Minggu, 31 Januari 2021

SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG 24-03

*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 24-03*

Karya. : SH Mintardja

Yang harus bertempur dengan sekuat tenaga adalah Empu Sanggadaru. Tetapi ia sama sekali tidak mengeluh. Bahkan kedua cantriknya dan orang-orang yang berpihak kepadanya mampu mengimbangi kekuatan lawannya, bahwa sebagian dari mereka telah berhasil mendesaknya, ia sudah merasa bahwa separo kemenangan ada di tangannya. Karena itulah ia menjadi tenang. Dan ketenangannya itupun agaknya mempengaruhi caranya bertempur melawan kedua lawannya yang berat itu.

Dalam pada itu perkelahian di antara Empu Sanggadaru dan kedua lawannya justru menjadi bertambah sengit. Bahkan pemimpin Sarigala Putih itu benar-benar telah mengerahkan segenap ilmunya untuk membunuh Empu Sanggadaru Demikian keras niatnya sehingga ia sama sekali tidak sempat memperhatikan anak buahnya yang semuanya telah terdesak.

Dengan kemarahan yang meluap-luap pemimpin Serigala Putih itu mengayunkan senjatanya semakin cepat. Sekali tanganya terjulur lurus. Namun kemudian dengan sigapnya ia menarik sebelah kakinya. Putaran mendatar yang berbahaya setiap kali disusul dengan serangan kawannya yang mematuk lurus.

Betapun tangguhnya Empu Sanggadaru, namun ternyala bahwa ia harus mempergunakan segenap ilmu yang dimiliknya. Dengan tangkasnya ia menghindari setiap serangan. Sekali-sekali ia harus membenturkan senjatanya dengan senjata lawannya.

Namun, ketika kedua lawannya berhasil mengurungnya di dalam putaran senjata, maka Empu Sanggadaru telah kehilangan kesempatan untuk menghindari kedua senjata yang mematuk bersama. Ia berhasil menangkis serangan pemimpin Serigala Putih itu. Namun pada saat yang bersamaan, senjata yang lain telah terjulur pula mengarah ke lambungnya.

Empu Sanggadaru hanya dapat menggeliat. Tetapi ujung senjata itu masih juga berhasil menyentuhnya meskipun tidak pada lambung, tetapi pada tangannya.

Kemarahan yang meluap telah menggetarkan dada Empu Sanggadaru. Luka di tangannya itu bagaikan api yang menyalakan minyak yang memang sudah tersiram di hatinya. Luka-luka yang digoreskan oleh kuku-kuku harimau itu rasa-rasanya masih pedih. Dan kini, tangannya sudah tergores oleh luka yang lain, luka oleh senjata.

Karena itu, maka Empu Sanggadaru tidak lagi mengekang dirinya. Kemarahannya sudah tidak terbendung lagi. Itulah sebabnya maka iapun segera mengerahkan segenap kemampuan yang ada padanya.

Senjata Empu Sanggadaru pun segera berputar semakin cepat. Seolah-olah senjata itu telah berubah menjadi puluhan senjata serupa yang berterbangan tanpa dapat dikendalikan lagi mengerumuni pemimpin Serigala Putih itu dengan seorang kawannya.

Ternyata bahwa Empu Sanggadaru masih mampu meningkatkan tekanannya oleh kemarahan yang memuncak. Yang mula-mula menjadi sasaran kemarahannya justru adalah kawan pemimpin Serigala Putih yang telah melukainya itu.

Dengan garangnya Empu Sanggaradu menyerang pemimpin Serigala Putih itu untuk memisahkannya dari kawannya. Ketika pemimpin kelompok orang-orang berilmu hitam itu terdesak beberapa langkah surut, maka tiba-tiba saja Empu Sanggadaru yang marah itu meloncat ke samping. Sebuah putaran yang tiba-tiba ternyata telah mengejutkan lawannya. Apalagi ketika ujung senjata Empu Sanggadaru bergerak dengan cepatnya mendatar di setinggi lambung.

Kawan pemimpin Serigala Putih itu sempat mengelak. Ia meloncat mundur sambil melindungi tubuhnya dengan senjatanya. Namun adalah diluar dugaannya. bahwa Empu Sanggadaru sempat meloncat begitu cepat dan panjang. Serangan berikutnya rasa-rasanya telah datang mematuk dada.

Tetapi ia masih sempat merendahkan dirinya. Sehinggga dengan demikian ujung senjata Empu Sanggadaru tidak sempat menyentuhnya. Namun lawannya benar-benar tidak melepaskannya. Bahkan kemudian serangan berikutnya adalah serangan yang tidak diduga-duga. Empu Sanggadaru tidak menyerang degan senjatanya.

Karena lawannya itu masih tetap merendahkan dirinya sambil menyiapkan senjatanya untuk menangkis setiap serangan, maka Empu Sanggadaru telah mengangkat senjata dan terayun mengarah kepalanya. Tetapi ketika ia menyilangkan senjatanya di atas kepanya. maka diluar dugaannya, tiba-tiba sebuah tendangaan yang keras telah menghantam dagunya sehingga orang itu seakan-akan terangkat dan terlempar surut.

Ternyata bahwa hantaman kaki Empu Sanggadaru itu demikian kuatnya, sehingga orang yang terlempar surut itu, terputar sekali di udara. Namun dengan segenap kekuatan yang tersisa, ia berusaha untuk tidak jatuh pada kepalanya.

Pada saat, itu pemimpin gerombolan Serigala Putih merasa darahnya bagaikan mendidih. Ketika ia melihat Empu Sanggadaru mengejar kawannya yang seolah-olah masih belum dapat menguasai dirinya, maka ia pun langsung menyerang dengan senjatanya mengarah kepunggung lawannya.

Tetapi punggungnya Empu Sanggadaru seolah-olah mempunyai mata. Karena itu, seakan-akan ia dapat melihat serangan yang menerkam punggungnya itu. Dengan sigapnya ia meloncat ke samping sambil memiringkan tubuhnya, sehingga dengan demikian ia berhasil menyelamatkan diri.

Namun, yang malang adalah orang Serigala Putih itu sendiri. Karena senjata pemimpinnya tidak mengenai Empu Sanggadaru, maka seolah-olah ujung senjata itu sengaja disiapkan untuk membunuhnya.

Terdengar sebuah pekik yang mengerikan. Orang Serigala Putih itu ternyata telah dikenai oleh senjata Pemimpinya sendiri.

Pekik yang panjang itupun perlahan-lahan menghilang. Temannya masih terdengar sepintas. Namun kemudian lenyap ditelan oleh kesepian yang tegang.

Jerit itu seolah-olah telah menghentikan pertempuran itu untuk sejenak. Namun ternyata kemarahan pemimpin Serigala Putih itu tidak tertahankan lagi. Dengan sebuah teriakan yang seolah-olah memenuhi hutan, ia mulai menyerang dengan dahsyatnya.

Empu Sanggadaru yang sudah terluka oleh senjata itupun masih juga dibakar oleh kemarahannya. Kematian seorang anggauta Serigala Putih masih belum menenangkan kemarahannya. Apalagi ketika ia melihat pemimpin gerombolan itu seolah-olah menjadi gila dan benar-benar berusaha membunuhnya.

Dengan sepenuhnya kemampuan yang ada. Empu Sanggadaru pun tidak lagi ingin memaafkan lawannya. Itulah sebabnya maka serangannya datang beruntun bagaikan banjir bandang. Apalagi kini lawannya tinggal seorang diri. Tetapi yang seorang itu adalah pemimpin dari gerombolan Serigala Putih.

Empu Sanggadaru tidak mau lagi dicemaskan oleh masa depan yang berbahaya. Pemimpin Serigala Pulih itu adalah seorang pendendam yang mantap. Karena itu, untuk menghindarkan diri dari kesulitan masa depan, maka ia bertekad, untuk melenyapkan saja orang itu dari muka bumi. Dengan demikian maka padepokatrnya akan terhindar dari kesulitan di masa datang. Bahkan mungkin bukan saja padepokannya, tetapi juga padepokan-padepokan dan pedukuhan-pedukuhan yang lain.

Karena itulah, maka Empu Sanggadaru tidak lagi berusaha sekedar mengalahkan lawannya. Tetapi serangannya kemudian langsung mengarahkan ke jantung lawan.

Kedua orang itu bagaikan menjadi wuru. Masing-masing tidak melihat kemungkinan lain daripada membunuh lawannya. Sehingga dengan demikian maka pertempuran itupun berlangsung semakin sengit.

Tetapi, semakin lama semakin nyata bahwa Empu Sanggadaru berhasil menguasai lawannya yang tinggal seorang itu. Senjata sudah semakin sering menyambar menyentuh pakaian lawannya, dan bahkan kemudian telah terjadi goresan-goresan kecil sehingga menitikkan darah.

Goresan-goresan kecil itu agaknya membuat lawannya menjadi semakin marah. Serangan-angannya datang seperti badai. Namun, Empu Sanggadaru mampu bergerak secepat kilat, sehingga serangan lawannya sama sekali tidak berhasil mengenainya.

Selain Empu Sanggadaru, yang tidak dapat menahan diri adalah perwira muda yang merasa wibawa prajurit Singasari telah tersinggung. Karena itulah, maka iapun dengan sekuat tenaganya berusaha untuk segera mengalahkan lawannya. Namun tidak seperti Empu Sanggadaru, perwira itu masih berusaha untuk dapat mengalahkan lawannya tanpa membunuhnya.

Lembu Ampal masih bertempur dengan caranya. hanya memacu lawannya untuk bertempur dengan sekuat tenaganya. Sekali-sekali saja ia menyerang jika lawannya menjadi kendor. Dan serangannya itu setiap kali memang berhasil membuat lawannya menjadi marah dan dengan sekuat tenaganya menyerang bersama-sama.

Tetapi perhitungan Lembu Ampal benar-benar telah masak. Ia yakin bahwa keduanya akan menjadi letih dan dengan demikian akan menjadi sangat mudah untuk dikalahkan.

Namun ternyata orang-orang berilmu hitam itu bukannya jantan yang memilih mati daripada mengorbankan namanya. Itulah sebabnya, maka sebagian dari mereka telah bertempur sambil bergeser surut menepi.

Pertempuran itupun kemudian telah berubah sama sekali. Orang-orang berilmu hitam itu benar-benar sudah tidak mendapat kesempatan lagi. Kehadiran prajurit Singasari meskipun tidak seluruhnya, telah menentukan akhir dari pertempuran itu.

Tidak ada lagi yang dapat diharapkan. Betapun pemimpin Serigala Putih berusaha, namun ia tidak mampu mengimbangi ilmu Empu Sanggadaru.

Ternyata bahwa pemimpin Serigala Putih itu telah salah hitung. Ia tidak menyangka bahwa orang-orang berilmu hitam itu tidak mampu melawan musuh-musuhnya meskipun ia prajurit Singasari. Dan iapun tidak menyangka bahwa yang bernama Empu Sanggadaru dari padepokan yang tidak dikenal itu. ternyata memiliki ilmu yang dapat mengimbangi, bahkan melampaui ilmunya yang dibangga-banggakan, meskipun beberapa orang yang tidak senang menyebutnya ilmu hitam.

Tetapi penyesalan yang betapun juga, tidak akan berarti sama sekali. Apabila lawannya, Empu Sanggadaru, benar-benar sudah tidak dapat mengekang diri lagi. Luka di tangannya telah membuatnya menjadi gelap hati.

Itulah sebabnya, maka iapun kemudian menyerang pemimpin Serigala Putih dengan segenap ilmu yang ada padanya. Bahkan tanpa ampun lagi, senjatanya benar-benar telah mengurung lawannya dalam lingkaran maut.

Pemimpin Serigala Putih itu masih berusaha melepaskan diri. Ia berusaha menembus lingkaran putaran senjata Sanggadaru. Namun yang terjadi adalah diluar kehendaknya, karena justru pada saat yang berbahaya itu, saat-saat pemimpin Serigala Putih berusaha membebaskan dirinya, Empu Sanggadaru telah sampai pada kemungkinan yang terakhir. Dengan garangnya ia menyerang lawannya tanpa ampun lagi.

Pemimpin Serigala Putih itu masih berhasil menagkis satu dua serangannya yang datang beruntun. Namun serangan-serangan berikutnya, membuat pemimpin Serigala Putih itu bagaikan kehilangan kesempatan.

Sesaat kemudian terdengar sebuah keluhan tertahan. Darah yang merah memancar dari luka yang tiba-tiba saja telah menganga di dada pemimpin Serigala Putih itu.

Sesaat pertempuran itu seolah-olah telah terhenti. Setiap orang telah dikejutkan oleh peristiwa yang menyusul. Pemimpin Serigala Putih yang dibakar oleh dendam karena kematian anak buahnya itu ternyata tidak berhasil menuntut balas. Bahkan ia sendiri kemudian terlempar dan jatuh di tanah dengan darah yang membasahi seluruh tubuhnya.

Anak buahnya yang melihat pemimpinnya mati terkapar itu menjadi bingung. Hatinya kuncup seperti dedaunan yang tersiram air yang mendidih.

Pada saat yang mencengkam itulah, maka tiba-tiba saja terdengar suara Empu Baladatu, “He, orang-orang berilmu hitam, ternyata masih ada satu kesempatan yang dapat kami berikan kepada kalian. Sepeninggal pemimpinmu maka kalian sebaiknya menyerah tanpa perlawanan, karena tidak ada kesempatan yang lain yang dapat kalian peroleh setelah kami kehilangan kesabaran kami.”

Orang-orang yang mendengar suara Empu Baladatu itu bagaikan membeku. Bahkan Empu Sanggadaru sendiri berdiri termangu-mangu dengan senjata yang merah oleh darah di tangannya.

Suasana diarena itu seolah-olah bagaikan membeku. Lembu Ampal berdiri diam di tempatnya. Ia memang tidak bernafsu untuk bertempur lebih lama lagi. Yang dihadapinya bukannya sebuah perlawanan terhadap pemerintah Singasari. Tetapi yang dihadapinya adalah dendam dari dua perguruan yang seharusnya dapat dicegahnya.

Namun yang terjadi adalah diluar kemampuannya untuk mencegahnya. Dan pertempuran itu sudah terjadi. Bahkan telah menelan dua orang korban lagi. Dan korban-korban itu tentu akan mempertajam dendam yg telah tumbuh di hati orang-orang berilmu hitam itu.

Tetapi bagi Lembu Ampal, kata-kata Empu Baladatu itu dianggapnya akan membuka kemungkinan baru bagi orang-orang berilmu hitam itu.

Ternyata bahwa kata-kata Empu Baladatu itu berpengaruh juga pada lawan-lawannya. Mereka masih berdiri termangu-mangu tanpa berbuat sesuatu meskipun senjata mereka tetap tergenggam di tangan.

Empu Baladatu yang melihat pengaruh kata-katanya itu mengena pada orang-orang berilmu hitam itupun kemudian mengulanginya Nyatakan bahwa kalian tidak akan memberikan perlawanan lagi. “Nyatakan bahwa kalian telah menghentikan semua niat untuk membalas dendam karena kalian tidak akan dapat ingkar dari kenyataan, bahwa kalian lah yang justru akan punah jika kalian masih berkeras untuk melanjutkan pertempuran ini.”

Semua orang masih membeku di tempatnya.

“Lakukanlah, atau kami harus bertempur terus dan membunuh kalian semuanya?”

Tiba-tiba saja salah seorang dari gerombolan Serigala Putih itu dengan ragu-ragu berkata, “Apakah yang harus kami lakukan, jika kami menyatakan diri untuk menghentikan usaha pelepasan dendam kami.”

“Prajurit-prajurit Singasari akan menjadi saksi, bahwa kami tidak ingkar. Letakkan senjata kalian dan berkumpullah di hadapan kakang Empu Sanggadaru. Salah seorang dari kalian harus menyatakan pengakuan kalian dengan jujur.”

Orang-orang itu masih ragu-ragu sejenak. Namun kemudian mereka pun segera melemparkan senjata mereka di tanah. Perlahan-perlahan mereka mulai bergerak mendekati Empu Sangadaru.

Empu Sanggadaru bagaikan membeku melihat orang-orang yang bergerak mendekatinya. Kemudian berdiri termangu-mangu seolah-olah mereka menggantungkan harapan mereka kepadanya.

Empu Sanggadaru menarik nafas. ia pun kemudian sadar, bahwa ia harus, menanggapi perkembangan keadaan itu. Sekilas dilihatnya prajurit-prajurit Singasari pun telah bergerak mengumpul. Perwira muda itupun nampaknya telah berusaha mengendalikan dirinya pula.

“Lakukanlah jika kalian ingin melakukan.” berkata Empu Baladatu. Lalu katanya kepada Lembu Ampal, “Kami mohon, agar prajurit Singasari menjadi saksi, bahwa dendam kami dari kedua belah pihak akan terhapus saat ini juga.”

Lembu Ampal termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun berpaling kepada perwira muda itu seolah-olah minta pertimbangannya, apakah yang sebaiknya dilakukannya. Apakah permintaan Empu Baladatu itu dapat dipenuhi atau prajurit Singasari akan mengambil sikap yang lain.

Perwira muda itupun ragu-ragu sejenak. Dilihatnya orang-orang dari gerombolan Serigala Putih itu berdiri termangu-mangu dengan penuh harap untuk dapat tetap hidup.

Sebagai seorang prajurit maka perwira itu harus menentukan sikap, la tidak boleh terseret oleh arus perasannya. Apalagi sebagai seorang anak muda.

Karena itulah, maka ketika dilihatnya kawan-kawannya pun masih utuh, maka iapun berkata, “Aku, perwira yang memimpin serombongan prajurit Singasari, menyatakan bahwa aku tidak berkeberatan untuk menarik segala akibat yang timbul dari perlawanan orang-orang dari Serigala Pulih kepada perintah kami, yang juga berarti perlawanan kepada pimpinan pemerintah, jika mereka benar-benar telah menyesal dan menyatakan diri menyerah.”

Orang-orang dari anggauta gerombolan Serigala Putih itu mengerutkan keningnya. Ternyata bahwa mereka benar-benar berhadapan dengan beberapa orang prajurit yang memegang teguh tugas dan kewajibannya, tetapi juga mengingat segi-segi pertimbangan yang lain.

Empu Sanggadaru yang masih menggenggam senjata yang basah oleh darah berkata dengan nada yang datar, “Kalian dengar? Apakah kalian menyesal dan menyatakan diri menyerah?”

Empu Baladatu mengerutkan keningnya. Sepercik ketidak puasan nampak membayang di wajahnya. Bahkan ia pun kemudian bertanya kepada diri sendiri, “Kepada siapa orang-orang itu menyatakan menyerah? Jumlah prajurit itu tidak lebih banyak dari jumlah kami. Kamilah yang pantas menentukan sikap. Bukan mereka.”

Tetapi Empu Baladatu tidak mengatakan. Ia menyimpan perasaan itu di dalam hatinya.

Salah seorang dari orang-orang Serigala Putih itu pun kemudian menghadap kepada perwira muda itu sambil berkata, “Kami menyerah. Dan kami menyatakan menyesal bahwa kami telah terlibat ke dalam dendam.”

Perwira itu menjawab, “Baiklah. Aku maafkan kalian dan aku bebaskan kalian dari segala tuntutan karena perlawanan kalian. Namun demikian, terserah kepada Empu Sanggadaru, apakah yang akan dilakukannya.”

Empu Sanggadaru menarik nafas dalam-dalam. Kitanya, “Baiklah. Aku pun memaafkan kalian. Tetapi kami adalah orang-orang yang mempunyai kesabaran yang terbatas. Karena itu, jika kalian ternyata kelak melakukan pelanggaran atas penyesalan kalian sekarang ini, mungkin kami sudah tidak dapat lagi memaafkannya.”

“Terima kasih.” sahut salah seorang dari mereka.

“Kalian terpaksa pulang dengan membawa korban lagi. Tetapi kalian sudah berjanji untuk tidak mendendamnya lagi. Mudah-mudahan kawan-kawan kalian dapat mengerti, karena seperti yang aku katakan, kesabaran kami sangat terbatas.”

Orang-orang Serigala Putih itu menundukkan kepalanya. Mereka merasa bahwa mereka tidak dapat berbuat lain kecuali mengiakan dan menyatakan kesanggupan.

Empu Sanggadaru pun kemudian berkata, “Nah, sekarang pergilah. Bawalah kedua mayat kawan kalian ini.”

Orang-orang itu pun berpandangan sejenak. Namun kemudian mereka mulai bergerak dan mengangkat kedua mayat kawan-kawan mereka.

Namun demikian, ketika mereka mulai bergerak, nampaklah, bahwa mereka masih saja ragu-ragu. Beberapa orang dengan tidak sadar memandangi senjata mereka yang tergolek di tanah.

“Kalian sudah melemparkan senjata kalian.” desis Empu Sanggadaru.

Salah seorang dari mereka dengan ragu-ragu menjawab Kami sudah menyatakan, bahwa kami menyerah dan menyesali perbuatan kami. Tetapi kami merasa cemas bahwa di perjalanan kembali ke padepokan kami. Di perjalanan kami akan menemui kesulitan.“

“Kenapa?“

“Gerombolan kami telah saling mendendam pula dengan gerombolan orang-orang berilmu hitam yang menamakan dirinya gerombolan Macan Kumbang. Jika kami dengan tidak sengaja bertemu dengan mereka tanpa sehelai senjatapun di tangan, maka kami akan musnah.“

“Itu adalah akibat dari perbuatan kalian sendiri. Kalian ternyata mempunyai dendam di mana-mana. Kalian bermusuhan dengan siapapun juga.” jawab Empu Sanggadaru.

Empu Baladatu tertarik dengan keterangan itu. Tetapi ia sama sekali tidak bertanya. Yang dikatakannya kemudian adalah, “Tetapi apakah kalian berjanji, bahwa senjata-senjata kalian hanya akan kalian pergunakan untuk mempertahankan diri. dan bukan untuk menyerang?”

Orang-orang dari gerombolan Serigala Putih itu memandang Empu Baladatu dan Empu Sanggadaru berganti-ganti. Salah seorang dari mereka pun kemudian berkata, “Kami bersumpah. Kami tidak akan mempergunakan senjata kami, selain untuk mempertahankan hidup kami jika kami di serang.”

“Ambillah. Aku kira kakang Empu Sanggadaru dan para prajurit Singasari tidak akan berkeberatan, karena sebenarnya senjata semacam itu bukannya satu-satunya senjata yang kalian miliki, meskipun senjata itu kalian tinggalkan, tetapi jika jiwa kalian masih tetap kelam, maka besok kalian tentu sudah akan menggenggam senjata serupa.”

Orang-orang Serigala Putih masih termangu-mangu. Empu Sanggadaru pun kemudian tidak dapat berbuat lain karena adiknya seolah-olah sudah menghadapkannya kepada suatu sikap tertentu.

Karena itu maka katanya, “Baiklah. Tetapi kalian harus benar-benar memegang janji dan sumpah kalian, bahwa kalian hanya akan mempergunakan untuk mempertahankan diri.”

Orang-orang gerombolan Serigala Putih itu saling berpandangan sejenak. Namun kemudian salah seorang dari mereka berkata dengan nada yang dalam, “Terima kasih. Kami mengucapkan terima kasih tiada taranya. Dengan demikian maka jiwa kami seolah-olah telah kalian selamatkan dua kali. Yang pertama bahwa kami tidak terbunuh di dalam pertempuran ini. Kedua, bahwa kami diperkenankan membawa senjata kami, meskipun dengan janji bahwa senjata-senjata itu hanya akan kami pergunakan untuk mempertahankan diri.”

“Pergilah.” jawab Empu Sanggadaru, “Dan cobalah mengenal diri sendiri sebaik-baiknya.”

“Ya Empu.” jawab orang itu pula, “Kami akan mohon diri. Mudah-mudahan kami mendapat kesempatan unuk memandang ke dalam diri kami masing-masing. Mengenang apa yang telah kami perbuat dan mengambil sikap yang benar di hari-hari mendatang.”

“Bagus. Pertahankan sikap dan pandangan itu.”

Orang-orang dari gerombolan Serigala Putih itupun mengangguk-angguk seakan-akan mereka telah berjanji kepada diri sendiri, bahwa mereka akan berbuat sebaik-baiknya di kemudian hari.

Demikianlah maka mereka pun kemudian minta diri sambil membawa mayat kawan-kawan mereka dan memungut senjata masing-masing.

“Pergilah.” berkata Empu Baladatu, “Tetapi dimanakah padepokan kalian? Aku ingin mengetahuinya. Bahkan mungkin pada suatu saat aku singgah ke padepokanmu.”

Orang-orang itu saling berpandangan sejenak. Namun nampak keragu-raguan membayang di wajah mereka.

“Jika kalian jujur sampai ke dalam hati, kalian tidak akan berkeberatan menunjukkan padepokanmu.” desak Empu Baladatu.

Salah seorang dari mereka pun kemudian menjawab, “Sebenarnya kami tidak tinggal dalam satu padepokan. Namun kami memang terdiri dari satu perguruan. Guru kami adalah pemimpin kami yang terbunuh. Tetapi ia bukan seorang yang langsung mengajari kami. Di bawah pemimpin kami yang terbunuh ada beberapa orang yang telah mendapat kepercayaannya untuk mengajar kami.”

“Siapakah mereka. Tentu ada di antara kalian.”

Orang yang menjawab itu melanjutkan, “Baiklah aku tidak bersembunyi lagi, karena aku merasa bahwa nyawaku telah diselamatkan. Di antara mereka adalah aku dan empat orang lagi. Sedang seorang dari kami lelah terbunuh bersama pemimpin kami itu.”

Empu Baladatu mengangguk-angguk. Tetapi ternyata bahwa perbedaan tingkat mereka tidak begitu jelas nampak pada kelima belas orang, yang sudah barang tentu orang-orang pilihan itu.

“Kau belum menyebutkan, di mana padepokanmu.”

Orang itu masih ragu-ragu. Namun kemudian jawabnya, “Kami berasal dari padepokan Semuwun di sebelah hutan Dandarau.”

Lembu Ampal mengerutkan keningnya. Dengan ragu-ragu. Ia mengulang, “Dandarau. Jadi kalian adalah orang dari daerah Hutan Dandarau.”

“Ya.”

Lembu Ampal memandang orang-orang itu seorang demi seorang. Lalu katanya, “Apakah benar katamu, bahwa pemimpinmu yang terbunuh itu orang pertama di padepokanmu?”

Orang itu ragu-ragu. Lalu jawabnya, “Ya Ia adalah orang pertama.”

Lembu Ampal tidak membantah. Tetapi ia bertanya pula, “Dan apakah kalian masih mempunyai jalur yang sama dari perguruan kalian dengan orang-orang yang kalian sebut dari gerombolan Macan Kumbang.?”

Orang itu ragu-ragu pula. Namun iapun menjawab, “Agaknya memang demikian. Tetapi kami terpisah oleh kepentingan yang sama, sehingga kami saling berebut dan bersaing. Itulah sebabnya kami menjadi saling mendendam.”

Lembu Ampal mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak bertanya lebih jauh.

Demikianlah orang-orang berilmu hitam itupun kemudian meninggalkan tempat itu sambil membawa mayat kawan-kawan mereka. Sekali-sekali mereka masih sempat berpaling sebelum mereka hilang di balik dedaunan.

Demikian mereka hilang dari pandangan mata orang-orang yang telah mengalahkannya mutlak salah seorang dari mereka mengumpat, “Anak setan. Ternyata kita terbentur pada orang-orang yang memiliki kemampuan luar biasa.”

Orang yang nampaknya mengambil alih pimpinan dan yang selalu memberikan keterangan kepada lawan mereka yang ternyata memiliki kelebihan itu menyahut, “Kali ini kita tidak dapat mengingkari kenyataan itu. Kita memang kalah mutlak.”

“Tetapi prajurit-prajurit Singasari itulah yang menyebabkan kita hampir saja punah jika tidak ada orang yang berhasil menyabarkan Empu Sanggadaru.”

“Ia adalah adiknya.”

“Nampaknya sikapnya cukup baik. Ilmunya pun cukup matang dan berbahaya.”

Yang Ian mengerutkan keningnya. Tetapi masih ada yang mengumpat, “Aku ingin membunuh mereka semua. Mungkin pada suatu saat, maksud itu akan dapat aku lakukan.”

Tetapi kawan-kawannya tertawa. Salah seorang berkata, “Kau mimpi sambil berjalan. Kita tidak mempunyai pemimpin yang tangguh lagi. Bahkan pemimpin kami yang kami kagumi itu pun ternyata tidak dapat menga Bahkan Empu Sanggadaru meskipun ia bertempur berdua. Apalagi seorang diri.”

Kawannya yang masih mendendam itu menarik nafas dalam-dalam. “Kita memang sudah berputus asa. Seandainya kita bertemu dengan orang-orang Macan Kumbang pun kita akan mereka telan sekarang ini.”

Kawannya memandang orang itu sambil mengerutkan dahinya. Salah seorang dari mereka bertanya, “Apakah benar begitu pendirianmu.”

“Tidak ada lagi yang berani mempertanggung jawabkan setiap tindakan yang akan kita ambil karena pemimpin kita sudah tidak ada lagi.”

“Kita akan membicarakannya.” berkata seorang yang paling tua di antara mereka. “Setelah kita sampai kepadepokan, kita akan menyusun diri dengan kekuatan vang masih ada. Tetapi sudah barang tentu bahwa kita tidak akan dapat melepaskan pengalaman yang baru saja kita hadapi. Kita harus menyadari bahwa ilmu yang kita miliki ternyata adalah ilmu yang masih jauh dari tingkat yang sempurna. Kita sebelumnya telah salah menilai diri kita. seolah-olah kita adalah orang-orang yg paling kuat di muka bumi ini. Setidak-tidaknya di Singasari. Tetapi ternyata bahwa kita bukannya apa-apa. Apalagi bagi para prajurit. Aku merasa bahwa prajurit yang sudah tua itu seolah-olah tidak bertempur bersungguh-sungguh. Ia sekedar membela dirinya dan sama sekali tidak berniat untuk membunuh.”

“Juga orang yang di sebut adik Empu Sanggadaru itu.” sahut yang lain, “Jika ia ingin membunuh, maka ia banyak mempunyai kesempatan.”

Yang lain lagi berkata, “Empu Sanggadarupun agaknya bukan seorang pembunuh. Tetapi luka di tangannya itu membuatnya lupa diri. Apalagi di tubuhnya masih tergores luka-luka yang agaknya karena kuku harimau yang dibunuhnya itu.”

Orang yang mengutuki keadaan itupun terdiam. Ternyata kawan-kawannya telah berusaha melihat kenyatan. Meskipun demikian ia masih bertanya tanpa ditunjukan kepada siapapun juga. “Jadi jika kita bertemu dengan orang-orang Macan Kumbang, apa yang akan kita lakukan?”

“Kita masih bersenjata.” berkata orang tertua di antara mereka.

Orang yang bertanya itu terdiam. Namun masih nampak bahwa di wajahnya membayang kekecewaan yang mendalam.

Iring-iringan itupun kemudian menyusup hutan itu semakin jauh. Tetapi mereka pun kemudian mencari jalan menepi, karena mereka akan berjalan di bagian yang tidak terlampau pepat. Meskipun mereka akan tetap berada di dalam hutan, namun mereka ingin perjalanan mereka semakin cepat. Apalagi mereka menyadari bahwa setiap saat, orang-orang dari gerombolan Macan Kumbang akan dapat melihat mereka.

Jika orang-orang Macan Kumbang itu mengetahui, bahwa pemimpinnya telah terbunuh, maka mereka pun akan segera mengambil kesempatan untuk melepaskan dendam yang sudah saling tertanam dikedua belab pihak.

Karena itulah, maka Serigala Putih yang selama itu tidak pernah merasa gentar, sepeninggal pemimpinnya menjadi agak cemas juga. Meskipun demikian, karena mereka masih tetap menggenggam senjata di tangan, maka mereka pun masih mempunyai kesempatan untuk mempertahankan diri.

Dalam pada itu, sepeninggal orang-orang dari gerombolan Serigala Putih, maka Empu Sanggadaru pun menjadi termangu. Sepercik penyesalan nampak membayang di wajahnya, bahwa telah terjadi pembunuhan oleh tangannya. Namun ia tidak dapat menghindari kemungkinan itu. karena keadaan yang telah memaksanya.

“Sudahlah.” berkata Lembu Ampal, “Nampaknya mereka telali menyadari kesalahan mereka. Jika di dalam pertempuran timbul korban jiwa, itu bukannya suatu hal yang aneh dan berlebihan.”

Empu Sanggadaru mengangguk.

“Sekarang, aku akan melakukan tugasku yang lain.” berkata Lembu Ampal.

“Tuanku Ranggawuni dan tuanku Mahisa Cempaka memerintahkan mengambil harimaunya?“ bertanya Empu Baladatu.

“Ya Empu. Dan kami datang membawa sebuah pedati.”

Lembu Ampal pun kemudian memerintahkan dua orang prajurit untuk menjemput kawan-kawannya serta pedati yang mereka bawa dari Sangasari.

“Itulah sebabnya, kami menunggu terlampau lama di sini.”

Lembu Ampal tersenyum. Katanya, “Kami berjalan seperti siput yang merambat.”

“Dan dengan demikian kalian terpaksa bermalam di sini.” berkata Empu Sanggadaru.

Lembu Ampal menggelengkan kepalanya. Jawabnya. “Tidak. Kami akan berjalan lagi seperti siput. Kapan pun kami akan sampai di Singasari. Kami akan bergantian tidur di sepanjang jalan di dalam pedati itu bersama dengan harimau yang sudah terikat itu.”

“Jika yang sedang tidur itu lengah dan tangannya terjulur ke mulut harimau yang marah itu. maka tangan itu akan segera putus.”

Lembu Ampal tertawa. Lalu katanya kepada perwira muda yang memimpin para prajurit itu. ”Bukankah kita dapat tidur sambil duduk di punggung kuda yg berjalan perlahan-lahan.”

Perwira itu tersenyum.

Setelah mereka menunggu sejenak, maka iring- iringan prajurit Singasari yang lebih banyak jumlahnya telah datang bersama sebuah pedati yang berjalan lamban sekali.

“Masukkanlah harimau yang masih hidup itu ke dalam pedati.“ perintah perwira muda yang memimpin para prajurit Singasari itu.

Para prajurit itupun kemudian dengan hati-hati mengangkat harimau yang terikat itu. Sebuah auman yang dahsyat terdengar. Harimau itu meronta dengan sekuat tenaganya. Tetapi ikatan janget itu tidak dapat diputuskannya. Bahkan kaki-kakinya merasa menjadi sakit dan nyeri sehingga akhirnya harimau itu berdiam diri.

Para prajurit itu tidak terlalu lama tinggal di hutan. Mereka pun setelah menaikkan harimau yang terikat kaki-kakinya itu dengan hati-hati, segera mempersiapkan diri untuk kembali ke Singasari. Mereka sudah bertekad untuk berjalan meskipun senja turun dan malam pun akan segera menyelubungi seluruh wilayah Singasari yang luas.

Sepeniggal para prajurit Singasari setelah mereka sempat beristirahat sejenak, maka Empu Sanggadaru pun mulai berpikir apakah ia akan meneruskan perburuan atau tidak.

“Aku akan mengeringkan harimau itu sebelum membusuk.“ berkata Empu Sanggadaru.

“Jadi kita kembali ke padepokan?” bertanya empu Baladatu.

Empu Sanggadaru mengangguk. Jawabnya, “Rasa-rasanya aku ingin segera melihat padepokan. Apakah benar orang-orang Serigala Putih tidak mengganggu padepokanku.”

Empu Baladatu mengangguk-angguk pula. Katanya, “Agaknya baik juga kita kembali ke padepokanmu kakang. Jika ternyata tidak ada gangguan suatu apa, kita dapat kembali lagi memburu harimau di kesempatan lain.”

Demikianlah maka mereka pun memutuskan untuk kembali saja kepadepokan dengan membawa harimau yang telah mati itu. Ternyata membawa seekor harimau yang sudah mati jauh lebih mudah daripada membawa seekor harimau yang masih hidup. Apalagi jika dengan niat bahwa harimau itu akan dipelihara di dalam kandang.

Dengan berdebar-debar Empu Sanggadaru dan Empu Baladatu pun kemudian mendekati padepokannya, setelah matahari terbenam.

Namun ketika mereka melihat cahaya lampu dari kejauhan, mereka merasa tenang. Lampu itu adalah pertanda bahwa padepokannya masih tetap hidup meskipun barangkali dicengkam oleh kegelisahan dan ketakutan.

Ketika Empu Sanggadaru memasuki regol, maka seperti kanak-anak yang ingin mengadu kepada ayahnya, maka beberapa orang pun segera berkumpul. Di tangan mereka tergenggam berbagai macam senjata. Agaknya mereka pun sudah bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Tetapi Empu Sanggadaru pun menyadari, tanpa Empu Sanggadaru sendiri, maka jika orang-orang Serigala Putih memilih menghancurkan padepokannya lebih dahulu, maka orang-orangnya itupun akan mengalami kesulitan meskipun akan jatuh korban pula dikedua belah pihak.

“Jika Empu tidak segera datang, kami sudah bersiap-siap untuk menyusul.” berkata salah seorang dari mereka.

“Kenapa?“ berkata salah seorang dari mereka.

“Sekelompok orang-orang yang menyebut dirinya dari gerombolan Serigala Putih telah datang.”

“Apa yang mereka lakukan?”

“Mereka mencari Empu. Karena mula-mula kami kurang tahu maksudnya, kami telah menunjukkan di mana Empu berada.”

“Lalu, mereka meninggalkan kalian tanpa berbuat apa-apa?”

“Ya. Tetapi kami menjadi curiga. Nampaknya di mata mereka menyala dendam. Ketika kami bertanya apakah keperluan mereka dengan Empu, maka mereka pun menyatakan dendam mereka.”

“Berapa orang jumlah mereka saat mereka mendatangi padepokan ini?

“Lima atau enam orang.”

Empu Sanggadaru mengangguk-angguk. Ada beberapa kemungkinan yang sudah terjadi. Mereka tidak semuanya menampakkan diri di padukuhan ini, atau orang-orang Serigala Putih itu telah kembali terlebih dahulu untuk memanggil orang-orangnya yang lain, karena pemimpinnya ingin melakukan pekerjaannya dengan meyakinkan, bahwa mereka tidak akan mengulangi lagi untuk kedua kalinya.

“Apakah Empu telah bertemu dengan mereka?”

“Ya.”

“Dan terjadi perselisihan.”

“Ya.”

“Empu berhasil mengalahkan mereka.”

“Ya.”

“Kami sudah menduga, bahwa Empu Sanggadaru dan Empu Baladatu akan dapat mengatasi kesulitan itu.”

“Tidak sederhana seperti yang kalian duga. Sebenarnya kami tidak dapat melawan mereka, karena ketika mereka mengepung kami jumlahnya menjadi lima belas orang.”

“Lima belas?”

“Ya. Dan kami berenam tidak mampu melawan lima belas orang, meskipun mereka bukan orang-orang yang memiliki ilmu yang cukup tinggi. Tetapi jumlah mereka yang banyak itu telah menyulitkan kami.“

“Jadi?”

“Adalah kebetulan sekali, bahwa prajurit-prajurit Singasari sedang berada di hutan.”

Orang-orang padepokan itu termangu-mangu. Empu Sanggadaru yang kemudian turun dari kudanya dan berdiri di antara orang-orangnya yang tidak sabar, terpaksa menceriterakan apa yang telah terjadi di hutan perburuan itu.

Baru setelah orang-orangnya mengangguk-angguk sambil menarik nafas lega, Empu Sanggadaru berkata, “Aku akan mengeringkan harimau. Sediakan alat-alat dan reramuan yang aku perlukan.”

“Sekarang Empu?”

“Ya, sekarang. Aku ingin menunjukkan kepada adikku, bagaimana aku mengawetkan binatang buruanku.”

Beberapa orang cantrikpun menjadi sibuk. Mereka yang sudah terbiasa menyediakan reramuanpun segera melakukannya meskipun malam menjadi semakin galap.

Halaman belakang padepokan yang luar itu pun segera menjadi terang. Beberapa obor dipancangkan di sekitar reramuan yang telah disiapkan untuk mengawetkan harimau yang sangat besar itu.

Para cantrik yang sudah biasa melihat Empu Sanggadaru membawa hasil buruan kembali dari hutan, masih juga heran melihat seekor harimau loreng yang sangat besar itu. Apalagi mereka kemudian mengetahui bahwa kulit harimau itu sama sekali tidak luka oleh senjata.

“Empu Sanggadaru telah menangkap harimau itu dengan tangannya.“ desis salah seorang cantriknya.

Yang lain mengangguk sambil menyahut, “Ya. Dan ternyata Empu Sanggadaru mampu meskipun pada tubuhnya terdapat beberapa gores luka.”

Dalam pada itu, Empu Sanggadaru pun segera mulai dengan pekerjaan yang sudah sering kali dilakukan. Mengawetkan binatang buruannya.

Empu Baladatu menunggui kerja kakaknya dengan asyiknya. Ia pun ternyata tertarik untuk mempelajarinya. Apabila pada suatu saat ada kesempatan, maka Empu Baladatu berniat untuk belajar, reramuan apa saja yang diperlukan dan cara yang agak rumit untuk melakukan pengawetan itu.

Tetapi yang lebih menarik bagi Empu Baladatu adalah orang-orang berilmu hitam itu sendiri. Rasa-rasanya ada suatu dorongan padanya untuk datang mengunjungi orang-orang yang disebut berilmu hitam, tetapi yang mempunyai beberapa kelainan dari ilmunya.

Meskipun demikian, mata Empu Baladatu yang tajam dan mengenalnya yang baik terhadap ilmu hitam itu, ia dapat menangkap beberapa kesemaan pada sumber geraknya. Karena itulah, maka nampaknya orang-orang berilmu hitam itu sangat menarik perhatiannya.

Malam itu, Empu Baladatu telah menyaksikan bagaimana kakaknya mengawetkan binatang buruannya, sehingga jumlah binatang yang berjajar di rumahnya telah bertambah dengan seekor harimau loreng yang sangat besar.

Namun demikian, Empu Baladatu merasa seolah-olah kedatangannya itu sia-sia. Ia tidak dapat mengemukakan maksudnya, setelah ia mengetahui, bagaimana tanggapan kakaknya yang sebenarnya terhadap pimpinan pemerintahan Singasari yang sedang berjalan. Ternyata kakaknya sangat mengagumi kedua anak-anak muda yang memegang pemerintahan itu. Ranggawuni dan Mahisa Campaka. Dan iapun telah melihat sendiri, bagaimana anak muda yang bernama Ranggawuni itu mampu menangkap seekor harimau, melampaui kemampuan kakaknya. Jika kakaknya berhasil menangkap harimau itu mati, maka Ranggawuni berhasil menangkap harimau itu hidup-hidup.

Tetapi Empu Baladatu bukan orang yang mudah berputus asa. Ia sudah berada dalam tenggelam di dala angan-angannya, bahwa ia akan menemukan jalan untuk menjangkau ke tempat yang bagi orang lain hanya sekedar mimpi.

“Aku tidak peduli apakah aku dijangkiti oleh penyakit gila. Tetapi aku tidak akan mundur. Betapapun dahsyatnya ilmu Ranggawuni dan Mahisa Campaka. namun pada suatu saat aku tentu akan dapat mengimbanginya, asal dengan tekun meningkatkan ilmuku yang pada dasarnya tidak ada bandingnya di muka bumi.” berkata Empu Baladatu di dalam hatinya.

Ternyata Empu Baladatu telah mempunyai rencananya sendiri.

Itulah sebabnya maka ia tidak dapat terlalu lama tinggal bersama kakaknya. Setelah ia melihat bagaimana caranya kakaknya menganwetkan binatang-binatang buruannya, dan yang penting karena ia tidak akan mendapatkan apa-apa di padopokan itu, maka ia tidak betah tinggal terlalu lama. Di hari berikutnya, maka Empu Baladatu pun minta diri untuk meninggalkan padepokan kakaknya itu.

“He, kenapa kau pergi begitu cepat.?” bertanya Empu Sanggadar.

“Aku sudah lama meninggalkan padepokanku kakang. Kedatangan orang-orang Serigala Putih mengingatkan aku kepada padepokanku. Meskipun aku tidak mempunyai lawan yang mungkin mendendamku, tetapi rasa-rasanya aku menjadi gelisah jika aku mengenangkan ceriteramu tentang orang-orang Serigala Putih yang singgah di padepokan ini dan yang ternyata kemudian menimbulkan persoalan yang berkepanjangan.”

“Tetapi bukankah ada orang-orangmu yang menunggui padepokan?”

“Tidak banyak. Padepokanku adalah padepokan yang terlalu kecil dibandingkan dengan padepokanmu.”

“Tetapi bukankah kau masih akan pergi berburu lagi?”

“Lain kali aku akan datang kemari lagi kakang. Aku masih mempunyai beberapa keinginan. Tetapi rasa-rasanya aku sekarang selalu digelisahkan oleh keadaan padepokanku yang sudah cukup lama aku tinggalkan itu.”

Empu Sanggadaru hanya dapal mengaugguk-auggukkan kepalanya, la tidak akan dapat menahan adiknya terlalu lama. Jika benar-benar terjadi sesuatu, maka adiknya tentu akan menyalahkannya.

“Baiklah Baladatu. Jika kau akan kembali, aku hanya dapat mengucapkan selamat jalan. Mudah-mudahan kau tidak menemui kesulitan di perjalanan.”

“Terima kasih kakang. Aku akan datang pada saatnya.”

Empu Sanggadaru tidak dapat menahan lagi. Di pagi hari berikutnya, Empu Baladatu pun kemudian meninggalkan padepokan kakaknya yang ternyata masih saja diliputi oleh kesiagaan. Apalagi ketika penghuni padepokan itu menyadari bahwa orang-orang Serigala Putih adalah orang-orang yang telah menggemparkan padepokan itu meskipun mereka harus meninggalkan beberapa orang korban. Dan mereka pun segera teringat kepada ciri-ciri yang pernah mereka lihat pada korban korban itu.

Bersambung.....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...