Sabtu, 30 Januari 2021

SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG JILID 19-03

*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 19-03*

Karya : SH Mintardja

Seperti yang diduganya, maka kelima orang berilmu hitam itu mulai bergerak dalam putaran. Semakin lama semakin cepat. Bahkan kemudian, gerakan mereka mulai membingungkan.

“Mereka mulai dengan ilmu mereka yang sebenarnya.” desis salah seorang dari kedua anak muda itu.

“Nah, apakah yang akan dilakukan oleh lawannya.”

Kedua anak muda itu menjadi tegang. Namun sekilas mereka masih sempat melihat orang-orang yang dengan cemas menyaksikan perkelahian itu. Bahkan ia masih melihat para pengawal melambai kepada mereka, dan memberikan isyarat agar mereka meninggalkan perkelahian itu.

Kedua anak muda itu tersenyum. Bahkan salah seorang dari keduanya sempat menggelengkan kepalanya.

Demikianlah mereka kembali menyaksikan perkelahian yang semakin lama menjadi semakin dahsyat. Orang-orang berilmu hitam itu mulai berputaran semakin cepat.

Namun tiba-tiba putaran itu menjadi terputus oleh gerakan orang-orang yang ada di dalam kepungan itu. Tiba-tiba saja salah seorang dari mereka dengan tangkasnya justru menyerang Paguh menurut arah putarannya. Selagi Paguh merasa terganggu tiba-tiba saja yang lain meloncat pula cepat dimuka Paguh. Dengan demikian maka putaran itu terputus karenanya. Orang yang berada di belakang Paguh hampir saja kehilangan keseimbangan arah. Tetapi ternyata bahwa orang itu memiliki kecepatan gerak yang mengagumkan. Demikian Paguh terhenti, maka ia pun segera meloncat memasuki lingkaran dengan serangan beruntun kepada orang yang telah mengganggu Paguh dengan serangan menurut arah geraknya.

Tetapi agaknya semuanya sudah diperhitungkan. Orang yang mengganggu Paguh itu adalah Linggadadi sendiri. Sedangkan orang yang telah meloncat memutuskan gerak lingkaran di depan Paguh adalah Linggapati. Sementara itu, orang yang paling tua diantara ketiga orang itu, telah siap mengamati segala sesuatu yang dapat berkembang dalam perkelahian itu.

Dengan demikian, maka Linggadadi yang mendapat serangan langsung dari orang yang berputar di belakang Paguh itu pun segera melayaninya. Sementara itu Linggapati dengan lincahnya langsung melawan Paguh yang menggeram menahan kemarahan yang memuncak.

“Kalian dapat memecahkan lingkaran kami.” geram Paguh, “Tetapi itu belum berarti kalian dapat memecahkan ilmu kami yang selengkapnya. Seorang-seorang kami adalah penakluk dari segala ilmu. Meskipun seandainya kau adalah Mahisa Bungalan yang disebut pembunuh orang berilmu hitam namun kau tentu tidak akan dapat membunuh aku dan memecahkan perlawanan kami bertiga.”

Linggapati tidak menjawab. Ia menyerang Paguh dengan lincahnya, sehingga Paguh pun terpaksa meloncat surut.

Ternyata perkelahian itu benar-benar telah berubah wajahnya. Orang-orang berilmu hitam itu tidak lagi dapat membuat sebuah lingkaran, karena Linggadadi dan Linggapati telah berhasil bergeser saling menjauhi.

Namun dalam pada itu, yang segera berada di dalam kesulitan adalah Daranambang. Karena kedua kawannya masing masing bertempur melawan seorang, maka yang tersisa dari lima orang itu telah bersama-sama mengurungnya.

“Gila.” desis Daranambang, “Nafasku adalah nafas tua. Dan aku harus bertempur melawan tiga orang sekaligus. Tetapi asal saja mereka tidak berbuat curang, maka aku kira aku akan dapat bertahan sampai salah seorang dari kedua bersaudara itu sempat membunuh lawannya.”

Karena itu, maka Daranambang pun telah mempersiapkan diri sebaik-baiknya menghadapi setiap kemungkinan. Dengan cermat ia menghadapi ketiga lawannya yang mulai berusaha untuk berputar di sekelilingnya.

Linggadadi dan Linggapati melihat kesulitan yang akan menerkam Daranambang. Agaknya orang berilmu hitam itu telah dengan sengaja membagi kekuatannya dengan cara yang tidak seimbang. Dengan demikian, mereka akan dapat dengan mudah membunuh lawannya. Mereka yang bertempur bersama sama bertiga, dengan cepat akan dapat menyelesaikan orang tua itu. Selebihnya, mereka akan membunuh seorang lawannya lagi, sementara yang lain harus bertahan untuk beberapa saat. Namun agaknya cara itu akan berlangsung lebih cepat daripada cara yang lain, karena mereka masing-masing yakin bahwa lawannya tidak akan mampu mengalahkan mereka.

Namun saat itu, ternyata bahwa lawan kelima orang berilmu hitam itu adalah Linggadadi dan Linggapati serta seorang kepercayaannya meskipun sudah menjadi semakin tua, Daranambang. Mereka adalah orang-orang yang memiliki ilmu yang memiliki kelebihan dari ilmu kebanyakan orang.

Meskipun demikian, baik Linggadadi maupun Linggapati harus bertempur dengan sekuat tenaga agar mereka dapat dengan cepat mengalahkan lawannya. Harus lebih cepat dari ketiga orang yang bertempur bersama-sama melawan Daranambang.

Tetapi mengalahkan orang berilmu hitam itu pun tidak mudah. Mereka memiliki kelincahan dan kekasaran yang dengan tanpa ragu-ragu berusaha memeras darah lawannya.

Betapapun juga kematangan ilmu Daranambang, namun ia tidak dapat mencegah ketiga lawannya yang mulai bergerak melingkarinya. Ia tidak dapat meloncat seperti Linggadadi dan Linggapati memotong gerak lawannya, karena dengan demikian akan sangat berbahaya baginya justru lawannya adalah tiga orang.

“Aku harus memecah lingkaran itu, dan meloncat keluar.” katanya, “Kemudian dengan cara yang khusus aku harus mencegah mereka untuk membentuk lingkaran semacam ini lagi.”

Tetapi Daranambang cukup masak, justru karena umurnya yang telah menjadi semakin tua. Ia tidak menjadi gelisah dan bertindak dengan tergesa-gesa. Untuk sejenak, ia masih membiarkan ketiga orang itu mulai berputaran. Bahkan kemudian ia masih tetap tenang ketika salah seorang dari ketiganya mencoba menyerangnya.

Daranambang merendahkan dirinya pada lututnya.

Kemudian tanpa diduga sama sekali oleh lawannya, Daranambang berteriak nyaring. Sebuah kejutan telah menghentakkan kepungan itu. Dengan tangkasnya Daranambang memusatkan serangannya kepada salah seorang dari ketiga orang yang mengepungnya, mengikuti arah putarannya.

Namun dalam saat-saat yang gawat itu, Darnambang tidak meloncat memotong putaran itu, tetapi ia meloncat lebih jauh lagi, memecahkan kepungan itu dan sejenak kemudian ia sudah berada di luar.

Sesaat keriga orang berilmu hitam itu termangu-mangu. Namun ternyata mereka pun mampu bergerak cepat. Sebelum Daranambang mampu memperbaiki keadaanya, dan berusaha untuk mencegah kepungan berikutnya, ternyata ketiga orang itu telah berada ditiga penjuru. Mereka melangkah perlahan-lahan mendekatinya dari tiga arah. Salah seorang dari mereka berkata, “Kau memang luar biasa orang tua. Kau mampu memecahkan putaran kami. Tetapi kau tidak akan dapat melawan kami bertiga, betapapun tinggi ilmumu.”

“Mungkin.” jawab Daranambang dengan tenang. “Tetapi sebentar lagi, aku pun akan bertempur bertiga. Kedua kawanmu yang bertempur masing-masing melawan seorang kawanku itu tidak akan mampu bertahan lagi. Agaknya aku akan berhasil berkelahi lebih lama dari kedua kawanmu. Nah, akibatnya kalian dapat membayangkan.”

Sekilas ketiga orang itu mencoba melihat perkelahian antara kedua kawannya melawan Linggadadi dan Linggapati. Ternyata ucapan orang tua itu bukan sekedar untuk menakutinya saja. Tetapi kedua kawannya memang telah terdesak.

Namun salah seorang dari ketiga orang itu masih berkata, “Tentu kematianmu akan datang lebih cepat. Betapa tinggi ilmumu, kau tidak akan dapat melawan kami bertiga. Apalagi kami telah bertekad membunuh kau lebih dahulu dan kekalahan yang mungkin menerkam kawan-kawanku.”

Daranambang tidak menjawab. Tetapi ia mempersiapkan dirinya sebaik-baiknya untuk melawan ketiga lawannya. Ternyata sulit sekali baginya untuk mencegah kepungan yang sudah mulai merapat.

“Aku harus memecah kepungan itu setiap kali untuk memperpanjang perlawananku.” katanya di dalam hati, “Mudah-mudahan Linggapati dan Linggadadi segera berhasil.”

Daranambang kembali merendahkan dirinya pada lututnya ketika ia melihat ketiga orang itu mulai bergerak mengelilinginya. Tetapi mereka pun telah bersiap pula menghadapi kemungkinan yang akan dilakukan oleh orang tua itu.

Daranambang mengerutkan keningnya. Ia melihat ketiga orang itu menjadi lebih berhati-hati, sehingga kemungkinan baginya untuk memecah putaran itu tentu akan menjadi semakin sulit.

Bahkan kemudian Daranambang itu sampai pada kemungkinan yang dapat terjadi padanya dengan pasrah. Katanya kepada diri sendiri, “Aku sudah berpuluh tahun bertualang. Pada hari tuaku, aku masih harus mengulanginya, sehingga agaknya aku telah melihat hampir semua segi kehidupan. Dengan demikian, jika kematian datang, aku tidak akan menyesal lagi.”

Karena itu, justru ia menjadi semakin tenang. Dengan saksama ia melihat semua gerak dari ketiga lawannya.

“Sebutlah nama anak cucumu.” desis salah seorang lawannya.

Daranambang tidak menyahut. Tetapi ketika ia sempat melihat perkelahian Linggadadi dan Linggapati melawan masing-masing seorang berilmu hitam, ia pun dapat mengharap babwa mereka akan dapat segera memenangkan perkelahian.

“Tetapi jika aku mati lebih dahulu, maka keseimbangan itu pun tentu akan berubah, karena masing-masing harus melawan dua dan tiga orang. Atau barangkali salah seorang dari kedua kakak beradik itu harus melawan empat orang sekaligus agar cepat dapat diselesaikan.” berkata Daranambang di dalam hati.

Namun dalam pada itu, selagi ia dengan berdebar-debar menunggu saat yang paling menegangkan itu, tiba-tiba saja ia mendengar seseorang berkata, “He, itu tidak adil. Seorang yang sudah lanjut usianya justru harus melawan tiga orang meskipun orang tua itu berilmu tinggi, dan bahkan ilmunya menjadi semakin matang.”

Semua orang yang mendengar suara itu pun segera berpaling, bahkan juga Linggadadi, Linggapati dan lawan-lawannya.

Daranambang menjadi heran. Salah seorang dari kedua anak muda yang tidak mau menyingkir dari arena itulah agaknya yang telah berbicara.

“Pergilah.” teriak Daranambang dari dalam lingkaran lawangnya.

“Tidak. Aku tidak akan pergi. Meskipun aku kecewa melihat sikapmu bertiga pada saat kalian tidak berbuat apa-apa ketika orang berilmu hitam itu akan membunuh orang yang tidak bersalah, namun aku pun sekarang tidak dapat melihat kelicikan ini.”

“Jangan membuat kami bertambah marah.” geram salah seorang dari mereka yang berilmu hitam itu.

“Kalian membuat aku marah sejak semula.” jawab anak muda yang lain, “Karena itu berhentilah berkelahi. Atau berkelahilah seorang lawan seorang. Setidak-tidaknya dua orang saja dalam satu lingkaran. Bukan dengan licik bertiga melawan satu orang agar dapat dengan cepat membunuh lawan, untuk berbuat licik pula terhadap lawan yang lain.”

“Tutup mulutmu anak gila. Nanti aku akan membuat perhitungan dengan kau berdua jika kau berdua tidak pergi dari tempatmu.”

Tetapi kedua anak-anak muda itu tertawa. Yang lebih kecil berteriak, “Aku akan menunggu disini. Ah. Tidak. Aku tidak hanya akan sekedar menunggu. Tetapi aku akan melawan ketidak adilan itu. Aku akan bertempur bersama ketiga orang yang meskipun belum aku kenal, tetapi agaknya masih agak lebih baik dari kelima orang berilmu hitam itu.”

“Persetan.” teriak Paguh.

Tetapi Linggapati pun menggeram, “Kau tidak usah ikut campur tikus sombong.”

“Itu urusanku.” jawab anak muda itu, “Atau barang kali urusanku adalah mencampuri urusanmu karena aku tidak dapat melihat ketidak adilan. Jika orang tua itu mati terbunuh dihadapanku dalam keadaan seperti itu, maka aku akan menyesal untuk waktu yang sangat lama.”

“Gila.” teriak orang berilmu hitam yang bertempur melawan Daranambang, “Aku akan membunuhmu.”

Tiba-tiba saja orang itu meloncat sambil menyerang salah seorang dari kedua anak muda itu sambil berteriak, “Aku akan membungkammu lebih dahulu sebelum aku mengelupas kulit orang tua ini.”

Tetapi ternyata kedua anak muda itu sudah bersiap. Serangan itu tidak berhasil menyentuh pakaiannya. Bahkan sambil meloncat anak muda itu masih berkata, “Kita akan bertempur seorang lawan seorang. Setelah kelima orang berilmu hitam itu habis, terserahlah kepada kalian bertiga yang masih tetap hidup Apakah kalian tetap akan membuat perhitungan justru karena kami telah mencampuri urusan kalian atau tidak.”

Linggapati menyahut, “Jika kalian mau mendengar kata-kataku, pergilah. Orang-orang berilmu hitam bukan sekedar kawan bermain-main.”

“Aku tidak sedang bermain-main.” jawab anak muda yang lain, “Tetapi aku ingin berlatih.”

Jawaban itu pun telah membuat orang-orang berilmu hitam itu menjadi semakin marah. Seorang lagi dari mereka telah meninggalkan Daranambang. Dengan demikian maka lingkaran perkelahian itu pun kemudian berubah menjadi semakin luas, karena yang terjadi kemudian adalah perkelahian di lima lingkaran.

“Bagus.” teriak anak muda yang seorang, “Jika kalian tidak menyerang kami, maka kamilah yang akan menyerang kalian dan memecahkan kepungan kalian.”

Orang-orang berilmu hitam itu menjadi semakin marah. Apalagi yang langsung bertempur melawan kedua anak-anak muda itu. Salah seorang dari mereka pun kemudian menggeram, “Aku benar-benar akan mengelupas kulitmu seperti pisang.”

Tetapi anak muda itu masih sempat tertawa. Katanya, “Kau tidak mengelupas kulit lawanmu di dalam perkelahian. Jika lawanmu sudah tidak berdaya lagi, barulah kau melakukannya.”

“Persetan. Kau akan melihat.” geram Paguh, “Lawanku akan segera terlempar dari putaran ilmu dengan kulit terkelupas.”

“Bukan terkelupas. Aku tahu yang sebenarnya. Lukanyalah yang arang kranjang, sehingga seolah-olah seperti terkelupas kulit lawanmu, maka tentu kau akan melemparkan kulit lawanmu seperti selembar baju yang merah oleh darah. Bukankah tidak begitu?”

“Tidak ada bedanya luka-luka arang kranjang. Tidak ada sejemput kulit pun yang tidak terluka oleh senjataku.”

Tetapi anak muda itu menggeleng. Katanya, “Kau tidak akan melakukannya atas lawanmu. Aku yakin, sebentar lagi kau akan terdesak. Dan agaknya lawanmu itu pun dapat melakukan seperti yang kau lakukan. Melukai kulitmu arang kranjang sehingga tubuhmu kemudian bagaikan tidak berkulit lagi.”

Paguh menggeram. Tetapi ia masih tetap bertempur melawan lawannya yang memang tangguh. Apalagi Linggapati memang sudah berniat untuk menyelesaikan perkelahian itu dengan menumpas lawannya sampai orang yang terakhir.

Hadirnya dua orang anak-anak muda yang tidak mereka kenal, merupakan persoalan tersendiri bagi Linggapati dan kedua kawannya. Tetapi mereka sama sekali tidak mencegah, ketika kedua lawan mereka sedang marah telah melawan kedua anak muda itu.

Bahkan kemudian Linggapati menjadi heran. Anak yang masih muda itu sama sekali tidak sekedar bergurau dengan kata-katanya. Mereka bukannya sekedar anak-anak yang sombong dan tidak mengerti bahaya yang sedang mengancam.

Ketika kedua anak-anak muda itu sudah bertempur ternyata bahwa keduanya memang memiliki bekal yang cukup untuk melawan orang-orang berilmu hitam itu, sehingga keduanya akan mampu mempertahankan diri masing-masing.

Sementara itu, Linggapati dan Linggadadi pun segera dapat mendesak lawannya. Bagi Linggadadi yang pernah bertempur melawan orang berilmu hitam di Kota Raja, menganggap bahwa lawannya kali ini masih belum setingkat ilmunya dengan orang yang terbunuh di Kota Raja. meskipun orang yang dilawannya saat itu pun cukup berbahaya.

Sementara itu, Linggapati pun telah mendesak lawannya pula. Paguh segera mengalami beberapa kesulitan. Ia tidak dapat mempergunakan ilmunya yang dapat membingungkan lawannya, karena loncatan-loncatan Linggapati yang memotong geraknya justru membuatnya bingung sendiri.

Meskipun demikian, baik Linggadadi, Linggapati maupun Daranambang mengakui, meskipun hanya di dalam hati, jika kedua orang anak muda itu tidak datang mengganggu, mungkin keadaannya akan berbeda. Daranambang tidak akan dapat bertahan cukup lama, sepanjang yang dapat diberikan oleh Paguh dan seorang kawannya. Jika Daranambang tidak lagi mampu melawan, maka akan segera datang giliran Linggapati dan Ling gadadi yang harus bertempur melawan dua dan tiga orang.

Sementara itu, kedua anak-anak muda itu pun bertempur dengan lincahnya. Seperti Linggadadi dan kedua kawannya, maka kedua anak-anak muda itu pun mampu mengimbangi ilmu lawannya. Agaknya ilmu lawan mereka memang masih belum setingkat pula dengan orang berilmu hitam yang terbunuh di Kota Raja oleh Mahisa Bungalan.

Semakin lama perkelahian itu berlangsung, Linggadadi menjadi semakin heran melihat kedua anak-anak muda itu. Mereka seolah-olah sempat membuat latihan-latihan di dalam tata gerak mereka justru dalam keadaan yang sangat berbahaya.

“Aneh.” desis Linggadadi, “Kedua anak-anak muda itu mempunyai sikap dan tingkah laku mirip dengan Mahisa Bungalan.”

Namun kemudian ia berkata pula di dalam hatinya, “Mungkin memang demikianlah kebiasaan anak-anak muda. Ia ingin banyak mengetahui. Juga tentang lawannya, sehingga kadang-kadang mereka menjadi kurang berhati-hati. Mereka ingin mencoba sejauh mungkin setiap tata gerak yang pernah dipelajarinya.”

Demikianlah pertempuran itu berlangsung dengan sengitnya, meskipun kemudian nampak bahwa setiap orang berilmu hitam itu telah terdesak oleh lawan-lawan mereka masing-masing.

“Gila.” geram Paguh yang sama sekali tidak mengira bahwa di kota kecil itu akan dijumpai orang-orang yang ternyata memiliki kemampuan jauh lebih tinggi dari yang diduganya. Mereka bukan sekedar pengawal-pengawal kota kecil yang pingsan melihat tata gerak mereka yang pertama. “Siapakah sebenarnya orang orang gila yang berilmu iblis ini?” pertanyaan itu selalu mengganggunya.

Namun Paguh pun tahu, bahwa kedua anak-anak muda itu datang kekota kecil itu tanpa ada hubungannya dengan ketiga orang yang menjadi sasaran pilihan mereka untuk dijadikan korban di hari-hari yang sudah ditentukan, disaat purnama naik beberaapa hari lagi.

Tetapi pada saat yang tentu tidak terduga-duga itu, mereka telah menggabungkan kekuatan mereka, untuk bersama-sama melawan kekuatan dari orang-orang yang disebut berilmu hitam.

Sekali lagi Paguh menggeram. Namun dalam pada itu, tumbuhlah suatu kesadaran pada dirinya, bahwa kelompok orang-orang yang disebut berilmu hitam itu telah dimusuhi oleh setiap orang. Pihak-pihak yang saling bermusuhan dan bersaing, akan bergabung menjadi satu, dengan memadukan kekuatan mereka untuk melawan orang-orang yang disebut berilmu hitam itu.

“Kami adalah orang yang paling dibenci oleh siapapun juga.” berkata Paguh di dalam hatinya. Dan ia pun tahu, apa sebabnya.

“Kami telah mengorbankan darah manusia untuk kesegaran ilmu kami. Itu adalah alasan yang paling kuat dari setiap orang untuk membenci kami.”

Tetapi Paguh adalah orang yang berhati batu. Kesadaran itu justru membuatnya bagaikan gila. Kebencian orang lain kepada dirinya dan kawan-kawannya telah membakar jantungnya dan membuatnya semakin kehilangan pertimbangan.

“Orang-orang ini harus mati. Aku dan setiap orang dalam lingkungan tidak boleh ragu-ragu untuk membunuh. Dan aku bersama-sama dengan kawan-kawanku akan membunuh semua orang di kota kecil ini.”

Dengan demikian maka Paguh pun kemudian bertempur bagaikan orang yang kehilangan akal. Kasar dan bahkan buas. Ia berteriak-teriak nyaring sambil meloncat-loncat menyerang. Namun melawan Linggapati ia tidak dapat mempergunakan tata geraknya yang dapat membuat lawannya menjadi bingung dan kemudian pening.

Setiap ia. berusaha melingkari lawannya, dengan tangkasnya Linggapati telah mendahuluinya dan memotong tata geraknya, sehingga akhirnya Paguh sendirilah yang menjadi bingung.

Dengan tenang Linggapati mendesak lawannya terus. Demikian pula Linggadadi dan Daranambang. Sedangkan kedua anak muda yang ikut bertempur pula itu, benar-benar sedang mencoba menjajagi ilmu lawannya dengan caranya, meskipun kadang-kadang membahayakan jiwanya.

“Anak-anak itu memang gila.” desis Linggadadi di dalam hatinya, “Seperti Mahisa Bungalan anak-anak itu mempertaruhkan nyawa dalam suatu kemanjaan sikap dan kurang berhati-hati.”

Namun ternyata bahwa kedua anak-anak muda itu masih tetap bertahan terus, meskipun kadang-kadang mereka harus meloncat jauh surut untuk memperbaiki kedudukannya yang menjadi kacau.

Tetapi terhadap anak-anak muda itupun, lawannya yang berilmu hitam tidak berhasil berlarian untuk mengitarinya. Anak-anak muda itu pun mampu meloncat dengan cepat dan tangkas, sehingga setiap kali tata gerak orang-orang berilmu hitam itu pun terpotong.

Dengan demikian, maka semakin lama menjadi semakin jelas, bahwa kelima orang berilmu hitam itu sama sekali tidak dapat mengimbangi lawan masing-masing. Apalagi Paguh yang harus melawan Linggapati. Dengan cemas ia harus mengerahkan semua kemampuannya, sampai batas yang paling kasar sekalipun.

Namun ia tetap tidak berhasil. Linggapati tetap mendesaknya terus. Bahkan kemudian nyawa Paguh pun telah mulai terancam.

Dengan mengimbangi lawannya yang bersenjata pisau-pisau panjang, Linggapati mempergunakan sebilah keris. Dengan keris itulah ia siap untuk menikam lawannya sampai mati.

Dan ternyata bahwa Linggapati tidak berkhayal. Sejenak kemudian ia benar-benar telah mendesak Paguh yang tidak mampu lagi melawan dengan cara apapun. Betapa ia berteriak-teriak dan melonjak-lonjak dengan kasarnya, namun dengan pasti Linggapati telah mendesaknya sampai kebatas kemampuannya yang terakhir.

Ketika Paguh kemudian terdorong sampai ke dinding batu rendah yang melingkari pasar itu, maka ia tidak dapat melangkah surut lagi. Karena itu, maka ia pun berusaha untuk meloncati pasar itu dan bertahan di luar dinding.

Namun tepat pada saat ia meloncat naik, maka tikaman keris Linggapati tidak dapat dihindarinya lagi. Ujung keris itu telah menembus lambungnya yang tersobek karenanya.

Paguh mengeluh panjang. Ia terduduk di atas dinding batu rendah itu. Dengan tangannya ia bertahan, agar ia tidak terjatuh.

Namun pada saat yang bersamaan ia sempat mendengar teriakan lain. Dengan menahan sakit Paguh masih sempat berpaling dan melihat kearah suara itu. Ternyata bahwa seorang kawannya telah terlempar dari arena perkelahian dengan ujud tubuh yang sangat mengerikan.

Tubuhnya seolah-olah telah terkelupas. Darahnya melumuri setiap lubang-lubang bulunya, sehingga tubuh itu bagaikan sudah tidak berbentuk lagi.

“Gila.” teriak Paguh. Namun kemudian ia pun telah terjatuh ke tanah. Sesaat ia menggeliat sambil bergumam, “Kau mati dengan cara itu?”

Kata-katanya pun telah terputus. Sedangkan dibagian lain, seorang kawannya pun mati dengan luka-luka yang menganga di seluruh tubuhnya.

Linggapati memandang adiknya dengan tatapan mata yang bagaikan menusuk sampai kepusat jantung. Tatapan mata yang seolah-olah menuntut pertanggungan jawab atas tingkah laku adiknya itu.

“Kau bunuh ia dengan biadab.” geramnya.

Linggadadi memandang kakaknya dengan heran. Justru karena kakaknya nampak tidak senang melihat kemenangannya.

“Kenapa kakang?” ia bertanya.

“Apakah kau tidak mempunyai cara lain untuk membunuh lawanmu?”

Linggadadi mengerutkan keningnya. Jawabnya, “Cara ini adalah cara yang paling baik bagi orang-orang berilmu hitam.” Ia berhenti sejenak untuk menebarkan tatapan matanya. Ia melihat Daranambang dan kedua anak muda itu masih bertempur meskipun pertempuran itu agaknya terganggu juga oleh kematian Paguh dan seorang kawannya dengan cara yang sangat mengerikan. Lalu, “Kakang agaknya terlampau sopan menghadapi orang-orang seperti kelima orang itu. Bahkan aku ingin menganjurkan, agar yang tiga itu pun dibunuh dengan cara yang sama.”

“Kau gila Linggadadi. Aku juga seorang pembunuh seperti kau dan orang-orang berilmu hitam. Tetapi tidak dengan cara itu.”

Linggadadi menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak menjawab. Kakaknya akan dapat menjadi semakin marah kepadanya. Meskipun kakaknya pasti tidak akan berbuat apa-apa, tetapi mungkin sekali ia akan mengirimkannya kembali, dan meneruskan perjalanannya hanya dengan Daranambang.

Daranambang yang melihat pembunuhan itu pun merasa ngeri. Tetapi ia masih terikat dalam perkelahian sehingga perhatiannya pun seluruhnya terpusat kepada lawannya.

Sementara itu kedua anak-anak muda itu pun masih juga bertempur. Agaknya kematian salah seorang berilmu hitam itu sangat mempengaruhi perasaan mereka, sehingga justru karena itu, mereka tidak lagi mempunyai kegembiraan. Semula mereka berkelahi sambil mencoba ilmunya dalam berbagai cara dan bentuk untuk mencari penyesuaian dalam perlawanannya terhadap ilmu hitam itu. Namun kematian yang mengerikan itu membuat mereka bertempur dengan bersungguh- sungguh.

Ketiga orang berilmu hitam yang masih tinggal hidup itu pun menjadi ngeri melihat seorang kawannya yang mati dengan cara yang biasa mereka lakukan. Mereka sama sekali tidak tersentuh perasaannya, apabila mereka melihat orang lain yang mati dengan cara yang kadang-kadang masih lebih mengerikan lagi. Jika mereka berhasil menangkap korbannya hidup-hidup, namun mereka tidak memerlukan korban bagi ilmu mereka, maka mereka beramai-ramai mengupas kulit lawannya. Benar-benar mengupas kulitnya. Seperti mengelupas kulit pisang, bukan seperti mengelupas kulit waluh.

Tetapi ketika kematian yang serupa, meskipun bukan terkelupas kulitnya seperti kulit pisang, telah terjadi atas seorang kawannya, maka perasaan ngeri itu pun telah menyengat jantung mereka.

Tetapi mereka sudah terlanjur berada dimedan yang parah. Itulah sebabnya maka mereka tidak lagi dapat mundur. Mereka harus bertempur sampai batas kemampuan mereka.

Namun dalam pada itu, Linggapati yang merasa dirinya dan kedua orang yang bersamanya itulah yang menjadi sasaran pilihan dari orang-orang berilmu hitam itu, maka ia pun mendekati kedua anak-anak muda yang masih bertempur itu sambil berkata, “Kami berterima kasih kepadamu anak-anak muda. Kalian telah mengurangi beban kami, disaat-saat kami dalam kesulitan. Sekarang, dua, orang lawan kami telah mati. Karena itu, berikanlah lawanmu kepadaku. Aku yakin bahwa jika kalian bersungguh-sungguh, maka lawan-lawanmu akan segera dapat kau binasakan. Tetapi ternyata kalian benar-benar sedang bermain-main. Karena itu, biarlah kami menyelesaikan tugas kami atas dua orang berilmu hitam itu.”

Kedua anak-anak muda itu masih bertempur terus. Namun Linggapati mendesaknya lagi, “Tinggalkan mereka. Aku dan adikku akan menyelesaikannya.”

“Katakan dahulu, siapakah kalian.” tiba-tiba saja salah seorang dari kedua anak-anak muda itu bertanya.

“Itu tidak penting. Sekarang, biarlah kami bertempur melawan kedua orang itu.”

“Hanya ada dua orang yang berpengalaman melawan orang berilmu hitam di Kota Raja. Menurut pendengaran kami, mereka adalah Linggadadi dan dari sumber lain mengatakan Mahisa Bungalan yang bergelar pembunuh orang berilmu hitam. Nah, siapakah diantara kalian salah seorang dari kedua orang itu?”

“Aku.” teriak Linggadadi, “Aku adalah Mahisa Bungalan.”

“O.” salah seorang dari kedua anak muda itu menjawab sambil bertempur, “Jika demikian, biarlah kami menyelesaikan pertempuran ini.”

“Jangan membuat kami marah anak sombong.”

“Apa yang akan kalian lakukan jika kalian marah?”

“Bergabung dengan orang-orang berilmu hitam itu dan membunuh kau berdua. Baru kemudian aku akan membunuh orang orang berilmu hitam itu.”

“Bagus sekali. Seperti yang pernah dilakukan oleh Linggadadi. Ia melepaskan lawannya yang berilmu hitam dan membiarkan orang berilmu hitam itu bertempur mewalan Mahisa Bungalan.”

“He, darimana kau tahu.” teriak Linggadadi.

“Bukankah demikian menurut ceritera orang? Katakan Mahisa Bungalan, apakah ceritera itu benar?”

Linggadadi termangu-mangu. Ia memperhatikan kedua anak-anak muda itu bertempur dengan lincahnya meskipun mereka sudah tidak mempertaruhkan perkelahian itu untuk menjajagi kemampuan ilmu mereka.

Dalam pada itu Linggapati pun masih saja termangu-mangu. Ia mencoba menebak siapakah kedua anak muda itu. Namun ternyata ia tidak mendapat gambaran sama sekali tentang keduanya.

Namun karena itu, maka ia pun mencoba mengambil cara lain untuk melepaskan kedua anak muda itu dari arena. Karena itu, maka ia pun kemudian berkata dengan nada yang lunak, “Anak muda. Seperti yang sudah aku katakan, aku mengucapkan diperbanyak terima kasih atas bantuanmu. Tanpa kalian berdua, mungkin akhir perkelahian ini akan menjadi berbeda.”

“Tidak.” potong Linggadadi, “Kami akan tetap berhasil membunuh mereka berlima.”

Linggapati mengerutkan keningnya. Namun ia berkata selanjutnya, “Karena itu anak muda, biarlah kami menyelesaikan persoalan kami dengan orang-orang berilmu hitam itu. Bantuan kalian sudah cukup bagi kami.”

“Dan kalian akan membunuh orang-orang berilmu hitam ini dengan cara yang biadab itu?”

“Tidak. Aku akan mengingatkannya, agar tidak lagi melakukan pembunuhan seperti itu. Tetapi kami akan tetap membunuhnya. Dengan cara wajar.”

“Persetan.” teriak orang berilmu hitam, “Kalian menyangka bahwa kami ini sekedar barang yang dapat kalian serah terimakan begitu saja tanpa berbuat apa-apa?”

“Jangan hiraukan.” desis Linggapati.

“Kami ragu-ragu.” jawab salah seorang dari kedua anak muda itu sambil bertempur, “Aku akan dapat membunuhnya. Sama sekali tidak dengan cara biadab itu.”

“Kami juga.”

“Dan orang yang mengaku bernama Mahisa Bungalan itu?”

“Ia juga tidak.”

Tetapi Linggadadi sendiri tidak menyahut. Bahkan mulutnya yang terkatup rapat-rapat itu seolah-olah menyimpan kemarahan yang melonjak-lonjak di dadanya.

“Anak-anak itu memang harus dibunuh pula.” katanya di dalam hati.

Sejenak kedua anak-anak muda itu masih bertempur. Namun kemudian mereka berkata, “Aku akan menyerahkan keduanya. Tetapi kalian tidak akan berbuat dengan biadab seperti yang sudah terjadi.”

Gigi Linggadadi terdengar gemeretak, tetapi ia tidak menjawab. Linggapat ilah yang menjawab, “Kami berjanji.”

Demikianlah maka kedua anak-anak muda itu pun kemudian menyerahkan kedua lawannya kepada Linggapati dan Linggadadi. sementara Linggapati berpesan, “Jangan melanggar perintahku.”

Linggadadi tidak menjawab. Tetapi wajahnya memancarkan kemarahan yang tidak tertahankan.

Kedua orang berilmu hitam itu pun menggeram. Mereka benar-benar merasa terhina oleh sikap lawan-lawannya. Kedua anak-anak itu pun menganggap mereka tanpa arti, yang kemudian dengan seenaknya menyerahkannya kepada orang lain.

Meskipun demikian, orang yang kebetulan harus bertempur melawan Linggadadi menjadi agak ngeri juga. Kawannya telah terbunuh dengan cara yang justru sering dilakukan oleh kawan-kawannya yang disebut oleh orang lain berilmu hitam.

Tetapi, kematian yang memang sudah membayang itu, tidak akan dapat mereka terima sambil menundukkan kepala.

“ Melawan atau tidak melawan, aku akan mati.” geram lawan Linggadadi di dalam hatinya.

Apalagi ketika Linggadadi telah menyebut dirinya bernama Mahisa Bungalan meskipun dengan cara yang tidak meyakinkan. Maka orang-orang berilmu hitam itu pun rasa-rasanya memang sudah berada diambang pintu maut.

Ketika kedua orang itu baru saja mulai bertempur melawan Linggadadi dan Linggapati, maka telah terdengar sebuah keluhan tertahan. Ternyata lawan Daranambang pun telah terlempar dari arena pertempuran. Dadanya memancarkan darah yang tumpah dari lukanya. Tetapi Daranambang tidak membunuh lawannya dengan cara yang mengerikan seperti yang dilakukan oleh Linggadadi.

Daranambang berdiri termangu-mangu di samping mayat lawannya. Ia memalingkan wajahnya ketika diluar sadarnya terpandang olehnya mayat yang kulitnya bagaikan terkelupas oleh luka yang tidak terhitung jumlahnya. Bukan saja luka tusukan, tetapi juga goresan yang menyilang dada, punggung dan lambung silang menyilang.

Daranambang menarik nafas dalam-dalam. Ia pun kemudian perlahan-lahan mendekati kedua anak muda yang menonton di pinggir arena.

“Kalian adalah anak-anak muda yang luar biasa.” berkata Daranambang.

“Ah.” desis yang tua.

“Semuda kalian, kalian telah menunjukkan ilmu yang jauh lebih tinggi dari orang-orang berilmu hitam itu. Bahkan lebih tinggi dari padaku. Kalian dapat bertempur sambil bergurau dan seolah-olah sekedar menjajagi kemampuan lawanmu. Tetapi aku harus mengerahkan semua kemampuan yang ada padaku.”

“Kau memuji.”

“Aku berkata sebenarnya. Dan aku kagum atas kalian. Apakah kalian dapat mengatakan, siapakah kalian itu?”

Kedua anak-anak muda itu termangu-mangu. Namun kemudian salah seorang dari mereka bertanya, “Apakah benar orang itu bernama Mahisa Bungalan?”

Daranambang termangu-mangu sejenak. Sekilas diamatinya Linggadadi yang sedang bertempur dengan keras dan penuh dendam.

Akhirnya dengan ragu-ragu Daranambang berkata, “Ya. Orang itu adalah Mahisa Bungalan.”

“Yang disebut pembunuh orang berilmu hitam?” bertanya anak muda yang lain.

“Ya.” Daranambang masih ragu-ragu.

Namun kemudian Daranambang terkejut ketika ia mendengar kedua anak-anak muda itu tertawa. Salah seorang dari kedua anak itu berkata, “Salah kakek. Atau kakek sengaja membohongi kami. Karena itu, kami pun tidak akan mengatakan siapakah kami sebenarnya.”

“Anak setan.” Daranambang mengumpat. Namun ia pun kemudian tersenyum. Katanya, “Kalian sangat menarik perhatianku. Menyenangkan sekali Baiklah aku berkata terus terang. Aku memang berbohong. Tetapi sayang, bahwa aku tidak dapat mengatakan tentang orang itu.”

“Seperti kami juga tidak dapat mengatakan tentang diri kami.”

“Baiklah. Kita sama-sama tidak mau menyebut diri kita masing-masing. Tetapi tidak apalah.” Daranambang berhenti sejenak, lalu, “Tetapi siapa pun kalian, aku tetap mengucapkan terima kasih atas bantuan kalian. Seperti yang dikatakan anakku yang tua, tanpa kalian mungkin pertempuran ini akan berakhir lain sekali. Aku sependapat, meskipun orang yang bernama Mahisa Bungalan itu berpendapat lain.”

“Jangan sebut Mahisa Bungalan. Bukankah kakek berbohong?”

Kedua anak-anak itu tertawa. Namun suara tertawanya pun segera terputus ketika mereka mendengar pekik kecil. Sejenak kemudian maka mereka pun melihal lawan Linggapati terdorong surut. Perlahan-lahan ia terjatuh pada lututnya.

“Ia akan mati.” desis Daranambang.

“Ya. Ia akan mati. Yang seorang itu pun akan mati.”

Daranambang tidak menyahut. Tetapi seperti yang dikatakannya, maka lawan Linggapati itu pun kemudian jatuh terbujur di tanah. Mati.

Sementara itu Linggapati pun segera mendekati arena perkelahian adiknya. Sejenak ia berdiri termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Biarlah ia hidup.”

“Aku akan membunuhnya.” desis Linggadadi.

“Kita memerlukan beberapa keterangan tentang orang-orang berilmu hitam. Jika ia tetap hidup, maka kita akan mendapat bahan-bahan yang kita perlukan.”

“Kenapa bukan lawanmu yang kau biarkan hidup?”

Linggapati mengerutkan keningnya. Lalu jawabnya, “Lawanku sudah terlanjur mati. Aku tadi tidak ingat, bahwa jika kita dapat membiarkan salah seorang dari mereka hidup, maka kita akan mendapatkan banyak keterangan tentang keadaan mereka.”

Linggadadi tidak segera menjawab. Tetapi ia masih tetap bertempur dengan garangnya.

“Dengarlah perintahku.” berkata Linggapati kemudian.

Jika Linggapati sudah berkata demikian, maka Linggadadi tidak akan dapat membantah lagi. Karena itu, maka ia pun segera mengekang dirinya dan untuk beberapa saat ia melangkah surut mendekati kakaknya.

“Marilah, kita menangkapnya bersama-sama.” berkata Linggapati kepada Daranambang.

Orang tua itu pun kemudian bergerak pula. Bersama Linggapati dan Linggadadi, maka mereka bertiga pun segera mengepung lawannya.

“Gila.” teriak orang berilmu hitam itu, “Kalian akan mencoba menangkap aku hidup-hidup dan memeras keteranganku?”

Linggapati lah yang menjawab, “Ya Ki Sanak. Kami ingin kau tetap hidup. Jika kau tidak melawan kehendak kami, maka kau akan menjadi orang yang sangat penting di dalam lingkungan kami, karena setiap kata-kata dan keteranganmu akan merupakan petunjuk yang sangat berharga bagi kami.”

“Kau sangka aku tidak tahu, bahwa aku akan kalian ikat pada sebuah tiang. Aku harus menjawab setiap pertanyaan kalian, tahu atau tidak tahu? Jika aku tidak menjawab, maka kalian akan memaksa dengan cambuk, rotan atau bahkan pisau dan air belimbing wuluh bercampur garam?”

“Kau salah. Kami mempunyai kebiasaan yang lain dari kalian. Kami bukan orang-orang berilmu hitam yang harus melihat darah.”

“Bohong. Lihat, apa yang telah dilakukan oleh orang yang mengaku bernama Mahisa Bungalan itu? Ia adalah pembunuh orang yang disebutnya berilmu hitam. Dan aku tahu sekarang, bahwa ia relah menirukan cara kami untuk melakukan pembunuhan-pembunuhan itu.”

“Tutup mulutmu.” teriak Linggadadi, “Kau akan kami tangkap dan kami perlakukan menurut kebutuhan kami. Jika kau tidak mempersulit tugas kami, maka kami akan bersikap baik terhadapmu. Tetapi jika sebaliknya, maka nasibmu memang buruk sekali. Mungkin benar seperti yang kau katakan. Segores luka dan setitik air belimbing wuluh arau jeruk pecel dan garam.”

Tiba-tiba saja kengerian yang sangar telah mencengkam orang berilmu hitam itu. Karena itu, maka ia pun menggeram, “Aku akan melawan kalian bertiga sampai mari. Mati adalah pelepasan yang paling baik bagiku dari pada segores demi segores luka di tubuhku dan air belimbing wuluh.”

Linggadadi mendesak maju. Ia menyerang bagaikan badai yang menghantam tebing pegunungan, sehingga oleh serangan itu maka orang berilmu hitam itu pun terdorong surut.

Sementara itu, Linggapati pun telah siap pula Ia ingin menyerang orang berilmu hitam itu sehingga ia menjadi pingsan Kemudian mengikatnya dan jika ia sadar, maka ia akan menjadi sumber keterangan.

Orang berilmu hitam itu benar-benar telah kehilangan setiap harapan untuk dapat meloloskan diri. Orang yang sudah tua diantara ketiga lawannya itu pun masih juga mampu bertempur seperti seekor harimau.

“Aku tidak mau jatuh ketangan mereka.” berkata orang berilmu hitam itu di dalam hatinya.

Dalam keadaan yang demikian itu, maka semua sifat dan kegarangannya seolah-olah telah larut sama sekali. Ia tidak lagi dapat membayangkan, betapa ia bersama dengan kawan-kawannya menghadapi korban yang harus menitikkan darah bagi kesegaran ilmunya. Ia tidak lagi dapat menengadahkan wajahnya sambil menginjakkan kakinya ke atas dada korbannya yang bagaikan terkelupas kulitnya di arena pertempuran.

Tetapi orang berilmu hitam itu bagaikan berubah menja di seekor tikus yang malang dikelilingi oleh tiga ekor tikus yang garang.

Ketiga orang berilmu hitam itu benar-benar sudah merasa kehilangan setiap kemungkinan untuk melepaskan diri, maka ia pun tiba-tiba saja telah menjadi putus asa. Dalam keputus-asaan itu pun ia mengambil keputusan yang mengejutkan.

Tiba-tiba saja, diluar dugaan Linggapati, Linggadadi dan Daranambang, maka orang berilmu hitam itu mengayunkan senjata pendeknya langsung menghunjam ke dalam dadanya sendiri.

“Gila.” teriak Linggapati.

Tetapi suara Linggapari itu bagaikan kejutan yang justru mendorong tangan orang berilmu hitam itu semakin kuat menghunjamkan senjatanya.

Sejenak kemudian, maka tubuh itu pun jatuh terguling di tanah. Masih terngiang suaranya yang terputus, “Pilihan yang barangkali lebih baik dari jatuh ketangan kalian.”

Linggadadi benar-benar telah dicengkam oleh kemarahan yang memuncak. Tetapi ketika ia meloncat mendekati mayat itu, Linggapati telah membentaknya, “Biarkan ia dalam keadaannya.”

Linggadadi menggeretakkan giginya. Tetapi ia tidak dapat melanggar perintah itu. Namun demikian ia berkata, “Ia menyakiti hatiku. Lebih baik ia aku lumatkan.”

“Jangan berbuat sesuatu lagi.”

Linggadadi menghentakkan tangannya. Tetapi ia pun kemudian berpaling memandang dua orang anak muda yang masih berdiri termangu-mangu.

Sejenak sorot matanya yang bagaikan membara itu menatap keduanya berganti-ganti. Kemudian terdengar suaranya yang geram, “Kalian berdua adalah sasaran berikutnya.”

Kedua anak muda itu menjadi tegang. Keduanya saling berpandangan sejenak. Namun kemudian salah seorang dari keduanya bertanya, “Apa maksudmu Mahisa Bungalan?”

Linggadadi tercenung sejenak mendengar nama itu. Tetapi kemudian ia pun berkata lantang, “Kalian berdua pun harus dibunuh seperti orang-orang berilmu hitam itu.”

“Kenapa?” bertanya salah seorang dari kedua anak muda itu.

“Kalian telah menghina kami. Kalian menyangka, bahwa kami tidak akan dapat menyelesaikan tugas kami sebaik-baiknya tanpa bantuan kalian.”

Tetapi sebelum kedua anak muda itu menjawab, terdengar suara Linggapati, “Kau benar-benar telah menjadi gila.”

Tetapi Linggapati melangkah mendekati kedua anak muda itu sambil berkata, “Menyingkirlah. Bau darah telah membuat seseorang kehilangan pengamatan diri.”

“Kenapa aku harus menyingkir?” bertanya salah seorang dari kedua anak muda itu.

“Agar tidak timbul persoalan-persoalan baru disini. Aku tidak ingin melihat persoalan yang sebenarnya tidak perlu terjadi, tetapi justru dapat menumbuhkan korban yang tidak berarti.”

“Kau mengancam kami?”

Linggapati mengerutkan keningnya. Katanya, “Aku ingin mengucapkan terima kasih kepadamu.”

“Begitulah caranya?”

Daranambanglah yang kemudian mendekati keduanya sambil berkata, “Sudahlah ngger. Kami benar-benar berterima kasih kepadamu. Aku mencoba berbuat jujur kali ini, meskipun biasanya aku tidak berbuat demikian.”

Bersambung....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...