Kamis, 28 Januari 2021

BARA DI ATAS SINGGASANA JILID 28-02

BARA DI ATAS SINGGASANA : JILID-28-02
Akan tetapi bukan saja para perwira itu yang mengetahui bahwa pihak istana menaruh perhatian yang besar sekali. Dari pembicaraan beberapa orang prajurit, Sumekar pun mengetahui, bahwa ada beberapa petugas sandi yang mendapat tugas mencari jejak tentang Witantra itu.

Dalam pada itu, semua laporan tentang Witantra itu sudah sampai ditelinga Sri Rajasa. Seperti apa yang dapat ditangkap oleh para petugas sandi, maka tidak ada keterangan yang pasti yang dapat dijadikan bahan untuk menentukan apakah yang sebenarnya akan dilakukan oleh Witantra.

Namun demikian ada seorang petugas sandi yang mempunyai keterangan yang agak lain dari kawan-kawannya.

“Witantra menyebut-nyebut nama Mahisa Agni tuanku,” berkata petugas sandi itu ketika ia dipanggil menghadap.

“Apa katanya?”

“Ia hanya bertanya, dimanakah sekarang Mahisa Agni itu. Apakah ia masih tetap berada di Kediri, karena menurut pendengarannya Mahisa Agni menjadi seorang Senapati Agung yang bertugas di Kediri sebagai wakil Mahkota. Atau sudah mendapatkan jabatan lain.”

“Apa lagi?”

“Hanya itu tuanku. Hamba tidak mendapatkan bahan yang lain. Sedang yang dibicarakan Witantra itu pada umumnya adalah persoalan yang tidak ada sangkut pautnya dengan pemerintahan. Kadang-kadang ia berbicara tentang jalan-jalan yang ramai, sawah yang hijau dan rumah kawan-kawannya yang menjadi perwira di Singasari.”

Sri Rajasa mengerutkan keningnya. Namun dari keterangan itu Sri Rajasa mendapatkan suatu arah betapapun samarnya, bahwa Witantra masih menaruh perhatian terhadap Mahisa Agni.

“Mudah-mudahan Witantra masih mendendamnya.”

Naman ternyata setelah itu, Sri Rajasa tidak pernah mendapat keterangan apapun lagi tentang Witantra. Meskipun ada juga seorang dua orang yang melaporkan bahwa Witantra tampak berada di dalam kota, namun sama sekali tidak menarik perhatian orang, karena ia tidak berbuat apa-apa.

“Aku dapat menjadi gila,” berkata Ken Arok kemudian ketika ia berada di dalam bilik Ken Umang.

Ken Umang yang masih nampak jauh lebih muda dari Permaisuri yang sakit-sakitan itu, mendekatinya sambil berkata, “Tuanku, persoalannya sudah jelas bagi tuanku. Sebenarnya hamba ingin mengajukan suatu sikap yang akan dapat menolong keadaan. Tetapi justru karena hamba adalah ibu Tohjaya, maka hamba berada di dalam kesulitan.”

“Kenapa?”
“Orang dapat menuduh hamba, semata-mata sikap hamba itu didorong oleh ketamakan dan kebencian.”

Sri Rajasa tidak segera menjawab. Dipandanginya wajah Ken Umang sejenak.

Sambil tersenyum Ken Umang beringsut mendekat, ia duduk di atas sebuah kulit harimau hasil buruan Sri Rajasa di samping tempat duduk Sri Rajasa sendiri yang beralaskan kulit seekor ular raksasa.

“Tuanku,” Ken Umang bergesar mendekatinya. Kemudian sambil bersandar pada kaki Sri Rajasa Ken Umang berkata, “Memang tuanku harus segera mengakhiri keadaan yang tidak menentu sekarang ini. Hamba tahu bahwa tuanku menjadi ragu-ragu. Tetapi hamba pun tahu, siapakah sebenarnya puteranda Anusapati itu, karena hamba tahu saat-saat perkawinan tuanku.”

“Banyak orang yang mengetahui siapakah sebenarnya Anusapati, karena setiap orang yang umumnya berkisar di antara kita dapat menghitung saat perkawinanku dan saat kelahiran Anusapati.”

“Nah,” berkata Ken Umang, “sebenarnya tidak ada persoalan lagi. Kasar atau halus, tuanku dapat melakukannya. Sedang tuanku sendiri mempunyai putera laki-laki yang akan dapat menggantikan kedudukan tuanku. Jika tuanku membiarkan keadaan ini berlangsung terus, maka sebenarnyalah tuanku dapat terganggu. Lahir dan batin.”

Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu tidak menyahut.

“Tuanku, jika hamba bukan ibu Tohjaya, hamba akan dapat dengan leluasa menyampaikan pendapat hamba. Tetapi justru karena itulah, maka hamba menjadi ragu-ragu. Tuankulah yang akan dapat menentukan, apakah yang sebaiknya tuanku lakukan. Tetapi segera. Tidak dengan ragu-ragu dan condong kepada kebingungan. Ternyata seperti sikap tuanku. Tuanku memanggil Tohjaya, namun kemudian tuanku tidak menjatuhkan perintah. Hamba tahu bahwa perintah itu sudah siap. Tetapi tuanku ragu-ragu, sehingga tuanku mengurungkannya.”

Sri Rajasa tidak segera menyahut. Tetapi setiap kali ia bertemu dengan Ken Umang, rasa-rasanya sudah jatuhlah keputusannya untuk menyingkirkan Anusapati dan Mahisa Agni, apapun akibatnya. Baginya Permaisurinya Ken Dedes sudah tidak begitu banyak diperlukan lagi. Ken Dedes itu menjadi semakin cepat tua dan sakit-sakitan.

Namun setiap saat ia teringat, bahwa ada sesuatu yang lain pada Ken Dedes, hatinya menjadi berdebar-debar. Ken Dedes nemiliki sesuatu kurnia dari Yang Maha Agung yang tidak dimiliki oleh Ken Umang. Cahaya yang tidak dapat dimengertinya itu setiap kali dapat dilihatnya.

“Tuanku,” berkata Ken Umang kemudian, “apakah sebenarnya yang membuat tuanku ragu-ragu? Mungkin kemampuan Mahisa Agni dan pengaruhnya? Tentu tuanku akan dapat mengatasinya karena Mahisa Agni tidak akan sekuat Sri Baginda di Kediri yang dapat tuanku kalahkan itu. Sedang pengaruhnya pun tidak akan sebesar para Panglima dan Senapati yang lain, karena sudah lama ia berada di Kediri. Jika tuanku memperhitungkan pengaruhnya di Kediri, maka dapat diperhitungkan bahwa Kediri sekarang tentu tidak akan mampu berbuat apa-apa.” Ken Umang berhenti sejenak. Lalu, “Tuanku, hamba pun mendengar apa saja yang dikatakan oleh Mahisa Agni di paseban itu. Bukankah itu sudah suatu sikap yang pasti untuk menantang tuanku, merendahkan kekuasaan tuanku dan seakan-akan suatu pameran kekuatan bahwa Mahisa Agni sama sekali tidak takut terhadap kuasa tuanku, selain dengan sengaja menghinakan para pemimpin yang lain.”

Ken Arok masih tetap berdiam diri.

“Nah, hamba persilahkan tuanku mempertimbangkan semuanya itu, karena hamba tidak berhak berbuat apapun selain memberikan sedikit pertimbangan yang barangkali tidak berarti apa-apa bagi tuanku.”

Sri Rajasa masih tetap tidak menyahut sepatah katapun. Dipandanginya bintik-bintik di kejauhan seolah-olah dicarinya sesuatu di antara kekosongan di kejauhan.

Ken Umang tidak mendesaknya lagi. Dibiarkannya Sri Rajasa merenungi kata-katanya. Ken Umang itu masih tetap yakin bahwa Sri Rajasa akan lebih percaya kepadanya daripada kepada Ken Dedes, apalagi kelemahan yang ada pada keturunan Ken Dedes itu ialah bahwa Anusapati adalah anak Tunggul Ametung.

Sejenak kemudian, setelah bergolak dengan dahsyatnya, dada Ken Arok seakan-akan mulai terbuka. Seakan-akan Ken Arok melihat sebuah jalan lurus yang harus ditempuhnya. Satu-satunya jalan, karena tidak ada pintu lain yang terbuka baginya.

Betapapun jalan itu lewat celah-celah lorong yang mengerikan, namun setapak demi setapak rasa-rasanya Ken Arok sudah memasuki pintu itu, didorong oleh tangan-angan halus Ken Umang dan puteranya yang penuh dengan nafsu.

“Aku harus mengadakan persiapan sebaik-baiknya,” berkata Ken Arok di dalam hatinya, “aku harus bertemu dengan orang-orang yang dapat aku percaya.”

Namun Ken Arok itu pun menarik nafas dalam-dalam sambil berdesah di dalam dirinya, “Apakah aku akan berhasil tanpa mengganggu keutuhan Singasari. Sekian lama aku bekerja untuk mempersatukan Singasari. Dan kini aku sendiri akan menimbulkan perpecahan di dalamnya.”

Tetapi Ken Arok memang tidak melihat jalan lain. Yang harus dilakukan adalah menyingkirkan Anusapati dan Mahisa Agni dengan akibat yang sekecil-kecilnya.

Itulah sebenarnya yang diharapkan oleh Ken Umang. Dan ia yakin bahwa yang diharapkan itu akan terjadi.

Demikianlah, dihari berikutnya, Ken Arok memanggil beberapa orang Senapati. Untuk tidak memberikan kesan yang mencurigakan, maka beberapa orang itu menghadap tidak berdasarkan waktunya. Bahkan juga Panglima pasukan pengawal yang menurut pendapatnya, akan dapat dipergunakannya sebagai perisai jika terjadi sesuatu.

“Kita tidak dapat menunda lagi,” berkata Sri Rajasa kepada penasehatnya, yang sekaligus guru Tohjaya di dalam olah kanuragan, “Anusapati harus disingkirkan. Beberapa orang Senapati sudah siap untuk melakukannya. Dan cara yang akan aku tempuh adalah cara yang paling kecil akibatnya.”

Para Senapati harus dengan diam-diam mengambil Anusapati dan membawanya keluar istana untuk diselesaikan. Tentu di malam hari. Pasukan Pengawal akan diatur oleh Panglimanya, sehingga ketika terjadi hal itu, para pengawal tidak akan berada di tempatnya kecuali yang memang dapat dipercaya dan dapat dibawa bekerja bersama.”

“Tetapi pekerjaan itu akan sangat sulit tuanku. Tuanku Anusapati memiliki kemampuan secara pribadi.”

“Tentu, jika kalian harus bertempur seorang lawan seorang. Tetapi kalian akan menghadapinya dengan beberapa orang Senapati.”

“Disaat yang ditentukan aku akan memanggilnya. Jika ia mengetahuinya dan tentu akan berbuat sesuatu, di seluruh Singasari tidak ada orang lain yang dapat dihadapkan kepadanya selain aku sendiri. Untuk sementara kita dapat, melupakan Witantra. Aku kira ia tidak akan berbuat sesuatu. Syukurlah jika ia justru sedang mencari Mahisa Agni untuk membuat perhitungan atas kekalahannya diarena disaat kematian Akuwu Tunggul Ametung waktu itu.”

“Baiklah tuanku. Hamba akan melaksanakannya. Memang tidak ada jalan lain dari jalan kekerasan. Tentu kami akan memperhitungkan semua pihak yang dapat mengganggu usaha ini. Tetapi jika tuanku menghendaki kami bertindak langsung di dalam istana ini, maka soalnya akan menjadi lebih mudah.”

“Kami akan memaksakan keadaan ini kepada para Panglima dan rakyat Singasari sebagai suatu keharusan. Anusapati adalah orang lain bagiku.”

Penasehat Sri Rajasa itu pun merasa, bahwa telah datang waktunya ia menunjukkan jasa yang paling besar bagi Sri Rajasa dan Tohjaya. Ia harus dapat menyingkirkan Anusapati kasar atau halus. Bahkan jika terpaksa dengan pertempuran terbuka.

“Tentu tidak akan banyak yang berpihak kepadanya. Panglima Pasukan Pengawal akan mengatur, bahwa di saat yang ditentukan itu, para petugas di istana ini adalah orang-orang yang dapat dipercaya.”

Demikianlah penasehat Sri Rajasa itu telah melakukan tugasnya dengan cermat. Dihubunginya Panglima Pasukan Pengawal. Ia tahu benar, bahwa Panglima itu terlalu setia kepada Sri Rajasa. Demikian pula beberapa orang Senapati dan prajurit yang akan dapat diajaknya bekerja bersama.

“Baiklah,” berkata seorang Senapati, “tentukan, kapan kita akan melakukannya.”

“Secepatnya. Kita akan segera bertindak sebelum Anusapati dan Mahisa Agni mengetahuinya.”

“Mereka tidak akan tahu rencana ini.”

“Diistana ini ada sejumlah pengkhianat.”

Sebenarnyalah bahwa Sumekar telah tertarik kepada perubahan-perubahan yang terjadi di istana. Beberapa orang prajurit yang dikenalnya mulai membicarakan kebijaksanaan yang baru. Perubahan yang tidak pada tempatnya telah terjadi di dalam tugas-tugas para prajurit, di dalam dan diluar istana. Prajurit-prajurit yang bertugas sehari-hari, tiba-tiba saja telah ditarik dari istana dan orang-orang barulah yang menggantikannya di tempat-tempat terpenting.

Sumekar yang mempunyai penglihatan yang tajam tidak dapat membiarkan semuanya terjadi di luar pengetahuan Mahisa Agni. Karena itu, maka ia pun segera menemuinya dan mengatakan apa yang dilihatnya sejak hari ini.

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Sebenarnya perubahan-perubahan semacam itu adalah perubahan yang wajar di dalam tugas keprajuritan.”

“Mungkin. Tetapi aku mempunyai firasat yang lain kali ini. Tentu dalam waktu yang singkat akan terjadi sesuatu. Jika tidak hari ini, tentu malam nanti.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Katanya kepada Sumekar, “Mungkin kau benar Sumekar. Karena itu bersiaplah. Adalah lebih baik jika kau dapat mengambil Witantra dan kau bawa masuk ke dalam istana ini.”

“Sekarang?”

“Jika malam gelap. Tetapi jika terjadi sesuatu sebelum gelap, tentu kita tidak sempat memberitahukan kepadanya.”

“Baiklah. Aku akan berada di taman sehari penuh. Jika terjadi sesuatu, aku berada di dalam taman itu.”

“Baiklah. Aku akan menemui Anusapati.”

Dengan dada yang berdebar-debar Mahisa Agni pun kemudian menemui Anusapati di bangsalnya. Ketika ia melihat para penjaga bangsal itu, hatinya menjadi berdebar-debar. Prajurit-prajurit itu sama sekali bukan prajurit yang biasanya bertugas di bangsal itu.

“Semuanya cepat berubah,” berkata Mahisa Agni di dalam hatinya, “di beberapa hari terakhir, agaknya Sri Rajasa dan orang-orangnya sudah siap untuk melakukan rencana terakhirnya. Sudah tentu, bahwa Sri Rajasa terpaksa melakukannya dengan kekerasan untuk menempatkan Tohjaya menjadi searang Putera Mahkota.”

Tetapi ternyata dihari itu, tidak terjadi sesuatu. Anusapati yang sudah bersiap menghadapi segala kemungkinan, masih saja tinggal di dalam bangsalnya. Mahisa Agni masih belum memberikan isyarat apapun juga. Sedang Sumekar yang berada di dalam taman dan kadang-kadang hilir mudik di halaman membawa lodong bambu masih juga belum melihat perkembangan keadaan yang memuncak.

Karena itulah, maka ketika senja turun, ia berusaha untuk pergi ke rumah persembunyian Witantra di dalam kota Singasari.

Sumekar ternyata hanya memerlukan waktu yang pendek. Keduanya kemudian dengan hati-hati meloncat masuk kedalam halaman istana.

“Bersembunyilah di dalam taman,” berkata Sumekar kepada Witantra, “aku akan berusaha menemui Mahisa Agni.”

“Apa kau tidak akan dicurigai?”

“Aku akan membawa bibit pohon soka, yang dapat aku pakai sebagai alasan. Menanam pohon soka memang sebaiknya di malam hari.”

“Baiklah, tetapi hati-hatilah.”

Sumekar pun kemudian pergi untuk menemui Mahisa Agni. Dengan berdebar-debar ia melihat beberapa orang prajurit yang tampaknya mulai bersiap-siap. Bahkan dilihatnya penasehat Sri Rajasa berjalan tergesa-gesa di depan bangsal Mahisa Agni. Hati Sumekar menjadi berdebar juga ketika dilihatnya Panglima Pasukan pengawal ada pula di antara beberapa orang prajurit yang sedang bertugas.

“Apakah sesuatu bakal terjadi malam ini?” bertanya Sumekar kepada diri sendiri, “jika demikian, apakah kekuatan yang dapat dipergunakan oleh Anusapati untuk menyelamatkan dirinya dan keluarganya. Sejauh-jauh yang dapat dilakukan adalah melontarkan, isyarat itu kepada Kuda Sempana dan Mahendra. Tetapi di halaman ini adalah berpuluh-puluh prajurit pilihan, termasuk Sri Rajasa sendiri.”

Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Akhirnya kelembutan hati Mahisa Agni telah menempatkan Anusapati dalam kesulitan. Akhirnya bahwa Sri Rajasa lah yang telah, bersiap lebih dahulu menghadapi Putera Mahkota itu, yang sebenarnya adalah bukan puteranya sendiri.”

Dalam kecemasan itu, akhirnya Sumekar menemukan jalan lain yang justru akan dilakukan. Jalan yang sama sekali tidak diketahui oleh Mahisa Agni dan bahkan oleh Anusapati sendiri.

“Aku akan bertindak atas tanggung jawabku sendiri. Sebelum terjadi pembunuhan atas tuanku Anusapati, aku harus segera bertindak.”

Meskipun demikian, ia melanjutkan langkahnya membawa sebatang bibit pohon soka mendekati bangsal Mahisa Agni.

Dihalaman bangsal itu Sumekar telah dicegat oleh dua orang prajurit. Dengan kasar salah seorang dari mereka menyapa, “Siapa kau?”

“Apakah kau tidak dapat mengenal aku?” bertanya Sumekar.

Prajurit itu termangu-mangu. Lalu, “Sebut siapa namamu.”

“Aku Pangalasan dari Batil.”

“O. juru taman. Tetapi apa kerjamu malam-malam begini?”

“Aku akan menanam pohon soka seperti yang dipesan oleh tuanku Mahisa Agni.”

“Kenapa tidak besok siang?”

“Menanam pohon noka hanya dapat dilakukan malam hari.”

“Bohong, kau sangka aku tidak mengerti tentang tanaman? Aku adalah bekas seorang juru taman pada jaman pemerintahan Akuwu Tunggul Ametung. Tetapi kemudian aku mendapatkan warisan ilmu sehingga aku berhasil mengikuti pendadaran untuk menjadi seorang prajurit.”

“O, jika demikian seharusnya kau tahu, bahwa menanam pohon soka sebaiknya pada malam hari. Mungkin dapat dilakukan disiang hari, tetapi hasilnya tidak akan memberi kepuasan.”

Prajurit itu termenung. Tanpa disadarinya dicobanya untuk mengingat kembali, apa yang pernah dilakukan pada saat ia menjadi juru taman. Namun ia sudah tidak dapat mengingat apapun lagi.

Karena itu, maka katanya, “Cepat, lakukan.”

Sumekar pun dengan tergesa-gesa memasuki halaman bangsal itu. Namun ia masih berpura-pura bertanya, “Dimana aku harus menanam pohon ini?”

“Aku tidak tahu.”

“Jika demikian, apakah kau dapat bertanya kepada tuanku Mahisa Agni.”

“Kenapa aku?”

“Aku tidak berani. Tolong katakan kepadanya.”

“Aku tidak peduli. Itu bukan urusanku.”

Sumekar berdiri termangu-mangu sejenak. Namun ia tersenyum di dalam hati. Kesempatan itulah yang memang ditunggunya.

Demikianlah akhirnya ia berhasil bertemu dengan Mahisa Agni, dan mengatakan apa yang telah dilihatnya.

“Kau pun sudah diawasi,” berkata Sumekar.

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Nah, kita agaknya sudah terlambat.”

Mahisa Agni menggelengkan kepalanya, “Tidak. Aku masih mempunyai jalan. Apakah kau bertemu dengan Witantra?”

“Ya.”

“Bagaimana dengan Kuda Sempana dan Mahendra?”

“Aku hanya memanggil Witantra. Ia sudah berada di dalam taman.”

“Baiklah. Tetapi usahakan agar mereka semuanya berada di dalam istana ini. Mereka harus berada di bangsalku. Aku akan membicarakan sesuatu yang penting dengan mereka dan kau.”

“Sekarang?”

“Ya. Panggil mereka.”

Sumekar menjadi termangu-mangu sejenak. Lalu katanya. “Tetapi bagaimana jika semuanya, ini akan segera terjadi?”

“Jika begitu, minta Witantra memanggil keduanya. Kau mengawasi keadaan sebaik-baiknya.”

“Tetapi, apakah yang dapat kita kerjakan hanya bersama dengan mereka bertiga.”

“Kita sudah bertiga dengan Anusapati.”

“Tetapi di halaman ini ada berpuluh-puluh prajurit yang agaknya sudah mendapat petunjuk-petunjuk yang pasti.”

“Karena itu, panggil mereka. Aku masih mempunyai jalan.”

Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya, “Baiklah, aku akan menghubungi Witantra. Biarlah ia datang ke bangsal ini, akulah yang akan menjemput Kuda Sempana dan Mahendra yang ada di rumah itu juga.”

“Cepat. Sebelum semuanya terjadi. Sementara itu aku akan mempersiapkan semua rencana. Jangan beri tahu Anusapati lebih dahulu. Aku akan berada di halaman, supaya aku dapat melihat kesiagaan mereka yang semakin meningkat. Suruhlah Witantra langsung memasuki lewat pintu belakang. Hati-hatilah. Para prajurit agaknya benar-benar bersiap.”

Sumekar melangkah meninggalkan Mahisa Agni. Namun tiba-tiba ia teringat, “Tetapi, aku mengatakan kepada para penjaga, bahwa aku akan menanam pohon soka.”

“Tinggalkan. Jika kau kembali bersama Kuda Sempana dan Mahendra, kau tidak usah melalui halaman bangsal ini.”

Sumekar pun mengetahui apa yang harus dikerjakan. Karena itulah maka ia pun segera pergi meninggalkan Mahisa Agni. Di halaman depan para prajurit menegurnya, katanya, “Sudah selesai?”

“Tuanku Mahisa Agni marah bukan main.”

“Kenapa?”

“Kau memang gila. Aku sudah memperingatkan bahwa sebaiknya besok pagi saja.”

“Ya, aku menyesal. Tetapi menanam pohon soka hanya dapat dilakukan di malam hari, maksudku, yang paling baik dilakukan di malam hari.”

“Dimana pohon sokamu itu?”

“Diinjak2 sampai lumat. Tetapi anehnya, aku harus mencari lagi. Justru Kembang Soka Kuning, jenis yang paling sulit dicari.”

Para prajurit itu tertawa. Dipandanginya juru taman itu dengan ibanya. Namun mereka tidak dapat menolongnya, karena mereka sendiri belum pernah melihat jenis Kembang Soka yang berwarna kuning.

Sepeninggal Sumekar, maka Mahisa Agni pun kemudian membenahi dirinya. Tetapi betapapun ia mencemaskan keadaan, tetapi Mahisa Agni tidak menganggap perlu membawa senjata. Tangannya yang dapat dialiri dengan aji Gundala Sasra dan sekaligus Kala Bama dalam bentuknya yang sesuai, adalah semata yang tidak kalah dahsyatnya dari segala macam jenis semata tajam maupun senjata-senjata yang lain.

Ketika ia keluar dari bangsalnya dilihatnya beberapa orang prajurit berada di halaman. Seperti biasanya Mahisa Agni pun menyapa mereka dengan ramahnya. Namun kali ini para prajurit itu menjawabnya dengan ragu-ragu.

“He, apakah kalian tidak pernah bertugas di bangsal ini?” bertanya Mahisa Agni kepada prajurit-prajurit itu.

Pemimpin peronda itu pun menjawab dengan termangu-mangu, “Belum. Eh, maksud kami, kami memang belum pernah bertugas di regol ini, tetapi sudah sering bertugas di bagian lain.”

“Dimana?”

Pemimpin peronda itu menjadi semakin bingung, sehingga ia menjawab penuh kebimbangan, “Di Istana bagian dalam.”

“He, bagian dalam yang mana? Apakah ada bagian luar dan bagian dalam.”

Prajurit itu menjadi semakin bingung. Katanya, “Maksudku, istana yang baru.”

“O, maksudmu kau sering bertugas dibagian yang baru dari istana ini. Jelasnya di bangsal yang didiami oleh tuan puteri Ken Umang dan yang lain yang didiami oleh tuanku Tohjaya.”

“Ya. ya.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Dan kau sekarang mendapat tugas baru disini.”

“Ya. menurut panglima, sudah saatnya kita saling bertukar tempat di dalam tugas kami, agar kami tidak selalu berada di tempat yang sama sepanjang kami menjadi prajurit.”

“Bagus. Itu adalah usaha yang bagus sekali,” berkata Mahisa Agni, “nah, bertugaslah dengan baik. Aku akan berjalan-jalan sebentar.”

“Berjalan-jalan?” prajurit itu menjadi heran, “sudah terlampau malam tuan masih akan berjalan-jalan.”

“Malam?” bertanya Mahisa Agni, “kau ini seperti seekor ayam saja,” berkata Mahisa Agni sambil tertawa, “baru saja senja tenggelam. Biasanya aku keluar hampir sampai tengah malam. Bahkan kadang-kadang lebih.”

Prajurit itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Sudah barang tentu bahwa mereka tidak akan dapat mencegahnya.

Demikianlah para prajurit itu hanya dapat memandangi langkah Mahisa Agni yang menyusup kedalam gelap. Namun demikian rasa-rasanya mereka telah mengabaikan tugas mereka jika mereka tidak tahu, kemana Mahisa Agni itu pergi.

Karena itu, maka pemimpin peronda itu pun memerintahkan seseorang untuk mengawasi kemana Mahisa Agni itu pergi.

Namun ternyata bahwa orang itu kurang dapat menguasai keadaan. Ia tidak memperhitungkan kemampuan Mahisa Agni sehingga dengan mudah Mahisa Agni dapat, mengetahui bahwa seseorang telah mengikutinya.

Prajurit yang mengikuti itu menjadi bingung ketika tiba-tiba saja orang yang harus diawasinya itu hilang. Mahisa Agni yang berjalan perlahan-lahan di dalam kegelapan itu tiba-tiba saja seperti dapat lenyap menembus bumi.

“Gila,” desis prajurit itu, “dimanakah orang itu bersembunyi?”

Dengan hati-hati ia melangkah mendekati gerumbul yang ada didekat tempat Mahisa Agni menghilang. Namun ketika ia sampai ditempat itu, ternyata ia tidak menjumpai seorang-pun.

“Aneh,” desisnya, “apakah aku sedang mengikuti sesosok hantu?”

Namun dengan demikian hatinya menjadi berdebar-debar. Seakan-akan ia benar-benar berhadapan dengan hantu yang dapat menghilang dan kemudian menampakkan diri.

Ketika ia sudah yakin bahwa ia tidak akan dapat menemukan Mahisa Agni, maka dengan kesal ia pun meninggalkan tempat itu. Dengan tergesa-gesa ia berjalan kembali ke tempat tugasnya dengan berbagai macam perasaan yang kisruh.

Tetapi hampir terlonjak prajurit itu ketika ia melihat seseorang berjalan sambil menyilangkan tangannya di punggung. Selangkah demi selangkah, seakan-akan tidak menghiraukan apa pun lagi.

“Tuan,” prajurit itu menyapanya.

“O, siapa kau?”

“Bukankah tuan Mahisa Agni?”

“Ya, kenapa? Aku ingin berjalan-jalan. He, apakah kau prajurit yang bertugas di regol bangsalku?”

“Ya tuan.”

“Kenapa kau disini? Bukankah kau masih ada di regol ketika aku berangkat berjalan-jalan? Dan kenapa tiba-tiba saja kau sudah berada disini?”

Orang itu menjadi bingung. Seharusnya ialah yang bertanya kepada Mahisa Agni. Namun justru kini Mahisa Agni lah yang bertanya kepadanya.

“He, kenapa kau diam saja?” desak Mahisa Agni.

“Tidak, maksudku aku memang berjalan-jalan.”

“Akulah yang berjalan-jalan bukan kau.”

“O,” orang itu menjadi semakin bingung, “maksudku tuan, aku juga berjalan-jalan untuk mengendorkan ketegangan.”

Mahisa Agni memandangi prajurit itu sejenak. Namun ia pun kemudian tertawa sambil berkata, “Aku memang sudah ketinggalan. Agaknya memang sudah menjadi peraturan, bahwa setiap prajurit yang sedang bertugas diperkenankan berjalan-jalan untuk mengendorkan ketegangan, sekaligus dengan membawa senjatanya sekali.”

Terasa dada prajurit itu berdesir. Ia merasa sindiran yang halus tetapi tepat mengenai sasarannya. Meskipun begitu prajurit itu tidak dapat berbuat apapun juga. Sehingga karena itu, maka jawabnya, “Hanya suatu kesempatan tuan. Bukan peraturan.”

Mahisa Agni menepuk bahu prajurit itu sambil berkata, “Cepat, kembali kepada tugasmu. Itu jika kau sudah selesai mengendorkan ketegangan?”

“Ah.”

“Tetapi ketegangan apakah sebenarnya yang mencengkammu.”

Prajurit itu tidak menjawab. Karena itu, maka Mahisa Agni pun berkata, “Baiklah, cepat kembali. Mungkin kawan-kawanmu memerlukan kau.”

Prajurit itu pun kemudian dengan tergesa-gesa kembali kedalam biliknya. Namun disepanjang langkahnya, ia tidak henti-hentinya bertanya-tanya kepada diri sendiri, bagaimana dapat terjadi, bahwa Mabisa Agni yang diikutinya itu begitu saja telah hilang dan yang tanpa diduga-duganya ditemuinya di jalan kembali kegardunya.

“Benar-benar anak iblis,” katanya di dalam hati, “tentu bukan manusia biasa yang dapat melakukannya.”

Ketika prajurit itu sampai di regol halaman bangsal Mahisa Agni, maka ia pun segera menceriterakan pengalamanya itu kepada kawan-kawannya. Sebagian dari mereka menjadi terheran-heran dan berkata, “Itulah sebabnya, ia diangkat menjadi Senapati Agung di Kediri.”

Namun pemimpin peronda itu berkata, “Kau tentu dibayangi oleh ketakutan saja.”

“Omong kosong. Selagi ia masih berdiri di atas tanah ia tidak akan dapat melenyapkan dirinya. Percayalah bahwa ia tidak lebih dari seorang prajurit biasa. Hanya kesempatan sajalah yang membuatnya menjadi orang terkemuka di Singasari. Jangan kau sangka bahwa tidak ada orang lain yang memiliki kelebihan tetapi belum mendapat kesempatan. Sebenarnya aku ingin melihat dan bahkan mengalami, betapa tingginya ilmu orang yang bernama Mahisa Agni dan juga orang yang bergelar Kesatria Putih itu.”

“Putera Mahkota?” bertanya seorang kawannya.

“Ya, Putera Mahkota. Ceritera tentang mereka sama dahsyatnya. Tetapi aku belum pernah melihat kebenaran dari ceritera itu.”

“Semua orang pernah mendengar bahwa Mahisa Agni pernah membunuh Senapati Agung dari Kediri.”

“Dan siapakah yang mengetahui sebenarnya, betapa tinggi ilmu Senapati Agung Kediri itu? Mungkin yang disebut Senapati Agung Kediri itu tidak lebih tangguh dari kau atau salah seorang prajurit yang memiliki sedikit kelebihan. Nah, bukankah dengan demikian kemenangannya itu bukan ukuran dari keperwiraannya.”

“Ah,” berkata prajurit yang lain, “kau jangan mencoba ingkar. Kau tentu mengetahui bahwa Kesatria Putih pernah membunuh beberapa orang yang ternyata adalah prajurit-prajurit Singasari dan melemparkan senjata mereka di muka pintu gerbang?”

“Aku berkata tentang Mahisa Agni,” sahut pemimpin peronda itu.

“Tetapi bukankah kau juga menyebut Kesatria Putih.”

Pemimpin prajurit yang sedang berjaga-jaga itu tidak menyahut.

“Dan kau tentu juga mengetahui, bahwa Putera Mahkota itu adalah anak kemenakan Mahisa Agni. Ilmu yang dimilikinya pun tentu keturunan ilmu Mahisa Agni.”

Pemimpin peronda itu masih tetap berdiam diri.

Kawannya pun tidak berkata lebih lanjut. Mereka untuk beberapa lamanya saling berdiam diri dan duduk berserakan, selain yang bertugas di depan tangga bangsal.

Dalam pada itu, Mahisa Agni yang berjalan-jalan di halaman melintasi gerumbul-gerumbul bunga mendekati bangsal Anusapati. Namun ia tidak ingin menimbulkan kecurigaan pada para prajurit yang bertugas. Karena itu, ia berusaha untuk berlindung di balik dedaunan.

Seperti yang dikatakan oleh Sumekar, memang di halaman istana malam itu ada beberapa kesibukan. Tetapi menurut perhitungan Mahisa Agni tentu belum akan dilakukan malam ini. Ia melihat prajurit yang terpencar-pencar, dan sama sekali tidak ada pemusatan yang lebih besar di dalam maupun di luar istana.

Meskipun demikian, Mahisa Agni memang tidak boleh lengah. Itulah sebabnya, maka ia ingin dapat bertemu dengan Witantra, Kuda Sempana dan Mahendra. Karena mereka tidak mempunyai pasukan yang cukup apabila diperlukan, dan memang hal itu sama sekali bukan menjadi tujuan Mahisa Agni, maka ia masih berusaha untuk menemukan jalan lain yang lebih baik.

Setelah beberapa lama ia mengamat-amati bangsal Anusapati, maka Mahisa Agni itu pun segera meninggalkan tempatnya dan kembali ke bangsalnya sebelum para penjaganya menjadi curiga pula.

“Siapa lagi yang sedang berjalan-jalan?” bertanya Mahisa Agni ketika ia sampai di muka regol bangsalnya.

Beberapa orang prajurit menjadi termangu-mangu. Tetapi prajurit yang mengetahui sindirian itu pun menjadi tersipu-sipu. Tetapi ia tidak menjawab sama sekali.

Karena tidak ada seorang pun dari mereka yang menjawab, maka Mahisa Agni itu pun kemudian berkata, “Baik-baiklah di dalam tugas kalian. Aku selalu berterima kasih kepada kalian, karena keselamatanku tergantung kepada kalian malam ini. Selamat malam.”

Pemimpin peronda itu mengerutkan keningnya. Ternyata bahwa Mahisa Agni adalah seorang pemimpin yang ramah.

Hampar diluar sadarnya ia menjawab seperti kepada seorang sahabatnya yang karip, tidak seperti terhadap seorang Senapati Agung, “Baiklah, selamat malam.”

Pemimpin peronda itu terkejut sendiri atas jawabannya itu. Tetapi ia tidak sempat mengulanginya karena Mahisa Agni pun telah melangkah meninggalkannya.

Pemimpin peronda itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “jarang sekali terdapat Senapati besar seramah Mahisa Agni.” Namun tiba-tiba ia menyambung dengan serta-merta, “Tetapi itu bukan karena kebaikan hati. Itu adalah karena ia merasa bahwa ia tidak lebih dari seorang anak Padepokan di Panawijen.”

Para prajurit itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Seperti terbangun dari mimpi mereka. Mereka menyadari sesungguhnya, sehingga setiap anggapan bahwa Mahisa Agni adalah seorang yang baik akan dapat mengurangi kesungguhan mereka menjalankan tugas itu.

Ternyata belum lagi Mahisa Agni menutup pintu bangsalnya rapat, ternyata seorang Senapati yang lain telah mendatangi regol itu. Kepada pemimpm prajurit yang bertugas ia berkata, “Aku mengemban tugas Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi.”

Pemimpin peronda itu mengangguk dalam-dalam sambil berkata, “Silahkan. Baru saja tuan Mahisa Agni masuk ke dalam bangsal.”

“Baru saja?” bertanya perwira itu.

“Ya.”

“Darimana?”

“Sekedar berjalan-jalan di dalam halaman ini.”

Perwira itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu, “Apakah tidak ada seorang pun yang mengikutinya?”

“Hanya di halaman ini.”

“Ya, tetapi setidak-tidaknya kalian tahu apa yang dilakukan di halaman ini.”

“Seorang dari kami mengikutinya dari kejauhan. Tetapi ia tidak berbuat apa-apa,” jawab pemimpin peronda itu sambil memandang kepada prajurit yang mengikuti Mahisa Agni tetapi gagal.

Prajurit itu tidak membantah, meskipun dadanya terasa bergetaran.

“Baiklah,” berkata perwira itu, “aku akan bertemu dengan Mahisa Agni atas perintah Sri Rajasa.”

“Silahkan. Tentu tuan Mahisa Agni masih belum masuk kedalam biliknya.”

Perwira itu pun kemudian naik tangga bangsal Mahisa Agni. Perlahan-lahan ia mengetuk pintu bangsal itu.

“Siapa?” bertanya Mahisa Agni yang ternyata masih duduk di ruang dalam.

“Aku, utusan Sri Rajasa.”

Mahisa Agni terkejut. Jarang sekali terjadi, utusan Sri Rajasa datang di malam hari. Hanya apabila ada persoalan yang sangat penting sajalah, maka ia dipanggil menghadap di malam hari.”

Namun demikian, Mahisa Agni harus melakukan apapun bunyi perintah itu. Meskipun demikian ia menjadi berdebar-debar, karena ia sudah terlanjur menyuruh Sumekar membawa Witantra dan kawan-kawannya masuk ke dalam bangsalnya lewat pintu butulan di belakang.

Dengan ragu-ragu Mahisa Agni melangkah mendekati pintu. Ada juga kecurigaan yang bergejolak di dalam hatinya. Karena itu, maka ia pun harus berhati-hati. Ia tidak tahu pasti, berapa orangkah yang datang pada saat itu. Dan apakah hal itu ada hubungannya dengan sikap para prajurit-prajurit di regol yang mencoba mengikutinya?

Perlahan-lahan Mahisa Agni meraba pintu bangsalnya. Kemudian dengan hati-hati dan penuh kewaspadaan ia membuka pintu itu.

Mahisa Agni menarik nafas ketika ia melihat seorang perwira berdiri dimuka pintu, dan yang kemudian menganggukkan kepalanya.

“O, kau,” sapa Mahisa Agni, “silahkan masuk.”

Perwira itu melangkah masuk kedalam. Kemudian mereka pun duduk di atas dingklik kayu yang dialasi dengan kulit domba berwarna hitam.

“Kakang Mahisa Agni,” berkata perwira itu, “kedatanganku kemari sekedar menjalankan perintah Sri Rajasa.”

“Ya. Apakah perintah itu.”

“Kakang Mahisa Agni,” berkata perwira itu, “besok di bangsal paseban dalam akan diadakan sidang terbatas. Kakang diharap hadir di dalam sidang itu.”

“O, sidang terbatas?”

“Ya, ada sesuatu yang harus segera diselesaikan. Karena itu kakang diharap hadir di dalam sidang itu.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Firasatnya tiba-tiba saja telah menyentuh perasaannya. Karena itu, maka ia mengambil kesimpulan di dalam hatinya, “Tentu ada sesuatu yang benar-benar penting. Bukan saja bagi Singasari, tetapi juga bagi Anusapati.”

Bersambung.....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...