*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 16-03*
Karya. : SH Mintardja
Orang yang agak kekurus-kurusan itu sadar, bahwa agaknya saudara seperguruannya itu telah memilihnya untuk mengawani perjalanannya. Karena itu, maka ia pun mengangkat wajahnya sambil bertanya, “Apakah aku mendapat kehormatan untuk pergi bersamamu kakang Wangkir?”
Orang bertubuh pendek yang disebut Wangkir itu pun mengangguk. Tetapi kemudian ia berpaling kepada gurunya sambil berkata, “Semuanya terserah kepada guru.”
Empu Baladatu memandang orang yang kekurus-kurusan itu sejenak. Lalu ia pun bertanya, “Geneng, kau sudah tahu, jika kaulah yang akan pergi, siapa dan apa saja yang akan kau hadapi.”
“Empu. Aku adalah murid yang tidak pernah ingkar akan kuwajiban apapun yang akan aku hadapi. Selama ini aku memang pernah mendengar nama Mahisa Agni, Witantra dan yang lain-lain. Tetapi aku belum pernah menyaksikan sendiri, berapa tinggi ilmu yang ada pada mereka itu. Karena itu sudah barang tentu bahwa aku tidak akan ingkar, jika sekiranya guru memerintahkan aku untuk pergi bersama kakang Wangkir.”
Empu Baladatu mengangguk-angguk, dan Geneng berkata seterusnya, “Jangankah orang-orang yang sudah guru kenal sehingga guru dapat menjajagi kemampuannya. Siapa pun juga yang harus aku hadapi, jika guru memerintahkan, aku akan melakukannya dengan senang hati. Terlebih-lebih lagi aku akan berusaha untuk menangkap mereka hidup-hidup, agar darahnya dapat menambah kemampuan kita bersama di perguruan ini.”
“Kaki Gunung Lawu akan menjadi saksi, bahwa kami akan membawa orang-orang yang ditakuti di Singasari itu hidup hidup.“ berkata Wangkir.
Tetapi Empu Baladatu tertawa. Katanya, “Kita memang terlampau yakin akan kemampuan kita. Memang ilmu yang sedang kalian pelajari mempunyai beberapa kelebihan. Kalian tidak pernah ragu-ragu mempergunakan senjata dan mempergunakan cara apapun untuk memenangkan setiap perkelahian. Namun ingat, yang membunuh ketiga orang saudara-saudaramu itu adalah anak Mahendra. Sedang orang yang mungkin kalian hadapi di samping anak itu adalah Mahendra sendiri dan Mahisa Agni serta beberapa orang lain yang memiliki ilmu sudah barang tentu jauh lebih baik dari Mahisa Bungalan itu sendiri.”
Tetapi Wangkir pun kemudian berkata, “Tetapi bukankah guru mengetahuinya, sampai berapa jauh tiga orang anak yang terbunuh itu menyadap ilmu guru disini? Mereka terlampau dungu untuk mengetahui tentang diri mereka sendiri. Mereka yang baru mulai itu merasa bahwa ilmu mereka sudah cukup sempurna, sehingga pada suatu saat mereka terbentur pada kenyataan, bahwa di luar diri mereka, masih terdapat ilmu yang lebih tinggi, meskipun belum memadai dibanding dengan ilmu perguruan Empu Baladatu.”
“Aku berharap bahwa kau berdua tidak terjerumus dalam anggapan yang demikian itu pula. Jika kalian menganggap bahwa ilmu kalian telah sempurna, maka yang akan terjadi tidak jauh berbeda dengan ketiga anak-anak dungu itu.”
“Tidak Empu. Kami merasa bahwa kemampuan kami masih jauh di bawah sempurna itu. Karena itu kami akan selalu ingat peristiwa yang telah menimpa ketiga saudara-saudara kami yang telah sesat jalan, dan memilih cara hidupnya sendiri meskipun masih selalu berusaha mempergunakan cara dari perguruan ini.”
Empu Baladatu mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Baiklah. Aku percaya kepada kalian berdua. Meskipun demikian aku masih selalu berpesan agar kalian tetap hati-hati. Aku sebenarnya tidak tahu pasti, betapa tingginya ilmu orang-orang itu. Tetapi sebagai ukuran dapat aku ceriterakan, bahwa pada masa pemerintahan Sri Rajasa, Mahisa Agni sudah merupakan orang penting di istana Singasari. Nah, kalian wajib mengetahui, bahwa Sri Rajasa memiliki ilmu yang tidak ada taranya.”
Kedua orang muridnya itu mengangguk-angguk. “Dengan bekal yang ada padamu, pergilah. Kalian harus terap berada di atas jalan yang sudah kalian pilih. Tidak ada manusia yang pantas kalian kasihani selain keluarga kita sendiri, karena pada dasarnya, setiap kelompok manusia adalah binatang yang paling buas bagi manusia lainnya. Ternyata bahwa ketiga orang saudaramu yang terbunuh itu tidak berhasil membunuh lawannya lebih dahulu. Dan orang yang bernama Mahisa Bungalan itu pun sama sekali tidak menaruh belas kasihan dan pengampunan bagi saudara-saudaramu yang sesat jalan itu. Apakah kalian mengerti?”
“Mengerti guru.”
“Mungkin kita tidak menghiraukan sekelompok manusia lainnya, karena kami belum bersentuhan kepentingan. Tetapi pada dasarnya, kita adalah pusat dari sikap hidup kita. Kepentingan kita bersama harus berada di atas kepentingan siapa pun dan apapun juga tanpa ragu-ragu. Kau mengerti?”
“Mengerti guru.”
“Itu dasar dari sikap hidup kita. Dengan demikian barulah kita dapat menguasai orang lain jika kita masih memerlukannya. Tetapi jika tidak, pada suatu saat mereka pun akan kita perlukan darahnya bagi kesegaran ilmu kita.”
“Kami akan melakukannya. Kami akan selalu ingat, bahwa hanya ada satu pusat kehidupan. Di kaki Gunung Lawu ini.”
“Ya. Ketiga orang saudaramu yang menganggap ada pusat kehidupan yang lain, dan mencoba menyempurnakan ilmunya tanpa aku telah mendapat hukuman, lantaran tangan Mahisa Bungalan. Kau ingat.”
”Baik guru. Aku akan selalu ingat semuanya.”
“Pergilah ke Singasari. Tetapi sekali lagi kau harus menyadari, Singasari bukan pusat dari kehidupan. Jika ada kelebihan yang nampak pada wajah kota itu, itu adalah ujud lahiriahnya saja. Dan itu bukan tujuan kita. Kita akan menguasai seisi bumi dan memilikinya.”
Dengan beberapa pesan yang lain, yang berisi sanjungan atas kemampuan kedua orang muridnya itu, tetapi juga ancaman jika mereka lupa diri dan apalagi mempunyai niat untuk memisahkan diri dari induknya, maka kedua orang dari perguruan ilmu hitam itu meninggalkan padepokannya. Mereka menyusuri jalan setapak, menuruni jurang mendaki perbukitan, menyusup diantara hutan yang lebat, menuju kepusat pemerintahan, Kota Raja.
Meskipun tugas yang dibebankan kepada mereka adalah tugas yang berat, namun agaknya tidak terlampau mengikat. Jika mereka merasa terlampau sulit untuk membawa orang-orang yang terlibat dalam dendam atas kematian tiga orang saudara seperguruan mereka, terutama Mahisa Bungalan, dalam keadaan hidup, mereka diberi wewenang untuk membunuhnya dengan cara apapun juga. Kasar atau dengan diam-diam dan bersembunyi. Semua cara dapat ditempuh dan dibenarkan oleh gurunya, Empu Baladatu.
Namun yang sebenarnya tidak kalah pentingnya bagi Empu Baladatu adalah penjajagan tentang kekuatan Singasari. Karena itulah, maka kegagalan yang mutlak pun dari kedua muridnya itu, masih juga ada gunanya. Jika keduanya tidak berhasil menangkap hidup, dan juga tidak berhasil membunuh seorang pun diantara nama-nama yang disebut, maka itu pun tidak mengapa, asal dengan demikian kedua muridnya itu dapat mengetahui, betapa jauh jalan yang harus dilaluinya untuk sampai kepada kekuasaan mutlak atas bumi seisinya. Karena Empu Baladatu yakin, bahwa pada suatu saat usaha itu pasti akan berhasil. Bukan saja membunuh orang-orang yang namanya pernah disebut oleh orang-orang yang berhasil menemukan daerah bayangan hantu, dan mengetahui bahwa ketiga saudara seperguruannya yang lari itu mati terbunuh, tetapi juga pasti akan berhasil menguasai Maharaja dan Ratu Angabhaya Singasari. Kemudian menebarkan kekuasaannya ke Barat sampai ke ujung Kulon, dan dengan kekuatan yang tidak terlawan menyeberang lautan kesegala penjuru bumi.
Empu Baladatu memang mempunyai satu kelebihan yang di ajarkan kepada murid-muridnya. Tidak ragu-ragu mempergunakan segala cara. Yang licik, yang jantan, yang kejam dan segala macam cara yang lain.
Demikianlah maka kedua orang murid Empu Baladatu itu berjalan tanpa mengenal lelah. Mereka tidak merasa perlu untuk singgah di daerah bayangan hantu. Bagi mereka, yang ada dipadukuhan itu tinggallah cucurut-cucurut yang tidak berarti. Tetapi orang-orang yang penting menurut perhitungan mereka tentu berada di Singasari. Terutama Mahisa Agni. Seandainya Mahisa Bungalan dan Mahendra tidak berada di Singasari maka mereka tentu akan mendapat petunjuk, dimanakah mereka itu berada.
Sementara kedua orang itu menuju Singasari, maka telah terjadi beberapa perubahan didaerah yang semula disebut daerah bayangan hantu. Ki Buyut didaerah itu, yang menyebut dirinya Kidang Pengasih, benar-benar telah berubah. Ia berhasil membuat dirinya menjadi manusia wajar. Seperti yang disangka oleh penghuni padukuhannya, yang tidak tahu sama sekali cara hidupnya disaat lampau, Ki Buyut berada di antara mereka dengan penuh perhatian dan pengarahan bagi tata kehidupan di padukuhan kecil itu.
Sementara itu, Tapak Lamba dan ketiga kawan-kawannya masih tetap pula berada bersama mereka. Keempat orang itu pun membantu dengan sepenuh hati, membuat padukuhan kecil itu menjadi semakin berkembang.
“Kita harus mempunyai nama yang serasi bagi pedukuhan ini.“ berkata Ki Buyut.
“Berilah nama.“ berkata Tapak Lamba, “Bukan lagi daerah bayangan hantu.”
“Aku sebut daerah ini seperti namamu. Padukuhan Tapak Lamba.”
Tapak Lamba menggeleng. Katanya, “Itu tidak baik. Kenapa tidak kau sebut saja dengan nama yang lebih baik bagi suatu pedukuhan? Namamu sendiri misalnya.”
“Tidak. Namaku bukan nama yang baik buat padukuhan. Kidang Pengasih.”
“Pengasih. Padukuhan Pengasih.”
Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia pun kemudian mengangguk. Katanya, “Ya. padukuhan ini bernama padukuhan Pengasih. Aku tidak keberatan menggunakannya.”
Tapak Lamba tersenyum. Katanya, “Nah, sekarang setiap orang akan menyebut padukuhan ini bernama Pengasih. Tidak lagi dengan nama yang mendirikan bulu roma. Daerah bayangan hantu.”
Penghuni padukuhan itu tidak banyak menghiraukannya. Mereka merasa bahwa hidup mereka menjadi semakin baik. Bahwa mereka merasa lebih lapang untuk bernafas.
Meskipun mereka tidak mengetahui, namun terasa bahwa dimasa lampau, mereka dihadapkan pada suatu teka-teki yang tidak terpecahkan. Halaman rumah Ki Buyut yang nampaknya selalu terbuka itu, namun rasa-rasanya memang tertutup bagi mereka. Tetapi kini halaman itu rasa-rasanya benar-benar telah terbuka.
Namun demikian, selagi ketenangan yang sebenarnya mulai tumbuh didaerah yang disebut Pengasih itu, mulailah para pemimpinnya berbicara tentang hidup dan cita-cita. Tapak Lamba mulai menyinggung lagi pembicaraannya dengan orang-orang yang menyebut dirinya Linggapati dan Linggadadi.
“Orang-orang Mahibit itu selalu mempengaruhi angan-anganku.“ berkata Tapak Lamba, “Meskipun aku belum pasti, tetapi agaknya ada sesuatu yang menarik.”
“Apakah mereka tidak termasuk orang-orang berilmu hitam itu?”
Tapak Lamba menggeleng, “Menilik cara dan sikapnya, aku berpendapat bahwa mereka bukan dari golongan ilmu hitam.”
Ki Buyut termangu-mangu sejenak. Tiba-tiba saja ia menjadi ragu-ragu untuk berbuat sesuatu setelah ia mengalami peristiwa yang untuk mengenang pun rasa-rasanya seluruh rambutnya meremang.
“Tapak Lamba.“ berkata Ki Buyut, “Sebenarnya aku ingin membuat perhitungan dengan diriku sendiri. Aku memang seorang prajurit yang setia kepada tuanku Tohjaya. Aku pernah bersumpah, bahwa apapun yang akan terjadi, aku akan tetap berpihak kepadanya. Juga sampai tuanku Tohjaya itu terbunuh. Seperti yang kau lihat, aku lebih baik menyingkir dan tinggal jauh terpisah dengan menyimpan dendam di dalam hati. Setiap kali aku bermimpi bagaimana aku membalas dendam atas kematian tuanku Tohjaya yang telah banyak memberikan kurnia kepadaku.“ Ki Buyut berhenti sejenak, lalu, “Namun pada suatu saat datang orang lain yang telah menyelamatkan jiwaku. Seorang anak muda yang dengan tidak aku duga, telah berhasil membunuh tiga orang iblis berilmu hitam itu.”
Tapak Lamba menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Memang kita berada dalam kedudukan yang sulit. Tetapi apakah kita tidak dapat memisahkan dendam dan hutang budi itu?”
“Bagaimana kita akan memisahkannya? Yang telah menyelamatkan kita adalah Mahisa Bungalan, anak Mahendra. Sedangkan jika kita turutkan hati yang mendendam ini, kita akan berhadapan dengan Singasari. Sedangkan di Singasari kita akan bertemu lagi dengan Mahendra dan sudah barang tentu Mahisa Bungalan.”
Tapak Lamba mengangguk-angguk. Namun katanya kemudian, “Ki Buyut. Yang pernah menolong kita adalah Mahisa Bungalan. Aku pun merasa diriku telah diselamatkan. Jika anak nuda itu tidak datang kemari, maka barangkali aku pun sudah terkapar di halaman rumahmu ini dengan kulit terkelupas. Tetapi hutang budi ini tidak akan aku lupakan. Jiki pada suatu saat, Linggapati dan orang-orangnya berhasil menguasai Singasari, maka kita dapat mempergunakan hak dan wewenang yang ada pada kita untuk menyelamatkan Mahisa Bungalan, apabila ternyata ia benar-benar berada dan berpihak kepada Ranggawuni dan Mahisa Cempaka.”
Ki Buyut mengerutkan keningnya.
“Cobalah kau pikirkan.“ desis Tapak Lamba kemudian, “Seandainya kita tidak berada diantara Linggapati dan Linggadadi, apakah kira-kira mereka akan mengurungkan niatnya?”
Ki Buyut menggeleng. Katanya, “Aku kira tidak. Mereka tentu akan melanjutkan rencana mereka untuk menguasai Singasari. Jika usaha itu berhasil, atau setidak-tidaknya mereka berhasil memasuki Kota Raja, maka Mahisa Bungalan itu pun akan dibunuhnya pula. Tetapi jika kita ada diantara pasukan Linggapati, mungkin kita akan dapat membayar hutang budi kepadanya.”
“Tapak Lamba.“ desis Ki Buyut, “Apakah kau dapat mengatakan, siapakah yang lebih tinggi ilmunya, Linggadadi dan Linggapati atau Mahisa Bungalan?”
Tapak Lamba menarik nafas dalam-dalam. Setelah merenung sejenak maka ia pun berkata sambil menggeleng, “Aku tidak tahu. Adalah sangat sulit untuk membandingkan dua orang yang dalam keadaan yang jauh berbeda.”
“Tetapi kau pernah melihat bagaimana keduanya bertempur.”
“Aku pernah dikalahkan oleh Linggadadi dengan mudah. Bahkan aku tidak seorang diri. Dan ternyata bahwa Mahisa Bungalan pun dengan perjuangan yang sengit dapat membunuh tiga orang iblis itu. Nah, apakah dengan demikian akan dapat memperbandingkan keduanya?”
“Mahisa Bungalan dapat mengalahkan ketiga iblis itu. Sedangkan kau sama sekali bukan lawan ketiga iblis itu. Bukankah itu berarti bahwa Mahisa Bungalan memiliki ilmu yang jauh lebih tinggi dari kita?”
“Memang mungkin dapat diambil kesimpulan yang demikian.“ jawab Tapak Lamba, “Sehingga keduanya berada di atas kemampuan kita masing-masing.”
“Nah, jika demikian kau dapat membayangkan. Bahwa jika benar-benar orang Mahibit itu akan melawan Singasari mereka tidak akan berarti apa-apa bagi ayah Mahisa Bungalan. Karena bagaimanapun juga aku masih mempunyai perhitungan, bahwa Mahendra masih jauh lebih kuat dari anaknya. Apalagi Witantra dan Mahisa Agni.”
“Kau menganggap bahwa Linggapati adalah puncak kekuatan orang-orang Mahibit? Aku tidak yakin. Tentu mereka masih mempunyai seorang guru atau bahkan lebih yang dengan pasti dapat mengimbangi kemampuan Witantra, Mahendra dan Mahisa Agni.”
Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya kemudian setelah ia menimbang-nimbang sejenak, “Maaf Tapak Lamba. Aku masih belum memutuskan untuk pergi kepada Linggapati.”
“Ki Buyut Kidang Pengasih.“ berkata Tapak Lamba, “Kau sudah sekian lama bersembunyi. Sudah barang tentu kau mempunyai niat yang kuat untuk kembali ke Singasari dengan kedudukanmu sebagai Senapati itu kembali lagi padamu. Karena itu jangan sia-siakan kesempatan ini meskipun kita masih harus menjajagi lebih jauh, karena kita tidak akan menyediakan diri buat umpan kail, sedang hasilnya akan dinikmati oleh orang lain setelah kita dikorbankan.”
“Karena itu Tapak Lamba, sebaiknya aku meyakini dahulu, apakah yang sebenarnya akan kita dapatkan jika kita benar-benar berada dipihaknya.”
Tapak Lamba termangu sejenak, namun kemudian, “Baiklah. Memang sebaiknya kita tidak tergesa-gesa. Karena itu, biarlah aku dan ketiga kawanku mencoba menjajaginya. Apakah sebenarnya yang akan dilakukan oleh Linggapati itu.”
Ki Buyut mengangguk-angguk. Namun ada perasaan yang di dalam hatinya. Ia tidak dapat melupakan pertolongan yang telah diberikan oleh Mahisa Bungalan kepadanya. Sedang ia tahu bahwa Mahisa Bungalan adalah anak Mahendra dan sudah pasti akan berpihak kepada Singasari jika terjadi pertentangan antara Singasari dan Mahibit.
“Tapak Lamba.“ berkata Ki Buyut, “Aku minta maaf bahwa aku tidak dapat ikut dalam penjajaganmu. Aku masih ingin menikmati kedamaian dipadukuhan ini. Kedamaian yang sebenarnya.”
Tapak Lamba mengangguk. Katanya, “Baiklah. Aku tahu, bahwa perubahan ini telah menumbuhkan perubahan pula di dalam sikap dan caramu menghadapi persoalan Singasari. Tetapi agaknya pada suatu saat, kau akan menemukan kembali sikapmu yang sebenarnya terhadap kekuasaan Ranggawuni dan Mahisa Cempaka.”
“Aku menyadari Tapak Lamba, bahwa jika kita berbuat sesuatu, maka kita akan dapat mengumpulkan beberapa puluh orang bekas prajurit yang agaknya masih tetap setia kepada Tohjaya karena limpahan kekuasaan yang pernah diberikan kepada mereka disamping pemberian yang mengalir hampir setiap saat, sehingga memang akan dapat membangun suatu kekuatan yang dapat diperhitungkan didalam gerakan Linggapati. Tetapi apakah itu bukan sekedar pemanfaatan yang dilakukan oleh Linggapati kepada orang-orang yang pernah mengalami kekecewaan dan tidak mau menyesuaikan diri dengan lingkungannya yang baru? Aku menyadari, bahwa orang-orang berilmu hitam itu dengan mudah dapat menguasai sikap dan perbuatanku, sehingga dengan tidak sadar aku telah menjadi budak mereka, meskipun nampaknya mereka adalah pengawal-pengawalku yang setia dan tunduk atas segala perintahku, karena perasaan dendam dan kebencianku kepada pimpinan pemerintahan Singasari yang kini dipegang oleh dua orang anak-anak muda itu.“ ia berhenti sejenak, lalu, “Apalah hal itu tidak akan terulang kembali jika kita mengadakan hubungan dengan orang-orang yang berada dibawah pengaruh Linggapati? Mereka akan memanfaatkan kita dan kawan-kawan kita yang merasa kecewa dan dendam karena kematian tuanku Tohjaya. Tetapi apakah hasil terbesar nanti tidak ada pada mereka jika mereka berhasil mengalahkan tuanku Ranggawuni dan Mahisa Cempaka? Dan tidak akan banyak memberikan apa-apa kepada kita?”
“Kita memang masih berteka-teki Ki Buyut.“ berkata Tapak Lamba, “Tetapi pengalamanmu membuat kau menjadi terlampau berhati-hati. Namun hal itu memang dapat dimengerti. Karena itu biarlah aku dan ketiga kawan-kawanku sajalah yang akan menjajagi keadaan. Pada saatnya aku akan datang lagi kemari.”
“Mudah-mudahan kau mendapatkan gambaran yang jelas dan wajar tentang kekuatan, niat dan cara yang akan ditempuh oleh Linggapati dan orang-orangnya.”
Tapak Lamba dan ketiga kawannya pun kemudian mempersiapkan diri mereka, untuk segera mulai dengan perjalanan baru menemui Linggapati dan Linggadadi untuk menjajagi kemungkinan yang dapat dilakukannya bersama mereka. Ia ingin meyakinkan diri, apakah benar-benar ada kekuatan yang mendukung kedua orang itu, jika saatnya tiba untuk menggulingkan Singasari.
“Tetapi Linggapati pun harus mengetahui bahwa ada. kekuatan hitam yang masih tersisa. Kekuatan itu agaknya mempunyai pertimbangan tujuan tersendiri yang akan dapat menghambat usaha Linggapati dan Linggadadi.“ berkata Tapak Lamba di dalam hati.
Demikianlah maka pada saatnya, setelah beristirahat beberapa lamanya di padukuhan yang kemudian disebut Pengasih, maka keempat orang itu pun minta diri untuk meneruskan perjalanan. Mereka berjanji untuk pada suatu saat kembali lagi untuk memberikan gambaran, apakah yang sebaiknya mereka lakukan.
“Kita tidak boleh tenggelam dalam ketenangan yang diam seperti yang kau bayangkan.“ berkata Tapak Lamba, “Jika demikian, maka kau akan tetap berada dalam keadaanmu sekarang. Seorang Buyut padukuhan kecil terpencil yang tenang dan damai, tetapi sama sekali tidak berkembang. Sebenarnya kau lebih tepat berdiri dimuka sebuah pasukan segelar sepapan dengan pedang terhunus sambil meneriakkan aba-aba menghadapi lawan. Kau adalah Senapati yang memiliki keberanian dan kemampuan di medan perang.”
“Tetapi ternyata keberanian dan kemampuan itu tidak memberikan arti apa-apa bagiku. Aku tidak berani menghadapi kenyataan dan bersembunyi di padukuhan ini. Sedangkan kemampuanku tidak berarti apa-apa, dibandingkan dengan tiga orang iblis berilmu hitam itu, dan terlebih-lebih lagi dibandingkan dengan Mahisa Bungalan.”
“Tidak semua orang seperti Mahisa Bungalan dan ayahnya Mahendra. Senapati Singasari yang sekarang pun tentu tidak ada bedanya dengan kita pada masa kekuasaan tuanku Tohjaya. Hanya satu dua orang sajalah yang memiliki kelebihan. Dan itu dapat dihitung dengan jari sebelah tangan. Mahisa Agni, Witantra, Mahendra dan barangkali Lembu Ampal, Mahisa Bungalan. Sedang yang lain belum melampaui kekuatan Senapati biasa.”
“Mungkin. Tetapi jumlah mereka terlalu besar untuk dilawan.”
“Karena itu pulalah kita memerlukan kawan-kawan seperti Linggapati. Baiklah. Aku minta diri. Mudah-mudahan perjalananku berhasil.”
Keempat orang itu pun kemudian minta diri dan meninggalkan padukuhan yang tenang dan damai itu. Mereka menuju ke tempat yang bergejolak untuk menemukan gerak yang barangkali sesuai dengan jiwa mereka. Terlebih-lebih lagi gejolak kenangan mereka atas masa lampau dan harapan mereka atas masa datang.
Sepeninggal Tapak Lamba, rasa-rasanya padukuhan Pengasih memang menjadi sepi. Tidak ada orang yang dapat diajak memperbincangkan masalah yang menyangkut persoalan-persoalan di luar padukuhan itu. Para bebahu agaknya memang sangat picik pengetahuannya. Mereka sekedar mengerti serba sedikit tentang lingkungan hidup disekitarnya.
Namun, mereka adalah orang-orang yang taat dan patuh. Sepeninggal Tapak Lamba dan ketiga orang kawannya, Ki Buyut mengajak bebahunya untuk mencoba membuat kekuatan yang dapat sekedar melindungi padukuhan kecil itu dari kekuatan yang terbatas.
“Jika saudara-saudara seperguruan iblis itu benar-benar datang, dan mereka tidak menghiraukan nama Mahisa Bungalan dan keluarganya, maka kita akan menjadi debu bersama-sama. Tetapi kita memang wajib untuk mencoba melindungi padukuhan ini. Sejauh kemampuan yang dapat kita himpun.“ Ki Buyut selalu mencoba membesarkan hati bebahu-bebahunya. Lalu, “Karena itu, kita harus mencoba menyusun kekuatan yang ada pada kita. Ketenangan dan kedamaian yang telah kita capai ini, harus kita isi dengan usaha untuk mempertahankannya.”
Bebahu padukuhan Pengasih itu pun mematuhinya. Terutama mereka yang mengetahui, apa yang sebenarnya pernah terjadi di rumah Ki Buyut. Kematian tiga orang iblis dan bahkan hasil kerja selama mereka berhasil menguasai hati dan perasaan Ki Buyut.
Tetapi seperti pesan Ki Buyut, pada umumnya mereka masih tetap mempertahankan rahasia itu. Jika ada satu dua masalah yang merembes keluar lewat mulut mereka, adalah persoalan-persoalan yang sudah disaring selembutnya.
Demikianlah, setiap hari bebahu padukuhan Pengasih selalu melatih diri dibawah pimpinan Ki Buyut sendiri. Mereka yang serba sedikit sudah mengenal olah kanuragan dengan tekun memperdalam pengetahuan mereka yang terbatas itu. Sedang yang lain, yang sama sekali belum mengenalnya, telah mulai mempelajarinya serba sedikit.
Anak-anak mudanya pun rasa-rasanya mulai bangun. Beberapa orang di antara mereka, dengan sepenuh hati mempelajari ilmu kanuragan, yang ditangani oleh Ki Buyut sendiri pula.
Dengan demikian, maka rasa-rasanya padukuhan Pengasih itu masih saja tetap tenang dan tenteram, namun terasa hidup. Mereka tidak lagi menunggu masa-masa panen dengan duduk-duduk saja di simpang tiga. Tetapi mereka mempunyai kesibukan.
Karena Ki Buyut adalah bekas seorang Senapati prajurit, maka olah kanuragan diberikan kepada anak-anak muda dan bebahu padukuhan Pengasih sebenarnya adalah ilmu keprajuritan. Ilmu kanuragan bagi seorang seorang, dan juga bagi kelompok-kelompok kecil dan besar. Mereka mendapat tuntunan untuk berkelahi dalam lingkungan kecil, tetapi juga bersama-sama dalam lingkungan yang besar.
Namun agaknya usaha Ki Buyut tidak terbatas pada tuntunan olah kanuragan itu saja. Untuk mengamankan padukuhan barunya yang sedang berkembang itu, Ki Buyut berhasrat untuk menghubungi beberapa orang yang pernah dikenalnya pada masa kekuasaan Tohjaya. Para prajurit dan Senapati yang menyingkir dan bersembunyi karena mereka takut kepada balas dendam yang mungkin akan dilakukan oleh prajurit-prajurit dan Senapati-Senapati yang setia kepada Ranggawuni dan Mahisa Campaka.
Namun ternyata bahwa Ranggawuni dan Mahisa Campaka agaknya tidak menganjurkan dan bahkan mencegah dendam yang berkepanjangan di antara keluarga sendiri.
Karena itulah, maka ketika beberapa orang bebahu dan anak-anak muda padukuhan Pengasih sudah mulai berhasil menguasai serba sedikit ilmu kanuragan itu, maka Ki Buyut pun berniat untuk meninggalkan padukuhan itu beberapa lama.
“Tunggulah padukuhan ini baik-baik. Mudah-mudahan aku berhasil menemui beberapa orang kawan, dan membujuknya untuk tinggal bersama kita. Di sini tanah subur dan luas. Tidak ada lagi kecemasan tentang masa lampau yang buram.”
Isterinya tidak mencegahnya. Ia menyadari sepenuhnya bahwa kepergian suaminya adalah semata-mata karena keinginannya untuk melindungi padukuhan itu dari kemungkinan-kemungkinan yang buruk.
Pada saat yang ditentukan, maka Ki Buyut dan dua orang pengawalnya pun meninggalkan padukuhannya menuju ke Kota Raja. Dengan pakaian petani-petani biasa, mereka berniat untuk menemui beberapa orang yang mungkin masih berada di tempat yang pernah mereka ketahui besama. Selagi mereka masing-masing berusaha menyembunyikan diri, mereka telah menentukan tempat masing-masing untuk dapat saling bertemu.
“Mungkin sudah ada perubahan.“ desis Ki Buyut, “Perubahan tempat, dan barangkali perubahan sikap sehingga usahaku tidak akan berhasil. Tetapi aku akan tetap berusaha.”
Karena itulah, maka Ki Buyut pun dengan tekad yang bulat pergi ke daerah yang baginya menyimpan harapan untuk dapat menjadikan padukuhannya semakin tentram.
Tidak ada persoalan apapun di perjalanan. Rasa-rasanya daerah Singasari memang sudah menjadi aman dan damai. Tidak ada gangguan di sepanjang jalan, dan dengan aman mereka memasuki Kota Raja setelah merena menempuh perjalanan yang cukup jauh, sehingga mereka harus bermalam di luar kota.
Namun pada saat yang bersamaan, dua orang berjalan semakin mendekati kota itu juga. Mereka adalah murid-murid Empu Baladatu yang ingin melihat-lihat, apakah yang ada di dalam kota Singasari. Kekuatan apakah yang sebenarnya tersimpan dipusat pemerintahan itu.
Seperti Ki Buyut di Pengasih, kedua orang itu pun tidak menjumpai kesulitan apapun untuk memasuki kota. Demikian mereka menginjakkan kakinya melangkahi gerbang terasa seolah-olah udara memang menjadi sangat sejuk.
Namun yang berbeda adalah apa yang akan mereka lakukan kemudian. Kedua orang murid Empu Baladatu tidak mempunyai tujuan sama sekali di dalam kota yang besar itu. Mereka tidak mempunyai tempat yang langsung dapat mereka tuju untuk sekedar melepaskan lelah, apalagi menumpang tidur.
Karena itu, ketika mereka sudah berada di dalam Kota Raja, maka mereka pun terpaksa mencari tempat berteduh di bawah pohon yang rindang, dan berpikir bagaimanakah dengan malam yang bakal datang. Apakah mereka akan tidur di tempat-tempat yang sepi dan tidak dilalui orang?
Mungkin sehari dua hari dapat mereka lakukan tanpa menumbuhkan kecurigaan. Tetapi jika mereka berada di kota untuk waktu yang agak lama, maka mungkin sekali pada suatu ketika kehadiran mereka itu menumbuhkan kecurigaan pada satu dua orang, sehingga akhirnya menjalar kepada sebagian isi kota itu.
“Kita harus mendapatkan tempat beristirahat yang baik.“ berkata Wangkir.
“Kita belum mengenal seorang pun di tempat ini.“ sahut Geneng.
“Kita akan mendatangi rumah di ujung jalan. Rumah yang agaknya dihuni oleh sekeluarga yang miskin. Kita datang kepada mereka, dan minta tempat untuk menumpang.”
“Kenapa kita memilih ditempat keluarga yang miskin?”
“Ada beberapa pertimbangan. Di antaranya, bahwa di tempat itu kita tidak akan banyak mendapat perhatian, karena biasanya orang miskin tidak dihiraukan oleh orang di sekitarnya. Kemudian, dengan sedikit memberikan uang atau imbalan apapun kita akan dapat mereka terima, asal sikap kita tidak men-curigakan. Kita harus pura-pura bersikap baik dan berhasil membuat mereka percaya kepada kita.”
Geneng mengerutkan keningnya. Ia mencoba membayangkan bagaimana ia harus bersikap. Namun kemudian ia pun mengangguk-angguk. Katanya, “Aku menurut apa saja yang baik menurut kakang Wangkir. Tetapi untuk bersikap lembut agaknya memang agak sulit. Meskipun demikian aku akan mencobanya.“
“Kita harus dapat manjing ajur-ajer. Jangankan sekedar bersikap lembut. Jika perlu kita harus dapat bersikap seperti seorang pendeta yang paling suci.”
“Ya, aku mengerti.”
“Nah, jika demikian, marilah kita coba. Selain sikap yang baik dan meyakinkan, kita akan memberikan sekedar imbalan kepada keluarga itu.”
“Apa yang akan kita berikan?“ bertanya Geneng, “Kita tidak mempunyai apapun juga. Uang, perhiasan atau barang-barang berharga lainnya apalagi.”
Wangkir mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Malam nanti kita akan berusaha sesuatu yang dapat kita berikan kepada keluarga itu.”
Geneng memandang Wangkir dengan heran. Ia tidak mengerti, bagaimana mereka harus berusaha mendapatkan sesuatu nanti malam.
Tetapi sebelum ia bertanya, agaknya Wangkir mengetahui perasaannya itu. Sambil tertawa Wangkir berkata, “Geneng. Dikota ini tersebar kekayaan yang melimpah. Jika kita hanya sekedar menginginkan perhiasan atau uang yang tidak begitu banyak, maka aku kira kita tidak akan mengalami kesulitan.”
“Maksudmu?”
“Kita, masuk saja kerumah seseorang yang kita anggap berada. Sudah tentu yang tinggal agak jauh dari rumah di ujung jalan, sehingga kehadiran kita yang tiba-tiba ditempat itu tidak di curigai dan dihubung-hubungkan dengan peristiwa yang mungkin mengejutkan bagi kota ini?”
“Merampok?”
“Sekedar mengambil uang dalam jumlah yang terbatas. Kita memerlukan uang itu. Karena menurut pendapatku, uang adalah barang yang paling aman kita berikan kepada keluarga miskin itu. Jika kita ambil perhiasan atau benda apapun juga, mungkin akan dapat dikenal oleh pemiliknya jika pada suatu saat barang itu dijual oleh keluarga miskin itu. Jika kita masih nanti malam ada di rumah itu, maka kita pun akan segera tertangkap pula sebelum kita mendapat keterangan apapun juga mengenai Mahisa Bungalan.”
Geneng mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Kemana kita akan merampok?”
“Sudah barang tentu di ujung kota yang lain.“ berkata Wangkir, “Meskipun banyak orang yang memiliki ilmu yang tinggi di kota ini, tetapi kita akan menemukan rumah yang tidak akan dapat melawan kita. Sehari dua hari, dapat kita pergunakan untuk melihat-lihat, rumah yang manakah yang paling baik kita singgahi untuk mengambil uangnya sebagian saja.”
“Selama sehari dua hari, dimanakah kita akan tinggal?”
“Kita dapat berada di segala tempat. Dimana saja. Bukankah kita dapat berada di tempat yang bagaimanapun juga?”
Geneng mengangguk.
“Apa kau kira bahwa karena kita berada di dalam kota, maka tidak ada sejemput tempat pun yang sepi dan tidak banyak disentuh kaki manusia?”
“Ya. Ya. Aku mengerti. Baiklah. Kita akan mencari dua tempat.”
“Kenapa dua?“ justru Wangkirlah yang bertanya.
“Yang satu tempat untuk tinggal. Yang lain tempat yang akan kita rampok. Bukankah begitu?”
Wangkir mengerutkan keningnya. Namun ia pun tersenyum. “Ya. Begitulah.“ jawabnya, “Namun kita harus berhati-hati agar tidak terjebak pada langkah pertama. Sebab yang akan kita lakukan merupakan tugas yang panjang. Kau mengerti?”
Demikianlah maka kedua orang itu pun segera mengelilingi kota. Mereka mengamat-amati rumah yang pantas dimasukinya untuk mendapatkan uang.
Pada hari yang pertama mereka hanya sekedar melihat-lihat saja. Mereka memilih beberapa rumah yang masih akan mereka amat-amati dua tiga hari lagi, sehingga mereka yakin bahwa rumah itu cukup baik mereka jadikan sasaran perampokan.
Karena mereka masih belum mempunyai apa-apa, maka dalam dua malam mereka masih tidur di tempat yang sepi, yang tidak dilihat oleh seorangpun, sehingga tidak menumbuhkan kecurigaan. Namun yang dua malam itu telah mereka pergunakan sebaiknya untuk mengamati rumah yang telah mereka pilih menjadi sasaran itu.
“Rumah yang berada di sudut tikungan itu sajalah.“ berkata Wangkir.
“Kenapa kau pilih itu?“ bertanya Geneng.
“Rumah itu agaknya mempunyai banyak hal yang menguntungkan. Rumah itu tidak terlampau banyak penghuninya. Tempatnya agak jauh dari rumah-rumah yang lain, dan lebih-lebih lagi, agaknya rumah itu memang banyak tersimpan uang dan perhiasan. Tetapi seperti yang sudah kita rencanakan, kita hanya akan mengambil uang. Tidak perhiasan atau barang-barang apapun yang akan dapat dijadikan petunjuk untuk menjerat kita.”
Geneng mengangguk-angguk. Katanya, “Aku sependapat. Penghuni rumah itu tidak berbahaya sama sekali nampaknya.”
Demikianlah maka pada malam ketiga, dua orang itu menunggu malam menjadi sepi. Mereka duduk di tempat yang gelap di balik pagar batu.
Untuk beberapa saat lamanya mereka duduk diam. Dikejauhan nampak lampu-lampu minyak menyala di regol-regol halaman. Dan beberapa buah obor terpancang di tepi jalan.
Malam yang semakin lama menjadi semakin sepi, rasa-rasanya juga menjadi semakin dingin. Di langit bintang-bintang gemerlapan memenuhi cakrawala.
“Agaknya malam sudah menjadi sepi.“ desis Geneng.
“Ya. Tetapi masih terlampau sore. Mungkin di rumah sebelah menyebelah, tetangga-tetangga masih belum tidur.”
Geneng menarik nafas dalam Namun kemudian ia pun mengumpat ketika justru terdengar suara tembang dari rumah sebelah. Agaknya salah seorang penghuninya sedang membaca kidung yang menarik.
“Apa kita menunggu sampai mulutnya diam.“ desis Geneng yang hampir kehilangan kesabaran.
Tetapi Wangkir menggeleng. Jawabnya, “Itu tidak perlu. Kita dapat melakukannya sekarang. Biarlah yang membaca kidung itu membaca terus. Kita akan mengambil uang secukupnya saja.”
“Semua yang ada di rumah itu.”
“Tidak perlu. Kecuali jika yang ada itu tidak terlalu banyak.”
Keduanya berdiam diri sejenak. Lalu, Wangkir pun bangkit sambil berdesis, “Marilah. Sekarang kita memasuki halaman rumah itu.”
Kedua orang itu pun kemudian dengan sangat berhati-hati meninggalkan halaman tempat mereka bersembunyi. Setelah yakin tidak ada seorang pun yang melihatnya, maka mereka pun segera berlari menyeberang jalan dan dengan cepat meloncat pula masuk ke halaman.
Beberapa saat lamanya mereka termangu-mangu. Baru kemudian mereka merayap mendekati dinding rumah itu.
Agaknya rumah itu pun telah menjadi sepi. Tidak ada lagi orang yang masih terbangun. Dengan telinga yang tajam, kedua orang itu mendengar tarikan nafas yang teratur di beberapa tempat di dalam rumah itu.
“Mereka tidur ditempat yang berpencar.“ desis Wangkir.
“Ya. Di sudut-sudut rumah itu terdapat sentong-sentong kecil.”
“Kita akan mengetuk pintu.”
“Itu akan membangunkan seisi rumah.”
“Itu lebih baik. Kita dapat minta agar mereka tidak membuat gaduh. Kita minta mereka dengan tenang mengambil uang sebanyak-banyaknya, dan dengan tenang pula kita akan pergi.”
Geneng mengangguk-angguk. Perlahan-lahan ia berdesis, “Kita memang tidak dapat mengambilnya sendiri, karena kita tidak tahu dimana mereka menyimpan.”
“Yang paling mudah bagi kita, mempersilahkan pemiliknya mengambil untuk kita.”
Geneng mengangguk-angguk pula. Lalu, “Marilah kita mengetuk pintu rumah itu.”
Keduanya kemudian melangkah mendekati pintu. Namun Wangkir masih berkata, “Aku akan menutupi kumisku dahulu agar besok atau lusa aku tidak mudah dikenal oleh pemilik rumah ini.”
Geneng termangu-mangu sejenak. Dipandanginya saja ketika Wangkir melepas ikat kepalanya dan menutup sebagian wajahnya, terutama kumisnya.
“Aku juga.“ berkata Geneng kemudian, “Mungkin memang lebih aman demikian.”
Sambil menutup wajah-wajah mereka dengan ikat kepala, maka kedua orang itu pun kemudian mengetuk pintu perlahan-lahan.
Ternyata ketukan itu telah membangunkan pemilik rumah itu. Terdengar langkah ragu-ragu di dalam, dan sebuah sapa yang lirih, “Siapa diluar?”
“Aku, aku Kiai.“ terdengar jawaban tersendat-sendat.
“Siapa?”
“Aku. Aku membawa kabar buruk buat Kiai.“ suara Wangkir terdengar bergetar dalam nada yang tinggi.
Kabar buruk memang cepat menimbulkan keinginan untuk segera mengetahui. Demikian pula penghuni rumah itu.
Dengan tergesa-gesa ia melangkah kepintu. Tetapi ketika ia sudah berada dimuka pintu itu, ia menjadi ragu-ragu pula.
“Kiai.“ berkata Wangkir, “Mungkin berita ini penting buat Kiai.”
Pemilik rumah itu masih ragu-ragu. Karena itu maka ia pun kemudian bertanya, “Siapakah kau?”
“Aku Kiai.”
“Ya, siapa?”
“Dari rumah sebelah.”
“Namamu?”
Wangkir menjadi bingung. Karena itu untuk beberapa saat ia terdiam.
“Sebut namamu.“ pemilik rumah itu mendesak. Tetapi Wangkir tidak dapat segera menyebut sebuah nama.
Bahkan sejenak ia saling memandang saja dengan Geneng yang termangu-mangu.
Wangkir dan Geneng menjadi berdebar-debar ketika ia mende¬ngar langkah menjauh. Dengan cemas Geneng berbisik, “He, apakah yang akan dilakukannya?”
Wangkir menggelengkan kepalanya. Dan sekali lagi ia berdesis, “Kiai, bukalah pintunya. Aku akan mengatakan sesuatu.”
Tidak ada jawaban. Namun mereka pun kemudian mendengar langkah itu kembali mendekati pintu.
Wangkir dan Geneng lah yang kemudian menjadi curiga. Karena itu, maka mereka pun segera mundur selangkah.
Tetapi pintu itu masih belum terbuka.
“Bukalah pintunya.“ Wangkir menjadi tidak sabar.
“Kau belum menyebut namamu.”
Wangkir menarik nafas dalam-dalam. Seolah-olah ia ingin mengendapkan perasaannya yang mulai bergejolak.
Tetapi dalam pada itu Geneng lah yang sudah tidak dapat menahan hati lagi. Tiba-tiba saja tangannya terjulur dan sebuah hentakan yang menghantam pintu itu pun segera mengejutkan seisi rumah.
Sejenak kemudian maka pintu itu pun telah terbuka dengan paksa. Dengan garangnya maka kedua orang yang berada di luar rumah itu pun segera berloncatan masuk.
“Siapa kau.“ orang itu bertanya dengan ragu-ragu.
Wangkir dan Geneng tidak mempunyai waktu lagi. Ia tidak ingin membuat keributan yang dapat membangunkan tetangga-tetangga penghuni rumah itu. Karena itu dengan suara berat dan datar Wangkir berkata, “Aku memerlukan uang. Hanya itu. Aku tidak akan merampas milikmu selain uang.”
Penghuni rumah itu termangu-mangu sejenak. Dengan tajamnya ia memandang kedua orang yang telah memecah pintunya dengan paksa. Tetapi sejenak ia bagaikan diam mematung saja.
“He, Kiai.“ bentak Wangkir sambil mengamat-amati orang itu. Penghuni rumah itu adalah seorang laki-laki separo baya yang bertubuh tinggi tegap dan kekar. Bahkan dilambungnya terselip sehelai pedang yang panjang. “Sekali lagi aku mengharap agar Kiai dapat mengerti. Aku memerlukan uang. Sekehendak Kiai, berapa Kiai akan memberi.”
Penghuni rumah itu tiba-tiba menggeram. Katanya, “Ki Sanak. Kau telah mengejutkan aku dan keluargaku. Kau merusak pintu rumahku yang memang ringkih. Tetapi hal ini adalah suatu hal yang tidak tersangka-sangka. Aku kira tidak seorang pun di dalam Kota Raja ini yang pada saat seperti ini bermimpi bahwa ada orang yang mencoba merampok seperti Ki Sanak berdua. Selama ini kami sedang menyusun tata kehidupan yang tenang, damai dan dengan sungguh-sungguh kita berusaha untuk membuat kehidupan kita, sejahtera betsama-sama. Tiba-tiba Ki Sanak berdua datang untuk merampok.”
“Tutup mulutmu.“ Genenglah yang membentak, “Berikan uangmu. Gepat, sebelum aku memaksa.”
Orahg itu beringsut setapak. Katanya, “Ki Sanak. Aku bukan orang yang cukup kaya untuk memberikan sejumlah uang kepada orang yang tidak aku kenal.”
“Kau jangan asal membuka mulutmu Kiai.“ bentak Geneng, “Aku sudah berbaik hati untuk tidak minta apapun selain uang. Dan sekarang kau agaknya ingin membuat kami marah.”
“Sama sekali tidak Ki Sanak. Tetapi adalah aneh sekali, bahwa seseorang dengan rela hati memberikan uang kepada orang seperti Ki Sanak berdua.”
“Cepat. Tegasnya, berikan uang itu sekarang, atau kami akan memaksa dengan kekerasan.”
Orang itu mundur setapak. Sekali ia berpaling untuk melihat keluarganya yang masih berkumpul di dalam bilik dengan tubuh gemetar. Isterinya dan dua orang anaknya yang sudah menjelang usia remaja.
“Ki Sanak.“ berkata orang itu, “Aku berusaha mengumpulkan uang sedikit demi sedikit. Sekarang aku mempunyai simpanan yang tidak seberapa. Karena itu, sudah tentu aku tidak akan dapat memberikan kepadamu.”
Geneng menggeram. Wajahnya menjadi merah. Katanya, “Tidak ada pilihan lain kakang.”
Tetapi Wangkir masih mencoba untuk bersabar. Katanya, “Jangan membuat aku marah. Aku masih dapat berbuat baik. Tetapi jika kau berkeras, maka aku akan bertindak kasar.”
“Jangan memaksa Ki Sanak Meskipun aku bukan orang yang berilmu, tetapi adalah hakku untuk mempertahankan milikku.”
“Gila.“ Geneng membentak, “Kau berani melawan kami berdua?”
“Sebenarnya tidak. Tetapi apa boleh buat. Jika kalian memaksa, aku tidak mempunyai cara lain.”
“Gila. Kau akan mati terkelupas seperti pisang.“ Namun kata-kata Geneng itu terputus ketika Wangkir menggamitnya. Katanya, “Jangan terlampau kasar. Kami datang dengan maksud baik.”
Geneng memandang Wangkir dengan heran. Tetapi Wangkir justru tersenyum sambil berkata kepada penghuni rumah itu. “Kau memang seorang yang berani. Tetapi itu tidak mustahil. Semua orang Singasari adalah orang yang berani. Tetapi kau harus mengerti bahwa perlawananmu akan sia-sia.”
“Seandainya perlawananku sia-sia Ki Sanak, aku dapat berteriak. Istri dan anak-anakku pun dapat berteriak pula.”
“Tetapi itu hanya akan mempercepat kematianmu.“ sahut Wangkir, “Sebaiknya kita memilih jalan yang paling singkat dan aman Kiai. Berikan uang berapa saja kau ingin memberi.”
Tetapi penghuni rumah itu mengeleng sambil melangkah surut, “Tidak. Aku tidak akan memberi.”
“Kau memang harus dibunuh.“ desis Geneng.
Tetapi sekali lagi Wangkir menggeleng. “Aku tidak ingin membunuh siapapun. Membunuh tidak akan memberikan manfaat apapun juga. Justru akan menjauhkan kita dari tujuan kita yang hanya sekedar memerlukan uang.”
Penghuni rumah itu termangu-mangu sejenak. Namun agaknya ia pun bukan seorang pengecut sehingga karena itu ia sama sekali tidak gentar karenanya. Bahkan katanya, “Ki Sanak Sekarang aku minta Ki Sanak meninggalkan rumah ini. Mumpung aku masih mempunyai kesempatan untuk berpikir. Jika aku sudah menjadi bingung, maka yang dapat aku lakukan hanyalah berteriak dan memanggil tetangga-tetanggaku.”
“Kau jangan memperpanjang pembicaraan.“ berkata Wangkir yang agaknya sudah mulai gelisah “Cepatlah sedikit Kiai.”
“Maaf. Aku tidak dapat berbuat lebih baik dari mengusir kalian.”
Geneng benar-benar sudah tidak dapat menahan diri. Jika saja Wangkir tidak selalu menahannya, maka ia pasti sudah menerkam orang itu.
Tetapi ternyata bahwa orang itu telah mendahuluinya. Dengan serta merta menarik pedang yang terselip di lambungnya sambil berkata, “Milikku akan aku pertahankan dengan sekuat tenagaku. Jika kau datang dengan cara yang lebih baik dari merusak pintu di malam hari, mungkin aku dapat mempertimbangkannya.”
“Persetan.“ tiba-tiba Geneng meloncat maju. Dengan ga¬rangnya ia berdiri dengan sebelah kakinya ditarik setengah langkah surut. Sambil sedikit merendah pada lututnya ia meng¬angkat kedua tangannya dengan jari-jari mengembang.
Wangkir menjadi cemas karenanya, sehingga karena itu ia pun segera mendesaknya pinggir sambil berkata, “Aku sajalah yang memaksanya untuk menyerahkan uang itu.”
“Kenapa harus kau kakang…..“ kata-katanya terpotong karena Wangkir segera membentaknya, “Minggir.”
Geneng tidak dapat berbuat lain. Kakak seperguruan baginya tidak banyak berbeda dengan gurunya sendiri. Tetapi ia menjadi sangat kecewa karenanya.
Yang kemudian menghadapi pemilik rumah itu kemudian adalah Wangkir. Tetapi ia sama sekali tidak mempergunakan senjata apapun. Agaknya ia terlampau percaya akan kekuatan dan ilmunya.
Sejenak kemudian, di dalam.rumah itu telah terjadi perkelahian antara pemilik rumah itu dengan Wangkir. Tetapi perkelahian itu tidak berlangsung lama. Dengan tangkasnya Wangkir segera berhasil menguasai lawannya dan memukul pergelangan tangannya sehingga senjatanya terlepas.
“Kiai.” berkata Wangkir kemudian, “Aku dapat membunuhmu. Tetapi itu bukan kebiasaanku. Hanya karena terpaksa sekali aku datang minta uang kepadamu. Itu saja. Sekarang, aku minta kau mengambil uang itu.”
Pemilik rumah itu menjadi gemetar. Ia tidak menyangka, bahwa lawannya yang seorang itu dengan cepat berhasil mengalahkannya tanpa menyakitinya. Geraknya yang cepat, tetapi sama sekali tidak menunjukkan kesan yang kasar seperti yang seorang lagi, membuatnya menjadi kagum dan segan.
“Cepatlah sedikit Kiai.“ berkata Wangkir sambil mendorong pemilik rumah itu.....
Bersambung.... !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar