*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 13-01*
Karya. : SH Mintardja
Orang itu masih tetap kebingungan. Dan Mahisa Agni pun kemudian bertanya, “Kenapa kau nampak ketakutan?”
Orang itu tidak segera menjawab.
“Coba, katakan. Apa yang telah kau pikirkan tentang kami?”
“Tidak, tidak apa-apa tuan.” orang itu tergagap.
Tetapi Mahisa Agni mendesak, “Tentu ada apa-apa dengan kalian. Tetapi baiklah. Yang penting bagi kami, apakah kau mempunyai tempat untuk tiga orang di antara kami bermalam di rumahmu?”
Betapa ketakutan melanda hati, namun orang ini pun tidak berani pula untuk menolak. Karena itu, maka katanya, “Silahkan tuan, silahkan.”
Mahisa Agni pun menyadari bahwa orang itu telah ditekan oleh perasaan takutnya sehingga ia memberikan tempatnya untuk bermalam. Tetapi Mahisa Agni akan membuktikan, bahwa mereka tidak akan ketakutan lagi besok setelah Mahisa Agni dan kawan-kawannya minta diri.
“Besok mereka akan menarik nafas dalam-dalam. Karena malam ini kami tidak akan berbuat apa-apa.”
Karena itu, maka dipersilahkannya Ranggawuni dan Mahisa Cempaka untuk bermalam di rumah itu, dikawani oleh Witantra, karena banyak hal yang akan dapat terjadi di malam.
Mahisa Agni sendiri tetap berada di antara pasukannya, Ia berjalan dari satu tempat ke tempat yang lain. Dari satu gardu ke gardu yang lain di dalam padukuhan itu.
Gardu-gardu yang ada di padukuhan itu, ternyata telah dipergunakan oleh para pengawal untuk bermalam. Mereka tidak basah oleh embun di malam hari, sementara satu dua orang berganti-ganti harus berjaga-jaga mengawasi keadaan.
Dalam pada itu, selagi mereka mulai merasakan sejuknya angin malam, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh derap kaki kuda di kejauhan. Bukan hanya satu dua. Tetapi cukup banyak.
Tanpa perintah dari siapa pun juga, maka setiap pengawal yang ada di padukuhan itu pun segera bersiap. Mereka berkumpul di beberapa tempat yang terpisah. Dengan sepenuh kesiagaan mereka pun menghadapi segala kemungkinan yang dapat terjadi.
Di ujung lorong, di luar gerbang padukuhan itu beberapa orang pengawal telah bersiap. Mereka harus menghentikan orang-orang berkuda itu. Jika mereka melawan, maka akan terjadi pertempuran yang seru, karena pengawal yang ada di padukuhan itu seluruhnya telah siap menghadapi apapun juga.
Sejenak kemudian, di dalam keremangan malam, mereka seolah-olah melihat sebuah iring-iringan pasukan berkuda mendekati, meskipun sebenarnya baru mereka dengar suara derap kaki kuda. Namun mereka pasti, sebentar lagi kuda-kuda itu akan segera muncul dari dalam kegelapan.
Karena itu, maka seorang pengawal segera mengambil obor dari sebuah gardu dan membawanya kepintu gerbang. Setelah menyelipkan tangkai obor itu pada dinding padukuhan maka pengawal itu pun melangkah surut.
Sebentar kemudian, nampak dalam keremangan cahaya lampu obor, muncul beberapa ekor kuda dengan penunggangnya.
Namun nampaknya kuda-kuda itu tidak berjalan terlampau cepat. Bahkan kemudian menjadi semakin lama semakin lambat.
Dalam pada itu, para pengawal itu pun segera mengenal, bahwa yang ada di punggung kuda itu adalah para prajurit Singasari yang berpihak kepada Ranggawuni dan Mahisa Cempaka. Di tangan mereka masih nampak melingkar gelang lawe wenang.
Bahkan, semakin dekat mereka itu dengan obor yang terselip pada dinding padukuhan, para pengawal yang sudah terlebih dahulu ada di padukuhan itu pun segera melihat, bahwa yang ada di paling depan adalah Lembu Ampal sendiri.
Di pintu gerbang Lembu Ampal berhenti. Ia sadar bahwa para pengawal tentu sudah mempersiapkan diri. Karena itu maka ia pun mengangkat tangan kanannya sambil berkata, “Selamat malam. Siapakah yang ada di padukuhan ini?”
Yang mula-mula muncul dari balik pintu gerbang adalah Mahisa Agni. Sambil tersenyum ia menjawab, “Aku. Bukan Tuanku Tohjaya.”
Lembu Ampal pun tersenyum pula. Katanya, “Aku sudah memperhitungkan. Menilik jejak yang aku ikuti, tentu dengan sengaja kalian memberikan tanda-tanda agar aku tidak sesat. Dan hal yang demikian tidak akan dilakukan oleh pengawal-tuanku Tohjaya. Apalagi mereka sudah menjadi jauh berkurang setelah pertempuran yang menentukan itu.”
Mahisa Agni mengangguk-angguk.
“Aku melihat bekas pertempuran itu. Beberapa orang yang terluka dan tertawan, sudah dibawa ke Singasari. Yang terbunuh terpaksa dikuburkan di tempat itu untuk sementara.”
Mahisa Agni mengangguk-angguk pula. Lalu katanya, “Marilah. Kau tentu ingin menghadap tuanku Ranggawuni dan Mahisa Cempaka. Jika keduanya sudah tertidur, sebaiknya kau menghadap besok pagi-pagi sebelum kita melanjutkan perjalanan menyusul tunaku Tohjaya.”
Lembu Ampal pun kemudian dibawa oleh Mahisa Agni ke rumah tempat Ranggawuni dan Mahisa Cempaka bermalam. Sedang prajurit-prajurit kemudian bergabung dengan kawan-kawan mereka yang telah mendahului.
Ternyata Ranggawuni dan Mahisa Cempaka pun masih belum tertidur. Mereka mendengar juga derap kaki kuda mendekat. Dan mereka pun sudah menduga bahwa yang datang itu adalah pasukan kecil yang diminta oleh Mahisa Agni.
Tidak banyak yang dapat diceriterakan oleh Lembu Ampal tentang istana Singasari. Yang diketahuinya, kini seluruh Singasari telah dikuasainya. Yang ada di istana sepeninggalnya adalah Mahendra yang sebagian besar waktunya dipergunakan untuk menunggui Ken Umang yang seolah-olah sudah kehilangan ingatannya sama sekali. Kadang ia menangis melolong-lolong, kemudian tertawa berkepanjangan.
“O.” Ranggawuni menarik nafas dalam, sedang Mahisa Cempaka hanya dapat menundukkan kepalanya.
“Hampir tidak dapat dikuasai lagi.” berkata Lembu Ampal.
“Apa yang dilakukan oleh Mahendra?” bertanya Witantra.
“Sebagian besar adalah memberikan gambaran yang salah kepada tuan puteri.”
“Maksudmu?”
“Mengiakan saja apa yang dikatakannya. Misalnya tentang tuanku Tohjaya yang masih dianggapnya berkuasa di Singasari. Mahendra tidak sampai hati merusak angan-angannya yang sudah tidak waras lagi itu, sehingga karena itu. maka ia hanya mengiakan saja semua bayangan-bayangan yang dibuatnya di angan-angannya.”
“Kasihan.” desis Mahisa Cempaka.
“Itu adalah sisa angan-angannya yang membubung tinggi tanpa batas. Nafsunya untuk menguasai isi dunia ini telah membuatnya menjadi tamak dan kehilangan pengamatan diri.” berkata Witantra.
“Akibatnya menjadi terlampau parah baginya.”
“Ya. Kenyataan yang sangat pahit telah merenggutnya dari dunia harapan yang dibentuknya. Harapan yang berlebihan sehingga membuatnya menjadi seorang manusia yang dikungkung oleh nafsu. Ketika pada suatu saat ia terlempar pada kegagalan yang mutlak, maka perasaannya pun tidak lagi berhasil menahan goncangan yang terlampau dahsyat baginya.”
Witantra berhenti sejenak, lalu, “Memang kasihan sekali.”
Mahisa Agni memandang Witantra dengan tatapan mata suram. Ia mengetahui bahwa Ken Umang adalah adik ipar sejak ia masih menjadi Panglima di Tumapel.
Dan agaknya Witantra pun sedang memikirkannya, sehingga hampir di luar sadarnya ia berkata, “Ia adalah adikku.”
“Siapa?” Lembu Ampal bertanya dengan wajah yang tegang.
“Tuanku Ken Umang.”
“Adikmu?”
“Adik iparku.”
Lembu Ampal menunduk. Tetapi keadaan itu sudah terjadi dan tidak dapat dihindarinya lagi. Ken Umang telah kehilangan ingatan. Dan setiap orang akan mengatakan bahwa ia memang sudah menjadi gila karena kegagalan yang dialaminya.
Sejenak mereka itu pun kemudian saling berdiam diri. Mereka mulai membayangkan apa yang akan mereka hadapi. Jika Ken Umang mengetahui apa yang dialami oleh Tohjaya di perjalanannya, maka ia pun tentu akan menjadi semakin parah.
Atau bahkan tidak peduli sama sekali, karena sudah tidak ada perasaan yang dapat tersentuh oleh keadaan apapun juga.
Yang terdengar kemudian adalah desah tarikan nafas Mahisa Agni. Lalu katanya, “Sekarang, silahkan tuanku berdua beristirahat. Besok kita akan menempuh perjalanan yang panjang.”
Ranggawuni dan Mahisa Cempaka pun kemudian mencoba untuk dapat beristirahat, karena yang akan mereka lakukan di hari berikutnya masih terlampau banyak. Sementara Witantra mengawaninya, maka Mahisa Agni dan Lembu Ampal pun meninggalkan bilik itu kembali ke tengah-tengah pasukan mereka.
“Aku telah membawa bekal seperti yang kau pesankan.” berkata Lembu Ampal.
“Terima kasih. Mungkin kita masih akan menempuh perjalanan untuk satu dua hari lagi, karena agaknya Tohjaya dan pengikutnya menyadari bahwa kami mencarinya. Mereka telah berusaha untuk menghapus jejak mereka, sehingga usaha kita menjadi agak sulit.”
Lembu Ampal mengangguk-angguk. Memang bukan tugas yang berat menyusul perjalanan Tohjaya. Tentu Tohjaya masih juga membawa pengawal vang cukup kuat, sehingga mungkin masih akan terjadi benturan senjata di antara pasukan yang mengawal Tohjaya dengan pasukan yang berusaha menyusulnya.
Namun kemudian Mahisa Agni pun berkata, “Lembu Ampal. Sebaiknya kita pun beristirahat. Masih ada waktu. Besok pagi kita akan menempuh perjalanan jauh.”
Lembu Ampal mengangguk-angguk pula. Jawabnya, “Baiklah. Tetapi agaknya kau jauh lebih lelah dari aku.”
“Kita sama-sama bertempur hari ini.”
“Tetapi aku kemudian berada di istana. Dan kau memburu tuanku Tohjaya dan masih harus bertempur sekali lagi melawan pengawalnya yang cukup kuat.” Lembu Ampal berhenti sejenak, lalu, “Beristirahatlah. Sebentar lagi aku pun akan beristirahat. Kau di sini, aku di ujung yang lain.”
Keduanya pun kemudian berpisah. Mahisa Agni dan Lembu Ampal berada di tempat yang berbeda, agar mereka dapat menyesuaikan diri dengan segera jika terjadi sesuatu dari arah manapun juga.
Dalam pada itu, Ranggawuni dan Mahisa Cempaka beserta Witantra masih berada di tempatnya. Beberapa orang pengawal berada di halaman untuk mengawasi rumah yang disinggahi anak-anak muda yang akan memegang pimpinan tertinggi bagi Singasari.
Namun, ternyata bahwa malam itu tidak terjadi sesuatu pada pasukan yang dipimpin Mahisa Agni. Mereka sempat beristirahat dengan baik. Mahisa Agni sempat tidur beberapa saat. Demikian juga pemimpin-pemimpin yang lain. Betapa kegelisahan selalu mengganggu perasaan Ranggawuni dan Mahisa Cempaka dalam pertentangan antara keluarga sendiri itu, namun agaknya kelelahan yang sangat telah membawa mereka tidur barang sejenak.
Ketika ayam berkokok di akhir kalinya, semua orang di dalam pasukan itu sudah terbangun. Mereka segera mengemasi pakaian dan senjata mereka. Sebelum mereka berada di dalam kelompok masing-masing, mereka masih sempat pergi kepakiwan dan meneguk semangkuk minuman panas yang mereka siapkan sendiri dengan meminjam dapur dan perlengkapan penghuni padukuhan itu.
“Kita membawa persediaan beras yang cukup berkata Lembu Ampal. Menjelang perjalanan yang panjang, kalian dapat menyiapkan makan pagi.”
Prajurit-prajurit itu pun kemudian menyiapkan makan pagi mereka sebelum mereka berangkat menyelusuri jejak yang semakin lama menjadi semakin rumit.
Demikianlah ketika matahari mulai naik, pasukan itu pun telah siap untuk bergerak. Mahisa Agni masih sempat mengucapkan terima kasih kepada penghuni padukuhan itu sebelum ia meninggalkan mereka dalam keragu-raguan.
“Pasukan ini agak berbeda dengan pasukan yang lewat kemarin.” berkata seorang laki-laki tua.
“Di dalam pasukan yang kemarin terdapat tuanku Tohjaya. Maharaja Singasari. Karena itulah kita harus menghormati dan berbuat apa saja menurut perintahnya.”
“Tetapi di dalam pasukan ini terdapat tuanku Ranggawuni dan Mahisa Cempaka. Merekalah yang mengusir tuanku Tohjaya dari tahta karena tuanku Ranggawuni dan tuanku Mahisa Cempaka merasa berhak atas tahta itu.”
“Siapa yang mengatakan hal itu kepadamu?”
“Semalam dua orang prajurit yang berjaga-jaga di halaman rumahku sempat menceriterakan kepadaku.”
“Kau keluar rumah dan menemuinya?”
“Mula-mula maksudku sekedar memberikan sekedar minuman panas agar mereka tidak berbuat apa-apa atas keluargaku.”
“Uh. Hanya dengan minuman panas. Jika mereka ingin berbual sesuatu, jangankan minuman panas.”
“Maksudku, agar sikap mereka sedikit lebih lunak.” ia berhenti sejenak, lalu, “Tetapi ternyata mereka adalah orang baik. Mereka tidak bertindak dengan kasar. Dan mereka justru berceritera tentang tuanku Ranggawuni dan Mahisa Cempaka.”
Kawannya mengangguk-angguk. Katanya, “Aku sama sekail tidak berani keluar rumah. Aku juga mendengar dua atau tiga orang yang meronda dan berhenti di pendapa. Agaknya mereka duduk di sana sambil berbicara beberapa lama. Kemudian mereka pun meninggalkan rumahku tanpa aku ketahui arahnya.”
“Jika kau berani keluar dan menemuinya, mereka akan memberikan banyak penjelasan. Mereka ternyata tidak sekasar prajurit-prajurit yang ada di dalam pasukan pengawal tuanku Tohjaya. Agaknya memang benar, bahwa tuanku Tohjaya sedang melarikan diri dan dikejar oleh pasukan tuanku Ranggawuni dan Mahisa Cempaka ini.”
“Aku tidak mengerti. Tetapi menilik akibat yang ditinggalkan pasukan ini memang lebih baik. Mereka mengembalikan semua alat-alat yang mereka pinjam dengan baik.”
Kawannya berbicara mengangguk-anggukkan kepalanya. Seperti kawannya ia memang menilai pasukan Ranggawuni dan Mahisa Cempaka lebih baik dari pasukan yang mengawal Tohjaya. Dan itu menggambarkan bahwa keadaan prajurit-prajurit yang mengawal Tohjaya dalam keadaan yang jauh lebih buruk dari prajurit-prajurit yang datang kemudian itu.
Sebenarnyalah bahwa keadaannya memang demikian. Keadaan prajurit-prajurit yang mengawal Tohjaya memang jauh lebih puruk. Mereka tidak sempat membawa persediaan apa pun juga karena mereka berangkat dengan tergesa-gesa. Yang mula-mula diingat oleh Tohjaya hanyalah seperti perhiasan emas dan berlian. Dan perhiasan-perhiasan itu tidak akan dapat dipergunakan bagi anak buahnya di perjalanan. Jika mereka lapar, maka mereka hanya dapat merampas makanan dari penduduk di padukuhan padukuhan yang mereka lalui tanpa menghiraukan keadaan penduduk itu sendiri.
Malam itu Tohjaya dan anak buahnya bermalam di padukuhan terpencil. Ia menempatkan beberapa orang pengawal agak jauh di belakang mereka. Jika mereka melihat pasukan yang mengikutinya, maka mereka harus memberikan isyarat dengan panah sendaren.
Tetapi malam itu pasukan Mahisa Agni pun berhenti pula, sehingga karena itu, maka tidak ada sebatang anak panah pun yang dilepaskan di udara.
Menjelang fajar, maka pengawal-pengawal yang harus memberikan isyarat itu pun telah berada kembali di induk pasukannya dan sejenak kemudian mereka pun meninggalkan padukuhan itu untuk meneruskan perjalanan.
Prajurit-prajurit itu sama sekali tidak menghiraukan barang-barang yang mereka pergunakan. Mereka merampas beras dan makanan yang mereka jumpai. Mempergunakan alat-alat dapur dan memaksa beberapa orang memasak untuk mereka. Namun ketika merasa perlu untuk pergi, begitu saja mereka meninggalkan padukuhan itu. Barang-barang yang mereka pergunakan masih berserakan dan tersebar di halaman dan sepanjang jalan.
Dengan tergesa-gesa Tohjaya dan pengawalnya berangkat meninggalkan padukuhan itu. Mereka tidak memilih jalan yang besar dan rata, tetapi mereka menyelusuri jalan-jalan sempit dan buruk. Dengan saksama mereka mencoba menghapuskan jejak mereka, agar pasukan yang akan menyusuli mereka tidak dapat menemukan arah yang benar.
Namun ternyata betapapun mereka berusaha menghapus jejak mereka, namun agaknya mereka telah dikejar oleh kegelisahan dan kecemasan. Lebih dari itu, mereka pun agaknya terlampau tergesa-gesa sehingga pencari jejak yang ada di dalam pasukan Mahisa Agni masih mampu untuk mengenalinya betapapun lama dan lambatnya. Tetapi ternyata bahwa pengawal-pengawal Ranggawuni dan Mahisa Cempaka selalu milih arah yang benar.
Tohjaya sendiri keadaannya menjadi semakin parah. Luka-luka di tubuhnya meskipun mula-mula tidak terlampau parah, namun karena tidak mendapat pengobatan yang baik dan segera, ternyata akhirnya telah merampas segenap tenaganya. Ia menjadi sangat lemah dan duduk saja di atas tandunya. Badannya terasa panas dan nyeri. Sedang lukanya nampak membengkak dan sakit bukan kepalang.
Dalam keadaan yang demikian, maka ia pun menjadi selalu marah dan membentak-bentak. Tidak ada yang benar di matanya, apa saja yang dilakukan oleh pengawalnya. Kadang-kadang ia merasa dirinya dipermainkan. Tetapi kadang-kadang ia dibayangi oleh ketakutan yang amat sangat. Bukan saja kepada pasukan yang menyusulnya, tetapi juga kepada pasukannya sendiri.
Jika seorang prajurit berjalan di depan berhenti sejenak karena kelelahan, dan apabila berpaling, maka ia pun segera membentak dan berteriak-teriak.
“He, kenapa kau berhenti? Apakah kau tidak dapat berjalan lagi?” bahkan kadang-kadang ia berkata lantang, “Kau iri melihat aku membawa peti ini he? Gila. Kau tentu akan mendapat bagianmu kelak. Dan jika pada suatu saat aku berhasil merebut tahta kembali, kau akan menjadi tumenggung. Kau dengar?”
Prajurit itu hanya dapat mengangguk dalam-dalam sambil berkata, “Hamba tuanku. Hamba mengerti.”
Namun kemudian Tohjaya menjadi terlampau sering marah. Semakin tinggi matahari, maka udara menjadi semakin panas seperti tubuh Tohjaya sendiri. Agaknya luka-lukanya memang mengandung racun betapapun lunaknya.
“Air, air.” teriak Tohjaya.
Seorang prajurit berlari-lari memberikan air kepadanya. Dengan dada yang berdegup cepat, Tohjaya menerima air itu dan meneguknya.
“Jangan terlampau banyak tuanku.” Senapati yang mengiringi memperingatkannya. “Jika tuanku terlampau banyak minum, maka kesehatan tuanku akan menjadi semakin buruk, Tuanku akan merasa pening dan terlampau penat.”
“Gila. Gila, Kau iri ya. Kau sendiri akan menghirup air itu sampai habis?”
“Tuanku. Hamba merasa sangat letih. Tetapi hamba dengan setia mengawal tuanku. Karena itu, maka hamba pun mencoba memperingatkan tuanku dengan tulus.”
“Diam. Diam kau tikus.”
Senapati itu menarik nafas dalam-dalam. Namun demikian, Tohjaya pun berhenti meneguk air betapapun ia masih ingin. Kemudian menyerahkan guci kecil berisi air itu kepada pengawalnya sambil berkata, “Simpan air itu. Aku akan selalu haus hari ini. Matahari terlampau terik. Dan tubuhku terlampau panas.”
“Kita akan mencari dukun yang pandai tuanku.” desis Senapati yang memimpin pengawalan itu.
Tohjaya tidak menyahut. Tetapi tubuhnya serasa menjadi semakin panas. Bahkan rasa-rasanya bagaikan dipanggang di atas api.
Tetapi, iring-iringan itu berjalan terus. Betapapun lambatnya Tohjaya dan pengawalnya masih tetap maju. Beberapa orang dengan hati yang buram masih juga mencoba menghilangkan jejak mereka.
“Apakah ada gunanya.” desis seorang prajurit.
“Kenapa?” kawannya bertanya.
“Aku tidak mempunyai harapan lagi. Kita tentu akan tertangkap dan aku tidak tahu, nasib apa yang akan terjadi alas kita semua.”
“He, kau sadari apa yang kau katakan?”
“Ya,”
Adalah di luar dugaan, bahwa tiba-tiba saja kawannya berlari lari menghadap Tohjaya yang masih ada di atas tandu dengan tubuh yang semakin lemah.
Dengan terbata-bata prajurit itu berkata, “Ampun tuanku. Ada di antara kita yang ternyata menjadi lemah hati.”
“Apa maksudmu?”
“Seorang kawan hamba mengatakan, bahwa tidak ada harapan lagi bagi kita. Kita tentu akan tertangkap. Dan kita tidak tahu, nasib apa yang akan menimpa kita.”
“Gila. Siapa yang berkata begitu?”
“Itulah tuanku. Justru kawan hamba sendiri.”
“Panggil, panggil ia kemari.” Tohjaya berteriak.
Prajurit yang sekedar berguman dengan kawannya itu menjadi heran. Ia tidak menyangka bahwa kawannya akan mengambil sikap demikian.
Namun ia tidak dapat membantah lagi. Dengan wajah yang tegang ia mendekati tandu Tohjaya.
Semua orang yang menyaksikan apa yang kemudian terjadi, terkejut bukan kepalang. Tiba-tiba saja Tohjaya mengayunkan tombaknya langsung menusuk ke jantung prajurit yang malang itu.
Tidak ada yang sempat dilakukannya. Ketika tombak itu dicabut, maka prajurit itu pun jatuh terjembab. Mati.
“Ia harus mati. Ia harus mati.” teriak Tohjaya.
Tidak ada yang menyahut. Semua orang yang melihat peristiwa itu bagaikan melihat sesosok hantu yang mencengkam jantung korbannya dan menghirup darahnya.
Dalam ketegangan itu tiba-tiba terdengar suara tertawa yang melengking. Di antara suara tertawa itu terdengar kata-kata, “Mampus kau. Mampus kau. Kau tidak akan dapat lagi mengganggu aku. Aku tentu akan dapat mengawini isterimu kelak jika aku kembali ke Singasari. Aku akan menjadi Tumenggung. Aku akan menerima hadiah segenggam mutiara kuning yang paling mahal harganya.”
Sikap prajurit itu benar-benar telah menggoncangkan perasaan. Kematian prajurit yang ditusuk tombak langsung menembus jantung itu telah menimbulkan kejutan yang luar biasa. Apalagi disusul dengan sikap yang tidak wajar dari seorang prajurit muda.
“Sudah lama aku mencintai isterinya.” berkata prajurit itu, “Sekarang baru terbuka jalan.”
“Kau sudah gila.” teriak seorang kawannya.
“Tidak. Aku tidak gila. Aku masih tetap sadar, bahwa, aku akan menjadi seorang Tumenggung dan akan memperisteri seorang perempuan yang paling cantik di seluruh Singasari.”
“Kau gila.” Senapati yang memimpin pengawalan itulah yang kemudian menggeram.
Tohjaya melihat sikap orang itu dengan wajah yang merah padam. Dengan geramnya ia berkata, “Seret ia kemari. Cepat.”
Beberapa orang prajurit telah menangkapnya dan membawanya kepada Tohjaya.
Namun dalam pada itu Senapatinya pun berkata, “Tuanku, serahkanlah orang itu kepada hamba.”
“Bawa kemari.” teriak Tohjaya.
Senapati itu menarik nafas dalam-dalam. Ia menyadari, nasib apakah yang akan dialami oleh prajurit yang malang itu.
Yang terjadi tidak luput dari dugaan para prajurit. Seperti kawannya yang telah terbunuh, ia pun kemudian menghembuskan nafasnya yang penghabisan.
Senapati yang bertanggung jawab atas perjalanan itu hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Tetapi sebenarnyalah bahwa ia sudah melihat, bahwa jalan di hadapan mereka adalah gelap semata-mata.
Perjalanan berikutnya benar-benar tidak menyenangkan, jalan yang sulit dan sikap Tohjaya yang kadang-kadang tidak dapat dimengerti. Namun iring-iringan itu berjalan terus.
Ketika malam kemudian turun lagi, iring-iringan itu berhenti pula di sebuah dusun kecil. Seperti yang pernah terjadi, maka mereka pun segera merampas makanan yang ada. Memaksa beberapa orang untuk bekerja bagi mereka.
Namun malam yang sejuk itu terasa betapa panasnya bagi Tohjaya. Lukanya menjadi semakin membengkak. Dan badannya terasa semakin lemah dan sakit.
Tetapi ia ingin bertahan. Ia harus melepaskan diri dari tangan Ranggawuni dan Mahisa Cempaka. Ia ingin berada di tempat yang tidak dapat dijangkau oleh kedua kemenakannya itu dan kemudian menyusun kekuatan kembali untuk merebut tahta Singasari.
Pada saat fajar mulai membayang, iring-iringan itu pun melanjutkan perjalanannya. Setiap orang sudah menjadi semakin letih. Bahkan ada di antara mereka yang sudah tidak bernafsu sama sekali untuk berjalan. Namun mereka tidak berani membantah, karena mereka menyadari akibat yang dapat terjadi atas mereka.
Apalagi orang-orang yang mengusung tandu. Mereka menjadi semakin lemah dan letih.
Dalam pada itu, pasukan Mahisa Agni pun berjalan terus. Mereka pun tidak dapat berjalan terlampau cepat. Selain mereka harus meneliti jejak, maka mereka tidak dapat membiarkan kuda-kuda mereka menjadi sangat letih.
Namun bagaimanapun juga, agaknya perjalan pasukan Mahisa Agni agak lebih cepat dari Tohjaya bersama pengiringnya.
Kegelisahan, luka dan perasaan nyeri pada tubuh Tohjaya membuatnya semakin kehilangan keseimbangan. Kadang-kadang ia pun menjadi hampir berputus asa. Tetapi kadang-kadang darahnya bagaikan bergejolak oleh dendam yang tidak tertahankan. Dendam atas kematian ayahandanya yang sudah dapat ditumpahkannya kepada Anusapati, agaknya harus ditebus dengan perasaan dendam dan sakit hati pula, karena Ranggawuni dan Mahisa Cempaka berhasil mengusirnya dari istana dalam keadaan yang parah.
Dalam keadaan yang semakin lemah itulah, maka Tohjaya berusaha untuk menyangkal kenyataan tentang dirinya. Karena itu, dengan mengerahkan segenap tenaganya, ia tetap duduk tegak di atas tandunya yang mulai gontai. Meskipun pengawalnya sudah menjadi letih sekali.
“Gila.” teriak Tohjaya, “Apakah kalian tidak dapat berjalan lebih baik?”
Para pengawalnya berusaha untuk berjalan dengan tegap dan teratur. Namun keadaan mereka benar-benar sudah tidak memungkinkan. Bahkan bukan saja keadaan tubuh mereka yang letih, tetapi pakaian mereka pun sudah tidak utuh lagi. Perut yang lapar dan perasaan gelisah serta cemas, membuat mereka tidak dapat berbuat dengan tertib atas diri mereka sendiri.
Tohjaya terkejut ketika ia merasakan tandunya terguncang. Dengan serta merta ia mengangkat kepalanya dan memandang para pengawal yang memanggul tandu.
Tiba-tiba saja wajahnya menjadi merah padam. Kemarahan yang selalu menyala di dadanya, rasa-rasanya melonjak sampai ke ujung ubun-ubunnya.
Dengan mata yang merah ia melihat pengawalnya yang memanggul tandu di depan sebelah kanan sedang sibuk memperbaiki celananya yang sudah sobek, dan karena kekhilafannya telah tersingkap. Kain panjangnya tidak dikenakannya lagi karena mengganggu langkahnya, sehingga kain panjang itu hanya disangkutkannya saja di lehernya.
Tohjaya yang sedang gelap hati melihat hal itu sebagai suatu peristiwa yang besar, yang tidak dapat dimaafkannya lagi. Selain penghinaan atas seorang Maharaja yang besar dari Singasari, maka hal itu memberikan perlambang kepadanya bahwa nasibnya agaknya memang kurang baik. Seolah-olah ia telah melihat kegagalan diri sendiri. Pakaian yang tersingkap adalah perlambang kegelapan bagi nasib seorang besar seperti Tohjaya.
Karena itu, tanpa berkata apapun juga, di dorong oleh kemarahan yang meluap, maka dengan serta merta orang itu pun telah dipukul dengan sebatang tangkai tombak yang selalu ada di sisi Tohjaya. Demikian kerasnya sehingga orang itu pun berteriak kesakitan.
Tetapi bukan saja berteriak. Tiba-tiba saja ia melonjak dan melepaskan tandunya sehingga Tohjaya pun kemudian terlempar jatuh.
Kemarahan yang meluap itu pun menjadi semakin membakar dadanya. Tertatih-tatih ia mencoba berdiri dan dengan sisa tenaganya ia mengangkat tombaknya sambil berteriak, “Gila, Kau gila. Kau harus dibunuh karena kau memberikan perlambang buruk bagiku. Selebihnya kau telah menghina seorang Maharaja besar, karena kau tidak berpakaian sepantasnya apalagi kau berjalan di hadapanku.”
“Tuanku.” Senapati yang memimpin pengawal itu berteriak. Ia mencoba mencegah sesuatu yang bakal terjadi.
Tetapi yang terjadi agaknya memang terlampau cepat. Pengawal yang kesakitan itu telah kehilangan akal pula. Kelelahan, putus asa dan ketiadaan harapan, membuatnya bermata gelap.
Karena itu, ketika ia melihat ujung tombak mengarah ke dadanya, dengan serta merta ia pun menarik kerisnya. Dengan tanpa disadarinya ia justru meloncat maju menyongsong ujung tombak yang telah terayun ke arahnya.
Senapati yang memimpin pengawalan itu justru harus memalingkan wajahnya ketika ia melihat benturan yang sangat mengerikan. Ujung tombak itu benar-benar telah menembus dada pengawal yang malang itu. Tetapi agaknya sisa dorongan tenaganya masih melontarkannya beberapa langkah maju, sehingga ujung kerisnya telah menyentuh tubuh Tohjaya. Keris yang dilumuri dengan racun warangan yang kuat.
Sejenak kemudian orang itu pun terlempar ke samping dan jatuh menelentang. Langsung kehilangan nyawanya.
Namun dalam pada itu. Tohjaya pun jatuh terduduk pula. Ia sudah mengerahkan segenap sisa tenaganya. Apalagi terasa sentuhan keris itu di tubuhnya. Tubuh yang memang sudah terlampau lemah.
“Tuanku.” Senapati yang memimpin pengawalannya mendekat.
Tetapi Tohjaya menjadi semakin lemah. Racun warangan yang kuat pada ujung keris itu dengan cepatnya mulai bekerja. Apalagi daya tahan tubuh Tohjaya telah hampir punah sama sekali.
Tidak seorang pun yang dapat mengatasi batas maut apabila sudah menghampirinya. Demikian pula tuanku Tohjaya yang pernah menjadi seorang Maharaja yang besar di Singasari setelah ia berhasil membunuh Anusapati. Tetapi ternyata ia pun tidak cukup lama duduk di atas tahta.
Racun warangan yang bekerja di tubuhnya itu telah mencengkamnya demikian kuat, sehingga darahnya pun seakan-akan telah tersumbat oleh gumpalan-gumpalan darahnya yang membeku.
Dengan mata sayu dipandanginya Senopati yang berjongkok di sampingnya. Kemudian sebelum ia jatuh menelentang. Senopati itu sudah menyambarnya dan meletakkan kepala Tohjaya itu di pangkuannya.
“Tuanku.” desisnya.
“Aku, aku tidak akan dapat melanjutkan perjalanan ini.” desis Tohjaya.
“Tahankanlah tuanku. Hamba akan berusaha mendapatkan seorang dukun yang pandai.”
Tohjaya menggelengkan kepalanya. Katanya, “Tidak ada gunanya. Aku akan mati.” Namun tiba-tiba Tohjaya itu tersentak, “Persetan. Kalian memang mengharap aku mati, agar kalian dapat memiliki harta kekayaan yang aku bawa.”
“Tuanku.” suara Senepati itu lambat, “Tenangkan hati tuanku. Tidak seorang pun yang akan berkhianat terhadap tuanku.”
“Omong kosong. Siapa yang menusuk aku?”
“Orang itu sudah mati.”
“Mati?”
“Hamba tuanku.”
Tohjaya menarik nafas dalam sekali. Namun rasa-rasanya nafasnya sudah menjadi semakin dalam.
Sejenak kemudian Tohjaya itu pun memejamkan matanya. Perlahan-lahan terdengar ia berdesis, “Ambillah. Ambillah petiku seisinya.”
Senopati itu mengerutkan keningnya. Ia merasakan sebuah tarikan nafas yang sendat. Tarikan nafas terakhir dari Tohjaya yang berbaring di pangkuannya.
Untuk beberapa saat lamanya, Senopati itu rasa-rasanya bagaikan membeku. Bahkan terasa matanya menjadi basah. Beberapa hari ia mengikuti Tohjaya yang terusir dari tahta. Dengan setia ia mengawal Tohjaya itu betapun beratnya. Kini ia hanya dapat menuggui Tohjaya yang sudah tidak bernyawa lagi.
Prajurit-prajurit pengawalnya pun kemudian berkerumun. Sejenak mereka pun ikut berduka cita. Namun kemudian ada sesuatu yang melonjak di dalam hati mereka. Kejemuan dan kelelahan yang amat sangat, agaknya telah menumbuhkan perasaan putus-asa dan kelemahan tekad.
Sebagian besar dari mereka sama sekali tidak lagi mempunyai nafsu untuk berbuat sesuatu.
Dalam pada itu, pasukan berkuda yang dipimpin oleh Mahisa Agni semakin lama menjadi semakin dekat. Jalan yang rumit memang merupakan penghambat dari perjalanan itu. Tetapi karena mereka berada di punggung kuda, maka mereka tidak merasakan kelelahan seperti prajurit-prajurit yang mengusung Tohjaya di atas tandu.
Para pencari jejak, menangkap jejak prajurit-prajurit yang mereka ikuti mengikuti jalan sempit yang sukar. Tetapi, ternyata semakin lama jejak itu menjadi semakin jelas.
“Mereka sudah sangat letih, sehingga mereka tidak sempat lagi menghapus jejak dengan baik.” berkata salah seorang pencari jejak.
“Jaraknya pun tidak begitu jauh lagi. Jejak ini masih baru.” berkata yang lain.
Mahisa Agni dan kawan-kawannya hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Meskipun demikian mereka pun melihat tanda bahwa sebentar lagi mereka akan dapat segera menyusul Tohjaya dan pengikut-pengikutnya.
“Marilah kita percepat perjalanan ini.” berkata Mahisa Agni.
Dengan demikian maka mereka pun maju semakin cepat. Jejak yang mereka ikuti pun menjadi semakin jelas. Sosok mayat yang mereka jumpai di perjalanan telah menumbuhkan berbagai tanggapan atas prajurit-prajurit Tohjaya yang kelelahan itu.
Meskipun jalan menjadi semakin sempit, namun kuda mereka dapat berlari lebih cepat. Mereka tidak perlu lagi berjalan membungkuk-bungkuk melihat jejak di atas tanah berbatu-batu, atau di atas rerumputan di pinggir jalan, jejak itu kini nampak jelas dan pasti.
Ternyata mereka tidak terlalu lama lagi berkuda. Dari kejauhan mereka telah melihat sekelompok prajurit yang berserakan di pinggir jalan. Prajurit-prajurit yang berjongkok dan duduk-duduk dengan kepala tunduk di dalam sebuah suasana yang asing.
“Itulah mereka?” desis Mahisa Agni.
“Apa yang terjadi paman?” tiba-tiba Ranggawuni bertanya.
“Aku tidak tahu. Tetapi kita harus tetap berhati-hati. Kita tidak mengerti apa yang akan dilakukan oleh tuanku Tohjaya. Kadang-kadang ia dapat berbuat di luar dugaan.”
“Tetapi suasananya nampak aneh paman? Mereka seakan-akan tidak menghiraukan lagi kedatangan kita. Tentu sesuatu telah terjadi. Di perjalanan kita menjumpai mayat yang terluka di dada. Mungkin ada persoalan yang tumbuh di antara prajurit-prajurit itu sendiri.”
Mahisa Agni mengangguk-angguk. Katanya, “Itu tidak mustahil. Dalam keadaan yang parah, mungkin timbul pikiran-pikiran yg berbeda-beda. Dan perbedaan yang demikian kadang-kadang tidak dapat diselesaikan dengan pembicaraan, karena otak mereka telah beku.”
Sebenarnyalah bahwa prajurit-prajurit yang mengerumuni Tohjaya yang sudah terbunuh itu sudah tidak menghiraukan lagi kehadiran pasukan berkuda yang menyusul mereka. Mereka sudah terlampau letih lahir dan batin. Mereka sudah tidak tahu lagi apa yang sebaiknya mereka lakukan selain daripada pasrah diri terhadap nasib.
Meskipun demikian namun Mahisa Agni cukup berhati-hati menanggapinya. Mungkin orang-orang itu dengan sengaja berbuat demikian, tetapi tiba-tiba saja mereka bangkit dan menyergap.
Karena itu maka pasukan Mahisa Agni pun menebar. Ada di antara mereka yang terpaksa turun kepategalan di pinggir jalan.
Perlahan-lahan pasukan itu maju. Mahisa Agni yang berada di paling depan bersama Witantra dan Lembu Ampal pun tidak kehilangan kewaspadaan sama sekali.
Ternyata tidak seorang prajurit pun yang beranjak dari tempatnya. Mereka tetap duduk atau berjongkok di tempat.
Satu dua di antara mereka ada yang memalingkan wajahnya melihat kedatangan pasukan berkuda itu. Namun orang-orang itu seolah-olah acuh tidak acuh saja.
Karena tidak seorang pun dari mereka menyentuh senjatanya, maka Mahisa Agni maju lebih dekat lagi. Bahkan ia pun kemudian meloncat turun dari kudanya dan menyerahkan kudanya kepada seorang pengawal. Demikian pula Witantra dan Lembu Ampal.
Perlahan-lahan mereka berjalan mendekat. Beberapa langkah kemudian mereka terhenti karena mereka melihat seseorang yang terbujur di tanah, dan seorang lagi di pangkuan seorang prajurit.
“Ki sanak.” berkata Mahisa Agni lantang, “Siapakah yang memimpin kelompok prajurit di antara kalian?”
Tidak ada seorang pun yang segera menyahut.
“He, siapakah yang mempertanggung jawabkan kelompok kalian itu?”
Senapati yang masih memangku Tohjaya itu pun mengangkat kepalanya sambil berkata keras-keras. “Akulah yang bertanggung jawab. Mendekatlah. Aku tidak mempunyai kepentingan apa-apa lagi sekarang.”
Mahisa Agni terkejut mendengar jawaban itu. Perlahan-lahan ia mendekat. Kemudian ia pun bertanya, “Siapakah itu?”
Senapati itu memandanginya. Wajahnya nampak sayu dan matanya masih merah. Jawabnya, “Tuanku Tohjaya.”
“Kenapa?”
“Tuanku telah meninggal.”
Jawaban itu telah mengejutkan Ranggawuni dan Mahisa Cempaka Dengan serta merta mereka meloncat dari punggung kudanya dan berlari mendekat. Tetapi Mahisa Agni dan Witantra telah menahan kedua anak-anak muda.
“Sabarlah tuanku. Kita harus meyakinkan dahulu.”
Ranggawuni dan Mahisa Cempaka tertegun sejenak. Namun mereka tidak dapat memaksa. Mereka membiarkan Mahisa Agni kemudian mendekat dan melihat bahwa Tohjaya benar-benar sudah terbaring diam.
Barulah kemudian ia memberikan isyarat kepada Ranggawuni dan Mahisa Cempaka. Keduanya berlari-lari mendekat dan berjongkok di sisi tubuh Tohjaya yang sudah membeku.
“Paman, paman.” desis Ranggawuni dan Mahisa Cempaka.
Kedua anak-anak muda itu mengusap matanya yang basah. Sementara Mahisa Agni, Witantra dan Lembu Ampal memperhatikan setiap gerak dan sikap prajurit-prajurit Singasari yang mengawal Tohjaya sampai akhir hayatnya.
Tiba-tiba saja Ranggawuni meloncat berdiri sambil bertanya lantang, “Siapa yang membunuh pamanda Tohjaya?”
Senapati yang memangkunya melontarkan pandangan matanya kearah prajurit yang terbaring diam. Sebuah luka menganga di dadanya karena tombak Tohjaya.
“Sampyuh?” Senapati itu mengangguk.
“Apakah kau tidak dapat mencegahnya?” bertanya Mahisa Cempaka.
“Peristiwa itu cepat sekali terjadinya. Hamba tidak sempat berbuat apa-apa tuanku.” jawab Senapati itu. Ia pun kemudian menceriterakan apa yang telah dilihatnya dan kemudian yang dapat disaksikan adalah kematian Tohjaya di pangkuannya itu.
Yang mendengarkan ceritera itu menundukkan kepalanya. Kematian Tohjaya benar-benar tidak terduga-duga. Seorang prajurit yang mengawalnya dengan setialah yang justru telah membunuhnya.
Sejenak mereka berdiri termangu-mangu menyaksikan akhir dari hidup Tohjaya. Kemudian Ranggawuni pun memerintahkan untuk membawa jenazah Tohjaya kembali ke Singasari dan menyelenggarakan sebaik-baiknya sesuai dengan adat upacara yang harus dilakukan.
Demikianlah, setelah para prajurit melepaskan senjata-senjata, maka mereka pun kembali mengusung Tohjaya di atas tandu, tetapi mereka membawanya kembali ke Singasari.
Berbagai tanggapan telah timbul. Namun adalah suatu kenyataan bahwa Tohjaya sudah tidak ada lagi. Dan tidak ada yang dapat menyangkal, bahwa di antara para bangsawan, Ranggawuni lah yang paling berhak atas Tahta Singasari. Namun, Ranggawuni tidak akan bersedia mukti sendiri. Karena baginya jabatan tertinggi itu merupakan tanggung jawab yang sangat berat.
Dan karena itulah maka Ranggawuni telah menerima jabatan tertinggi di Singasari bersama saudara sepupunya, Mahisa Cempaka.
Keduanyalah yang kemudian menyelenggarakan jenazah Tohjaya sebagaimana mestinya, dan dicandikan di Katanglumbang.
Beberapa saat kemudian, setelah Singasari menjadi tenang, dan rakyat Singasari tidak lagi di cemaskan oleh peristiwa-peristiwa baru yang timbul, maka Ranggawuni pun telah dinobatkan menjadi Maharaja di Singasari dengan resmi.
Ranggawuni yang menjabat sebagai Maharaja dengan gelar Wisnuwardana, sedangkan Mahisa Cempaka diangkat menjadi Ratu Angabhaya dengan gelar Batara Narasinga. Keduanya memerintah Singasari dengan rukun dan seakan-akan tidak pernah terpisahkan, sehingga rakyat Singasari menganggap keduanya bagaikan Sepasang Ular Naga di satu sarang.
Untuk sementara Singasari pun diliputi oleh ketenangan yang damai. Namun demikian Sepasang Ular Naga di satu sarang itu tidak dapat mencegah mengalirnya waktu. Mereka tidak dapat mencegah tuan puteri Ken Dedes menjadi semakin tua seperti juga Mahisa Agni dan Witantra yang kemudian kembali ke padepokannya. Mereka tidak dapat mencegah Mahendra yang kembali pula ke rumahnya menjadi bertambah tua pula seperti juga Lembu Ampal. Apalagi Ken Umang yg tidak dapat disembunyikan lagi dan yang kemudian sebagaian orang menganggap lebih baik baginya ketika ia meninggal dunia, justru lebih cepat dari Ken Dedes yang tua dan sakit-sakitan.
Tetapi bahwa yang kasat mata tidak akan abadi adanya, juga ketenangan dan kedamaian di Singasari, yang ibu kotanya masih tetap berada di Tumapel lama.
Demikialah maka Kediri yang sudah ditinggalkan Mahisa Agni pun berkembang pula. Tetapi, Kediri merasa dirinya memiliki masa lampau yang lebih besar dari Singasari. Itulah sebabnya, pada suatu saat akan datang persoalan yang tumbuh karena kebesaran Kediri yang hampir pulih kembali.
Namun untuk waktu yang lama, Singasari adalah negara yang besar di bawah pimpinan Sepasang Ular Naga di satu Sarang.
Tidak ada seorang pun yang tidak menjadi cemas di seluruh istana bahwa seluruh daerah Singasari yang besar, ketika nenekda Maharaja Singasari yang bergelar Wisnuwardana, yaitu Ken Dedes, menjadi sakit keras. Kecuali sakit yang dideritanya untuk waktu yang lama, maka tuan puteri memang sudah berusia lanjut.
Siang malam beberapa orang emban selalu menungguinya. Bahkan Tuanku Maharaja di Singasari sendiri sering sekali datang menjenguknya.
Dalam keadaan yang semakin gawat, kakak angkat tuan puteri, Mahisa Agni, hampir tidak pernah beranjak dari sisinya.
Tetapi yang harus terjadi, akan terjadilah.
Herapa banyak orang-orang pandai dalam ilmu pengobatan telah mencoba untuk mengobatinya, namun sakitnya sama sekali tidak menjadi berkurang.
“Kakang Mahisa Agni.” berkata tuan puteri dengan suara yang lemah, “Aku masih melihat daun-daun kemuning di halaman berguguran.”
“Ah mana mungkin tuan puteri.” jawab Mahisa Agni, “Tuan puteri selalu berada di dalam bilik. Tuan puteri tidak pernah turun ke halaman bangsal ini.”
Ken Dedes tersenyum. Katanya, “Akan tetapi, bukankah daun kemuning itu masih selalu berguguran? Setiap pagi juru taman selalu menyapu pekarangan itu dan menyingkirkan daun-daun kering yang berhamburan.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam.....
Bersambung.....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar