*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 21-03*
Karya. : SH Mintardja
“Kau tidak mandi?” bertanya Mahisa Agni.
“Jika kau mandi, aku tidak akan beristirahat. Biarlah, nanti jika fajar mulai mewarnai langit, aku akan bangun dan mandi dua kali lipat.”
Mahisa Agni tertawa. Kejengkelan Mahisa Bungalan ternyata membuatnya justru seperti sedang bergurau.
Namun Mahisa Bungalan benar-benar tidak bangkit lagi. Bahkan ia meluruskan kakinya dan memejamkan matanya tanpa menghiraukan apapun lagi.
Mahisa Agni dan Witantra ternyata tidak berbuat seperti Mahisa Bungalan. Mereka berdua pergi juga ke sumur untuk mencuci tubuhnya yang kotor oleh keringat dan debu. Bahkan kemudian mereka pun tidak segera berbaring seperti Mahisa Bungalan. Untuk beberapa saat lamanya mereka masih duduk dan bercakap-cakap.
Dalam pada itu, meskipun Mahisa Bungalan sudah berbaring pula, tetapi sebenarnya ia belum tertidur pula. Bahkan rasa-rasanya ia ingin memaksa agar kedua pamannya itu pun segera berbaring dan tertidur.
Tetapi Mahisa Agni dan Witantra justru masih saling berbicara beberapa lamanya.
Ternyata bahwa Mahisa Agni dan Witantra masih cukup lama duduk berbicara di atas tikar pandan itu, sehingga kemudian seorang anak muda mendekatinya untuk mempersilahkan mereka makan.
“Anak muda keparat itu lagi” desis Mahisa Bungalan, “Dan agaknya kedua paman itu sengaja menunggu anak muda itu untuk mempersilahkan. Tetapi aku tidak akan bangun dan pergi kemanapun juga untuk makan.”
Tetapi di luar dugaan Mahisa Bungalan, maka Mahisa Agni pun menjawab, “Maaf Ki Sanak. Kami sudah sangat lelah, sehingga kami tidak akan ingin berjalan lagi meskipun hanya selangkah. Sementara itu, biarlah persediaan itu kami makan besok pagi saja. Bukannya kami tidak bersedia menerima kemurahan hati Ki Buyut, tetapi hanya sekedar menunda beberapa lama lagi, karena sebenarnyalah malam pun akan segera digeser oleh kemerahan fajar.”
Anak muda itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Apakah kami harus membawanya kemari Ki Sanak?”
“Itu pun tidak perlu. Biarlah kami yang akan datang. Tetapi tidak sekarang. Nanti pagi-pagi benar kami akan datang ke rumah Ki Buyut sebelum kami meneruskan perjalanan.
Orang itu ragu-ragu sejenak. Namun kemudian katanya, “Baiklah Ki Sanak. Kami akan menyampaikannya kepada Ki Buyut.
Ketika anak muda itu pergi, maka Mahisa Bungalan berdesis, “Apakah paman tidak menyakiti hatinya.”
“Aku tidak menolak. Aku hanya minta ditunda saja sampai besok”
“jika demikian, sekarang tidurlah. Nanti sebentar lagi tentu Ki Buyut sendirilah yang akan datang kemari untuk memaksa paman berdua pergi kerumahnya. Tentu paman berdua tidak akan dapat menolaknya.”
Mahisa Agni tersenyum. Jawabnya, “Mudahkan dugaanmu itu tidak benar.”
Tetapi belum lagi Mahisa Agni mengatupkan mulutnya, Mahisa Bungalan sudah menyahut, “Kita bertaruh.”
Witantra lah yang menyahut, “Apakah taruhanmu?”
“Sisa malam ini. –
“Maksudmu?”
“Jika aku benar, maka aku akan tidur nyenyak, dan paman berdua harus berjaga-jaga sampai pagi. Tetapi jika aku salah, maka akulah yang akan bangun sampai kita meninggalkan padukuhan ini besok.”
Mahisa Agni dan Witantra tertawa.
“Baiklah Mahisa Bungalan” berkata Mahisa Agni, “kita mempertaruhkan sisa malam ini.”
Tetapi belum lagi Mahisa Agni mengakhiri kata-katanya, seperti yang diduga oleh Mahisa Bungalan, maka Ki Buyut pun lelah naik ke pendapa pula.
“Kenapa kalian tidak mau menerima tanda terima kasih kami?” Bertanya Ki Buyut.
“Ha” bisik Mahisa Bungalan, “paman akan berjaga-jaga semalam suntuk.”
Mahisa Agni memandanginya sejenak sambil tersenyum. Namun jawabnya kemudian, “Bukan menolak Ki Buyut. Tetapi sebenarnyalah bahwa aku sangat berterima kasih atas pemberian itu. Namun, baiklah kiranya tanda terima kasih itu dapat kami terima besok pagi.”
“Mumpung nasi masih panas.”
“Terima kasih Ki Buyut. Anak muda itu sudah tertidur.”
“Apakah Ki Sanak tidak dapat membangunkannya sejenak?”
“Anak itu jika sudah tidur seperti juga jika ia berkelahi. Tetapi kami sama sekali tidak menolak. Besok di saat fajar mulai merah, aku akan menerima semuanya dengan senang hati.”
“Tetapi sudah dingin” Sahut Ki Buyut.
Mahisa Agni memandang Witantra sejenak. Namun kemudian katanya, “Terima kasih Kiai. Besok pagi-pagi benar, aku akan datang bersama kedua kawanku ini..”
“O, tentu Ki Sanak tidak usah pergi kemanapun juga. Kami akan mengirimkannya kemari”
“Kami tidak ingin membuat Ki Buyut menjadi bertambah sibuk.”
“Tentu tidak. Tentu tidak.”
Mahisa Agni tidak dapat menolaknya lagi, jika besok pagi-pagi benar ada beberapa orang membawa makan pagi.
Sepeninggal orang itu, maka Mahisa Bungalan berkata perlahan-lahan, “Aku menang paman. Sisa-sisa malam ini adalah milikku sepenuhnya dan paman berdua akan berjaga-jaga semalam suntuk sebagai hasil kemenangan taruhan kami.”
Mahisa Agni dan Witantra tersenyum. Sejenak mereka memandang kegelapan. Kemudian Witantra pun berkata, “Ki Buyut masih ada di halaman. Jika ia melihat bahwa kau tidak benar-benar tidur, maka ia merasa dibohongi.”
Ia sudah jauh. Ia tidak akan mendengar percakapan ini.
“Mungkin ia tidak mendengar. Tetapi dari kejauhan ia dapat melihat, sedang kita tidak dapat melihatnya di dalam pekatnya malam”
Mahisa Bungalan pun mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia berkata, “Paman dapat mengatakan, bahwa aku ternyata telah terbangun.”
Mahisa Agni hanya tersenyum saja mendengarkannya. Tetapi kemudian ia pun memotong percakapan itu, “Nah, menurut taruhan yang sudah kita setujui, sekarang tidurlah. Biarlah kami tetap duduk dan bercakap-cakap saja di sini. Kami memang tidak mengantuk.”
“Terima kasih paman” Sahut Mahisa Bungalan sambil membetulkan letak kakinya.
Namun tiba-tiba ia pun bangkit sambil berkata, “Jadi paman berdua akan tetap duduk saja?”
“Ya kenapa? Itu akan lebih baik daripada aku harus berbaring, jika demikian, mungkin kami berdua pun akan tertidur pula.”
“Ah, sebaiknya paman juga tidur. Jika paman duduk saja semalam suntuk, maka orang-orang padukuhan ini tentu akan selalu saja mengganggu dengan menawarkan segala macam makanan dan minuman.”
Mahisa Agni dan Witantra tertawa. Bahkan Witantra berkata, “Sebenarnyalah kami mengharapkannya. Apakah keberatanmu sebenarnya?”
“Harga diri paman.”
“Bukan harga diri. Tetapi kau benar-benar sedang merajuk.
“Ah,”
“Jadi apakah kami harus tidur?” tiba-tiba saja Mahisa Agni bertanya.
Mahisa Bungalan tertawa. Jawabnya, “Ya Paman berdua harus tidur seperti aku. Setidak-tidaknya berbaring.”
Keduanya pun tertawa pula. Witantra lah yang menjawab, “Baiklah. Kami akan berbaring dan tidur nyenyak di pendapa ini Mudah-mudahan orang berilmu hitam yang pernah datang kemari tidak mengganggu kami selagi kami masih tidur nyenyak-
Mahisa Bungalan mengerutkan keningnya. Namun katanya kemudian, “Aku tidak akan dapat tidur. Baiklah. Aku akan berjaga-jaga jika orang-orang berilmu hitam itu datang. Aku akan membunuh mereka dua kali lipat. Mereka sudah mengganggu padukuhan ini dan hampir saja menjerumuskan aku ke tiang hukuman picis.”
“Tetapi menurut perhitunganku mereka tidak akan kembali lagi” Berkata Mahisa Agni, “Setidak-tidaknya untuk waktu yang dekat ini.”
Mahisa Bungalan memandang kedua pamannya berganti-ganti seolah-olah ia ingin mendapat persamaan pendapat dari keduanya.
“Ya” Sahut Witantra kemudian, “Aku sependapat meskipun kita masih harus tetap berhati-hati.”
Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Namun kemudian ia berkata pula, “Silahkan tidur nyenyak paman. Aku tentu tidak akan dapat tidur malam ini. Udara panas, dan hatiku pun masih tetap hangat.”
Mahisa Agni dan Witantra berpandangan sejenak. Namun keduanya pun segera membaringkan dirinya di sebelah Mahisa Bungalan,
Namun demikian, ternyata ketiga-tiganya tetap tidak memejamkan matanya. Rasa-rasanya mereka tidak akan dapat mengantuk lagi justru setelah mereka berbaring.
Di luar malam rasa-rasanya menjadi semakin dingin. Angin yang lembab berhembus menyentuh tubuh-tubuh yang terbaring diam, namun yang sama sekali tidak tertidur itu.
Dalam pada itu Mahisa Bungalan yang gelisah tiba-tiba berdesis, “Ada dua tiga orang yang berkeliaran di halaman banjar ini paman?”
“Ya” jawab Witantra, “Tetapi mereka adalah peronda-peronda yang dikirim oleh Ki Buyut.”
“Dari mana paman mengetahuinya?”
“Sikapnya yang tenang dan langkahnya yang tetap. Jika mereka orang-orang jahat, maka langkah kakinya tentu memberikan kesan sikap yang berbeda.”
Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Pamannya pun tentu hanya mendengar desir kaki dan tidak melihat orangnya karena pamannya pun masih saja berbaring memandang atap banjar itu. Tetapi dugaanya itu tentu tepat sekali, karena langkah yang didengar memang tidak mencerminkan kegelisahan.
Tetapi belum lagi mereka merasa mapan berbaring di atas tikar pandan itu, mereka telah mendengar suara ayam jantan yang berkokok menjelang fajar. Langit yang menjadi kemerahan telah menguakkan kegelapan yang pekat.
Lamat-lamat pepohonan mulai nampak semakin jelas. Regol halaman banjar yang terbuka dan dua orang yang berdiri di muka regol. Sedang seorang yang lain, duduk di atas sebuah batu di ujung halaman.
Perlahan-lahan mereka melangkah keluar pintu. Demikian pula yang duduk itu pun berdiri dan melangkah pula keluar.
“Mereka meninggalkan halaman” desis Mahisa Bungalan.
“Kau memperhatikannya?” Bertanya Mahisa Agni, “Atau barangkali kau curiga?”
“Merekalah yang curiga,”
“Tentu tidak. Apakah yang dapat mereka lakukan?” Mahisa Bungalan termangu-mangu sejenak. Dipandanginya orang yang melangkah semakin jauh dan kemudian hilang di balik pintu regol itu.
“Apakah kerja mereka sebenarnya?” Bertanya Mahisa Bungalan.
Mahisa Agni pun kemudian duduk di sebelah Witantra yang telah duduk pula. Sejenak ia memandang ke pintu regol yang terbuka. Lalu katanya , “mereka adalah peronda-peronda yang harus menjaga banjar ini, ada atau tidak ada kita disini.”
“O” Mahisa Bungalan mengangguk-angguk.
Sejenak kemudian maka cahaya langit pun menjadi semakin cerah. Padukuhan itu pun menjadi terbangun pula dari tidur mereka yang gelisah.
Orang-orang laki-laki di padukuhan itu, hampir tidak sempat pulang ke rumah masing-masing. Ada satu dua di antara mereka yang sekedar memberitahukan kepada keluarga mereka, apa yang telah terjadi, agar keluarga mereka tidak menjadi gelisah dan ketakutan.
“Jadi ada seorang yang dapat memecahkan batu padas itu hanya dengan tangannya saja?”
“Ya”
Dan kekaguman itu pun menjalar dari setiap mulut ke mulut yang lain.
Dalam pada itu, Mahisa Agni dan Witantra pun segera pergi ke pakiwan untuk membersihkan dirinya, sementara Mahisa Bungalan nampaknya masih agak malas untuk bangun. Tetapi karena cahaya pagi yang semakin terang, maka ia pun kemudian bangkit pula dan menyusul kedua pamannya yang sedang membersihkan dirinya
Ketika mereka bertiga kembali ke pendapa, mereka telah dikejutkan oleh hadirnya beberapa orang yang membawa makanan dan minuman bagi ketiga orang yang mengagumkan itu.
“Bukankah kami tidak memerlukannya” Desis Mahisa Bungalan.
“Perlu atau tidak perlu, marilah kita menerimanya dengan hati terbuka. Kapankah sebenarnya kau mudah sekali dihinggapi perasaan sakit hati seperti itu?”
“Tingkah laku mereka sudah keterlaluan.”
“Ternyata mereka kini telah menyesal” Desis Witantra.
Mahisa Bungalan memandang Witantra sejenak, lalu katanya, “Baiklah paman. Tetapi perlakuan yang menyakitkan hatiku sekali lagi, tidak akan dapat aku maafkan”
“Begitu?” Bertanya Mahisa Agni.
Mahisa Bungalan. hanya menarik nafas panjang. Tetapi ia tidak menyahut.
Sejenak kemudian ketika Ki Buyut dan beberapa orang bebahu datang, maka mereka pun segera duduk berkeliling di atas tikar panjang. Ki Buyut dari ujung bukit itu pun hadir pula. Tetapi tidak dengan anaknya.
Hampir di luar sadarnya, Mahisa Bungalan pun bertanya, “Dimanakah putra-putra Ki Buyut itu?”
Ki Buyut mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia pun menjawab, “Mereka sudah mendahului pulang Ngger. Tetapi mereka berpesan, bahwa mereka mohon maaf atas kekeliruan yang telah mereka lakukan, seperti aku sendiri juga akan mohon maaf pula.”
Mahisa Bungalan terdiam sejenak. Dipandanginya wajah kedua pamannya berganti-ganti
Sekilas ia melihat senyum yang membayang di wajah kedua orang pamannya itu. Namun ia tidak segera dapat menjawab kata-kata Ki Buyut itu
Mahisa Agni lah yang kemudian berkata, “Ki Buyut. Yang telah lalu, baiklah kita melupakannya. Mudahkan untuk selanjutnya Ki Buyut dan seluruh penghuni padukuhan ini, maupun padukuhan di ujung bukit itu tidak segera bertindak sebelum persoalannya diketahui dengan pasti.”
Kedua Buyut itu mengangguk-angguk.
“Tetapi sebagai peringatan, bahwa masalahnya memang dapat membahayakan, padukuhan-padukuhan ini jangan meninggalkan kewaspadaan” Mahisa Agni berhenti sejenak, lalu, “Kami mengerti bahwa yang telah terjadi telah menggoncangkan sendi kehidupan di padukuban ini sehingga sikap kalian pun rasa-rasanya sukar dikendalikan. Tetapi kalian tidak dapat bertindak membabi buta seperti itu”
“Ya Ki Sanak. Sebenarnya karena ketakutan yang tidak tertahankanlah yang membuat kami kehilangan pengendalian diri.”
“Kami mengerti. Tetapi hampir saja orang lain kau kurbankan tanpa berbuat kesalahan apapun juga.”
“Itulah kekhilafan kami. Dan kami dengan ikhlas mohon maaf.”
Mahisa Agni mengangguk-angguk- Namun kemudian katanya, “Tetapi baiklah kami beritahukan bahwa sebenarnya kalian tidak akan dapat berbuat apa-apa jika ketiga orang yang telah merusakkan padukuhan ini tiba-tiba saja kembali ke daerah ini.”
“Kenapa? Pada saat itu kami benar-benar? tidak menduga bahwa kekejian itu akan terjadi. Karena itulah maka agaknya kami tidak bersiaga melawannya.”
Mahisa Agni termangu-mangu sejenak. Namun ketika ia memandang wajah Witantra yang terangguk kecil, maka ia pun kemudian berkata, “Ketahuilah Ki Buyut kedua-duanya, bahwa tiga orang yang membunuh dua orang di padukuhan ini dengan cara yang khusus itu adalah orang-orang yang disebut berilmu hitam.”
“He?” Orang-orang yang mendengarnya terkejut , “dari mana Ki Sanak mengetahuinya?” Bertanya Ki Buyut dari padukuhan di sebelah hutan.
Suasana pun kemudian menjadi tegang. Beberapa orang yang berada di tempat itu memandang Mahisa Agni dengan tajamnya.
“Kami mengetahui dari keterangan yang telah kalian berikan kepada kami. Kematian yang mengerikan dengan kulit yang tersayat bahkan seolah-olah terkelupas adalah pertanda yang paling meyakinkan, bahwa pembunuhnya adalah orang-orang berilmu hitam itu.”
Wajah-wajah yang nampak menjadi tegang telah menggelitik perasaan Mahisa Bungalan, sehingga tiba-tiba saja ia bertanya, “Apakah kalian mencurigai kami lagi hanya karena kami mengetahui atau membenarkan ceritera tentang pembunuhan itu?”
“Bukan, bukan maksud kami Ki Sanak” sahut Ki Buyut dari sebelah hutan itu dengan serta merta, “Tetapi kami menjadi bertanya-tanya di dalam hati, apakah ciri-ciri pembunuhan yang demikian memang sudah dikenal dimana-mana.”
“Ya” Witantra lah yang menyahut, “seperti yang telah dikatakan, bahwa kematian itu disebabkan oleh bekas tangan orang-orang berilmu hitam.“
Orang-orang yang mendengarkan itu pun mengangguk-angguk.
“Bukankah kalian pernah mendengar serba sedikit tentang orang berilmu hitam?” bertanya Witantra
“Ya. Satu dua orang penghuni padukuhan ini yang baru saja kembali dari mengunjungi sanak kadangnya di padukuhan lain mendengar serba sedikit tentang orang berilmu hitam. Tetapi pada umumnya mereka tidak dapat menyebutkan secara terperinci.”
“Mungkin. Tetapi bahwa orang-orang berilmu hitam itu dapat berbuat sesuatu tanpa menghiraukan perikemanusiaan, telah kalian alami disini.”
Kedua Buyut yang ada di banjar itu mengangguk-angguk.
Namun terdengar seseorang bertanya, “Apakah mungkin mereka akan kembali?”
Witantra mengerutkan keningnya Lalu katanya, “Tentu saja kami tidak mengetahuinya. Mungkin ia akan lewat pula di padukuhan ini. Bahkan mungkin ia mendengar peristiwa yang telah terjadi disini, bahwa seorang anak muda telah melakukan pameran kekuatan justru untuk menghindari korban yang sia-sia.”
“Apakah mereka akan menaruh perhatian?”
“Mudah-mudahan mereka memperhitungkannya, agar mereka tidak berbuat sewenang-wenang.”
“Atau bahkan sebaliknya” desis yang lain.
“Mudah-mudahan tidak. Mudah-mudahan mereka menyalurkan kemarahan mereka kepada kami dan mencari kami, karena sebenarnyalah bahwa kami pun berkepentingan dengan mereka.”
“Apakah yang dapat kami katakan tentang kalian jika orang-orang berilmu hitam itu kembali atau sekedar lewat saja di padukuhan ini? Jika mereka mendengar hal-hal yang kalian lakukan disini, tentu mereka ingin mengetahui, siapakah kalian,”
Mahisa Agni dan Witantra berpandangan sejenak. Baru kemudian Witantra menjawab. “Baiklah. Seperti yang sudah kami katakan, kami adalah hamba istana Singasari. Kami memang mendapat tugas untuk melihat-lihat daerah yang terpencil seperti padukuhan ini.”
“Jadi kalian benar-benar prajurit?”
“Kami tidak berbohong. Anak muda ini bukan prajurit istana, tetapi kedudukannya hampir tidak ada bedanya, karena ia pun mengemban tugas Baginda di Singasari.”
Kekecewaan dan penyesalan nampak di wajah-wajah yang tegang di pendapa banjar padukuhan itu.
Sementara itu, Witantra pun berkata, “Dan anak muda itu adalah anak muda yang bernama Mahisa Bungalan.”
“He-” seorang yang berkumis lebat tiba-tiba mengangkat kepalanya, “Aku pernah mendengar nama itu ketika aku pergi ke padukuhan kadangku yang agak jauh.”
“Apakah yang kau dengar tentang nama itu?”
“Mahisa Bungalan. Ya, Mahisa Bungalan pembunuh orang-orang berilmu hitam.”
Semua orang berpaling kepadanya. Dan orang itu menegaskan, “Mahisa Bungalan dan Linggadadi. Aku ingat sekarang. Siapakah dari kalian yang bernama Linggadadi?”
Witantra menarik nafas dalam-dalam. Agaknya nama Mahisa Bungalan seolah-olah tidak dapat dipisahkan dengan nama Linggadadi. Meskipun maksudnya tidak demikian, tetapi justru keduanya seakan-akan merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan.
“Suatu perkembangan warta yang salah” berkata Mahisa Bungalan di dalam hatinya, “Lebih baik pada suatu ketika aku bertemu dengan Linggadadi dan menyelesaikan masalahnya dengan tuntas, supaya namaku tidak selalu dihubungkannya dengan namanya.”
Dalam pada itu Witantra lah yang menjawab, “Tidak ada Yang bernama Linggadadi diantara kami. Linggadadi adalah orang lain sama sekali yang tidak mempunyai sangkut paut dengan Mahisa Bungalan”
“Tetapi yang aku dengar, bahwa Mahisa Bungalan dan Linggadadi adalah pembunuh orang berilmu hitam.”
“Mungkin keduanya melakukan. Tetapi tentu saja dengan pertimbangan dan tujuan yang berbeda. Mahisa Bungalan adalah petugas yang memikul kewajiban dari Baginda di Singasari, sedang Linggadadi adalah seorang yang berjuang dalam persaingannya dengan orang-orang berilmu hitam.”
“O, keterangan yang aku dengar lain sekali. Keduanya telah bertempur bersama-sama dan telah membunuh puluhan orang berilmu hitam.”
Mahisa Agni dan Witantra saling berpandangan sejenak. Memang hampir setiap orang di daerah itu menyangka demikian. Seolah-olah Mahisa Bungalan dan Linggadadi telah bertempur bersama-sama untuk membunuh orang-orang berilmu hitam,
“Apakah berita yang sampai ke telinga kami itu tidak benar?” Bertanya Ki Buyut dari padukuhan di ujung bukit’
“Tidak benar” Jawab Mahisa Bungalan dengan tegas.
“Jadi bagaimanakah sebenarnya?”
Mahisa Bungalan memandang Mahisa Agni dan Witantra berganti-ganti. Agaknya keduanya mengerti bahwa Mahisa Bungalan agak menjumpai kesulitan untuk menjawab.
“Ki Buyut” berkata Witantra, “sudah aku katakan bahwa mungkin keduanya melakukan. Mungkin, keduanya memang pembunuh orang berilmu hitam, tetapi dengan tujuan yang berbeda. Mahisa Bungalan sama sekali tidak mempunyai sangkut paut dengan Linggadadi. Bahkan keduanya pernah bertempur di Singasari”
“O, sungguh aneh.”
“Tetapi sebaliknya kalian mempercayainya, karena yang ada di hadapan kalian sekarang adalah orang yang bernama Mahisa Bungalan itu sendiri.”
Ki Buyut mengangguk-angguk. Demikian pula orang-orang lain yang mendengarnya.
Baru sejenak kemudian Ki Buyut dari sebelah hutan berkata, “Tentu kami mempercayainya. Beruntunglah bahwa kami telah mendengar langsung dari orang yang berkepentingan.”
“Terima kasih Ki Buyut” Sahut Witantra, “Kami tidak berkeberatan jika apabila orang-orang berilmu hitam itu datang dan bertanya sesuatu tentang pendengarannya atas kejadian semalam, katakanlah terus terang bahwa telah datang di padukuhan ini, Mahisa Bungalan dan dua orang pamannya”
“Apakah keuntungannya?” Bertanya seorang yang lain.
“Mudah-mudahan dengan demikian orang-orang berilmu hitam itu menumpahkan segenap perhatiannya kepada kami dan tidak sempat mencoba mengganggu kalian. Karena sebenarnyalah mereka pun harus mengakui bahwa Mahisa Bungalan memang pembunuh orang berilmu hitam seperti Linggadadi, tetapi dengan tujuan yang berbeda.”
“Terima kasih” desis Ki Buyut dari padukuhan di sebelah hutan, “Kami dapat mengerti. Dan kami akan selalu menyebut namamu. Mudah-mudahan dapat memberikan pengaruh atas orang-orang berilmu hitam itu, karena mereka memang harus memperhitungkan Mahisa Bungalan pembunuh orang berilmu hitam.”
“Tetapi membunuh bukanlah tujuanku” tiba-tiba saja Mahisa Bungalan memotong, “meskipun aku bertemu dengan orang-orang berilmu hitam, tetapi tidak melakukan sesuatu yang dapat menimbulkan kericuhan dan malapetaka, aku akan menghindari benturan Apalagi pembunuhan.”
“Kami dapat mengerti” jawab Ki Buyut dari ujung bukit, “Dan kami sudah menyaksikan, betapa kalian bertiga dengan sungguh-sungguh berusaha menghindarkan korban yang jatuh karena kebodohan kami.”
“Sudahlah,” Sahut Mahisa Agni, “berhati-hatilah di lain kali.”
Orang dari padukuhan di ujung bukit dan di sebelah hutan serta beberapa orang dari padukuhan-padukuhan di sekitamya yang ikut berkerumun di banjar itu mengangguk-angguk.
Namun dalam pada itu, Ki Buyut dari padukuhan di tepi hutan itu pun berkata, “Ah, kami terlampau banyak berbicara. Sekarang kami ingin mempersilahkan kalian makan dan minum sekedarnya, menurut apa yang ada di padukuhan kami. , “
Mahisa Agni dan Witantra, di luar sadarnya memandang wajah Mahisa Bungalan. Namun keduanya pun tersenyum ketika mereka melihat Mahisa Bungalan mengangguk.
“Terima kasih Ki Buyut” jawab Mahisa Agni.” kami akan menerima segala pemberian ini dengan perasaan terima kasih yang setulus-tulusnya”
Mahisa Bungalan menggigit bibirnya.
“Jauh daripada memuaskan” Sahut Ki Buyut dari padukuhan di ujung bukit, “Tetapi hendaknya dapat memadai.”
Satu demi satu orang-orang yang berkerumun di banjar itu pun menyingkir. Mereka kemudian memberi kesempatan kepada ketiga orang itu untuk makan tanpa terganggu.
Sambil makan Mahisa Bungalan masih saja bergumam, “Adalah berbahaya sekali tindakan yang tergesa-gesa itu. Tetapi apakah orang-orang berilmu hitam itu masih akan kembali paman? Dan kenapa mereka tiba-tiba saja berada di tempat ini?”
“Tentu saja kami tidak tahu” Jawab Mahisa Agni, “Tetapi menilik arah perjalanan yang ditempuhnya, maka ia menuju ke suatu tempat, justru di dekat Kota Raja atau jika mereka berjalan terus, mereka akan menuju ke tempat yang jauh sekali.”
“Mungkin mereka sengaja mendekati Kota Raja.” Berkata Witantra, “Tentu saja dengan tujuan tertentu yang belum kita ketahui.”
Yang lain mengangguk-angguk. Namun kemudian Mahisa Bungalan berkata, “Jika terjadi kematian dan pembunuhan seperti ini, maka agaknya akan mudah bagi kita untuk menemukan jejak mereka.”
“Mungkin. Tetapi tentu tidak selalu mereka melakukan pembunuhan di tempat-tempat yang mereka lalui. Jika tidak ada persoalan yang memaksa, mereka pun tentu tidak akan membunuh, kecuali di saat-saat mereka melakukan pemujaan. Dan itu pun agaknya mereka lakukan di tempat-tempat khusus.”
Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Katanya, “Ya, mereka membuat semacam sanggar seperti yang aku lihat di padukuhan yang dikenal sebagai daerah bayangan hantu”“
Mahisa Agni dan Witantra pun ikut mengangguk-angguk pula. Mereka pernah mendengar ceritera Mahisa Bungalan tentang daerah bayangan hantu. Dan mereka pun pernah mendengar ceritera tentang kebiasaan orang-orang berilmu hitam itu dalam upacara-upacara yang sejalan dengan ilmu dan kepercayaan mereka.
Untuk beberapa saat mereka pun kemudian saling berdiam diri, seolah-olah mereka sedang memusatkan perhatian mereka kepada hidangan yang ada di hadapan mereka, meskipun sebenarnya hidangan itu tidak menarik.
Namun agaknya Ki Buyut dari padukuhan di pinggir hutan yang merasa bersalah terhadap ketiga orang itu, sudah berusaha untuk dapat memberikan hidangan yang sebaik-baiknya-Mereka telah memotong beberapa ekor ayam yang paling gemuk. Nasi yang paling putih dan dimasak oleh juru madaran yang paling baik.
“Paman” Berkata Mahisa Bungalan, “Setelah kita menghabiskan hidangan ini, apakah yang akan kita lakukan?”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya, lalu katanya, “Apakah kita akan mempunyai rencana lain?”
“Tentu tidak. Tetapi barangkali ada sesuatu yang perlu kita kerjakan?”
Mahisa Agni menggelengkan kepalanya. Katanya, “Aku tidak mempunyai rencana apa-apa.”
Witantra pun menyahut, “Kita akan langsung menuju ke Panawijen dan barangkali ke Padang Karautan. Bukankah kita akan melihat padukuhan itu dan barangkali kolam yang tentu sudah tidak seindah saat dibuatnya Tetapi kenangan yang akan tumbuh mungkin akan jauh lebih indah dari peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi sebenarnya.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak mengatakan apa-apa.
“Lalu bagaimanakah dengan orang-orang berilmu hitam itu?”
“Kita akan pergi sesuai dengan rencana kita. Jika di perjalanan kita bertemu, maka kita akan menentukan sikap.”
Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah paman- Untuk sementara kita akan melupakan orang-orang berilmu hitam itu. Tetapi jika di perjalanan kita menjumpai peristiwa seperti yang terjadi di padukuhan ini, tentu tidak akan dapat tinggal diam.”
Demikianlah, setelah mereka bertiga selesai makan dan minum, maka mereka pun kemudian minta diri kepada orang-orang yang datang kembali ke pendapa.
Kedua Buyut yang ada di antara mereka mencoba untuk menahan barang satu dua malam. Tetapi ketiga orang itu tetap pada rencananya untuk meneruskan perjalanan mereka ke padang Karautan.
Beberapa orang, termasuk kedua Buyut itu, mengantarkan mereka sampai ke regol padukuhan. Kemudian mereka melepaskan ketiga orang itu menempuh perjalanan, melintasi bulak yang panjang yang mulai dihangatkan oleh cahaya matahari yang menjadi semakin tinggi.
Dalam pada itu, selagi Mahisa Agni, Wirantra dan Mahisa Bungalan menempuh perjalanan ke Panawijen, maka di arah yang lain tiga orang sedang berpacu pula. Justru menuju ke Kota Raja, meskipun mereka tidak akan memasuki kota itu.
“Kita tidak boleh melakukan pembunuhan lagi” Berkata Empu Baladatu kepada kedua orang pengawalnya.
“Kenapa Empu. Mereka yang tidak mau membantu kita, apa salahnya kita binasakan. Sebenarnya aku ingin membunuh lebih banyak lagi” Jawab pengawalnya.
“Itu adalah satu kebodohan. Dengan demikian maka orang-orang yang sengaja mencari kita akan dengan mudah menemukan jejak kita.”
Kedua orang pengawalnya mengerutkan keningnya, yang seorang kemudian bertanya, “Jadi apakah kita akan dibiarkan diri kita diperlakukan dengan semena-mena?”
“Tidak ada orang yang memperlakukan kita semena-mena. Kita selalu mendapat tempat yang baik dan sambutan yang ramah jika kita juga berlaku ramah.”
“Tetapi padukuhan di pinggir hutan itu telah menerima kita dengan penuh prasangka.”
“Tidak” Jawab Empu Baladatu, “Kalian yang menjadi gila melihat gadis-gadis cantik di padukuhan itu. Itulah sebabnya, maka telah terjadi peristiwa yang dapat menjadi jejak perjalanan kita. Apalagi kalian telah membunuh korbanmu dengan ciri yang dapat memperkenalkan kita.”
“Tidak ada orang yang mengetahuinya. Atau seandainya mereka mengetahuinya, biarlah mereka mengerti, dengan siapa mereka berhadapan.”
“Dan kau kira, untuk seterusnya tidak ada orang; lain yang mungkin melalui padukuhan itu?”
Kedua pengawalnya tidak menjawab. Mereka mengerti, bahwa Empu Baladatu terlalu berhati-hati menghadapi Mahisa Bungalan dan Linggadadi yang disebut pembunuh orang-orang berilmu hitam. Bahkan di dalam hati pengawal-pengawal itu berkata, “Sebenarnyalah aku ingin segera bertemu dengan orang yang disebut Mahisa Bungalan dan Linggadadi itu.”
Tetapi mereka tidak dapat mengatakan kepada Empu Baladatu, karena agaknya Empu Baladatu mempunyai pertimbangan lain. Ia akan menyatukan kekuatannya dengan kakaknya, baru kemudian dengan yakin menghancurkan Iawan-lawannya- Tentu saja yang pertama-tama adalah Mahisa Bungalan dan Linggadadi, yang menurut dugaan Empu Baladatu, keduanya mungkin sekali berdiri di antara kekuatan prajurit-prajurit Singasari sehingga untuk menghadapi keduanya diperlukan susunan kekuatan yang memadai.
Dengan demikian, maka kedua pengawal itu tidak mempunyai pilihan lain kecuali mentaati perintah itu. Mereka harus bersikap baik di sepanjang perjalanan. Menahan diri dan sama sekali menyembunyikan ciri-ciri yang ada pada ilmu mereka.
Jika mereka masih harus bermalam di perjalanan, maka mereka bertiga telah benar-benar menjadi orang-orang yang baik dan tahu diri. Mereka sama sekali tidak menumbuhkan kesulitan apapun di tempat-tempat yang mereka singgahi.
Karena itulah, maka tidak ada lagi orang yang dengan ketakutan dan kengerian yang sangat, menangisi satu atau dua orang keluarga mereka yang menjadi korban seperti yang telah terjadi di padukuhan di sebelah hutan itu. Bahkan satu dua orang telah memuji mereka sebagai orang-orang yang mengerti dan mematuhi unggah-ungguh.
Bahkan di beberapa tempat, Empu Baladatu telah dengan rendah hati memberikan beberapa pertolongan kepada beberapa orang yang memerlukannya. Dengan bekal ilmu yang ada padanya ia telah berhasil menyembuhkan beberapa orang sakit yang dijumpainya di perjalanan.
Kelicikan Empu Baladatu itulah yang ternyata telah berhasil menghapus jejaknya. Tidak seorang pun yang pernah dijumpainya di perjalanan menduga, bahwa orang yang barambut putih itu adalah orang pertama pada perguruan ilmu hitam yang mulai akan berkembang lagi.
Demikianlah, maka Empu Baladatu itu pun dengan selamat sampai ke rumah kakaknya. Sebuah padepokan kecil yang nampaknya tenang, dikelilingi oleh daerah yang hijau. Pategalan dan sawah yang subur, yang menjadi sumber hidup dari isi padepokan itu.
Semula Empu Baladatu ragu-ragu untuk memasuki padepokan itu. Selama ini ia merasa bahwa dirinya memiliki kemungkinan yang lebih luas dari kakaknya. Empu Baladatu merasa bahwa ilmunya memiliki kekuatan yang lebih besar dari ilmu yang manapun juga, termasuk ilmu yang dikuasai oleh kakaknya.
“Apakah aku akan datang kepadanya dan memberikan tempat yang lebih baik baginya?” Bertanya Empu Baladatu kepada diri sendiri. Namun yang kemudian dijawabnya, “Tidak. Aku akan tetap memiliki kelebihan. Yang aku perlukan adalah kerja sama. Kekuatanku masih belum cukup untuk melawan prajurit Singasari. Itu bukan berarti bahwa akan berada di bawah kemampuan siapa pun juga.”
Sekilas terbayang oleh Empu Baladatu padepokan yang di tinggalkannya. Tidak terlampau besar meskipun lebih besar dari padepokan kakaknya. Murid-muridya pun tidak terlalu banyak. Tetapi jika datang saatnya ia harus bangkit, maka dengan cepat ia akan dapat mengumpulkan kekuatan. Dengan menghasut dan menakut-nakuti, maka ia akan menghimpun pasukan untuk melawan Singasari. Murid-muridnya adalah Senapati-senapati yang baik yang akan dapat mengimbangi para Senapati dari Singasari.
“Aku akan menghimpun kekuatan di seputar Kota Raja. Jika murid-muridku mampu menunjukkan kelebihan mereka dari prajurit-prajurit Singasari, maka tidak terlalu sulit untuk mendapat jumlah prajurit yang diperlukan.” berkata Empu Baladatu di dalam hatinya, “bukankah dengan memberikan janji dan sedikit harapan, banyak orang yang akan melibatkan diri?”
Empu Baladatu akhirnya menetapkan hatinya untuk memasuki padepokan kakaknya.
Namun langkahnya terhenti ketika ia melihat dua orang yang bertubuh tegap dan kekar berdiri di sebelah regol padepokan itu, sambil bersilang tangan di dada, keduanya memandang Empu Baladatu dengan kedua pangawalnya dengan tanpa berkedip.
Empu Baladatu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun mengangguk hormat sambil bertanya, “Apakah benar ini padepokan Empu Sanggadaru dan bergelar Naga Liar?”
Kedua orang itu saling berpandangan sejenak. Kemudian yang seorang bertanya, “Siapakah Ki Sanak?”
“Aku adalah Empu Baladatu. Jika kakang Empu Sanggadaru ada, sampaikan hormatku. Dan sampaikan permohonanku untuk menghadap.”
Kedua orang itu masih saja nampak ragu-ragu.
“Jika Ki Sanak ingin mengetahui” Berkata Empu Baladatu kemudian, “Aku adalah adiknya. Tetapi siapakah Ki Sanak berdua ini?”
“Kami adalah murid-murid dari perguruan ini”
“O” Empu Baladatu mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Jadi apakah kakang Sanggadaru ada?”
“Marilah” Berkata salah seorang dari kedua orang itu, “Masuklah ke padepokan kami.”
Empu Baladatu ragu-ragu. Dan bahkan ia bertanya lagi, “Apakah kakang Empu Sanggadaru ada di padepokan?”
Sekali lagi salah seorang dari kedua orang itu mempersilahkan tanpa menjawab pertanyaannya, “Silahkan Empu masuk ke padepokan.”
Sejenak Empu Baladatu termangu-mangu. Namun kemudian ia memberi isyarakat kepada kedua pengawalnya.
Mereka bertiga pun kemudian mengikuti kedua orang itu memasuki halaman padepokan yang nampak bersih dan terawat rapi. Di seberang sebuah halaman yang luas, nampak sebuah rumah kecil, tetapi lengkap. Beberapa puluh langkah di sebelah rumah itu, terdapat pula sebuah rumah yang lain. Sementara di bagian belakang dari halaman padepokan itu terdapat beberapa rumah pula di seputar lapangan yang tidak begitu luas.
Empu Baladatu menarik nafas dalam-dalam. Padepokannya ternyata lebih luas dari padepokan itu. Tetapi padepokan ini mempunyai kesan yang lebih semringah.
Warna dedaunan dan bunga-bunga yang tajam rasa-rasanya membuat suasana di padepokan itu menjadi lebih hidup dan gairah dari pada warna-warna yang kusam dan gelap. Kolam yang berair bening dengan warna-warna putih dari beberapa ekor angsa yang berenang, rasa-rasanya memercikkan ketenangan tersendiri.
Empu Baladatu termangu-mangu sejenak. Dari wajah padepokannya ia seolah-olah melihat isi hati kakaknya yang sudah agak lama tidak pernah dijumpainya.
“Apakah ia sekarang lebih senang tinggal di padepokannya yang tenang ini tanpa berbuat apapun juga?” Pertanyaan itu telah meloncat di hatinya, “Dan apakah dengan demikian berarti kedatanganku akan sia-sia?”
Tetapi Empu Baladatu masih akan tetap mencoba mengatakan niatnya. Tentu di padepokan ini terdapat beberapa orang yang dapat bersama-sama dengan beberapa orang muridnya untuk menandingi para Senapati di Singasari.
Dengan dada yang berdebar-debar, maka mereka pun memasuki pintu penyekat di samping pendapa. Dengan demikian mereka pun telah memasuki longkangan di depan gandok.
Mereka mengerutkan kening, ketika tiba-tiba saja pintu butulan di dinding penyekat itu seolah-olah tertutup dengan sendirinya. Bahkan kemudian selarak yang nampaknya berada di luar, terdengar menyilang.
“Apa artinya ini” Desis Empu Baladatu.
Salah seorang dari kedua orang yang membawanya itu berpaling. Tetapi ia tidak menjawab.
Sejenak Empu Baladatu termangu-mangu. Bahkan kedua pengawalnya saling berpandangan dengan penuh curiga. Dengan hati-hati mereka maju selangkah demi selangkah. Sedang hampir tanpa mereka sadari, tangan mereka telah berada di hulu senjata masing-masing.
Sejenak kemudian mereka telah memasuki serambi samping. Namun nampaknya rumah yang tidak terlampau besar itu sangat lengang, seolah-olah sama sekali tidak berpenghuni.
Dari sela-sela pintu, Empu Baladatu melihat beberapa ekor binatang buruan yang sudah dikeringkan. Dua ekor harimau. Kijang dan seekor orang hutan yang besar. Bahkan di antara binatang-binatang itu terdapat pula binatang-binatang kecil, seperti kancil dan pelanduk berbintik-bintik.
Empu Baladatu menarik nafas dalam-dalam. Ketika mereka menyusup pintu serambi dan memasuki bagian belakang rumah itu, langkah mereka tertegun. Di atas serambi belakang, pada pengeret kayu jati, membelit seekor ular raksasa. Tetapi ternyata ular itu pun telah mati dan dikeringkan pula.
“Seorang pemburu yang ulung” Desis Empu Baladatu.
Agaknya kedua orang yang membawanya itu pun mendengar, sehingga mereka berpaling sejenak. Tetapi keduanya sama sekali tidak menyahut.
Namun kemudian keduanya berhenti di muka sebuah pintu yang menghubungkan serambi belakang dengan ruangan dalam.
“Duduklah Empu. Aku akan menyampaikan kedatangan Empu kepada guru.”
Empu Baladatu memandang kedua orang itu berganti-ganti. Namun ia tidak dapat menangkap kesan apa pun di wajah mereka.
“Silahkan Empu” Sekali lagi salah seorang dari keduanya itu pun mempersilahkannya duduk.
Empu Baladatu mengangguk sambil menjawab, “Terima kasih.”
Kedua orang itu pun segera meninggalkan Empu Baladatu bersama kedua pengawalnya. Mereka membuka pintu yang tertutup itu dan sejenak kemudian mereka telah hilang di dalamnya. Sejenak kemudian, kedua pintu itu pun telah tertutup pula.
Empu Baladatu termangu-mangu sejenak. Di hadapannya terdapat sebuah amben bambu yang dibentangi dengan sebuah tikar pandan yang panjang.
Tetapi Empu Baladatu tidak mau duduk di amben itu. Rasa-rasanya padepokan itu menyimpan banyak hal yang tidak diketahuinya.
Sekali-kali ia memandang pintu yang tertutup itu. Tetapi untuk beberapa saat lamanya, pintu itu tetap tertutup rapat.
Kedua pengawalnya pun rasanya menjadi gelisah pula. Namun tanpa mereka sadari, mereka bertiga telah berada di tempat yang terpencar.
Wajah Empu Baladatu yang tegang menjadi semakin tegang. Rambutnya yang putih bergerak disentuh angin.
Sejenak mereka bertiga memandang ke longkangan belakang dari rumah itu. Sebuah kebun yang terawat pula seperti halaman depan. Seperti yang nampak dari halaman, maka di belakang rumah itu terdapat sebuah lapangan kecil yang dilingkari oleh beberapa rumah yang lain. Namun ternyata bagian-bagian dari halaman dan kebun itu terdapat dinding-dinding penyekat yang rendah.
“Rumah yang tidak besar itu, agaknya menjadi pusat dari padepokan ini” Berkata Empu Baladatu di dalam hatinya. Memang agak berbeda dengan padepokannya. Padepokan itu ditandai dengan sebuah rumah yang besar di tengah-tengahnya lengkap dengan gandok dan dapur serta sederet di bagian belakang, yang dihuni oleh beberapa orang pelayan dan juru masak. Baru kemudian terdapat beberapa buah rumah magersari di bagian belakang, di seberang kebun yang ditanami dengan pohon buah-buahan. Tetapi halaman depan padepokannya, ternyata tidak seluas halaman depan padepokan kakaknya ini.
Beberapa saat mereka masih harus menunggu. Bahkan kemudian rasa-rasanya kesabaran Empu Baladatu menjadi semakin tipis.
“Aku tidak tahu, apakah aku benar-benar masuk ke dalam padepokan kakakku” Berkata Empu Baladatu di dalam hatinya, “Atau barangkali orang lain telah mengusirnya dan merampas padepokan ini dengan seluruh isinya.
Empu Baladatu tiba-tiba saja teringat kepada orang-orang yang pernah menggemparkan Singasari. Kesatria Putih, kemudian Mahisa Agni, Witantra dan beberapa orang yang lain. Terakhir nama Lembu Ampal pun mulai dikenal.
“Apakah salah seorang dari mereka berada di padepokan yang tidak jauh dari Kota Raja ini dan mengusir kakang karena dianggap berbahaya?”
Untuk beberapa saat Empu Baladatu masih harus berteka-teki, sampai saatnya seseorang keluar dari pintu yang satu itu.
Orang ini bukannya orang yang tadi masuk membawa Empu Baladatu bersama pengawalnya. Tetapi orang ini adalah orang yang nampaknya lebih tua.
Dengan hormatnya orang itu mengangguk dalam” sambil berkata, “Apakah aku berhadapan dengan Empu Baladatu?”
“Ya” Sahut Empu Baladatu yang hampir kehilangan kesabaran, “Aku adalah Baladatu. Siapakah kau?”
Bersambung..... !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar