BARA DI ATAS SINGGASANA : JILID-23-02
“Apakah ada akibat yang dapat timbul dari bau yang tajam ini?” bertanya Sumekar kepada diri sendiri.
Namun ia tidak beranjak dari tempatnya. Ia justru ingin mengetahui perubahan yang dapat terjadi atas dirinya sendiri meskipun dengan sadar ia selalu mengikuti segenap perasaan yang tumbuh pada dirinya.
Tetapi ternyata Sumekar tidak merasakan akibat apapun, selain kepalanya menjadi agak pening justru karena bau wangi yang sangat tajam. Selebihnya ia tetap sadar, dan dapat mengikuti setiap perkembangan persoalan yang dihadapinya.
“Besok pagi aku harus mengetahui, mungkin ada sesuatu yang terjadi di dalam bangsal itu,” berkata Sumekar di dalam hatinya.
Dihari berikutnya, maka Sumekar-pun menghadap kepada Putera Mahkota. Dengan tidak langsung ia memancing ceritera tentang bangsalnya semalam ketika Putera Mahkota sedang tidak ada.
“Paman,” berkata Putera Mahkota kemudian, “ada sesuatu yang aneh diluar nalar.”
“Apa tuanku?” bertanya Sumekar.
“Sudah beberapa kali jika aku pergi keluar, bangsal itu dipenuhi oleh bau wangi yang menusuk hidung sehingga isteriku menjadi pening dan hampir muntah-muntah karenanya.”
Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu ia-pun mencoba bertanya, “Apakah ada akibat lain yang terjadi tuanku?”
Anusapati menggeleng. Jawabnya, “Tidak paman. Tetapi akibat yang tidak langsung, isteriku menjadi takut. Semakin lama semakin takut. Bahkan bau yang harum sekali itu kadang-kadang disertai bunyi-bunyi yang aneh di atas atap, di dinding atau bahkan kadang-kadang di bawah pembaringan.”
Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Kini ia mengerti, bahwa maksud orang itu semata-mata mencoba mempengaruhi jiwa isteri Anusapati agar ia menjadi ketakutan. Dengan demikian maka Anusapati tidak akan pernah mendapat kesempatan untuk pergi di atas kuda putihnya.
“Para penjaga di bangsal itu harus diperingatkan, agar mereka lebih cermat sedikit. Selama ini mereka hanya duduk saja di gardu di depan bangsal, karena menurut mereka Singasari adalah negeri yang aman dan damai. Apalagi di dalam halaman istana.”
Ketika pada suatu saat, Sumekar mendapat kesempatan berbicara dengan seorang prajurit yang pernah bertugas di bangsal Putera Mahkota, ia berhasil memancing kata-katanya, “Bulu-bulu kudukku meremang jika aku mencium bau itu.”
“Macam kau,” gerutu Sumekar didalam hati, “jika kau mau berdiri dan mengelilingi bangsal itu, kau akan tahu apakah yang telah menimbulkan bau semacam itu.”
Tetapi Sumekar tidak dapat mengatakannya. Ia hanya mendengarkan saja. Bahkan sekali-sekali ia mengerutkan lehernya dan berkata, “Menakutkan sekali. Tetapi apakah bau itu bukan sekedar bau bunga arum dalu.”
“Huh, mentang-mentang kau menjadi juru taman. Yang kau kenal hanyalah bau bunga saja. Meskipun aku seorang prajurit, tetapi aku mengenal bau bunga arum dalu.” jawab prajurit itu.
“Jadi bukan bau bunga arum dalu?”
“Bukan.”
“Kantil barangkali? Bunga kantil baunya tajam sekali.”
“Tetapi tidak setajam bunga arum dalu,” jawab prajurit itu, lalu “Bodoh kau. Pokoknya sama sekali bukan bau bunga. Bau itu belum pernah aku kenal sebelumnya.”
“Darimanakah sumber bau itu?”
“O, aku ingin memukul kepalamu barang dua kali. Jika aku tahu, aku tidak akan ribut begini.”
“Maksudku, apakah para prajurit yang saat itu meronda telah mencoba mencari?”
Prajurit itu mengerutkan keningnya. Katanya dengan jujur, “Belum. Kami belum pernah berusaha mencari. Tetapi jika tiba-tiba saja kami berhadapan dengan bentuk yang lain dari bentuk manusia wajar ini, apakah kira-kira aku tidak akan pingsan?”
“Bukankah kalian prajurit? Prajurit tidak mengenal takut.”
“Omong kosong,” sahut prajurit itu, “barangkali prajurit tidak mengenal takut di medan perang. Tetapi terhadap hal-hal yang aneh dan tidak masuk akal, kadang-kadang bulu-kudukku meremang juga.”
“Jika kau bertugas, aku akan datang kegardu. Aku ingin ikut melihat apakah yang menimbulkan bau itu.”
“Kau memang sombong. Barangkali kau mati beku kalau barangkali kau hanya ingin ikut makan rangsum?”
Sumekar tersenyum. Jawabnya, “Rangsum malam bagi para prajurit selalu dihitung sesuai dengan jumlah orangnya. Bagaimana mungkin aku akan mendapat bagian?”
“Tentu kau akan pergi ke dapur dan makan pula di sana.”
Sumekar hanya tertawa saja. Tetapi kemudian ia berkata, “Aku ingin ikut berjaga-jaga. Setidak-tidaknya aku ingin ikut tidur di gardu itu.”
Dalam pada itu, untuk beberapa saat lamanya, Anusapati tidak keluar dari bangsalnya di malam hari. Tetapi selama Anusapati ada di dalam bangsal itu, maka tidak pernah timbul sesuatu yang mencurigakan. Tidak juga tercium bau wangi yang membuat kepala menjadi pening.
“Tuanku,” berkata Sumekar pada suatu saat, “apakah tuanku masih tidak dapat meninggalkan tuan puteri?”
Anusapati termangu-mangu sejenak.
“Maksudku, biarlah terjadi seperti pada saat tuanku pergi. Bila bau wangi itu timbul, hambalah yang akan menuntun para prajurit untuk berusaha mencari sumbernya. Karena menurut dugaan hamba, sumber bau itu akan dapat diketemukan.”
“Kau yakin paman?”
“Sekedar suatu usaha tuanku.”
“Tetapi bau itu menimbulkan ketegangan dan ketakutan pada isteri dan anakku.”
“Tuanku harus meyakinkan mereka, bahwa para prajurit akan menjaga mereka sebaik-baiknya.”
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Jika tuanku bertemu dengan pamanda tuanku Mahisa Agni atau salah seorang dari mereka, harus tuanku mengatakan apa yang sudah terjadi di bangsal tuanku dan bahwa hamba sedang berusaha untuk menemukan sesuatu disini.”
Anusapati menganggukkan kepalanya.
Demikianlah, pada suatu malam Anusapati meninggalkan bangsalnya di atas kuda putihnya. Sementara itu ia sudah berpesan, perlindungan dari para prajurit yang bertugas di depan bangsal.
Seperti yang dikatakannya, maka pada malam itu, Sumekar pergi ke gardu penjagaan. Prajurit yang pernah dijumpainya itulah yang malam itu sedang bertugas kembali seperti yang dikatakannya.
“He, juru taman. Kau benar-benar datang?”
Sumekar tertawa. Jawabnya, “Aku sudah berjanji. Dan aku tidak pernah ingkar janji.”
“Kau memang sombong,” berkata prajurit itu, lalu diceriterakannya kepada kawan-kawannya bahwa Sumekar ingin mengajak para prajurit mencari sumber bau itu.”
“Uh,” desis salah seorang prajurit, “macam kau ini memang macamnya seorang yang sombong. Apa yang dapat kau lakukan jika kau menemukannya?”
Sumekar tertawa. Katanya, “Tidak apa-apa. Tetapi setidak-tidaknya kita dapat menduga, apakah yang menimbulkan bau yang sangat sedap. Aku pernah mendengar ceritera, bahwa ada sebangsa burung malam yang bulu-bulunya berbau sedap sekali. Atau sebangsa kucing yang matanya bercahaya. Jika kita berhasil menangkapnya, maka kita akan dapat menjualnya dengan harga lima kali lipat harga kuda yang paling baik sekalipun.”
“Omong kosong,” sahut prajurit yang lain, “ceritera itu adalah ceritera bagi anak-anak menjelang tidur.”
“Siapa tahu,” sahut Sumekar, “aku akan ikut bersama satu dua orang dari antara para prajurit ini. Jika aku mendapatkannya, aku hanya minta seekor dari lima ekor kuda itu.”
Prajurit yang ada digardu itu tertawa serentak. Salah seorang berkata, “Kau memang seorang pemimpin yang baik.”
Ternyata kehadiran Sumekar telah menimbulkan kelakar dan gurau yang tidak berkeputusan. Dengan sengaja Sumekar membuat mereka terpukau oleh berbagai macam persoalan. Namun selagi mereka tertawa-tawa tiba-tiba salah seorang dari mereka mengerutkan keningnya. Katanya, “Kau sudah mulai mencium bau itu.”
Yang lain-pun serentak terdiam. Dengan saksama mereka memperhatikan suasana. Dan tiba-tiba saja malam terasa menjadi sangat sepi.
“Ya. Aku sudah mencium bau itu,” desis yang lain.
Yang lain-pun menjadi tegang. Dan hampir bersamaan beberapa orang berkata, “Ya. Aku sudah mencium bau ini pula.”
Tetapi tiba-tiba wajah Sumekar menjadi cerah. Seperti kanak-anak yang mendapat permainan yang mengasikkan ia tertawa sambil berkata, “Aku akan menangkap burung itu.”
“Gila kau.” Bentak seorang prajurit, “jangan main-main. Kau akan dicekiknya.”
“Kenapa?”
“Apakah burung dan sebangsa kucing dapat mengerti, kapan Putera Mahkota tidak ada di rumahnya? Bau semacam ini hanya kita dapati selagi Putera Mahkota sedang pergi di malam hari.”
“Mungkin. Mungkin saja secara kebetulan.”
“O, kau benar-benar akan dicekik hantu.”
“Nah, siapakah yang mau pergi bersamaku mencari burung atau kucing itu. Jika kelak mendapatkannya, aku tidak akan minta lebih dari seekor kuda yang tegar.”
“Gila, kau memang sudah gila.”
“Tidak, aku tidak gila. Aku percaya kepada ceritera itu. Dan aku akan membuktikannya, bahwa aku akan dapat menangkap burung atau kucing itu.”
“Kalau kau mau mendengarkah nasehat kami, tinggallah digardu ini bersama kami.”
Tetapi Sumekar menggeleng. Katanya, “Aku akan mencarinya. Dengan atau tidak dengan kalian.”
Para prajurit itu saling berpandangan sejenak. Namun mereka melihat Sumekar benar-benar turun dari gardu dan bersikap untuk pergi.
“Apakah kau benar-benar gila?”
“Mungkin. Siapakah di antara kalian yang gila seperti aku ikutlah aku.”
Tidak seorang-pun dari para prajurit itu yang menjawab.
Tetapi ketika Sumekar melangkah dua tiga langkah, pemimpin peronda itu memanggilnya, “He, juru taman. Tunggu dulu. Aku akan pergi bersamamu. Mungkin kau memang pantas dicurigai. Mungkin kau tidak hanya akan mencari sebangsa burung atau kucing.”
Sumekar mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Marilah kita pergi bersama-sama.”
Pemimpin peronda itu-pun kemudian menunjuk seorang prajurit yang lain untuk mengawaninya.
Meskipun agak takut-takut juga, namun prajurit itu-pun terpaksa berangkat pula bersama dengan pemimpinnya dan Sumekar.
Demikianlah mereka meninggalkan gardu peronda dengan hati yang berdebar-debar. Pemimpin peronda itu telah memerintahkan dua orang dari mereka untuk berdiri di muka gardu dengan senjata telanjang. Sedang yang lain harus siap menghadapi setiap kemungkinan.
Namun demikian ada juga yang bergumam di antara mereka, “Apakah kami harus berperang melawan hantu?”
Dalam pada itu, Sumekar yang sudah pernah melihat, apa yang sabenarnya terjadi, mengangkat wajahnya sambil berkata, “Aku mencoba menemukan sumber dari bau ini.”
“Kau memang gila?”
“Aku dapat menemukan bau bunga soka di antara sepuluh macam bau bunga yang lain. Dan sekarang aku-pun akan dapat menemukan sumber bau ini. Jika ia seekor burung, maka kita harus mencari sebuah anak panah dengan busurnya. Tetapi anak panah yang ujungnya tumpul agar burung itu tidak terbunuh. Tetapi jika kita menemukan sebangsa kucing, kita harus mengejarnya bersama-sama.”
“Persetan. Apakah kau sudah mengigau he? Apakah kau sudah kepanjingan demit yang berbau wangi ini?”
Sumekar tersenyum. Jawabnya, “Aku masih sadar. Dan aku masih tetap mengharapkan kuda yang tegar.”
“He, kemana kau akan pergi?” bertanya pemimpin peronda itu ketika Sumekar pergi ke bagian belakang bangsal Putera Mahkota.
“Aku mencium bau dari tempat itu. Di belakang bangsal.”
“Gila. Kau benar-benar sudah gila.”
Sumekar tidak menyahut. Tetapi ia berjalan terus.
“Cukup,” perintah pemimpin peronda itu, “kita kembali ke gardu. Aku tidak mau mengikuti seorang yang gila dan kesurupan demit.”
“Beberapa langkah lagi. Bau ini sudah menjadi semakin tajam. Aku yakin akan menemukan sumber bau ini.”
“Cukup.”
“Beberapa langkah lagi, kita sampai kebelakang bangsal ini tanpa menemukan sesuatu, kita akan kembali ke gardu.”
“Kita kembali sekarang. Jangan-angan kami akan kepanjingan pula seperti kau.”
“Aku berani bertaruh.” jawab Sumekar, “jika aku tidak menemukan sumber bau ini, entah burung, entah kucing, entah sebangsa bunga yang mekar di malam hari, atau apapun, aku akan membayar seekor kuda yang tegar buat kalian.”
“Gila, darimana kau akan mendapat kuda itu?”
Sumekar mengerutkan keningnya. Dari mana ia akan mendapat seekor kuda. Namun ia menjawab juga, “Jika aku kalah aku akan berusaha. Aku sudah menabung sejak aku bekerja di istana ini.”
Para prajurit itu termangu-mangu sejenak. Namun salah seorang daripadanya berkata, “Orang ini memang sedang mengigau. Marilah kita tinggal saja disini.”
“Sst,” desis Sumekar, “kita memang sudah dekat. Aku mohon kita maju sedikit lagi. Akulah yang akan berdiri dipaling depan.”
“Sumekar bau ini ada di depan kita. Tetapi aku tidak yakin bahwa yang kita hadapi sekarang ini sebangsa binatang, karena sumber bau ini tidak bergerak.”
“Aku justru jadi ngeri,” desis prajurit itu, “marilah kita kembali.”
“Jangan,” berkata Sumekar, “aku yakin. Beberapa langkah lagi.”
Akhirnya pemimpin prajurit itu berkata. “Baiklah. Kita maju beberapa langkah lagi.”
Sumekarlah yang kemudian berdiri di paling depan. Dari jarak beberapa langkah ia sebenarnya sudah melihat seonggok kecil abu yang melontarkan bau yang sangat harum seperti yang pernah dilihatnya. Karena itu, maka ia-pun dapat langsung menuju ketempat itu, meskipun ia harus berpura-pura mengangkat wajahnya dan menggerak-gerakkan hidungnya, seolah-olah sedang mencari arah dari sumber bau itu.
“Disini,” tiba-tiba Sumekar berhenti.
“Kenapa disini?” bertanya kedua prajurit itu hampir bersamaan. Sedang bau yang menusuk hidung itu membuat mereka menjadi pening.
Sumekar berhenti sejenak. Diangkatnya wajahnya sambil menghirup udara sedalam-dalamnya. Perlahan-lahan ia mengarahkan hidungnya pada sumber bau itu yang sebenarnya.
“Ini, ini,” tiba-tiba Sumekar berdesis.
“Apa?” kedua prajurit itu mengerutkan keningnya.
“Kemarilah. Inilah sumber bau itu.”
“Apakah itu?”
“Kemarilah.”
Dengan ragu-ragu kedua orang prajurit itu mendekat.
“Inilah sumber bau itu. Ternyata bukan burung, bukan kucing atau sejenis binatang lain. Inilah sumber itu.”
Kedua prajurit itu memandang seonggok abu yang berada di bawah bebatur bangsal itu. Hanya samar-samar saja cahaya lampu minyak yang kemerah-merahan.
“Jika kalian tidak percaya, cobalah mencium bau abu itu,” berkata Sumekar.
Pemimpin prajurit itu-pun mendekati. Dengan ragu-ragu ia membungkukkan badannya.
“Ya,” katanya menyentak, “kau benar juru taman. Di sinilah sumber bau itu. Tetapi kenapa seonggok abu?”
Sumekar menggelengkan kepalanya.
Prajurit yang lain-pun kemudian mendekat pula. Dengan saksama diperhatikannya abu yang kehitam-hitaman itu. Namun baunya benar-benar membuat mereka menjadi pening.
Sumekar tidak memberikan tanggapan apapun. Dibiarkannya kedua prajurit itu mencoba mencari, apakah yang sedang mereka hadapi.
Dengan seksama keduanya memeriksa keadaan di sekitarnya. Beberapa langkah daripadanya mereka menemukan sebuah galah yang ujungnya juga terbakar sedikit. Galah itulah yang dipergunakan untuk menjepit benda yang telah dibakar dan menimbulkan bau yang sangat wangi itu.
“Sebangsa getah,” berkata pemimpin prajurit itu.
Yang lain mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Apakah ada sebangsa demit yang membakar getah atau apa-pun ditempat itu?” bertanya Sumekar, “atau bulu burung atau kulit sebangsa kucing itu?”
“Bukan, tentu sebangsa getah yang mudah terbakar. Baunya ini memang dapat membuat kepala pening. Apalagi ketika getah ini baru saja terbakar,” jawab pemimpin prajurit itu.
“Jadi kenapa ada getah terbakar disitu?” bertanya Sumekar, “aku sudah tertipu karenanya. Aku kira bau ini berasal dari seekor binatang yang mahal sekali harganya.”
“Macam kau. Mungkin kau tertipu oleh bau ini. Tetapi bagi kami penemuan ini cukup penting. Tentu ada orang orang yang membakarnya disini. Tentu tidak dengan begitu saja terbakar dan berada di tempat ini.”
Sumekar mengangguk-angguk. Tetapi ia tersenyum didalam hati. Ia sudah berhasil menunjukkan kepada para prajurit itu, bahwa yang mereka hadapi sama sekali bukannya hantu-hantu yang mengerikan. Tetapi adalah suatu usaha pengkhianatan terhadap Putera Mahkota dari siapa-pun datangnya.
“Carilah sehelai daun,” berkata pemimpin peronda itu kepada Sumekar.
“Untuk apa?”
“Aku akan mengambil dan membawa abu itu.”
Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian dicarinya sehelai daun yang cukup lebar untuk membawa abu yang berbau sangat wangi itu.
Kedatangan mereka di gardu peronda disambut dengan gurau yang meriah. Salah seorang prajurit berkata, “Nah, bukankah juru taman itu menemukannya dan besok akan menukarkannya dengan sepuluh ekor kuda yang paling tegar?”
Tetapi prajurit-prajurit yang bergurau itu mengerutkan keningnya ketika mereka melihat wajah pemimpin yang bersungguh-sungguh.
“Kami memang menemukannya,” berkata pemimpin itu.
Para prajurit yang berada di gardu itu terkejut. Hampir berbareng mereka bergeser mendekat. Dan mata mereka-pun segera melihat pada tangan pemimpin mereka yang memegang sesuatu.
“Inilah,” berkata pemimpin kelompok peronda itu, “ciumlah.”
Beberapa prajurit yang berdiri dihadapannya mendekatkan hidungnya. Salah seorang berdesis, “Ya. Memang inilah sumber bau itu.”
“Ini tinggal abunya,” berkata pemimpin peronda itu.
“Abu?”
“Ya. Tentu seseorang sengaja membakarnya untuk menimbulkan bau yang menusuk hidung ini. Aku kira benda yang dibakar ini sebangsa getah tumbuh-tumbuhan.”
“Getah?”
“Ya. Sama sekali bukan binatang. Bukan sebangsa burung apalagi kucing.”
“Tetapi ada sebangsa burung atau kucing yang mempunyai bau sangat wangi,” sela Sumekar.
“Tetapi tentu bukan ini.”
Beberapa orang prajurit mengerumui benda yang kehitaman itu sambil mengerutkan keningnya. Mereka sepakat bahwa sesuatu telah dibakar. Asapnya telah menyebarkan bau wangi sampai jarak cukup jauh.
“Kita sekarang yakin, memang bukan hantu.” pemimpin peronda itu berkata selanjutnya, “ternyata selama ini kita telah dihantui oleh perasaan sendiri. Kekerdilan dan lebih dari itu, kita adalah pengecut.”
Kawan-kawannya mengangguk-anggukkan kepala. Mereka merasa malu juga bahwa yang selama ini telah membuat mereka ketakutan, ternyata hanyalah seonggok kecil abu yang menyebarkan bau wangi.
“Kita akan melaporkan penemuan ini,” berkata pemimpin peronda itu, “untuk seterusnya kita akan mencoba mengetahui, siapakah yang telah membakar getah ini.”
Sumekar mengerutkan keningnya melihat prajurit-prajurit mengangguk-angguk. Ia berharap ada satu dua orang yang berpendirian lain. Yang menganggap bahwa lebih baik mengintip orang yang membakar getah itu daripada langsung melaporkannya.
Tetapi ternyata tidak ada yang berpendirian demikian.
Karena itu maka Sumekar-pun bertanya, “Apakah para prajurit tidak dapat menangkap orang yang dengan bau getah itu, sadar atau tidak sadar, sudah menyebarkan perasaan takut dikalangan prajurit?”
“Tentu dengan sadar,” jawab pemimpin peronda itu, “tetapi kau jangan menyombongkan diri justru karena kau tidak menjadi ketakutan. Itu bukan karena kau pemberani, tetapi secara kebetulan kau menganggap bahwa bau itu berasal dari seekor binatang.”
Sumekar hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja.
“Kami tentu akan berusaha menangkapnya,” berkata prajurit itu, “karena perbuatan ini telah menimbulkan persoalan bagi kami meskipun maksud orang itu hanya sekedar bergurau.”
“Apakah kalian akan menangkap malam ini?”
“Bodoh kau. Siapakah yang akan kita tangkap?”
“O.”
“Kita harus menyelediki dahulu, siapakah yang telah melakukannya.”
Sumekar mengerutkan keningnya. Lalu ia bertanya, “Siapakah yang akan diselidiki?”
“Ah, kau memang bodoh. Kembali saja kebilikmu. Besok pagi kau harus menyiangi taman itu. Kamilah yang bertugas untuk mencari siapakah yang telah membakar getah itu di sana.”
“Orang itu tentu tidak akan kembali,” berkata Sumekar.
“Jika ia tahu bahwa kami menyelidikinya.” pemimpin peronda itu berhenti sejenak, lalu “Juru taman. Kau adalah satu-satunya orang yang mengetahui bahwa kami sedang berusaha menangkap orang yang membakar getah itu. Jika ia tidak datang lagi besok atau lusa, maka pasti kaulah yang sudah berkhianat.”
“He, kenapa aku?”
“Tidak ada orang lain yang mengetahuinya selain kau.”
“Tentu ada.”
“Siapa?”
“Orang yang akan menerima laporan kalian.”
“Gila. Mereka adalah atasan kami.”
“Siapa tahu, bahwa ada diantara mereka yang berkhianat. Maksudku, pelayannya atau embannya atau siapa-pun yang berhasil mendengar pembicaraan kalian. Kecuali jika kalian tidak mengatakan kepada siapa-pun juga, sebelum kalian berusaha menyelidikinya.”
Pemimpin peronda itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Kau mampu juga berpikir. Barangkali secara kebetulan pula kau mengatakannya seperti ketika kau menyebut bahwa bau ini berasal dari seekor binatang.”
Sumekar tidak menyahut.
“Baiklah. Datanglah besok kemari. Kau harus ada digardu ini. Jika kami gagal, kaulah yang berkhianat. Tidak ada orang lain yang mengetahui.”
“Bagaimana jika orang itu sendiri melihat kalian datang menyelidiki tempat itu?”
“Memang mungkin. Tetapi kaulah taruhan kami yang pertama.”
Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak berkeberatan. Ia benar-benar akan datang besok malam. Dan untuk itu ia akan minta kepada Putera Mahkota, agar besok malam meninggalkannya pula.
Demikianlah atas usaha Sumekar, para prajurit telah meyakini bahwa bau yang tajam itu sama sekali bukan berasal dari sebangsa hantu dan atas hal tersebut, para prajurit sengaja tidak melaporkannya lebih dahulu. Baik kepada atasannya mau-pun kepada Putera Mahkota. Mereka ingin meyakinkan laporan mereka dengan bukti yang lebih jelas apabila mereka berhasil menangkap orang yang telah membakar sebangsa getah dan menyebarkan bau yang harum itu.
Namun tidak setahu para Prajurit itu, Sumekar telah menceriterakan apa yang mereka temukan. Karena itu ia memohon kepada Putera Mahkota agar meninggalkan bangsal itu pula untuk kepentingan penyeledikan.
“Apakah kau berkeberatan jika aku sendiri yang menangkapnya?” bertanya Anusapati.
“Tuanku, hamba berharap bahwa para prajuritlah yang akan menangkapnya dan kemudian melaporkan semuanya kepada atasan mereka. Jika tuanku sendiri yang menangkapnya, maka dapat terjadi bahwa yang terjadi itu dianggap sebagai sesuatu salah paham saja. Dan bahkan seandainya hal itu tidak dihiraukan oleh ayahanda tuanku, tidak ada seorang-pun yang ikut merasa heran, bahwa hal itu tidak mendapat perhatian dengan tanggapan mereka masing-masing. Tetapi jika yang menangkap orang itu para prajurit, maka akan ada saluran yang membawa orang itu sampai kepemimpin pemerintahan. Seluruh saluran itu akan menunggu dan mengharap, hasil pemeriksaan atas orang itu. Selain dari pada itu, maka pertanggungan jawab atas kejadian itu harus diberikan juga kepada para prajurit yang menangkapnya, meskipun seandainya ada perlindungan kepada orang yang melakukan itu.”
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia dapat mengerti rencana Sumekar. Persoalan itu akan menjadi persoalan yang meluas sehingga tidak akan dengan mudah dapat ditiadakan atau dibekukan.
Demikianlah maka rencana yang telah disusun dengan para prajurit itu akan dapat dijalankan, meskipun Anusapati mengalami sedikit kesulitan ketika ia akan meninggalkan istana. Ternyata bahwa isterinya benar-benar menjadi ketakutan dan minta agar Anusapati malam itu tidak pergi meninggalkannya.
“Sayang sekali adinda, bahwa tugas ini tidak dapat aku tunda lagi. Aku akan pergi malam ini saja. Besok aku akan tinggal di bangsal ini.”
“Hamba takut kakanda. Semalam hamba hampir menjadi pingsan oleh bau yang sangat wangi. Tetapi bau itu datang dan pergi begitu saja. Tentu bukan bau bunga atau wangi-wangian yang datang dari taman.”
“Mungkin semacam bunga sedap malam. Baunya juga menusuk sekali.”
“Bukan kakanda. Hamba mengenal bau bunga apa-pun juga.”
Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Baiklah, aku akan berpesan kepada para prajurit agar menjaga bangsal ini baik-baik. Bukankah sampai saat ini bau itu sama sekali tidak mengganggu selain menimbulkan perasaan pening?”
Isteri Anusapati itu menganggukkan kepalanya.
“Nah, tinggal sajalah di dalam bangsal. Tunggui dan jaga anak kita baik-baik. Ia sudah mulai nakal dan kadang-kadang berkeliaran sendiri. Ia sudah mulai bekelahi dan melempar-lempar batu.”
Isterinya menganggukkan kepalanya. Anak laki-lakinya memang nakal. Apalagi kini ia sudah tumbuh semakin besar dan kuat. Kadang-kadang ibunya tidak lagi dapat menguasainya. Bahkan embannya tidak berhasil mengejarnya jika ia berlari-larian di halaman. Untunglah para prajurit yang bertugas di depan bangsal itu sangat senang kepada anak laki-laki yang nakal ini. Merekalah kadang-kadang yang membawanya bermain, jika kebetulan sedang beristirahat.
Karena Anusapati tidak lagi dapat dicegah, maka dengan hati yang berat, dilepaskannya juga ia pergi di atas kuda putihnya. Anak laki-lakinya masih sempat melihat kepergiannya sambil melambaikan tangannya.
“Aku minta kuda putih,” katanya kepada ibunya.
“Ya. Kelak kau akan mendapatkan seekor kuda putih.”
“Sekarang.”
“Kenapa sekarang? Kau masih terlampau kecil.”
“Aku sudah besar. Aku sudah dapat memanjat pohon sawo itu sampai ke atas atap.”
“He, kau memanjat sampai ke atas atap?” ibunya terkejut.
Anaknya menganggukkan kepalanya. “Kenapa?”
Dengan tergesa-gesa embannya menyela, “Ampun tuan Puteri, hamba tidak sempat mencegahnya. Karena itu hamba minta tolong kepada prajurit yang bertugas di regol untuk mengambilnya.”
Ibunya menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kau tidak boleh memanjat. Besok kalau sudah sebesar ayahanda kau boleh memanjat sampai ke atas atap, dan kau akan mendapatkan kuda putih pula seperti ayahanda.”
Putera yang nakal itu tidak menjawab, tetapi tampaknya ia sedang berpikir.
“Marilah, masuklah,” ajak ibunya ketika Anusapati sudah tidak tampak lagi.
Sejenak anak laki-laki itu berdiri saja mematung, namun ketika ibundanya menarik tangannya, ia-pun kemudian berjalan diiringi oleh embannya.
“Bawalah ke pembaringan,” berkata ibundanya kepada emban pengasuhnya.
“Hamba tuan puteri.”
Putera Anusapati yang bernama Ranggawuni itu-pun kemudian dibawa oleh pengasuhnya ke pembaringannya. Tetapi anak yang nakal itu-pun tidak juga segera memejamkan matanya. Ada saja yang ditanyakannya kepada embannya. Tentang ibunya dan tentang istana ini seluruhnya.
“Tidurlah tuan,” embannya mencoba menidurkannya.
Tetapi anak itu masih saja tidak memejamkan matanya.
“Hamba mempunyai sebuah dongeng tuan,” berkata embannya.
“Apa?”
“Tentang burung kepodang yang setiap hari bersiul di pelepah pisang.”
“Kenapa?”
“Dan tentang kancil yang cerdik.”
Emban itu-pun kemudian berceritera tentang binatang-binatang yang cerdik dan lucu, sehingga Ranggawuni itu-pun jatuh tertidur.
Namun agaknya embannya yang menjadi kantuk pula telah tertidur pula diatas sehelai tikar disisi pembaringan Ranggawuni.
Ketika ibu Ranggawuni menengoknya, maka ia-pun tersenyum. Dibiarkannya saja embannya itu tertidur pula. Di malam hari Ranggawuni memang sering mencarinya. Kadang-kadang ia memerlukan minum atau apapun.
Namun ketika malam menjadi sepi, isteri Anusapati itu menjadi semakin berdebar-debar. Seperti malam kemarin, rumah itu dipenuhi oleh bau wangi yang menusuk hidung. Dan bau wangi itu agaknya bukan bau wangi sewajarnya.
“Mudah-mudahan malam ini bau wangi itu tidak mengganggu lagi.”
Namun tiba-tiba terasa tengkuknya meremang. Karena itu, maka ia-pun tidak segera pergi ke biliknya, tetapi ia menyusul Ranggawuni dan berbaring di sebelahnya.
Dan sejenak kemudian yang dicemaskan itu-pun terjadilah. Perlahan-lahan bau wangi itu mulai mengambar di dalam bangsal itu. Semakin lama menjadi semakin tajam menusuk hidung.
Tanpa sesadarnya, tubuh isteri Anusapati itu menjadi gemetar. Bau semakin lama menjadi semakin menyolok hidung.
“Kakanda Anusapati tidak dapat dicegah,” desisnya, “mudah-mudahan tidak lebih dari bau ini saja. Jika terjadi sesuatu, maka aku tidak akan dapat berbuat apa-apa”
Namun tiba-tiba teringatlah kata-kata Anusapati, “Prajurit-prajurit yang meronda di gardu depan akan menjaga bangsal ini.”
“Mudah-mudahan prajurit-prajurit itu tidak tertidur,” berkata isteri Anusapati itu di dalam hatinya.
Karena itu, dicobanya untuk tetap bersikap tenang. Namun tanpa disadarinya, maka dipeluknya puteranya yang mulai tumbuh dan menjadi anak laki-laki yang nakal itu.
Dalam pada itu, para prajurit yang bertugas diregol depan-pun telah mulai menjalankan tugasnya. Sumekar yang sejak malam turun berada di gardu depan, telah ditahan oleh para prajurit.
“Kau tidak boleh pergi,” berkata pemimpin peronda.
“Kau sangka aku yang membakar getah itu.”
“Tidak. Tetapi jika kau berkhianat, kau akan kami gantung.”
“Uh, apakah kau berhak menggantung seseorang?”
“Kenapa tidak?”
Sumekar tidak menjawab. Tetapi ia-pun kemudian duduk saja di gardu bersama beberapa orang prajurit yang lain, sedang pemimpin peronda itu bersama dua orang yang lain telah mengendap-endap di bawah rimbunnya dedaunan untuk melihat apakah yang akan terjadi.
Di saat itulah para prajurit yang sedang mengintai itu menjadi berdebar-debar. Dilihatnya seseorang yang berkerudung hitam membawa sebatang galah yang panjang. Ujung galah itu-pun kemudian dibakarnya pada nyala lampu minyak di serambi belakang.
Sejenak kemudian bau wangi itu-pun mulai tersebar. Perlahan-lahan, semakin lama semakin tajam menusuk hidung.
Pemimpin peronda tu menggamit kedua kawannya. Mereka-pun kemudian bersiap untuk menyergapnya. Orang itu harus ditangkap, dan dipaksa untuk mengatakan, apakah maksudnya menimbulkan bau yang wangi itu.
Perlahan-lahan prajurit-prajurit itu merangkak maju. Semakin lama semakin dekat. Mereka-pun kemudian menunggu orang berkerudung hitam itu berjongkok dan meletakkan abu getahnya dibawah bebatur.
Pada saat itulah pemimpin peronda itu memberi isyarat. Dengan serta-merta ketiga prajurit itu meloncat menerkam orang yang sedang berjongkok itu.
Namun ternyata bahwa orang itu-pun lincah bukan buatan. Ternyata mereka sama sekali tidak berhasil menyentuhnya, karena orang itu-pun segera melenting.
Tetapi para prajurit itu tidak melepaskannya. Mereka-pun segera mengepung orang itu.
“Menyerahlah,” desis pemimpin peronda itu.
“Persetan,” terdengar suara parau.
“Apakah maksudmu dengan permainanmu yang memuakkan itu.”
Orang itu tidak menjawab. Namun tiba-tiba saja ia berusaha untuk menembus kepungan itu.
Dengan demikian maka segera terjadi perkelahian di antara mereka. Semakin lama semakin sengit. Ternyata orang yang berkerudung hitam itu memiliki ilmu yang jauh melampaui lawan-lawannya, sehingga karena itu, maka ketiga prajurit itu sama sekali tidak berhasil menguasainya.
“Panggil kawan-kawan kita, berilah isyarat,” perintah pemimpin peronda itu.
Sejenak kemudian terdengar salah seorang dari para prajurit itu bersiul. Suaranya nyaring membelah sepinya malam, sehingga terdengar dari gardu peronda di depan bangsal.
“He, kau dengar isyarat itu?”
“Ya. Tentu sesuatu telah terjadi.”
“Cepat, kita pergi kesana.”
Para prajurit yang ada didalam bangsal itu-pun segera berlari-lari kecuali dua orang harus mengawasi bangsal itu dari depan. Tidak seorang-pun lagi yang menghiraukan Sumekar, sehingga Sumekar dapat pergi menurut keinginannya sendiri. Tetapi ia-pun harus menyesuaikan dirinya, agar ia tidak diketahui oleh para prajurit itu bahwa ia mempunyai kelebihan, dari mereka.
Ketika para prajurit itu sampai di belakang bangsal mereka masih melihat kawan-kawannya berkelahi melawan seseorang yang berkerudung hitam. Namun ketika mereka sampai ke arena, dua orang dari kawannya itu telah terlempar jatuh.
Tetapi agaknya orang berkerudung hitam itu tidak ingin bertempur terus. Demikian para prajurit yang lain terjun ke gelanggang, ia-pun segera meloncat dan berlari meninggalkan mereka.
Beberapa orang prajurit masih mencoba memburunya. Tetapi mereka sama sekali tidak berhasil, karena bayangan itu seakan-akan begitu saja lenyap dari pandangan mata mereka.
Pemimpin peronda itu-pun segera menolong kedua orang kawannya yang pingsan. Keduanya-pun segera di gotong ke gardu dan pada bibirnya dititikkan air yang dingin.
“Dadanya telah dihantam dengan tumit oleh bayangan hitam itu,” berkata pemimpin peronda itu kepada kawan-kawannya.
“Yang seorang?”
“Sebuah pukulan tepat mengenai tengkuknya. Aku-pun agaknya hampir juga dijatuhkannya, bahkan mungkin dibunuhnya. Untunglah kalian segera datang.”
Para prajurit itu masih berdebar-debar. Orang itu memiliki kemampuan yang tidak terkirakan.
“Apakah orang itu pula yang dahulu pernah memasuki halaman istana ini?” bertanya seseorang.
“Aku tidak tahu,” jawab pemimpin peronda itu.
Sejenak kemudian maka kedua kawan-kawan mereka yang pingsan itu-pun mulai bergerak-gerak. Mereka merintih oleh rasa sakit yang hampir tidak tertahankan. Apalagi prajurit yang dadanya telah terkena tumit orang berkerudung hitam itu. Setitik darah telah melekat dibibirnya.
“Dadanya terluka,” berkata pemimpin peronda itu, “ia harus segera mendapat pengobatan.”
“Ya, kita akan menghubungi dukun yang baik bagi para prajurit, agar orang ini cepat tertolong.”
“Cepat,” berkata pemimpin peronda itu, “aku akan pergi kegardu induk untuk melaporkan peristiwa ini.”
“Baiklah. Aku akan memanggil dukun itu.”
Pemimpin peronda itu-pun berdiri pula bersama prajurit yang akan memanggil dukun itu. Namun merasa ada sesuatu yang kurang. Diamatinya keadaan disekelilingnya. Lalu tiba-tiba ia berkata, “Dimana juru taman itu?”
“He,” prajurit-prajurit yang lain mulai sadar, bahwa juru taman itu tidak ada di antara mereka.
“Siapa yang melihatnya terakhir.”
“Ketika kami mendengar isyarat dari kalian yang berkelahi melawan orang berkerudung itu, ia masih ada digardu ini. Tetapi kami telah melupakannya karena kami tergesa-gesa pergi membantu kalian yang sedang berkelahi itu.”
“Bukankah ada yang tinggal disini?”
“Ya,” jawab prajurit yang tinggal, “tetapi kami telah lupa pula mengurusnya. Ia menggigil ketakutan. Dan aku tidak tahu lagi kemana larinya.”
“Cari. Mungkin ia mati membeku.” perintah pemimpin peronda itu, tetapi “kecuali yang akan memanggil dukun. Pergilah. Orang itu segera memerlukan pertolongan.”
Ketika seorang prajurit pergi memanggil dukun, maka prajurit yang lain-pun menyebar untuk mencari Sumekar.
Tiba-tiba saja seorang prajurit melonjak karena terkejut ketika ia hampir saja menginjak seseorang yang melingkar dibawah segerumbul pohon bunga.
“He, juru taman. Kenapa kau disitu?”
Sumekar mengangkat wajahnya yang pucat. Sambil tergagap ia berkata, “Apakah sudah tidak ada perang lagi?”
“Gila kau. Tidak ada perang. Kami sedang berusaha menangkap orang yang membakar getah itu. Marilah, kembali kegardu. Ternyata kau penakut yang paling licik.”
Sumekar tidak menjawab ketika tangannya dibimbing oleh prajurit itu. Sambil tertawa prajurit itu mengatakan di mana ia menemukan Sumekar.
“Aku sangka kau seorang pemberani ketika kau mengajak kami mencari sumber bau itu. Ternyata ketika kau sudah mengetahuinya, justru kau menjadi ketakutan setengah mati.”
“Tetapi, tetapi apakah yang telah terjadi?”
“Tidak apa-apa.”
Sumekar menjadi ketakutan ketika ia melihat dua orang yang terbaring digardu. Sambil menunjuk keduanya ia bertanya, “Kena apakah mereka?”
“Tidak apa-apa. Duduklah. Minumlah. Mereka agak sakit. Tetapi tidak apa-apa.”
Sumekar-pun duduk diantara para prajurit. Meskipun ia masih menggigil namun ia meneguk beberapa teguk air.
Baru setelah Sumekar agak tenang, pemimpin prajurit itu meninggalkannya untuk memberikan laporan kegardu induk, bahwa mereka telah menemukan suatu persoalan yang menarik.
Dalam pada itu Sumekar masih duduk membeku di sudut gardu. Namun demikian, sebenarnyalah ia sempat memperhatikan perkelahian yang tidak begitu lama terjadi itu. Dan dalam waktu yang sempit itu ia dapat mengenal, dari tata geraknya yang tidak sempat disembunyikan, karena serangan prajurit itu begitu tiba-tiba.
“Guru tuanku Tohjaya,” desis Sumekar di dalam hatinya.
Sementara itu, di dalam bangsal, isteri Anusapati menjadi sangat cemas. Tetapi ia sadar, bahwa agaknya para prajurit sudah bertindak.
“Tetapi apakah yang dapat dilakukan oleh para prajurit terhadap sesuatu yang halus?” bertanya isteri Anusapati itu kepada diri sendiri.
Tetapi ternyata bahwa sejenak kemudian ia mendengar seakan-akan orang-orang yang sedang berkelahi. Kemudian beberapa orang lagi berlari-lari dari gardu di depan melingkar menuju ke belakang.
“Mudah-mudahan para prajurit itu dapat mengatasi persoalannya,” kata isteri Anusapati itu.
Debar jantungnya menjadi kencang juga ketika suara-suara hiruk pikuk itu-pun mereda. Ia masih mendengar prajurit-prajurit itu berbicara dan berjalan hilir mudik.....
Bersambung....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar