Jumat, 29 Januari 2021

SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG JILID 05-01

*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 05-01*

Karya.  : SH Mintardja

Seperti yang dikatakan oleh Tohjaya, maka pertarungan kedua ekor ayam tanpa pisau di kaki itu, merupakan pertarungan yang justru paling sengit. Perkelahian itu tidak segera diakhiri dengan ujung pisau yang membelah kulit. Tetapi dengan demikian hampir di seluruh tubuh ayam jantan yang sedang berlaga itu dipenuhi oleh luka yang berdarah.

Orang-orang yang berkerumun di sekitar arena kini benar-benar telah dicengkam oleh pertarungan dua ekor ayam jantan yang semakin dahsyat itu. Pertarungan yang jarang sekali mereka saksikan. Keduanya memerlukan waktu berlipat ganda dari pertarungan yang biasa di arena itu. Namun pertarungan itu bagaikan sebuah pesona yang mencengkam seluruh perhatian para penonton di sekitarnya. Mereka seakan-akan tidak menyadari lagi apa yang terjadi di sekitarnya selain kedua ekor ayam yang sedang bersabung itu.

Dalam pada itu, Agnibhaya dengan tergesa-gesa melintasi halaman istana diiringi oleh dua orang prajurit. Meskipun Agnibhaya masih terlalu muda, tetapi terasa sesuatu bergerak di dalam dadanya. Ibunya yang dengan tiba-tiba saja memerintahkannya memanggil kakandanya, didengar atau tidak didengar, membuatnya bertanya-tanya di dalam hati.

“Ibunda baru saja duduk di ruang depan.” berkata anak muda itu di dalam hatinya, “namun tiba-tiba saja ibunda menjadi sakit, apalagi sakit keras.”

Tanpa sesadarnya ia berpaling kepada kedua prajurit yang mengawalnya. Dilihatnya wajah-wajah yang kosong dan buram itu.

Tiba-tiba saja hampir di luar sadarnya Agnibhaya bertanya kepada pengawalnya, “He, kenapa kau mengikuti aku?”

Pengawal itu menjadi heran mendengar pertanyaan Agnibhaya. Tetapi salah seorang dari mereka menjawab, “Hamba hanya menjalankan perintah, tuanku.”

Agnibhaya mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu, “Jika demikian biarlah aku pergi sendiri.”

“Hamba tidak berani melanggar perintah itu.”

“Manakah yang lebih tinggi antara perintah pemimpinmu dan perintahku.”

Prajurit itu termangu-mangu sejenak, lalu, “Perintah tuanku terlampau tinggi bagi hamba. Tetapi hamba seharusnya menjalankan perintah atasan hamba langsung. Karena itu, sebaiknya tuanku menjatuhkan perintah kepada Senapati yang hari ini bertugas di istana, dan Senapati itu akan memerintahkan kepada pemimpin hamba itu.”

Agnibhaya menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar bahwa ia tidak akan dapat berbicara banyak dengan orang-orang yang hanya sekedar menjalankan perintah. Karena itu, betapapun hatinya kurang mapan karena kedua prajurit itu, ia tidak lagi berniat untuk melepaskan diri.

Tetapi sejenak kemudian timbullah pikiran yang lain di dalam hatinya. Tiba-tiba saja ia merasa bahwa kedua prajurit itu bukan sekedar mengawalnya. Tetapi keduanya tentu sedang mengawasinya dan memperlakukannya sebagai seorang yang telah kehilangan sebagian dari kebebasannya.

Namun demikian Agnibhaya tidak berbuat apa-apa. Katanya di dalam hati, “Asal keduanya tidak mengganggu kehadiranku.”

Namun demikian rasa-rasanya ada sesuatu yang mengganggu perasaan. Semakin dekat Agnibhaya dengan regol yang memisahkan bagian-bagian dari istana Singasari itu, hatinya menjadi semakin berdebar-debar.

Apalagi ketika kakinya menginjak tangga regol itu. Terasa sesuatu menghentak dadanya. Dari kejauhan ia sudah melihat arena sabung ayam yang riuh dan keributan yang semakin lama menjadi semakin kisruh.

Dada Agnibhaya menjadi semakin berdebar-debar. Karena itulah maka iapun menjadi semakin tergesa-gesa mendekat.

Dalam pada itu, kedua ayam aduan itu sudah sampai ke puncak kemampuannya. Justru keduanya mulai menjadi lemah. Keduanya tidak lagi saling menyerang. Tetapi keduanya seolah-olah hanya membelitkan leher dan sekali-sekali mematuk.

Para penontonnyalah yang menjadi riuh. Mereka bersorak-sorak seakan-akan tidak telaten lagi melihat perkelahian yang menjadi lamban. Bukan kebiasaan mereka melihat ayam bersabung sampai demikian lama dan lamban. Luka-luka yang kemerah-merahan menjadi semakin banyak memenuhi tubuh ayam itu.

“Bunuh saja.” seorang berteriak, “bunuh saja, dan biarlah yang lain turun ke gelanggang.”

“Menjemukan. Bunuh saja.” sahut yang lain.

Tetapi terdengar seseorang berteriak, “Mengerikan, jangan biarkan mereka menderita terlalu lama. Bunuh saja.”

“Bunuh saja. Bunuh saja.” hampir berbarengan orang-orang itu berteriak-teriak.

Pada saat kekisruhan karena kejemuan dan sebagian iba hati itu menjadi semakin memuncak, maka Anusapati pun menjadi semakin gelisah. Ia pun menjadi sangat iba melihat kedua ayam jantan yang menjadi semakin lemah. Bahkan kadang-kadang mereka jatuh bersama-sama dan seolah-olah sudah tidak mampu lagi untuk bangkit lagi.

Dalam pada itu, para penonton menjadi semakin ribut. Keributan yang berbeda-beda nadanya. Namun yang terdengar jelas adalah suara, “Bunuh saja, bunuh saja.”

Anusapati pun akhirnya tidak tahan lagi. Seperti orang-orang lain ia ingin menghentikan pertarungan dua ekor ayam yang sudah tidak berdaya oleh kelelahan dan luka-luka yang arang kranjang itu.

Pada saat itu semua perhatian orang yang ada di sekitar arena itu tertuju kepada kedua ekor ayam yang berada di arena. Setiap mata hampir tidak berkedip dan semua hati menjadi berdebaran.

Tidak seorang pun memperhatikan orang-orang lain di sekitarnya. Bahkan orang yang berada di sampingnya.

Demikian juga Anusapati. Perhatiannya terampas oleh kedua ekor ayam di arena itu, sehingga ia tidak memperhatikan apapun juga di sekitarnya. Demikian juga para pengawalnya.

Dalam keadaan yang demikian, sebenarnya bukan semua orang seakan-akan telah kehilangan kesadaran. Dengan diam-diam seseorang merayap mendekati Tohjaya yang duduk di samping kakandanya, Anusapati. Perlahan-lahan, ia menggamit kaki Tohjaya sambil menunjuk kelambungnya.

Tohjaya berpaling sesaat. Ia pun kemudian mengangguk kecil.

“Inilah saatnya.” berkata Tohjaya di dalam hatinya.

Dengan demikian maka perlahan-lahan ia meraba sesuatu di lambung orang yang mendekatinya itu. Ketika tangannya menyentuh hulu keris yang kasar, yang terbuat dari sepotong kayu cangkring, maka Tohjaya itu pun tersenyum.

Perlahan-lahan ia menarik hulu keris itu. Sedang orang yang duduk di sampingnya sama sekali tidak mengacuhkannya, sehingga orang-orang yang ada di sekitarnya sama sekali tidak tertarik perhatiannya kepada kehadiran dan sikapnya.

Keris yang kini telah berada di tangan Tohjaya itu adalah keris Empu Gandring. Sejenak ia memandang keris itu, kemudian memandang kakandanya yang sedang memusatkan perhatiannya kepada dua ekor ayam jantan di arena.

Namun ternyata ada seorang yang melihat keris di tangan Tohjaya itu. Karena itu hatinya menjadi bergerak. Sejenak ia termangu-mangu. Jika ia berteriak memperingatkan Anusapati, maka keris itu justru akan segera menghunjam kelambung.

“Yang akan terjadi, kini ternyata telah terjadi.” desisnya. Namun ia tidak dapat berdiam diri. Perlahan-lahan ia pun bergeser mendekat. Ia tidak mau mengejutkan Tohjaya dan mempercepat gerak tangannya.

Namun, orang itu merasa bahwa sangat sulit untuk melakukannya. Rasa-rasanya tidak akan tercegah lagi, bahwa Anusapati memang harus meninggalkan tahta Singasari dalam keadaan yang serupa dengan ayahandanya Tunggul Ametung dan ayahandanya Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi.

Sambil menahan nafas maka orang itupun bergeser semakin dekat. Tetapi belum lagi jarak itu mencapai sepanjang jangkauan tangannya, Tohjaya sudah mulai menggerakkan tangannya.

Hampir di luar sadarnya orang itu berteriak nyaring sehingga suaranya bagikan memecahkah selaput telinga. “Tuanku Anusapati, hati-hati atas sebuah serangan yang licik.”

Tetapi suara itu menyentuh telinga Anusapati berbareng dengan ayunan tangan Tohjaya. Anusapati yang mendengar suara itupun terkejut. Tetapi ia lebih terkejut lagi ketika terasa tangan Tohjaya menarik lengannya sedang tangan yang lain menghujamkan keris Empu Gandring di lambungnya.

Anusapati tidak sempat berbuat sesuatu. Meskipun ia memiliki kemampuan yang tinggi, yang jauh lebih tinggi dari Tohjaya, namun kelengahannya itulah yang mengantarkannya ke pintu kematian.

Terdengar Anusapati mengaduh perlahan-lahan. Ia masih sempat menatap mata Tohjaya dengan pandangan yang sedih. Sedih melihat kelakuan Tohjaya yang sama sekali tidak menunjukkan sifat kesatria, dan yang bahkan, memang sudah direncanakan.

Pengawal-pengawal Anusapati tidak dapat berbuat apa-apa melihat keris Empu Gandring menghunjam di lambung Anusapati. Namun demikian mereka adalah pengawal-pengawal yang setia. Pengawal-pengawal khusus yang langsung ditunjuk oleh Anusapati sendiri. Karena itulah, mereka tiba-tiba saja telah menarik senjata masing-masing.

Empat orang pengawal khusus Anusapati itu bagaikan orang kehilangan akal. Tiba-tiba saja mereka mengamuk seperti seekor banteng yang terluka. Senjatanya terayun-ayun dengan dahsyatnya menyambar siapa pun yang berada di dekatnya.

Namun serentak mereka berusaha menyerang Tohjaya yang telah membunuh kakandanya sendiri dengan cara yang licik sekali.

Tetapi Tohjaya sudah menyiapkan pengawalnya yang kuat. Karena itu, maka pengawalnya itulah yang kemudian berusaha menyelamatkannya.

Namun demikian, di dalam kemarahan yang memuncak itu, ke empat pengawal khusus Anusapati itu telah membunuh lebih dari lima orang yang berada di sekitarnya. Tiba-tiba seorang prajurit yang lain tewas pula seketika. Dan sejumlah yang lain telah dilukainya sebelum para pengawal Tohjaya berhasil mengurung mereka di dalam kepungan yang rapat.

Arena Sabung ayam itu menjadi kacau balau. Sehingga dari mereka yang berada di gelanggang memang orang yang telah dipasang oleh Tohjaya. Tetapi beberapa orang yang lain tidak tahu menahu sama sekali tentang apa yang terjadi, sehingga mereka hanya dapat berlari-larian kian kemari tanpa arah.

Dalam kebingungan yang sangat itu, telah terjadi pertempuran antara para pengawal yang setia kepada Anusapati, melawan orang-orang yang memang sudah disiapkan dengan baik oleh Tohjaya. Dan sebenarnyalah bahwa sebagian besar dari para prajurit di dalam istana itu sudah dikuasainya, karena para Panglimanya sudah dikuasainya pula.

Empat orang pengawal yang setia itu bertempur membabi buta. Mereka tidak rela melihat Maharajanya mati ditusuk dengan cara yang sangat licik itu. Bagi mereka, adalah lebih baik mati bersama Anusapati daripada hidup di dalam dera siksaan batin mereka sendiri. Mereka merasa bahwa mereka telah gagal menjalankan tugas dan menyia-nyiakan kepercayaan Maharaja Singasari atas mereka.

Namun perlahan-lahan keempatnya berhasil dikuasai oleh para prajurit yang sudah berpihak kepada Tohjaya. Sementara itu di seluruh halaman istana itupun telah dilakukan penguasan serentak atas segala segi pemerintahan.

Tetapi, keempat orang pengawal itu sama sekali tidak akan menyerah. Mereka akan berkelahi sampai mati. Dan justru karena itu, maka mereka menjadi kehilangan kekangan atas diri sendiri. Ujung senjata mereka bagaikan seekor burung sikatan yang meloncat-loncat menyebarkan maut.

Meskipun mereka berempat sudah terkurung, namun mereka masih sempat menaburkan korban di sekitar mereka. Justru karena mereka adalah pengawal pilihan yang memiliki kemampuan melampaui kemampuan prajurit-prajurit yang lain, bahkan melampaui kemampuan senapati-senapatinya.

Tetapi yang mengepung mereka adalah prajurit dalam jumlah yang jauh lebih banyak. Apalagi ketika hadir di antara perkelahian itu Panglima Pelayan Dalam yang memang telah mengatur semua yang akan terjadi itu bersama Panglima pasukan Pengawal yang tidak lagi dapat melepaskan diri dari cengkaman tangan Tohjaya.

“Biarlah aku membunuh mereka.” geram Panglima Pelayan Dalam itu, “lepaskan mereka seorang demi seorang. Aku akan membunuh mereka seperti membunuh penjahat yang paling terkutuk di Singasari.”

Para pengawal yang setia itu melihat kehadiran Panglima Pelayan Dalam. Salah seorang dari mereka tiba-tiba saja berteriak, “Pengkhianat. Kau memang pengkhianat. Aku sudah mencurigaimu sejak lama.”

Panglima itu tertawa. Katanya, “Kau jangan banyak berbicara lagi. Sebentar lagi kau akan mati.”

Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja terdengar suara yang lain. “Panglima yang perkasa. Biarlah prajurit-prajurit itu bertempur di antara mereka. Jika kau masih juga ingin berkelahi, marilah kita berkelahi.”

Semua orang berpaling kearah suara itu. Mereka melihat seorang yang meningkat ke usia tuanya berdiri tegak mamandang Panglima Pelayan Dalam yang sedang berusaha untuk menangani sendiri prajurit-prajurit pengawal yang setia kepada Anusapati.

“Apa yang dikatakan itu benar.” berkata orang itu, “kalian adalah pengkhianat-pengkhianat. Nah, sebaiknya kalian bertanding dengan orang-orang yang pantas melawanmu. Bukan prajurit-prajurit yang setia itu.”

“Siapa kau?” bertanya Panglima itu.

“Aku ingin tahu, apakah kau akan bersikap jantan setelah kau mendengar namaku, atau kau akan bersikap seperti tuanmu yang membunuh tuanku Anusapati dengan cara yang sangat licik.”

“Persetan, aku dapat memerintahkan menangkap dan membunuhmu.”

“Tentu. Tetapi itu sama halnya dengan perbuatan pengecut. Padahal kau adalah seorang Panglima. Aku tantang kau berperang tanding.”

“Siapa kau?”

“Aku adalah orang yang banyak sekali menyerahkan ayam jantan aduan kepada tuanku Tohjaya. Tetapi katakan, bahwa kau terima tantanganku untuk berperang tanding. Aku akan menyebutkan namaku.”

Panglima Pelayan Dalam itu ragu-ragu. Sejenak ia memandang prajurit-prajuritnya dengan ragu. Kemudian dipandanginya pula berganti-ganti ke empat orang pengawal setia Anusapati yang berdiri tegak mematung karena pertempuran itupun tiba-tiba terhenti karena kehadiran orang yang menjelang umur tuanya itu.

“Sebutkan kesediaanmu. Kemudian aku akan menyebut namaku. Jika tidak, dan kau akan memerintahkan prajuritmu mengeroyok aku, aku akan mati tanpa nama. Tetapi setiap orang yang ada di sini, meskipun sebagian besar adalah anak buahmu akan mengingat peristiwa ini, bahwa seorang Panglima telah berlaku licik.”

“Baiklah. Aku terima tantanganmu,”

“Semua menjadi saksi.”

“Semua menjadi saksi.”

“Panglima-panglima yang lain menjadi saksi.”

“Ya.”

“Dimana tuanku Tohjaya.”

Semua mata mencarinya. Dan mereka melihat Tohjaya berdiri tidak begitu jauh sambil memegangi tangan seorang anak yang sudah remaja.

“Lepaskan aku kakanda.” teriak anak muda itu.

“Tenanglah Adinda Agnibaya. Yang terjadi adalah di luar kekuasaan adinda.”

“Apa yang telah terjadi atas Kakanda Anusapati.”

“Kita sama-sama tidak tahu dengan pasti. Karena itu, tinggallah di sini. Jangan mendekati kekacauan itu.”

“Bagaimana dengan Kakanda Anusapati.” teriak Agnibhaya.

Orang yang berdiri berhadapan dengan Panglima Pelayan Dalam itu tidak sampai hati meneriakkan kenyataan tentang Anusapati. Tetapi salah seorang dari keempat pengawal setia Anusapati itulah yang berkata lantang. “Tuanku Anusapati telah terbunuh. Yang membunuh dengan licik adalah tuanku Tohjaya sendiri.”

Wajah Agnibaya menjadi merah. Tiba-tiba saja ia menyerang Tohjaya dengan sengitnya.

Tetapi Agnibaya masih terlampau muda. Ilmunya masih belum mencukupi sama sekali untuk melakukan pembelaan dengan kekerasan. Karena itu, maka sejenak kemudian dua orang prajurit dengan mudahnya telah menguasainya. Keduanya memegang lengan Agnibaya dengan eratnya. Sedang Tohjaya yang berdiri di hadapannya berkata, “Tenanglah adinda. Kakanda akan menjelaskan persoalannya nanti. Tetapi sekarang, menepilah. Jangan berada di tempat yang masih kacau ini.”

Dalam pada itu, prajurit yang setia kepada Anusapati itu pun berteriak, “Kenapa tidak kau bunuh sama sekali adinda tuanku Anusapati itu.”

“Diam kau.” teriak Panglima Pelayan Dalam.

Dan orang yang menjelang usia tua itu tertawa sambil berkata, “Biarlah mereka meneriakkan kebenaran. Kenapa kau menjadi bingung.”

“Persetan, sebut namamu cepat, sebelum kau mati.”

“Baiklah. Kita akan berperang tanding. Bersiaplah.”

“Sebut namamu lebih dahulu.”

Orang itu menjadi ragu-ragu sejenak, namun kemudian katanya, “Aku juga pernah menjadi seorang Pelayan Dalam. Dan aku adalah Pelayan Dalam yang pada saat itu pernah meninggalkan tugasku. Hampir berkhianat pula seperti kau. Tetapi kini aku sadar, bahwa pengkhianatan itu tidak akan menguntungkan bagi diriku dan bagi setiap pengkhianat.”

“Tutup mulutmu, sebut namamu.”

Orang itu termangu-mangu. Sejenak ia memandang berkeliling. Dilihatnya beberapa orang prajurit telah mengerumuninya. Mereka hampir melupakan keempat prajurit yang setia kepada Anusapati itu.

Orang itu menjadi berdebar-debar ketika ia melihat beberapa orang perwira yang sebaya dengan umurnya. Perwira-perwira tua yang masih berada di lingkungan keprajuritan. Agaknya tenaga mereka masih dibutuhkan sehingga mereka masih harus tetap memikul kuwajibannya.

“Salah seorang dari Perwira-perwira tua itu dapat mengenal aku.” berkata orang itu.

Tetapi tidak seorang pun yang menyebut namanya. Dan Panglima Pelayan Dalam itu berteriak kepada para prajurit. “Siapa yang mengenal orang ini?”

Orang-orang yang ada di sekitarnya masih tetap berdiam diri.

“Tentu ada seorang yang mengalami menjadi hamba Akuwu Tunggul Ametung. Dan bertanyalah kepadanya.”

Beberapa orang tua mengerutkan keningnya. Mereka mencoba untuk mengenali orang yang kini berdiri berhadapan dengan Panglima itu.

“Apakah tidak ada seorangpun lagi yang mengenal aku?”

Tiba-tiba salah searang perwira yang sudah sebaya dengan orang itu mendekatinya. Perlahan-lahan ia bergumam, “Aku memang pernah melihatmu.”

Orang itu tersenyum. Agaknya ia pun mengenal perwira itu. Maka katanya, “Kaukah yang pernah dijuluki harimau lapar di medan pertempuran. Nah, kau tentu ingat aku.”

Perwira itu merenung sejenak. Dipandanginya orang itu dengan saksama sambil berdesis, “Kau benar. Dahulu aku adalah seekor harimau lapar di medan pertempuran. Namun kemudian aku tidak lebih dari seekor harimau tua yang sudah tidak bergigi.” Orang itu berhenti sejenak, lalu, “he, kau si Kuda liar itu?”

Orang itu tersenyum. Katanya, “Apakah kau sekedar menebak atau kau benar-benar mengenal aku?”

“Kedua-keduanya. Rasa-rasanya aku sudah mengenalmu, dan karena itu aku telah menebak sebutanmu di antara para Pelayan Dalam.”

“Kau benar. Akulah itu.”

“Kuda Sempana?”

“Ya, Kuda Sempana.”

Beberapa orang terkejut mendengar nama itu. Nama yang telah lama hilang dari istana. Justru sejak masa Akuwu Tunggul Ametung masih berkuasa. Bahkan beberapa orang tua-tua masih teringat, apa yang pernah terjadi, ketika Kuda Sempana masih seorang anak muda yang perkasa. Ia pernah berusaha melarikan Ken Dedes dari padepokannya. Namun yang ternyata telah dikehendaki oleh Akuwu Tunggul Ametung sendiri.

Dan kini Kuda Sempana itu tiba-tiba telah muncul kembali.

“Kuda Sempana.” Tohjaya bergumam.

“Ya, aku adalah Kuda Sempana. Seorang Pelayan Dalam pada masa pemerintahan Akuwu Tunggul Ametung.”

“Dan apakah yang kau kehendaki sekarang?”

“Aku tidak tahu, apakah yang sebenarnya telah terjadi di dalam diriku. Aku tidak tahu, perkembangan apakah yang tumbuh di dalam jiwaku. Namun sekarang, yang aku ketahui bahwa aku berpihak kepada tuanku Anusapati, putera tuan Puteri Ken Dedes.”

“Kau pernah menculiknya.” tiba-tiba seorang perwira yang lain berdesis.

“Ya. Aku pernah mencintainya. Mungkin ada hubungannya dengan keputusanku sekarang, bahwa aku berpihak kepada tuanku Anusapati, putera tuan Puteri Ken Dedes itu.”

“Persetan.” Tohjaya menggeram, “cepat, selesaikan orang itu.”

Panglima Pelayan Dalam itu memang tidak dapat bersabar lagi. Karena itu, maka ia pun segera bersiap untuk bertempur melawan orang yang bernama Kuda Sempana itu.

Kuda Sempana pun kemudian mempersiapkan dirinya pula. Sekali lagi berkata, “Kita berperang tanding. Dan aku ingin melihat, apakah para perwira di Jaman Singasari yang besar ini lebih baik dari para perwira pada masa Akuwu Tunggul Ametung berkuasa di sebuah daerah yang sempit yang disebut Tumapel.”

“Persetan. Jangan menyesal kalau kau mati di arena ini seperti seekor ayam yang mati di dalam arena sabungan.”

“Justru aku akan berbangga, bahwa kematianku adalah kematian seorang prajurit.”

Panglima itu tidak dapat menahan hatinya lagi. Tiba-tiba saja ia menyerang Kuda Sempana dengan sepenuh kemampuannya.

Tetapi Kuda Sempana pun telah bersiap pula. Dengan tangkasnya ia berhasil menghindar dan bahkan kemudian iapun telah menyerang kembali dengan cepatnya.

Sejenak kemudian keduanya telah terlibat di dalam perkelahian yang seru. Prajurit-prajurit yang lain bagaikan terpesona melihat pertempuran yang dahsyat itu. Mereka seakan-akan telah melupakan, bahwa di antara mereka masih terdapat beberapa orang pengawal Anusapati yang setia.

Ternyata bahwa Panglima itu benar-benar memiliki kemampuan bertempur melampaui para prajurit dan Senapati. Ia memiliki ilmu yang dahsyat dan tata gerak yang kadang-kadang di luar perhitungan.

Namun lawannya, Kuda Sempana, telah memperdalam ilmunya sampai tuntas. Bukan saja olah keprajuritan dengan segala macam kemungkinannya, tetapi ia adalah murid Empu Sada yang telah berhasil mewarisi segenap ilmu dan kemampuannya.

Itulah sebabnya, maka Panglima yang berada di puncak jabatan keprajuritan itu tidak segera dapat menguasainya. Bahkan semakin lama semakin ternyata bahwa Kuda Sempana masih memiliki beberapa kelebihan dari padanya.

Berbagai perasaan bercampur baur di dalam hati Panglima itu. Ia merasa malu jika ia tidak dapat mengalahkan orang yang menyebut dirinya seorang Pelayan Dalam dari jaman Akuwu Tunggul Ametung.

Namun bagaimanapun juga, akhirnya ia tidak dapat lari dari kenyataan, bahwa Kuda Sempana adalah benar-benar seorang yang pilih tanding.

Dengan demikian maka pertempuran itu semakin lama menjadi semakin seru. Panglima Pelayan Dalam itu semakin dibakar oleh perasaan marah, cemas dan nafsu untuk segera dapat mengalahkan lawannya. Jika ia sekarang seorang Panglima di dalam masa kejayaan Singasari tidak dapat mengalahkan hanya seorang Pelayan Dalam di masa pemerintahan seorang Akuwu kecil bernama Tunggul Ametung, maka ia tentu akan mengalami penderitaan batin tiada taranya.

Meskipun demikian Panglima itu tidak segera berhasil menguasai Kuda Sempana. Bahkan semakin lama Kuda Sempana semakin mendesaknya dan tidak memberinya kesempatan untuk menyerang.

Kuda Sempana lah yang kemudian seakan-akan menguasai arena. Panglima Pelayan Dalam yang bagi bawahannya dan kawannya merupakan seorang yang pilih tanding itu, hampir tidak dapat berbuat apa-apa di hadapan Kuda Sempana, yang hanya seorang Pelayan Dalam dan yang kemudian menjadi seorang yang setiap kali datang membawa ayam aduan.

Tetapi bagi Tohjaya, persoalannya semakin lama menjadi semakin jelas baginya. Tentu Kuda Sempana itu dengan sengaja telah dikirim oleh Anusapati kepadanya. Anusapati ingin mengetahui apa yang telah terjadi di arena.

“Agaknya kakanda Anusapati telah mencurigai aku selama ini.” berkata Tohjaya di dalam hati, “tetapi kenapa, ia masih bersedia hadir di arena hari ini? Jika orang itu menyampaikan semua peristiwa yang ada di arena ini, tentu kakanda Anusapati akan berkeberatan memenuhi undanganku.”

Dalam kebimbangan, Tohjaya yang tidak dapat menahan perasaannya itu tiba-tiba berteriak, “He Kuda Sempana. Ternyata bahwa kau sengaja dikirim oleh kakanda Anusapati kemari.”

“Ya.” Kuda Sempana tidak lagi berusaha untuk menyelubungi dirinya lagi. Sambil bertempur ia menjawab lebih lanjut, “hamba adalah utusan Kakanda Anusapati.”

“Jika demikian kau adalah seorang kepercayaan yang bodoh. Akhirnya Kakanda Anusapati terbunuh pula di arena ini.”

“Tidak.” Kuda Sempana masih sempat berbicara meskipun ia masih harus bertempur terus, “kakanda tuanku adalah orang yang paling baik di muka bumi. Hamba telah melaporkan semuanya yang hamba ketahui. Bahkan kecurigaan hamba terhadap tuanku Tohjaya. Sebenarnya tuanku Anusapati dapat menghubungkan semua laporan hamba dengan keris yang tuanku minta kepadanya. Kemudian undangan tuanku yang tentu sangat aneh ini. Tetapi tuanku Anusapati sengaja memerangi kecurigaa di dalam dirinya karena tuanku Anusapati menganggap bahwa tuanku Tohjaya adalah adiknya sendiri yang selama ini diberinya kesempatan untuk mengembangkan semua kesenangan, keinginan dan cita-citanya. Tetapi dengan demikian kepribadian tuanku Tohjayapun berkembang. Kepribadian seorang yang dengki dan tamak, sehingga akhirnya sampai hati membunuh saudara sendiri.”

“Ia bukan saudaraku. Kakanda Anusapati ternyata bukan saudaraku. Ia telah membunuh Ayahanda Ken Arok. Aku yakin. Dan aku telah membalaskan dendam Ayahanda Sri Rajasa.”

“Jika demikian maka tuanku harus tahu sebabnya, kenapa tuanku Anusapati sampai pada kesimpulan untuk membunuh tuanku Sri Rajasa jika itu benar.” Kuda Sempana berhenti sejenak, karena serangan Panglima itu hampir saja menyambar hidungnya. “Tunggu.” berkata Kuda Sempana kemudian, “beri kesempatan aku berbicara.”

“Berikesempatan ia berbicara sebelum ia mati.” berkata Tohjaya kemudian.

Panglima itu terhenti sejenak. Tapi sebenarnya kesempatan itu amat menguntungkannya. Ia dapat menarik nafas sepuas-puasnya dan sedikit beristirahat, karena tenaganya sudah mulai susut.

“Cepat katakan, apa yang telah dilakukan kakanda Anusapati.”

“Bukan yang dilakukan oleh tuanku Anusapati, tetapi oleh tuanku Sri Rajasa. Tuanku harus mengetahuinya bahwa sebenarnya tuanku Anusapati bukan kakanda tuanku. Tetapi kakanda Anusapati adalah putera Akuwu Tunggul Ametung.”

“Aku sudah tahu, aku sudah tahu.” teriak Tohjaya.

“Dan apakah tuanku sudah tahu, kenapa tuanku Tunggul Ametung terbunuh.”

“Kebo Ijo membunuhnya.”

“Tidak. Kebo Ijo sekedar korban fitnah ayahanda tuanku Sri Rajasa. Yang membunuh ayahanda tuanku Anusapati adalah Ken Arok yang kemudian bergelah Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi.”

“Bohong.”

“Bertanyalah kepada ibunda tuanku Ken Umang. Tentu ayahanda pernah berceritera kepadanya, karena tuan puteri Ken Umang merupakan tumpuan perasaan tuanku Ken Arok setelah ia melupakan tuan puteri Ken Dedes. Dan sebaiknya tuanku mengetahui, bahwa kekuasaan atas Tumapel saat itu tidak ada pada tuanku Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa tetapi ada pada tuan puteri Ken Dedes, sehingga tuanku Anusapati lah yang berhak atas tahta dari Singasari yang merupakan kelanjutan dari Tumapel. Sepeninggal tuanku Anusapati, maka keturunannyalah yang berhak atas tahta, atau putera Sri Rajasa yang lahir dari tuan puteri Ken Dedes. Tidak dari tuan Putri Ken Umang yang diketemukan oleh tuanku Sri Rajasa di dalam perburuan dengan cara yang paling hina, sehingga lahirlah tuanku Tohjaya.”

Wajah Tohjaya menjadi merah padam. Rasa-rasanya telinganya telah tersentuh bara api tempurung. Karena itu dengan gigi gemeretak ia berteriak. “Bunuh orang gila itu.”

Tetapi Kuda Sempana masih sempat tertawa. Katanya, “seharusnya aku sudah mati sejak lama. Tetapi Mahisa Agni yang mempunyai hak untuk membunuhku karena seribu alasan tidak melakukannya. Karenanya itu, jika aku sekarang mati maka aku masih harus mengucapkan terima kasih kepada Mahisa Agni itu.”

Suara Kuda Sempana terputus. Panglima itu menyerangnya dengan garang. Namun Kuda Sempana masih sempat mengelak.

Perkelahian itupun kini terulang kembali dengan dahsyatnya. Namun karena Panglima itu tidak akan dapat berhasil mengalahkan Kuda Sempana, maka Tohjaya pun berteriak.

“Bunuh orang itu. Aku memerintahkan kepada semua prajurit yang ada di sini.”

“He.” sahut Kuda Sempana, “tuanku akan menyiksa Panglima tuanku untuk selamanya? Perasaannya tentu akan terhina karena ia sudah berjanji atas nama kejantanannya, bahwa ia akan melakukan perang tanding.”

“Persetan. Aku perintahkan kepada semua prajurit, Senapati, dan Panglima yang ada di sini.”

Kuda Sempana mengerutkan keningnya. Sekilas ia melihat semua prajurit bersiaga dan bahkan beberapa orang telah maju mendekatinya.

Sekali ia menarik nafas. Namun hatinya telah mapan. Seakan-akan ia melihat maut telah siap untuk menjemputnya. Dan ia tidak akan lari. Ia sudah siap untuk mati karena menurut perasaannya, hidupnya sudah cukup panjang. Seperti yang dikatakannya, seharusnya ia sudah lama mati. Tetapi ia masih tetap hidup sampai saat itu. Karena itu, maka mati bukan lagi sesuatu yang menakutkan baginya.

Tetapi Kuda Sempana tidak mau mati begitu saja. Ia ingin mati seperti seorang prajurit. Rasa-rasanya ia kini kembali menjadi seorang Pelayan Dalam yang ada di medan pertempuran.

Karena itulah maka ketika ia melihat beberapa orang prajurit mengepungnya, ia justru tersenyum. Namun dalam pada itu, ia sempat menyilangkan tangan di dadanya. Kuda Sempana masih sempat membangunkan puncak kekuatannya pada aji yang diwarisinya dari Empu Sada. Kala Bama.

Beberapa orang terkejut melihat sikapnya. Tetapi mereka tidak sempat berbuat banyak. Panglima Pelayan Dalam yang sedang berusaha menangkapnyapun terkejut. Ia mencoba untuk memusatkan segenap kekuatannya untuk melawan kekuatan yang tidak dapat diduganya lebih dahulu itu.

Tetapi ia telah terlambat. Sejenak kemudian Kuda Sempana yang sudah mapan untuk mati itu telah meloncat dan mengayunkan tangannya kearah Panglima Pelayan Dalam itu.

Yang terjadi adalah sebuah benturan yang dahsyat. Tetapi tidak seimbang. Kuda Sempana sudah ada di puncak kekuatannya, sedang Panglima itu sama sekali belum berhasil mengimbanginya, karena bekalnya memang belum cukup untuk menyogsong aji Kala Bama yang dahsyat itu.

Orang-orang yang menyaksikan benturan itu memalingkan wajahnya. Mereka melihat tubuh Panglima Pelayan Dalam itu terhempas di tanah, dan tidak sempat lagi untuk menggeliat. Agaknya tulang belulangnya telah hancur menjadi debu di dalam tubuhnya. Yang tampak hanyalah darah meleleh dari mulutnya pada saat ia sudah tidak bernafas lagi.

Sejenak Tohjaya terpesona. Namun kemuidan ia berteriak sekali lagi. “Bunuh orang gila ini.”

Betapapun setiap hati dicengkam oleh kengerian, namun para prajurit itu pun mengepungnya semakin rapat. Kini yang ada di antara mereka adalah Panglima Pasukan Pengawal yang memiliki bekal lebih lengkap dari Panglima Pelayan Dalam untuk melawan Kuda Sempana. Namun demikian ia masih memerlukan para Senapati pilihan untuk membantunya.

Kuda Sempana tiba-tiba menjadi liar. Matanya menjadi merah, dan rasa-rasanya ia telah kehilangan sifatnya yang lembut. Ia benar-benar telah menjadi seorang prajurit di medan perang brubuh.

Karena itulah, maka iapun segera mengamuk dalam puncak ilmu Kala Bama. Setiap sentuhan tangannya telah melemparkan lawannya dan membantingnya jatuh ke tanah tanpa dapat bangun lagi untuk selama-lamanya.

Dalam pada itu, selagi Kuda Sempana harus berjuang menghadapi sepasukan prajurit, maka pengawal-pengawal Anusapati yang setiapun mulai bangkit kembali. Tiba-tiba saja mereka pun mengayun-ayunkan senjatanya, menyerang siapa saja yang dekat padanya.

Karena itu, maka arena itu pun menjadi semakin kisruh. Korban berjatuhan satu-satu dengan cepatnya. Tangan Kuda Sempana yang terayun-ayun dalam puncak ilmunya itu bagaikan tangan dewa maut yang memungut nyawa orang-orang yang dikehendakinya. Sedang senjata keempat pengawal Anusapati itupun terayun-ayun tanpa kekang.

Namun jumlah lawan mereka jauh lebih banyak. Karena para prajurit dan Senapati tidak berhasil mendekati Kuda Sempana, maka merekapun mulai menghujani Kuda Sempana dengan senjata.

Mula-mula Kuda Sempana berhasil menangkis senjata-senjata itu dan melontarkan kembali ke arah prajurit yang mengepungnya dan menyambar beberapa orang korban di antara mereka. Tetapi lambat laun, senjata yang menyerangnya bagaikan hujan yang semakin lebat. Karena itu, satu-satu senjata-senjata itu mulai menyentuh tubuhnya.

Agnibaya yang melihat semuanya yang terjadi meronta-ronta sekuat tenaganya. Tetapi ia tidak banyak dapat berbuat. Tangannya bagaikan dicengkam oleh kekuatan raksasa, karena beberapa orang prajurit masih saja memeganginya.

Sementara itu, Kuda Sempana semakin lama menjadi semakin garang. Ia sudah pasrah diri kepada maut yang siap merenggutnya. Namun justru karena itu, maka iapun menjadi semakin tenang meskipun senjata yang menyentuh tubuhnya menjadi semakin banyak. Lukanya menjadi bagaikan arang kranjang. Keringat yang bercampur warna darah telah membasahi seluruh tubuhnya.

Namun satu demi satu korban di pihak lawannya pun berjatuhan. Sisa-sisa kekuatan aji pamungkasnya masih berhasil merenggut beberapa orang korban sebelum kemudian cucuran darahnya yang tidak terbendung membuatnya semakin tidak berdaya.

Akhirnya, Kuda Sempana menjadi kehilangan segenap kekuatannya. Pukulannya yang terakhir dengan kekuatan puncaknya masih menyentuh Panglima Pasukan Pengawal. Tetapi kekuatan puncaknya itu sudah susut, sehingga akibatnya pun tidak terlampau parah bagi lawannya, meskipun Panglima itupun terdorong beberapa langkah surut dan hampir tidak berhasil mempertahankan keseimbangannya.

Tapi dengan mengerahkan seluruh kemampuannya itu, Kuda Sempana telah melepaskan segenap sisa tenaga yang ada padanya.

Disaat terakhir Kuda Sempana masih melihat seorang dari keempat pengawai yang setia kepada Anusapati itu mengayunkan senjatanya, namun iapun segera jatuh menelungkup dengan luka tidak terhitung jumlahnya. Meskipun mereka adalah pengawal pilihan, tetapi mereka tidak mampu melawan prajurit yang jumlahnya berlipat ganda.

Dorongan ujung tombak seorang Senapati telah mendorong Kuda Sempana yang lemah itu. Sejenak ia menggeliat. Namun kemudian iapun terlentang di tanah dengan lemahnya.

Akan tetapi Kuda Sempana masih sempat tersenyum melihat para prajurit yang sudah mengerumuninya dengan senjata telanjang. Bahkan ia masih dapat berkata, “Nah, bukankah kau lihat, bahwa seorang Pelayan Dalam pada masa Akuwu Tunggul Ametung jauh lebih baik dari Panglima di masa kini?”

Tidak seorang pun yang menjawab. Beberapa orang menjadi termangu-mangu. Namun mereka kemudian melihat Kuda Sempana memejamkan matanya.

Seperti Sumekar, adik seperguruannya, Kuda Sempana merasa bahwa ia telah memberikan pengorbanan dengan nyawanya bagi keturunan Ken Dedes yang dianggapnya memang berhak atas tahta Singasari. Tetapi lebih daripada itu, Kuda Sempana merasa berdosa, karena ialah sumber malapetaka yang sebenarnya bagi Ken Dedes. Jika ia tidak tergila-gila kepada gadis itu dan mengambilnya dari Panawijen, sebagai ternyata berakibat kematian Wiraprana, maka Ken Dedes tidak akan mengalami kepahitan hidup yang seolah-olah tidak kunjung berakhir.

Karena itu, kematiannya seakan-akan merupakan sebagian tebusan bagi dosanya itu.

Meskipun demikian, di saat terakhir itu Kuda Sempana tidak dapat lagi menghindari penyesalan yang mendalam. Bahwa semuanya itu harus terjadi.

Namun demikian, meskipun terlambat, rasa-rasanya ia telah mengurangi dosa yang pernah dibuatnya atas Ken Dedes dan Mahisa Agni. Karena itulah, maka seakan-akan di dalam saat terakhir dari hidupnya itu, ia masih sempat tersenyum.

Kematian Kuda Sempana di arena itu, benar-benar telah menggemparkan. Berita tentang kehadirannya segera tersebar sampai keujung kota. Kuda Sempana, seorang Pelayan Dalam pada masa pemerintahan Akuwu Tunggul Ametung, telah terbunuh di halaman istana bersama dengan tuanku Anusapati.

Namun pada saat berita itu tersebar, prajurit yang berpihak kepada Tohjaya benar-benar telah berhasil menguasai seluruh kota Singasari dan sekitarnya.

Maka berlakulah satu lagi kutuk Empu Purwa dari Panawijen atas orang-orang yang melarikan anaknya. Bahwa mereka akan mati ditikam dengan keris. Pada Kuda Sempana bukan saja luka oleh keris yang menyobek dadanya, tetapi lukanya yang arang kranjang itu adalah bekas luka oleh segala jenis senjata.

Rasa-rasanya Agnibaya akan pingsan melihat peristiwa itu. Tetapi ia masih berhasil untuk tetap mempertahankan kesadarannya. Meskipun ia masih sangat muda, namun ia berhasil menghubungkan peristiwa yang baru saja terjadi dengan prajurit-prajurit yang banyak berkeliaran di halaman istana. Bahkan ketika ia akan pergi ke arena sabung ayam ini pun, dua orang prjurit telah mengawalnya.

Berita kematian Anusapati itu benar-benar telah menggemparkan Singasari. Terlebih-lebih lagi seluruh isi istana. Para emban, pemimpin pemerintahan yang tidak ikut serta di dalam perencanaan yang ternyata cukup matang. Terapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Istana Singasari bagaikan di pihak Tohjaya. Terutama para Pelayan Dalam dan Para Pengawal.

Ketika Ken Dedes mendengar berita itu, ia tidak dapat menahan kejutan yang seakan-akan menghantam dadanya. Sesaat ia memegangi dadanya, namun iapun kemudian jatuh pingsan di pembaringannya.

Para emban dan hamba-hambanya menjadi bingung. Mereka berlarikan kian kemari. Orang-orang yang agak mengerti tentang obat-obatan pun segera berusaha membangunkan Ken Dedes. Minyak kelapa, kunir dan jahe. Beberapa jenis akar dan dedaunan. Yang lain memijit-mijit kakinya dan di bawah telinganya sebelah menyebelah.

Namun dalam kekisruhan itu, seorang emban yang sudah menjadi semakin tua menangis dengan nada yang sangat pedih. Ia adalah pemomong Anusapati yang kemudian berada di bangsal Ken Dedes. Anusapati baginya tidak kurang dari anaknya sendiri. Ia sudah berkhianat kepada Ken Umang, dan mengasuh Anusapati sebaik-baiknya sejak kanak-kanak. Ia tidak mampu memaksa dirinya untuk membentuk anak itu menjadi seorang yang dungu dan bebal. Bahkan ia tidak dapat berkhianat meskipun ia tahu bahwa Anusapati mendapat banyak pengaruh dan ilmu dari pamannya Mahisa Agni, meskipun emban itu pernah mendengar siapakah sebenarnya Mahisa Agni itu dari Jun Rumanti, ibu Mahisa Agni yang menjadi emban pemomong Ken Dedes.

Kini Anusapati itu terbunuh.

Belum cukup lama ia duduk di atas tahta. Namun agaknya ia harus menerima pembalasan dendam dari adiknya, Tohjaya. Yang Sebenarnya telah diketahuinya, bahwa antara Anusapati dan Tohjaya itu tidak ada sangkut pautnya kekeluargaan sama sekali.

“Itulah bedanya tuanku Anusapati dengan tuanku Sri Rajasa.” berkata emban itu di dalam hatinya seperti banyak orang yang berkata demikian pula kepada diri sendiri. “Anusapati tidak dapat melupakan peristiwa yang menyangkut namanya pada kematian Sri Rajasa. Tetapi Sri Rajasa dapat berbuat seakan-akan benar-benar tidak bersalah pada saat kematian Tunggul Ametung.”

Tetapi bagaimanapun juga Anusapati sudah tidak ada lagi. Ia terbunuh bersama keempat pengawalnya yang paling setia dan Kuda Sempana.

Dalam pada itu ketika Ken Dedes mulai menyadari keadaannya, maka iapun telah terbenam di dalam air matanya yang mengalir hampir tidak ada hentinya sepanjang hari. Kematian anaknya itu benar-benar merupakan suatu pukulan yang dahsyat bagi hidupnya. Ia sudah banyak mengalami penderitaan dan menahan perasaan. Tetapi kali ini, duka citanya hampir tidak tertanggungkan lagi sehingga, di dalam sisa hidupnya, rasa-rasanya Ken Dedes sudah tidak lagi memiliki niat dan kemauan lagi. Ia seolah-olah telah mati di dalam hidupnya yang pahit.

Demikianlah, perubahan telah terjadi dengan cepatnya di istana Singasari yang kemudian menjalar ke seluruh kota. Para utusan dan penghubung, hilir mudik di seluruh kota dan daerah di sekitarnya. Kuda-kuda yang tegar berlari-larian membawa berita dan perintah-perintah bagi para Senapati yang telah berada di bawah pengaruh Tohjaya.

Pada saat seorang Senapati melaporkan kematian Anusapati kepada Ken Umang, maka ibunda Tohjaya itu tidak dapat menahan gejolak perasaannya. Tiba-tiba suara tertawanya terlontar lepas tanpa bisa dikendalikan lagi, sehingga beberapa orang hambanya menjadi heran. Suara tertawa itu bagaikan ringkik iblis betina yang mendapatkan korban sesajian beberapa sosok mayat yang baru.

“Aku akan menguasai seluruh Singasari.” katanya di sela-sela tertawanya, “dan anakku akan menjadi Maharaja sangat dihormati melampaui anak Ken Dedes, gadis Panawijen yang dungu itu. Ia menganggap bahwa dirinya masih saja seorang ratu sampai saat terakhir tubuhnya menjadi kurus kering dimakan penyakit. Kini ia harus tahu, bahwa akulah yang berkuasa. Bukan gadis Panawijen itu. Kakaknya tidak akan dapat lagi menyombongkan dirinya, menghinakan aku sejak aku masih seorang gadis yang sangat cantik. Ia harus segera dipanggil dari Kediri, bersimpuh dan mencium kakiku sebagai permintaan maaf atas kesombongannya. Tetapi ia tidak akan dapat lagi berbuat apa-apa terhadapku sekarang, karena aku adalah seorang yang paling berkuasa, ibunda Maharaja Singasari yang besar.”

Dan suara tertawa Ken Umang pun mengumandang di seluruh bangsal. Berkepanjangan bagaikan gelombang laut yang tidak hentinya melanda pantai. Susul menyusul, sehingga akhirnya perempuan itu menjadi kelelahan, kemudian terduduk dengan lemahnya di atas pembaringannya.....

Bersambung.....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...