*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 23-02*
Karya. : SH Mintardja
Karena itu, Empu Sanggadaru tidak memaksanya. Katanya kemudian, “Baiklah tuanku. Jika tuanku bermurah hati, mengijinkan hamba memiliki harimau yang seekor itu.”
“Kenapa tidak? Bukankah kau sendiri yang mendapatkannya.”
“Tetapi hutan ini adalah tlatah Singasari. Jika tuanku menghendaki, apapun yang ada di dalam wilayah Singasari adalah milik tuanku.”
“Itu tidak benar.” jawab Ranggawuni dengan wajah yang bersungguh-sungguh, “Singasari bukan milik Ranggawuni dan Mahisa Campaka. Ranggawuni adalah milik seluruh rakyat Singasari, meskipun pemilikan secara khusus diatur menurut adat, sehingga dengan demikian rakyat tidak berebutan atas sesuatu barang.”
Empu Sanggadaru mengangguk-angguk. Katanya, “Sebenarnyalah demikian tuanku. Taunku adalah seorang Maharaja yang sangat bijaksana.”
Ranggawuni tertawa. Katanya, “Bertanyalah kepada Mahisa Campaka. Bukan akulah yang bijaksana. Agaknya memang demikian yang seharusnya.”
“Tetapi ada yang berpendapat lain tuanku. Seolah-olah seisi negara itu adalah milik seorang raja.”
“Itu adalah perkecualian. Bukan ketentuannya yang merupakan perkecualian yg harus diakui. Tetapi raja yang bersikap demikian itulah yang merupakan seorang raja yang berbuat menyimpang dari keharusan seorang Raja.”
Empu Sanggadaru mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Sebenarnyalah tidak salah yang hamba katakan. Tuanku memang sangat bijaksana. Terapi baiklah jika tuanku tidak ingin mendengar hamba mengucapkannya sekali lagi.” Ia berhenti sejenak, lalu, “Yang bamba tunggu adalah perintah tuanku tentang, harimau itu.”
“Besok kita akan membawanya kembali ke Singasari. Kita akan memanggulnya berganti-ganti melalui jalan-jalan sempit.” berkata Ranggawuni.
“Tuanku.” berkata Lembu Ampal kemudian, “Sebenarnya tuanku dapat minta pertolongan Empu Saanggadaru dengan cara yang lain.”
Ranggawuni mengerutkan keningnya.
“Tuanku dapat minta bantuan seorang cantriknya, pergi ke istana dan menyampaikan perintah tuanku, agar beberapa orang pengawal yang telah ditemukan sebelumnya menjemput tuanku.”
Ranggawuni memandang Mahisa Campaka sekilas. Namun ia pun kemudian menyadari, bahwa usul Lembu Ampal itu adalah yang paling baik. Seandainya ia minta Lembu Ampal sendiri pergi ke istana, tentu Lembu Ampal tidak akan bersedia. Bukan karena ia tidak bersedia menjalani perintahnya, namun tentu tidak mau meninggalkannya dan Mahisa Campaka berdua saja bersama para pemburu yang masih belum dikenalnya.
Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja Empu Baladatu berkata, “Tuanku adalah bijaksana sekali jika tuanku memberikan perintah kepada para pengawal untuk menjemput tuanku dan harimau yang masih hidup itu. Tetapi apakah dengan demikian para pengawal mempercayai utusan yang belum dikenal itu.”
Ranggawuni termangu sejenak.
“Apakah hal itu tidak akan dapat menimbulkan kesulitan para cantrik yang tidak tahu menahu itu?” desak Empu Baladatu. Selanjutnya, “Karena itu adalah yang paling baik untuk pergi ke istana memanggil para pengawal adalah pamanda tuanku.”
“Apakah aku yang kau maksud?” bertanya Lembu Ampal.
“Ya.”
Lembu Ampal memandang Ranggawuni dan Mahisa Campaka berganti-ganti. Namun seperti yang diduga oleh Ranggawuni. Maka Lembu Ampal pun berkata, “Hamba tidak akan meninggalkan Tuanku Ranggawuni dan tuanku Mahisa Campaka.”
“O.” desis Empu Baladatu, “Aku tidak mengira bahwa pamanda tuanku Ranggawuni adalah seorang yang sangat berhati-hati. Tuanku Ranggawuni dan tuanku Mahisa Campaka adalah anak-anak muda yang pilih tanding. Bahkan mungkin tidak ada seorangpun yang dapat mengimbangi kekuatannya. Kakang Empu Sanggadaru juga tidak. Apa yang perlu dicemaskan? Jika orang lain yang harus pergi, maka itu akan berarti membuang waktu yang tidak berarti, karena pada saatnya, harus ada orang lain yang sudah dikenal untuk memanggil para pengawal.”
Lembu Ampal mengangguk-angguk sejenak. Namun kemudian ia berkata, “Memang mungkin sekali terjadi bahwa cantrik itu tidak akan dipercaya, dan bahkan mungkin dapat menimbulkan kesulitan padanya. Namun ada cara lain yang lebih baik. Jika tuanku Ranggawuni menyetujui maka sebaiknya kita bertiga kembali saja ke istana besok pagi-pagi benar. Aku kemudian akan kembali dengan para pengawal untuk mengambil harimau ini. Jadi pertolongan yang kami perlukan dari Empu Sanggadaru adalah sekedar menunggui harimau ini.”
Empu Baladatu tidak menyangka bahwa cara itulah yang justru diusulkan oleh Lembu Ampal. Namun sebelum ia menjawab Ranggawuni justru bertanya, “Apakah kita akan berjalan kaki?”
“Jika Empu Sangadaru tidak berkeberatan, kita dapat meminjam kuda-kuda mereka. Aku akan membawanya dan mengembalikannya kemari.”
Sejenak Ranggawuni termenung. Pendapat Lembu Ampal itu sangat menarik. Tetapi dengan demikian maka berarti bahwa perburuan selanjutnya telah dihentikan.
Dalam pada itu Empu Baladatu pun menjadi berdebar-debar. Jika demikian, maka ia akan kehilangan kesempatan untuk melakukan sesuatu selama masa perburuan itu. Namun kemudian iapun berkata kepada diri sendiri, “Apa yang dapat aku lakukan sekarang. Agaknya sikap kakang Sanggadaru meragukan sekali. Mungkin aku tidak akan dapat membujuknya dalam waktu yang dekat dan pendek. Karena itu biar sajalah mereka kembali dan kami meneruskan perburuan ini.”
Dalam pada itu, Empu Sanggadaru pun mengangguk-angguk sambil berkata, “Baiklah tuanku. Jika tuanku menghendaki. Biarlah hamba bersama adik hamba menunggu harimau-harimau itu di sini sampai saatnya para prajurit datang mengambilnya.”
“Hanya harimau yang masih hidup itulah yang akan aku bawa ke istana.”
“Hamba tuanku.” jawah Empu Sanggadaru.
Empu Baladatu tidak mempunyai rencana apapun lagi dalam waktu yang dekat, karena ia masih belum menemukan tanda-tanda yang meyakinkannya, bahwa kakaknya akan bersedia membantunya.
“Besok pagi-pagi benar kami akan meninggalkan hutan perburuan ini.” berkata Ranggawuni, “Dan aku sependapat dengan paman Lembu Ampal.”
“Silahkan tuanku. Jika tuanku sudi mempergunakan kuda hamba, maka hamba akan menyerahkannya dengan bangga.”
“Terima kasih. Agaknya kali ini aku tidak akan dapat berhuru sesuai dengan rencanaku. Justru karena aku kasihan melihat harimau itu. Tentu ia akan kehausan dan lapar. Tetapi dalam keadaan seperti itu, maka ia tidak akan dapat makan dan minum secukupnya.”
Empu Baladatu hanyalah menganggukkan kepalanya saja.
“Nah.” berkata Ranggawuni kemudian, “Aku akan beristirahat. Mungkin Adinda Mahisa Campaka juga lelah dan akan beristirahat pula, sampai saatnya kita akan kembali ke Singasari.”
“Aku tidak berbuat apa-apa kakanda.” jawab Mahisa Campaka.
“Tetapi menunggu adalah pekerjaan yang barangkali lebih menjemukan dari melakukan sesuatu, sehingga kau pun mememerlukan beristirahat pula.”
Mahisa Campaka tertawa. Jawabnya, “Baiklah, aku akan beristirahat. Masa perburuan kali ini bukan saja masa yang paling pendek bagiku, tetapi juga yang paling sepi, karena aku ternyata kali ini tidak berbuat apa-apa.”
Namun dalam pada itu, selagi mereka. masih berbincang, terdengar seekor burung menggelepak di atas dahan. Hampir berbareng mereka menengadahkan kepala kelangit. Ternyata bahwa langit telah menjadi merah oleh fajar yang bakal merekah.
“Ternyata aku tidak sempat beristirahat.” desis Ranggawuni, “Aku harus segera mempersiapkan diri dan kembali ke Kotaraja, agar para prajurit segera dapat mengambil harimau itu.”
“Ya tuanku. Silahkan tuanku berkemas. Sebaiknya kita justru segera berangkat, sehingga tuanku akan segera dapat beristirahat di istana.”
Ranggawuni mengangguk-angguk, sementara Mahisa Campaka dengan malasnya berkata, “Mamba akan mohon agar kakanda sudi mengajak hamba untuk berburu pada waktu yang dekat.”
“Tentu adinda. Aku akan segera merencanakan masa perburuan yang baru.”
Demikianlah maka Ranggaawuni, Mahisa Campaka dan Lembu Ampal pun segera mempersiapkan diri. Mereka akan segera kembali ke Kotaraja, agar harimau yang terikat itu dapat diselamatkan, dan dapat hidup di dalam kandang di halaman istana Singasari.
Namun dalam pada itu, ketika matahari telah naik, serta Ranggawuni dan adindanya Mahisa Campaka beserta Lembu Ampal telah siap, terdengar derap beberapa ekor kuda.
“Tuanku.” desis Lembu Ampal, “Hamba mendengar derap beberapa ekor kuda.”
Ranggawuni mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Aku juga mendengar.”
“Agaknya itu adalah kuda-kuda yang jejaknya kita lihat kemarin “ desis Empu Sanggadaru.
Semuanya justru kemudian terdiam. Derap kuda itu agaknya semakin lama menjadi semakin dekat.
“Jangan sebut aku Maharaja Singasari jika yang datang orang yang tidak kita kenal.” desis Ranggawuni.
Semua Orang memandang kepadanya. Namun kemudian merekapun mengangguk-angguk kecil.
Sejenak kemudian muncullah tiga orang berkuda mendekati beberapa orang yang duduk di rerumputan menunggui dua ekor harimau. Yang seekor telah menjadi bangkai, sedang yang seekor masih hidup, tetapi terikat erat-erat dengan janget yang rangkap.
Ketika penunggang kuda itu melihat beberapa orang pemburu yang telah berhasil mendapatkan dua ekor harimau, maka kuda-kuda merekapun tiba-tiba saja menjadi lambat dan berhenti.
“He, siapakah kalian.” tiba-tiba seorang yang masih muda di atas punggung kuda yang paling depan itupun bertanya.
Sejenak orang-orang yang berada di lapangan rumput sempit itu termangu-mangu. Baru kemudian Empu Sanggadaru menjawab, “Kami adalah pemburu yang memang sering melakukan pemburuan di hutan ini. Agaknya Ki Sanak orang-orang baru di sini.”
Ketiga orang itu berpandangan sejenak. Namun kemudian yang paling depan dari mereka menyahut, “Ya. Kami orang orang baru pertama kali berburu di daerah ini. Tetapi kami memang pemburu yang menjelajahi hutan-hutan lebat bukan saja di sekitar Kotaraja.”
“Siapakah kalian Ki Sanak?” bertanya Empu Sanggada.
Anak muda yang berada di tengah sudah membuka mulutnya untuk menjawab. Tetapi yang dipaling depan cepat mendahului.
“Apakah kepentinganmu mengetahui tentang kami? Kami adalah pengembara yang berburu di segala tempat dan medan. Namaku tidak berarti apa-apa bagimu, karena aku yakin kau belum pernah mendengarnya, seperti aku juga belum pernah mendengar namamu, meskipun sikap dan terutama pakaianmu telah meyakinkan aku, bahwa kau memang seorang pemburu.”
“Aku tidak pernah menyembunyikan sesuatu tentang diriku Ki Sanak, Aku adalah Empu Sanggadaru. Seorang yang tinggal di padepokan yang tidak jauh dari hutan ini. Kerjaku sehari-hari memang berburu sehingga aku harus membuat perlengkapan berburu yang memadai.”
“Tetapi kenapa tidak semua orang-orangmu memakai pakaian, buru seperti yang kau pakai?”
“Yang terpenting dari kesulitannya adalah terlalu sedikit belulang yang bagus untuk dijadikan pakaian seperti yang aku pakai sekarang. Alasan yang lain, mereka tidak tahan, karena memakai pakaian kulit harimau memang terlalu panas. Tetapi bagiku ini adalah suatu kebanggaan.” Empu Sanggadaru menjawab.
Anak muda yang berkuda dipaling depan mengangguk Katanya, “Ternyata kau lebih beruntung dari padaku. Aku belum mendapat seekor binatangpun selain seekor rusa kecil yang sudah kami jadikan santapan kami sejak kemarin.”
“O, kamipun baru mendapatkan dua ekor harimau.”
Orang-orang berkuda itu mengerutkan keningnya. Namun sementara itu Empu Sanggadaru masih bertanya, “Kau belum menjawab Ki Sanak, siapakah kalian sebenarnya?”
Sekali lagi anak muda yang berkuda dipaling depan mendahului ketika yang berada di belakangnya sudah siap untuk menjawab, “Kami adalah perantau yang tidak banyak dikenal. Namaku Rute. Kedua kawanku ini adalah Tanca dan Sasak.”
Empu Sanggadaru mengangguk-angguk. Namun ia melihat perubahan wajah kedua orang yang berkuda di belakang anak muda yang menyebut tiga buah nama itu, sehingga baik Empu Sanggadaru maupun orang-orang lain yang bersamanya, segera mengetahui bahwa nama-nama itu bukanlah nama yang sebenarnya.
Tetapi mereka sama sekali tidak mempedulikannya, karena mereka memang dapat saja berpapasan di jalan dengan orang yang bernama siapapun juga.
Namun dalam pada itu, ternyata kedua ekor harimau itu sangat menarik perhatian ketiga pemburu berkuda itu. Sehingga mereka seolah-olah tidak melepaskan tatapan mara mereka kepada harimau-harimau itu.
“Ki Sanak.” tiba-tiba anak muda yang berkuda dipaling depan berkata, “Apakah kedua ekor harimau itu juga akan kalian bawa pulang?”
“Ya, tentu Ki Sanak.”
“Menarik sekali, bahwa kalian berhasil menjerat harimau itu dan menangkapnya hidup-hidup.”
Empu Sanggadaru mengerutkan keningnya. Namun ia menjawab, “Ya. Semalam suntuk kami memasang jaring. Yang seekor terpaksa kami bunuh, karena berhasil melepaskan diri dari jaring kami.”
Anak muda berkuda itu mengangguk-angguk. Katanya, “Bukan kau pemburu-pemburu yang memang pekerjaanmu berburu?”
“Ya, ya anak muda.”
“Lalu untuk apakah hasil buruanmu itu?”
“O.” Empu Sanggadaru mengerutkan keningnya. Kemudian jawabnya, “Aku adalah pengumpul binatang buruan. Kulitnya, tulang-tulangnya dan bahkan aku mengeringkannya jika malang buruan kami dapat kami tangkap utuh.”
Anak muda itu mengangguk. Lalu katanya, “Jika demikian tentu kalian juga mendapatkan nafkah kalian dari perburuan yang kalian lakukan.”
“Tidak seluruhnya Ki Sanak, karena kami juga bertani di padepokan kami.”
“Bagus. Nah, sekarang, kami ingin memiliki salah seekor harimau buruanmu itu. Apakah aku dapat membelinya? Aku ingin menyimpannya dan mengeringkannya. Seorang saudaraku memiliki kemampuan untuk mengeringkan binatang, karena ia mengetahui reramuan yang dipergunakan untuk itu.”
Empu Sanggadaru mengerutkan keningnya, lalu jawabnya, “Maaf Ki Sanak. Kami pada dasarnya memang seorang pemburu yang sebagian besar hidup kami, kami habiskan untuk berada di tengah-tengah hutan seperti sekarang ini. Tetapi bukan maksud kami untuk menjual hasil buruan kami, karena kami. adalah orang-orang yang senang akan hasil buruan kami bagi perhiasan rumah kami. Selebihnya adalah kebangggaan kami untuk menempatkan hasil-hasil buruan kami itu sebagai pajangan, dan dikagumi oleh tamu-tamu kami.”
Anak muda yang berkuda dipaling depan itu berpaling memandang kedua orang kawannya. Anak muda yang seorang lagi kemudian berkata, “Kau dapat memberikan harga berapa saja asal masih cukup wajar. Kami mengagumi kemampuanmu menangkap dua ekor harimau itu sekaligus. Padahal kami datang lebih dahulu daripadamu. Jika kami mengambil seekor maka kalian masih mempunyai seekor yang sama besarnya dan sama garangnya.”
Empu Sanggadaru memandang Ranggawuni sejenak. Namun sebenarnya ia hanya sekedar ingin meyakinkan, karena sudah pasti bahwa permintaan itu tidak akan dapat dipenuhinya.
Ranggawuni menarik nafas dalam-dalam. Sedangkan kepalanya kemudian terangguk kecil, karena seolah-olah ia pun dapat membaca maksud Empu Sanggadaru.
“Ki Sanak.” berkata Empu Sanggadaru kemudian kepada ketiga orang itu, “Sayang sekali, bahwa kami tidak akan dapat memenuhi permintaanmu. Kami dengan bangga akan dapat mengeringkan sepasang harimau ini. Jantan dan betina. Namun kami masih juga ingin mencoba untuk menyembuhkan harimau jantan ini dari kejutan saat ia terperangkap, agar kemudian dapat kami pelihara di samping yang sudah mati. Tetapi apabila tidak mungkin, maka terpaksa kemipun akan mengeringkannya dan memasangnya di depan pintu pringgitan.”
Anak muda yang berkuda dipaling depan mengerutkan keningnya. Lalu katanya, “Jangan mempersulit keadaan. Aku akan memberikan imbalan. Aku tidak hanya akan sekedar merampas.”
“Kami tahu Ki Sanak. Tetapi kami minta maaf.”
Anak muda yang berkuda di belakangnyapun berkata, “Apakah keberatanmu? Kau dapat mencari harimau yang lain.”
“Sulit sekali untuk menemukan harimau sebesar ini Ki Sanak.” jawab Empu Sanggadaru, “Karena itu, kami tidak akan dapat melepaskannya.”
“Kalian memang keras kepala. Apakah kalian sama sekali tidak berniat untuk mendapatkan uang cukup? Dan kemudian memasuki hutan ini lebih dalam lagi dan mendapatkan harimau yang lebih besar?”
“Tidak.”
“Persetan.” geram anak muda yang berkuda dipaling depan, “Kalian keras kepala. Buat apa sebenarnya kalian berburu, jika hanya akan kau timbun di dalam rumahmu saja tanpa menghasilkan apa-apa?”
“Itu urusan kami.” tiba-tiba Empu Baladatu yang lebih panas menjawab. Ia tidak sabar lagi melihat anak-anak muda yang baginya terlalu sombong, sedang seorang yang nampaknya lebih tua sama sekali tidak berbicara apa-apa.
Mendengar jawaban Empu Baladatu, anak muda yang berada di tengah itu mengerutkan keningnya. Dengan geram ia berkata, “Kau jangan membentak pemburu gila. Kau sangka kami ini pengemis yang datang untuk minta-minta belas kasihan. Jika kalian berkeberatan, sudahlah. Tetapi jangan menganggap kami seperti binatang yang diusir dengan kasar.”
“Kami muak melihat tingkah laku kalian.” geram Empa Baladatu. Sementara itu Empu Sanggadaru sempat menggamitnya agar adiknya tidak bersikap terlalu kasar, karena di antara mereka yang sedang berburu itu terdapat Ranggawuni dan Mahisa Campaka.
Tetapi Empu Baladatu memang bukan seorang yang dapat menyabarkan diri. Karena itu, maka iapun justru mengibaskas tangannya sambil berkata, “Biar sajalah. Aku benci melihat anak-anak muda yang sombong. Ia merasa dirinya terlampau kaya dan dapat membeli apa saja dengan uangnya.”
“Tutup mulutmu.” bentak anak muda yang dipaling depan, “Aku masih mencoba menyabarkan diri.”
“Aku tidak perlu kesabaranmu. Pergilah, dan jangan memaksa kami menjual hasil buruan kami, sebab dengan demikian kalian hanya akan menimbulkan kemarahan kami.”
“Kau mencoba mengusir kami? Kau mengira bahwa kami takut melihat tampangmu. Meskipun kalian beramai-ramai dapat menangkap sepasang harimau sebesar itu, karena kami akan dapat melumatkan kepalamu dengan sentuhan tanganku.”
Empu Baladatu pun tiba-tiba menjadi marah. Namun Empu Sanggadarulah yang melangkah maju sambil berkata, “Sudahlah Ki Sanak. Kita tidak akan mengadakan pembicaraan jual beli. Kami persilahkan Ki Sanak mencari langsung ke jantung hutan ini. Mungkin di tengah-tengah hutan yang lebat ini, masih akan dapat dipertemukan harimau sebesar harimau-harimau itu.”
“Kami tidak bernafsu sekali untuk mendapatken seekor harimau.” jawab anak muda yang berkuda dipaling depan, “Tetapi jangan bersikap seperti seorang pahlawan di medan perang menghadapi lawannya yang sudah menyerah.”
“Pergilah.” Empu Baladatu masih membentak. Ternyata bahwa .bentakan itu benar-benar telah membakar hati anak muda yang berkuda di tengah. Karena itu sekali lagi anak muda itu mengancam, “Jika kau tidak mau menutup mulutmu, aku akan membungkamnya.”
“Setan alas.” geram Empu Baladatu, “Cobalah kau lakukan. Aku akan dapat mengelupas kulitmu seperti pisang.”
Kata-kata itu benar-benar telah mengejutkan ketiga orang berkuda itu. Ternyata mereka telah pernah mendengar istilah yang diucapkan oleh pemburu itu. Namun dengan demikian, maka mereka pun kemudian menjadi berhati-hati.
“Marilah.” tiba-tiba orang yang paling tua di antara mereka berkata, “Kita tinggalkan mereka. Sudah mereka katakan, bahwa mereka tidak akan menjual hasil buruan mereka.”
Kedua anak muda itu termangu-mangu. Namun sekali lagi yang tua itu berkata, “Marilah. Kita akan mencari sendiri.”
Namun kedua anak muda itu masih belum beranjak dari tempatnya, Bahkan wajah mereka menjadi merah membara karena kemarahan yang semakin memuncak.
Sejenak suasana menjadi tegang. Baik yang berada di punggung kuda, maupun yang berdiri di atas tanah saling berdiam diri dengan tegangnya.
Agaknya kedua anak muda yang berkuda itu benar-benar telah dibakar oleh kemarahannya, sehingga nampaknya mereka benar-benar akan bertindak kasar. Tetapi Empu Baladatu pun tidak lagi dapat menahan hatinya, sehingga ia pun, siap untuk bertempur dengan caranya.
Sementara itu Ranggawuni, Mahisa Campaka dan Lembu Ampal memandang ketiga orang berkuda itu dengan saksama. Dari sorot matanya dan sikapnya, mereka yakin bahwa ketiga orang itu memang bukan orang kebanyakan.
Dalam pada itu, dalam ketegangan yang semakin memuncak, orang yang paling tua dari ketiga orang berkuda itu berkata sekali lagi, “Tidak pantas kita berkelahi di sini tanpa sebab yang meyakinkan. Jika ada orang yang melihat peristiwa ini, maka akan mudah menimbulkan salah duga. Mereka tentu mengira bahwa kita, akan merampas harimau hasil buruan mereka, meskipun sebab yang sebenarnya adalah sikap yang kasar dan menghina. Tetapi alasan itu tentu kurang meyakinkan.”
Anak muda yang berkuda dipaling depan menggeletakkan giginya. Sementara Empu Baladatu telah bersiap menghadapi segala kemungkinan.
Namun dalam pada itu, dalam ketegangan yang memuncak, Ranggawuni telah memberikan isyarat kepada Lembu Ampal untuk mendekat. Kemudian iapun berbisik di telinganya, “Cegahlah perkelahian yang mungkin dapat terjadi.”
Lembu Ampal pun kemudian mengangguk sambil berdiri. Tepat pada saatnya ia mendekati anak-anak muda itu sambil berkata, “Kami minta maaf Ki Sanak. Mungkin sikap kami terlampau kasar. Tetapi itu sudah menjadi sifat seorang pemburu. Karena itu, jika bagi kalian, sifat itu kurang menyenangkan, maka biarlah sekali lagi aku minta maaf.”
Empu Sanggadaru menarik nafas dalam-dalam. Bahkan iapun kemudian menambahkan, “Kami terbiasa hidup dalam kekeras lebatnya hutan dan binatang-binatang buas yang hanya mengagungkan kekuatan sebagai lambang kekuasaan. Kami memang minta maaf atas kekasaran kami.”
Tetapi Empu Baladatu memotong, “Apakah kami membiarkan mereka menghina kami kakang?”
“Tentu bukan maksudnya menghina.” sahut Lembu Ampal, “Biarlah mereka lewat. Mereka tidak akan memaksa untuk mengambil harimau-harimau hasil buruan kita.”
Empu Baladatu menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak dapat mengerti sikap kakaknya dan Lembu Ampal. Sekilas dipandanginya Ranggawuni dan Mahisa Campaka yang sama sekali tidak menunjukkan gejolak perasaannya sama sekali.
“Orang-orang cengeng.” geram Empu Baladatu di dalam hatinya. Namun ia masih tetap menahan diri, karena ia tahu pasti, bahwa yang ada di hadapannya itu adalah seorang Maharaja yang bukan saja memiliki kewibawaan, tetapi juga memiliki kemampuan yang tidak ada taranya seperti yang sudah dilihatnya sendiri.
Tetapi justru karena itu ia bergumam di dalam hatinya “Tetapi kenapa ia terlampau cengeng sehingga menghadapi orang-orang gila yang sombong itu, mereka justru menghindari perselisihan Menghadapi orang-orang yang demikain itu seharusnya justru memancing perselisihan, sehingga kemudian sekaligus menghancurkan mereka tanpa ampun.”
Tetapi kata-kata itu hanya melingkar di dalam dadanya saja, karena Empu Baladatu tidak dapat mengucapkannya.
Dalam pada itu ketiga orang berkuda itu termangu-mangu. Dari tatapan matanya, ketiganya melihat perbedaan yang memancar pada sorot mata Lembu Ampal dari pemburu-pemburu yang kasar itu, terutama orang yang telah mengucapkan kata-kata yang telah menyetuh jantungnya.
Karena itu, ketika orang tertua di antara mereka sekali lagi mengajaknya meninggalkan tempat itu, maka anak-anak muda itupun menggeretakkan giginya sambil menarik kendali kudanya.
“Keparat.” desis yang paling depan.
“Sudahlah.” potong yang tertua, “Kita akan mencari sendiri kelak.”
Anak-anak muda itu tidak menyahut. Sementara itu yang tertua itupun berkata, “Kami akan pergi. Bukan tujuan kami untuk berburu. Jika kami singgah, sebenarnya kami hanyalah ingin memberikan selingan dalam kehidupan kami yang barangkali sangat menjemukan. Meskipun demikian bukan berarti bahwa kami bukan pemburu, karena kamipun sudah terbiasa berburu meskipun tidak di sini Tetapi kali ini memang kami tidak sedang berburu.”
“Silahkan.” jawab Lembu Ampal, “Mungkin lain kali kalian dapat kembali lagi kemari dan menemukan harimau sebesar itu.”
Orang yang tertua itu mengangguk. Tetapi ia tidak menjawab lagi. Kudanyapun segera bergerak mengikuti kedua ekor kuda yang lain.
Ketika ketiga ekor kuda itu sudah hilang di balik dedaunan, maka seorang anak muda di antara ketiga penunggang kuda itupun berkata, “Aku sudah pernah mendengar kata-kata seperti yang diucapkan oleh pemburu gila itu.”
“Ya.” Jawab yang tertua di antara mereka, “Kita tidak akan dapat melupakannya. Kata-kata itu selalu diucapkan oleh orang-orang yang berilmu hitam.”
“Hem.” yang lain menggeram, “Aku adalah seorang yang bergelar pembunuh orang berilmu hitam disamping Mahisa Bungalan. Aku sudah berniat untuk membunuh mereka semuanya.”
“Mereka berjumlah jauh lebih banyak dari kita. Dan aku melihat sikap yang berbeda dari antara mereka itu.”
Anak muda itu menggeram. Agaknya hatinya benar-benar bergejolak melihat orang berilmu hitam di hutan yang lebat itu.
“Angger Linggadadi.” berkata orang tua itu, “Kita tidak boleh sekedar terbakar oleh perasaan. Kita harus mempertimbangkan banyak segi menghadapi orang-orang berilmu hitam itu.”
“Apa salahnya jika aku bertindak saat itu. Kita berjumlah tiga orang. Diantara kita ada kakang Linggapati.”
Orang tertua itu menarik nafas dalam-dalam. Linggapati sendiri nampaknya juga sedang berusaha untuk menahan gejolak perasaannya.
“Angger Linggadadi.” berkata orang tua itu, “Aku tidak sempat menghitung dengan baik. Tetapi aku kira ada tujuh orang yang menunggui dua ekor harimau itu.”
“Apakah kita bertiga tidak dapat membunuh ketujuh orang berilmu hitam itu. Mungkin satu dua di antara mereka adalah orang-orang terpenting di dalam lingkungan mereka. Tetapi tentu yang lain sama sekali tidak berarti bagi kita.”
“Itu adalah kata-kata hati yang terbakar oleh kemarahan dan kebencian. Tetapi sebaiknya, biar sajalah mereka berkeliaran. Jika mereka bertemu dengan Mahisa Bungalan, biarlah Mahisa Bungalan menyelesaikannya.”
“Dan setiap orang akan berterima kasih kepada Mahisa Bungalan itu. Sementara kita menyia-nyiakan kesempatan.”
“Jika terjadi sesuatu atas kita, tidak akan menguntungkan kita sendiri, sedangkan jika kita berhasil membunuh mereka semuanya, kita tidak akan mendapatkan apapun juga.”
Dalam pada itu Linggapati berkata, “Kita sebaiknya memang membiarkan mereka berkeliaran di hutan itu.”
“Kenapa?” bertanya Linggadadi.
“Kita masih harus menyiapkan diri dan menyimpan kemampuan kita untuk tujuan yang lebih besar daripada sekedar membiarkan hati kita dibakar oleh kebencian kepada orang-orang berilmu hitam. Sebutan pembunuh orang berilmu hitam itu agaknya telah menyeretmu kepada sikap yang tidak terkendali meskipun akupun hampir saja kehilangan pengamatan diri karena sikap orang itu tentang harimaunya. Tetapi baiklah untuk sementara kita melupakannya.”
Linggadadi menarik nafas. Namun iapun mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Kita akan menunggu hingga pada suatu saat yang tepat.”
“Mudah-mudahan mereka sudah binasa oleh Mahisa Bungalan. Jika Mahisa Bungalan merintangi usaha kita merambas jalan ke tahta Singasari, kitalah yang akan membinasakannya.”
Demikianlah merekapun kemudian berusaha untuk melupakan orang-orang yang ditemuinya di hutan itu. Dengan hati yang kosong mereka meneruskan perjalanan mereka meninggalkan lapangan sempit di hutan itu dan menelusuri lorong setapak menuju ke udara terbuka.
Namun dalam pada itu, agaknya perburuan yang pendek itu telah menarik perhatian, sehingga Linggapatipun kemudian bergumam, “Jika ada waktu yang lain, berburu agaknya memang sangat menarik.”
“Ya.” berkata Linggadadi, “Sebenarnya aku masih ingin melanjutkan perburuan kali ini. Terapi agaknya waktu terlampau sempit.”
Linggapati mengangguk-angguk. Katanya, “Kita memang harus segera kembali. Mudah-mudahan kehadiran kita yang lambat di rumah tidak menumbuhkan kegelisahan.”
Namun ketika di perjalanan keluar itu mereka melihat seekor kijang melintas, maka tiba-tiba saja timbul keinginan Linggadadi untuk mengejarnya.
“Sudahlah.” berkata Linggapati, “Mungkin kita akan terseret kembali jauh ke dalam hutan ini.”
Linggadadi menarik nafas dalam-dalam. Ia pun mengurungkan niatnya untuk mengejar binatang buruan itu. Namun demikian ia berkata, “Kakang Linggapati Apakah kita dapat berhenti sebentar di mulut lorong itu. Aku masih ingin mendapatkan seekor binatang buruan. Aku ingin membawa kepalanya kembali dan mengeringkannya mumpung kita berada di hutan perburuan yang agak lebat dan menyimpan banyak binatang.”
“Kenapa tidak kau lakukan atas binatang yang kita langkap itu?”
Linggadadi termenung sejenak, lalu, “Tiba-tiba saja keinginan itu timbul setelah aku melihat dua ekor harimau itu. Aku berharap bahwa ada seekor harimau yang dapat kita ketemukan di sini.”
“Jarang sekali harimau berkeliaran dibagian tepi hutan. Biasanya harimau berada agak ke tengah.” Tetapi harimau yang lapar mungkin pula justru keluar hutan. Bahkan ada harimau yang terpaksa berburu binatang peliharaan.”
“Tetapi jarang sekali terjadi.”
“Kita umpankan seekor dari kuda-kuda kita.”
“Lalu, bagaimana dengan perjalanan kembali?” bertanya orang yang paling tua.
“Kita tidak benar-benar membiarkan kuda kita diterkam harimau. Aku akan menunggunya dan membunuh harimau itu dengan pisau belati.”
“Bagaimana jika sama sekali tidak ada harimau di daerah ini. Sementara itu kira menunggu sampai jemu?”
“Kita akan membatasi waktu. Sampai tengah hari. Jika tidak ada seekor binatangpun yang kita dapatkan, kita meneruskan perjalanan. Tidak harus seekor harimau. Tetapi apa saja yang lewat dan dapat kita tangkap.”
Linggapati menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak dapat menolak keinginan adiknya untuk membawa seekor binatang buruan.
Tetapi menunggu binatang buruan dibagian hutan yang sudah semakin menepi, tentu tidak akan banyak memberikan harapan.
“Tidak akan banyak binatang yang kita temui di sini.” berkata orang yang tertua, “Mungkin seekor kijang, mungkin rusa atau kancil. Tetapi tentu bukan seekor harimau.”
“Apapun juga. Aku ingin membawa kepalanya pulang. Aku ingin mengeringkannya dan memasangnya pada dinding bilik dalam. Itu hanyalah suatu permulaan. Disaat-saat mendatang, aku akan berburu lebih sering untuk mendapatkan binatang lebih banyak lagi. Mungkin seekor harimau loreng, harimau kumbang atau seekor banteng.”
Linggapati yang kemudian mengekang kudanyapun kemudian berkata, “Kita akan berhenti di sini Kita akan mengikat kuda kita dan duduk menunggu sampai tengah hari.”
“Kita akan masuk agak ke dalam. Jika jalan sempit ini sering dilalui para pemburu, maka tidak akan seekor binatang pun yang akan lewat di sini. Seekor kuda kita, akan kita ikat di dekat sebuah gerumbul yang lebat. Sementara itu aku akan memanjat sebatang pohon di dekatnya, agar aku sempat menerkam harimau yang terpancing oleh kuda itu.”
Linggapati tersenyum. Katanya, “Kali ini bukannya seekor harimau yang menerkam mangsanya. Tetapi seekor harimau akan diterkam oleh seseorang.”
Linggadadi pun tertawa pula. Namun katanya, “Tetapi aku tentu akan berhasil membunuhnya jika ada seekor harimau yang mendekat.”
Demikianlah maka merekapun segera mempersiapkan diri. Mereka menuntun kuda mereka memasuki gerumbul-gerumbul di pinggir jalan sempit itu.
“Biarlah ketiganya saja kita umpankan.” berkata linggapati, “Sehingga kita tidak perlu menunggu dua ekor yang lain.”
“Bagus.” desis Linggadadi, “Jika ada angin bertiup ke hindung seekor harimau, maka harimau itu tentu akan mencarinya dan menemukannya. Itu berarti bahwa kita akan mendapatkan seekor harimau pula tanpa membeli dari orang-orang dungu itu.”
Namun dalam pada itu, selagi mereka bersiap untuk mengumpankan kuda-kuda mereka, mereka telah mendengar derap kaki kuda mendekati, sehingga dengan demikian, merekapun menjadi termangu-mangu karenanya.
“Siapakah mereka?”desis Linggadadi.
“Entahlah.” jawab kakaknya. “Aku akan melihatnya.”
Linggapatipun kemudian menyusup kembali mendekati jalan sempit yang baru saja dilaluinya. Dari balik gerumbul ia menunggu, karena ia ingin melihat siapakah yang akan lewat.
Dalam pada itu, ketika Ligngapati, Linggadadi dan seorang pengiringnya telah meninggalkan Empu Sanggadaru, maka Ranggawuni dan Mahisa Campakapun meneruskan niatnya untuk mendahului bersama Lembu Ampal. Mereka kemudian akan memerintahkan beberapa orang perajurit untuk mengambil harimau yang masih hidup itu. Mungkin dengan sebuah pedati. Meskipun sebenarnya keduanya masih ingin berburu lebih lama lagi, namun mereka berniat memelihara harimau itu di istana sehingga harimau itu tidak mati di perjalanan jika terlalu lama menunggu para prajurit yang akan menjemputnya.
Mereka sama sekali tidak menduga, bahwa Linggapati dan Linggadadi akan berhenti sebelum mencapai ujung lorong di mulut hutan.
Karena itulah, maka mereka sama sekali tidak menyangka, bahwa diperjalanan itu, tiba-tiba saja mereka telah dihentikan oleh seseorang yang meloncat dari dalam gerumbul ditepi jalan setapak itu.
“Ha.” berkata Linggapati, “Kau lentu salah seorang dari orang-orang berilmu hitam itu.”
Ranggawuni terkejut. Tetapi ia sempat menarik kekang kudanya dan berhenti beberapa langkah di hadapan Linggapati. Sementata itu, Linggadadi dan pengiringnyapun telah berada di sebelah Linggapati pula.
“Kenapa hal ini kau lakukan?” bisik pengiringnya.
“Aku ingin mengurangi jumlah orang berilmu hitam. Agaknya yang lewat ini adalah sebagian dari mereka. Tetapi yang lewat ini tidak akan pernah dapat keluar dari hutan ini dan bertemu kembali dengari kawan-kawannya. Sementara jika kawannya menyusulnya, kami akan membinasakannya pula. Tentu masih ada empat orang di tempat mereka berhenti menunggui harimau mereka itu.”
Ranggawuni dan Mahisa Campaka termangu-mangu. Namun dalam pada itu. Lembu Ampal melangkah maju sambil bertanya, “Kenapa kau sebut orang berilmu hitam?”
“Tentu kau akan ingkar. Atau mungkin kau akan menyebut perguruanmu dengan sebutan perguruan berilmu putih. Tetapi kami tidak akan dapat kau kelabui, bahwa kau adalah orang-orang yang disebut berilmu hitam itu.”
Lembu Ampal menjadi semakin heran. Namun kemudian iapun bertanya, “Ciri-ciri apakah yang kau kenali pada kami, sehingga kalian menyebut kami demikian?”
“Ada atau tidak ada ciri itu pada kalian, tetapi kalian adalah orang berilmu hitam. Kalian tidak akan ingkar, karena kami mengetahui dengan pasti. Kami adalah orang-orang yang disebut pembunuh orang berilmu hitam.”
“O.” Lembu Ampal mengerutkan keningnya.
“Namaku Mahisa Bungalan.”
Nama itu benar-benar telah mengejutkan Ranggawuni, Mahisa Campaka dan Lembu Ampal. Karena itu justru mereka sejenak mematung memandang orang yang menyebut dirinya. Mahisa Bungalan itu.
Linggadadi yang menyebut dirinya Mahisa Bungalan itu tertawa sambil berkata, “Nah, kau mulai gemetar mendengar nama itu. Mahisa Bungalan, pembunuh orang berilmu hitam.”
Ranggawuni menarik nafas dalam-dalam. Dengan sareh ia bertanya, “Tetapi bukankah kau tadi menyebut nama lain? Kau tadi tidak mengatakan bahwa namamu adalah Mahisa BungaIan yang bergelar pembunuh orang berilmu hitam.”
“Aku menghindari sebutan dan gelar itu. Tetapi ketika aku yakin bahwa kalian adalah orang-orang berilmu hitam, maka aku tetah memperkenalkan diriku yang sebenarnya.”
“Ada dua orang yang mendapat gelar Pembunuh orang berilmu Hitam. Mahisa Bungalan dan Linggadadi.” desis Lembu Ampal.
“Akulah Linggadadi.” jawab Linggapati tanpa berpikir panjang.
Ketika orang yang termangu-mangu itupun menjadi yakin. Bahkan yang dihadapi adalah orang-orang yang memang mempunyai dendam kepada orang-orang berilmu hitam, siapapun mereka itu. Namun dengan demikian, maka Ranggawuni, Mahisa Campaka dan Lembu Ampal menyadari, hahwa ketiga orang itu tidak benar ingin memusuhinya sebagai Ranggawuni, Mahisa Campaka dan Lembu Ampal.
“Ki Sanak.” berkata Lembu Ampal, “Tentu ada salah paham. Kami sebenarnyalah bukan orang-orang yang dapat disebut berilmu hitam, karena kami termasuk orang-orang yang sama sekali tidak berilmu. Kami adalah pemburu sejak kami kanak-kanak. Ilmu yang ada pada kami semata-mata adalah ilmu yang turun temurun, bagaimanakah cara kami menjerat dan menangkap binatang dengan alat-alat yang paling sederhana.”
“Persetan.” geram Linggadadi yang menyebut dirinya bernama Mahisa Bungalan, “Terapi Mahisa Bungalan dan Linggadadi tidak akan dapat dikelabuhi. Memang setiap orang berilmu hitam segera menjadi ketakutan mendengar nama Mahisa Bungalan dan Linggadadi.”
“Tetapi.” Tiba-tiba saja Ranggawuni menjawab, “Apakah pada suatu saat Mahisa Bungalan dan Linggadadi akan dapat bekerja bersama-sama dalam satu kelompok seperti yang tengah aku hadapi sekarang ini?”
“Kenapa tidak.” jawab Linggapati, “Kami bersama telah membinasakan orang-orang berilmu hitam dimana-mana.”
“Tetapi yang dikenal di Singasari adalah Mahisa Bungalan yang melakukan tugasnya seorang diri. Ia tidak pernah dilihat orang bersama-sama dengan orang lain, kecuali kadang-kadang dengan ayahnya yang bernama Mahendra.”
“Ya, ayah memang bernama Mahendra. Kedua adiknya bernama Mahisa Pukat dan Mahisa Murti. Jika kalian ada yang sempat melarikan diri, kalian dapat menyebut namaku dan aku tidak akan ingkar jika kalian mecari aku di rumahku. Aku, ayahku dan adik-adikku siap untuk membunuh kalian bersama seluruh perguruanmu.”
“Dan bagaimana dengan Linggadadi? “ bertanya Mahisa Campaka.
“Jika kalian dapat menemukan Mahisa Bungalan, maka kalianpun akan dapat menemukan Linggadadi.” jawab Linggapati.
Lembu Ampal yang heran melihat tingkah laku orang-orang itu pun kemudian berkata, “Ki Sanak, siapapun namamu. Agaknya kita telah salah paham. Kami menyadari bahwa kalian adalah orang-orang yang membenci orang-orang berilmu hitam. Dan agaknya kamipun demikian. Tetapi sebaiknya kalian menyebutkan, apakah sebabnya maka kalian menganggap kami orang-orang berilmu hitam.”
“Tidak ada kesempatan untuk banyak berbicara. Aku tahu, kau berusaha untuk memperpanjang waktu dan menunggu kawan-kawanmu yang barangkali sebentar lagi akan lewat pula di jalan ini.”
“Tidak. Mereka tidak akan lewat di jalan ini. karena kuda-kuda mereka sedang aku pergunakan. Kami bertiga tidak mempergunakan kuda saat kami pergi berburu.”
“Jangan berbicara ngaya wara. Mana mungkin kalian itu tidak membawa kuda.”
“Kami memang membawa kuda. Tetapi kuda-kuda itu telah kami titipkan kepada kawan-kawan kami yang mendahului kami. Maksud kami, dengan demikian kami tidak akan dibebani keharusan menjaga kuda-kuda kami.”
“O, itu adalah ceritera yang sama sekali tidak menarik sedang kawan-kawan kalian tetap juga menunggui kuda-kudanya.” bentak Linggadadi, “Sudahlah. Kami akan membunuh kalian apapun yang kalian katakan. Kami tetap dalam sikap kami, sesuai dengan gelar yang telah kami dapatkan Pembunuh orang berilmu Hitam.”
“Kami sudah mencoba memberi peringatan, bahwa kalian telah salah menilai kami.” desis Mahisa Campaka.
“Itu adalah sekedar suatu usaha untuk menyelamatkan diri. Aku pernah memhunuh lima orang berilmu hitam. Mereka juga ingkar bahwa mereka adalah orang-orang berilmu hitam, karena mereka dan juga kalian, sama sekali tidak merasa bahwa ilmu yang kau pelajari itu adalah ilmu yang sama sekali bertentangan dengan perikemanusian. Apalagi karena kalian sudah mempersiapkan diri untuk suatu tujuan yang lebib besar, menghancurkan pemerintahan.”
Ranggawuni, Mahisa Campaka dan Lembu Ampal menjadi heran dan bertanya-tanya di dalam hati, “Siapakah sebenarnya orang-orang itu.”
Tetapi mereka tidak sempat untuk berbicara lebih banyak lagi karena orang-orang itu agaknya benar-benar akan menyerang.
Lembu Ampal pun kemudian mempersiapkan dirinya sebaik-baiknya, karena yang bersamanya itu adalah dua orang yang sedang memerintah Singasari. Setelah mengikat kudanya sendiri pada sebatang pohon perdu, maka iapun kemudian kendali kuda kedua anak muda itu dan mengikatnya pula seperti kudanya.
“Kami sudah bersiap.” berkata Ranggawuni kemudian, “Tetapi kami masih mencoba untuk memperingatkan, bahwa kalian tidak sedang berhadapan dengan orang-orang berilmu hitam.”
Linggadadi menggeram. Katanya, “Jangan menyesal jika kalianpun akan mati seperti kawan-kawanmu yang lima dan barangkali yang lain-lain lagi.”
“Kalian .telah melakukan kesalahan ganda.” berkata Mahisa Campaka, “Kami bukannya orang-orang berilmu hitam, dan yang pasti kami tidak sedang berhadapan dengan anak muda yang bernama Mahisa Bungalan. Aku tidak dapat mengatakan, apakah salah seorang dari kalian benar-benar bernama Linggadadi yang bergelar pembunuh orang-orang berilmu hitam.”
Linggapati termangu-mangu sejenak. Namun Linggadadi yang menyebut dirinya bernama Mahisa Bungalan itupun berteriak, “Jika kalian mengenal orang lain yang bernama Mahisa Bungalan, aku tidak peduli. Tetapi Mahisa Bungalan pembunuh orang berilmu hitam itu adalah aku.”
Mahisa Campaka menarik nafas dalam-dalam. Ternyata orang-orang itu sama sekali tidak lagi dapat diajak bicara. Sehingga karena itu, tidak ada cara lain kecuali mempertahankan diri dari kemarahan orang-orang itu.....
Bersambung....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar