Jumat, 29 Januari 2021

SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG JILID 04-01

*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 04-01*

Karya.  : SH Mintardja

“Tohjaya hanya mempergunakan sebuah sudut kecil dari taman yang dipergunakan oleh Ibunda Ken Umang,” sahut Anusapati.

“Tetapi apakah Kakanda pernah membayangkan, bahwa yang datang di arena itu adalah sembarang orang. Aku tidak berkeberatan jika yang datang itu rakyat jelata yang paling rendah martabatnya sekalipun. Tetapi aku berkeratan jika arena itu menjadi ajang percaturan rencana penghambatan tugas Kakanda.”

Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Sekilas teringat olehnya pesan dan laporan yang pernah diberikan oleh Kuda Sempana yang kadang-kadang masih juga datang ke arena sabungan ayam itu.

Tetapi Anusapati tidak berkuasa untuk mencegahnya. Bukan karena ia sama sekali tidak mempunyai kewibawaan lagi. Tetapi justru kelemahannyalah yang telah menahannya untuk berbuat sesuatu. Perasaan bersalah dan dikejar-kejar oleh dosanya.

Namun dengan demikian Anusapati telah membiarkan benalu tumbuh semakin subur di dalam istana Singasari itu, sehingga pada suatu saat akan mencapai puncaknya.

Namun sejalan dengan itu, ternyata Anusapati juga telah menempa putranya, Ranggawuni dan sekaligus kemenakannya, putra Mahisa Wonga Teleng, yang bernama Mahisa Campaka.

Dalam hidup yang rasa-rasanya terlampau tergesa-gesa itu, Anusapati telah berusaha menghabiskan waktunya dengan membentuk kedua anak yang masih terlalu muda itu menjadi dua orang yang perkasa. Ilmu yang diterima dari pamandanya Mahisa Agni, rasa-rasanya dituangkannya kepada kedua anak yang masih sangat muda itu sampai tuntas. Hanya puncak dari ilmunya sajalah yang belum dapat diberikannya karena dalam umurnya yang masih muda itu, keduanya masih belum akan mampu menampung kedahsyatan ilmu yang tiada taranya. Namun apabila keduanya meningkat sedikit lagi, maka mereka akan dengan mudah dapat membajakan diri mereka dengan puncak ilmu itu.

Mahisa Wonga Teleng yang setiap kali masih mencoba memberikan peringatan kepada kakaknya, rasa-rasanya melihat sesuatu yang mencemaskan pada kakaknya. Baru setahun ia memerintah Singasari. Namun rasa-rasanya Anusapati sudah kehilangan segala gairah perjuangannya untuk membuat Singasari semakin berkembang. Memang agak berbeda dengan ayahandanya Sri Rajasa, yang bagaikan api yang menyala-nyala semakin lama semakin besar. Tetapi wajah Singasari di bawah pemerintahan Anusapati rasa-rasanya bagaikan wajah gadis yang ditinggalkan kekasih.

Kadang-kadang sepercik kecurigaan tumbuh juga di hati Mahisa Wonga Teleng bahwa berita yang didengarnya itu benar. Namun kematangan jiwanya kemudian telah membuatnya berpikir dengan tenang, tanpa dikendalikan oleh perasaan melulu.

“Seandainya benar, maka berita itu harus dilengkapi dengan segala macam alasan, kenapa Kakanda Anusapati melakukannya,” katanya di dalam hati. Karena itulah maka akhirnya Mahisa Wonga Teleng yang selalu dicengkam oleh teka-teki itu pun berusaha dengan jalannya sendiri, untuk mencari kebenaran tentang hubungan antara kakandanya Anusapati dan ayahanda Sri Rajasa.

“Tuanku,” berkata seorang tua yang menjadi pemomongnya di masa kanak-kanak, “kenapa Tuanku bertanya tentang Kakanda Anusapati? Tuanku adalah saudara terkasih dari Tuanku Anusapati. Karena itu, sebaiknya Tuanku tidak usah berusaha mencari persoalan yang dapat menimbulkan kegelisahan-kegelisahan apalagi ketegangan-ketegangan baru di dalam istana ini. Ibunda menjadi semakin tua dan lemah. Jika terjadi tuntutan-tuntutan baru di dalam hidupnya yang tersisa, maka itu akan berarti mempercepat akhir dari hidupnya. Cobalah Tuanku bandingkan. Ibunda permaisuri usianya tidak banyak terpaut dari Ibunda Ken Umang. Namun jika Tuanku membandingkan ujudnya, maka seakan-akan Ibunda Ken Umang adalah anak Ibunda Tuanku Ken Dedes. Apakah Tuanku pernah memperhatikannya?”

Mahisa Wonga Teleng mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Aku mengerti. Tetapi aku tidak akan berbuat apa-apa atas Ibunda yang memang sudah sakit-sakitan itu. Seandainya aku mengerti persoalan yang sebenarnya, aku tidak akan memandangnya lebih dari kebenaran itu sendiri.”

Pemomongnya yang memang sudah tua itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi akhirnya ia berkata, “Baiklah Tuanku. Aku kira Tuanku tentu sudah mendengar desas-desus tentang kakanda Tuanku. Jika tidak demikian, Tuanku tentu tidak akan bertanya kepada hamba tentang kakanda Tuanku.”

Mahisa Wonga Teleng mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Demikianlah. Karena itu aku ingin mendengar kebenaran dari peristiwa yang telah terjadi jika kau mengetahuinya.”

“Tuanku,” berkata pemomong yang tua itu, “daripada Tuanku mendengarnya dari orang lain, baiklah hamba akan mengatakannya. Jika Tuanku mendengar dari orang lain, maka selera orang itu akan ikut berbicara.”

Orang itu berhenti sejenak, lalu, “Baiklah Tuanku. Sebenarnyalah bahwa Tuanku dan Tuanku Anusapati hanyalah saudara seibu. Tuanku dan Tuanku Anusapati bersama-sama dilahirkan oleh seorang perempuan yang bernama Ken Dedes. Karena ketika Tuanku Ken Dedes kawin dengan ayahanda Tuanku, sebenarnya bahwa Tuanku Ken Dedes sudah mengandung.”

Mahisa Wonga Teleng yang sudah pernah mendengar cerita itu menahan nafasnya. Sejenak ia mencoba menenangkan hatinya yang bergejolak. Bukan karena cerita itu sendiri, tetapi justru karena ia pernah mendengar, kakaknya Anusapati pernah mengingkarinya.

“Jadi, dengan demikian maka sebenarnya tidak ada hubungan apapun antara Kakanda Anusapati dan Ayahanda Sri Rajasa?”

“Demikianlah Tuanku. Tetapi agaknya Tuanku Anusapati tidak mengetahui bahwa Tuanku Anusapati itu sebenarnya adalah bukan putra Sri Rajasa. Jika seandainya Tuanku Anusapati itu akhirnya mengerti juga, maka hal itu tentu baru terjadi beberapa waktu yang lampau.”

“Jadi Kakanda Anusapati juga tidak mengerti keadaan dirinya sendiri?”

“Aku tidak tahu, apakah demikian keadaannya sekarang. Tetapi hamba pernah mendengar dari emban pemomong Tuanku Anusapati, seorang perempuan tua yang sekarang selalu mendampingi Ibunda Tuanku Ken Dedes, bahwa setiap kali Tuanku Anusapati mengeluh, bahwa rasa-rasanya ia selalu dikesampingkan sebagai anak tiri. Saat itu, Tuanku Anusapati masih belum mengetahui tentang dirinya sendiri. Mungkin kini hal itu sudah diketahuinya. Tetapi jika demikian, apakah yang akan Tuanku lakukan? Hamba sudah memperingatkan, bahwa Ibunda Ken Dedes berada dalam keadaan yang lemah sekarang ini. Tuanku seharusnya mengerti akan keadaan itu.”

Mahisa Wonga Teleng tidak segera menyahut. Berbagai macam perasaan bercampur baur di dalam dadanya, sehingga karena itu rasa-rasanya nafasnya menjadi sesak.

“Tuanku Mahisa Wonga Teleng,” berkata pemomongnya, “memang Tuanku kini berdiri di jenjang tangga yang sulit. Seandainya Tuanku merasa tersinggung karena kematian Ayahanda Sri Rajasa, yang masih belum pasti apakah yang sebenarnya, dan Tuanku akan menuntut balas seperti yang dilakukan oleh beberapa orang yang sebenarnya sudah dapat dibayangkan akan melakukannya, maka Tuanku akan semakin menyiksa hati Ibunda. Karena sebenarnyalah bahwa Ibunda pun merasa dirinya tersisih dari sisi Tuanku Sri Rajasa karena kehadiran Ken Umang yang kemudian melahirkan Tuanku Tohjaya.”

Mahisa Wonga Teleng mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun rasa-rasanya masih ada sesuatu yang bergejolak di dalam dadanya. Bahkan rasa-rasanya seseorang yang tidak dikenalnya pernah berbisik di telinganya, “Tuanku Mahisa Wonga Teleng. Sebenarnya Tuankulah yang paling berhak atas tahta Singasari. Tuanku Anusapati sama sekali bukan putra Tuanku Sri Rajasa karena ia sudah berada di dalam kandungan ketika Ibunda Tuanku Ken Dedes kawin dengan ayahanda Tuanku, sedangkan Tuanku Tohjaya pun tidak berhak atas tahta karena ia tidak lahir dari seorang permaisuri.”

Tetapi Mahisa Wonga Teleng menggeram. Ia sadar bahwa ia sudah didorong ke dalam adu domba yang keji. Di dalam kekalutan itulah sebenarnya orang yang bermaksud buruk dapat mengambil keuntungan.

Namun seakan-akan ia memang terlempar kepada pilihan yang sangat sulit. Apakah ia harus berdiri di sisi ayahandanya, atau di sini ibundanya, karena menurut perhitungannya, sebenarnyalah bahwa ayahandanya telah menyia-nyiakan ibundanya setelah ibundanya meningkat semakin tua, sedang Ken Umang rasa-rasanya masih saja tetap muda.

“Jika aku melepaskan Kakanda Anusapati, karena aku anggap Kakanda Anusapati tidak berhak atas tahta, maka aku akan jatuh di bawah pengaruh Kakanda Tohjaya anak Ken Umang yang telah membuat ibundanya sakit hati,” berkata Mahisa Wonga Teleng selanjutnya.

Karena itu, didorong oleh perasaan tanggung jawabnya, dan sifat-sifat kesatria di dalam dirinya, ia tidak mau berteka-teki. Maka sekali lagi ia bertekad menghadap Kakandanya Anusapati, apapun yang akan dikatakannya. Bahkan kenyataan yang paling pahit pun, jika itu merupakan kebenaran, ia tidak akan lari.

Demikianlah maka sekali lagi Mahisa Wonga Teleng menghadap Kakandanya Anusapati. Ia tidak lagi bertanya tentang sebab-sebab kematian ayahandanya Sri Rajasa, karena siapa pun dapat menyusun cerita yang berbeda-beda menurut seleranya. Jika yang dikatakan oleh Anusapati tidak benar, maka biarlah ia mengatakannya atas kehendaknya sendiri. Yang penting baginya, siapakah sebenarnya kakandanya Anusapati di dalam hubungan darah dengan dirinya.

Anusapati yang mendengar pertanyaan adindanya menarik nafas dalam-dalam. Namun akhirnya ia berkata, “Baiklah Mahisa Wonga Teleng. Memang sudah waktunya aku mengatakan yang aku ketahui tentang diriku.”

Anusapati berhenti sejenak, lalu, “Tentu kau sudah mendengar dari siapa pun siapakah sebenarnya aku dan siapakah sebenarnya kau.”

Dan seperti dapat melihat ke dalam hati Mahisa Wonga Teleng, Anusapati berkata, “Bahkan mungkin Adinda, seseorang dapat meniup-niupkan cerita atau pendapat, bahwa seharusnya kaulah yang paling tepat menggantikan Ayahanda Sri Rajasa, karena sebenarnyalah aku memang bukan putranya. Aku memang agak cemas mengakuinya di hadapanmu, karena dengan demikian akan mungkin sekali terjadi salah paham. Tetapi kau kini memang bukan kanak-kanak lagi. Dan aku harus menyadarinya, sehingga aku tidak pantas untuk berahasia lagi. Sedangkan Tohjaya memang tidak sepantasnya menggantikan kedudukan Ayahanda karena ia tidak dilahirkan dari permaisuri.”

Anusapati berhenti sejenak, lalu, “Tetapi bukannya aku ingin mempertahankan hakku atas tahta ini Adinda, karena sebenarnya kau dan aku tidak ada bedanya. Ketahuilah, bahwa yang sebenarnya berhak atas tahta ini sama sekali bukannya Ayahanda Sri Rajasa. Meskipun yang berhasil mengembangkan Tumapel menjadi Singasari yang besar adalah Ayahanda Sri Rajasa, namun sumber dari kekuasaan itu adalah kekuasaan atas Tumapel yang berada di tangan Ibunda Ken Dedes. Kekuasaan yang diterimanya dari Akuwu Tunggul Ametung sebagai bukti penyesalan bahwa Akuwu Tunggul Ametung telah mengambil Ibunda Ken Dedes dengan paksa dari Panawijen.”

Mahisa Wonga Teleng mendengarkan cerita kakaknya dengan seksama. Dan ternyata Anusapati tidak menceritakan bagian-bagian saja dari peristiwa yang telah terjadi, tetapi Anusapati telah menceritakan seluruhnya. Juga kematian yang dialami oleh Akuwu Tunggul Ametung, Empu Gandring dan Kebo Ijo. Dan Anusapati tidak menyembunyikan sama sekali kebenaran yang terjadi atas dirinya dan atas Sri Rajasa, dan Anusapati pun tidak lagi menyembunyikan nama Pangalasan dari Batil.

“Nah, Adinda, engkau sudah dewasa. Kau dapat menentukan apa saja yang baik bagimu. Ambillah sikap dan katakanlah kepadaku. Apa yang kau kehendaki dariku, aku akan memenuhinya, karena seperti yang sudah aku katakan, bahwa kau dan aku memang tidak ada bedanya, karena di dalam tubuh kita mengalir darah Ibunda Ken Dedes yang sebenarnya berhak atas tahta Singasari.”

Mahisa Wonga Teleng mendengarkan ketegangan kakandanya dengan kepala tunduk. Kini ia tahu apakah yang sebenarnya telah terjadi. Namun dengan demikian ia dapat mengambil kesimpulan dengan hati yang jernih.

Meskipun Anusapati telah membunuh dengan tangannya, ayahandanya Sri Rajasa, namun Mahisa Wonga Teleng tidak dapat mendendamnya, karena perbuatan Anusapati itu tidak berdiri sendiri. Di dalam angan-angannya ia dapat membayangkan, apakah yang sudah terjadi jauh sebelum ia menghadap kakandanya dan mendengar segala cerita tentang pertumbuhan dan perkembangan Singasari.

Sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata, “Aku tidak dapat bersikap lagi dari sikapmu yang sekarang, Kakanda.”

Anusapati mengerutkan keningnya. Dengan berdebar-debar ia bertanya, “Apakah maksudmu Adinda.”

“Aku tidak akan mengubah sikapku kepada Kakanda. Kakanda adalah seorang maharaja bagiku dan seorang saudara tua.”

Mahisa Wonga Teleng berhenti sejenak, lalu, “Yang sudah terjadi adalah urutan peristiwa yang tidak terpisahkan. Dan agaknya putaran roda itu masih belum berhenti, karena menurut penilaianku, Kakanda Tohjaya tidak akan tinggal diam.”

“Tetapi kau sendiri Adinda?”

“Kakanda, memang aku dan Kakanda ternyata tidak lahir dari keturunan ayah yang sama. Tetapi kita adalah seibu, dan terutama Kakanda memang berhak mewarisi tahta. Yang telah terjadi, biarlah terjadi. Aku tidak akan menambah sedih hati Ibunda. Sejak remaja ternyata Ibunda selalu mengalami kepahitan yang tidak terhenti sampai saat tuanya. Apalagi jika aku menambah luka di hati Ibunda karena aku bernafsu untuk berbuat sesuatu oleh kematian Ayahandaku. Karena itu Kakanda, aku berjanji, bahwa aku tidak akan mengubah sikapku. Bukan karena aku melupakan kecintaan seorang anak kepada ayahandanya, tetapi aku memandang persoalannya dari waktu yang panjang sebelum dan sesudahnya.”

“Terima kasih Adinda. Aku yakin bahwa Adinda Mahisa Wonga Teleng memang tidak akan menambah mendung yang kini sedang meliputi langit di atas Singasari. Meskipun dengan demikian bukan berarti bahwa aku tidak menyembunyikan dosa di dalam diriku karena kematian Ayahanda Sri Rajasa.”

“Kakanda. Bagiku, Kakanda Anusapati dan Kakanda Tohjaya mempunyai kedudukan yang sama. Kakanda Anusapati adalah saudaraku seibu, sedang Kakanda Tohjaya saudaraku seayah. Tetapi biarlah aku menimbang beratnya, di dalam keadaan yang sekarang dan berdasarkan hak yang memang ada, aku memilih Kakanda Anusapati. Selain kewenangan Kakanda atas Singasari, maka sebenarnyalah bahwa Ibunda merasa tersisih dari sisi Ayahanda Sri Rajasa. Dan itu sangat menyakitkan hati. Bukan saja bagi Ibunda, tetapi juga bagi kita berdua.”

Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Rasa-rasanya hatinya kini menjadi bertambah lapang setelah ia mengatakan apa yang sebenarnya terjadi kepada Mahisa Wonga Teleng. Seakan-akan beban yang memberati hatinya, kini sudah tertumpahkan. Apalagi ketika Anusapati mengerti, bahwa Mahisa Wonga Teleng menerima yang terjadi itu sebagai suatu keharusan yang wajar, karena hukum putaran.

Demikianlah, maka Mahisa Wonga Teleng pun tidak ragu-ragu lagi menentukan sikap. Namun demikian, ia masih juga berkata kepada Anusapati, “Kakanda. Mungkin masih akan datang kepadaku, orang-orang yang ingin mengeruhkan hubunganku dengan Kakanda. Jika kemudian aku menunjukkan sikap yang lain dari yang aku katakan, maafkanlah aku Kakanda, karena aku tidak sebenarnya bermaksud demikian. Mungkin dengan sikap itu aku akan dapat menemukan sesuatu.”

“Terserahlah kepadamu Adinda. Aku percaya kepada Adinda, karena pada dasarnya aku akan pasrah, apakah yang Adinda kehendaki sebenarnya, itulah yang berlaku, karena aku merasa bahwa aku telah melakukan kesalahan yang maha besar.”

Ketika kemudian Mahisa Wonga Teleng meninggalkan kakandanya, maka rasa-rasanya tidak ada persoalan lagi di dalam dirinya. Semuanya sudah jelas, dan ia tidak perlu lagi selalu meraba-raba di dalam kegelapan.

Namun seperti yang diduganya, maka masih saja ada usaha untuk mencoba mempengaruhinya. Tidak seorang pun yang menyangka bahwa Anusapati sudah menceritakan semuanya yang telah terjadi kepada adiknya.

Seseorang yang tidak dikenal, telah mengunjungi Mahisa Wonga Teleng, seperti yang pernah terjadi. Diceritakannya bahwa sebenarnya yang telah membunuh Sri Rajasa adalah Pangalasan Batil atas perintah Anusapati. Kemudian pangalasan itu sendiri telah dibunuhnya.

“Siapakah yang mengatakannya?” bertanya Mahisa Wonga Teleng, “bukankah yang mengetahui peristiwa itu hanya Ayahanda, Pangalasan Batil dan Kakanda Anusapati? Padahal baik Ayahanda dan Pangalasan itu sudah tidak ada lagi, sehingga satu-satunya saksi adalah Kakanda Anusapati.”

“Tentu Tuanku Anusapati akan ingkar. Tetapi sebenarnyalah ada saksi yang melihatnya. Seorang pelayan dalam yang malam itu bertugas di bangsal Tuanku Sri Rajasa.”

“Apakah kau menjamin bahwa bukan dandang disebutnya kontul dan sebaliknya kontul disebutnya dandang?”

“Tidak Tuanku, tidak.”

“Kenapa ia tidak memberikan kesaksian di muka sidang dan berbicara di bawah wajah dewata, sehingga apabila kata-katanya tidak benar ia akan kena kutuk seribu keturunan.”

“Oh, ya, hamba tidak tahu Tuanku. Tetapi demikianlah kenyataannya.”

Mahisa Wonga Teleng mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu katanya kepada orang itu, “Apakah kau dapat membawa pelayan dalam itu kepadaku?”

“Tentu Tuanku. Hamba akan membawanya menghadap Tuanku, meskipun sampai saat ini pelayan dalam itu selalu bersembunyi. Pelayan dalam itu selalu dikejar oleh perasaan takut, bahwa pada suatu saat ia akan dibunuh oleh Tuanku Anusapati untuk melenyapkan sama sekali jejak pembunuhan itu.”

Mahisa Wonga Teleng masih mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi kini wajahnya tampak berkerut merut. Agaknya ia sedang di cengkam oleh perasaan yang bergejolak di dalam dirinya.

“Bawalah pelayan dalam itu kemari. Aku ingin mendengar pengakuannya.”

“Tetapi apakah Tuanku bersedia melindunginya dari kemurkaan Tuanku Anusapati. Jika Tuanku Anusapati mengetahui bahwa pelayan dalam itu merupakan saksi yang akan dapat berbicara tentang sebab-sebab kematian Tuanku Sri Rajasa dan Pangalasan dari Batil, maka sudah barang tentu, Tuanku Anusapati akan menghilangkan jejak pembunuhan yang pernah dilakukan itu. Meskipun untuk sementara ia berhasil mengelabui rakyat Singasari, tetapi pada akhirnya ia harus memikul akibat dari dosanya itu.”

“Baiklah, aku akan mengusutnya. Tetapi apakah Kakanda Tohjaya sudah mengetahui tentang hal ini?”

Orang itu tergagap sejenak, lalu, “Ampun Tuanku. Hamba sama sekali tidak menghubungi Tuanku Tohjaya, karena Tuanku Tohjaya tentu tidak akan mempunyai kedudukan sekuat Tuanku. Tuanku adalah seorang putra yang lahir dari permaisuri seperti juga Tuanku Anusapati. Sedang Tuanku adalah benar-benar putra Tuanku Sri Rajasa. Tidak seperti Tuanku Anusapati, yang sebenarnya sama sekali tidak mempunyai sangkut paut dengan kekuasaan atas Singasari ini.”

“Baiklah. Aku ingin mendengarnya. Apakah yang sebenarnya terjadi. Tetapi apakah orang itu dapat dipercaya?”

“Tentu Tuanku. Orang itu dapat dipercaya. Aku tahu pasti.”

“Baiklah. Bawalah ia menghadap. Setiap saat, aku akan menerimanya. Dan aku akan melindunginya sejauh dapat aku lakukan.”

Sepeninggal orang itu, maka Mahisa Wonga Teleng pun duduk merenungi keadaan yang berkembang di Singasari. Hari depannya yang panjang tetapi suram dan kemungkinan-kemungkinan lain yang memang dapat terjadi.

Tiba-tiba saja ia mengambil lontar dan menulisnya beberapa baris. Seorang hambanya disuruhnya menyampaikannya kepada Anusapati. Namun dengan pesan, hanya Anusapati sajalah yang dapat menerima lontar itu.

Anusapati menerima lontar itu dengan dada yang berdebar-debar. Namun setelah ia membaca isinya, maka ia pun menarik nafas dalam-dalam. Agaknya ia tidak dapat ingkar lagi dari kejaran sebab dan akibat yang melingkar tanpa ujung dan pangkal.

Anusapati menjadi termangu-mangu ketika seseorang berusaha untuk menghadapnya. Namun didorong oleh keinginannya untuk mengetahui, bahwa orang itu mempunyai sangkut paut dengan lontar Mahisa Wonga Teleng, maka orang itu pun diperkenankan untuk menghadap,

“Tuanku,” sembah orang itu, “ampunkan hamba, bahwa hamba telah menghadap Tuanku tanpa Tuanku kehendaki. Hamba merasa bahwa hamba sama sekali tidak pantas untuk memohon waktu menghadap seperti sekarang ini.”

“Katakanlah, apa keperluanmu?”

“Ampun Tuanku. Sebenarnyalah hamba menjadi cemas bahwa di dalam masa-masa seperti ini, seseorang telah berusaha mengeruhkan keadaan. Hamba mendengar bahwa seorang pelayan dalam telah menghadap Tuanku Mahisa Wonga Teleng. Menurut pendengaran hamba, maka pelayan dalam itu mengaku bahwa ia melihat sendiri peristiwa yang telah terjadi atas terbunuhnya Tuanku Sri Rajasa.”

Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Lalu, “Apa katanya tentang kematian Ayahanda Sri Rajasa?”

“Ampun Tuanku. Bukannya hamba yang mengatakannya, tetapi pelayan dalam itu. Hamba hanya sekedar menirukan saja, karena hamba memang tidak percaya. Bahwa sebenarnyalah Tuanku yang memerintahkan Pangalasan Batil membunuh Tuanku Sri Rajasa, dan Pangalasan itu telah Tuanku bunuh pula.”

Anusapati memandang orang itu dengan tajamnya. Namun kemudian katanya, “Bawalah orang itu menghadap.”

“Ampun Tuanku, tentu hamba tidak berani, karena orang itu berada di dalam perlindungan Tuanku Mahisa Wonga Teleng. Kecuali jika Tuanku sendirilah yang memerintahkan para senapati untuk mengambilnya.”

Anusapati memandang orang itu dengan tajamnya. Lalu, “Apakah orang itu ada di bangsal Mahisa Wonga Teleng?”

“Mungkin sekali Tuanku. Jika tidak, tentu Tuanku Mahisa Wonga Teleng mengetahui di manakah orang itu bersembunyi.”

“Kenapa orang itu bersembunyi?”

“Hamba tidak tahu pasti Tuanku. Tetapi barangkali ia merasa bersalah dengan ceritanya itu, atau agar ia masih dapat bercerita terus dan menyebarkan kebohongan itu kepada orang lain lagi.”

“Baiklah,” berkata Anusapati, “aku akan mengambilnya dari Adinda Mahisa Wonga Teleng. Jika ia berusaha melindunginya, maka aku akan memaksanya, karena akulah Maharaja dari Singasari. Bukan Mahisa Wonga Teleng.”

Dalam pada itu, seperti yang sudah disanggupkan, maka datanglah orang yang pernah mengunjungi Mahisa Wonga Teleng dan mengatakan tentang pelayan dalam yang dapat menjadi saksi dari kematian Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi.

“Ampun Tuanku, hamba telah membawanya menghadap,” berkata orang itu, lalu, “tetapi hamba mohon ampun bahwa pelayan dalam ini mengenakan pakaian sebagai seorang pendeta, karena dengan demikian ia dapat selamat menyusup sampai ke bangsal ini. Jika ia memakai pakaian pelayan dalam, atau memakai pakaian sehari-hari, maka ia akan segera dikenal. Dan itu sangat berbahaya baginya. Jika yang mengenalinya adalah orang yang berpihak dan katakanlah, abdi-abdi setia dan Tuanku Anusapati, maka akibatnya akan parah baginya.”

Mahisa Wonga Teleng mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya, “Kemarilah. Mendekatlah. Kita akan mengadakan pembicaraan penting.”

Orang yang disebut sebagai pelayan dalam itu bergeser maju.

“Siapa namamu?” bertanya Mahisa Wonga Teleng.

“Deksa,” jawab orang itu.

“Kau seorang pelayan dalam?”

“Hamba, Tuanku.”

“Nah, sekarang katakan, apakah kau benar- melihat apa yang telah terjadi. Dan apakah kau bersedia menjadi saksi jika persoalan ini kelak akan dihadapkan pada sidang agung di paseban.”

“Ampun Tuanku. Sebenarnyalah hamba mengetahui apa yang sudah terjadi. Tetapi hamba pun mengetahui, bahwa tidak ada kekuasaan yang lain kecuali kekuasaan Tuanku Maharaja di Singasari. Seandainya hamba harus memberikan kesaksian di paseban, maka suara hamba bagaikan garam yang dilemparkan di lautan. Apalagi hal itu akan dapat membahayakan hidup hamba. Karena itu Tuanku, sebaiknya hamba akan mempergunakannya di mana perlu.”

“Tetapi bagaimana aku harus mempertanggungjawabkan keteranganku di muka sidang agung di paseban. Jangan takut. Aku akan melindungimu. Aku akan mempergunakan pengaruhku sebagai putra Ibunda Permaisuri. Mudah-mudahan Kakanda Tohjaya dapat mengerti.”

Pelayan dalam yang bernama Deksa itu berpaling sejenak memandang kawannya yang membawanya menghadap. Lalu katanya, “Kenapa dengan Tuanku Tohjaya, Tuanku Mahisa Wonga Teleng. Sebenarnyalah bahwa Tuanku Tohjaya tidak mengerti sama sekali apa yang telah terjadi ini.”

“Aku akan menghubunginya. Aku akan mengatakan kepadanya seperti yang kau katakan. Ayahandaku adalah ayahanda Kakanda Tohjaya. Jika demikian kita bersama-sama akan mendendam di dalam hati. Apabila dendam ini telah membara, maka akan meledaklah istana Singasari.”

Orang yang membawa pelayan dalam, dalam pakaian seorang pendeta itu, berkata, “Tetapi Tuanku, Tuanku harus mengingat rakyat Singasari. Sebenarnyalah bahwa Kakanda Tuanku bersalah. Tetapi jika Tuanku menuntut balas, apakah itu akan bermanfaat bagi rakyat?”

Tetapi jawab Mahisa Wonga Teleng justru merupakan pertanyaan pula yang sulit untuk dijawab, “Bagaimana menurut pendapatmu?”

Orang itu terdiam sejenak. Ia tidak segera menemukan jawaban sehingga Mahisa Wonga Teleng mendesaknya, “Bagaimana pendapatmu? Menilik kesediaanmu membawa pelayan dalam itu kemari, maka aku kira kau bukannya sekedar ingin membakar hatiku. Tetapi agaknya kau sudah mempunyai gambaran apa yang sebaiknya terjadi di Singasari.”

Orang itu menjadi berdebar-debar. Namun akhirnya ia menjawab, “Semuanya terserah kepada Tuanku.”

“Jadi apa maksudmu mengatakan kepadaku, bahwa Kakanda Anusapati bukan saudaraku seayah, dan bukan pula putra Ayahanda Sri Rajasa sehingga tidak berhak atas tahta? Dan bahwa dengan demikian Kakanda Anusapati sama sekali tidak mempunyai hubungan darah apapun dengan Kakanda Tohjaya?”

Orang itu tergagap sejenak. Namun kemudian, “Tuanku. Sebenarnyalah hamba adalah seorang yang setia kepada ayahanda Tuanku, Sri Rajasa. Hamba ingin melihat tahta Singasari akan jatuh ke dalam kekuasaan salah seorang putranya. Itulah yang mendorong hamba menghadap untuk mengatakan kebenaran, bahkan membawa seorang saksi kepada Tuanku. Namun selain itu, hamba adalah seorang Singasari yang mencemaskan pergolakan yang dapat terjadi, sehingga menimbulkan persoalan yang panjang dan tidak berkeputusan. Namun jika pergolakan itu kelak akan membawa kebahagiaan bagi Singasari, maka terserahlah kepada pertimbangan Tuanku.”

“Maksudmu, jika aku bertanggung jawab akan akibat yang timbul, maka kau tidak menentang jika aku memberontak?”

“Ah, tentu bukan begitu Tuanku. Bukan maksud hamba Tuanku harus memberontak.”

“Aku bukan seorang yang suka berbicara melingkar-lingkar. Aku lebih senang berbicara langsung pada pokok persoalannya. Mungkin aku dapat memilih kata-kata yang lebih lunak, misalnya, aku dapat mengadakan perbaikan atas keadaan ini. Aku dapat memohon kepada Kakanda Anusapati, agar Kakanda Anusapati, menyingkir dan memberi kesempatan kepada orang yang memang berhak, atau kata-kata lain. Tetapi aku tidak ingin berbicara seperti itu. Jika aku menghadapi Kakanda Tohjaya, maka aku akan berkata terus terang, aku akan merebut kekuasaan. Begitu. Tidak ada tedeng aling-aling. Nah, sekarang apa yang akan kau ceritakan selengkapnya, pelayan dalam yang bernama Deksa?”

Pelayan dalam itu menarik nafas. Sejenak ia memandang orang yang membawanya. Ketika orang itu mengangguk, maka pelayan dalam itu pun mulai menceritakan kesaksiannya. Seperti cerita-cerita yang pernah didengarnya tentang Pangalasan Batil yang membunuh Sri Rajasa, kemudian dibunuh oleh Anusapati. Bagi Mahisa Wonga Teleng cerita itu bahkan telah membuatnya menjadi jemu mendengar. Tetapi ia menahan diri dan membiarkan orang itu berbicara seakan-akan benar-benar suatu kesaksian.

“Demikian Tuanku,” berkata orang yang mengaku sebagai pelayan dalam itu, “hamba melihatnya, tetapi hamba tidak dapat berbuat apa-apa.”

“Kau melihat bagaimana cara pangalasan itu membunuh Ayahanda Sri Rajasa?” bertanya Mahisa Wonga Teleng.

“Hamba Tuanku. Ayahanda Tuanku baru habis bersantap, lalu duduk di serambi bangsal untuk menghirup hawa yang sejuk. Pada saat itulah Pangalasan Batil menyerang tuamku Sri Rajasa dengan keris yang bertuah itu.”

Mahisa Wonga Teleng mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Baiklah. Jika demikian, aku akan berbuat sesuatu. Itu adalah suatu perbuatan yang licik. Terima kasih. Pada suatu saat aku akan memanggilmu. Bagaimana aku dapat menghubungimu. Mungkin aku memerlukan kesaksian ini di hadapan beberapa orang. Mungkin di hadapan Kakanda Tohjaya, atau di hadapan orang-orang yang dapat kita bawa berbicara tentang masalah ini.”

“Hamba akan selalu menghadap Tuanku,” berkata orang yang membawa pelayan dalam itu.

“Baiklah, bagaimana aku memanggilmu dan di mana kau tinggal di dalam istana ini?”

“Hamba tinggal di luar istana Tuanku. Panggil saja hamba Abi.”

“Abi. Ya, tetapi di mana aku harus mencarimu jika kau tidak datang, padahal keadaan memaksa?”

“Hamba sering berada di tempat sabungan ayam di taman sebelah, di hadapan Tuanku Tohjaya.”

“Oh, baiklah. Aku akan mencarimu jika aku perlukan.”

Demikianlah maka kedua orang itu mohon diri. Namun masih sekali lagi orang yang menyebut dirinya Abi itu berkata, “Ampun Tuanku. Hamba berdua benar-benar mohon perlindungan dari tangan Kakanda Tuanku Anusapati yang apabila mengetahui maka hamba berdua tentu akan dihukum gantung. Kakanda Tuanku itu tidak pernah mengampuni orang yang dianggapnya bersalah.”

“Jangan takut. Aku selalu melindungimu.”

“Terima kasih, Tuanku.”

Dengan dada yang berdebar-debar Mahisa Wonga Teleng memandang kedua orang yang meninggalkan bangsalnya itu. Menurut penilaiannya yang berpakaian pendeta memang seorang prajurit. Atau jika bukan, ia tentu menguasai ilmu olah kanuragan yang baik. Langkahnya yang mantap dan dadanya yang tengadah adalah pertanda bahwa ia memiliki kemampuan jasmaniah yang baik. Sedang yang seorang, yang membawanya itu pun tentu mempunyai sangkut paut. Bahkan mungkin orang itu adalah gurunya atau orang-orang yang memiliki kemampuan yang tinggi, tetapi tidak dalam lingkungan keprajuritan di Singasari.

Dalam pada itu, Anusapati rasa-rasanya menjadi semakin jauh dari ketenangan. Ia merasa bahwa sehari-hari ia selalu dilingkungi oleh ketidakpuasan, dendam dan kebencian. Orang-orang yang ada di sekelilingnya seakan-akan telah menuduhnya membunuh ayahanda Sri Rajasa karena ketamakannya, karena ia ingin segera menguasai tahta di Singasari. Dan yang lebih memberatkan perasaannya adalah hatinya sendiri yang tidak dapat menahan penyesalan atas peristiwa yang sudah terjadi. Kadang-kadang ia juga berusaha melupakannya seperti yang pernah dilakukan oleh Ken Arok. Ken Arok tidak pernah menghiraukan apa yang sudah dilakukannya. Bahkan seakan-akan tidak pernah terjadi sesuatu setelah kematian Empu Gandring, Kebo Ijo dan Akuwu Tunggul Ametung.

Anusapati menjadi semakin bimbang, ketika pada suatu saat Tohjaya datang menghadapnya, hatinya menjadi terguncang. Meskipun adindanya itu menghadap sambil menundukkan kepalanya, namun rasa-rasanya bara api memancar dari ke-duabelah matanya.

“Kakanda,” berkata Tohjaya sambil menunduk dalam-dalam, “Ampun Kakanda, bahwa Adinda memberanikan diri menghadap Kakanda tanpa Kakanda panggil.”

“Kau bebas berada di istana ini Tohjaya. Bukankah kita bersama-sama telah menghuni istana ini sejak kita masih kanak-kanak?”

“Terima kasih Kakanda. Kakanda memang berhati selapang lautan, yang dapat memuat segala arus air dari seribu sungai yang betapapun keruh airnya.”

Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Pujian itu justru bagaikan duri yang menyentuh jantungnya.

“Kakanda,” berkata Tohjaya kemudian, “sudah setahun lebih Ayahanda Sri Rajasa terbunuh oleh keris Empu Gandring. Tetapi Ibunda Ken Umang dan bahkan aku sendiri, masih belum pernah melihat dengan jelas, bagaimanakah bentuk keris Empu Gandring yang terkenal itu. Karena itu Kakanda, jika Kakanda tidak berkeberatan, apakah aku dapat meminjamnya barang satu dua hari. Aku dan Ibunda Ken Umang, yang kini bernaung di bawah belas kasihan Kakanda, ingin melihat, pusaka yang pernah menghabisi jiwa Ayahanda itu.”

Dada Anusapati serasa berdesir. Tetapi ia berusaha untuk menghapuskan kesan apapun dari wajahnya.

Selintas terbayang wajah Sri Rajasa yang pernah tersentuh keris itu sehingga menyebabkannya meninggal. Bahkan kemudian terbayang pula tubuh-tubuh yang berlumuran darah yang mendahului Sri Rajasa, Meskipun Anusapati belum pernah melihat wajah-wajah itu, tetapi rasa-rasanya Anusapati dapat membayangkan betapa mereka didera oleh perasaan sakit hati dan dendam di saat-saat terakhir dari hidup mereka. Seperti juga Sri Rajasa yang dicengkam oleh perasaan ganda. Di satu pihak ia mengutuk Anusapati, tetapi kadang-kadang terucapkan dari mulutnya di saat nyawanya sudah berada di ujung ubun-ubun, pujian dan harapan kepada anak tirinya itu.

Karena itu untuk beberapa saat Anusapati ragu-ragu, sehingga karena ia tidak segera menjawab, maka Tohjaya mendesaknya, “Kakanda. Aku dan Ibunda Ken Umang memang ingin melihatnya. Aku mengharap bahwa Kakanda tidak berkeberatan aku membawanya untuk beberapa saat saja kepada Ibunda Ken Umang.”

“Adinda Tohjaya. Keris itu bukan keris kebanyakan. Aku pun tidak pernah melihatnya lagi setelah aku menyimpannya. Ada kengerian yang amat sangat jika aku melihat darah yang membeku pada daun keris itu. Darah dari beberapa orang yang terdahulu dari Ayahanda Sri Rajasa, dan kemudian darah Ayahanda Sri Rajasa sendiri.”

Tohjaya menundukkan kepalanya. Sejenak kemudian kepala itu terangguk-angguk kecil. Katanya, “Keinginan itu memang tidak berhingga besarnya. Demikian juga Ibunda Ken Umang. Tetapi jika Kakanda memang berkeberatan, apa boleh buat. Agaknya aku memang tidak akan dapat melihat senjata pembunuh Ayahanda itu.”

Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Sesuatu bergejolak di dalam hatinya. Seakan-akan ia berdiri di simpang jalan. Jika ia memilih jalan yang satu, ia akan tersesat masuk ke dalam jurang yang dalam. Sedang jika ia memilih jalan yang lain maka ia akan jatuh ke dalam sungai yang banjir bandang.

Anusapati menjadi gelisah, ia dapat menolak permintaan itu. Tetapi dengan demikian akan dengan mudah dipergunakan oleh orang-orang yang sengaja ingin mengacaukan kedudukannya.

Tentu orang-orang itu akan mengatakan, bahwa ia memang bersalah. Ia tentu telah memerintahkan seseorang membunuh Sri Rajasa dengan keris itu, yang kemudian telah dibunuhnya pula. Kini ia menjadi ketakutan untuk menyerahkan keris itu, meskipun hanya sekedar dilihat saja, kepada adiknya, putra yang sebenarnya dari Sri Rajasa.

Tetapi jika ia memberikan keris itu, maka Anusapati merasa bahwa hidupnya memang terancam. Ia tidak dapat menjamin bahwa sebenarnya Tohjaya tidak akan mendendam lagi atas kematian ayahanda. Apalagi akhir-akhir ini selalu dibisikkan berita, bahwa Anusapati telah membunuh Sri Rajasa dengan meminjam tangan orang lain.

Selagi Anusapati merenungi kesulitannya, maka Tohjaya pun kemudian berkata, “Ampun Kakanda. Biarlah aku mohon diri. Aku akan mengatakannya kepada Ibunda Ken Umang, bahwa Kakanda berkeberatan menunjukkan keris itu. Keris yang menurut beberapa orang, terlalu bagus buatannya, tetapi masih belum selesai seluruhnya. Masih ada yang kurang, dan karena itulah maka keris itu mempunyai bentuknya yang khusus.”

Anusapati menarik nafas dalam-dalam.

“Sudahlah Kakanda. Aku mohon maaf, bahwa aku sudah memberanikan diri memohon kepada Kakanda untuk meminjam keris itu.”

Anusapati masih tetap dicengkam keragu-raguan. Jika ia tidak memberikannya, maka seakan-akan Tohjaya itu memandangnya dengan tatapan mata yang memancarkan tuduhan yang pasti, bahwa ia memang telah membunuh ayahandanya.

Dalam keragu-raguan yang mencengkam itu, maka Tohjaya pun mulai bergeser sambil berkata, “Kakanda, hamba mohon diri.”

“Tunggulah,” berkata Anusapati kemudian, “aku tidak ingin kau salah paham.”

“Maksud Kakanda?” bertanya Tohjaya.

“Jika aku tidak memberikan keris itu, berarti bahwa aku menghormati kematian ayahanda dan orang-orang sebelumnya, yang mengalami nasib serupa.”

Dada Anusapati tergetar ketika ia melihat Tohjaya tersenyum sambil menjawab, “Aku mengerti Kakanda. Memang keris itu terlampau keramat untuk aku bawa menghadap Ibunda Ken Umang.”

“Tidak, bukan begitu,” cepat-cepat Anusapati memotong, “tetapi keris itu mempunyai ceritanya tersendiri. Eh, maksudku, memang keris itu terlalu keramat. Sebaiknya keris itu disimpan untuk tidak disentuh lagi. Bahkan sebaiknya keris yang rasa-rasanya seperti selalu haus darah itu dimusnahkan saja.”

“Aku sependapat Kakanda.”

“Maksudmu?”

“Aku sependapat jika keris itu dimusnahkan. Jika tidak maka ia akan menusuk sekali lagi orang yang sebenarnya bersalah atas Ayahanda Sri Rajasa. Tetapi jika orang itu bernama Pangalasan Batil dan sudah dibunuh oleh Kakanda, maka orang yang menyuruh pangalasan itulah yang akan menjadi sasaran. Karena itu, sebaiknya keris itu memang dimusnahkan.”

Sekali lagi dada Anusapati tergetar. Seakan-akan Tohjaya sudah memastikan bahwa sebenarnya ia sendirilah yang telah membunuh ayahandanya itu. Karena itu, maka rasa-rasanya darahnya telah bergejolak karena kegelisahan yang menghentak-hentak jantungnya.

Untuk beberapa saat lamanya Anusapati justru merenung. Merenungi dirinya sendiri dan merenungi masa depan Singasari.

Namun yang akan terjadi akan terjadilah.

Karena itu, maka Anusapati pun berkata kepada dirinya sendiri, “Tidak ada seorang pun yang dapat mengelakkan diri dari sentuhan maut apabila memang sudah waktunya.”

Dengan demikian maka akhirnya Anusapati pun mengambil keputusan untuk memberikan keris itu kepada Tohjaya. Ia tidak dapat lagi menentang perasaan yang berkecamuk di dalam dirinya. Dan tidak seperti Sri Rajasa, yang pernah tinggal di padang Karautan dan pernah menjadi pembunuhan besar, perampok dan pemerkosa, Anusapati tidak dapat ingkar dan melupakan bahwa sebenarnya ia telah membunuh Sri Rajasa.

“Tohjaya,” berkata Anusapati kemudian, “baiklah, jika kau dan Ibunda Ken Umang ingin melihat keris yang telah merampas hidup Ayahanda. Tetapi jangan disimpan keris itu terlampau lama. Segera serahkan kembali keris itu kepada Kakanda. Aku akan memusnahkannya agar keris itu tidak lagi menuntut kematian demi kematian, sebagai akibat noda darah yang sudah terlanjur melekat pada keris itu.”

“Baiklah Kakanda. Hamba akan segera mengembalikannya.”

Dengan hati yang berdebar-debar, maka Anusapati pun bangkit dari tempatnya. Dengan ragu-ragu ia melangkah ke dalam biliknya dan mengambil keris yang disimpannya baik-baik.

Ketika Anusapati meraba keris itu, terasa tangannya menjadi gemetar. Ada sesuatu yang menahannya untuk memberikan keris itu kepada Tohjaya. Tetapi ia tidak dapat melakukannya, karena desakan kegelisahan perasaannya, seakan-akan ia tidak memberikan keris itu karena ia merasa bersalah.

Karena itu, betapa hatinya dicengkam oleh keragu-raguan, namun keris itu diambilnya juga dan diberikannya kepada adiknya.

“Inilah keris itu Tohjaya,” berkata Anusapati sambil memberikan keris itu kepada Tohjaya.

Tohjaya tiba-tiba saja menjadi gemetar menerima keris itu. Keris yang selama ini tersimpan rapat. Keris yang telah mengambil jiwa ayahandanya. Apapun yang dikatakan oleh orang lain, namun Tohjaya tetap berpendapat bahwa Anusapati telah membunuh Sri Rajasa dengan keris Empu Gandring itu. Apalagi setelah Tohjaya mendengar, siapakah sebenarnya Anusapati dan cerita tentang tahta Tumapel yang jatuh kepada Ken Arok yang kemudian bergelar Sri Rajasa, karena perkawinannya dengan Ken Dedes.

“Keris itu adalah keris yang sakti,” berkata Anusapati.

Tohjaya mengerutkan keningnya. Tentu tidak ada orang yang dapat menyentuh keris itu selain Anusapati atau orang-orang lain yang sangat dekat padanya. Seandainya tidak demikian, maka ceritanya tentu akan bermula lain sama sekali dengan yang pernah didengarnya.

Tetapi Tohjaya tidak dapat bertanya lebih jauh tentang semuanya itu. Ia hanya dapat menduga-duga saja apa yang telah terjadi sebenarnya. Dan Anusapati pun tidak pernah membantah, bahwa kematian Sri Rajasa disebabkan oleh jenis senjata yang lain. Bukan oleh keris itu, justru karena Anusapati tidak dapat melakukan kebohongan yang sempurna seperti Ken Arok.

Ketika keris Empu Gandring itu sudah berada di tangannya, maka rasa-rasanya Tohjaya tidak dapat menahan diri lagi. Ingin rasa-rasanya ia berbuat sesuatu dengan keris itu. Ia sadar bahwa ia berkewajiban untuk menuntut balas atas kematian ayahandanya itu. Kematian yang seakan-akan masih saja disaput dengan kabut rahasia, tetapi yang bagi Tohjaya sudah merupakan suatu kepastian dan keyakinan bahwa Anusapatilah yang melakukannya, meskipun ia harus meminjam tangan orang lain. Dan keris ini pulalah yang telah dipergunakannya untuk membunuh ayahanda Sri Rajasa.....

Bersambung.... !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...