan berhadapan dengan sejumlah penduduk,” berkata seorang prajurit.

Tetapi pemimpin kelompok yang marah itu menyahut, “Aku tidak peduli! Aku tidak akan menghindarkan diri dari pembunuhan yang mungkin harus kita lakukan. Adalah salah mereka, jika mereka berkumpul di sebelah selatan padukuhan ini, dan kemudian mereka harus melakukan perlawanan. Sebaiknya mereka menyerah dan membiarkan seseorang kita bawa. Baru kemudian mereka harus mencarinya di padukuhan yang lain itu. Demikian juga sebaliknya. Mudah-mudahan kawan-kawan kita yang memasuki padukuhan yang berlawanan itu berhasil membakar mereka pula.”

Para prajurit itu tidak menjawab lagi. Tetapi mereka mulai membayangkan sebuah pertempuran. Laki-laki padukuhan itu yang sedang berada di sawah, dan berkumpul dalam kelompok yang cukup, tentu tidak akan menyerah begitu saja. Apalagi agaknya mereka sudah beberapa lama mempersiapkan diri. Adalah kebetulan saja mereka lengah karena air yang mereka anggap sebagai sesuatu yang penting itu, baru saja mengaliri sawah mereka.

Demikian beberapa saat lamanya mereka menyusuri jalan di tengah-tengah sawah. Sejenak kemudian mereka sampai pada sebuah parit yang mengalirkan air yang jernih.

“Agaknya inilah parit itu. Tetapi di manakah laki-laki yang sedang pergi ke sawah itu?” bertanya pemimpin kelompok..

Prajurit-prajurit itu pun tertegun sejenak. Tetapi mereka sama sekali tidak bertemu dengan seorang laki-laki pun. Yang tampak di hadapan mereka adalah padi yang tumbuh dengan suburnya. Tidak tampak tanda-tanda bahwa padi itu menjadi kekeringan air untuk waktu yang cukup lama.

“He, apakah kita sudah tertipu?” geram pemimpin kelompok itu.

“Ya, kita sudah tertipu. Tidak ada seorang laki-laki pun di sini. Tidak ada batang padi yang kering dan tidak ada apa-apa sama sekali,” sahut seorang prajurit yang sedang menyamar itu.

“Gila! Perempuan-perempuan itu sudah menipu kita.”

“Ya, mereka menipu kita.”

“Jahanam! Kita kembali kepada kedua perempuan itu. Kita paksa mereka mengaku di mana laki-laki di rumah mereka. Kita mengambil keduanya. Jika mereka tidak mengaku, biarlah kita bawa kedua perempuan itu. Aku tidak peduli.”

“Tetapi,” tiba-tiba salah seorang dari mereka berkata, “kenapa mereka dapat menjawab serupa. Laki-laki mereka, apakah itu suaminya atau anaknya, pergi ke sawah karena air mulai mengalir?”

Pemimpin kelompok itu berpikir sejenak. Katanya “Ya, kenapa hal itu dapat terjadi.”

“Mungkin mereka tidak berbohong. Tetapi mereka salah mengatakan, bahwa bukan sawah di daerah ini yang pernah mengalami kekeringan itu.”

Pemimpin kelompok itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian, “Aku tidak peduli. Jika di dalam perjalanan kita kembali kedua rumah itu tidak menjumpai laki-laki, maka kita akan membawa dua orang perempuan gila itu. Mereka harus menunjukkan di mana suami atau anaknya. Jika kita tidak menemukan, apa boleh buat. Perempuan itu akan merupakan bahan yang lebih baik.”

Anak buahnya tidak mempersoalkannya lagi. Mereka memang harus berbuat sesuatu untuk membakar permusuhan antara dua golongan rakyat Singasari agar dengan demikian terjadi guncangan pada pemerintahan Anusapati. Jika mereka berhasil membenturkan dua padukuhan dari golongan yang berbeda itu, maka persoalannya tentu akan merambat, karena masing-masing akan menyeret golongannya ke dalam persoalan itu.

Demikianlah maka kelompok kecil prajurit yang menyamar itu dengan tergesa-gesa kembali memasuki regol padukuhan. Ternyata padukuhan itu masih saja sepi seperti ketika mereka melaluinya. Gardu di dalam regol itu tidak terisi oleh seorang pun, sedang pintu regol masih juga terbuka

Namun dalam pada itu, selagi mereka melalui lorong di dalam regol itu, mereka telah terkejut. Lamat-lamat mereka mendengar suara orang tertawa sehingga iring-iringan itu pun kemudian berhenti.

“He, apakah kau mendengar suara tertawa?” bertanya pemimpin kelompok itu kepada seorang prajuritnya.

“Ya. Aku mendengar,” sahut orang itu, “perlahan-lahan.”

“Jika demikian, ada orang di sekitar kita. Suara itu suara seorang laki-laki.”

“Mungkin masih ada orang yang berjaga-jaga di dalam rumah di sekitar tempat ini. Mungkin mereka sedang membicarakan masalah air, atau kepentingan yang lain.”

“Marilah kita cari. Aku yakin, bahwa aku mendengar suara tertawa.”

Sejenak mereka pun berdiam diri. Mereka ingin meyakinkan apakah mereka tidak salah dengar.

Sejenak kemudian maka mereka menjadi yakin. Mereka memang mendengar suara seorang laki-laki yang tertawa.

“Di arah timur. Benar?” bertanya pemimpin kelompok,

“Ya, di arah timur.”

Maka kelompok itu pun kemudian bersiap untuk mencari sumber suara itu ke arah timur. Namun ketika kaki mereka baru saja melangkah, maka mereka dikejutkan oleh suara tertawa itu pula. Tetapi justru di arah yang berlawanan.

“He, kau dengar? Suara itu tidak di arah timur, tetapi di arah barat.”

“Ya, di arah barat.”

“Jadi?”

“Kita yakinkan. Jika kita mendengar suara itu lagi.”

Sejenak mereka berdiam diri. Dan ternyata mereka pun kemudian mendengar suara itu. Memang di arah barat.

“Memang di arah barat.”

“Cepat. Kita harus menemukannya.”

Mereka pun segera dengan tergesa-gesa pergi ke arah barat. Namun Langkah mereka terpaksa terhenti ketika mereka mendengar suara tertawa itu lagi. Justru di arah yang lain.

“Gila!” pemimpin kelompok itu berteriak, “kita mendapat tantangan. Aku dengar suara itu. Dan alangkah bodohnya jika aku mencarinya di arah lain. Baik. Kita harus menjawab tantangan ini.”

Para prajurit itu pun kemudian menyadari bahwa mereka benar-benar mendapat tantangan dari orang yang tidak mereka kenal. Suara tertawa yang berpindah-pindah itu agaknya dengan sengaja agar mereka menjadi bingung, atau justru menakut-nakutinya. Tetapi para prajurit yang cukup berpengalaman itu menyadari bahwa mereka telah dihadapkan pada lawan yang tidak dapat diabaikan.

Dalam pada itu pemimpin kelompok itu pun berkata pula, “Kami menunggu di sini. Ayo, siapakah yang telah menantang kami dengan sikap yang terlampau sombong itu? Agaknya kalian dengan sengaja telah mencoba mempermainkan kami. Tetapi kalian akan menyesal, karena kami akan membalas sakit hati kami berlipat ganda.”

Masih belum ada jawaban.

“Cepat. Jawab kata-kata kami, atau kami harus memanggil kalian untuk datang kemari?”

Tidak ada jawaban.

Pemimpin kelompok itu pun menjadi sangat marah. Dengan suara gemetar ia berteriak, “Baik. Baik Jika tidak seorang pun yang datang, maka aku akan membakar gardu dan regol itu sekaligus. Apabila masih belum ada seorang pun yang datang, kami akan membakar rumah-rumah yang kami jumpai.”

Masih tetap belum ada jawaban yang mereka dengar, sehingga karena itu maka pemimpin kelompok itu menjadi sangat marah dan berteriak, “Kami akan melakukannya. Sekarang.”

Lalu ia pun berteriak kepada anak buahnya, “Cepat, buatlah api!”

Seorang anak buahnya pun segera mengambil sebuah batu yang berwarna keputih-putihan dari ikat pinggangnya. Dengan sepotong baja dan gelugut aren, maka ia pun mulai membuat api. Disentuhnya batu itu dengan sepotong besi baja. Sepercik api meloncat dan menyentuh gelugut aren yang sudah dikeringkan.

“Cari rerumputan dan kayu kering. Kita membuat api.”

Beberapa orang pun segera mencari rerumputan dan daun-daun kering. Gelugut aren yang sudah mulai membara itu pun ke-mudian dihembus-hembusnya pada rerumputan yang kering, sehingga api itu pun semakin lama menjadi semakin besar. Akhirnya, maka terjadilah nyala yang menjalar ranting-ranting kering yang sudah disediakan.

“Lemparkan ke gardu itu!” teriak pemimpin kelompok itu.

Karena masih belum ada seseorang yang datang, maka prajurit itu benar-benar melakukannya. Ranting-ranting yang mulai menyala itu pun kemudian dilemparkannya ke gardu di dekat regol yang terbuka.

Segumpal api telah meluncur dan jatuh di dalam gardu itu. Tetapi prajurit-prajurit yang menyamar itu terkejut, karena begitu api itu jauh, maka sebuah tangan telah meraihnya dan dengan tergesa-gesa melemparkannya ke tanah.

Sejenak api itu masih menyala. Dan karena nyala api itulah mereka kemudian melihat jelas seseorang berdiri di dekat gardu itu.

Prajurit-prajurit yang menyamar itu mematung sejenak. Dilihatnya seseorang berdiri dalam pakaian putih dan kerudung putih.

“Siapakah kau?” desis pemimpin kelompok prajurit itu. Terdengar suara tertawa itu. Seperti yang sudah mereka dengar sebelumnya.

“Siapa?” bentak pemimpin prajurit itu.

“Kalian tentu mengenal aku. Sudah lama aku tidak mengunjungi rakyatku yang dicengkam oleh kegelisahan seperti ini.”

“Siapa, siapa he?”

“Kau tidak mengenal aku? Mustahil.”

Pemimpin kelompok itu termangu-mangu sejenak. Lalu terdengar suaranya berdesis, “Kesatria Putih?”

Orang berpakaian dan berkerudung putih itu tertawa. Katanya, “Nah, kau menyebutnya dengan tepat. Aku adalah Kesatria Putih. Kau ingin melihat kudaku yang putih? Aku mengikatnya di dalam kegelapan.”

“Bohong, kau bukan Kesatria Putih,” tiba-tiba pemimpin kelompok itu berteriak.

Suara tertawa itu terdengar lagi. Dan sekarang suara tertawa itu bagaikan semakin dalam mencekam jantung setiap prajurit yang menyamar.....

Bersambung..... "

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...