Jumat, 29 Januari 2021

SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG JILID 01-03

*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : JILID-01-03*


Karya.   : SH Mintardja

“Mengapa kau ragu-ragu? Sebagaimana kau lihat, aku adalah Kesatria Putih. Aku telah meninggalkan tahta sesaat karena aku telah menerima laporan tentang kalian. Jangan menyesal bahwa aku telah menyusupkan beberapa orang dari pasukan sandi ke dalam setiap kelompok prajurit. Dan di dalam kesatuanmu aku pun telah menanam prajurit-prajurit sandi itu. Dan dari mereka aku mendengar laporan, apa yang telah kalian lakukan di daerah ini. Menakut-nakuti, membiarkan mereka dalam ketakutan dan kemudian kalian kini berusaha memancing pertentangan itu.”

“Bohong! Bohong!”

“Selain prajurit-prajurit sandi di dalam pasukanmu, kau pun telah dijebak oleh petugas-petugas sandi yang lain. Di padukuhan ini pun aku mempunyai petugas sandi meskipun bukan prajurit. Dan sekarang ia akan membantuku menangkap kalian.”

“Omong kosong. Jangan menakut-nakuti aku. Jika benar kau Kesatria Putih, kenapa kau masih juga mempergunakan kerudung putih itu, karena setiap orang mengetahui bahwa Kesatria Putih adalah Tuanku Anusapati, yang sekarang sudah berada di atas tahta Singasari.”

“Sedang kalian usahakan, agar tahta itu berguncang. Begitu?”

“Bohong! Jika benar kau Tuanku Anusapati, bukalah kerudung putih itu.”

“Aku akan menangkapmu dan membawa langsung ke istana tanpa memberitahukan kepada perwira atasanmu yang telah menjerumuskan kalian ke dalam pengkhianatan ini.”

“Persetan! Jangan mengigau. Kami tidak percaya bahwa kau adalah Kesatria Putih. Kami tidak percaya apa yang kaukatakan itu seluruhnya. Mungkin kau adalah pemimpin yang sebenarnya dari golongan yang menentang Tuanku Anusapati di padukuhan ini dan beberapa padukuhan yang lain.”

“Terserah kepadamu. Percaya atau tidak percaya. Tetapi aku akan menangkapmu.”

“Jangan menakut-nakuti kami seperti menakut-nakuti anak-anak. Aku akan melakukan tugas yang dibebankan kepadaku sebaik-baiknya. Aku akan membunuhmu. Jangan menyesal bahwa kau tidak berhasil menakut-nakuti kami sehingga kami dengan begitu saja menyerahkan leher kami.”

“Oh, jadi kalian akan melawan?”

“Kami akan membunuhmu.”

Suara tertawa itu terdengar lagi. Kini sangat mengerikan, sehingga terasa bulu-bulu para prajurit itu meremang.

“Bedanya Kesatria Putih dahulu selalu seorang diri. Kini Kesatria Putih yang sudah duduk di atas tahta, tidak mau mengalami kesulitan karena usahanya melindungi rakyatnya. Itulah sebabnya Kesatria Putih sekarang dengan resmi membawa pasukan pengawal istana. Dan kau tentu sudah mengenal mereka itu.”

“Itu adalah pertanda bahwa kau bukan Kesatria Putih yang sebenarnya.”

“Justru sebaliknya. Para prajurit pengawal itu adalah pertanda kebesaran Kesatria Putih saat ini.”

Pemimpin kelompok itu menjadi ragu-ragu. Tetapi tiba-tiba ia menggeretakkan giginya. Ia tidak mau dicengkam oleh keragu-raguannya sendiri, sehingga ia seakan-akan menjadi lumpuh karenanya.

Demikianlah, maka yang terjadi di kedua padukuhan yang terpisah itu hampir serupa. Prajurit-prajurit yang bertugas di kedua tempat itu ternyata telah bertemu dengan Kesatria Putih. Tetapi ternyata bahwa kedudukan kedua Kesatria Putih itu agak berbeda meskipun membawa tugas yang serupa.

Kesatria Putih yang berada di padukuhan yang satu, dengan suara tertawanya yang bagaikan menusuk ulu hati, telah membuka kerudungnya. Ternyata ia benar-benar Anusapati yang telah duduk di atas tahta. Sehingga dengan demikian para prajurit yang menyamar itu sama sekali tidak dapat berbuat lain kecuali menyerahkan dirinya, karena Anusapati benar-benar membawa sepasukan pengawal yang cukup untuk menguasai prajurit-prajurit yang telah berkhianat itu. Sedang di padukuhan yang lain, Kesatria Putih itu tidak mau membuka kerudung putihnya.

Karena itu, maka ia masih harus membuktikan kemampuannya bertempur dibantu oleh beberapa orang dalam pakaian prajurit pengawal. Hanya tiga orang. Tetapi yang empat orang itu adalah Mahisa Agni. Witantra, Kuda Sempana, dan Mahendra. Sedangkan Supa dan Raka, petugas sandi itu pun telah melibatkan dirinya pula di dalam penangkapan itu.

Tetapi tugas Supa agaknya lebih ringan dari tugas Raka. Supa kebetulan berada di padukuhan yang didatangi langsung oleh Anusapati sendiri, sehingga prajurit-prajurit yang menyamar itu tidak berani melakukan perlawanan apapun. Sedang Raka berada di padukuhan yang lain. Di mana Kesatria berkerudung putih itu tidak mau membuka kerudungnya, sehingga telah terjadi pertentangan di antara mereka. Sepuluh orang prajurit melawan Kesatria Putih dibantu oleh tiga orang pengawalnya, dan kemudian Raka, seorang petugas sandi yang tidak diambil dari lingkungan keprajuritan itu pun harus bertempur pula.

Demikianlah maka Kesatria Putih yang tidak membuka kerudungnya itu masih harus bertempur. Namun pertempuran itu tidak berlangsung lama. Meskipun tidak dikehendaki, tetapi terpaksa telah jatuh korban pula dari antara prajurit yang menyamar itu. Seorang terluka parah dan tiga orang terluka ringan. Seterusnya, tidak ada jalan lain bagi mereka kecuali menyerah.

Malam itu juga, mereka telah dibawa langsung ke istana. Di tempat yang sudah ditentukan maka kedua orang yang menyebut dirinya itu Kesatria Putih, telah bertemu. Mahisa Agni yang mendahului tawanannya, segera membuka pakaian putih dan kerudungnya tanpa setahu mereka.

Demikianlah, ketika mereka memasuki halaman istana, maka bagi para tawanan itu hanya ada seorang Kesatria Putih,yang diiringi oleh beberapa orang pengawal.

Namun tugas Kesatria Putih itu ternyata masih belum selesai. Setelah menyimpan tawannya maka ia pun harus menyelesaikan induk pasukan prajurit-prajurit yang menyamar itu. Ia harus menangkap perwira yang tertinggi di antara mereka yang bertanggung jawab atas pengkhianatan itu.

Demikianlah maka Anusapati dengan pasukan pengawalnya diikuti oleh Mahisa Agni segera berangkat untuk tugas yang cukup berat bagi mereka.

Anusapati sengaja tidak membawa para panglima, agar persoalan itu tidak menjadi semakin tersebar. Ia hanya membawa sepasukan pengawal yang tepercaya dan seorang senapati agung yang bertugas di Kediri, yaitu Mahisa Agni. Sedangkan Witantra, Mahendra dan Kuda Sempana mengikutinya dari kejauhan karena mereka bukan prajurit Singasari, agar kehadirannya tidak menimbulkan pertanyaan di antara para prajurit itu sendiri.

Demikianlah, dengan diam-diam sepasukan prajurit merayap di sepanjang jalan kota. Bahkan Anusapati telah membagi prajuritnya menjadi kelompok-kelompok kecil, agar tidak menimbulkan kegelisahan di antara rakyatnya.

Namun selain tidak menimbulkan kegelisahan di antara rakyat Singasari, maka kedatangan prajurit itu pun tidak segera diketahui oleh pasukan yang sudah dianggap berkhianat itu.

Tetapi bahwa kelompok-kelompok prajurit yang bertugas memancing pertentangan itu tidak segera kembali, maka perwira yang memimpin seluruh pasukan yang bertugas di daerah itu pun menjadi gelisah. Apalagi ketika waktu yang diperkirakan sudah jauh melampauinya.

Karena itu, maka dipanggilnya beberapa orang kepercayaannya untuk berbicara tentang pasukan yang mereka tunggu-tunggu itu.

“Seharusnya mereka sudah kembali,” desis perwira itu.

“Mungkin mereka menyingkirkan jejak.”

“Maksudmu orang yang diambilnya dari padukuhan itu?”

“Ya. Mereka harus melenyapkan bekas. Dalam hal ini mayat orang-orang yang mereka ambil.”

Perwira itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kemudian ia berkata “Tetapi waktunya sudah cukup.”

“Jadi, bagaimana maksudmu? “bertanya perwira yang lain.

“Perintahkan dua orang penghubung untuk melihat apakah yang sudah terjadi atas mereka.”

Demikianlah maka dua orang penghubung berkuda segera bersiap untuk berangkat. Mereka mendapat tugas untuk melihat, apabila perlu mencari prajurit-prajurit yang sedang bertugas itu.

Namun tanpa mereka ketahui, saat itu, pasukan Anusapati telah mengepung mereka rapat-rapat. Karena itu, ketika dua orang penghubung berkuda itu hilang di gelapnya malam untuk menunaikan tugas mereka, maka ternyata mereka untuk selamanya tidak akan pernah sampai ke tujuan dan tidak kembali ke pangkalan, karena mereka pun telah tertangkap oleh Anusapati.

Tetapi Anusapati tidak sempat bertanya kepada tawanan-tawanannya. Yang penting baginya adalah menangkap perwira itu. Perwira yang bertanggung jawab itu tentu mengetahui, apakah sebenarnya yang sedang mereka lakukan. Mereka tentu mengerti, siapakah sebenarnya yang berada di belakang tingkah para prajurit yang telah memberontak terhadap kemantapan pemerintahan Anusapati itu.

Prajurit-prajurit yang berada di dalam kepungan itu pun menjadi semakin gelisah. Prajuritnya yang dikirim lebih dahulu tidak juga kembali, sedang para penghubung pun sama sekali tidak memberikan berita apapun. Apalagi ketika mereka melihat cahaya yang kemerah-merahan telah membayang di langit sebelah timur.

“Hampir fajar,” desis perwira itu.

“Ya,” sahut yang lain, “apakah kita sudah diketahui oleh Tuanku Anusapati, bahwa kita berbuat salah.”

“He, sejak kapan kau menjadi seorang pengecut?”

“Bukan pengecut. Tetapi petugas sandi Tuanku Anusapati ternyata berserakan. Mungkin tingkah kita sudah diketahuinya. Mungkin ada petugas sandi di antara kita.”

Perwira itu menjadi tegang. Lalu, “Mustahil. Aku kenal anak buahku dengan baik. Seorang demi seorang.”

Perwira bawahannya itu tidak menyahut lagi. Tetapi ternyata bahwa wajahnya dicengkam oleh ketegangan. Bahkan kemudian ia pun melangkah pergi dengan kepala tertunduk.

Perwira yang memimpin pasukan yang sedang berusaha mengguncang pemerintahan Anusapati itu pun menjadi semakin gelisah ketika langit menjadi semakin merah. Apalagi kedua penghubungnya pun sama sekali tidak menampakkan dirinya.

Untuk menghilangkan kegelisahan di dalam dirinya dan di dalam pasukannya, maka ia pun kemudian memanggil beberapa orang perwira bawahannya dan memerintahkan mereka untuk bersiaga.

“Memang mungkin ada di antara kita yang berkhianat. Karena itu bersiaplah menghadapi segala kemungkinan,” perintah pemimpin itu.

“Apakah yang akan terjadi?” bertanya salah seorang dari mereka.

“Kita tidak tahu. Ternyata semuanya menjadi samar. Kitalah yang justru dihadapkan pada kebimbangan. Bukan orang-orang padukuhan itu.”

Perwira-perwira bawahan itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Nah, kembalilah kepada kelompok masing-masing. Kalian harus bersiaga menghadapi segala kemungkinan.”

Demikianlah prajurit yang gelisah itu mempersiapkan dirinya. Mereka tidak tahu apakah sebenarnya yang sedang mereka hadapi.

“Apakah kelompok-kelompok kecil itu telah terjebak,” desis seorang prajurit.

“Apakah tidak seorang pun berhasil lolos? Dan apakah mereka terjebak semuanya? Bukankah mereka bukannya pergi ke satu padukuhan? Seandainya padukuhan yang satu sempat menjebaknya, maka tentu yang lain tidak.”

“Siapa tahu. Kita berhadapan dengan orang-orang yang bersikap. Mungkin mereka benar-benar telah berkelahi sampai orang yang terakhir. Dan mungkin bahwa yang terakhir bagi kelompok yang telah kita kirim itu.”

“Mengerikan sekali. Apakah tidak sebaiknya kita pergi menyusul mereka?”

“Dan tidak kembali seperti mereka? Bukankah kita telah mengirimkan dua orang penghubung berkuda? Tetapi yang dua orang itu pun tidak kembali.”

“Langit menjadi semakin merah.”

“Sebentar lagi fajar akan naik.”

“Dan ada seribu kemungkinan dapat terjadi atas kita.”

Demikianlah para prajurit itu pun mencoba mengatasi kegelisahan dari mereka justru hanya mondar-mandir saja sambil mengacukan senjata di tangan.

Namun dalam pada itu, selagi mereka dengan gelisah menunggu tanpa mengetahui apa yang sedang mereka tunggu, barak itu telah dikejutkan oleh suara derap kaki kuda di kejauhan.

“Dua orang penghubung itu datang,” desis seorang prajurit.

“Ya. Mereka ternyata datang.”

Beberapa orang prajurit yang gelisah itu pun kemudian melangkah mendekati regol halaman barak mereka. Bahkan perwira pemimpin dari barak itu pun telah keluar dan memandang ke kejauhan. Namun mereka belum melihat sesuatu.

Baru sejenak kemudian mereka melihat bayangan dua orang penunggang kuda mendekat. Namun kedua penunggang kuda itu ternyata berhenti di luar halaman.

Dua orang penjaga regol halaman itu pun mendekatinya sambil bertanya, “Siapa?”

“Kami, utusan Tuanku Anusapati.”

Jawaban itu memang mengejutkan. Dan ternyata bahwa keduanya memang bukan penghubung yang telah mereka kirimkan keluar.

“Apakah maksudmu?” bertanya salah seorang dari kedua penjaga.

“Aku akan menemui pemimpinmu.”

“Apakah maksudmu? Kau belum menjawab.”

“Sudah. Aku akan menemui pemimpinmu. Itulah maksudku.”

Sebelum prajurit-prajurit yang bertugas di regol itu bertanya lagi, maka yang seorang dari kedua penunggang kuda itu menyambung, “Kami adalah utusan Tuanku Anusapati, Maharaja Singasari. Junjungan kami dan kalian. Kau terlampau kecil untuk mengetahui persoalan yang kami bawa untuk kami beri tahukan kepada pemimpinmu. Kau harus melihat pakaian kami dan tanda-tanda kebesaran yang ada pada kami. Meskipun fajar masih belum menyingsing, dan kalian masih belum melihat dengan jelas, tetapi sebagai seorang prajurit kalian harus segera dapat mengenal tanda kebesaran seorang prajurit. Aku adalah perwira utusan Tuanku Anusapati. Tugasmu membawa aku kepada pemimpinmu.”

Jawaban itu memang mendebarkan jantung. Prajurit yang bertugas di regol itu telah tertindih oleh wibawa kedua utusan Anusapati itu, sehingga mereka tidak segera dapat menyahut.

“Bawa mereka masuk!” perintah pemimpin mereka yang juga mendengar jawaban itu.

Kedua prajurit yang bertugas di regol itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian salah seorang dari mereka pun mempersilakan kedua orang berkuda itu masuk.

Tetapi ternyata bahwa kedua orang berkuda itu sama sekali tidak mau meloncat turun. Di muka pemimpin pasukan yang berada di barak, itu salah seorang berkata, “Aku adatah utusan Maharaja Anusapati, menyampaikan perintah, bahwa kalian harus meletakkan semua senjata dan mengikatnya menjadi satu.”

Perwira yang bertugas sebagai pemimpin pasukan di dalam barak itu menjadi berdebar-debar. Kini ia tahu, bahwa semua tingkah lakunya sudah diketahui oleh Anusapati. Bahkan Anusapati telah menjatuhkan perintah kepadanya untuk meletakkan senjata dan mengikatnya.

Untuk sesaat pemimpin pasukan itu termangu-mangu. Sebagai seorang prajurit, perintah itu mengandung wibawa yang tinggi, yang hampir tidak terlawan. Sebagai seorang senapati ia sadar, bahwa ingkar pada perintah adalah sama halnya dengan pemberontakan dan pengkhianatan. Tetapi ia juga menyadari bahwa ia memang sudah melakukannya. Dengan perbuatannya untuk memancing kekeruhan itu, sebenarnyalah ia memang sudah melawan pemerintahan Anusapati.

Perwira itu masih saja termangu-mangu. Terbayang kepadanya seorang yang dianggapnya akan dapat melindunginya jika pada suatu saat ia mengalami persoalan yang ternyata telah terjadi itu.

“Namun agaknya ia tidak akan dapat berbuat banyak,” berkata senapati itu di dalam hatinya, “ia hanya dapat menjanjikan pangkat yang tinggi apabila ia berhasil. Tetapi tentu di dalam keadaan serupa ini ia tidak akan dapat berbuat apa-apa. Kekuatan yang disusunnya sama sekali tidak berbentuk, sedang guncangan-guncangan yang dipersiapkan agaknya telah gagal pada tahap yang pertama.”

Karena senapati itu tidak segera menjawab, maka utusan Anusapati itu pun mengulanginya, “Apakah kau tidak mendengar perintah yang sudah aku ucapkan?”

Senapati itu mengerutkan keningnya. Lalu tiba-tiba ia menggeretakkan gigi sambil bertanya, “Apa sebabnya aku harus meletakkan senjata?”

“Kelak kau akan mendengar titah Tuanku Anusapati lebih lanjut.”

“Aku ingin mendengarnya sekarang.”

Kedua utusan itu termangu-mangu. Sejenak kemudian salah seorang dari mereka berkata, “Itu bukan tugas kami. Yang harus kami sampaikan adalah perintah itu. Letakkan senjata dan ikat menjadi satu. Kalian, prajurit-prajurit yang ada di barak ini serta yang berpencaran di dalam tugasnya di daerah ini, ternyata mereka telah dicengkam oleh pengaruh yang tidak dikehendaki. Penjelasan lebih lanjut akan kau dengar kelak. Dan tentu saja siapa yang tidak bersalah tidak akan disertakan di dalam setiap tuntutan. Tetapi siapa yang bertanggung jawab, maka ialah yang akan dihadapkan kepada hukuman yang sewajarnya.”

Perwira pemimpin pasukan yang sebenarnya memang telah ingkar akan tugasnya itu menjadi berdebar-debar. Darahnya serasa menjadi semakin cepat mengalir, seperti jantungnya yang semakin cepat berdetak.

Sebuah kesadaran telah merayapi hatinya, ia tidak akan dapat mengingkari tanggung jawabnya. Karena itu, maka apapun yang akan dilakukannya, maka ia tentu akan dihadapkan pada sebuah hukuman yang berat.

Itulah sebabnya maka ia tidak akan dapat mengambil pilihan lain. Dan kemungkinan yang hanya satu-satunya itulah yang justru telah membakar dadanya.

Dengan dada tengadah maka Senapati itu pun kemudian berkata lantang “Dengarlah! Aku adalah seorang perwira. Seorang perwira yang kini memegang jabatan Senapati di daerah ini, memimpin sepasukan prajurit yang dengan patuh menjalankan tugasnya. Tentu kami tidak akan dapat dijebak dengan keterangan-keterangan yang tidak masuk akal itu. Kehadiranku di sini pun adalah karena tugasku, karena limpahan perintah Tuanku Anusapati. Karena itu tidak setiap orang dapat berbuat sekehendak hatinya atas kami di sini hanya dengan sekedar menyebut dirinya utusan Tuanku Anusapati. Karena itu, kembalilah! Kami akan melanjutkan tugas kami sebaik-baiknya. Kami hanya akan tunduk kepada perwira atasan kami. Kepada senapati yang lebih tinggi di daerah ini. Tidak kepadamu. Kepada orang yang tidak aku kenal. Pakaianmu adalah pakaian pasukan pengawal. Namun kau sama sekali belum pernah aku lihat.”

Kedua prajurit berkuda itu memandang perwira yang menentang perintahnya itu dengan tajam. Lalu katanya, “Mungkin kau mengenal setiap perwira yang selalu bertugas di dalam istana Singasari. Tetapi kami berdua adalah perwira yang sudah bertahun-tahun bertugas di Kediri. Itulah sebabnya kita jarang sekali bertemu.”

“Kau perwira dari pasukan pengawal Kediri?”

“Bukan. Kami adalah pasukan pengawal Singasari yang bertugas di Kediri. Kau tentu mengetahui bahwa di Kediri ada wakil Mahkota yang kebetulan kini sedang berada di Singasari. Kami adalah pasukan pengawal yang bertugas mengawal Tuanku Mahisa Agni.”

“Persetan! Kenapa kalian yang harus datang kepadaku? Bukan perwira dari pasukan pengawal yang bertugas di Singasari?”

“Tidak ada bedanya. Dan di belakangku adalah pasukan segelar sepapan. Pasukan pengawal dan beberapa kelompok dari kesatuan-kesatuan yang lain. Jika tidak mengindahkan perintah ini, maka pasukan yang bersiap itu akan menyerbu memasuki barak ini. Dengan demikian tentu jatuh korban. Dan itu berarti bahwa kesalahanmu menjadi semakin berat di hadapan Tuanku Anusapati. Dan janji pangkat serta kedudukan yang akan kau terima apabila kau berhasil dengan usahamu itu, tidak akan pernah kau nikmati. Kau mengerti? Selanjutnya, kelak kau akan mendengar sendiri.”

“Persetan dengan kicau yang gila itu. Aku berpegang pada perintah atas pasukanku. Aku bertugas di sini atas kekuasaan Tuanku Anusapati,” jawab senapati itu.

Jawaban itu telah membuat kedua perwira utusan Anusapati itu menjadi marah. Salah seorang daripadanya berkata, “Jadi kau menolak perintahku atas nama Tuanku Anusapati, bahwa kau dan pasukanmu yang ada sekarang menyerah?”

“Aku tidak menolak perintah Tuanku Anusapati,” jawab senapati itu, “tetapi aku tidak kenal padamu. Dan kau telah memalsukan diri dengan menyebut dirimu utusan Anusapati, karena itu kalian berdua ada di bawah kekuasaan kami.”

“Maksudmu?”

“Kami menangkap kalian berdua. Kami akan membawa kalian menghadap Tuanku Anusapati. Jika kau menolak perintahku, maka kalian berdua akan mati di sini.”

“Itu adalah suatu perbuatan gila. Kami berdua adalah utusan Maharaja Singasari. Jika kau bertindak atas utusan maharaja maka kau akan mengalami nasib yang malang.”

“Aku tidak peduli terhadap alasanmu. Tetapi aku tidak mau melihat kekuasaan Tuanku Anusapati dinodai oleh perwira-perwira palsu seperti kalian berdua.”

“Tegasnya?” geram kedua perwira berkuda itu.

“Turun dari kudamu, dan serahkan kedua pergelangan tanganmu. Kau berdua akan aku seret di belakang kuda sampai ke istana Tuanku Anusapati.”

“Dan menyerahkan lehermu di tiang gantungan.”

“Seandainya demikian, maka hukuman gantung itu tidak akan dapat diulang dua tiga kali betapapun besar kesalahanku. Meskipun aku membunuh sepuluh atau lima belas orang perwira sekaligus, maka hukuman gantung itu hanya dapat dilakukan satu kali.”

“Jadi kau akui bahwa kau telah memberontak dan sadar bahwa kau akan menerima hukuman gantung.”

“Gila! Aku tidak berkata begitu. Tetapi aku akan menangkapmu. Cepat, turun dari kudamu dan menyerahkan kedua lenganmu. Kamu akan mengikat pergelangan tanganmu.”

Kedua perwira di atas punggung kuda itu termangu-mangu sejenak. Ketika mereka menengadahkan kepalanya, maka mereka melihat langit yang semakin merah.

Dalam pada itu tiba-tiba saja salah seorang dari kedua perwira itu berkata, “Kau memang bernasib buruk sekali. Tentu tidak seorang pun dari anak buahmu yang bersedia melakukan perintahmu untuk menangkap kami berdua. Siapa yang ikut melakukannya, maka mereka pun akan mengalami hukuman yang luar biasa beratnya. Bahkan mungkin bukan sekedar hukuman gantung, hukum picis.”

“Omong kosong!” perwira ku membentak. Lalu dengan lantang ia berkata “Dengar, aku akan memerintahkan anak buahku untuk menangkap kalian.”

“Dan perintahmu akan lenyap seperti teriakan seorang kelana di tengah-tengah padang pasir yang luas dan kering.”

“Aku akan membuktikan.”

“Dan menyeret mereka ke dalam hukuman yang paling parah? Kau memang terlampau kejam. Kenapa kau tidak berani bertanggung jawab atas kesalahanmu? Dan kau akan membawa anak buahmu ke dalam kesulitan? Mereka adalah orang-orang yang sebenarnya tidak banyak mengetahui tentang usahamu itu. Dan mereka adalah prajurit-prajurit yang baik. Baik sebagai prajurit, dan baik sebagai seorang laki-laki. Anak-anak mereka akan terkejut apabila mendengar berita bahwa ayahnya dihukum gantung, apalagi dihukum picis karena memberontak terhadap rajanya. Suatu perbuatan yang tidak pernah terpikir oleh anak-anak mereka dan istri-istri mereka yang menunggu mereka dengan setia di rumah.”

“Diam! Diam! Kau mencoba mempengaruhi kejantanan seorang prajurit.”

“Kejantanan bukan kebodohan. Bukan berarti pula pemberontakan.”

“Diam! Diam! Diam!”

“Aku tidak akan diam. Dengar perintahku. Menyerahlah! “

Senapati itu menjadi kehilangan akal. Perintah itu bagaikan berdesing terus-menerus di dalam telinganya, sehingga akhirnya ia berteriak untuk mengatasi suara yang seakan-akan selalu didengarnya itu, “Tangkap kedua orang yang mengaku dirinya utusan Tuanku Anusapati ini. Tangkap mereka karena mereka melakukan jabatan perwira Singasari.”

“Perintahmu tidak meyakinkan,” sahut salah seorang dari kedua perwira berkuda itu.

“Jangan dengarkan. Cepat, tangkap orang itu!”

Perintahnya menggelegar di seluruh halaman. Namun ternyata prajuritnya menjadi ragu-ragu. Pembicaraan senapati dengan kedua perwira berkuda itu telah membuat mereka men-jadi ragu-ragu, bahkan menjadi bingung.

“Tangkap keduanya!” perintah itu terdengar lagi menggema di seluruh halaman. Tetapi prajurit-prajurit itu masih tetap termangu-mangu. Bahkan di antara mereka ada yang benar-benar telah terkenang kepada keluarganya di rumah. Jika ia tidak kembali dan istrinya serta anak-anaknya mendengar bahwa ia tertangkap apalagi terbunuh karena memberontak, maka istrinya akan menangis sepanjang malam. Bahkan sepekan. Dan istrinya serta anaknya itu akan tersisih dari pergaulan, karena suaminya memberontak. Tetapi jika ia mati di peperangan untuk menegakkan Singasari, maka istrinya akan dihormati oleh kawan-kawannya dan tetangga-tetangganya.

Dalam keragu-raguan itu, para prajurit yang berada di halaman barak itu melihat kedua perwira berkuda itu menggerakkan kudanya sambil berkata, “Baiklah. Jika kau tidak mau menyerah, aku akan menyampaikannya kepada Tuanku Anusapati. Siapa yang menyesal harap meninggalkan barak yang akan segera dihancurkan ini.”

Para prajurit masih tetap ragu-ragu. Dan senapati yang memimpin mereka itu pun berteriak lebih keras lagi, “Tangkap keduanya.”

Tetapi tidak seorang pun yang bergerak. Mereka hanya memandang saja kedua ekor kuda itu berjalan menyusup regol halaman. Bahkan prajurit yang bertugas di regol itu pun dengan termangu-mangu memandang saja dua orang perwira yang lewat dengan duduk di atas punggung kuda.

“Gila! Tangkap keduanya! Keduanya akan berkhianat terhadap kalian. Yang hitam dikatakan putih dan yang putih dikatakan hitam. Apalagi kita bersama-sama telah membuat kesalahan. Maka melawan atau tidak melawan kita akan digantung. Kita adalah prajurit-prajurit jantan, yang lebih baik mati dengan pedang di tangan apapun alasannya daripada mati di tiang gantungan.”

Kata-kata itu pun ternyata berpengaruh juga terhadap prajurit-prajuritnya. Mereka menjadi semakin bimbang. Dan agaknya mereka pun kemudian sependapat, bahwa lebih baik mati dengan pedang di tangan apapun alasannya dari para mati di tiang gantungan.

Tetapi kesadaran itu datang terlambat. Mereka melihat senapatinya berlari-lari mengejar kedua perwira itu. Tetapi kuda itu sudah berderap semakin jauh, melesat seperti anak panah yang meloncat dari busurnya.

“Gila! Gila! Kalian sudah gila!” teriak pemimpin prajurit itu, “kita sudah kehilangan mereka. Kita tidak tahu siapakah mereka berdua itu. Mungkin mereka berdua benar-benar perwira pasukan pengawal yang selama ini bertugas di Kediri yang sudah mendengar beberapa masalah tentang kita di sini. Tetapi mungkin justru mereka adalah orang yang sedang kita pancing, dan kini sedang memancing kita. Namun yang hampir dapat kita pastikan adalah usaha kita tentu gagal. Dan tidak ada cara lain daripada mempertahankan hidup ini dengan pedang.”

Beberapa orang prajurit menjadi ragu-ragu.

“Aku tahu bahwa kalian ragu-ragu. Memang kita tidak akan dapat melawan segenap prajurit Singasari. Tetapi Singasari tidak sesempit daun kelor. Kita dapat melarikan diri hidup di tempat yang tidak akan terjangkau oleh prajurit-prajurit Singasari dan bahkan prajurit sandi sekalipun.”

Prajurit-prajurit tidak menjawab. Tetapi hampir bersamaan timbul pertanyaan di dalam hati, “Lalu bagaimana dengan keluarga kita?”

Meskipun pertanyaan itu tidak diucapkan namun senapati itu agaknya dapat menangkap maksud mereka. Maka katanya, “Kalian tentu mempersoalkan keluarga kalian. Biarlah mereka hidup dengan usaha mereka sendiri untuk beberapa lamanya. Prajurit Singasari tentu tidak akan mengganggu mereka. Pada saatnya, jika persoalan kita sudah dilupakan orang, kita akan datang menjemput mereka dan membawa ke tempat yang baru. Tetapi jika ada di antara mereka yang berkhianat dan kawin dengan orang lain, maka kita akan melupakan mereka.”

Prajurit-prajurit itu menjadi termangu-mangu. Dan pemimpinnya berkata selanjutnya, “Kita masih ada waktu. Aku akan pergi sekarang sebelum pasukan Singasari benar-benar datang. Jika tidak datang pun aku tidak akan kembali ke dalam lingkungan kesatuanku.”

Pemimpin prajurit itu segera melangkah memasuki baraknya dan mengambil beberapa benda yang terpenting saja. Sebilah keris, selain pedangnya yang sudah tergantung di lambung.

Namun prajuritnya masih saja termangu-mangu di tempatnya. Ketika senapati itu keluar dari baraknya maka ia pun berteriak, “Jangan berbuat bodoh! Kita adalah prajurit dan kita adalah laki-laki.”

Beberapa orang prajurit seakan-akan menyadari kejantanan dan harga dirinya. Memang mereka tidak ingin di giring ke alun-alun dan digantung berderet-deret. Karena itu, maka beberapa orang di antara mereka pun segera mulai bergerak diikuti oleh kawan-kawannya.

Sekelompok prajurit itu telah mengambil barang-barang yang paling berharga. Sebagian terbesar adalah pusaka-pusaka mereka. Kemudian mereka pun siap untuk meninggalkan barak itu.

Tetapi di samping mereka, ada juga prajurit-prajurit yang tidak beranjak dari tempatnya. Mereka lebih baik pasrah diri daripada menjadi manusia buruan yang terpisah dari sanak keluarga. Mereka yakin bahwa pimpinan pemerintahan di Singasari bukannya orang-orang yang haus darah dan mendambakan dendam di dalam hati. Sehingga karena itu, mereka tetap tidak mau pergi.

“Jangan pedulikan prajurit-prajurit itu!” teriak senapati itu, “Sekarang kita pergi. Semakin cepat semakin baik. Jika kita harus bertemu dengan pasukan Singasari, maka kita akan bertempur. Tujuan kita jelas, meloloskan diri dari tangan mereka. Kita tidak mau menjadi tontonan di alun-alun dan mungkin diperas untuk mengatakan siapakah orang yang ada di belakang kita. Mungkin perut kita akan dijepit atau tulang jari-jari kita diremukkan sekedar untuk mengaku, untuk mengatakan yang kita tidak mengetahui.”

Dengan demikian maka sebagian dari pasukan itu pun meninggalkan barak. Sebuah iring-iringan yang dengan tergesa-gesa menghindarkan diri dari kemungkinan yang mengerikan, tertangkap oleh pasukan Singasari selagi mereka melakukan pengkhianatan.

Sepeninggal pasukan yang menyingkirkan diri itu, para prajurit yang akan menyerah itu pun berkumpul di halaman. Seorang perwira rendahan segera maju ke depan sambil berkata, “Kita akan mengumpulkan senjata kita. Kita menyerah. Agaknya kita selama ini telah terseret oleh arus yang tidak kita ke-tahui arahnya.”

Prajurit-prajurit itu menganggukkan kepalanya. Seorang demi seorang telah melemparkan senjata mereka di dalam sebuah timbunan di tengah-tengah halaman.

Belum lagi mereka selesai, maka terdengar derap beberapa ekor kuda berlari-lari menuju ke barak itu. Bukan hanya satu dua ekor, tetapi pasukan berkuda meskipun tidak terlampau banyak.

Prajurit berkuda itu langsung memasuki halaman. Mereka melingkar di halaman dan sebagian yang lain di luar. Seorang perwira maju sambil berkata, “Kalian telah memilih sikap yang bijaksana. Agaknya kalian menyadari bahwa selama ini kalian telah salah jalan.”

Salah seorang dari para prajurit yang menyerah itu pun menjawab “Ya, kami telah menyerah.”

“Di mana senapatimu?”

“Meninggalkan barak ini bersama sekelompok prajurit. Mereka tidak ingin menyerahkan diri. Mereka ingin meninggalkan Singasari.”

Perwira prajurit berkuda itu tertawa. Katanya, “Tempat ini sudah terkepung rapat. Tidak seorang pun akan dapat lolos. Ke mana mereka pergi?”

Prajurit itu menunjukkan arah ke mana senapatinya pergi dengan sekelompok prajurit.

“Mereka akan terjebak. Tetapi biarlah mereka menjadi urusan kelompok yang lain. Sekarang, marilah, kalian yang menyerahkan diri memasuki barak ini dan tinggal di dalam untuk beberapa lamanya, sehingga kami akan memberikan perintah lain. Bagi kalian tentu akan ada perhitungan lain dengan mereka yang melarikan diri dan keras hati untuk melawan kekuasaan Tuanku Anusapati.”

Prajurit-prajurit yang menyerah itu pun kemudian masuk ke dalam barak mereka dengan meninggalkan senjata mereka di halaman.

Beberapa orang prajurit berkuda mengawasi mereka di seputar halaman depan dan belakang, sedang yang lain pun segera menyusul ke arah senapati itu melarikan diri.

Dalam pada itu, senapati yang melarikan diri bersama sekelompok prajuritnya itu, ternyata tidak mengambil jalan raya. Mereka turun ke sawah dan melintasi pematang menjauhi barak mereka. Senapati itu berharap bahwa mereka dapat melepaskan diri dari pengawasan para prajurit.

Tetapi para prajurit berkuda itu segera menemukan jejak mereka, ketika seorang petani yang tidak tahu menahu persoalannya menunjukkannya kepada prajurit berkuda itu, bahwa sekelompok prajurit yang lain telah melintasi bulak lewat jalan melintas, melalui pematang.

Namun sebenarnyalah bahwa barak itu sudah terkepung. Di setiap padukuhan di sekeliling barak itu telah di tempatkan sepasukan kecil prajurit. Sedang sepasukan berkuda akan selalu mondar-mandir di antara padukuhan-padukuhan itu untuk membantu prajurit-prajurit yang harus bertempur melawan pasukan yang melarikan diri itu.

Dalam pada itu, pasukan yang berada di sebuah padukuhan yang langsung menjadi arah senapati dan pasukannya itu pun telah melihat pasukan itu mendatangi lewat pematang. Karena itu, maka mereka pun segera mempersiapkan diri. Seorang penghubung berkuda segera menghubungi padukuhan di sekitarnya untuk menarik prajurit yang ada di padukuhan itu meskipun masih ada beberapa orang yang harus tinggal untuk selalu mengawasi keadaan.

Semakin lama prajurit yang melintasi pematang itu menjadi semakin dekat dengan sebuah padukuhan di depan mereka. Prajurit-prajurit itu sama sekali tidak menduga, bahwa di padukuhan di hadapan mereka telah menunggu sekelompok prajurit untuk menangkap mereka.

Namun, ternyata bahwa prajurit-prajurit itu sudah hampir kehilangan akal sama sekali. Oleh putus asa dan merasa bersalah, maka mereka adalah orang-orang yang sangat berbahaya, karena mereka tidak lagi mempunyai tujuan dari perjuangan mereka, selain menyelamatkan diri atau hancur bersama-sama dengan lawan.

Prajurit-prajurit itu maju dalam tiga iringan di tiga deret pematang. Seakan-akan mereka telah menyiapkan diri untuk menyerang dalam gelar perang yang khusus. Seakan-akan deretan yang di tengah itu akan segera berubah menjadi paruh dan tubuh gelar perang, sedang sebelah menyebelah akan menjadi sayap kiri dan sayap kanan.

Dalam pada itu, dengan tergesa-gesa beberapa orang prajurit yang mendapat pemberitahuan tentang pasukan itu pun segera pergi ke padukuhan yang dituju oleh prajurit-prajurit yang melarikan diri itu. Namun sebelum mereka sampai, maka beberapa orang berkuda telah pergi lebih dahulu untuk menambah sekedar kekuatan selama beberapa saat mereka menunggu kedatangan prajurit-prajurit yang lebih kuat.

“Ternyata jumlah mereka cukup banyak,” desis seorang perwira yang memimpin para prajurit Singasari di padukuhan itu.

“Mereka lebih banyak dari prajurit yang ada di sini.”

“Sebentar lagi pasukan dari padukuhan sebelah itu akan datang, sementara kita bertahan di batas dinding padukuhan ini.”

“Bagaimana jika mereka melarikan diri, kembali ke bulak?” bertanya salah seorang prajurit.

“Kita akan mengejar mereka dan menangkap mereka. Tidak seorang pun dari mereka boleh lolos.”

“Dengan jumlah yang ada, tugas itu terlampau sulit.”

“Sudah aku katakan. Akan segera datang pasukan dari padukuhan sebelah menyebelah. Jika telah terjadi pertempuran, maka akan segera naik beberapa buah panah sendaren yang akan memberikan kabar kepada padukuhan-padukuhan yang agak jauh. Sementara itu kita dapat menahan mereka dalam pertempuran. Pasukan dari padukuhan yang agak jauh itu akan maju dan akan menjadi gelang yang rapat.”

Prajurit itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia agaknya kurang yakin akan ketepatan waktu meskipun sudah diperhitungkan baik-baik. Namun demikian, perintah itu memang berbunyi, ‘Jangan ada seorang pun yang lolos!’.

Tetapi setiap prajurit kini seakan-akan mengakui di dalam hati, bahwa kesatuan yang diikutsertakan di dalam tugas ini terlampau sedikit. Mereka menyadari, bahwa Anusapati yang memimpin langsung penangkapan prajurit-prajurit yang telah memberontak ini tidak ingin mengganggu keamanan Singasari dengan kegelisahan, jika ia menggerakkan pasukan yang besar. Tetapi ternyata bahwa ketika mereka berada di medan, pasukan yang ada telah terbagi menjadi kelompok-kelompok yang terlalu kecil untuk menahan gerakan pasukan yang cukup besar, meskipun menurut perhitungan mereka, pasukan-pasukan yang kecil itu akan dapat dengan cepat dihimpun jika arah gerak lawan sudah mereka ketahui dengan pasti.

Dan kini, arah gerak itu bukan saja sudah diketahui, tetapi pasukan itu sudah berada di depan hidung mereka.

Pasukan di dalam padukuhan itu pun telah bersiap menghadapi segala kemungkinan. Senjata mereka telah menjadi telanjang, dan bahkan seakan-akan para prajurit itu pun telah menahan nafas menyongsong kedatangan kawan-kawan mereka yang telah sesat jalan.

Dalam pada itu, dari balik dinding padukuhan, seorang perwira meloncat ke atas dinding batu padukuhan itu sambil berteriak, “Berhenti di situ!”

Kehadiran perwira yang tiba-tiba saja itu telah mengejutkan para prajurit yang sedang berusaha melarikan diri itu, sehingga dengan serta-merta mereka pun berhenti.

“Nah, dengarlah. Kalian telah terkepung. Kami mengerti bahwa kalian sedang dalam usaha untuk melarikan diri. Tetapi itu tidak ada gunanya.”

Sapa itu benar-benar telah mendebarkan jantung. Senapati pasukan yang berusaha melarikan diri itu tercengang sejenak. Namun ia tidak berhasil mengetahui berapa prajurit yang bersembunyi di balik dinding batu padukuhan di hadapannya itu.

“Lebih baik kalian menyerah,” perintah perwira di atas dinding batu itu.

“Persetan!” geram senapati itu, “kau hanya seorang diri. Bagaimana mungkin kau memerintahkan kami untuk menyerah?”

“Aku tidak gila. Karena itu aku tidak berada di sini seorang diri menghadang perjalananmu. Menyerahlah!”

“Jangan halangi kami. Kami mempunyai tugas tertentu. Minggirlah agar kalian tidak menyesal. Kami sedang mengejar perampok yang baru saja mengacaukan padukuhan-padukuhan di sekitar daerah tanggung jawabku.”

“Jangan mimpi. Kami sudah mengetahui yang kalian lakukan.”

“Kami akan lewat. Jangan ganggu kami!” teriak senapati yang marah itu.

Perwira yang ada di atas dinding batu itu terdiam sejenak. Dipandanginya prajurit-prajurit yang akan melarikan diri itu. Dari sikap mereka, tampaknya betapa mereka dicengkam oleh perasaan putus asa. Dan sikap yang demikian itu akan menjadi sangat berbahaya. Mereka akan menjadi buas dan liar. Bagi sekelompok prajurit yang kehilangan nilai-nilai perjuangannya dan kehilangan harapan untuk dapat hidup terus, maka mereka akan berbuat apa saja untuk melepaskan diri, atau untuk mati bersama-sama dengan korban yang sebanyak-banyaknya.

Karena itu, maka perwira yang berdiri di dinding batu itu kemudian berkata “Menyerahlah! Kami akan memperlakukan kalian dengan baik. Kami bukannya prajurit-prajurit yang tidak mempunyai ketentuan hukum sehingga bertindak atas kehendak kami masing-masing. Kalian adalah prajurit-prajurit seperti kami, sehingga kalian pun tentu mengerti, apa yang akan kami lakukan terhadap prajurit-prajurit yang sudah menyerah. Terhadap lawan pun kami tidak akan memperlakukan sewenang-wenang. Apalagi terhadap kawan-kawan sendiri yang kami anggap sedang disaput oleh kegelapan dan lupa diri. Pada saatnya kalian akan menjadi sadar kembali.”

“Ya, kami akan menjadi sadar kembali setelah berdiri di bawah riang gantungan,” teriak senapati, “Tidak! Kami tidak mau. Kami akan tetap mempertahankan kemerdekaan.”

“Jangan bodoh!”

Senapati itu mengerutkan keningnya. Lalu, “Mari kawan-kawan kita menerobos pasukan yang tipis ini. Jika mereka merintangi bukan salah kita jika kita telah membunuh mereka.”

“Tunggu!” perwira itu masih berusaha untuk memperpanjang waktu agar pasukan dari padukuhan sebelah menyebelah yang akan datang sudah berada di tempat, “Aku masih akan berbicara sebagai kawan di dalam lingkungan keprajuritan. Kami memang bukan dari pasukan pengawal. Kami adalah prajurit dari kesatuan tempur di Singasari. Memang sebagian kecil di antara kami adalah perwira dari pasukan pengawal. Tetapi kami mengerti apa yang harus kami lakukan terhadap kawan-kawan kami. Adalah salah jika kalian menganggap bahwa karena kami dari pasukan tempur kami akan melakukan kasar terhadap kalian.”

“Persetan! Bagi kami, kalian tidak ada bedanya. Pasukan pengawal, pasukan tempur, pasukan pengaman dan pasukan apa saja. Kami adalah prajurit-prajurit yang terlatih di dalam medan yang betapapun berat. Itulah sebabnya kami memperingatkan sekali lagi, minggir atau kami akan menggilas kalian.”

Perwira yang berdiri di dinding batu itu tidak sempat menyambut lagi ketika senapati itu mengangkat pedangnya di tangan kanan dan kerisnya di tangan kiri sambil meneriakkan aba-aba.

“Kita ingin tetap mempertahankan kebebasan kita. Cepat, sebelum mereka memanggil pasukan bantuan.”

Senapati itu segera meloncat berlari diikuti oleh prajurit-prajuritnya yang sudah tidak dapat berpikir lagi. Mereka pun segera mengacu-acukan senjata mereka sambil berteriak tidak menentu.

“Hati-hatilah!” desis seorang pemimpin kelompok kepada anak buahnya, “kita berhadapan dengan orang-orang gila.”

Demikianlah maka serangan itu datang seperti banjir. Bahkan mereka tidak lagi berlari-lari di pematang, tetapi sebagian mereka telah terjun ke dalam sawah berlumpur.

Dengan demikian maka yang datang itu seolah-olah adalah sebuah gelar perang yang telah disusun. Senapati itu memimpin induk pasukan yang ada di tengah, seakan-akan sebuah tubuh dari gelar yang mantap, sedang sebelah menyebelah adalah sayap-sayap yang dengan derasnya melanda dinding pasukan itu.

Dalam pada itu, prajurit-prajurit yang ada di dalam padukuhan itu pun telah bersiaga sepenuhnya. Meskipun jumlah mereka lebih sedikit karena pasukan bantuan itu belum juga datang, namun mereka dapat mempergunakan dinding batu itu sebagai penahan arus banjir bandang yang melanda mereka.

Prajurit-prajurit yang telah memberontak itu seakan-akan telah kehilangan perhitungan. Mereka berloncatan ke atas dinding batu padukuhan itu, dan tanpa perhitungan terjun ke dalam. Namun sebagian dari mereka ternyata tidak pernah mengalami pertempuran berikutnya, karena demikian mereka meloncat turun, maka ujung tombak lawannya telah menembus lambung. Namun sebagian dari mereka berhasil menghalaukan senjata-senjata lawan dan dengan garangnya menyerang membabi buta’

Pertempuran yang terjadi kemudian adalah perang yang bercampur baur. Hanya ciri yang khusus sajalah dapat membedakan mereka.

Seandainya pertempuran itu terjadi selagi matahari masih belum mulai menampakkan dirinya di ufuk timur, maka prajurit-prajurit itu akan mengalami kesulitan untuk membedakan kawan dan lawan. Namun agaknya kini mereka sempat memperhatikan ciri-ciri khusus dari kesatuan masing-masing.

Ternyata bahwa prajurit-prajurit yang kehilangan pegangan itu bertempur tanpa menghiraukan nilai-nilai keprajuritan lagi. Mereka bertempur dengan hati dan mata yang gelap, sehingga tingkah laku dan sikap mereka menjadi liar.

Namun dengan demikian untuk beberapa saat kemudian mereka justru berhasil mendesak lawannya yang bertahan di bagian dalam dinding batu itu. Agaknya mereka masih harus berpikir berulang kali untuk melawan prajurit-prajurit yang bagaikan menjadi liar itu dengan cara yang sama, karena mereka ternyata masih cukup menyadari nilai-nilai keprajuritan mereka

Tetapi ketika mereka terdesak semakin jauh, dan bahkan senjata lawannya yang liar itu menjadi semakin berbahaya, maka mereka mulai berubah. Lambat laun, mereka pun telah terdorong pula untuk bertempur dengan kasar, karena hanya dengan demikian mereka akan berhasil mempertahankan garis pertempuran itu dan bahkan mempertahankan nyawa mereka.

Meskipun demikian, bagaimanapun juga pengaruh keadaan mereka sangat berbeda. Karena itulah maka mereka pun tidak akan sampai hati untuk berbuat sekasar pasukan yang menyerang mereka itu.

Dalam pada itu, ternyata prajurit yang berada di padukuhan itu semakin lama semakin mengalami kesulitan. Lawannya semakin mendesak tanpa menghiraukan apapun juga, sehingga perkelahian itu menjadi semakin dalam masuk ke dalam padukuhan. Dengan demikian maka rakyat padukuhan itu pun menjadi kacau. Meskipun sejak semula perempuan dan anak-anak telah disingkirkan menjauh, namun karena perkelahian itu masuk semakin dalam, maka kegelisahan pun menjalar sampai ke ujung padukuhan.

Beberapa orang laki-laki yang semula masih tetap tinggal di rumah masing-masing pun terpaksa menyingkir. Mereka tidak berani ikut terjun di dalam perkelahian yang kisruh itu.

Dalam kesulitan itulah maka telah terdengar derap kaki kuda meskipun tidak begitu banyak. Ternyata penghubung berkuda yang memberitahukan kedatangan pasukan lawan itu telah kembali bersama penghubung-penghubung berkuda yang segera dapat memberikan sedikit bantuan.

Mereka pun segera berloncatan turun dari kuda masing-masing. Dengan tergesa-gesa mereka pun segera menerjunkan diri ke dalam pertempuran itu, setelah mereka melepaskan panah-panah sendaren untuk memberikan isyarat bahwa pertempuran telah menjadi semakin sengit, sehingga perlu dikirimkan bantuan lebih cepat lagi.....

Bersambung.....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...