Kamis, 28 Januari 2021

BARA DI ATAS SINGGASANA JILID 28-03

BARA DI ATAS SINGGASANA : JILID-28-03
Tetapi Mahisa Agni tidak dapat memperhitungkan sikap apakah yang akan diambil oleh Sri Rajasa. Karena itu, maka ia tidak segera melihat kemungkinan yang dapat dilakukan. Agar perwira itu segera pergi meninggalkan bangsalnya maka ia pun segera menjawab, “Perintah Sri Rajasa aku junjung-tinggi. Besok aku akan menghadap di paseban dalam.”

“Baiklah kakang. Aku hanya menyampaikan perintah.”

“Dan perintah itu sudah aku terima.”

Perwira itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Memang ia hanya mendapat tugas untuk menyampaikan perintah, dan perintah itu memang sudah diterima.

Karena itu maka perwira itu pun segera minta diri. Dan itulah memang yang dikehendaki oleh Mahisa Agni. Semakin cepat menjadi semakin baik.

Sepeninggal perwira itu, maka Mahisa Agni pun menarik nafas dalam-dalam. Sebentar lagi beberapa orang akan memasuki bangsalnya. Karena itu, maka tidak boleh ada orang lain lagi yang akan memasuki bangsalnya.

Mahisa Agni pun kemudian pergi ke ruang depan. Meskipun pintu bangsal itu sudah tertutup, tetapi dari luar masih tampak di sela-sela dinding, bahwa lampunya masih menyala dengan terangnya. Karena itu, maka Mahisa Agni pun kemudian memadamkan lampu itu sama sekali.

Beberapa orang prajurit yang bertugas didepan bangsal itu pun segera melihat, bahwa ruang depan bangsal Mahisa Agni itu sudah menjadi gelap.

“Mahisa Agni itu sudah akan pergi tidur,” berkata salah seorang prajurit.

“Ya, ternyata ia sendirilah yang seperti ayam,” jawab prajurit yang lain.

“Kenapa seperti ayam?”

“Bukankah ketika kita bertanya, apakah ia akan berjalan malam-malam begini ia menjawab, bahwa kita ini seperti ayam saja, yang sudah pergi tidur sejak senja turun.”

Kawan-kawannya pun tertawa. Katanya, “Memang sudah cukup malam untuk pergi tidur.”

Yang lain pun terdiam. Mereka memang menyangka bahwa Mahisa Agni akan segera pergi tidur.

Namun tidak seorang pun dari mereka yang mengetahui, apa yang akan dilakukan oleh Mahisa Agni itu. Mereka tidak menyangka bahwa akan ada beberapa orang yang dengan diam-diam memasuki halaman bangsal itu dan kemudian memasuki bangsal Mahisa Agni dari belakang.

Sejenak Mahisa Agni masih menunggu. Tetapi ia yakin bahwa orang-orang itu pasti akan datang menemuinya.

Ternyata Mahisa Agni tidak perlu menunggu terlampau lama. Sejenak kemudian ia mendengar pintu butulan di belakang berderit, dan muncullah beberapa orang memasuki bangsalnya.

“O,” bisik Mahisa Agni, “aku sudah menduga bahwa kalian pasti akan datang.”

Witantra tertawa. Katanya, “Kami merasa wajib datang malam ini seperti yang kau kehendaki. Jika tidak perlu sekali maka kau tentu tidak akan memanggil kami bersama-sama.”

“Sebenarnya tidak perlu sekali. Tetapi memang aku memerlukan kalian di dalam keadaan seperti ini. Aku kira kita memang sudah mulai memanjat kepuncak persoalannya sehingga semuanya akan segera berakhir. Karena itu, maka kita ini pun harus segera mengambil sikap.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya, “Kami sadar akan hal itu.”

“Tetapi dimana Sumekar?” bertanya Mahisa Agni.

“Ia mengantar sampai kebelakang bangsal ini. Tetapi ia berkata bahwa ia ingin pergi untuk suatu keperluan sebentar.”

“He?” Mahisa Agni menjadi heran, “kemana?”

“Kami tidak tahu. Tetapi katanya hanya sebentar saja.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Baiklah sambil menunggu Sumekar, aku ingin berbicara sedikit. Ternyata bahwa Sri Rajasa sudah menyiapkan sebuah kekuatan untuk melaksanakan niatnya yang barangkali dengan kekerasan. Ia tidak dapat menghindar lagi dari tuntutan Ken Umang dan Tohjaya.”

“Memang Sri Rajasa didorong oleh keadaan yang sulit yang hampir tidak dapat dihindari. Namun bagaimana mungkin ia dengan tergesa-gesa mengangkat Anusapati menjadi Pangeran Pati, dan kemudian ingin melemparkannya?”

“Ada beberapa kemungkinan. Ia ingin menghilangkan golongan yang bagaimana pun juga masih mengagumi Tunggul Ametung. Karena sebagian dari mereka mengetahui bahwa Anusapati adalah putera Tunggal Ametung, maka dengan diangkatnya Anusapati maka pengikutnya tidak akan berbuat terlampau banyak. Termasuk kau Witantra.”

Witantra tersenyum. Tetapi ia tidak menjawab.

Dan Mahisa Agni pun meneruskan, “Agaknya kini Sri Rajasa yakin bahwa pengikut Tunggul Ametung sudah lenyap sama sekali. Kehadiranmu dikota ini memang banyak menimbulkan persoalan. Tetapi diantaranya mereka menganggap bahwa dendammu tertuju kepadaku. Apalagi karena kau hanya sekali dua kali muncul dan tidak menimbulkan kesan yang lain, maka untuk sementara Sri Rajasa mengabaikanmu.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya, “Jika demikian aku dapat mengambil sikap yang lain. Aku akan menumbuhkan kesan, bahwa aku adalah pengikut Tunggul Ametung yang setia. Nah, bukankah dengan demikian sikap Sri Rajasa terhadap Anusapati akan berubah?”

“Ya. Tetapi kesempatan kita agaknya terlampau sempit. Malam ini kalian harus tetap berada disini.”

“Untuk apa?”

“Jika kekerasan itu benar-benar terjadi.”

“Dan kami akan melawan segenap prajurit yang ada di halaman?”

“Tidak. Aku mempunyai cara lain. Bukan melawan segenap prajurit yang ada dihalaman ini, tetapi kita berusaha berbuat sebaik-baiknya tanpa menimbulkan pertempuran yang hanya akan menimbulkan korban jiwa saja.”

Witantra mengerutkan keningnya. Dipandanginya Mahisa Agni dengan pertanyaan yang memenuhi dadanya.

Mahisa Agni seakan-akan menyadari, apa yang dipikirkan oleh Witantra. Karena itu maka katanya kemudian, “Tentu kita tidak akan mungkin bertempur melawan segenap prajurit dan Senapati yang ada dihalaman ini dan yang telah diatur pula oleh Sri Rajasa dan orang-orangnya. Tetapi kita dapat menemukan cara lain. Kita langsung berhubungan dengan Sri Rajasa.”

Witantra memandang Mahisa Agni dengan tajamnya, lalu bertanya, “Kita akan memotong langsung kepalanya?”

Mahisa Agni menganggukkan kepalanya. Katanya, “Tidak ada jalan lain. Kita tidak akan berbuat apa-apa. Kita akan menemuinya dan menjelaskan persoalannya. Mungkin kita dapat dianggap memaksanya. Tetapi itu adalah jalan yang terbaik.”

“Sri Rajasa bukan seorang yang mudah menyerah kepada keadaan Agni,” berkata Kuda Sempana, “mungkin ia akan mengatakan pendapat kita, tetapi kita tidak tahu apa yang akan dilakukan besok.”

“Sabda seorang Maharaja tidak akan berubah. Jika ia menolak, tentu ia akan menolak seketika itu apapun akibatnya, tetapi jika ia mengiakannya, maka ia akan melakukannya.”

Kuda Sempana mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Jika kau yang menjadi Maharaja, maka mungkin sekali kau akan berbuat demikian. Dan mungkin juga raja-raja yang lain. Tetapi apakah demikian pula yang akan dilakukan oleh Ken Arok yang sekarang bergelar Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi itu?”

“Aku tidak tahu Kuda Sempana. Mudah-mudahan ia seorang Kesatria sepenuhnya meskipun masa lampaunya adalah masa lampau yang kelam.”

“Kita dapat mencoba,” berkata Mahendra, “sementara kita menyiapkan diri. Setidak-tidaknya kita mendapat kesempatan untuk menyelamatkan Putera Mahkota, dan membawa kesuatu tempat yang terpencil dan aman. Tentu Sri Rajasa tidak dapat menutup mata, bahwa Putera Mahkota Sebagai Kesatria Putih akan dengan mudah mendapat pengikut apabila Sri Rajasa benar-benar ingkar akan janjinya.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Itu adalah pendapat yang baik. Demikian Sri Rajasa menyanggupi untuk mengambil sikap yang pasti bagi Putera Mahkota, maka kita akan menyingkirkan Putera Mahkota itu sejauh-jauhnya sementara kita menunggu perkembangan. Putera Mahkota akan kembali ke istana tanpa melanggar haknya dan hak orang lain, sementara Sri Rajasa tidak akan dapat berbuat apapun lagi, karena persiapan Putera Mahkota pun telah matang.”

“Ya. Kita akan mencobanya. Mudah-mudahanan kita hanya sekedar berprasangka.”

“Kau terlampau lembut. Tetapi mudah-mudahan kau benar. Namun seandainya harus terjadi, kita sudah siap. Kita akan langsung mendapatkan Sri Rajasa, dan jika perlu menembus barisan pengawalnya.”

“Apaboleh buat,” sahut Mahisa Agni. Lalu, “Sekarang, kalian dapat beristirahat disini. Aku menjamin bahwa tidak akan ada orang lain yang mengetahuinya. Biarlah kita menunggu Sumekar. Mungkin ia sedang mengamat-amati perkembangan baru di halaman istana ini.”

“Aku ingin juga keluar sebentar. Aku akan berhati-hati,” berkata Witantra.

“Kita menunggu Sumekar sejenak.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya, dan Mahisa Agni berkata seterusnya, “Aku besok dipanggil di bangsal paseban.”

Witantra memandang Mahisa Agni sejenak. Lalu, “Tidak ada penjelasan lagi?”

“Tidak.”

“Dan dihalaman ini terjadi kesibukan malam ini?”

“Sedikit. Aku tidak melihat bahaya yang menentukan. Namun aku tidak tahu, bahwa timbul firasatku bahwa justru paseban besok akan menentukan sesuatu sehubungan dengan kegiatan malam ini.”

“Kita memang harus mengamati keadaan. Mungkin sekali terjadi. Justru ketika kau berada di paseban, para prajurit mengambil tindakan terhadap Putera Mahkota. Tentu tidak mengetahuinya.”

“Akupun menduga demikian. Jika tidak, tentu tidak akan ada kegiatan yang melampaui kebiasaan dan sehubungan dengan sikap dan penglihatan Sumekar, bahwa yang terjadi halaman ini tidak pernah dilihatnya sebelumnya.”

“Tentu ada hubungannya.”

“Dan aku pun ternyata diikuti oleh seorang prajurit ketika aku berjalan-jalan di halaman.”

Witantra dan kedua kawan-kawannya saling berpandangan. Seakan-akan mereka telah menjadi yakin, bahwa sesuatu memang akan terjadi. Karena itulah maka Witantra pun berkata, “Baiklah aku mengamati keadaan. Mungkin kita haras bertindak cepat. Aku akan memberikan isyarat dari kejauhan dan kalian harus segera pergi ke bangsal Sri Rajasa.”

“Tetapi hati-hatilah. Aku pun akan menengok bangsal Anusapati,” jawab Mahisa Agni.

“Jika demikian,” berkata Kuda Sempana kemudian, “kita berada di luar bangsal ini saja, karena agaknya memang lebih aman. Kita mempunyai banyak kesempatan untuk berbuat sesuatu.”

“Baiklah,” berkata Mahisa Agni, “tetapi kita menunggu Sumekar sejenak. Kita mendengar pendapatnya.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Baiklah. Tetapi jangan terlalu lama. Hari menjadi semakin malam.”

“Tentu tidak lama,” Kuda Sempana lah yang menyahut, “ia hanya akan singgah sejenak. Dan ia pun akan segera menyusul kemari.”

Sejenak mereka saling berdiam diri. Mereka menunggu kedatangan Sumekar yang memisahkan dirinya ketika mereka memasuki halaman istana.

“Lama sekali,” desis Mahendra.

“Mungkin ia singgah ke gubugnya.”

Mahendra menarik nafas dalam-dalam.

Namun tiba-tiba saja mereka dikejutkan oleh guruh yang seakan-akan meledak di atas istana. Begitu kerasnya dan mengejutkan segenap bangunan yang ada dilingkungan halaman istana serasa bergetar karenanya.

“Mengejutkan,” desis Kuda Sempana.

Witantra mengerutkan keningnya. Lalu katanya, “Bukankah ketika kita memasuki halaman ini, langit nampaknya bersih?”

Kuda Sempana menganggukkan kepalanya. Namun mereka pun kemudian mendengar angin yang menderu, seakan-akan semakin lama menjadi semakin keras.

“Angin,” desis Mahendra, “agaknya hujan memang akan turun.”

Mahisa Agni hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Tetapi tiba-tiba saja terasa dadanya berdesir ketika ia melihat kain-kain selintru bergetar oleh angin yang menyusup dinding. Bahkan terasa pada kulit tubuh mereka, angin yang basah berhembus melintasi ruangan.

Sekali lagi mereka mendengar guruh di langit. Suaranya menggelegar berkepanjangan, seperti sebuah pedati raksasa yang lewat dijalan langit yang berbatu-batu. Panjang sekali.

Orang-orang yang ada di dalam bangsal itu menaiik nafas dalam-dalam. Terasa udara malam menjadi asing. Angin yang berhembus rasa-rasanya semakin lama menjadi semakin kencang.

“Musim hujan memang sudah tiba,” berkata Mahendra.

“Tetapi belum waktunya angin dan guntur bersahut-sahutan di langit,” sahut Witantra.

“Memang kadang-kadang terjadi kelainan seperti ini,” berkata Mahisa Agni, “ketika Akuwu Tunggul Ametung masih memerintah pernah juga terjadi hujan di kelainan musim. Tiga hari tiga malam. Kemudan pada masa pemerintahan Sri Rajasa pun pernah juga terjadi.”

“Ingatanmu baik sekali Mahisa Agni.”

“Kebetulan saja bersamaan waktunya dengan kejadian besar yang tidak dapat aku lupakan. Mungkin masih banyak terjadi kelainan musim. Tetapi aku sudah tidak ingat lagi.”

“Kejadian besar yang manakah yang kau maksudkan?” bertanya Witantra.

“Yang pertama menurut ingatanku, yaitu pada saat pemerintahan Akuwu Tunggul Ametung adalah saat-saat menjelang akhir pemerintahannya. Hujan turun beberapa hari. Tetapi waktu itu kita tidak menghiraukannya, karena musim hujan memang sudah diambang pintu.”

“Seperti saat ini.”

“Ya, seperti saat ini.”

“Dan pada masa pemerintahan Sri Rajasa?”

“Tiba-tiba saja hujan turun seperti dicurahkan dari langit.”

“Ya. Bersamaan waktunya dengan peristiwa yang mana?”

“Menjelang gugurnya Sri Kertajaya Maharaja di Kediri.”

Witantra menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Pantas kau dapat mengingatnya. Sebenarnya yang kau ingat bukan hujan dan angin, tetapi peristiwa- peristiwa besar itulah agaknya.”

“Sudah aku katakan. Mungkin musim yang salah itu sering terjadi. Tetapi tentu aku tidak dapat mengingatnya lagi.”

Mereka pun terdiam ketika mereka mendengar guruh sekali lagi mengumandang di langit. Seleret cahaya yang terang benderang telah membelah kegelapan malam, disambut oleh suara angin yang gemerasak di dedaunan.

“Angin pun ikut berbicara bersama kita. Kau dengar?” bertanya Mahendra.

Yang lain mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun tampaklah wajah Witantra menjadi bersungguh-sungguh. Sambil menganggukkan kepalanya ia berkata, “Kadang-kadang kejadian-kejadian besar memang ditandai oleh peristiwa alam yang agak lain dari urutan musimnya.”

Mahisa Agni mengangkat wajahnya. Dipandanginya wajah Witantra sejenak. Lalu, “Apakah ada sesuatu terasa dihatinya.”

“Semacam firasat buruk,” Kuda Sempana lah yang menyahut.

“Ya,” berkata Mahendra pula. “Ada sesuatu yang lain dihati ini.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Inikah pertanda itu?” ia terdiam sejenak, lalu, “jika demikian tinggallah kalian disini. Aku akan pergi ke bangsal Anusapati.”

Witantra termenung sejenak. Lalu, “Kenapa kau? Kenapa bukan aku?”

“Aku lebih leluasa bergerak di halaman istana ini.”

Witantra tidak segera menyahut. Tetapi sepercik cahaya telah memancar lagi. Terang sekali, diiringi suara guruh yang menggelegar dilangit.

Belum lagi suara guruh itu lenyap, terdengar sesuatu yang mendebarkan jantung. Perlahan-lahan pintu butulan telah diketuk orang.

“Sumekar,” desis Mahisa Agni.

Mahendra pun kemudian berdiri. Dengan hati-hati ia menarik selarak. Ketika pintu terbuka sedikit, mereka yang ada di dalam ruangan itu pun terkejut bukan kepalang. Ternyata yang datang sama sekali bukan Sumekar, tetapi Anusapati.

“Kau Anusapati?” bertanya Mahisa Agni perlahan-lahan.

Anusapati tidak menjawab, Ia pun kemudian melangkah masuk dengan ragu-ragu. Dilihatnya beberapa orang yang sudah ada diruangan itu.

“Duduklah.”

Anusapati menganggukkan kepalanya. Tetapi ia bertanya, “Dimanakah paman Sumekar?”

Pertanyaan itu mengejutkan Mahisa Agni dan orang-orang yang ada di dalam bilik bangsal itu.

“Pamanmu Sumekar tidak ada disini,” jawab Mahisa Agni, “kami memang sedang menunggunya.”

“Baru saja paman Sumekar datang kepadaku.”

“O,” kata-kata itu sangat menarik perhatian. Lalu, “dimana ia sekarang?” bertanya Mahisa Agni.

“Aku sedang mencarinya kemari. Menurut paman Sumekar, ia akan pergi ke bangsal ini.”

“Ia belum datang. Mungkin ia singgah di tempat tinggalnya atau keperluan lain. Sebentar lagi ia akan datang. Karena ia pun menyatakan kepada kami, bahwa ia akan segera datang.”

Anusapati memandang Mahisa Agni dengan heran. Katanya, “Paman Sumekar mengatakan kepadaku, bahwa paman menyuruhnya pergi kepadaku.”

“Aku?”

“Ya paman.”

“Kenapa aku? Dan apa katanya?”

“Paman menyuruh paman Sumekar kebangsalku dan dengan diam-diam menemui aku, karena paman ingin melihat keris Empu Gandring itu.”

“Keris Empu Gandring?”

“Ya. Paman Sumekar telah membawa keris itu, yang menurut paman Sumekar akan diserahkannya kepada paman Mahisa Agni.”

Jawaban itu telah mengguncangkan dada Mahisa Agni dan orang-orang yang ada diruangan itu, sehingga Witantra bergeser setapak. “Jadi, keris itu sekarang dibawa oleh Sumekar.”

“Ya.”

Terasa sesuatu bergejolak di setiap dada.

“Bagaimana paman,” bertanya Anusapati, “apakah tidak demikian?”

“Katakan Anusapati, bagaimana hal itu terjadi.”

Anusapati menjadi gelisah. Katanya, “Paman Sumekar datang kepadaku dengan diam-diam. Paman Sumekar membawa pesan paman Mahisa Agni untuk membawa keris itu. Karena paman Mahisa Agni ingin melihatnya.”

“Bukankah aku pernah melihat keris itu?”

“Ya, tetapi menurut paman Sumekar, paman Mahisa Agni ingin melihat lebih cermat lagi, apakah keris itu benar-benar keris Empu Gandring.”

“Ah,” Mahisa Agni berdesah.

“Jadi, apakah tidak demikian?” bertanya Anusapati.

Mahisa Agni tidak segera menjawab. “Ia sama sekali menduga bahwa tiba-tiba terjadi suatu hal yang tidak dapat dimengertinya. Sumekar selama ini tidak menimbulkan kecurigaan sama sekali. Namun tiba-tiba ia telah berbuat sesuatu yang tentu mendebarkan jantung.”

“Tetapi tentu bukan maksudnya untuk mencelakakan Anusapati, justru selama ini ia menunjukkan betapa ia ingin berbuat sesuatu untuk Anusapati.”

Ternyata pikiran itu justru telah mengejutkan Mahisa Agni sendiri. Sekali lagi diulanginya di dalam hatinya, “Sumekar ingin berbuat sesuatu untuk Anusapati.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam.

“Jadi, bagaimanakah sebenarnya paman?” desak Anusapati.

“Anusapati,” berkata Mahisa Agni kemudian. Dengan hati-hati ia ingin menjelaskan masalahnya, “Aku tidak memberikan pesan itu kepada pamanmu Sumekar.”

“Jadi apakah maksud paman Sumekar?”

Mahisa Agni memandang wajah Witantra, Kuda Sempana dan Mahendra berganti-ganti. Sebelum ia berkata sesuatu, Kuda Sempana telah berdesis, “Memang mengherankan. Tetapi juga mencemaskan.”

“Anusapati,” berkata Mahisa Agni, “selama ini Sumekar telah berbuat sebaik-baiknya bagimu. Selama ini ia berusaha untuk membantumu jika kau berada di dalam kesulitan. Karena itu, jika ia membawa keris itu, tentu maksudnya sama sekali tidak diarahkan kepadamu. Namun demikian, kita masih juga tetap meraba-raba. Karena itu, marilah kita mencarinya. Mungkin kau dapat mencarinya ke sekitar bangsal ayahandamu. Tetapi ingat, dengan diam-diam. Aku akan mencarinya di tempat lain yang lebih berbahaya, di daerah seberang dinding. Siapa tahu, Sumekar pergi kebangsal Ken Umang dan Tohjaya dengan keris itu di tangan. Jika kita bertemu dengan Sumekar, maka cobalah membujuknya. Bawalah ia ke bangsal ini. Katakan bahwa pamanmu Kuda Sempana menunggunya, karena pamanmu Kuda Sempana adalah saudara tua seperguruan dari pamanmu Sumekar.”

“Baiklah paman. Aku akan mencoba mencarinya.”

“Hati-hatilah. Jangan sampai terjadi sesuatu yang tidak kita kehendaki, meskipun agaknya persiapan di dalam istana ini menjadi semakin meningkat.”

“Itulah yang akan aku katakan kepada paman Sumekar, agar ia menjadi berhati-hati, karena menurut pengamatanku, ada beberapa kelainan di halaman istana ini.”

“jika demikian, apakah aku juga dapat ikut mencarinya?” bertanya Witantra.

“Ada juga baiknya. Tetapi aku harap Kuda Sempan dan Mahendra tetap berada di bangsal ini. Aku kira tidak akan ada orang yang akan memasukinya. Jika ada, tentu orang itu membawa tugas rahasia.”

“Baiklah paman. Aku akan mencarinya.”

“Marilah kita pergi. Berhati-hatilah. Aku juga harus berhati-hati, karena di bangsal Tohjaya itu kini mendapat penjagaan yang sangat kuat.”

“Aku akan mencarinya di tempat lain dari kedua tempat itu.”

Demikian, seorang demi seorang, Mahisa Agni, Witantra dan Anusapati meninggalkan bangsal itu. Sebelum Anusapati mengikuti pamannya keluar dari pintu butulan, Kuda Sempana masih sempat berpesan. “Tuanku Putera Mahkota, Sumekar sebenarnya adalah seorang yang keras hati. Karena itu, jika tuanku bertemu, katakan bahwa tuanku mendapat pesan daripadaku, bahwa aku akan menemuinya sejenak tanpa merubah rencananya.”

“Baiklah paman. Mudah-mudahan aku dapat menemuinya.”

“Silahkan. Tetapi seperti pesan paman tuanku, berhati-hatilah. Agaknya persiapan yang meningkat ini diarahkan kepada tuanku.”

“Sebenarnya aku memang sudah menduga paman. Tetapi agaknya Pamanda Mahisa Agni terlampau mempercayai kelembutan hati manusia yang lain seperti dirinya sendiri. Seakan-akan didunia ini memang tidak ada kedengkian dan kepalsuan.”

“Sukurlah jika tuanku sudah menyadarinya.”

“Tetapi jika mereka benar-benar bertindak malam ini, agaknya aku sudah terlambat. Kecuali meninggalkan istana ini, hanya seorang diri, tanpa anak dan isteriku.”

“Sekarang, silahkan angger mencari Sumekar. Memang agaknya lebih aman di sekitar bangsal Sri Rajasa, justru karena Sri Rajasa memiliki kelebihan dari orang lain, sehingga tidak memerlukan penjagaan sekuat bangsal ibunda Ken Umang dan adinda tuanku Tohjaya.”

“Terima kasih paman. Aku minta diri.”

Anusapati pun kemudian dengan hati-hati meninggalkan bangsal itu lewat halaman belakang yang sepi. Dengan lincahnya ia meloncat ke atas dinding batu yang tinggi dan kemudian hilang dibalik dinding itu.

Dalam pada itu, maka tiga orang yang tanpa diketahui oleh para penjaga, telah menyusup di antara gerumbul-gerumbul pohon bunga dihalaman. Yang seorang menuju kebangsal Sri Rajasa, yang memang tidak begitu banyak mendapat penjagaan, justru karena setiap orang yakin, bahwa Sri Rajasa memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh orang lain, serta atas perhitungan bahwa tentu tidak akan ada seorang pun yang berani mengganggunya, sedang yang seorang lagi pergi kebangsal di bagian lain dari istana Singasari, yaitu bangsal Ken Umang dan Tohjaya serta adik-adiknya. Kemudian Witantra mencoba mencari di bagian lain dihalaman istana itu. Mungkin justru Sumekar menjumpai bahaya di perjalanannya menuju ke bangsal Mahisa Agni.

Sementara itu guntur di langit masih juga terdengar sekali-kali meledak memekakkan telinga. Angin yang kencing bertiup di antara dedaunan, sehingga lampu yang sudah dinyalakan di halaman dan di gardu-gardu bagaikan diguncang-guncang, sehingga kadang-kadang sinarnya menjadi amat redup dan bahkan hampir padam.

“Suasananya terasa aneh sekali,” gumam seorang prajurit, “guntur dan guruh tiba-tiba saja berkejar-kejaranan di langit yang sehari ini tampak cerah.”

“Tiba-tiba saja. Aku menjadi bertanya-tanya di dalam hati, apakah ini suatu pertanda.”

“Pertanda apa?”

“Aku tidak mengerti, kenapa kita harus bertugas malam ini. Ini pun suatu perintah tiba-tiba seperti guruh yang tiba-tiba saja meledak dilangit.”

“Apakah kau sama sekali tidak mengerti persoalan yang sedang berkecamuk di halaman istana ini?”

“Aku memang mendengarnya, tetapi aku ragu-ragu untuk mempercayainya.”

“Apa?”

“Besok pagi dipaseban akan ada sidang para pemimpin yang akan membicarakan kenaikan upah bagi para prajurit.”

“Ah,” prajurit yang lain berdesah.

“Apakah bukan itu yang kau maksud?”

“Tentu bukan.”

“Jadi?”

“Pertentangan yang semakin lama menjadi semakin tajam antara kedua putera Sri Rajasa.”

“Lalu, apakah hubungannya dengan kita sekarang ini?”

“Kita harus berjaga-jaga, agar tidak terjadi bentrokan terbuka antara keduanya dan para pengikutnya.”

Kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak berbicara lagi.

Namun dalam pada itu, kedua prajurit itu tidak mengerti bahwa seorang perwira sedang memperhatikan mereka. Perwira itu kadang-kadang mengerutkan keningnya, kadang-kadang wajahnya menjadi tegang. Tetapi kemudian sebuah senyum menghiasi bibirnya. Katanya di dalam hati, “Tentu kalian tidak mengerti apa yang harus kalian lakukan. Besok kalian harus menguasai keadaan jika beberapa orang Senapati menangkap Anusapati dan Mahisa Agni di paseban. Perintah itu baru akan datang besok pagi jika paseban sudah penuh dengan mereka yang akan mengikuti Sidang. Dan bahkan ketika Sri Rajasa sudah duduk di paseban itu pula.”

Tetapi Senapati yang tersenyum itu pun tidak mengetahui bahwa dihalaman itu merayap beberapa orang yang sedang melakukan tugas masing-masing. Dan mereka pun tidak tahu, bahwa seseorang yang lebih dahulu dari ketiga orang yang lain pun sedang merayap pula di antara rimbunnya pepohonan. Bukan saja sedang mengendap-edap mencari seseorang, tetapi ternyata bahwa ia telah menggenggam keris telanjang ditangannya.

Keris bukan sembarang keris, tetapi keris itu pusaka yang dibuat oleh Empu Gandring. Keris yang sudah dibasahi dengan darah Empu Gandring sendiri dan darah Akuwu Tunggul Ametung. Sehingga dengan demikian keris yang sudah bernoda darah itu agaknya justru telah menjadi haus. Seperti yang dipesankan oleh Empu Gandring menjelang tarikan nafasnya yang terakhir, agar keris itu dihancurkan saja, karena keris itu tentu akan menuntut darah orang berikutnya.

Demikianlah dengan berdebar-debar Anusapati, Mahisa Agni dan Witantra berusaha menemukan Sumekar sebelum terjadi apapun juga, karena dugaan mereka semakin lama menjadi semakin kuat bahwa Sumekar akan mengambil tindakan tersendiri. Sudah sejak beberapa lamanya, Sumekar merasa bahwa keadaan yang terkatung-katung itu harus diakhiri dengan caranya. Dan cara itulah yang mendebarkan hati Anusapati, Mahisa Agni dan kawan-kawannya.

Dalam pada itu Anusapati pun menjadi semakin dekat dengan bangsal Sri Rajasa. Tetapi ia harus sangat berhati-hati. Jika seseorang melihatnya, persoalannya tentu akan menjadi berbeda. Dan ia tidak akan dapat ingkar lagi, seandainya para prajurit dan kemudian Sri Rajasa sendiri menuduhnya untuk melakukan perlawanan terhadap Ayahanda Sri Rajasa bahwa tuduhan yang lebih berat lagi, usaha membunuh Sri Rajasa.

Atas kesadaran itu, maka Anusapati pun menjadi semakin hati-hati. Ia sama sekali tidak berani mendekati bangsal itu dari depan. Tetapi ia menyusur dinding batu di belakang bangsal itu dan mendekat lewat longkangan belakang.

“Ayahanda sering menghirup udara di longkangan itu,” berkata Anusapati.

Namun ia menjadi ragu-ragu. Sri Rajasa adalah seorang yang memiliki kemampuan tiada taranya. Jika ia berani mendekat, maka Sri Rajasa itu tentu dapat mengetahuinya.

Karena itulah, maka untuk beberapa saat Anusapati menjadi termangu-mangu. Namun ada semacam dorongan yang memaksanya untuk bergerak lebih dekat lagi.

“Aku akan melihat dari kejauhan lebih dahulu,” berkata Anusapati di dalam hatinya, “agar seandainya ayahanda benar-benar ada di dalam aku tidak terjebak oleh incarannya yang sangat tajam.”

Demikianlah, maka Anusapati pun telah memanjat sebatang pohon preh yang rimbun. Di dalam gelapnya malam dan angin yang rasa-rasanya bertiup semakin kencang, tidak seorang pun yang memperhatikan pohon preh yang bagaikan diguncang-guncang itu.

Hanya setiap kali tatit memancar dilangit, Anusapati harus melekat pada batang pohon preh itu agar tidak menimbulkan kecurigaan.

Ketika Anusapati sudah berada di tempat yang cukup tinggi, maka ia pun segera menyelusur sebatang cabang yang besar, agar ia dapat melihat kedalam longkangan dalam.

Terasa jantung Anusapati bagaikan berhenti berdenyut. Dari tempatnya, ia melihat seseorang telah berada di dalam longkangan belakang bangsal Sri Rajasa. Di dalam keremangan cahaya lampu di longkangan itu. Anusapati melihat, orang itu membawa sebilah keris telanjang.

“Paman Sumekar,” ia berdesis.

Sejenak Anusapati justru terpukau oleh pemandangan itu. Ia merasa sesuatu menyentuh hatinya. Sumekar berbuat hal itu justru untuk kepertingannya, karena Sumekar sudah jemu melihat perkembangan yang tidak menentu di istana Singasari ini.

Tetapi apakah ia akan berdiam diri saja melihat tindakan Sumekar itu?

Tiba-tiba sesuatu terbersit di dalam hatinya. Sebagai manusia biasa Anusapati tidak terlepas dari gangguan kepentingan diri. Itulah sebabnya telah terjadi semacam benturan di dalam dirinya. Seperti yang dipesankan oleh pamannya, bahwa sebaiknya ia berusaha membujuk Sumekar untuk kembali ke bangsal Mahisa Agni, namun di dalam hatinya yang paling dalam ia berkata kepada diri sendiri. “Apakah aku sudah melanggar pesan paman Mahisa Agni jika aku membiarkan paman Sumekar melakukan usahanya untuk menyingkirkan Ayahanda Sri Rajasa? Bukankah aku bukan sanak dan bukan kadangnya.”

Anusapati justru menjadi ragu-ragu.

Namun sesuatu yang mendesak di dalam hatinya justru pengaruh pertentangannya dengan Ayahanda Sri Rajasa. Persiapan-persiapan yang menjadi semakin ketat di dalam istana Singasari. Dan apalagi ketika terbersit tanggapannya, “Ayahanda mempersiapkan semuanya ini untuk menyingkirkan aku. Tentu bukan sekedar menyingkirkan saja dari istana Singasari ini, tetapi tentu juga mengancam jiwanku.” lalu tiba-tiba ia bergumam, “selagi Ayahanda Sri Rajasa masih ada, maka ancaman maut itu tidak akan dapat aku hindarkan. Tetapi apakah aku tidak berhak membela diriku? Dan jika perbuatan paman Sumekar itu merupakan perlindungan bagi jiwaku tanpa berbuat langsung, itu aku dapat dipersalahkan?”

Dalam keragu-raguan itu, terasa darah Anusapati seakan-akan terhenti. Ternyata dari dalam bangsal itu, Sri Rajasa mengetahui bahwa seseorang ada dilongkangan dalam.

“Sangat berbahaya bagi paman Sumekar.” berkata Anusapati kepada diri sendiri. Tanpa disadarinya ia mencoba memperhatikan para prajurit yang ada didepan bangsal itu.

“Apakah mereka tidak akan mendengar jika terjadi perkelahian.”

Dalam pada itu, angin seakan-akan menjadi semakin kencang, dan guruh meledak-ledak di langit. Memang suatu kelainan musim yang aneh.

“Angin yang keras ini akan melindungi paman Sumekar,” berkata Anusapati di dalam hatinya. “Namun jika Ayahanda Sri Rajasa memberikan isyarat kepada para prajurit, maka paman Sumekar akan menjadi sayatan daging di longkangan itu.”

Hati Anusapati menjadi semakin berdebar-debar. Ia sadar, betapa marahnya Sri Rajasa. Tetapi agaknya Sumekar pun sudah bertekad bulat.

“Aku harus mendekat. Aku harus melihat akhir dari peristiwa ini.”

Dengan tergesa-gesa Anusapati pun segera turun dari pohon preh itu. Namun ia masih tetap sadar, bahwan ia memang harus berhati-hati.”

Demikianlah, selagi Anusapati meluncur turun dari pohon preh yang besar itu. Sri Rajasa telah berada dilongkangan belakang. Sebagai seorang yang memiliki kelebihan, maka ia pun segera mengetahui bahwa ada seseorang yang mencurigakan di longkangan. Apalagi Sumekar, yang memang dengan hati yang bulat dan sikap yang pasti, ingin berbuat sesuatu bagi Singasari menurut caranya.

Itulah sebabnya ia dengan sengaja telah memancing Sri Rajasa untuk keluar dari bangsalnya ke longkangan belakang.

Di dalam gemuruhnya angin kencang dan guntur yang sekali-sekali meledak dilangit, maka terdengarlah suara Sumekar lamat-amat dan yang hanya didengar oleh Sri Rajasa sendiri, “Tuanku, ternyata perbuatan tuanku sudah tidak dapat dihentikan dengan cara yang ditempuh oleh Mahisa Agni. Justru pada saat Mahisa Agni berusaha dengan segala kelemahan yang ada padanya, tuanku mempergunakan kesempatan ini sebaik-baiknya. Persiapan yang tuanku lakukan bukannya sekedar sebuah permainan yang dapat dianggap sebagai angin lalu. Tentu ada maksud tuanku yang tidak akan dapat tuanku ingkari lagi, memusnahkan Putera Mahkota dan Mahisa Agni sekaligus.”

Sri Rajasa menjadi marah bukan buatan mendengar kata-kata Sumekar. Namun ia masih sempat bertanya, “Siapa kau?”

“Apakah tuanku belum pernah melihat hamba? Hamba adalah seorang Pengalasan dari Batil.”

“Apa perlumu datang kemari?”

“Hamba ingin memberikan sedikit darma bakti bagi Singasari. Hamba adalah orang yang kagum kepada tuanku yang telah berhasil menyatukan Singasari yang besar dengan segala macam kelebihan tuanku di bidang pemerintahan dan keprajuritan. Namun menyesal sekali bahwa hamba tidak sampai hati melihat apa yang akan tuanku lakukan disaat-saat menjelang hari tua tuanku. Hamba tidak rela melihat usaha tuanku menyerahkan Singasari kepada seseorang yang tidak akan dapat meneruskan keagungan pemerintahan tuanku.”

“Aku tidak tahu maksudmu.”

“Tuanku, sebenarnyalah hamba berharap agar tuanku tidak menarik keputusan tuanku untuk menyerahkan kekuasaan Singasari dari tangan Anusapati, karena menurut pengamatan hamba, Putera Mahkota Anusapati akan dapat mengendalikan kekuasaan Singasari dan memperkembangkannya seperti yang tuanku kehendaki. Tetapi tentu tidak demikian dengan tuanku Tohjaya. Tuanku Tohjaya seperti ibundanya, adalah seorang yang paling tamak di seluruh Singasari.”

“Cukup,” bentak Sri Rajasa.

Meskipun suaranya cukup keras namun para prajurit di depan bangsal itu tidak dapat mendengarnya karena angin yang keras diseling dengan suara guntur yang menggelegar.

“Apakah kau ada hubungan keluarga dengan Anusapati?” bertanya Sri Rajasa.

“Tidak. Aku tidak mempunyai hubungan keluarga dengan tuanku Anusapati, juga tidak dengan tuanku Tohjaya.”

“Kau adalah pengikut Tunggul Ametung yang setia.”

“Pada jaman Akuwu Tunggul Ametung, aku tidak tahu apa-apa sama sekali.”

“Jadi, apa sebenarnya yang kau kehendaki?”

“Kelangsungan hasil kerja tuanku Sri Rajasa yang besar.”

“Gila, kau ingin kelangsungan hidup Singasari yang besar atas usahaku sekarang kau datang dengan cara yang gila ini.”

“Tuanku, hamba mohon agar tuanku mengurungkan niat tuanku untuk menggeser tuanku Anusapati. Tuanku tidak usah ingkar. Dan hamba mengharap agar tuanku Tohjaya dibatasi kekuasaannya sehingga bukan tuanku Tohjaya lah yang seakan-akan menjabat sebagai seorang Pangeran Pati. Tetapi tuanku Anusapati.”

“Jangan gila pengalasan dari Batil. Aku berhak menentukan apa saja. Bukan kau. Aku mempunyai kekuasaan tidak terbatas di Singasari.”

Bersambung....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...