Rabu, 27 Januari 2021

BARA DI ATAS SINGGASANA JILID 20-01

BARA DI ATAS SINGGASANA : JILID-20-01
“Tetapi Tuanku, kerbau itu sangat berbahaya.”

Tohjaya masih saja tersenyum. Ia-pun kemudian bertanya, “Di mana kerbau itu sekarang?”

“Di sebelah pasar. Semua orang berlari-larian. Beberapa buah tiang telah diseruduknya sehingga roboh.”

“ Aku ingin melihat kerbau yang mengamuk itu.”

Orang-orang itu menjadi heran. Tetapi mereka tidak dapat mencegah. Dengan tenangnya Tohjaya berjalan ke tempat yang menjadi sangat sepi. Tetapi beberapa orang yang menjadi cemas, mencoba mengikutinya dari kejauhan. Mereka angin melihat apa yang akan terjadi.

Namun terasa dada setiap orang yang menyaksikannya berdesir ketika mereka melihat seekor kerbau yang berlari-larian dijalan raya. Tanpa menghiraukan apa-pun juga, ditanduknya pagar-pagar batu di pinggir jalan, tiang-tiang gubug pelindung orang-orang yang berjualan di dalam pasar, sehingga beberapa di antaranya menjadi roboh karenanya. Kemudian kerbau itu seolah-olah berloncatan kian kemari dengan garangnya.

Tetapi Tohjaya justru tersenyum karenanya. Perlahan-lahan Ia melangkah semakin maju, sehingga beberapa orang terpekik, “Tuanku. Kerbau itu berlari ke arah tuanku.”

Tohjaya tidak beranjak dari tempatnya. Dilihatnya kerbau yang menjadi gila itu telah melihatnya dan dengan garangnya berlari menyerang.

“Berikan tombak itu,” berkata Tohjaya kepada seorang pengiringnya.

Justru pengiringnya itulah yang menjadi cemas melihat kerbau yang gila itu. Dengan ragu-ragu diberikannya tombak itu kepada Tohjaya sambil berdesis, “Hati-hatilah tuanku. Apakah hamba perlu menjaga keseimbangan perlawanan tuanku atas kerbau yang gila itu.”

“Bodoh kau. Kau sangka aku anak-anak yang takut melihat kerbau terlepas dari ikatannya.”

Pengiringnya itu terdiam. Betapapun juga, ia tidak berani mengganggu Tohjaya yang kemudian siap dengan tombaknya menyambut kadatangan kerbau yang menyerangnya.

Semua orang yang menyaksikan peristiwa berikutnya, telah menahan nafas. Kerbau itu benar-benar telah menyerang Tohjaya. Dengan kepala menunduk, dan dengan tanduk yang tajam runcing, kerbau itu menyeruduk dengan derasnya.

Tohjaya masih tetap berdiri di tempatnya. Namun kini tombaknya-pun telah merunduk pula.

Ketika kerbau itu seakan-akan telah menyeruduknya dengan tanduknya yang tajam, beberapa orang telah memekik tertahan. Namun mereka-pun segera sadar, bahwa ternyata Tohjaya telah bergeser selangkah ke samping, sehingga ia sama sekali tidak tersentuh oleh tanduk kerbau itu.

Pada saat kerbau itu meluncur dihadapannya, maka tombaknya telah menghunjam ke dalam tubuh kerbau yang gila itu. Tetapi demikian lajunya derap lari kerbau itu, dan demikian kuat tangan Tohjaya, maka tangkai tombak itulah, yang telah patah di tengah.

“Bukan main,” setiap mulut-pun kemudian berdesis.

Apalagi ternyata Tohjaya tidak menunggu lagi. Ia-pun segera meloncat mengejar kerbau yang terdorong beberapa langkah sebelum berhasil menghentikan larinya, karena serangannya tidak mengenai sasarannya.

Tetapi begitu kerbau itu berhenti, Tohjaya telah mengayunkan tangannya dengan dilambari oleh kekuatan aji pamungkasnya. Demikian dahsyatnya, sehingga hantaman tangannya itu telah menggemparkan orang-orang yang menyaksikannya.

Mereka melihat kerbau itu terloncat sekali. Kemudian menggeliat sambil mendengus keras sekali. Sejenak orang-orang itu melihat kerbau itu-pun roboh di tanah.

Beberapa saat kerbau itu masih bergerak-gerak. Tetapi sejenak kemudian kerbau itu-pun mati. Mati karena ujung tombak yang menghunjam di lambungnya disusul dengan hentakan tangan yang dahsyat di tengkuknya, sehingga tulang lehernya telah patah.

Orang-orang yang menyaksikan hal itu telah dicengkam oleh pesona yang menggetarkan hati mereka. Baru ketika mereka seakan-akan terbangun dari mimpi, terdengar sorak yang menggemuruh.

Orang-orang yang bersembunyi ketakutan, terkejut mendengar sorak yang seakan-akan meruntuhkan langit. Perlahan-lahan mereka beringsut.

Karena suara sorak itu masih berkepanjangan, maka mereka-pun memberanikan diri merayap keluar. Dengan dada yang berdebar-debar mereka-pun mendekat. Dan akhirnya, mereka melihat dengan dada yang berdegup semakin cepat, bangkai seekor kerbau vang berlumuran darah. Di sampingnya putera Sri Rajasa dari isteri mudanya Ken Umang berdiri sambil tersenyum menyambut sorak yang gegap gempita itu.

“Seorang putera yang perkasa,” desis seseorang sambil menggeleng-gelengkan kepala. Kekaguman yang tiada taranya telah menyentuh hatinya.

“Tidak ada duanya di Singasari,” desis yang lain.

Seorang yang berambut putih mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berkata trenyuh, “Sungguh-sungguh bagaikan dewa yang turun ke bumi, melindungi hambanya yang sedang dikejar oleh ketakutan. Tidak ada orang yang menyamai Tuanku Tohjaya di seluruh Singasari.”

“Alangkah dahsyatnya,” gumam yang lain. Sejenak ia merenung. Lalu katanya,” Apakah tuanku Putera Mahkota mampu juga berbuat demikian?”

Beberapa orang saling berpandangan. Namun salah seorang dari mereka menggelengkan kepalanya sambil bergumam, “Tentu tidak. Putera Mahkota tidak dapat berbuat demikian.”

“Ya, tentu tidak,” gumam yang lain sambil menundukkan kepalanya. Sepercik kekecewaan membayang di wajahnya.

“Padahal, Putera Mahkota lah yang kelak akan menjadi Raja Singasari. Kita memerlukan perlindungannya.”

“Tetapi meskipun Putera Mahkota, tuanku Anusapati yang menjadi Raja di Singasari, tentu tuanku Tohjaya akan menjadi seorang Senapati. Seorang prajurit yang tidak saja akan melindungi rakyat Singasari, tetapi juga kedudukan Putera Mahkota. Kedudukan kakandanya.”

Tiba-tiba tanpa sesadarnya seseorang berdesis, “Alangkah baiknya kalau seorang yang perkasa sajalah yang menjadi seorang Raja seperti Sri Rajasa sendiri. Bukankah Sri Rajasa seorang yang Maha perkasa? Kalau yang kemudian menggantikannya seorang yang lemah, maka kedudukan Singasari pasti akan goyah. Meskipun Adinda Sri Baginda adalah seorang sakti seperti tuanku Tohjaya, tetapi tentu akibatnya akan lain sekali, kalau Sri Baginda sendirilah yang memiliki keunggulan kemampuan dan pilih tanding seperti tuanku Sri Rajasa.”

Kawan-kawannya mengangguk-anggukkan kepala. Seakan-akan mereka telah mengambil suatu keputusan, bahwa Tohjaya pasti akan lebih baik dari Anusapati. Bahkan seorang yang kurus berkata kepada kawan yang berdiri di sampingnya, “Sayang sekali bahwa Putera Mahkota segera terikat perkawinan, sehingga sebagian besar waktunya telah diserahkan bagi keluarganya. Seorang putera laki-laki telah membuatnya semakin jauh dari kewajibannya.”

“Ya sayang sekali. Tuanku Putera Mahkota masih terlalu muda ketika ia telah terjerat oleh hangatnya pinjung isterinya yang juga masih terlalu muda.”

“Kasian Ibunda Permaisuri. Dua puteranya kawin terlampau muda.”

Orang-orang itu menarik nafas dalam-dalam. Dengan penuh kekaguman mereka kini memandang Tohjaya yang sambil tersenyum meninggalkan bangkai kerbau yang masih tergolek ditengah jalan.

“Buanglah bangkai kerbau itu,” katanya kepada orang-orang yang kemudian mengerumuninya, “buang saja, atau kuburkan biar tidak menimbulkan gangguan apa-pun juga.”

Sepeninggal Tohjaya, maka orang-orang yang mengerumuni bangkai kerbau itu mulai sadar, bahwa mereka harus menyeret bangkai itu jauh-jauh dan menggali lubang yang dalam.

Keluhan orang-orang itulah yang kemudian terdengar oleh Sumekar. Penilaian orang terhadap Tohjaya dan Anusapati yang membuat hatinya berdebar-debar.

“Kecemasan yang mencengkam hati tuanku Anusapati memang beralasan,” katanya di dalam hati, “apakah dalam keadaan ini kakang Mahisa Agni masih juga membiarkannya dalam kebingungan.”

Dan ternyata kemudian Tohjaya tidak hanya melakukannya hal serupa itu sekali dua kali. Didalam setiap kesempatan ia pasti tampil sebagai seorang pahlawan.

Apabila Anusapati sekali dua kali masih harus mengikuti pendadaran sebagai seorang prajurit, yang dengan berat hati dilakukannya dalam batas kemampuan seorang prajurit, maka Tohjaya sudah berani memimpin pasukan-pasukan kecil untuk melakukan penumpasan gerombolan-gerombolan yang melakukan kejahatan, sehingga dengan demikian semakin lama Tohjaya menjadi semakin semarak dihati rakyat Singasari.

Hal inilah yang membuat Anusapati semakin bersedih. Sehingga hampir saja ia tidak dapat menahan diri dan berbuat di luar garis yang selama ini ditempuhnya.

Tetapi untunglah bahwa ia masih tetap bertahan dengan sekuat tenaganya agar semua rencananya itu tidak rusak karenanya.

Tetapi dalam suatu kesempatan ketika Mahisa Agni berkunjung ke Singasari, hal itulah yang pertama-tama dikemukakannya kepada Mahisa Agni.

Mahisa Agni dapat mengerti kesulitan yang dialami oleh Anusapati. Dan ia-pun memang menganggap bahwa Anusapati sudah berada pada puncak kesulitannya.

“Anusapati,” berkata Mahisa Agni kemudian, “aku tidak akan mengekang kau lagi agar kau tetap menjadi seorang putera Raja yang bodoh dan malas. Pada saatnya kau harus tampil sebagai seorang Putera Mahkota yang sebenarnya. Tetapi tidak mudah untuk merebut kekaguman rakyat Singasari atas Tohjaya. Karena itu, kau harus membuat rencana sebaik-baiknya.”

“Apakah aku masih harus menunggu lagi paman?”

“Tidak. Kau tidak boleh menunggu lagi. Tetapi kau-pun tidak boleh berbuat tergesa-gesa, Pamanmu Sumekar sudah aku beri pesan apa yang harus dilakukannya. Tetapi kau tidak dapat melakukannya sendiri. Kau memerlukan bantuan beberapa orang yang tidak akan menimbulkan kecurigaan.”

“Aku menurut segala petunjuk paman.”

“Aku sudah berbicara dengan pamanmu Witantra dan Sumekar,” berkata Mahisa Agni kemudian, “semuanya sudah beres. Pada suatu saat kau akan merebut kebesaran nama Tohjaya itu sekaligus.”

Meskipun Anusapati tidak mengerti cara yang mana yang harus dilakukannya, tetapi ia percaya, bahwa pamannya berkata sebenarnya, dan apa yang dikatakan oleh pamannya itu akan menguntungkannya.

Demikianlah Anusapati menunggu dengan cemas. Apa yang sudah terjadi dan apa yang sudah dilakukan oleh Sumekar mau-pun Witantra.

Dalam pada itu, selagi Anusapati menunggu dengan hati yang gelisah, pecahlah berita diseluruh Singasari, bahwa telah muncul seorang kesatria diatas kuda putih. Kesatria yang diliputi oleh rahasia yang kabur.

Dari hari ke hari, ceritera tentang kesatria berkuda putih itu menjadi semakin berkembang. Kesatria yang baik hati dan selalu menolong sesama. Hampir setiap kejahatan yang terjadi, telah ditumpasnya habis-habisan.

Dengan demikian maka kekaguman rakyat Singasari segera terpecah. Sebagian mengagumi kebesaran Tohjaya sebagai seorang putera Sri Rajasa, meskipun bukan putera Mahkota, sedang yang lain mulai membicarakan kesatria berkuda putih itu.

Tetapi tidak seorang-pun yang mengetahui, siapakah sebenarnya kesatria berkuda putih itu, karena wajahnya selalu dibayangi oleh kain yang berwarna putih pula, seperti juntai yang terselip diikat pinggangnya.

“Siapakah setan yang telah mengganggu itu,” bentak Tohjaya pada suatu saat kepada pembantu-pembantunya.

“Tidak seorang-pun yang mengetahui tuanku. Tetapi hampir semua yang tuanku lakukan, dilakukanya pula. Ia telah pernah membunuh seekor kerbau yang mengamuk seperti yang dahulu pernah tuanku lakukan. Ia pernah menangkap lima orang perampok sekaligus dan mengikat mereka di batang-batang pohon sepanjang jalan, sampai para prajurit datang menangkap mereka. Dan masih banyak lagi yang dilakukannya, seolah-olah dengan sengaja menyaingi perbuatan-perbuatan tuanku yang selama ini membuat rakyat Singasari kagum.”

“Aku ingin bertemu dengan orang berkuda putih itu. Apakah ia berniat baik atau jelek. Kalau ia berniat jelek, maka aku tidak akan segan-segan menyingkirkannya.”

Tidak seorang-pun yang dapat memberikan penjelasan tentang kesatria berkuda putih dan bertutup wajah putih. Ia hanya datang di saat-saat yang diperlukan, kemudian menghilang lagi tanpa meninggalkan bekas.

Tohjaya yang perlahan-lahan berhasil mengambil hati Rakyat Singasari semakin jarang dipercakapkan orang. Kini perhatian mereka bergeser pada kesatria berkerudung putih dan berkuda putih itu.

Namun dengan demikian sifat-sifat Tohjaya yang sebenarnya telah muncul kembali. Sifatnya yang ramah tamah dibuat-buat, semakin lama menjadi semakin kabur. Bahkan kadang-kadang ia sudah mulai membentak-bentak tanpa sebab, dan berbuat kasar kepada orang-orang yang selama ini mengaguminya.

“Usahakan untuk menangkap orang berkuda putih itu,” berkata Tohjaya, “orang itu pasti dengan sengaja mengganggu kepesatan kemajuan yang aku capai selama ini.”

Dan akhirnya, kesatria berkuda putih itu didengar pula oleh Sri Rajasa. Laporan tentang kesatria berkuda putih itu membuatnya sangat marah. Perlahan-lahan ia berhasil mengetrapkan rencananya tanpa menimbulkan kecurigaan. Tetapi ternyata kini ada seseorang, sengaja atau tidak sengaja, telah menghambat rencananya itu. Karena itu, seperti Tohjaya ia-pun memerintahkan untuk mencari dan menangkap orang berkerudung putih dan berkuda putih itu.

Tetapi usaha itu selalu sia-sia. Mereka hampir tidak pernah menemukan jejak orang berkuda putih itu. Hampir tidak masuk di akal mereka, bahwa seseorang mampu bergerak demikian cepatnya. Datang dan segera pergi menghilang seperti asap ditiup angin.

“Gila,” Tohjaya membentak-bentak, “prajurit di seluruh Singasari tidak dapat menangkap hanya seorang berkuda putih?”

“Ampun tuanku. Bukannya kami tidak dapat menangkap, tetapi kami masih belum dapat menemukannya.”

“Cari orang itu sampai dapat.”

Dalam pada itu, Anusapati masih tetap dicengkam oleh kegelisahan. Selagi ia memerlukan pemecahan masalah yang membuatnya selama ini selalu risau, terbetik berita yang seakan-akan tidak ada hubungannya sama sekali dengan keadaannya. Ia sama sekali tidak berkepentingan dengan kesatria berkuda putih itu. Dan kesatria berkuda putih itu sama sekali tidak akan dapat memberikan jalan kepadanya, untuk merebut kekaguman hati rakyat Singasari terhadap Tohjaya.

“Paman,” berkata Anusapati pada suatu saat, “apakah keuntunganku dengan timbulnya ceritera tentang kesatria berkuda putih itu?”

“Ampun tuanku. Ternyata kesatria berkuda putih itu secara tidak langsung memang menguntungkan tuanku. Perhatian rakyat Singasari untuk sementara tidak tertuju kepada tuanku Tohjaya saja, tetapi kini seakan-akan telah terbagi. Bahkan tuanku Tohjaya seakan-akan tidak mendapat kesempatan seluas sebelumnya untuk berbuat sesuatu di Singasari. Rakyat Singasari mula-mula mempercakapkan kesatria berkerudung putih itu.” jawab Sumekar.

“Tetapi itu bukan jawaban sebenarnya dari persoalanku,” berkata Anusapati, “mungkin kekaguman rakyat Singasari bergeser, atau setidak-tidaknya terbagi. Tetapi mereka masih tetap menganggap aku sebagai seorang Putera Mahkota yang bodoh dan malas.”

“Bersabarlah tuanku. Pada suatu saat akan datang kesempatan itu. Anggaplah bahwa kehadiran kesatria berkuda putih itu sebagai langkah pertama untuk suatu rencana yang sangat besar.”

Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Lalu tiba-tiba ia bertanya, “Paman, apakah kesatria berkuda putih itu paman Sumekar?”

Sumekar menggelengkan kepalanya, jawabnya, “Aku selalu berada di taman istana Singasari tuanku. Bagaimana aku dapat berbuat serupa itu.”

“Apakah paman tidak tahu siapakah orang itu?

“Aku masih belum tahu tuanku. Mungkin pamanda tuanku Mahisa Agni telah mulai dengan langkah-langkah tandingan dari langkah-langkah yang telah dibuat oleh Sri Rajasa untuk menempatkan tuanku Tohjaya pada tempat yang lebih tinggi, dari yang seharusnya.”

“Maksud paman, Adinda Tohjaya akan mendesak kedudukanku.”

Sumekar tidak menyahut. Tetapi tatapan matanya seakan-akan telah mengiakan pertanyaan Anusapati itu.

Dan karena Sumekar tidak menyahut, maka Anusapati bertanya selanjutnya, “Aku-pun mempunyai firasat demikian. Apakah paman Sumekar juga? Maksudku, paman sendiri?”

Pertanyaan itu terlalu sulit untuk dijawab. Namun Sumekar menyahut, “Kita masih harus melihat perkembangan keadaan, tuanku.”

“Apakah keadaan yang kita hayati sekarang masih belum meyakinkan?”

Sumekar tidak dapat menjawab lagi. Karena itu, ia-pun terdiam sejenak.

Demikianlah maka keduanya saling berdiam diri untuk beberapa lamanya. Terbayang di rongga mata masing-masing, seorang kesatria naik seekor kuda putih menjelajahi tanah Singasari.

Tetapi memang tidak seorang-pun yang mengetahui, siapakah kesatria berkuda putih itu.

Namun ternyata bahwa hampir setiap lidah telah menyebutnya. Rakyat Singasari menamakannya Kesatria Putih. Kesatria yang banyak menolong rakyat Singasari dari bermacam-macam kesulitan. Bahkan kemudian nama Tohjaya seakan-akan telah terdesak oleh kebesaran nama Kesatria Putih, karena Tohjaya hanya bertindak di sekitar istana dan di dalam pusat pemerintahan, sedang Kesatria Putih seakan-akan berada di seluruh Singasari.

Ternyata bahwa Tohjaya menaruh curiga juga kepada Mahisa Agni. Terbukti ia telah mengirimkan dua orang petugas sandi khusus untuk menyelediki apakah Mahisa Agni tidak meninggalkan istananya di Kediri.

Ternyata bahwa kedua petugas sandi itu menemukan Mahisa Agni tetap ditempatnya, sehingga mereka mengambil kesimpulan bahwa Kesatria Putih itu pasti bukan Mahisa Agni.

“Gila,” Tohjaya mengumpat-umpat. Bahkan Sri Rajasa yang telah menyusun rencananya dengan cermat menjadi cemas juga. Kesatria Putih benar-benar telah mengganggu usahanya, membangkitkan kepercayaan rakyat Singasari kepada Tohjaya.

“Kita harus segera menangkapnya dengan diam-diam,” berkata Sri Rajasa. “Jika kita dengan terang-terangan menangkapnya, maka keadaan akan berbalik. Rakyat akan marah kepada para prajurit, karena mereka menganggap Kesatria Putih itu kini sebagai pengejawantahan para dewa.”

Tidak ada yang dapat menyangkal. Tohjaya tidak. Penasehatnya-pun tidak. Kesatria Putih itu benar-benar merupakan seorang yang telah banyak memberikan perlindungan kepada Rakyat Singasari dimana-mana.

“Kita harus memancingnya,” berkata Sri Rajasa.

“Bagaimana kita dapat melakukannya?”

“Kita membuat sekelompok prajurit pilihan yang dapat kita percaya untuk melakukan kejahatan. Maka Kesatria Putih pasti akan mencoba menghancurkan perangkap yang telah kita pasang untuknya.”

Demikianlah rencana itu telah dijalankankan. Dengan mengupah beberapa orang prajurit pilihan, Tohjaya dengan mempergunakan tangan penasehat Sri Rajasa berhasil menyusun sekelompok penjahat untuk memancing Kesatria Putih.

Dan usaha itu tampaknya memang berhasil. Setiap kali mereka melakukan kejahatan yang benar-benar mereka jalankan, bukan sekedar suatu pancingan, karena para prajurit itu benar-beaar mengambil keuntungan dari tindakan mereka, merampas barang-barang dan harta benda, maka bayangan Kesatria Putih selalu tampak, meskipun masih belum bertindak.

“Ternyata orang itu sangat berhati-hati,” berkata pemimpin kelompok itu. “Tetapi kita berbuat terus. Kita adalah perampok-perampok yang dilindungi oleh istana. Kita mendapat dua keuntungan sekaligus. Kita mendapat upah, dan yang akan dilipat gandakan apabila kita dapat membunuh Kesatria Putih, dan kita mendapat harta rampasan yang banyak sekali.”

Kawan-kawannya-pun tertawa berkepanjangan. Tugas itu adalah tugas yang menyenangkan meskipun berat.

Demikianlah, ketika saatnya telah tiba, barulah orang yang mereka tunggu-tunggu itu benar-benar telah berdiri dihadapan mereka. Kesatria Putih.

“Siapa kau ?” bertanya pemimpin kelompok perampok yang mendapat perlindungan dari istana itu.

“Akulah yang disebut orang Kesatria Putih.”

“Apa maksudmu menghentikan kami ?”

“Kau pasti sudah mendengar tentang Kesatria Putih yang tidak senang mendengar kejahatan terjadi di Singasari. Apalagi kejahatan yang dilakukan oleh para prajuritnya sendiri.”

Jawaban Kesatria Putih itu benar-benar telah menggemparkan dada para prajurit yang berkedok perampok itu. Sejenak mereka saling berpandangan. Lalu pemimpinnya Serianya, “Siapakah yang kau maksudkan ?”

“Kalian ?”

“Darimana kau mendapatkan dasar tuduhan itu.”

“Aku mengenal tandang para prajurit. Aku mengenal perbedaan tingkah laku perampok dan prajurit. Meskipun kalian benar-benar telah merampok dan justru melampaui kekejaman para perampok yang sebenarnya, tetapi aku mengenal sikap kalian. Kalian adalah prajurit Singasari.”

“Persetan.” teriak pemimpinnya. Lalu, “kami memang menjebakmu. Dan sekarang kau akan mati di ujung senjata kami. Kami akan mendapat upah ganda dan keuntungan yang tiada taranya. Kami adalah perampok-perampok yang mendapat perlindungan. Kau boleh tahu hal itu sebelum kau mati.”

“Kalian akan salah hitung. Apakah benar kalian dapat membunuh aku?”

Para prajurit itu menjadi tegang sejenak. Tetapi mereka telah mendapat perintah untuk membunuh Kesatria Putih itu.

Para prajurit itu-pun kemudian mempersiapkan diri mereka. Mereka sadar, bahwa lawannya tentu bukan orang kebanyakan. Meskipun hanya seorang, tetapi tentu beralasan, kenapa Kesatria Putih berani menampakkan diri setelah ia mengerti bahwa yang dihadapinya adalah sekelompok prajurit.

Tetapi para prajurit itu-pun kemudian yakin, betapa kuat dan tangkasnya Kesatria Putih, tetapi seorang diri menghadapi sekelompok prajurit adalah pekerjaan yang sangat berat, sehingga meskipun Kesatria Putih berilmu sempurna, namun adalah mustahil untuk dapat mengalahkan mereka.

“Nah bersiaplah untuk mati,” terdengar suara Kesatria putih. Suaranya yang seakan bergulung-gulung di dalam perutnya itu memancarkan pengaruh yang disaput oleh rahasia. Tanpa disadari maka tengkuk para prajurit itu-pun meremang.

Tetapi pemimpin prajurit yang benar-benar telah menjadi perampok itu-pun kemudian menggeram, “Jangan banyak tingkah. Meskipun ilmumu menyentuh langit, tetapi jika kau tidak bernyawa rangkap, kau akan mati di tangan kami. Kami tidak akan ingkar, bahwa kami adalah prajurit-prajurit pilihan pengawal istana.”

“Aku sudah tahu. Kalian adalah prajurit-prajurit pilihan dari pasukan Pengawal Istana. Ayo, bersiaplah. Jika kalian tidak memanfaatkan kesempatan kalian untuk merampok, aku tidak akan sampai hati bertindak sungguh-sungguh terhadap kalian. Tetapi kalian ternyata benar-benar telah merampok penduduk Singasari sendiri, maka aku akan membunuh kalian seperti aku membunuh perampok-perampok yang sebenarnya.”

“Persetan,” pemimnin prajurit itu menggeram. Dan sejenak kemudian terdengarlah aba-abanya untuk menyerang Kesatria Putih.

Demikianlah mereka terlibat dalam suatu perkelahian yang sengit. Kesatria Putih bertempur di atas kudanya. Seperti burung garuda, maka kudanya menyambar-nyambar kian kemari, sedang senjata Kesatria Putih bagaikan kuku seekor burung raksasa yang bernafaskan maut.

Para prajurit itu benar-benar telah terperanjat melihat tandangnya. Kudanya-pun seakan-akan mengerti, bahwa ia sedang mendukung Kesatria Putih yang bertempur melawan beberapa orang sekaligus.

Tetapi, kali ini lawan Kesatria Putih adalah prajurit-prajurit Singasari dari pasukan Pengawal Istana yang terpilih. Yang dengan sengaja dipergunakan untuk menjebak Kesatria Putih, sehingga karena itu, kali ini Kesatria Putih benar-benar terlibat dalam pertempuran yang sangat berat.

Namun demikian, lawan-lawannya menjadi bingung justru karena kuda Kesatria Putih yang berlari melingkar-lingkar. Setiap kali kuda itu berderap menyambar lawannya, maka salah seorang dari para prajurit itu mengaduh dan jatuh terbaring di tanah, sehingga jumlah mereka-pun menjadi semakin lama semakin kecil.

“Gila,” teriak pemimpin prajurit itu, “dari mana ia mendapat ilmu iblis itu.”

Kesatria Putih sama sekali tidak menjawab. Tetapi ia menyerang semakin garang. Tidak ada seorang-pun yang kemudian dapat lolos dari senjatanya. Para prajurit yang telah menjadikan diri mereka benar-benar sekelompok perampok yang garang itu, seorang demi seorang telah mati di ujung senjata Kesatria Putih itu.

Yang terakhir memberikan perlawanan adalah pemimpin prajurit Singasari itu. Dengan sekuat tenaganya ia mencoba menyelamatkan dirinya. Bahkan pemimpin prajurit itu sudah berusaha untuk melarikan dirinya. Tetapi usahanya ternyata sia-sia. Senjata Kesatria Putih justru telah menembus punggungnya.

Dengan keluh tertahan, pemimpin prajurit itu-pun kemudian jatuh di tanah. Sejenak ia masih menggeliat menahan sakit.

Dalam pada itu, Kesatria Putih itu-pun meloncat turun dari kudanya. Didekatinya pemimpin prajurit yang telah terbunuh itu. Perlahan-lahan Kesatria Putih mengangkat kepala prajurit itu sambil berkata, “Sebenarnya aku tidak sampai hati membunuhmu. Tetapi kau telah berbuat terlampau kasar terhadap rakyat Singasari. Bukan sekedar memancing kedatanganku, tetapi kau benar-benar telah merampok mereka habis-habisan.”

Pemimpin prajurit yang sudah berada di ambang maut itu menggertakkan giginya.

“Kau adalah prajurit tua yang seharusnya sebentar lagi harus beristirahat karena ketuaanmu. Kau seharusnya menikmati masa-masa tuamu dengan tenang. Tetapi tugas yang gila itu telah membuatmu gila pula.”

“Persetan.”

“Jangan mengumpat. Tetapi maafkan aku, bahwa aku telah membunuhmu. Sebenarnya kau adalah seorang prajurit yang baik. Bukankah kau menjadi prajurit sejak jaman pemerintahan Akuwu Tunggul Ametung?”

“He, dari mana kau tahu?”

Tiba-tiba Kesatria Putih itu perlahan-lahan meraba kerudung putihnya. Ketika kerudung itu tersingkap, maka meskipun malam disaput oleh gegelapan, namun prajurit itu masih sempat memandang wajah Kesatria Putih yang sebenarnya.

Tetapi agaknya perajurit yang berada dipintu maut itu masih ragu-ragu sehingga akhirnya Kesatria Putih berkata, “Aku akan menyalakan api.”

Maka Kesatrian Putih-pun segera mengambil sepasang batu. Ketika kedua batu itu beradu, memerciklah api yang menyalakan sejumput gelugut aren. Kemudian dengan sebutir belirang, menyalalah api yang berwarna biru membakar sisa-sisa gelugut aren yang telah ditaburi dengan belerang itu.

Berbareng dengan bau belirang yang menyentak hidung, prajurit yang hampir meninggal itu memekik dengan sisa suaranya yang parau, “Kau, kau?” Tetapi suaranya terputus dikerongkongan. Karena lukanya yang parah, maka prajurit itu-pun menarik nafasnya yang terakhir.

Dengan demikian, tidak seorang-pun yang dapat mengatakan, siapakah sebenarnya orang yang berkeliling Singasari diatas kuda putihnya serta berkerudung putih, sehingga orang menyebutnya Kesatria Putih.

Ternyata Kesatria Putih tidak meninggalkan mayat-mayat para prajurit itu begitu saja. Dikumpulkannya mayat-mayat itu, kemudian dikumpulkannya pula senjata mereka. Ternyata senjata mereka adalah pedang perajurit pengawal.

Istana Singasari-pun menjadi gempar karenanya, ketika kuda putih itu berlari cepat sekali melintas didepan regol samping. Seikat pedang telah dilemparkan oleh penunggangnya. Pedang prajurit pengawal.

Namun, meskipun hanya sepintas, para pengawal yang kemudian berlari-larian keluar dari gerbang segera dapat mengenalnya, bahwa orang berkuda itulah yang disebut orang Kesatria Putih.

“Tetapi apa maksudnya dengan pedang-pedang ini?” bertanya seorang prajurit pengawal.

“Bukankah pedang ini pedang prajurit pengawal?” Para pengawal itu berpandangan sejenak. Tentu ada sesuatu yang tidak wajar telah terjadi.

“Apakah Kesatria Putih itu juga memusuhi prajurit pengawal?”

“Kita laporkan kepada Senapati yang bertugas malam ini.”

Demikianlah laporan tentang pedang itu-pun segera memanjat sampai ke telinga Panglima dan Sri Rajasa sendiri. Tetapi bersamaan dengan itu, tersiarlah berita, bahwa sekelompok perampok telah dibunuh oleh Kesatria Putih. Tetapi senjata mereka telah hilang lenyap. Yang ada hanyalah selembar kain putih sebagai ciri orang berkuda itu apabila ia melakukan tindak kekerasan terhadap para penjahat.

Suatu pukulan yang dahsyat terasa seolah-olah menghancurkan jantung Sri Rajasa, Tohjaya dan penasehatnya. Tidak seorang-pun yang dapat mencegah menjalarnya berita, bahwa tentu perampok-perampok itulah yang memiliki senjata yang telah dilemparkan oleh Kesatria Putih di muka regol samping istana. Apalagi ketika para prajurit itu menyadari, beberapa kawan mereka telah hilang.

“Marilah kita lihat,” berkata seorang Senapati, “apakah benar yang terbunuh itu prajurit-prajurit pengawal.”

Sri Rajasa tidak dapat mencegahnya. Tetapi ia memerintahkan Tohjaya untuk pergi bersama Senapati itu diikuti oleh penasehat Sri Rajasa.

“Jika masih ada yang mungkin berbicara diantara mereka, maka kalian harus membungkamnya,” geram Sri Rajasa.

Baik penasehat Sri Rajasa, mau-pun Tohjaya tahu benar akan tugas itu, sehingga sambil mengangguk-anggukkan kepalanya mereka berkata, “Kami akan berbuat sebaik-baiknya ayahanda.”

Demikianlah Sri Rajasa sendiri, Panglima pasukan pengawal dan beberapa Senapati telah melepas beberapa orang prajurit yang ingin membuktikan apakah benar mayat-mayat itu adalah mayat-mayat kawan mereka.

Meskipun ketika mereka sampai di tempat peristiwa itu, mayat para perampok itu sudah dikuburkan, namun Senapati itu memerintahkan untuk membongkar salah satu dari mereka.

Dan ternyata bahwa orang itu segera dapat mereka kenal. Orang yang terbunuh dan dikubur sebagai perampok-perampok itu tanpa upacara apa-pun juga, adalah prajurit Pengawal. Tidak seorang-pun yang bakal menyiapkan pembakaran mayat-mayat itu. Tidak seorang-pun yang mengacuhkannya dan tidak seorang-pun yang menyebut nama mereka. Mereka mati dengan hina dan dibuang tanpa arti.

“Mereka mencemarkan nama prajurit Singasari,” berkata Senapati itu.

“Ya,” geram Tohjaya, “ada berapa orang semuanya yang terbunuh?”

Dari orang-orang yang menguburkan perampok-perampok itu Tohjaya mendapat keterangan, bahwa jumlahnya sesuai dengan jumlah prajurit yang telah mendapat tugas rahasia dari Ayahanda Sri Rajasa, sehingga dengan demikian Tohjaya menarik kesimpulan bahwa prajurit-prajurit itu telah terbunuh semuanya.

Dengan demikian maka Tohjaya hanya dapat menarik nafas dalam-dalam.

Namun demikian keheranan yang dahsyat telah mengguncang dadanya. Ternyata Kesatria Putih dapat mengalahkan sekelompok prajurit pengawal pilihan itu, dan membinasakan mereka.

“Apakah benar Kesatria Putih itu hanya seorang diri?” pertanyaan itu telah menyentuh hati Tohjaya, dan bahkan kemudian juga Sri Rajasa.

Tetapi untuk sementara mereka dapat menarik nafas lega, karena rahasia mereka telah ikut terkubur bersama terkuburnya para prajurit yang benar-benar menjadi perampok itu.

Namun demikian mereka masih juga selalu bertanya-tanya, “Apakah Kesatria Putih mengetahui permainan Sri Rajasa, dan karena itu ia telah dengan sengaja melemparkan pedang, pedang prajurit itu ke depan regol samping istana.

Ternyata yang tertarik dengan peristiwa itu bukan saja para prajurit. Tetapi juga Anusapati dan Sumekar. Peristiwa terbunuhnya beberapa orang perajurit yang telah menjadi perampok itu benar-benar telah menggemparkan seisi istana. Bahkan menjalar sampai keluar dinding. Bagaimana juga hal itu dicoba dirahasiakan, namun akhirnya tersebar juga.

“Yang terjadi di Singasari benar-benar telah membingungkan aku,” berkata Anusapati kepada Sumekar, “aku tidak tahu, bagaimana aku harus menanggapi masalah ini.”

Sumekar-pun menjadi bingung. Ia tidak mempunyai cara yang dapat diberikan kepada Anusapati, meskipun ia akhirnya yakin, bahwa sebenarnyalah Mahisa Agni telah mulai dengan permainannya untuk mengimbangi permainan Sri Rajasa. Seolah-olah di Singasari telah berdiri dua orang raksasa dengan kepentingannya mereka masing-masing, dan sedang melakukan permainan mereka untuk mempertahankan kepentingan mereka tersebut.

Tetapi disaat-saat keadaan yang semakin memuncak itu, Sumekar menganggap perlu untuk bertemu dengan Mahisa Agni, karena ia merasa sebagai seorang yang harus mengawasi keadaan Anusapati sehari-hari.

Karena itu, maka ia-pun segera mencari kesempatan untuk dapat berkunjung kepada Mahisa Agni di Kediri.

Namun dalam pada itu Sumekar yang juga memiliki kemampuan berpikir itu-pun dapat pula membayangkan, bahwa pasti ada kecurigaan juga terhadap Mahisa Agni di dalam kemelutnya keadaan yang semakin gawat. Memang rakyat Singasari tidak banyak melihat pergulatan dua kekuatan dipuncak pemerintahan itu. Tetapi sebenarnyalah bahwa telah terjadi sesuatu yang mengkhawatirkan. Sehingga karena itu, ia-pun harus mempunyai cara yang khusus untuk dapat bertemu dengan Mahisa Agni di Kediri, agar apabila ada pengawasan dari petugas sandi yang dikirim oleh Tohjaya dan Sri Rajasa, ia dapat lepas dari jaring-jaring itu.

Kepergian Sumekar itu telah di desak pula oleh tugas terakhir yang tidak disangka-sangka bagi Putera Mahkota. Ketika suasana Singasari semakin diliputi oleh Kekaguman terhadap Kesatria berkuda putih itu, maka Anusapati lelah dipanggil oleh Ayahanda Sri Rajasa untuk menghadap.

“Anusapati,” berkata Sri Rajasa, “apakah kau tidak mendengar ceritera tentang orang yang menyebut dirinya Kesatria Putih?”

“Ampun ayahanda. Hamba memang ada mendengar berita itu.” jawab Anusapati.

“Dan kau selama ini hanya diam saja?”

Pertanyaan itu ternyata telah membingungkan Anusapati.

“Kau terlalu asyik menunggui isteri dan anakmu. Kau sama sekali tidak berbuat apa-apa bagi Singasari, padahal kau adalah Putera Mahkota, yang aku harapkan kelak untuk memimpin pemerintahan.”

Dada Anusapati menjadi berdebar-debar. Ia memang tidak berbuat apa-apa. Tetapi hal itu justru karena ia tidak berani melanggar segala macam titah dan perintah Ayahanda Sri Rajasa.

“Anusapati,” berkata Sri Rajasa, “sebagai seorang Putera Mahkota kau harus pandai menilai keadaan. Juga tentang Kesatria Putih itu.”

“Ampun ayahanda, sebenarnyalah hamba mengikuti berita tentang Kesatria Putih itu dengan ragu-ragu. Hamba tidak berani mengambil suatu sikap atau kesimpulan apapun, karena hamba tidak berani melanggar titah ayahanda.”

“Itu adalah kesalahanmu yang terbesar. Kau adalah Putera Mahkota. Kau harus dapat mengambil sikap menanggapi suatu masalah. Kalau kau selalu menunggu, maka kau akan ketinggalan. Apa yang pernah kau perbuat selama ini bagi Singasari. Sebelum Kesatria Putih muncul, agaknya Tohjaya lebih cekatan dari padamu, ia sudah berbuat sesuatu bagi Singasari. Namun akhirnya terganggu karena munculnya Kesatria Putih. Tetapi apakah yang pernah kau lakukan selama ini?”

Anusapati tidak menjawab. Sambil menundukkan kepalanya ia berkata kepada diri sendiri, “Memang tidak pernah. Aku tidak pernah berbuat sesuatu.”

Namun demikian di luar sadarnya Anusapati telah menyalahkan dirinya sendiri. Kenapa selama ini ia harus bersikap pura-pura. Kalau ia tidak bersikap pura-pura, maka ia tidak akan mungkin dianggap sebagai seseorang yang tidak pernah berbuat sesuatu.

“Aku akan berbuat sesuatu,” berkata Anusapati, namun, “tetapi bagaimana dengan paman Mahisa Agni? Jika seseorang melihat kemampuanku yang sebenarnya, maka ia pasti akan bertanya, dari mana aku menerima tuntunan untuk mencapai tingkat itu. Maka mau tidak mau aku harus menyebut nama paman Mahisa Agni.”

Selagi Anusapati merenungi dirinya sendiri, ia terperanjat kerena Sri Rajasa bertanya pula kepadanya, “Apakah yang kau renungi Anusapati ?”

“Ampun ayahanda. Hamba merenungi diri hamba sendiri. Sebenarnyalah hamba tidak pernah berbuat apa-apa, karena hamba tidak berani melanggar titah ayananda. Bahwa hamba harus selalu berada di istana apabila setiap saat ayahanda memanggil hamba.”

“Kau menangkap dan mengartikan semua perintahku seperti kanak-anak atau seperti seseorang yang telah sama sekali pikun. Semua perintah dan tugas harus kau lakukan dengan baik, tetapi hidup, bukan perintah dan tugas yang mati.”

“Ampun ayahanda. Hamba akan mencoba menjalankan titah sejauh dapat hamba lakukan. Hamba akan mencoba untuk berbuat sesuatu.”

“Terlambat,” desis Sri Rajasa.

Meskipun suara Sri Rajasa itu hampir tidak didengarnya, namun kata-kata itu benar-benar telah mengejutkan Anusapati, sehingga tanpa sesadarnya ia telah mengangkat wajahnya. Tetapi wajah itu-pun segera tertunduk kembali.

“Anusapati,” berkata Sri Rajasa, “betapa-pun kecilnya, Tohjaya pernah berbuat dan merebut hati rakyat. Sakarang, rakyat Singasari seakan-akan telah tertiup oleh nama Kesatria Putih yang muncul di segala tempat. Bahkan hampir mustahil terjadi, bahwa hari ini Kesatria Putih berada di ujung Selatan kota, tetapi sehari kemudian ia sudah berada jauh dipadesan di sebelah utara untuk menumpas sekelompok perampok. Bahkan pernah terjadi beberapa orang prajurit Singasari yang telah mencemarkan nama baik kelompoknya justru pasukan pengawal.”

Anusapati menjadi semakin tunduk.

“Karena itu Anusapati,” berkata Sri Rajasa kemudian, “berbuatlah sekarang untuk merintis jalan bagimu. Kesempatan bagimu yang sudah lewat itu, harus kau buka kembali. Kalau kau berhasil, maka kau akan mendapat tempat dihati rakyat Singasari. Tetapi kalau kau gagal, maka kau akan tetap dalam keadaanmu sekarang. Seorang laki-laki cengeng yang hanya dapat menunggui isteri di dalam biliknya.”

Dada Anusapati serasa akan pecah mendengar kata-kata Sri Rajasa itu. Hampir saja ia menjelaskan keadaan dirinya sendiri yang sebenarnya karena perasaannya yang pedih. Tetapi untunglah bahwa ia masih mampu bertahan untuk menundukkan kepalanya terus.

“Anusapati,” berkata Sri Rajasa, “apakah kau bersedia membuka kesempatan baru bagimu sendiri ?”

“Ampun ayahanda. Jika ada jalan itu, hamba akan mencobanya.” jawab Anusapati.

“Sekarang hampir tidak ada seorang-pun yang dapat menunjukkan jasanya kepada rakyat kecil di Singasari selain Kesatria Putih. Meskipun apa yang dikerjakan oleh Kesatria Putih itu menguntungkan bagi rakyat, tetapi sebenarnya tidak bagi kita. Bagi kelangsungan hidup kita di singgasana. Kau mengerti?”

Dada Anusapati menjadi berdebar-debar.

“Sekarang setiap orang lebih senang mengucapkan nama Kesatria Putih dari menyebut namamu, nama Tohjaya dan nama Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi. Kau mengerti ?”

“Hamba mengerti ayahanda,” jawab Anusapati. Tetapi suaranya menjadi gemetar.

“Nah, jika kau mengerti, carilah kesempatan baru itu. Apakah kau juga mengerti ?”

Keringat dingin telah mengalir diseluruh tubuh Anusapati. Ia sama sekali tidak menyangka, bahwa kesimpulan itulah yang telah ditarik oleh Ayahanda Sri Rajasa. Sehingga karena itu maka untuk sejenak ia tidak dapat mengucapkan kata-kata.

“Anusapati,” berkata Sri Rajasa, “apakah kau mengerti?”

“Hamba ayahanda,” suara Anusapati gemetar.

“Bagus. Kau mendapat tugas untuk menyingkirkan Kesatria Putih itu. Bukankah kau Putera Mahkota? Tentu kau tidak rela apabila sepeninggalku kelak, orang lebih senang mematuhi pimpinan Kesatria Putih daripadamu. Dan baru setelah Kesatria Putih itu lenyap, kau mendapat kesempatan baru untuk berbuat jasa bagi Rakyat Singasari. Dan rakyat Singasari akan selalu menyebut namamu sebagai Putera Mahkota, yang kelak akan menggantikan kedudukanku, Maharaja di Singasari.”

Tiba-tiba saja dada Anusapati menjadi berdentangan. Ia tahu dengan pasti arti perintah itu. Dan itu berarti bahwa ia harus mencari Kesatria Putih.....

Bersambung....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...