BEGAWAN PININGIT
-Oleh: SNK
Tatkala berada di tengah padang pasir, apa yang akan kamu pikirkan? Ketika itu suhu telah mencapai lebih dari 40° celcius. Coba tanyakan pada nuranimu! Perihal sesuatu yang paling dominan kamu butuhkan ketika panas membroncah seluruh tubuh, tidak ada pohon rindang apalagi sungai yang mengalirkan air jernih? Tidak ada sama sekali. Malah bisa jadi keringat yang keluar dari pori-pori langsung menguap seketika. Renungkan!
Kamu bukan hanya akan frustasi karena dehidrasi, bisa jadi kamu akan kehilangan akal waras karena tidak sanggup bertahan hidup dengan cara yang demikian! Sungguh, kali itu kamu tidak butuh ribuan liter minyak, demi Tuhan. Hal super dominan yang paling kamu butuhkan adalah air jernih, pohon yang rindang dan buah segar.
Baiklah, begini! Pernahkah kamu bayangkan bagaimana menghadapi suatu musim yang disebut dengan musim dingin? Dimana suhu telah mencapai minus 40° celsius. Apa yang akan kamu lakukan dengan tubuhmu agar tidak membeku. Bahkan suhu lemari kulkas yang ada di rumahmu sekarang ini jauh lebih hangat dibandingkan dengan suhu musim dingin dalam hamparan salju.
Kamu tidak bisa melawan musim yang teramat mengerikan itu dengan emas, perak dan tumpukan uang dolar. Kamu butuh ruang penghangat, baju khusus dan makanan instan. Karena tanpa hal tersebut darahmu bisa membeku, tubuhmu bisa biru lebam sehingga jantung berhenti seketika dan kamu pun akan kelaparan karena pada musim dingin tidak ada tanaman yang hidup, sungai-sungai pun telah menjadi es. Mengerikan!
Tapi disini, tempat dimana Tuhan menitahkanmu sebagai manusia. Kamu tidak perlu meributkan aliran sungai, tidak perlu mempersoalkan pohon yang teramat rindang, apalagi buah segar dan air jernih, sewaktu-waktu bisa kamu dapatkan. Bahkan kamu bisa menikmati sajian kuliner dengan berbagai cita rasa dan tak terhitung lagi berapa juta varian makanan, minuman, buah-buahan hingga cemilan yang ada di Indonesia.
Siang malam bisa pakai kaos oblong, tidur bisa kemulan sarung atau tanpa selimut sekalipun. Keluar rumah pakai alas kaki atau tidak, tetap aman, tidak akan membeku kedinginan ataupun tersiksa karena kepanasan.
Adakah suatu negeri yang lebih nyaman dari negeri ini? Leluhurnya adalah manusia-manusia kreatif, pekerja keras, cerdas dan sangat toleransi.
Yaa ALLAH Gusti, kulo nembe paham!!!
Bener kata Cak Nun! Betapa saudara kita ini kebanyakan meributkan kenikmatan yang tidak seberapa nilainya, dengan cara mempertaruhkan tanah sempalan sorga yang menjadi pijakan kakinya sepanjang hidup. Pantes saja Cak Nun cenderung mengangkat platform mimbarnya dengan kata "SINAU BARENG" tidak dengan istilah selain itu dan Cak Nun enggan dicap sebagai Guru.
Rupanya Cak Nun hendak mewaraskan orang-orang seperti saya ini agar paham dan memahami, bahwa kesejahteraan negeri yang kita mimpikan sebenarnya jauh sebelum kita lahir sudah dipersiapkan TUHAN untuk dinikmati. Jika memang demikian maksud Cak Nun, sungguh semut di depan mata tak tampak dan gajah diseberang lautan kelihatan.
Yaa ALLAH Gusti Pengeran Kulo, ternyata seruan:
"Damailah Anak-anakku, Rukunlah Saudaraku-saudaraku, Sing Cerdas, Sing Waras, Sing Becik, Sing Santun, Sing Lembah Manah, Ojo Padu Wae, Ojo Kisruh Wae, Ayo Sinau Dadi Menungso"
Yang selalu digaungkan Cak Nun itu adalah sinyal-sinyal kesadaran manusia kelas langitan, yang hendak menyelamatkan tanah sempalan sorga di negeri kita, agar tidak dinerakakan oleh manusia yang rakus akan kekuasaan dan telah buta dengan kefanatikan.
Entah dengan apa orang-orang seperti saya ini bahkan bangsa ini menghaturkan "Agunging Panuwun" (terimakasih yang sedalam-dalamnya) dumateng panjenengan Cak!
Beruntunglah saya masih ngonangi gesangnya Cak Nun. Dan betapa bersyukurnya saya yang diberi nikmat luar biasa masih bisa merasakan originalitas pengetahuan berkehidupan, berkebangsaan, berkebudayaan, berkesenian dan berkemanusiaan yang bahkan levelnya sudah kelas langitan, dimana hal tersebut di ajarkan secara langsung dari lisannya Cak Nun, seorang Begawan Piningit cucu dari Waly-Nya ALLAH, salah satu pelopor berdirinya Pesantren Tebu Ireng (Mbah Zahid), muridnya Syekh Kholil Bangkalan Madura, sahabatnya KH. Ahmad Dahlan (Pendiri Muhamadiyah) dan KH. Hasyim Asy'ari (Pendiri NU.)
Andaikan jenengan sedoyo tahu, Estu! Lambat laun saya amati dan saya rasakan, Cak Nun ini kok sosok:
"Satrio Toto Sembodo, Wirotomo Katon Sewu Kartiko"
(Kesatria Nusantara Yang Tangguh, Sangat Pemberani Dan Penuh Dengan Cahaya Kemuliaan.)
Dimana kalimat tersebut telah ada sejak tahunan silam, dalam serat Kidung Wahyu Kolosebo yang saya ciptakan selama sembilan tahun lamanya. Karena menurut saya, Cak Nun?! kemudian akan di akui atau tidak keberadaannya, beliau bukan hanya telah lulus sebagai manusia saja, bahkan beliau tetap menjadi mulia dengan berbagai rahasia yang kita tidak akan tahu kapan akan terbuka tabirnya.
Jadi teringat kisah Mbah Zahid diberi hadiah cincin oleh Syekh Kholil Bangkalan. Cincin itu sekilas berbentuk [ن] dalam huruf hijaiyah, lingkaran itu di ibaratkan emban tentu titik di atas lingkaran adalah gambaran berlian. Di ucapkan NUN, bisa jadi ya Cak Nun inilah cincinnya Syaikh Kholil Bangkalan yang sebenarnya. ALLAHU AKBAR!!!
Memang benar, akan banyak ditemukan manusia hebat di negeri ini, tapi sementara ini menurut saya pribadi berpendapat, salah satu cara paling mudah menumpulkan akal dan menanggalkan kewarasan adalah meninggalkan mimbar-mimbar Maiyah yang digelar oleh Sang Begawan. Dan dengan cara itu pula jiwa-jiwa Kenusantaraaan akan hilang diberangus proxy war yang menginginkan Indonesia ribut tak berkesudahan.
"Seger kewarasan, sehat selalu dan panjang yuswo njeh Cak. Jangan pernah lelah mewaraskan kami yang belum juga waras dan jangan berhenti mengingatkan kami yang belum juga ingat."
Kami akan terus belajar kaya dengan cara tidak merasa miskin. Kami akan terus belajar bahagia dengan tidak merasa menderita. Kami akan terus belajar beragama dengan tidak merendahkan, menghina, mencaci maki ataupun memfitnah sesama. Kami akan terus berusaha meskipun seringkali gagal! Dan demi ALLAH jangan pernah tinggalkan kami Cak, Jangan!!! Karena setidak waras-warasnya kami, masih memiliki harapan besar menjadi manusia waras sebagaimana yang jenengan ajarkan.
"Nyuwun sih samodro pangaksami, salam hamemayu hayuning bawono kagem panjenengan ndalem Begawan Piningit Mokal Piningitan /// Saking kawulo jalmo limrah Sri Narendra Kalaseba." (posting19/01/2019)
#Srinarendrakalaseba
#Kidungwahyukolosebo
Tidak ada komentar:
Posting Komentar