Minggu, 31 Januari 2021

SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG JILID 22-01

*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 22-01*

Karya.   : SH Mintardja

“Aku Putut Kuda Santi.” Jawab orang itu, “Aku adalah salah seorang murid tertua dari padepokan ini.

Empu Baladatu mengangguk-angguk. Lalu ia pun bertanya, “Jadi apakah benar aku berada di padepokan saudara tuaku yang bernama Empu Sanggadaru?”

“Ya, ya Empu. Disini adalah padepokan Empu Sanggadaru.”

Empu Baladatu menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Terima kasih. Apakah kau dapat membawa aku menghadap kakang Sanggadaru?”

“Tentu Empu. Empu Sanggadaru telah berpesan kepadaku, agar aku membawa Empu untuk menghadap di sanggar pamujan”

“O” Empu Baladatu mengangguk-angguk, “Apakah kakang Empu Sanggadaru sedang mengadakan upacara?”

“Tidak. Empu Sanggadaru sedang berada di sanggar pamujan bersama tiga orang muridnya untuk memperbincangkan masalah ilmu kanuragan. Bukan ilmu kajiwan.”

Empu Baladatu mengangguk-angguk.

“Marilah Empu” Berkata Putut Kuda Santi, “Ikutlah aku ke sanggar pamujan.”

Empu Baladatu ragu-ragu sejenak. Tetapi ia pun kemudian mengikuti orang yang menyebut dirinya Putut Kuda Santi itu masuk kepintu yang satu itu juga.

Empu Baladatu mengerutkan keningnya ketika ia menginjakkan kakinya ke dalam sebuah ruang yang agak gelap. Namun kemudian lewat pintu yang lain ia sampai ke sebuah ruang di serambi samping. Di ujung serambi itu terdapat sebuah bilik yang tidak begitu luas. Agaknya bilik itulah yang disebutnya sanggar pamujan.

“Sanggar itu terlampau sempit” berkata Empu Baladatu di dalam hatinya, “Bagaimana mungkin kakang Sanggadaru mengolah ilmunya di dalam sanggar itu. Tetapi agaknya ia mempunyai sanggar yang lain yang khusus dipergunakannya untuk menempa murid-muridnya didalam olah kanuragan.

“Silahkan Empu menunggu” desis Putut Kuda Santi, “Aku akan menyampaikan kedatangan Empu kepada guru.”

Empu Baladatu hanya mengangguk saja. Sebenarnya ia sudah jemu untuk selalu menunggu. Tetapi ia masih harus memaksa diri berdiri termangu-mangu menunggu untuk mendapat kesempatan bertemu dengan kakaknya.

Tetapi kali ini ia tidak perlu menunggu terlalu lama. Sejenak kemudian ia melihat seseorang turun dari tangga bilik yang tiba-tiba terbuka. Seorang yang bertubuh tinggi, meskipun agak kekurus-kurusan. Tetapi menilik sikap dan gerak kakinya, menunjukkan, betapa ia menguasai ilmu kanuragan yang tinggi.

Demikian ia lepas dari tangga bilik itu, ia berdiri sambil mengembangkan tangannya. Wajahnya menjadi cerah dan sorot matanya memancarkan kegembiraan di hatinya.

“Kau Baladatu” Desisnya, “Sudah lama sekali kita tidak bertemu. Marilah, masuklah ke ruang dalam. Tidak ke sanggar yang sempit dan pengab itu.”

Empu Baladatu mengangguk hormat. Katanya, “Salamku buat kakang. Aku memang sudah lama sekali tidak mengunjungi padepokan ini, sehingga aku menjadi ragu-ragu. Apakah benar aku telah memasuki padepokanmu yang nampak berubah sejak aku meninggalkannya beberapa tahun yang lalu.”

“Bukan hanya beberapa tahun, lebih dari sepuluh tahun. Kau pergi selagi rambutmu masih hitam lekam. Sekarang, ujung rambutmu yang berjuntai dari balik ikat kepalamu, sudah nampak mulai memulih. He, Baladatu, kau memang cepat menjadi tua. Aku kakakmu, rambutku masih tetap hitam pekat. Demikan juga kumis dan janggutku.”

Baladatu tertawa. Katanya, “Aku mempunyai persoalan yang jauh lebih banyak dari persoalanmu kakang. Agaknya kau hidup tenang dipadepokanmu tanpa memikirkan persoalan-persoalan yaitu rumit, yang tumbuh di sekitarmu dan di sekitar padepokan ini “

Empu Sanggadaru tertawa. Katanya, “Adalah salah sendiri jika seseorang harus menghadapi persoalan-persoalan yang rumit-rumit Lihat, ku dapat hidup tenteram di padepokanku sekarang ini. Aku tidak pernah mengganggu dan juga diganggu oleh orang lain.”

Empu Baladatu pun tertawa juga. Jawabnya, “Aku akan mempelajari tata cara kehidupan seperti itu.”

Empu Sanggadaru tertawa semakin keras. Dan Empu Baladatu pun ikut juga tertawa. Sifat yang riang pada kakaknya itu ternyata masih dibawanya sampai umurnya yang semakin tua.

“Tetapi” tiba-tiba Empu Sanggadaru berkata, “kau ternyata lebih gemuk daripadaku. Aku yang hidup tenang di sini, tidak dapat menjadi segemuk kau, meskipun aku makan cukup banyak”

Empu Baladatu masih tertawa. Katanya, “Apakah disini tidak terdapat bahan makanan yang memadai? Beras, jagung atau ketela rambat?“

“O, disini ada segalanya. Beras, jagung, gaga ketela rambat dan ketela pohon. Ubi panjang dan ubi ungu. Semuanya ada. Mungkin aku justru terlalu banyak makan.”

Empu Baladatu masih tertawa. Dan ia mendengar kakaknya kemudian berkata, “Mari, marilah masuk keruang dalam.”

Mereka pun kemudian memasuki ruang dalam dari rumah yang tidak begitu besar itu. Namun nampak sekali seperti halamannya, rumah itu pun terawat baik. Disana-sini nampak berbagai jenis binatang buruan yang sudah dikeringkan pula, seperti yang sudah dilihat oleh Empu Baladatu di bagian lain dari ramah itu.

Mereka pun kemudian dipersilahkan duduk di atas lembaran kulit berbagai macam binatang. Kulit harimau loreng, kulit kijang, kulit serigala, dan bahkan kulit badak air.

Empu Baladatu melihat hasil buruan yang telah mengering itu dengan kagum. Ruangan itu benar-benar telah memberikan kesan kebesaran seorang pemburu. Apalagi di dinding ruangan itu dihiasi pula dengan berbagai macam alat senjata untuk berburu. Busur, anak panah, tombak panjang, bandil dan alat-alat lain yang biasa dipergunakan dalam perburuan di hutan-hutan yang lebat

Empu Sanggadaru melihat kesan yang tersirat diwajah adik nya. Karena itu maka katanya kemudian sambil tersenyum, “Semuanya ini hanyalah sekedar untuk mengisi waktu. Aku tidak dapat duduk termenung saja siang dan malam di padepokan ini. Sawah dan ladang telah dikerjakan oleh anak-anak. Bahkan mengisi jambangan dipakiwan pun telah dilakukan oleh mereka pula. Lalu aku tidak mendapat bagian kerja apapun juga di padepokan ini, sehingga aku harus mencarinya di luar padepokan.”

“Mengagumkan sekali kakang” berkata Empu Baladatu, “tentu bukan hanya sekedar untuk mengisi waktu. Menilik semua yang ada di ruangan ini dan di serambi belakang, kakang adalah pemburu yang ulung. Adalah jarang sekali pemburu yang manapun juga dapat menangkap seekor ular raksasa seperti yang kakang letakkan di serambi belakang itu.”

“Apa sulitnya menangkap ular?”

“Bagi kakang tentu tidak ada kesulitan. Tetapi bagi mereka yang belum terbiasa, tentu Akan banyak mengalami rintangan dan bahkan mungkin membahayakan nyawanya.”

Empu Sanggadaru tertawa. Katanya, “Kau selalu merendahkan dirimu. Tetapi jika kau mau, maka kau ,tentu akan dapat melakukan lebih baik dari yang aku lakukan sekarang ini. Sejak kanak-kanak, kau mempunyai banyak kelebihan daripada ku. Kau mampu memanjat pohon nyamplung yang batangnya jauh lebih besar dari tubuhmu saat itu. Tetapi aku tidak. Kau mampu menyeberangi sungai yang banjir di sebelah rumah kita, aku sama sekali tidak berani membasahi kakiku dengan airnya yang agak keruh, meskipun kita sama-sama dapat berenang.”

“Ah, kau memuji kakang. Tetapi kau mempunyai kecakapan membidik sejak kanak-kanak. Kau mampu melempar seekor burung dengan tanganmu. Dan agaknya kemampuanmu membidik itu tersalur pada kesenanganmu berburu binatang hutan.” Empu Baladatu berhenti sejenak, lalu, “he, dimana kau berburu binatang-binatang itu kakang?”

“Tidak terlalu jauh” jawab Empu Sanggadaru, “di sebelah sungai itu terdapat hutan yang lebat. Jika kita memasu ki hutan itu, maka kita akan mendapatkan apa saja yang kita inginkan.”

“Sebelah sungai di ujung bulak ini?”

“Ya. Tidak ada yang harus disegani lagi didalam hutan itu. Semuanya dapat kita ambil menurut kebutuhan kita. Hutan itu adalah hutan lebat yang tidak mendapat perlindungan atau menjadi milik dan daerah berburuan dari keluarga istana Singasari meskipun letaknya tidak begitu jauh, justru karena hutan itu masih terlampau lebat dan pepat. Berbeda dengan hutan yang berada dibagian selatan dari Kota Raja. Hutan itu sudah banyak dirambah dan dirindangkan, sehingga menjadi daerah berburuan yang baik bagi keluarga istana. Tetapi sebaliknya, aku sama sekali tidak bergairah berburu di hujan seperti itu. Se-olah-olah hutan yang sudah dipersiapkan menjadi arena berburu perempuan dan kanak-kanak. Sebenarnya lebih baik keluarga istana itu berburu saja dikebun belakang dengan beberapa ekor binatang yang sudah diikat atau berada di dalam sangkar besi yang kuat. Mereka akan dapat memburu binatang itu dengan mudah dan tanpa bahaya apapun juga”

Empu Baladatu lah yang kemudian tertawa. Katanya, “Tentu ada bedanya. Para bangsawan merasa dirinya lebih penting dari orang kebanyakan sehingga mereka merasa perlu dirinya mendapat perlindungan dan pengamanan lebih baik dari kebanyakan orang.”

Empu Sanggadaru mengerutkan keningnya. Namun tiba-tiba ia berkata, “Tetapi berbeda dengan mereka adalah Tuanku Ranggawuni dan Tuanku Mahisa Cempaka sendiri.”

“Kenapa dengan keduanya?”

“Keduanya pun tidak puas berburu bersama keluarga mereka yang ketakutan memasuki hutan yang lebat. Mereka berdua, kadang-kadang bersama Mahisa Agni yang terkenal itu, tetapi kadang-kadang tidak, lebih senang berburu dihutan sebelah sungai itu.”

“Tidak sekedar melihat. Tetapi aku pernah bertemu di arena berburuan.”

“Kau disuruhnya menyingkir?”

“Sama sekali tidak Bahkan Tuanku Ranggawuni mengajak berpacu. Kami sedang memburu seekor rusa yang besar. Siapakah di antara kami yang lebih tangkas.”

Empu Baladatu mengerutkan keningnya. Dengan wajah yang tegang ia bertanya, “Kedua orang tertinggi itu diiringi oleh pengawal segelar sepapan?”

“Tidak. Mereka tidak mempergunakan pasukan untuk menggiring binatang buruan agar memasuki jarak bidik panah mereka. Tetapi mereka benar-benar memburu seperti yang aku lakukan.” Empu Sanggadaru berhenti sejenak mengusap keringatnya.

Empu Baladatu mendengarkan ceritera kakaknya dengan saksama. Sekali-kali ia mengangguk-angguk, kemudian mengerutkan keningnya sambil berdesis.

“Memang mengagumkan” berkata Empu Baladatu kemudian, “ternyata bahwa mereka bukan saja seorang Maharaja dan Ratu Angabhaya yang hanya dapat meneriakkan perintah-perintah, tetapi agaknya mereka juga prajurit-prajurit yang berani.”

“Ya” sahut Empu Sanggadaru, “keduanya adalah anak-anak muda yang mengagumkan. Mereka saat itu sama sekali belum mengenal aku. Demikian kita saling berkenalan di tengah hutan yang lebat, maka kami pun sudah berpacu dalam arena perburuan.”

Empu Baladatu mengangguk-angguk. Katanya, “Tetapi mereka terbiasa duduk di atas Singgasana. Tentu mereka tidak akan menang.”

Empu Sanggadaru tertawa. Jawabnya, “Kau salah tebak. Ternyata bahwa keduanya adalah pemburu-pemburu yang sangat tangkas. Saat itu aku pun berdua dengan muridku yang paling tua. Namun kami berdua tidak dapat mendahuluinya. Keduanyalah yang berhasil mendapatkan rusa itu lebih dahulu. “

“Tetapi di hutan itu tentu banyak sekali berkeliaran rusa dan kijang. Apakah kalian dapat mengenal rusa yang sedang kalian pertaruhkan.”

“Tentu tidak. Tetapi kami bersetuju untuk saling mendahului mendapat rusa yang manapun juga “

Empu Baladatu berdesis, “Memang mengagumkan. Tetapi yang dapat mereka lakukan hanyalah sekedar berburu. Mungkin mereka tangkas bermain busur dan anak panah. Tetapi dalam persoalan yang lain tentu jauh berbeda.”

“Persoalan apa yang kau maksud?” bertanya Sanggadaru,

Empu Baladatu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi jawabannya ternyata tertunda ketika seorang murid padepokan itu memasuki ruangan sambil membawa hidangan.

“Nah, kalian tentu haus” berkata Sanggadaru, “minumlah dan makanlah.”

“Terima kasih kakang” sahut Empu Baladatu.

Sejenak percakapan mereka terganggu. Namun tiba-tiba Empu Sanggadaru bertanya, “Apakah yang kau maksud dengan persoalan lain bagi kedua anak muda yang kebetulan memegang pimpinan pemerintahan itu?”

“Maksudku dalam olah kanuragan. Bukankah ketrampilan berburu belum merupakan ukuran untuk menentukan tingkat ilmunya?”

Empu Sanggadaru tertawa. Jawabnya, “Tentu saja tidak. Aku adalah seorang pemburu. Banyak orang menganggap bahwa aku adalah pemburu yang baik, meskipun tidak sebaik kedua anak muda yang disebut Sepasang Ular dalam satu Sarang itu, karena seolah-olah mereka tidak pernah berpisah. Tetapi dalam olah kanuragan, aku adalah seorang yang picik sekali. Bahkan hampir tidak berarti sama sekali.”

“Ah” dengan serta merta Empu Baladatu memotong, “kau selalu merendahkan dirimu.”

“Tentu tidak. Aku berkata sebenarnya.”

“Aku tahu, bahwa kau memiliki kemampuan yang tidak ada duanya kakang.”

“Mungkin di padepokan ini. Tetapi sudah tentu tidak dapat dibanggakan serupa itu diluar padepokanku. Apabila dibandingkan dengan orang-orang yang sekarang berada di seputar kedua anak muda yang sedang memegang pimpinan pemerintahan itu. Bahkan, kedua anak muda itu pun kini tumbuh dengan pesatnya. Mereka memiliki sumber ilmu dari Mahisa Agni, Witantra dan Lembu Ampal. Didalam pengamatan orang-orang tua itulah keduanya meluluhkan ilmu yang berbeda-beda dalam satu watak yang utuh. Karena itulah, maka keduanya adalah anak-anak muda yang dahsyat. Bukan saja di arena berburuan, tetapi juga di medan. Nah, tentu jauh berbeda dengan aku.”

Empu Baladatu mengerutkan keningnya. Sejenak ia termangu-mangu. Agaknya kakaknya menaruh hormat yang tinggi kepada, pimpinan pemerintahan di Singasari.

“Apakah aku dapat mengatakan kesulitanku kepadanya?” Pertanyaan itu selalu saja mengganggunya.

Tetapi Empu Baladatu tidak tergesa-gesa. Ia ingin berada di padepokan itu untuk beberapa hari lamanya. Baru kemudian, setelah ia yakin, bahwa kakaknya akan bersedia membantunya, ia akan mengatakan keperluannya.

Karena itulah, maka meskipun baginya kurang sedap, Empu Baladatu harus bersedia mendengarkan ceritera kakaknya tentang Ranggawuni dan Mahisa Cempaka yang bagaikan Sepasang Ular dalam Satu Sarang itu. Keduanya hampir tidak pernah berpisah dalam regala peristiwa dan persoalan. Karena itulah maka pemerintahan mereka, nampak utuh dan bulat.

“Persetan dengan keduanya” geram Empu Baladatu di dalam hatinya, “Aku akan bangkit dengan perguruanku dam menyapu bersih semua yang mencoba menghalangiku. Termasuk kedua anak muda itu. Tentu kakang Empu Sanggadaru merendahkan dirinya dengan ceritera perburuannya.” Namun kemudian, “Tetapi aku tentu tidak akan dapat menyangkal ceriteranya tentang Mahisa Agni, Witantra, Lembu Ampal. Dan kakang Sanggadaru masih belum menyebut Mahisa Bu ngalan dan Linggadadi.”

Empu Baladatu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia masih selalu menahan diri, karena ia tidak mau merusak suasana pertemuannya dengan kakaknya, jika ternyata kakaknya tidak se jalan dengan sikap dan pendiriannya.

Untuk mengetahui sikap kakaknya, maka Empu Baladatu memerlukan waktu beberapa hari.

Tetapi Empu Baladatu memang tidak tergesa-gesa. Meskipun ia harus berada di padepokan itu agak lama, tetapi niatnya dapat berhasil, maka itu tentu akan lebih baik daripada tergesa-gesa tetapi gagal, dan apalagi berselisih dengan kakaknya.

Karena itulah, maka di dalam pembicaraan berikutnya, Empu Baladatu lebih banyak mengiakan kata-kata kakaknya daripada menyatakan sikapnya. Meskipun hatinya kadang-kadang bergejolak mendengar pujian kakaknya atas orang-orang Singasari, namun ia sama sekali tidak membantah.

Bahkan kadang-kadang timbul niatnya untuk mengetahui kemampuan kakaknya yang sebenarnya setelah bertahun-tahun mereka berpisah.

“Tetapi aku tidak mempunyai cara yang paling baik untuk melakukannya” berkata Empu Baladatu, “namun aku merasa perlu untuk mengetahui. Jika ternyata kakang Empu Sanggadaru tidak memiliki kelebihan apapun, apa gunanya aku datang bersimpuh di bawah kakinya? Buat apa aku merendahkan diri dan menangis minta belas kasihan, jika ia tidak lebih dari muridku yang paling dungu?”.

Namun demikian Empu Baladatu masih memerlukan waktu dan cara yang sebaik-baiknya untuk mengetahui kemampuan kakaknya. Meskipun binatang-binatang buruan yang banyak sekali terdapat di padepokan itu pun merupakan salah satu alat pengenal yang baik.

“Menilik hasil buruannya, ia adalah orang yang memiliki kelebihan. Tetapi yang dihadapinya adalah binatang-binatang yang bodoh dan tidak mampu berpikir. Agaknya berbeda jika yang dihadapi adalah seorang manusia yang apalagi berilmu.” Berkata Empu Baladatu di dalam hatinya.

Demikianlah, maka setelah pembicaraan mereka bergeser kian kemari, maka Empu Sanggadaru bertanya, “Baladatu, bukankah kau akan bermalam di padepokan ini untuk beberapa hari?”

“Tentu kakang. Aku datang dari daerah yang jauh. Aku sangat rindu kepada kakang Empu Sanggadaru. Karena itu, jika kakang tidak berkeberatan, aku akan tinggal disini untuk beberapa hari lamanya. Mungkin aku perlu melihat-lihat suasana Kota Raja”“

“Perjalanmu sebenarnya tidak terlalu jauh.”

“Aku bermalam beberapa malam di perjalanan.”

“He?”

“O” Empu Baladatu segera memotong, “maksudku, karena aku tidak menempuh jalan lurus kepadepokan ini. Aku menempuh jalan yang agak melingkar, karena aku ingin melihat-lihat padukuhan dan kota-kota kecil yang berkembang demikian pesatnya di bawah pemerintahan Singasari yang sekarang.”

Empu Sanggadaru mengangguk-angguk. Katanya, “Jika demikian maka mungkin sekali perjalananmu disekat oleh beberapa malam di perjalanan. Dan bukankah yang kau lihat cukup menggembirakan menjelang hari depan Singasari yang cerah?”

Empu Baladatu mengangguk-angguk, betapa hatinya menjadi kusam. Bahkan di dalam hatinya itu ia berkata, “Singasari akan segera berganti wajah. Jika kekuatanku telah pulih kembali, dan kakang Sanggadaru bersedia membantuku, maka semuanya akan segera berubah.” Namun katanya kemudian kepada diri sendiri, “Tetapi aku tidak boleh tergesa-gesa, Setelah aku berhasil melenyapkan Mahisa Bungalan dan Linggadadi, maka perjuangan yang sebenarnya barulah aku mulai.”

Di padepokan itu, Empu Baladatu dan dua orang pengawalnya, telah mendapat tempat yang khusus bagi mereka. Sebuah rumah kecil dari antara beberapa buah rumah yang berada di seputar lapangan kecil dibagian belakang padepokan itu. justru sebuah rumah kecil di bagian samping padepokan, bahkan agak terpisah dari bagian-bagian yang lain.

“Dirumah itulah aku mempersilahkan semua tamuku untuk bermalam. Di rumah itu mereka tidak akan tergangu oleh hiruk pikuk anak-anak yang bodoh dipadukuhan ini” berkata kakaknya ketika ia mempersilahkan adiknya ke tempat yang telah disediakannya itu.

“Terima kasih kakang. Aku dapat bertempat dimanapun juga. Sudah menjadi kebiasaanku, tidur di sembarang tempat dan waktu. Diperjalanan aku dapat tidur nyenyak di dahan pepohonan.”

“Aku percaya” jawab kakaknya, “kau adalah petualang yang baik sejak kanak-kanak. Dan kau memang dapat tidur dimanapun juga. Bahkan dalam genangan air. He, bukankah di masa kanak-kanak kau selalu saja masuk kedalam jambangan, dan kemudian dengan pakaian basah kuyup tertidur di belakang kandang?” Keduanya tertawa. Bahkan para pengawal Empu Baladatu pun tertawa pula.

Beberapa saat kemudian, maka seorang murid dari perguruan Empu Sanggadaru itu pun mengantarkan Empu Baladatu ke rumah terpisah yang telah ditunjukkan. Sebuah rumah kecil, namun nampaknya menyenangkan sekali. Beberapa pohon bunga soka berwarna merah yang tumbuh dekat di muka pintu membuat rumah itu semakin segar. Di sisi sebelah kiri terdapat sebatang pohon bunga ceplok piring yang sedang berbunga lebat sekali, sehingga seolah-olah segerumbul pohon yang berdaun putih.

“Bukan main” desis Ki Baladatu, “padepokan ini rasa-rasa nya sangat terawat. Namun dengan demikian aku menjadi ragu-ragu, apakah dibalik keterangan dan keteraturan padepokan ini masih juga tersimpan tenaga. Jika dipadepokan ini masih juga ada beberapa orang murid dari cantrik yang paling bodoh sehingga putut yang paling dipercaya, namun agaknya yang mereka dapatkan di sini tidak lebih dari pelajaran menari. Dan apakah yang akan aku dapatkan dari serombongan penari yang betapapun juga baiknya bagi perjuangan yang keras untuk merebut pimpinan tertinggi dari Singasari?”

Kedua pengawalnya tidak menjawab.

“Tetapi kita masih akan mencoba” berkata Empu Baladatu kemudian.

Kedua pengawalnya masih tetap berdiam diri. Rasa-rasanya mereka pun sedang mencoba menilai, apakah yang akan mereka dapatkan dipadepokan yang asri itu selain pohon-pohon bunga dan beberapa pasang angsa yang putih dikolam yang bening.

“Sudahlah” berkata Empu Baladatu kemudian, “sebaiknya kita tidak memikirkannya sekarang. Baiklah kita menikmati istirahat yang menyenangkan disini. Selama perjalanan kita tidak sempat berbaring dengan tenang dan makan dengan mapan. Sekarang adalah waktunya untuk melakukannya.”

Kedua pengawalnya mengangguk-angguk.

“Melihat sebuah amben bambu tutul yang dibentangi tikar pandan yang putih, rasa-rasanya aku ingin tertidur sejenak” Berkata Empu Baladatu.

“Jika Empu akan tidur, biarlah kami berdua berjaga-jaga” Berkata salah seorang pengawalnya.

“Kenapa harus berjaga-jaga? Tidak ada yang perlu dicemaskan di sini. Ini adalah dipadepokan kakakku. Selebihnya, yang ada dipadepokan ini hanyalah sekumpulan pemburu-pemburu.”

Kedua pengawalnya mengerutkan keningnya,

“Tidurlah jika kalian ingin tidur. Kau tutup sajalah pintu itu dan kau selarak dari dalam. Tetapi jika kalian ingat berjaga-jaga, biarlah pintu itu tetap terbuka.”

“Biarlah pintu itu tetap terbuka Empu” berkata salah seorang pengawalnya.

Empu Baladatu tertawa. Katanya, “Kau masih juga mengenal unggah-ungguh. Kau masih merasa dirimu sebagai tamu di sini. Baiklah. Biarlah pintu itu terbuka, dan kau duduk di amben di luar pintu. Aku akan tidur di dalam bilik kecil itu.”

Empu Baladatu pun kemudian masuk ke dalam sebuah bilik kecil dengan sebuah amben kecil dari pering tutul. Diatas nya dibentangkan sebuah tikar pandan yang putih, bergaris-garis merah.

Setelah menutup pintu dan menyelarakkan dari dalam, dan kemudian menggantungkan senjatanya, Empu Baladatu segera berbaring.

Namun ia pun tersenyum sendiri melihat selarak pintu itu. Dan berkata kepada diri sendiri, “Apakah sebenarnya yang aku cemaskan disini? Kakakku bersikap baik, dan agak nya di sini tidak akan ada kekuatan yang pantas dicemaskan.” Ia mengerutkan keningnya, lalu, “Tetapi apa salahnya aku berhati-hati. Padepokan ini nampaknya menyimpan sesuatu yang sulit dimengerti meskipun itu hanya sekedar prasangka saja.”

Tetapi ternyata bahwa Empu Baladatu tidak tertidur juga. la hanya sekedar berbaring sambil menganyam angan-angan.

Sejenak saat itu, maka Empu Baladatu berada di padepokan kakaknya yang kurang dikenalnya dengan baik. Ketika ia terbangun di pagi hari menjelang matahari terbit, dan kemudian bersama kedua pengawalnya keluar dari rumah kecil yang diperuntukkan baginya, ia melihat empat orang berjalan dengan tenang melintasi halaman depan. Namun nampaknya mereka baru saja bekerja keras dengan mengerahkan segenap tenaga yang ada. Ternyata dari langkah mereka yang lelah dan peluh yang bagaikan terperas dari tubuhnya.

“Apa saja yang telah mereka lakukan?” bertanya seorang pengawalnya.

Empu Baladatu menggeleng. Jawabnya, “Aku tidak tahu. Mungkin mereka haru saja melakukan sesuatu. Atau barangkali mereka haru saja berlatih.”

“Tetapi dimana saja mereka berlatih sepagi ini? Aku kira lapangan kecil di belakang itu adalah arena berlatih yang sangat baik.”

Empu Baladatu menggelengkan kepalanya.”Aku tidak mengerti.”

Sejenak mereka masih saja mengikuti empat orang yang kemudian hilang dibalik dinding penyekat yang menghubungkan bagian pendapa rumah induk yang kecil itu dengan gandoknya sebelah menyebelah.

“Mereka masuk ke rumah kecil itu.”

“Mungkin mereka menjumpai Empu Sanggadaru di sanggarnya.” Empu Baladatu mengangguk-angguk.

Sejenak mereka duduk di tangga pendapa kecil itu sambil termangu-mangu Mereka mengangkat wajahnya ketika mereka mendengar seekor kuda yang meringkik. Namun mereka tidak melihat kuda itu.

Empu Baladatu menarik nafas dalam-dalam. Terasa banyak hal yang belum dimengertinya di padepokan itu. Namun Empu Baladatu mencoba menganggapnya wajar, karena ia baru sebentar berada di padepokan kakaknya.

“Pada suatu saat, aku akan banyak mengetahui tentang padepokan ini” Berkata Empu Baladatu.

Ketika matahari mulai naik di kaki langit, maka seorang pelayan telah membawa minuman dan makanan hangat kerumah terpencil itu. Dengan ramah mereka mempersilahkan ketiganya untuk menikmatinya.

“Selagi masih hangat” berkata pelayan itu.

“Terima kasih” jawab Empu Baladatu. Namun kemudian ia pun bertanya, “Dimanakah kakang Empu Sanggadaru sepagi ini?”

Orang itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian jawabnya, “ Empu Sanggadaru berada di sanggarnya.”

Empu Baladatu mengangguk-angguk. Lalu, “Apakah ia selalu berada di sanggar?”

“Ya. Hampir setiap saat. Siang dan malam. Bahkan tidur pun sebagian besar dilakukannya di dalam sanggar.”

Empu Baladatu mengangguk-angguk. Namun ia masih bertanya, “Apakah kakang Sanggadaru sering berburu?”

Orang itu mengangguk., “Ya. Sering sekali. Agaknya berburu telah menjadi bagian dari hidup Empu Sanggadaru. Tetapi ia tidak pernah meninggalkan padepokan ini terlalu lama.”

Empu Baladatu mengangguk-angguk. Hutan lebat itu memang tidak terlampau jauh dari padepokan. Apalagi menilik binatang buruan yang dikeringkan banyak terdapat di setiap bagian dari rumah induk di padepokan itu, maka wajarlah apa yang dikatakan oleh pelayan itu tentang Empu Sanggadaru,

Namun tiba-tiba Empu Baladatu teringat kepada empat orang yang lewat di halaman dengan keringat yang bagaikan diperas dari tubuhnya, Karena itu, maka seolah-olah sambil lalu saja Empu Baladatu bertanya, “Darimanakah keempat orang yang tadi lewat halaman ini?”

Pelayan itu mengerutkan keningnya. Dengan ragu-ragu ia ber tanya, “Empat orang yang manakah yang Empu maksud?”

“Yang pagi-pagi tadi lewat halaman ini dengan keringat yang bagaikan diperas dari tubuhnya.”

Pelayan itu menggeleng., “Tidak ada orang yang lewat di halaman ini. Pagi-pagi benar aku sudah bangun dan membersihkan halaman ini. Halaman bagian depan. Seorang kawanku membersihkan halaman belakang dan yang lain di longkangan. Tetapi sepengetahuanku tidak ada orang yang lewat halaman depan ini sejak pagi sampai saat ini.”

“Ah” Empu Baladatu berdesah, “empat orang yang nampaknya baru saja bekerja keras. Mungkin berlatih, mungkin melakukan apa saja.” . Pelayan itu menggeleng. Katanya, “Aku mengenal setiap orang dalam padepokan ini. Semua cantrik, putut dan jejanggan aku kenal. Tetapi sejak pagi tadi tidak ada seorang pun yang lewat halaman ini selain aku sendiri.”

“Apakah tidak seorang pun diperkenankan keluar dari padepokan ini?”

“Kenapa tidak?” bertanya pelayan itu.

“Tetapi kenapa tidak ada seorang pun yang lewat dihalaman ini?”

“Bukan dilarang Empu, tetapi sudah menjadi kebiasaan setiap penghuni padepokan ini, untuk keluar masuk lewat pintu butulan di samping. Hanya Empu Sanggadaru dan para penjaga diregol itu sajalah yang melintasi halaman ini. Itu pun jarang sekali dilakukan.”

Empu Baladatu mengangguk-angguk. Katanya, “Jika demikian empat orang yang aku lihat adalah mereka yang bertugas di regol semalam. Tetapi kenapa tubuh mereka basah oleh keringat yang bagaikan diperas?, “Apakah menjelang pergantian tugas, mereka sempat berlatih diluar regol?”

“Tidak ada pergantian tugas dipagi ini? Biasanya pergantian tugas itu belangsung di sore hari. Lima orang yang bertugas bukan saja di regol itu, selama sehari semalam. Mereka mengawasi seluruh padepokan, dari regol depan sampat kebagian yang paling belakang dan pintu-pintu butulan pada dinding padepokan.”

“Tugas yang berat.”

Pelayan itu menggeleng, katanya, “Tidak begitu berat. Padepokan ini adalah padepokan yang aman. Tidak ada orang lain yang menaruh perhatian, apalagi mengganggu. Lima orang yang bertugas itu masih sempat membagi waktunya. Setiap kali dua orang sempat tidur, sedangkan yang dua lagi berjaga-jaga dan sekali-kali mengelilingi padepokan ini. Sementara yang seorang adalah pimpinan kelompok itu.”.

Empu Baladatu menjadi ragu-ragu atas keterangan itu. Ia merasa melihat dengan pasti, empat orang yang lewat dihalaman itu.

Namun Empu Baladatu tidak mau bertanya lebih banyak lagi. Adalah mungkin sekali pelayan itu kebetulan tidak ada dihalaman ketika empat orang itu sedang lewat, sehingga ia tidak dapat melihatnya.

“Terima kasih” Berkata Empu Baladatu kemudian, “Kami akan minum dan makan hidangan yang kau bawa.”

“Silahkan Empu.”

Empu Baladatu kemudian menghadapi hidangan itu dengan pertanyaan yang membelit hatinya. Dengan kedua pengawalnya ia memperbincangkan hal-hal yang sulit dimengertinya di padepokan itu.

“Kau dengar ringkik kuda itu?” Bertanya Empu Baladatu.

“Ya. Mungkin kuda-kuda kita yang berada di kandang dan dibawah perawatan para pekatik di sini.”

“Aku jadi ragu-ragu. Apakah mereka benar-benar dapat merawat Kuda kita dengan baik?” desis Empu Baladatu.

Kedua pengawalnya saling berpandangan. Lalu, salah seorang dari mereka berkata, “Aku akan menengoknya nanti. Apakah itu tidak diperbolehkan?“

“Kita tidak usah bertanya dan mempersoalkan boleh atau tidak boleh. Kita tidak mengetahui peraturan yang berlaku di sini. Karena itu kita dapat berbuat apa saja tanpa ragu-ragu.”

Kedua pengawalnya mengangguk-angguk.

Demikianlah mereka menikmati makan pagi yang hangat, yang dihidangkan oleh pelayan itu, meskipun mereka tetap dicengkam oleh kebimbangan dan keragu-raguan.

Untuk beberapa saat lamanya, ketiga orang itu duduk termangu-mangu di tempatnya. Agaknya mereka masih tetap diselubungi oleh keragu-raguan, apakah yang sebaiknya mereka lakukan di tempat yang nampaknya diselubungi oleh teka-teki itu.

“Aku akan mendapatkan kakang Empu” Berkata Empu Baladatu, “Aku akan mengajaknya berburu dan dengan demikian aku ingin mengetahui serba sedikit, apakah kakang Sanggadaru benar-benar memiliki kemampuan untuk membantu aku mencari cita-cita yang selama ini sudah mulai aku rintis, meskipun baru dalam tingkat persiapan.”

“Menyenangkan sekali” Sahut seorang pengawalnya, “Aku juga seorang pemburu di masa kanak-kanakku, meskipun hanya sekedar berburu kancil di hutan yang rindang. Tetapi berburu adalah selingan yang menyenangkan.”

Demikianlah, ketika seorang pelayan datang lagi untuk mengambil sisa makanan di rumah kecil itu, Empu Baladatu berkata kepadanya, “Aku akan bertemu dengan kakang Empu Sanggadaru. Apakah aku harus pergi ke sanggar itu?”

“O” Pelayan itu menjawab, “Aku akan menyampaikannya. Mungkin Empu akan diterima di sanggar, tetapi mungkin di tempat lain.”

“Baiklah. Katakanlah.”

Pelayan itu pun kemudian pergi sambil membawa sisa makanan sementara Empu Baladatu menunggu kesempatan untuk bertemu dengan kakaknya.

Sepeninggal pelayan itu, maka salah seorang pengawalnya terkata, “Apakah aku harus pergi kekandang kuda itu?”

“Ya. Pergilah” Jawab Empu Baladatu, “Sudah aku katakan. Kita tidak tahu apa-apa tentang padepokan ini. Karena itu kita tidak usah ragu-ragu.”

Pengawalnya termangu-mangu. Meskipun Empu Baladatu mengatakan agar mereka tidak ragu-ragu, tetapi kata-kata itu diucapkannya dengan keragu-raguan.

Meskipun demikian kedua pengawalnya itu mengangguk-angguk sambil berpandangan. Salah seorang dari keduanya berkata, “Marilah. Sementara Empu menunggu keterangan dari Empu Sanggadaru.”

Keduanya pun kemudian melangkah turun ke halaman. Sejenak mereka termangu-mangu. Namun keduanya pun kemudian melangkah ke belakang gandok rumah induk yang tidak begitu besar, menuju ke halaman belakang. Dari sanalah mereka mendengar suara kuda meringkik.

Ketika mereka sampai di belakang rumah induk itu, mereka bertemu dengan seorang cantrik yang sedang menyiangi pohon bunga pacar banyu yang bergerumbul.

Dengan ragu-ragu salah seorang dari pengawal Empu Baladatu itu mendekatinya sambil bertanya, “Ki Sanak, dimanakah letaknya kandang kuda? Aku seolah-olah mendengar ringkik kuda itu dari tempat ini. Tetapi agaknya di sini sama sekali tidak terdapat kandang kuda.”

Cantrik itu termangu-mangu sejenak, namun kemudian ia bertanya, ”Apakah Ki Sanak akan mempergunakan kuda-kuda Ki Sanak sekarang?”

“Tidak. Tetapi aku hanya ingin melihat.”

“Marilah. Ikutlah dengan aku.”

Kedua pengawal Empu Baladatu itu pun segera mengikuti cantrik yang dengan tergesa-gesa menuju ke bagian belakang dan padepokan itu.

Sambil melangkah di belakang cantrik itu, kedua pengawal, “itu pun menjadi heran. Kandang kuda itu ternyata terletak di tempat yang agak jauh, di belakang salah sebuah rumah yang berada di sekeliling lapangan kecil itu.

“Seorang pekatik telah memelihara ketiga ekor kuda itu dengan baik” Berkata cantrik itu.

Ternyata yang dikatakan oleh cantrik itu memang benar Seorang pekatik telah memelihara tiga ekor kuda itu sebaik-baiknya. Pagi itu, ketiga ekor kuda itu sudah dimandikannya dan disediakan rumput yang hijau segar.

“O, silahkanlah Ki Sanak” Berkata pekatik yang memelihara kuda itu ketika ia melihat kedua pengawal Empu Baladatu itu mendekatinya.

Kedua pengawal itu mengangguk-angguk. Salah seorang dari mereka berkata, “Terima kasih. Ki Sanak sudah memelihara kuda kami sebaik-baiknya.”

“Itu adalah pekerjaanku. Disini aku memelihara beberapa ekor kuda pula.”

“Seorang diri?” Bertanya salah seorang pengawal itu

“Tidak. Disini ada tiga orang pekatik. Sedang beberapa orang cantrik dapat membantu kami. Tetapi kuda di padepokan ini memang tidak terlalu banyak.”

Kedua pengawal itu mengangguk-angguk. Yang tampak di kandang itu kecuali tiga ekor kuda mereka hanyalah dua ekor kuda yang lain.

Agaknya pekatik itu mengerti bahwa kedua orang itu ingin bertanya kepada mereka, apakah dipadepokan itu hanya ada dua ekor kuda, maka pekatik itu berkata, “Di sini ada lima ekor kuda yang khusus disediakan bagi Empu Sanggadaru, ia adalah seorang penggemar kuda yang mengerti benar akan katuranggan kuda. Lima ekor kuda itu adalah kuda pilihan, tiga ekor diantaranya sekarang sedang dilepas di lapangan rumput sambil melemaskan kakinya karena sudah beberapa hari tidak digembalakan, dan tidak dipergunakan oleh Empu Sanggadaru.”

Kedua pengawal itu mengangguk-angguk. Namun masih ada pertanyaan yang terselip di sorot matanya, apakah kecuali lima ekor kuda itu masih ada kuda yang lain.

Ternyata pekatik itu berceritera tanpa ditanya, “Selain lima ekor kuda itu, masih ada beberapa ekor kuda yang lain, tetapi kuda-kuda itu tidak sebaik kelima ekor itu.”

“Ada berapa ekor lagi?” Salah seorang pengawal itu tidak dapat menahan pertanyaannya lagi.

“Sebelas ekor kuda. Semuanya ada di belakang rumah sebelah pohon kemuning itu. Disana ada sebuah kandang yang agak panjang.”

“Siapa sajakah yang sering mempergunakan ke sebelas ekor kuda itu?”

“Siapa saja penghuni padepokan ini. Kuda-kuda itu memang disediakan bagi siapa saja “

Kedua pengawal itu termangu-mangu. Tanpa disengaja mereka memandang ke belakang rumah induk yang tidak begitu besar. Agaknya ringkik kuda itu adalah salah seekor dari tiga ekor kuda yang sedang dilepas di lapangan rumput ketika kuda itu dituntun melewati tempat itu.Kedua orang pengawal Empu Baladatu itu pun terkejut ketikaa pekatik itu bertanya, “Apakah Ki Sanak akan membawa kuda-kuda ini ke lapangan rumput untuk dilepas sebentar?”

Kedua pengawal itu menggeleng. Salah seorang dari mereka menjawab, “Tidak. Mungkin Empu Baladatu mempunyai rencana tersendiri, “

Pekatik itu mengangguk-angguk.

“Sudahlah Ki Sanak” Berkata salah seorang dari kedua pengawal itu, “aku akan kembali kepada Empu Baladatu yang mungkin sudah siap untuk melakukan sesuatu. Aku titipkan kuda-kuda itu kepadamu.”

Pekatik itu mengerutkan keningnya. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Apakah ada sesuatu yang akan dilakukan oleh Empu Baladatu?”

“Maksudku, mungkin Empu ingin melihat-lihat daerah ini atau rencana-rencana lain bersama Empu Sanggadaru.”

Pekatik itu mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Baiklah. Aku akan menjaga kudamu baik-baik.”

Kedua pengawal itu pun kemudian kembali ke tempat yang disediakan bagi mereka. Namun dengan demikian mereka tidak juga dapat menghapus teka-teki yang masih saja terasa di sekitar padepokan yang asri itu.

Ketika mereka memasuki ruang dalam, mereka melihat seorang cantrik sedang bercakap-cakap dengan Empu Baladatu. Namun agaknya mereka dapat ikut berbicara pula, karena ternyata Empu Baladatu memanggilnya.

“Kemarilah” Desisnya., “Kakang Empu Sanggadaru dapat menerima aku pagi ini. Tetapi agaknya badannya agak kurang enak sehingga aku dipanggilnya ke sanggar.”

“Apakah kami harus ikut?” Bertanya salah seorang pepengawalnya.

Empu Baladatu memandang cantrik itu seolah-olah bertanya apakah pengawalnya diperkenankan ikut.

Cantrik itu seolah-olah mengerti apa yang tersirat pada sorot mata Empu Baladatu, sehingga ia pun segera menjawab, “Tentu saja Ki Sanak. Tidak ada keberatan apapun jika Ki Sanak berdua akan menghadap bersama Empu Baladatu.”

Tetapi Empu Baladatu lah yang kemudian berkata, “Biarlah aku sendiri menghadap kakang Sanggadaru. Kalian dapat menunggu aku disini.”

‘Kedua pengawal itu bertanya lagi. Namun nampaknya mereka memang lebih senang menunggu daripada ikut berada di dalam sanggar tanpa berbuat apa-apa, karena mereka berdua tentu hanya harus mendengarkan saja pembicaraan kedua kakak beradik itu.

Dengan demikian, maka kedua orang itu pun sempat beristirahat sepuas-puas nya. Mereka dapat berbaring, duduk sambil mengangkat kakinya atau berjalan-jalan di halaman, karena mereka tentu tidak akan dapat berbuat demikian jika mereka berada bersama Empu Baladatu,

Dalam pada itu, Empu Baladatu pun segera mengikuti cantrik yang datang menjemputnya, menghadap kakaknya. Empu Sanggadaru.

Dengan ragu-ragu Empu Baladatu memasuki sanggar yang memang nampaknya terlampau sempit untuk melakukan sesuatu, dengan pintu yang rendah dan sempit.

“Marilah” terdengar suara Empu Sanggadaru ketika ia melihat adiknya dimuka pintu.

Empu Baladatu pun segera membungkukkan badannya dan menyusup masuk kedalam sanggar, langsung naik keatas sebuah amben yang seolah-olah memenuhi ruang sanggar itu.

Ketika Empu Baladatu telah duduk, dan sekali ia berpaling ia sudah tidak melihat lagi bayangan cantrik yang membawanya ke sanggar itu.

“Aku lebih senang menemuimu di sini meskipun barangkali agak pengab dan panas” Berkata Empu Sanggadaru.

“Menyenangkan” Jawab Empu Baladatu, “Meskipun ruang ini sempit, tetapi udaranya terasa sejuk. Sama sekali tidak panas seperti yang kau katakan”

Empu Sanggadaru tertawa. Katanya, “Dibawah sanggar ini terdapat sebuah parit yang mengalirkan air yang jernih. He, apakah kau tidak mendengar gemericiknya?”

Empu Baladatu mengerutkan keningnya. Baru kemudian ia tersenyum, “Tentu saja aku mendengar arus air yang mengalir. Bukan hanya gemericik, tetapi tentu sebuah aliran air yang cukup deras. Tetapi aku tidak mengira bahwa arus air itu lewat di bawah sanggarmu ini kakang.

“O, telingamu memang tajam sekali. Aku sudah memerintahkan membuat plempem tanah liat yang rapat agar suara air itu tidak terdengar. Tetapi sudah barang tentu, tidak akan dapat dilakukan dengan sempurna, sehingga suaranya masih juga dapat kau dengar, bahkan dengan tepat kau menebak, bahwa arus air di bawah sanggar ini cukup besar.”

Empu Baladatu mengangguk-angguk.

“Arus air ini sama sekali tidak muncul dipermukaan tanah di dalam padepokan ini, tetapi langsung masuk kedalam sungai di sebelah.” Berkata Empu Sanggadaru kemudian,

“Dan kakang membuat plempem tanah liat sepanjang itu?”

Empu Sanggadaru tidak segera menjawab. Namun kemudian ia mengangguk. Katanya, “Plempem itu memang aku buat untuk kepentingan arus air di bawah tanah ini. Mula-mula di padepokan ini terdapat sebuah parit yang deras dan dalam-dalam. Agar padepokan ini tidak terbelah, maka aku membuat plernpem itu, dan kemudian menimbun parit yang dalam itu, sehingga parit itu pun kemudian terdapat di bawah tanah, tepat di bawah sanggar Ini. Tidak banyak orang yang dapat mendengar aliran arusnya yang memang agak deras, selain orang-orang yang memiliki pendengaran yang sangat tajam.”

Empu Baladatu mengangguk-angguk. Ia memang mendengar arus air yang deras. Tetapi semula ia tidak tahu, bahwa yang didengarnya lamat-lamat itu adalah arus air. Semula ia menyangka bahwa di dekat rumah itu terdapat arus yang kuat, yang mengalir dalam parit yang dalam. Namun ternyata bahwa arus air itu justru berada di bawah kakinya,

“Tetapi dengan demikian” Berkata Empu Baladatu, “Arus air itu sama sekali tidak dapat dipergunakan dipadepokan Ini.”

Empu Sanggadaru menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Memang tidak ada manfaat langsung dari air yang kuat itu. Tetapi di beberapa tempat terdapat lubang-lubang semacam sumur yang tembus ke dalam arus air itu.”

“Apakah lubang-lubang semacam itu berguna?” Bertanya Empu Baladatu.

Kakaknya tersenyum. Jawabnya, “Memang tidak ada gunanya. Tetapi kadang-kadang kami melemparkan sampah kedalam lubang-lubang semacam itu.”

“Sampah?” Empu Baladatu mengerutkan keningnya.

“Ya, Sampah yang sudah tidak dapat dipergunakan lagi bagi padukuhan ini.”

Wajah Empu Baladatu menjadi tegang. Ia mulai membayangkan lubang-lubang yang tidak begitu dalam, namun rasa-rasanya lubang-lubang semacam itu nampaknya mengerikan sekali. Bukan saja sampah yang dimasukkan ke dalamnya akan langsung hanyut dalam arus yang kuat, tapi jika seseorang terperosok masuk ke dalamnya, betapapun juga tinggi ilmunya, maka ia akan hanyut pula tanpa dapat berbuat apa pun juga dengan ilmunya itu.....

Bersambung....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...