Minggu, 31 Januari 2021

SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG JILID 27-01

*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 27-01*

Karya.   : SH Mintardja

Namun demikian, ternyata bahwa pertempuran itu tak berlangsung lebih lama lagi. Meski pun salah seorang dari padepokan Macan Kumbang itu berhasil selalu memotong gerak lawannya dalam ilmu puncak perguruan Empu Baladatu, akan tetapi pada suatu saat ia mendengar kawannya menjerit ngeri.

Yang terjadi kemudian bagaikan angin pusaran dalam gelapnya malam. Namun ketika tiba-tiba saja pusaran itu mengendor, tampak sesosok tubuh yang terjatuh ditanah. Sesosok tubuh yang sudah kehilangan bentuknya.

Kengerian yang sangat telah mencengkam jantung kawannya. Ia sadar, bahwa ia tidak akan mempunyai kesempatan lagi untuk menghindarkan diri. Karena itu, maka tidak ada pilihan lain yang dapat dilakukan kecuali mati dengan dada tengadah.

Kepastiannya untuk mati itu ternyata telah memberikan justru ketenangan kepadanya. Ia sempat melihat perhatian lawannya yang sebagian tertuju kepada kawannya .yang bagaikan batang yang tumbang ditanah.

Kesempatan itu pun dipergunakannya sebaik-baiknya. Dengan serta-merta ia meloncat menerkam dengan ujung senjatanya. ,

Lawannya sempat melihat loncotan itu. Tetapi ia terlambat untuk membebaskan dirinya sama sekali, karena terasa sebuah goresan dipunggungnya ketika ia meloncat ke samping sambil merendahkan dirinya.

Sebuah luka yang panjang membujur di punggung. Darah yang merah mulai meleleh dari ujung luka. Semakin lama semakin banyak.

Lawannya tidak melepaskannya. Serangan berikutnya telah menyambarnya. Tetapi sayang, lawannya itu agak tergesa-gesa, sehingga serangannya kurang mengarah.

Tetapi, luka itu agaknya cukup parah. Dalam waktu yang singkat, terasa tenaganya mulai surut, sehingga untuk menghindari serangan-serangan berikutnya, terasa kakinya menjadi semakin berat.

Namun dalam pada itu, kawannya yang telah menyelesaikan pekerjaannya itu pun dengan buas telah meloncat ke dalam arena perkelahiannya. Sambil menggeram ia bertanya, “Apakah masih sanggup bertempur?”

“Ya” jawab kawannya yang terluka itu.

Terdengar lawannya yang tinggal seorang itu menggeram. Mirip seekor harimau yang kelaparan melihat seekor kancil melintas di hadapannya.

Sejenak kemudian, orang yang telah terluka dipunggungnya itu mulai bertempur berpasangan. Meskipun lukanya mulai terasa mengganggu, tetapi karena ia tidak seorang diri maka ia pun tidak banyak mengalami kesulitan. Meskipun tidak terlampau cepat, maka keduanya mulai bergerak dalam putaran yang mengelilingi lawannya yang tinggal seorang diri.

Tetapi lawannya masih sempat berpikir. Ia mempunyai perhitungan yang baik atas kedua lawannya. Setiap kali ia berhasil memotong putaran itu justru pada lawannya yang sudah terluka.

“Gila” geram lawannya yang masih mampu bertempur dengan kekuatan seutuhnya, “aku akan membunuhnya. Berilah aku kesempatan pertama. Dan kau harus berusaha menyesuaikan diri sesuai dengan keadaanmu yang sudah terluka itu.”

“Baiklah” jawab kawannya, “lakukanlah yang baik bagi kita. Ternyata orang ini nampaknya ingin mengalami nasib yang lebih buruk dari kawannya.“

Orang dari gerombolan Macan Kumbang itu menggeram pula. Tetapi ia sudah benar-benar bersiap untuk mati.

Ketika perkelahian telah berkobar semakin seru, maka orang dari gerombolan Macan Kumbang itu merasa semakin terdesak. Lawannya yang seorang selalu berusaha mengitarinya, sedang yang lain menyerang dengan tiba-tiba, justru pada saat-saat ia berusaha memotong putaran yang serasa menjadi semakin cepat.

Tetapi tidak ada jalan lagi baginya. Meskipun ia mengerahkan segenap kemampuan yang ada padanya, namun akhirnya ia merasa bahwa maut seolah-olah telah menari-nari disekelilingnya bersama dengan serangan-serangan lawannya yang semakin dahsyat.

Namun dalam keadaan yang paling parah, ia mendengar lawannya berkata, “Jangan bunuh dengan cara yang baru saja kita lakukan.”

“Kenapa?” bertanya yang terluka.

“Dengan demikian maka ia harus kita kuburkan tanpa diketahui oleh siapapun juga.”

“Jadi?”

“Kita bunuh dengan cara lain. Mayatnya akan kita biarkan saja terkapar sehingga ada orang yang mengetahui, bahwa seorang dari gerombolan Macan Kumbang telah mati,”

“Persetan” teriak orang dari gerombolan Macan Kumbang itu sendiri dengan kemarahan yang meledak-ledak.

“Sebaiknya kita bawa mayatnya kedekat sarangnya Dengan demikian maka mayatnya akan jatuh ketangan orangi Macan Kumbang sendiri tanpa mengetahui siapakah yang telah membunuhnya. Jika mereka melihat barang hasil rampokannya, maka kawan-kawannya akan menyadari, apakah yang sebenarnya telah terjadi.”

“Gila” teriak orang dari gerombolan Macan Kumbang itu, “akulah yang akan membunuh kalian.”

Tetapi pertempuran itu semakin lama semakin meyakinkan. Meskipun kedua orang pengikut langsung Empu Baladatu itu tidak mempergunakan ilmu puncak dari ilmu hitam, namun keduanya masih mampu membuat lawannya yang lelah itu kebingungan dan semakin lama menjadi semakin kehilangan daya perlawanannya.

“Hati-hati, jangan timbulkan kesan bahwa kitalah yang telah membunuh. Lukanya harus mempunyai ciri yang lain.”

“Jadi?”

“Biarlah ia lelah dan kemudian pingsan. Kita akan menentukan, bentuk luka yang bagaimanakah yang sebaiknya kali ini kita pasang pada tubuhnya.”

Pembicaraan itu benar-benar suatu penghinaan yang tidak ada tatanya. Tetapi ia tidak kuasa untuk berbuat apapun juga, selain berusaha untuk bertempur terus.

Sekali-kali ia juga mencari kemungkinan lain. Tetapi untuk melarikan diri, nampaknya terlampau sulit baginya, karena kedua lawannya tentu akan mengejarnya dan membunuhnya Seperti yang direncanakannya.

Itulah sebabnya maka ia, masih bertempur terus. Lawan-lawannya yang akan dibunuhnya itu tentu bukannya dua orang pengampun yang melupakan ancaman yang pernah terlontar dari mulutnya.

Dan akhir itu pun kemudian benar-benar datang. Orang dari gerombolan Macan Kumbang itu semakin lama menjadi semakin lemah. Betapapun juga, ia tidak akan mampu melawan dua orang lawan meskipun yang seorang sudah terluka.

Dalam keadaan yang paling pahit ia kemudian kehilangan: semua kesempatan. Ternyata lawannya sama sekali tidak mempergunakan senjatanya. Serangan mereka datang dari beberapa arah justru dengan genggaman atau sisi telapak tangan.

“Gila” orang itu berteriak.

Tetapi kedua lawannya sama sekali tidak menghiraukannya. Mereka benar-benar ingin menyelesaikan pekerjaan mereka dengan sebaik-baiknya. Membunuh lawannya tanpa meninggalkan luka senjata.

Ketika kemudian, tenaganya tidak lagi mampu mendukung kemauannya, maka orang itu pun bagaikan telah kehilangan tulang belulangnya. Perlahan-lahan ia jatuh di atas lututnya tanpa hentakkan lawannya. Meskipun ia masih selalu mencoba bangkit, namun seakan-akan keseimbangannya telah kabur sama sekali.

“Kau sudah tidak mampu lagi berbuat apa-apa” desis lawannya yang terluka.

Orang dari gerombolan Macan Kumbang itu benar-benar tidak mampu berbuat apa-apa. Betapapun tinggi daya ketahanan Lubuhnya, tetapi tangan-tangan yang menghantam tubuhnya itu pun didorong oleh kekuatan yang luar biasa pula.

Itulah sebabnya orang itu sama sekali tidak dapat lagi melawan ketika ia harus mati karena pernafasannya yang tersumbat.

“Apa yang akan kita lakukan atas orang ini,” bertanya yang telah terluka.

“Kita letakkan di dekat sarang mereka, agar kematiannya menjadi masalah. Kita letakkan barang-barang hasil rampokannya.” jawab yang lain.

“Tetapi bagaimanakah jika justru jatuh ketangan orang lain yang menjumpainya lebih dahulu dari orang-orang Macan Kumbang sendiri.”

“Kita akan mengawasinya dan meyakini bahwa mayat dan barang-barang itu akan jatuh ketangan orang-orang Macan Kumbang sendiri.”

“Itu berarti tugas kita sendiri akan tertunda.”

“Tidak banyak artinya. Mungkin tertunda satu dua hari. Tetapi tugas kita tidak terbatas waktu.”

Kawannya mengangguk-angguk. Namun kemudian sambil memandang mayat yang sesosok dengan bekas-bekas tangan ilmu hitam ia berkata, “Dan orang ini?”

“Kita kuburkan saja disini. Tidak seorang pun boleh mengetahui, bahwa kekuatan yang disebut kekuatan hitam itu kini sedang berkeliaran.”

Dengan alat yang ada, maka kedua orang itu pun mulai menggali lubang dan memasukkan mayat yang sudah tidak berbentuk itu kedalamnya, dibalik semak-semak yang rimbun.

“Bagaimanakah jika besok ada orang yang mencurigai tanah yang nampak baru ini?”

“Kita akan melenyapkan semua bekas. Semak-semak itu akan melindunginya.”

Demikianlah keduanya pun kemudian berusaha untuk memulihkan semak-semak itu sehingga tidak menimbulkan kecurigaan lagi, sementara mayat yang lain telah mereka sangkutkan pada punggung kuda dan membawanya mendekati sarang gerombolan Macan Kumbang.

Seperti yang mereka perhitungkan, maka menjelang pagi mereka baru mendekati tempat yang mereka tuju. Sejenak mereka membiarkan kuda-kuda mereka melepaskan lelah setelah menempuh perjalanan yaang cukup jauh.

“Kita tidak dapat maju lagi. Disiang hari, jika kita berpapasan dengan seseorang, maka mayat itu akan dapat menimbulkan kecurigaan.”

Kawannya menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Jaraknya tidak begitu jauh lagi.”

Sejenak keduanya termangu-mangu. Tetapi mereka tidak berani lagi memaksa kuda mereka berpacu. Kuda mereka cukup lelah, dan hari pun sudah menjadi semakin terang.

“Kita akan menunggu sehari di sini.”

“Dengan sesosok mayat”

Kawannya mengangguk-angguk. Jawabnya dengan nada datar, “Apaboleh buat.”

Dengan keluhan panjang, maka kawannya pun kemudian mengangkat mayat itu dari punggung kudanya dan membaringkannya di atas rerumputan di dalam sebuah hutan kecil. Kemudian diikatnya kudanya dengan tali yang panjang, agar kuda itu sempat makan rerumputan sepuas-puasnya.

“Aku akan membuat api” berkata orang yang terluka.

“Nanti, jika matahari sudah naik.”

“Aku lapar sekali, dan tubuhku terasa dingin sekali.”

“Aku akan mengobati lukamu. Mungkin luka itu berpengaruh meskipun sudah tidak berdarah lagi.”

Dengan serbuk yang berwarna kehitam-hitaman maka luka itu pun diobatinya, sehingga perasaan pedih menjadi jauh berkurang.

Baru ketika matahari menjadi semakin tinggi, kedua orang itu mencoba membuat api. Mereka berusaha untuk langsung menyalakan dedaunan dan ranting-ranting yang kering agar tidak banyak melemparkan asap keudara sehingga dapat menumbuhkan kecurigaan orang-orang yang melihat dari kejauhan.

“Aku masih mempunyai beberapa potong jadah dan jenang alot” desis yang seorang.

“Aku sama sekali tidak. Tetapi dihutan ini tentu tersimpan makanan yang dapat kita pergunakan untuk mengisi perut kita sehari ini.”

Yang lain mengangguk-angguk. Dan dibiarkannya kawannya itu melangkah beberapa langkah sambil menjinjing sumpitnya.

Ternyata kawannya adalah seorang yang pandai membidik. Dalam waktu yang singkat, ia telah datang lagi membawa beberapa ekor burung yang berhasil disumpitnya.

“Jika kau masih juga lapar, aku akan berburu dengan panah” katanya.

Kawannya tersenyum. Tetapi diluar sadarnya ia berpaling kepada sesosok mayat yang terbaring.

“Kita akan menangkap seekor harimau atau justru seekor harimau akan mencuri harta kita itu.”

“Tidak kedua-duanya” jawab yang lain, lalu, “tetapi berapa ekor burung ini aku rasa sudah cukup.”

Demikianlah mereka terpaksa menunggu sehari sambil beristirahat, sebelum pada malam berikutnya mereka mendekat lebih rapat lagi dengan sarang gerombolan Macan Kumbang.

“Jalan ini adalah jalan tunggal menuju kepadepokan itu” desis salah seorang dari keduanya.

“Kita, berhenti disini” jawab yang lain.

Keduanya pun kemudian berhenti sejenak. Mereka menunggu kesempatan yang sebaik-baiknya untuk dapat mendekati padepokan dan meletakkan mayat itu dimulut padepokan.

“Tidak mungkin terlalu dekat” berkata yang seorang

“Di dalam regol itu tentu ada, beberapa orang penjaga.”

Tetapi yang lain masih akan mencoba mendekat, katanya

“Kita dapat menyusur gerumbul-gerumbul di tepi jalan sebelum kita meletakkannya di regol itu.”

Demikianlah dengan sangat berhati-hati keduanya berusaha mendekat dan kemudian meletakkan mayat itu di depan regol tanpa diketahui oleh orang-orang yang memang sedang berjaga-jaga. tetapi di dalam regol yang tertutup.

Seperti yang diharapkan, maka di pagi-pagi benar, seorang yang mula-mula sekali membuka regol dinding padepokan untuk pergi ke sungai diluar regol telah menemukan mayat itu.

Suasana Padepokan Macan Kumbang itu pun segera menjadi gempar. Orang-orang yang tidak sedang bertugas keluar, dengan penuh ketegangan, mengangkat mayat itu dan membawanya kerumah induk di padepokan itu.

“Ya” desis salah seorang dari mereka, “orang ini adalah kawan kita.”

“Ya,” sudah tentu. Kawan sebilikku. Ia memang sedang bertugas untuk mencari beberapa keterangan tentang beberapa nama yang diperlukan oleh Empu Baladatu.”

Orang yang ditugaskan oleh Empu Baladatu di padepokan Macan Kumbang itu pun mulai melihat-lihat mayat itu. Ia tidak melihat tanda-tanda yang menunjukkan kepadanya, siapakah yang telah membunuh orang dari gerombolan Macan Kumbang itu. Namun di dekat mayat itu ia menemukan beberapa jenis barang yang sudah pasti bukan milik orang yang terbunuh itu.

“Tidak ada bekas luka” desis seseorang. Yang lain mengangguk-angguk.

“Tentu ada sesuatu yang telah terjadi dengan orang ini” berkata pemimpin gerombolan Macan Kumbang yang ditugaskan oleh Empu Baladatu dipadepokan itu, “barang-barang ini agaknya bukan barang-barang yang didapatnya dengan wajar. Agaknya orang ini sudah melanggar pesan, agar tidak melakukan tindakan yang dapat memanggil kecurigaan orang lain, terutama para petugas dari Singasari.”

“Apakah orang ini telah dibunuh oleh prajurit-prajurit Singasari?” bertanya salah seorang dari kawan-kawannya.

Pemimpin itu menggeleng. Jawabnya, “Tentu tidak. Tetapi menilik keadaannya, agaknya ia mati karena tingkah lakunya sendiri.”

“Maksudnya?” Beberapa orang ter-mangu-mangu.

“Apakah orang ini kena kutuk seperti beberapa orang yang pernah meninggal sebelumnya?”

Pemimpin padepokan yang mewakili Empu Baladatu itu ragu-ragu sejenak. Namun kemudian kepalanya terangguk-angguk kecil. Katanya, “Mungkin sekali. Agaknya ia sudah melanggar pesan yang aku berikan ketika ia berangkat.”

“Pesan apakah yang telah dilanggarnya?”

“Aku tidak tahu pasti. Tetapi menilik barang-barang yang ada didekat mayat itu, tentu ia sudah mendapatkan barang-barang itu dengan cara yang tidak pantas.”

“Merampok?” bertanya yang lain. Pemimpin padepokan itu mengangguk.

Namun dalam pada itu terdengar salah seorang yang lain berkata,, “Tetapi pekerjaan semacam itu sudah kita lakukan untuk waktu yang lama.”

“Jagalah dirimu dari bencana yang serupa” desis pemimpin padepokan itu, “aku tahu bahwa kalian adalah segerombolan perampok. Bahkan aku tahu bahwa gerombolan Macan Kumbang telah bersaing untuk waktu yang lama dengan gerombolan Serigala Putih. Setiap benturan kekerasan telah merenggut banyak korban. Tetapi korban-korban itu adalah korban yang jatuh dengan wajar.”

Orang-orang yang mendengarnya termangu-mangu.

“Tetapi pada suatu saat kalian menjumpai korban yang jatuh dengan cara yang lain. Termasuk orang yang mati di depan regol itu, karena ia sudah melanggar pesan bahwa di saat ini kita harus berbuat sangat hati-hati.”

Orang-orang yang mendengarkannya dengan cemas memaksa diri untuk mempercayai setiap keterangan itu, sebab mereka tidak mau menjadi korban pula seperti orang-orang yang pernah mati sebelumnya tanpa sebab dan bekas-bekas luka yang menunjukkan sebab-sebab kematian mereka.

“Sudahlah” berkata pemimpin itu, “selenggarakan mayat itu sebaik-baiknya. Kita harus menyadap pengalaman pahit ini.”

Demikianlah orang-orang Macan Kumbang yang ada dipadepokan itu pun menyelenggarakan mayat kawan mereka yang terbunuh. Namun sudah barang tentu bahwa berita tentang kematian itu segera menjalar keluar padepokan. Kabar itu segera sampai ketelinga orang-orang yang dalam hubungan sehari-hari sering bergaul dengan orang-orang Macan Kumbang. Sehingga dengan demikian, maka berita tentang kematian itu pun segera tersebar di antara mereka.

“Setiap penyimpangan dari pesan-pesan Empu Baladatu, akibatnya adalah maut.”

Peringatan itulah yang kemudian sampai kesetiap telinga orang-orang yang menjalankan tugas dari Empu Baladatu dan orang-orang yang mendapat kuasanya.

Namun dengan demikian, maka tugas mereka pun sama sekali tidak menarik perhatian pihak lain karena dapat mereka lakukan dengan diam-diam.

Meskipun memerlukan waktu, namun akhirnya usaha Empu Baladatu itu pun berhasil meskipun belum seluruhnya. Seorang petugas yang berasal dari gerombolan Serigala Putih, yang melakukan perjalanan sebagai seorang pengemis, mendapatkan beberapa keterangan tentang orang yang bernama Linggadadi.

“Keterangan itu perlu dilengkapi” berkata orang itu kepada Kiai Dulang.

“Ya. Tetapi keteranganmu penting artinya bagi kami. Dengan demikian, kami sudah mengetahui, siapakah sebenarnya orang yang bernama Linggadadi itu.”

“Sebagian daripadanya.”

“Kita akan menyebarkan beberapa orang untuk menyelidiki keadaannya lebih lanjut.”

Tetapi karena penyelidikan berikutnya menjadi lebih sulit, Kiai Dulang tidak berani berbuat tergesa-gesa. Ia pun kemudian memerlukan pergi sendiri menemui Empu Baladatu.

“Agaknya Empu dapat membatasi daerah penyelidikan.”

“Tentang Linggadadi” berkata Empu Baladatu, “sementara tentang Mahisa Bungalan pun telah aku dengar beritanya.”

“O” desis Kiai Dulang yang datang keperguruan Empu Baladatu.

“Mahisa Bungalan telah berada di Kota Raja. Tetapi ia berada dalam lingkungan yang sulit karena ia berada di bangsal Mahisa Agni di dalam istana.”

Kiai Dulang mengangguk-angguk.

“Tetapi dengan demikian, justru keadaan Linggadadi lah yang harus mendapat banyak perhatian. Nampaknya ada perbedaan cara dan sikap antara Mahisa Bungalan dan Linggadadi meskipun kedua-duanya disebut pembunuh orang berilmu hitam.”

Kiai Dulang mengangguk-angguk.

“Nah. Jika demikian, nampaknya kau sendirilah yang wajib pergi ke Mahibit untuk mengetahui lebih jelas tentang Linggadadi. Tetapi yang jelas ia bukan seorang yang dapat kita selesaikan dengan mudah.”

Kiai Dulang mengangguk-angguk. Jawabnya, “Baiklah Empu , Aku akan pergi ke Mahibit dengan cara yang sama seperti yang pernah dilakukan oleh orang yang dapat mengenali Linggadadi meskipun hanya dari ciri-cirinya, dan barangkali dari namanya yang disebut oleh beberapa orang disekitarnya.”

“Hati-hatilah. Linggadadi adalah orang yang sangat licik.”

Kiai Dulang mengangguk-angguk. Lalu, “Tetapi aku mohon Empu meletakkan seorang penghubung di padepokan Serigala Putih, sehingga aku akan dapat menemuinya setiap saat aku perlukan.”

Serahkan padepokan itu untuk sementara kepada Kiai Ungkih dipadepokan Macan Kumbang. Ia akan mewakilimu sehingga sekaligus ia akan berada dikedua padepokan itu.”

Kiai Dulang mengangguk-angguk. Tetapi kemudian katanya, “Sukurlah jika ia dapat melakukannya dengan baik. Tetapi sebenarnyalah bahwa sulit untuk menguasai kedua padepokan itu sekaligus.”

“Apakah keduanya masih tetap bermusuhan?”

“Tidak. Tetapi akibat permusuhan yang lama itu masih terasa. Namun yang sulit adalah, bahwa mereka tidak terpisah sepenuhnya dari masarakat di sekitarnya. Dengan demikian kadang-kadang masih ada sesuatu yang merembes memasuki padepokan-padepokan itu, tetapi juga sebaliknya ada sesuatu yang kadang-kadang merembes keluar.”

“Kau tidak mencegahnya selama ini?”

“Aku sudah berusaha. Kiai Ungkih pun sudah berusaha pula Namun kami belum yakin, bahwa usaha kami berhasil sepenuhnya. Itulah sebabnya, maka di kedua padepokan itu perlu pengawas-pengawas khusus yang dapat menekuni keadaan mereka setiap hari.”

Empu Baladatu mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Selama kau tidak ada dipadepokan Serigala Putih, aku akan mengirimkan seorang yang akan bertugas menggantikan kedudukan selama kau pergi.”

“Orang itu harus ada disana sebelum aku berangkat.”

Demikianlah ketika Kiai Dulang kembali ke padepokannya, ia pergi bersama seseorang yang akan bertugas menggantikannya di padepokan Serigala Putih. Seorang yang masih lebih muda dan menilik sorot mata di wajahnya, orang itu memiliki ketajaman pikiran dan terlebih-lebih, nampaknya ia tidak pernah ragu-ragu untuk melakukan sesuatu tindakan.

Kepada orang-orang dari padepokan Serigala Putih, kawan Kiai Dulang itu diperkenalkan dengan nama Wangking, yang diterima dengan penuh keragu-raguan.

“Nampaknya orang itu mempunyai perbedaan sikap dan cara dari Kiai Dulang” berkata seorang yang bertubuh tinggi.

“Apapun yang akan dilakukan selama ia masih berusaha memperbaiki keadaan kita, maka kita akan menerimanya dengan senang hati. Tetapi jika yang dilakukan kemudian menyimpang, maka sudah tentu kita akan membuat pertimbangan-pertimbangan baru.”

“Kau tidak takut kepada kemurkaan sumber ilmu yang; kau sadap sekarang jika kau mempunyai sikap yang lain dari sikap Empu Baladatu?”

“Aku mempercayai perkembangan ilmu dengan cara yang aku tempuh sekarang. Dengan demikian justru semua tindakanku akan direstuinya jika aku yakin bahwa aku berdiri dipihak yang benar. Hanya orang-orang yang meragukan limpahan kekuasaan ilmu itulah yang akan mengalami bencana. Kematian tanpa sebab. Tetapi yang akan persoalkan sekarang bukannya mengenai sumber ilmu dan tata cara pelimpahannya. Tetapi cara manusia wadag memerintah kami.”

Seandainya demikian, apakah orang-orang dari gerombolan Serigala Putih itu mampu melakukan sesuatu untuk memaksakan perubahan masih harus dipertimbangkan pula, sehingga orang yang ragu-ragu itu pun semakin menjadi ragu-ragu. Katanya, “Manusia wadag yang memerintah kami memiliki kekuasaan seperti yang berada didalam sumber ilmu itu sendiri. Kekuasaan yang tidak dapat kami tentang dengan kekuatan apapun. Seandainya orang yang kau sebut wadag itu tidak sesuai dengan keinginanmu, apakah yang akan kau lakukan? Membunuh diri?”

Kawannya menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Aku masih mengharapkan bahwa ilmu kita semuanya akan berkembang terus. Dengan penuh kepercayaan aku akan menyadap ilmu itu sampai tuntas, sehingga dalam lingkungan ini aku tidak akan sekedar menjadi orang yang berdiri dideret yang paling belakang.”

Yang lain tidak menjawab lagi, meskipun kepalanya terangguk-angguk lemah.

Dalam pada itu, maka Kiai Dulang pun segera menyampaikan keputusan Empu Baladatu, bahwa ia harus menyerahkan pimpinan padepokan itu kepada Wangking

“Hanya untuk sementara” berkata Kiai Dulang, “pada saatnya aku akan kembali dan berada di antara kalian lagi, terutama pada saat-saat bulan purnama, di mana kita bersama-sama bersujud untuk menyadap ilmu kanuragan yang tiada duanya di muka bumi.”

Orang-orang dari gerombolan Serigala Putih pun mengangguk-angguk perlahan-lahan. Tetapi nampak disorot mata mereka, bahwa sebenarnya mereka mengharap, lebih Kiai Dulang itu tetap berada di antara mereka daripada orang baru yang belum dikenal itu, tetapi yang menurut ujud lahiriahnya, sudah memberikan kesan yang mencemaskan.

“Mudah-mudahan semua tugas selesai, dan kita semuanya, tanpa kecuali sempat berkumpul lagi. Kawan-kawan yang berkeliaran dalam tugas itu akan berkumpul dan bersama-sama melagukan kidung pujian bagi kekuasaan di belakang kekuatan ilmu kita. Meskipun orang lain menyebutnya dengan ilmu hitam, namun ternyata bahwa pada suatu saat ilmu ini akan menguasai seluruh permukaan bumi, justru karena ilmu ini adalah ilmu hitam. Ilmu yang memiliki kemampuan melampaui segala macam ilmu kanuragan yang lain, yang sekedar didukung oleh kemampuan jasmaniah wantah belaka.”

Orang-orang Serigala Putih itu mengangguk-angguk.

“Nah, kalian harus tetap bertekun dalam menyadap ilmu. Pada saatnya kalian akan berterima kasih kepada Empu Baladatu bahwa kalian adalah murid-muridnya yang terpercaya. Yang pada saatnya akan menyebarkan ilmu yang kalian dapatkan kepada orang-orang lain. Kepada murid-murid kalian.”

Orang-orang dari gerombolan Serigala Putih itu masih mengangguk-angguk.

“Nah” berkata Kiai Dulang, “sejak sekarang, kalian berada dalam pimpinan Wangking dipadepokan ini.”

Semua orang memandang kepada orang yang disebut Wangking itu. Orang yang memiliki ciri-ciri yang berbeda dari Kiai Dulang.

Wangking yang berdiri di samping Kilai Dulang termangu-mangu sejenak. Kemudian ia berkata dengan nada yang berat datar, “Aku terima tugas ini. Siapa yang membantu akan mendapatkan kesempatan yang baik untuk seterusnya. Tetapi siapa yang mencoba menghambat kewajibanku, maka aku akan menyingkirkannya menurut caraku. Apakah kalian mendengar kata-kataku?”

Orang-orang dari gerombolan Serigala Putih itu menahan nafas sejenak. Tetapi orang yang bernama Wangking itu tidak berkata lebih panjang lagi.

Demikianlah maka Kiai Dulang pun segera menyiapkan diri untuk meninggalkan padepokannya. Ia sengaja tidak membawa seorang pengawal pun agar ia dapat menjadikan dirinya seorang peminta-minta yang berkeliaran sesuai dengan petunjuk laporan yang telah diterimanya tentang Linggadadi.

Tetapi sementara Kiai Dulang masih belum beranjak dari padepokan itu, maka seorang petugas yang lain telah datang membawa laporan tentang orang lain yang disebut pula oleh Empu Baladatu.

“Siapa?” bertanya Kiai Dulang.

“Kakak kandung Empu Baladatu.”

“Empu Sanggadaru maksudmu?”

“Ya Kiai.”

Tetapi Kiai Dulang menggelengkan kepalanya sambil berkata, “Biar sajalah dahulu. Padepokan itu tidak akan bergerak. Empu Sanggadaru tidak lagi memiliki gairah kehidupan yang menyala seperti Empu Baladatu. Seandainya ada api didalam dadanya, api itu agaknya sudah padam.”

“Kiai salah” sahut petugas itu, “Empu Baladatu melihat padepokan itu hanya sekilas. Sekarang ternyata bahwa padepokan itu adalah padepokan yang hidup dan berkembang”

“Kenapa kau dapat berkata begitu?”

“Nampaknya latihan-latihan olah kanuragan gelombangnya diperpendek. Jumlah murid-murid yang disebutnya cantrik itu pun semakin bertambah pula. Bahkan Empu Sanggadaru kadang-kadang melakukan latihan bersama murid-muridnya di luar padepokan.”

“Apa yang dilakukan di luar padepokan?”

“Meskipun nampaknya seperti permainan kanak-kanak, tetapi aku kira merupakan latihan yang penting.”

“Ya, apa?”

“Berjalan-jalan..

“He, kau mengingau? Kenapa mereka harus melatih diri berjalan-jalan.”

“Semula aku tidak menghiraukan cara yang dilakukannya itu. Tetapi setelah aku melihatnya beberapa kali, aku mulai tertarik kepada cara yang dipergunakannya itu.”

“Apakah anehnya orang berjalan-jalan didalam hubungannya dengan rencana Empu Baladatu?”

“Empu Sanggadaru tidak hanya sekedar berjalan-jalan di sinar matahari pagi. Tetapi Empu Sanggadaru berjalan semalam tanpa berhenti.”

“He?” Kiai Dulang menjadi heran, sehingga matanya terbelalak. Hampir diluar sadarnya ia bertanya, “Sehari Semalam?”

“Ya. Tanpa berhenti. Menjelang fajar Empu Sanggadaru dengan beberapa orang cantriknya keluar dari padepokan. Mereka menempuh jalan pegunungan yang turun naik, menyusuri jalan-jalan sempit di lereng dan lembah.”

Kiai Dulang mengangguk-angguk. Katanya, “Jika mereka berjalan-jalan sehari semalam tanpa berhenti, maka perguruan itu memang perlu mendapat perhatian. Aku kira berjalan tidak lebih sampai matahari sepenggalah.”

“Lalu, apakah Kiai Dulang akan melihat pula? Mereka berlatih tidak setiap hari. Tetapi setiap sepekan sekali.”

“Hari-hari lain tentu dipergunakan untuk latihan kecepatan, sedang berjalan sehari semalam itu merupakan latihan mereka untuk menjaga ketahanan tubuh dan pernafasan.”

“Apakah rencana Kiai kemudian.”

“Baiklah. Aku akan ke Mahibit sekaligus melihat perkembangan padepokan Empu Sanggadaru yang menarik itu. Mungkin karena ia merasa cemas, bahwa adiknya telah berhasil menguasai gerombolan Serigala Putih yang pernah bermusuhan dengan padepokannya. Apalagi bersama-sama dengan gerombolan Macan kumbang sehingga padepokan itu merasa dirinya terancam.”

“Tetapi jumlah para cantrik itu begitu banyak.”

“Ya Bagaimanapun juga padepokan itu masih belum sampai pada tingkat yang berbahaya, seperti juga Mahisa Bungalan yang tidak mempunyai kekuatan tertentu diluar dirinya sendiri. Mungkin ia dapat menggerakkan beberapa orang dibantu oleh beberapa orang prajurit. Tetapi untuk membawa sepasukan prajurit tentu diperlukan alasan yang cukup kuat.”

“Apakah dengan demikian menurut pertimbangan Kiai, Linggadadi tetap merupakan orang yang paling berbahaya?”

“Ya. Jika kita ingin mulai, maka kita akan mulai dengan daerah Mahibit yang tentu merupakan kelompok yang cukup kuat.”

“Terserahlah kepada Kiai. Kami menjalankan semua tugas.”

“Wangking akan mengatur segala sesuatu bagi kalian.”

Demikianlah, maka Kiai Dulang pun segera meninggalkan padepokan. Ternyata bahwa padepokan Empu Sanggadaru pun telah menarik perhatiannya sehingga dalam perjalanannya menuju ke Mahibit, untuk melihat kekuatan yang sebenarnya dari orang yang bernama Linggadadi, pembunuh orang berilmu hitam, ia pun ingin melihat perkembangan sikap padepokan Empu Sanggadaru.

“Tetapi kekuatan di padepokan itu tidak berarti apa-apa bagi Empu Baladatu, apalagi bersama denean kekuatan Serigala Putih dan Macan Kumbang.” berkata Kiai Dulang di dalam hati. Namun demikian ada juga keinginannya untuk melihat cara Empu Sanggadaru melatih para cantriknya di luar dan apabila mungkin di dalam padepokannya.

Mendekati padepokan Empu Sanggadaru, Kiai Dulang menjadi semakin berhati-hati. Ia menunggu agak jauh dari padepokan. Sesuai dengan keterangan yang didapatnya, maka ia berada dijalur jalan yang selalu dilalui Empu Sanggadaru dan para cantriknya apabila mereka pergi berjalan-jalan.

“Aku pun mampu berjalan sehari semalam” desis Kiai Dulang, “aku ingin mengetahui, apa saja yang dilakukan sepanjang perjalanan sehari semalam itu.”

Ternyata bahwa Kiai Dulang terpaksa menunggu dua malam berturut-turut. Baru di hari ketiga ia melihat Empu Sanggadaru dalam pakaiannya sebagai seorang pemburu, keluar dari regol padepokannya diiringi oleh sepuluh orang cantriknya. Di antara mereka terdapat dua orang anak yang lincah dan cekatan.

“Hanya sepuluh orang” desis Kiai Dulang, “kenapa pengawas itu merasa cemas dengan hanya sepuluh orang ini?

Namun dari pengawasnya itu, Kiai Dulang mendapat laporan bahwa yang pernah dilihat oleh pengawasnya itu, jumlah orang yang ikut dalam latihan yang khusus tidak tetap. Bahkan pernah orang itu melihat dua puluh lima orang cantrik pergi bersama-sama.

Dalam pada itu, dari jarak yang agak jauh, Kiai Dulang mencoba mengikuti. Jika iring-iringan itu tidak lagi nampak, maka Kiai Dulang hanya mengikuti jejaknya saja. Tetapi beberapa saat kemudian, jika iring-iringan itu menuruni lembah, maka Kiai Dulang dapat melihat mereka dan berusaha untuk mendekatinya, tetapi tanpa diketahui oleh orang-orang yang diikutinya itu.

Ternyata seperti yang dikatakan oleh pengawasnya. Iring-iringan itu benar-benar tidak pernah berhenti sama sekali. Mereka menuruni lembah dan memanjat tebing yang betapapun juga curamnya. Tanpa berhenti, seperti perjalanan matahari.

“Gila” geram Kiai Dulang, “aku tahan berjalan sehari semalam, tetapi tidak melalui jalan seperti ini.

Meskipun demikian Kiai Dulang tidak juga berhenti. Ia masih ingin mengetahui, apa saja yang dilakukan oleh para cantrik dari padepokan Empu Sanggadaru itu.

“Tentu pengawas yang pernah melaporkan bahwa iring iringan itu tidak pernah berhenti hanyalah dugaannya saja. Tentu ia tidak akan sanggup mengikuti iring-iringan itu sampai mereka kembali kepadepokan.” berkata Kiai Dulang kepada diri sendiri ketika ia sudah hampir tidak kuat lagi untuk maju.

Tetapi iring-iringan itu berjalan terus. Dan Kiai Dulang masih ingin mengerahkan sisa tenaganya.

Kiai Dulang menjadi semakin berdebar-debar ketika ia melihat iring-iringan itu mulai mendaki lereng perbukitan setelah mereka berjalan di sepanjang lembah berbatu-batu padas.

“Apakah aku masih akan dapat mengikuti mereka” bertanya Kiai Dulang kepada diri sendiri. Ketika ia menengadahkan kepalanya dilihatnya matahari masih cukup tinggi.

“Mereka masih akan berjalan di sisa hari ini dan semalam suntuk” desis Kiai Dulang. Namun yang kemudian dibantahnya sendiri, “tentu tidak mungkin. Mereka tidak akan berjalan dimalam hari. Pengawas itu tidak menyaksikannya, sehingga ia hanya mengatakan saja menurut angan-angannya.”

Namun Kiai Dulang pun kemudian terkejut ketika ia melihat dikejauhan, dilereng batu-batu padas yang menjorok. Mereka berloncat-loncatan seperti kanak-kanak yang dilepas di taman yang berbunga-bunga di atas rerumputan yang hijau segar.

“Gila” geram Kiai Dulang, “anak itu masih mampu berlari, berloncatan dari batu besar kebatu yang lain, menelusuri jalan-jalan mendaki dan kemudian berlari turun kembali menyongsong kawananya yang lain.”

Sebenarnyalah, bahwa dari balik rimbunnya dedaunan di lembah, Kiai Dulang melihat dua orang anak muda yang agak lain dari cantrik-cantrik yang ikut serta dalam perjalanan itu. Keduanya nampak bebas dan gembira. Seolah-olalh ia tidak sedang berada didalam suatu lingkungan para cantrik yang sedang mengadakan latihan olah kanuragan.

“Apakah cantrik-cantrik yang lain juga mampu berbuat seperti kedua anak-anak itu” pertanyaan itu mengganggu Kiai Dulang, “jika demikian, maka yang sepuluh orang itu benar-benar merupakan orang yang sangat berbahaya.”

Dengan mata yang hampir tidak berkedip Kiai Dulang menyaksikan latihan yang menarik itu. Tetapi seperti yang diduganya, ia sudah tidak mampu lagi mengikuti iring-iringan yang mendaki semakin tinggi dan kemudian hilang dibalik sebuah tikungan yang tajam dipunggung pegunungan.

Nafas Kiai Dulang menjadi terengah-engah. Dengan serta merta ia pun menjatuhkan dirinya duduk di atas sebuah batu, di bawah sebatang pohon yang rimbun.

Sekali-kali ia mengusap keringatnya dengan lengannya. Terasa kakinya menjadi gemetar. Bahkan kemudian perasaan pedih mulai terasa. Agaknya kakinya telah menjadi luka-luka oleh batu padas yang tajam di sepanjang perjalanan yang sangat berat baginya.

“Kedua anak muda itu tentu anak setan” geramnya.

Kiai Dulang kemudian menyandarkan dirinya pada sebatang pohon yang cukup besar. Ia adalah orang yang telah terlatih. Tetapi ternyata bahwa ia sama sekali tidak berhasil mengikuti latihan para cantrik dari padepokan Empu Sanggadaru.

“Latihan itu nampaknya sederhana sekali. Tetapi ternyata terlampau berat bagiku, dan apalagi bagi orang-orang gerombolan Serigala Putih dan Macan Kumbang “desisnya.

Kiai Dulang mulai membayangkan, apa saja yang dapat dilakukan jika benar-benar terjadi perselisihan antara kedua kakak beradik itu. Nampaknya Empu Baladatu mempunyai pengikut yang jauh lebih banyak. Tetapi Empu Sanggadaru mempunyai cantrik yang memiliki kemampuan tanpa tanding.

Kiai Dulang sama sekali tidak mengerti, bahwa dipadepokan Empu Sanggadaru tinggal beberapa orang prajurit dan kedua anak muda yang ingin menambah pengalaman dalam olah kanuragan dengan ilmu yang berbeda sumbernya dari ilmu ayahnya. Meskipun ayah mereka sudah berpesan, agar keduanya sangat berhati-hati memilih tata gerak yang mempunyai sifat dan watak yang tidak bertentangan dengan dasar ilmunya sendiri.

Namun dalam pada itu, ternyata bahwa para cantrik dari padepokan Empu Sanggadaru sendiri, benar-benar telah meningkatkan ilmu mereka pula. Bersama para prajurit mereka telah saling menyadap ilmu masing-masing, sehingga dengan demikian para cantrik dipadepokan itu telah memiliki ilmu yang dapat dipakai sebagai bekal untuk mengamankan padepokan mereka jika para prajurit itu kelak akan meninggalkan mereka.

Dibawah tuntunan Empu Sanggadaru sendiri, para cantrik itu telah menyempurnakan ilmunya dengan berbagai macam tata gerak yang dimiliki oleh para prajurit pilihan itu, sementara para prajurit pun telah menyadap langsung ilmu yang dimiliki oleh Empu Sanggadaru.

Sementara Kiai Dulang sedang melepaskan lelah yang bagaikan mencengkam seluruh tubuhnya, ia terkejut melihat seorang anak muda yang lain berjalan tergesa-gesa mengikuti jejak iring-iringan itu.

Hati Kiai Dulang menjadi ber-debar-debar. Namun wajahnya yang pucat, keringatnya yang bagaikan membasahi tubuhnya dan nafas yang hampir putus, agaknya membuat ujudnya semakin meyakinkan, bahwa ia adalah seorang pengemis.

Meskipun demikian, hati Kiai Dulang merasa kecut juga melihat langkah anak muda yang mendekatinya itu. Nampaknya ia pun sama sekali tidak terganggu oleh kelelahan dan desah nafas, meskipun agaknya anak muda itu dengan tergesa-gesa pula berusaha menyusul iring-iringan yang telah menjadi semakin jauh.

“Tentu anak muda yang seorang ini berjalan lebih cepat dan tergesa-gesa. Tetapi agaknya kemampuan jasmaniahnya sangat mengagumkan seperti kedua anak muda yang terdahulu. Bahkan barangkali agak melampaui karena anak muda ini berusaha menyusul iring-iringan yang sudah terdahulu.“ berkata Kiai Dulang didalam hati.

Kiai Dulang termangu-mangu memandang kesigapan anak muda yang berjalan dengan cepatnya mengikuti jejak iring-iringan yang diikuti oleh sepuluh orang pengikut Empu Sanggadaru.

Ketika anak muda itu melihatnya, nampaknya ia tertegun. Tetapi kemudian perlahan-lahan dan dengan hati-hati anak muda itu mendekatinya.

Kiai Dulang tergagap. Pada suara anak muda itu sama sekali .tidak terasa desah nafas yang semakin cepat.

“Luar biasa” desis Kiai Dulang didalam hatinya.

Namun Kiai Dulang harus menjawab pertanyaan itu. Karena itu maka ia pun kemudian berkata pe-lahan-lahan dibuat-buat, “Aku seorang perantau anak muda. Aku berjalan dari padukuhan yang satu kepadukuhan yang lain mencari sesuap nasi.”

“Tetapi kenapa kau berada disini?”

“O, aku sama sekali juga tidak mengerti, kenapa aku telah berada disini.”

“Tersesat?”

Orang itu menggeleng. Katanya, “Aku melihat sebuah iring-iringan. Aku tidak tahu, kenapa tiba-tiba saja aku ingin mengikutinya. Tetapi iring-iringan itu berjalan tanpa berhenti, sehingga aku akhirnya terkapar disini.”

“Iring-iringan?”

“Ya. Aku telah berpapasan dengan iring-iringan yang di pimpin oleh seorang yang memakai pakaian kulit binatang hutan. Menyeramkan sekali. Itulah yang menarik perhatianku. Sehingga diluar sadarku, aku telah mengikutinya beberapa lama.”

Anak muda itu tersenyum. Katanya, “Ki Sanak kelelahan.”

“Ya.”

“Tetapi dimanakah iring-iringan itu sekarang? Apakah iring-iringan itu benar melalui jalan ini?”

“Ya. Belum lama. Jejaknya tentu masih nampak.” ia berhenti sejenak, lalu, “apakah anak muda akan menyusulnya?”

“Ya. Aku ingin menyusul iring-iringan yang dipimpin oleh Empu Sanggadaru itu.”

Kiai Dulang mengangguk-angguk. Katanya, “Silahkan anak muda. Tetapi apakah anak muda juga salah seorang dari mereka?”

Anak muda itu menggeleng. Jawabnya, “Bukan Ki Sanak. Aku bukan salah seorang dari para cantrik itu.”

“Jadi apakah maksud Ki Sanak mengikuti iring-iringan itu?”

Anak muda itu menggeleng. Jawabnya, “Tidak apa-apa. Aku tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya melihat, apakah mereka sudah mencapai suatu tingkatan yang memadai.”

“O” desis Kiai Dulang, “aku tidak mengerti tingkatan yang kau maksud anak muda, tetapi ternyata mereka berjalan tanpa berhenti. Sejak aku berpapasan, kemudian mengikuti beberapa saat saja, kakiku rasa-rasanya sudah berpatahan.”

Anak muda itu tersenyum. Katanya, “Beristirahatlah. Aku akan melanjutkan perjalanan.”

“Tetapi siapakah kau anak muda?” bertanya Kiai Dulang.

Dengan tanpa prasangka apapun anak muda itu menjawab

“Namaku Mahisa Bungalan.”

Kiai Dulang terkejut bukan buatan.

“Inilah anak muda yang bernama Mahisa Bungalan itu” geramnya di dalam hati, “ternyata laporan tentang anak muda itu benar, bahwa ia sudah kembali dan berada di Kota Raja.

Namun tiba-tiba saja kini ia bertemu seorang dengan seseorang. Sejenak Kiai Dulang termangu-mangu. Sepercik niat untuk melakukan sesuatu telah terbersit diliatinya. Anak muda itu adalah anak muda yang telah dengan sepenuh hati memusuhi orang-orang dari lingkungan ilmu hitam.....

Bersambung.....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...