Minggu, 31 Januari 2021

SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG JILID 28-03

*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 28-03*

Karya.   : SH Mintardja

Linggadadi yang memimpin sepasukan anak buahnya dari Mahibit nampaknya sama sekali tidak mempunyai rencana tersendiri. Ia benar-benar menempatkan pasukannya di bawah pimpinan Empu Baladatu dan anak buahnya seperti yang pernah dijanjikan oleh Linggapati.

Kedua pasukan yang terpisah itupun kemudian mengambil jalannya masing-masing dengan perhitungan waktu seperti yang sudah mereka sepakati. Pasukan yang langsung menuju sasaran berjalan agak lebih lambat, sedang yang lain berjalan semakin lama semakin cepat.

Dalam pada itu, orang-orang dari padepokan Empu Sanggadarupun sama sekali tidak lengah. Mereka melakukan pengawasan dengan ketat. Meskipun ada di antara mereka yang menganggap bahwa Empu Baladatu telah mengurungkan niatnya untuk menyerang, apalagi setelah tengah malam.

“Kita hanya dipermainkannya” desis salah seorang dari mereka yang mengawasi keadaan.

Kawannya termangu-mangu Namun jawabnya, “Malam purnama masih belum habis.”

“Sampai tengah malam. Kemudian haripun akan berganti dan bulan mulai tergelincir turun.”

“Ya. Tetapi malam masih baru separo. Yang separo masih mungkin dipergunakan oleh Empu Baladatu.”

Kawannya tidak menjawab. Namun iapun melingkar semakin bulat di bawah kain panjangnya, karena malam menjadi bertambah dingin.

Namun tiba-tiba pengawas itu terkejut. Dari kejauhan mereka melihat bayangan-bayangan yang bergerak-gerak di bawah sinarnya bulan yang cerah.

“Apa itu?” bertanya yang seorang.

“Kita bersembunyi.”

Keduanyapun kemudian bergeser dan bersembunyi di balik gerumbul. Dari sela-sela dedaunan mereka mengintip, siapakah yang lewat menuju kepadepokan induk.

Ketika tujuh puluh lima orang itu lewat, kedua pengawas menentukan nilai atas lawannya yang jauh di bawah dugaannya.

Setelah iring-iringan itu lewat, salah seorang berdesis” Hanya sedikit.”

“Itu bukan berarti kita akan membiarkannya.”

“Apakah kita, akan menarik tali goprak itu?”

“Lebih baik tidak. Kita memotong jalan lewat pematang. Kita akan memberitahukan kehadiran mereka dengan lesan, agar lawan kita tidak mengetahui bahwa kedatangan mereka telah kita tunggu.

Sejenak kawannya termangu-mangu. Agaknya ia sedang membuat pertimbangan. Namun yang lain mendesaknya, “Marilah. Jangan terlambat.”

“Apakah kita akan pergi keinduk padepokan atau kepadukuhan.” bertanya kawannya-

“Jangan bodoh. Kita, harus kepadukuhan Pertimbangan selanjutnya terserahlah para pemimpin yang berkepentingan. Tugas kita hanya terbatas.”,

Keduanyapun kemudian dengan tergesa-gesa kembali kepadukuhan untuk melaporkan apa yang telah mereka lihat. Mereka memintas lewat pematang yang jauh lebih dekat dari jalan yang ditempuh oleh orang-orang berilmu hitam dan orang-orang Mahibit.

Ketika kedua pengawas itu melaporkan penglihatanya, maka para prajurit dan cantrik yang ada di padukuhan itu menjadi heran.

“Apakah benar yang kau lihat hanya sebuah iring-iringan pendek?” bertanya salah seorang prajurit.

“Ya. Tidak sampai seratus orang.”

Para prajurit itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Keterangan yang kita dengar mengatakan bahwa jumlah mereka jauh lebih banyak dari yang kau lihat. Agaknya ada sesuatu yang perlu dipertimbangkan.”

“Jadi?”

“Dua di antara kita harus mencapai padepokan itu lebih dahulu.”

“Yang lain?”

“Yang lain akan menyerang iring-irngan itu.”

“Jumlah kita lebih sedikit.”

“Dari induk padepokan akan dikirim orang secukupnya untuk menahan iring-iringan itu.”

Sejenak beberapa orang cantrik termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Kalau itu yang terbaik. Aku sependapat.”

“Siapkan semua orang yang bersedia ikut bersama kita. Dengan demikian, maka dua di antara para prajurit dan cantrik itupun dengan cepat meninggalkan padukuhan dan langsung menuju kepadepokan Empu Sanggadaru melalui jalan melintas seperti yang dilakukan oleh kedua orang pengawas. Mereka tidak langsung memberikan isyarat bunyi atau tanda yang lain untuk menjebak lawan agar mereka tidak menyangka bahwa kedatangan mereka sudah diketahui.

Laporan itu mengejutkan Empu Sanggadaru dan para prajurit yang ada di padepokan. Bahkan Mahisa Bungalanpun berdesis” terlalu sedikit. Yang akan datang lebih dari dua ratus orang.”

“Mungkin keterangan itu keliru “

“Tidak mungkin. Kurang dari jumlah itu, mereka tidak akan berani datang, karena mereka mengetahui serba sedikit centang padepokan ini.”

“Kita harus bertindak cepat” berkata Empu Sanggadaru kemudian. Tetapi katanya selanjutnya, “Agaknya memang ada sesuatu yang perlu kita curigai”

Mahisa Bungalan mengangguk. Katanya, “Jatuhkan perintah. Apakah kita akan menyongsong yang sedikit, atau menunggu perkembangan keadaan.”

Empu Sanggadaru termangu-mangu sejenak. Namun kemudian, “Berapa orang yang ada di padukuhan itu?”

Prajurit yang dikirim dari padukuhan yang dilalui oleh tujuh puluh lima orang itu menjawab, “Tidak banyak. Yang dapat diperhitungkan tidak lebih dari ampat puluh lima orang.”

“Apakah masih ada yang lain?”

“Sudah terlalu tua untuk bertempur meskipun mereka menolak untuk disisihkan. Mereka dengan kehendak sendiri bersedia ikut melawan orang-orang dari gerombolan. Serigala Putih.”

Empu Sanggadaru menjadi ragu-ragu. Jumlah itu memang terlalu sedikit. Karena itu, maka katanya, “Aku akan mengirimkan bantuan. Biarlah sepuluh orang cantrik pergi bersamamu. Kalian harus menghambat perjalanan iring-iringan itu. Jika perlu kalian dapat bertempur sambil menarik diri mendekati padepokan ini sambil menunggu perkembangan keadaan. Jika tidak ada laporan menyusul, maka jumlah itu bukanlah jumlah yang banyak. Mereka akan kita kepung, dan kita paksa untuk menyerah.”

Tetapi ketika kedua prajurit itu siap kembali kepadukuhan sambil membawa sepuluh orang cantrik yang sudah dipersiapkan, maka datang dua orang dari padukuhan yang lain membawa laporan yang mengejutkan, “Sepasukan laskar akan mendekati padepokan ini dari arah belakang. Mereka telah melingkari padepokan ini meskipun sebenarnya mereka datang dari arah depan.”

“Berapa jumlah mereka?”

“Terlalu banyak. Lebih dari duaratus orang.”

“He” Mahisa Bungalan termangu-mangu. Jumlah itu memang terlalu banyak ditambah jumlah yang hampir seratus itu “

“Cepat, siapkan semua orang yang ada. Hubungi setiap padukuhan. Yang datang dari depan, aku serahkan sepenuhnya kepada padukuhan yang dilaluinya. Sepuluh orang cantrik yang aku serahkan, aku cabut kembali karena keadaan menjadi gawat.”

Prajurit yang datang lebih dahulu itu termangu-mangu. Namun dalam pada itu, kedua anak muda yang berada di padepokan itupun berkata hampir bersamaan, “Aku ikut “

Empu Sanggadaru memandang Mahisa Bungalan sejenak. Lalu katanya, “Terserah kepada angger Mahisa Bungalan.”

Mahisa Bungalan memandang adik-adiknya dengan tegang. Agaknya yang mereka hadapi bukannya sekedar permainan, tetapi sebenarnya bahaya-

“Kami akan berhati-hati” berkata Mahisa Murti.

Mahisa Bungalan kemudian mengangguk sambil menjawab, “Kalian harus menahan diri. Jangan berbuat seperti kanak-kanak. Kalian berhadapan dengan kekuatan yang tangguh.”

“Ya kakang.”

“Pergilah.”

Kedua anak-anak muda itupun kemudian mempersiapkan senjatanya akan mengikuti prajurit yang akan kembali kepasukannya.

“Mudah-mudahan pasukan itu sudah bergerak” berkata prajurit itu, “jika tidak, kita akan terlambat. Pasukan lawan itu tentu sudah sampai kepadepokan dan menyerang dari satu jurusan, sementara yang lain akan datang dari arah yang berlawanan.”

Ternyata seperti yang sudah mereka persiapkan lebih dahulu, bahwa pasukan yang berada di padukuhan itu telah mulai bergerak. Mereka mengikuti pasukan lawan dengan hati-hati sampai saatnya mereka bertemu dengan prajurit yang mereka tugaskan menghubungi padepokan induk.

“Kita akan menyerang mereka” berkata prajurit yang baru datang bersama Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.

“Marilah. Meskipun jumlah kita tidak sebanyak jumlah lawan, tetapi kita mendapat kesempatan mendahului. Mudah-mudahan kita tidak terjebak.”

Sejenak pasukan kecil itu masih mengikuti lawannya yang melingkar mencapai tempat yang sudah ditentukan. Jika menurut perhitungan mereka, pasukan yang melingkar itu sudah siap, maka pasukan kecil yang berjalan lurus itu baru akan menyerang untuk memancing perhatian, sementara induk pasukannya akan menggilas padepokan itu dari arah lain.

“Kita biarkan sampai mereka mendekati padepokan” berkata pemimpin prajurit yang ada di dalam pasukan kecil yang mengikuti lawannya itu, “kita akan menyergap langsung untuk mengurangi jumlah lawan pada benturan pertama. Berhati-hatilah.”

Lima orang prajurit dan sepuluh orang cantrik yang terlatih baik itupun mulai memencar di antara kira-kira limapulun orang itu, termasuk Mahisa Pukat dan Mahisa Murti.

Prajurit yang memimpin pasukan kecil itu sudah memberikan isyarat. Jika mereka mendengar teriakan aba-aba, mereka harus segera bertindak.

Untuk beberapa lamanya mereka masih mengikuti lawan pada jarak tertentu dengan sangat berhati-hati. Meskipun malam diterangi oleh cahaya bulan yang bulat, namun mereka berhasil mengikuti orang-orang Serigala Putih, Macan Kumbang dan orang-orang Mahibit itu tanpa diketahui, karena orang-orang itu sama sekali tidak menyangka, bahwa pasukan lawan tidak terkumpul seluruhnya di padepokan, tetapi menunggu mereka di padukuhan masing-masing.

Seperti yang sudah mereka bicarakan, maka ketika iring-iringan itu sudah mendekati padepokan, maka dengan tiba-tiba saja telah terdengar teriakan aba-aba yang memecahkan sepinya malam.

Orang-orang Serigala Putih, Macan Kumbang dan dari Mahibit itu terkejut bukan buatan. Mereka memang tidak menyangka bahwa mereka akan menghadapi serangan yang demikian tiba-tiba justru saat mereka akan memancing perhatian orang-orang yang menurut perhitungan mereka tentu berkumpul di padepokan untuk memusatkan kekuatan mereka.

Namun mereka tidak sempat membuat pertimbangan-pertimbangan, karena sejenak kemudian, maka merekapun telah dihujani dengan lembing yang dilontarkan dengan sekuat tenaga oleb lawan mereka yang berlari-larian menyerang.

Lontaran-lontaran lembing itu benar-benar telah membuat mereka kebingungan. Meskipun lembing-lembing itu adalah sekedar bambu cendani yang panjang dan berujung sekeping besi, namun ternyata bahwa lembing-lembing itu telah berhasil mengurangi jumlah lawan. Beberapa orang yang tidak sigap menghindari atau menangkisnya, telah tertusuk dadanya, bahkan ada yang terkena punggungnya, atau tersentuh pundaknya.

Pemimpin pasukan gabungan itu menggeram. Ia sadar, bahwa pada serangan pertama itu, ia sudah kehilangan beberapa anak buahnya. Meskipun mereka tidak langsung terbunuh, tetapi ada beberapa orang di antara mereka sudah kehilangan kemampuan untuk bertempur.

Kawan-kawannya tidak mempunyai kesempatan untuk menolong mereka, karena orang-orang yang telah menunggu dan mengikuti mereka itupun dengan cepatnya telah berlari menyerang dengan senjata teracung. Ternyata bahwa selain lembing yang, mereka lontarkan, mereka masih membawa pedang atau jenis senjata-senjata yang lain.

Sejenak kemudian kedua pasukan itupun telah berbenturan dalam satu pertempuran. Ternyata perhitungan para prajurit Singasari itu berhasil- Serangan yang tiba-tiba dengan lontaran lembing dan teriakan-teriakan nyaring itu telah mempengaruhi keseimbangan. Beberapa orang lawan telah dilumpuhkan, sedang yang lain menjadi kebingungan. Tetapi karena mereka adalah orang-orang yang berpengalaman, maka merekapun segera dapat mengatur diri dalam perlawanan yang mapan. Namun jumlah mereka yang telah berkurang itu, merupakan kenyataan yang pahit bagi mereka atas kelengahan mereka.

Pertempuran yang telah terjadi itupun menjadi semakin sengit. Orang-orang berilmu hitam itupun segera terdesak untuk mempergunakan segenap kemampuan yang ada pada mereka, sehingga karena itu, maka perlawanan merekapun menjadi semakin kasar. Dalam setiap kesempatan mereka selalu berusaha untuk membentuk lingkaran yang terdiri dari empat atau lima orang.

Tetapi lawan yang mereka hadapi, sudah pernah mendengar cara orang-orang berilmu hitam itu bertempur. Karena itu maka merekapun segera menyesuaikan dirinya untuk menghindar dari putaran yang akan dapat menjerat mereka dalam kesulitan.

Namun dalam pada itu, prajurit Singasari yang ada di dalam kelompok itupun segera melihat, bahwa ada di antara lawan mereka yang memiliki ilmu dari cabang perguruan yang lain. Mereka bukan orang-orang berilmu hitam.

Lima orang prajurit dan sepuluh orang cantrik yang terlatih baik itupun segera memencar. Mereka seolah-olah telah memimpin kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari tiga atau empat orang di antara kawan-kawannya. Dengan sigapnya mereka bertempur tanpa mengenal gentar.

Diantara mereka, terdapat sepasang anak muda yang memiliki kelebihan dari setiap orang di dalam pasukannya. Dengan lincah keduanya berloncatan dengan senjata ditangan. Mereka bertempur bagaikan sepasang lebah yang berterbangan. Sekali-kali menukik dan menyengat lawannya berganti-ganti.

Perlawanan yang seru itupun tidak diduga sama sekali oleh pasukan gabungan yang terdiri dari orang-orang Serigala Putih, Macan Kumbang dan orang Mahibit. Karena itu maka meskipun jumlah mereka lebih banyak, tetapi mereka segera merasa berada dalam kesulitan. Apalagi jumlah yang lebih banyak itu telah dikurangi pada benturan yang pertama. Beberapa orang di antara mereka yang terluka berusaha untuk merangkak menepi, agar tubuh mereka tidak lumat terinjak-injak oleh orang-orang yang sedang bertempur itu.

Satu dua di antara mereka yang terluka, masih berusaha untuk berbuat sesuatu. Tetapi darah yang mengalir terlalu banyak dari tubuh mereka, telah membuat mereka tidak berdaya.

Meskipun demikian pasukan gabungan itu tidak menjadi cemas. Mereka menyangka bahwa mereka sedang berhadapan dengan pasukan induk dari padepokan Empu Sanggadaru. Jika demikian, maka pasukan yang melingkari padepokan itupun akan segera datang dan menghancurkan mereka sama sekali.

Namun demikian masih timbul pertanyaan di dalam hati para pemimpin dari pasukan gabungan itu. Mereka tidak melihat Empu Sanggadaru di antara lawan-lawanrya.

“Mungkin orang itu berada di padepokan” berkata pemimpin pasukan gabungan itu di dalam hatinya, “jika demikian maka ia akan segera jatuh ketangan Empu Baladatu atau Linggadadi. Jika ia berhadapan dengan Empu Baladatu dan mau menyerahkan diri, nasibnya masih akan dapat dipertimbangkan. Tetapi jika ia jatuh ketangan Linggadadi, maka nasibnya benar-benar menyedihkan. Ia akan mati dalam kekecewaan dan penderitaan.”

Namun dalam pada itu, ternyata bahwa pasukan gabungan itu banyak mengalami kesulitan melawan para prajurit Singasari, para cantrik yang terlatih baik dan orang-orang yang dengan sepenuh tekad bertempur mempertahankan haknya. Kejutan yang pertama, benar-benar telah berpengaruh untuk selanjutnya. Apalagi dengan kehadiran dua orang anak muda yang bertempur menyambar-nyambar dengan sigapnya. Senjata mereka setiap kali mematuk dengan cepat, dan meninggalkan segores luka pada lawannya, sebelum ia meloncat menjauh dan seolah-olah hilang dalam hiruk pikuk pertempuran yang dahsyat itu.

Sementara itu, induk pasukan gabungan dari orang-orang padepokan Serigala Putih, Macan Kumbang dan orang-orang Mahibit itu dengan perlahan-lahan mendekati padepokan dari arah yang lain. Mereka akan menyerang dari arah belakang, langsung menikam jantung. Mereka menganggap bahwa orang-orang di padepokan itu sedang sibuk menghadapi serangan dari pecahan pasukan yang memang sudah dikirim untuk mendahului memancing perhatian.

Kehadiran induk pasukan gabungan itu ternyata memang sudah ditunggu. Pasukan yang berada di beberapa padukuhan diluar padepokan itu pun sudah dihubungi dengan mengirimkan petugas yang langsung menyampaikan semua rencana yang telah tersusun, meskipun dengan tergesa-gesa. Isyarat-isyarat yang sudah disiapkan sama sekali tidak dipergunakan, apalagi isyarat bunyi.

Dengan hati-hati pasukan yang berada di padukuhan-padukuhan yang terpisah itu mulai mendekat. Mereka sudah mendapat petunjuk arah yang kira-kira akan dilalui oleh pasukan lawan yang jumlahnya agak mengejutkan. Lebih dari dua ratus orang. Sementara itu, jumlah yang dapat dikumpulkan dari orang-orang padepokan Empu Sanggadaru itu tidak cukup banyak untuk mengimbangi jumlah lawan. Tetapi mereka mempunyai kelebihan lain. Mereka memiliki tekad yang rasa-rasanya membakar isi dada mereka.

Karena itulah maka dengan tabah mereka telah bersiap menanti apa saja yang akan terjadi. Jangankan jumlah itu hanya sekitar dua ratus orang, seandainya lipat dua sekalipun, mereka tidak akan menjadi gentar.

Dengan demikian, maka pasukan Empu Sanggadaru di induk padepokanpun tidak terkumpul menjadi satu di dalam dinding padepokan. Sebagian mereka tetap berada di luar meskipun mereka sudah saling mendekat dan siap untuk bertempur bersama-sama. Mereka tahu benar, sesuai dengan petunjuk yang mereka terima, bahwa pasukan induk lawan akan menyerang dari belakang.

Empu Sanggadaru telah membagi pasukan kecil yang ada di padepokan. Sekelompok kecil masih harus mengawasi arah depan. Jika orang-orang yang menghentikan pasukan lawan yang memancing perhatian mereka itu gagal, dan pasukan lawan itu berhasil menyerang padepokan induk, kelompok kecil itu harus mencegahnya. Meskipun kelompok itu hanyalah kelompok yang kecil sekali, namun mereka percaya bahwa pasukan yang ada di padukuhan sebelah, pasti akan dapat ikut menentukan.

Sementara itu, pasukan yang lebih besar telah siap menghadapi lawan yang datang dari arah belakang- Dipimpin langsung oleh Empu Sanggadaru, Senapari prajurit Singasari maka para prajurit yang bertugas di padepokan itu sebagai cantrik dan cantrik yang ada di padukuhan itu dan seorang anak muda yang bernama Mahisa Bungalan.

“Kita akan menjumpai lawan yang kuat” berkata Empu Sanggadaru, “yang sebenarnya sampai saat terakhir aku masih belum percaya bahwa adikku sendiri telah melakukan hal yang sama sekali tidak aku duga. Bagaimanapun juga berita tentang Baladatu, tetapi aku masih menganggap ia sebagai adikku yang baik. Tetapi kini aku tidak akan dapat ingkar pada kenyataan. Adikku benar-benar telah datang, tidak dengan jodang pisungsung dari saudara muda kepada saudara tua, tetapi dengan membawa ujung-ujung senjata yang dapat menyebarkan maut.”

Mahisa Bungalan melihat, betapa pahitnya perasaan Empu Sanggadaru menghadapi kenyataan itu. Adiknya sendiri telah memusuhinya tanpa sebab. Sampai saat Empu Baladatu berdiri dengan senjata di lambung, ia masih tidak mengerti, apakah salahnya sehingga adiknya telah menyerangnya.

“Aku tidak tahu, apakah aku sudah melakukan kesalahan terhadap adikku itu.” katanya, “jika demikian, maka kenapa ia tidak datang langsung mengatakannya kepadaku Jika benar aku bersalah, aku tentu tidak akan segan dan malu untuk minta maaf kepadanya, meskipun aku saudara tuanya. Tetapi tiba-tiba saja ia datang dengan pasukannya.”

Senapati prajurit Singasari yang mendengar Empu Sanggadaru mengeluh mengatakan, “Soalnya bukannya salah atau tidak bersalah Empu. Apa yang terjadi sudah diperhitungkan oleh para pemimpin Singasari. Terbukti dengan perintah atas kami untuk tinggal di padepokan ini. Masalahnya sebenarnya telah Empu ketahui. Perluasan pengaruh dari perguruan dan ilmu Empu Baladatu, atau ada maksud-maksud lain. Tetapi bahwa Empu Baladatu telah menguasai padepokan Serigala Putih dan Macan Kumbang, adalah pertanda keinginannya untuk menguasai kekuatan yang lebih besar lagi.”

Empu Sanggadaru mengangguk-angguk. Namun masih saja terasa kebimbangan di hatinya, bahwa semuanya itu benar-benar telah terjadi.

“Aku masih ingin menjumpainya untuk mendengarkan penjelasannya.” berkata Empu Sanggadaru.

“Yang berhadapan adalah dua kekutaan” jawab Senapati itu, “bukan waktunya lagi untuk berbincang-bincang.

“Tetapi aku akan mencobanya.”

Senapati itu menarik nafas dalam-dalam. Menurut perhitungan keprajuritannya, dalam keadaan seperti itu tidak ada lagi waktu untuk berbicara. Yang langsung akan berbincang adalah senjata-senjata yang sudah berada di dalam genggaman.

Tetapi Senapati itu tidak ingin berbantah. Apalagi padepokan itu adalah padepokan Empu Sanggadaru. Kedudukannya di padepokan itu, meskipun ia masih tetap seorang Senapati, adalah cantrik seperti cantrik-cantrik yang lain. Namun dalam keadaan khusus seperti yang dihadapinya, maka ia telah kembali kedalam kedudukannya, prajurit Singasari yang akan berhadapan langsung dengan orang-orang yang dianggap menentang kekuasaan yang ada.

Dalam pada itu, induk pasukan Empu Baladatu yang mendekati padepokan menjadi termangu-mangu. Mereka tidak melihat atau mendengar pertempuran di padepokan itu. Namun semakin mereka mendekat, maka mereka mulai mendengar suara riuh di kejauhan. Tidak di regol di padepokan itu.

“Dimanakah mereka bertempur?” bertanya Empu Baladatu.

“Kami belum membuat hubungan. Tetapi agaknya tidak di padepokan itu”

Empu Baladatu menjadi ragu-ragu. Lalu perintahnya, “Cepat. Kedudukan kami meragukan. Carilah hubungan dengan pasukan yang telah mendahului kami. Atau setidak-tidaknya usahakan agar kita mengetahui kedudukan mereka”

Dua orang di antara mereka segera menyelinap kedalam kegelapan, hilang dalam bayangan daun-daun perdu. Dengan hati-hati mereka menyusup memotong arah, langsung ke tempat pertempuran.

Dalam cahaya bulan yang bulat, kedua orang itu akhirnya menemukan arena perkelahian yang sengit. Pertempuran itu meluas di atas arena yang tersekat-sekat oleh pepohonan, karena mereka bertempur di pategalan yang, kering.

“Kenapa benturan itu terjadi di sini?” pertanyaan itu telah mengganggu kedua orang yang mencari keterangan tentang pasukan yang terdahulu itu.

Sementara itu pertempuran itupun masih berkobar dengan sengitnya. Meskipun pada benturan pertama, pasukan gabungan dari ketiga padepokan yang menyerang itu telah kehilangan orang-orangnya, namun jumlah mereka masih lebih banyak. Tetapi lawan mereka adalah sekelompok orang-orang yang berjuang dengan segenap hati dan tekad. Apalagi di antara mereka terdapat beberapa orang prajurit Singasari, beberapa orang cantrik yang terlatih dan dua orang anak muda yang mampu bergerak secepat burung sikatan menyambar bilalang

“Gila” tiba-tiba saja salah seorang dari dua orang pengawas yang dikirim oleh Empu Baladatu itu menggeram, “ternyata pasukan Empu Sanggadaru itu telah mencegat mereka di sini.”

“Tetapi ini adalah suatu hal yang aneh” sahut kawannya, “apakah dengan demikian berarti bahwa padepokan mereka telah kosong?”

“Meskipun tidak kosong, tetapi jumlah pasukan yang tinggal tentu sama sekali tidak berarti. Kita akan dapat memasuki padepokan itu tanpa perlawanan.”

“Tetapi apakah kau yakin bahwa yang ada di sini adalah seluruh kekuatan Empu Sanggadaru?”

“Aku kira demikian. Empu Sanggadaru tidak akan mengetahui bahwa kita telah memecah pasukan kita menjadi dua bagian. Justru bagian ini adalah bagian yang kecil.”

Kawannya terdiam. Sejenak ia mengamati pertempuran yang sengit itu. Lalu katanya, “Marilah, kita akan melaporkannya.”

“Kita singgah di padepokan itu. Kita akan melihat, apakah masih ada pasukan segelar sepapan.”

Kedua orang itupun kemudian meninggalkan arena. Mereka diam-diam mendekati padepokan yang nampak sepi. Dengan hati-hati mereka merapat dinding padepokan agak jauh dari regol, karena mereka yakin bahwa di regol itu tentu terdapat beberapa orang, yang berjaga-jaga. Apalagi di hadapan padepokan itu sedang terjadi pertempuran yang riuh.

“Aku akan menengok ke dalam” desis yang seorang.

“Berhati-hatilah. Jika kita tertangkap di sini, maka Empu Baladatu akan kehilangan keterangan yang kita bawa. Atau harus mengirimkan orang lain lagi.“

Kawannya tidak menjawab. Tetapi dengan sangat berhati-hati iapun telah memanjat naik keatas dinding batu padepokan itu.

Ketika ia menjengukkan kepalanya, tampaklah bahwa padepokan itu sepi. Ia melihat obor di regol yang dijaga oleh beberapa orang bersenjata. Tetapi nampaknya terlalu sedikit bagi sebuah persiapan perang. Sedangkan di bagian lain dari padepokan itu nampaknya lengang dan tidak terdapat kesibukan sama sekali.

Setelah mengamati keadaan beberapa lama, maka orang yang sedang memanjat itupun segera turun. Dengan ragu-ragu ia berkata, “Keadaan ini memang sulit dipahami. Jika benar yang bertempur itu adalah orang-orang dari padepokan ini, itu berarti bahwa semua kekuatan sudah dikerahkan, karena nampaknya padepokan ini kosong. Hanya beberapa orang yang nampak berada di regol dengan senjata telanjang. Tetapi di bagian lain sama sekali tidak nampak kesibukan apapun juga.”

“Jika demikian, maka segenap kekuatan benar-benar telah dikerahkan untuk melawan pasukan yang terdahulu itu. Justru bagian yang lebih kecil.”

“Marilah, kita akan melaporkannya. Mungkin kita memang sudah berhasil memancing segenap kekuatan Empu Sanggadaru. Agaknya Empu Sanggadaru sama sekali tidak menyadari apa yang akan terjadi, sehingga ia tidak sempat mengumpulkan seluruh kekuatan yang ada.”

“Memang keadaan ini agak meragukan. Tetapi bagaimanapun juga, kita akan berhasil memasuki padepokan ini.”

Kedua orang itupun kemudian meninggalkan dinding batu itu dan kembali kepada Empu Baladatu. Tetapi adalah suata kekeliruan bahwa mereka memanjat dinding halaman di bagian depan, sehingga mereka sama sekali tidak melihat persiapan para cantrik dan para prajurit Singasari di bagian belakang dari padepokan itu, karena mereka sudah mengetahui bahwa serangan lawan akan datang dari arah itu.

Laporan kedua pengawasnya itu didengar oleh Empu Baladatu dengan ragu-ragu. Iapun kemudian mengalami kesulitan untuk membayangkan keseluruhan dari keadaan yang di hadapinya.

Namun kemudian Empu Baladatu mengambil kesimpulan, bahwa Empu Sanggadaru tidak mengetahui sama sekali bahwa akan datang serangan yang besar pada padepokannya. Tentu karena kebetulan mereka melihat pasukan kecil itu datang mendekati padepokannya dan mengerahkan perlawanan yang mungkin dilakukan.

“Kita akan memasuki padepokan itu” berkati Empu Baladatu, “sebagian dari kita akan segera menolong kawan-kawan kita yang sedang bertempur. Kita akan melakukan korban terbesar dalam sejarah upacara kepercayaan untuk menyadap ilmu yang maha besar ini, sehingga kita akan segera memiliki kesempurnaan “

Empu Baladatu segera memerintahkan pasukannya untuk maju dengan cepat mendekati padepokan. Sementara Linggadadi dengan berdebar-debar berbisik kepada kawannya, “Kita akan melihat upacara yang mengerikan. Mudah-mudahan kita tidak akan ikut menjadi korban pula.”

Kawannya tersenyum. Jawabnya, “Tentu tidak. Mereka masih memerlukan kita. Dan mereka pun tidak akan mengambil korban yang dapat membahayakan diri sendiri.”

Linggadadi tertawa. Ia sependapat dengan kawannya.. Jika Empu Baladatu menjadi wuru dan ingin mengambil korban yang lebih besar lagi dengan mengumpankan orang-orang Mahibit, itu akan berarti kemusnahannya sendiri.

Sementara itu pasukan yang besar itu dengan cepat maju mendekati padepokan Empu Sanggadaru. Sejenak Empu Baladatu menengadahkan wajahnya. Dilihatnya bulan bulat di langit. Tetapi bulan itu sudah semakin bergeser ke Barat, Sebentar lagi bulan itu akan mulai turun semakin rendah.

“Masih ada waktu” berkata Empu Baladatu, “kita masih akan dapat membasahi senjata kita dengan darah korban dan menitikkannya pada tubuh kita di dalam terangnya bulan purnama.”

Sementara itu, para pengawas dari padepokan Empu Sanggadaru sudah mulai melihat iring-iringan yang besar mendekati padepokan. Dengan dada yang berdebar-debar salah seorang dari mereka berkata, “Apakah sudah datang saatnya, padepokan ini akan lenyap?”

“Hatimu ternyata sekecil menir. Kita akan bertempur sampai orang yang terakhir. Tetapi kita masih dapat mengharap bahwa sebelum kita sampai orang yang terakhir, lawan sudah dapat kita hancurkan.”

“Jumlahnya terlalu banyak. Sebentar lagi, yang datang dari arah lainpun akan segera menusuk padepokan ini pula, karena pertahanan kita sebentar lagi akan pecah.”

“Jangan berputus-asa. Kita akan menyampaikan laporan kepada Empu Sanggadaru dengan isyarat yang sudah di tentukan..”

Sejenak kemudian terdengarlah gonggong seekor anjing hutan dari dalam gerumbul-gerumbul perdu di luar padepokan. Suaranya meninggi bagaikan menyelusuri awan putih yang terbang di langit yang biru.

Empu Sanggadaru dan mereka yang berada di padepokanpun menyadari, bahwa lawan telah mendekati padepokan. Gonggong anjing itu adalah isyarat yang telah ditentukan bagi para pengawas untuk memberitahukan, bahwa sebentar lagi akan segera terjadi benturan kekerasan yang mengerikan.

“Tidak ada yang dapat membedakan” berkata kawan pengawas yang menirukan gonggong, anjing itu, “tepat seperti anjing hutan.”

“Sekarang kau” sahut kawannya.

Yang lain menggeleng” tidak. Jika suaraku tidak sebaik suaramu, maka akan segera diketahui, bahwa kami sudah menunggu kehadiran lawan itu.”

Kawannya tidak menyahut. Tetapi merekapun kemudian mendengar gonggong anjing yang sama di kejauhan. Agaknya penghubung yang bertugas di luar padepokanpun telah menyampaikan isyarat yang sama kepada para prajurit dan cantrik yang berada di luar padepokan bersama pasukan masing-masing yang di susun dari padukuhan-padukuhan yang berada di bawah pengaruh padepokan Empu Sanggadaru.

Tetapi jumlah mereka pun tidak cukup untuk mengimbangi jumlah pasukan yang datang menyerang. Namun seperti yang telah bertempur labih dahulu, merekapun dibekali dengan tekad yang membaja di dalam hati.

Para prajurit yang ada di padepokan pun segera mengatur diri. Mereka memencar bersama para cantrik yang sudah mendapat tempaan lahir dan batin. Yang selalu ikut serta dalam latihan-latihan yang berat bersama para prajurii Singasari di dalam padepokan itu.

Mahisa Bungalan yang ada di padepokan itu pula menjadi berdebar-debar. Agaknya akan terjadi pertempuran yang sangat sengit antara dua orang saudara sekandung bersama pengikut masing-masing.

“Dengki dan iri hati agaknya telah mulai berbicara lewat ujung senjata” berkata Mahisa Bungalan di dalam hatinya.

Sejenak kemudian, di dalam cahaya bulan yang kekuning-kuningan, para prajurit dan para cantrik yang ada di padepokan itu telah melihat, bayangan yang samar-samar di kejauhan mendekati dinding padepokan. Karena itu, maka merekapun segera menempatkan diri. Seseorang telah mendapat perintah untuk menghubungi para penjaga regol, agar regol ditutup rapat-rapat. Meskipun agaknya lawan akan mengambil jalan lain, tetapi mungkin sekali sebagian dari mereka akan tetap berusaha melalui regol padepokan itu.

Beberapa orang di antara mereka yang berada di padepokan itupun segera bersiap di atas dinding dengan busur di tangan. Meskipun mereka masih berusaha untuk menyamarkan diri di belakang dinding itu, namun mereka sudah siap dengan anak panah untuk di lontarkan.

Sementara itu Empu Baladatu telah menjadi semakin dekat. Bahkan kemudian katanya kepada Linggadadi yang tidak jauh di sisinya, “Agaknya pasukan yang terdahulu memancing para cantrik untuk bertempur di luar padepokan. Jika benar demikian, maka itu adalah suatu keberhasilan yang menguntungkan meskipun pasukan itu mengalami tekanan yang sangat berat.”

“Kita akan segera mengirimkan bantuan kepada mereka” sahut Linggadadi., “kita akan menghancurkan semuanya sampai orang terakhir. Termasuk perempuan dan kanak-kanaknya yang ada di padukuhan itu.”

Empu Baladatu mengerutkan keningnya. Katanya di dalam hati, “Ternyata orang-orang Mahibit ini juga tidak kurang dari iblis yang bertubuh manusia. Jika benar seperti yang dikatakan; merekapun termasuk orang-orang yang paling buas di tlatah Singasari ini.”

Demikianlah maka pasukan itu pun merayap semakin dekat. Beberapa puluh langkah mereka berhenti. Sejenak para pemimpinnya mengadakan pembicaraan. Baru kemudian mereka mengambil keputusan, “Kita akan memasuki padepokan ini dari arah belakang. Tetapi karena nampaknya padepokan ini sepi dan tidak ada pertempuran di bagian depan, maka sebagian dari kita akan memasukinya lewat regol. Agaknya pasukan di padepokan ini telah terpancing keluar dan bertempur di luar.”

Dengan demikian, maka sekelompok kecil dari pasukan itu telah diperintahkan untuk melingkari padepokan dan masuk lewat regol depan, sedang yang lain akan tetap seperti yang direncanakan, memasuki padepokan itu dari arah belakang.

“Sebenarnya tidak perlu” berkata Linggadadi, “jika mereka bertempur di depan, kita menusuk dari belakang. Tetapi kini mereka bertempur di luar. Kita masuk lewat manapun juga. Tetapi sebagai suatu langkah yang hati-hati, kita akan melakukan sesuai dengan keputusan kita. Kita akan memanjat dinding dan meloncat kedalam.”

Empu Baladatu tidak menjawab. Tetapi iapun memerintahkan pasukannya untuk maju semakin dekat.

Gonggong anjing di kejauhan masih terdengar. Semakin panjang dan tinggi. Seolah-olah mereka telah mulai mencium bau darah yang akan tertumpah.

Namun bagi orang-orang di dalam padepokan, gonggong anjing itu merupakan pertanda bahwa saat yang paling gawat sudah menjadi semakin dekat.

Tetapi gonggong anjing itu juga merupakan perintah bagi pasukan yang berasal dari padukuhan di luar padepokan yang dipimpin oleh para prajurit dan cantrik yang terlatih. Mejeka merayap semakin dekat pula di belakang pasukan lawan yang sudah berada di depan dinding padepokan.

Seorang pengawas yang berada di balik regol sempat mengintip lewat lubang yang terdapat pada daun pintu regol. Sejenak ia menjadi tegang ketika ia melihat beberapa orang berjalan mendekat. Cahaya bulan yang kekuning-kuningan telah terpantul dari ujung senjata mereka yang berkilat-kilat.

“Beberapa orang mendekati regol” desisnya.

Yang lainpun menjadi tegang pula. Namun sejenak kemudian merekapun segera bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan.

“Kita tidak akan dapat minta bantuan kepada siapapun” desis pemimpin kelompok yang menjaga regol itu, “kita semua akan sibuk dengan tugas kita masing-masing. Suara anjing itu terdengar semakin nyaring.

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Tetapi mereka tidak sempat berbicara lagi, karena mereka mulai mendengar suara bergeremang di luar regol.

Para penjaga regol itupun mulai mempersiapkan diri. Mereka membiarkan lubang pada daun pintu tidak tertutup sehingga yang berada di luar dapat mengintip kedalam. Tetapi para penjaga itu berdiri merapat dinding, sehingga mereka sama sekali tidak nampak dari luar jika di antara lawan mereka mengintip kedalam lewat lubang yang terbuka itu.

Sejenak suasana dicengkam oleh kesepian. Para penjaga regol itu telah menahan nafas, agar orang-orang yang di luar tidak mengetahui bahwa di sebelah menyebelah regol itu terdapat beberapa orang penjaga.

“Sepi sekali” tiba-tiba terdengar suara di luar regol.

“Ya. Tidak nampak seorangpun.” sahut yang lain.

“Tetapi regol ini ditutup rapat-rapat. Jika para cantrik itu terpancing keluar dalam pertempuran, mereka tidak akan sempat menutup regol.”

“Tentu tidak oleh mereka yang pergi kepertempuran yang ramai itu. Tentu ada sekelompok penjaga yang tinggal di dalam. Pintu regol ini diselarak dari dalam.”

Para penjaga yang mendengar percakapan itu menjadi berdebar-debar. Agaknya lawan merekapun mengetahui bahwa tidak mungkin regol itu dibiarkan tanpa penjaga sama sekali.

“Suatu kesalahan” berkata pemimpin kelompok yang menjaga regol itu, “seharusnya dibiarkan ada dua orang yang nampak dari luar, sehingga mereka akan menyangka bahwa memang hanya ada dua orang itu saja.Tetapi sudah terlanjur sehingga tidak mungkin lagi akan diulang.”

Sementara itu, orang yang berada di luar itupun masih saja ragu-ragu. Namun kemudian pemimpinnya justru mengetuk pintu regol itu sambil berkata, “Siapa yang ada di dalam he? “

Tidak ada jawaban.

“Bukalah sebelum pintu ini aku pecahkan. Dengarlah. Suara pertempuran itu sudah mereda. Kawan-kawanmu yang terpancing keluar telah kami hancurkan. Karena itu, buka pintu dan menyerahlah. Kami tidak akan berbuat apa-apa.”

Masih tidak ada jawaban.

Agaknya orang-orang yang berada di luar regol itu menjadi tidak sabar lagi. Merekapun kemudian mulai membentak, “Buka regol ini he? “

Tidak seorangpun dari para penjaga itu yang bergerak dan menjawab.

Beberapa kali terdengar pintu diketuk keras-keras. Sementara itu, di bagian belakang padepokan itupun telah mulai terdengar teriakan-teriakan nyaring. Agaknya orang-orang yang berada di luar dinding telah menjadi semakin dekat, dan dengan sengaja membuat kejutan yang menghentak.

Sebagian dari mereka telah bersiap untuk meloncati dinding batu yang mengelilingi padepokan itu-

Dalam pada itu, para prajurit Singasari yang berada di padepokan itu sebagai cantrik, bersama para cantrik yang sebenarnya, telah siap menyambut lawan yang jumlahnya jauh lebih banyak. Beberapa orang dengan serta merta telah meloncat keatas dinding dengan busur dan anak panah yang siap dilepaskan.

Kehadiran beberapa orang di atas dinding padepokan itu benar-benar tidak diduga oleh pasukan Empu Baladatu. Sebelum mereka menyadari apa yang mereka hadapi, maka berhamburanlah anak panah yang terlepas dari busurnya menghujani mereka yang sudah berkumpul dihadapan dinding itu.

Seperti yang telah terjadi pada pecahan pasukannya, maka pasukan induk Empu Baladatu inipun.mengalami kejutan yang membingungkan. Tiba-tiba saja mereka di hadapkan pada keadaan yang tidak mereka duga sebelumnya.

Linggadadi yang datang dari Mahibit itupun terkejut pula menghadapi serangan yang tiba-tiba itu. Karena itu, dengan serta merta terdengar aba-abanya terutama ditujukan kepada pasukannya, “Mundur. Jagalah jarak jangkau anak panah itu. Kemudian bersiaplah. Kita bakar padepokan ini sampai lumat.”

Ternyata yang bergerak mundur dengan cepat bukan hanya orang-orang Mahibit. Tetapi para pengikut Empu Baladatu pun kemudian bergerak dengan cepat surut sehingga melampaui jarak jangkau anak panah.

“Sekarang kita bersiap menghadapi keadaan ini” terdengar suara Linggadadi.

“Siapkan perisai di bagian depan .Yang tidak berperisai bersiaplah menghadapi anak-panah itu dengan senjata masing-masing- Ternyata kita menghadapi lawan yang licik seperti demit.”

Empu Baladatu pun menggeram. Namun katanya, “Mereka tidak terlalu banyak. Lihat, bukankah kita dapat menghitung jumlah orang-orang yang berada di atas dinding itu? Didalam cahaya bulan, kita dapat membuat mereka menjadi sasaran. Siapkan lembing kalian. Lontarkan yang tepat akan melemparkan mereka dengan luka di dada. Atau setidak-tidaknya membuat mereka harus berhati-hati dan tidak dapat membidikkan anak panahnya dengan sekehendak hati.”

Beberapa orang yang membawa tombakpun segera bersiap. Ketika terdengar teriakan nyaring, maka merekapun berlari sekuat tenaga tanpa menghiraukan anak panah yang akan dapat menembus kulit mereka. Dengan teriakan nyaring merekapun kemudian melontarkan lembing mereka sekuat-kuatnya mengarah kepada orang-orang yang berada di atas dinding padepokan.

Ternyata usaha mereka berhasil. Dibelakang mereka menyusul orang-orang yang membawa perisai. Sehingga dengan demikian maka sebagian dari merekapun berhasil mendekati dinding padepokan itu-

Lontaran-lontaran lembing itu telah mendesak beberapa orang yang berada di atas dinding untuk berlindung. Sehingga dengan demikian maka sebagian dari pasukan yang berada di luar itu sempat mendekat. Meskipun dengan demikian telah jatuh beberapa orang korban, karena mereka yang berlari-lari untuk melontarkan lembing itu telah jatuh dengan anak panah menancap didada mereka.

Orang-orang yang berada di dalam padepokan itu menjadi ragu-ragu untuk menampakkan dirinya dengan serta merta, karena lawan mereka akan dapat melontarkan lembing lebih banyak lagi. Karena itu, maka merekapun mulai menjadi hati-hati, sehingga hanya pada saat-saat yang memungkinkan saja mereka muncul, melepaskan beberapa anak panah dan kembali menghilang.

“Kita sudah mendapat kesempatan” teriak Empu Baladatu, “kita harus cepat menguasai keadaan.”

Sekali lagi terdengar teriakan-teriakan nyaring ketika pasukan di luar dinding itu sudah bersiap untuk meloncat naik.

Namun dalam pada itu, mereka telah dikejutkan oleh beberapa anak panah sendaren yang dilepaskan dari dalam padepokan. Suaranya meraung-raung di langit, seperti teriakan seorang Senapati yang memberikan aba-aba kepada pasukannya.

Sebenarnyalah panah sendaren itu merupakan aba-aba bagi pasukan yang ada di luar padepokan. Pada saat orang-orang di luar padepokan itu termangu-mangu, maka para prajurit dan para cantrik yang memimpin pasukan dari padukuhan di sekitar padepokan itupun mulai menggerakkan pasukannya mendekat dengan senjata siap di tangan.

“Jangan hiraukan” teriak Empu Baladatu, “kita meloncat naik.”

Tetapi mereka belum sempat melakukannya. Ketika beberapa orang mulai berloncatan naik, maka dari dalam keremangan malam telah muncul bayangan tiga buah pasukan yang datang dari tiga arah.....

Bersambung.....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...