BARA DI ATAS SINGGASANA : JILID-24-01
“Anusapati,” kata ibunya kemudian dengan suara serak, “jangan bertanya begitu. Aku tak dapat memberikan penjelasan yang bisa kau terima dengan akal. Tetapi sebenarnyalah bahwa kadang-kadang kau sudah dipengaruhi oleh angan-anganmu sendiri, sehingga yang terjadi itu seakan-akan menjadi kian tajam di dalam angan-anganmu. Mungkin memang ada perbuatan yang dapat melukai hatimu. Tetapi kau sendiri mengorek luka itu sehingga menjadi semakin parah.”
“Ibunda,” kata Anusapati kemudian, “hamba adalah orang yang sudah harus mengekang perasaan sejak hamba menyadari keadaan hamba. Hamba telah biasa dengan bentakan-bentakan dan sindirian-sindirian tajam dari Ayahanda Sri Rajasa dan dari Adinda Tohjaya, bahkan dari ibunda Ken Umang. Tetapi hamba tidak pernah memperdalam luka di hati. Hamba selalu berusaha melupakannya, dan kadang-kadang hamba berhasil apabila hamba bermain-main bersama paman Mahisa Agni. Dan bahkan permainan itu berkembang menjadi permainan yang bermanfaat bagi diri hamba, sampai hamba menjadi dewasa. Dengan demikian ibunda, hamba menganggap bahwa diri hamba tidak berkhayal lagi, atau sengaja mengorek luka dihati. Hamba sudah cukup mengalami tekanan lahir dan batin tanpa menambah dan memperdalamnya.”
“Anusapati,” suara Ken Dedes menjadi sangat dalam.
“Ibunda,” berkata Anusapati, “bukan maksud hamba melukai hati ibunda. Tetapi hamba sekarang sudah dewasa. Barangkali ada hal-hal yang tidak boleh didengar oleh anak-anak tentang diri hamba. Tetapi sekarang, barangkali hamba sudah bukan kanak-anak lagi, sehingga hamba pasti akan boleh mendengarnya.”
“Tidak ada apa-apa Anusapati. Tidak ada apa-apa. Kau adalah seperti kau yang kau mengerti dan kau hayati sekarang. Tidak ada sesuatu yang tersembunyi dan tidak ada sesuatu yang rahasia.”
“Ibunda,” berkata Anusapati, “jika demikian, kenapa sikap ayahanda jauh berbeda dari sikap ayahanda terhadap adik-adik hamba. Mungkin ada juga kelebihan pada Tohjaya dari adik-adik hamba yang lain, tetapi sikap Ayahanda Sri Rajasa adalah sangat berbeda atas diri hamba dari adik-adik hamba yang lain, baik yang lahir dari ibunda Permaisuri, apalagi dari ibunda Ken Umang, sehingga kadang-kadang timbul pertanyaan di hati hamba, apakah bedanya hamba ini dengan adik-adik hamba yang lain?”
Ken Dedes menjadi semakin pucat. Pertanyaan-pertanyaan itu bagaikan bayangan yang sangat menakutkan, siap untuk menerkamnya.
Sejak Anusapati masih kanak-anak, Ken Dedes sudah mencemaskan pertanyaan serupa itu. Bahkan ia pernah mendengarnya selagi Anusapati masih terlalu muda. Namun pada saat itu ia masih berhasil membujuknya dan mencoba menenangkan hatinya. Namun kini Anusapati yang sudah dewasa itu pasti mempunyai tanggapan yang lain dari tanggapannya di masa ia masih terlalu muda.
Karena itu Ken Dedes terdiam sejenak. Dipandanginya saja wajah anaknya yang semakin lama menjadi semakin tunduk.
“Ibu,” suara Anusapati menjadi bergetar, “kenapa ibunda tidak mau memberi jawaban atas pertanyaan hamba?”
“Aku tidak mengerti, bagaimana aku harus menjawab Anusapati,” berkata ibunya kemudian, “aku sudah mencoba memberikan penjelasan kepadamu. Tetapi kau merasa bahwa ada sesuatu yang aku sembunyikan. Namun aku sendiri tidak mengerti, apa yang kau anggap aku sembunyikan itu.”
“Ibunda,” desis Anusapati kemudian, “apakah yang dapat hamba katakan tentang diri hamba sendiri. Tetapi hamba tidak dapat menyembunyikan kenyataan yang berlaku atas diri hamba. Mungkin hamba tidak lagi dapat membedakan, manakah yang sebenarnya terjadi, dan manakah yang sebenarnya sekedar khayalan hamba sendiri.”
“Anusapati,” suara Ken Dedes menjadi parau. Terasa kerongkongannya menjadi terlampau kering.
Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerutkan keningnya ketika ia sadar, bahwa ibunya mulai menangis.
“Maafkan ibunda,” berkata Anusapati kemudian, “bukan maksud hamba menyakiti hati ibunda. Hamba merasa bahwa setiap kali hamba mohon penjelasan atas diri hamba, ibunda selalu menitikkan air mata, sehingga bahkan pertanyaan dihati hamba itu rasa-rasanya menjadi semakin lama semakin dalam. Tetapi jika ibunda tidak berkenan, maka biarlah hamba tidak bertanya lagi untuk sementara, selagi hamba masih dapat bertahan.”
“Anusapati,” suara Ken Dedes hampir hilang ditelan oleh sedu sedannya.
Anusapati tidak menjawab.
Sejenak keduanya saling berdiam diri. Yang terdengar hanyalah sedu sedan Permaisuri dari Maharaja yang Agung di Singasari, karena pertanyaan puteranya tentang dirinya sendiri.
Tetapi Anusapati tidak mendesaknya lagi. Ia sadar, bahwa hati ibunya menjadi pedih karenanya. Dan ia tidak sampai hati untuk semakin menyakiti hati yang memang sedang luka itu.
Karena itu untuk beberapa saat keduanya saling berdiam diri. Anusapati duduk dengan kepala tunduk, sedang ibunya sibuk mengusap air matanya. Ia sadar, bahwa baru saja ia menegur anaknya yang menangis, tetapi ia sendiri kini tidak dapat lagi mempertahankan air matanya.
“Ibu,” berkata Anusapati sejenak kemudian, “hamba ingin mohon diri. Hamba minta maaf bahwa hamba telah mengganggu ketenangan ibunda. Mungkin hamba memang terlalu banyak berkhayal, sehingga hamba seakan-akan hidup dalam dua dunia yang bercampur baur.”
Ken Dedes tidak menyahut. Bahkan diraihnya lengan anaknya dan ditariknya mendekat. Seperti Anusapati masih kanak-anak dipeluknya kepala anak itu di dadanya. Setitik-titik air matanya menetes membasahi rambut anak muda itu.
Baru sejenak kemudian Permaisuri itu melepaskannya dan berkata, “Hati-hatilah Anusapati. Mungkin kau benar-benar berada dalam kesulitan lahir dan batin. Tetapi sampai saat ini aku tidak dapat menolongmu, karena aku tidak tahu apa yang harus aku katakan kepadamu dan menjawab pertanyaan-pertanyaanmu.”
“Sudahlah ibu. Hamba akan menyimpan pertanyaan-pertanyaan itu kembali. Hamba akan mencoba mencari, apakah hamba memang seorang pemimpi yang murung.”
Demikianlah Anusapati-pun kemudian meninggalkan ibunya. Langkah serasa ringan dan bahkan seakan-akan tidak berjejak di atas tanah, sehingga tubuhnya menjadi goyah.
Dalam keadaan yang demikian, terasa hatinya yang pahit menjadi semakin pahit. Karena itu maka ia tidak langsung kembali ke bangsalnya. Ia tidak mau memberikan kesan yang suram kepada isterinya, yang masih saja merasa orang asing di istana Singasari.
Hampir tidak disadarinya, maka Anusapati-pun menjumpai Sumekar yang duduk di regol taman seorang diri. Tanpa menarik perhatian orang lain, maka keduanya-pun berbicara tentang luka yang rasa-rasanya semakin parah didalam dada Anusapati.
“Tuanku,” berkata Sumekar, “apakah yang dapat hamba lakukan saat ini? Apakah hamba harus pergi ke Kediri dan mengatakannya kepada kakang Mahisa Agni.”
“Apakah kau sudah dapat menemui paman Witantra atau paman Kuda Sempana?”
“Hamba sudah berpesan,” sahut Sumekar, “tetapi jika perlu, untuk meyakinkan diri, hamba bersedia pergi ke Kediri.”
Tetapi Anusapati menggelengkan kepalanya. Katanya, “Jika paman Witantra, Kuda Sempana atau Mahendra sudah mendengar, maka paman Mahisa Agni tentu akan memikirkan. Mungkin ia baru sibuk sehingga paman Mahisa Agni belum dapat datang ke Singasari.”
“Tetapi persoalan tuanku tidak boleh tertunda-tunda lagi. Pamanda tuanku harus segera mengetahui dengan pasti. Agaknya Ayahanda Sri Rajasa telah terpengaruh untuk melakukan tindakan yang segera pula terhadap tuanku. Hamba tentu tidak tahu, tindakan apakah yang akan dilakukannya. Mudah-mudahan tidak akan melepaskan tuanku dari kedudukan tuanku yang sekarang hanya karena tuanku Sri Rajasa ingin menyerahkannya kepada tuanku Tohjaya.”
“Jadi apakah yang sebaiknya aku lakukan paman? Menemui Pamanda Mahisa Agni?”
“Secepatnya. Tetapi dalam keadaan seperti ini, kedatangan Pamanda Mahisa Agni dapat menimbulkan tafsiran yang berbahaya.”
“Jadi bagaimana menurut paman?”
“Pertemuan itu dapat diatur. Tidak perlu di istana ini, agar Sri Rajasa tidak mengambil langkah-langkah untuk mengatasi rencana yang tentu disangkanya tuanku susun bersama pamanda tuanku itu.”
“Baiklah paman, aku serahkan paman Sumekar untuk mengaturnya. Mungkin paman dapat menjumpai salah seorang kawan-kawan paman Mahisa Agni itu.”
Demikian Sumekar berusaha untuk menghubungi Mahisa Agni lewat kawan-kawan Mahisa Agni, sehingga akhirnya, mereka-pun telah menentukan hari-hari yang dapat mempertemukan Mahisa Agni dan Anusapati di luar istana, agar tidak menimbulkan kecurigaan Sri Rajasa.
Seperti Ken Dedes, Mahisa Agni-pun menjadi bingung. Tetapi sudah tentu ia tidak berani mendahului ibu Anusapati itu sendiri sebelum ia mendapat ijinnya. Bahkan, yang sebaik-baiknya hal itu diucapkan oleh Ken Dedes sendiri, dengan permintaan, agar Anusapati dapat mengekang dirinya.
Tetapi keadaan itu agaknya sudah menjadi terlalu parah. Jika Anusapati mengetahui, bahwa Sri Rajasa itu bukan ayahnya sendiri, maka sikapnya-pun pasti akan segera berbeda dan bahkan mungkin akan dapat menimbulkan tindakan-akan yang lebih langsung.
Sekilas Mahisa Agni terkenang akan trisulanya yang telah diberikannya kepada Anusapati. Jika perlu trisula itu akan dapat dipergunakannya.
“Jika perlu,” desis Mahisa Agni didalam hatinya, namun sebenarnyalah ia tidak ingin suatu tindakan kekerasan dilakukan. Kecuali untuk mempertahankan diri, Mahisa Agni tidak sependapat bahwa trisula itu dipergunakan. Tetapi mempertahankan diri bagi Anusapati adalah suatu tindakan yang memang mungkin sekali harus dilakukan.
“Jadi apakah yang dapat aku lakukan paman?”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Aku ingin mendapat kesempatan berjumpa dengan ibundamu.”
Anusapati mengerutkan keningnya. Namun kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berkata, “Pamanda memang sebaiknya bertemu dengan ibunda. Jika aku menghadap ibunda, maka ibunda selalu menangis dan akhirnya aku tidak pernah mendapat keterangan apa-pun tentang diriku, karena aku tidak akan dapat memaksanya untuk berbicara. Aku tidak sampai hati melihat ibunda bersedih, meskipun aku sendiri selalu bersedih.”
“Baiklah Anusapati. Aku akan segera mencari kesempatan. Sebaiknya ibundamu lah yang memanggil aku, karena sesuatu alasan. Jika badannya kurang enak, maka ia dapat mengatakan kepada Sri Rajasa, bahwa ia sedang sakit. Tetapi jika ibundamu berkeberatan, maka biarlah ia memakai alasan yang lain.”
“Aku akan menyampaikannya kepada ibunda.” jawab Anusapati, “tetapi dalam keadaan serupa saat ini, kehadiran Pamanda Mahisa Agni tentu akan menimbulkan kecurigaan pada Ayahanda Sri Rajasa.”
“Karena itu, sebaiknya ada alasan yang kuat dari ibundamu untuk memanggil aku.”
“Baiklah paman. Hamba akan berusaha.”
“Nah, kembalilah segera ke istana. Jika usaha membakar getah itu gagal, mungkin ada usaha yang lain. Karena itu, kau harus sering tinggal di dalam bangsal untuk menenteramkan hati isterimu.”
“Baiklah paman. Aku menunggu pembicaraan paman dengan ibunda. Mudah-mudahan ada sesuatu yang dapat paman katakan kepadaku, atau dari ibunda sendiri. Aku seakan-akan melihat sesuatu yang tersembunyi di dalam hati pamanda dan ibunda, yang sampai saat ini masih belum dapat aku dengar. Aku tahu, tentu suatu rahasia yang besar. Tetapi adalah suatu sifat manusiawi, bahwa semakin disembunyikan, maka semakin besar dorongan untuk mengetahuinya.”
Mahisa Agni menepuk pundak Anusapati. Sesuatu terasa bergejolak di dalam hati. Tetapi ia tidak dapat mengatakan sesuatu sebelum ia bertemu dengan Ken Dedes sendiri.
Demikianlah, maka sekali lagi Anusapati menghadap ibunda yang dengan termangu-mangu menerimanya.
“Ampun ibunda. Kali ini hamba tidak akan membuat ibu berduka. Hamba hanya sekedar ingin menyampaikan sebuah pesan dari paman Mahisa Agni.”
“Pesan dari pamanmu?”
“Hamba ibunda.”
“Apa katanya?”
Anusapati menjadi ragu-ragu. Sejenak ditebarkan pandangan matanya ke sekelilingnya. Di kejauhan dilihatnya seorang emban duduk tepekur.
“Apakah pesan itu bersifat rahasia?” bisik Ken Dedes.
“Hamba ibu. Pesan itu memang bersifat rahasia.”
Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam. Kemudian dipanggilnya emban itu mendekat, lalu disuruhnya membersihkan bilik pembaringan Permaisuri.
“Ada sesuatu yang terjatuh di lantai,” berkata Permaisuri, “aku mendengar suaranya, tetapi ketika aku mencarinya, aku tidak dapat menemukan. Cobalah lihat, barangkali sesuatu yang kecil telah terjatuh.”
“Hamba tuanku,” sembah emban itu, yang kemudian bergeser surut.
“Katakan,” desis Ken Dedes.
“Ampun ibunda. Pamanda Mahisa Agni berpesan, bahwa pamanda ingin bertemu dengan ibunda barang sejenak.”
“Kenapa ia tidak datang saja kemari?”
“Paman menjadi ragu-ragu. Jika ia datang tanpa alasan, maka Ayahanda Sri Rajasa akan menjadi curiga.”
“Kenapa curiga?”
“Ayahanda Sri Rajasa baru marah kepada hamba. Selalu. Hampir setiap perjumpaan.” jawab Anusapati, “jika dalam keadaan demikian pamanda tiba-tiba saja datang, maka ayahanda akan menganggap bahwa kedatangan pamanda itu karena hamba.”
Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam.
“Jadi apakah ia akan datang secara rahasia?”
“Tentu tidak mungkin ibunda. Setiap orang sudah mengenal Pamanda Mahisa Agni. Memang mungkin Pamanda Mahisa Agni meloncat dinding tanpa diketahui oleh para prajurit. Tetapi jika ia masuk ke bangsal ini dan berbicara dengan ibunda, maka suaranya mungkin sekali akan didengar orang. Atau mungkin satu dua orang emban akan melihatnya.”
“Jadi bagaimana?”
“Ibundalah harus memanggilnya.”
“Apakah alasanku memanggil kakang Mahisa Agni?”
“Memang sulit. Tetapi jika ibunda memang kurang enak badan.”
“Maksudmu, katakanlah aku sedang sakit dan aku memanggil kakang Mahisa Agni?”
“Jika ibunda tidak berkeberatan.”
Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam. Ia memang memerlukan seseorang untuk dibawanya berbincang. Selama ini semua beban seakan-akan telah dipikulnya sendiri. Keragu-raguan, kebingungan dan kadang ketakutan dan kecemasan harus dirasakannya sendiri.
“Ada baiknya pula pamanmu datang kemari,” tiba-tiba ia berdesis.
“Ibunda dapat mempergunakan alasan apa-pun yang baik menurut ibunda.”
Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Dipandanginya wajah anaknya yang muram. Tampak pada sorot matanya, bahwa ia sedang menahan gejolak yang dahsyat di dadanya.
“Kasihan anak ini,” berkata Ken Dedes di dalam hatinya. Ia harus segera menemukan jalan untuk menyelamatkan anaknya. Bukan saja dari kedudukannya, tetapi lebih daripada itu, tekanan jiwa yang semakin hari menjadi kian menghimpit hati itu, akan dapat membuatnya kehilangan keseimbangan. Anusapati dapat menjadi liar dan tidak terkendali. Namun ia akan dapat juga menjadi patah dan kehilangan segenap gairah hidupnya.
Karena itu, maka kedatangan Mahisa Agni memang sangat penting baginya. Ia adalah satu-satunya orang yang masih dapat dipercaya sepenuhnya.
“Anusapati,” berkata Ken Dedes kemudian, “baiklah. Aku akan berusaha. Mungkin aku harus berpura-pura atau berbohong. Aku tidak pernah dengan sengaja melakukan hal semacam itu. Tetapi kali ini aku menganggap perlu. Bukan saja karena kau menghendaki demikian, tetapi akulah yang ingin berbuat.”
“Baiklah ibunda,” sahut Anusapati, “aku harus segera menemukan jalan untuk melepaskan diri dari keadaan ini. Mungkin ayahanda sengaja membuat aku kehilangan pegangan dan menjadi gila. Gila adalah alasan yang paling baik untuk menyingkirkan aku dari kedudukanku. Tetapi gila adalah suatu keadaan yang paling tidak menyenangkan dalam kemungkinan apa-pun juga.”
Terasa sesuatu tergores dihati Ken Dedes. Luka dihati Anusapati memang sudah menjadi semakin parah.
Sepeninggal Anusapati, maka Ken Dedes-pun duduk termenung. Berbagai persoalan lewat dihatinya. Namun akhirnya ia berdesah, “Aku terpaksa melakukannya.”
Maka Ken Dedes-pun memutuskan untuk memohon kepada Sri Rajasa agar Mahisa Agni diperkenankan menengoknya, karena ia sedang sakit. Pura-pura sakit.
“Apa katamu?” bertanya Sri Rajasa kepada seorang emban yang menghadap atas perintah Permaisuri.
“Ampun tuanku,” jawab emban itu, “hamba mendapat perintah dari tuanku Permaisuri untuk menyampaikan pesan Tuan Puteri, bahwa Tuan Puteri sekarang sedang sakit.”
“Sakit?” bertanya Sri Rajasa dengan heran.
“Hamba tuanku. Sudah dua hari Tuan Puteri tidak bangkit dari pembaringan.”
Sri Rajasa termenung sejenak. Sudah beberapa hari ia tidak datang ke bangsal Permaisuri. Memang itu adalah kekhilafannya. Ternyata sudah dua hari Ken Dedes menderita sakit.
“Biarlah ia mati,” terdengar suara dihatinya yang paling dalam. Tanpa disadarinya maka bagi Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu, Ken Dedes memang sudah tidak ada lagi. Jika masih juga ia kadang-kadang datang ke bangsal Permaisuri itu, maka bagi Sri Rajasa, hal itu merupakan kuwajiban yang paling menjemukan.
Namun tiba-tiba saja terbayang kembali saat-saat ia melihat Permaisuri Akuwu Tunggul Ametung itu di taman yang sedang dibuatnya di padang Karautan. Dengan indera halusnya, ia melihat cahaya pada tubuh Permaisuri itu.
“Ia akan melahirkan raja-raja besar di tanah ini,” terngiang suara seorang brahmana.
Seakan-akan terbayang dengan jelas penglihatannya pada waktu itu. Seorang perempuan yang cantik tiada taranya dan cahaya memancar dari tubuhnya.
Perempuan itu telah membuat gila pada waktu itu, sehingga ia telah membunuh Empu Gandring dan Akuwu Tunggul Ametung. Mengumpankan Kebo Ijo dan bahkan karena perbuatannya pula, maka Mahisa Agni telah naik ke arena melawan Panglima Pasukan Pengawal pada waktu itu, Witantra.
“Banyak peristiwa telah terjadi,” berkala Ken Arok didalam hatinya, “apakah sekarang aku tidak menghiraukannya lagi karena sudah ada Ken Umang yang seolah-olah masih tetap muda?”
Tetapi tiba-tiba Ken Arok menggeram didalam dirinya, “Bukan. Bukan Ken Dedes yang akan melahirkan raja-raja besar di tanah ini. Akulah yang berhak menentukan, siapakah yang akan mewarisi tahta Singasari kelak.”
Sesaat Ken Arok masih digulat oleh pergolakan di dalam dirinya, sehingga emban yang menghadapnya sama sekali tidak berani berbuat apa-pun juga, selain duduk tepekur sehingga kepalanya menjadi pening karenanya.
Namun akhirnya ia berkata kepada emban itu, “Kembalilah. Aku akan datang menengoknya nanti.”
“Hamba tuanku. Hamba akan menyampaikannya kepada tuanku Permaisuri.”
Sepeninggal emban itu, Ken Arok masih saja merenung. Kadang-kadang timbullah niatnya untuk mengusahakan penyembuhan bagi Permaisuri jika sakitnya memang agak berat. Tetapi kadang-kadang ia justru melihat bahwa hal ini akan semakin menekan perasaan Anusapati dan membuatnya semakin bingung.
“Anusapati benar-benar sudah tidak aku perlukan.” desis Sri Rajasa, “sebenarnya aku masih mengharapkan agar Ken Dedes tetap baik. Hidupnya yang prihatin selama ini membuat dirinya menjadi lebih tua dari umurnya yang sebenarnya. Tetapi aku sama sekali tidak senang kepada anak Tunggul Ametung itu.” tiba-tiba Sri Rajasa menggeram, “kenapa aku tidak berterus terang kepada rakyat Singasari sejak semula, meskipun aku yakin, sebagian dari mereka sudah mengetahuinya.”
Tetapi Sri Rajasa tidak dapat mengulangi apa yang sudah lalu. Yang sekarang ada, adalah Anusapati, putera Tunggul Ametung yang lahir dari permaisurinya, sebagai seorang Putera Mahkota yang telah diangkatnya sendiri, dan diakui oleh rakyat Singasari, bahkan bukan saja sebagai Putera Mahkota tetapi juga sebagai pelindung dalam pakaian Kesatria Putih.
Sejenak Sri Rajasa masih merenung. Namun kemudian ia-pun segera berdiri dan berkata kepada diri sendiri, “Aku akan menengoknya. Jika keadaannya memungkinkan, aku justru akan mendapat kesempatan untuk menyampaikan niatku. Dalam keadaan sakit ia akan dapat menahan gelora hati Anusapati, karena agaknya Anusapati sangat mengasihi ibunya. Aku akan minta Ken Dedes lah yang menyatakan keadaan anaknya itu yang sebenarnya. Dengan demikian, maka akan ada suatu kemungkinan, bahwa Anusapati yang merasa dirinya tidak berhak atas tahta itu mengundurkan dirinya atas permintaan sendiri. Sesudah itu, untuk melenyapkan pengaruhnya, maka jalan yang mana-pun akan lebih mudah ditempuh, karena apabila ia bukan lagi seorang Putera Mahkota, maka hidupnya tidak akan lagi menjadi pusat perhatian rakyat Singasari. Meskipun tidak dengan serta-merta, dan dalam waktu yang pendek, namun akhirnya Anusapati pasti akan tersingkir dari hati rakyat Singasari, dan bahkan tersingkir untuk selama-lamanya.”
Sri Rajasa kemudian mengangguk-anggukkan kepalanva. Rencananya ini dapat dijadikannya salah satu jalan dari jalan yang lain yang masih direncanakannya.
“Baru sesudah Anusapati menyadari dirinya, aku akan berusaha menyembuhkan Ken Dedes,” berkata Sn Rajasa di dalam hatinya.
Demikianlah maka Sri Rajasa-pun menyampaikan maksudnya itu kepada penasehatnya untuk mendapat penimbangan. Ternyata bahwa hal itu benar-benar telah menarik perhatiannya dan dengan serta-merta ia berkata, “Bagus sekali tuanku. Hamba kira kali ini tuanku akan berhasil. Selagi tuanku Permaisuri sakit, tuanku Anusapati tentu tidak akan berbuat apa-pun juga. Ia akan menekan perasaannya dan bahkan akan melihat kedalam dirinya sendiri, bahwa sebenarnyalah ia tidak berhak atas kedudukannya.”
“Tetapi apakah menurut pertimbanganmu Ken Dedes akan bersedia mengatakannya?”
“Hamba berharap bahwa tuanku dapat membujuknya selagi ia sakit.”
“Tetapi apakah ia tidak akan sampai kepada rahasia yang paling dalam pernah terjadi di Singasari?”
“Rahasia yang mana tuanku? Maksud tuanku bukankah tuanku Permaisuri harus mengatakan rahasia itu kepada puteranya itu? Bahwa tuanku Anusapati memang bukan putera tuanku Sri Rajasa?”
Sri Raiasa menarik nafas dalam-dalam. Selain rahasia itu masih ada rahasia lain yang tidak kalah besarnya. Meskipun tidak pasti, tetapi Permaisurinya tentu pernah menangkap suatu siratan kata-katanya, bahwa ia telah menyingkirkan Akuwu Tunggul Ametung dengan sengaja.
“Perempuan itu kadang-kadang masih memuji suaminya yang telah mati itu,” berkata Ken Arok di dalam hatinya, sehingga karena itu, kadang-kadang ia terdorong untuk mengatakan sesuatu yang dapat memberikan kesan tentang pembunuhan yang pernah dilakukan.
“Tetapi ia tidak akan mengatakannya,” berkata Sri Rajasa didalam hatinya pula, “ia akan kehilangan aku, dan ia akan kehilangan pegangan hidupnya. Jika Anusapati tahu bahwa aku yang telah membunuh ayahnya, maka hal ini akan menghadapkan Ken Dedes pada persoalan yang paling sulit didalam hidupnya, ia harus memilih, anaknya atau suaminya. Dan Ken Dedes tentu tidak akan berani kehilangan suaminya yang kini berkuasa di Singasari.”
Demikianlah maka akhirnya Sri Rajasa mengambil keputusan, bahwa ia benar-benar akan minta kepada Ken Dedes yang sedang dalam keadaan sakit itu untuk mengatakan saja kepada anak laki-lakinya, bahwa sebenarnya ia memang bukan putera Sri Rajasa. Sri Rajasa-pun yakin pula, bahwa Ken Dedes tidak akan berani membuka rahasia yang lebih besar lagi, karena ia justru tidak mau kehilangan salah seorang dari dua orang laki-laki yang sama-sama penting baginya. Suaminya dan anaknya. Jika ia diam dalam hubungan dengan terbunuhnya Tunggal Ametung, maka ia tidak akan melihat alasan apa-pun yang dapat membahayakan jiwa anaknya selain kehilangan gelarnya sebagai Putera Mahkota.
“Persoalan selanjutnya akan menjadi lebih mudah,” berkata Ken Arok kepada diri sendiri.
Maka ketika ia benar-benar pergi kebangsal Permaisurinya, ia sudah menyiapkan kalimat-kalimat yang paling baik dikatakan untuk mendesak agar Ken Dedes yang dianggapnya sakit itu tidak berkeberatan untuk mengatakannya.
Ketika ia memasuki bilik Permaisuri, dilihatnya Permaisuri yang pucat berbaring di pembaringannya berselimut kain panjang berwarna kelam. Dengan demikian seakan-akan Permaisuri itu benar-benar dalam keadaan sakit yang agak berat.
“Ampun tuanku, hamba tidak dapat menyambut kedatangan tuanku sebagaimana seharusnya.”
“Berbaringlah,” berkata Sri Rajasa, “jika kau masih merasa sakit, kau dapat mengesampingkan tata cara yang seharusnya berlaku.”
“Terima kasih tuanku,” jawab Ken Dedes.
Ken Aroklah yang kemudian berdiri di sisi pembaringan Permaisurinya. Dengan dada yang berdebar-debar dipandanginya wajah yang suram dan pucat itu.
Bagaimana-pun juga, ketika ia sudah berdiri di samping Ken Dedes yang terbaring itu, terasa sesuatu telah menyentuh hatinya. Sekilas terbayang kembali bagaimana ia menjadi tergila-gila di saat-saat ia melihatnya untuk pertama kali. Kecantikan perempuan padepokan Panawijen itu benar-benar telah mencengkamnya, sehingga ia telah berbuat gila karenanya. Namun kegilaannya saat itu telah mendorongnya sehingga ia kini berada di atas tahta Singasari.
Ken Arok itu-pun menarik nafas dalam-dalam. Kecantikan Ken Dedes masih tampak pada wajahnya yang berkerut-merut. Bahkan semakin tajam Sri Rajasa memandanginya, tampaklah olehnya bahwa perempuan ini lebih cantik dari Ken Umang. Namun Ken Umang adalah perempuan yang segar dan kadang-kadang tubuhnya panas membara, sehingga Sri Rajasa telah dicengkamnya lahir dan batinnya.
Tetapi dihadapan Ken Dedes yang sedang sakit, hati Sri Rajasa seakan-akan menjadi luluh. Ia tidak dapat melupakan apa yang pernah terjadi di saat-saat mereka masih cukup muda untuk memadu hati. Tetapi kini anak-anak mereka seorang demi seorang telah lahir dan menjadi dewasa. Bahkan cucu-cucunya-pun telah lahir pula, sehingga masa-masa yang indah itu hanyalah tinggal merupakan suatu kenangan. Namun kenangan masa lampau itu kadang-kadang memang menumbuhkan kerinduan.
“Apakah yang kau rasakan?” Sri Rajasa-pun kemudian bertanya dengan suara yang dalam.
“Ampun tuanku, hamba tidak tahu apakah sebenarnya sakit hamba. Tetapi rasa-rasanya badan hamba menjadi terlalu lemah dan kepala hamba menjadi pening.”
Sri Rajasa mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “biarlah aku mengundang dukun yang paling pandai di negeri ini. Kau akan segera disembuhkan.”
“Tidak perlu tuanku. Biarlah hamba minum obat yang setiap hari disediakan oleh seorang emban. Hamba merasa, bahwa keadaan hamba menjadi bertambah baik.”
Sri Rajasa terdiam sejenak. Ada semacam benturan perasaan di dalam dirinya. Kadang-kadang ia masih juga teringat, rencana yang sudah dipikirannya masak-masak. Namun jika ditatapnya wajah Ken Dedes yang membayangkan masa-masa mudanya, ia menjadi ragu-ragu.
Namun sejenak kemudian ia berkata, “Apakah kau yakin bahwa kau akan sembuh karena obat itu?”
“Ya tuanku.”
“Obat apakah itu?”
“Pipisan tela grandel selengkapnya. Akar, kulit, pelepah, daun dan buahnya yang masih sangat muda, serta beberapa lembar bunga dan daunnya.”
“Hanya itu?”
“Hamba tuanku.”
Sri Rajasa mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia-pun kemudian berjalan mondar mandir di dalam bilik itu. Sejenak ia berdiri di muka geledeg kayu berukir melihat-lihat beberapa buah benda yang terletak di dalamnya.
Dalam pada itu, dari beberapa benda itu Sri Rajasa melihat bayangan masa pemerintahan Akuwu Tunggul Ametung. Di antara beberapa macam benda-benda itu adalah peninggalan Akuwu Tumapel yang sudah terbunuh. Diantaranya adalah sebuah gading gajah yang panjang berukir dibungai dengan ukiran emas pada pangkal dan ujungnya. Sebuah tempurung tempat minum berukir emas pula dan sebuah selongsong tombak disamping beberapa macam benda-benda yang lain.
Ada sesuatu yang aneh melonjak didalam hatinya. Tiba-tiba saja kebenciannya pada masa lampau itu tumbuh dengan serta merta, merenggut kerinduannya yang mulai kabur. Ia sama sekali tidak lagi melihat masa lampau yang indah selagi ia masih muda.
Perlahan-lahan Sri Rajasa berpaling. Dilihatnya wajah Ken Dedes yang sudah mulai berkerut dilukisi garis-garis umur.
“Ia memang cantik. Tetapi aku tidak mengambilnya selagi ia masih gadis. Aku mengambilnya setelah ia mengandung. Akuwu Tunggal Ametung lah yang memiliki kagadisannya. Bukan aku. Dan sekarang dari padanya lahir seorang anak laki-laki yang selalu menimbulkan persoalan bagiku.”
Tiba-tiba saja Sri Rajasa mengatupkan giginya. Perlahan-lahan ia melangkah mendekati Ken Dedes yang masih berbaring diam. Kini ia mendapat dorongan untuk mengatakan niatnya, agar Ken Dedes mengatakan saja kepada anaknya, siapakah ia sebenarnya, agar Anusapati tidak merasa dirinya terlampau besar dan menganggap bahwa ia menduduki jabatannya dengan sah.
Sejenak Sri Rajasa termangu-mangu ditepi pembaringan. Namun hatinya telah pasti bahwa ia harus mengatakannya.
“Tetapi aku tidak boleh hanyut oleh arus perasaanku,” katanya di dalam hati.
Karena itulah, maka wajahnya-pun menjadi cerah kembali. Bahkan perlahan-lahan ia duduk di pembaringan itu sambil meraba dahi Permaisurinya.
“Kau panas sekali,” berkata Sri Rajasa.
Ken Dedes mengerutkan keningnya. Tetapi ia menyahut, “Ya tuanku. Hamba memang merasa panas sekali.”
Sri Rajasa menarik nafat dalam-dalam. Kemudian katanya, “Kau harus beristirahat sebaik-baiknya. Jangan kau hiraukan lagi apa-pun yang terjadi. Kau harus pula mengosongkan rahasia yang ada didalam dirimu, agar kau tidak selalu dikejar-kejarnya siang dan malam.”
Dada Ken Dedes menjadi berdebar-debar. Ia tidak tahu maksud Ken Arok. Justru ketika ia tampaknya dalam keadaan sakit Sri Rajasa minta ia mengosongkan dirinya.
“Apakah itu berarti bahwa Sri Rajasa menganggap bahwa aku sudah akan mati, atau justru Sri Rajasa mengharap aku mati?” bertanya Ken Dedes kepada diri sendiri, “seseorang yang akan mati memang sebaiknya mengosongkan dirinya sendiri dari segala rahasia dan endapan perasaan, agar terbukalah jalan yang licin dihadapannya apabila ia memang sudah iklas.”
Dalam pada itu sebelum Ken Dedes bertanya, Ken Arok sudah mendahuluinya, “Maksudku, kau tidak lagi dibebani oleh berbagai macam perasaan yang dapat mempengaruhi dirimu, mempengaruhi kesehatanmu. Tampaknya kau memang sudah mulai dijamah oleh berbagai macam penyakit. Karena itu, supaya kau tidak terlalu dibebani oleh berbagai macam persoalan, maka kau dapat mengurangi tekanan-tekanan yang menghimpit jantung. Dengan demikian hatimu menjadi agak terbuka, dan badanmu akan menjadi sedikit terlepas dari tekanan itu. Mudahnan kau berangsur-angsur menjadi baik.”
Permaisuri itu menarik nafas dalam-dalam. Hampir saja ia salah sangka. Ternyata bahwa Sri Rajasa tidak mengharap ia segera mati, meskipun ia tidak tahu pasti apa yang terpikir didalam hatinya.
“Tuanku,” berkata Ken Dedes dengan suara gemetar, “apakah yang dapat hamba lakukan untuk mengurangi beban perasaan hamba?”
“Ken Dedes,” berkata Sri Rajasa, “aku tahu, bahwa hampir sepanjang hidupmu sebagai permaisuri di Singasari, kau terpaksa menyimpan suatu rahasia untuk melindungi namaku. Aku sangat berterima kasih. Jika rahasia itu adalah rahasia kecil yang harus kau sembunyikan dari tangkapan rakyat Singasari, mungkin kau tidak akan menjadi begitu perasa dan bahkan menjadi sakit-sakitan. Tetapi aku tahu, bahwa rahasia ini adalah rahasia anak laki-lakimu. Dan aku tahu, bahwa pada suatu saat ia pasti akan bertanya tentang dirinya. Ada lebih dari separuh penghuni istana, terutama yang tua-tua yang sebenarnya mengetahui siapakah Anusapati itu. Aku menjadi kasihan kepadanya, bahwa pada suatu ketika ia mendengarnya justru dari orang lain, sehingga mudah sekali akan timbul salah paham. Dan aku juga kasihan kepadamu, bahwa kau harus menahan hatimu untuk tetap menyimpan rahasia itu.” Sri Rajasa berhenti berhenti sejenak. Lalu, “Sekarang Anusapati sudah dewasa. Ia sudah dapat menimbang baik dan buruk. Ia sudah dapat mengetahui mana yang boleh dan yang tidak boleh dikerjakan.”
Kini dada Ken Dedes yang mulai tenang itu menjadi berdebar-debar kembali. Sejenak ditatapnya wajah Sri Rajasa, namun ia tidak mengucapkan kata-kata.
Sri Rajasa yang kemudian berdiri dan berjalan mondar-mandir diruangan itu berkata, “Apakah kau mengerti maksudku Ken Dedes?”
Dada Ken Dedes menjadi semakin berdebaran. Namun ia mengangguk kecil sambil menjawab, “Hamba mengerti tuanku.”
“Kau jangan salah paham. Aku tidak akan berbuat sesuatu atas dasar pengakuanmu terhadap anakmu. Ia akan tetap aku anggap sebagai anakku sendiri.”
Dada Ken Dedes terasa menjadi semakin sesak. Dan tiba-tiba ia merasa bahwa tubuhnya benar-benar menjadi panas.
“Ken Dedes,” berkata Sri Rajasa, “sudah lama kau menjaga namaku baik-baik. Sudah cukup lama, selagi Anusapati masih belum cukup masak untuk mengetahui dirinya sendiri, sehingga dicemaskan ia akan berbuat sesuatu. Tetapi sekarang aku kira ia akan dapat melihat bahwa yang terjadi itu sudah terjadi. Dan aku berharap bahwa hal itu tidak akan membuatnya berkecil hati, asal kau dapat memberinya hati dan mengatakan bahwa Akuwu Tunggul Ametung adalah seorang yang besar pada masanya ia masih berkuasa.”
Dada Ken Dedes bagaikan tidak lagi dapat memuat gejolak perasaannya yang melonjak-lonjak. Namun ia masih tetap bertahan dan mencoba untuk tidak menangis karena kata-kata Sri Rajasa itu.
Ternyata bahwa Ken Dedes, bukannya seorang perempuan yang bernalar tumpul, ia adalah seorang yang cukup cerdas karena ayahnya-pun adalah seorang yang memiliki kelebihan dari sesamanya. Karena itu, meskipun tidak begitu jelas, tetapi ia dapat meraba, apakah sebabnya maka Sri Rajasa menganjurkannya untuk membuka rahasia itu.
Karena itu, karena luapan perasaan, tiba-tiba hampir diluar sadarnya Ken Dedes bertanya, “Sampai dimanakah hamba dapat mengatakan rahasia tentang diri anakku itu tuanku? Apakah pengetahuanku tentang rahasia itu harus aku katakan tanpa batas?”
Pertanyaan itu tiba-tiba telah mengguncang hati Sri Rajasa. Ia sadar, bahwa Ken Dedes pasti sudah mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi. Mungkin dengan tidak langsung lidahnya sendiri pernah mengatakan, bahwa ia telah berbuat sesuatu untuk mencapai kedudukannya sekarang. Mungkin karena ia menganggap bahwa Ken Dedes sepenuhnya telah menggantungkan dirinya, hidup dan matinya, kepadanya, maka ia dapat berbuat dan berkata apa saja tanpa mencemaskan bahwa Ken Dedes akan berbuat sesuatu.
Namun kini ternyata Ken Dedes bertanya kepadanya apakah rahasia itu seluruhnya dapat dikatakan kepada anaknya.
Sri Rajasa yang kemudian berdiri tegak dengan tatapan mata yang tegang itu mencoba menahan gejolak hatinya yang meronta-ronta.
Sri Rajasa tidak menyangka, bahwa pada suatu saat ia dihadapan pada pertanyaan serupa itu, yang tumbuh karena kehendaknya sendiri agar Ken Dedes tidak lagi menyimpan rahasia tentang anaknya.
“Tetapi sampai dimana batas dari rahasia yang dapat dikatakan kepada Anusapati itu? “ pertanyaan itu justru kini melengking-lengking dihatinya.
Ketika tampak wajah Ken Dedes yang pucat dan berkerut merut itu, tiba-tiba saja segala macam perasaan dan tanggung jawabnya sebagai seorang suami seolah-olah telah lenyap. Ken Dedes kini sudah bukan Ken Dedes yang muda dan cantik itu lagi. Ken Dedes janda Tunggul Ametung itu adalah seorang perempuan yang menjadi semakin tua.
“Apalagi gunanya aku menyelamatkan orang ini,” berkata Sri Rajasa di dalam hatinya.
Dengan demikian maka segala hasrat yang mulai merayapi hatinya untuk mengusahakan penyembuhan bagi Ken Dedes itu seakan-akan telah lenyap sama sekali.
Namun demikian Ken Arok sadar, bahwa ia harus menjawab pertanyaan Ken Dedes itu. Karena itu, maka terdengar suaranya yang dalam tertahan-tahan, “Kau sudah cukup tua Ken Dedes. Seharusnya kau tidak bertanya kepadaku. Terserahlah kepadamu apa yang kau anggap baik kau katakan kepada anakmu itu. Kalau kau ingin mengajarinya menjadi manusia yang baik, kau tahu, batas-batas yang sebaiknya kau katakan. Tetapi jika kau ingin melihat anakmu menjadi seorang yang dapat dianggap oleh rakyat Singasari sebagai seorang yang biadab, kau dapat mengatakan apa saja yang kau ketahui tentang anak itu, tentang Tunggul Ametung yang sudah mati itu dan tentang aku sendiri.”
“Tuanku.”
“Ya, itulah jawabanku. Ingat, bahwa setiap usaha untuk mengacaukan Singasari dapat berakibat kematian. Meskipun ia putera Mahkota sekalipun.”
“Tuanku, apakah maksud tuanku hendak mengancam agar aku mengatakan kepada Anusapati bahwa ia bukan putera Tuanku dan agar aku membuatnya hatinya susut sekecil butiran pasir yang paling lembut? Kemudian dengan demikian kita semuanya berharap agar ia merasa terlampau besar untuk menjadi seorang Putera Mahkota sehingga Anusapati kemudian lari dari kedudukannya atas kehendak sendiri? Dengan demikian maka terbukalah kesempatan bagi tuan untuk menunjuk seorang penggantinya.”
“Cukup, cukup,” Sri Rajasa hampir berteriak.
Namun Ken Dedes sama sekali tidak menghiraukannya. Bahkan tiba-tiba ia bangkit dari pembaringannya dan berkata lantang, “Tuanku, aku tidak rela jika kedudukan ini jatuh ketangan orang lain yang bukan keturunan Ken Dedes. Jika tuan tidak senang kepada Anusapati, karena Anusapati bukan putera tuanku, aku akan mengatakannya kepadanya. Tetapi tahta Singasari tidak boleh lepas dari keturunan Ken Dedes. Apalagi hamba juga mempunyai anak laki-laki yang lahir dari tuanku.”
Tubuh Sri Rajasa tiba-tiba menjadi gemetar. Ia belum pernah melihat Ken Dedes berani menentang kehendaknya. Apalagi membantah kehendaknya. Namun tiba-tiba ia melihat wajah Ken Dedes yang pucat itu menjadi merah padam.....
Bersambung.....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar