BARA DI ATAS SINGGASANA : JILID-24-02
Tetapi Sri Rajasa tidak mau surut selangkah. Ia-pun kemudian berkata, “Apa hakmu mengatur tahta Singasari? Kau sangka warisan yang kau dapat dari Tunggul Ametung itu cukup berharga dibandingkan dengan kebesaran Singasari sekarang? Aku tahu, bahwa Tunggul Ametung pernah menyerahkan semua haknya kepadamu. Tetapi Tunggul Ametung adalah Akuwu dari Tumapel yang kecil. Sedang kini aku adalah Maharaja dari Singasari yang besar dan perkasa. Tidak seorang-pun yang dapat memerintah aku. Tidak seorang-pun yang dapat menahan kehendakku.”
Ternyata kata-kata itu telah memanaskan hati Ken Dedes. Ken Dedes yang pendiam dan penurut itu tiba-tiba saja telak menunjukkan sikap yang sama sekali berbeda. Tiba-tiba saja ia berdiri dan berkata, “Tuanku. Jika tuanku memang berkuasa dan tidak seorang-pun dapat menahan kehendak dan keinginan tuanku, kenapa tuanku tidak bertindak sendiri. Kenapa tuanku harus mempergunakan jalan yang panjang untuk mengusir Anusapati? Sebaiknya tuanku bertindak tegas terhadap anak itu. Tuanku tidak usah memakai cara seperti yang tuanku tempuh untuk merebut kedudukan Tunggul Ametung dan mengawini jandanya. Aku tidak menyesal karena waktu itu, aku yang merasa hidupku kering, menemukan cinta pada tatapan mata tuan. Aku-pun tidak menyesal ketika aku mengetahui cara yang tuan tempuh. Tetapi sekarang tuanku tidak usah memakai cara yang berselubung dan mengorbankan orang lain untuk kepentingan tuan. Tuan dapat menentukan keinginan tuan karena tuan adalah seorang Maharaja. Tuan-pun tidak pernah menggunakan cara yang terselubung untuk menghancurkan Kediri dan tuanku berhasil.”
“Cukup, cukup.”
“Belum, tuanku. Hamba masih ingin mengatakan bahwa sebaiknya tuanku bertindak sendiri. Apakah tuanku ingin anak itu pergi dari Singasari atau tuanku ingin membunuhnya sama sekali.”
“Kau sudah gila. Kau sudah gila.” Sri Rajasa menggeram. Wajahnya menjadi merah padam karena kemarahan yang meluap-luap. Hampir saja ia kehilangan pengamatan diri dan bertindak kasar terhadap Permaisurinya yang dianggapnya sedang sakit itu. Tetapi niatnya segera luluh ketika tiba-tiba saja ia melihat sesuatu yang sudah lama sekali tidak dilihatnya. Ketika Ken Dedes menggeretakkan giginya karena marah, tiba-tiba Ken Arok melihat cahaya yang dahulu pernah dilihatnya. Cahaya yang menyilaukan memancar dari tubuh perempuan yang lemah itu.
Dengan dada yang berdebar-debar Ken Arok mengusap matanya. Semula ia tidak begitu yakin akan penglihatannya. Namun semakin lama cahaya itu seakan-akan menjadi semakin terang.
Sejenak Ken Arok terpaku diam. Tetapi cahaya yang menyilaukan itu seakan-akan berkata kepadanya, “Akulah yang berhak menurunkan raja di atas tanah ini. Bukan orang lain.”
Tiba-tiba Ken Ariok menutup kedua belah matanya dengan tangannya. Tetapi cahaya yang silau itu tidak dapat dihindarinya. Meskipun matanya terpejam dan kedua belah telapak tangannya menutup matanya, tetapi rasa-rasanya ia masih tetap tersilau oleh cahaya yang pernah dikenalnya. Cahaya yang telah membuatnya semakin gila di saat mudanya.
Ken Dedes yang sedang marah itu sempat juga menyaksikan apa yang dilakukan oleh Ken Arok. Dengan terheran-heran ia melihat sikap yang tidak dimengertinya itu. Kenapa tiba-saja Ken Arok seakan-akan menjadi silau memandangnya. Sedang Ken Dedes sendiri sama sekali tidak menyadari apa yang sebenarnya telah terjadi atasnya. Ken Dedes tidak menyadari bahwa dari dirinya telah memancar cahaya yang menyilaukan kedua mata Sri Rajasa itu.
Apalagi ketika kemudian Ken Arok itu berkata dengan suara yang terputus-putus sambil memalingkan kepalanya, “Baiklah Ken Dedes. Aku akan memperhatikan pendapatmu. Aku akan mempertimbangkannya.”
Ken Dedes yang menjadi semakin heran itu-pun kemudian menjadi cair. Kemarahannya perlahan-lahan menjadi pudar. Terkenang olehnya apa yang perah terjadi atas Akuwu Tunggul Ametung. Di dalam suatu keadaan yang serupa, selagi Akuwu Tunggul Ametung marah kepadanya, tiba-tiba saja Akuwu yang berkuasa pada waktu itu-pun menjadi seakan-akan silau memandangnya.
“Aku tidak mengerti, apakah sebenarnya yang telah terjadi atasku di dalam keadaan ini,” berkata Ken Dedes di dalam hatinya.
Dalam pada itu Sri Rajasa-pun berkata pula, “Sudahlah Ken Dedes. Aku tidak akan mempersoalkannya lagi. Semua yang kau katakan akan aku pertimbangkan.”
“Hamba tidak mengerti tuanku,” berkata Ken Dedes kemudian. Suaranya sudah jauh berbeda dengan nada suaranya ketika ia menjadi sangat marah.
Perlahan-lahan Ken Arok-pun berpaling pula. Ketika ia memandang Permaisuri itu, sinar yang silau itu sudah tidak dilihatnya lagi.
Sejenak kemudian sadarlah Ken Arok, bahwa cahaya itu adalah cahaya yang tidak kasat mata wadagnya. Tetapi sinar itu langsung menembus dinding hatinya dan menyilaukan mata batinnya. Karena itu, maka ia-pun harus mengakui, bahwa yang dihadapinya kini adalah masih Ken Dedes yang dahulu, Ken Dedes yang pernah disebut oleh seorang Brahmana, bahwa ia akan melahirkan raja-raja yang akan berkuasa diatas tanah ini.
Sejenak kemudian, Ken Arok yang bergerlar Sri Rajasa itu-pun telah berhasil menguasai dirinya kembali. Karena itu maka ia-pun segera melangkah maju dan berkata, “Ken Dedes jangan kau biarkan hatimu terbakar. Aku minta maaf, barangkali kata-kataku terdorong oleh gejolak perasaan yang tidak terkendali.”
“Ampun tuanku. Hamba tidak menganggap demikian, Hamba-pun mohon maaf, bahwa hamba sudah bertindak diluar keharusan hamba sebagai seorang isteri dan seorang Permaisuri.”
“Berbaringlah. Bukankah kau sedang sakit?”
Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam, kemudian ia duduk kembali dipembaringannya. Katanya, “Ya tuanku. Hamba memang sedang sakit. Dan itulah sebabnya kadang-kadang hamba kehilangan pengamatan diri karena badan hamba terlampau panas.”
“Berbaringlah.”
“Hamba tuanku.”
“Berbaringlah. Kau perlu beristirahat.”
Ken Dedes termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia-pun membaringkan dirinya di atas pembaringannya. Kemudian ditariknya selimutnya yang berwarna kelam. Dan sesaat kemudian. Ken Dedes telah kembali kedalam keadaannya, seakan-akan seseorang yang benar-benar sakit.
“Ken Dedes,” berkata Sri Rajasa kemudian, “kau jangan gelisah. Dan berbuatlah apa yang akan kau lakukan.”
“Terima kasih tuanku. Dalam keadaan hamba ini, perkenankanlah hamba memohon kepada tuanku.”
Sri Rajasa menjadi berdebar-debar. Sejenak ia termangu-mangu. Jika permohonan itu langsung menyangkut kedudukan Anusapati, maka itu akan sangat membingungkannya. Meskipun ia sadar bahwa Ken Dedes adalah seseorang yang memang ditakdirkan untuk melahirkan keturunan raja-raja, tetapi kenapa harus Anusapati, Putera Akuwu Tunggul Ametung? Bukan keturunan Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi?
Dalam keragu-raguan itu, terdengar Ken Dedes berkata, “Ampun tuanku. Hamba tidak akan memohon sesuatu di luar kemauan tuanku. Hamba hanya memohon agar kakak hamba, Mahisa Agni diperkenankan menengok hamba di dalam keadaan ini.”
“O,” Sri Rajasa menarik nafas dalam-dalam. Sambil menganggukkan kepalanya ia berkata, “Baiklah. Baiklah, jika itu yang kau kehendaki. Aku akan memerintahkan seorang utusan pergi ke Kediri untuk memanggil Mahisa Agni dan mengatakan kepadanya bahwa kau sedang sakit dan menunggu kedatangannya, agar ia benar-benar segera datang kemari.”
Ken Dedes masih juga terheran-heran melihat sikap Sri Rajasa. Tetapi kemudian ia mencoba untuk menyingkirkan teka-teki itu. Karena itu maka ia-pun menyahut, “Terima kasih tuanku. Hamba mengharap sekali kedatangan kakang Mahisa Agni.”
“Baik, baik. Aku akan memerintahkannya sekarang juga.”
Sebelum Ken Dedes menjawab, maka Sri Rajasa itu-pun dengan tergesa-gesa meninggalkan bilik itu, sehingga Ken Dedes menjadi semakin heran karenanya. Apakah yang sudah terjadi atas Sri Rajasa itu, dan apakah hal itu menguntungkannya atau justru sebaliknya.
“Sri Rajasa seakan-akan dalam ketidak sadaran,” berkata Ken Dedes di dalam hatinya, “jika ia kemudian menyadari apakah yang dilakukannya, apakah ia akan kembali menjadi marah dan bertindak kasar terhadap Anusapati?”
Tetapi Ken Dedes mencoba untuk tidak mencemaskan anaknya. Ia tahu bahwa anaknya mempunyai kemampuan membela dirinya. Di dalam keadaan yang terpaksa ia tentu tidak akan menyerahkan nyawanya begitu saja.
“Mudah-mudahan ia dapat menjaga dirinya sendiri sampai kakang Mahisa Agni datang,” desis Permaisuri itu.
Dalam pada itu, ketika Ken Arok sampai di luar pintu bangsal permaisuri dan disambut oleh pengawalnya, seakan-akan ia merasa terlempar dari sebuah mimpi yang dahsyat. Sejenak ia berdiri termangu-mangu, dan bahkan sekali-sekali berpaling. Dilihatnya pintu bangsal itu masih tetap seperti semula. Namun agaknya di dalam bangsal itu terdapat sesuatu yang sudah tidak dikenalnya. namun tiba-tiba saja hadir disaat-saat yang menentukan.
“Apakah yang mempengaruhi keadaan ini, dan apakah Ken Dedes menyadari keadaan dirinya?” bertanya Sri Rajasa kepada diri sendiri.
Namun Sri Rajasa tidak menemukan jawabnya. Sekali-sekali timbullah niatnya untuk meyakinkan sekali lagi, apakah dalam keadaan marah cahaya itu menampakkan dirinya atau dalam keadaan yang gawat bagi Ken Dedes atau dalam keadaan yang mana yang dapat mempengaruhi sehingga cahaya itu timbul?
Tetapi niat itu diurungkannya. Dengan tergesa-gesa Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu-pun kemudian meninggalkan tangga bangsal Permaisuri itu.
Beberapa orang emban yang melihatnya menjadi terheran-heran. Mereka tidak mengerti sikap Sri Rajasa yang aneh. mereka mendengar suara Sri Rajasa yang agak keras di dalam bilik Permaisuri, bahkan kemudian suara Permaisuri keras pula sehingga mereka menjadi gemetar dan ketakutan. Jika Sri Rajasa marah dan Permaisuri marah pula, mereka tentu akan bertengkar. Hal yang hampir tidak pernah terjadi, karena Permaisuri tidak pernah membantah atau mengelakkan kata-kata Sri Rajasa.
Namun tidak seorang-pun yang berani mempercakapkan hal itu. Mereka hanya menyimpannya di dalam hati masing-masing.
Dalam pada itu, Sri Rajasa-pun langsung memanggil beberapa orang perwira. Diperintahkannya untuk mengutus seorang gandek pergi ke Kediri untuk memanggil Mahisa Agni atas namanya.
“Beritahukan bahwa adiknya Ken Dedes sedang sakit dan mengharap kedatangannya segera.”
“Hamba tuanku. Hamba akan memerintahkan seseorang untuk berangkat hari ini.”
Demikianlah, perwira itu-pun segera pergi menemui seorang utusan yang diperintahkannya saat itu juga berangkat untuk menyampaikan perintah Sri Rajasa, memanggil Mahisa Agni.
Dalam pada itu, sebenarnyalah bahwa Mahisa Agni sudah menunggu, kapan Sri Rajasa memanggilnya. Bahkan hampir tidak bersabar ia menanti hari-hari berikutnya.
Demikianlah ketika utusan Sri Rajasa menghadapnya, Mahasa Agni-pun menarik nafas dalam-dalam.
“Apakah tuan Puteri sedang sakit panas atau pening atau sakit apa?”
“Hamba tidak mengetahuinya.”
“Baiklah. Aku akan segera pergi ke Singasari. Sampaikan kepada Sri Rajasa, bahwa setelah aku mempersiapkan diri dan meninggalkan pesan-pesan di Kediri, aku akan segera pergi ke Singasari.”
Sepeninggal utusan itu, maka Mahisa Agni-pun segera mempersiapkan diri. Setelah berpesan kepada para pemimpin Kediri dan juru tamannya, maka ia-pun segera mempersiapkan kudanya.
“Apakah kau akan pergi sendiri?” bertanya Kuda Sempana yang menjadi juru taman pula di istana Kediri.
“Ya. Aku akan pergi sendiri. Tetapi aku berharap dapat menemui kakang Witantra atau Mahendra. Jika aku tidak bertemu dengan keduanya, sampaikan kepada mereka, bahwa aku pergi ke Singasari. Agaknya aku harus mengambil sikap yang pasti menghadapi Sri Rajasa dan Tohjaya. Aku tidak mengerti, apa yang sekarang telah mereka rencanakan.”
“Baiklah. Mudah-mudahan kau berhasil. Jika keturunan Panawijen berhasil mempertahankan gelarnya, aku akan berbangga.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi sesuatu telah terbersit dihatinya. Seperti dirinya sendiri, Kuda Sempana-pun pernah tergila-gila kepada Ken Dedes. Namun ia tidak berhasil mendapatkannya karena Akuwu Tunggul Ametung. Namun kini ia tidak dapat mendendam anak Akuwu itu. Bahkan sebaliknya. Ia merasa wajib melindunginya, karena ia adalah anak Ken Dedes.
Demikianlah di hari berikutnya Mahisa Agni bersiap untuk pergi ke Singasari. Ternyata ia masih sempat bertemu dengan Witantra karena setiap kali baik Witantra maupun Mahendra selalu datang menghubunginya. Kadang mereka datang bersama-sama, kadang-kadang mereka datang berganti-gantian.
“Agaknya kita akan sampai pada batas terakhir dari ceritera yang sangat menarik ini. Perang yang diam-diam terjadi diantara para penjabat tinggi di Singasari. Antara putera Sri Rajasa dan antara Sri Rajasa dengan Permaisuri. Kekalutan ini memang harus segera diakhiri. Tetapi kita harus menemukan akhir yang paling baik.”
Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kemudian ia berdesis, “Yang paling baik itu-pun masih mempunyai beberapa kemungkinan. Paling baik bagi Sri Rajasa akan berbeda, dengan yang paing baik bagi Anusapati.”
“Ya,” Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya, “itulah kelemahan kita sebagai manusia. Kita masih didasari penilaian dari sudut pandangan dan kepentingan diri sendiri. Didalam keadaan yang gawat, kadang-kadang kita hanya mengenal suara hati sendiri.”
“Baiklah Agni. Pergilah. Kehadiranmu akan sangat bermanfaat bagi Anusapati yang memerlukan pertimbangan. Sudah tentu bahwa Sumekar tidak akan dapat memberikan pertimbangan sebanyak yang dapat kau berikan.”
“Terima kasih. Mungkin di dalam suatu saat yang berbahaya, aku memerlukan kau, Mahendra dan Kuda Sempana. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Tetapi gambaran yang sekarang terbayang adalah kekerasan. Namun sampai di mana batasnya itulah yang tidak aku ketahui.”
Demikianlah maka Mahisa Agni-pun segera pergi ke Singasari. Seperti biasanya, ia hampir tidak pernah membawa seorang pengawalpun. Namun kali ini Witantra merasa curiga. Jika utusan itu sekedar memancing perjalanan Mahisa Agni dan mencegatnya di perjalanan seperti yang pernah dilakukan di dalam istananya di Kediri, maka kekalutan-pun pasti akan bertambah. Karena itu, maka ia-pun mengikutinya dari kejauhan bersama Kuda Sempana, meskipun mereka berangkat tidak dalam waktu yang bersamaan. Namun mereka-pun bertemu pada suatu sidatan jalan memintas dan langsung mengikuti dan mengawasi perjalanan Mahisa Agni dari kejauhan. Mahisa Agni-pun menyadari bahwa Witantra dan Kuda Sempana sedang membayanginya. Sekali-sekali ia berpaling, namun ia tidak memberikan isyarat apa-pun kepada kedua orang itu.
Di sepanjang perjalanan Mahisa Agni tidak menjumpai kesulitan apa-pun juga. Ternyata tidak ada seorang-pun yang menunggunya dikelokan-kelokan jalan. Juga ketika hari menjadi malam. Meskipun demikian Mahisa Agni tetap berhati-hati agar tidak seorang-pun yang dapat menyergapnya dengan tiba-tiba.
Ketika Mahisa Agni mulai memasuki kota Singasari, maka barulah Witantra dan Kuda Sempana melepaskan pengawasannya dan mereka-pun segera kembali ke Kediri meskipun mereka harus berhenti dan beristirahat di tengah-tengah padang rumput karena kudanya yang payah. Diberinya kudanya kesempatan minum air dari belik di pinggir sungai dan makan rerumputan yang hijau sementara keduanya duduk bersandar batu yang besar. Ternyata keduanya-pun sempat terkantuk-kantuk, dan bahkan kadang-kadang terlena sejenak.
Ketika kuda-kuda mereka sudah beristirahat, maka mereka-pun segera kembali ke Kediri, meskipun mereka tidak lagi berpacu cepat-cepat.
Ketika mereka sampai ke Kediri, maka Kuda Sempana-pun harus membuat ceritera kepada kawan-kawannya, kemana selama ini ia pergi, karena ketika ia berangkat, ia hanya minta ijin sejenak. Tetapi ternyata ia pergi selama dua hari.
“Jika hal ini didengar oleh tuan Mahisa Agni, maka kau akan dimarahinya,” berkata pemimpin juru taman, “bahkan mungkin kau akan dipecat.”
“Aku minta maaf. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Adalah suatu halangan yang tidak dapat aku atasi, bahwa aku kali ini tidak menepati janjiku untuk kembali di siang hari.”
“Kau dapat mengarang seribu alasan. Tetapi yang penting kau tidak akan mengulangi kesalahan ini.”
“Ya, ya. Aku tidak akan mengulanginya.” Namun demikian Kuda Sempana mengumpat di dalam hatinya karena pemimpin juru taman itu memarahinya.
Dalam pada itu, Mahisa Agni-pun telah berada di dalam lingkungan istana Singasari. Tetapi ia tidak langsung menemui Ken Dedes. Lebih dahulu, ia harus menghadap Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi untuk melaporkan kehadirannya.
“Adikmu itu sedang sakit,” berkata Sri Rajasa kepada Mahisa Agni. “ia mohon kepadaku, agar kau menemuinya.”
“Apakah sakit tuan Puteri cukup parah tuanku?”
“Aku tidak tahu. Tetapi ia sudah mencoba mengobati dirinya sendiri dengan dedaunan yang dibuat oleh emban. Ia masih belum bersedia untai berobat pada seorang tabib yang paling pandai. Mudah-mudahan ia segera sembuh.”
“Hamba tuanku, jika berkenan di hati tuanku, hamba akan pergi menemui tuan Puteri itu tuanku.”
“Pergilah. Tetapi jagalah agar ia tidak mengigau dan berbicara tentang sesuatu yang tidak disadarinya sendiri.”
“Hamba tuanku. Hamba akan berusaha menyaring pembicaraannya.”
“Baiklah. Panas tubuhnya telah membuatnya kadang-kadang tidak sadar atas apa yang dikatakannya sendiri.”
Mahisa Agni-pun kemudian mohon diri untuk pergi ke bangsal Permaisuri yang dikatakan oleh Sri Rajasa sedang sakit itu.
Permohonan Mahisa Agni untuk menghadap, segera diberitahukan oleh seorang emban kepada Permaisuri. Karena Permaisuri ternyata tidak berkeberatan meskipun sedang sakit, maka Mahisa Agni-pun segera menghadap pula.
“Duduklah,” berkata Ken Dedes kepada Mahisa Agni.
“Terima kasih tuan Puteri,” sahut Mahisa Agni yang kemudian duduk di atas sebuah dingklik kayu di sebelah pembaringan Ken Dedes.
Tetapi Ken Dedes-pun lalu bangkit. Bahkan ia-pun berdiri dan menutup pintu biliknya.
“Kadang-kadang satu dua orang emban lewat di luar,” berkata Ken Dedes.
Mahisa Agni menganggukkan kepalanya.
“Sudah lama aku ingin bertemu dengan kakang Mahisa Agni,” berkata Ken Dedes, “sehingga akhirnya Anusapati-pun menganjurkannya.”
“Ya tuan Puteri.”
“Hatiku sudah menjadi semakin terpecah belah mendengar keluhan-keluhan Anusapati di saat-saat terakhir. Agaknya anak itu hampir tidak tahan lagi mengalami tekanan jiwa yang semakin parah.”
“Hamba tuan Puteri.”
“Karena itu kakang, aku ingin mendengar pendapatmu. Apakah yang sebaiknya aku lakukan dan apakah yang sebaiknya dilakukan oleh Anusapati.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam.
“Keluhan apakah yang terakhir dikatakan oleh Putera Mahkota itu?” bertanya Mahisa Agni.
“Sri Rajasa kini selalu marah kepadanya justru di muka banyak orang, di muka para pemimpin tertinggi Singasari dan para Panglima. Bahkan pernah Sri Rajasa mengancam untuk menyingkirkan Putera Mahkota dan sebagaimana dikatakan, Sri Rajasa berhak untuk menentukan sikap atas hal itu.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Sri Rajasa dengan sengaja menyakiti hati Anusapati.”
“Ya kakang. Dan yang terakhir ketika Sri Rajasa datang menengok aku karena aku mengatakan bahwa aku memang sakit, menasehatkan agar aku tidak dibebani oleh rahasia yang mungkin dapat memperberat sakitku.”
“Maksudnya?”
“Sri Rajasa menasehatkan agar aku mengatakan saja kepada Anusapati, bahwa sebenarnya ia bukan putera Sri Rajsa.”
“He,” Mahisa Agni terkejut, “kenapa begitu? Dan mengatakan bahwa Sri Rajasa pulalah yang membunuh Akuwu Tunggul Ametung?”
Ken Dedeslah yang kemudian terkejut mendengar kata-kata Mahisa Agni itu. Dengan wajah yang tegang ia bertanya, “Kau mengetahuinya?”
Mahisa Agni memandang wajah Ken Dedes yang suram betapa-pun tegangnya. Tetapi ia menjadi ragu-ragu dan bahkan menyesal bahwa tiba-tiba saja ia mengatakan hal itu diluar sadarnya.
“Kakang Mahisa Agni, kau mengetahui bahwa yang membunuh Akuwu Tunggul Ametung itu adalah Sri Rajasa sendiri?”
Mahisa Agni akhirnya menganggukkan kepalanya. Katanya, “Kita sudah sama-sama tahu. Langsung tidak langsung kita pernah memperkatakan hal itu.”
Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam.
“Jika demikian, apakah maksud Sri Rajasa sebenarnya? Apakah Sri Rajasa ingin mempercepat penyelesaian?”
“Tidak kakang. Menurut tangkapanku. Sri Rajasa tidak menghendaki aku mengatakan hal itu. Bahkan Sri Rajasa mengatakan kemungkinan yang paling buruk jika Anusapati mengetahui hal itu, karena pada dasarnya ada semacam perasaan benci yang disembunyikan didalam hati Anusapati.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Semakin dalam.
“Tuan Puteri,” berkata Mahisa Agni kemudian, “jika demikian kita dapat menduga maksudnya. Anusapati pasti akan merasa tidak berhak atas tahta Singasari dan dengan sendirinya mengundurkan diri.”
“Tetapi kakang Mahisa Agni, jika aku mengatakan hal itu kepada Anusapati, maka aku-pun akan mengatakan, bahwa sebenarnya akulah yang berhak atas tahta, meskipun semula adalah tahta Tumapel. Sri Rajasa dapat mencapai puncak kekuasaannya sekarang karena beralaskan kekuatan Tumapel. Tanpa Tumapel yang kecil itu, Singasari tidak akan berdiri. Bukankah istana ini juga istana Tumapel meskipun diperluas dan diperbaiki?”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Tetapi aku kira lebih baik tidak tuan Puteri. Jangan dikatakan lebih dahulu kepada Putera Mahkota sebelum Putera Mahkota mempersiapkan dirinya menghadapi segala kemungkinan.”
“Maksud kakang?”
“Jangan berbuat tanggung-tanggung tuan Puteri. Anusapati-pun jangan menyeberang sampai di tengah. Jika ia benar-benar ingin menyeberang, ia harus sampai ketepi. Jika tidak, jangan menyentuh air sama sekali.”
Ken Dedes memandang Mahisa Agni dengan sorot mata yang aneh. Namun ia masih tetap berdiam diri. Meskipun demikian, di dalam dadanya sedang mengamuk badai yang maha-dahsyat, yang mengguncang-guncang perasaannya.
Untuk sejenak Mahisa Agni-pun hanya berdiam diri sambil merenung. Memang jalan yang terbentang di hadapan Putera Mahkota adalah jalan yang terjal dan berbatu padas. Tetapi sebaiknya Anusapati tidak berhenti di tengah-engah.
Namun tiba-tiba Ken Dedes bertanya, “Kakang Mahisa Agni, apakah menurut pendapatmu sekarang Anusapati masih belum siap menghadapi kemungkinan yang paling sulit bagi dirinya?”
Pertanyaan itu telah mendebarkan dada Mahisa Agni. Dan tiba-tiba saja pertanyaan itu telah bergejolak semakin dahsyat di dalam dadanya. Terbayang olehnya sebuah trisula kecil yang pernah diberikannya kepada Anusapati sebagai alat untuk mempertahankan dirinya dalam keadaan yang paling sulit. Dan trisula itu sama sekali tidak dipersiapkannya untuk melawan siapapun, selain untuk melawan manusia yag memiliki kemampuan yang ajaib sejak ia berkeliaran di padang Karautan. Tanpa guru dan tanpa mempelajari dengan cara yang teratur serta susunan yang mapan hantu padang Karautan itu memiliki kemampuan jasmaniah dan daya tempur yang luar biasa. Tetapi dihadapan trisula kecil itu, hantu Karautan sama sekali tidak berdaya. Trisula itu telah menyilaukannya sehingga tidak mungkin baginya untuk melawan.
Mahisa Agni menarik nafas ketika sekali lagi Ken Dedes bertanya, “Apakah Anusapati sekarang masih belum siap?”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Hamba masih harus menemuinya dan mengetahui tentang dirinya sepenuhnya. Tetapi jika hal ini benar-benar telah dimulai, maka tuanku akan dapat membayangkan akhir dari kelanjutan yang akan terjadi. Adalah sulit sekali untuk menekan gejolak perasaan seorang anak muda seumur Anusapati. Tentu juga sulit sekali menahan gejolak perasaan Tohjaya dan bahkan menilik tabiatnya, Sri Rajasa-pun tidak akan mampu berbuat lain dari pada berpihak kepada Tohjaya.”
Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam. Terngiang kata-kata Ken Arok bahwa jika ia mengatakan semua rahasia yang diketahuinya kepada Anusapati, maka mungkin sekali terjadi bahwa Anusapati akan berbuat sesuatu yang dapat dianggap biadab oleh rakyat Singasari, dan Sri Rajasa-pun berkata bahwa siapa saja yang berani mengacaukan Singasari akan berakibat kematian, meskipun Putera Mahkota.
Sebenarnya semua itu sudah jelas baginya. Dan ia kini harus memilih. Apakah ia akan menyerahkan Anusapati sebagai korban ketamakan Ken Umang yang telah berhasil memperalat Sri Rajasa, atau ia harus mempertahankan martabatnya sebagai seorang Permaisuri dan sebagai seseorang yang merasa berhak atas tahta Singasari.
Tetapi pilihan yang pahit itu jelasnya akan menempatkan dua orang yang sama-sama penting baginya untuk dikorbankan salah seorang daripada mereka itu dari hatinya. Ia harus rela apabila salah seorang dari keduanya itu akan hilang dalam arti yang sangat luas.
Dan pilihan yang demikian adalah pilihan yang paling pedih menyayat hatinya.
Tiba-tiba saja Ken Dedes tidak dapat menahan gejolak perasaannya, sehingga tanpa disadarinya dari kedua matanya yang suram menitik air matanya yang bening.
“Kakang Mahisa Agi,” berkata Permaisuri, “aku dihadapkan pada keadaan yang hampir tidak tertanggungkan. Kau tahu apa yang akan terjadi atasku. Aku harus membenturkan dua pihak yang sama-sama aku cintai. Adalah menyedihkan sekali bahwa hal ini harus terjadi. Seandainya Sri Rajasa tidak jatuh di bawah pengaruh perempuan itu, maka semuanya pasti akan sampai pada akhir yang berbeda. Tetapi kita tidak dapat membebankan kesalahan itu seluruhnya kepada Ken Umang. Ia berhak berusaha untuk mencapai titik kepuasan yang setinggi-tingginya. Namun sayang, bahwa ia tidak memilih alas. Ia tidak segan-segan mengorbankan orang lain untuk memenuhi keinginannya yang melambung setinggi bintang di langit.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Tuan Puteri benar menurut pikiran hamba. Perempuan itu memang perempuan yang memiliki nafsu ketamakan yang berlebih-lebihan. Ia sudah mengajar anaknya untuk mengikuti jejaknya. Dan Sri Rajasa-pun sudah terbenam di dalam arus ketamakannya itu, sehingga ia sama sekali tidak segan-segan untuk mengambil langkah yang sesat menurut penilaianku.”
Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kemudian ia berkata, “Tetapi kita-pun dapat mengerti kakang, tentu Sri Rajasa lebih mantap jika puteranya sendirilah yang akan menduduki tahta yang selama ini telah dibinanya.”
“Tetapi ia-pun harus mengenal kebijaksanaan. Ia harus merasa bahwa dirinya adalah pengemban kekuasaan Tumapel waktu itu. Jika ia kemudian dapat mengembangkan kekuasaan Tumapel menjadi kerajaan Singasari yang sekarang, itu bukan berarti ia berhak dan karena kekuasaannya dapat menyerahkan tahta kepada siapa-pun yang dikehendaki. Apalagi, jika ia memang ingin menyerahkan tahta kepada keturunannya semata-mata. kenapa ia tidak membicarakan anak-anaknya yang lahir justru dari Permaisurinya?”
“Itulah yang aku prihatinkan kakang.”
“Tuan Puteri,” berkata Mahisa Agni kemudian, “memang mungkin harus jatuh korban. Tetapi semakin kecil korban yang jatuh pasti akan lebih baik. Aku memang dapat mengambil jalan lain, karena aku merasa mampu untuk mengguncang kerajaan ini dari luar dinding istana. Aku mempunyai kekuatan untuk menumbangkan kekuasaan Sri Rajasa dengan kekerasan.”
Ken Dedes mengerutkan keningnya mendengar kata-kata Mahisa Agni. sehingga dengan serta-merta Mahisa Agni meneruskannya, “Tetapi aku tidak akan melakukannya.”
Ken Dedes tidak segera menyahut, sedang Mahisa Agni menjadi termangu-mangu. Bagaimana-pun juga Sri Rajasa adalah suami Ken Dedes. Mereka telah mendapatkan beberapa orang anak laki-laki dan perempuan. Mereka-pun tentu tidak akan dapat melupakan masa-masa mereka memasuki hari-perkawinan yang dimulai dengan saat-saat yang berbahagia. Tetapi kehadiran Ken Umang ternyata semakin lama semakin menjauhkan Sri Rajasa dari Ken Dedes.
Sebenarnyalah bahwa dada Permaisuri itu memang sedang bergejolak. Air matanya-pun menjadi semakin deras mengalir dari pelupuknya.
“Kenapa aku harus mengalami hal serupa ini di hari-hari tuaku,” keluh Ken Dedes, “agaknya aku banyak berbuat dosa di masa mudaku.”
“Tidak tuan Puteri,” berkata Mahisa Agni, “belum tentu hal ini terjadi karena kesalahan tuan Puteri.”
“Jadi siapakah yang bersalah.”
“Mungkin tidak ada yang bersalah.”
“Tetapi kenapa aku harus mengalami hukuman ini.”
“Juga belum tentu bahwa yang sedang tuanku alami ini suatu hukuman dari Yang Maha Agung. Justru karena Yang Maha Agung mengagumi ketabahan hati tuan Puteri, maka tuan Puteri telah mendapatkan kehormatan untuk mengalami pendadaran yang hebat. Jadi yang terjadi bukannya hukuman atau siksa, tetapi justru kesempatan untuk membuktikan bahwa tuan Puteri benar-benar seorang yang mampu dan kuat memegang tahta Singasari turun temurun.”
Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam.
Mahisa Agni-pun terdiam pula sejenak. Ia mencoba untuk mendalami perasaan Permaisuri itu sepenuhnya dan mencari celah-celah yang dapat ditempuhnya untuk menyelesaikan persoalan Putera Mahkota. Tetapi agaknya semua jalan sudah tertutup. Yang ada tinggallah dua pilihan. Putera Mahkota atau Sri Rajasa.
Dalam kediamannya Mahisa Agni kadang-kadang berangan-angan tentang kemudian yang lain sama sekali. Apakah ia harus mempergunakan kekuatan di luar istana Singasari? Jika demikian apakah ada kemungkinan lain bahwa tidak seorang-pun dari keduanya harus dikorbankan.
“Tidak mungkin,” berkata Mahisa Agni didalam hati, “jika aku memberontak terhadap Sri Rajasa, maka aku atau Sri Rajasa harus mati. Jika akulah yang mati, maka pemberontakan yang makan banyak korban itu tidak akan berarti apa-apa bagi Singasari, karena jalan akan terbuka bagi Sri Rajasa untuk memusnahkan semua orang yang tidak disukainya termasuk Putera Mahkota. Ia dapat membuat seribu alasan yang tampaknya memang masuk akal.”
“Tetapi seandainya jalan ini dapat ditempuh, aku yakin bahwa aku dan Putera Mahkota akan mempunyai harapan yang besar untuk merebut Singasari,” berkata Mahisa Agni di dalam hatinya pula. Ia masih percaya akan kemampuan yang ada pada dirinya serta kemungkinan yang dapat terjadi dengan trisula kecil pemberian gurunya yang kini ada pada Anusapati. Tetapi dengan demikian maka ratusan dan bahkan ribuan orang akan menjadi korban.”
“Memang lebih baik hanya seorang korban. Sri Rajasa atau Anusapati,” Mahisa Agni akhirnya mengambil keputusan di dalam hatinya. Namun ia tidak segera dapat mengatakannya kepada Ken Dedes.
Ken Dedes masih mengusap matanya yang basah. Namun ia-pun kemudian berkata dengan hati yang pedih, “Tetapi kakang Mahisa Agni. Aku tidak dapat hidup berpijak pada dua buah alas yang sama goyah. Bahkan berpijak pada dua buah perahu yang berjalan berbeda arah. Aku harus memilih meskipun yang satu adalah alas kaki kiriku dan yang lain adalah alas kaki kananku.” suara Ken Dedes terputus oleh tangisnya. Lalu, “aku mencintai Anusapati tetapi aku juga mencintai Sri Rajasa. Dan inilah agaknya dosa itu kakang Mahisa Agni, jangan menghibur hatiku dengan sikap yang pura-pura itu. Jangan mencoba melepaskan aku dari perasaan ini. Aku telah tidak setia kepada Akuwu Tunggul Ametung meskipun di dalam hati. Jika aku tidak tertarik kepada seorang hamba yang bernama Ken Arok, maka semuanya ini tidak akan pernah terjadi. Dan aku-pun tentu tidak akan mengalami keadaan ini. Hukuman yang maha berat.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Sudahlah tuan Puteri. Jika tuan Puteri melarang hamba mencoba memberikan ketenangan di hati tuan Puteri, hamba-pun tidak akan menolak pengakuan tuan Puteri. Tetapi bahwa tuan Puteri harus memilih itulah yang harus dilakukan. Dan pilihan tuan Puteri tidak boleh salah. Itulah persoalan yang maha sulit untuk dipecahkan.”
Ken Dedes menganggukan kepalanya.
“Tetapi sebaiknya hamba memberikan sedikit pertanyaan kepada tuan Puteri. Bukan maksud mempersulit perasaan tuan Puteri, tetapi jika mungkin hamba akan mencoba memberikan arah berpikir bagi tuan Puteri.” Mahisa Agni berhenti sejenak. Lalu, “tuan Puteri memang harus memilih. Katakanlah bahwa yang seorang adalah lambang kebahagiaan masa silam tuanku, sedang yang seorang adalah harapan di masa datang. Yang manakah yang lebih penting bagi tuanku. Masa silam yang tinggal kenangan atau masa depan yang sangat panjang.”
Pertanyaan itu telah mengguncangkan hati Ken Dedes yang memang sedang goyah. Tiba-tiba ia tidak dapat menahan isaknya yang meledak. Sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya Ken Dedes mencoba menahan tangisnya. Tetapi ia tidak berhasil.
Mahisa Agni-pun tidak segera berkata apa-pun lagi. Ia-pun duduk termenung dengan kepala tunduk. Ia sadar, persoalan itu adalah persoalan yang sangat sulit dipecahkan oleh seorang ibu yang juga seorang isteri, yang menghadapi jalan simpang yang terbentang dihadapannya. Apakah ia akan mengikuti jalan anak laki-lakinya, atau jalan suaminya yang berbeda. Tetapi seperti yang dikatakan oleh Mahisa Agni, yang satu mengarah ke dunia kenangan yang indah dan cemerlang, sedang yang lain adalah jalan yang menuju ke dunia mendatang yang penuh dengan harapan. Baik bagi keturunannya, maupun bagi Singasari, Namun tiba-saja Ken Dedes seakan-akan menggeretakkan giginya. Ia sadar, bahwa ia harus bertelekan kepada suatu tumpuan yang kuat. Ia tidak boleh terkatung-katung lebih lama lagi.
Dalam pada itu, selagi Ken Dedes memusatkan segegap hati dan nalarnya, maka terasa sesuatu telah bergetar di dalam dadanya. Seakan-akan ia mendengar suara jauh dari dasar hati, “Ken Dedes, tinggalkanlah dunia mimpi indahmu. Berilah harapan bagi masa datang.”
Ken Dedes menggeretakkan giginya. Ia telah menemukan sesuatu di dalam dirinya.
Namun dalam pada itu, permaisuri itu terperanjat ketika ia melihat Mahisa Agni tiba-tiba menutup kedua matanya dengan tangannya. Sambil berpaling Mahisa Agni berkata, “Aku melihat, aku melihat kebenaran itu.”
“Kakang,” Ken Dedes berdesis, “apa yang telah kau lihat?”
Mahisa Agni tidak menyahut. Untuk beberapa lamanya Ia masih memalingkan wajahnya. Namun kemudian perlahan-lahan ia memutar kepalanya dan memandang Ken Dedes dalam bentuknya yang wajar.
“Kakang, apakah yang kau lihat?”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan hatinya. Ternyata mata hatinya telah menyaksikan kebenaran yang baginya meyakinkan bahwa Ken Dedes lah yang harus menurunkan raja Singasari.
“Kakang,” desak Ken Dedes yang justru menjadi terheran-heran, “apakah yang kau lihat?”
“Sebuah isyarat tuan Puteri.”
“Apakah isyarat itu?”
“Bahwa tuan Puteri telah memilih.”
“Darimana kakang tahu bahwa aku telah memilih?”
Mahisa Agni tidak segera menjawab. Kini ia mengerti bahwa apa yang dilihatnya oleh mata hatinya itu justru tidak disadari oleh Ken Dedes sendiri, sehingga ia-pun kemudian berkata, “Aku melihat pada cahaya wajah tuan Puteri.”
Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam. Beberapa kali ia melihat keanehan yang serupa. Tunggul Ametung, Ken Arok kemudian Mahisa Agni. Mereka seakan-akan menjadi silau melihat sesuatu pada dirinya.
Tetapi Ken Dedes-pun kemudian tidak peduli. Ia merasa bahwa ia telah berhasil mematahkan palang yang merentang dihadapannya, dan melemparkan beban yang sangat berat di punggungnya.
“Kakang telah melihat isyarat itu,” berkata Ken Dedes, “dan kakang benar. Aku sudah memilih.”
“Apakah pilihan tuan Puteri?”
Ken Dedes masih ragu-ragu sejenak, namun kemudian ia-pun berkata, “Kakang, aku telah menentukan pilihan itu. Kakanglah yang memberikan jalan bagiku. Aku memilih harapan dihari depan bagi keturunanku dan bagi Singasari. Jelasnya, Singasari harus berada di tangan Anusapati. Mudah-mudahan ia dapat memelihara kerajaan yang sedang berkembang ini. Tetapi aku yakin bahwa ia akan lebih baik dari Tohjaya yang tamak itu.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Terasa hatinya tiba-tiba menjadi lapang. Jika Ken Dedes sudah menentukan sikap, maka jalan selanjutnya sudah terbuka baginya.
“Tetapi kakang,” bertanya Ken Dedes kemudian, “jika demikian, apakah yang harus aku kerjakan selanjutnya?”
“Jika demikian tuan Puteri, tuan Puteri dapat memenuhi permintaan Sri Rajasa.”
Ken Dedes mengerutkan keningnya, “Permintaan yang mana?”
“Bahwa tuanku harus mengatakan kepadanya, bahwa ia bukan putera Sri Rajasa. Tetapi ia adalah putera Akuwu Tunggul Ametung di Tumapel, yang mati terbunuh oleh tangan Sri Rajasa sendiri.”
“O,” suara Ken Dedes terputus.
“Bukankah tuan Puteri sudah memutuskan. Hamba berharap bahwa dengan demikian Sri Rajasa akan mengambil sikap yang lebih keras, dan hamba berharap bahwa Putera Mahkota harus mempertahankan dirinya.”
Wajah Ken Dedes yang mantap itu tiba-tiba telah terguncang lagi.
“Apakah tuan Puteri masih ragu-ragu.”
“Tidak kakang. Aku sudah memutuskan. Tetapi apa yang akan dikatakan oleh Anusapati, bahwa ibunya telah kawin dengan pembunuh ayahnya?”
Pertanyaan Ken Dedes itu telah menyentuh perasaan Mahisa Agni. Jika Anusapati benar-benar bertanya serupa itu, tentu Ken Dedes akan mendapat kesulitan untuk menjawab pertanyaan itu.
Karena itu, maka Mahisa Agni-pun tidak segera dapat menjawab. Sejenak ia mencoba berpikir, untuk mencari kemungkinan bagaimana menanggapi pertanyaan itu.....
Bersambung....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar