*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 03-01*
Karya. : SH Mintardja
“Tuanku, bukanlah kita akan menjebak seseorang?”
Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnya bagi Anusapati usaha mencelakakan dirinya tidak dapat dilakukan dengan mudah. Ia mempunyai kemampuan yang cukup dan indera yang tajam. Kalau ada seorang pelayan dalam yang ingin berkhianat, maka hal itu tidak akan dapat mereka lakukan. Bagi Anusapati, betapapun tinggi ilmu orang itu, ia akan sempat mengadakan perlawanan sementara untuk waktu yang cukup. Jika ia benar-benar tidak dapat mengimbangi lawannya, maka ia akan dapat memanggil para pengawal.
Tetapi Anusapati tidak mau menyakiti hati Mahisa Agni. Katanya di dalam hati, “Biar saja Paman tidur di atap jika memang dikehendakinya.”
Demikianlah, karena Anusapati tak pernah menyatakan keberatannya maka Mahisa Agni dibantu oleh Kuda Sempana pun segera mempersiapkan diri. Mereka tidak mau menunda lagi. Malam itu juga mereka harus sudah mulai dengan tugas mereka.
Ternyata bahwa mereka berhasil bertengger di atas atap tanpa seorang pun yang tahu. Dengan hati-hati mereka berbaring pada lekukan atap yang kehitam-hitaman di bawah bayangan sebatang pohon kemuning yang daunnya sedikit merunduk di atas bangsal.
Dengan sabar mereka berdua duduk diam seperti seonggok sampah, tapi indera mereka telah bekerja sebaik-baiknya untuk menangkap setiap gerak dan desir di sekitar mereka.
Beberapa saat mereka tak bergerak. Akan tetapi mereka juga tidak melihat apapun juga. Namun mereka tidak segera menjadi jemu. Bahkan setelah semalam suntuk mereka tidak menjumpai apapun.
“Apakah kita masuk saja lewat atap?” bisik Kuda Sempana.
“Kita di sini dahulu. Mungkin kita melihat pertanda sesuatu. Baru jika perlu kita masuk.”
Tetapi sampai saatnya fajar menyingsing mereka tidak melihat tanda-tanda, bahwa sesuatu akan terjadi. Karena itulah maka malam itu mereka menyelinap meninggalkan bangsal tanpa memperoleh hasil apapun.
Tetapi malam berikutnya mereka mengulangi usaha mereka meskipun ketika Mahisa Agni menghadap Anusapati sambil tersenyum maharaja itu bertanya, “Adakah Paman menemukan sesuatu?”
“Tidak Tuanku. Tetapi bahwa malam-malam masih akan berlangsung panjang. Dari ujung hari sampai ke ujung hari.”
Anusapati masih saja tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, katanya, “Paman memang seorang prajurit pinilih. Silakan Paman. Tetapi jika pada suatu saat Paman yakin bahwa tidak akan terjadi apa-apa, Paman dapat menghentikan usaha penyelamatan itu.”
“Baiklah Tuanku.”
Dan seperti yang direncanakan, maka pada malam hari itu Mahisa Agni telah berada di atas atap di bawah bayangan pohon kemuning itu lagi bersama Kuda Sempana tanpa seorang yang mengetahui.
Tetapi juga pada malam kedua mereka tidak menjumpai apapun juga.
Meskipun demikian pada malam ketiga, mereka telah mengulanginya kembali. Dengan sabar mereka duduk di bawah bayangan pohon kemuning yang menyuruk di atas atap bangsal Anusapati.
Seperti dua orang prajurit yang bertugas di daerah terpencil maka berganti-ganti mereka berjaga-jaga. Jika yang seorang tidur sambil memeluk lutut, maka yang lain mengawasi keadaan dengan seksama. Dengan demikian maka mereka akan dapat bertahan untuk waktu yang tidak menentu.
Tetapi pada malam ketika itu, lewat tengah malam, Mahisa Agni melihat sesuatu yang bergerak-gerak di halaman belakang bangsal itu. Hanya sekilas. Namun kemudian hilang di dalam kegelapan. Mahisa Agni tidak sempat meyakinkan, apakah yang telah bergerak-gerak di tengah malam itu. Tetapi dengan demikian ia menjadi semakin berhati-hati.
Dengan dada yang berdebar-debar ia menunggu, mungkin sesuatu benar-benar akan terjadi.
Ia menggamit Kuda Sempana yang tertidur sambil duduk memeluk lutut. Ketika Kuda Sempana mengangkat wajahnya,Mahisa Agni meletakkan jari telunjuknya di bibirnya.
kuda Sempana mengerti, bahwa Mahisa Agni telah melihat sesuatu.
Selagi mereka berdiam diri sambil menahan nafas, maka mereka pun mendengar sesuatu berdesir. Dekat hampir di bawah tempat duduk mereka.
Tetapi suara itu pun kemudian hilang. Dengan demikian maka Mahisa Agni dan Kuda Sempana itu menjadi semakin yakin, bahwa sesuatu memang akan terjadi.
Tiba-tiba mereka membelalakkan mata ketika mereka mendengar suara berbisik, “Bagaimana?”
“Tunggu,” terdengar suara yang lain. Suara itu kemudian terdiam. Untuk beberapa lamanya mereka tidak mendengar apapun juga. Meskipun demikian, mereka tidak dapat tenang lagi. Agaknya memang akan terjadi sesuatu malam itu juga.
Ketika malam kemudian menjadi semakin malam, Mahisa Agni dan Kuda Sempana mendengar dinding yang diketuk perlahan-lahan. Agaknya ketukan itu merupakan isyarat bagi seorang yang ada di luar dinding. Dan ternyata ketukan dinding itu diikuti oleh suara yang lain, seakan-akan seseorang telah melemparkan sebutir kerikil ke dalam semak-semak di belakang bangsal itu.
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan Kuda Sempana pun mengerti pula bahwa sesuatu telah mulai terjadi di bangsal itu.
Dari dalam gerumbul Mahisa Agni melihat dua orang mendekat. Perlahan-lahan sekali. Mereka menghindarkan diri dari pengawasan para prajurit yang bertugas mengawal bangsal itu.
Malam yang kelam itu rasa-rasanya akan menjadi malam yang hiruk-pikuk. Jika terjadi sesuatu, maka para prajurit pun akan segera mengepung bangsal itu dan setiap orang di dalam bangsal itu pun tidak akan dapat melepaskan diri lagi. Juga Kuda Sempana.
“Kau akan disembunyikan di dalam bangsal oleh Tuanku Anusapati,” bisik Mahisa Agni ketika hal itu dikemukakan oleh Kuda Sempana. Karena Kuda Sempana pun menjadi cemas, bahwa para prajurit yang tidak mengenalnya akan menyangka bahwa ia adalah salah seorang dan mereka yang memasuki bangsal itu dengan diam-diam dengan maksud jahat.
Mahisa Agni dan Kuda Sempana pun kemudian mendengar pintu berderit, tentu seseorang telah membukanya dari dalam.
“Apakah semua orang di dalam bangsal ini telah berkhianat, atau pelayan dalam yang baru itu telah melumpuhkan kawan-kawannya yang lama?” Mahisa Agni dan Kuda Sempana bertanya kepada diri sendiri.
Sejenak mereka menunggu. Tetapi mereka tidak mendengar suara apapun lagi. Karena itu, maka mereka berdua pun dengan sangat hati-hati telah membuka atap bangsal itu dan masuk pula ke dalamnya.
Tetapi keduanya memperhitungkan pula, bahwa betapapun lambatnya, namun atap kayu itu tentu akan berdesir pula. Karena itu, mereka mencari tempat yang tidak berada tepat di atas orang-orang yang agaknya telah berkumpul di bangsal itu pula.
Mahisa Agni telah mengenal bangsal itu dengan baik, sehingga ia pun dapat memasuki sebuah ruangan yang jarang sekali dikunjungi orang. Ruangan yang sering dipergunakan oleh Anusapati untuk menyepikan diri jika ia sedang dicengkam oleh kegelisahan hati.
“Di sebelah adalah ruang yang dipergunakan oleh Tuanku Anusapati,” bisik Mahisa Agni.
Kuda Sempana mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Kita membangunkannya,” desis Mahisa Agni pula. Kuda Sempana tidak menyahut. Ia hanya memperhatikan saja Mahisa Agni menyentuh dinding dengan tangannya, sehingga menimbulkan desir yang lemah.
Tapi ternyata bahwa indera Anusapati cukup tajam. Suara itu telah membangunkannya, tetapi tidak mengejutkan. Perlahan-lahan ia membuka matanya. Ia memang merasa mendengar sesuatu. Tetapi suara itu telah lenyap.
Mahisa Agni yang mempunyai indera yang tidak kalah tajamnya mendengar derit pembaringan Anusapati. Firasatnyalah yang mengatakan kemudian, bahwa Anusapati tentu telah terbangun oleh desir papan dinding yang memisahkan kedua ruangan itu.
Sejenak Anusapati masih mencoba mendengarkannya. Tetapi ia benar-benar tidak mendengar apapun. Desah nafas Mahisa Agni dan Kuda Sempana pun tidak dapat didengarnya, karena keduanya telah menjaga pernafasannya baik-baik.
Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Karena ia tidak mendengar suara apapun lagi, maka ia pun telah memejamkan matanya. Ia menganggap bahwa suara yang didengarnya adalah suara yang terjadi di dalam mimpi atau sepotong ranting kering yang terjatuh di atap.
Tetapi tiba-tiba matanya terbelalak. Ia memang mendengar sesuatu. Karena itu, maka ia pun menahan nafasnya dan mencoba memasang telinganya tajam-tajam.
Sebuah derit yang pendek telah menarik perhatian Maharaja Singasari itu. Kemudian ia mendengar desir langkah kaki, betapapun lambatnya. Tetapi tidak dari ruangan sebelah, ruangan yang seakan-akan merupakan sanggar kecilnya di samping sanggar yang sebenarnya. Dan suara itu memang bukan suara langkah Mahisa Agni dan Kuda Sempana.
Perlahan-lahan Anusapati bangkit dari pembaringannya. Ia menjaga agar geraknya tidak menumbuhkan bunyi apapun. Bahkan ketika ia berdiri, dan kemudian melangkah ke tengah biliknya.
Ketika suara itu terdengar lagi, maka Anusapati pun yakin bahwa ada seseorang di dalam ruangan dalam bangsal itu. Sehingga karena itu, maka sekilas ia teringat pesan Mahisa Agni, agar ia pun berhati-hati.
Tetapi Anusapati menarik nafas dalam-dalam ketika ia mendengar langkah itu semakin jelas dan bahkan tanpa usaha untuk menghilangkan desir suaranya sama sekali langsung menuju ke pintu bilik Anusapati.
Sejenak tidak terdengar suara apapun. Namun kemudian terdengar seseorang terbatuk-batuk.
“Hem,” Anusapati berdesah, “aku terlampau berprasangka. Agaknya seorang pelayan dalam yang mendekati bilik ini.”
Meskipun demikian, Anusapati menjadi berdebar-debar juga. Tentu ada sesuatu yang tidak wajar.
Yang pertama-tama terlintas di kepalanya adalah anak dan istrinya yang tidur di bilik yang terpisah. Mungkin anaknya telah diganggu oleh perasaan sakit dan badannya menjadi panas, seperti yang memang pernah terjadi.
“Tetapi aku tidak mendengar ia mengeluh dan apalagi mengaduh,” katanya di dalam hati. Lalu, “Mungkin Ranggawuni telah merasa dirinya menjadi semakin besar, sehingga, ia harus dapat menahan perasaannya.”
Meskipun demikian, Anusapati menjadi curiga juga. Ia tidak mendengar langkah emban yang keluar dari bilik sebelah bilik Ranggawuni dan bundanya, yang disediakan bagi para emban yang sedang bertugas berjaga-jaga bergantian. Langkah yang didengarnya adalah langkah kaki dari ruangan belakang dan batuk-batuk yang didengarnya betapapun ditahankannya adalah suara seorang laki-laki.
Tetapi yang digelisahkan kemudian bukanlah bahaya yang mengancamnya lagi. Tetapi apakah yang sudah terjadi di luar biliknya atau di luar bangsalnya.
Ketika suara batuk yang tertahan-tahan itu didengarnya lagi, maka Anusapati itu pun bertanya, “Siapa itu?”
“Ampun Tuanku. Hamba memberanikan diri mendekat bilik peraduan Tuanku.”
“Ada apa?”
“Hamba adalah pelayan dalam yang bertugas di dalam bangsal ini. Hamba dan kawan-kawan hamba melibat sesuatu yang barangkali sangat ajaib bagi Tuanku dan hamba semuanya.”
“Apa yang kau lihat?”
“Dari sela-sela dinding mula-mula kami melihat seakan-akan ada perapian di luar bangsal. Karena hamba ingin tahu, maka hamba pun telah membuka pintu belakang untuk meyakinkan apakah penglihatan kami benar. Ternyata yang kami lihat adalah cahaya dari dalam air di kolam sebelah, Tuanku.”
“Ah. Apakah kau tidak bermimpi?”
“Semuanya dapat melihatnya Tuanku. Sampai saat ini cahaya itu masih ada.”
Mahisa Agni dan Kuda Sempana mendengar kata-kata pelayan dalam itu pula. Sejenak mereka saling memandang, seakan-akan mereka ingin menyesuaikan pendapat mereka tentang kata-kata pelayan dalam itu.
Tanpa membicarakannya, mereka masing-masing dapat menebak, bahwa pelayan dalam itu berusaha memancing Anusapati ke luar dari biliknya. Tentu beberapa orang akan menyerangnya bersama-sama di ruang belakang bilik itu.
Ternyata Anusapati tidak segera menjawab. Dan pelayan dalam itu berkata seterusnya, “Tuanku. Sebenarnyalah hamba menjadi ketakutan. Cahaya apakah yang berada di dalam air itu. Mungkin hamba bukan seorang penakut, dan prajurit-prajurit yang bertugas itu pun bukan penakut. Tetapi menghadapi sesuatu yang tidak pernah hamba lihat, hamba menjadi berdebar-debar pula.”
“Kau masih melihat sebelum kau mendekat bilik ini?”
“Hamba Tuanku.”
“Kau mengharap aku melihatnya pula?”
“Ampun Tuanku. Terserahlah kepada Tuanku. Tetapi hamba ingin mendapat ketenteraman hati apabila Tuanku dapat memberikan penjelasan, apakah sebenarnya yang telah hamba lihat.”
Sesuatu telah merayap di dalam dada Anusapati. Sebenarnya ia sudah ingin membuka pintu dan melangkah keluar. Tetapi ia teringat lagi peringatan Mahisa Agni dan bahkan adiknya Mahisa Wonga Teleng, bahwa ia seharusnya selalu berhati-hati.
Sejenak Anusapati termangu-mangu. Dilihatnya pusakanya masih tergantung di dinding di atas pembaringannya.
Perlahan-lahan ia mendekatinya. Sebilah keris yang ada di dinding itu diambilnya. Bahkan kemudian dilihatnya geledek kayu di dalam bilik itu. Di situlah keris Empu Gandring yang sakti disimpannya. Tetapi agaknya Anusapati tidak menggunakannya untuk kepentingan yang kurang berarti.
Dengan hati yang bimbang Anusapati pun kemudian melangkah ke pintu. Jika orang itu berniat jahat, kenapa ia membangunkannya? Tetapi jika benar apa yang dikatakannya, maka apakah sebenarnya cahaya yang dimaksudkan itu?
“Jika ia bermaksud jahat, tentu ia tidak akan melakukan di luar bangsal ini, karena di luar ada prajurit yang sedang bertugas,” berkata Anusapati di dalam hatinya. Namun tiba-tiba saja ia teringat kepada permintaan Mahisa Agni untuk memasuki bilik ini lewat atap.
“Aku mendengar sesuatu sehingga aku terbangun sebelum aku mendengar desir langkah orang yang terbatuk-batuk itu,” katanya di dalam hati. Dan suara itu dihubungkannya dengan kemungkinan adanya Mahisa Agni di dalam bangsal itu.
Namun Anusapati adalah seorang prajurit. Ia ingin mengetahui, apakah yang akan terjadi atasnya jika ia benar-benar keluar dari dalam bilik itu.
Sejenak kemudian Anusapati pun mendekati pintu dengan ragu-ragu. Perlahan-lahan tangannya mengangkat selarak dan dengan hati-hati ia membuka pintu setelah ia yakin bahwa nafas yang didengarnya tidak terlampau dekat dengan daun pintu itu.
Ketika pintu itu terbuka, Anusapati melihat seorang pelayan dalam duduk sambil menundukkan kepalanya di muka pintu. Sama sekali tidak ada tanda-tanda yang mencurigakan.
“Kaukah yang melihat cahaya di dalam air itu?”
“Hamba Tuanku. Justru karena hamba pernah mendengar cahaya Dewa Brama yang kemerah-merahan, maka hamba menghadap Tuanku meskipun Tuanku sedang beradu.”
“Di mana cahaya itu?”
“Di kolam Tuanku. Hamba melihatnya dari pintu belakang?”
“Kenapa pintu belakang?”
Pelayan dalam itu tergagap sejenak, lalu, “Cahaya itu ada di ujung belakang.”
Anusapati termangu-mangu sejenak. Sekali lagi ia mendapat firasat, bahwa agaknya memang akan ada sesuatu yang terjadi.
“Mungkin aku hanya bercuriga karena Paman Mahisa Agni den Mahisa Wonga Teleng sering memberi peringatan padaku,” katanya di dalam hati.
Namun demikian ia pun kemudian berkata kepada pelayan dalam itu, “Baiklah, aku akan melihatnya. Marilah.”
Pelayan dalam itu mengangkat wajahnya. Tetapi ia masih duduk saja di tempatnya.
“Marilah.”
“Hamba Tuanku. Hamba akan menyertai Tuanku.”
Anusapati termangu-mangu sejenak, ketika pelayan dalam itu memberi isyarat kepadanya untuk berjalan lebih dahulu.
Setelah mempertimbangkan sejenak, maka Anusapati pun kemudian berjalan diiringi pelayan dalam itu melintasi ruangan dalam.
Di bilik sebelah bilik permaisurinya ia melihat seorang emban yang duduk terkantuk-kantuk di sini kawannya yang tertidur nyenyak.
“Pelayan dalam itu benar,” berkata Anusapati di dalam hatinya, “akukah yang harus berjalan di depan.
Namun langkah Anusapati pun rasa-rasanya selalu diberati oleh kewaspadaannya. Ia menjadi semakin termangu-mangu ketika ia melihat pintu yang sudah menganga. Pintu yang memisahkan ruang dalam dan ruang belakang bilik itu.
Anusapati masih melangkah terus. Namun demikian, hatinya menjadi semakin berdebar-debar. Rasa-rasanya ia melihat sesuatu yang tidak wajar menunggu di balik pintu yang terbuka itu. Apalagi cahaya lampu di ruang belakang itu agak redup. Jauh lebih redup dari lampu di ruang dalam.
Tiba-tiba saja langkah Anusapati menjadi semakin lambat. Bahkan kemudian seakan-akan ia telah berhenti.
“Silakan Tuanku,” berkata pelayan dalam itu, “mumpung cahaya itu masih dapat dilihat. Tentu cahaya semacam itu tidak akan bertahan lama. Dewa Brahma tidak akan dapat berada di dunia wadag ini lebih dari batas waktu yang sangat singkat.”
Anusapati justru berhenti karenanya. Dan pelayan dalam itu mendesaknya, “Silakan Tuanku. Jangan terlambat.”
Anusapati melangkah maju. Tetapi tiba-tiba ia berbalik sambil melekatkan telunjuknya di bibirnya. Tetapi lebih dari itu ia ternyata telah mengacukan kerisnya hampir melekat di dada pelayan dalam itu.
Pelayan dalam itu terkejut bukan buatan. Tetapi karena isyarat jari telunjuk Anusapati yang melekat di bibir itu, ia tidak berani berkata sepatah kata pun. Demikian juga, ketika Anusapati kemudian berputar dan mendorong orang itu untuk berjalan di depan.
Ternyata orang itu meronta. Dengan wajah yang pucat ia menggelengkan kepalanya. Namun Anusapati menekankan kerisnya di punggungnya sambil mendorongnya maju.
Betapa berat langkah kakinya. Apalagi ketika mereka menghampiri pintu yang terbuka itu. Namun ia tidak sempat berbuat apa-apa lagi, karena tiba-tiba saja Anusapati mendorongnya sehingga orang itu terhuyung-huyung terdorong maju beberapa langkah melintasi pintu.
Tetapi begitu ia melampaui tlundak pintu, maka ia pun segera berteriak, “Jangan, jangan! Ini aku …”
Namun sudah terlambat. Suaranya itu terputus oleh tusukan dua bilah keris di lambungnya kiri dan kanan.
Sejenak ia masih berdesah. Namun kemudian ia pun terjatuh menelungkup dan mati seketika. Dua buah luka menganga di lambung kiri dan kanannya, sedang darah mengalir membasahi lantai yang mengkilap.
Betapa terkejutnya kedua orang yang menusuk lambung kiri dan kanan pelayan dalam itu. Ketika mereka sadar bahwa yang jatuh menelungkup itu adalah kawan mereka sendiri, maka mereka pun menggeram sambil berloncatan dari balik dinding. Ternyata tiga orang telah menunggu Anusapati di balik dinding itu.
Yang terdengar kemudian adalah suara tertawa Anusapati perlahan-lahan. Katanya, “Ternyata kalian masih harus banyak belajar. Kalian tidak dapat membedakan, siapakah yang harus kalian bunuh di dalam bangsal ini, sehingga agaknya kawanmu sendiri, bahkan justru pimpinanmu sendirilah yang harus mati lebih dahulu.”
Orang-orang itu menggeram. Salah seorang dari mereka berkata, “Pelayan dalam itu sama sekali tidak berarti bagi kami. Meskipun kami keliru, namun kau pun akan mati di ujung keris kami. Kau tidak akan mampu melawan kami bertiga, karena kami, yang datang dari kaki Gunung Kendeng, adalah murid-murid terkasih dari Empu Badara. Empu yang namanya dikenal sampai jauh ke seberang lautan.”
Anusapati mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Aku belum pernah mendengar nama itu. Tetapi seandainya benar ia memiliki nama yang dikenal sampai ke seberang, apakah kepentingannya dengan aku? Aku sama sekali tidak mempunyai persoalan dengan orang yang menyebut dirinya Empu Badara.”
“Kau memang tidak melihat ke dirimu sendiri. Setiap orang mengetahui kecuranganmu dan bahkan tingkah lakumu yang menodai Singasari. Kau sudah membunuh ayahmu sendiri karena kau ingin menduduki tahtanya. Sekarang kau berpura-pura bertanya apakah persoalanmu. Setiap orang sebenarnya membencimu karena tingkah lakumu itu. Seorang anak yang telah membunuh ayahnya sendiri, adalah seorang anak yang paling durhaka.”
Wajah Anusapati menjadi panas dan kemerah-merahan. Tetapi ia masih mencoba menahan hati dan berkata, “Sebenarnya kau keliru. Jika benar kau murid orang yang menyebut dirinya Empu Badara, hendaknya kau kembali kepada gurumu dan katakan kepadanya bahwa tafsirannya itu keliru. Bukan aku yang membunuh Ayahanda Sri Rajasa. Tetapi seperti yang telah diumumkan dengan resmi, bahwa Pangalasan dari Batil itulah yang membunuhnya, dan aku terpaksa membunuh orang dari Batil itu.”
Salah seorang dari ketiga orang itu tertawa sambil melangkah maju. Katanya, “Kau dapat membuat cerita apapun juga. Tetapi kau tidak dapat mengelabui Empu Badara, karena Empu Badara dapat melihat tanpa dibatasi oleh tempat dan waktu. Dan ia telah melihat apa yang sebenarnya terjadi di istana Singasari itu.”
“Terserahlah kepada kalian. Terserah kepada tanggapan orang yang kau sebut bernama Badara itu. Tetapi sekarang kau terjebak di dalam bangsal ini. Dan aku akan menangkap kalian.”
“Kau?” orang itu tertawa, “Baiklah. Tetapi sayang, bahwa kami sudah sepakat, bahwa kau harus mati.”
Anusapati mengerutkan keningnya. Katanya, “Di sekitar bangsal ini terdapat beberapa orang prajurit peronda. Apakah kau tidak dapat memperhitungkan bahwa aku dapat berteriak memanggil mereka.”
“Kau tidak akan sempat berteriak.”
“Sekarang aku dapat berteriak.”
Tetapi sebenarnyalah bahwa Anusapati tidak sempat melakukannya. Tiba-tiba saja salah seorang dari mereka telah menyerangnya dengan dahsyatnya, disusul oleh kedua orang yang lain.
Anusapati terkejut. Ternyata bahwa ketiga orang itu memiliki kecepatan bergerak yang luar biasa, sehingga untuk menghindari serangan itu, Anusapati harus mengerahkan segenap kemampuan yang ada padanya.
Namun serangan berikutnya adalah serangan yang dahsyat sekali.
Hanya dengan mengerahkan tenaga dan kemampuan yang ada padanya Anusapati dapat menghindar. Tetapi sampai kapan ia berhasil memeras segenap ilmu yang ada padanya itu.
Dalam pada itu, emban yang berjaga-jaga di sebelah bilik permaisuri itu pun terkejut. Mereka mendengar suara ribut di ruang belakang. Bahkan bukan hanya emban itu yang menjadi berdebar-debar, tetapi sebenarnyalah bahwa permaisuri pun telah terbangun pula.
Tetapi sebelum ia sempat berteriak, dilihatnya Mahisa Agni berdiri di depan pintu sambil meletakkan jari telunjuknya di muka bibirnya.
Permaisuri itu percaya kepada Mahisa Agni, bahwa kehadirannya tentu akan memberikan perlindungan jika terjadi sesuatu. Itulah sebabnya, maka ia pun mengurungkan niatnya untuk berteriak memanggil prajurit yang bertugas, atau siapa pun jika suara ribut itu adalah merupakan bahaya bagi Anusapati.
Dalam pada itu Anusapati terpaksa meloncat jauh ke ruang dalam. Ia benar-benar mengalami kesulitan melawan ketiga orang itu, sehingga ia sudah memutuskan untuk memanggil para prajurit yang bertugas, meskipun rasa-rasanya hatinya terlampau berat. Apalagi kemampuan ketiga lawannya adalah jauh lebih tinggi dari para prajurit yang berjaga-jaga. Jika di antara mereka terdapat seorang atau dua orang perwira yang memiliki kemampuan cukup, maka agaknya ia akan dapat mempertahankan dirinya, dan para prajurit yang berjumlah cukup banyak itu pun akan dapat membantunya menangkap ketiga orang itu.
Tetapi agaknya ia tidak akan sempat melakukannya. Ketika orang yang semuanya bersenjata trisula itu sudah siap bersama-sama menerkam mereka,
Tetapi ketiganya terkejut ketika mereka mendengar seseorang terbatuk-batuk di depan pintu bilik semadi Anusapati. Ketika mereka berpaling dilihatnya seorang berdiri bersandar di bibir pintu.
“Paman Kuda Sempana,” desis Anusapati.
“Hamba Tuanku. Hamba berani menampakkan diri karena pelayan dalam yang baru itu sudah mati oleh kawan-kawannya sendiri, karena hanya orang itulah yang pernah mengenal aku di sabungan ayam.”
“Oh.”
“Dan karena itulah hamba selalu minta kepada Kakang Mahisa Agni untuk setiap kali memperingatkan Tuanku, bahwa di dalam istana ini tersembunyi bahaya yang setiap saat dapat meledak seperti malam ini.”
“Siapa kau?” salah seorang dari ketiga orang bersenjata trisula itu bertanya.
“Aku sudah mendengar bahwa kalian adalah murid Empu Badara. Aku tidak tahu, apakah kalian hanya sekedar berbohong dan meminjam nama itu, atau sebenarnya kalian murid orang yang kau sebut itu. Tetapi seperti Tuanku Anusapati aku pun belum pernah mendengar nama yang kau sebut itu.”
“Diam! Kau tidak usah turut campur, atau kau juga ingin mati?”
“Aku adalah murid Empu Sada. Mungkin kau juga belum pernah mendengar. Seorang Empu yang menyusuri jalan yang kelam, yang bersenjatakan tongkat panjang. Tetapi sekarang tinggal kenangan saja. Adik seperguruanku yang mewarisi tongkat itu pun telah meninggal, dan tongkat itu pun sekarang ada padaku. Apakah kau pernah mendengar?”
Ketiga orang itu menjadi tegang. Salah seorang berdesis, “Jadi kau murid Empu Sada yang bersenjata tongkat panjang itu?”
“Ya. Dan barangkali kau juga pernah mendengar, yang berdiri di sudut itu adalah murid seorang yang paling terkenal di telatah Kediri dan Singasari. Ia adalah murid Empu Purwa dan sekaligus kemenakan Empu Gandring, seorang empu keris yang terkenal.”
Dada ketiga orang itu semakin terguncang. Ketika mereka berpaling mereka melihat Mahisa Agni berdiri sambil menyilangkan tangan di dadanya.
“Bukan saja murid Empu Purwa,” berkata Kuda Sempana seterusnya, “ia juga murid Empu Sada, dan bahkan memiliki kemampuan dan kedahsyatan ilmu Wong Sarimpat dan Kebo Sindet jika kalian pernah mendengarnya.”
Wajah-wajah itu menjadi semakin tegang. Nama-nama itu memang pernah mereka dengar, dan nama-nama itu membuat kepala mereka menjadi pening.
Tiba-tiba salah seorang berteriak, “Bohong! Kau dapat menyebut nama orang-orang yang memiliki kemampuan tinggi seperti Empu Purwa, Empu Gandring, Empu Sada, Panji Bojong Santi dan siapa saja. Tetapi aku tidak percaya.”
“Terserahlah kepadamu. Tetapi yang kami katakan itu hanya sekedar peringatan agar kalian berhati-hati menghadapi kami bertiga. Nah, marilah kita saling memilih lawan. Tuanku Anusapati yang dikenal sebagai Kesatria Putih, Mahisa Agni yang berkuasa atas nama Maharaja Singasari di Kediri dan yang telah mengalahkan Maha Senapati Kediri dan barangkali hanya akulah yang tidak mempunyai kebanggaan apa-apa.”
“Persetan!” geram yang seorang lagi.
“Jangan keras-keras,” tiba-tiba Kuda Sempana tersenyum menyakitkan hati, “jika para prajurit yang bertugas di luar mendengar, mereka akan memasuki bangsal ini, dan umurmu akan menjadi semakin pendek. Setiap perwira di Singasari akan bernilai seperti kemampuan sepuluh orang biasa. Dan barangkali, kau memiliki kemampuan dua belas kali orang biasa.”
“Diam! Diam!” bentak yang lain. Tetapi Kuda Sempana justru tertawa. Sejenak ia memandang Mahisa Agni yang berdiri di sudut, dan sejenak kemudian Anusapati.
“Maaf,” katanya kemudian, “barangkali caraku tidak disukai oleh Kakang Mahisa Agni. Baiklah. Marilah kita tidak bergurau lagi. Tetapi apakah kalian bertiga tidak mempertimbangkan kemungkinan untuk menyerah saja?”
Ketiga orang itu menjadi tegang. Dan seolah-olah berjanji mereka memilih lawan rnasing-masing. Karena mereka belum dapat menjajaki kemampuan ketiga orang itu, maka mereka tidak dapat membuat pertimbangan, siapa-siapa yang harus mereka hadapi masing-masing. Sehingga dengan demikian, mereka akan berhadapan dengan orang-orang yang berdiri di paling dekat.
Sejenak kemudian mereka bertiga sudah berhadapan dengan ketiga orang yang memang sudah menunggu di bangsal itu. Namun sebelum mereka terlibat dalam perkelahian. Mahisa Agni masih bertanya, “Apakah kalian tahu, di manakah para pelayan dalam yang bertugas di bangsal ini? Apakah pelayan dalam yang seorang ini telah membunuh mereka dengan licik?”
“Aku tidak peduli!” geram salah seorang dari mereka, “Itu sama sekali bukan urusanku. Aku hanya bertugas untuk membunuh Maharaja Kediri.”
“Siapa yang menugaskan kalian?”
“Empu Badara.”
“Kau menyebut nama itu lagi,” potong Kuda Sempana:
“Aku tidak peduli, apakah kau percaya atau tidak. Sekarang, siapa yang akan mati lebih dahulu.”
Anusapati pun kemudian mempersiapkan dirinya menghadapi setiap kemungkinan. Demikian juga Kuda Sempana dan Mahisa Agni. Bahkan Kuda Sempana masih sempat berkata, “Tuanku, sebaiknya Tuanku tidak memanggil prajurit peronda. Dengan demikian mereka akan membunyikan tengara, dan seisi istana akan terbangun dan menjadi ribut. Sebaiknya orang-orang ini kita tangkap sendiri dan kita ikat.”
“Persetan!” salah seorang dari mereka ternyata tidak sabar lagi. Ia segera meloncat menyerang Kuda Sempana dengan segenap kemampuan yang ada padanya.
Serangan itu datang bagaikan lidah api yang meloncat di langit. Cepat dan dahsyat sekali. Tetapi Kuda Sempana memang sudah bersiap menghadapi kemungkinan itu, sehingga ia pun sempat menghindarkan dirinya sehingga serangan itu sama sekali tidak menyentuh tubuhnya.
Ketika perkelahian itu sudah mulai, maka yang lain pun segera menyerang lawan masing-masing. Yang seorang menyerang Mahisa Agni yang lain menyerang Anusapati.
Tetapi kedua orang itu pun sudah siap menghadapinya. Bahkan Mahisa Agni masih sempat menghindar sambil bergeser ke ruang belakang, sehingga dengan demikian maka perkelahian itu pun segera terjadi di tempat yang terpisah.
Keributan yang terjadi di dalam bangsal itu telah mencemaskan Permaisuri. Bahkan kemudian Ranggawuni pun terbangun pula, sehingga dengan susah payah permaisuri menahan agar Ranggawuni tidak berlari keluar melihat apa yang sedang terjadi.
“Ibunda, kenapa hamba tidak boleh melihat?” bertanya Ranggawuni. Lalu, “Apakah yang sedang terjadi?”
“Tidak apa-apa, Anakku.”
“Jika tidak ada apa-apa, kenapa hamba tidak boleh pergi keluar?”
“Tidurlah. Hari masih terlampau malam.”
Ranggawuni menjadi gelisah. Ia masih mendengar beberapa orang yang agaknya sedang terlibat dalam perkelahian, karena betapapun juga, ia pernah mengalami latihan-latihan di dalam olah kanuragan meskipun masih terlalu sederhana.
“Ibunda, hamba akan pergi keluar.”
“Jangan Ranggawuni. Ayahanda sedang berlatih bersama Paman Mahisa Agni. Berlatih dalam ilmu kanuragan yang jauh di luar kemampuan daya tangkapmu, sehingga karena itu, jika kau melihat kau akan terganggu karenanya.”
“Hamba akan melihat Ibunda,” desak Ranggawuni.
“Jangan Ranggawuni. Jika kau memaksa, ibu akan bersedih, karena putranya tidak mau mendengarkan nasihatnya.”
Ranggawuni menarik nafas. Ia ingin sekali menyaksikan perkelahian yang disebut oleh ibunya sebagai latihan itu. Tetapi ia tidak berani memaksa, karena ibunya benar-benar tidak mengizinkannya.
Namun dalam pada itu, hati Ibundanya pun dicengkam oleh kecemasan. Ia tidak tahu, apakah yang sebenarnya telah terjadi. Ia tidak tahu, apakah Anusapati sedang di dalam bahaya yang sebenarnya atau masih ada kemungkinan yang lain.
Tetapi kehadiran Mahisa Agni di bangsal itu membuat hati permaisuri itu agak tenang, karena ia tahu bahwa Mahisa Agni adalah pelindung Anusapati sejak kecilnya dan memiliki kemampuan yang hampir tidak ada duanya.
Dalam pada itu, perkelahian itu pun terjadi semakin sengit. Tetapi malanglah bagi mereka yang memilih Mahisa Agni dan Kuda Sempana sebagai lawannya. Karena dalam waktu yang singkat, mereka telah kehilangan setiap kesempatan untuk melakukan perlawanan, dan bahkan untuk melarikan diri sekalipun.
Karena itu, maka betapapun mereka mengerahkan segenap kemampuannya, namun sebenarnyalah bahwa mereka tidak berdaya berbuat sesuatu.
Meskipun Mahisa Agni dan Kuda Sempana bertempur tidak dengan sepenuh tenaga, namun mereka segera berhasil mendesak lawannya dan bahkan kemudian tidak memberi mereka kesempatan berbuat sesuatu meskipun mereka sudah menggenggam senjata di tangan.
Dalam pada itu, Anusapati pun ternyata memiliki kelebihan dari lawannya. Meskipun tidak secepat Mahisa Agni dan Kuda Sempana, namun ia pun segera berhasil menguasai lawannya. Ketika lawannya kemudian menarik trisula di lambungnya, maka Anusapati pun menarik kerisnya, karena ternyata ia tidak dapat melawan trisula itu dengan tangannya seperti yang dilakukan oleh Mahisa Agni dan Kuda Sempana.
Namun agaknya malang bagi lawannya. Justru karena lawannya bersenjata dan bertempur memeras segenap tenaganya, maka Anusapati pun harus mengimbanginya.
Ketika lawannya menyerang dengan dahsyatnya dengan menjulurkan senjatanya, maka Anusapati pun menghindar. Ia merendahkan dirinya sedikit dengan menjulurkan kerisnya pula.
Trisula lawannya itu menyambar papan dinding yang membatasi ruangan itu dengan bilik Anusapati. Terdengar suara gemeretak. Namun ujung trisula itu seakan-akan terhunjam pada dinding itu. Sebelum orang itu sempat menarik trisulanya, maka keris Anusapati yang terjulur itu sudah menghunjam di lambungnya.
Terdengar orang itu mengeluh pendek. Kemudian orang itu pun perlahan-lahan jatuh tertelungkup hampir menimpa Anusapati yang segera berkisar ke samping.
Dua orang temannya yang lain pun sama sekali tidak berdaya melawan Mahisa Agni dan Kuda Sempana. Mereka yang juga bersenjata trisula itu, sama sekali tidak berhasil mempergunakan senjatanya. Setiap kali rasa-rasanya mereka kehilangan kesempatan untuk berbuat sesuatu, karena lawannya yang selalu mendesaknya ke sudut.
Pada saatnya, maka senjata-senjata di tangan kedua orang itu benar-benar tidak berdaya. Tanpa banyak dapat berbuat maka senjata itu pun telah terlepas dari tangan masing-masing, sehingga dalam sekejap, maka pukulan Mahisa Agni dan Kuda Sempana benar-benar telah melumpuhkan mereka.
Namun dengan demikian, agaknya trisula yang menghantam dinding itu telah menimbulkan suara yang keras. Dinding yang berderak itu telah terdengar oleh orang-orang yang berada di luar. Namun mereka tidak segera berani masuk, karena mereka tidak mendengar Anusapati memanggilnya atau pelayan dalam yang diutus. Namun demikian mereka telah mendekati pintu butulan, yang setiap saat dengan mudah akan menerobos masuk jika terjadi sesuatu.
“Tidak ada apa-apa, “terdengar suara Anusapati dari dalam, “Ranggawuni telah memukul dinding.”
Kata-kata Anusapati itu telah menenangkan para prajurit di luar, meskipun mereka masih tetap curiga. Sehingga dengan demikian maka mereka pun masih tetap berkumpul di muka pintu.
Baru sejenak kemudian pintu pun terbuka. Anusapati sendirilah yang berdiri di muka pintu sambil tersenyum.
Seorang perwira bertugas di regol depan menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Syukurlah Tuanku, bahwa tidak ada sesuatu di bangsal ini. Hamba sudah cemas sekali mendengar suara yang agaknya terlalu ribut di dalam.”
“Kenapa?”
“Hamba teringat saat-saat Tuanku Sri Rajasa yang telah terbunuh dengan curang tanpa diketahui oleh para penjaga.”
Anusapati tertawa. Katanya, “Masuklah.”
Perwira itu termangu-mangu.
“Masuklah!”
Perwira itu memandang kawannya yang berdiri di belakangnya.
“Marilah!”
Perwira itu pun kemudian melangkah masuk diikuti oleh beberapa orang prajurit yang lain.
Namun perwira itu terkejut ketika ia melihat seorang yang tertelungkup dengan darah yang mengalir dari lambungnya membasahi lantai.
“Tuanku?”
Anusapati tersenyum.
Perwira itu menjadi gemetar. Ternyata bahwa hal yang dicemaskan itu telah terjadi.
“Lihatlah ke ruang sebelah! Ruang belakang dari bangsal ini.”
Perwira itu menjadi semakin berdebar-debar. Diikuti oleh para prajurit, mereka pun masuk ke ruang belakang. Dilihatnya Mahisa Agni berdiri di sudut ruangan itu. Di sebelahnya dua orang yang telah diikat tangannya berdiri bersandar di dinding.
“Oh,” perwira itu berdesis, “apakah yang telah terjadi Tuanku?”
“Seperti yang kau lihat. Tiga orang berhasil memasuki bangsal ini. Dan jika kau lihat orang mati di sudut itu, ia adalah seorang pelayan dalam. Kami sedang mencari pelayan dalam yang lain, yang ternyata kami temukan dia pingsan di bilik pelayanan, dan tiga orang yang tidak dikenal ini hampir saja merampas nyawaku, seperti yang pernah terjadi atas Ayahanda Sri Rajasa.”
Perwira itu menjadi semakin gemetar. Ia merasa bersalah bahwa para prajurit yang berjaga-jaga sama sekali tidak melihat orang-orang itu menyusup masuk ke dalam bangsal. Mereka tidak melihat apakah ketiganya merusak dinding, atap atau dengan cara lain. Tetapi agaknya seorang pelayan dalam telah menjadi kaki tangan mereka yang berhasil menyusup di bangsal ini.
“Sudahlah,” berkata Anusapati, “jangan membuat seisi istana ini menjadi kacau. Karena itulah maka aku tidak memberikan tanda apapun agar tidak dibunyikan tanda bahaya. Kehadiran Pamanda Mahisa Agni telah menyelamatkan aku.”
Anusapati berhenti sejenak sambil memandang pintu bilik penyepen yang tertutup.
Di dalam bilik itu Kuda Sempana yang tidak banyak dikenal oleh pada prajurit sedang memanjat naik. Kemudian dengan hati-hati ia memperbaiki atap yang dibukanya saat ia masuk meskipun tidak sempurna, namun atap itu sudah tampak tertutup kembali.
Justru pada saat perhatian semua prajurit terpusat pada keributan di dalam bangsal, Kuda Sempana dengan hati-hati dapat lolos dari pengawasan mereka dan hilang dibalik kegelapan. Sesaat kemudian ia pun sudah meloncat dinding dan berada di luar lingkungan halaman istana Singasari.
Di dalam bangsal, para prajurit masih berdebar-debar. Meski pun Anusapati tidak terbunuh, tetapi mereka dapat dihukum, karena mereka jelas bersalah. Bangsal Maharaja Singasari yang dijaga ketat ternyata masih dapat disusupi oleh orang-orang tidak dikenal.
Tetapi ternyata bukan pasukan pengawal saja yang akan menjadi sasaran kesalahan itu. Panglima pelayan dalam pun akan dituntut oleh sebuah pertanggungjawaban, bahwa ada orangnya yang berusaha berkhianat terhadap Maharaja Singasari.
“Sekarang,” berkata Anusapati, “jangan berada semuanya di dalam bangsal ini. Kalian akan kehilangan kewaspadaan lagi.”
“Oh,” perwira itu berdesis, “baiklah Tuanku. Hamba mohon ampun bahwa hamba dan kawan-kawan hamba telah menjadi lengah dan tidak mengetahui bahwa ada sekelompok orang yang berhasil menyusup ke dalam bangsal ini.”
“Sudahlah,” jawab Anusapati, “sekarang, bersihkan bangsal ini. Korban-korban itu harus diselenggarakan sebaik-baiknya besok. Kalian dapat berhubungan dengan para pelayan di istana ini. Tetapi yang penting, penjagaan harus tetap berjalan seperti biasa, dan bangsal ini menjadi bersih. Agar jika Permaisuri keluar dari peraduannya, tidak dikejutkan oleh pemandangan yang mengerikan ini.”
Demikianlah maka para prajurit itu pun membagi tugas. Sebagian dari mereka segera mengangkat mayat-mayat itu dan membawanya keluar. Yang lain mengambil air dan membersihkan darah yang berceceran di lantai. Sedang sebagian dari mereka tetap berada di gardu penjagaan di regol bangsal itu.
Namun bagaimanapun juga, berita tentang usaha pembunuhan itu tidak dapat dirahasiakan lagi. Pada malam itu juga, berita itu sudah tersebar di seluruh halaman istana. Meskipun tidak menimbulkan kekacauan bagi mereka yang tertidur nyenyak di bangsal-bangsal, terutama Ibunda Tuanku Anusapati dan putra-putranya yang lain, Ibunda Ken Umang dan putranya, dan para penghuni yang lain, namun para prajurit dan pengawal yang lain pun bagaikan dipanggang di atas bara. Setiap petugas di halaman istana merasa bersalah, seperti pada saat Sri Rajasa terbunuh.
“Dahulu Tuanku Anusapati masih bersabar dan memaafkan kesalahan para petugas. Tetapi kini persoalannya menyangkut dirinya, meskipun ia masih sempat mengelak dan bahkan membunuh orang-orang yang berusaha membunuhnya,” berkata salah seorang prajurit.
Yang lain mengerutkan keningnya. Lalu jawabnya, “Ya. Tentu persoalannya akan berbeda. Justru Tuanku Anusapati masih tetap selamat. Jika ia tidak menjatuhkan hukuman, terutama kepada yang bertugas di bangsalnya itu, maka para penjaga berikutnya akan menjadi lengah pula.”
Kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya, “Tentu orang-orang itu adalah orang-orang yang luar biasa, sehingga mereka mampu menghindarkan diri dari pengawasan para petugas di bangsal itu, dan para pelayan dalam di dalam bangsal.”
“Tetapi Tuanku Anusapati memang orang luar biasa. Ia berhasil mengalahkan ketiga orang itu.”
“Dan yang paling mengherankan Tuanku Mahisa Agni sudah berada di bangsal itu. Tentu Tuanku Mahisa Agni pulalah yang membunuh orang-orang yang berusaha membinasakan Tuanku Anusapati itu.”
“Memang aneh. Tetapi daya tangkap Tuanku Mahisa Agni atas peristiwa-peristiwa yang sedang terjadi dan bakal terjadi memang tajam sekali,” ia berhenti sejenak, “dan tentu ada hubungannya pula, mengapa dua orang kepercayaan Tuanku Anusapati beberapa saat yang lampau berada di bangsal itu. Agaknya saat itu memang sudah ada tanda-tanda pengkhianatan yang akan terjadi, meskipun alasannya berbeda. Tetapi selama kedua pelayan dalam kepercayaan itu ada di bangsal, tidak pernah terjadi sesuatu, sehingga akhirnya keduanya tidak lagi diperintahkan untuk berada di dalam bangsal setiap malam.”
“Ya, tentu bukan karena Tuanku Anusapati sedang sakit saat itu.”
Kedua prajurit itu pun kemudian terdiam. Mereka berusaha membayangkan apa yang telah terjadi di dalam bangsal itu, dan kenapa Mahisa Agni tiba-tiba saja sudah berada di sana.
Tetapi pada umumnya, pertanyaan yang demikian itu menghinggapi setiap petugas. Tetapi hampir setiap orang di dalam istana itu pun menjawabnya sendiri, “Mahisa Agni memang manusia luar biasa. Agaknya ia dapat melihat dan mengerti apa yang terjadi di dalam istana ini. Atau barangkali, ia memang setiap malam nganglang mengelilingi istana dan terutama bangsal kemenakannya yang sangat dikasihinya itu.”
Demikianlah maka bangsal Anusapati itu pun menjadi bersih. Bekas darah telah terhapus, dan para pelayan dalam yang pingsan telah sadar.
Namun dalam pada itu, betapa terkejut Mahisa Agni dan Anusapati ketika mereka melihat kedua tawanannya yang diharapkan dapat memberikan keterangan tentang usaha pembunuhan itu telah mati di sudut bilik pelayanan, di mana keduanya di tempatkan.
Dengan wajah yang tegang Mahisa Agni mendekati keduanya sambil berkata, “Tuanku, keduanya agaknya sudah meninggal.”
“He,” Anusapati terkejut. Dengan tergesa-gesa ia mendekati keduanya yang sudah membeku di sudut bilik itu. Tetapi ketika Anusapati akan meraba orang-orang itu, maka Mahisa Agni cepat menggamitnya.
“Ampun Tuanku. Kita masih belum tahu, apakah sebabnya keduanya mati,” berkata Mahisa Agni.
“Maksudmu?”
“Jika kematiannya disebabkan oleh sebangsa racun yang dapat menjalar karena sentuhan, maka Tuanku pun akan keracunan.”
“Oh,” Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia sadar, bahwa ternyata ia kurang berhati-hati. Jika keduanya benar-benar kena racun yang menyentuh dari luar tubuhnya, maka racun itu memang menjalar kepada orang lain yang menyentuhnya pula.....
Bersambung.....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar