*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 20-03*
Karya. : SH Mintardja
Di hari berikutnya, maka Mahisa Bungalan bersama Mahisa Agni dan Witantra telah mencoba berjalan-jalan menyusuri jalan- jalan kota kecil yang tidak begitu ramai itu. Mereka melihat tata kehidupan yang sebenarnya tenang dan tidak banyak di bayangi oleh persoalan-persoalan yang rumit. Kota kecil itu tidak ubahnya merupakan pusat kegiatan pedagang dari padukuhan-padukuhan di sekitarnya, sehingga tumbuh menjadi lebih ramai dari sebuah padukuhan biasa. Apalagi karena penduduknya pandai memanfaatkan keadaan itu, mereka telah membuat tempat tinggal mereka menjadi sebuah kota, lengkap dengan dinding batu yang meskipun tidak terlalu tinggi. Gerbang di beberapa penjuru dan sebuah pasar yang semakin lama menjadi semakin ramai. Pasar yang ternyata bukan saja merupakan pusat penjualan hasil sawah dan hasil kerja tangan mereka, tetapi juga merupakan arena pertukaran beberapa macam kebutuhan hidup yang semakin lama menjadi semakin banyak ragamnya.
Tetapi ternyata pasar itu kemudian telah dinodai dengan darah.
Karena itu, ketika Mahisa Bungalan bersama kedua pamannya sampai ke gerbang pasar itu, mereka melihat pasar itu masih agak sepi. Masih belum banyak orang yang berani datang ke pasar karena peristiwa yang baru saja terjadi.
Dengan ragu- ragu Mahisa Bungalan masuk ke dalamnya. Dilihatnya berbagai macam kegiatan yang masih nampak canggung. Tetapi agaknya para penjual kebutuhan sehari-sehari terutama untuk hidup, sudah mulai menjadi ramai kembali.
Di sudut pasar, beberapa orang pandai besi telah menyalakan perapiannya. Mereka sudah mulai menempa meskipun dengan agak ragu- ragu. Sedangkan beberapa orang yang sedang berbelanja pun nampaknya masih terlalu tergesa-gesa.
“Hanya ada sebuah warung yang mulai menjajakan makanan dan minuman” desis Mahisa Bungalan.
“Kau lapar ?” bertanya Witantra.
“Tidak. Tetapi apakah kita dapat mendengar beberapa ceritera dari penjual diwarung itu ?”
“Ceritera yang tersebar tidak akan terlalu banyak bedanya dengan yang akan diceriterakannya. Tetapi karena orang itu agaknya melihat sendiri apa yang terjadi, mungkin ada juga baiknya kita berbicara sekedarnya dengan mereka.”
“Marilah paman. Barangkali ada juga baiknya kita singgah sebentar.”
“Tetapi ingat, namamu adalah Singkir” berkata Witantra, “dan agaknya kita harus mempertimbangkan pendapat Ki Anjas jika ia melihatnya kita berada di warung itu.”
“Kenapa paman ?”
“Seolah-olah apa yang dihidangkannya kepada kita masih belum cukup, sehingga kita masih harus singgah ke dalam warung untuk memesan makanan dan minuman.”
“Kita memang harus menjelaskan kepadanya, bahwa jika kita singgah ke dalam warung itu, bukannya karena yang dihidangkannya kita anggap kurang cukup, tetapi karena ada kepentingan-kepentingan yang lain.”
Demikianlah maka mereka bertiga pun memasuki satu-satuya warung yang telah menjajakan jualannya.
Namun agaknya kehadiran mereka bertiga benar-benar telah menarik perhatian. Bagaimanapun juga, mereka melihat kelainan pada Mahisa Bungalan, Mahisa Agni dan Witantra.
Setelah mendapatkan masing-masing semangkuk minuman panas, maka Mahisa Bungalan pun mencoba untuk memancing keterangan dari penjaual di warung itu tentang peristiwa yang telah terjadi di dalam pasar itu.
“Apakah Ki Sanak bertiga bukan penduduk kota kecil ini?” bertanya penjual itu.
“Bukan,” jawab Mahisa Bungalan, “aku adalah kemanakan Ki Anjas. Baru kemarin aku datang. Kota ini menjadi bertambah sepi, sedangkan pada beberapa saat yang lalu, aku melihat gejala perkembangan yang cepat.”
“Apakah Ki Anjas tidak mengatakan apa-apa kepadamu?”
“Tentu. Paman menceriterakan serba sedikit tentang peristiwa yang terjadi di pasar ini. Tetapi karena saat itu paman tidak berada di pasar ini, maka ia hanya berdasar kepada ceritera-ceritera yang didengarnya.”
“Tentu Ki Anjas sudah menceriterakan semuanya. Yang diketahui, tentu yang aku ketahui dan sebaliknya.”
Mahisa Bungalan Mengangguk-angguk. Lalu, “Kau melihat dua orang anak muda yang menurut Ki Anjas, terlibat juga dalam perkelahian itu?”
“Ya. Aku melihatnya. Tetapi aku tidak dapat mengatakan apa-apa tentang keduanya karena mula-mula keduanya tidak menunjukkan sesuatu yang lain dari orang-orang yang ada di pasar ini. Baru kemudian setelah terjadi pertengkaran itu, nampaknya ia bukan orang kebanyakan.”
“Kau tahu nama dari orang-orang yang berkelahi itu?”
“Mahisa Bungalan dan yang lain disebut Linggadadi. Hanya itu selain lawan mereka, orang-orang berilmu hitam.”
Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Ia kini yakin, bahwa nama Mahisa Bungalan telah dipertentangkan langsung dengan orang-orang berilmu hitam. Tetapi demikian juga Linggadadi.
Beberapa saat mereka masih duduk di warung itu menghabiskan minuman panas dan beberapa potong makan. Kemudian setelah membayar harga minuman dan makanannya, maka mereka bertiga pun meninggalkan warung itu.
Hampir sehari penuh mereka berjalan-jalan. Bahkan tidak hanya di dalam kota, bahkan mereka telah keluar pintu gerbang kota kecil itu dan menyusuri bulak-bulak persawahan yang sebagian adalah milik orang-orang yang tinggal di dalam kota itu juga, namun masih menggantungkan penghidupan mereka dari hasil sawahnya, sedangkan sebagian yang lain adalah mereka yang sengaja menyediakan tenaganya untuk membuat alat-alat pertanian dan alat-alat rumah tangga yang lain.
Tetapi dalam pengamatan mereka bertiga, tidak ada tanda-tanda sama sekali, bahwa akan timbul lagi keributan dikota kecil itu Namun demikian, keadaan yang tiba-tiba memang dapat saja terjadi.
“Mungkin saat ini segerombolan orang-orang berilmu hitam itu sedang menuju kekota ini” desis Mahisa Bungalan.
Mahisa Agni dan Witantra mengangguk-angguk.
“Itu mungkin sekali” jawab Witantra, “dendam yang memang sudah membara di dada mereka, akan segera berkobar di dalam sarang mereka. Dan memang mungkin sekali akan datang orang-orang yang mengindap dendam itu di dalam dirinya.”
“Apakah kita akan berada di tempat ini beherapa hari seperti yang kita rencanakan paman?” bertanya Mahisa Bungalan.
“Ada juga baiknya” jawab Mahisa Agni, “dengan demikian kita akan meyakinkan diri, bahwa orang-orang berilmu hitam itu benar-benar tidak mendendam kepada kota ini, tetapi kepada Mahisa Bungalan dan Linggadadi.”
Mahisa Bungalan tersenyum. Katanya, “Baiklah. Kita akan berada di tempat ini untuk beberapa hari.”
Dalam pada itu, di perguruan ilmu hitam, Empu Baladatu yang sedang berkumpul dengan murid-muridnya, Rasa-rasanya tidak dapat menahan dirinya lagi. Kemarahan yang hampir tidak dapat dikendalikan telah meledak di dadanya.
Kematian yang berturut-turut menjerat anak-anak muridnya, membuatnya seperti orang gila.
“Mereka adalah anak-anak yang paling dungu dari perguruan ini. Kenapa mereka tidak dapat mempertahankan diri dan bahkan semuanya dapat ditumpas oleh Mahisa Bungalan anak Mahendra dan Linggadadi yang masih belum kita kenal dengan pasti itu ?”
Tidak seorang pun dari murid-muridnya yang berani mengangkat wajahnya.
“Kita sudah kehilangan kesempatan untuk mendapatkan seorang korban. Purnama sudah naik malam ini. Bahkan kita telah kehilangan lagi beberapa orang dari lingkungan kita.”
Murid-muridnya masih tetap menundukkan kepalanya.
“He, apakah kalian tuli?” tiba-tiba saja Empu Baladatu berteriak sehingga murid-muridnya terkejut karenanya.
Namun dengan demikian mereka telah mengangkat wajah masing-masing meskipun dengan hati yang berdebar-debar. Dengan ragu-ragu mereka memandang wajah Empu Baladatu yang merah membara.
“Siapakah dari antara kalian yang segera mendapat giliran berikutnya?” teriak Empu Baladatu.
Meskipun murid-muridnya tidak lagi menunduk, namun mereka masih tetap berdiam diri dengan hati yang berdebaran.
Akhirnya, bahkan Empu Baladatu yang dicengkam oleh kemarahan itu, terduduk di atas sebuah batu hitam yang dipahat dalam ujud seekor kura-kura yang memang diperuntukkan baginya. Namun demikian, setiap kali ia masih memukuli dadanya sendiri yang Rasa-rasanya menjadi pepat.
“Kita menghadapi orang-orang yang tangguh.” Geramnya, “yang paling gila adalah saudara-saudaramu yang lari dan kemudian mendirikan sanggar pamujan di daerah bayangan hantu. Ia adalah pangkal dari bencana yang akan menimpa kita. Jika saja mereka belum mati dibunuh oleh Mahisa Bungalan, maka akulah yang akan mencincang mereka seperti yang terjadi di pasar itu. Justru seorang dari kitalah yang sudah terbunuh dengan kulit yang tersayat-sayat.”
Murid-muridnya masih tetap berdiam diri.
“Permulaan yang gila itu, telah memaksa Mahisa Bungalan, Linggadadi dan bahkan kemudian para Panglima dan Senapati dari Singasari bertindak.” desah Empu Baladatu dengan penuh penyesalan, “diantara mereka tentu terdapat Mahendra, ayah Mahisa Bungalan, Mahisa Agni dan beberapa orang yang lain.”
Tidak seorang pun yang berani menyambung. Tetapi tiba-tiba saja Empu Baladatu itu mengangkat wajahnya. Seolah-olah sesuatu lebih membersit di dalam hatinya. Dengan nada yang tinggi ia kemudian berteriak, “Apa boleh buat. Aku tidak mau berjalan sendiri. Aku masih mempunyai seorang saudara tua.”
Murid-muridnya mengerutkan keningnya. Mereka tahu bahwa Empu Baladatu memang mempunyai seorang saudara tua. Meskipun tidak seperguruan, namun agaknya saudara tua Empu Baladatu itu akan tidak sampai hati membiarkan adiknya menjadi hancur.
“Tetapi ia bukan orang-orang yang menghisap ilmu serupa dengan Empu Baladatu” persoalan itu tumbuh juga di dalam hati murid-muridnya.
Sampai saat terakhir, kedua perguruan itu Rasa-rasanya tidak pernah berhubungan meskipun tidak bermusuhan. Empu Baladatu agaknya merasa harga dirinya tersinggung apabila ia harus merendahkan diri meskipun terhadap kakaknya. Namun dalam keadaan yang sulit, ia tidak mempunyai pilihan lain.
Untuk beberapa saat lamanya, ruangan pertemuan itu menjadi sepi. Empu Baladatu agaknya masih membuat pertimbangan-pertimbangan didalam hatinya. Tetapi agaknya ia memang tidak mempunyai jalan lain untuk mengatasi kesulitan yang semakin mendesak karena ia sudah mulai membayangkan prajurit-prajurit Singasari dengan diam-diam lewat petugas-petugas sandinya berusaha menemukan sarangnya dan kemudian dengan pasukan segelar sepapan datang mengepung dan menghancur lumatkan padepokannya.
“Bahkan mungkin orang yang menyebut dirinya Mahisa Bungalan dan Linggadadi adalah prajurit-prajurit sandi” tiba-tiba sa ja ia menggeram.
Murid-muridnya yang mendengarpun menjadi berdebar-debar. Kemungkinan itu memang dapat terjadi. Dan merekapun mulai membayangkan pula, hukuman yang dapat mereka alami, jika prajurit-prajurit Singasari kemudian menemukan bukt-bukti segala perbuatan mereka.
“Untunglah, Empu Baladatu menyadari keadaannya dan ia bersedia menemui kakaknya” berkata murid-muridnya di dalam hati. Demikianlah Empu Baladatu kemudian memutuskan untuk menemui kakaknya, menyampaikan kesulitan yang sedang dihadapinya.
“Kalian jangan berbuat apa-apa” berkata Empu Baladatu, “selama aku pergi, kalian tidak boleh melakukan kegiatan sama sekali di luar padepokan. Bahkan kalian harus berusaha menghilangkan segala jejak yang dapat menumbuhkan kecurigaan atas kita semuanya. Jika terpaksa kalian harus bertempur melawan siapapun juga, kalian harus merusaha menyembunyikan ciri-ciri perguruan kita sejauhnya sampai saatnya nanti tiba, kita akan bangkit dan menguasai seluruh Singasari. Agaknya kita sekarang telah melakukan kesalahan. Sebelum kica cukup kuat, kita sudah melakukan perbuatan yang dapat mengundang malapetaka.”
Murid-muridnya hanya mengangguk-angguk saja.
“Tinggallah sebanyak mungkin di antara kalian di luar padepokan Satu dua orang sajalah yang menunggui padepokan ini untuk melakukan kerja sehari-hari, sehingga tidak memancing perhatian siapapun juga yang kebetulan berada di sekitar sarang kita.”
Empu Baladatu kemudian menunjuk tiga orang terpilih untuk tetap berada dipadepokan. Yang lain, diperintahkannya tinggal di luar padepokan, meskipun hanya di sekitarya. Di pategalan yang sebelumnya tidak didiami oleh seorang pun, karena pategalan itu merupakan tanah garapan dari murid-murid Empu Baladatu sendiri. Tetapi pategalan itu sudah banyak di tumbuhi pepohonan buah-buahan.
Demikianlah, maka pada dini hari berikutnya, Empu Baladatu dan dua orang pengawal terbaiknya telah meninggalkan padepokannya menuju ke padepokan kakaknya, yang justru terletak tidak jauh dari Kota Raja.
Sepeninggal Empu Baladatu, dengan patuh murid-muridnya melakukan perintahnya. Bukan semata-mata karena kesetiaan mereka terhadap gurunya, tetapi juga karena mereka merasa cemas, bahwa pembalasan akan benar-benar datang disaat gurunya tidak ada. Mereka memang merasa ngeri juga mendengar nama-nama Mahisa Bungalan dan Linggadadi. Belum lagi jika Mahendra dan para Senapati Singasari ikut campur.
Ternyata selama ini mereka telah salah menilai diri mereka sendiri. Mereka sebelumnya merasa, bahwa ilmu mereka akan dapat menggetarkan seluruh Singasari. Tidak ada kekuatan yang akan dapat membendung mereka jika mereka mulai bergerak, meskipun jumlah mereka tidak terlampau banyak dibanding dengan jumlah prajurit Singasari, khususnya hanya yang berada di Kota Raja.
Tetapi ternyata bahwa dihadapan mereka tiba-tiba saja telah berdiri Mahisa Bungalan dan Linggadadi yang masing-masing digelari pembunuh- pembunuh orang berilmu hitam.
Itulah sebabnya maka mereka kemudian dengan patuh membuat gubug-gubug di pategalan, di antara pohon- pohon buah. Yang ada di padepokan berusaha untuk membersihkan semua bekas-bekas korban yang akan dapat menjadikan kedudukan mereka lebih sulit lagi apabila petugas-petugas sandi menemukan sarang mereka.
Sementara itu, Empu Baladatu dengan kedua pengawalnya telah menempuh perjalanan yang cukup jauh. Mereka masih juga sempat melihat-lihat di sepanjang perjalanan, apakah tanggapan orang-orang lain terhadap yang mereka namakan orang-orang berilmu hitam. Karena itulah, maka ketiga orang itu tidak langsung sampai ke padepokan yang mereka tuju, tetapi dengan sengaja mereka bermalam beberapa malam di perjalanan. Bahkan yang pertama-tama mereka singgahi adalah kota kecil yang telah menelan lima orang korban dari antara murid-muridnya.
Tetapi dalam pada itu, Empu Baladatu telah berusaha menyamarkan dirinya. Ia sama sekali tidak mengesankan, bahwa ia adalah pimpinan dan guru dari orang-orang berilmu hitam itu.
Bahkan Empu Baladatu telah menjadikan dirinya seorang tua yang ramah dan nampak sakit-sakitan. Dalam perjalanan yang jauh, orang tua yang lemah dan sakit-sakitan itu harus banyak ber istirahat di sepanjang jalan yang dilaluinya, meskipun ia berkuda.
Kehadiran ketiga orang baru dikota kecil itupun telah mendapat perhatian dari para penghuninya pula. Tetapi ketika mereka melihat bahwa seorang di antara mereka adalah orang tua yang sakit-sakitan. maka mereka pun kemudian tidak menaruh perhatian sama sekali.
Juga para pemimpin dikota kecil itu sama sekali tidak menaruh curiga ketika ketiga orang itu mohon untuk bermalam didalam banjar.
Apalagi Empu Baladatu dan kedua pengawalnya yang terpercaya seolah-olah tidak dengan sengaja ingin bermalam. Hanya karena ketuaannya dan penyakitnya sajalah ia terpaksa berhenti dan bermalam.
“Kau dapat beristirahat menurut kebutuhanmu,” berkata pemimpin pengawal kota kecil itu, “tetapi jika kau sudah merasa baik, kau dipersilahkan meninggalkan banjar itu.”
“Terima kasih tuan. Tuan sangat baik terhadap kami” jawab Empu Baladatu.
Dengan demikian, maka Empu Baladatu sempat untuk tinggal di banjar kota kecil itu. Ia sempat melihat pertemuan para pemimpin kota itu di banjar, dan bahkan ia sempat pula melihat latihan-latihan pertunjukan dan upacara di banjar itu.
“Kota ini telah membunuh lima orang di antara kalian” tiba-tiba saja Empu Baladatu menggeram ketika ia melihat anak anak muda berada di banjar itu. Kedua pengawalnya tidak menjawab.
“Tentu di antara anak-anak muda itu ada yang mempunyai darah yang paling manis untuk kita jadikan korban di bulan purnama” Empu Baladatu masih saja bergumam. Namun kemudian, “Tetapi sayang, bahwa kita sekarang sedang tidak memerlukan mereka.”
Kedua pengawalnya masih tetap berdiam diri. Tetapi di dalam hati merekapun berdesis, “Kita dengan mudah dapat menangkap mereka. Kenapa kelima orang yang datang kekota ini bersama Paguh ia mengalami nasib yang paling pahit?”
Sesuai dengan keadaan dirinya yang sakit-sakitan, Empu Baladatu tidak pernah meninggalkan banjar. Tetapi kedua pengawalnyalah yang melihat-lihat isi dari kota kecil itu. Bahkan ia pun berusaha untuk mendengar sebutan Mahisa Bungalan dan Linggadadi. Tetapi seperti ceritera yang tersebar di antara penghuni kota itu, Mahisa Bungalan dan Linggadadi telah lenyap dari kota tanpa diketahui oleh siapapun seperti pada saat mereka datang.
“Gila,” Empu Baladatu menggeram ketika ia mendengar laporan dari kedua pengawalnya, “sungguh gila. Agaknya kita menemukan kesulitan untuk mencari kedua orang itu.”
“Tetapi mencari rumah Mahendra tidak begitu sulit” berkata pengawalnya.
“Mahisa Bungalan tentu tidak ada di rumahnya. Sedangkan bila ia ada dirumah, apakah itu berarti bahwa kita akan membunuh diri karena di rumah itu kita akan bertemu dengan Mahendra? Mungkin aku dapat mengimbangi kemampuan Mahendra. Tetapi bagaimana dengan kau berdua? Kalian berdua harus bertempur melawan Mahisa Bungalan yang bergelar pembunuh orang berilmu hitam itu. Apalagi jika Linggadadi ada di rumah itu pula.”
Kedua pengawalnya hanya Mengangguk-angguk saja. Memang terbayang kengerian yang dapat terjadi atas mereka. Agaknya yang disebut bernama Mahisa Bungalan dan Linggadadi itu demikian membenci orang-orang berilmu hitam, bahkan nampaknya disertai dengan dendam yang menyala di dalam hati, ternyata dengan bekas pembunuhan yang pernah terjadi atas salah seorang dari mereka yang berilmu hitam itu- Kematian yang di alami adalah demikian mengerikan, seperti orang-orang berilmu hitam itu sendirilah yang melakukannya.
Sementara itu, selagi di banjar kota kecil itu tinggal seorang tua yang sakit-sakitan dikawani oleh dua orang kemanakannya, Mahisa Bungalan memang masih berada dikota kecil itu pula. Tetapi ia sama sekali tidak menaruh perhatian pula atas orang-orang yang berada dibanjar itu, karena orang- orang itu pun sama sekali tidak berbuat apa-apa, selain benar-benar beristirahat, karena salah seorang dari mereka menderita sakit di perjalanan.
Namun sebaliknya, orang-orang berilmu hitam itupun tidak menaruh perhatian terhadap orang-orang yang berada di rumah Ki Anjas, karena menurut mereka, orang-orang itu pun tidak berbuat apa-apa. Mereka sama sekali tidak melakukan kegiatan apapun juga yang memberikan kesan perlawanan terhadap orang-orang berilmu hitam. Apalagi nama-nama mereka adalah nama-nama yang sama sekali tidak dikenal pula. Seorang anak muda di antara mereka yang berada di rumah Ki Anjas itu bernama Singkir. Nama yang memang tidak menarik perhatian-
Sekali ketika berlangsung upacara dibanjar, setelah musim panen yang berlangsung pada saat orang berimu hitam itu masih berada dibanjar, dan Mahisa Bungalan serta kedua pamannya masih pula berada dirumah Ki Anjas, diantara mereka yang melihat upacara itu, terdapat kedua belah pihak. Tetapi baik Mahisa Bungalan maupun Empu Baladatu sama sekali tidak memperhitungkan kemungkinan yang demikian, sehingga justru tidak terjadi sentuhan apapun juga diantara mereka.
Namun demikian, diam-diam beberapa orang di kota kecil itu mulai membuat ceritera tersendiri. Seorang yang bertubuh bulat berbisik kepada kawan-kawannya., “He. apakah kau tidak memperhatikan keadaan terakhir di kota kita yang semakin panas ini ?”
“Kita melihat seolah-olah angka tiga memegang peranan.”
“Angka tiga ?”
“Ya. Jika sekali-kali kau singgah di warung di bulak panjang diluar kota itu, kau akan mendengar ceritera tentang tiga orang berkuda.”
“Apa anehnya dengan tiga orang berkuda ?” bertanya yang lain.
Kawannya tidak segera menjawab. Diedarkannya tatapan matanya, seolah-olah ingin meyakinkan, bahwa kata-katanya tidak akan didengar oleh orang-orang yang tidak dikenalnya.
“Jika hanya ada tiga orang berkuda, maka hal itu tidak akan menarik perhatian.”
“Lalu ?” kawannya bertanya.
“Ada tiga kali tiga orang berkuda.”
“He, kata-mu membuat aku bingung.”
“Dengar baik-baik. Tiga kali tiga orang berkuda.” ia berhenti sejenak, lalu, “dengarlah. Ada tiga orang berkuda. Kemudian tiga orang yang lain. Setelah ketiga orang yang kedua itu pergi, datang tiga orang lagi.”
Kawannya Mengangguk-angguk. Katanya, “Aku mengerti sekarang. Agaknya kau masih akan mengatakan, bahwa ada tiga orang berkuda pula di banjar. Dan tiga orang yang lain bermalam di rumah Ki Anjas, yang dikatakannya kemanakannya dan bernama Singkir itu.”
“Nah, kau mulai merasakan, betapa gawatnya jumlah tiga itu. Kau ingat, orang-orang yang membunuh orang-orang berilmu hitam itu jumlahnya juga tiga. Sedang dua orang anak-anak muda itu ternyata bertiga pula setelah seorang lagi datang kepada mereka.”
“Tetapi kau tidak tahu, bahwa tiga kali tiga orang yang lewat di muka warung itu adalah di antara tiga orang yang sudah kau sebutkan. Mungkin tiga orang yang membunuh orang-orang berilmu hitam itulah yang lewat di muka warung, sehingga kau menghitungnya dua kali. Demikian juga tiga-tiga orang yang lain.”
“Meskipun seandainya demikian, tentu ada beberapa kelompok pula.”
Yang lain Mengangguk-angguk.
“Sekarang” berkata orang yang pertama, “masih ada dua kelompok yang berada di kota kecil ini.”
“Ya. Yang dibanjar dan yang tinggal di rumah Ki Anjas.”
“Tetapi agaknya mereka saling tidak mengenal dan tidak menaruh perhatian. Ternyata pada saat upacara di banjar, kedua kelompok itu ada disana. Mereka menonton upacara tanpa berbuat apa-apa, “
“Mudah-mudahan.”
Dan seperti yang mereka duga, kedua belah pihak memang tidak berbuat apa-apa. Empu Baladatu yang merasa sudah cukup lama berada di banjar itupun kemudian minta diri. Di kota kecil itu ia tidak mendapatkan keterangan apapun juga selain yang pernah didengarnya tentang Mahisa Bungalan dan Linggadadi.
Meskipun ia mendengar juga tentang tiga orang yang berada di rumah Ki Anjas, tetapi Empu Baladatu tidak menghiraukannya, karena ketiga orang itu bukannya tiga orang yang telah membunuh murid-muridnya. Dari beberapa orang ia mendengar ceritera, bahwa ketiga orang yang telah membunuh lima orang berilmu hitam itu sudah pergi, dan tidak kembali lagi-Demikian juga dua orang anak-anak muda yang ikut terlibat didalamnya.
“Tiga orang yang berada di rumah .Ki Anjas itu adalah kemanakannya yang tidak tahu menahu tentang orang-orang berilmu hitam.”
“Terkutuklah orang-orang berilmu hitam itu, “ sahut Empu Baladatu, “dan terpujilah Mahisa Bungalan dan Linggadadi, yang bergelar pembunuh orang-orang berilmu hitam. Jika sekiranya aku dapat bertemu dengan mereka, maka akupun akan menyatakan kcgembiraanku, bahwa mereka telah membantu membersihkan kericuhan karena polah orang-orang berilmu hitam itu.”
“Sayang, mereka telah pergi.”
Empu Baladatu pun kemudian meninggalkan kota kecil itu. Seperti orang yang mengerti unggah-ungguh, ia mengucapkan terima kasih kepada para pemimpin yang telah memberikan ijin kepadanya untuk singgah beberapa hari di banjar karena kesehatannya yang terganggu.
“Apakah kau sudah sehat Kiai ?” bertanya pemimpin pengawal kota.
“Sudah tuan. Dan aku ingin segera melanjutkan perjalanan, agar kami tidak selalu membuat gaduh di banjar.”
“Banjar itu terbuka bagi yang memerlukan.” jawab pemimpin pengawal itu.
Namun Empu Baladaiupun kemudian meninggalkan banjar dan meneruskan perjalanan. Ia masih nampak letih ketika kudanya mulai berlari meninggalkan gerbang kota.
Tetapi demikian ia sampai di bulak, maka ia pun mengumpat tanpa hentinya.
“Jika saja aku bertemu langsung dengan Mahisa Bungalan dan Linggadadi. Aku ingin mencincangnya sampai lumat. Bukan saja menyobek kulitnya silang menyilang. Tetapi aku ingin menumbuknya sampai lumat.”
Kedua pengawalnya sama sekali tidak menjawab. Mereka mengerti, bahwa jantung Empu Baladatu benar-benar telah dibakar oleh kemarahan. Apalagi setelah dengan langsung ia mendengar ceritera tentang kematian murid-muridnya di pasar itu. Tentang dua anak muda yang ikut campur, bahkan membantu salah seorang dari tiga orang yang telah membunuh murid-muridnya.
“Jika aku menemukan mereka, anak-anak muda itu, maka mereka adalah korban yang paling baik bagi perguruan kita.” geram Empu Baladatu.
Namun ia tidak dapat ingkar, bahwa ternyata di luar perguruannya, masih banyak orang yang memiliki ilmu yang tinggi, yang mampu membendung keganasan ilmu hitam yang rereka banggakan itu.
Dalam pada itu, Mahisa Bungalan, Mahisa Agni dan Witantra yang berada di rumah Ki Anjas itu pun tidak menemukan keterangan yang lebih lengkap tentang orang-orang berilmu hitam. Meskipun sebenarnya kota kecil itu sudah cukup dekat dengan sarang mereka, tetapi tidak seorang pun yang dapat memberikan petunjuk tentang sarang itu.
Karena itu, maka Mahisa Bungalan pun sependapat dengan kedua pamannya, bahwa mereka tidak perlu lebih lama lagi berada di kota kecil itu.
“Tiga orang yang berada di banjar itu semula telah menarik perhatianku” berkata Witantra, “tetapi agaknya mereka tidak berbuat apa-apa yang dapat menunjukkan, meskipun hanya sepeletik kecil, tanda-tanda siapakah mereka itu. Mereka hanya berada di banjar dan sekali-kali dua orang di antara mereka berada di pasar untuk membeli makan mereka sehari-hari, selain yang mereka terima atas uluran tangan para pejabat kota kecil ini.”
“Apakah yang seorang itu benar-benar sakit paman ?” bertanya Mahisa Bungalan.
“Tentu kita tidak dapat mengetahui dengan pasti. Jika kita mendapat kesempatan untuk mendekat dan berbicara beberapa patah kata, maka kita akan dapat meraba-raba, apakah benar ia sakit-sakitan”
“Tetapi mereka telah pergi tanpa berbuat apa-apa. Seandainya mereka orang-orang berilmu hitam, mereka ternyata hanya sekedar lewat dan mencari keterangan tentang kematian kawan kawannya.”
“Agaknya lebih baik jika mereka mendengar kematian itu lebih jelas. Dengan demikian, mereka harus membuat pertimbangan-pertimbangan baru jika mereka akan melakukan kejahatan di manapun juga, karena di luar mereka ternyata masih terdapat orang-orang yang akan mampu menghancurkan mereka.”
“Nah, jika demikian, apakah kita akan melanjutkan perjalanan?”
“Kita akan berjalan terus” jawab Witantra, “kita akan mengelilingi daerah Utara. Barangkali kita akan menemukan tanda-tanda yang dapat menunjukkan letak sarang mereka.”
“Kota ini tentu letaknya tidak terlampau jauh. Di sini diketemukan lima orang berilmu hitam.”
“Ya. Di Kota Raja terbunuh dua orang berilmu hitam. Didaerah bayangan hantu ada tiga orang. Dan kini, dikota kecil ini lima orang. Jalur itu menunjukkan jumlah yang semakin banyak, sehingga kesimpulannya memang daerah ini menjadi semakin dekat.”
“Tetapi tidak dapat dijadikan pegangan. Biarlah kita meneruskan pengembaraan ini. Perjalanan mengelilingi padukuhan yang jauh masih terasa menyenangkan.”
“Apakah paman Mahisa Agni dapat mempertimbangkan arah yang barangkali lebih tepat daripada sekedar perjalanan melingkar?”
Mahisa Agni menggeleng. Katanya, “Aku tidak mempunyai dugaan sama sekali, dimanakah sarang orang-orang berilmu hitam itu. Karena itu, maka perjalanan kita adalah sekedar perjalanan tamasya melihat-lihat sawah yang hijau dan pegunungan yang biru kemerah-merahan di waktu pagi.”
Witantra tersenyum. Katanya, “Baiklah. Perjalanan yang demikian Kadang-Kadang memang perlu bagi orang-orang tua untuk melengkapi bekal sebelum sampai di batas hidupnya.”
Mahisa Agni dan Mahisa Bungalan pun tertawa. Demikianlah mereka memutuskan untuk meninggalkan kota kecil yang mulai menjadi tenang. Pasar yang sepi telah menjadi semakin ramai, dan orang-orang mulai melupakan apa yang pernah terjadi.
“Kami mengucapkan terima kasih yang sebesarnya Ki Anjas, “ berkata Mahisa Bungalan, “kami telah cukup lama berada di sini. Kami telah cukup lama membuat Ki Anjas bertambah sibuk.”
Ki Anjas tersenyum. Katanya, “Tidak banyak bantuan yang dapat aku berikan Singkir, eh, aku akan tetap menyebut namamu demikian, agar aku tidak salah lidah jika aku berceritera kepada orang lain.”
Mahisa Bungalan tersenyum pula. Jawabnya, “Agaknya memang lebih baik demikian Ki Anjas. Sebab kesalahan yang mungkin terjadi, akan dapat berakibat panjang sekali.”
“Tetapi permintaanku Singkir, di saat-saat yang lain, kau sebaiknya menengok kami di sini. Jika ternyata kehadiranmu di rumah ini tercium oleh orang-orang berilmu hitam, barangkali di lain waktu, kau hanya akan tinggal menemukan rumah ini tanpa aku.”
“Ah, tentu tidak Ki Anjas. Tidak ada orang yang mengenal aku sebagai Mahisa Bungalan dan apalagi anak Mahendra di sini.”
Ki Anjas mengangguk-angguk Katanya, “Mudah-mudahan.” Demikianlah maka Mahisa Bungalan, Mahisa Agni dan Witantra mohon diri kepada Ki Anjas. Dimuka regol halaman Mahisa Bungalan berbisik, “Aku berjanji untuk tidak mengatakan kepada siapapun bahwa aku, Mahisa Bungalan pernah tinggal di rumah ini. Demikian juga hendaknya Ki Anjas.”
“Ya, ya Aku masih ingin panjang umur.”
“Dan tentu sebaiknya jangan mengatakan sesuatu tentang kedua kawanku ini.”
“He ?”
Mahisa Agni akan mencegah, tetapi sudah terlambat. Mahisa Bungalan sudah terlanjur berbisik, “Sebenarnyalah mereka adalah paman Mahisa Agni dan paman Witantra. Bukankah Ki Anjas telah mendengar namanya ?”
“He”
Ki Anjas seolah-olah telah membeku di tempatnya. Dipandanginya Mahisa Agni dan Witantra berganti-ganti, seolah-olah ia tidak percaya bahwa ia telah berdiri berhadapan dengan kedua orang yang sebelumnya hanya dikenal namanya saja. Tetapi baginya keduanya adalah raksasa-raksasa yang perkasa di atas jenjang kekuasaan Singasari.
Sambil tersenyum Mahisa Bungalan berkata, “Jangan terkejut Ki Anjas. Keduanya tidak akan menakut-nakuti siapapun juga.”
“Aku sama sekali tidak menjadi ketakutan” suara Ki Anjas masih dipengaruhi oleh getar perasaannya , “tetapi aku tidak menyangka bahwa aku akan dapat bertemu dengan kedua Senapati Agung ini.”
“Ah, sudahlah Ki Anjas” berkata Mahisa Agni, “sebenarnya Mahisa Bungalan tidak perlu menyebut nama kami.”
“O, itu membuat aku berbahagia sekali” desis Ki Anjas.
“Tetapi sekali lagi Ki Anjas, “ berkata Mahisa Bungalan, “sebaiknya Ki Anjas menyimpan rahasia iai rapat-rapat. Dan Ki Anjas jangan sampai salah ucap, sehingga justru akan menyulitkan keadaan Ki Anjas sendiri”
“Baiklah. Aku mengerti. Tetapi karena itu justru aku ingin kau dan kedua Senapati Agung ini untuk datang lagi ke pondokku. Barangkali aku dapat memberikan pelayanan yang lebih baik dari yang pernah aku lakukan, sebelum aku mengetahuinya.”
“Sudah cukup Ki Anjas, “ sahut Witantra, “kami me ngucapkan terima kasih. Tetapi baiklah lain kali kami akan berusaha untuk singgah lagi di rumah Ki Anjas.”
“Aku menunggu, “ jawab Ki Anjas. Ketiganya pun kemudian sekali lagi minta diri sambil menuntun kuda mereka beberapa langkah, sebelum mereka kemudian meloncat naik dan berpacu meninggalkan kota kecil yang pernah digoncangkan oleh peristiwa yang mengerikan. Namun yang justru menimbulkan teka-teki di hati ketiga orang itu.
Di kota kecil itu masih tetap tersebar pendapat bahwa yang telah membunuh orang-orang berilmu hitam itu adalah Mahisa Bungalan dan Linggadadi yang kedua-duanya bergelar pembunuh orang-orang berilmu hitam.
Mahisa Bungalan, Mahisa Agni dan Witantra tidak mempunyai tujuan yang pasti. Mereka bermaksud untuk melingkar ke Utara dan kemudian kembali ke Kota Raja. Pengembaraan yang mereka lakukan telah cukup lama dan jauh. Tetapi mereka tidak berhasil menemukan sarang orang-orang berilmu hitam itu. selain bekas-bekasnya saja di sepanjang jalan.
“Semakin jauh perjalanan ini, aku menjadi semakin senang” berkata Mahisa Bungalan, “aku akan dapat melihat tempat-tempat yang sebelumnya belum pernah aku kunjungi.”
Mahisa Agni hanya mengangguk-angguk saja. Sekilas terkenang masa-masa mudanya, masa pengembaraan yang pernah dialaminya. Masa gejolak di dadanya hampir tidak dapat dibendung lagi karena persoalan-persoalan yang sangat menyangkut sentuhan yang paling dalam di sudut hatinya.
“Paman” tiba-tiba saja Mahisa Bungalan berdesis , “apakah dalam perjalanan kembali paman tidak ingin singgah di Panawijen ?”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia pun bertanya, “Apakah kau ingin melihat Panawijen sekarang ?”
“Ya paman. Dan aku pun ingin melihat taman yang pernah dibuat oleh orang-orang Tumapel termasuk Ken Arok yang kemudian bergelar Sri Rajasa itu. Taman yang telah dibuat atas perintah Akuwu Tunggul Ametung untuk permaisurinya Ken Dedes, tetapi yang kemudian justru menjadi permaisuri Sri Rajasa itu sendiri.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Sekilas tebrayang sesuatu yang menegangkan urat syarafnya di wajahnya. Namun bayangan itupun segera disaput oleh senyumnya yang nampak bermain di bibirnya.
Namun betapa pahit senyum itu.
Mahisa Bungalan sama sekali tidak dapat membayangkan apa yang pernah terjadi dan bermain di hati Mahisa Agni pada masa mudanya. Pada masa kecilnya di saat-saat ia hidup di padepokan Empu Purwa bersama dengan Ken Dedes itu sendiri.
Tetapi bukan saja Mahisa Agni yang kemudian dibayangi oleh kenangan yang pahit dimasa lampaunya. Witantra pun agaknva tersentuh pula oleh kenangan yang serupa, selagi ia menjadi seorang Panglima yang disegani, tetapi yang dikalahkan dan dihinakan diarena oleh Mahisa Agni.
“Tetapi ia saat itu tidak mengetahui bahwa ia sekedar merupakan alat” desis Witantra di dalam hatinya, “namun yang kemudian telah disesalinya.”
Mahisa Bungalan mengerutkan keningnya ketika di luar sadarnya ia memandang wajah kedua pamannya itu. Ia memang melihat sesuatu. Dan meskipun hanya sekilas dan tidak tapis, ia pernah mendengar dari ayahnya ceritera tentang kejayaan Tumapel meskipun Tumapel hanyalah sebuah lingkungan yang jauh lebih kecil dari Singasari dan diperintah oleh seorang Akuwu.
“Mahisa Bungalan” berkata Mahisa Agni kemudian, “apakah kau memang ingin melihat bekas-bekas kebesaran Akuwu Tunggul Ametung yang sekarang barangkali sudah tinggal kerangkanya saja ?”
“Ya paman” jawab Mahisa Bungalan, “mungkin aku akan menemukan pengalaman baru setelah aku melihat-lihat bekas kebesaran itu. Tetapi yang penting, aku ingin melihat Panawijen yang menurut pendengaranku telah dipindah dari tempatnya semula.”
Mahisa Agni mengangguk-angguk. Sejenak ia tidak menjawab Rasa-rasanya ada, sesuatu yang bergejolak didalam dadanya. Bahkan kemudian terbayang, betapa Empu Purwa, gurunya dalam olah kanuragan dan olah kajiwan, didera oleh kekecewaan hati karena anak gadisnya yang bernama Ken Dedes telah hilang dirampas oleh para prajurit dari Tumapel, yang dipimpin langsung oleh Akuwu Tunggul Ametung.
“Permulaan dari perjalanan hidup yang buram” desisnya didalam hati. Karena sepanjang pengamatannya atas jalan hidup Ken Dedes yang pahit sampai saat terakhirnya.
Bahkan kemudian terbayang juga seorang emban tua yang menjadi pemomong Ken Dedes sejak masa kanak-kanaknya. Emban yang demikian baik dan setia. Yang ternyata adalah ibunya. Ibu Mahisa Agni itu sendiri.
Mahisa Bungalan melihat wajah Mahisa Agni seolah-olah di bayangi oleh selapis kabut yang buram. Namun iapun menyadari bahwa kenangan masa lampau Kadang-Kadang dapat menumbuhkan kesan yang aneh. Mungkin kesan duka, tetapi mungkin pula kesan suka.
“Kita akan singgah sebentar Mahisa Bungalan” desis Mahisa Agni.
“Terima kasih paman” jawab Mahisa Bungalan.
“Tetapi kita masih akan bermalam dua malam lagi di perjalanan sebelum kita sampai ke Panawijen.”
“Masih begitu jauh ?”
“Kita tidak tergesa-tergesa bukan ?”
Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Sekilas ditatapnya wajah Witantra. Di wajah itu, iapun melihat pula bayangan yang suram seperti di wajah Mahisa Agni.
Beberapa saat kemudian Mahisa Bungalan tidak berkata apapun juga. Ia mencoba mengerti, kenangan apakah yang telah bermain di dalam hati kedua pamannya itu.
Mahisa, Agni dan Witantra pun Rasa-rasanya lebih senang bermain dengan kenangannya daripada banyak berbicara. Sehingga karena itulah maka mereka tidak banyak lagi berbincang di sepanjang jalan. Hanya Kadang-Kadang saja mereka bercakap-cakap tentang jalur jalan yang mereka hadapi. Padukuhan yang sepi dan bulak panjang yang berpagar hutan perdu diujung yang jauh.
Namun merekapun bukan saja melintasi bulak-bulak panjang, padukuhan yang sepi dan kota-kota kecil yang sedang berkembang, tetapi mereka juga melintasi hutan yang rindang dan pinggir hutan yang lebat dan pepat.
“Apakah kita tidak salah jalan ?” bertanya Mahisa Bungalan.
“Kita akan menemukan arah setelah kita lewati hutan ini” jawab Mahisa Agni.
“Paman belum pernah melalui jalan ini ?”
Mahisa Agni menggelengkan kepalanya-
“Dan paman Witantra ?”
Witantra mengerutkan keningnya. Kemudian jawabnya, “Juga belum. Baru kali ini aku melihat jalan ini.”
“Apakah kita akan dapat menemukan arah yang benar?”
Witantra tersenyum. Katanya, “Kau juga seorang perantau. Apakah kira-kira kita akan sampat ke Panawijen?”
Mahisa Bungalan tertawa pendek. Sambil mengangguk-angguk ia menjawab, “Ya paman.”
Seperti yang dikatakan oleh Mahisa Agni, maka mereka pun masih harus bermalam dua malam di perjalanan. Yang semalam mereka bermalam di pinggir sebuah hutan yang lebat. Sedang pada malam yang kedua mereka memasuki sebuah padukuhan kecil.
“Nah, apa katamu Mahisa Bungalan” berkata Witantra.
“Tentang perjalanan kita paman ?”
“Ya.”
Mahisa Bungalan mengerutkan keningnya. Lalu katanya, “Aku mengerti paman. Kita akan segera dapat menemukan arah. Kita sudah melihat puncak Gunung Kawi.”
“Kemudian ?”
“Panawijen terletak di lereng sebelah Timur Gunung Kawi.”
Witantra dan Mahisa Agni tersenyum.
“Bukankah kita akan sampai juga meskipun kita belum pernah melalui jalan ini ?” bertanya Witantra.
“Ya paman. Kita bermalam di padukuhan kecil itu. Besok kita akan meneruskan perjalanan. Tidak sampai petang, kita tentu sudah sampai ke Panawijen.”
Menjelang matahari turun di senja hari, mereka memasuki sebuah padukuhan kecil yang sepi. Meskipun nampaknya padukuhan itu mempunyai banyak kesibukan sehari-hari, ternyata dengan lingkungan sawah yang luas disekeliling padukuhan itu, kandang yang nampak dibeberapa halaman. Namun hampir setiap pintu rumah nampak tertutup meskipun hari masih terang.
“Apakah memang kebiasaan mereka demikian?” bertanya Mahisa Bungalan seolah-olah tertuju kepada, diri sendiri.
Tetapi ternyata Mahisa Agni dan Witantra pun menjadi heran pula melihat jalan yang lengang itu.
“Ada sesuatu yang kurang wajar” desis Mahisa Agni.
“Apakah kita akan bertanya kepada seseorang ?”
“Kita tidak bertemu dengan seorangpun.”
“Kita akan mengetuk pintunya.:
Mahisa Agni dan Witantra ragu-ragu sejenak. Bahkan kemudian Mahisa Agni berkata, “Mungkin justru kitalah yang telah menakut-nakuti mereka.”
“Jika demikian, tentu ada sesuatu yang pernah terjadi di padukuhan ini” sahut Witantra.
Mahisa Agni Mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Kita akan turun dan berjalan sepanjang jalan ini.”
Ketiganya kemudian turun dari kuda mereka- Perlahan-lahan mereka berjalan sambil menuntun kuda masing-masing. Dengan saksama mereka memperhatikan halaman yang lengang dan rumah yang tertutup.
“Memang aneh sekali,” desis Witantra, “apakah penghuni padukuhan ini tidak mau berhubungan dengan orang yang mereka anggap asing?”
Mahisa Agni mengerutkan dahinya. Namun kemudian ia menjawab, “Agaknya bukan karena mereka tidak mau berhubungan dengan orang-orang yang belum mereka kenal. Jalan ini adalah jalan yang termasuk penting di daerah ini, ternyata dari keadaannya. Bahkan jalan ini tentu pernah atau bahkan sering dilalui oleh pedati.”
“Jika demikian, tentu ada sebab yang membuat mereka ketakutan” sahut Mahisa Bungalan.
Namun dalam pada itu, selagi mereka berjalan dengan penuh pertanyaan didalam hati. tiba-tiba saja mereka melihat seorang anak kecil yang berlari-lari sambil menangis. Agaknya ia sama sekali tidak menghiraukan keadaan. Ia tidak mengerti apa yang sedang dilakukan oleh orang tua mereka. Tetapi oleh kemarahan yang tidak tertahankan, ia menangis menjerit-jerit dan lari kejalan.
“Berhenti, berhenti disitu” teriak ibunya yang mengejarnya.
Tetapi anak kecil itu tidak menghiraukannya Bahkan ia berlari lebih cepat. Namun langkahnya tiba-tiba saja terhenti, ketika di luar sadarnya ia berpapasan dengan Mahisa Bungalan. Sejenak anak itu termangu-mangu. Namun dengan demikian tangisnya pun bagaikan tertelan kembali di kerongkongan. Sejenak kemudian ibunya yang mengejarnya pun terhenti beberapa langkah di belakang anaknya yang termangu-mangu. Mahisa Bungalan mendekati anak itu sambil tersenyum. Bahkan kemudian ia berjongkok dihadapannya sambil berkata, “Kenapa kau menangis anak manis ?”
Anak itu surut selangkah.
“O, aku mempunyai sebuah permainan yang baik.” berkata Mahisa Bungalan, “dengarlah. Jangan menangis.”
Anak itu mundur lagi selangkah, sementara ibunya menjadi bingung.
“Aku tidak apa-apa, “ desis Mahisa Bungalan, “he, kau pernah naik kuda?”
Anak itu mulai tertarik kepada kuda Mahisa Bungalan.
“Kau adalah anak yang berani. Marilah, naiklah.” Anak itu masih ragu-ragu, tetapi ibunyalah yang berteriak
“Kemarilah ngger. Kemari. Nanti ayahmu mencarimu jika ia pulang dari sawah.”
Bersambung....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar