BARA DI ATAS SINGGASANA : JILID-18-01
Demikianlah, maka dua orang itu telah dibawa kembali oleh ketiga orang prajurit Singasari itu kepada pasukan kecilnya. Seperti apa yang dikatakan oleh orang yang menyebut dirinya Dandang Kaluwat, maka Senapati itu memutuskan untuk menyerang padukuhan itu malam ini juga justru karena kematian Kiai Kisi. Kalau mereka mengetahui bahwa Kiai Kisi sudah tidak ada lagi, mereka pasti akan segera menyingkir. Mereka pasti merasa cemas, karena lawan yang datang pasti melampaui kemampuan guru mereka, sehingga mereka tidak akan dapat berbuat banyak.
Tetapi pasukan kecil itu harus meninggalkan seseorang yang bertugas menjaga kedua orang tawanan itu. Mereka berdua kemudian diikat kuat-kuat pada sebatang pohon agar mereka tidak membuat kesulitan bagi penjaganya yang hanya seorang. Sebab tenaga yang lain diperlukan untuk ikut serta didalam pertempuran yang segera akan terjadi.
“Jaga mereka baik-baik,” pesan Senapati itu kepada prajurit yang bertugas menjaga dua tawanan itu, “jangan sampai lepas. Kau harus menjaga mereka dengan senjata telanjang. Kalau mereka berbuat sesuatu yang menurut pertimbanganmu dapat membahayakan jiwamu, terserahlah. Tetapi kalau tidak, kita memerlukan mereka.”
Prajurit itu menganggukkan kepalanya. Jawabnya, “Baik. Aku akan berbuat sebaik-baiknya.”
Namun sebenarnya prajurit itu menggerutu di dalam hatinya. Ia lebih senang ikut menyerang pedukuhan kecil yang terpencil itu daripada menunggui dua orang tawanan yang meskipun sudah terikat.
Sejenak kemudian maka prajurit Singasari itu-pun telah berkumpul. Mereka akan mendapat penjelasan dari pemimpinnya, bagaimana mereka harus melakukan tugas mereka sebaiknya.
“Apakah Putera Mahkota akan ikut serta?” bertanya prajurit yang mendapat tugas untuk mengawasinya.
“Ya. Biarlah Putera Mahkota ikut serta. Tetapi kalian bertiga harus menjaganya baik-baik. Sekarang dimana Putera Mahkota itu?”
Prajurit-prajurit itu tidak segera menjawab. Serentak mereka memandang kekegelapan.
Pemimpin pasukan kecil beserta kedua petugas sandi itu-pun memandang ke arah yang sama. Mereka mengerti, bahwa Putera Mahkota itu berada di sana.
“Kenapa disana?” bertanya pemimpin prajurit itu.
“Tidur. Putera Mahkota agaknya menjadi kesal, karena ia tidak diijinkan ikut serta melihat-lihat padukuhan itu.”
Senapati itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Untunglah bahwa Putera Mahkota tidak ikut bersama kami. Ternyata kami menghadapi persoalan-persoalan yang sama sekali tidak kami perhitungkan sebelumnya.” Senapati itu berhenti sejenak. Lalu, “bangunkanlah. Hati-hati. Kadang-kadang Putera Mahkota terkejut apabila dibangunkan dengan tiba-tiba.”
Seorang prajurit segera bangkit dan menuju ketempat Putera Mahkota sedang tidur.
Dengan hati-hati ia membangunkan Putera Mahkota yang terbaring diam dengan tarikan nafas yang teratur.
Sejenak kemudian Putera Mahkota itu menggeliat. Bahkan kemudian bangkit dengan tiba-tiba dan berkata terbata-bata, “Dimana aku he?”
“Tuanku berada didekat padukuhan yang sedang kita awasi selama ini.”
Anusapati menggosok-gosok matanya. Kemudian kepalanya terangguk-angguk setelah ia merenung sejenak. Katanya, “Ya. Aku sudah sadar sekarang. Aku tertidur. Apakah Senapati bersama kedua prajurit sandi itu sudah kembali?”
“Ya. Mereka sudah kembali. Mereka membawa berita yang sangat menarik. Kita, para prajurit sekarang sudah berkumpul untuk mendengarkan keterangannya.”
“O. Jadi aku adalah orang yang terakhir?”
“Kami sengaja membangunkan tuanku setelah kami siap semuanya.”
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia-pun kemudian berdiri dan membenahi dirinya.
“Pergilah. Aku akan segera menyusul.”
Prajurit itu-pun kemudian meninggalkan Putera Mahkota, ia sama sekali tidak bercuriga, bahwa Putera Mahkota sedang berusaha menyembunyikan kain hitam yang memang telah dibawanya dari Singasari. Ia memang sudah memperhitungkan, bahwa pada suatu saat ia akan memerlukan kain hitam itu. Dan kini, ia menyembunyikan di bawah kain panjangnya, seperti pada saat itu ia membawanya dari Singasari.
Sejenak kemudian semua prajurit telah berkumpul, termasuk Putera Mahkota. Mereka mendengarkan penjelasan dari pemimpin pasukan itu apa yang harus mereka lakukan.
“Kita tidak dapat menunda sampai besok,” berkata pemimpin pasukan itu, “justru kita sudah dihadapkan pada suatu peristiwa yang berada di luar kemampuan kita. Orang yang tidak kita kenal itu ternyata telah membunuh tamu pemimpin perampok yang tinggal di padukuhan terpencil itu. Dan tamu yang terbunuh itu adalah gurunya, guru pemimpin perampok itu. Dengan demikian kita tidak dapat menunggu sampai kematian yang tidak tersangka-sangka itu diketahui oleh pemimpin perampok beserta anak buahnya. Dengan demikian ada beberapa kemungkinan yang bakal terjadi. Mereka mempersiapkan diri sebaik-baiknya atau menyingkir dari pedukuhan itu.”
Para prajurit Singasari mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka sadar apa yang harus mereka lakukan.
“Nah, tidak ada jalan lain kecuali datang ke sarang mereka sekarang juga.”
Para prajurit itu-pun kemudian mempersiapkan diri sebaiknya. Sebagai alat untuk mengenal yang satu dengan yang lain di dalam gelap malam apabila mereka telah terlibat dalam perkelahian yang sengit dan bercampur baur di antara pondok-pondok kecil dipadukuhan itu, mereka telah mengenakan selempang keprajuritan disamping kata-kata sandi yang harus mereka ingat dan siap untuk diucapkan.
“Marilah, kita segera berangkat.”
Para prajurit itu-pun segera berdiri berjajar. Mereka sudah menggenggam senjata telanjang di tangan, untuk menjaga setiap kemungkinan yang dapat terjadi.
Namun sebelum mereka berangkat, pemimpin pasukan itu mendekati Anusapati sambil berkata, “Tuanku, dimanakah perisai tuanku?”
Anusapati mengerutkan keningnya. Jawabnya, “Apakah aku harus membawa perisai?”
“Sebaiknya tuanku membawa perisai. Beberapa orang di antara kita juga membawa perisai.”
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia-pun kemudian mengambil perisai yang sengaja ditinggalkannya. Tetapi ia tidak dapat membantah ketika pemimpin pasukan itu ternyata memperingatkannya.
Demikianlah maka pasukan kecil itu segera merayap di antara pohon-pohon perdu dan batang ilalang. Salah seorang dari mereka mengumpat-umpat didalam hati, karena ia harus tinggal sambil menunggui kedua orang tawanan yang terikat erat-erat pada sebatang pohon.
“Kenapa kalian tidak mati saja?” bertanya prajurit itu.
Keduanya tidak menjawab.
“Kalau kalian mati, aku tidak perlu tinggal disini menunggui kalian. Bagiku lebih baik bertempur di medan daripada duduk menjadi umpan nyamuk di sini menunggui kalian berdua.
Kedua orang itu masih diam. Tetapi mereka-pun mengumpat-umpat pula di dalam hati. Nyamuk memang banyak sekali di sekitar tempat itu. Apalagi kedua tangan mereka terikat, sehingga mereka tidak dapat menggaruk bagian tubuh mereka yang gatal karena digigit nyamuk.
Dalam pada itu, pasukan Singasari itu-pun merayap semakin lama semakin mendekati padukuhan yang terpencil. Ketika mereka sampai di bekas arena perkelahian Kiai Kisi dan orang yang menyebut dirinya Dandang Kaluwat, Senapati Singasari itu-pun menunjukkan mayat Kiai Kisi yang masih tetap terbaring di tempatnya.
“Inilah orang yang bernama Kiai Kisi,” berkata pemimpin pasukan itu, “ia mati terbunuh melawan orang yang tidak mau dikenal bernama Dandang Kaluwat.”
Prajurit-prajurit Singasari itu-pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Juga Putera Mahkota mengangguk-angguk.
“Untunglah bahwa muridnya belum mengetahui bahwa gurunya terbunuh. Mereka pasti tidak menduga sama sekali, bahwa kedatangannya ke tempat ini sekedar mengantarkan nyawanya.” sambung Senapati itu. Lalu, “karena itu, agaknya mereka-pun belum siap untuk menerima kahadiran kita. Meskipun demikian kita tidak boleh lengah.”
Dan tiba-tiba saja Putera Mahkota mendekati Kiai Kisi sambil berkata, “Darahnya telah membeku.”
“Ya.” sahut salah seorang petugas sandi dari Singasari, “Dandang Kaluwat membunuhnya tanpa senjata.”
“Dengan apa?” bertanya salah seorang prajurit.
“Keduanya telah membenturkan kekuatan puncak mereka. Aji simpanan masing-masing. Namun agaknya Dandang Kaluwat memiliki kekuatan lebih besar dari Kiai Kisi, sehingga Kiai Kisi tidak mampu lagi mempertahankan diri. Bahkan ia telah terbunuh dalam benturan itu.”
“Luar biasa,” desis beberapa orang prajurit Singasari.
“Memang luar biasa. Sebelum Kiai Kisi bertempur melawan Dandang Kaluwat, kami bertiga telah melawannya. Dan kami sama sekali tidak berdaya. Kami bertiga tidak mampu bertahan dari tekanan Kiai Kisi yang dahsyat. Namun akhirnya Kiai Kisi itu dapat dikalahkan oleh Dandang Kaluwat. Dengan demikian kalian dapat membayangkan, betapa dahsyatnya kekuatan aji Dandang Kaluwat itu.”
Para prajurit Singasari itu mengangguk-anggukkan kepala mereka. Namun mereka tidak mempunyai banyak kesempatan. Mereka segera meneruskan perjalanan mereka yang pendek, karena mereka telah menjadi semakin dekat dengan padukuhan terpencil yang terletak di atas sebuah bukit kecil.
“Kita kepung padukuhan itu. Kita akan naik dari segala arah. Karena itu, kita harus memencar. Aku, tuanku Putera Mahkota dan beberapa orang prajurit akan melalui pintu gerbang. Dan kalian harus membagi diri dari beberapa jurusan di seputar padukuhan itu.”
Prajurit-prajurit Singasari itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan pemimpin kelompok itu melanjutkan, “Kita membagi diri masing-masing bertiga. Nah, kita akan segera naik. Kita akan berkumpul di tengah-engah padukuhan itu. Di halaman yang paling luas, di depan rumah yang paling besar. Disitulah pemimpin perampok itu tinggal. Kita masing-masing tidak boleh melupakan tanda-tanda dan isyarat-isyarat sandi yang sudah kita setujui bersama.”
Demikianlah pasukan kecil itu telah memecah diri menjadi kelompok-kelompok yang semakin kecil, masing-masing tiga orang, kecuali Senapati yang masuk melalui regol depan bersama Putera Mahkota dan tiga orang prajurit pengawal yang terpilih. Dua orang prajurit sandi itu-pun berpisah pula didalam kelompok yang berbeda.
Kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari masing-masing tiga orang itu kemudian merayap menaiki tebing dari beberapa jurusan. Sedang sambil merangkak perlahan-lahan. Senapati bersama kelompoknya-pun maju pula semakin dekat dengan gerbang padukuhan itu. Tetapi mereka tidak datang lewat jalan yang langsung memasuki gerbang itu, tetapi mereka berjalan menyusur dinding batu sehingga mereka dapat mencapai gerbang dari samping.
Ternyata padukuhan itu telah benar-benar menjadi sepi. Namun demikian, masih juga terdengar suara orang di dalam rumah yang paling dekat di sisi pintu gerbang. Rumah kecil yang mungkin telah dipergunakan oleh para perampok yang kebetulan akan menggantikan para penjaga di regol padukuhan.
Tetapi malam itu, tidak seorang-pun yang bertugas berada di pintu gerbang. Agaknya mereka sama sekali tidak menyangka, bahwa malam itu mereka akan didatangi oleh sepasukan kecil prajurit Singasari.
Senapati Singasari itu-pun maju beberapa langkah semakin dekat dengan gerbang. Namun ia benar-benar tidak melihat seorang-pun juga.
“Kalian tunggu disini,” desis Senapati itu, “aku akan melihat keadaan sebentar.”
Senapati itu-pun kemudian merayap semakin dekat. Tiba-tiba saja ia berlari sambil terbungkuk-bungkuk memasuki pintu gerbang, langsung menuju ke rumah kecil yang terdekat.
Dari luar ia masih sempat mendengar suara, “Cepat, kembali kepintu gerbang.”
“Buat apa?”
“Siapa tahu, ada satu dua orang yang masuk.”
“Mereka tidak akan bergerak. Kita dapat tidur nyenyak malam ini. Baru besok mereka akan menyerang.”
Senapati itu mengerutkan keningnya. Desisnya di dalam hati, “Darimana mereka tahu bahwa kami akan menyerang besok?”
“Tetapi mungkin ada petugas-tugas sandinya yang datang,” terdengar pula suara di dalam rumah itu.
“Kebetulan sekali. Ia merasa bahwa daerah ini sedang lengah. Mereka tidak akan menduga bahwa Kiai Kisi sekarang ada disini.”
“Di regol?”
“Dipadukuhan ini. Bukankah ia sedang tidur?”
“Mungkin. Tetapi mungkin juga ia sudah tidak ada di pembaringannya. Ia dapat datang dan pergi setiap saat dikehendaki.”
Tidak ada seorang-pun yang menyahut. Yang terdengar kemudian hanyalah mulut-mulut yang sedang mengunyah. Agaknya orang-orang yang berada di dalam rumah itu masih juga membawa beberapa potong makanan.
Senapati itu-pun kemudian bergeser perlahan-lahan menjauh. Selelah beberapa langkah dari rumah itu, barulah ia meloncat dan berjalan cepat-cepat kembali kepada kawan-kawannya.
“Mereka berada di rumah itu,” bisiknya.
“Apakah kita akan menyergap?” bertanya salah seorang prajurit pengawal.
“Aku tidak dapat mengetahui jumlahnya.”
“Jadi?”
“Aku akan memberikan isyarat menyerang. Kita akan menunggu mereka di luar pintu. Kita harus berhasil mengurangi jumlah mereka begitu mereka berlari keluar apabila mereka mendengar hiruk pikuk di bagian lain dari padukuhan itu.”
Kawan-kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Putera Mahkota-pun mengangguk-angguk pula.
“Kita akan segera mendekati rumah itu, begitu aku melepaskan isyarat.”
Sekali lagi kawan-kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya.
Senapati itu-pun kemudian memasang sepucuk panah sendaren pada sebuah busur kecil tetapi lentur. Setelah berkisar sedikit dari tempatnya, ia-pun segera melepaskan anak panah sendaren itu keudara.
Sejenak kemudian terdengarlah panah sendaren itu mengaum di udara. Seakan-akan semakin lama semakin keras. Dan berbareng dengan itu, maka Senapati itu-pun dengan cepatnya berlari sambil berjingkat mendekati rumah yang baru saja diintainya, diikuti oleh kawan-kawannya dan Putera Mahkota.
Ternyata orang-orang yang berada dalam rumah kecil itu-pun mendengar bunyi panah sendaren yang terbang di udara. Tetapi mereka tidak segera dapat mengambil kesimpulan. Karena itu, maka diantara mereka-pun telah terjadi persoalan.
Prajurit-prajurit Singasari yang ada di luar rumah itu mendengar salah seorang dari mereka berkata, “He, kalian mendengar suara itu?”
“Panah sendaren.”
“Ya, suara panah sendaren. Apakah artinya? Apakah diantara kita ada isyarat itu malam ini?”
“Tidak.”
“Jadi?”
“Kalau begitu, pasti isyarat dari orang-orang Singasari itu. Apakah keterangan yang kita terima keliru? Mereka akan menyerang besok.”
“Siapa tahu. Nah, regol itu kosong. Semua berada di tempat ini.”
“Hati-hati. Kita harus segera meronda.”
Suara-suara itu-pun segera terdiam. Bahkan lampu-pun segera padam. Para prajurit Singasari yang berada di luar rumah kecil itu segera bergeser mendekati pintu dengan senjata telanjang.
Apalagi ketika mereka mendengar desir langkah-langkah kaki di dalam rumah yang menjadi gelap itu.
Tetapi pintu itu tidak segera terbuka. Bahkan langkah kaki yang mereka dengar itu sama sekali tidak mendekat, tetapi menjauh.
“Gila, mereka mempergunakan pintu lain,” geram Senapati itu, “ternyata mereka bukan kerbau-kerbau dungu yang menyerahkan hidungnya.”
Sejenak para prajurit menunggu. Mereka yakin setelah mereka mendengar derit pintu yang lain. Bukan pintu yang mereka tunggui itu.
“Kita sergap mereka,” perintah Senapati itu.
Tetapi getaran kemarahannya, membuat suaranya tidak terkekang lagi, sehingga orang-orang yang berlari keluar dari rumah itu-pun mendengarnya.
“Mereka sudah ada disini,” teriak salah seorang dari mereka.
“Pukul kentongan!”
Beberapa orang dari para perampok yang berada digardu itu segera melingkari rumah kecil itu. Sedang seorang diantara mereka segera memukul kentongan untuk membangunkan kawan-kawannya yang masih tidur nyenyak.
Tetapi tanpa diketahui sebabnya, suara kentongan itu tiba-tiba saja berhenti. Berbareng dengan itu, kedua kelompok yang akan saling menyerang itu berpapasan di sudut rumah, sehingga kedua pihak terkejut karenanya.
Semua orang yang kemudian melihat pemukul kentongan itu roboh menjadi heran. Mereka tidak melihat serangan dari mana-pun juga. Mereka tidak melihat bahwa sebutir batu sebesar telur ayam telah mengenai lambungnya. Demikian kerasnya sehingga ia jatuh pingsan. Sementara itu, Anusapati mengibaskan tangannya yang kotor oleh debu yang melekat dibatu itu.
Sejenak kemudian, maka kedua kelompok yang bertemu itu segera terlibat dalam pertempuran. Tanpa mereka sadari mereka-pun telah memencar. Namun ternyata bahwa orang-orang yang berada didalam gardu itu jumlahnya lebih dari lima orang, sehingga satu dari mereka sempat juga berlari memungut pemukul kentongan dari tangan kawannya yang pingsan itu, dan kemudian memukulnya.
Ternyata bunyi kentongan itu mengejutkan para perampok yang tinggal dipadukuhan itu. Seorang yang berkepala botak, yang terbangun mendengar suara kentongan itu, segera meloncat menyambar pedangnya. Tetapi ia tidak mau berlari keluar lewat pintu depan pondoknya. Dengan hati-hati ia membuka pintu butulan dan meloncat keluar dari dalamnya sambil mengacukan pedangnya. Tetapi ia tidak menjumpai seorangpun. Karena itu, maka ia masih sempat singgah sebentar di sudut rumah yang ditempatinya untuk menyambung bunyi kentongan di regol depan.
Demikianlah maka suara kentongan itu merambat dari rumah ke rumah yang didiami oleh perampok-perampok itu. Namun dalam pada itu, para prajurit Singasari-pun telah merayap masuk ke padukuhan.
Dengan demikian, maka padukuhan kecil itu-pun menjadi hiruk pikuk. Sesuatu yang tidak pernah terjadi. Penghuni padukuhan itu biasanya justru menimbulkan keributan dan membuat orang-orang lain membunyikan kentongan. Tetapi kini merekalah yang harus membunyikannya. Kentongan-kentongan yang selama ini tergantung diam, dan bahkan telah retak-retak. Tetapi di samping kentongan-kentongan tua, beberapa orang dari mereka telah membuat kentongan-kentongan baru, justru ketika mereka mendengar berita bahwa prajurit-prajurit Singasari akan menyerang mereka pada suatu saat, dan guru dari pemimpin mereka akan hadir untuk menerima kedatangan orang-orang Singasari itu.
Sedangkan rumah-rumah yang tidak mempunyai kentongan tua maupun yang baru, telah diributkan oleh suara tiang-tiang bambu yang dipukul keras-keras dengan punggung pedang.
Sejenak kemudian, maka prajurit-prajurit Singasari itu-pun telah berada di dalam padukuhan itu, setelah mereka merayap naik tebing yang rendah dan meloncati pagar batu. Sungguh suatu serangan yang tidak terduga-duga meskipun hanya berselisih satu malam saja.
Karena itulah maka mereka menjadi agak bingung menghadapi persoalan yang tiba-tiba. Tetapi pengalaman mereka bertualang selama ini, agaknya telah banyak menolong sehingga para perampok itu-pun segera menemukan diri mereka kembali.
Dengan demikian maka perkelahian-perkelahaian yang seru segera terjadi hampir di segala sudut padukuhan itu. Dimana-mana prajurit Singasari telah memuncul meskipun hanya dua tiga orang. Bahkan kadang-kadang seorang prajurit yang memisahkan diri dari kelompoknya langsung memecah pintu dan memasuki sebuah rumah yang dihuni oleh perampok-perampok itu.
Di dekat regol depan, pemimpin pasukan Singasari bertempur dengan gigihnya. Demikian pula ketiga prajurit yang lain menyertainya. Di antara mereka terdapat Anusapati yang bertempur bersenjatakan pedang dan sebuah perisai.
Jumlah lawan yang lebih banyak membuat Senapati itu agak cemas. Bukan tentang dirinya sendiri, ia dapat bertempur melawan dua orang sekaligus. Meskipun seandainya ia tidak akan memenangkan pertempuran itu, tetapi setidak-tidaknya ia akan dapat memperpanjang waktu sampai kawannya datang mendekatinya dan membantunya menumpas para penjahat itu.
Tetapi apakah Putera Mahkota juga mampu berbuat seperti itu?
Ketika ia sempat memperhatikan pertempuran antara prajurit-prajurit Singasari melawan para penjahat, hatinya menjadi sedikit tenteram. Ternyata dua orang prajurit pengawal yang terpilih itu, tidak melakukan pertempuran yang terpisah. Mereka bertempur berpasangan bertiga bersama Putera Mahkota pula. Sedang prajurit yang seorang lagi bertempur bagaikan burung elang yang menyambar-nyambar kian kemari sambil mengayun-ayunkan senjatanya.
Di bagian-bagian lain dari padukuhan itu-pun telah terjadi pertempuran-pertempuran yang sengit pula. Kelompok-kelompok kecil prajurit Singasari yang memencar ke segala tempat segera menemukan lawannya. Para penjahat itu-pun ternyata dengan cepat dapat menyiapkan diri menghadapi kemungkinan yang tidak diduga sebelumnya itu.
Selagi perkelahian yang sengit membakar padukuhan itu, di rumah yang paling besar, hampir di tengah-engah padukuhan, pemimpin perampok itu-pun telah terbangun pula. Dengan dada yang membara ia berdiri di tangga rumah yang dihuninya itu. Beberapa orang pengawalnya berdiri termangu-mangu di sebelah menyebelah.
“Apa yang sudah terjadi?” ia mengeram.
“Prajurit Singasari telah memasuki padukuhan ini.”
“Gila. Bukankah menurut keterangan yang kita terima, pasukan itu akan datang besok dan sampai hari ini tidak ada tanda-tanda mereka mempercepat rencananya?”
“Sampai hari terakhir kami tidak menemukan keterangan apapun. Berita yang kita terima paling akhir adalah keberangkatan pasukan Singasari itu. Hampir mustahil bahwa mereka berani menyerang malam ini. Kalau mereka dapat menepati rencana yang sangat berat, baru semalam mereka sampai di daerah ini. Mereka baru beristirahat satu hari dan apalagi mereka belum mengenal daerah ini sebaik-baiknya. Tetapi adalah mustahil sekali, bahwa dada pasukan yang dapat menempuh jarak itu sesuai dengan rencana. Seandainya demikian, maka sebagian dari mereka pasti tidak akan mampu berdiri lagi. Apalagi Putera Mahkota itu.”
“Tetapi kita menghadapi suatu kenyataan. Prajurit-prajurit Singasari itu telah berada di halaman ini.”
“Lalu, apakah maksud Ki Lurah sekarang?”
“Gila. Kau masih bertanya? Kita hancurkan mereka. Dimanakah kira-kira pemimpin mereka sekarang?”
“Kami belum menemukan. Tetapi ada beberapa orang yang langsung masuk lewat pintu gerbang.”
“Mereka akan kita cincang. Aku akan membangunkan guru lebih dahulu.”
Para penjahat yang lain mengangguk-anggukkan kepala mereka. Kalau guru pemimpin mereka itu ikut serta di dalam pertempuran ini, maka dua kali lipat pasukan Singasari tidak akan dapat bertahan terhadapnya.
Namun sejenak kemudian dengan tergesa-gesa pemimpin penjahat itu keluar lagi. Dengan nada yang gelisah ia berkata guru tidak ada.”
“O, mungkin justru sudah ada di medan.”
Pemimpin penjahat itu mengangguk-angguk. Katanya, “Mari kita lihat. Adalah celaka sekali kalau kebetulan guru sedang pergi diluar pengetahuan kita. Dan apalagi pergi agak jauh dari tempat ini sehingga guru tidak mengetahui apa yang telah terjadi dipadukuhan ini.”
Tidak seorang-pun yang menyahut.
Dan pemimpin penjahat itu berkata selanjutnya, “Namun bagaimana-pun juga kita akan menghancurkannya. Mari kita pergi ke regol depan.”
Pemimpin perampok itu tidak menunggu jawaban. Dengan tergesa-gesa ia pergi keregol depan. Ia memperhitungkan bahwa pemimpin pasukan Singasari-pun pasti akan memasuki padukuhan ini lewat pintu gerbang.
Namun demikian hatinya masih juga dibebani kecemasan. Menurut pendapatnya gurunya pasti juga tidak menyangka bahwa orang Singasari itu akan datang malam ini.
Pemimpin perampok itu sama sekali tidak mengerti, bahwa justru gurunya telah mendengar hadirnya Senapati Singasari dan dua orang prajurit sandi yang mengintai di belakang pondokannya. Ternyata bahwa kehadiran Senapati dan kedua prajurit Sandi itu telah memancing Kiai Kisi untuk menjelang kematiannya meskipun mereka sama sekali tidak melakukannya dengan sengaja.
Meskipun demikian, pemimpin perampok itu masih juga mengharap agar suara kentongan yang bergema di seluruh padukuhan itu akan dapat didengar oleh Kiai Kisi di mana-pun juga ia sedang berada.
Ketika pemimpin perampok itu sampai ke depan regol. maka dilihatnya beberapa orang sedang terlibat di dalam perkelahian.
Tetapi ternyata kedatangan mereka telah mencemaskan Senapati Singasari. Jumlah orang yang ada diregol itu sudah lebih banyak dari empat orang yang harus bertempur sambil mengawasi Putera Mahkota. Apalagi kini datang beberapa orang baru. Menilik sikap dan pengawal-pengawal yang mendampinginya, maka orang itu pasti seorang terpenting dipadukuhan itu.
Ternyata tiba-tiba saja pemimpin perampok itu berteriak, “He, apakah orang-orang Singasari ingin membunuh diri? Berapa orang jumlah kalian? Dan siapakah di antara kalian yang menjadi pemimpinnya.?”
Orang-orang Singasari itu tidak ada yang menjawab. Mereka bertahan sekuat-kuat tenaganya. Senapati itu sendiri harus bertempur melawan dua orang. Sedang prajurit-prajurit yang lain bertempur dalam kelompok kecil bersama Putera Mahkota.
Pemimpin perampok itu menggeram. Katanya, “Untunglah guru tidak ada di padukuhan ini sekarang. Tetapi sebentar lagi guru pasti akan datang. Guru akan dapat melihat bangkai kalian yang berserakan di pintu gerbang.” pemimpin perampok itu berhenti sejenak. Lalu, “He, apakah kalian hanya sekedar prajurit-prajurit sandi? Kalian ingin sekedar menyelidiki keadaan padukuhan ini sebelum besok kalian menyerang?”
Prajurit-prajurit Singasari sama sekali tidak menjawab. Mereka masih bertempur terus, meskipun dihadapan mereka telah berdatangan musuh semakin banyak.
“Dimanakah para prajurit Singasari berkelahi?” bertanya Senapati itu kepada diri sendiri, “ternyata jumlah penjahat dipadukuhan ini cukup banyak.”
Sementara itu, di sudut-sudut padukuhan pasukan Singasari telah berhasil menguasai keadaan. Para perampok yang terkejut dan sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk bersiap, menjadi bingung dan tidak dapat memberikan perlawanan sebaik-baiknya. Dengan demikian maka perkelahian yang terjadi kemudian tidak berlangsung lama. Sebagian dari mereka harus menebus kelengahannya dengan jiwanya. Tetapi sebagian yang lain, tanpa menghiraukan apa-pun juga, berlari tunggang langgang meninggalkan padukuhan itu. Mereka meloncati pagar batu dan meluncur tebing. Tetapi ada juga yang kehilangan keseimbangan sehingga justru jatuh terjerembab menimpa batu-batu padas yang runcing.
Beberapa orang prajurit Singasari berusaha juga mengejar mereka. Tetapi di malam yang gelap, beberapa orang telah berhasil menghilang di antara batang-batang ilalang dan pohon-pohon perdu. Namun ada juga yang gagal, sehingga senjata prajurit Singasari berhasil menusuk punggung mereka, selagi mereka berusaha untuk menghindarinya.
Tetapi keadaan di dekat gerbang padukuhan itu ternyata sebaliknya. Senapati Singasari bersama ketiga prajurit yang berusaha sekuat-kuatnya melindungi Putera Mahkota ternyata benar-benar menjadi cemas karena pemimpin perampok itu melangkah semakin dekat sambil berkata, “Nah, kalau kalian membawa kawan serta, maka lebih baik membunuh selagi kalian belum berkumpul. Adalah bodoh sekali untuk memasuki padukuhan ini dalam jumlah yang kecil, atau di dalam kelompok-kelompok kecil seperti ini.”
Senapati dan prajurit-prajurit Singasari itu tidak menjawab. Namun justru Putera Mahkota lah yang menyahut, “Tetapi kalian juga bodoh sekali berkumpul di depan pintu gerbang ini. Kelompok kecil pasukan Singasari sekarang pasti sudah menghancurkan seluruh isi padukuhan dan membunuh semua orang. Sebentar lagi mereka akan kehabisan lawan, sehingga mereka-pun akan berlari-larian mengitari padukuhan ini. Nah, saat-saat yang demikian itulah nanti akan merupakan saat-saat penentuan. Sekarang, kami yang tidak berarti ini telah berhasil memancing kalian, dan barangkali salah seorang dari kalian adalah pemimpin perampok yang bersarang di padukuhan ini.”
Jawaban itu ternyata sangat menarik perhatian pemimpin perampok itu. Sejenak ia termangu-mangu. Namun kemudian ia menggeram, “Jangan memperbodoh kami. Tidak ada yang dapat mengalahkan orang-orang kami. Dan aku yakin bahwa tidak ada seorang-pun pasukan Singasari yang memasuki jadukuhan ini selain kalian yang sedang menyelidiki daerah kami, karena besok kalian akan menyerang.”
Tetapi belum lagi ia selesai, beberapa orang perampok berlari-larian melintas di sebelah pemimpin perampok itu. Dengan nafas terengah-engah mereka-pun dengan tiba-tiba berhenti ketika mereka sadar, bahwa yang berdiri di sampingi oleh beberapa orang pengawal itu adalah pemimpin mereka.
Pemimpin penjahat itu membelalakkan matanya. Dengan nada sumbang ia bertanya, “Kenapa kalian berlari-lari?”
Para perampok itu-pun menjadi bimbang sesaat. Tetapi ketika mereka melihat perkelahian yang masih berlangsung, salah seorang dari mereka berkata, “Kita di serang.”
“Aku sudah mengerti. Itulah mereka. Apakah kalian juga sedang memburu kawannya?”
Orang-orang itu terdiam sejenak. Tetapi pemimpin perampok itu berteriak, “He, apakah kalian sedang mengejar mereka atau karena kalian mendengar pertempuran di sini?”
Terbata-bata salah seorang dari mereka menyahut, “Kamilah yang sedang diburu.”
“Gila.” pemimpin perampok itu berteriak semakin keras. Namun kemudian, “Jangan lari pengecut. Bantu kawan-kawanmu. Sebelum yang lain datang, bunuh mereka berlima.”
Para perampok itu menjadi termangu-mangu. Tetapi karena mereka kini bersama dengan pemimpinnya, maka kecemasannya menjadi susut. Seandainya orang-orang yang menyerang padukuhan dengan tiba-tiba itu mengejar mereka, di sini ada pemimpin mereka dan beberapa orang kawan-kawannya.
Sejenak mereka masih berdiri mematung. Namun pemimpin mereka membentak lagi, “Cepat. Bunuh mereka.”
Orang-orang itu-pun kemudian berlari-lari mendekati arena perkelahian itu. Senapati pasukan Singasari itu menjadi semakin berdebar-debar. Pasukannya mungkin akan berhasil menguasai padukuhan kecil ini. Namun kelompoknya sendiri ternyata mengalami kesulitan. Ia tidak mengira bahwa sebagian dari para penjahat itu berkumpul di muka regol. Apalagi pemimpin mereka dan orang-orang yang berlari-larian itu kebetulan pula menuju ke regol itu juga.
Setiap kali Senapati yang masih bertempur melawan dua orang itu berusaha melihat, bagaimana prajurit-prajurit yang sedang berusaha melindungi Putera Mahkota. Tetapi, karena lawan mereka lebih banyak, maka mereka-pun terdesak beberapa langkah surut ke regol padukuhan.
“Cepat, bunuh mereka,” teriak pemimpinnya, “aku akan ikut serta.”
Pemimpin penjahat itu-pun mulai bergerak. Dan dada Senapati Singasari yang memimpin penyerangan itu menjadi kian berdebar-debar.
Dalam pada itu Anusapati-pun menjadi termangu-mangu, ia melihat kesulitan yang gawat pada kelompok kecilnya. Tetapi ia ragu-ragu untuk berbuat resuatu. Kalau ia berbuat sebagai Putera Mahkota yang sekedar mencari perlindungan, maka sebentar lagi pasti akan segera jatuh korban. Tetapi kalau ia berbuat melampaui ukuran Putera Mahkota menurut anggapan para prajurit itu, pasti kelak akan banyak menumbuhkan kesulitan baginya di istana. Apalagi setelah Anusapati mendengar bahwa Kiai Kisi sengaja menunggu kedatangannya di tempat ini.
Namun dalam kebimbangan itu, Anusapati masih juga sempat mempergunakan pedangnya untuk melukai lawannya tanpa diketahui oleh prajurit-prajurit yang melindunginya. Mereka hanya melihat salah seorang lawannya tiba-tiba saja terdorong surut, sementara Anusapati telah bergeser ke tempat yang lain. Sambil menyeka luka didadanya, penjahat itu menyeringai kesakitan, sementara darah mengalir dari sela-sela jari-jarinya.
Meskipun Anusapati masih berusaha menyelubungi dirinya, namun ia berusaha juga untuk menumbuhkan kepercayaan prajurit-prajurit itu kepadanya. Ia bertempur seperti prajurit-prajurit yang lain. Anusapati sama sekali tidak menunjukkan kesan seorang penakut. Bahkan kadang-kadang prajurit yang melindunginya menjadi cemas melihat Putera Mahkota itu menyerang dengan garangnya, sehingga prajurit itu terpaksa meloncat mendampinginya.
“Ternyata Putera Mahkota bukan seorang yang licik dan penakut seperti yang dikatakan orang tentang dirinya,” berkata prajurit-prajurit itu di dalam hatinya.
Sementara itu, para perampok telah berdiri mengitari perkelahian dari segala penjuru. Sekali mereka meloncat, maka prajurit-prajurit Singasari itu tidak akan dapat berbuat apa-pun lagi. Mereka pasti akan segera terbunuh bersama Putera Mahkota yang harus mereka lindungi.
Namun dalam pada itu, tiba-tiba terdengar derap orang berlari-lari. Tiba-tiba saja dari balik rumah muncul tiga orang prajurit Singasari. Sejenak mereka termangu-mangu. Namun mereka-pun segera mengetahui apa yang terjadi. Karena itu, mereka-pun segera berlari ke arena. Meskipun jumlah mereka masih belum menyamai, namun kehadiran ketiga prajurit Singasari itu benar-benar lelah menarik perhatian, sehingga beberapa orang perampok terpaksa memutar diri dan menghadapi ketiga orajurit Singasari itu.
“Pantaslah kami mencari kemana-mana tidak ada seorang-pun yang harus kami binasakan. Ternyata kalian berkumpul disini,” geram prajurit itu.
Tetapi yang tidak dimengerti kemudian, selagi perhatian mereka sejenak terpukau oleh kehadiran prajurit Singasari itu, tiba-tiba dua orang penjahat berteriak sekaligus. Sebuah goresan panjang menyilang di dada mereka, sehingga mereka terlempar beberapa langkah dan kemudian jatuh terlentang di tanah. Meskipun mereka tidak mati, tetapi mereka sama sekali sudah tidak berdaya lagi berbuat sesuatu.
Ketika prajurit-prajurit Singasari yang melindungi Putera Mahkota berpaling, mereka sudah tidak melihat lagi Putera Mahkota di tempatnya. Mereka melihat Putera Mahkota itu kini bertempur melawan seorang perampok yang menyerangnya dengan tiba-tiba. Dengan mempergunakan perisai untuk melindungi dirinya, Putera Mahkota telah bertahan mati-matian.
Demikianlah sejenak kemudian, ketiga prajurit Singasari yang baru datang itu telah mempengaruhi keadaan. Apalagi tiga orang perampok yang telah terluka itu tidak lagi dapat berkelahi di arena, sehingga meskipun belum menyamai, tetapi perlawanan prajurit Singasari sudah menjadi semakin baik.
Namun di saat terakhir, pemimpin perampok itu sendirilah yang terjun ke arena melawan prajurit-prajurit Singasari itu.
Ternyata bahwa pemimpin perampok itu memiliki kemampuan yang tinggi. Sejenak kemudian terasa, bahwa prajurit Singasari telah mulai terdesak lagi. Senapati Singasari yang berusaha melepaskan kedua lawannya dan menghadapi pemimpin penjahat itu mengalami kesulitan. Namun untuk memungkinkannya, Senapati itu berkata, “He, agaknya kaukah pemimpin perampok di padukuhan ini? Akulah Senapati yang memimpin prajurit-prajurit Singasari yang akan menghancurkan sarangmu. Jika kau memang jantan, hadapilah aku.”
Pemimpin perampok itu menggeram. Sejenak kemudian ia berkata, “Marilah kita lihat, siapakah yang lebih baik. Senapati dari Singasari atau yang kau sebut pemimpin perampok ini.” Lalu kepada kedua orang-orangnya yang melawan Senapati itu ia berkata, “Lepaskan lawanmu. Kalau ia merasa dirinya seorang Senapati, ia akan menengadahkan dadanya menghadapi maut di ujung pedangku.”
Kedua lawan Senapati itu-pun segera berloncatan menepi. Mereka untuk sesaat termangu-mangu melihat pemimpin mereka melangkah setapak demi setapak mendekati Senapati itu.
“He, jangan seperti orang melihat sabung ayam. Ayo, masih banyak musuh di sekelilingmu.”
Kedua orang itu seakan-akan tersadar dari mimpinya. Tiba-tiba mereka-pun mengedarkan tatapan matanya. Dilihatnya perkelahian menjadi semakin kisruh. Demikian riuhnya, sehingga kadang-kadang ketiga prajurit yang harus melindungi Anusapati telah mengalami tekanan yang berat, sehingga untuk sesaat mereka kehilangan Putera Mahkota. Tetapi agaknya Putera Mahkota itu-pun tidak mau bertempur terlampau jauh dari mereka. Setiap kali Anusapati itu telah berada di dalam lingkungan mereka kembali.
“Putera Mahkota memang bukan pengecut,” berkata prajurit-prajurit itu di dalam hatinya, “tetapi ia tidak sesombong Tohjaya, sehingga ia menyadari dirinya sendiri dan meskipun cukup berani, ia cukup berhati-hati.”
Tetapi yang mengherankan, setiap kali dengan tiba-tiba saja seorang lawan mereka terdorong jatuh dengan luka ditubuhnya. Seorang lagi dari mereka berteriak ngeri. Tetapi tidak seorang-pun yang mengerti, kenapa tiba-tiba saja luka itu telah tergores di pundaknya. Bahkan kemudian sekali lagi ia mengeluh tertahan. Sebuah batu sebesar biji keluwak mengenai dadanya, sehingga seakan-akan ia tidak dapat menarik nafas lagi lewat dadanya.
Dengan demikian perlawanan prajurit Singasari menjadi semakin sengit. Lawan seorang demi seorang telah berkurang, meskipun kini pemimpin perampok itu telah terjun pula di arena. Namun agaknya Senapati terpilih yang memimpin kelompok pasukan Singasari itu berhasil menahannya, meskipun dengan mengerahkan segenap kemampuannya.
Semakin lama perkelahian itu-pun menjadi semakin sengit. Ternyata tidak hanya terjadi di depan regol itu saja. Di segenap sudut padukuhan itu telah terjadi pertempuran yang seru dari kelompok-kelompok kecil di kedua belah pihak.
Tetapi ternyata bahwa para perampok itu tidak terlampau mudah menyerah. Meskipun mereka telah dikejutkan oleh hadirnya orang-orang Singasari tanpa diduga-duga, dan meskipun sebagian dari mereka telah terbunuh dan yang lain meninggalkan gelanggang, namun masih saja ada di antara mereka yang bertempur mati-matian. Apalagi mereka yang berada bersama-sama dengan pemimpin mereka.
Namun pasukan Singasari tampaknya akan segera berhasil menguasai mereka. Di bagian mana-pun juga, selain diregol pedukuhan, para perampok semakin kehilangan kesempatan. Semakin banyak di antara mereka yang terbunuh dan semakin banyak pula yang berlari-larian menyelamatkan diri setelah mereka tidak melihat harapan untuk tetap dapat bertahan.
Dua orang prajurit Singasari yang sedang mengejar dua orang perampok tanpa disadarinya telah menyentuh tubuh Kiai Kisi yang terbaring diam. Tiba-tiba saja telah tumbuh suatu rencana dihati salah seorang dari mereka, sehingga berkata, “berhenti. Kita berhenti sampai disini.”
Kawannya-pun berhenti dengan terheran-heran.
“Kita belum tentu akan dapat menangkap keduanya.”
“Maksudmu?”
“Kita kembali ke padukuhan itu.”
Kawannya mengerutkan keningnya sambil mengangguk-angguk kecil.
“Kita akan segera mengakhiri pertempuran setelah kita mengejar perampok itu sampai kejarak yang cukup jauh.”
“Maksudmu?”
“Kita bawa mayat Kiai Kisi.”
“Buat apa?”
“Bukankah Kiai Kisi itu guru pemimpin perampok itu?”
“Ya.”
“Kita dapat mempengaruhi perasaannya, sehingga daya tempurnya akan lenyap sama sekali.”
“Maksudmu?”
“Kita lemparkan mayat ini ketempat pemimpin perampok itu berada.”
“Dimana?”
“Aku kira ia menahan serangan Senapati di gerbang depan. Kita akan menuju kesana.”
Kawannya merenung sejenak. Namun ia-pun kemudian mengangguk-anggukkan kepala sambil berkata, “Rencana yang baik. Marilah kita segera membawanya. Kita tidak tahu, apakah yang terjadi di gerbang itu. Apakah Senapati mampu melawan pemimpin perampok itu atau tidak. Tetapi apabila pemimpin perampok itu melihat mayat ini, ia tidak akan dapat berbuat apa-apa lagi. Seandainya ia masih bertempur terus, itu adalah pertanda bahwa ia ingin membunuh diri.”
Kawannya mengangguk-angguk. Keduanya-pun kemudian segera mengangkat mayat Kiai Kisi dan dibawanya dengan tergesas ke pintu gerbang padukuhan itu.....
Bersambung....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar