Minggu, 31 Januari 2021

SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG JILID 30-02

*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 30-02*

Karya. : SH Mintardja

Sebelum mereka yakin akan dapat berbuat sampai tuntas, maka yang mereka lakukan adalah sekedar pengawasan

Dalam pada itu, Empu Baladatu yang dalam perjalanan pengamatan pun telah melakukan penyamaran dengan sempurna, sehingga dapat terlepas dari penglihatan petugas sandi dari Singasari. Bahkan dengan cerdik, Empu Baladatu telah berhasil mendekati padepokan Serigala Putih.

“Kita harus dapat berbicara dengan salah seorang dan mereka” berkata Empu Baladatu, “kita akan menunggu orang yang aku kenal baik, yang lewat di luar padepokan.”

“Kita menunggu di antara mereka yang pergi ke pategalan” jawab pengawalnya.

Empu Baladatu mengangguk-angguk. Ia sadar, bahwa pekerjaannya kali ini mengandung beberapa kemungkinan. Jika orang-orang Serigala Putih tidak lagi memerlukannya, karena pengaruh prajurit Singasari, maka kehadirannya akan dapat membahayakannya.

Tetapi Empu Baladatu siap menghadapi segala kemungkinan. Juga kemungkinan yang paling pahit sekalipun.

Ternyata Empu Baladatu harus menunggu dengan telaten, karena beberapa lama kemudian barulah seseorang lewat dengan membawa cangkul dari pategalan yang tidak begitu jauh dari padepokan mereka.

“Hanya seorang” desis Empu Baladatu. “Ya. Apakah aku harus memanggilnya.”

Aku mengenal orang itu dengan baik. Bawalah ke sini Aku ingin berbicara.”

Pengawal Empu Baladatu itu pun kemudian mendekati orang yang sedang berjalan itu. Sejenak orang itu termangu-mangu Ketika langkahnya dihentikan.

“Apakah maksud Ki Sanak?” bertanya orang Serigala Putih itu.

“Aku perlu berbicara dengan Ki Sanak sebentar” jawab pengawal Empu Baladatu.

“Tidak disini. Tetapi dibalik gerumbul itu.” Orang itu menjadi ragu-ragu Kemudian sambil menggeleng ia jawab, “Kenapa di sana? Katakan saja di sini. Aku tidak mau pergi ke sana.”

“Jangan keras kepala Ki Sanak. Seseorang sedang menunggu kau di sana. Ia adalah orang yang penting bagimu, yang mungkin akan memberikan angin baru dan padepokanmu yang lesu itu.”

Orang itu masih ragu-ragu Katanya kemudian” Suruhlah ia datang kemari.”

“Jangan keras kepala. Orang itu tentu kau kenal dengan baik”

“Siapa?”

“Empu Baladatu.”

“Empu Baladatu?” orang itu menjadi tegang. Namun kemudian, “jadi Empu Baladatu ada di sini sekarang?”

“Ya. Dibalik gerumbul itu.”

Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Apakah maksudnya sebenarnya?”

“Ia ingin bertemu dengan salah seorang dari padepokan Srigala Putih dan kemudian orang-orang Macan Kumbang.”

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Sementara pengawal Empu Baladatu mencoba membawa kesan pada wajah orang itu. Agaknya itu di padepokan Serigala Putih.

Baru sejenak kemudian orang itu berkata, “Baiklah. Aku akan menemui Empu Baladatu.”

Orang itu pun kemudian mengikuti pengawal Empu Baladatu ke balik sebuah gerumbuL Di balik gerumbul itu Empu Baladatu duduk seorang diri. Sementara dari kejauhan dan tersembunyi, pengawalnya yang lain mengawasinya sambil menunggui kuda-kuda mereka.

Orang yang memang sudah mengenal Empu Baladatu itupun kemudian duduk berhadapan. Agaknya setelah lama tidak bertemu maka orang itu pun kemudian menanyakan keselamatan dan kabar berita selama mereka berpisah..

“Aku baik-baik saja” berkata Empu Baladatu, “kau tentu sudah mendengar bahwa aku melarikan diri dari padepokan terkutuk itu. Aku membunuh orang yang menjagaku, kemudian meloncati dinding. Mereka terlalu menganggap aku tidak berdaya lagi dengan luka-lukaku saat itu.”

“Ya Empu. semuanya sudah mendengar serba sedikit tentang Empu. Orang-orang yang melarikan diri hanya mengatakan bahwa Empu mungkin tertangkap, mungkin terbunuh. Aku sendiri yang sempat lari saat itu. tidak dapat mengatakan dengan pasti, apakah yang sudah terjadi. Tetapi kemudian kami mendengar berita bahwa Empu sempat lolos.”

“Tetapi aku tidak langsung kembali kapadepokan ini,. Aku tahu. bahwa prajurit Singasari akan mencari aku kemari.”

“Ya” jawab orang itu, “beberapa orang prajurit Singasari dan para cantrik dari padepokan Empu Sanggadaru telah datang kemari.”

Apakah mereka mencari aku atau untuk keperluan yang lain?”

“Kedua-duanya. Mereka memerintahkan agar kami tidak melakukan tindakan yang dapat mencelakan kami.”

“Maksudnya?”

“Tentu agar kami tidak melakukan kegiatan lagi yang dapat menimbulkan kesan perlawanan atau bahkan persiapan untuk menyerang padepokan Empu Sanggadaru.”

“Dan apakah yang kalian lakukan selama ini?”

“Tidak apa-apa. Kami melakukan pekerjaan kami sehari-hari untuk dapat tetap hidup. Kami mengolah tanah yang ada dan memetik hasilnya bagi beberapa bagian yang sudah berbuah dan pantas dipetik.”

“Mencukupi?”

Orang itu menarik nafas dalam. Pada masa lampau semua kekurangan akan dengan mudah dapat dicukupi. Beberapa orang berkuda yang mendatangi beberapa padukuhan telah cukup untuk menambah semua kekurangan. Tetapi mereka tidak dapat melakukanuya lagi. Mereka tidak berani melanggar ancaman prajurit Singasari yang tentu akan mengambil tindakan yang keras.

“Kalian akan makan akar-akaran dan dedaunan” berkata Empu Baladatu kemudian.

Orang itu tidak segera menyahut. Tetapi ia tidak dapat ingkar bahwa mereka pada suatu saat akan merasa kekurangan makan. Tanah yang tidak begitu luas dan kurang subur hanyalah sekedar memberikan bahan makan yang sebenarnya memang kurang mencukupi.

“He. kenapa kau diam saja? Apakah kalian memang sudah mempersiapkan diri untuk makan akar-akaran dan dedaunan?” desak Empu Baladatu.

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Tidak ada jalan lain Empu. Kami selalu dalam pengawasan. Jika kami melakukan sesuatu yang bertentangan dengan batasan-batasan yang diberikan oleh prajurit Singasari, maka kami akan mengalami tindakan yang dapat merugikan kami sendiri.

Empu Baladatu mengangguk-angguk. Katanya, “Aku mengerti Kalian tidak mempunyai kekuatan lagi untuk menyatakan diri sebagai suatu kelompok yang bebas dan dapat menentukan sikap dan tindakan sendiri.”

Orang itu tidak menjawab. Tetapi tatapan matanya kepada Empu Baladatu justru merupakan tuntutan, bahwa seakan-akan Empu Baladatu lah yang harus bertanggung jawab atas kehancuran padepokan itu. meskipun tidak dalam pengertian wadag. Karena justru kahancuran itu dialami di padepokan lain,

Empu Baladatu yang seakan-akan mengerti apa yang tersirat dalam tatapan mata itu kemudian berkata, “Aku mengerti, bahwa kalian selalu dikejar oleh harapan untuk dapat bangkit kembali. Mungkin kalian menganggap bahwa aku telah ingkar akan tugas dan tanggung jawabku. Tetapi kelambatan itu terjadi karena aku sedang menyembuhkan luka-luka ku. Aku tidak dapat berbuat banyak dalam keadaan terluka parah. Aku meninggalkan padepokan kakang Empu Sanggadaru dengan keadaan yang gawat, sehingga aku memerlukan waktu penyembuhan yang cukup panjang. Dan kini aku sudah sembuh. Aku ingin melihat-lihat dan kemudian memperhitungkan setiap kemungkinan yang dapat kita tempuh bersama”

Orang itu tidak menjawab. Tetapi ia merasa berdiri di simpang jalan. Rasa-rasanya ia sudah jemu untuk melibatkan diri ke dalam dunia yang kelam meskipun dengan harapan-harapan. Selama ini yang dijumpainya hanyalah kegagalan-kegagalan dan bahkan hampir kemusnahan.

Namun demikian, tanpa berbuat apa-apa, maka padepokannya pun tentu akan menjadi semakin kering. Kekurangan makan yang barangkali akan semakin parah sehingga dapat menimbulkan bahaya kelaparan bagi penghuni padepokan itu.

“Jangan gelisah” berkata Empu Baladatu kemudian, “jika kalian masih mempunyai kepercayaan kepadaku, maka aku berjanji bahwa pada suatu saat akan datang saatnya, kalian menemukan hari-hari yang gemilang. Aku tidak berhenti sampai di sini meskipun aku juga tidak dapat berbuat dengan tergesa-gesa.”

Orang itu tidak menyahut. Ia memang memerlukan perubahan. Tetapi ia tidak ingin terlibat dalam kehancuran sekali lagi. Pertempuran itu adalah pertempuran yang sangat mengerikan. Orang-orang Mahibit telah kehilangan pemimpin mereka. Sedang orang-orang dari padepokan Serigala Putih dan Macan Kumbang, rasa-rasanya telah menjadi berputus asa dan ridak berpengharapan lagi.

“Untunglah bahwa kawan-kawan kami yang tertangkap tidak diperlakukan dengan buruk” berkata orang itu didalam hatinya., “Bahkan beberapa di antara mereka telah dilepaskan. Orang-orang yang melarikan diri dari pertempuran itu pun tidak diambil tindakan yang keras dan menyeluruh”

Namun orang itu tidak mengucapkannya di hadapan Empu Baladatu agar tidak menimbulkan kesan yang lain. Bagaimanapun juga orang itu masih merasa segan terhadap Empu Baladatu yang memang memiliki ilmu yang tinggi.

“Ia tidak boleh dikecewakan” berkata orang itu, “agar ia tidak mengambil tindakan sendiri dan langsung terhadap orang-orang dipadepokan.”

Karena itulah, maka orang itu pun selalu memberikan gambaran yang dapat menumbuhkan harapan bagi Empu Baladatu. Namun yang dikatakan oleh Empu Baladatu itu pun kadang-kadang dapat menyentuh hati orang Serigala Putih itu dan menumbuhkan harapan pula baginya.

“Empu” berkata orang itu kemudian, “apakah Empu akan singgah ke padepokan?”

“Tidak. Aku tidak akan singgah di padepokan. Tetapi jangan menganggap bahwa aku telah meninggalkan kewajibanku. Aku akan selalu mengawasi kalian dan perkembangan kalian. Pada suatu saat akan datang kesempatan yang baik yang kita tunggu dengan sabar. Lakukanlah semua perintah prajurit Singasari untuk sementara agar mereka tidak melakukan tindakan-tindakan pembatasan yang lebih keras.”

“Baik Empu” berkata orang itu, “kami akan menunggu perkembangan keadaan. Kami berharap bahwa Empu tidak akan terlalu lama menentukan sikap.”

“Aku akan menghubungi orang-orang Macan Kumbang dan kemudian orang-orang Mahihit- Semuanya harus dimulai dari permulaan lagi Tetapi betapapun berat, aku tidak akan berhenti. Apalagi kita semuanya sudah dibebani dendam yang tidak akan dapat kita hapuskan dari dinding hati kita. Kematian sanak kadang dan kawan-kawan terdekat.”

Orang padepokan itu mengangguk-angguk. Tetapi dendam itu tidak lagi mampu membakar hatinya yang bagikan sudah padam. Meskipun demikian ia tidak boleh melakukan kebodohan di hadapan Empu Baladatu yang benar-benar masih dibakar oleh dendam dan kebencian itu.

“Kembalilah” berkata Empu Baladatu, “dan berhati-hatilah menghadapi perkembangan keadaan. Mudah-mudahan aku akan segera kembali.

Orang dari padepokan Serigala Putih itu mengangguk-angguk. Sejenak ia memandang Empu Baladatu, kemudian pengawalnya yang berwajah mengerikan.

“Aku tidak akan terlalu lama” berkata Empu Baladatu kemudian.

“Apakah aku dapat mengabarkan kedatangan Empu kepada kawan-kawanku?” bertanya orang itu.

“Tetapi hati-hatilah. Jangan menjerat lidahmu sendiri di hadapan prajurit-prajurit Singasari.”

Orang itu pun kemudian minta diri kepada Empu Baladatu dan kembali kepadepokan.

Di sepanjang langkahnya, ia selalu dibebani keragu-raguan tentang kemungkinan yang dapat mereka lakukan dalam bayangan kekuasaan Empu Baladatu.

Setelah pertempuran yang mengerikan itu, orang-orang dari padepokan Serigala Putih ternyata telah mendapat pengalaman baru. Bukan saja pengalaman jasmani, tetapi juga jiwani. Ternyata mereka tidak dihadapkan pada dendam yang membakar para prajurit Singasari dan para cantrik di padepokan Empu Sanggadaru. Mereka tidak mengalami pembalasan dendam tanpa ampun. Meskipun ada juga prajurit Singasari yang menjadi korban, juga para cantrik dari padepokan Empu Sanggadaru, namun mereka membiarkan orang-orang dari padepokan Serigala Putih yang tersisa masih tetap hidup. Bahkan mereka telah melepaskan beberapa orang tawanan dan tidak menangkapi mereka yang berhasil melarikan diri dari medan pertempuran, kecuali satu dua orang yang mempunyai peranan terpenting dalam padepokannya.

“Pilihan yang sangat sulit” berkata orang itu.

Rasa-rasanya sudah terlampau berat untuk mulai lagi memilih jalan kehidupan seperti yang pernah mereka tempuh bersama Empu Baladatu. Dalam keadaan yang paling sulit, ternyata Empu Baladatu tidak mampu melindungi mereka, dan bahkan ia sendiri hampir binasa. Untunglah bahwa ia jatuh ketangan saudara laki-lakinya. meskipun saudaranya itulah yang telah dikhianatinya. sehingga ia masih berkesempatan untuk hidup, dan bahkan membunuh orang yang mendapat tugas untuk mengawasinya, sehingga Empu Baladatu sempat melarikan diri.

Tetapi untuk menolak tawaran Empu Baladatu pun akibatnya akan dapat menyulitkan isi padepokannya. Jangankan padepokan Serigala Putih. Sedangkan padepokan kakaknya sendiri, jika tidak sejalan dengan langkahnya, Empu Baladatu tidak segan-segan untuk memusnakannya.

“Aku harus membicarakan masak-masak dengan orang-orang terpenting di padepokanku. Kehadirannya, benar-benar merupakan mimpi yang buruk bagi padepokan Serigala Putih yang mencoba untuk menenangkan dirinya.”

Orang itu pun kemudian mempercepat langkahnya. Seoah-olah ia tidak sabar lagi untuk menyampaikan berita kehadiran Empu Baladatu itu kepada kawan-kawannya.

Sementara itu Empu Baladatu masih berada dibalik gerumbul bersama seorang pengawalanya. Sejenak mereka mengawasi orang padepokan Serigala Putih itu. Namun sulitlah bagi Empu Baladatu untuk mendapatkan kesan daripadanya.

“Apakah orang itu akan bersedia menyampaikannya kepada kawan-kawannya?” bertanya Empu Baladatu kepada pengawalnya.

“Ia tidak akan dapat mengelak. Tetapi entahlah, apakah keputusan yang akan diambil oleh orang-orang padepokan Serigala Putih. Mereka bukan lagi Serigala yang buas. Tetapi agaknya mereka tidak lebih dari anjing peliharaan yang sudah tidak bergigi lagi.” sahut pengawalnya.

Empu Baladatu mengangguk-angguk. Katanya, “Tetapi aku masih mengharap bahwa mereka akan dapat dibangunkan lagi.”

“Tetapi dapat juga membahayakan perjalanan Empu Baladati. Mereka dapat berkhianat dan melaporkan kepada prajurit Singasari bahwa Empu ada disini.”

“Sebentar lagi kita akan. pergi.”

“Bukan itu soalnya. Tetapi daerah ini dan daerah yang mungkin akan Empu datangi, akan mendapat pengawasan yang ketat. Jika selama ini perjalanan Empu terlepas dari pengawasan para petugas dari Singasari, maka jika orang itu berkhianat, maka mungkin sekali orang-orang Singasari akan membuat jaring-jaring yang dapat membahayakan perjalanan Empu.”

Tetapi Empu Baladatu tersenyum. Katanya, “Mereka tidak akan berani berbuat demikian. Maksudku, orang-orang Serigala Putih. Untuk sementara mereka akan tetap diam dan menunggu perkembangan keadaan. Jika akhirnya mereka memutuskan untuk tidak lagi berhubungan dengan aku, maka keputusan itu akan diambil dalam waktu yang lama.”

Pengawalnya termenung sejenak. Namun ia pun kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Marilah. Aku akan singgah juga di padepokan Macan Kumbang.” berkata Empu Baladatu.

“Tetapi apakah itu tidak berarti memperluas berita kedatangan Empu di daerah ini? Tentu orang-orang Macan Kumbang juga berada di bawah pengawasan prajurit-prajurit Singasari.”

“Tetapi aku ingin memperingatkan kepada mereka, bahwa mereka akan selalu berada di bawah bayang-bayang kekuasaanku. Bagaimanapun juga, mereka tidak akan dapat melepaskan diri sama sekali.”

“Seperti yang aku katakan. Ada dua akibat yang berlawanan dapat timbul”

Sekali lagi Empu Baladatu tertawa. Katanya, “Aku masih akan dapat menakut-nakuti mereka dengan kekuatan yang tersisa. Pengawasan prajurit Singasari ternyata tidak begitu ketat atas mereka.”

“Sebelum mereka menyatakan kehadiran Empu Baladatu.”

Empu Baladatu mengerutkan keningnya. Dengan ragu-ragu iapun kemudian bertanya, “Apakah maksudmu?”

Sebelum mereka menyatakan, bahwa Empu Baladatu telah datang kepadepokan mereka, maka prajurit-prajurit Singasari tidak akan mengawasi mereka dengan ketat. Tetapi jika laporan tentang kedatangan Empu sudah mereka dengar, tentu mereka akan mengambil sikap lain.”

Empu Baladatu masih saja tertawa. Katanya, “Untuk satu dua hari. Mungkin satu dua bulan mereka akan mengambil sikap dan pengawasan yang lebih ketat. Tetapi sesudah itu, mereka akan melupakannya, dan semuanya akan berjalan seperti biasa. Nah aku akan menunggu kesempatan serupa itu”

Pengawalnya termenung sejenak. Namun iapun kemudian mengangguk pula sambil berkata, “Setiap kali Empu datang dan dilaporkan, maka mereka akan mempersiapkan diri untuk satu atau dua pekan. Seterusnya mereka lengah lagi. dan Empu akan datang lagi menjenguk padepokana ini.”

Empu Baladatu tertawa semakin keras, dan pengawalnya pun ikut tertawa pula

“Marilah. Kita tinggalkan padepokan ini. Kita akan meneruskan perjalanan. Mungkin di padepokan ini akan segera terjadi kesibukan pengawasan prajurit-prajurit Singasari setelah mereka mendengar aku datang. Tetapi aku akan kembali setelah mereka menjadi jemu dan membiarkan padepokan ini di luar pengawasan mereka”

Keduanyapun kemudian meninggalkan tempat itu. Mereka masih berpaling memandang ke arah orang padepokan Serigala Putih menghilang.

Namun sejenak kemudian, Empu Baladatu dan beberapa orang pengawalnya telah berderap meneruskan perjalanan. Mereka ingin sampai ke padepokan Macan Kumbang, sebelum berita kedatangannya di padepokan Serigala Putih telah menarik perhatian para prajurit Singasari.

Dalam pada itu, orang padepokan Serigala Putih yang telah bertemu dengan Empu Baladatu itu pun menjadi bingung. Ia tidak tahu. apakah yang sebaiknya dilakukan. Karena itulah maka ia telah mengambil keputusan untuk menyampaikan berita kehadiran Empu Baladatu itu kepada orang-orang yang dianggap paling berpengaruh di padepokannya sepeninggal para pemimpin mereka, termasuk orang-orang yang ditempatkan oleh Empu Baladatu di padepokan itu.

Beberapa orangpun kemudian telah berkumpul sesaat setelah orang yang bertemu dengan Empu Baladatu itu berada kembali di padepokannya. Dengan cermat ia menceriterakan apa yang telah dialaminya. Pertemuan dengan orang yang sama sekali tidak diharapkan lagi datang kepadepokannya.

“Jadi Empu baladatu masih berniat untuk meneruskan perjuangannya” bertanya salah seorang dari orang-orang di padepokan Serigala Putih itu.

“Ya” jawab kawannya yang bertemu langsung dengan Empu Baladatu, “nampaknya ia sudah siap untuk berjuang dalam waktu yang tidak terbatas.”

Kawan-kawannya yang lain menjadi termangu-mangu.

“Nah, apakah yang sebaiknya kita lakukan. Kita memang sudah terperosok ke dalam kesulitan. Jika menolak kerja sama dengan Empu Baladatu, maka kita akan mengalami kesulitan pula. Empu Baladatu dapat berbuat apa saja yang dikehendaki tanpa belas kasihan. Jangankan kita, yang baginya adalah orang lain atau bahkan orang-orang yang tidak berarti kecuali dijadikan umpan dalam peperangan seperti yang pernah terjadi, sedangkan saudara kandungnya pun akan mengalami nasib yang sangat buruk jika Empu Baladatu tidak salah hitung atas kekuatan padepokan itu.”

“Kita memang tidak dapat tergesa-gesa mengambil keputusan. Kita mempunyai waktu untuk berpikir” berkata salah seorang dari mereka. Kemudian katanya selanjutnya, “bukankah Empu Baladatu masih akan pergi kepadepokan Macan Kumbang dan barangkali juga ke Mahibit?”

“Ya.”

Orang yang tertua di antara mereka menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Benar-benar suatu jalan simpang yang sulit. Kita yang sudah terlanjur terperosok kedalam kejahatan ini, agaknya sudah sulit untuk hangkit kembali”

“Tetapi kita harus mencoba meskipun dengan kemungkinan yang buruk sekalipun. Kita sudah jemu hidup dalam ketidak pastian seperti yang pernah kita alami di saat-saat yang lampau. Justru setelah kita mulai mencari jalan ketenangan, Empu Baladatu telah datang lagi dengan rencananya yang gila. Kita harus mulai lagi dengan korban darah.”

“Sebenarnya kita sudah jemu dengan tingkah laku kita sendiri di masa lampau setelah kita mengalami kehancuran mutlak itu.”

“Aku tidak mau lagi” sahut yang lain

Tetapi salah seorang dari mereka berkata, “Tetapi kita masih harus mempertimbangkan untung dan ruginya. Kita dihadapkan kepada pilihan yang paling sulit.”

Sejenak orang-orang itupun terdiam. Namun kemudian salah seorang dari mereka berkata, “Apakah tidak sebaiknya kita menyampaikannya kepada prajurit Singasari atau kepada Empu Sanggadaru bahwa Empu Baladatu telah datang lagi kepadepokan ini?”

Orang-orang itupun terdiam pula. Agaknya mereka memang sedang mempertimbangkan, jalan manakah yang paling baik yang dapat mereka pilih.

“Tetapi agaknya kita masih harus berpikir amat panjang” desis seseorang

Dan berpikir sangat panjang itulah yang memang diharapkan oleh Empu Baladatu, Bahkan Empu Baladatu yakin bahwa orang-orang dari padepokan Serigala Putih itu memang akan berpikir sangat panjang, sehingga memberi kesempatan kepadanya untuk mengunjungi padepokan Macan Kumbang.

“Jika orang-orang Serigala Putih mempunyai keberanian untuk mengambil keputusan menyampaikan kehadiran Empu Baladatu kepada prajurit-prajurit Singasari, maka kami tentu akan terjebak di padepokan Macan Kumbang” berkata salah seorang pengawalnya kepada diri sendiri. Tetapi ia tidak berani mengatakannya kepada Empu Baladatu yang nampaknya yakin bahwa orang-orang Serigala Putih memang tidak mempunyai keberanian berbuat demikian.

Dan ternyata seperti yang diperhitungkan oleh Empu Baladatu, maka keputusan terakhir dari orang-orang padepokan Serigala Putih adalah berpikir sepuluh kali lagi, sehingga memberikan banyak waktu kepada Empu Baladatu.

Ternyata kehadiran Empu Baladatu di padepokan Macan Kumbang juga menumbuhkan persoalan yang sama dengan kehadirannya di padepokan Serigala Putih. Orang-orang Macan Kumbang yang seolah-olah tidak mempunyai kekuatan lagi itu pun sebenarnya merasa lebih senang untuk tidak berbuat apa-apa lagi yang dapat menghadapkan mereka kepada tindakan prajurit-prajurit Singasari.

Tetapi seperti juga orang-orang Serigala Putih, maka mereka pun dibayangi oleh kecemasan, bahwa Empu Baladatu akan melakukan kekerasan pula terhadap mereka pada saat-saat mereka tidak terlindung oleb kekuatan prajurit Singasari.

“Prajurit-prajurit itu tentu akan mendengarkan pengaduan kita” berkata salah seorang dari padepokan Macan Kumbang sepeninggal Empu Baladatu “tetapi kita tidak dapat mengharap perlindungan mereka untuk waktu yang lama. Mereka memang akan bersedia menempatkan sepasukan prajurit di padepokan ini. Tetapi betapa hari. Sementara mereka meninggalkan kita, maka Empu Baladatu mulai bertindak dengan kekerasan yang kasar dan buas”

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Merekapun menjadi bingung seperti orang-orang dipadepokan Serigala Putih, sehingga dengan demikian maka mereka pun memerlukan waktu yang panjang untuk memikirkannya.

“Kita akan sampai ke Mahihit dengan aman” berkata Empu Baladatu di perjalanan, “orang-orang padepokan Serigala Putih dan Macan Kumbang tidak akan dapat mengambil sikap dengan segera.”

Pengawalnya hanya mengangguk-angguk saja. Tetapi mereka selalu berharap agar demikian yang sebenarnya terjadi.

Dalam pada itu, Empu Baladatu telah berada dalam perjalanan menuju ke Mahibit. Ia sudah mempertimbangkan cara yang paling baik untuk menemukan tempat Linggapati meskipun masih belum meyakinkan.

Seperti yang diduganya, maka Empu Baladatu tidak dapat menemukan Linggapati di dalam padepokannya yang telah kosong. Agaknya Linggapati lebih senang berada di tempat yang tidak mudah diketahui oleh orang-orang yang tidak dikehendaki.

“Empu” berkata pengawal Empu Baladatu, “tentu di Mahibit masih berkeliaran satu dua orang petugas sandi dari Singasari. Kita harus menemukan Linggapati dengan cara yang tersendiri.

Empu Baladatu menyadari bahwa menemukan Linggapati bukanlah pekerjaan yang mudah. Meskipun ia sudah mengenalnya dan pernah mendapat beberapa petunjuk tentang padepokannya, namun dalam keadaan yang khusus itu, maka tempat Linggapati tentu menjadi sangat sulit untuk diketemukan.

Karena itu. maka Empu Baladatu lebih dahulu harus menemukan tempat tinggal. Dengan membujuk dan memberikan uang imbalan dan bahkan mengancam, akhirnya ada juga orang yang bersedia menerima kehadirannya.

Dari tempatnya itulah, Empu Baladatu merencanakan cara untuk menemukan Linggapati.

Yang pertama-tama dilakukannya adalah cara yang pernah dilakukan oleh seorang kepercayaannya. Di tempat yang sama Empu Baladatu duduk seperti seorang pengemis. Ia mengharap bahwa di simpang jalan itu, ia akan mendapat perhatian jika Linggapati kebetulan lewat dalam penyamaran yang manapun juga.

Tetapi lewat satu dua hari, tidak seorang pun yang menghiraukannya selain orang-orang yang menaruh belas kasihan. Satu dua orang memang melemparkan keping-keping uang atau bahkan makanan kepadanya. Tetapi tidak seorang pun yang dikenalnya sebagai Linggapati

“Gila. Apakah Linggapati tidak pernah melalui jalan ini dan memperhatikan seorang pengemis seperti yang pernah dilihatnya beberapa waktu yang lalu?” desis Empu Baladatu. Ia percaya, jika Linggapati melihatnya, ia tentu akan teringat bahwa di tempat itu pernah duduk seorang pengemis yang menarik perhatiannya dan pernah berhubungan langsung denganya.

“Agaknya Linggadadi lah yang selalu berkeliaran di sepanjang jalan” desis Empu Baladatu di dalam hatinya, “sepeninggal Linggadadi tidak ada lagi orang yang akan memberitahukan kepada Linggapati akan kehadiranku di sini. Bahkan mungkin petugas sandi Singasari telah mencurigai aku lebih dahulu, sebelum aku dapat berhubungan dengan Linggapati.”

Namun demikian, untuk beberapa hari lagi. Empu Baladatu berniat untuk tetap berada di tempat itu. Ia masih mengharap bahwa Linggapati akan melihat dan menaruh perhatian kepadanya meskipun ia pun berada dalam penyamaran.

Setelah dua tiga hari Empu Baladatu berada di tempatnya. Ia mulai menjadi jemu. Meskipun kadang-kadang ada juga satu dua orang yang melemparkan sekeping uang. namun yang diharapkannya adalah kehadiran Linggapati.

Dihari berikutnya, Empu Baladatu sudah mulai ragu-ragu dengan usahanya. Para pengawalnya, yang mengamatinya dari kejauhan pun sudah menjadi jemu. Meskipun mereka sempal bergantian dan berjalan-jalan menyusuri jalan yang agak panjang, tetapi mereka ternyata hampir tidak tahan lagi melakukan tugasnya.

Namun di hari yang menjemukan itu, ternyata yang ditunggu Empu Baladatu itupun datang. Seorang laki-laki dalam pakaian sederhana seperti kebanyakan petani di padukuhan. berjalan mendekatinya.

Beberapa langkah dari Empu Baladatu yang duduk di simpang jalan sebagai seorang pengemis, orang itu berhenti. Sejenak ia memperhatikan orang-orang yang lalu lalang. Namun agaknya tidak seorang pun yang menghiraukannya.

Perlahan-lahan iapun mendekati pengemis di simpang jalan itu. Sambil berhenti beberapa tapak ia berdesis, “Selamat datang di Mahihit Empu Baladatu.“

Empu Baladatu mengerutkan keningnya. Sekilas ia memandang orang itu. Namun sambil tersenyum ia pun menjawab, “Selamat bertemu Ki Linggapati. Aku sudah jemu menunggu. Aku kira kau tidak mau keluar lagi dari sarangmu. Sepeninggal Linggadadi, maka tidak ada lagi orang yang menghiraukan orang lain di daerah Mahibit ini.”

“Sudah dua hari aku melihat Empu di sini. Tetapi aku sedang meyakinkan, apakah yang aku lihat benar-benar Empu Baladatu yang perkasa itu.”

Empu Baladatu mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Terima kasih atas pujian itu. Tetapi sebenarnyalah aku ingin bertemu dengan Ki Linggapati”

Linggapati berdiri bersandar sebatang pohon. Tanpa memandang kepada pengemis yang duduk didekatnya ia berkata, “Empu, apakah kau masih akan menuntut agar aku menyediakan orang-orangku lagi untuk diumpankan ke mulut harimau itu? Ternyata adikku, kepercayaanku yang terbaik telah terbunuh. Dan sekarang kau datang lagi kepadaku.”

“Ada yang ingin aku bicarakan.”

“Empu. Jika aku berkata dengan jujur, maka rasa-rasanya aku ingin melepaskan sakit hatiku kepadamu pula. Kaulah sumber dari kehancuran itu. Jika kau mempunyai perhitungan yang cukup, tidak usah terlalu baik, maka tidak akan terjadi bencana yang menimpa orang-orangku seperti yang telah terjadi.”

“Kedatanganku adalah untuk menjelaskan persoalannya” berkata Empu Baladatu.

“Kau ingin ke padepokanku?”

“Kau telah berpindah tempat lagi. Jika kau tidak berkeberatan, aku bersedia singgah kepadepokanmu yang terbaru.”

Linggapati menyilangkan tangannya di dadanya. Ia masih berdiri bersandar sebatang pohon sambil menatap orang-orang yang lalu lalang di sekitarnya.

“Sabenarnya aku juga tidak berkeberatan membawamu kepadepokanku. Aku sama sekali tidak mencemaskan bahwa kau pada suatu saat akan berkhianat, karena penghianatanmu tidak akan berarti apa-apa bagiku.” Linggapati berhenti sejenak lalu, “Tetapi yang aku cemaskan adalah justru kebodohanmu. Dengan demikian maka letak padepokanku yang baru tentu tercium oleh prajurit Singasari.”

“Linggapati” potong Empu Baladatu, “kau sudah cukup menghinaku. Aku masih akan menahan diri dan bersedia menjelaskan persoalannya jika kau mau melihat ke masa depan yang lebih baik dari pada menyesali masa lampau yang tidak akan dapat diulangi. Akupun menyesal bahwa semua itu telah terjadi. Mungkin memang karena kebodohanku. Bahkan aku pun telah terluka dan hampir saja aku mati oleh kakakku sendiri. Untunglah bahwa aku dapat melarikan diri dengan membunuh penjagaku.”

“Itupun merupakan teka-teki bagiku. Bagaimana mungkin kau dapat melarikan diri dari padepokan Empu Sanggadaru.”

“Aku mengerti pikiranmu. Kau menyangka bahwa aku memang dilepaskan dengan janji untuk memberitahukan rahasiamu”

Linggapati tersenyum meskipun ia masih tetap tidak berpaling

“Itu memang hakmu” berkata Empu Baladatu, “tetapi aku masih tetap ingin memberikan penjelasan dan barangkali kerja sama bagi masa depan, selagi kau tidak berputus asa karena kematian adikmu itu.”

Linggapati menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Apa lagi yang akan kau katakan kepadaku Empu. Maaf, bahwa aku tidak dapat membawamu ke padepokanku. Jika bukan kau yang bodoh, maka pengawalmu itulah yang akan membuka rahasiaku”

“Kau tahu bahwa aku bersama pengawalku disini?”

“Mereka memang terlalu bodoh. Lihatlah, bagaimana mereka mondar mandir mengawasi aku yang berdiri di sini? Suruhlah mereka agak mengekang diri sedikit. Kaupun harus tahu bahwa di Mahibit sekarang berkeliaran petugas-petugas sandi dari Singasari.”

Empu Baladatu menarik nafas. Katanya, “Aku mengerti. Bukan saja di Mahibit tetapi juga di sekitar padepokanku. Di sekitar padepokan Serigala Putih dan Macan Kumbang.”

“Buat apa prajurit-prajurit sandi Singasari mengawasi padepokan-padepokan yang sudah musnah itu?”

“Sekedar dibayangi oleh ketakutan. Nah, kau tahu betapa kecutnya hati prajurit Singasari terhadap perjuangan kita?”

Linggapati tertawa. Katanya, “Kau berusaha menghibur dirimu sendiri dengan kebanggaan-kebanggaan yang kosong itu. Tetapi baiklah. Tetapi aku bukan pemimpi. Kaupun harus belajar dari pengalaman, bahwa mimpimu telah menimbulkan kenangan yang buruk. Sangat buruk”

Empu Baladatu mengerutkan keningnya. Sekilas dipandanginya Linggapati yang masih saja berdiri tanpa memandangnya

Terasa dada Empu Baladatu mulai bergejolak. Tetapi ia masih tetap menahan diri dan mencoba mencari jalan keluar dari keadaan itu

“Linggapati” katanya kemudian, “mungkin ada kekecewaan dihati kita masing-masing. Kau kehilangan adikmu dan barangkali beberapa orang-orangmu. Tetapi akupun telah kehilangan banyak sekali. Bahkan hampir saja diriku sendiri. Karena itu, apakah kita tidak dapat melihat ke masa depan yang lebih baik dari pengalaman kita yang pahit itu”

Linggapati termenung sejenak. Dipandanginya seorang yang duduk di kejauhan. Seorang lagi berjalan hilir mudik.

“Tentu lebih dari dua orang” desisnya.

“Apa?” bertanya Empu Baladatu

“Pengawalmu .”

Empu Baladatu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menjawab.

“Kita akan berbicara” berkata Linggapati kemudian, “tetapi tidak di padepokanku. Kita akan pergi ke ujung kota ini. Kita akan duduk di bawah sebatang pohon yang rindang. Terserah kepadamu apakah pengawalmu akan mengawasimu arau tidak. Tetapi sudah tentu, kau tidak dalam pakaian, pengemis seperti itu.”

“Aku tidak dikenal dalam pakaian ini.”

“Tetapi jika kita berbicara terlalu lama. maka kita akan dicurigai. Justru karena kau seorang pengemis.”

“Jadi”

“Aku tunggu kau di jalur jalan ini. Di luar gerbang kota”

Empu Baladatu masih akan bertanya. Tetapi Linggapati telah melangkah pergi perlahan-lahan.

Sejenak Empu Baladatu memandangi langkahnya seolah-olah tidak mempunyai kepentingan apapun juga menyilang jalan dan semakin lama menjadi semakin jauh.

Empu Baladatu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia ingin bertemu dengan Linggapati. Karena itulah maka iapun kemudian meninggalkan tempatnya dengan tidak menimbulkan kecurigaan sama sekali

Empu Baladatu kemudian kembali ke pondoknya. Ia berganti pakaian seperti pakaian orang kebanyakan. Kemudian seperti yang dijanjikannya, iapun dengan hati-hati telah pergi ke gerbang kota.

Ternyata di luar gerbang ia melihat sebatang pohon tumbuh di tepi jalan agak menjorok masuk kedalam daerah persawahan di antara sebatang parit yang mengalirkan air yang bening.

Ketika ia mendekati pohon itu, ia melihat seseorang duduk di atas sebuah pematang seakan-akan sedang berteduh dari terik matahari yang membakar kulit.

Empu Baladatu termangu-mangu sejenak. Ia tahu benar bahwa orang itu adalah Linggapati.

Perlahan-lahan ia mendekatinya. Dengan sengaja ia tidak memerintahkan pengawalnya untuk mengawasinya agar tidak menimbulkan salah paham.

“Kemarilah, duduklah” Linggapati itu mempersilahkan.

Keduanya pun kemudian duduk dibawah bayangan rimbunnya dedaunan, sehingga tidak seorang pun yang akan mencurigai mereka, karena orang-orang yang melihatnya tentu mengira bahwa keduanya memang sedang berteduh.

“Bukankah kau akan menceriterakan peristiwa yang pahit itu dan memberikan alasan-alasan yang dapat diterima tentang kegagalanmu?” bertanya Linggapati.

“Tidak. Aku justru berpikir lain. Agaknya hal itu tidak akan banyak menarik perhatianmu. Aku dapat membaca tanggapanmu. Kau tidak akan mempercayainya dengan sungguh-sungguh, karena kau menganggap bahwa aku hanyalah akan sekedar memperbaiki kesalahanku, minta maaf dan minta perlindunganmu”

Linggapati mengerutkan keningnya. Tetapi ia pun kemudian tersenyum. Katanya, “Kau cukup sombong. Tetapi aku senang melihat sikapmu. Ternyata kau adalah seorang laki-laki yang pun ya harga diri dan kesanggupan untuk berbuat”

“Pujianmu meragukan. Tetapi baiklah. Aku mengucapkan terima kasih” ia berhenti sejenak, lalu, “Aku hanya akan sekedar memberitahukan kepadamu, bahwa satu hal yang tidak kita perhitungkan saat itu adalah bahwa di padepokan kakang Sanggadaru terdapat sekelompok prajurit yang menyamar sebagai cantrik di padepokan itu. Agaknya kakang Sanggadaru mencurigai aku dan minta perlindungan. Apalagi di padepokan itu tinggal tiga orang kakak beradik anak Mahendra. Mahisa Murti. Mahisa Pukat dan yang paling berbahaya dan ternyata telah membunuh adikmu adalah Mahisa Bungalan yang bergelar pembunuh orang berilmu hitam.”

Linggapati mengangguk-angguk. Katanya, “Aku sudah mendengar semuanya. Dan kau hampir dibunuh oleh kakakmu. Tetapi bahwa kau sempat lari itu agaknya telah menumbuhkan berbagai pertanyaan padaku”

“Sudahlah aku katakan. Aku membunuh penjagaku.”

Linggapati termenung sejenak, seolah-olah ia sedang mencernakan kata-kata Empu Baladatu.

“Tetapi terserah kepadamu, apakah penilaianmu terhadap pemberitahuanku itu. Apakah kau percaya atau tidak, atau bahkan sama sekali tidak berarti, aku tidak peduli. Yang penting bagiku, bagaimanakah sikapmu selanjutnya. Apakah kau masih akan melanjutkan perjuanganmu, atau kau akan berhenti sampai pada kegagalan pertama.”

Linggapati tidak segera menjawab. Tetapi ia mencoba merenungkan pertanyaan itu.

Sejenak kemudian terdiam. Masing-masing tenggelam dalam angan-angannya. Mereka mulai membayangkan, apakah yang pernah terjadi, yang kini sedang berlangsung dan masa yang mendatang.

Linggapati tiba-tiba saja berdesah. Katanya, “Aku sudah kehilangan adikku. Kau dapat menduga, apakah yang sekarang berkecamuk di dalam hariku”

“Aku mengerti. Tetapi aku tidak mengerti apakah kau masih mempunyai gairah perjuangan selanjutnya. Kematian adikmu akan mencambukmu untuk berbuat lebih banyak, atau akan mematahkan hatimu sama sekali.”

“Kau sudah cukup menjengkelkan” potong Linggapati, “tetapi aku tidak dapat berbuat apa-apa terhadapmu. Tetapi justru karena aku tidak dapat berbuat apa-apa itulah maka aku merasa seakan-akan dadaku akan retak. Karena itu, aku harap kau tidak lagi menyinggung tentang kematian adikku dan rencanaku seterusnya. Apakah aku sudah patah, atau aku masih akan berjuang terus, itu adalah persoalanku sendiri. Tetapi jika yang kau maksud menemui aku sekarang untuk memberikan alasan-alasan kegagalanmu untuk mengurangi kesalahanmu, aku sudah mendengarnya dan aku akan mencoba mengerti”

“Kata-katamu pun menyakiti hatiku. Kaulah yang mula-mula menusuk telingaku dengan kata-kata kasar.” Empu Baladatu berhenti sejenak, lalu “tetapi baiklah. Marilah kita lupakan. Mungkin kita masih mempunyai kesempatan untuk berbicara dengan baik.”

Linggapati menarik nafas dalam-dalam. Matanya memandang kejauhan. Tetapi ia tidak segera menjawab.

Empu Baladatu tidak mendesaknya. Ia pun memandang kilatan cahaya matahari yang jatuh di atas riak air yang mengalir di parit kecil di sebelah tempat mereka duduk.

“Apakah kita masih dapat berbicara?” bertanya Linggapati.

“Kenapa tidak?”

“Baiklah. Apakah yang akan kita bicarakan?”

“Masa depan”

Linggapati termenung sejenak. Lalu, “Apakah kau bermaksud menyatukan kekuatan di antara kita seperti yang pernah kita lakukan dan gagal mutlak itu?”

“Ya. Tetapi sudah tentu dengan pertimbangan yang lebih baik, sehingga kegagalan itu tidak akan tertulang lagi. Keadaan di luar perhitungan kita harus kita pertimbangkan semasak-masaknya dan tidak tergesa-gesa.”

Linggapati memandang Empu Baladatu sejenak. Katanya, “Nampaknya meyakinkan sekali.”

“Linggapati. Aku merasa bahwa aku telah membuat kesalahan. Karena itu. pada masa mendalang, kita akan membicarakan setiap langkah dengan masak. Aku sadar, bahwa yang kita hadapi adalah kekuatan raksasa yang sulit digoyahkan. Apalagi jika kita berbuat sendiri-sendiri.”

Linggapati mengangguk-angguk. Jawabnya, “Aku mengerti. Singasari benar-benar telah mapan. Tetapi Kediri pernah dihancurkan oleh Akuwu Tumapel.”

“Kau harus mempelajari peristiwa itu sebaik-baiknya.”

“Aku sudah melakukannya. Karena saat itu Kediri bergolak. Para Brahmana merasa tidak puas dan melakukan tindakan yang merugikan pemerintahan Kediri saat itu.”

“Dan kau juga akan menumbuhkan perasaan tidak puas itu dikalangan rakyat Singasari?”

Linggapati tidak menjawab. Tetapi dalam kediamannya justru tersirat tekadnya yang bulat untuk melakukan seperti yang dikatakan oleh Empu Baladatu.....

Bersambung.....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...