Jumat, 29 Januari 2021

SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG JILID 10-01

*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 10-01*

Karya.  : SH Mintardja

Tidak seorang pun yang dapat dituduh menjadi orang berkerudung putih. Mereka adalah penduduk yang sederhana. Jika mereka menemukan anak muda yang gagah, baik di rumahnya maupun di gardu peronda, maka mereka mencoba melihat, apakah anak muda itu berkeringat dan menunjukkan tanda-tanda kelelahan.

Tetapi mereka tidak menemukannya.

Seperti yang dikatakan oleh Senapati, maka desa itu tidak segera dilepaskan dari kepungan. Ketika hari menjadi siang, maka pencaharian pun menjadi semakin teliti. Tetapi mereka tidak dapat menemukannya. Kecurigaan terhadap seseorang pun tidak.

Sekali lagi para prajurit Singasari gagal. Dan mereka pun sadar, bahwa kegagalan-kegagalan serupa itu akan berlangsung berulang kali. Orang berkerudung putih itu benar-benar orang yang memiliki ilmu yang tiada taranya.

“Kecuali jika Mahisa Agni mau mencoba menangkapnya.” berkata salah seorang Senapati.

“Tidak ada gunanya memaksa orang itu untuk berbuat sesuatu.” jawab yang lain, “Ia sudah kehilangan semua harapan masa depannya. Ia tidak ubahnya seperti seekor kepompong di dalam bilik itu.”

“Kau salah. Ia adalah orang yang paling mencintai Singasari. Jika tidak demikian, kematian tuanku Anusapati tentu akan dapat mendorongnya untuk menyobek jantung Singasari dari Kediri. Ia mempunyai pengaruh yang sangat besar. Tetapi ia taat memenuhi panggilan tuanku Tohjaya. Ia datang dan membiarkan dirinya berada di dalam bilik itu, meskipun ia tetap berada di bilik itu bersama beberapa orang pengawalnya dengan selembar kain putih di lehernya.”

“Sungguh tidak dapat dimengerti. Apakah arti dari perbuatannya itu. Tetapi aku justru menjadi curiga akan kediamannya itu.”

“Sudah berkali-kali dibuktikan, bahwa orang yang berkerudung itu tentu bukan Mahisa Agni.”

“Ya. Tetapi siapa tahu, ia mempunyai kawan-kawan yang dapat berbuat demikian.”

Kawannya berbicara tidak menjawab. Bagi Singasari orang berkerudung putih itu memang sebuah teka-teki yang cukup besar.

Meskipun demikian, betapapun kemungkinan untuk menangkapnya terlampau tipis, tetapi para Senapati tidak menjadi berputus asa. Adalah kuwajiban mereka untuk melakukannya. Betapapun sulit dan berbahayanya.

Tetapi agaknya orang-orang yang menyebut dirinya Kesatria Putih itu telah menyiapkan rencana yang lain. Witantra dan Mahendra merasa sudah cukup banyak membuat orang-orang Singasari menjadi bingung.

Karena itulah maka sampai saatnya Lembu Ampal lah yang harus berbuat sesuatu untuk menambah kecurigaan antara prajurit Singasari sendiri. Antara satu kesatuan dengan kesatuan yang lain.

“Tetapi hati-hatilah.” pesan Witantra kepada Lembu Ampai ketika ia akan mulai dengan rencananya.

“Tetapi aku terpaksa mengorbankan satu dua orang prajurit untuk mencapai maksud itu.”

Witantra mengerutkan keningnya. Nampak wajahnya menjadi termangu penuh kebimbangan.

“Tidak ada jalan lain.” berkata Lembu Ampal, “Karena kuatnya dua golongan itulah yang merupakan pendukung paling kuat dari tuanku Tohjaya sekarang ini.”

“Maksudmu pasukan Pengawal yang kebanyakan terdiri dari golongan Rajasa dan Pelayan Dalam dari golongan Sindir?”

“Ya.” Lembu Ampal menganggukkan kepalanya.

“Kadang-kadang kita memang tidak dapat menghindarkan jatuhnya korban.” berkata Mahendra kemudian, “Kematian Kebo Ijo adalah korban yang lebih menyedihkan lagi. Bahkan Empu Gandring sendiri. Terakhir adalah Akuwu Tunggul Ametung baru kemudian Ken Arok yang kemudian bergelar Sri Rajasa dapat menduduki tahta.” Mahendra berhenti sejenak, lalu, “Setelah mereka itu, jatuh pula korban yang disebut Pangalasan dari Batil dan Sri Rajasa Sendiri sebelum Anusapati sendiri menjadi korban pola. Korban-korban itu memang masih akan berjatuhan, sampai saatnya tahta kembali kepada yang berhak sesuai dengan keturunannya.”

Witantra menarik nafas dalam-dalam. Agaknya memang tidak ada jalan lain untuk mencapai tujuan tanpa jatuhnya korban.

“Mereka adalah lawan kita.” berkata Lembu Ampal.

“Tetapi kita belum turun ke medan peperangan.”

“Aku tidak dapat melihat jalan lain.” desis Lembu Ampal.

Akhirnya Witantra tidak dapat menolak lagi. Memang tidak ada jalan lain yang dapat ditempuh. Jalan yang direncanakan Lembu Ampal adalah jalan yang paling sedikit menelan korban. Sebab dengan jalan lain, dengan jalan kekerasan saja, korban akan berjatuhan semakin banyak.

“Tetapi mereka yang kebetulan sekali diumpankan sebagai korban itu adalah orang-orang yang nasibnya sangat malang.”

Lembu Ampal tidak menyahut. Jika ia tenggelam dalam keibaan seperti Witantra, maka ia tidak akan dapat berbuat apa-apa lagi untuk mengembalikan tahta kepada keturunan Ken Dedes.

Tetapi ternyata Witantra tidak melarangnya. Bahkan ke mudian Witantra berkata, “Tetapi terserah kepadamu lembu Ampal. Aku yakin bahwa kau pun cukup bijaksana.”

“Aku akan mencoba sebaik-baiknya.” sahut Lembu Ampal, “Memang agaknya selama ini Kesatria Putih memang tidak merampas korban jiwa sama sekali. Hanya beberapa orang menjadi luka-luka. Tetapi kali ini aku terpaksa sekali harus mengambil korban jiwa.” Lembu Ampal berhenti sejenak, kemudian, “Tetapi jika aku gagal, maka jiwakulah yang akan diambil oleh para prajurit Singasari.”

“Kami akan mencoba mengawasi dan sejauh mungkin membantumu jika kau berada dalam kesulitan.”

“Terima kasih. Sebenarnyalah bahwa kau berdua telah berbuat jauh lebih banyak dari yang akan aku lakukan.”

Demikianlah maka Lembu Ampal pun telah menyiapkan rencananya sebaik-baiknya. Setelah beberapa lama ia bergaul dengan Witantra dan Mahendra, dan tanpa malu-malu ia belajar dari keduanya, maka ilmu Lembu Ampal pun telah jauh bertambah. Jika semula ia adalah seorang Senapati kepercayaan dengan ilmu yang dianggap cukup baik di antara para Senapati, maka setelah ilmunya meningkat, Lembu Ampal menjadi semakin banyak memiliki kelebihan dari para prajurit pada umumnya, bahkan dengan para Senapati.

Dalam pada itu, peristiwa yang telah terjadi berturut-turut di Singasari telah banyak menimbulkan persoalan pada para pemimpin pemerintahan, para Panglima dan para Senapati.

Rasa-rasanya kecurigaan di antara mereka semakin lama menjadi semakin tajam mengorek jantung masing-masing. Bagi para prajurit semakin tajam mengorek jantung masing- masing. Bagi para prajurit, adalah mustahil jika orang yang menyebut dirinya Kesatria Putih itu dapat lenyap begitu saja beberapa kali, dan berhasil melepaskan diri, jika tidak ada di antara para prajurit itu sendiri yang dengan sengaja melindunginya.

“Yang menyebut dirinya Kesatria Putih itu tentu bukan hantu.” berkata salah seorang Senapati, “Karena itu tidak mungkin ia menghilang begitu saja, atau bahkan menjadi dua atau tiga atau sepasukan Kesatria Putih yang berbaris di sepanjang jalan kota.”

Yang lain mengangguk-angguk. Tetapi di antara mereka tidak dapat melenyapkan kecurigaan yang sudah terlanjur tertatanam di dalam hati.

“Jika pada suatu saat aku dapat menemukan.” geram seorang Senapati muda, “Maka akan terbongkarlah sekelompok pengkhianat yang selama ini dapat bekerja dengan rapi sekali.”

Kawannya berbicara memandanginya sejenak. Lalu katanya, “Apakah kau yakin bahwa yang melakukan itu sekelompok pengkhianat yang tersusun dalam suatu kerja sama yang rapi atau hanya satu dua orang saja.”

“Tentu sekelompok orang.” tiba-tiba seorang prajurit yang lain menyahut.

Ketika kedua prajurit yang sedang berbicara itu berpaling, dilihatnya seorang Senapati dari pasukan yang lain duduk di belakang mereka. Seperti acuh tidak acuh saja Senapati itu meneruskan, “Bahkan mungkin dipimpin oleh orang yang berkedudukan penting di Singasari.”

Kedua prajurit yang semula bercakap-cakap itu memandang Senapati yang tanpa diduga berada di belakangnya itu dengan sorot mata yang aneh. Namun pada sorot mata itu terpancar kecurigaan.

Tetapi keduanya tidak menanggapinya. Keduanya akhirnya berdiam diri tanpa menjawab lagi.

Namun demikian, ternyata di bagian lain dari istana Singasari, ketika para peronda di malam hari nganglang di taman, sekelompok Pelayan Dalam memandang dua orang dari Pasukan Pengawal yang melintas di hadapan mereka dengan pandangan mata yang penuh kecurigaan pula.

“Aku tidak dapat mempercayai Pasukan Pengawal lagi.” berkata salah seorang Pelayan Dalam, “Ternyata mereka hampir tidak berbuat apa-apa dalam keadaan yang tegang ini. Mereka sama sekali tidak tergerak untuk menangkap orang yang menyebut dirinya Kesatria Putih.”

“Mereka merasa bahwa tugas mereka adalah mengawal istana dan keluarga Maharaja.” sahut yang lain, “Seperti kita pun tidak akan berbuat lain kecuali bertugas di dalam istana melayani Tuanku Tohjaya dan keluarganya meskipun kita juga seorang prajurit.”

“Tetapi pasukan pengawal mempunyai tugas pengamanan langsung atau tidak langsung. Ia tidak boleh membiarkan prajurit-prajurit Singasari yang lain bergerak sendiri dalam kesulitan tanpa berbuat apa-apa.”

“Menurut pendengaranku, sekelompok Pasukan Pengawal berkuda telah ikut mencari Kesatria Putih.”

“Tetapi mereka tidak akan menemukan. Pasukan Pengawal itu nampaknya semakin lama semakin jauh dari tuanku Tohjaya.”

“Itu tidak mungkin.” desis yang lain lagi. “Mereka adalah Pasukan kinasih.”

“Kau ingat saat terbunuhnya tuanku Anusapati? Pasukan Pengawal baginya saat itu adalah justru sekelompok pembunuh yang mengerikan, meskipun keris yang menikam tubuhnya berada di tangan tuanku Tohjaya.”

Kawannya saling berdiam diri. Selama ini Pasukan Pengawal memang kehilangan arti. Mereka tidak berhasil menyelamatkan Sri Rajasa pada jaman pemerintahannya. Merekapun kemudian tidak berhasil melindungi Anusapati. Seharusnya pasukan pengawallah yang bertugas untuk menjaga dan melindungi Maharaja Singasari. Tetapi dua orang Maharaja telah terbunuh.

“Dan sekarang. Pasukan Pangawal Singasari itu pun tampaknya tidak meyakinkan.” Pelayan Dalam itu berkata di dalam hati masing-masing.

Tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka pun prajurit-prajurit yang khusus yang mendapat tugas langsung di dalam istana. Mereka adalah prajurit-prajurit yang lebih dekat kepada Maharaja pada masa pemerintahan siapa pun juga. Tetapi di luar istana, mereka hampir tidak dapat berbuat apa-apa.

Seperti anggauta Pasukan Pengawal, maka Pelayan Dalam pun adalah prajurit-prajurit terpilih. Mereka memiliki kelebihan dari prajurit-prajurit kebanyakan karena tugas mereka yang khusus.

Dalam pada itu, sebaliknya anggota Pasukan Pengawal yang melintas, dan melihat sekelompok Pelayan Dalam duduk bercakap-cakap itu pun membicarakannya pula. Seorang yang bertubuh tinggi berkata kepada kawannya, “Apakah sebenarnya mereka lakukan di dalam masa yang penuh teka teki ini? Duduk berkelompok, makan, minum, dan saling berebutan jika tuanku Tohjaya memberikan sesuatu. Bahkan sisa makannya sekalipun.”

“Ah, kau terlampau berprasangka. Mereka mempunyai tugasnya sendiri.” sahut kawannya yang agak pendek tetapi berdada bidang.

“Aku tahu. Tetapi mereka pun bertanggung jawab atas keselamatan Singasari dan tuanku Tohjaya. Apakah kau ingat, saat meninggalnya Sri Rajasa di bagian belakang bangsalnya. Sebenarnya yang harus mengetahui persoalannya adalah Pelayan Dalam. Mereka bertugas di dalam bangsal-bangsal istana. Sedang kami bertugas di luar, di pintu gerbang dan di sudut istana ini.”

Kawannya tidak menyahut. Tetapi kepalanya terangguk-angguk kecil. Bahkan ia masih sempat berpaling dan melihat Pelayan Dalam itu masih saja duduk di tempatnya.

Prajurit itu menarik nafas dalam-dalam. Pelayan Dalam yang juga bersenjata itu memang mempunyai persoalan yang khusus dan kuwajiban yang khusus.

Demikianlah, keduanya pun saling berdiam diri sambil berjalan menuju ke gardu tempat mereka bertugas. Namun masih terasa berapa ketegangan rasanya semakin mencengkam bukan saja halaman istana, tetapi seluruh Singasari.

“Gila.” desis salah seorang Pengawal itu tiba-tiba, “Seorang atau dua orang yang menyebut dirinya Kesatria Putih ternyata mampu menggoncangkan Singasari.”

Kawannya tidak menyahut lagi. Ketika mereka sampai di gardu maka mereka pun segera melaporkan pengamatan mereka selama mereka nganglang. Kemudian setelah itu, keduanya duduk tanpa berbicara lagi. Tetapi rasa-rasanya angan-angan merekalah yang nganglang mengelilingi seluruh daerah Singasari dan melihat kekacauan yang timbul di mana-mana. Jika Kesatria Putih yang dahulu menumbuhkan ketenangan dan perlindungan, maka yang sekarang sebaliknya.

“Bagi pengikut-pengikut Tohjaya.” tiba-tiba sesuatu terdengar di dasar hati prajurit-prajurit itu, “Tetapi mereka sebenarnya juga pelindung dan menumbuhkan ketegangan di hati rakyat kebanyakan.”

Prajurit-prajurit itu mengerutkan keningnya. Dan sebuah pertanyaan yang lain telah timbul, “Kenapa sikap rakyat berbeda dengan para pengikut Tohjaya?”

Ada sepercik pengakuan bahwa sebenarnya Tohjaya tidak berakar di hati rakyat Singasari. Namun demikian adalah suatu kenyataan bahwa Tohjaya duduk di atas tahta setelah berhasil membunuh Anusapati.

Demikianlah maka para pengawal itu meronda dengan persoalan di hati masing-masing. Bahkan hampir di setiap hati prajurit Singasari. Meskipun bentuknya berbeda-beda, tetapi persoalannya hampir serupa.

Kecurigaan di antara para prajurit tu rasa-rasanya memang semakin meningkat. Tetapi mereka masih tetap membatasi persoalannya, karena mereka sama sekali tidak dapat menemukan bukti-bukti apapun bahwa keduanya harus saling mencurigai.

Semalam suntuk para peronda hampir tidak dapat memejamkan matanya meskipun bergantian seperti malam-malam yang lewat. Setiap saat mereka dibayangi oleh kehadiran orang berkerudung putih dengan tiba-tiba, dan yang dengan tiba-tiba pula lenyap seperti hantu.

Tetapi sampai menjelang pagi hari, malam itu para prajurit tidak menjumpai orang berkerudung putih.

Dipagi hari, maka para pengawal yang sedang bertugas itu pun bergantian pergi ke sungai. Mereka membersihkan diri dan bahkan ada yang mandi agar tubuh mereka merasa menjadi segar.

Dalam pada itu, selagi mereka sedang sibuk dengan diri masing-masing, maka terdengar seorang prajurit berteriak tertahan. Sebuah perkelahian pendek terjadi beberapa langkah dari mereka yang sedang mandi.

Dalam keremangan pagi, para prajurit yang sedang mandi itu pun melihat kedua orang prajurit yang sedang bertempur itu. Tetapi tidak terlampau lama, karena yang seorang dari mereka pun segera terkulai di tanah.

Ketika yang lain berlari-lari mendekatinya dengan ragu-ragu, maka yang seorang telah hilang di dalam gerumbul-gerumbul liar di tepi sungai itu.

Betapa prajurit yang pertama-tama mencapainya itu terkejut ketika ia melihat bahwa yang terkulai di tanah itu adalah kawannya sendiri. Dengan jantung berdebaran prajurit itu mencoba mengangkat kepala kawannya yang sudah menjadi sangat lemah itu.

“Orang Sinelir.” desis prajurit yang telah menjadi sangat lemah itu.

Ketika kawanya yang lain mendekatinya, maka prajurit itu sudah tidak dapat bertahan lagi. Nafasnya menjadi sendat, dan akhirnya ia pun kehilangan nyawanya.

Tetapi suaranya telah didengar. Yang membunuhnya adalah orang Sinelir.

“Gila.” teriak prajurit dari pasukan pengawal yang terdiri dari golongan Rajasa itu.

“Orang-orang itu memang gila.” teriak yang lain, “Apakah mereka mengira bahwa pasukan Pelayan Dalam cukup mampu melawan Pasukan Pengawal.”

Prajurit-prajurit yang ada di tepian itu pun kemudian segera berkemas. Dengan kemarahan yang tertahan di dalam dada, mereka pun membawa kawannya yang terbunuh itu kembali ke tempat mereka bertugas.

Kedatangan prajurit-prajurit yang membawa seorang kawannya yang mati terbunuh dengan luka senjata di dadanya itu telah menggemparkan. Berita itu segera menjalar ke telinga setiap prajurit dari pasukan pengawal.

“Apakah artinya ini.” seorang Senapati yang bertugas dan bertanggung jawab di malam itu pun dengan wajah merah padam menyaksikan mayat yang terbujur di gardu peronda.

“Seorang dari pasukan Pelayan Dalam.” desis seorang prajurit.

“Kau yakin?” Senapati itu hampir berteriak.

“Ya. Yang terbunuh itu sendiri menyebutnya sebelum ia menghembuskan nafasnya yang terakhir.”

Wajah Senapati itu bagaikan menyala. Tetapi ia masih mencoba menahan diri sebagai seorang Senapati, la tidak boleh bertindak tergesa-gesa sehingga dengan demikian akan dapat menimbulkan persoalan yang lebih rumit.

“Aku akan melaporkannya kepada Panglima agar Panglima Pelayan Dalam dapat mengambil tindakan terhadap anak buahnya.”

“Kita kepung barak orang Sinelir.” teriak prajurit yang masih muda.

Betapapun Senapati itu menjadi marah, tetapi ia berkata, “Jangan bertindak sendiri. Aku akan menyelesaikan persoalan ini lewat jalur yang seharusnya. Mungkin persoalannya adalah persoalan pribadi sehingga tidak sepantasnya kita ikut mencampurinya secara beramai-ramai.”

Prajuritnya terdiam sejenak. Mereka saling berpandangan. Kata-kata Senapatinya itu memang dapat diterima. Jika persoalannya adalah persoalan pribadi, maka tidak sepantasnya jika yang lain pun ikut pula di dalam persoalan itu.

Meskipun demikian, masih juga ada sepercik dendam di dalam hati para prajurit dari pasukan Pengawal itu. Apalagi mereka yang melihat langsung perkelahian yang tidak lama itu. Mereka melihat, meskipun tidak dari permulaan sekali namun mereka dapat mengambil kesimpulan bahwa Pelayan Dalam itu menyerang dengan tiba-tiba sehingga prajurit yang terbunuh itu sama sekali tidak sempat mempertahankan diri.

Tetapi mereka masih harus tunduk kepada Senapatinya. Betapapun juga mereka masih bersedia menunggu apakah yang harus mereka lakukan.

Namun demikian, di hari berikutnya, maka ketegangan telah mencengkam hati setiap prajurit. Ternyata prajurit-prajurit dari kesatuan yang lain pun telah mendengar pula, sehingga mereka harus mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan yang sama.

Kecurigaan di Singasari menjadi semakin memuncak. Ketika hal itu didengar oleh para Pelayan Dalam, maka mereka pun terkejut pula. Menurut penilaian mereka, tentu tidak ada seorang pun yang akan berbuat demikian. Namun demikian, dilandasi oleh kecurigaan yang memang sudah menyala di hati, mereka pun segera mempersiapkan diri. Pelayan Dalam adalah prajurit terpilih dalam bentuknya tersendiri. Merekalah sebenarnya yang mendapat kepercayaan langsung berada di dalam bangsal-bangsal istana. Bahkan sampai ke bilik-bilik mengawasi para pelayan yang lain. Mengawasi juru panebah, para emban dan setiap pekerja di dalam istana. Karena itu mereka adalah prajurit-prajurit yang memiliki ketajaman pengawasan firasat dan kemampuan bertempur baik secara sendiri maupun dalam kelompok-kelompok. Itulah sebabnya maka para Pelayan Dalam itu pun merasa bahwa mereka akan dapat melindungi diri mereka sendiri jika diperlukan, meskipun mereka harus berhadapan dengan Pasukan Pengawal. Juga pasukan pilihan. Adalah orang-orang yang khusus yang sudah melewati pendadaran yang berlapis sajalah yang dapat diterima menjadi prajurit Pengawal.

Demikianlah kedua kesatuan yang terdiri dari orang-orang pilihan itu telah menjadi saling mencurigai. Karena itu setiap orang, maupun setiap kelompok yang berpapasan di halaman istana, memercikkan ketegangan yang tertahan-tahan.

Laporan mengenai terbunuhnya seorang prajurit Pengawal dari golongan Rajasa itu telah sampai kepada Panglima. Berita itu ternyata menjadi berita yang paling mengejutkan di dalam keadaan yang kalut itu. Lebih mengejutkan dari kehadiran orang yang menyebut dirinya bernama Kesatria Putih itu.

Demikianlah akhirnya Panglima Pasukan Pengawal itu pun telah menemui Panglima Pelayan Dalam. Seperti juga pemimpin-pemimpin yang lain, mereka dapat berbicara lebih tenang dari para prajurit dan Senapati-senapati muda.

Dari hasil pembicaraan itu, maka Panglima Pelayan Dalam telah memerintahkan untuk menemukan prajurit yang telah bersalah, dan mencari latar belakang dari persoalan itu. Sementara itu, mereka telah melaporkan pula kepada Tohjaya tentang peristiwa yang sangat tidak diharapkan terjadi itu.

Seperti yang sudah diduga, Tohjaya pun kemudian menjadi marah sekali. Dengan wajah merah padam ia berteriak, “Tangkap pembunuh itu. Aku perintahkan untuk menjatuhkan hukuman picis terhadapnya.”

“Tuanku.” semua orang yang mendengar terkejut karenanya dan Panglima Pelayan Dalam pun berkata, “Hukuman itu terlampau berat baginya. Apalagi apabila persoalannya adalah persoalan pribadi. Jika tuanku menghendaki, prajurit itu memang dapat dihukum mati. Tetapi bukan hukuman picis. Hamba mohon agar tuanku menjatuhkan jenis hukuman yang lain, meskipun juga berakibat mati.”

“Tutup mulutmu.” teriak Tohjaya, “Jika kau keberatan orang itu dihukum picis, maka kaulah yang akan mengalaminya.”

Panglima itu menelan ludahnya. Agaknya perasaan keadilannya benar-benar telat tersinggung. Hukuman picis adalah hukuman yang paling berat dan sama sekali tidak mengenal perikemanusiaan. Hanya pengkhianat yang paling jahat, dan mereka yang telah mengorbankan negara sajalah yang pantas dihukum picis. Itu pun sebaiknya dihindari.

Sementara itu Panglima Pasukan Pengawal pun memberanikan diri berkata, “Tuanku. Hukuman yang paling pantas untuk pembunuh itu tentu bukan hukuman yang paling berat. Aku adalah Panglima yang telah kehilangan seorang prajurit. Tetapi hampir setiap saksi mengatakan bahwa telah terjadi perkelahian meskipun hanya sebentar dan mungkin juga berarti suatu sergapan yang licik. Tetapi jika tuanku sependapat dengan hamba, hukuman pancung adalah hukuman yang paling tepat baginya. Hukuman yang mengerikan, tetapi tidak menimbulkan siksaan yang teramat pedih bagi yang menjalaninya.”

“Tidak. Tidak. Jika orang itu tertangkap, aku menghendakinya dihukum picis. Ia harus diikat di perempatan yang paling ramai. Setiap orang yang lewat harus menyayat kulitnya dan menaburinya dengan garam yang sudah dilumatkan dan memercikkan air asam dan jeruk pada luka itu. Biarkan ia terikat dan hidup sampai tiga hari tiga malam. Di hari terakhir biarkan ia mati diterik panas matahari.”

Para Panglima dan perwira yang mendengar keputusan Tuanku Tohjaya itu menarik nafas dalam-dalam. Rasa-rasanya mereka tidak akan dapat lagi melunakkan hati yang sudah membatu itu.

“Apakah yang membuatnya menjadi begitu keras hati.” bertanya setiap orang yang ada di ruangan itu.

Para prajurit memang sudah mengerti bahwa Tohjaya adalah seorang yang keras hati. Ia adalah orang yang sulit diketahui jalan pikirannya. Bahwa ibundanya terlampau memanjakannya, adalah kesalahan yang paling menentukan. Tetapi akhir-akhir ini hatinya serasa menjadi semakin keras sekeras batu hitam.

Selagi para prajurit itu termangu, maka Tohjaya pun kemudian berteriak, “Cepat, apakah yang kalian tunggu?”

Prajurit-prajurit itu terkejut. Mereka saling berpandangan. Mereka tidak tahu, apakah yang dimaksud oleh Tohjaya.

“Pergi, cepat cari orang itu, dan ikat di perempatan.”

Barulah para Panglima dan Senapati itu menyadari perintah yang mengerikan itu.

Demikianlah maka para prajurit itu pun meninggalkan Tohjaya di bangsalnya. Para pemimpin pemerintahan yang masih tinggal, menundukkan kepalanya dalam-dalam. Tidak seorang pun yang berani mengangkat wajahnya, apalagi memandang wajah Tohjaya yang bagaikan membara.

Tetapi para pemimpin itu pun tidak terlalu lama tinggal di bangsal itu, karena mereka pun segera diusir pula oleh Tohjaya.

Sejak saat itu, Tohjaya menjadi semakin bingung. la memperkuat penjagaan bangsalnya semakin kuat. Bukan saja para prajurit Pengawal yang dipercayanya saja menjaga bangsalnya tetapi Tohjaya telah memerintahkan seorang Senapati kepercayaannya untuk menarik sepasukan prajurit dari pasukan tempur untuk berada di sekitar bangsalnya pula.

Panglima dari pasukan tempur itu tidak dapat berbuat apa-apa, ia hanya dapat memberitahukan kepada Panglima Pasukan Pengawal dan Pelayan Dalam, bahwa sepasukan prajuritnya telah ditarik masuk ke halaman istana. Bukan atas kehendaknya, tetapi atas perintah Tohjaya.

Maka kecurigaan dikalangan para prajurit pun menjadi semakin meluas. Ternyata Tohjaya sudah tidak percaya lagi kepada pasukan Pengawal dan Pelayan Dalam, sehingga ia telah menarik pasukan yang lain ke dalam lingkungan istana. Pasukan yang sebenarnya mempuyai kuwajiban tersendiri.

Tetapi karena perintah itu langsung keluar dari mulut Tohjaya, Maharaja Singasari, maka tidak seorang pun yang dapat menolaknya.

Dengan demikian maka selain kaum Rajasa dan Sinelir, di halaman istana telah berjaga-jaga pula pasukan tamtama yang terbiasa hidup di medan perang. Meskipun secara pribadi, mereka tidak terlatih sebaik prajurit-prajurit dari Pasukan Pengawal dan Pelayan Dalam, namun di dalam kelompok yang cukup besar, mereka adalah prajurit-prajurit yang sangat berbahaya. Senjata mereka hampir membeku melihat luka yang silang menyilang di tubuh lawannya.

Dengan demikian, maka setiap kelompok dari prajurit prajurit yang ada di halaman itu pun menjadi semakin saling mencurigai, sehingga di dalam kehidupan mereka sehari-hari, baik prajurit dari Pasukan Pengawal, dari Pelayan Dalam dan prajurit-prajurit yang terbiasa berada di medan itu, selalu di bayangi oleh kewaspadaan yang besar. Tidak seorang pun dari mereka yang pernah terpisah dari senjata dan bahkan setiap kelompok yang bertugas di halaman itu, tidak pernah membiarkan kelompok mereka terpisah tanpa saling berjanji untuk saling memberikan isyarat jika diperlukan sesuai dengan persetujuan masing masing.

Pasukan Pengawal yang merasa dirinya paling berhak untuk menjaga keamanan di halaman, tidak pernah membiarkan tugasnya diambil oleh pasukan yang lain. Meskipun di halaman itu bertebaran prajurit-prajurit tamtama, namun setiap saat sekelompok Pasukan Pengawal masih selalu meronda berkeliling. Tetapi mereka tidak lagi meronda berdua setiap kali, tetapi kelompok mereka menjadi lima orang.

Kebencian para prajurit dari Pasukan Pengawal kepada orang Sinelir rasa-rasanya masih menyala di dada, maka mereka tidak senang sekali melihat sikap para prajurit yang biasa hidup di medan perang itu berada di halaman tanpa menghiraukan tata cara.

Sementara itu, orang-orang Sinelir yang merasa menjadi sasaran dendam orang orang Rajasa pun selalu bersiaga sepenuhnya. Bahkan kini mereka rasa-rasanya dihadapkan pula pada sekelompok pasukan yang lain, yang tidak mengenal suba sita.

“Kita harus bertindak tegas.” berkata seorang Senapati dari Pelayan Dalam, “Baik para Pengawal maupun prajurit prajurit liar itu, tidak boleh memasuki pakiwan bagi para kesatria dan apalagi para puteri. Itu adalah kuwajiban kita. Jika mereka memaksa, maka kita harus bertindak. Kita adalah prajurit-prajurit yang membawa senjata pula.”

Para prajurit yang mendengar perintah itu pun menjadi semakin mantap akan tugas mereka. Mereka sama sekali tidak takut menghadapi apapun juga di dalam menjalankan tugas.

“Jika orang-orang Rajasa itu masih tetap mendendam, maka kita harus menanggapinya.” berkata seorang Pelayan Dalam yang berjambang segenggam.

Kawan-kawannya hanya mengangguk-angguk saja. Tetapi mereka harus tetap menjunjung tinggi panji-panji pasukan masing-masing.

Dengan demikian, maka kecurigaan, kebencian dan dendam rasa-rasanya semakin menyala di halaman istana Singasari. Dan itu adalah gambaran dari Singasari keseluruhan.

Prajurit-prajurit yang ditarik dari luar istana, dan merasa mereka adalah petugas-petugas yang langsung ditempatkan oleh Maharaja Singasari pun merasa diri mereka berkuasa. Itulah sebabnya maka kadang-kadang mereka berbuat sesuka hati tanpa menghiraukan batas-batas kekuasaan dari kesatuan yang lain.

Dalam pada itu, Lembu Ampal pun tidak berhenti sampai pada batas itu. Ia masih ingin melanjutkan rencananya, ia ingin memanfaatkan keadaan yang sedang panas itu.

“Apalagi yang akan kau kerjakan Lembu Ampal?” bertanya Mahendra.

“Seperi rencana semula.” berkata Lembu Ampal, “Keadaan menjadi semakin panas. Kesempatan agaknya sudah terbuka sekarang.”

“Tetapi kau mengorbankan orang yang sama sekali tidak bersalah.”

“Mereka adalah prajurit. Setiap prajurit seharusnya sudah memperhitungkan kemungkinan untuk mati tertusuk senjata. Bukan hanya sekedar untuk menengadahkan kepalanya karena kedudukannya itu. Karena itu, maka jika justru akulah yang kemudian mati terbunuh dalam rencanaku, aku pun tidak menyesal karena aku pun seorang prajurit.”

Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Ia memang melihat bahwa agaknya rencana Lembu Ampal akan berhasil.

Dalam pada itu. Mahisa Agni yang masih tetap tinggal di halaman istana merasakan juga udara yang semakin panas. Semakin banyak prajurit yang bertebaran di halaman, ia pun menjadi semakin sulit untuk berhubungan dengan Witantra, Mahendra dan Lembu Ampal. Hanya karena kelebihan mereka sajalah, sekali-kali mereka dapat juga saling berhubungan.

Namun dalam pada itu, setiap pengawal khusus di bangsal Mahisa Agni pun sudah mempersiapkan diri menghadapi setiap kemungkinan. Mereka semakin meningkatkan kesiagaan. Apalagi mereka sadar, bahwa tatapan mata para prajurit itu terhadap mereka, bagaikan sorot api yang memancarkan kebencian tiada taranya.

Selain Mahisa Agni dan para pengawalnya, maka Mahisa Wonga Teleng dan adik-adiknya pun selalu bersiaga pula. Mereka bersama Mahisa Agni adalah pihak yang lain sama sekali dengan pihak-pihak yang sedang saling mencurigai, meskipun agaknya semua pihak telah mencurigai mereka pula.

Di bangsal Mahisa Wonga Teleng, beberapa orang pelayan yang serta selalu menyediakan senjata pula meskipun tidak semata-mata mereka sandang di lambung seperti para prajurit. Tetapi meskipun mereka bukan prajurit, namun serba sedikit mereka pun mampu mempergunakan senjata. Apalagi adik-adik Mahisa Wonga Teleng.

Sementara itu, ibu Ranggawuni pun telah berada di bangsal Mahisa Wonga Teleng pula karena ia tidak dapat tinggal sendiri di bangsalnya tanpa anaknya yang sangat dikasihinya.

Tetapi Mahisa Wonga Teleng telah saling berjanji dengan Mahisa Agni. Jika terjadi sesuatu, maka mereka akan saling memberikan isyarat. Meskipun jumlah mereka tidak terlampau banyak, tetapi mereka tidak akan menyediakan diri untuk pasrah begitu saja tanpa memberikan perlawanan.

Dalam pada itu. Lembu Ampal pun berjalan terus dengan rencananya. Seperti yang sudah diaturnya sebaik-baiknya, maka Lembu Ampal berusaha untuk dapat melakukan rencananya di dalam istana.

Ia tahu benar, bahwa tugas Pelayan Dalam sebagian besar dilakukan di dalam bangsal di istana.

“Aku harus melakukannya di tempat yang paling berbahaya.” berkata Lembu Ampal kepada Witantra.

Witantra menarik nafas dalam-dalam. Tugas itu memang tugas yang sangat berat. Jika Lembu Ampal gagal, akibatnya akan menjadi luas. Keributan yang timbul di halaman istana yang diliputi oleh ketegangan itu akan dapat menimbulkan huru hara yang dapat menyentuh Mahisa Agni dan bahkan mungkin Ken Dedes yang sudah hampir tidak dapat berbuat sesuatu selain duduk dan bercakap-cakap dengan para emban yang menjaganya.

Karena itu, maka Witantra pun kemudian berkata, “Aku dan Mahendra tidak akan dapat membiarkan kau melakukan rencanamu sendiri.”

“Maksudmu?”

“Biarlah kami berjaga-jaga. Jika terjadi kerusuhan di dalam halaman apapun sebabnya, kami akan memasukinya.”

“Tetapi bagaimana jika hal itu timbul tanpa hubungan apapun dengan rencanaku.”

“Memang sulit untuk membedakan. Tetapi apa boleh buat. Tetapi aku akan berusaha memasuki halaman tanpa diketahui orang lain.”

Lembu Ampal menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Terima kasih. Mudah-mudahan semuanya dapat berlangsung dengan baik, sehingga akan segera datang saatnya tuanku Ranggawuni dan Mahisa Cempaka kembali ke istana.”

“Aku pun akan menyiapkan pasukan pengawal Ranggawuni yang datang dari Kediri itu tidak terlampau jauh dari istana. Jika perlu aku dapat memberikan isyarat kepada mereka.”

Witantra berhenti sejenak, lalu, “Tetapi jika demikian, maka perang telah terjadi di Singasari. Sedang golongan Rajasa dan Sinelir akan bersatu untuk melawan kita semua.”

Lembu Ampal termenung sejenak, jika yang terjadi adalah perang yang akan mengoyak Singasari menjadi debu, maka segala usaha yang selama ini dilakukan oleh Mahisa Agni, Witantra dan Mahendra akan menjadi sia-sia. Mereka tidak ingin melihat Singasari menjadi ajang perang di antara saudara sendiri yang dapat membakar Singasari menjadi arang. Tetapi mereka pun tidak dapat membiarkan kelaliman tetap berada di atas tahta. Itulah sebabnya maka mereka mencari cara yang paling baik untuk merubah keadaan tanpa korban yang tidak berarti.

“Jika ada korban yang jatuh, harus diusahakan sekecil-kecilnya.” berkata Witantra setiap kali, “Jika kita tidak memikirkan korban yang bakal jatuh dan rakyat kecil yang akan mengalami bencana, maka kita telah memukul Tohjaya dengan perang.”

Demikianlah maka Lembu Ampal telah dibekali oleh berbagai macam pertimbangan untuk melakukan rencananya. Karena itu, maka tanggung jawab yang dipikulnya adalah tanggung jawab yang sangat berat.

Ketika saat yang ditunggunya tiba, maka Lembu Ampal pun segera mempersiapkan diri. Di malam yang kelam, dengan sangat berhati-hati Lembu Ampal berusaha memasuki halaman istana Singasari. Tetapi bukan hanya Lembu Ampal seorang diri, ternyata bahwa Witantra dan Mahendra pun telah ikut pula memasuki istana.

Ternyata bahwa halaman istana Singasari itu mendapat pengawasan yang luar biasa ketatnya. Hampir di setiap tempat terdapat prajurit. Di gerbang-gerbang bangsal dan gerbang petamanan, di regol-regol halaman dan di tempat-tempat yang penting. Pasukan Pengawal tetap berada di tempatnya. Sedang di dalam bangsal-bangsal yang bertebaran di halaman, dibangsal perbendaharaan, dan di longkang air, prajurit dari kesatuan Pelayan Dalam selalu bersiaga menghadapi setiap, kemungkinan yang bakal terjadi. Sedang hampir di setiap tempat, prajurit-prajurit tempur yang merasa dirinya mendapat tugas langsung dari Tohyaja pun merasa bertanggung jawab terhadap keadaan seluruhnya di dalam halaman itu.

Karena itu, maka Lembu Ampal harus berhati-hati sekali. Setiap langkah ia akan berpapasan dengan prajurit peronda dari pasukan yang berbeda.

“Bukan main.” berkata Lembu Ampal di dalam hatinya, “Benar-benar suatu pameran kekuatan atau pameran ketakutan.”

Tetapi Lembu Ampal sama sekali tidak berniat untuk mengurungkan niatnya. Bahkan dengan keberanian yang luar biasa Lembu Ampal sempat memberikan isyarat kepada Mahisa Agni.

Ketika terdengar angkup berdesah bagaikan desah perawan yang ditinggal kekasih, Mahisa Agni sadar, bahwa suara itu adalah suara isyarat yang ternyata dari iramanya yang ajeg seperti yang sudah saling mereka setujui.

“Mereka ada di halaman.” berkata Mahisa Agni di dalam hatinya.

Karena itulah maka Mahisa Agni pun kemudian menyiapkan dirinya menghadapi segala kemungkinan yang dapat terjadi. Ia menyadari bahwa Lembu Ampal telah menyusun rencana tertentu yang akan dilaksanakannya untuk mengusir Tohjaya dari kedudukannya.

Mahisa Agni yang menyadari keadaan sepenuhnya itu pun segera memberitahukan kepada para pengawalnya yang ada di bangsalnya. Meskipun jumlah mereka tidak seimbang sama sekali dibandingkan dengan prajurit yang bertebaran di halaman istana, namun tenaga para pengawal terpilih yang hanya sedikit itu bersama dengan Mahisa Agni dan beberapa orang yang telah mengirimkan isyarat itu, ditambah dengan Mahisa Wonga Teleng bersama adik-adik dan pelayan-pelayan yang setia, akan merupakan kekuatan yang harus diperhitungkan oleh prajurit-prajurit yang ada di halaman itu.

Para pengawal yang sudah berbaring di atas tikar yang di bentangkan di ruang dalam itu pun segera terbangun. Mereka membenahi pakaian mereka, dan menggantungkan senjata di lambung. Sedang di leher mereka masih tetap tersangkut sehelai kain berwarna putih sebadai pertanda kesediaan mereka untuk berkorban demi kesetiaan mereka terhadap keyakinan mereka.

Dalam pada itu, Lembu Ampal yang yakin bahwa Mahisa Agni telah mendengar isyaratnya itu pun segera merayap semakin dalam. Ia merangkak di balik gerumbul-gerumbul perdu dan kadang-kadang harus bersembunyi di antara dedaunan di petamanan, jika beberapa orang prajurit kebetulan lewat.

“Aku harus menemukan kesempatan itu.” ia berkata di dalam hati.

Namun kesediaan Witantra dan Mahendra untuk berada di halaman istana itu, menambah kemantapannya untuk melakukan tugasnya.

Sementara itu, para prajurit yang berjaga-berjaga di halaman istana dan dicengkam oleh ketegangan itu merasakan betapa malam menjadi sangat sepi dan lengang. Namun, kadang-kadang naluri keprajuritan mereka merasakan, bahwa malam yang sepi itu bagaikan mengandung gejolak yang tersembunyi, yang setiap saat dapat meledak dengan dahsyatnya.

Tetapi, para prajurit itu tidak tahu dari manakah sumber ledakan itu. Kecurigaan mereka yang semakin menyala di dalam setiap hati membuat mereka selalu bersiaga. Mereka selalu berada di dalam kelompok-kelompok yang siap menghadapi segala kemungkinan yang dapat terjadi.

Dalam suasana yang demikian itulah, Lembu Ampal ingin melaksanakan rencananya yang telah matang.

Untuk beberapa saat lamanya Lembu Ampal menunggu kesempatan dengan bersembunyi di balik gerumbul perdu. Sekali-kali ia menebarkan pandangan matanya ke segenap arah. Tetapi ia tidak dapat melihat Witantra maupun Mahendra.

“Aku tidak tahu dimanakah keduanya berada. Tetapi aku yakin bahwa keduanya telah berada di dalam halaman ini pula.” berkata Lembu Ampal di dalam hatinya.

Dalam pada itu, malam pun menjadi semakin malam. Di langit bintang geminlang telah bergeser kebarat dan angin yang dingin berhembus perlahan-lahan.

Para prajurit yang berada di halaman istana itu pun merasakan betapa malam menjadi sangat dingin.

Karena ternyata tidak ada tanda-tanda yang memberi petunjuk bahwa sesuatu akan terjadi, maka para prajurit itu pun tidak lagi merasa diburu oleh ketegangan. Mereka merasa bahwa mereka telah dicengkam oleh kecemasan sehingga mereka seakan-akan merasa berada di ujung bahaya.

“Kita terpengaruh oleh keadaan.” berkata seorang prajurit kepada kawannya, “Rasa-rasanya jantungku berdetak semakin cepat. Namun agaknya, tidak akan terjadi sesuatu.”

“Macammu.” desis kawannya yang lain, “Kau selalu gelisah dan bahkan kadang-kadang kau telah menarik pedangmu tanpa sebab.”

“Sore tadi. Tetapi kemudian aku menyadari bahwa tidak akan terjadi apa-apa. Biasanya malam memang sesepi ini. Tetapi kali ini kita sendirilah yang membuat malam seakan-akan menjadi sangat garang di dalam kesepiannya.”

Kawannya tidak menjawab. Dipandanginya kawannya yang lain yang bertugas di regol. Lalu katanya, “Biarlah mereka bertugas. Kita mendapat kesempatan untuk tidur saat ini. Jika kita tidak tidur sekarang, maka kita akan segera menggantikan tugas mereka. Dan itu adalah alamat bahwa semalam suntuk kita tidak akan tidur.”

“Kau bicara berkepanjangan. Bagaimana mungkin aku dapat tidur.”

Tidak seorang pun yang menjawab. Prajurit-prajurit itu mencoba untuk dapat tidur barang sejenak, sebelum mereka menggantikan tugas kawan-kawannya di regol.

Demikian pula prajurit-prajurit dari kesatuan yang lain. Perlahan-lahan mereka kehilangan kesiagaan karena mereka tidak menjumpai peristiwa apapun. Apalagi semakin malam maka seakan-akan halaman itu menjadi semakin tenang. Tetapi kesepian yang justru semakin memuncak kadang-kadang terasa meremang di tengkuk.

Lembu Ampal dari persembunyiannya pun melihat bahwa kesibukan para prajurit itu pun semakin lama menjadi semakin surut. Bahkan kemudian beberapa orang di antara mereka sudah menjadi acuh tidak acuh lagi.

Agaknya para prajurit dari kesatuan-kesatuan yang lain pun demikian pula keadaannya. Para Pengawal yang berjaga-jaga di bangsal dan para Pelayan Dalam yang ada di dalam bangsal dan longkangan-longkangan sudah tidak lagi bersiap-siap dalam keadaan yang tegang.

Lembu Ampal yang bersembunyi di balik pohon-pohon perdu itu pun merasa bahwa saatnya sudah menjadi semakin dekat. Karena itu, ia pun segera mempersiapkan diri. Ia harus menemukan seorang dari golongan Sinelir.

Ketika halaman itu menjadi semakin lengang, maka lembu Ampal pun merayap lebih dalam lagi. Bahkan ia pun kemudian mendekati bangsal yang berada di lingkungan halaman yang seakan-akan terpisah dari yang lain. Bangsal yang di huni oleh Ken Umang.

Bangsal itu nampaknya memang sedang suram. Tidak lagi nampak kegembiraan yang berlebih-lebihan seperti beberapa saat sebelumnya, justru ketika Tohjaya belum menjadi seorang Maharaja.

Beberapa orang pemimpin Singasari memang sedang dicengkam oleh teka-teki tentang sifat Ken Umang dan Tohjaya, justru setelah Tohjaya menjabat kedudukan tertinggi di Singasari.

“Mungkin mereka tidak sependapat di dalam olah pemerintahan.” berkata seorang prajurit.

“Tentu tidak. Jika demikian, maka akibatnya tidak akan berlarut-larut.” sahut kawannya.

Namun, yang terjadi kemudian jarak antara ibunda Maharaja di Singasari itu rasa-rasanya menjadi semakin jauh.

Dalam pada itu, Lembu Ampal pun telah berada di sekitar bangsal Ken Umang yang dilingkungi oleh sebuah kebun bunga yang rimbun. Tetapi kebun itu pun nampaknya tidak lagi secerah beberapa saat sebelumnya. Batangnya tidak lagi nampak segar dan terpelihara. Meskipun para juru taman masih tidak meninggalkan tugas mereka, tetapi karena Ken Umang hampir tidak pernah menengok tanaman-tanaman itu, maka juru taman pun tidak lagi bekerja dengan sepenuh gairah.

Perlahan-lahan Lembu Ampal merayap makin dekat. Ia melihat beberapa orang pasukan pengawal bersiap-siap di dekat bangsal itu. Dan bahkan hampir di setiap sudut dan pintu.....

Bersambung...!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...