Kamis, 28 Januari 2021

BARA DI ATAS SINGGASANA JILID 25-02

BARA DI ATAS SINGGASANA : JILID-25-02
“Anusapati,” kata Mahisa Agni kemudian yang seakan-akan dapat mengetahui perasaan Pangeran Pati itu, “memang kau seolah-olah berada di dalam pendadaran yang sangat berat. Tetapi aku yakin bahwa kau akan dapat mengatasinya.”

“Semoga paman,” jawab Anusapati, “aku akan berusaha.”

“Hati-hatilah Anusapati,” berkata Mahisa Agni kemudian, “aku akan berusaha berada di Singasari untuk waktu yang agak panjang. Tetapi jika perintah Sri Rajasa datang setiap saat agar aku kembali ke Kediri, maka aku-pun harus segera melakukannya.”

Anusapati mengangguk.

“Aku akan berbicara dengan Sumekar. Ternyata ia merupakan seorang kawan yang sangat setia bagimu. Jangan lupa, bahwa kau harus selalu berhubungan dengan juru taman itu. Suasana pasti akan meningkat terus. Apalagi karena kau selalu mondar mandir antara bangsal ibundamu dan bangsal ini. Jika ada seseorang yang memperhatikan, maka itu berarti pertada bahwa yang akan terjadi akan cepat terjadi. Sri Rajasa tentu memperhitungkan apa yang kau lakukan sekarang ini.”

“Baiklah paman,” berkata Anusapati kemudian, “kini aku mohon diri. Aku sekarang sudah jelas dimana aku berdiri. Dengan demikian aku akan dapat mempertimbangkan sikap yang paling baik yang dapat aku lakukan.”

“Anusapati,” berkata Mahisa Agni kemudian dengan ragu-ragu, “aku masih ingin mengingatkan kau kepada pemberianku itu. Dalam keadaan seperti sekarang ini apa salahnya jika benda itu tidak terpisah daripadamu.”

“O,” Anusapati mengangguk-angguk, “terima kasih paman. Aku akan selalu membawanya. Aku tahu bahwa benda itu sangat berguna dalam suatu saat yang paling gawat.”

“Benda itu berpengaruh siang dan malam. Tetapi sekali lagi aku peringatkan, bahwa benda itu sama sekali bukan sebuah senjata.”

“Ya paman.”

“Jika kau manginginkan senjata Anusapati,” berkata Mahisa Agni kemudian, “kau dapat bertanya kepada ibumu. Sebenarnya yang penting bagimu bukan untuk mempergunakan senjata itu, tetapi agar senjata itu tidak dipergunakan oleh orang lain terutama Sri Rajasa sendiri atau Tohjaya.”

“Senjata apakah yang paman maksud?”

“Sebilah keris yang keramat.”

“Keris?” Anusapati mengerutkan keningnya.

“Ya. sebilah keris. Keris itulah yang dipergunakan oleh Sri Rajasa untuk membunuh korbannya. Yang pertama adalah pembuat keris itu sendiri.”

“Siapa paman?”

“Empu Gandring.”

“O,” Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Empu Gandring lah yang membuat keris itu, dan Empu Gandring pulalah korban yang pertama. Keris itu adalah keris yang sangat keramat.”

Anusapati mendengarkan ceritera Mahisa Agni dengan cermatnya sebagai pelengkap ceritera ibundanya.

“Dimanakah keris itu sekarang disimpan paman?” bertanya Anusapati.

“Keris itu disimpan oleh ibundamu.”

“Ibunda? Kenapa bukan oleh Ayahanda Sri Rajasa?”

“Aku tidak tahu pasti, kenapa begitu. Tetapi aku kira ayahandamu pada saat itu ingin melupakan apa yang sudah dilakukannya. Empu Gandring itu adalah pamanku, dan kemudian Akuwu Tunggul Ametung, setelah dengan cermatnya ia menjerumuskan sahabatnya kedalam bencana.”

“Ibunda juga menyebutnya,” berkata Anusapati kemudian.

“Nah, cobalah. Usahakanlah agar keris itu jatuh ke dalam tanganmu. Tetapi tanpa niat yang buruk, sakedar menghindarkan kemungkinan yang paling pahit bagimu sendiri, apabila dalam keadaan yang gawat ini Sri Rajasa teringat kepada senjata yang telah bernoda darah itu dan timbul keinginannya untuk mempergunakannya lagi.”

Anusapati menjadi tegang sejenak.

“Anusapati, ciri yang paling jelas dari keris itu adalah tangkainya. Hulu keris itu bukannya sebuah ukiran yang rumit dan bertahtakan permata, tetapi hulu keris itu adalah sepotong dahan cangkring yang kasar dan belum dibentuk sama sekali.”

“Dahan cangkring yang kasar,” Anusapati mengulangi.

“Ya. Itulah keris yang telah mengakhiri hidup pamanku dan ayahandamu.”

“Baiklah paman. Aku akan menghadap ibunda. Aku akan memohon agar keris itu diperkenankan aku simpan.”

“Tetapi kau tidak usah menghadap sekarang. Jarak antara bangsal ini dan bangsal ibumu akan menjadi lekuk bekas kakimu. Besok sajalah kau menghadap.”

“Satu malam adalah waktu yang panjang paman. Di malam nanti semuanya akan dapat tarjadi.”

“Aku masih ada disini. Aku akan memberitahukan kepada Sumekar dan kau memiliki trisula yang dapat membantumu khusus menghadapi kejahatan.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Memang ia sudah hilir mudik antara kedua bangsal itu. Karena itu maka katanya, “Baiklah paman. Besok pagi-pagi jika aku masih berkesempatan melihat matahari terbit, aku akan menghadap ibunda untuk memohon agar keris itu dapat aku simpan.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya, katanya kemudian, “Kau harus mencoba untuk menenangkan hatimu jika kau kembali kepada isterimu. Baginya kau adalah sandaran yang tidak boleh goyah, agar keluargamu tidak menjadi lebih gelisah dari kau sendiri.”

Anusapati menganggukkan kepalanya, “Ya paman. Aku akan mencoba.”

“Nah, jika demikian, pulanglah kebangsalmu. Temuilah isteri dan anakmu yang barangkali sudah menunggu.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi kecemasan di dadanya masih saja bergejolak. Bahkan terbayang di angan-angannya bahwa jalan dari bangsal pamannya itu sampai kebangsalnya, telah penuh oleh prajurit-prajurit yang dipasang oleh Tohjaya untuk menjebaknya.

Tetapi Anusapati-pun kemudian mohon diri juga dengan hati yang tegang.

Langkahnya kemudian menjadi sangat hati-hati. Diperhatikannya setiap gerumbul petamanan dan pohon bunga di sebelah menyebelah lorong di halaman istana itu.

Anusapati mengerutkan keningnya ketika ia melihat Sumekar berdiri sambil memotong daun-daun bunga yang kuning. Ketika ia lewat di sampingnya, maka ia-pun berhenti sejenak sambil berkata, “Paman Mahisa Agni ingin berbicara.”

Sumekar mengangguk. Katanya, “Hamba sudah bertemu.”

“Ada lagi yang akan dikatakannya.”

“Ya tuanku. Hamba akan menunggu.” Sumekar berhenti sejenak lalu, “Hamba sudah mendengar langkah yang semakin dekat dengan puncak dari persoalan tuanku. Tetapi hamba tidak tahu apa yang harus hamba lakukan. Barangkali perintah itulah yang akan hamba terima dari pamanda tuanku.”

Anusapati tidak menyahut. Ia-pun kemudian melanjutkan langkahnya sambil berdesis, “berhati-hatilah paman.”

Sumekar mengangguk dalam-dalam. Tetapi ia berdiam diri sambil memandang langkah Putera Mahkota yang sedang dibelit oleh perasaan prihatin yang dalam.

“Aku harus membantunya. Mungkin aku dapat terbuat sesuatu meskipun aku harus siap mengorbankan apa-pun yang aku miliki. Tetapi Singasari memang harus dipertahankan agar tidak jatuh ke tangan seseorang seperti tuanku Tohjaya,” berkata Sumekar di dalam hati.

Ternyata bahwa Sumekar yang sudah lama berada di istana, dan yang sudah lama merasa hidup dalam tugas yang dibebankan kepadanya oleh Mahisa Agni menjadi pemomong Anusapati, merasa bahwa ia wajib untuk berbuat sesuatu sehingga jiwanya-pun setiap kali menjadi semakin tegang. Ialah yang mendahului rencana Anusapati sendiri, bahwa Sri Rajasa memang harus disingkirkan agar ia tidak mengambil sikap terlebih dahulu untuk mengusir Anusapati dan menempatkan Tohjaya dalam kedudukan yang tertinggi kelak.

Ketegangan itu agaknya menjadi semakin memuncak di dalam jiwanya. Namun ia masih selalu berusaha untuk menahan diri, agar tindakannya justru tidak merugikan usaha Mahisa Agni untuk membentengi kedudukan Pangeran Pati.

Dalam pada itu, Mahisa Agni-pun sebenarnya menjadi gelisah pula. Memang malam itu sesuatu dapat terjadi atas Anusapati. Karena itu maka ia-pun berusaha untuk menemui Sumekar dan berbicara dengan juru taman itu.

“Bayangilah bangsal itu. Barangkali kau mempunyai kesempatan yang lebih baik dari aku,” berkata Mahisa Agni.

Sumekar menganggukkan kepalanya.

“Semuanya sudah menjadi jelas bagi Putera Mahkota,” berkata Mahisa Agni lebih lanjut, “ia sudah mengenal dirinya dan Sri Rajasa.”

Sumekar mengerutkan keningnya. Lalu ia-pun bertanya, “Apakah hal itu membuat Pangeran Pati menentukan sikap?”

“Aku mencegahnya. Ia tidak boleh berbuat sesuatu. Yang penting baginya adalah mempertahankan diri dari tahta Singasari agar Singasari tidak terbenam karena ketamakan seorang perempuan yang bernama Ken Umang.”

Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Desisnya kemudian, “Satu-satunya jalan sekarang adalah menyingkirkan Sri Rajasa itu sendiri untuk menyelamatkan hasil usahanya yang besar dengan mempersatukan Singasari.”

“Tentu memerlukan pertimbangan yang matang,” sahut Mahisa Agni.

“Aku kira tidak ada jalan lain. Jika kita sekedar menyingkirkan Tohjaya maka Sri Rajasa masih mungkin untuk berbuat sesuatu yang lain, karena Ken Umang mempunyai anak laki-laki yang lain. Tindakan yang pahit dari Sri Rajasa dapat dialami pula oleh tuanku Anusapati.”

“Baiklah kita pertimbangkan. Tetapi kita tidak boleh tergesa-gesa. Sementara ini Anusapati sudah memiliki senjata untuk mempertahankan dirinya, jika Sri Rajasa sendiri akan bertindak atasnya. Sedangkan jika ia memerintahkan orang lain, maka Anusapati cukup masak untuk melawannya.”

“Tetapi Sri Rajasa dapat berbuat sesuatu yang tidak kita duga lebih dahulu.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia memang tidak ingkar bahwa Sri Rajasa dapat berbuat apa saja, seperti ketika ia sedang berusaha memanjat keatas tahta Tumapel saat itu. Dan kini, ia-pun sedang berusaha menempatkan anaknya yang lahir dari perempuan yang tamak itu untuk menggantikannya. Tentu usaha Sri Rajasa tidak akan kalah kerasnya dengan usahanya untuk kepentingannya sendiri saat itu.

Namun demikian Mahisa Agni masih mengekang persoalan itu agar tidak berkembang dengan tergesa-gesa sehingga mungkin justru akan salah jalan.

“Sumekar,” berkata Mahisa Agni kemudian, “jika terjadi sesuatu, dan kau merasa sulit untuk memecahkannya, berilah tanda agar aku dapat membantumu.”

“Apakah tanda itu?”

“Apakah yang dapat kau berikan sebagai isyarat. Suara burung, suara ayam atau suara apa?”

Sumekar merenung sejenak, namun ia-pun tertawa, “Yang paling mudah bagiku adalah suara seekor katak.”

“Tanpa ada hutan? “ Mahisa Agni-pun bersenyum.

“Apa boleh buat.”

Mahisa Agni-pun menyahut, “Baiklah. Jika aku mendengar suara katak yang berkepanjangan maka aku akan keluar dari bangsal dan pergi ke arah suara itu.”

Demikianlah maka Mahisa Agni-pun menjadi agak tenang. Sumekar adalah orang yang selama ini dapat dipercaya.

Sebelum mereka berpisah maka Sumekar-pun menceriterakan tentang seorang prajurit yang selalu mengawasi Anusapati ketika ia berjalan hilir mudik.

“Orang itu berbahaya,” berkata Sumekar.

“Biarlah. Ia tidak akan dapat berbuat apa-apa.”

“Prajurit itu adalah pengawal Tohjaya.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya.

“Aku sudah memanggilnya nanti malam. Aku mengatakan kepadanya bahwa aku mempunyai ceritera yang menarik, tentang Putera Mahkota.”

“Apa yang akan kau oeriterakan?”

“Aku tidak ingin menceriterakan apa-apa. Aku ingin membungkamnya untuk selama-lamanya.”

“Ah,” desah Mahisa Agni, “jangan mulai dengan korban pertama justru orang yang tidak berkepentingan. Kita menghindari korban sejauh-jauhnya.”

“Tetapi orang itu berbahaya. Berbahaya bagi Pangeran Pati dan berbahaya bagimu kakang.”

“Aku mengerti, tetapi kenapa orang itu harus dibunuh?”

“Lalu apakah yang harus aku lakukan terhadapnya untuk mengamankan Pangeran Pati.”

“Belokkan perhatiannya.”

“Aku sudah terlanjur mengatakan kepadanya, bahwa aku akan mengatakan sesuatu yang penting padanya.”

“Apa saja dapat kau katakan. Justru yang tidak ada sangkut pautnya dengan persoalan ini.”

Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Baiklah kakang Mahisa Agni. Aku akan mengekang diri, tetapi agaknya aku menjadi lebih bernafsu untuk segera bertindak daripada Putera Mahkota sendiri.”

Mahisa Agni menepuk pundak Sumekar. Lalu katanya, “Jagalah dirimu, terutama perasaanmu.”

Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Tetapi kepalanya terangguk kecil.

Demikianlah maka Mahisa Agni menjadi agak tenang. Ia percaya bahwa Sumekar pasti akan mengawasi Anusapati. Tetapi ia-pun cemas bahwa Sumekar yang telah lama bergaul dengan Anusapati, bahkan lebih rapat dari dirinya sendiri itu menjadi terlampau setia, dan bahkan karena perasaan iba yang mendalam, Sumekar dapat bertindak lebih keras dari Anusapati mendiri apabila batas kesabaran dan kekangan perasaannya telah lewat.

Dalam pada itu, malam yang hitam perlahan-lahan menyelubungi istana Singasari. Seakan-akan seperti perasaan beberapa pemimpin Singasari sendiri yang menjadi kelam pula karenanya.

Di belakang bangsal, Sri Rajasa duduk termenung seorang diri, seakan-akan merenungi masa-masa yang telah lama lampau, masa kini dan masa mendatang.

Dalam kebimbangan ia mencoba untuk mencari jalan keluar agar ia tidak merusakkan usahanya sendiri selama ia memegang pemerintahan. Seperti Mahisa Agni yang menyadari kekuatannya dan para Senapati yang akan berpihak padanya keperselisihan yang terjadi itu menjadi perselisihan yang keras dalam benturan senjata, maka Sri Rajasa-pun menyadarinya pula. Setiap keadaan yang berkembang di Singasari, ia harus memperhitungkan kemungkinan yang dapat dilakukan oleh Mahisa Agni. Sedang menurut perhitungannya, Mahisa Agni pasti akan melindungi Anusapati. Bukan saja karena Anusapati itu adalah kemanakannya, tetapi Mahisa Agni tentu sudah dapat menduga siapakah yang telah membunuh pamannya, Empu Gandring.

Dalam pada itu, tiba-tiba Sri Rajasa itu seakan-akan dihadapkan pada masa lampaunya dipadang Karautan. Di saat-saat ia pertama kali bertemu dengan Mahisa Agni.

Sebagai orang yang ditakuti dipadang Karautan, maka ia merasa heran, bahwa ada anak muda yang mampu dan berani melawannya. Hanya karena keajaiban yang ada pada dirinya, maka ia tidak dapat dikalahkan oleh Mahisa Agni itu. Tetapi ketika kemudian Mahisa Agni memegang sebuah trisula, maka ia-pun menjadi cemas karena silau yang tajam.

Trisula yang kecil itu seakan-akan memancarkan sinar yang tidak terkira memancar menyilaukan matanya, sahingga ia tidak lagi dapat melihat lawannya. Dengan demikian Mahisa Agni pada waktu itu dapat menyerangnya tanpa perlawanan sama sekali. Betapa-pun kuat daya tahan tubuhnya, namun karena Mahisa Agni-pun memiliki kekuatan yang melampaui kekuatan manusia kebanyakan, maka akhirnya ia-pun menjadi semakin lama semakin lemah.

Dan sekarang Mahisa Agni tumbuh menjadi raksasa yang tiada terkira kemampuannya. Ia sudah berhasil membunuh Senapati besar dari Kediri. Gabungan antara kemampuan yang tiada taranya dengan trisula kecil itu, bagi Sri Rajasa adalah kekuatan yang mencemaskan jantungnya.

Adalah dapat dimengerti bahwa Mahisa Agni membencinya karena ia telah membunuh pamannya dan kini seakan-akan telah menyia-nyiakan adik perempuannya meskipun masih tetap dalam kedudukannya sebagai seorang Permaisuri. Kemudian usahanya untuk mengusir kedudukan Anusapati tentu sangat menyakitkan hatinya pula.

Berbagai macam pikiran dan perasaan bercampur baur dihati Sri Rajasa. Bahkan kadang-kadang ia mengenang dengan jelas, apa yang pernah dilakukannya terhadap Empu Gandring dan Akuwu Tunggul Ametung.

Terbayang bagaimana Empu Gandring menunjukkan kepadanya keris yang masih belum siap itu. Bagaimana kecewa yang saat itu mencengkamnya. Namun kemudian bagaimana hatinya bergolak tidak terkendali lagi dan hampir diluar sadarnya tangannya telah terjulur dan keris Empu Gandring itu menghunjam ditubuhnya sendiri.

Terbayang bagaimana orang tua itu menahan rasa sakit dan berkata kepadanya, agar keris itu dihancurkan saja, karena keris itu untuk selanjutnya akan menelan korban demi korban.

Tiba-tiba Sri Rajasa memejamkan matanya. Bayangan itu serasa menjadi semakin jelas dan seakan-akan didalam kesiapan di halaman dalam bangsalnya, sebuah bayangan berdiri memandanginya. Bayangan seorang tua yang baik, yang tersenyum ramah kepadanya dan meskipun dadanya telah terluka namun ia masih juga memberinya peringatan agar keris itu dihancurkan.

Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu menjadi berdebar-debar. Bayangan itu bagaikan bergerak mendatangnya. Sambil tersenyum Empu Gandring berkata kepadanya, “Keris itu akan menelan korban demi korban.”

“Tidak, tidak,” suara Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa, “keris itu tidak akan menelan korban lagi.”

Tetapi bayangan yang tersenyum kepadanya itu berkata, “Aku tidak ingin melihat korban itu berjatuhan lagi. Terutama kau sendiri angger.”

“Tidak, tidak,” Ken Arok memejamkan matanya. Meskipun ia seorang yang tidak terkalahkan, namun dihadapan Empu Gandring ia merasa terlampau kecil. Bukan karena Empu Gandring memiliki kemampuan melebihi dirinya, tetapi justru karena senyumnya yang sama sekali tidak membayangkan dendam itulah yang tidak dapat diatasinya.

Namun ketika ia membuka matanya, bayangan itu telah tidak ada dihadapannya lagi. Yang tampak olehnya adalah kegelapan halaman dalam bangsalnya. Sinar lampu yang melontar menyentuh dedaunan membuat gambaran yang aneh didalam penglihatan Ken Arok.

Tidak. Bayangan itu masih ada. Bayangan itu berdiri di antara dedaunan. Tetapi bayangan itu bukan lagi bayangan Empu Gandring yang tersenyum.

Bayangan itu adalah bayangan wajah yang marah dengan soror mata yang menyala. Bayang Akuwu Tunggul Ametung.

Dengan ujung jarinya ia menunjuk ke wajah Ken Arok yang kemudian bergelar Sri Rajasa, “Kau. Kau.”

Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa menjadi semakin berdebar-debar. Dan bayangan itu melangkah semakin dekat. Ditelinganya Ken Arok mendengar Akuwu itu berkata, “Kau sudah membunuh aku dan merampas isteriku. Sekarang kau akan menyia-nyiakan anakku. Aku tidak rela Ken Arok. Aku tidak mendendam kematianku, apalagi karena kau sudah berhasil menjadikan Tumapel sebuah negara yang besar yang dinamai Singasari.” suara yang terdengar ditelinga Ken Arok itu berhenti sejenak. Lalu, “Tetapi ternyata kau akan mengusir anakku, Ken Arok. Kau akan mengusir Anusapati dari kedudukan yang memang menjadi haknya. Kau akan memberikan hak itu kepada anakmu yang lahir dari perempuan yang tamak dan dibakar oleh nafsu yang tidak terkendali itu. Aku tidak rela. Aku akan membunuhmu bukan karena dendam karena kematianku, tetapi semata-mata karena aku berusaha melindungi anakku.”

Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu mematung di tempatnya. Wajah Akuwu Tunggul Ametung itu tampaknya bagaikan membara.

Tetapi ketika Ken Arok menarik nafas dalam-dalam dan berusaha menggugah kesadarannya sepenuhnya, maka bayangan itu-pun menjadi kabur dan perlahan-lahan hilang sama sekali. Yang tampak kemudian adalah cahaya lampu di dedaunan yang bergerak-gerak disentuh angin malam.

Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Kini ialah yang sengaja membayangkan wajah Anusapati yang suram dan tunduk dalam-dalam. Alangkah jauh bedanya antara pancaran wajah Akuwu Tunggul Ametung dan puteranya Anusapati.

Tetapi Ken Arok mengerutkan keningnya. Perbedaan itu bukan perbedaan yang mendalam. Perbedaan itu hanyalah perbedaan kecil karena pengaruh lingkungannya. Akuwu Tunggul Ametung adalah seorang Akuwu yang berkuasa, ditakuti oleh bawahannya dan memiliki kemampuan yang mengagumkan, sedang Anusapati hidup dalam tekanan batin yang tiada taranya, sehingga karena itulah maka wajahnya seakan-akan selalu tampak muram.

Namun dalam pada itu keduanya memiliki cahaya mata yang mendebarkan. Cahaya mata yang menatap jauh kedepan.

Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu menarik nafas dalam-dalam. Bayangan-angan yang dilihatnya itu ternyata telah menggetarkan hatinya. Seakan-akan orang-orang yang telah dibunuhnya itu datang, kepadanya untuk memberinya peringatan, bahwa Singasari benar-benar akan dilanda oleh goncangan yang dahsyat.

Namun dalam pada itu, selagi Ken Arok mulai mengenang kembali masa-masa lampau itu, tiba-tiba saja seseorang berdiri dihadapannya sambil bertolak pinggang. Berbeda dengan Empu Gandring yang berwajah tenang, dan berbeda pula dengan Akuwu Tunggul Ametung yang meskipun tidak mendendamnya tetapi ia tidak rela bahwa anaknya akan disia-siakan, maka yang dilihatnya kini adalah seorang yang memandangnya dengan penuh kebencian. Dengan suara lantang ia berkata, “Aku memang mendendammu Ken Arok. Aku akan berusaha untuk melepaskan dendamku dengan cara apa-pun juga. Aku tidak ikhlas mengenang kematianku yang sia-sia karena perbuatanmu. Kau memang licik seperti iblis. Kau pergunakan sifat-sifatku yang kurang baik untuk kepentinganmu yang jauh lebih jahat dari sifat-sifatku sendiri. Apalagi kau sudah menjerumuskan aku kedalam kematian yang rendah. Tunggulah bahwa saat itu akan datang. Kau-pun akan mati dengan luka didadamu. Kau tidak usah menyesal Ken Arok. Hantu Karautan tidak pantas untuk berlama-lama duduk di atas tahta.”

“O,” Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu mengeluh. Ia sadar, bahwa sebenarnya tidak ada seorang-pun dihadapannya. Ia sadar, bahwa Kebo Ijo itu hanya ada di dalam angan-angannya. Tetapi seakan-akan ia melihatnya dengan pasti seperti wajahnya yang luka oleh senjata dan mengantarkan kematiannya.

“Sekarang semuanya bangkit kembali di dalam kenangan,” desah Ken Arok. Tetapi ia tidak dapat ingkar, bahwa ia memang telah membunuh ketiganya dengan licik sekali. Ia .dapat menepuk dada tanpa kegelisahan apa-pun juga meskipun ia mengenang juga kematian Maharaja Kediri, karena kematian itu terjadi dimedan perang. Tetapi tidak demikian dengan Empu Gandring, Akuwu Tunggul Ametung dan Kebo Ijo.

Namun tiba-tiba Sri Rajasa itu menggeretakkan giginya. Katanya, “Persetan dengan mereka. Mereka tidak dapat berbuat apa-apa lagi atasku. Sekarang aku berkuasa, dan sekarang aku dapat berbuat apa saja. Apalagi mereka yang sudah mati, sedangkan yang masih hidup-pun tidak dapat berbuat apa-apa lagi atasku.”

Tetapi belum lagi ia selesai, mulai membayang wajah Mahisa Agni yang tenang dan dalam. Sebuah trisula yang silau dan Permaisurinya yang dapat memancarkan cahaya yang aneh.

“Gila, semuanya menjadi gila.”

Sri Rajasa menghentakkan dirinya. Kemudian sambil mengatupkan giginya rapat-rapat ia meninggalkan tempat itu dan masuk kedalam biliknya. Dengan hati yang bergejolak, ia-pun membanting dirinya di atas pembaringannya. Namun Sri Rajasa tidak segera dapat memejamkan matanya. Setiap kali hilir mudik berganti-ganti bayangan yang mengganggunya. Yang sudah mati mau-pun yang masih hidup kini.

Dalam pada itu, selagi malam menjadi gelap, Sumekar segera melakukan pesan Mahisa Agni. Meskipun sambil bersembunyi, ia dapat mengawasi bangsal Putera Mahkota. Tetapi ketika ia teringat pesannya kepada prajurit yang ditemuinya sedang mengawasi Pangeran Pati itu, ia menjadi bimbang.

“Aku akan menunggu prajurit itu sejenak. Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu.”

Tetapi hatinya tetap risau, sedang para prajurit yang bertugas semuanya berkumpul di bagian depan bangsal.

Tiba-tiba saja Sumekar mendapat akal. Dilontarkannya sebuah batu yang besar kesisi bangsal itu sehingga mengejutkan para penjaga. Beberapa orang datang dengan tergesa-gesa, dan mereka menemukan sebongkah batu.

“Aneh,” desis salah seorang dari mereka.

“Aneh. Batu sebesar ini,” sahut yang lain.

Mereka-pun segera bersibak ketika Anusapati yang mendengar suara itu pula datang mendekat. Diamat-amatinya batu itu dengan saksama. Dan ia-pun sependapat, bahwa bukan kekuatan orang kebanyakan yang dapat melemparkan batu sebesar itu.

“Hatilah berjaga-jaga,” pesan Anusapati kepada para prajurit, “jika ada sesuatu yang mencurigakan, berilah aku isyarat. Aku sendiri yang akan menyelesaikan jika kalian menemui kesulitan.”

“Hamba tuanku,” jawab pemimpin peronda itu. Ia percaya bahwa Anusapati akan mampu menyelesaikan jika benar-benar ada kekuatan yang melampaui kekuatan manusia kebanyakan datang ke bangsal itu. Karena itu, mereka hanya bertugas untuk mengawasinya dengan baik.

Karena itulah maka para prajurit yang bertugas itu-pun segera berpencar. Di setiap sudut terdapat dua orang dengan senjata telanjang berdiri dan berjalan hilir mudik, Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti bahwa ada kekhawatiran untuk mencari siapakah yang melemparkan batu itu. Dan Anusapati tidak mau meninggalkan isteri dan anaknya dalam keadaan itu.

Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Usahanya untuk memencar para prajurit itu telah berhasil. Dan ternyata bahwa Anusapati tidak memerintahkan seorang-pun untuk mencarinya. Agaknya Anusapati berpendapat, tidak akan ada gunanya untuk mencari orang yang melemparkan batu itu. Jika orang itu masih belum pergi, maka orang itu tentu orang yang mapan untuk bertempur, sedangkan Anusapati sendiri tidak akan sampai hati meninggalkan bangsalnya, karena hal itu dapat sekedar merupakan pancingan saja agar ia meninggalkan isteri dan anaknya.

Dengan demikian, maka bangsal Putera Mahkota itu kini diliputi oleh kesiagaan yang tinggi, sehingga karena italah maka Sumekar-pun kemudian dengan tenang meninggalkannya sejenak.

Ditempat yang sudah dijanjikan, maka Sumekar-pun menunggu kedatangan prajurit itu sejenak. Namun ia kini harus menyiapkan ceritera apakah yang akan dikatakannya kepada prajurit itu. Semula ia hanya akan menjebaknya dan melepaskan jejak pengintaian prajurit itu. Namun ternyata Mahisa Agni tidak menyetujuinya dan ia harus mendapatkan ceritera yang akan dikatakannya.

Sejenak kemudian, maka prajurit itu-pun dilihatnya merunduk-runduk menuju kesudut taman yang gelap seperti yang dikatakannya. Namun ternyata bahwa prajurit itu-pun telah bersiap jika ia hanya sekedar dijiebak oleh Sumekar.

Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Ternyata bahwa ia merasa aneh terhadap dirinya sendiri. Ketika ia memandang prajurit itu, rasa-rasanya ia menyadari betapa dirinya sekarang dicengkam oleh perasaannya saja. Jika Mahisa Agni tidak memperingatkannya, maka prajurit itu-pun pasti akan segera menemui ajalnya.

“Pengaruh pertentangan antara Sri Rajasa dan Tohjaya di satu pihak dengan Pangeran Pati dilain pihak membuat aku kadang-kadang terbenam di dalamnya. Sebenarnya aku dapat berdiri di luar, tetapi karena Pangeran Pati itu seakan-akan sudah menjadi momonganku, maka rasa-rasanya akulah yang justru bertanggung jawab. Bagi Singasari, lebih baik akulah yang harus tenggelam daripada tuanku Anusapati apabila memang seharusnya demikian. Jika kakang Mahisa Agni setuju, barangkali aku dapat segera melakukannya.”

Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Ketika prajurit itu-pun kemudian sampai di tempat yang dikatakannya, maka Sumekar-pun segera berdesis.

Prajurit itu terkejut. Namun Sumekar berkata, “Jangan terkejut. Aku menunggumu disini.”

Prajurit itu memandang Sumekar yang duduk didalam kegelapan, lalu katanya, “Apa yang kau kerjakan disitu?”

“Menunggumu. Bukankah aku berjanji menunggumu disini?”

Prajurit itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu ia-pun duduk di sebelah Sumekar sambil berkata, “Cepat katakan. Apakah yang kau ketahui tentang Pangeran Pati itu.”

“Jangan tergesa-gesa, duduklah. Barangkali kau masih lelah bertugas sehari-harian.”

“Jangan merajuk seperti anak-anak. Cepat katakan.”

“Apakah kau masih akan bertugas lagi?”

“Jangan banyak bicara. Aku tampar mulutmu. Cepat katakan apa yang kau ketahui. Jika aku katakan semuanya nanti kepada tuanku Tohjaya, maka kita pasti akan mendapat hadiah.”

“Ah, Kaulah yang akan mendapat hadiah. Bukan aku.”

“Kita berdua.”

“Dan kau benar-benar akan memberi aku hadiah itu?”

“Tentu. Kau akan mendapat bagian. Tetapi cepat, sebelum aku kehabisan kesabaran.”

Sumekar mengerutkan keningnya. Katanya, “Baiklah.”

Prajurit itu menunggu, tetapi Sumekar tidak segera mengatakan sesuatu sehingga sekali lagi prajurit itu membentaknya meskipun tidak cukup keras, “Cepat. Jangan berbuat gila terhadapku. Apakah kau memerlukan uang untuk keteranganmu itu.”

“Ya,” sahut Sumekar, “sekedarnya. Aku kemarin kalah bermain kemiri. Aku mempunyai hutang kepada kawan-kawanku juru taman juga.”

“Gila, aku patahkan tulang rahangmu. Peduli dengan hutangmu. Cepat katakan.”

Prajurit itu-pun segera meraih lengan Sumekar dan mengguncangnya. Dan Sumekar-pun sama sekali tidak melawannya. Sambil mendorong Sumekar sehingga ia terjatuh prajurit itu berkata, “Aku injak lehermu jika kau memperlambat keteranganmu. Biar saja aku tidak mendengar keterangan apapun, tetapi aku puas jika aku dapat membunuhmu. Tidak ada seorang-pun yang akan mengetahui siapakah yang membunuhmu juru taman gila.”

“Jangan terlampau kasar,” sahut Sumekar, “aku menjadi takut dan semua ingatanku akan hilang.”

“Cepat, cepat.”

“Baiklah,” Sumekar-pun kemudian memperbaiki duduknya. Sejenak ia merenung. Namun sejenak kemudian ia berkata, “Ki Sanak. Jika kau ingin tahu dan barangkali dengan demikian kau dapat memberi petunjuk kepada tuanku Tohjaya bahwa tuanku Anusapati tidak berhak atas tahta, adalah bahwa ibu Anusapati itu sebenarnya bukan seorang puteri bangsawan. Ia adalah seorang gadis desa. Ia datang dari padukuhan Panawijen.”

Prajurit itu mengerutkan keningnya. Lalu, “Ya, terus?”

“Itulah keteranganku. Kau dapat menceriterakannya kepada tuanku Tohjaya.”

“He,” prajurit itu membelalakkan matanya, “hanya itu?”

Sumekar memandang prajurit itu dengan heran. Selangkah ia bergeser surut dan berkata, “Ya itu. Bukankah hal itu penting sekali bagi tuanku Tohjaya?”

“Gila, aku sobek mulutmu. Aku tidak perlu igauan semacam itu. Cepat katakan apa yang kau ketahui tentang tuanku Anusapati?”

“Itulah, itulah yang aku ketahui. Apakah hal itu bukan suatu keterangan yang penting.”

“Kau gila. Setiap hidung di Singasari tahu bahwa tuanku Permaisuri berasal dari Panawijen. Bahwa tuan Puteri Ken Dedes seorang gadis padepokan. Itu bukan keterangan yang aneh lagi bagi tuanku Tohjaya.”

“O,” Sumekar mengerutkan keningnya, “apakah tuanku Tohjaya sudah, mengetahuinya? Dan bagaimana dengan tuanku Sri Rajasa?”

“Semua orang sudah tahu bodoh. Semua orang?”

“Akulah yang tidak tahu bahwa semua orang sudah mengetahuinya. Aku kira kabar ini merupakan kabar yang baik bagimu.”

Prajurit yang marah itu tiba-tiba mencengkam leher Sumekar sambil menggeram, “Kau harus aku bunuh sekarang. Aku baru menyadari kebodohanku sekarang. Jika demikian kau siang tadi sekedar menghindarkan Putera Mahkota dari pengawasanku. Ternyata setelah aku mendengarkan bicaramu. Putera Mahkota tidak aku lihat lagi. Dan barangkali kau sengaja melenyapkan jejaknya dihadapan tuanku Tohjaya dan Sri Rajasa,” prajurit itu berhenti sejenak. Lalu, “He, jika demikian kau pasti seorang pengikut Pangeran Pati.”

Dada Sumekar menjadi berdebar-debar. Dan prajurit itu berkata seterusnya, “jangan ingkar. Dan sekarang kau mencoba mempermainkan aku ya? Aku tidak dapat kau kelabui. Dan itulah sebabnya kau menebak tempat ketika kau lihat aku memperhatikan Pangeran Pati itu hilir mudik dari bangsal tuanku Permaisuri ke bangsal yang dipergunakan oleh kakanda tuanku Permaisuri, Mahisa Agni.”

Sumekar masih belum menjawab. Dan wajahnya masih kelihatan ketakutan dan bergeser semakin surut, “Maaf, aku sama sekali tidak berniat demikian.”

“Bohong,” tiba-tiba saja cengkaman tangan orang itu menjadi semakin kuat, “ayo katakan. Apakah kau pengikut Putera Mahkota? Siapa saja pengikut yang lain?”

“Aku tidak tahu, aku tidak.”

“Jangan berbohong. Aku dapat membunuhmu sekarang dan melemparkan mayatmu ke dalam gerumbul pertamanan yang kau pelihara itu. Setiap orang besok akan terkejut mendengar bahwa seorang juru taman telah terbunuh. Tetapi mereka tidak tahu siapa yang telah membunuh.”

“Kau akan membunuhku?” bertanya Sumekar.

“Ya.”

“Apakah cukup alasan bagimu untuk membunuh seseorang? Bukankah aku hanya berbuat kesalahan kecil, karena aku tidak tahu bahwa seluruh rakyat Singasari sudah mengetahui bahwa tuanku Permaisuri adalah seorang yang berasal dari padesan.”

“Kesalahanmu bukan sekedar mempermainkan aku dengan pura-pura tidak mengetahui hal itu. Tetapi bahwa kau sudah menggagalkan pengawasanku terhadap Putera Mahkota yang akan dapat aku pergunakan sebagai bahan laporanku kepada tuanku Tohjaya. Lebih dari itu, kau sudah mengetahui bahwa di dalam udara Singasari yang panas ini, aku sudah menentukan sikap dan berpihak.”

“Aku juga berpihak kepadamu, kepada tuanku Tohjaya,” berkata Sumekar.

“Aku tidak peduli,” prajurit itu mengguncang leher Sumekar yang masih dicengkamnya, “aku tidak mempercayaimu.”

“Tetapi, tentu ada yang akan menemukan mayatku.”

“Tentu. Meskipun demikian tidak seorang-pun yang akan mengetahui siapa yang telah melakukan. Tidak ada seorang-pun yang tahu aku datang kemari, dan tidak ada seorang-pun yang tahu bahwa kita pernah berhubungan.”

“Tetapi jangan kau bunuh aku.”

“Persetan,” tangan prajurit yang mencengkam leher Sumekar menjadi semaki kuat menekan, sehingga napas Sumekar menjadi terengah-engah.

“Aku dapat berteriak,” berkata Sumekar tersendat-sendat.

“Kau tidak akan mempunyai kesempatan berteriak. Coba berteriaklah,” prajurit itu-pun kemudian menyentakkan tangannya sehingga ia mencengkam leher Sumekar dengan sekuat tenaganya.

Sumekar benar-benar merasa tercekik sehingga nafasnya hampir terputus karenanya. Sudah barang tentu ia tidak akan membiarkan dirinya mati dengan cara itu.

Karena itu, maka ia-pun kemudian mencoba menghentakkan dirinya. Seakan-akan tidak disadarinya, kakinya telah menghantam perut prajurit yang mencekiknya. Demikianlah kerasnya, sehingga prajurit itu-pun telah terlempar selangkah surut dan cekikannya-pun terlepas. Ia sama sekali tidak menduga bahwa Sumekar masih akan berani meronta dan bahkan mendorongnya dengan kakinya.

“Gila,” prajurit itu menggeram.

“Aku akan berteriak,” berkata Sumekar, “jika kau menyerang sekali lagi, aku akan berteriak sekuat-tenagaku. Tentu ada prajurit yang dapat mendengarnya.”

Prajurit itu menggeram. Namun ia sudah terlanjur bertindak. Jika Juru taman itu tidak dibunuhnya, maka ia akan dapat menjadi orang yang sangat berbahaya baginya, dan bahkan jika ia sempat mengatakannya kepada Anusapati. maka Anusapati dapat mengambil tindakan atasnya sebelum ia berbuat apa-apa.

Karena itu, maka sejenak ia berdiri tegak. Ia tidak boleh memberikan kesan bahwa ia masih akan menyerang agar Sumekar tidak berteriak dan mengejutkan para prajurit.

“Jangan ganggu aku lagi,” berkata Sumekar sambil melangkah surut.

Tetapi prajurit itu ternyata tidak membiarkannya. Selagi Sumekar bergeser, itu-pun segera meloncat menerkam. Menurut perhitungannya, Sumekar tidak akan berkesempatan mengelak. Tangannya pasti akan langsung berhasil mencengkam leher juru taman itu.

Namun dugaannya ternyata keliru. Prajurit itu sama sekali tidak menyentuh tubuh juru taman itu. Diluar dugaannya, maka juru taman itu mengelak kesamping, sehingga justru karena itu, maka prajurit itu-pun jatuh tertelungkup di atas tanah yang mulai basah oleh embun.

Dengan cepatnya prajurit itu meloncat berdiri. Matanya menjadi semakin merah dan nafasnya tiba-tiba terengah-engah oleh kemarahan yang menyesak dadanya.

“Kau gila. Kau masih juga sekarat sebelum kau mati. Jangan membuat aku marah sekali, sehingga aku mengambil keputusan yang mengerikan. Cepat menyerah dan beri kesempatan aku mencekikmu sampai mati.”

“Ki Sanak,” berkata juru taman itu, “jangan berbuat kasar. Aku akan benar-benar berteriak. Bukankah aku tidak bersalah sama sekali. Kaulah yang bersalah karena kau berusaha mengadu domba antara kedua putera Sri Rajasa. Kau mencari kelemahan dan mungkin kesalahan tuanku Pangeran Pati, lalu kau ceriterakan kepada tuanku Tohjaya. Tetapi sebaliknya kau-pun akan menceriterakan kelemahan-kelemahan tuanku Tohjaya kepada tuanku Putera Mahkota. Nah, apakah sebenarnya keuntungan yang kau dapat dengan perbuatanmu yang licik itu?”

“Persetan,” geram prajurit itu, “aku tidak peduli. Aku memang akan membunuhmu. Apa-pun yang aku lakukan, kau tidak usah mempersoalkannya. Aku sekarang akan membunuhmu, dan habis perkara.”

“Tetapi tidak bagiku. Tentu aku tidak senang kau membunuhku karena aku masih ingin tetap hidup meskipun aku menjadi semakin tua. Aku masih senang menjadi juru taman di Singasari. Aku masih senang memelihara taman-tamanan. Karena itu, jika kau masih tetap menyerang aku, aku akan berteriak.”

Prajurit itu termangu-mangu. Namun ia menjadi semakin bernafsu untuk membunuhnya. Karena itu, maka sekali lagi ia bersiap untuk meloncat menerkam juru taman itu.....

Bersambung.....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...