*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 06-02*
Karya. : SH Mintardja
Namun di dalam lingkungan para prajurit itupun timbullah keheranan yang sangat. Justru karena sebagian terbesar dari mereka belum pernah mengenal prajurit yang disebut bernama Pati-pati itu. Juga prajurit dari Pasukan Pengawal sendiri kecuali beberapa orang prajurit yang kebetulan pada hari itu bertugas Mahisa Agni dan mendapat pesan langsung tentang orang yang disebut bernama Pati-pati itu.
Dalam keheranan itu para prajurit mendengar Mahisa Agni berkata lantang, “Para prajurit dan Senapati. Orang yang bernama Pati-pati ini adalah orang yang sebenarnya pernah kalian kenal jauh sebelum ini. Terlebih-lebih mereka yang usianya sudah cukup untuk mengenang masa pemerintahan Akuwu Tunggul Ametung.”
Para prajurit yang mendengar keterangan Mahisa Agni itu menjadi semakin heran. Bahkan Panglima Pelayan Dalam yang mendapat limpahan kekuasaan Maharaja Singasari itu pun menjadi berdebar-debar pula.
“Apakah hubungannya dengan masa pemerintahan Akuwu Tunggul Ametung?“ Panglima itu bertanya di dalam hatinya.
Namun sebelum ia sempat berbuat apa-apa, Mahisa Agni telah melanjutkan keterangannya, “Nah, para prajurit. Orang yang bernama Pati-pati ini adalah orang yang mempunyai kedudukan penting di masa itu. Meskipun orang ini pada waktu itu tidak dikenal sebagai seorang yang bernama Pati-pati. Tetapi pada waktu itu ia bernama Witantra. Seorang Panglima Pasukan Pengawal.”
Ternyata sebutan itu telah mendebarkan setiap jantung sehingga untuk beberapa saat terdengar suara menggeramang di antara mereka. Beberapa orang mengulangi nama dan sebutan itu. Witantra, Panglima Pasukan Pengawal pada masa Akuwu Tunggul Ametung.
Namun dalam pada itu, selagi orang-orang itu sibuk berbicara diantara mereka, maka Panglima Pelayan Dalam yang memegang kekuasaan tertinggi itu berkata lantang dari belakang panggung kecil itu. “He, Mahisa Agni. Apakah maksudmu dengan Panglima Pasukan Pengawal di masa pemerintahan Akuwu Tunggul Ametung itu? Pemerintahan yang hanya berkisar di sekitar daerah Tumapel. Apakah artinya seorang Panglima dari seorang Akuwu.”
Mahisa Agni memandang Panglima itu sejenak, lalu, “Persoalannya bukannya karena ia seorang Panglima, meskipun dari pemerintahan yang jauh lebih kecil dari Singasari sekarang. Tetapi bahwa Witantra mempunyai pengalaman yang luas dan pengetahuan yang cukup akan dapat dimanfaatkan di dalam keadaan seperti ini.”
“Mahisa Agni.“ sahut Panglima itu, “betapa banyaknya pengalaman dan betapa tingginya pengetahuannya, agaknya di Singasari dapat diketemukan puluhan orang seperti Witantra. Karena itu, apakah kau memandang perlu sekali mempergunakan orang itu di Kediri?”
“Panglima Pelayan Dalam yang kebetulan membawa kekuasaan tertinggi. Sebenarnyalah aku mempercayainya. Selama ini ia adalah pengawalku dan penasehatku meskipun tidak secara resmi diangkat. Aku mengetahui banyak tentang dirinya. Dan jika kau menyebut puluhan orang terdapat di Singasari yang memiliki pengalaman dan pengetahuan seperti orang ini, maka aku dapat mengatakan bahwa itu sama sekali tidak benar. Ada berapa orang Singasari yang memiliki kemampuan seperti tuanku Sri Rajasa? Nah, jika kau dapat menyebut namanya, maka orang itu dapat disejajarkan dengan orang yang bernama Witantra ini meskipun barangkali Witantra masih belum sepenuhnya dapat diseimbangkan dengan Sri Rajasa. Namun agaknya di Singasari sekarang tidak ada lagi orang yang menyamainya.“ Mahisa Agni berhenti sejenak, lalu, “seorang di antara mereka yang memiliki kelebihan adalah Kuda Sempana. Dan kau tahu, bahwa Kuda Sempana bekas Pelayan Dalam di masa pemerintahan Akuwu Tunggul Ametung itu, ternyata memiliki kemampuan lebih besar dari Panglima Pelayan Dalam yang terbunuh dan yang kedudukannya dilimpahkan kepadamu.”
Panglima itu menjadi tegang. Sejenak ia diam mematung. Bukan saja karena menurut keterangan Mahisa Agni, Witantra memiliki kemampuan setingkat Sri Rajasa, namun yang lebih mendebarkan jantungnya adalah bahwa Mahisa Agni dapat menyebutkan bahwa Panglima Pelayan Dalam itu telah mati terbunuh oleh Kuda Sempana, dan yang disebutnya pula bahwa ia adalah bekas seorang Pelayan Dalam di masa pemerintahan Akuwu Tunggul Ametung. Apakah dengan demikian berarti bahwa Mahisa Agni telah mengetahui dengan pasti apakah yang terjadi di halaman istana itu?
Dalam pada itu Mahisa Agnipun melanjutkannya, “Nah, orang yang kini berada di sisiku ini bukan sekedar seorang Pelayan Dalam seperti Kuda Sempana itu, tetapi ia adalah seorang Panglima pada waktu itu. Karena itu, sebaiknya yang sudah aku tetapkan ini berlaku. Biarlah Kuda Sempana sudah mati terbunuh di dalam kerusuhan yang terjadi di halaman istana itu, kerusuhan yang sudah direncanakan sebaik-baiknya. Tetapi aku tidak akan mempersoalkan kerusuhan itu sendiri karena kau sudah langsung memberikan penjelasan kepada para Senapati.”
Wajah Panglima Pelayan Dalam itu menjadi merah. Meskipun kata-kata Mahisa Agni itu ditujukan kepadanya, sehingga tidak banyak didengar oleh para prajurit yang berada di depan panggung kecil itu, namun dengan demikian Mahisa Agni seakan-akan ingin menjelaskan kepadanya, bahwa ia tidak percaya sama sekali dengan keterangannya, bahwa tuanku Anusapati mati di dalam kerusuhan yang tiba-tiba saja meledak, meskipun bibit kebencian itu sudah lama ada dihati rakyat. Karena itu, untuk beberapa saat lamanya Panglima itu justru diam mematung menahan gejolak di dadanya.
Dalam pada itu karena Panglima itu tidak segera menyahut Mahisa Agni pun melanjutkan kata-katanya kepada pada prajurit. “Nah, demikianlah ketetapanku sebelum aku berangkat ke Singasari. Aku sudah menunjuk wakilku dan seorang penasehatnya. Aku yakin bahwa pemerintahan di Kediri akan tetap berjalan seperti biasa dengan bantuan para pemimpin di Kediri sendiri.”
Mahisa Agni tidak menunggu jawaban dari Panglima itu, dan berkata seterusnya, “Baiklah, aku sekarang minta diri untuk segera berangkat ke Kediri, Lakukanlah tugas kalian baik-baik. Aku akan segera kembali.“ lalu ia berpaling kepada Panglima Pelayan Dalam itu sambil bertanya, “Bukankah aku akan segera kembali?”
Pertanyaan itu benar-benar menyakitkan hatinya. Belum lagi ia berhasil menguasai perasaannya Mahisa Agni sudah berkata kepada para prajurit. “Nah, bukankah ia mengiakan. Karena itu, lakukanlah tugas kalian sebaik-baiknya sehingga pada saatnya aku kembali.”
Mahisa Agni kemudian mengangkat tangannya sambil mengucapkan selamat tinggal.
Sambutan yang gemuruh bagaikan memecahkan langit. Setiap prajurit telah melambaikan tangannya. Tetapi ketika beberapa orang prajurit yang ada di depan panggung kecil itu tiba-tiba menarik senjatanya dan mengacukannya, maka yang lainpun menarik senjata mereka dan mengacukannya pula sambil meneriakkan nama Mahisa Agni.
Mahisa Agni tersenyum. Rencananya berjalan seperti yang diharapkan untuk memberikan kesan tersendiri kepada utusan Maharaja di Singasari. Pasukan yang ada di Kediri adalah pasukan yang cukup kuat ditambah dengan pasukan pengawal Kediri sendiri. Meskipun pasukan itu tidak begitu besar, tetapi dalam waktu yang singkat, Mahisa Agni tentu berhasil mengumpulkan jumlah yang belipat. Apalagi jika diingat saat-saat Singasari memasuki kota Kediri. Mahisa Agni memimpin sepasukan orang-orang Kediri yang tidak puas terhadap sikap pemimpin pemerintahannya sendiri saat itu.
Sambil melambaikan tangannya Mahisa Agnipun surut selangkah. Ia memberikan beberapa pesan kepada Senapati tertua yang telah diserahi pimpinan atas para prajurit yang berada di Kediri dan kepada seorang prajurit yang bernama Pati-pati dan yang sebenarnya adalah bekas seorang Panglima Pasukan Pengawal pada masa pemerintahan Akuwu Tunggul Ametung.
Nama Pati-pati maupun Witantra sebenarnya asing bagi para prajurit. Tetapi sebutan bekas Panglima itu sangat menarik perhatian mereka.
Mahisa Agnipun kemudian turun dari panggung kecil itu. Perlahan-lahan sambil tersenyum ia mendekati Panglima Pelayan Dalam itu sambil berkata, “Aku sudah minta diri. Marilah kita berangkat. Barangkali kau ingin cepat kembali meskipun kita pasti akan memasuki kota Singasari di malam hari atau bermalam di perjalanan.”
Panglima itu termangu-mangu sejenak, namun kemudian iapun berkata, “Kita akan memasuki istana Singasari meskipun lewat tengah malam.”
Panglima itupun kemudian memerintahkan pengawalnya untuk menyediakan kudanya. Sejenak ia memperhatikan para prajurit yang masih saja mengacukan senjata mereka sambil meneriakkan nama Mahisa Agni.
“Kita segera pergi.“ geram Panglima itu.
Panglima Pelayan Dalam dan para pengawalnya beserta Mahisa Agni dan para pengawalnya pun kemudian meloncat ke punggung kuda masing-masing. Mereka pun segera meninggalkan alun-alun dengan kesannya masing-masing. Sedang para prajurit di alun-alun masih saja melambai-lambaikan senjata mereka sebagai penghormatan kepada Mahisa Agni.
Baru ketika Mahisa Agni telah hilang dari pandangan mereka, maka mereka pun mulai menyadari bahwa seorang Senapati telah mendapat limpahan tugas Mahisa Agni bersama seorang prajurit bernama Pati-pati.
“Kita akan melakukan tugas kita sebaik-baiknya.“ berkata Senapati tertua itu, “dan aku akan selalu berhubungan dengan penasehat yang telah ditunjuk oleh tuanku Mahisa Agni.“ Senapati itu berhenti sejenak, lalu, “apalagi penasehat ini adalah bekas seorang Panglima yang mendapat kepercayaan di masa pemerintahan Akuwu Tunggul Ametung.”
Demikianlah maka para prajurit yang berada di alun-alun itupun kemudian kembali ke barak mereka masing-masing. Beberapa orang Senapati kemudian mengadakan pembicaraan-pembicaraan yang penting menanggapi keadaan yang berubah dengan cepatnya. Namun bagaimanapun juga mereka tidak akan dapat melepaskan diri dari sikap Mahisa Agni sendiri, sehingga Senapati tertua yang mewakilinya itu pun selalu memperingatkan bahwa para prajurit di Kediri harus tetap dapat menahan hati sehingga tidak menumbuhkan persoalan-persoalan yang harus diselesaikan dengan kekerasan.
Dalam pada itu, sebuah iring-iringan dengan cepatnya telah meninggalkan kota Kediri. Di paling depan seorang pengawal berkuda dengan dada tengadah. Kemudian Panglima Pelayan Dalam yang membawa Mahisa Agni menghadap bersama pengawalnya yang membawa panji-panji dan tunggul kerajaan. Baru kemudian Mahisa Agni berkuda sambil merenung, apakah kira-kira yang akan dihadapinya di Singasari.
Namun bagi Mahisa Agni, sebagian besar rencananya telah berhasil. Ia dapat menunjukkan kepada Panglima Pelayan Dalam itu, bahwa Mahisa Agni tidak berdiri sendiri. Ia berdiri dihadapan sepasukan prajurit yang kuat, sehingga Tohjaya yang baru saja naik tahta itu akan selalu mempertimbangkannya. Apalagi di antara mereka telah disebut nama Witantra yang juga bergelar Panji Pati-pati. Seorang bekas Panglima pada masa pemerintahan Akuwu Tunggul Ametung. Meskipun Witantra tidak berbuat apa-apa, namun kehadirannya di antara para prajurit memang perlu dipertimbangkan.
Demikianlah agaknya yang sedang berkecamuk di dalam angan-angan Panglima itu. Ternyata ia sedang merenungi kekuatan prajurit Singasari yang ada di Kediri.
“Demikian banyaknya.“ berkata Panglima itu di dalam hatinya, “sungguh di luar dugaan. Mahisa Agni tentu sudah menarik pasukan Singasari yang terpencar di tempat-tempat yang terpencil. Mungkin sebelum aku datang.”
Dan di dalam dada Panglima itupun berkecamuk berbagai macam pertimbangan yang harus diperhitungkan tentang kekuatan yang berdiri di belakang Mahisa Agni, termasuk seorang bekas Panglima Tumapel.
“Tentu Mahisa Agni sengaja menyusun kekuatan itu.“ berkata Panglima itu pula di dalam hatinya. Sekilas ia dapat meraba bahwa Mahisa Agni dengan sengaja memamerkan kekuatan itu kepadanya. Namun sebenarnyalah bahwa kekuatan itu tidak dapat diabaikan.
Di sepanjang perjalanan ke Singasari hampir tidak ada persoalan dan kesulitan apapun. Mahisa Agni dengan para pengawalnya tidak pernah membicarakan tentang diri mereka dan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Jika seseorang bertanya kepada mereka, maka mereka pun menjawabnya. Jika tidak maka mereka berbicara di antara mereka sendiri tentang beberapa macam persoalan yang sama sekali tidak berarti. Tentang sawah yang mereka lihat di sebelah menyebelah jalan. Tentang hutan yang mereka lewati dan tentang binatang buruan.
Seperti yang telah diduga oleh Mahisa Agni, maka Panglima itu ingin langsung menghadap kapan pun mereka memasuki kota. Hanya sekali-sekali mereka berhenti, memberi kesempatan kuda mereka beristirahat sejenak, untuk minum dan sedikit makan rumput di pinggir-pinggir jalan. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan langsung menuju ke istana.
Kedatangan iring-iringan itu dilewat tengah malam sangat mengejutkan para penjaga istana. Tetapi ketika mereka melihat panji-panji dan tunggul kerajaan, maka mereka pun menyibak dan membiarkan iring-iringan itu lewat dengan letihnya, setelah mereka melintasi bulak yang panjang, hutan perdu dan bukit-bukit padas. Bahkan kadang-kadang mereka hanya dapat merayap sangat lambat maju jika mereka melintasi lereng-lereng bukit dan hutan-hutan yang masih cukup lebat.
Demikian mereka memasuki halaman istana, maka Mahisa Agni pun menarik nafas dalam-dalam. Sudah terlalu lama ia tidak datang ke istana Singasari. Dan itu barangkali merupakan suatu kekhilafan juga sehingga ia tidak dapat mengikuti perkembangan keadaan istana itu dengan saksama.
“Yang terjadi kemudian adalah Anusapati telah terbunuh.“ berkata Mahisa Agni di dalam hatinya.
Dalam pada itu, maka Mahisa Agni dan pengawalnya pun kemudian dipersilahkannya masuk ke dalam bangsal yang selalu dipergunakan oleh Mahisa Agni jika ia berada di Singasari. Tetapi bangsal itu sudah banyak berubah. Dan yang pada saat itu, mendapat pengawasan yang kuat sekali. Meskipun tidak semata-mata, tetapi Mahisa Agni mengerti, bahwa di seberang longkangan-longkangan kecil, di sudut-sudut bangsal di sebelah menyebelah, dan di belakang dinding batu di dalam halaman istana yang menyekat halaman itu, penuh dengan prajurit yang mengawasinya.
“Pergunakan waktu istirahat ini sebaik-baiknya.“ berkata Mahisa Agni kepada para pengawalnya, “mungkin besok kita akan sibuk, atau mungkin ada tugas-tugas lain yang harus kita lakukan.”
Demikianlah Mahisa Agni sendiri, seakan-akan tidak menghiraukan apa yang dapat terjadi atas dirinya. Iapun kemudian masuk ke dalam biliknya dan berbaring di pembaringan tanpa membersihkan diri lebih dahulu selain mengusap peluh yang membasahi tubuhnya. Sedang beberapa orang pengawalnya pun kemudian berbaring di atas tikar yang terbentang di serambi belakang. Sedang dua orang di antara mereka tetap berjaga-jaga di ruang depan.
Tetapi, meskipun Mahisa Agni seakan-akan tidak menghiraukan apapun lagi, namun ia tidak segera dapat tertidur nyenyak. Tubuhnya terasa panas dan gatal-gatal. Dan lebih dari pada itu, sebenarnyalah bahwa ia merasa gelisah jika ia mengenang Ken Dedes dan isteri Anusapati serta anaknya.
“Apakah yang dapat mereka lakukan di dalam keadaan serupa ini, dan apakah yang diperlakukan atas mereka?“ pertanyaan itu selalu mengganggunya, “Dan bagaimanakah dengan Mahisa Wonga Teleng dan adiknya.”
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang membebani perasaannya, sehingga meskipun ia berbaring sambil memejamkan matanya, namun Mahisa Agni hampir tidak tertidur sama sekali di sisa malam yang tidak terlampau panjang itu.
Pada malam itu juga Panglima Pelayan Dalam yang membawa panji-panji dan tunggul kerajaan itu berusaha untuk menghadap tuanku Tohjaya. Demikian mendesaknya gejolak di dalam dadanya sehingga rasa-rasanya ia tidak dapat menunggu sampai besok. Pasukan yang kuat di Kediri masih terbayang di wajahnya, dan seorang Panglima di masa pemerintahan Akuwu Tunggul Ametung yang bernama Witantra. Meskipun orang itu sudah setua, bahkan mungkin melampaui umur Mahisa Agni, namun agaknya ilmu justru menjadi semakin masak.
Namun ternyata bahwa tidak seorang pun yang sependapat dengan Panglima itu untuk membangunkan Tohjaya di malam hari. Senapati yang bertugas berjalan-jalan di depan bangsal menyarankan agar Panglima Pelayan Dalam itu menunggu saja sampai besok.
“Aku baru datang dari Kediri.“ berkata Panglima itu, “aku harus segera menghadap tuanku Tohjaya.”
“Apakah salahnya jika ditunda sampai besok? Tuanku Tohjaya sedang marah-marah saja sehari penuh.”
“Kenapa?”
“Adik-adiknya memerlukan banyak sekali perhatian. Pimpinan pemerintahan yang belum mapan dan persoalan-persoalan yang lain yang perlu dipecahkan segera justru disaat pemindahan kekuasaan ini.”
Panglima Pelayan Dalam itu menarik nafas. Ia mengerti bahwa waktunya memang kurang tepat untuk menghadap. Karena itu maka katanya, “Baiklah, aku akan menunggu sampai besok pagi. Aku tetap berada di halaman istana. Pengawal-pengawalku akan tetap mengawasi Mahisa Agni.”
“Ia tidak akan berbuat apa-apa. Jika ia ingin melakukan perlawanan, maka yang paling tepat adalah dilakukan di Kediri atau di perjalanan. Tidak di sini.”
“Kau terlalu yakin. Mungkin Mahisa Agni mempunyai pertimbangan lain.”
“Aku yakin.”
Panglima Pelayan Dalam itu terdiam sejenak. Namun iapun kemudian mengangguk-angguk sambil berkata, “Baiklah. Aku akan menunggu. Tetapi kau jangan lengah. Mahisa Agni adalah orang yang luar biasa. Mungkin ia dapar berbuat sesuatu yang sama sekali tidak kita duga sebelumnya.”
“Baiklah. Aku sudah menyiapkan sepasukan terpilih untuk mengawasi isi halaman istana, terutama bangsal Mahisa Agni. Sebenarnyalah bahwa aku sudah menduga bahwa kau akan memasuki halaman di malam hari. Sebaiknya kau percaya kepadaku, bahwa di setiap sudut halaman ini telah bersiap-siap pengawal-pengawal pilihan.”
“Terima kasih. Meskipun kau yakin bahwa Mahisa Agni tidak berbuat apa-apa di sini, ternyata kau sudah bersiap juga.”
Senapati itu mengerutkan keningnya. Namun iapun kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia tidak mengucapkannya meskipun di dalam hatinya ia berkata, “Tuanku Tohjaya lah yang menjadi ketakutan. Bukan aku.”
Pelayan Dalam yang memegang panji-panji dan tunggul kerajaan itupun kemudian pergi ke bangsal di sebelah bangsal induk yang kemudian dipergunakan oleh Tohjaya itu. Bersama para pengawalnya itu pun kemudian beristirahat sambil menunggu fajar. Tenyata bahwa perjalanan mereka adalah perjalanan yang melelahkan. Bukan saja karena jarak yang jauh, tetapi juga karena hati yang tegang penuh kecurigaan.
Sisa malam itu terasa menjadi sangat panjang. Panglima itu sama sekali tidak dapat memejamkan matanya. Namun rasa-rasanya matahari menjadi sangat lambat terbit, sehingga karena itu, maka ia pun menjadi sangat gelisah. Bahkan kadang-kadang ia bangkit berdiri dan berjalan mondar-mandir di dalam biliknya. Kemudian duduk sejenak, berbaring dan bangkit lagi berjalan mondar-mandir.
Namun akhirnya terdengar juga kokok ayam jantan bersahutan. Ketika Panglima itu keluar dari bangsalnya di lihatnya cahaya kemerah-merahan sudah membayang di ujung Timur.
Rasa-rasanya tidak sabar lagi ia menunggu. Karena itu maka ia pun segera mengirimkan seorang utusan untuk menjumpai Senapati yang bertugas. Apakah ia sudah sepantasnya menghadap.
Senapati itu pun kemudian berpesan, agar Panglima itu bersiap-siap. Ia akan menyampaikannya kepada tuanku Tohjaya.
Demikianlah maka sejenak kemudian, utusan Senapati itu sudah menemui Panglima Pelayan Dalam untuk menyampaikan pesan bahwa Tohjaya sudah dapat menerimanya.
“Tetapi jangan dibawa Mahisa Agni itu dahulu.“ pesan utusan itu.
Panglima Pelayan Dalam yang membawa panji-panji dan tunggul kerajaan itu pun dengan tergesa-gesa mempersiapkan dirinya. Ia merasa bahwa sebagai seorang Panglima yang baru, tugasnya sudah dapat diselesaikan sebaik-baiknya sehingga ia akan dapat menghadap dengan kepala tengadah.
Bersama beberapa pengawalnya Panglima itu pun kemudian pergi ke bangsal induk di tengah-tengah halaman istana. Bangsal yang dikelilingi oleh kolam yang berair bening. Bangsal yang semula dipergunakan oleh Anusapati.
“Silahkan menghadap di bangsal itu. Tidak perlu menunggu paseban. Tuanku Tohjaya pun segera ingin mengetahui apakah kau sudah berhasil.”
“Tentu.“ sahut Panglima itu, “aku tidak pernah gagal. Apalagi dengan panji-panji dan tunggul kerajaan.”
Senapati yang sedang bertugas itu pun mengerutkan keningnya. Namun ia tidak memberikan tanggapan apapun juga.
Dalam pada itu, Panglima itupun kemudian naik ke bangsal lewat sebuah jembatan kecil di atas kolam yang mengelilingi bangsal itu. Para pengawalnya berada di luar regol selain seorang yang membawa panji-panji dan tunggul kerajaan.
Di ruang tengah Tohjaya sudah menunggunya dengan gelisah. Karena itu, ketika Panglima itu memasuki ruang depan, dengan tergesa-gesa Tohjaya pun segera memanggilnya.
“Suruh masuk kemari.“ perintahnya kepada seorang Pelayan Dalam yang sedang bertugas.
Pelayan Dalam itu pun kemudian menyampaikannya kepada Panglimanya, bahwa tuanku Tohjaya sudah berkenan menerimanya di ruang tengah.
Ketika Panglima itu memasuki ruangan, dilihatnya Tohjaya duduk di atas sebuah batu berukir beralaskan kulit harimau berbelang-belang. Wajahnya yang tegang membayangkan kegelisahan di hatinya.
“Ampun tuanku.“ berkata Panglima Pelayan Dalam itu, “hamba sudah menghadap.”
“Bagaimana dengan Mahisa Agni?”
“Hamba sudah membawanya tuanku. Setiap saat Mahisa Agni dapat tuanku panggil menghadap. Ia berada di bangsalnya di bawah pengawasan yang kuat.”
“Apakah ia datang sebagai orang yang bebas?”
“Hamba tuanku.”
“Ia harus ditangkap. Mahisa Agni adalah orang yang paling berbahaya bagi kedudukanku sekarang. Ia adalah orang yang tidak ada tandingnya. Dan ia adalah orang yang mempunyai pengaruh yang kuat.”
Panglima itu mengerutkan keningnya. Tetapi sebelum ia sempat berbicara, Tohjaya sudah mendahuluinya, “Kerahkan semua orang yang memiliki kemampuan tertinggi. Betapapun dahsyatnya ilmu Mahisa Agni, namun melawan sepasukan prajurit pilihan, para Senapati dan Panglima, ia tidak akan dapat meloloskan dirinya lagi.”
“Tuanku.“ Panglima itupun dengan tergesa-gesa mencoba menyela, “ampun tuanku. Apakah hamba dapat memberikan sedikit gambaran tentang Mahisa Agni dan kedudukannya di Kediri?”
Tohjaya mengerutkan keningnya, lalu, “Apa yang akan kau katakan.”
“Tuanku, sebenarnyalah bahwa hamba telah melihat pengaruh Mahisa Agni itu di Kediri.”
“Apa yang kau lihat?”
“Tuanku.“ berkata Panglima itu, “adalah diluar dugaan hamba bahwa Mahisa Agni di Kediri mempunyai wewenang seperti tuanku Tonjaya sendiri.”
“Itu adalah kesalahan Kakanda Anusapati.”
“Hamba tuanku. Agaknya tuanku Anusapati terlampau percaya, atau dengan sengaja membesarkan Mahisa Agni. Kekuasaannya hampir seperti kekuasaan seorang raja. Meskipun keturunan Sri Rajasa di Kediri masih berkuasa di dalam lingkungan keluarga dan istana, serta sedikit kekuasaan di dalam adat dan tata kehidupan, namun sebenarnyalah bahwa Mahisa Agni lah yang menguasai segala-galanya. Agaknya Mahisa Agni sudah mendengar apa yang terjadi di Singasari sehingga ia telah menyiapkan suatu pameran kekuatan yang mengasyikkan.”
“Kekuatan prajurit?”
“Hamba tuanku. Kekuatan prajurit yang diberikan oleh tuanku Anusapati melampaui dugaan hamba.”
“Apa saja yang diperlihatkan kepadamu?”
Panglima Pelayan dalam itu pun kemudian menceriterakan pameran kekuatan di alun-alun Kediri. Prajurit Singasari yang kuat, pasukan keamanan di Kediri dan seorang yang menyebut dirinya bernama Pati-pati, bekas seorang Panglima di masa pemerintahan Akuwu Tunggul Ametung.
“Seorang Panglima pada masa pemerintahan Tumapel?“ Tohjaya mengulang.
“Hamba tuanku.”
“Tentu orang itu sudah tua.”
“Hamba tuanku. Sudah melampaui setengah abad. Tetapi ia masih tetap nampak segar.”
Tohjaya menggeretakkan giginya. Ditatapnya Panglima itu sejenak, lalu katanya, “Apakah maksudnya dengan menampilkan orang bernama Pati-pati itu?”
“Hamba kurang tahu tuanku. Tetapi Pati-pati yang juga bernama Witantra itu adalah seorang Panglima yang sangat disegani saat itu. Mungkin Mahisa Agni ingin meyakinkan bahwa kekuatannya di Kediri dapat mengimbangi kekuatan seluruh Singasari.”
“Omong kosong. Kediri, apalagi kota Kediri saja, adalah bagian kecil dari seluruh Singasari. Jika aku berniat, maka untuk menggilas Kediri aku tidak memerlukan waktu lima hari.”
Panglima itu mengangkat wajahnya sejenak. Namun kepala itupun segera tertunduk kembali. Sebenarnyalah bahwa ia meragukan keterangan Tohjaya. Singasari memang besar, tetapi apakah seluruh Singasari meyakini kebesaran Tohjaya.
Panglima itu menarik nafas dalam-dalam. Ia sendiri merasa heran, bahwa tiba-tiba saja ia meragukan kekuasaan Tohjaya. Diluar sadarnya ia berpaling, memandang panji-panji dan tunggul yang dibawanya ke Kediri. Panji-panji dan tunggul itu adalah pertanda limpahan kekuasaan Tohjaya. Tetapi sampai betapa jauhnya kekuasaan Tohjaya itu sendiri atas Singasari yang besar ini.
Yang dapat dilihatnya kekuasaan Tohjaya barulah di dalam lingkungan istana dan kota Singasari saja. Tetapi bagaimanakah sikap para Senapati yang terpisah dan ditempatkan di kota-kota lain, di pesisir dan sikap para Akuwu, Buyut dan rakyat seluruhnya?
Namun dalam pada itu Tohjaya itu pun berkata, “Mahisa Agni harus ditangkap. Siapapun yang akan membelanya harus dimusnakan.”
“Tuanku.“ berkata Panglima itu, “hamba melihat sendiri apa yang terjadi di Kediri.”
“Kau adalah seorang Panglima. Kau dapat memerintahkan Senapati di dalam lingkunganmu yang bertugas di istana Kediri dan di istana Mahisa Agni untuk bersikap lain. Panglima pasukan medanpun dapat berbuat serupa, sehingga Mahisa Agni akan kehilangan kewibawaannya. Jika setiap Senapati menjalankan perintah Panglimanya, maka apa artinya Mahisa Agni bagi Singasari.”
“Itulah yang meragukan tuanku.”
“He.“ wajah Tohjaya menjadi merah, “kau adalah seorang Panglima. Dan kau meragukan kesetiaan Senapati-senapatimu?”
“Ampun tuanku. Hamba adalah seorang Panglima yang baru. Jika tidak ada kesetiaan atas perintah hamba, maka itu adalah kelanjutan dari sikap mereka yang dahulu. Apalagi di Kediri di dalam susunan pemerintahan tuanku Anusapati, Mahisa Agni memiliki kekuasaan tunggal yang mewakili Mahkota sehingga para Senapati di dalam tata pemerintahan sehari-hari tunduk pada perintah Mahisa Agni.”
“Tetapi aku berpendapat lain. Tidak ada kekuasaan lain di Kediri. Semua Senapati harus tunduk kepada Panglimanya masing-masing. Aku tidak memerlukan seorang Mahisa Agni.”
“Tetapi perubahan itu memerlukan waktu di dalam pelaksanaannya tuanku. Hamba mengerti bahwa tuanku dapat mangambil kebijaksanaan itu. Tetapi tidak sekarang dan begitu tiba-tiba.”
Tohjaya menjadi semakin marah. Namun ia dapat mengerti keterangan Panglimanya itu, sehingga karena itu maka ia pun menggeram, “Aku akan mengumumkan perubahan ini secepatnya. Tetapi aku tidak akan melepaskan Mahisa Agni pergi. Jika ada Senapati yang tidak mau tunduk kepada perintah para Panglimanya masing-masing, maka itu adalah suatu pengkhianatan.”
“Benar tuanku. Itu adalah suatu Pengkhianatan. Tetapi jika pengkhianatan itu terlampau kuat, maka itu harus dipertimbangkan sebaik-baiknya. Hamba masih belum yakin bahwa persoalannya dapat di atasi dalam waktu singkat. Sedang tuanku masih harus mempertimbangkan kesetiaan para Akuwu dan para Buyut yang juga mempunyai kekuatan keprajuritan di luar susunan keprajuritan Singasari.”
“Kekuatan mereka tidak berarti.”
“Tuanku harus ingat, bahwa pemerintahan Tumapel yang kecil dibawah tuanku Sri Rajasa sebelum memerintah Singasari sepeninggal Akuwu Tunggul Ametung telah berhasil mengalahkan Kediri yang besar. Karena itu, tuanku sebaiknya selalu memperhitungkan kekuatan para Akuwu di wilayah Singasari sekarang, agar tidak terulang kembali peristiwa yang pahit bagi Kediri.”
Tohjaya merenungi kata-kata Panglima itu. Namun kemudian ia membentak. “Kau jangan mengajari aku. Aku selalu mendengar laporan tentang seluruh wilayah Singasari. Sejak aku belum menjadi seorang Maharaja seperti sekarang, aku sudah menempatkan orang-orangku di seluruh wilayah Singasari sehingga aku yakin bahwa mereka kini akan tetap tunduk kepadaku.”
Panglima itu hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Ia mencoba untuk menindas keragu-raguan yang tiba-tiba saja berkembang di dalam hatinya. Sebelum ia pergi ke Kediri dan sebelum ia bertemu dan berbicara dengan Mahisa Agni, hatinya sudah dibayangi oleh kecemasan bahwa ia akan menghadapi perlawanan di Kediri. Tetapi ketika ia melihat langsung kekuatan di Kediri meskipun ternyata tidak mengadakan perlawanan apapun, namun hatinya justru menjadi semakin berdebar-debar dan cemas. Menurut penilaiannya Kediri justru diam karena yakin akan kekuatannya. Setiap saat mereka dapat bertindak sesuatu untuk memaksakan kehendak mereka.
Karena Panglima itu tidak segera menyahut, maka Tohjayapun membentaknya pula, “He, kenapa kau diam saja? Apa pendapatmu tentang Mahisa Agni?”
“Hamba sudah menyatakan pendapat hamba.”
“Persetan.“ Tohjaya menggeram. Tetapi ia mulai berpikir tentang kekuatan prajurit Singasari sendiri yang berada di Kediri. Agaknya memang berbeda dari laporan yang disampaikan kepadanya, bahwa kekuatan yang perlu diperhatikan di Kediri adalah Mahisa Agni sebagai pribadi.
Tetapi menurut laporan Panglima itu, kekuatan di Kediri adalah kekuatan yang jauh lebih besar dari yang diperkirakan. “Apakah laporan-laporan yang lain juga meragukan seperti ini?“ bertanya Tohjaya di dalam hatinya.
Karena itu maka katanya kemudian, “Aku akan memanggil para Panglima. Aku akan berbicara tentang Mahisa Agni. Kau tetap disini untuk memberikan gambaran seperti yang kau katakan tentang Kediri. Dan biarlah Mahisa Agni tetap berada di bangsalnya sampai aku memanggilnya. Aku akan mengirimkan utusan agar memerintahkan kepada Mahisa Agni, untuk tetap berada di bangsal itu. Setiap saat aku memerlukannya ia harus segera datang.”
“Suatu cara yang baik untuk menahannya tuanku.“ sahut Panglima itu.
Tohjaya pun kemudian mengirimkan seorang prajurit untuk menyampaikan perintahnya kepada Mahisa Agni agar ia tetap berada di tempat karena setiap saat ia memerlukannya, sedang beberapa orang prajurit yang lain diperintahkannya untuk memanggil para Panglima dan Senapati terpenting di Singasari.
Ketika perintah itu sampai kepada Mahisa Agni, maka Mahisa Agni pun menarik nafas dalam-dalam. Katanya kepada prajurit itu. “Apakah itu berarti bahwa aku tidak boleh keluar dari bangsal ini?”
“Ampun tuanku Mahisa Agni. Hamba tidak mengerti maksud perintah itu selain menyampaikannya seperti bunyi yang diucapkan oleh tuanku Tohjaya.”
“Ya, ya. Kau tentu tidak dapat memberikan arti perintah itu sendiri. Baiklah. Aku akan mematuhi perintahnya. Tetapi katakan kepada tuanku Tohjaya, bahwa aku akan pergi menengok tuan Puteri Ken Dedes yang menurut pendengaranku menjadi samakin lemah.”
“Hamba tuanku. Tuan Puteri Ken Dedes memang sudah semakin lemah. Apalagi sepeninggal tuanku Anusapati. Tidak ada lagi kehendaknya untuk bertahan, sehingga kadang kadang keadaannya sangat mencemaskan.”
“Apakah yang sudah dilakukan oleh Tohjaya?”
Prajurit itu terdiam sejenak.
“Aku sudah tahu jawabnya justru karena kau diam.”
“Hamba tuanku. Tetapi tuanku Mahisa Wonga Teleng hampir tidak pernah beranjak dari sampingnya.”
“Dan adik-adiknya?”
“Mereka semuanya menunggui dengan tekun. Dan mereka adalah hiburan yang paling baik bagi tuan Puteri Ken Dedes dalam saat terakhirnya.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Meskipun prajurit itu tidak menyebutnya, tetapi Mahisa Agni dapat membayangkan bahwa Ken Dedes yang berkali-kali kehilangan orang-orang yang dicintainya itu telah kehilangan segalanya. Juga kehilangan nafsunya untuk tetap hidup.
“Aku akan menengoknya,“ berkata Mahisa Agni.
Prajurit itu mengerutkan keningnya, lalu, “Tetapi, ampun tuanku. Pesan tuanku Tohjaya, tuan tidak boleh meninggalkan bangsal ini.”
Mahisa Agni tertawa kecil. Katanya, “Katakan kepada tuanku Tohjaya, bahwa Mahisa Agni akan pergi ke bangsal tuan puteri Ken Dedes untuk menengoknya. Aku tidak akan melarikan diri. Jika setiap saat tuanku Tohjaya memerlukan aku, aku akan menghadap, jika aku tidak berada di sini, berarti aku ada di bangsal tuan Puteri.”
“Tetapi.“ prajurit itu termangu-mangu.
“Tidak apa-apa. Kau sampaikan saja pesan ini, seperti kau menyampaikan perintah itu kepadaku.”
Prajurit itu bingung sejenak. Ia tidak mengerti maksud Mahisa Agni, sehingga untuk sejenak ia tidak dapat berkata apa-apa.
Mahisa Agni melihat kebingungan itu. Lalu katanya, “Sudahlah, jangan bingung. Kembalilah kepada tuanku Tohjaya dan katakan bahwa aku akan menjunjung perintahnya. Tetapi bahwa Mahisa Agni akan pergi lebih dahulu ke bangsal tuan Puteri Ken Dedes.”
“Tuan.“ berkata prajurit itu, “hamba benar-benar tidak mengerti. Hamba hanya menyampaikan perintah tuanku Tohjaya, seorang yang kini telah menjadi seorang Maharaja di Singasari meskipun hari penobatannya secara resmi masih akan ditentukan dalam waktu yang dekat. Tetapi hamba kira perintah itu sama sekali tidak boleh diartikan lain atau diberi perubahan bagaimanapun bentuknya.”
“Kau adalah prajurit yang baik.“ berkata Mahisa Agni, “akupun mengerti, bahwa perintah itu berarti bahwa aku harus menunggu di sini sampai tuanku Tohjaya memanggil. Tetapi barangkali aku dapat memanfaatkan waktu sebelum aku harus menghadap. Dan sampaikan saja, aku berada di bangsal tuan Puteri Ken Dedes, jika aku tidak ada di sini.”
Prajurit itu masih saja termangu-mangu. Sebelum ia sempat berkata apapun juga Mahisa Agni melangkah mendekatinya. Sambil menepuk bahunya ia berkata, “Sudahlah. Jangan pikirkan apapun lagi. Pergilah menghadap tuanku Tohjaya.”
Prajurit itu tidak dapat berbuat lain. Iapun kemudian meninggalkan bangsal Mahisa Agni dan kembali menghadap Tohjaya menyampaikan pesan Mahisa Agni.
“Gila. Ia sudah membantah perintahku.“ teriak Tohjaya, “apakah tidak kau katakan bahwa itu adalah perintah kekuasaan tertinggi di Singasari sekarang?”
“Hamba sudah mengatakan tuanku.”
“Jadi bagaimana?”
“Tuanku Mahisa Agni hanya tertawa saja sambil mengatakan bahwa ia akan tetap pergi kebangsal tuan Puteri Ken Dedes.”
“Gila. Apakah tidak ada prajurit yang menjaganya?”
Prajurit itu termangu-mangu sejenak. Lalu jawabnya, “Hamba kira penjagaan di sekitar bangsal itu ada tuanku. Tetapi hamba tidak tahu perintah apakah yang sudah diberikan oleh para Senapatinya kepada mereka, karena hamba tidak termasuk di dalam pasukan yang bertugas di bangsal itu.”
“Aku sudah tahu.“ bentak Tohjaya, lalu katanya kepada Panglima Pelayan Dalam, “apa perintah Senapati bagi para prajuritnya?”
Prajurit itu tidak dapat berbuat lain.
“Bukankah hamba baru datang dari Kediri tuanku. Tetapi menurut pembicaraan kami terdahulu, mereka hanya sekedar mengawasi Mahisa Agni.”
Wajah Tohjaya menjadi tegang. Namun sejenak ia justru berdiam diri. Ia sendiri tidak mengerti, apakah yang harus dilakukan oleh para prajurit jika Mahisa Agni benar-benar meninggalkan bangsalnya.
Dalam pada itu, selagi Tohjaya termangu-mangu, maka beberapa orang Senapati dan Panglima telah datang menghadapnya. Seperti yang diperintahkannya, maka para Panglima dan Senapati itu harus datang secepatnya untuk berbicara tentang Mahisa Agni dan tindakan-tindakan yang akan mereka ambil.
Agaknya Tohjaya tidak mau membuang waktu. Apalagi karena prajurit yang menyampaikan pesan kepada Mahisa Agni mengatakan, bahwa Mahisa Agni tidak menghiraukan perintah Tohjaya itu.
“Apakah kita akan menangkapnya?” bertanya Tohjaya kepada para Senapati dan Panglima.
Tidak seorangpun yang menjawab. Yang sebenarnya mereka tunggu adalah sebuah perintah. Bukan sebuah pertanyaan.
“He, apa pendapat kalian?” Tohjaya itu membentak.
Sejenak para Panglima dan Senapati itu saling berpandangan. Akhirnya mereka seakan-akan memusatkan perhatian mereka kepada Panglima Pelayan Dalam yang telah membawa Mahisa Agni dari Kediri.
Panglima Pelayan Dalam itupun merasa, bahwa mereka menunggu keterangan daripadanya. Tetapi Panglima Pelayan Dalam yang membawa panji-panji dan tunggul Kerajaan ke Kediri itu tidak berani melakukannya sebelum mendapat perintah dari Tohjaya.
Tetapi Tohjaya pun menyadari persoalannya sehingga katanya, “Katakan kepada mereka, apa yang kau lihat di Kediri, dan kemudian kita akan memutuskan apakah yang sebaiknya kita lakukan atas Mahisa Agni.”
Sekali lagi Panglima Pelayan Dalam itu menceriterakan tentang Mahisa Agni. Sikapnya, wibawanya, dan kemudian kesiagaannya. Panglima itu pun menceriterakan jumlah prajurit di Kediri yang ternyata melampaui perhitungan mereka. Apalagi kehadiran seorang yang menyebut dirinya Pati-Pati yang juga bernama Witantra, bekas seorang Panglima di masa pemerintahan Akuwu Tunggul Ametung.
Para Panglima dan Senapati itu merenungi keterangan Panglima Pelayan Dalam itu. Namun kemudian seorang Senapati memberanikan diri berkata, “Ampun tuanku Tohjaya. Sebenarnya pasukan Singasari di Kediri sama sekali tidak melampaui jumlah yang ditetapkan. Pasukan Singasari di Kediri dengan pasti diketahui. Nama-nama mereka tercantum di dalam urutan nama yang tertulis di dalam rontal. Jika jumlah mereka cukup banyak, maka mereka tentu terdiri dari prajurit-prajurit Singasari yang berada di Kediri dan sekitarnya. Di daerah-daerah terpencil yang semula tidak aman. Dan daerah-daerah yang dianggap masih mungkin berbahaya.”
Tohjaya memandang Senapati itu sejenak, lalu katanya, “Tetapi kenapa mereka itu berkumpul semua di Kediri? Dan apakah Mahisa Agni sempat memanggil mereka dalam waktu semalam?”
“Tentu mereka sudah dipersiapkan sebelumnya tuanku.”
“Sengaja untuk memamerkan kekuatan?”
Kenapa itu tidak menjawab. Tetapi iapun terkejut ketika Tohjaya memanggil namanya dengan keras, “Lembu Ampal. Apa katamu tentang Mahisa Agni?”
Senapati yang bernama Lembu Ampai itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian sambil bergeser setapak ia berkata, “Tuanku. Menurut ceritera Panglima Pelayan Dalam yang mendapat limpahan kekuasaan tuanku memanggil Mahisa Agni, agaknya telah memperingatkan kepada kita, bahwa kita harus berhati-hati. Kita tidak akan dapat bertindak sesuai dengan selera kita saja tanpa menghiraukan keadaan yang sebenarnya.”
“Cukup, cukup. Tetapi apakah yang harus kita lakukan. Itu yang aku tanyakan kepadamu.”
Lembu Ampal termangu-mangu sejenak. Tetapi ia tidak segera dapat menjawab pertanyaan Tohjaya itu.
Wajah Tohjaya yang tegang menjadi semakin tegang. Hampir berteriak ia bertanya kepada para Panglima dan Senapati, “He, apakah kalian menjadi bisu? Mahisa Agni sekarang sudah ada di halaman istana ini. Aku sudah memerintahkannya agar ia tetap berada di bangsalnya. Tetapi agaknya ia tetap berkeras kepala.”
Para Panglima terkejut mendengar keterangan itu. Tetapi tidak seorang pun yang segera bertanya tentang Mahisa Agni. Mereka menunggu saja Tohjaya menjelaskannya.
Namun dalam pada itu, sebelum Tohjaya sempat menjelaskan sikapnya dan sikap Mahisa Agni, seorang Senapati yang bertugas di luar bangsal yang di kelilingi oleh sebuah kolam itu dengan ragu-ragu memasuki ruangan dan duduk di muka pintu sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam.
“He, kenapa kau menghadap tanpa aku panggil?” bertanya Tohjaya.
Baru setelah Tohjaya mengajukan pertanyaan itu, Senapati itu berani menyampaikan keperluannya, “Ampun tuan ku. Para prajurit yang bertugas mengawasi tuanku Mahisa Agni melaporkan bahwa tuanku Mahisa Agni telah meninggalkan bangsalnya.”
“He.“ wajah Tohjaya menjadi merah, “kalian tidak menahannya?”
“Kami belum mendapat perintah itu tuanku. Kami tidak dapat berbuat sesuatu. Jika tuanku menjatuhkan perintah, hamba akan melanjutkan perintah itu kepada para prajurit.”
Tohjaya justru menjadi bingung. Wajahnya menegang Sedang matanya menjadi merah. Tetapi dari mulutnya sama sekali tidak meloncat sebuah perintah pun.
Dalam pada itu, Mahisa Agni sudah di halaman bangsalnya. Ketika seorang prajurit bertanya kepadanya maka dengan sebuah senyuman di bibirnya ia berkata, “Aku akan pergi mengunjungi tuan puteri Ken Dedes.”
“Tetapi apakah tuan tidak menunggu perintah tuanku Tohjaya?”
Mahisa Agni justru tertawa. Jawabnya, “Aku akan selalu menunggu perintahnya. Tetapi aku dapat menunggu di bangsal ini, tetapi juga dapat di bangsal tuan puteri Ken Dedes. Aku sudah mengatakannya kepada prajurit yang membawa pesan dari tuanku Tohjaya.”
Prajurit itu termangu-mangu. Memang tidak ada perintah untuk menahan Mahisa Agni di bangsalnya. Itulah sebabnya ia menjadi bingung. Sedang kawannya yang melaporkan bahwa Mahisa Agni telah keluar dari bangsalnya dan berjalan hilir mudik masih belum datang kembali membawa ketegasan bagaimana mereka harus bersikap. Jika para prajurit itu menahan Mahisa Agni di tempatnya, mungkin ia justru telah melakukan kesalahan. Tetapi jika mereka membiarkan, maka hal itupun mungkin pula keliru. Pengawasan yang ketat di sekitar bangsal itu memang lebih condong kepada usaha untuk membatasi gerak Mahisa Agni. Tetapi perintah yang pasti masih belum mereka dengar.
Sebelum prajurit yang melaporkan hal itu datang kembali Mahisa Agni telah melalui penjagaan di regol depan dari bangsalnya. Seperti tidak terjadi apapun ia berjalan saja seenaknya. Sekali-sekali ia berpaling dan mengangguk sambil tertawa kepada para prajurit yang termangu-mangu mengawasinya.
Bahkan kemudian Mahisa Agni berhenti di sudut longkangan mendekati dua orang prajurit yang berdiri dan bersiaga sepenuhnya, “Kenapa kau berjaga-jaga disitu? Sejak tuanku Sri Rajasa bertahta di Singasari, tempat itu tidak pernah dijaga.”
Kedua prajurit itu menjadi bingung, sehingga mereka tidak segera dapat menjawab.
Tetapi Mahisa Agni tertawa sambil berkata, “Apakah tugasmu sebenarnya?”
Kedua prajurit itu sama sekali tidak dapat menjawab pertanyaan itu.
“Apa.“ Mahisa Agni membelalakkan matanya, “cepat jawab. Untuk apa kau berdiri disitu he?”
Perbawa Mahisa Agni benar-benar telah menggoncangkan jantung kedua prajurit itu, sehingga hampir di luar sadarnya mereka menjawab, “Maksud kami, kami bertugas atas perintah pemimpin kami.”
“Tentu.“ sahut Mahisa Agni, “kau mendapat tugas dari pemimpinmu. Tetapi tugas apa yang harus kau kerjakan? Apakah perintah itu berbunyi “berdiri disudut tanpa tujuan.“ begitu?”
“Tidak tuan.”
“Nah, apakah yang harus kau kerjakan.”
Keduanya termangu-mangu. Namun ketika Mahisa Agni melangkah setapak maju, maka dengan gemetar salah seorang berkata, “Kami harus mengawasi tuan.”
Mahisa Agni memandang prajurit itu dengan tajamnya. Namun kemudian iapun tersenyum. Ditepuknya bahu prajurit itu sambil berkata, “Kau adalah orang yang jujur. Tetapi aku tidak tahu, apakah kau benar-benar jujur, atau karena sekedar ketakutan.”
Kedua prajurit itu hanya berdiri termangu-mangu saja ketika Mahisa Agni kemudian pergi meninggalkan mereka.....
Bersambung.....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar