*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 27-03*
Karya. : SH Mintardja
“Marilah. Tetapi jika kau melawan, maka aku akan mengambil sikap yang barangkali sangat menjemukan bagimu menjelang saat kematian. He, kau lihat parit kecil itu? Aku dapat mengikatmu dan meletakkan tubuhmu tertelungkup di parit yang hanya mengalir setinggi mata kaki. Tetapi dalam waktu sehari kau tentu akan mati.”
Wajah Kiai Dulang menjadi tegang. Kecemasan yang sangat telah mencengkam hatinya.
Dalam pada itu Linggadadi berkata selanjutnya, “Terserah kepadamu. Segala sesuatunya kau sendirilah yang menentukan. Lihat. Parit itu hanya mengalirkan air tidak terlalu banyak. Tetapi jika kau menelungkup sehari, maka akan cukup banyak air yang masuk kedalam perutmu. Kau tidak akan dapat berteriak, karena setiap kau mengangakan mulutmu, air akan mengalir masuk. Sementara itu kau tidak akan dapat mengangkat kepalamu karena seluruh tubuhmu terikat erat-erat.”
Kiai Dulang tidak menjawab. Tetapi sudah terbersit tekad didadanya, bahwa apabila perlu, maka ia tidak akan membiarkan dirinya mati tanpa perlawanan, apapun yang akan terjadi atasnya.
“Marilah” ajak Linggadadi, “jangan ribut supaya jalan bagimu terbuka. Kematianmu adalah kematian yang menyenangkan.”
Kiai Dulang tetap berdiam diri.
“Apakah kau sudah tuli” bentak Linggadadi kemudian. Tidak ada jawaban.
Linggadadi menjadi marah karenanya, sehingga ia pun kemudian melangkah mendekat sambil membentak, “Jangan menyiksa diri sendiri.”
Ketegangan yang memuncak telah mencengkam jantung Kiai Dulang. Namun justru karena itu, maka ia masih saja berdiri membeku. Seolah-olah ia menunggu apa saja yang akan terjadi atas dirinya.
Namun dalam pada itu, selagi Linggadadi mendekatinya dengan wajah yang merah oleh kemarahan, terdengar suara tertawa dibalik tikungan. Kemudian muncullah seseorang dengan langkah satu-satu seolah-olah tidak terjadi sesuatu.
Linggadadi menjadi semakin tegang. Diluar sadarnya ia bergumam, “Kakang Linggapati.”
“Aku sudah menyangka, bahwa seperti yang selalu kau lakukan, kau akan membunuh orang itu.” Linggadadi tidak menjawab.
“Kau sudah terbiasa melanggar keputusanku. Tetapi kau tidak pernah menyadari, bahwa setiap kali kau keliru.”
Linggadadi tidak menjawab. Tetapi dipandanginya kakaknya dan Kiai Dulang berganti-ganti.
“Nah Ki Sanak” berkata Linggapati, “pergilah. Aku kira Linggadadi tidak akan mengganggumu lagi.”
Kiai Dulang masih tetap ragu-ragu, sehingga Linggapati lah yang kemudian membentaknya, “Cepat, pergilah. Atau aku akan mengambil sikap lain?”
Seperti orang yang tersadar dari mimpinya, Kiai Dulang pun kemudian dengan tergesa-gesa melangkah meninggalkan tempat itu. Jauh lebih cepat dari yang sudah dilakukannya.
Sambil tersenyum Linggapati melihat orang itu berlari-lari kecil. Setiap kali Kiai Dulang berpaling untuk meyakinkan bahwa Linggadadi tidak menyusulnya lagi.
“Kakang terlampau memanjakan orang-orang yang memusuhi aku” berkata Linggadadi.
“Kau memang kasar Linggadadi. Tetapi sebaiknya kau menurut nasehatku. Orang itu sama sekali tidak berbahaya. Aku pasti, bahwa ia bukannya petugas sandi dari Singasari. Sedangkan jika ia orang dari lingkungan ilmu hitam, maka ia akan merupakan tusukan yang mungkin akan berarti bagi lingkungan itu.”
“Lingkungan ilmu hitam cukup ketat.”
“Aku tidak berkeberatan. Jika ia akan hilang, itu tidak akan banyak berpengaruh.”
Linggadadi yang kecewa itu terdiam. Tetapi ia tidak berani berbuat sesuatu, karena peringatan yang demikian dari kakaknya merupakan peringatan yang menentukan.
Sementara itu, Kiai Dulang telah berjalan semakin jauh. Ketika ia melintasi gerbang kota kecil itu, maka ia pun merasa seolah-olah ia sudah terlepas dari tangan Linggadadi meskipun kemungkinan yang buruk masih akan dapat terjadi atasnya.
Namun agaknya Kiai Dulang benar-benar telah bebas dari ancaman Linggadadi, sehingga ia merasa bahwa jiwanya sudah tidak terancam lagi ketika ia sudah melintasi beberapa buah padukuhan dan bulak.
“Linggadadi tidak akan berani melanggar pesan kakaknya” berkata Kiai Dulang didalam hatinya.
Sambil berjalan dengan tergesa-gesa menjauhi Mahibit, Kiai Dulang mulai menganyam cara untuk mengatasi persoalan yang dapat timbul kemudian dengan perguruan Empu Baladatu. Ia mencoba untuk menilai, apakah sekiranya Empu Baladatu mempunyai kemampuan yang seimbang dengan Linggadadi dan Linggapati.
“Seandainya Empu Baladatu memiliki ilmu yang seimbang dengan salah seorang dari keduanya, namun bersama-sama keduanya tetap merupakan orang yang sangat berbahaya bagi perguruan ilmu yang disebut hitam itu.” berkata Kiai Dulang.
Apalagi ketika sekilas terbayang wajah seorang anak muda yang seolah-olah tidak terpengaruh oleh kelelahan sama sekali. Mahisa Bungalan. Dan yang kemudian mengganggunya pula adalah padepokan yang dipimpin oleh Empu Sanggadaru.
“Rintangan-rintangan yang sangat berat” desis Kiai Dulang. Dan yang terakhir adalah orang-orang yang ada di dalam istana Singasari itu sendiri.
Terbayang betapa orang-orang kuat seperti Mahisa Agni, Lembu Ampal, para Senapati dan Panglima. Kemudian kedua anak muda yang sedang berkuasa di Singasari, yang disebut Sepasang Ular Naga disatu sarang. Bahkan kemudian muncul pula nama-nama Witantra dan Mahendra.
Kiai Dulang menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya kepada diri sendiri, “Memang tidak mungkin bagi Empu Baladatu untuk mencapai maksudnya. Meskipun ia dapat memperluas daerah pengaruhnya, tetapi perkembangan tentu sangat perlahan. Apalagi diluar istana agaknya Linggadadi dan Linggapati mempunyai kepentingan tersendiri dengan Singasari.”
Sesaat terlintas sikap Linggadadi dan Linggapati yang berbeda. Dan Kiai Dulang yang mempunyai nalar yang cukup tajam dapat mengerti, apakah yang sebenarnya dimaksud oleh Linggapati.
“Linggapati ingin menggabungkan kekuatan yang berada di luar istana” katanya kepada diri sendiri.
Namun semuanya masih harus diserahkan kepada kebijaksanaan Empu Baladatu. Ia adalah penguasa tunggal di padepokannya, sehingga segala sesuatu, Empu Baladatu sendirilah yang harus mengambil keputusan.
“Tetapi aku dapat memberikan pertimbangan kepadanya” berkata Kiai Dulang kemudian.
Karena itu, maka perjalanan Kiai Dulang itu pun langsung menuju ke padepokan Empu Baladatu, meskipun ia harus bermalam di perjalanan.
Kedatangannya telah menimbulkan harapan-harapan baru pada Empu Baladatu. Namun kemudian nampak betapa hatinya justru dicengkam oleh keragu-raguan ketika Kiai Dulang sudah melaporkan semua hasil perjalanannya.
“Hatimu memang terlampau kecil menghadapi persoalan yang besar ini” berkata Empu Baladatu.
“Tidak Empu. Tetapi kita tidak boleh melupakan kenyataan yang kita hadapi. Apakah yang dapat kita harapkan dengan kekuatan yang ada pada, kita sekarang.”
“Serigala Putih dan Macan kumbang harus diperhitungkan.”
“Tentu Empu. Tetapi jika sepasukan prajurit segelar sepapan datang ke kedua padepokan itu, maka padepokan itu tentu akan segera disapu bersih.”
“Kau tidak melihat kekuatan Serigala Putih dan Macan Kumbang yang sebenarnya.”
“Aku berada di antara mereka, Empu. Aku tinggal di tengah-tengah mereka.”
Empu Baladatu menarik nafas dalam. Dengan seksama ia mendengarkan setiap penjelasan yang diberikan oleh Kiai Dulang. Tentang kedua bersaudara yang ditemuinya di Mahibit. Tentang sifat-sifat mereka yang berbeda dan pendirian mereka masing-masing.
“Bagaimana menurut pertimbanganmu. Apakah agaknya mereka dapat dipercaya?”
“Menurut pendapatku Empu, mereka adalah orang-orang yang menyatakan apa. yang tersirat dihati mereka. Jika mereka ingin membunuh, maka keinginannya itu akan segera nampak. Tetapi agaknya Linggapati mempunyai perhitungan yang lebih masak.”
“Tetapi ingat Kiai Dulang, Linggapati adalah pembunuh orang berilmu hitam.”
“Itu adalah suatu kebetulan. Tetapi aku kira jika kita dapat memanfaatkan hubungan kita dengan Linggapati, maka akan dijalin suatu hubungan yang lain, yang mungkin akan dapat saling memberikan manfaat.”
Empu Baladatu mengangguk-angguk. Ia merasakan beberapa kebenaran keterangan Kiai Dulang.
“Tetapi bagaimana mungkin aku dapat membicarakan hal ini dengan Linggapati?”
“Aku dapat menghubunginya. Dan Empu akan dapat mengadakan penjajagan, karena pada hakekatnya, ikatan yang apabila mungkin dibuat, adalah ikatan yang longgar.”
“Kita belum mengetahui kekuatan orang-orang Mahibit itu,”
“Jika kekuatan mereka hanyalah terletak pada kedua orang itu, maka kita akan dapat membinasakannya. Betapapun tinggi ilmunya, namun jumlah orang yang adapun akan mempengaruhinya pula.”
Empu Baladatu mengangguk-angguk. Tetapi terbayang olehnya ceritera Kiai Dulang tentang halaman sebuah padepokan yang dikelilingi oleh dinding batu yang agak tinggi, tetapi sama sekali tanpa regol.
“Memang aneh dan tentu menyimpan rahasia yang tidak diketahui oleh orang lain. Bahkan penghuni padepokan itu pun tidak, selain Linggapati dan Linggadadi.” desah Empu Baladatu.
“Padepokan itu sudah kosong.”
“Ya, sudah kau katakan. Tetapi kekosongan padepokan itu bukan berarti bahwa padepokan itu sudah tidak mempunyai arti lagi.”
Kiai Dulang mengangguk-angguk.
“Kiai” berkata Empu Baladatu, “baiklah aku akan memikirkan. Tetapi memang berat untuk menghadapi sederetan nama seperti yang kau katakan. Tetapi sudah tentu bukan maksudku untuk menghadapi mereka bersama-sama. Tetapi seorang demi seorang dalam kesempatan yang terpisah-pisah.”
“Aku tahu Empu. Tetapi baiklah kita mencoba mencari hubungan dengan orang-orang Mahibit. Kita mempunyai kekuatan cukup, sehingga Linggadadi dan Linggapati tidak akan dapat memperkecil kehadiran kita. Dan bahkan mungkin dengan demikian kebiasaan Linggadadi membunuh orang berilmu hitam itu pun akan ditinggalkannya.”
Empu Baladatu mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak segera dapat mengambil keputusan. Banyak pertimbangan dan perhitungan yang harus diperhatikannya tentang Linggapati dan Linggadadi. Tetapi ia pun tidak dapat mengabaikan pendapat Kiai Dulang yang bagi orang-orang berilmu hitam memiliki tataran yang cukup baik.
Tetapi Empu Baladatu harus bersikap hati-hati. Ia tidak akan dapat memutuskannya sendiri. Dengan banyak pertimbangan ia mencoba menilik setiap kemungkinan yang dapat dilakukan.
Itulah sebabnya maka Empu Baladatu pun memanggil beberapa orang yang dianggapnya mempunyai kecakapan berpikir. Seorang demi seorang, agar masing-masing tidak saling mempengaruhi. Ia ingin mendengar pendapat orang-orangnya seluas-luasnya seperti yang mereka pikirkan.
Memang ada beberapa pendapat. Tetapi menurut kesimpulan yang didapatkannya, maka orang-orangnya condong untuk tidak bermusuhan dengan Linggadadi yang digelari pembunuh orang berilmu hitam.
“Memang ada dendam yang menyala dihati kami” berkata salah seorang dari mereka, “tetapi dendam itu tidak harus diujudkan dalam tindakan yang bodoh dan tidak terarah. Kita akan dapat memanfaatkan tawaran baik dari Linggapati itu meskipun pada suatu saat kita akan membuat perhitungan dengan mereka secara khusus.”
“Maksudmu jika kita telah berhasil, maka kita akan membuat perhitungan khusus?”
“Setelah berhasil atau separo berhasil. Tetapi sudah tentu pada keadaan seperti sekarang, kita tidak akan dapat berbuat apa-apa, karena kita tidak tahu dimanakah orang-orang yang bernama Linggapati dan Linggadadi itu sebenarnya tinggal.”-
Empu Baladatu menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti maksud anak buahnya yang seorang ini. Tetapi perbuatan licik itu pun sama sekali tidak menjadi pantangan bagi golongan orang-orang berilmu hitam itu.
Sementara anak buahnya yang lain dengan tegas menerima tawaran itu. Meskipun ia berkata, “Tetapi kita tidak boleh lengah. Kita tidak boleh menjadi korban dari kelicikan Linggapati itu. Jika kita terpaksa menghubungi mereka, maka biarlah orang-orang yang tidak banyak berarti bagi kita berusaha untuk membuat rintisan dari hubungan itu, sehingga yang terjadi bukanlah sebuah jebakan.”
Namun yang lain mengatakan, “Apakah kita akan membiarkan diri kita masuk ke mulut buaya?”
“Tetapi banyak cara yang dapat ditempuh” berkata Empu Baladatu, “memang mungkin kita masing-masing akan dapat berbuat curang. Tetapi setidak-tidaknya kesepakatan untuk tidak saling memusuhi, akan membantu perkembangan perguruan ini. Kita akan dapat menyiapkan kekuatan yang cukup, sehingga jika benar-benar kita dihadapkan pada keharusan membuat perhitungan maka kita sudah dapat benar-benar bersiap dalam segala hal.“
“Tetapi apakah Linggapati dan Linggadadi tidak berbuat apapun juga selama ini?” bertanya salah seorang dari anak buahnya, “jika kita berharap untuk maju, maka Linggapati pun akan berbuat serupa seperti kita.”
“Mereka akan dapat berbuat seperti yang dikehendaki, karena selama ini pihak kita sajalah yang banyak mengalami kesulitan akibat perbuatan Linggadadi dan Mahisa Bungalan, yang nampaknya satu dengan lainnya tidak mempunyai hubungan. Kita sudah terkelabuhi selama ini jika kita menganggap bahwa kedua orang itu merupakan sepasang kesatria yang mencoba ingin menjadi pahlawan.”
Anak buahnya pun mengangguk-angguk. Dengan penuh kecurigaan mereka dapat mengerti, bahwa hubungan itu memang dapat diselenggarakan.
Dalam pertemuan terbatas setelah Empu Baladatu mendengar dan berbicara dengan beberapa orang, maka akhirnya Empu Baladatu memutuskan untuk mencoba membuat hubungan tertentu dengan Linggapati.
“Pergilah ke Mahibit” berkata Empu Baladatu kepada Kiai Dulang, “kita akan menentukan, dimana aku dapat bertemu dengan Linggapati. Hanya Linggapati. Jika yang datang Linggapati dan Linggadadi, aku tidak akan berbicara. Meskipun nanti keputusan yang diambil akan menyangkut Linggadadi, namun aku tidak bersedia berbicara dengan orang yang kasar itu.”
Kiai Dulang menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar, bahwa kedatangannya ke Mahibit dapat membahayakan jiwanya. Jika Linggadadi tidak dapat mengendalikan dirinya, maka akan dapat terjadi benturan kekerasan. Sedangkan Linggadadi adalah orang yang tentu tidak akan dapat dilawannya.
Karena itulah, maka Kiai Dulang minta kepada Empu Baladatu agar perjalanannya mendapat pengawasan dari seseorang yang dapat dipercaya untuk membantunya, jika Linggadadi kemudian menjadi gila.
Empu Baladatu tidak berkeberatan. Itulah sebabnya maka Kiai Dulang pun kemudian pergi ke Mahibit dengan seorang kawan yang akan dapat membantunya jika ia menemui kesulitan.
Kedatangan Kiai Dulang kembali ke Mahibit sudah di duga oleh Linggapati. Karena itulah, maka beberapa hari kemudian, ia sudah melihat lagi seorang pengemis yang duduk ditikungan yang biasanya dipergunakan oleh Kiai Dulang menunggu orang-orang yang bermurah hati memberikan sekeping uang kepadanya, termasuk Linggapati.
Yang pertama-tama datang kepada Kiai Dulang dari kedua bersaudara itu adalah Linggapati. Seperti biasanya ia datang dan melemparkan sekeping uang. Namun kemudian sambil tertawa ia berkata, “Aku sudah mengira bahwa kau akan datang lagi.”
“Sebenarnya aku sangat cemas” berkata Kiai Dulang.
“Kenapa?”
“Linggadadi sudah siap membunuhku.” Linggapati tertawa. Katanya, “Jangan takut. Ia tidak bersungguh-sungguh.”
“Ia bersungguh-sungguh.”
“Sekarang tidak. Aku sudah memperingatkannya., “Kiai Dulang termangu-mangu. Tetapi ia mempunyai kepercayaan kepada Linggapati. Agaknya Linggapati akan dapat memegang janjinya, dan tidak akan membiarkan Linggadadi membunuhnya.
“Katakan, kenapa kau kembali meskipun kau cemas bahwa Linggadadi akan membunuhmu?”
“Kau tentu sudah menduga.”
Linggapati tertawa lagi. Katanya sambil mengangguk-angguk, “Sudah aku kira bahwa kau bukan seorang pengemis yang dungu. Kau tentu seorang yang memiliki kemampuan berpikir yang matang. Sejak aku bertemu dengan kau disini, aku sudah mempertimbangkan untuk berbicara tentang Kemungkinan seperti yang akan kau katakan kepadaku. Bukankah begitu?”.
“Ya. Dan kau sudah banyak mengetahuinya meskipun mula-mula hanyalah sekedar dugaan.”
“Katakanlah dengan tepat.”
“Aku datang atas nama Empu Baladatu.”
Linggapati tertawa sekali lagi meskipun ia berusaha untuk menahannya agar tidak menarik perhatian orang-orang yang lewat, “Tepat seperti yang aku perhitungkan. Kau tentu salah seorang dari orang-orang berilmu hitam yang mendendam kepada Linggadadi, karena Linggadadi digelari pembunuh orang berilmu hitam. Dan pimpinan tertinggi orang-orang berilmu hitam adalah Empu Baladatu. Usahanya mengalahkan gerombolan Serigala Putih dan Macan Kumbang tidak menguntungkannya, karena setiap orang kemudian mengetahui namanya karena orang-orang dari gerombolan Serigala Putih dan Macan Kumbang tidak dapat membatasi diri seperti murid-murid Empu Baladatu yang lebih tua dan murni.”
“Kau benar. Tetapi tidak semua orang mengetahui dan mengenal ciri-ciri Empu Baladatu seperti orang-orang Mahibit yang mengenal nama Linggadadi dan Linggapati tidak mengenal ciri-cirinya.”
Linggapati mengangguk-angguk. Katanya, “Kau benar Tidak banyak orang yang mengetahui ciri-cirinya. Bahkan orang-orang dari gerombolan Serigala Putih dan Macan Kumbang yang pernah berhadapan muka sekalipun tidak akan dapat mengenalnya dalam ujudnya yang sedikit berubah.”
Kiai Dulang tidak menjawab.
“Nah, apa katamu sekarang tentang Empu Baladatu?”
“Ia bersedia bertemu denganmu.”
“Bagus sekali” sahut Linggapati, “apakah aku harus datang kepadepokannya?”
“Tidak. Kau dapat menentukan tempat lain.”
“Dimana, apakah di Mahibit?”
“Tidak di Mahibit, tetapi juga tidak dipadepokan Empu Baladatu.
“Katakan dimana. Aku akan bersedia datang berdua saja dengan Linggadadi, tanpa orang lain.”
Kiai Dulang menjadi heran. Agaknya Linggapati mempunyai kepercayaan yang sangat kuat kepada dirinya sendiri sehingga ia sama sekali tidak gentar kemanapun ia harus bertemu dengan Empu Baladatu.
“Apakah kau bersedia datang ke salah satu sarang gerombolan Serigala Putih atau Macan Kumbang.”
“Tentu. Aku akan datang. Aku sudah mengetahui letak kedua padepokan itu.”
“Jika demikian baiklah. Kita tentukan harinya. Datanglah ke padepokan Serigala Putih.”
“Tetapi beritahukan kepada orang-orang gerombolan Serigala Putih agar mereka tidak mengganggu aku. Mereka tidak usah mengetahui bahwa yang datang adalah Linggapati dan Linggadadi. Tetapi bahwa akan datang dua orang mengunjungi padepokan mereka, itulah yang harus mereka ketahui agar mereka tidak berbuat dungu dan mengganggu aku. Setiap gangguan, apalagi tindakan kekerasan, berarti padukuhan itu akan musna.”
“Ternyata kau juga dapat menyombongkan diri?”
“Tentu. Aku selalu berusaha untuk menyombongkan diri agar aku dapat menakut-nakuti orang lain. Kesombongan kadang-kadang memang sangat berguna.” ia berhenti sejenak, lalu, “tetapi yang aku katakan benar-benar kesombongan. Bukan bualan. Kau tahu bedanya?”
Kiai Dulang termangu-mangu.
“Sombong adalah mengatakan yang sebenarnya meskipun agak berlebih-lebihan dan sekedar ingin mendapat pujian. Sedang bualan adalah sesuatu yang sama sekali tidak benar.”
Kiai Dulang mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Aku akan menyampaikan kepada Empu Baladatu. Tentukan hari yang paling baik buatmu.”
“Tentu bukan saat purnama naik, saat Empu Baladatu memerlukan korban untuk perkembangan ilmunya, meskipun bukan berarti aku menjadi ketakutan.”
Kiai Dulang mengerutkan keningnya. Ternyata yang di ketahui Linggapati tentang Empu Baladatu cukup banyak.
Sejenak Kiai Dulang mempertimbangkan kemungkinan pertemuan itu. Agaknya Linggapati benar-benar seorang yang percaya kepada diri sendiri, sehingga dimanapun pertemuan itu diadakan, bukannya menjadi persoalan baginya.
Namun dalam pada itu, Kiai Dulang berkata, “Linggapati. Jika persoalan menjadi semakin terang, apakah kau akan tetap merahasiakan dirimu sendiri dan kekuatanmu yang sebenarnya bagi Empu Baladatu?”
“Itu tergantung kepada keadaan.” jawab Linggapati, “tetapi pada dasarnya, kita tidak diwajibkan untuk melebur kekuatan yang ada. Tetapi kita akan bersama-sama mempergunakan kekuatan kita masing-masing untuk tujuan yang sama.”
Kiai Dulang mengangguk-angguk. Lalu, “Baiklah Linggapati. Kita tentukan saja, bahwa pertemuan akan dilangsungkan di hari pertama, saat bulan mulai nampak di langit, di padepokan gerombolan Serigala Putih.”
Linggapati tertawa. Katanya, “Baiklah. Aku dan Linggadadi akan datang. Jangan mencoba berbuat sesuatu yang akan dapat membinasakan seisi padepokan dan bahkan padepokan Macan Kumbang dan padepokan Empu Baladatu sendiri.”
Kiai Dulang tersenyum. Katanya, “Kau belum mengetahui dimanakah letaknya padepokan dan kekuatan Empu Baladatu yang sebenarnya.”
Linggapati pun tertawa. Katanya, “Memang belum. Tetapi akan segera mengetahuinya jika aku dengan bersungguh-sungguh mencarinya. Jika kau tidak percaya, aku akan dapat membuktkannya.”
Kiai Dulang mengerutkan keningnya. Ia sadar sepenuhnya bahwa ia akan dapat menjadi sasaran pemerasan untuk mengatakan letak padepokan Empu Baladatu yang sebenarnya. Meskipun seorang kawannya mengawasi dari kejauhan, tetapi yang dapat dilakukan oleh kawannya itu tentu sekedar melaporkan kepada Empu Baladatu jika terjadi sesuatu atas dirinya.
Karena itu, maka Kiai Dulang itu pun berkata, “Baiklah. Aku percaya. Karena itu agaknya pembicaraan kita sudah dapat dianggap selesai, karena pembicaraan berikutnya akan dilakukan dipadepokan itu dengan Empu Baladatu sendiri.”
“Katakanlah kepada Empu Baladatu, bahwa aku akan datang. Mudah-mudahan kita saling menyadari bahwa kita tidak boleh saling mengganggu dan terlebih-lebih lagi, agar kita dapat bekerja bersama untuk mencapai suatu cita-cita yang agung.”
Kiai Dulang mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba saja senyum yang mulai membayang dibibirnya segera larut ketika ia melihat seseorang dengan langkah yang tetap perlahan-lahan mendekatinya.
“Kau masih cemas saja melihat kehadirannya” berkata Linggapati, “ia sudah menyadari bahwa langkahnya telah salah. Itulah sebabnya maka kau tidak usah cemas.”
Kiai Dulang terdiam sejenak. Namun kemudian kepalanya pun terangguk-angguk lemah. Katanya, “Mudah-mudahan.”
Kiai Dulang tidak dapat melanjutkan kata-katanya karena Linggadadi pun menjadi semakin dekat.
Sejenak Kiai Dulang menunggu dengan tegang. Namun rasa-rasanya hatinya menjadi lapang ketika ia melihat wajah Linggadadi yang cerah. Bahkan sebuah senyum mampak di bibirnya.
“Maafkan sikapku yang kasar” berkata Linggadadi sebelum ia berhenti berjalan.
Kiai Dulang pun tersenyum sambil menjawab, “Ah, tidak apa-apa. Semuanya terjadi karena persoalan di antara kita yang belum jelas.”
“Apakah sekarang sudah jelas?”
“Nampaknya akan menjadi semakin jelas.” jawab Kiai Dulang.
Sekilas Linggadadi memandang wajah kakaknya. Sebuah anggukan kecil dan senyum yang sekilas dibibir Linggapati telah membenarkan kata-kata Kiai Dulang itu sehingga Linggadadi pun mengangguk-angguk pula.
“Kita akan datang ke padepokan gerombolan Serigala Putih pada hari pertama, saat bulan mulai nampak dilangit. Kita akan berbicara langsung dengan Empu Baladatu, dan barangkali kita akan mengatur langkah-langkah kita selanjutnya.”
Linggadadi hanya mengangguk-angguk saja. Kemudian ia berdesis, “Terserahlah kepada kakang. Aku akan selalu melakukan tugasku sebaik-baiknya.“
Linggapati pun mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Baiklah. Sampaikan kepada Empu Baladatu, bahwa aku akan datang pada saatnya. Mudah-mudahan semuanya dapat berjalan baik, sehingga dengan demikian akan hilanglah gelar Linggadadi sebagai pembunuh orang berilmu hitam.”
“Ah” desis Linggadadi.
Kiai Dulang mengerutkan keningnya. Seleret dendam membayang dimatanya. Namun kemudian ia pun tersenyum sambil berkata, “Ya. Tetapi selain Linggadadi, masih ada orang yang mendapat gelar serupa.”
“Mahisa Bungalan, anak Mahendra” sahut Linggapati.
“Ya.”
“Kita akan menyelesaikannya kelak. Jika kekuatan kita bergabung, maka Mahisa Bungalan tidak akan ada artinya lagi bagi kita. Mahendra, Witantra, Lembu Ampal, Mahisa Agni, Satu-satu akan kita lenyapkan. Kemudian sepasang ular itu tidak akan dapat berbuat apa-apa lagi didalam sarangnya yang akan segera kita bakar sampai hangus.”
Kiai Dulang tidak menjawab. Tetapi ia melihat cahaya yang ber-kilat-kilat dimata Linggapati.
Bahkan didalam hatinya Kiai Dulang berkata, “Nampaknya Linggapati justru lebih meyakinkan dari Empu Baladatu sendiri.”
Demikianlah, ketika kesepakatan telah didapat, pengemis itu pun segera meninggalkan Mahibit. Dari kejauhan seseorang yang memang dibawanya, mengikutinya dan mengawasinya jika ada sesuatu yang membahayakan Kiai Dulang.
Ketika mereka keluar dari gerbang kota, maka kawan Kiai Dulang itu pun mulai mempercepat langkah menyusulnya karena menurut pendapatnya tidak akan ada kesulitan apapun lagi jika keduanya berjalan bersama, karena mereka sudah tidak berada di Mahibit lagi, dan sudah tentu berada diluar pengawasan Linggapati dan Linggadadi.
Namun ketika orang itu melalui sebatang pohon yang besar ditepi jalan, tiba-tiba saja ia memekik terkejut. Sebuah tangan yang kuat telah menariknya dan sebelum ia dapat berbuat apa-apa, tangan itu sudah melingkar dilehernya.
Orang itu akan meronta. Namun niatnya segera diurungkan karena ujung pisau yang tajam melekat didadanya.
“Kau harus dibunuh” desis seseorang.
“Kenapa?” orang itu tergagap.
“Kau tentu mengikuti pengemis itu dengan maksud buruk. Ia adalah kawanku, sehingga karena itu, kau memang harus dibunuh.”
“Tidak, tidak” suaranya terputus karena lengan yang meliagkar dilehernya menjadi semakin keras.
Kiai Dulang mendengar suara kawannya yang sudah tidak begitu jauh daripadanya. Ketika ia berpaling, ia pun terkejut melihat Linggadadi sudah siap menekan pisaunya yang melekat di dada kawannya.
“Tunggu” tiba-tiba saja Kiai Dulang berteriak.
Linggadadi mengerutkan keningnya. Ketika Kiai Dulang kemudian berlari-lari kembali mendekati kawannya, Linggadadi berkata, “Aku mengamati orang ini sejak di Mahibit. Meskipun ia tidak mendekat, tetapi aku mengetahui bahwa ia selalu mengawasinya. Tentu ia bermaksud buruk atasmu.”
Kiai Dulang tersenyum. Katanya, “Ia adalah kawanku. Kami datang bersama-sama memasuki Mahibit. Aku merasa perlu membawa seorang kawan yang dapat mengetahui segala perbuatan dan keselamatanku selama aku berada di Mahibit.-”
Linggadadi mengerutkan keningnya. Kemudian dengan wajah yang tegang ia bertanya, “Kenapa kau merasa perlu membawa seorang kawan? Apakah kau tidak percaya kepada kami?”
“Bukan maksudku untuk tidak percaya. Tetapi kesalah pahaman dapat saja terjadi dalam setiap pembicaraan.”
“Lalu kau membawa seorang kawan jika terjadi perselisihan antara kau dengan kami berdua? Kau kira kau berdua dengan orang ini dapat melawan kami berdua?”
“Bukan, bukan maksudku? Ia hanya bertugas untuk mengetahui apa yang terjadi dan melaporkannya kepada Empu Baladatu. Kami sadar, bahwa kami tidak akan dapat berbuat apa-apa, jika kami harus mati di Mahibit. Seandainya kami memiliki kemampuan melawan kalian berdua, maka kalian pun dapat mengerahkan anak buah kalian yang tidak dapat aku bayangkan, berapa jumlahnya.”
“Jadi apakah maksudmu sebenarnya dengan membawa seorang kawan.”
“Seperti yang aku katakan. Tugasnya hanya untuk melihat keadaan tanpa berbuat apapun juga.”
Linggadadi melepaskan orang itu perlahan-lahan. Kemudian ia pun menggeram, “Benar-benar suatu penghinaan. Linggapati dan Linggadadi bukan pengecut. Jika kami ingin membunuh, kami tentu akan melakukannya dengan berterus terang. Tidak ada gunanya kami menjebakmu. Mengundangmu kemudian membunuhmu. Itu tidak ada artinya, karena jika demikian, kau tentu sudah mati diparit dipinggir padukuhan itu.”
Kiai Dulang menarik nafas dalam-dalam.
“Kami adalah laki-laki yang menganggap semua kata-kata kami sangat berharga. Karena itu, kami membenci setiap orang yang tidak percaya kepada kata-kata kami.”
Kiai Dulang tidak menjawab. Tetapi ia melihat warna semburat merah disorot mata Linggadadi.
“Pergilah. Tetapi jangan kalian mencoba mengulangi penghinaan ini, agar kalian tidak mengalami nasib buruk.”
“Aku minta maaf” desis Kiai Dulang.
Linggadadi pun kemudian melangkah pergi meninggalkan kedua orang yang termangu-mangu dibawah sebatang pohon yang rimbun. Dengan ragu-ragu Kiai Dulang mencoba melihat batang pohon yang besar itu sambil berdesis, “Memang luar biasa. Aku kira ia sama sekali tidak mengerti bahwa kau sedang mengikutiku.”
“Hem” desis kawan Kiai Dulang, “rasa-rasanya nafasku terputus ketika tangannya menekan leherku. Ternyata ia melihat dan mengerti bahwa aku memang mengikuti dan mengawasimu. Tetapi agaknya ia salah paham.”
“Maksudnya, ia melindungi aku karena aku membawa bahan pembicaraan dengan Linggapati kepada Empu Baladatu.”
Kawannya menarik nafas dalam-dalam. Kemudian sambil melangkah ia berkata, “Marilah. Aku menjadi ngeri.”
Keduanya pun kemudian berjalan dengan tergesa-gesa meninggalkan Mahibit kembali kepadepokannya. Rasa-rasanya mereka tidak sabar lagi ketika mereka harus bermalam diperjalanan. Mereka hanya berhenti beberapa saat untuk melepaskan lelah dengan berbaring sejenak diatas rerumputan kering tanpa membuat perapian.
“Kita harus segera sampai.” desis Kiai Dulang.
Dan sebelum fajar, mereka sudah, melanjutkan perjalanan agar mereka segera sampai kepadepokan untuk menyampaikan semua hasil pembicaraan mereka dengan Linggapati dan Linggadadi.
Tidak ada persoalan yang menghambat rencana pertemuan itu. Kiai Dulang sudah mengatakan semua hasil pembicaraannya kepada Empu Baladatu, dan Empu Baladatu pun tidak berkeberatan pula meskipun ia menjadi berdebar-debar mendengar laporan betapa Linggapati dan Linggadadi memiliki kepercayaan yang kuat kepada diri sendiri.
Namun katanya kemudian, “Tentu Linggapati dan Linggadadi tidak akan datang berdua saja. Mereka tentu membawa sepasukan pengawal yang tersembunyi, namun siap menyerang jika keadaan memaksa.”
“Mereka mengatakan bahwa mereka akan datang berdua saja kepadepokan gerombolan Serigala Putih.”
“Kau percaya begitu saja? Aku tidak. Karena itu orang-orang Serigala Putih harus mempersiapkan diri jika terjadi sesuatu. Aku yakin, bahwa pasukan Linggapati dan Linggadadi ada disekitar padepokan itu.”
Kiai Dulang mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia pun mengangguk-angguk. Katanya, “Mungkin juga begitu. Sikap keduanya yang sangat meyakinkan itulah barangkali yang telah membuat aku percaya bahwa mereka benar-benar akan datang berdua saja.”
“Kau memang dungu. Kembalilah kedalam lingkungan Serigala Putih. Kau harus menyiapkan segalanya menjelang pembicaraan itu. Bahkan kau harus menyiapkan orang-orang dari gerombolan Macan Kumbang pula.
“Mengapa?”
“Apakah kau masih belum mengerti?”
Kiai Dulang mengerutkan keningnya, lalu, “Jadi maksud Empu, orang-orang Macan Kumbang harus berada di sekitar padepokan itu pula?”
“Jangan terlalu bodoh. Jika demikian akan dapat timbul salah paham. Sebelum Linggapati dan Linggadadi menyelesaikan pembicaraan, dapat terjadi bentrokan antara orang-orang Macan Kumbang yang mendekati padepokan gerombolan Serigala Putih dengan orang-orang dari Mahibit.”
Kiai Dulang mengangguk-angguk. Lalu ia pun bertanya, “Jadi apa yang harus mereka lakukan?”
“Kau harus memilih beberapa orang terkuat diantara mereka. Bawa mereka masuk kedalam lingkungan orang-orang Serigala Putih meskipun harus dijaga agar tidak timbul perselisihan diantara mereka, karena permusuhan yang lama antara kedua gerombolan itu.”
Kiai Dulang mengangguk-angguk. Ia mengerti maksud Empu Baladatu meskipun ia pun menyadari bahwa sentuhan antara dua lingkungan yang pernah mengalami permusuhan itu akan dapat menimbulkan persoalan.
“Tetapi kini sikap mereka tentu sudah berubah” berkata Empu Baladatu kemudian.
Kiai Dulang mengangguk-angguk. Katanya, “Mudah-Mudahan mereka merasa masing-masing pihak menjadi semakin dekat setelah mereka bersama-sama menyadap ilmu yang sama.”
“Aku percaya kepada kalian yang bertugas dipadepokan itu. Kalian harus mengatur segalanya, sehingga tidak akan menumbuhkan penyesalan dikemudian hari.” berkata Empu Baladatu kemudian, “jika ternyata kemudian Linggapati dan Linggadadi menyalahi persetujuan dan menyerang padepokan Serigala Putih, maka kita semuanya sudah bersiap menghadapinya.”
Kiai Dulang mengangguk-angguk.
“Aku akan datang beberapa hari sebelum saat yang di tentukan. Aku harus mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan. Tetapi aku berharap bahwa Linggapati dan Linggadadi dapat dipercaya.”
“Menilik sikap dan kata-katanya, aku percaya bahwa ada keinginan, setidak-tidaknya dari Linggapati yang mempunyai pengaruh yang lebih besar dari Linggadadi, bahwa kita tidak akan memusuhinya, dan selebihnya dapat bekerja bersama untuk sesuatu yang besar. Tetapi aku masih belum dapat membayangkan apa yang akan terjadi setelah yang besar itu dapat dicapai.”
“Tentu kita masing-masing masih belum mengetahuinya apakah yang sebaiknya kita lakukan” sahut Empu Baladatu, “tetapi tentu ada sifat-sifat licik pada kita dan pada Linggapati untuk mengingkari, setidak-tidaknya sebagian dari janji yang akan dibuat. Karena itu, kita tidak boleh lengah. Tidak ada satu pihak pun yang kelak akan dapat menjadi penengah jika terjadi perselisihan antara kita dengan pihak Linggapati dan Linggadadi. Perselsihan itu jika timbul, harus kita selesaikan dengan kekerasan. Kalau perlu dengan kelicikan dan bahkan tipu muslihat.”
Kiai Dulang mengangguk-angguk.
“Tetapi baiklah kita tidak terlalu berprasangka buruk sekarang ini. Pertemuan itu aku harap dapat berlangsung dengan baik karena aku sudah akan mengajukan sasaran yang pertama.”
Kiai Dulang mengerutkan keningnya.
“Kita akan mulai dari pihak yang paling jauh dari perhatian istana, jika kita mulai dengan Mahisa Bungalan, maka kemungkinan untuk berbenturan dengan prajurit Singasari akan dekat sekali. Demikian pula agaknya dengan Mahisa Agni, Witantra, Mahendra dan Lembu Ampal.”
“Jadi?”
“Kita singkirkan saudara kandungku yang mulai menjadi besar. Ia tentu merupakan penghalang yang tidak boleh diabaikan.”
Wajah Kiai Dulang menjadi tegang. Dengan suara datar ia, bertanya, “Maksud Empu , Empu Sanggadaru?”
Empu Baladatu mengangguk lemah. Memang nampak keragu-raguan disorot matanya. Namun yang dikatakannya itu bukannya belum dipikirkannya.
“Aku menghormatinya sebagai seorang saudara tua” berkata Empu Baladatu, “tetapi ia sama sekali tidak dapat mengerti keinginanku.”
“Apakah Empu pernah mengatakannya apa yang Empu kehendaki?”
Empu Baladatu termenung sejenak. Kemudian kepalanya menggeleng lemah, “Belum. Aku Belum mengatakannya.”
“Jadi, darimana Empu mengetahui bahwa Empu Sanggadaru tidak dapat mengerti kehendak Empu?”
Empu Baladatu terdiam sejenak. Namun kemudian katanya, “Jalan hidup kita sangat berlainan. Meskipun Empu Sanggadaru belum pernah mengatakan sesuatu kepadaku tentang pilihan kita masing-masing, namun sikap dan tingkah lakunya sudah meyakinkan, bahwa ia bukannya seorang saudara laki-laki yang baik.”
“Empu” bertanya Kiai Dulang, “tetapi kenapa justru Empu Sanggadaru lah yang pertama?”
“Ia saudaraku. Mungkin di saat lain, hatiku sudah menjadi semakin lemah, sehingga aku tidak berani bertindak kepada saudaraku sendiri. Karena itu, selagi hati ini masih membara, maka ia akan mengalami nasib buruk yang pertama.” Empu Baladatu berhenti sejenak, ilalu, “alasan yang lain adalah, karena Empu Sanggadaru bukannya orang yang dekat dengan istana seperti yang sudah aku katakan.”
Kiai Dulang menarik nafas dalam-dalam. Agaknya Empu Baladatu benar-benar seorang berilmu hitam yang tidak lagi mempunyai pertimbangan selain dorongan nafsunya yang membara didalam dadanya seperti yang dikatakannya.
Tetapi Kiai Dulang tidak dapat mencegahnya. Ia pun seorang yang sudah lama menyadap ilmu hitam tanpa belas kasihan. Karena itulah maka keheranannya atas sikap Empu Baladatu itu pun lambat laun menjadi susut pula.
“Siapapun jika mereka tergolong orang yang mungkin dapat merintangi jalan ke singgasana Singasari, tentu akan disingkirkannya” berkata Kiai Dulang didalam hatinya. Namun kemudian sebuah pertanyaan, “Tetapi siapakah yang akan memiliki kedudukan tertinggi jika kerja sama antara Linggapati dan Linggadadi itu berhasil? Empu Baladatu atau Linggapati? Atau mereka akan menjadi orang pertama dan kedua? Tetapi bagaimana dengan Linggadadi?”
Kiai Dulang menggelengkan kepalanya, seolah-olah ingin mengibaskan angan-angannya tentang masa depan yang masih sangat panjang itu.
“Siapapun orang itu, bukannya persoalan yang harus dipikirkan sekarang. Mungkin orang-orang tertinggi dikedua pihak akan saling berbunuhan setelah mereka memenangkan perjuangan mereka.”
Karena tulah maka Kiai Dulang tidak menghiraukannya lagi apapun yang terjadi kemudian. Apakah mereka akan saling membunuh atau akan menemukan penyelesaian bukannya persoalannya.
Seperti yang ditugaskan oleh Empu Baladatu maka Kiai Dulang pun kemudian kembali kepadepokan Serigala Putih untuk mengatur segala sesuatunya menghadapi pertemuan antara Empu Baladatu dan Linggapati. Seperti yang dipesankannya pula, maka Kiai Dulang pun telah memilih beberapa orang terbaik dari gerombolan Macan Kumbang yang akan ditempatkan di antara gerombolan Serigala Putih. Jika terjadi sesuatu, maka gerombolan Serigala Putih yang sudah diperkuat itu akan dapat mengatasi persoalan.
Tetapi Kiai Dulang masih belum mengatakan kepada kedua gerombolan itu apa yang akan terjadi, selain menyebutnya sebagai suatu usaha untuk saling mendekatkan dalam latihan bersama.
“Kalian bersumber dari satu sumber yang sama, dan kini kalian telah dialiri ilmu yang bersumber dari sumber yang sama pula. Karena itu, sudah barang tentu bahwa di dalam diri kalian terdapat kesamaan-kesamaan yang akan mempersatukan kalian seperti sumber semula.”
Orang-orang dari kedua belah pihak sama sekali tidak mempertimbangkan persoalan-persoalan yang lain. Mereka menganggap bahwa usaha itu adalah usaha yang wajar, sehingga merekapun mengadakan usaha pendekatan dengan latihan bersama. Orang-orang terbaik dari kedua gerombolan itu saling mendekatkan ilmu mereka dibawah pengawasan para pemimpin yang dikirim oleh Empu Baladatu termasuk Kiai Dulang.
Sebenarnyalah bahwa kekuatan kedua gerombolan itu sudah jauh meningkat. Empu Baladatu mengadakan penilikan-penilikan yang tetap dan keras lewat orang-orang kepercayaannya, sehingga dengan demikian maka setiap orang dari kedua gerombolan itu, terutama mereka yang masih muda, dengan sungguh-sungguh telah memperdalam ilmunya, dipengaruhi pula oleh kesungguhan dan himpitan perasaan saat-saat mereka menyaksikan korban yang sangat berharga di saat purnama naik. Korban nyawa seseorang dari lingkungan yang manapun juga.
Menjelang hari pertama, saat bulan mulai nampak di langit, gerombolan Serigala Putih benar-benar telah mempersiapkan diri. Meskipun mereka tidak tahu pasti, apa yang akan terjadi, namun mereka dapat meraba, bahwa mereka harus berada di dalam kesiagaan sepenuhnya.
Apalagi ketika disaat terakhir mereka sadar, bahwa sekelompok orang terkuat dari gerombolan Macan Kumbang berada di antara mereka.
“Apakah yang akan terjadi?” bertanya seseorang.
Yang lain menggelengkan kepalanya sambil menjawab, “Aku tidak tahu.”
Pertanyaan itu ternyata telah menjalar dari mulut kemulut. Tetapi tidak seorang diantara mereka yang dapat menjawab pertanyaan itu.
Di hari terakhir saat bulan masih nampak dilangit menjelang dini hari, Empu Baladatu telah berada di padepokan gerombolan Serigala Putih. Kehadirannya merupakan salah satu jawaban, kenapa orang-orang dari gerombolan Serigala. Putih dan Macan Kumbang harus bersiap-siap.
Empu Baladatu sempat melihat-lihat kemajuan dari gerombolan yang sudah berada dibawah pengaruhnya itu. Ilmu dari perguruannya yang berwarna hitam itu sudah mulai nampak pada orang-orang dari gerombolan Serigala Putih dan Macan Kumbang.....
Bersambung....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar