*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 10-03*
Karya. : SH Mintardja
Namun sebenarnyalah tindakan Tohjaya itu sangat menguntungkan rencana Lembu Ampal. Ia harus segera bertindak selagi para pemimpin Pasukan Pengawal Pelayan Dalam masih didera oleh perasaan mereka masing-masing.
“Aku akan menjumpai kedua Panglima itu.” berkata Lembu Ampal kepada Witantra dan Mahendra.
“Apa yang akan kau lakukan?”
“Aku akan membujuk mereka. Setidak-tidaknya mereka jangan membantu dan melindungi Tohjaya lagi. Peristiwa yang telah terjadi benar-benar telah menyakitkan hati kedua golongan itu, sehingga kedua belah pihak akan dengan mudah aku seret ke dalam rencana kita.”
“Apakah kau yakin?”
“Aku akan mencoba.”
Witantra termenung sejenak. Kemudian, “Baiklah kau mencoba. Tetapi hati-hatilah. Sebab yang terjadi mungkin sekali sebaliknya dari yang kita harapkan. Kedua Panglima itu dapat menjadi penjilat yang paling berbahaya. Apabila keduanya berhati lemah, maka jiwa mereka tentu akan terguncang melihat peristiwa yang terjadi itu, sehingga keduanya akan menjadi pengecut yang paling memuakkan.”
“Aku yakin tidak. Aku mengenal serba sedikit tentang kedua Panglima itu.”
Witantra mengangguk-angguk. Ia mengenal Panglima Pelayan Dalam selagi Panglima itu mendapat tugas ke Kediri sambil membawa tunggul Kerajaan. Karena itu katanya, “Mungkin kau benar Panglima Pelayan Dalam itu agaknya memiliki sikap seorang prajurit, meskipun agaknya masih belum cukup dewasa. Tetapi ia pun bukannya seorang pengecut.”
“Aku akan segera menghubungi keduanya.” berkata Lembu Ampal.
“Berhati-hatilah.”
“Aku harus segera berhasil sebelum keduanya sempat berpikir lebih banyak lagi.”
“Lakukanlah. Aku akan menghubungi Mahisa Agni. Jika saatnya bertindak, ia harus sudah siap melindungi orang-orang yang ada di dalam halaman istana.”
“Kedua Panglima itu akan membantu. Mereka dapat menempatkan orang-orangnya seperti saat mereka menempatkan orang-orang mereka pada saat Tohjaya membunuh tuanku Anusapati.”
Dengan demikian, maka Lembu Ampal pun telah sampai pada puncak rencananya. Berhasil atau gagal akan segera nampak pada tindakannya yang terakhir itu.
Pada saat yang ditentukan, maka Witantra pun berhasil menghubungi Mahisa Agni dan mengatakan rencana terakhir yang sudah siap dilakukan oleh Lembu Ampal.
“Cerdas juga akal orang ini.” berkata Mahisa Agni, “Tetapi kita memang harus berhati-hati. Agaknya pertempuran memang tidak dapat dihindarkan lagi karena Tohjaya berhasil menarik sekelompok prajurit unuk melindunginya selain pasukan Pengawal dan Pelayan Dalam yang sudah menjadi semakin jauh dari padanya. Agaknya Tohjaya pun sudah mulai berprasangka sehingga ia tidak lagi percaya kepada kedua golongan itu.”
“Kita harus pandai mempergunakan keadaan ini Agni.” berkata Witantra.
“Baiklah. Aku menunggu kelanjutan dari rencana ini. Lembu Ampal harus memberitahukan apakah ia berhasil atau tidak secepatnya, sehingga aku tahu. apakah Pasukan Pengawal dan Pelayan Dalam yang ada di sekitarku ini dapat aku percaya atau sebaliknya.”
“Baiklah Agni. Lembu Ampal tentu mengerti, jalur manakah yang harus ditempuhnya, sehingga orang-orang yang dapat dipercaya di istana ini akan menghubungimu dan kau akan segera dapat menyusun rencana penyelamatan tuan puteri Ken Dedes, ibunda tuanku Ranggawuni dan tuanku Mahisa Wonga Teleng.”
Mahisa Agni menangguk-angguk. Sudah terbayang di angan-angannya bahwa akan terjadi peperangan di Singasari. Namun demikian ia masih berkata, “Aku mengharap bahwa korban dapat dibatasi sekecil-kecilnya. Terutama rakyat yang selalu dibingungkan oleh peristiwa peristiwa yang mengerikan sejak terbunuhnya Sri Rajasa.”
Witantra merenung sejenak. Memang tidak menyenangkan melihat mayat berhamburan di sepanjang jalan. Namun kadang kadang perang memang sulit dihindari. Jika jalan itu tidak ditempuh maka keadaan akan menjadi semakin memburuk.
Demikianlah Witantra meninggalkan Mahisa Agni dengan membawa pesan-pesan untuk Lembu Ampal dan untuk Witantra sendiri. Untuk menghadapi setiap kemungkinan yang dapat terjadi, maka Witantra telah menarik beberapa kelompok prajurit Singasari yng ada di Kediri bersama dengan para pengawal Ranggawuni yang memang sudah berada di Singasari lebih dahulu. Terapi Wirantra pun tidak dapat meninggalkan kewaspadaan karena, di Kediri keluarga Maharaja yang lelah dikalahkan oleh Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa masih mempunyai pengaruh yang cukup. Jika Singasari terlampau sibuk dengan persoalan sendiri, maka di Kediri akan bangkit kekuatan yang akan dapat memutuskan ikatan kesatuan yang telah berhasil dibuat oleh Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi. Lembu Ampal yang telah memikirkan rencananya masak-masak mulai bertindak lebih jauh lagi. Dengan hati-hati sekali ia berusaha untuk dapat menjumpai kedua Panglima dari pasukan yang telah dibuat sakit hati oleh Tohjaya.
Sebagai seorang prajurit yang telah berhasil meningkatkan dirinya justru pada saat ia harus menyingkir dari lingkungannya, maka Lembu Ampal memiliki beberapa kelebihan. Dengan cara yang khusus ia telah berhasil memasuki halaman rumah Panglima Pasukan Pengawal. Seperti pada saat-saat ia memasuki halaman istana, maka ia pun dengan diam-diam memanjat dinding dan hilang di dalam lindungan pohon-pohon perdu di halaman rumah Panglima, yang sudah dikenalnya dengan baik, karena sebelumnya Lembu Ampal memang pernah berkunjung ke rumah itu.
Jika ia berhasil menyusup di antara para penjaga di halaman istana, maka ia tidak banyak mengalami kesulitan untuk menerobos penjagaan para prajurit yang mengawal rumah Panglimanya. Meskipun pada saat-saat terakhir rumah itu dikawal semakin rapat, namun Lembu Ampal masih juga berhasil memasukinya.
Lembu Ampal memang sudah memperhitungkan bahwa pada saat itu Panglima Pasukan Pengawal itu tidak sedang berada di rumahnya. Ia sedang berada di halaman istana untuk mengawasi keadaan. Ia tidak sampai hati membiarkan prajurit-prajurit berada di dalam ketegangan tanpa kehadirannya. Meskipun ia tidak dapat bertindak sesuatu pada saat itu, tetapi kehadirannya akan dapat membuat prajurit-prajurit menjadi agak tenang.
Demikian juga Panglima Pelayan Dalam. Ia pun berada pula di halaman istana di antara anak buahnya. Tanpa menghiraukan tatapan mata dari pasukan-pasukan yang lain, Panglima Pelayan Dalam itu mengunjungi setiap bangsal untuk menemui para Pelayan Dalam yang sedang bertugas di dalam kelompok-kelompok yang sudah bersiaga menghadapi setiap kemungkinan.
Tetapi, Panglima-panglima itu tidak berada di halaman istana sepanjang malam, jika mereka menganggap keadaan menjadi tenang, mereka pun biasanya kembali ke rumah masing-masing, meskipun setiap saat mereka selalu bersiap untuk pergi ke halaman istana.
Dengan demikian maka halaman istana itu agaknya telah menjadi pusat pergolakan dari setiap golongan yang sedang diamuk oleh ketegangan.
Dengan sabar ia menunggu sambil bersembunyi di balik dedaunan. Jika para pengawal rumah itu menemukannya, maka semua rencananya akan gagal. Para pengawal itu tentu tidak akan dapat diajaknya berbicara dengan baik. Karena itu, maka ia harus dapat langsung bertemu dengan Panglima.
Lembu Ampal tidak akan mempergunakan cara yang wajar, karena ia adalah seorang prajurit yang telah melarikan diri. Prajurit-prajuit yang menjumpainya, mungkin juga para pengawal rumah Panglima ini pun tentu akan mencurigainya dan langsung menangkapnya.
Lewat tengah malam, terdengar iring-iringan kuda memasuki halaman rumah itu. Lembu Ampal menduga bahwa mereka adalah Panglima bersama para pengawalnya.
Ternyata dugaannya benar. Ia melihat dari persembunyiannya, Panglima turun dari kudanya dan menyerahkan kepada pengawalnya, sementara ia pun kemudian melangkah ke tangga rumahnya.
Pada saat itulah Lembu Ampal menampakkan dirinya. Tanpa mengejutkan para pengawal ia melangkah ke halaman seolah-olah ia memang sewajarnya berjalan di halaman itu.
Baru kemudian para pengawal terkejut ketika Lembu Ampal sudah berdiri beberapa langkah dari Panglima. Bahkan setelah Lembu Ampal menyapanya.
Panglima itu pun terkejut pula. Tanpa disadarinya ia telah bersiap menghadapi segala kemungkinan, sedang para pengawalnya pun telah bergeser mendekati Lembu Ampal.
Tetapi Lembu Ampal tersenyum. Ia sama sekali tidak menunjukkan sikap permusuhan. Bahkan ternyata Lembu Ampal sama sekali tidak membawa senjata apapun juga.
“Panglima.” berkata Lembu Ampal, “Aku memang akan menghadap. Aku mempunyai beberapa persoalan yang apabila Panglima tidak berkeberatan, akan aku sampaikan.”
Suasana menjadi tegang. Panglima Pasukan Pengawal itu memandang Lembu Ampal seperti memandang hantu. Tetapi karena sikap lembu Ampal yang sama sekali tidak menunjukkan ketegangan, maka Panglima itu pun menjadi agak lunak pula sikapnya.
“Bukankah kau Lembu Ampal?” bertanya Panglima itu.
“Ya. Aku Lembu Ampal. Mungkin Panglima terkejut bahwa tiba-tiba saja aku berada di sini setelah sekian lamanya aku hilang dari Singasari.”
“Dan sekarang apakah yang kau kehendaki?”
Lembu Ampal mengerutkan keningnya. Lalu sambil tertawa ia berkata, “Sikap Panglima menjadi jauh berbeda dengan sikapmu yang dahulu. Apakah aku sudah menjadi lain sama sekali?”
Panglima Pasukan Pengawal itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Kedatanganmu tidak pada saat yang baik, dan setelah kau hilang untuk beberapa saat lamanya, maka tiba-tiba saja kau berada di halaman rumahku.”
“Panglima.” berkata Lembu Ampal, “Itulah yang akan aku ceriterakan. Apakah Panglima tidak berkeheratan?”
“Cepat katakan.”
“O.” Lembu Ampal menyahut, “Tentu tidak, dapat aku katakan sekarang. Aku ingin mendapat kesemparan bertemu dengan Panglima seorang diri.”
Panglima itu menjadi ragu-ragu sejenak. Seorang pengawalnya yang bertubuh tinggi kekar dan berkumis sekepal mendekatinya. Tetapi sebelum orang itu berkata sesuatu, Lembu Ampal sudah mendahuluinya, “Panglima, adalah wajar sekali jika aku sekarang dicurigai. Tetapi jika aku berada di dalam suatu ruangan bersama Panglima, apakah yang dapat aku lakukan? Apakah seandainya aku bermaksud jahat, akan berani melakukannya di dalam keadaan yang demikian, karena aku merasa bahwa kemampuanku tidak lebih baik dari seorang Panglima.”
Panglima Pasukan Pengawal itu mengerutkan keningnya. Bagaimanapun juga harga dirinya telah tersentuh. Jika ia menolak Lembu Ampal untuk bertemu berdua, maka apakah itu berarti bahwa ia berada dalam ketakutan.
Tiba-tiba saja ketegangan telah melonjak kembali di dada Panglima Pasukan itu. Tetapi setelah mempertimbangkan sejenak, ia pun berkata, “Baiklah Lembu Ampal. Aku berikesempatan kau berbicara kepadaku seorang diri seperti yang kau kehendaki. Tetapi waktuku tidak terlampau lama karena itu, cepatlah sedikit. Kau tahu, keadaan sekarang agak berbeda dengan saat-saat yang lampau.”
“O, apakah ada sesuatu yang terjadi?”
“Katakanlah lebih, dahulu keperluanmu. Marilah masuklah ke ruang dalam.”
Lembu Ampal memandang wajah-wajah para pengawal yang memancarkan kecurigaan. Tetapi itu adalah sewajarnya karena itu ia pun tidak menghiraukan mereka lagi.
Ketika Panglima Pasukan Pengawal itu memasuki rumahnya, maka Lembu Ampal pun mengikutinya.
Di ruang tengah, Lembu Ampal dipersilahkan duduk di atas sehelai tikar pandan, sedang Panglima Pasukan Pengawal itu pun duduk pula beberapa langkah di hadapan Lembu Ampal.
Lembu Ampal mengerti, bahwa Panglima itu harus berhati-hati menghadapinya, sehingga karena itu maka Panglima itu sudah membatasi dirinya pada jarak yang cukup, jika tiba-tiba saja Lembu Ampal berbuat sesuatu, maka ia masih mempunyai kesempatan untuk membela diri.
“Lembu Ampal.” berkata Panglima itu, “Sekarang katakanlah. Bukan karena aku tidak mau menerima kunjungan ini dengan baik, karena sebelum kau hilang, kau pernah juga berkunjung ke rumah ini dan aku terima dengan sepantasnya. Tetapi karena keadaan kini agak berbeda, maka caraku menerimamu agak berbeda.”
“Baiklah.” berkata Lembu Ampal, “Sebaiknya aku memang mengatakan keperluanku.”
“Sebutlah.”
“Aku sekarang adalah utusan tuanku Ranggawuni dan tuanku Mahisa Cempaka.”
“Ha.” Panglima Pasukan Pengawal itu terkejut. Wajahnya menjadi merah. Tetapi segera ia berusaha menguasai perasaannya. Lalu, “Apa maksudnya mengutus kau datang kemari. Apakah tuanku Ranggawuni dan tuanku Mahisa Cempaka mempunyai tuntutan atas diriku?”
“Tidak. Bukan suatu tuntutan. Tetapi tuanku Ranggawuni dan tuanku Mahisa Cempaka sekedar memberitahukan bahwa keduanya telah siap untuk masuk ke dalam istana Singasari. Menurut penilaian tuanku Ranggawuni dan tuanku Mahisa Cempaka, yang paling berkepentingan atas istana seisinya adalah pasukan-pasukan Pengawal dan Pelayan Dalam. Karena itu, tuanku Ranggawuni dan Mahisa Cempaka memerintahkan aku untuk menemui Panglima-Panglimanya dan minta ijin untuk memasuki istana sebagai pewaris yang sah atas tahta yang telah direbut dengan kekerasan oleh tuanku Tohjaya setelah membunuh tuanku Anusapati di arena sabung ayam.”
“Kenapa tuanku Ranggawuni memberitahukan hal ini kepadaku?” bertanya Panglima itu, “Apakah ini berarti suatu tantangan?”
“Sama sekali bukan. Tuanku Ranggawuni dan tuanku Mahisa Cempaka ingin mengetahui, siapakah sebenarnya menurut pendapat Panglima yang sewajarnya harus duduk di atas tahta. Jika menurut Panglima memang seharusnya tuanku Tohjaya yang berhak atas tahta, maka mungkin tuanku Ranggawuni dan Mahisa Cempaka akan mengambil sikap yang lain.”
Panglima Pasukan Pengawal itu termenung sejenak. Ia merasa bahwa kedudukan Singasari memang menjadi bertambah sulit dengan kehadiran Lembu Ampal yang menyebut dirinya utusan Ranggawuni dan Mahisa Cempaka.
Dalam pada itu Lembu Ampal pun berkata, “Nah, sebaiknya kau memberikan tanggapan yang sewajarnya, sesuai dengan hati nuranimu. Kini tuanku Ranggawuni dan Mahisa Cempaka sedang menyingkir dari ancaman tuanku Tohjaya.”
“Bukankah keduanya telah dilarikan orang? Karena selama ini kau juga hilang, maka orang yang paling pantas untuk dituduh melarikan keduanya adalah kau.”
“Aku tidak melarikan keduanya. Keduanya lari atas pertolongan orang lain karena tuanku Tohjaya berusaha untuk membunuhnya. Aku kemudian menyusul dan menjadi pengikutnya karena aku yakin bahwa tuanku Ranggawuni lah orang yang paling berhak atas tahta Singasari saat ini.”
Panglima itu terdiam. Kekecewaannya atas Tohjaya dengan sikapnya yang kasar terhadap seorang Senapatinya dan bahkan kemudian membunuhnya, membuat hatinya menjadi ragu-ragu menghadapi keadaan yang tiba-tiba telah diperagakan di hadapannya.
Panglima itu mulai membuat pertimbangan dan penilaian. Sejak Anusapati meninggal, dan pimpinan pemerintahan dipegang oleh Tohjaya selama kira-kira setahun, tidak ada suatu pun yang dapat dibanggakan. Bahkan harapan-harapan yang semula dijanjikan oleh Tohjaya, sama sekali tidak membayang.
“Memang agak berbeda dengan masa pemerintahan tuanku Anusapati.” katanya di dalam hati, “Meskipun masa pemerintahan tuanku Anusapati juga hanya singkat, tetapi sudah ada di antaranya yang dapat dirasakan manfaatnya oleh rakyat Singasari.”
Namun tiba-tiba sesuatu bergejolak di dalam dirinya. Dan seakan-akan ia melihat dirinya sendiri menjulurkan jari telunjuknya ke depan hidungnya. “Kau sudah memihak tuanku Tohjaya pada saat tuanku Anusapati terbunuh. Kau tentu tahu bahwa tuanku Ranggawuni adalah putera terkasih dari tuanku Anusapati. Apakah itu dapat kau terima?”
Tiba-tiba Lembu Ampal terkejut ketika Panglima itu menggeram, “Kau sedang menjebak aku Lembu Ampal. Kau tahu bahwa benar atau tidak, setiap orang dapat menuduh aku terlibat dalam pembunuhan tuanku Anusapati saat itu.”
“Bukan sekedar tuduhan.” sahut Lembu Ampal, “Aku tahu pasti bahwa kau terlibat Panglima.”
“Dan sekarang kau sedang menggiring aku ketiang gantungan dengan menyerahkan aku kepada Ranggawuni dan Mahisa Cempaka?”
“Kau salah. Aku pun terlibat pula pada saat tuanku Tohjaya membunuh tuanku Anusapati. Tetapi aku tidak digantung oleh tuanku Ranggawuni.”
Panglima itu merenung sejenak. Lalu, “Itu karena kau sekarang sedang diperlukan. Jika saatnya kau tidak dipakainya lagi, maka kau akan dibunuhnya. Sekarang tuanku Ranggawuni masih memerlukan kau untuk menghubungi aku dan barangkali orang-orang lain. Tetapi itu hanya bersifat sementara.”
“Kau salah Panglima. Sebenarnya tuanku Ranggawuni tidak memerlukan aku. Tidak pula memerlukan kau. Jika tuanku Ranggawuni tidak memperhitungkan kemungkinan untuk memperkecil korban yang dapat jatuh di dalam pengambilan haknya itu, maka aku memang tidak diperlukan sama sekali. Kau pun tidak. Saat ini tuanku Ranggawuni telah memiliki kekuatan yang tidak ada taranya. Barangkali kau pernah mendengar dari Panglima Pelayan Dalam atau dari orang lain, bahwa kekuatan Singasari yang ada di Kediri seluruhnya dapat digerakkan. Bahkan kelompok-kelompok pasukan keamanan yang diperkenankan disusun oleh orang-orang Kediri sendiri. Meskipun jumlah mereka tidak banyak, Tetapi jumlah itu harus diperhitungkan di samping kekuatan Singasari sendiri.” Lembu Ampal berhenti sejenak, lalu, “Dan barangkali kau juga mengetahui bahwa di halaman istana itu ada Mahisa Agni. Kau sendiri dapat menduga, dimana ia berdiri. Mahisa Wonga Teleng. Adik-adik Anusapati yang lain. Bahkan beberapa orang pengawal khusus yang dibawa oleh Mahisa Agni itu sendiri. Selain mereka, kau harus mengenal nama-nama seperti Witantra yang juga disebut Panji Pati-pati. Ia adalah seorang Panglima pada masa kekuasaan Akuwu Tunggul Ametung.”
“Ia sudah terlalu tua.” potong Panglima itu.
“Setua Mahisa Agni Tetapi ia memiliki kemampuan setinggi Mahisa Agni pula di samping adik seperguruannya yang bernama Mahendra.”
“Kau sengaja menakut-nakuti aku.”
“Tidak. Aku minta kau membuat pertimbangan-pertimbangan Panglima. Rakyat Singasari akan segera terpengaruh oleh kehadiran Ranggawuni dengan pasukannya. Rakyat Singasari tentu akan segera teringat kepada Kesatria Putih.”
“Jadi tuanku Ranggawuni kah yang selama ini telah membuat Singasari menjadi gaduh dengan kuda putih dan pakaian putih itu?”
“Kedua-duanya. Tuanku Ranggawuni dan tuanku Mahisa Cempaka.”
Panglima itu menggeram. Ia melihat di dalam angan-angannya sebuah kekuatan yang besar dan tersusun rapi di bawah pimpinan anak-anak muda yang perkasa.
“Nah, pertimbangkan Panglima. Jika Panglima bersedia memperkecil jumlah korban yang dapat jatuh, maka aku yakin bahwa tuanku Ranggawuni dan Mahisa Cempaka tidak akan berbuat apa-apa terhadap Panglima bahkan mereka akan mengucapkan terima kasih kepadamu.”
Panglima Pasukan Pengawal itu termenung sejenak. Terbayang pertentangan yang semakin gawat di Singasari. Kecurigaan di antara para prajurit yang semula merupakan pendukung-pendukung terbaik dari Tohjaya. Kemudian tiba-tiba saja Lembu Ampal datang sebagai utusan Ranggawuni dan Mahisa Cempaka, yang seakan-akan mendesaknya ke dalam suatu sudut tanpa pilihan.
“Kenapa tuanku Ranggawuni menganggap bahwa aku dapat memperkecil korban yang jatuh?”
“Jika kau tidak memperluas pertentangan, maka tentu tidak akan banyak korban yang tidak berarti di dalam pertentangan ini.”
“Maksudmu, aku haras menyingkir?”
Lembu Ampal termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Hampir serupa itu. Tetapi bukan berarti bahwa kau harus pergi. Kau dapat berdiri di tempat yang khusus. Kau membiarkan saja tuanku Ranggawuni masuk ke istana atau kau justru mengawalnya. Bukankah suasana istana itu sekarang telah dipenuhi oleh ketidak tentuan?”
“Dari mana kau tahu?”
“Setiap orang mengatakan. Setiap orang di Singasari mendengar bahwa tuanku Tohjaya telah menyinggung harga diri kaum Rajasa dan Sinelir dengan membunuh dua orang pemimpin yang berpengaruh dan bahkan melemparkan mayatnya begitu saja ke sungai. Tidak seorang pun yang berani mengambil mayat itu. Terapi akhirnya mayat itu hilang dari sungai.”
“Kenapa hilang?”
“Ada orang yang tidak sampai hati membiarkan mayat itu dikerumuni oleh burung-burung gagak dan binatang-binatang buas yang lain.”
“Siapa?”
“Tidak ada orang lain yang berani melakukannya selain Kesatria Putih.”
“Kesatria Putih.” ulang Panglima itu, “Maksudmu tuanku Ranggawuni?”
Lembu Ampal mengangguk sambil berdesis, “Ya. Dan mayat kedua orang Senapati yang rela mengorbankan dirinya daripada mengorbankan orang lain itu pantas mendapat penghormatan.”
Panglima itu menundukkan kepalanya. Ia merasa bahwa seharusnya ialah yang melakukannya apa pun akibatnya. Namun ternyata bahwa justru Ranggawuni telah mendahuluinya.
Dalam keragu-raguan itu Lembu Ampal mendesaknya, “Katakan keputusanmu. Aku juga akan menghadap Panglima Pelayan Dalam. Karena sebenarnyalah bahwa istana itu berada di dalam tangan Pasukan Pengawal dan Pelayan Dalam.”
“Tetapi prajurit-prajurit yang lain sekarang ada di istana pula. Justru merekalah yang memegang peran terpenting di dalam keadaan yang kalut ini. Tuanku Tohjaya kini lebih banyak berbicara dengan mereka daripada dengan kami.”
“Tentu semakin lama kekuasaan mereka akan semakin berkembang. Dan akhirnya akan tamatlah kesatuan Pasukan Pengawal dan Pelayan Dalam. Akan lenyap pulalah golongan Rajasa dan Sinelir di dalam lingkungan keprajuritan Singasari.”
Panglima itu merenung sejenak. Lalu katanya, “Kau jangan mengambil keuntungan dari pertentangan di dalam lingkungan keprajuritan di Singasari. Aku tahu, tuanku Ranggawuni tentu dengan sengaja memilih waktu seperti ini. Selagi kecurigaan dan dendam sedang membakar hati para prajurit.”
“Bukankah itu wajar? Tetapi jika tuanku Ranggawuni dan Mahisa Cempaka tidak berbuat sesuatu sekarang ini, maka Singasari akan menjadi semakin buruk. Apabila kelak tuanku Ranggawuni dan Mahisa Cempaka terpaksa mengambil alih kekuasaan dengan kekerasan, maka korban tidak akan dapat dihitung lagi.”
Panglima itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Memang akhirnya aku menyadari, bahwa ketidak pastian, dan tanpa pendirian dan sikap yang teguh seperti aku, sepantasnya hanya akan menjadi alat dan dimanfaatkan oleh orang-orang lain.”
“Jangan merasa demikian. Kau pun belum terlambat untuk bersikap sekarang ini. Seandainya kau memutuskan untuk mendukung kekuasaan tuanku Tohjaya, maka kau pun akan mendapat kesempatan. Sebaliknya jika kau mengambil sikap lain, maka kau masih mempunyai kemungkinan pula.”
Panglima Pasukan Pengawal itu menarik nafas dalam- dalam. Katanya dalam nada yang datar, “Aku memang tidak mempunyai, pilihan Lembu Ampal. Aku sudah tidak akan dapat berbuat sesuatu di bawah perintah tuanku Tohjaya. Memang, sejak semula aku berpikir berlandaskan kepentingan pribadi dan pamrih semata-mata. Sekarang aku pun masih belum dapat melepaskan perhitungan pribadi itu. Agaknya akan lebih menguntungkan bagiku untuk berpihak kepada tuanku Ranggawuni meskipun seandainya tuanku Ranggawuni kelak mengambil keputusan untuk menggantung aku di alun-alun. Karena menurut perhitunganku, tuanku Tohjaya pun pada suatu saat akan berbuat demikian atasku. Dan menurut perhitunganku pula, jika datang hukuman mati, yang akan dilakukan oleh tuanku Ranggawuni tentu lebih baik daripada tuanku Tohjaya.”
“Pertimbanganmu terlampau jauh Panglima.”
“Aku harus memperhitungkan segala kemungkinan.”
“Jadi apa keputusanmu? Jika kau bersedia maka marilah kira bersama-sama pergi menghadap Panglima Pelayan Dalam.”
Panglima Pasukan Pengawal itu termangu-mangu sejenak. Kemudian katanya, “Apakah aku tidak mendapat kesempatan untuk berpikir?”
Pertanyaan ini memang wajar sekali. Tetapi Lembu Ampal tidak ingin memberikan kesempatan itu, jika Panglima itu sempat merenungi keadaannya, maka ada kemungkinan bahwa ia akan mengambil sikap lain.
Karena itu, maka Lembu Ampal pun kemudian berkata, “Panglima. Kita jangan terombang ambing oleh keadaan ini terlampau lama. Mungkin besok atau lusa akan jatuh korban lagi seperti kedua Senapati itu. Bahkan mungkin pada suatu saat Panglima sendiri akan ditikam di hadapan para pemimpin di paseban.”
Panglima itu mengerutkan keningnya. Dan tiba-tiba saja ia menggeram penuh dendam.
“Meskipun demikian.” berkata Lembu Ampal selanjutnya, “Terserah kepada Panglima, apakah Panglima masih dapat berpangku tangan dalam keadaan seperti sekarang ini.”
Panglima itu merenung sejenak. Kemudian, “Baiklah. Marilah kita pergi ke rumah Panglima Pelayan Dalam. Aku kira ia pun belum lama datang dari istana.”
“Tentu Pasukan Pengawal dan Pelayan Dalam masih tetap saling mencurigai. Siapa tahu, bahwa sebenarnya pihak lainlah yang dengan sengaja memancing kekeruhan ini.”
“Aku sudah menduga.” sahut Panglima Pasukan Pengawal.
“Dan akibatnya sekarang terasa bahwa kekuasaan di dalam halaman istana sudah bergeser dari Pasukan Pengawal dan Pelayan Dalam kepada prajurit-prajurit itu.”
Panglima itu mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Marilah. Aku harus sudah kembali sebelum pagi. Mungkin tuanku Tohjaya memerlukan aku dan memanggil setiap saat.”
Demikianlah maka Panglima Pasukan Pengawal itu pun segera pergi bersama Lembu Ampal. Namun ia tidak dapat melepaskan kecurigaannnya, sehingga ia masih juga membawa beberapa orang pengawal pilihan. Seandainya Lembu Ampal tidak berbuat apa-apa, maka di perjalanan dapat saja timbul persoalan dengan prajurit-prajurit dan Senapati dari kesatuan yang lain, yang memang sedang dalam keadaan yang tegang dan saling mencurigai.
Ternyata bahwa sikap Lembu Ampal di sepanjang jalan, seakan-akan memberikan keyakinan kepada Panglima Pasukan Pengawal itu, bahwa Lembu Ampal tidak berbohong. Itulah sebabnya maka ia pun menjadi semakin mantap untuk melakukan tindakan yang dapat memberikan harapan bagi dirinya dan bagi Singasari.
Kedatangan Panglima Pengawal di rumah Panglima Pelayan Dalam disambut dengan penuh kecurigaan. Para pengawal di rumah itu pun segera bersiap. Para penjaga regol segera berloncatan dengan senjata di tangan.
“Aku ingin bertemu dengan Panglimamu.” berkata Panglima Pasukan Pengawal.
Seorang Senapati yang berada di regol dan yang malam itu bertanggung jawab penjagaan di rumah Panglimanya, melangkah maju sambil bertanya, “Apakah ada keperluan penting sekali sehingga Panglima datang di malam hari?”
“Penting sekali. Katakan kepada Panglimamu, aku datang bersama Lembu Ampal.”
“Lembu Ampal.” para prajurit itu berdesis dan serentak mereka mencari di antara wajah-wajah para pengawal Panglima Pasukan Pengawal itu.
Lembu Ampal justru maju sambil tersenyum. Katanya, “Ya, aku mengikuti Panglima Pasukan Pengawal datang untuk menghadap Panglimamu.”
Senapati yang bertugas di regol itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia berkata, “Aku akan menyampaikannya kepada Panglima, apakah ia dapat menerima.” Ia terdiam, lalu katanya, “Tetapi bukankah Lembu Ampal itu sudah beberapa lama lenyap dari Singasari?”
“Aku tetap berada di Singasari. Tetapi tidak di dalam kota.”
“Ya. Begitulah maksudku.”
“Kepergianku merupakan bagian dari persoalan yang akan aku sampaikan kepada Panglimamu sekarang ini.”
Senapati itu memandang Lembu Ampal sejenak. Lalu, “Baiklah. Tunggulah sebentar.”
Senapati itu pun kemudian menghadap kepada Panglimanya yang baru saja masuk ke dalam biliknya. Mula-mula ia terkejut mendengar laporan bahwa Panglima Pasukan Pengawal telah datang dengan beberapa orang pengawal, termasuk Lembu Ampal.
“Apa katanya?”
“Ada persoalan penting yang akan dibicarakan.”
Penglima Pelayan Dalam itu termangu-mangu sejenak. Ia mempunyai banyak pertimbangan. Tetapi juga prasangka.
“Mungkin ia ingin menentukan sikap bersama setelah terjadi peristiwa yang mengerikan itu.” berkata Panglima itu di dalam hatinya.
Karena itu, maka ia pun kemudian berkata, “Persilahkan mereka masuk. Yang aku terima di ruang dalam hanyalah Panglima Pasukan dan Lembu Ampal.”
Demikianlah maka Panglima Pasukan Pengawal dan Lembu Ampal itu pun kemudian masuk ke ruang dalam ditemui oleh Panglima Pelayan Dalam dengan penuh pertanyaan yang membayang di sorot matanya.
Lembu Ampal lah yanng kemudian mulai berbicara. Seperti yang dikatakannya kepada Panglima Pasukan Pengawal ia menawarkan kerja sama dengan Ranggawuni dan Mahisa Cempaka yang telah bersiap untuk memasuki istana Singasari.
Panglima Pelayan Dalam itu termangu-mangu. Ia pun diamuk oleh kebimbangan seperti yang dialami oleh Panglima Pasukan Pengawal.
Namun Lembu Ampal berkata, “Ranggawuni dan Mahisa Cempaka tidak bertindak atas dasar dendam karena kematian tuanku Anusapati yang telah di bunuh oleh tuanku Tohjaya. Tetapi yang mereka lakukan didasari rasa tanggung jawab atas perkembangan Singasari. Seandainya tuanku Tohjaya dapat memerintah Singasari seperti tuanku Sri Rajasa, maka aku kira tuanku Ranggawuni dan Mahisa Cempaka tidak akan pernah memikirkan untuk merebut tahta.” Lembu Ampal berhenti sejenak, lalu, “Sebenarnyalah bahwa yang dikehendaki oleh tuanku Ranggawuni bukanlah sekedar kedudukannya, tetapi justru tanggung jawabnya.”
Panglima Pelayan Dalam masih tetap merenung.
“Itulah sebabnya maka tuanku Ranggawuni tidak akan menghiraukan apakah para Panglima pernah mendukung tuanku Tohjaya atau tidak. Yang penting, siapakah yang ingin bekerja bersama akan diterima dengan kedua belah tangannya. Tetapi jika tidak, maka kedua anak-anak muda itu akan menghadapi mereka sebagai lawan yang harus dibinasakan.”
“Kau mengancam?” bertanya Panglima Pelayan Dalam.
“Tentu tidak. Aku tahu ancaman bagi Panglima tidak ada gunanya. Bahkan bagi setiap prajurit. Tetapi yang aku katakan adalah rencana tuanku Ranggawuni dan Mahisa Cempaka. Siapa yang berjalan seiring, akan dibimbingnya. Tetapi yang melintang akan dipatahkannya. Dan ini bukannya sebuah ancaman. Tetapi demikianlah yang akan dilakukan, meskipun barangkali kedua anak-anak muda itu akan menjumpai kegagalan karena ternyata pendukung Tohjaya terlampau kuat.”
Panglima Pelayan Dalam itu menjadi semakin bimbang. Sehingga akhirnya ia bertanya kepada Panglima Pasukan Pengawal, “Apa keputusanmu?”
“Aku menjadi bingung.” sahut Panglima Pasukan Pengawal, “Tetapi aku tidak dapat menutup kenyataan bahwa tuanku Tohjaya benar-benar sudah tidak dapat diharapkan. Apalagi karena pasukanku dan pasukanmu kini sudah tidak berarti sama sekali, bahkan mungkin dalam waktu dekat, pasukan kita akan dihapuskan. Para pemimpinnya akan mengalami nasib serupa dengan kedua Senapati yang telah dibunuh dan dilemparkan begitu saja ke sungai, sehingga tuanku Ranggawuni dan Mahisa Cempaka lah yang memerintahkan untuk mengambil kedua mayat itu, karena tidak ada orang lain yang berani melakukannya.”
Panglima Pelayan Dalam itu pun kemudian menyahut, “Aku juga sudah kehilangan harapan. Bagiku tuanku Tohjaya sudah tidak berarti lagi di dalam perjuangan buat masa depan Singasari.”
Lembu Ampal memandang kedua Panglima itu berganti-ganti. Ia tidak perlu berbicara lagi. Yang dilakukannya kemudian adalah menunggu saja perkembangan pendapat kedua Panglima itu.
Sejenak kemudian Panglima Pelayan Dalam pun berkata, “Tunggulah. Akan berbicara dengan beberapa orang Senapati yang terpercaya yang kebetulan bertugas di sini sekarang. Mungkin mereka akan dapat memberikan pendapat.”
“Aku memutuskannya sendiri.” berkata Panglima Pasukan Pengawal.
“Tetapi biarlah aku meyakinkan pikiranku.”
“Tetapi dengan kemungkinan yang sangat buruk bagiku.” berkata Lembu Ampal.
“Kenapa?”
“Jika para Senapati menolak, maka aku tidak akan dapat keluar lagi dari tempat ini.”
Panglima Pelayan Dalam itu merenung sejenak, lalu, “Kau memang pantas ditangkap karena kau menghilang justru setelah tuanku Ranggawuni dan Mahisa Cempaka lenyap. Kau meninggalkan tugasmu sebagai seorang prajurit tanpa izin. Tetapi kali ini biarlah aku yang menanggung keselamatanmu selama kau menjadi tamuku. Namun demikian di luar halaman rumah ini, itu terserah kepadamu sendiri.”
Lembu Ampal tersenyum. Tetapi ia tidak berbicara lagi. Dalam pada itu Panglima Pelayan Dalam itu pun segera memanggil dua orang Senapati yang terpercaya untuk ikut serta berbicara dengan Panglima Pasukan Pengawal dan Lembu Ampal.
“Melihat perkembangan terakhir, agaknya kita memang sedang dibenturkan satu dengan yang lain.” berkata seorang Senapati, “Tentu ada petugas sandi yang sengaja memancing kekeruhan. Merekalah agaknya yang membunuh orang Rajasa dengan pakaian orang Sinelir. Kemudian membunuh orang Sinelir dengan meninggalkan ciri-ciri orang Rajasa. Dengan demikian kita akan berbenturan yang satu dengan yang lain, sementara itu tuanku Tohjaya telah menjatuhkan hukuman yang sangat mengerikan meskipun itu lebih baik dari hukuman picis.”
Panglima Pelayan Dalam mengangguk-angguk. Lalu dipandanginya Senapati yang lain dengan tajamnya.
Senapati itu bergeser setapak. Kemudian katanya, “Aku sependapat. Apa artinya pengabdian yang kita berikan jika kita tidak dapat mengharapkan Singasari menjadi semakin baik. Ternyata bahwa pamrih pribadi yang kita harapkan dengan mendukung tuanku Tohjaya tidak terpenuhi seperti yang dijanjikan. Apalagi kita Singasari seakan-akan menjadi buram. Waktu yang singkat selama pemerintahan Tuanku Tohjaya telah menyeret Singasari ke dalam suasana yang sangat gelap.”
Panglima Pelayan Dalam itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian dipandanginya Lembu Ampal dengan sorot mata yang membayangkan keragu-raguan.
Sebelum Panglima itu berkata sesuatu, Lembu Ampal telah mendahuluinya berkata, “Baiklah. Kalian dapat membuktikan, bahwa aku tidak berkata tanpa arah. Jika kalian kehendaki, aku dapat membawa kalian kepada tuanku Ranggawuni. Kini tempatnya bukannya suatu rahasia lagi, karena tuanku Ranggawuni dan tuanku Mahisa Cempaka sudah siap menghadapi segala kemungkinan.”
“Lembu Ampal.” berkata Panglima Pasukan Pengawal, “Aku percaya kepadamu. Tetapi tentu aku tidak sebodoh yang kau sangka, bahwa aku akan pergi bersamamu ketempat yang tidak aku ketahui.”
Lembu Ampal tertawa. Katanya, “Memang sewajarnya. Aku memang tidak dapat dipercaya sepenuhnya. Aku merasa bahwa sudah ada kepercayaan yang diberikan kepadaku, tetapi masih belum sejauh itu.” Lembu Ampal berhenti sejenak, “Baiklah. Jika kalian masih ragu-ragu untuk pergi menemui ngirimkan masing-masing seorang Senapati untuk bertemu langsung dengan tuanku Ranggawuni.”
Kedua Panglima itu termangu-mangu sejenak. Agaknya mereka masih tetap ragu-ragu.
“Tetapi terserahlah kepada kalian.” berkata Lembu Ampal. “Mungkin kalian memilih menggabungkan diri setelah tuanku Ranggawuni menduduki istana.”
Panglima Pelayan Dalam menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia memandang seorang Senapatinya, maka Senapati itu berkata, “Jika aku mendapat perintah, aku akan pergi bersama Lembu Ampal.”
Panglima Pelayan Dalam itu termenung sejenak, lalu ia ia pun menganggukkan kepalanya sambil berkata, “Baiklah. Jika Panglima Pasukan Pengawal sependapat, kau akan pergi bersama Lembu Ampal.”
Ternyata Panglima Pasukan Pengawal itu pun tidak berkeberatan. Ia pun kemudian menunjuk seorang Senapati yang mengawalnya untuk pergi bersama Lembu Ampal menghadap tuanku Ranggawuni dan Mahisa Cempaka.
“Nah, jika demikian, kita akan segera pergi. Jika kita lambat, maka akan ada prajurit dari golongan lain yang melihat kita. Dan kita tidak akan pernah dapat kembali.”
Demikianlah ketika kemudian Panglima Pasukan Pengawal kembali ke rumahnya, maka Lembu Ampal dan dua orang Senapati telah pergi untuk menemui Ranggawuni dan Mahisa Cempaka.
Dengan hati-hati mereka mencari jalan untuk keluar dari kota, tanpa diketahui oleh para penjaga. di setiap jalan, lorong bahkan jalan-jalan setapak, telah mendapat pengawasan yang sangat ketat dari para prajurit Singasari.
Namun dengan pengalaman Lembu Ampal keluar masuk kedalam kota, maka mereka pun dapat sampai keluar kota dengan selamat.
“Kita akan berjalan semalam suntuk?” bertanya Senapati dari golongan Rajasa.
“Tidak. Tidak terlampau jauh.” jawab Lembu Ampal.
“Kau berkata sebenarnya?” bertanya Senapati dari golongan Sinelir.
“Aku tidak berbohong.”
Ketiganya pun kemudian berjalan semakin cepat. Mereka memilih jalan melintas, menyusur pematang dan jalan-jalan sempit.
Akhirnya mereka berhenti di sebuah padukuhan kecil di tengah-tengah bulak yang luas. Sambil memandang padukuhan itu Lembu Ampal berkata, “Di situlah tuanku Ranggawuni dan tuanku Mahisa Cempaka bersembunyi.”
“Selama ini?” bertanya kedua Senapati itu hampir berbareng.
“Ya.” jawab Lembu Ampal.
“Aku tidak percaya.” berkata Senapati dari golongan Rajasa.
Lembu Ampal tertawa. Katanya, “Kadang-kadang keduanya ada di padukuhan itu.”
Kedua Senapati itu menjadi ragu-ragu. Tetapi mereka tidak berniat untuk mengurungkan maksudnya.
Demikianlah maka mereka bertiga pun memasuki padukuhan kecil yang terpencil itu. Di regol padukuhan kedua Senapati itu terkejut. Mereka melihat sepasukan prajurit Singasari yang lengkap berada di sepanjang jalan. Sebagian dari mereka berada di gardu dan yang lain bertebaran di dalam kegelapan.
“Inilah prajurit-prajurit Singasari yang berpihak kepada tuanku Ranggawuni?” bertanya Senapati dari golongan Sinelir.
Tetapi Lembu Ampal tidak sempat menjawab, ketika seorang dari prajurit itu mendekatnya sambil bertanya, “Siapakah yang datang bersamamu Lembu Ampal?”
“Dua orang Senapati dari Singasari. Seorang Senapati dari Pasukan Pengawal dan yang lain Pelayan Dalam.”
Orang yang bertanya itu memandang kedua Senapati itu sejenak. Kemudian dengan isyarat ia mempersilahkan Lembu Ampal berjalan terus.
“Kau kira pasukanmu ini cukup untuk menguasai istana saja?” bertanya Senapati dari golongan Rajasa, “Apalagi untuk menguasai seluruh kota. Prajurit Singasari yang berada di halaman kini segelar sepapan, sedang yang ada di sekitar istana hampir tidak terhitung lagi.”
Lembu Ampal tertawa, katanya, “Yang kau lihat adalah sebagian kecil. Jumlah prajurit tuanku Ranggawuni dan Mahisa Cempaka benar-benar tidak terhitung. Seluruh rakyat Singasari akan berada dipihaknya.”
Kedua Senapati itu termangu-mangu sejenak. Namun mereka tidak dapat menolak pendapat Lembu Ampal itu. Ketidak puasan rakyat Singasari terhadap Tohjaya akan dengan mudah menumbuhkan keinginan untuk menghirup udara baru, meskipun mereka belum tahu pasti bahwa yang baru itu akan lebih baik dari yang telah ditolaknya. Yang penting bagi mereka adalah suatu perubahan.
Apalagi jika yang baru itu benar-benar dapat memberikan harapan kepada mereka. Memberikan bayangan masa depan yang lebih baik.
Karena itu maka kedua Senapati itu tidak bertanya lagi. Mereka berjalan saja dengan tegang di antara prajurit yang berserakan.
Namun semakin dalam mereka memasuki padukuhan kecil itu, mereka melihat bahwa prajurit yang ada di padukuhan itu pun cukup banyak.
“Kita akan menghadap tuanku Ranggawuni dan Mahisa Cempaka.” berkata Lembu Ampal.
Kedua Senapati itu mengangguk. Salah seorang dari mereka menjawab, “Baiklah. Mudah-mudahan aku mendapatkan kepercayaan atas keduanya sehingga aku akan dapat memberikan pertimbangan kepada Panglima untuk mengambil keputusan seperti yang kau harapkan.”
Lembu Ampal tersenyum. Katanya, “Maksud tuanku Ranggawuni dan tuanku, Mahisa Cempaka, hal itu semata-mata untuk mengurangi jumlah korban di kedua belah pihak.”
“Kau masih tetap sombong.”
“Sudah aku katakan. Bukan kesombongan, tetapi sekedar rencana yang telah dibuat oleh tuanku Ranggawuni dan Mahisa Cempaka.”
“Kesombonganmu adalah karena kau terlalu yakin bahwa rencana itu akan berhasil.”
“Siapa yang mengatakan bahwa rencana itu pasti akan berhasil? Aku sudah mengatakan, mungkin rencana itu akan gagal karena kekuatan pendukung tuanku Tohjaya ternyata melampaui dugaanku.” sahut Lembu Ampal, lalu, “Nah, kau berdualah yang akan dapat memberikan pertimbangan, apakah kami akan berhasil atau tidak. Kami sudah melihat sebagian dari prajurit-prajurit Singasari yang berpihak kepada tuanku Ranggawuni kemudian kalian akan bertemu langsung dengan tuanku Ranggawuni dan tuanku Mahisa Cempaka sendiri.”
Kedua Senapati itu tidak menyahut. Mereka menjadi tegang ketika mereka kemudian memasuki sebuah regol halaman yang meskipun tidak begitu luas, tetapi nampak mendapat penjagaan yang khusus.
“Kedua anak muda itu tentu berada di rumah ini.” berkata kedua Senapati itu di dalam hatinya.
Ternyata dugaan mereka itu benar. Di rumah itu sudah menunggu tuanku Ranggawuni dari tuanku Mahisa Cempaka.
Dengan ragu-ragu kedua Senapati itu mengikuti Lembu Ampal memasuki rumah yang tidak begitu besar itu. Mereka tertegun sejenak di pintu. Meskipun malam telah menjelang dini hari, namun di ruangan itu masih nampak beberapa orang duduk di sebuah ambin yang besar seolah-olah sengaja sedang menunggu kedatangannya.
Ketika tatapan mata kedua Senapati itu bertemu dengan sorot mata Ranggawuni dan kemudian Mahisa Cempaka yang masih muda itu, namun benar terasa betapa besar pengaruh wibawa mereka, sehingga kedua Senapati itu pun kemudian menundukkan kepalannya sebelum mereka sempat melihat orang lain yang ada di daIam ruangan itu.
“Masukklah Senapati,” terdengar suara Ranggawuni mempersilahkan keduanya.
“Marilah.” Lembu Ampal pun mempersilahkan pula. Keduanya pun kemudian melangkah masuk.Beberapa saat keduanya ragu-ragu. Baru kemudian Lembu Ampal berkata, “Duduklah di ambin itu pula.”
Keduanya pun kemudian duduk di ambin itu pula, Sejenak mereka mendapat ketempatan untuk melihat orang-orang yang duduk di sekitarnya.
Terasa mereka berdesir ketika mereka melihat seorang yang duduk dengan tenangnya di sudut ambin itu, di sebelah tuanku Ranggawuni. Bahkan orang itu kemudian tersenyum ketika pandangannya bertemu dengan tatapan mata kedua Senapati itu.
“Mahisa Agni.” desis kedua Senapati itu di dalam hatinya. Mereka menjadi heran, bahwa tiba-tiba saja Mahisa Agni yang nampaknya tidak pernah keluar dari bangsalnya itu kini berada di tempat itu.
“Selamat datang kalian berdua.” berkata Mahisa Agni dengan nada yang datar.
Kedua Senapati itu tergagap karenanya. Namun kemudian salah seorang menjawab, “Demikianlah. Kami berdua selamat sampai di tempat ini.”
“Majulah.” Mahisa Cempaka mempersilahkan mereka bergeser mendekat.
Bersambung......!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar