Jumat, 29 Januari 2021

SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG JILID 09-03

*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 09-03*

Karya. : SH Mintardja

Prajurit yang terjatuh dari kudanya itu menyeringai menahan sakit. Ketika ia meraba pundaknya, terasa pundaknya sakit sekali. Namun ia tidak menyentuh darah dipundaknya itu sehingga ia pun kemudian menyadari bahwa orang berpakaian putih itu tidak menusuk pundaknya dengan senjata, tetapi pundak itu telah dipukulnya dengan tangannya.

Dalam pada itu, selagi pemimpin kelompok itu menahan sakit, dan yang lain termangu-mangu tiba-tiba saja sekali lagi mereka dikejutkan oleh serangan orang-orang berpakaian putih itu.

Yang kemudian terlempar bukan saya hanya satu atau dua orang dari para prajurit itu, tetapi mereka berempat hampir bersamaan waktunya telah terjatuh di atas tanggul parit di pinggir jalan. Bahkan seorang diantaranya telah terjebur kedalam parit yang sedang mengalir.

Selagi mereka mengumpat-umpat, mereka telah dikejutkan sekali oleh sesuatu yang hampir tidak mereka perhitungkan sebelumnya. Ternyata orang-orang berpakaian putih berkuda putih itu telah mengejutkan kuda-kuda mereka dengan sengaja, sehingga kuda-kuda itu melonjak dan berlarian cerai berai.

“Kalian tidak akan dapat mengejar aku lagi.“ berkata salah seorang dari orang berkuda putih itu.

“Gila.“ teriak pemimpin kelompok yang masih memegangi pundaknya yang sakit, yang rasanya menjadi retak dan patah.

Tetapi kedua penunggang kuda putih itu tidak menghiraukannya. Mereka pun kemudian meninggalkan orang-orang yang berteriak-teriak sambil mengacukan tinju mereka. Tetapi mereka sadar, bahwa tanpa kuda, mereka tidak akan dapat mengejar penunggang kuda putih itu.

Prajurit-prajurit itu menjadi semakin marah ketika dua orang berkuda putih itu melambaikan tangan mereka sambil berpacu meninggalkan prajurit-prajurit yang marah itu.

Sejenak kemudian, belum lagi derap kedua kuda putih itu hilang dari telingan, mereka telah mendengar derap kaki kuda yang lain. Mereka pun kemudian menyadari, bahwa kawan-kawan mereka sebenarnya telah menjadi semakin dekat dan melihat apa yang telah terjadi.

Demikianlah, maka kelima orang itu hanya dapat berloncatan menepi ketika kuda-kuda kawan-kawannya berpacu dengan cepatnya. Para prajurit yang menyusul kemudian itu pun melihat kedua orang berkuda patih itu melarikan diri. Karena itu mereka tidak mau kehilangan. Tanpa berhenti sama sekali maka mereka pun berusaha untuk mengejar kedua orang penunggang kuda putih itu.

Sekali lagi mereka saling bekejaran. Dua orang berpakaian putih dan berkuda putih dikejar oleh sekelompok prajurit yang sedang marah.

Tetapi ternyata jarak mereka sudah terlampau jauh. Para prajurit itu ternyata tidak segera dapat mendekati buruannya. Apalagi ketika mereka melihat sebuah padukuhan yang besar dihadapan mereka. Maka kedua penunggang kuda itu akan dengan mudah dapat menyembunyikan dirinya dipadukuhan itu, atau berusaha melenyapkan jejak kuda-kuda mereka di atas tanah berbatu-batu.

Meskipun demikian tetapi para prajurit itu tidak segera menjadi berputus asa. Mereka berusaha untuk memacu kuda mereka lebih cepat lagi. Tetapi semakin dekat mereka lebih cepat lagi. Tetapi semakin dekat mereka dengan padukuhan hadapan mereka, maka harapan prajurit itu pun menjadi semakin tipis.

Dalam pada itu, kelima prajurit yang ditinggalkan di tengah-tengah bulak hanya dapat menghentak-hentakkan tinju mereka. Sejenak mereka memandang kuda kawannya yang berusaha mengejar kedua orang berpakaian putih itu. Namun kemudian mereka pun menarik nafas sambil berkata, “Orang gila. Mereka berhasil melepaskan diri dari tangan kami.”

Pemimpin kelompok kecil itu pun kemudian berjalan tersuruk-suruk mencari senjatanya. Demikian pula kawannya yang lain.

Sambil menyarungkan senjata yang mereka ketemukan kembali itu, salah seorang dari mereka berkata, “Orang gila. Apakah salah seorang dari mereka itu Mahisa Agni?”

Pemimpin kelompok itu menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Aku tidak tahu. Tetapi kedua orang itu memiliki kemampuan yang hampir sama dan ternyata jauh melampaui kemampuan setiap prajurit Singasari.”

Prajurit-prajurit itu termangu-mangu. Namun tiba-tiba saja salah seorang dari mereka bertanya, “Kenapa mereka tidak membunuh kita?”

“Mereka tidak akan sempat melakukannya. Kawan-kawan kita telah datang menyusul.”

“Kenapa tidak.“ sahut yang lain, “Mereka sempat melemparkan kita dari atas punggung kuda dengan tangan mereka. Jika mereka ingin membunuh kita, maka mereka dapat mendorong kita dengan pedang. Kita benar-benar sudah kehilangan kesempatan untuk melawan. Bahkan kita tidak dapat melihat, apa yang mereka lakukan. Baru kita sadar, ketika kita terlempar ke dalam parit.”

Prajurit-prajurit itu mengangguk-angguk. Kini mereka mendapat kesempatan untuk menilai lawan-lawan mereka. Bukan saja dalam olah kanuragan. Tetapi ternyata orang-orang berkuda putih itu tidak berusaha membunuh mereka.

“Aneh.“ kesan itulah yang membekas di hati kelima orang prajurit yang masih saja termangu-mangu di tengah bulak.

Tetapi mereka tidak segera beranjak pergi. Mereka masih menunggu kawan-kawan mereka yang mngejar kedua orang penunggang kuda putih itu.

Memang tidak ada yang dapat mereka lakukan selain menunggu. Mereka tidak akan dapat berlari mengejar penunggang kuda putih dan kawan-kawan mereka yang sedang memburu kedua orang berkuda putih itu.

Namun sambil menunggu itulah kelima orang itu sempat berbicara tentang diri mereka sendiri.

“Kenapa kedua orang itu tidak membunuh kami dengan pedangnya.“ seorang dari mereka mengulang lagi, “Tentu bukan karena tidak sempat. Tentu bukan suatu kesalahan, dan tentu bukan karena tidak mampu. Tetapi mereka memang membiarkan kita hidup.”

“Demikianlah agaknya. Jika salah seorang dari keduanya itu Mahisa Agni, siapakah yang seorang lagi, yang mampu bertempur dengan ilmu yang setingkat dengan Mahisa Agni itu?”

Kawannya tidak ada yang dapat menjawab. Peristiwa yang baru saja mereka alami adalah peristiwa yang benar-benar tidak dapat mereka mengerti. Di dalam pertempuran itu, lawannya sengaja membiarkan mereka hidup.

“Apakah mereka mengetahui bahwa kita pun tidak ingin membunuh kedua orang penunggang kuda putih itu?“ bertanya salah seorang dari mereka.

“Tentu tidak. Dan bukankah kita sendiri sudah kehilangan niat untuk menangkapnya hidup-hidup? Apalagi sejenak setelah kita merasa tidak mampu lagi melakukannya. Aku sendiri rasa-rasanya tidak ingat lagi bahwa aku akan menangkapnya, bukan membunuhnya.”

Yang lain pun mengangguk-anggukkan kepala. Mereka dengan jujur melihat kepada diri masing-masing, bahwa sebenarnyalah mereka telah berusaha untuk membunuh orang-orang berkuda putih itu, karena mereka merasa bahwa tidak akan ada kesempatan sama sekali untuk menangkap mereka hidup-hidup.

Sementara itu, beberapa orang prajurit yang lain sedang berpacu mengejar kedua orang berkuda putih itu. Tetapi jarak mereka agaknya terlalu jauh, sehingga mereka tidak dapat mencapai kedua orang itu sebelum keduanya memasuki padukuhan yang besar di hadapan mereka.

“Mereka akan hilang di padukuhan itu.“ desis seorang prajurit yang mengejar mereka.

“Jika tidak sekalipun, kita akan sulit menangkap mereka. Jarak kita terlalu jauh.”

Prajurit-prajurit itu sebelumnya merasa bahwa mereka pun tidak akan mampu menangkap keduanya. Lima orang kawan mereka sama sekali tidak berdaya. Apalagi jika kemudian kedua orang itu menjebak mereka diantara sekelompok kawan-kawan oorang berkuda putih itu.

Karena itu, maka akhirnya pemimpin kelompok itu memutuskan untuk menghentikan pengejaran. Dengan isyarat maka ia pun menghentikan pasukannya setelah kedua orang berkuda putih itu hilang di balik gerbang padukuhan.

“Kita tidak tahu apa yang ada dibalik padukuhan itu.“ berkata pemimpin kelompok itu.

Kawannya pun mengangguk-anggukkan kepala. Salah seorang menjawab, “Apakah kita tidak mencoba memasukinya?”

“Dengan hati-hati.“ berkata yang lain.

Pemimpin kelompok itu pun mempertimbangkannya sejenak, lalu, “Baiklah. Marilah kita mendekat.”

Tetapi sekelompok prajurit itu menjadi sangat berhati-hati. Mereka tidak berani memasuki padukuhan itu dengan kuda mereka yang berpacu. Jika kedua orang yang ternyata memiliki ilmu yang tinggi itu menjebak mereka maka akibatnya akan menjadi sangat parah.

Yang mula-mula memasuki regol itu adalah pemimpin kelompok prajurit itu dengan seorang kawannya. Baru kemudian prajurit yang lain dalam jarak beberapa langkah.

Namun ternyata mereka tidak menjumpai kedua orang berkuda itu. Jalan di hadapan mereka adalah jalan yang lengang. Apalagi hari masih gelap dan lampu masih tetap menyala di setiap rumah.

Prajurit-prajurit berkuda itu pun memasuki padukuhan itu semakin dalam. Tetapi kuda mereka tidak berpacu lagi. Dengan hati-hati pula mereka pun mendekati sebuah gardu perondan. Ketika masih ada tiga orang di dalam gardu itu, maka mereka pun mendekatinya.

Kedatangan mereka membuat ketiga orang itu menjadi gemetar. Sehingga karena itu maka ketiganya hampir tidak dapat beranjak dari tempatnya.

“He.“ bertanya pemimpin kelompok prajurit itu.

“Ya, ya tuan.”

“Apakah kalian melihat dua ekor kuda putih lewat jalan ini?”

“Ya tuan.“ jawab salah seorang dari mereka, “Baru saja.”

“Hanya dua?”

“Ya tuan. Hanya dua. Mereka berpacu seperti dikejar hantu sehingga kami menjadi kebingungan.”

Pemimpin prajurit berkuda itu mengangguk-angguk. Kemudian katanya, “Keduanya adalah buruan prajurit Singasari. Sayang kalian tidak berbuat apa-apa.”

“O. Tetapi kami tidak mengetahuinya. Dan seandainya kami mengetahuinya sekalipun, apakah yang dapat kami lakukan tuan. Kami hanyalah peronda-peronda yang tidak dapat berbuat apa-apa selain atas pencuri-pencuri kecil.”

Prajurit-prajurit Singasari itu mengangguk-angguk. Mereka menyadari bahwa yang ada di gardu itu adalah peronda-peronda. Mereka tentu tidak akan dapat berbuat apa-apa. Jangankan para peronda. Lima orang prajurit berkuda itu pun tidak berhasil menahan dan apalagi menangkap kedua orang berkuda putih itu.

Pemimpin prajurit Singasari itu pun kemudian telah mengambil keputusan dengan pasti. Mereka tidak akan dapat menangkap kedua orang berkuda putih itu.

“Jika prajurit yang terdahulu dapat menahan keduanya untuk waktu yang lebih panjang lagi, mungkin kita tidak akan kehilangan mereka sama sekali.“ berkata pemimpin prajurit berkuda itu.

Kawan-kawannya mengangguk-angguk saja. Tetapi mereka pun menyesali kegagalan itu. Jika mereka lebih cepat sedikit, maka persoalannya akan berbeda.

Sambil berkuda kembali, tiba-tiba saja pemimpin prajurit itu bertanya, “He, kenapa yang kita hadapi dua orang berkuda putih?”

“Ya, dua orang. Laporan yang kita terima menyebutkan hanya seorang. Dan bukankah Kesatria Putih itu hanya seorang?”

“Tetapi kita tidak berhadapan dengan Kesatria Putih. Kita berhadapan dengan orang lain. Kita tidak tahu apakah salah seorang dari mereka adalah Mahisa Agni.”

Prajurit-prajurit itu pun kemudian terdiam. Mereka tenggelam di dalam angan-angan masing-masing. Mereka mencoba untuk mencari-mencari jawa-ban, siapakah yang berkuda putih dan bahkan dua orang itu.

Ketika prajurit berkuda itu sampai di bulak panjang, maka mereka masih melihat kelima orang prajurit yang kehilangan kuda mereka masih berada ditempatnya. Agaknya mereka sedang menunggu. Namun ternyata diantara mereka kemudian terdapat dua orang penunggang kuda yang lain.

“Siapakah yang telah menyusul kita?” bertanya prajurit itu.

“Dua orang prajurit pengawal.“ desis yang lain.

Sebenarnyalah bahwa dua orang prajurit telah menyusul mereka yang mendahului untuk mengejar orang berpakaian putih dan berkuda putih itu.

Maka ketika para prajurit yang kembali dengan kegagalan itu sampai diantara kawan-kawan mereka, segera mereka bertanya, “Apakah ada pesan yang dibawa oleh kedua orang itu.”

“Kami hanya akan memberikan kepastian.“ jawab salah seorang dari keduanya, “Bahwa orang berpakaian putih itu bukan Mahisa Agni. Mahisa Agni masih tetap benda di bangsalnya bersama beberapa orang pengawalnya.”

“Keduanya bukan Mahisa Agni?“ bertanya pemimpin prajurit yang menghentikan pengejaran itu.

“Keduanya. Tetapi itulah yang aneh, bahwa ada dua orang penunggang kuda putih yang dalam pakaian putih. Tentu keduanya adalah orang yang berlainan.”

“Tentu. Apakah kau sedang bermimpi?”

“Aku hanya ingin mengungkapkan keherananku bahwa ada dua orang yang memakai pakaian putih itu.”

“Tetapi dengan demikian kita dapat menduga, bahwa yang kita hadapi bukannya sekedar seorang yang mencoba untuk membangunkan kembali kenangan atas Kesatria Putih. Tetapi benar-benar telah membentuk sekelompok orang dalam sikap yang pasti.”

“Dan itu adalah sangat berbahaya.”

“Kita akan melaporkan kepada para Panglima.“ Prajurit-prajurit itu mengangguk-anggukkan kepala. Tetapi mereka dibayangi oleh keragu-raguan karena sikap Tohjaya yang tidak berkepastian.

Demikianlah maka prajurit-prajurit itu pun segera kembali ke dalam kota. Yang kehilangan kudanya ikut di belakang kawannya yang datang kemudian. Namun dengan demikian kuda itu tidak dapat berlari terlalu cepat.

Ternyata peristiwa itu menjadi bahan pembicaraan yang menarik bagi setiap prajurit. Apalagi para Senapati dan para Panglima. Mereka dihadapkan pada kenyataan, bahwa meski pun orang berkuda putih itu bukan Mahisa Agni, namun memiliki kemampuan yang jauh lebih tinggi dari kemampuan para prajurit pilihan.

Seperti yang dilaporkan oleh kelima prajurit yang kehilangan keduanya, bahwa kedua orang berpakaian putih itu dengan sengaja tidak membunuh mereka yang sudah kehilangan kesempatan untuk melawan. Bahkan dengan tangan mereka dapat melemparkan prajurit-prajurit itu dari kudanya. Padahal mereka adalah prajurit dan pasukan berkuda yang seakan-akan telah menjadi satu dengan kuda-kuda mereka di peperangan. Namun mereka tidak mampu berbuat apa-apa dan terlempar jatuh, sehingga mereka telah kehilangan kuda mereka.

Para Panglima pun tidak dapat memalingkan kenyataan itu. Mereka harus dengan sungguh-sungguh menghadapi keadaan yang menjadi gawat. Kebakaran yang membuat suasana kota menjadi tegang itu masih belum terungkapkan, maka mereka sudah dagoncangkan oleh peristiwa berikutnya. Namun sebagian terbesar rakyat Singasari menarik garis hubungan antara kedua peristiwa itu meskipun ternyata tidak menemukan hubungan vang sebenarnya. Bahkan sebagian dari mereka justru menganggap kebakaran di rumah Lembu Ampal adalah dendam atas hilangnya Ranggawuni dan Mahisa Cempaka disusul oleh lenyapnya Lembu Ampal.

Namun bahwa kelima prajurit yang dikalahkan oleh kedua orang berpakaian putih itu sama sekali tidak mengalami cidera itu pun mendapat perhatian pula dari para Panglima dan Senapati.

“Orang itu memang ingin membangunkan ingatan kita kepada kesatria putih.“ berkata seorang Senapati, “Dan mereka sedang berusaha menarik perhatian dan pengaruh atas prajurit Singasari.”

Beberapa orang yang mendengarnya mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka pun sependapat bahwa tentu ada usaha yang lebih jauh dari pembakaran rumah dan sekedar mempertunjukkan kelebihan olah kanuragan.

“Satu hal yang menarik, bahwa Mahisa Agni tidak terlibat kedalamnya. Ternyata bahwa ia masih tetap berada di bangsalnya.“ berkata Senapati yang lain.

“Betapa pun tinggi ilmu kedua orang berkuda putih itu, tetapi aku kira mereka masih belum menyamai Mahisa Agni.“ sahut yang lain.

“Jadi, apa maksudmu?”

“Bagaimana jika kita pada suatu saat dapat mempergunakan Mahisa Agni?”

Pertanyaaan yang tiba-tiba saja timbul itu justru menegangkan setiap orang yang mendengarnya. Beberapa orang saling berpandangan sejenak. Lalu salah seorang Senapati berkata, “Mahisa Agni bagi kita adalah seseorang yang kini diselubungi oleh rahasia yang besar. Kita tidak tahu pasti sikapnya yang sebenarnya. la dengan mudah dapat dibawa kembali dari Kediri. Tetapi dibalik itu, ia dengan sengaja menunjukkan kekuatan pasukan Singasari yang ada di Kediri dan yang jelas berada dibawah pengaruhnya. Bahkan kemudian ia telah melanggar wewenang Maharaja Singasari dengan menunjuk seseorang menjadi penggantinya.”

“Tetapi seorang Panglima yang membawa tunggul kerajaan ada diantara mereka. Jika Panglima itu dengan kekuasaan yang dilambangkan pada tunggul kerajaan menolaknya, maka semuanya itu tidak akan dapat terjadi.”

“Menurut nalar memang demikian. Tetapi berhadapan dengan pasukan segelar sepapan, keadaannya akan berbeda.”

Yang lain mengangguk-angguk kecil. Dan Senapati itu meneruskan, “Kini Mahisa Agni ada di halaman istana dengan beberapa pengawal yang seakan-akan telah siap untuk membunuh diri jika diperlukan. Sungguh suatu sikap yang tidak dapat dimengerti. Tetapi tuanku Tohjaya tidak dapat berbuat apa-apa atasnya dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu.“ Senapati itu berhenti sejenak, lalu, “Dan sekarang, keadaan Singasari rasa-rasanya menjadi semakin parah. Tuanku Tohjaya seperti orang yang kehi-langan dirinya sendiri. Hubungannya dengan ibunda Ken Umang menjadi jauh, seperti tiba-tiba saja diantara mereka terentang jurang yang sangat dalam.”

“Agaknya memang terdapat perbedaan pendapat antara Tuanku Tohjaya dengan ibunda.“ potong yang lain.

“Itu wajar. Tetapi kali ini seolah-olah perbedaan pendapat itu tidak akan dapat bertemu sama sekali. Ibunda tuanku Tohjaya sudah sering berusaha mendekati puteranya. Tetapi tuanku Tohjaya seperti orang yang sudah menjadi bingung terhadap dirinya sendiri.”

Dan tiba-tiba saja seorang Senapati berkata, “Dan itukah orangnya yang kini memegang kekuasaan atas Singasari?”

Semua orang memandang Senapati itu. Terasa dada mereka bergetar. Namun seakan-akan kata-kata itu langsung menyusup ke dalam pusat jantung.

Namun bagaimanapun juga para Senapati itu tidak dapat mengambil sikap apapun. Mereka masih harus menilai keadaan berikutnya. Setelah orang-orang berkuda putih, lalu apa lagi yang bakal mereka lihat di dalam kota Singasari itu.

“Apapun sikap kalian secara pribadi, tetapi kalian adalah prajurit.“ berkata seorang Senapati yang sudah mulai beruban ujung rambutnya, “Karena itu kalian harus tetap bersiaga menghadapi segala kemungkinan. Sekarang kita melihat tuanku Tohjaya dalam keadaan yang tidak dapat kita mengerti itu, tetapi mungkin besok lusa keadaannya akan berubah, dan ia akan dapat berdiri tegak di atas dampar yang telah tersedia untuknya itu.”

Kawannya mengangguk-angguk.

“Nah, sebaiknya kita tetap berada di dalam tugas kita masing-masing.”

Ternyata prajurit Singasari tidak kehilangan akal apapun yang baru saja terjadi. Mereka masih dapat menahan diri untuk menunggu perkembangan keadaan selanjutnya. Namun mereka sependapat, bahwa orang berkuda putih itu tentu tidak akan menghentikan usaha mereka untuk menimbulkan kesan yang aneh pada prajurit-prajurit dan rakyat Singasari. Karena itulah maka setiap penjagaan justru telah diperkuat. Terutama regor yang memisahkan lingkungan kota Singasari.

Dalam pada itu, kedua orang berkuda putih itu pun setelah berhasil melepaskan diri dari para prajurit, segera kembali ketempat persembunyian mereka. Dengan senyum yang menghiasi bibirnya Mahendra, salah seorang dari kedua orang berkuda putih itu berkata, “Yang kita lakukan barulah langkah yang pertama.”

“Ya, agaknya memang demikian.“ sahut Witantra, seorang yang lain di atas kuda putih itu, “Selanjutnya, Lembu Ampallah yang akan mengambil bagian. Kita akan menunggu saat yang tepat untuk berbuat lebih banyak lagi. Prajurit Singasari agaknya telah menjadi bingung menghadapi keadaan yang tidak segera dapat mereka mengerti ini.”

Disaat-saat berikutnya, Lembu Ampal telah mengambil bagian pula untuk membuat Singasari menjadi semakin kisruh. Meskipun yang terjadi tidak pernah merenggut nyawa, tetapi kadang-kadang benar sangat mengganggu ketenangan. Sebuah jembatan kayu yang kuat telah roboh di malam hari. Suaranya bagaikan menggnocangkan padukuhan-padukuhan disekitarnya.

Ketika pada pagi harinya para prajurit mengadakan penelitian, maka dilihatnya tali temali jembatan itu telah putus. Tetapi nampak dengan jelas bekas-bekasnya, bahwa tali-tali yang putus itu adalah akibat dari kesengajaan. Bekasnya nampak jelas, guratan pada tali temali itu, sehingga mengakibatkan jembatan itu roboh sama sekali.

Para Panglima menjadi gelisah pula. Setiap malam penjagaan menjadi semakin diperkuat. Para prajurit terpercaya hampir tidak mendapat kesempatan untuk beristirahat sama sekali sehingga mereka nampak menjadi sangat letih.

“Kita tidak akan dapat tinggal diam.“ berkata Panglima pengawal.

“Tuanku Tohjaya tidak dapat dibawa berbicara dalam saat-saat terakhir.”

“Kita harus mencoba.”

Demikianlah para Panglima itu pun menghadap Tohjaya yang nampak kusut dan lemah. Ketika para Panglima menghadap, ia pun menjadi tegang dan bertanya, “Kalian akan mengganggu aku lagi?”

“Tuanku.“ berkata Panglima Pelayan Dalam, “Tuanku adalah seorang Maharaja dari sebuah negara yang besar, yang mempersatukan banyak telatah yang terbentang dari ujung Barat sampai keujung Timur. Sudah sewajarnyalah bahwa tuanku memperhatikan keadaan Singasari sebaik-baiknya.”

“Kau menggurui aku he?“ bentak Tohjaya.

“Ampun tuanku. Hamba tentu tidak akan berani berbuat demikian. Jika hamba menghadap tuanku, sebenarnyalah hamba semuanya akan mohon perlindungan tuanku.”

Tohjaya mengerutkan keningnya. Lalu ia pun mulai bertanya, “Ada apa sebenarnya?”

Panglima Pelayan Dalam itu menarik nafas dalam-dalam. Dengan hati-hati ia berkata, “Tuanku, hamba sekalian yang menghadap adalah pengemban perintah tuanku. Para Panglima dan Senapati. Seperti yang pernah tuanku dengar, bahwa Singasari telah diguncangkan oleh peristiwa-peristiwa yang kurang dapat hamba mengerti. Karena itu, sebaiknya tuanku memanggil para pemimpin pemerintahan dan para pemimpin keprajuritan. Apakah yang sebaiknya kita lakukan bersama untuk mengatasi persoalan yang berlarut-larut ini.”

Tohjaya tidak segera menjawab. Kali ini agaknya ia mau mendengarkannya. Tetapi tiba-tiba saja ia membentak, “Itu adalah persoalan kalian. Kalian adalah prajurit dari kesatuan manapun juga. Kalianlah yang berkuwajiban untuk menenteramkan kekisruhan semacam itu. Bukan orang lain. Apakah yang dapat kau ketemukan dari para pamimpin pemerintahan?”

“Tuanku, para pemimpin pemerintahan akan dapat memberikan banyak petunjuk. Mungkin ada persoalan-persoalan yang langsung atau tidak langsung menyangkut ketidak puasan beberapa golongan dari lingkungan. Menurut ceritera, kehancuran Kediri pada masa pemerintahan Tumapel dipegang oleh Sri Rajasa adalah karena Kediri tidak menghiraukan persoalan yang timbul dikalangan rakyatnya. Pertentangan antara Sri Maharaja Kediri dengan para pemimpin agama.”

“Persetan dengan Kediri. Kediri adalah negara kecil yang lemah, yang tidak lagi dapat mempertahankan dirinya sendiri. Tentu kau tidak dapat memperbandingkannya dengan Singasari yang besar sekarang ini. Dan jika kau mengangkat kalian pada pimpinan keprajuritan, tentu dengan harapan bahwa kalian dapat mengatasi semua kesulitan.”

Para Panglima hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Dan tiba-tiba saja seorang Panglima berkata, “Tuanku, apakah sudah cukup jika hamba sekalian ini berusaha untuk meredakan keadaan semata-mata dengan memperhatikan bidang kami. Maksud hamba sekalian, apakah sudah cukup dengan kekerasan saja. Jika kita hanya melakukan kekerasan, maka yang kita selesaikan adalah persoalan yang ada dipermukaan saja. Kita tidak menghentikan sebab dari kekisruhan itu.”

“Aku tidak peduli. Itu adalah urusanmu. Kau akan dapat berbuat apa saja. Tetapi jangan ganggu aku.”

“Tuanku.“ berkata Panglima pasukan tempur yang masih agak muda, “Apakah dengan demikian tuanku mernpercayakan segalanya kepada hamba sekalian ini?”

Tohjaya membelalakkan matanya. Katanya, “Kalian adalah orang-orang yang paling bodoh. Jika aku mengangkat kalian pada jabatan kalian sekarang ini tentu aku percaya kepada kalian. Pergilah. Lakukanlah kuwajiban kalian dengan baik, agar aku tidak memaksa kalian untuk mengundurkan diri atau memaksa kalian untuk membunuh diri di hadapanku.”

Para Panglima itu berpandangan sejenak. Tohjaya benar-benar tidak dapat diajak berbicara lagi.

“Apakah dengan demikian berarti Singasari tidak lagi diperintah oleh seorang Maharaja?“ pertanyaan itu timbul disetiap hati. Baik para Panglima, Senapati maupun para prajurit yang kemudian mendengar persoalan itu.

Tetapi para Panglima memang tidak dapat membiarkan keadaan semakin memburuk, yang dapat mereka lakukan untuk sementara adalah memperkuat penjagaan disegala tempat. Di pintu-pintu gerbang dan di gardu-gardu parondan di dalam kota. Bahkan peronda yang berkeliling pun gelombangnya dipersingkat dan dengan demikian hampir setiap saat nampak beberapa orang prajurit di sepanjang jalan.

Namun dalam pada itu, diantara penjagaan yang ketat, telah timbul kecurigaan yang semakin mendalam diantara para prajurit. Bahkan para Panglima dan Senapati selalu bertanya di dalam hati, apakah salah seorang dari mereka beserta pengikutnya telah membuat kekacauan itu. Selagi semua perhatian tertuju kepada pengamanan kota, maka orang itu telah mempersiapkan diri untuk merebut kedudukan Tohjaya yang sebenarnya memang sudah tidak dapat dianggap sebagai pelindung lagi.

Dan yang paling parah, setiap orang dapat disangka berbuat demikian. Setiap orang dapat dituduh ingin memanfaatkan keadaan yang goyah itu untuk kepentingan pribadi masing-masing.

Karena itu, maka setiap orang mencoba untuk mengingat pada saat dua orang berkuda putih itu dikejar-kejar oleh beberapa orang prajurit, siapakah yang tidak nampak pada pusat pimpinan bersama untuk mengemudikan perintah pengamanan di dalam kota.

Tetapi mereka tidak segera menemukan. Pada saat berita bahwa orang berkuda putih itu lewat regol kota, maka,setiap Panglima pun segera medapat pemberitahuan, dan mereka telah berkumpul untuk mengawasi langsung usaha penangkapan yang gagal itu. Bahkan ketika seorang Senapati melihat kebangsal Mahisa Agni, maka ia pun berada di bangsalnya pula.

Ketidak pastian sikap dan keragu-raguan telah menguasai hati setiap Panglima. Dipertajam lagi oleh kecurigaan dan ketidak percayaan yang satu dengan yang lain. Dengan demikian maka mereka pun tidak membicarakan setiap persoalan dengan terbuka.

Pada saat yang demikian itulah maka Lembu Ampal menganggap bahwa saatnya memang sudah masak. Namun demikian ia masih minta kepada Witantra dan Mahendra untuk sekali-sekali mengganggu para prajurit dengan kuda dan pakaian putihnya. Bahkan pada suatu saat Mahendra telah menyerang sekelompok peronda di dalam kota. Begitu tiba-tiba ia meloncat dari kegelapan. Meskipun ia tidak berkuda putih, tetapi pakaiannya masih menunjukkan ciri penunggang kuda putih.

“Kalian tentu mengenal Kesatria Putih.“ berkata Mahendra.

“Omong kosong. Kesatria Putih adalah tuanku Anusapati.”

“Aku adalah Anusapati.“ berkata Mahendra yang menutup sebagian wajahnya dengan kerudung putihnya.

“Bohong. Tuanku Anusapati sudah wafat.”

“Seperti kau lihat, aku masih hidup.”

“Tentu bukan tuanku Anusapati. Anusapati telah wafat di arena sabung ayam.”

“Kenapa?”

Prajurit itu termangu-mangu sejenak. Meskipun ia tidak melihat sendiri, tetapi setiap orang pernah mendengar, terutama para prajurit, bagaimana Anusapati terbunuh oleh Tohjaya. Meskipun demikian, setiap prajurit pendukung Tohjaya, seakan-akan mempunyai kuwajiban untuk tidak menyebutkannya.

Karena itu, maka prajurit itu pun kemudian menjawab, “Tuanku Anusapati terbunuh dalam kerusuhan yang terjadi. Para pengawal tidak dapat mengendalikan kebencian yang meluap kepada tuanku Anusapati saat itu.”

Orang berkerudung putih itu tertawa. Katanya, “Kau berbohong. Dari sorot matamu aku menangkap bahwa kau tidak berkata sebenarnya.”

“Aku berkata sebenarnya.“ jawab prajurit itu.

Suara tertawa dari balik kerudung putih itu terdengar semakin keras. Katanya disela-sela suara tertawanya, “Tentu tidak. Akulah yang paling mengetahui persoalan yang menyangkut diriku sendiri.”

“Bohong.“ teriak seorang prajurit yang lain, “Kau bukan tuanku Anusapati.”

“Aku akan membuktikannya nanti.“ berkata orang berkerudung putih, “Tetapi cobalah berkata dengan jujur.”

“Jangan memancing.“ sahut prajurit yang lain lagi.

“Aku tidak memancing. Tetapi jika kau tidak berkata dengan jujur, maka kau akan menyesal. Aku adalah Anusapati.”

Kata-kata itu merasa menusuk jantung para prajurit itu. Tetapi pemimpin mereka kemudian menjawab, “Jangan hiraukan. Ia adalah seorang yang menganggap kami terlampau dungu. Kami tahu pasti, bahwa orang berkerudung putih itu bukan tuanku Anusapati. Mereka telah melakukan kesalahan, karena pada suatu saat mereka muncul bersama-sama. Dua orang berkerudung putih dan menunggang kuda putih. Jika Kesatria Putih itu tuanku Anusapati maka ia tidak akan dapat menjadi dua.”

Suara tertawa orang berkerudung putih itu menjadi semakin keras. Katanya, “Wadagku tidak lagi seperti wadagmu. Aku sudah mencapai kesempurnaan. Juga penguasaan atas wadagku dan ujud halusku. Aku dapat nampak seperti dua, tiga atau lebih.”

“Omong kosong.”

“Nah, dengarlah. Aku tahu pasti tentang diriku. Aku telah dibunuh bukan oleh rakyat Singasari seperti yang aku katakan. Tetapi oleh adinda Tohjaya dengan keris Empu Gandring. Nah, apakah kau juga mengetahui bahwa keris bertangkai dahan cangkring itu akulah yang memberikannya kepada adinda Tohjaya itu? Selagi aku asyik memperhatikan ayam yang bersabung tanpa taji, maka aku telah ditusuknya. Dan aku disangkanya mati. Tetapi aku tidak mati. Justru aku kini mencapai tingkat ilmu yang tidak akan terjangkau oleh siapa pun juga. Termasuk ujudku yang dapat kalian lihat menjadi dua atau tiga.”

Para prajurit itu menjadi termangu-mangu sejenak. Ada sedikit kebimbangan di dalam hati mereka. Namun akhirnya pemimpin prajurit itu pun berkata lantang, “Kau hampir berhasil menakuti kami. Tetapi kami memang tidak sedungu yang kau sangka. Jika kau benar-benar tuanku Anusapati, maka bukti yang paling baik kau berikan adalah membuka wajahmu. Kami semuanya telah mengenal dengan baik wajah tuanku Anusapati, sehingga tentu tidak akan ada keragu-raguan lagi.”

Sejenak orang berkerudung putih itu tidak menjawab. Namun kemudian suara tertawanya terdengar lagi. Katanya, “Kalian memang benar-benar orang bodoh. Orang yang sudah mencapai kesempurnaan seperti aku, maka tidak ada lagi yang dapat dikenal dari batasan ujud. Aku dapat merubah ujudku menjadi apapun juga, seperti menjadi berapa pun juga.”

Tetapi pemimpin prajurit itu menggeram. Katanya, “Kita tidak ada waktu untuk berbicara seperti orang gila. Sekarang, jangan biarkan orang ini berbicara lagi. Tangkap orang itu dan kita akan mendapatkan keterangan daripadanya tentang permainan-permainan gila pada saat terakhir yang terjadi di Singasari.”

Para prajurit itu pun tidak menunggu perintah lebih banyak lagi. Mereka pun segera bergerak mengepung orang berpakaian serba putih itu.

“Menyerahlah.“ berkata pemimpin peronda itu.

“Kalian tidak dapat memaksa aku.“ sahut orang berkerudung putih itu.

Tetapi prajurit-prajurit itu tidak menjawab lagi. Mereka pun segera mempersempit kepungan itu, dan senjata mereka pun sudah mulai teracu.

Orang berkerudung putih itu masih tetap diam ditempatnya. Sekali-sekali ia memandang ujung-ujung senjata itu dengan wajah yang kosong.

“Menyerahlah.“ pemimpin peronda itu berkata, “Jika kau menyerah, persoalannya akan menjadi lebih baik bagimu. Tetapi jika kau melawan, maka akibatnya akan kau sesali nanti.”

Orang itu tidak menyahut.

“Cepat, menyerahlah.”

Orang berkerudung putih itu kemudian menjawab perlahan, “Apakah kalian memang ingin menangkap aku.”

“Ya. Kali ini kau tidak akan dapat lolos. Seandainya kau berhasil melepaskan diri dari tangan kami, kami akan segera membunyikan isyarat. Setiap gardu perondan dan peronda yang sedang hilir mudik pun akan segera bertindak sehingga kau tidak akan mempunyai kesempatan apapun lagi.”

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Dilihatnya ujung senjata yang teracu kepadanya.

“Ayo cepatlah menyerah.“ perintah pemimpin peronda itu.

Orang berkerudung putih itu masih berdiam diri sejenak. Dengan tajamnya ia memandangi orang-orang yang mengepungnya dengan senjata terhunus itu.

“Cepat.“ teriak pemimpin peronda itu. “Atau kami akan beramai-ramai membunuhmu.”

“Apakah untungnya kalian membunuhku? Kalian tentu ingin menangkap aku hidup-hidup.”

“Ya, apabila mungkin. Tetapi jika tidak, maka kami akan membunuhmu. Dengan demikian maka kekacauan di daerah ini akan berkurang.”

“Tidak ada gunanya. Aku masih akan tetap berkeliaran untuk membebaskan rakyat Singasari dari kekuasaan orang yang telah membunuhku. Membunuh Kesatria Putih.”

Pemimpin peronda itu tidak bersabar lagi. Dengan lantang ia berkata, “Tangkap orang itu. Jika ia melawan, maka tidak ada jalan lain kecuali melumpuhkannya dengan kekeras-an. Ia akan kita peras sampai menyebutkan keterangan tentang dirinya. Atau kita hukum picis di simpang empat.”

Namun para peronda itu terkejut, la melihat orang itu bergetar. Kemudian diluar kemampuan pengamatan mereka, maka orang itu sudah berada di luar kepungan.

Pemimpin peronda itu termangu-mangu sejenak. Wajahnya menjadi tegang. Namun ia pun segera menyadari keadaannya dan berteriak, “Bunuh saja orang itu.”

Serentak para peronda itu menyerang. Tetapi orang berkerudung putih itu sudah siap dengan senjata di tangannya. Sehingga dengan demikian maka mereka pun segera terlibat dalam pertempuran yang seru.

Namun ternyata menangkap atau membunuh orang berkerudung putih itu memang tidak semudah yang mereka sangka. Beberapa kali para peronda itu seolah-olah kehilangan jejak lawannya. Dengan tegang mereka mendengar orang berkerudung putih itu tertawa di belakang mereka sambil berkata, “Aku ada di sini.”

Pemimpin peronda itu menjadi semakin marah. Tetapi juga sepercik keheranan bahwa kemudian mengarah kepada perasaan cemas, bahwa lawannya benar-benar Anusapati yang justru sudah mencapai kesempurnaan.

Namun demikian ia adalah seorang prajurit. Karena itu, maka ia pun bertempur terus dengan sekuat tenaganya.

Tetapi perkelahian itu sama sekali tidak menarik lagi. Para peronda lebih banyak menjadi bingung daripada bertempur. Setiap kali mereka berdiri tegang jika mereka kehilangan lawannya yang mampu bergerak secepat tatit yang berloncatan di langit.

“Jangan bingung.“ berkata orang berkerudung putih itu, “Jika kalian dapat menangkap hantu, kalian akan dapat menangkap aku.”

Kata-kata itu benar-benar telah membuat bulu-bulu tengkuk mereka meremang. Lawan mereka itu benar-benar seperti hantu yang dapat bergerak tanpa menyentuh tanah.

Meskipun demikian, mereka masih mencoba untuk tetap bertabah hati. Mereka masih menyerang terus. Ketakutan dan kecemasan mereka semakin lama menjadi semakin tajam menusuk jantung. Tetapi karena sampai saat terakhir belum ada di antara mereka yang terluka apalagi terbunuh, mereka pun masih juga mencoba untuk bertempur.

“Kami tidak dapat menyentuhnya.“ berkata salah seorang dari mereka di dalam hati, “Tetapi agaknya hantu putih itu pun tidak dapat menyentuh kami.”

Karena dugaan itu, maka beberapa orang diantara masih mencoba terus. Namun mereka bertanya juga di dalam hati, “Jika demikian, apakah gunanya kita bertempur. Tentu tidak akan ada akhirnya sampai kami pingsan kelelahan.”

Tetapi tiba-tiba saja orang-orang yang bertanya-tanya di dalam hati itu terkejut ketika salah seorang dari prajurit itu berdesis tertahan. Sepercik darah mereka memancar dari luka yang tergores di bahunya. ”Luka.“ salah seorang dari mereka menggeram.

Sebenarnyalah bahwa orang berkerudung putih itu bukan sekedar bayangan hantu yang tidak dapat disentuh dan tidak dapat menyentuh. Karena salah seorang dari mereka ternyata telah terluka di pundak. Meskipun luka itu agaknya tidak parah, tetapi darah telah mengalir dari luka itu.

Selagi para prajurit itu termangu-mangu, maka orang berkerudung putih itu berkata di antara suara tertawanya. “Jangan terkejut. Aku dapat membuat luka lebih dalam lagi di pundak, bahu bahkan di perutmu. Tetapi aku kira itu tidak akan ada gunanya karena Kesatria Putih sama sekali tidak ingin memusuhi kalian. Yang aku lakukan sekarang adalah memberitakan kehadiranku. Sebentar lagi Anusapati akan kembali ke atas tahta Singasari. Jika aku sendiri tidak lagi memerlukan kedudukan itu, maka anakku lah yang akan datang kepada kalian dan memerintah kalian seperti aku sendiri melakukannya.”

Para prajurit itu menjadi bingung sejenak. Tetapi ketika suara tertawa orang berkerudung putih itu mereda, maka pemimpin peronda itu pun menyadari keadaannya. Lawannya bukan hantu, tetapi seseorang yang memiliki ilmu tiada taranya. Karena itu, maka ia pun segera meneriakkan aba-aba untuk membunyikan isyarat.

Sejenak kemudian terdengar suara kentongan memecah sepi yang menyelubungi kota. Dan suara itu pun kemudian menjalar dari kentongan yang satu ke kentongan yang lain, sehingga seluruh kota menjadi sibuk karenanya. Para prajurit segera bersiaga. Sebagian ada di gardu masing-masing, sedang yang lain dengan kesiagaan yang tertinggi, menyusuri jalan-jalan kota untuk menemukan orang yang selama itu telah mengganggu ketenangan kota Singasari. Mereka pasti bahwa orang berkerudung putih itu telah berada di dalam kota karena mereka sudah bersetuju untuk memberikan tanda yang khusus jika salah seorang prajurit melihat orang berkerudnng putih itu ada di dalam kota.

Dalam pada itu, maka setiap regol pun seolah-olah telah tertutup rapat. Tidak ada seekor kelinci pun yang dapat keluar meninggalkan kota tanpa menembus penjagaan. Bahkan lorong-lorong sempit yang menghubungkan kota dengan daerah di luarnya pun mendapat pengawasan dengan saksama. Bukan saja peronda vang berjalan dari sebuah mulut lorong kemukit lorong yang Iain, tetapi beberapa orang prajurit dan para peronda disetiap padukuhan dengan berdebar-debar menunggui lorong- lorong itu tanpa mengedipkan mata.

Orang yang memakai kerudung putih itu pun mendegar bahwa diseluruh kota telan terdengar bunyi tanda yang khusus baginya. Namun ia masih sempat tertawa dan berkata, “Tidak ada gunanya. Tidak ada seorang pun dari isi Singasari yang dapat menangkap aku.”

“Kami akan menghubungi Mahisa Agni. Kau akan ditangkapnya dan di cincangnya.“ sahut seorang prajurit dengan tiba-tiba.

Sejenak orang berkerudung putih itu terdiam. Tetapi kemudian ia menjawab, “Mahisa Agni seolah-olah sedang ditawan di dalam bangsalnya Setiap kali ia keluar, maka para prajurit selalu mengawasinya. Apalagi jika ia keluar dari halaman istana. Karena itu, ia tidak akan dapat melakukan seperti yang kau katakan.”

“Untuk kepentingan seperti ini, ia tentu tidak akan berkeberatan.”

Orang berkerudung putih itu tertawa, katanya, “Tetapi ternyata bahwa ia tidak keluar dari bangsalnya meskipun ia mendengar suara tengara itu. Aku tidak akan cemas sama sekali. Tetapi aku harus pergi. Jika aku tidak pergi, dan para prajurit yang lain datang mengepungku, maka korban akan berjatuhan. Aku tidak akan sekedar menggores pundak atau punggung atau lengan. Tetapi aku akan menyobek lambung dan barangkali memenggal kepala sampai putus.”

“Kau tidak dapat pergi.“ bentak pemimpin prajurit itu. Dan berbareng dengan itu, maka yang lain pun telah mengepungnya pula.

Tetapi seperti yang telah terjadi, orang itu dengan mudahnya dapat menembus kepungan itu sambil berkata, “Tunggulah. Sebentar lagi kawan-kawanmu akan datang. Tetapi aku sudah pergi jauh sekali. Selamat tinggal kawan-kawan yang baik.”

Belum lagi gema suaranya lenyap, orang berkerudung putih itu pun telah meloncat dan lenyap ke dalam lorong sempit.

Para prajurit itu mencoba untuk mengejarnya. Tetapi karena orang berkerudung putih itu menyusup ke dalam lorong dan seperti anak panah yang terlepas dari busurnya, meluncur dengan cepat sekali, maka prajurit-prajurit itu tidak mengejarnya lagi. Adalah sangat berbahaya untuk menyusulnya dalam urutan seorang demi seorang. Karena seorang demi seorang itu akan dengan mudah dapat menjadi umpan senjatanya.

Karena itu, maka prajurit-prajurit itu pun kemudian berhenti termangu-termangu di mulut lorong. Mereka memandang ke dalam kekosongan karena orang berkerudung putih itu telah lenyap.

Sejenak kemudian maka kelompok yang pertama dari prajurit peronda berkuda telah datang. Dengan serta-merta prajurit-prajurit yang baru saja bertempur itu pun menceriterakan apa yang telah terjadi.

“Orang itu masuk ke dalam lorong ini.“ berkata pemimpin kelompok peronda yang sudah bertempur itu.

“Kenapa kau biarkan saja?”

“Kami sudah bertempur. Seorang kawan kami terluka.”

Peronda yang berkuda itu pun kemudian berbicara di antara mereka sejenak, lalu mereka pun memutuskan untuk mengejarnya dan minta agar perajurit yang telah bertempur itu memberitahukan kepada peronda-peronda berikutnya untuk mengepung tempat itu.

Demikianlah maka beberapa orang berkuda itu pun menyusul menyusup ke dalam lorong sempit itu. Tetapi mereka pun sadar bahwa cara itu bukan cara yang sebaik-baiknya karena orang berkerudung itu akan dengan mudahnya bersembunyi di halaman sebelah menyebelah lorong itu.

Namun, sejenak kemudian prajurit-prajurit Singasari yang sigap telah mengepung tempat itu. Setiap ujung lorong telah dijaga sebaik-baiknya.

“Tidak ada peronda yang bertemu dengan seorang pun di jalan-jalan kota.“ berkata seorang Senapati, “Jika benar orang itu memasuki padesan itu, maka ia tentu masih ada disana. Kita akan mengepungnya dan mencari dari rumah kerumah yang lain sampai pagi. Jika kita menemukan orang yang mencurigakan, maka orang itu harus ditangkap dan dibawa kepadaku.”

Demikianlah desa itu bagaikan tertutup. Setiap jengkal dinding yang mengelilinginya mendapat mengawasan dengan saksama sehingga tidak akan ada seorang pun yang dapat keluar dari desa itu tanpa diketahui oleh para penjaga.

Selain penjagaan yang rapat di desa itu, maka di setiap pintu gerbang kota dan lorong-lorong pun masih tetap dijaga oleh para prajurit dan peronda-peronda dari padesan masing-masing.

Seperti yang dikatakan oleh Senapati itu, maka para prajurit pun mulai mencari orang berkerudung putih itu.

Tetapi agaknya memang tidak terlalu mudah melakukannya. Meskipun setiap jengkal tanah di setiap halaman seolah-olah telah terinjak oleh para prajurit, namun mereka tidak menemukan orang yang dicarinya.

“Tentu orang itu sudah melepaskan kerudung putihnya.“ berkata setiap prajurit. Namun kemudian timbul pertanyaan, “Siapakah di antara laki-laki penghuni desa itu yang pantas dicurigai?”

Bersambung.....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...