Minggu, 31 Januari 2021

SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG JILID 25-02

*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 25-02*

Karya.  : SH Mintardja

“Tutuplah pintu gerbangmu. Atau barangkali lebih baik jika kalian menempatkan satu dua orang pengawas di antara batu padas yang seolah-olah disediakan oleh alam bagi pintu gerbang padepokanmu ini.”

“Untuk apa mereka berada disana? Pengawasan itu tidak banyak artinya. Mereka tetap akan datang sampai kemulut regol ini dan dengan paksa memecahkan pintunya.”

“Tetapi kalian sudah mengetahuinya saat yang tepat dari kedatangan orang-orang dari gerombolan Macan Kumbang itu. Ketika mereka masih berada di kejauhan, kalian sudah dapat mempersiapkan diri sebaik-baiknya.”

“Dihadapan kedua batu padas itu banyak terdapat pepohonan sehingga pengawas itu tidak akan dapat melihat ke jarak yang jauh.”

Empu Baladatu mengangguk-angguk. Lalu, “Jika demikian, selaraklah pintu gerbangmu. Aku disini. Barangkali aku dengan beberapa orang-orangku akan dapat mengganti kekuatanmu yang hilang itu.”

“Tetapi ketika kami jumpai Empu dihutan itu, Empu tidak membawa pengawal.”

“Ada dua orang. Aku sempat kembali kepadepokanku. Dan aku tidak dapat mencegah keinginanku untuk datang ke mari. Tetapi aku membawa pengawal lebih dari dua orang. Dan seperti yang kalian lihat, aku datang bersama lima orang pengawalku yang terpercaya. Apakah menurut perhitunganmu, aku dan kelima orang pengawalku ini tidak dapat mengganti kekuatan dua orang kawanmu yang terbunuh dihutan perburuan itu?”

Orang tertua itu mengerutkan keningnya. Katanya, “Tentu dapat Empu. Tetapi apakah Empu tidak sekedar membuang waktu dan tenaga saja membela kami yang sudah kehilangan pegangan?”

“Aku akan mencoba memberikan sandaran baru dalam padepokan ini.”

Orang-orang dari gerombolan Serigala Putih itu menjadi heran. Tetapi sebelum seorangpun yang menyahut, sekali lagi Empu Baladatu berkata, “Selaraklah pintu gerbang itu”

Beberapa orangpun kemudian mendorong pintu gerbang dan mengangkat selarak.

“Nah, sekarang, semuanya menjadi semakin jelas. Aku akan ikut bertempur jika orang-orang gerombolan Macan Kumbang itu benar-benar menyerangmu hari ini. Tetapi jika saatnya aku pergi dan mereka belum juga datang, maka aku akan pergi juga.”

Orang tertua dari gerombolan Serigala Putih itu seolah-olah telah tersadar. Karena itu, maka iapun segera mempersilahkan tamunya untuk memasuki padepokannya yang sebenarnya tidak begitu besar.

Empu Baladatu pun kemudian mengikuti orang tertua itu menuju kesebuah rumah yang cukup besar dibelakang sebuah halaman yang agak luas. Di sebelah menyebelah nampak beberapa rumah yang lain. Agaknya dibagian belakang dari rumah yang agak besar itu terdapat pula beberapa rumah. Sedangkan, halaman padepokan itu ternyata telah dilingkari oleh dinding batu yang tinggi diantara batang-batang pering ori.

“Padepokan ini ternyata merupakan yang rapat sekali” desis Empu Baladatu.

“Rumpun-rumpun bambu itu memang sudah ada sejak sebelum tempat ini menjadi padepokan. Kami tinggal mengatur dan memanfaatkannya dengan menambah beberapa langkah dinding batu, sehingga seakan-akan padepokan kami telah dilingkari oleh benteng yang kuat.”

Empu Baladatu mengangguk-angguk. Memang sulit untuk memasuki halaman padepokan itu tanpa melalui gerbang yang di beri pintu dan selarak yang kuat. Tetapi bukan berarti bahwa gerbang itu tidak dapat dirusak dari luar.

Sejenak kemudian Empu Baladatu sudah duduk di pendapa rumah yang terletak di tengah-tengah padepokan itu bersama kelima pengiringnya. Namun ketika seorang pengawal padepokan itu sedang menghidangkan minuman yang dingin, karena tidak ada seorang perempuan pun yang sempat merebus air seperti biasanya, maka pengawal yang lain datang dengan tergesa-gesa sambil berkata, “Ada tiga orang berkuda di luar regol.”

Berita itu sangat mengherankan bagi orang tertua dipadepokan itu. Sama sekali tidak diketahui, siapa lagi agaknya yang datang hanya bertiga.

Karena itulah maka iapun kemudian bertanya, “Apakah mereka tamu yang pernah kalian kenal?”

Orang itu menggeleng. Jawabnya, “Belum. Mereka ingin berbicara dengan pemimpin dari gerombolan Serigala Putih dipadepokan ini.”

Orang tertua itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun bangkit sambil berkata, “Aku akan datang.”

“Aku ikut bersamamu.” berkata Empu Baladatu. Orang itu termangu-mangu sejenak. Lalu, “Baiklah Empu. Tetapi apakah tidak sebaiknya Empu duduk saja disini?”

Empu Baladatu tertawa. Iapun kemudian ikut bersama orang tertua dipadepokan Serigala Putih itu. Dengan ragu-ragu orang tertua itu mendekati regol yang masih tertutup. Kemudian dari lubang dipintu regol ia menjenguk ketiga orang berkuda itu.

“Siapakah kalian?” bertanya pemimpin Serigala Putih itu.

“Kami akan bertemu dengan pemimpin kalian.”

“Pemimpin kami sedang pergi. Sebentar lagi ia kembali. Apakah keperluan kalian.”

“Jika demikian aku ingin bertemu dengan orang yang dianggap pemimpin di sini sekarang ini.”

“Aku orang tertua disini.”

“Tertua? He, berapa umurmu?”

“Bukan tertua umurnya, tetapi tertua didalam olah kanuragan. Ilmu tertua disini.”

Ketiga orang itu termangu-mangu sejenak. Namun salah seorang dari mereka berkata, “Sebaiknya kalian berkata terus terang. Kami sudah mengetahui bahwa pemimpinmu telah terbunuh.”

“Apa maksudmu sebenarnya. Jika kalian sudah mengetahui, apakah gunanya kalian bertanya?”

“Kami adalah tiga orang utusan dari kelompok Macan Kumbang.”

Orang tertua itu menjadi berdebar-debar. Tapi nampaknya ia berusaha untuk tetap tenang dan menjawab, “Aku sudah menduga bahwa tampang-tampang yang datang ini adalah orang-orang dari gerombolan Macan Kumbang. Akupun sudah tahu bahwa kedatanganmu sekedar ingin mengancam dan menakuti, kemudian memaksa kami menyerahkan kepala kami untuk dipancung. Bukankah begitu?”

Ketiga orang itu termangu-mangu. Namun salah seorang dari merekapun tertawa sambil menjawab, “Ya. Kau memang cerdik. Aku memang akan melakukan hal itu. Karena itu, sebaik nyakalian membuka pintu gerbangmu, karena pemimpinku akan segera datang. Aturlah orang-orangmu agar datang berurutan seorang demi seorang, membungkuk dihadapannya untuk dipancung dengan pedang. Tetapi jangan takut merasa kesakitan karena pedangnya sangat tajam, sehingga sekali ayun kepala kalian akan terpenggal.”

Jawaban itu membuat darah orang tertua dipadepokan Serigala Putih itu mendidih. Dengan tubuh gemetar ia masih mencoba menyabarkan diri. Jawabnya, “Mungkin pedang pemimpinmu itu dapat memenggal leher gajah sekali tebas. Tetapi maaf, bahwa pedang itu tidak akan dapat mengelupas kulit kami, karena sebenarnyalah bahwa kami adalah orang-orang yang tidak ada, taranya dimuka bumi ini. Tetapi jika pemimpinmu itu benar-benar akan datang dan melihat kemampuan kami, maka dengan senang hati kami akan menerimanya. Kami akan membuka regol ini dan dengan senang hati mempersilahkannya masuk. Kami akan menyerahkan seorang anak bayi kepadanya, untuk membuktikan bahwa pedangnya tidak akan berarti apa-apa bagi kami.”

Ketiga orang itupun menjadi marah pula. Salah seorang dari mereka berteriak, “He, sudah gila. Kau harus berterima kasih bahwa pemimpinku bersedia melakukannya. Membunuh dengan cara yang paling baik bagi kalian. Tetapi kalian adalah orang-orang yang tidak tahu diri. Tanpa pemimpinmu yang sombong itu, maka kalian tidak akan berarti apa-apa bagi kami.”

“Ah” jawab orang tertua dipadepokan Serigala Putih itu, “kau masih juga mengigau disitu. Kembalilah. Katakan kepada pemimpinmu yang aku tahu, tentu sudah berada dibalik batu padas itu. Bahkan kami akan menyambut kedatangannya seperti penyambut sepasang pengantin baru. Nah, kau dengar.”

“Gila. Kau sudah menjerumuskan dirimu sendiri dan orang-orangmu kedalam neraka yang paling dalam.”

Betapapun kemarahan meledak dihati orang tertua dipadepokan itu, namun ia memaksa diri untuk tertawa. Katanya, “Jangan marah. Tidak ada kesempatan yang paling baik untuk melihat pemimpin datang merengek-rengek dipadepokan ini kecuali sekarang ini. Aku sama sekali tidak menduga, bahwa pada suatu saat datang kesempatan bagiku untuk melihat hal yang sangat menarik hati ini.”

“Kau akan menyesal. Pemimpinku memang sudah berada di ambang pintu. Tetapi jika ia datang dan pintu regolmu masih tertutup, maka kau akan melihat akibatnya. Padepokanmu akan menjadi karang abang, dan kalian akan mati dengan siksaan yang paling keji yang pernah dialami oleh seseorang yang jatuh ditangannya.”

“Akupun mampu melakukan siksaan melampaui hukuman picis. Pergilah, dan katakanlah kepada pemimpinmu bahwa kami sudah siap menyambutnya.”

Ketiga orang yang berada di luar regol itu menggeram. Ternyata orang-orang dari gerombolan Serigala Putih masih mempunyai harga diri dan ingin bertahan meskipun kematian tidak akan dapat mereka elakkan lagi.

Karena itu, maka salah seorang dari merekapun berkata, “Baiklah. Mungkin kali ini adalah untuk yang terakhir kalinya permintaanmu dipenuhi.” orang itu berhenti sejenak lalu, “tunggulah. Setelah kami membinasakan kalian, maka kami akan membinasakan anak-anak kalian yang sedang mengungsi itu, agar mereka tidak akan menjadi sebab kesulitan pada anak keturunan kami.”

Orang tertua itu menggeram, “Pengecut. Cepatlah jika kau ingin membawa pemimpinmu kemari dan berlutut dihadapan regol ini.”

“Gila. Anak setan. Kau akan dicincang hidup-hidup. Kau akan mengalami akibat sikapmu yang liar itu, maka kau akan mengalami kematian yang lambat sekali. Anggauta badanmu akan berkurang setiap hari satu sehingga sepekan kemudian baru akan mati.”

“Cepat, pergilah. Aku masih menghormati kalian, karena belas kasihan. Sebenarnya kami dapat membunuh kalian sekarang ini juga.”

Ketiga orang itu tidak dapat menahan kemarahan yang menyesak didalam dada. Karena itu, maka merekapun segera kembali keinduk pasukannya yang sebenarnya memang sudah bersedia untuk menyerang.

Pemimpin yang diangkat dari mereka diantara gerombolan Serigala Putih itupun segera mengatur anak buahnya. Beberapa orang telah siap melontarkan tombak mereka, jika beberapa orang memecahkan pintu gerbang. Sementara yang lain telah mengambil tempat yang sebaik-baiknya untuk menyergap,

“Jangan menunggu” berkata orang tertua itu, “kita akan memanfaatkan benturan yang pertama itu sebaik-baiknya, agar kekuatan lawan langsung dapat kita kurangi.”

Orang-orangnya mengangguk-angguk. Mereka benar-benar sudah siap, karena mati di pertempuran seperti itu, akan jauh lebih baik daripada mati dicincang atau diikat di sarang semut yang liar dan buas. Atau dimasukkan ke dalam rawa-rawa yang penuh dengan buaya-buaya kerdil dilembah pegunungan.

Dalam pada itu, Empu Baladatu pun telah siap pula diantara mereka meskipun nampaknya ia acuh tidak acuh saja melihat kesibukan orang-orang dari gerombolan Serigala Putih itu.

“Bagaimana dengan Empu” bertanya ornag tertua itu.

“Sudah aku katakan. Aku tetap disini.” Jawab Empu Baladatu, “aku ingin melihat, apakah yang dapat dilakukan oleh orang-orang dari gerombolan Macan Kumbang itu.”

“Tetapi jika terjadi sesuatu dengan Empu? Empu adalah tamu kami disini. Tetapi bagaimana jika kami tidak dapat berbuat sesuatu untuk keselamatan Empu?”

“O, aku akan mencoba menjaga keselamatanku sendiri”

Orang tertua itu mengangguk-angguk. Sekilas dipandanginya orang-orang dari gerombolan Serigala Putih yang sudah siap menerima lawan mereka, jika mereka memecahkan pintu gerbang.

Namun beberapa orang terkejut karenanya ketika mereka mendengar derap kaki-kaki kuda yang memencar. Salah seorang dari orang-orang gerombolan Serigala Putih itu mencoba untuk mengintip dari lubang regol yang dibukanya sedikit.

Dengan tegang ia pun kemudian berlari memberitahukan kepada orang tertua dipadepokan itu, “Mereka ternyata memencar di sekeliling padepokan ini”

Orang tertua itu termangu-mangu sejenak. Ketika ia menebarkan matanya di sekitar halaman itu, dilihatnya dinding batu yang tinggi diantara Rumpun-rumpun pring ori yang penuh dengan duri.

“Mereka tentu akan meloncati dinding itu” berkata Empu Baladatu.

“Terlalu sulit.”

“Mungkin mereka membawa tangga atau alat serupa.” Belum lagi orang tertua itu menjawab, mereka sudah melihat sebuah kepala yang tersembul.

“Lihat” teriaknya. Kemudian, “Memencarlah. Mereka tidak akan melalui gerbang yang tertutup itu. Mereka akan memanjat dinding. Cepat, cepat.”

Teriakan itu terdengar di seluruh halaman. Tetapi beberapa orang justru menjadi bingung ia terpaksa mengulangi .”Lihat, mereka telah memanjat dinding batu di sela-sela rumpun pering ori. Cegah mereka.”

Orang-orang yang sudah bersiaga, dan bahkan mencoba memasang perangkap berlapis dihadapan pintu gerbang itupun segera memencar. Tetapi karena mereka sama sekali tidak bersiap menghadapi hal itu, maka beberapa orang menjadi bingung dan mengikut saja teman-teman di sekitarnya.

Karena itulah, maka arah mereka tidak menentu. Tetapi merekapun segera memilih lawan.

Sejenak kemudian orang-orang gerombolan Serigala Putih yg mengerumuni regol itupun telah berlari-larian tercerai berai untuk melawan orang-orang dari gerombolan Macan Kumbang yang mulai memanjat dinding dan satu-satu telah mulai berada diatas dinding yang agak tinggi itu.

Tetapi pada saat mereka mulai meloncat turun, maka orang-orang Serigala Putih telah berpencar. Meskipun mereka belum siap benar, namun mereka sudah dapat mulai menghambat. Tetapi dengan demikian, maka rencana mereka untuk mengurangi jumlah lawan pada benturan pertama dengan melontarkan tombak-tombak pendek ternyata, telah gagal, karena orang-orang yang mereka tunggu, ternyata tidak memecah regol dan berdesakan memasuki padepokan itu.

Ketika orang-orang dari gerombolan Serigala Putih mencapai dinding batu, maka orang-orang dari gerombolan Macan Kumbang telah mulai maju beberapa langkah, sehingga sejenak kemudian pertempuran pun segera terjadi, hampir di segala sudut padepokan.

Empu Baladatu masih berdiri termangu-mangu bersama beberapa orang pengawalnya. Orang tertua dipadepokan itupun kemudian berkata, “Empu. Aku harus ikut serta dalam pertempuran itu, agar orang-orangku tidak merasa berkecil hati.”

“Apakah pemimpin gerombolan Macan Kumbang telah ada di antara mereka?”

Orang itu menggelengkan kepalanya. Katanya, “Aku belum melihatnya. Tetapi mereka tentu akan datang.”

“Seharusnya kau menunggunya.”

“Aku akan menunggu sambil bertempur. Aku akan melawannya meskipun aku tahu, bahwa kemampuanku belum dapat mengimbanginya.”

Empu Baladatu mengangguk-angguk. Katanya, “Silahkan agar kehadiranku disini tidak mengganggu.”

“Sebaiknya Empu menyingkir agar tidak terlibat dalam kesulitan karena kami.”

Empu Baladatu masih sempat tersenyum. Katanya, “Jangan pikirkan aku lagi.”

Orang tertua itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun segera meloncat mengikuti kawan-kawannya. Setelah menilai pertempuran yang terjadi dihalaman itu, maka iapun segera memilih tempat yang paling ribut, agar ia dapat membantu kawan-kawannya yang agaknya mengalami kesulitan.

Ternyata bahwa orang-orang dari Serigala Putih itupun dapat segera menyesuaikan diri dengan lawan yang datang. Yang merasa terlampau banyak, telah berkisar ke tempat yang nampak terlampau lemah karena lawan yang lebih banyak.

Meskipun rencana yang disusun oleh gerombolan Serigala Putih itu telah rusak karena kedatangan lawan yang ttidak seperti yang diperhitungkan, namun mereka berusaha sejauh mungkin untuk mengimbangi.

Karena keduanya bersumber dari ilmu yang sama, tetapi dalam perkembangannya kemudian justru telah terjadi persaingan diantara mereka, maka pertempuran yang berkobar itupun segera menjadi sangat seru. Masing-masing bertempur dengan cara dan kemampuan yang seimbang. Kasar, buas dan liar. Di segala sudut terdengar Teriakan-teriakan nyaring, dan sumpah serapah yang tidak henti-hentinya disamping jerit ngeri karena luka yang membelah tubuh.

Sementara itu, orang tertua didalam kematangan ilmu dari gerombolan Serigala Putih telah ikut serta di dalam pertempuran itu, sehingga dengan demikian, maka ia berhasil memperingan tekanan kawan-kawannya didalam kelompoknya.

Namun dalam pada itu, ternyata bahwa kekuatan keduanya seimbang, sehingga pertempuran yang seru dan kasar itu menjadi semakin sengit. Tidak ada seorang pun dari kedua belah pihak yang mencoba untuk mencari penyelesaian lain daripada membunuh atau dibunuh.

Dengan demikian maka mayat pun telah mulai berjatuhan ditanah dari kedua belah pihak. Korban-korban pertama itu telah membakar hati kawan-kawan mereka sehingga dendampun semakin menyala di dalam dada masing-masing.

Empu Baladatu masih tetap berdiri diam bersama pengawalnya. Sejenak ia memperhatikan perkelahian yang sengit itu. Namun sejenak kemudian ia berkata kepada para pengawalnya, “Sebentar lagi beberapa orang dari mereka tentu akan menyerang kita. Bersiaplah. Kita tidak akan dapat berdiam diri dalam kekisruhan semacam ini.”

“Pengawal-pengawalnya pun mengangguk-angguk.”

“Melihat pertempuran itu, kalian tidak usah berkecil hati. Mereka tidak lebih dari kebanyakan orang-orang kita. Menurut penilaianku, kau berada selapis lebih tinggi dari kebanyakan mereka.”

Pengawalnya itu meng-angguk-angguk pula.

Ternyata dugaan Empu Baladatu itu segera terjadi. Beberapa orang dari gerombolan Macan Kumbang yang melihat Empu Baladatu dan pengawalnya masih berdiri termangu-mangu dibawah tangga pendapa, segera mendekatinya.

Tetapi sementara itu, tiba-tiba halaman padepokan itu telah digetarkan oleh suara tertawa yang meledak diatas regol. Ternyata bahwa pemimpin gerombolan Macan Kumbang tidak berusaha memecahkan regol, tetapi bersama beberapa orang pengawalnya telah meloncat keatas regol itu.

“Bagus” teriaknya kemudian, “bunuh saja semua orang gerombolan Serigala Putih. Tetapi sisakanlah yang mungkin kalian tangkap hidup-hidup. Mereka akan merupakan hiburan yang mengasyikan setelah bertempur mempertaruhkan nyawa. Aku ingin mendapat beberapa orang mainan di antara orang-orang yang menyebut dirinya gerombolan Serigala Putih.”

Suara itu benar-benar telah menggetarkan setiap orang yang berada dipadepokan itu. Apalagi ketika mereka melihat seorang yang bertubuh tinggi tegap berdada bidang sambil menggenggam sebuah kapak bertangkai pendek.

“Agaknya orang itulah yang disebut pemimpin gerombolan Macan Kumbang” desis Empu Baladatu.

“Ya” sahut salah seorang pengawalnya, “meskipun ia tidak mengenakan kulit harimau seperti Empu Sanggadaru.”

Empu Baladatu mengangguk-angguk. Orang yang berdiri diatas regol itu nampaknya memang meyakinkan. Tetapi jika kemampuannya tidak lebih dari pemimpin gerombolan Serigala Putih yang terbunuh itu, maka agaknya Empu Baladatu masih dapat membuat pertimbangan untuk melawannya seorang diri. Namun dalam pada itu, sambil mengerutkan keningnya, Empu Baladatu berkata, “Tetapi kau lihat ikat pinggangnya?”

“Ya” sahut salah seorang pengawalnya, “ikat pinggang yang besar itu dibuat dari kulit harimau kumbang.”

Empu Baladatu mengangguk-angguk. Agaknya orang itu tetap ingin menunjukkan sesuatu yang dapat dia kaitkan dengan nama gerombolannya. Macan Kumbang.

“Bersiaplah” berkata Empu Baladatu kemudian, “kita akan ikut dalam pertempuran ini seperti yang aku katakan. Mudah-mudahan dengan demikian rencanaku akan bertambah lancar.”

Kelima orang pengawalnya pun kemudian melangkah mendekat sambil mempersiapkan diri untuk menghadapi segala kemungkinan.

Sementara itu, orang yang berdiri diatas regol itu berkata, dengan suara yang lantang, “Bekerjalah lebih cepat. Aku tidak mempunyai banyak waktu untuk melayani tikus yang telah kehilangan induknya. Kita akan merampas apa saja yang ada dipadepokan ini. Jika kita tidak menemukan apa-apa, maka akan kita ketemukan pada perempuan dan anak-anak yang telah mengungsi lebih dahulu.”

“Persetan” tiba-tiba orang tertua dari gerombolan Serigala Putih itupun menjawab, “Kau jangan menyombongkan diri. Jangan kau sangka bahwa kami tidak akan berani melawanmu?”

Orang yang berdiri diatas regol bersama beberapa orang pengawalnya itu tertawa. Katanya, “Kau masih juga berani menyombongkan diri? Nah, aku akan minta kepada orang-orangku untuk menyelamatkanmu. Aku sendiri ingin berurusan dengan kau. Seorang yang sombong biasanya mengalami saat-saat kematian yang tidak menyenangkan. Dan kaupun akan mengalaminya.”

“Persetan” teriak orang tertua itu, “turunlah. Kita akan melihat apakah sebenarnya pemimpin gerombolan Macan Kumbang itu benar-benar memiliki kemampuan bertempur atau sekedar hanya berani berteriak-teriak diantara para pengawalnya.”

“Gila” teriak pemimpin gerombolan Macan Kumbang, “aku akan sanggup membunuh beberapa orang sekaligus.”

“Dan kau tidak berbuat apa-apa.”

“Gila.”

Orang tertua itu terdiam sejenak. Namun kemudian timbullah pertimbangannya yang lain. Lebih baik ia membiarkan orang itu berdiri saja di atas regol sementara ia dapat melayani orang-orang lain dari pasukan lawannya. Sehingga karena itulah, maka iapun tidak menyahut lagi. Bahkan iapun melanjutkan pertempuran yang seru melawan orang-orang Macan Kumbang yang ada di sekitarnya.

Pemimpin gerombolan Macan Kumbang itu termangu-mangu sejenak. Ia melihat orang tertua dari gerombolan Serigala Putih itu agak lebih tinggi ilmunya daripada kebanyakan anak buahnya. Namun baginya orang itu masih belum dianggap membahayakan.

Dalam pada itu, pertempuran itupun menjadi bertambah seru. Masing-masing bertempur semakin kasar dan liar. Sementara orang yang berdiri diatas regol itu masih saja bediri termangu-mangu.

Sementara pertempuran berlangsung dengan sengitnya, maka beberapa orang yang terhenti karena suara pemimpinnya yang berdiri diatas regol, segera menyadari bahwa masih ada orang yang belum mendapat lawan. Mereka adalah orang-orang yang sedang mempersiapkan diri untuk menyerang orang yang berdiri termangu-mangu itu. Karena itulah maka merekapun segera meloncat, melanjutkan langkahnya, berlari menuju ketempat Empu Baladatu dan kelima pengawalnya.

“Mereka adalah orang-orang yang sedang membunuh diri” berkata Empu Baladatu.

“Apakah kita akan membunuhnya?”

“Ya. Kita harus mengejutkan orang yang sombong, yang berdiri di atas regol itu.”

“Membunuh begitu saja?”

“Hanya tiga orang” desis Empu Baladatu, “orang-orang yang malang. Mereka belum mengenal kita. Kita akan langsung menerima mereka, membunuh dengan cara kita.”

“Melukainya arang kranjang?”

“Di sini kita adalah tidak dipadepokan. Disini tidak ada kakang Empu Sanggadaru atau orang-orang dari istana Singasari.”

Kelima orang pengawalnya termangu-mangu. Tetapi mereka tidak sempat berpikir lebih lama lagi. Tiga orang lawan telah menjadi semakin dekat.

“Mereka belum mengenal kita.” geram Empu Baladatu, “itulah agaknya mereka berani menghina Empu Baladatu. Kita berenam, dan mereka hanya bertiga. Mereka sangka masing-masing dapat membunuh kita berdua.”

Tiba-tiba saja salah seorang pengawal Empu Baladatu tertawa tidak tertahankan lagi, sehingga ketiga orang lawan yang menjadi semakin dekat itu tertegun.

“He, kalian mau apa?” terdengar suara pengawal yang tertawa itu.

“Kami akan membunuhmu” geram salah seorang dari ketiga orang itu.

“Kami berenam, dan kalian hanya bertiga.” Tiga orang itu ragu-ragu. Tetapi orang yang berdiri diatas regol, yang agaknya memperhatikan tingkah ketiga orang anak buahnya itu berteriak, “Bunuh mereka berenam.”

Ketiga orang itu tidak menunggu lebih lama lagi. Perintah itu telah menggerakkan mereka serentak menyerang Empu Baladatu dan kelima pengawalnya.

Empu Baladatu benar-benar merasa terhina. Karena itu, iapun segera memberi aba, “Bunuh secepat dapat kita lakukan.”

Perintah Empu Baladatu itu merupakan imbangan dari perintah orang yang berdiri diatas regol itu. Jika pemimpin gerombolan Macan Kumbang itu terlalu yakin akan kemampuan orang-orangnya, maka Empu Baladatu yang marah pun berusaha untuk meyakinkan lawannya, bahwa yang dihadapinya kali ini bukannya orang-orang yang ketakutan dari gerombolan Serigala Putih.

Demikian ketiga orang itu mendekat, maka Empu Baladatupun berteriak, “Sekarang. Kelupas mereka sampai ketulangnya.”

Perintah yang sangat mengerikan. Tetapi kelima pengawalnya sama sekali tidak ragu-ragu. Mereka sudah terbiasa melakukan sesuatu yang sangat mengerikan itu.

Sejenak kemudian keenam orang itupun segera meloncat dalam lingkaran. Demikian ketiga orang itu mendekat, maka tiba-tiba saja mereka sudah berada di dalam kepungan. Belum lagi mereka menyadari keadaannya, maka lingkaran itu telah berputar dengan cepatnya.

Masih terdengar teriakan tertahan. Namun tidak seorang yang mengetahui, apa yang sudah dilakukan oleh keenam orang yang berputaran dalam lingkaran itu. Orang yang berdiri diatas regol itupun tidak.

Tetapi setiap mata pun kemudian terbelalak ketika mereka mendengar Empu Baladatu berteriak , “He, siapa lagi yang akan menyusul? Inilah Empu Baladatu. Penguasa dari segala ilmu yang disebut ilmu hitam.”

Rasa-rasanya pertempuran itu pun terhenti sejenak. Orang yang berdiri diatas regol itu bagaikan membeku ditempatnya ketika mereka melihat ketiga orangnya itu terbaring ditanah. Tidak lagi dapat dilihat bentuk tubuhnya selain warna darah yang merah.

Sejenak orang diatas regol itu terbungkam. Meskipun ia adalah orang yang paling ganas didaerah yang dikuasainya, namun ketika ia melihat korban yang jatuh ditanah itu, rasa-rasanya tubuhnya telah menggigil.

“Sekarang kalian mengenal aku, siapakah Empu Baladatu yang sebenarnya.”

Orang-orang dari kedua pihak menjadi semakin tegang. Namun bagaimanapun juga, kematian yang mengerikan itu telah membakar hati pemimpin gerombolan Macan Kumbang yang berdiri diatas regol.

Sambil berteriak nyaring orang itupun kemudian meloncat turun, diikuti oleh para pengawalnya. Dengan suara yang gemetar ia berkata, “Empu Baladatu, ternyata bahwa ilmumu masih lebih dekat dengan sumber ilmu yang disebut ilmu hitam. Aku dapat mengenalinya dengan cara yang kau lakukan. Cara yang sudah lama ditinggalkan oleh cabang perguruan Macan Kumbang. Namun itu bukan berarti bahwa kami tidak akan mampu mengimbangi ilmumu yang gila itu. Meskipun belum dalam keseluruhan orang-orangku, tetapi setidak-tidaknya aku sendiri menguasai cara yang paling baik untuk melawan keliaran dan kebuasanmu itu.”

Empu Baladatu tertawa. Jawabnya, “Soalnya bukan sekedar kesombongan dan bual yang memuakkan. Kita akan bertempur. Dan diantara kita akan menjadi korban dari keganasan kita masing-masing. Akupun sadar, bahwa bagaimanapun juga ujud dari perkembangan ilmumu, namun ciri yang tidak dapat kita tinggalkan, adalah kekasaran yang buas dan liar. Aku sudah menunjukkannya, dan kau sudah melihat akibatnya. Sekarang, cobalah. Apa yang dapat kau lakukan dengan kapakmu. Kau tentu akan menyayat kulit korbanmu seperti sayatan kuku Macan Kumbang. Tetapi jika demikian, maka senjata yang paling tepat adalah senjata berujung runcing. Bukan sebuah kapak.”

“Kau salah. Aku tidak pernah meninggalkan korban seperti bekas sayatan kuku harimau. Tetapi aku selalu meninggalkan korbanku yang terpisah-pisah anggauta tubuhnya. Mungkin kepalanya, mungkin kedua kaki dan lengannya, atau mungkin isi perutnya. Nah, kau mengerti?”

Empu Baladatu mengangguk-angguk. Namun suara tertawanya telah meledak lagi. Suara tertawa iblis yang mengerikan.

Orang-orang dari gerombolan Serigala Putih yang melihatnya di hutan, sebagai seorang yang baik dan pengampun, menjadi heran melihatnya sekarang sebagai iblis yang buas. Rasa-rasanya Empu Baladatu yang berada di hutan perburuan itu sama sekali lain dengan Empu Baladatu yang telah mengotori tangannya dengan darah.

Namun mereka tidak dapat ingkar, bahwa dua kekuatan dari ilmu hitam sedang berhadapan. Keduanya adalah orang-orang yang liar dan buas. Cara mereka membunuh lawannya benar-benar tidak masuk akal. Mereka sudah melihat akibat tangan Empu Baladatu. Sedangkan mereka sudah mendengar pula, bagaimana pemimpin gerombolan Macan Kumbang itu membunuh seseorang. Seperti yang dikatakan, maka dengan kapaknya, ia dapat berbuat apa saja atas korbannya yang sudah dibunuhnya.

Sejenak kemudian, kedua orang yang memiliki ilmu hitam itu telah bersiap. Para pengawalnya telah menghadapi lawannya masing-masing pula, sehingga mereka tidak akan bertempur dalam kelompok betapapun kecilnya.

Sejenak kemudian, tiba-tiba saja telah terdengar teriakan nyaring yang terlontar dari mulut pemimpin gerombolan Macan Kumbang itu. Dan itupun merupakan aba-aba yang telah menggerakkan seluruh anak buahnya yang termangu-mangu melihat kebiadaban Empu Baladatu yang semula sama sekali tidak disangka-sangkanya

Pertempuran segera berkobar lagi diseluruh halaman. Orang-orang dari kedua gerombolan itu pun segera mengerahkan kemampuan masing-masing dengan segala macam kekasaran, kebuasan dan kebiadaban. Mereka menyadari bahwa tidak ada cara yang lebih baik untuk membinasakan lawan. Apalagi mereka masing-masing memang dibesarkan dalam ilmunya, dengan cara yang demikian.

Itulah sebabnya, pertempuran yang terjadi kemudian adalah pertempuran yang paling gila. Empu Baiadatu pun sama sekali tidak mengekang dirinya lagi. Ia berbuat apa saja yang dapat dilakukannya tanpa mempertimbangkan apapun juga. Demikian juga lawannya, pemimpin gerombolan Macan Kumbang. Ia telah melihat akibat tangan Empu Baladatu dengan pisau-pisau belati panjangnya. Ketiga orangnya itu bagaikan di sayat kulitnya di seluruh tubuh.

Dalam pada itu, Empu Baladatu bertempur dengan sepasang pisau belati panjang, yang merupakan senjata utamanya dalam puncak kemampuannya sebagai ciri gerombolannya yang buas dan liar. Sedangkan lawannya mempergunakan sebuah kapak yang tajamnya berkilat-kilat disentuh sinar matahari.

Kedua orang itu ternyata telah terlibat dalam perkelahian yang dahsyat dan paling kasar. Bahkan orang-orang dari kedua gerombolan itupun seolah-olah belum pernah melihat pertempuran yang membingungkan. Keduanya bergerak dengan cepat dan membingungkan. Namun setiap kali terdengar teriakan dan umpatan. Bahkan Kadang-kadang salah seorang dari mereka telah mempergunakan ludah mereka sebagai senjata untuk mematuk mata. Tetapi seakan-akan masing-masing telah memiliki kemampuan untuk mengatasi setiap serangan yang betapapun ganasnya.

“Kau tidak akan dapat menyombongkan ilmu putaran itu disini” geram pemimpin Macan Kumbang.

“Dan kapakmu tidak akan mengejutkan aku” jawab Empu Baladatu, “hentakan yang mengejut itu sama sekali tidak dapat mempengaruhi keseimbangan perlawananku.”

“Persetan” geram pemimpin gerombolan Macan Kumbang.

“Tidak ada gunanya kau mengumpat. Sebentar lagi kau akan mati dengan kulit terkelupas.”

“Kau yang akan mati dengan tubuh yang terpotong-potong.”

Tetapi suara pemimpin gerombolan Macan Kumbang itu terputus karena tiba-tiba saja Empu Baladatu sempat mencungkil segumpal tanah yang dilontarkan pada mata lawannya. Untunglah bahwa pemimpin gerombolan Macan Kumbang itu sempat mengelak. Bahkan iapun kemudian dengan sengaja melemparkan segenggam pasir kewajah lawannya. Namun tidak juga mengenai sasarannya.

Perkelahian yang kasar itu telah terjadi pula diantara setiap orang didalam gerombolan yang jumlahnya memang tidak terpaut banyak itu.

Namun dalam pada itu, ternyata bahwa Empu Baladatu memang memiliki kelebihan dari lawannya. Meskipun menurut penilaian orang-orang gerombolan Serigala Putih sendiri, bahwa, pemimpin gerombolan Macan Kumbang itu memang mempunyai kelebihan betapapun kecilnya dari pemimpinnya yang terbunuh, namun didalam bertaruh nyawa, belum pasti bahwa pemimpinnyalah yang akan kalah. Apalagi jika sempat satu atau dua orang membantunya, maka kemungkinan yang lain masih dapat terjadi.

Tetapi setelah pertempuran yang kasar itu terjadi beberapa saat lamanya, maka pemimpin germbolan Macan Kumbang itu mulai terdesak surut. Beberapa kali ia menghindar dengan loncatan panjang, jika Empu Baladatu sudah mulai bergerak dalam garis lingkaran. Namun dengan demikian maka usaha Empu Baladatu untuk mengitarinya pun telah gagal pula.

Meskipun demikian, namun Empu Baladatu masih mampu membuat lawannya terdesak surut dengan serangan-serangannya yang kasar. Meskipun pemimpin gerombolan Macan Kumbang itu tidak kalah kasarnya, tetapi nampaknya Empu Baladatu memang mempunyai kecepatan yang lebih tinggi dari lawannya.

Dengan demikian, maka meskipun Empu Baladatu sendiri tidak dapat mengitari lawannya, namun sepasang senjatanya bagaikan mematuk-matuk dari segenap penjuru. Bayangan yang bulat membujur bagaikan angin yang bergulung-gulung melanda pemimpin gerombolan Macan Kumbang.

Tetapi kapak bertangkai pendek itu ternyata merupakan senjata yang dahsyat pula. Sekali-kali kapak itu melayang bagaikan hendak membelah langit. Namun kemudian terayun mendatar setinggi lambung.

Ketika kapak itu terayun dengan cepatnya, EmpuBaladatu yang berdiri didekat sebatang pohon kemuning, sempat mengelakkan diri. Tetapi demikian derasnya ayunan kapak itu sehingga batang kemuning sebesar paha itupun putus sekali sentuh.

Tetapi pada saat yang bersamaan Empu Baladatu meloncat dengan cepatnya dan berlari berputaran.

Namun lawannya tidak menyerah. Ia masih sempat meloncati batang yang roboh dan menginjakkan kakinya dibelakang garis lingkaran yang mulai terbentuk.

“Setan alas” teriak Empu Baladatu. Lawannya tidak menyahut. Ia masih berdiri ditentang batang yang roboh oleh satu sentuhan kapaknya itu.

Sejenak kemudian mereka mencari kesempatan. Namun sekejap berikutnya, pertempuran telah membakar keduanya bagaikan api yang menjilat-jilat sampai ketepi mega.

Dengan demikian maka halaman padepokan Serigala Putih itupun kemudian telah dipenuhi dengan kekerasan senjata antara dua kelompok yang dibekali dengan ilmu hitam. Di tambah dengan kehadiran Empu Baladatu yang juga menyadap ilmu dari sumber yang sama, yang bahkan masih memiliki tanda-tanda yang jauh lebih mengerikan dari ilmu hitam itu.

Di setiap sudut halaman telah mulai dibasahi oleh darah dari kedua belah pihak. Mayat mulai bergelimpangan dengan luka yang mengerikan disetiap tubuh.

Empu Baladatu yang bertempur bagaikan iblis itu mendapat perlawanan yang gigih dari pemimpin gerombolan Macan Kumbang. Masing-masing mampu melakukan sesuatu yang sama sekali tidak di-sangka-sangka oleh masing-masing pihak.

Tetapi dalam pada itu, pemimpin gerombolan Macan Kumbang merasa menghadapi keadaan yang tidak diduga-duganya. Ia sama sekali tidak memperhitungkan kehadiran seseorang yang ternyata memiliki kemampuan bukan saja menyamai pemimpin gerombolan Serigala Putih yang sudah terbunuh, tetapi ternyata memiliki ilmu yang lebih tinggi dan lebih mengerikan.

Dengan demikian maka kemarahan yang menyala didadanya bagaikan telah membakar jantung. Dengan kapaknya ia kemudian mengerahkan segenap ilmu. dan kemampuan yang ada padanya, ilmu yang disebut ilmu hitam meskipun sudah mengalami perkembangan tersendiri dari ilmu yang dimiliki oleh Empu Baladatu.

Namun bagaimanapun juga, pemimpin gerombolan Macan Kumbang itu tidak mampu menyamai keganasan Empu Baladatu, sehingga dengan demikian maka semakin lama iapun menjadi semakin terdesak surut, sehingga pada suatu sudut yang tidak lagi dapat memberi kesempatan kepadanya untuk melangkah surut lagi.

Kemarahan yang membara bagaikan terpancar dari matanya yang merah. Darahnya bagaikan mendidih di dalam jantungnya. Dengan tangan bergetar, ia pun kemudian mengayunkan kapaknya bagaikan tabir baja yang melindungi dirinya.

Tetapi Empu Baladatu tidak melepaskannya. Kedua ujung pisau belati panjangnya, setiap kali berhasil menyusup disela-sela putaran kapaknya. Rasa-rasanya semakin lama menjadi semakin dekat dengan dadanya.

Dalam pada itu, pertempuran yang terjadi di seluruh halaman ilu seolah-olah tidak akan selesai sebelum kedua belah pihak binasa seluruhnya. Hanya tinggal seorang saja yang akan tinggal hidup. Teriakan dan umpatan menggemuruh di sela-sela jerit dan pekik kesakitan yang tidak tertahankan. Sehingga campur baur bunyi yang memekakkan telinga telah menggetarkan udara padepokan itu.

Sementara itu, pemimpin gerombolan Macan Kumbang yang telah tersudut tidak mau menyerah tanpa usaha apapun juga untuk menyelamatkan dirinya. Karena itu, maka sejenak kemudian terdengar isyarat yang meloncat dari mulutnya. Sebuah suitan yang nyaring, yang seolah-olah melengking dari dasar bumi. Ternyata isyarat itu adalah isyarat untuk memanggil beberapa orang pengawalnya, yang dengan serta merta telah meninggalkan beberapa orang lawannya untuk menyerang Empu Baladatu.

Tetapi Empu Baladatu pun tidak sendiri. Kelima orang pengawalnya yang telah curiga dengan isyarat yang terlontar dari mulut pemimpin gerombolan Matan Kumbang itu, telah menjadi isyarat pula bagi mereka.

Demikian mereka melihat beberapa orang menyerang Empu Baladatu dari segala penjuru, maka merekapun segera meninggalkan Lawan-lawannya sambil berteriak kepada orang-orang Serigala Putih yang ditinggalkan lawannya pula, “He, kemarilah kalian yang kehilangan lawan.”

Orang-orang dari gerombolan Serigala Putih itupun dapat menangkap maksudnya. Karena itu, maka merekapun segera berlari-larian mendapatkan lawan para pengawal Empu Baladatu.

Dengan demikian maka para pengawal dari pemimpin gerombolan Macan Kumbang itu tidak berhasil membantu pemimpinnya melawan Empu Baladatu, karena para pengawal Empu Baladatu pun segera mengambil alih perlawanan terhadap mereka.

Pemimpin gerombolan Macan Kumbang itu menggeram. Ia benar-benar telah terperosok kedalam suatu keadaan yang tidak diduganya.

Namun demikian ia tidak menjadi putus asa. Ia sadar, bahwa ilmu orang yang tidak diperhitungkan itu ternyata lebih tinggi dari ilmunya. Namun ia masih mengharap dapat menemukan kelemahannya. Tetapi akhirnya ternyata bahwa kesempatan itu tidak kunjung datang. Empu Baladatu bertempur dengan sebaik-baiknya karena ia tidak ingin membuat kesalahan betapapun kecilnya. Meskipun serangan dari gerombolan Macan Kumbang itu tidak diketahuinya lebih dahulu, namun ia justru dapat memanfaatkannya dengan baik.

Itulah sebabnya ia bertekad untuk memenangkan perkelahian yang dahsyat itu. Iapun sudah siap menunjukkan betapa kasar dan biadabnya ilmu hitam yang dimilikinya, melampaui ilmu hitam dari gerombolan Serigala Putih dan Macan Kumbang.

Dengan demikian, maka Empu Baladatu pun mendesak lawannya semakin ke sudut sehingga benar-benar tidak mendapat kesempatan sama sekali untuk mengelakkan diri.

Kegelisahan telah memuncak pada setiap dada orang-orang dari gerombolan Maran Kumbang. Pada saat-saat tertentu mereka sempat melihat, bahwa pemimpinnya sudah terdesak sehingga tidak dapat bergerak sama sekali.

Namun demikian pemimpin gerombolan Macan Kumbang itu sama sekali tidak berputus asa. Ia tetap bertempur dengan segenap sisa kemampuannya.

Dalam pada itu, ternyata bahwa Empu Baladatu yang kasar dan liar itu masih sempat berpikir. Seperti rencana yang sudah disusunnya saat ia mengunjungi padepokan gerombolan Serigala Putih yang sudah kehilangan pemimpinnya itu, maka persoalan yang tiba-tiba saja dijumpainya itupun akan dimanfaatkannya pula.

Karena itu, ketika ia sudah berhasil mengurung lawannya sehingga tidak mungkin untuk dapat lolos lagi, maka iapun berteriak, “Menyerahlah. Aku masih dapat berbicara dengan kepala yang dingin.”

“Persetan” geram lawannya.

“Jangan keras kepala. Kau tahu, aku dapat membunuhmu sekarang. Tetapi aku masih mempunyai rencana yang panjang yang barangkali dapat kita susun bersama.”

Tidak ada jawaban.

“Jika kau pernah mendengar nama Mahisa Bungalan dan Linggadadi pembunuh orang-orang berilmu hitam, maka kau tentu akan menganggap pertempuran kita ini bermanfaat.”

Masih belum ada jawaban.

“Jika kau hentikan niatmu menguasai padepokan ini, dan bersedia bekerja bersama kami, maka kau akan melihat jalan lurus yang licin yang akan sampai ke tempat yang diinginkan oleh setiap orang. Kamukten.”

Pemimpin gerombolan Macan Kumbang itu masih tetap berdiam diri.

“Jawablah. Supaya aku tidak terlanjur membunuhmu. Kita akan bersama-sama membinasakan Linggadadi dan Mahisa Bungalan. Kemudian kita akan menguasai seluruh Singasari. Kau mengerti.”

“Sebuah mimpi yang menakjubkan. Tetapi mentertawakan” jawab pemimpin gerombolan Macan Kumbang.

“Mungkin jika kau bercermin pada dirimu sendiri. Tetapi kau harus melihat kepada keadaan dan kesempatan diluar lingkunganmu yang sempit, sesempit tempurung. Kau hanya tahu rumah-rumah yang berlaEmpu terang dimalam hari. Mengetuk pintunya dan merampok harta bendanya. Selebihnya kau bersembunyi didalam padepokanmu.”

“Kau menghina.”

“Aku menawarkan kerja sama yang saling menguntungkan. Kau sekarang harus mengakui, bahwa kau tidak dapat mengalahkan aku. Apakah kau masih akan menyombongkan diri? Jika kedua padepokan yang selama ini bermusuhan ini dapat bergabung, demikian pula dengan padepokanku, maka kita akan merupakan kekuatan yang disebut kekuatan hitam yang tidak terlawan.”

Pemimpin gerombolan Maran Kumbang termangu-mangu sejenak. Pada tatapan matanya nampak, bahwa ia sedang mencoba memikirkan kata-kata Empu Baladatu itu.....

Bersambung.....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...