BARA DI ATAS SINGGASANA : JILID-25-01
Anusapati tidak menjawab. Tetapi ia tidak lagi berusaha untuk melepaskan tangan ibunya yang memeluknya erat-erat seperti memeluk anak-anak yang sedang menangis meronta-ronta.
“Anusapati,” suara ibunya lirih tetapi serasa meresap sampai ke pusat jantung, “endapkan perasaanmu. Jangan kau biarkan hatimu melonjak-lonjak. Aku mengerti perasaanmu anakku. Bahwa kau seakan-telah melihat wajahmu sendiri di wajah air yang bening tenang. Seolah-olah kau melihat bahwa wajahmu bukan lagi wajah keturunan dewa-dewa, tetapi kau melihat dirimu sebagai manusia biasa. Tetapi jangan menyesali diri. Bahwa apa yang kita terima dari yang Maha Agung adalah yang paling baik buat kita.”
Anusapati tidak menjawab. Kepalanya perlahan-lahan tertunduk dalam-dalam. Terasa di dada ibunya, nafas anaknya yang seakan-akan mengalir seperti banjir.
“Duduklah Anusapati.”
Anusapati tidak dapat menilai sikapnya sendiri. Perlahan-lahan ia duduk di atas dingklik kayu dan ibunya-pun melepaskannya dari pelukannya.
“Jangan terbakar oleh kenyataan yang memang harus kau hadapi.”
Anusapati mengangguk. Dengan suara yang parau ia berkata, “Ibu, jika demikian, maka siapakah sebenarnya hamba? Siapakah Akuwu Tunggul Ametung dan siapakah ibunda sendiri dihadapan Akuwu dan Sri Rajasa.”
“Anusapati,” berkata ibunya kemudian, “seperti yang aku katakan, aku adalah Permaisuri Akuwu Tunggal Ametung di Tumapel. Tetapi ketika aku sedang mulai mengandung, maka Akuwu Tunggul Ametung meninggal dunia. Dalam kesepian yang pedih, hadirlah seorang anak muda bernama Ken Arok, sehingga akhirnya aku dikawininya. Karena itulah maka kau lahir setelah aku menjadi Permaisuri Ken Arok yang menggantikan kedudukan Akuwu Tunggul Ametung.”
Wajah Anusapati yang tunduk menjadi semakin tanduk. Namun dalam pada itu, di dalam dadanya bergolak berbagai macam perasaan. Kadang-kadang ia dapat mengerti apa yang telah terjadi. Tetapi keagungan cintanya kepada ibunya, rasa-rasanya melonjak ketika ia mendengar, bahwa ibundanya kawin dengan Ken Arok begitu cepat setelah ayahnya meninggal, sehingga ketika ia lahir ibundanya telah menjadi Permaisuri Ken Arok, yang menggantikan kedudukan Akuwu Tunggul Ametung.
Demikianlah maka rasa-rasanya ibundanya sama sekali tidak menjadi berduka cita atas kematian ayahandanya. Bahkan dengan segera ia telah berhasil menggantungkan cintanya kepada orang lain.
Dan tiba-tiba saja, di luar sadar bibirnya telah bergetar dan melontarkan kata-kata, “Apakah ibunda tidak mencintai Akuwu Tunggul Ametung?”
Ken Dedes terkejut mendengar pertanyaan itu. Sehingga ia-pun bertanya, “Kenapa kau bertanya begitu?”
“Ibu, jika ibu mencintai ayahanda Akuwu Tunggul Ametung seperti yang ibu katakan, apakah ibu dapat melakukannya? Belum lagi api pembakaran mayat ayahanda padam, ibunda telah melangsungkan perkawinan dengan orang yang ibunda sebut bernama Ken Arok dan yang kemudian menjadi Akuwu di Tumapel, dan yang sekarang ini bergelar Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi?”
“Kau salah mengerti anakku. Aku mencintai ayahandamu Akuwu Tunggul Ametung. Kematiannya membuat aku kesepian dan kehilangan pegangan. Pada saat itu hadir orang yang dapat memberi aku jalan pelepasan.”
“Dan ibu segera melupakan ayahanda dan kawin dengan laki-laki itu. Bukan saja ibunda dikawininya, tetapi hak atas Tumapel itu-pun sekaligus ibunda serahkan kepadanya.”
“Anusapati.”
Dan tiba-tiba saja Anusapati menjadi kehilangan pengamatan dirinya. Tekanan perasaan yang tidak tertahankan membuatnya bagaikan terbakar. Karena itu maka katanya kemudian dengan suara parau, “Jika ibunda mencintai ayahanda Akuwu Tunggul Ametung, maka tidak begitu mudahnya ibunda mencintai orang lain. Dan jika ibunda tidak mencintai Sri Rajasa, ternyata ibunda adalah seorang yang mendambakan nafsu semata-mata.”
“Anusapati.”
“Ibunda. Bukankah yang terjadi sekarang ini akibat dari perbuatan dosa ibunda itu? Hambalah yang sekarang harus menanggung akibatnya. Dihinakan dan disisihkan dari hubungan kasih keluarga tanpa mengetahui sebab musababnya. Baru sekarang hamba tahu, bahwa bukan salah Sri Rajasa, bukan salah Tohjaya dan bukan salah siapa-pun juga. Sebenarnyalah bahwa hamba memang bukan keluarga mereka. Dan hamba memang pantas untuk dihinakan dan dijauhkan dari kasih keluargaku.”
“Cukup Anusapati, cukup. Aku sudah mengatakan, bahwa akulah yang bersalah. Akulah yang telah berbuat dosa. Tetapi bukan maksudku untuk membuat kau menderita karenanya. Meskipun kau bukan putera Sri Rajasa, tetapi kau tetap mendapatkan hakmu sebagai Putera Mahkota.”
“Apakah artinya kedudukan itu sekarang ibunda. Hamba pasti sudah menjadi sampah di halaman istana ini jika tidak ada paman Mahisa Agni. Hamba pasti tidak akan bernilai lebih baik dari seorang juru taman jika paman Mahisa Agni tidak berbuat sesuatu yang mengagumkan atas hamba. Paman Mahisa Agnilah yang membuat hamba diterima oleh rakyat Singasari karena mereka menganggap bahwa hambalah Kesatria Putih itu seutuhnya. Dan itu adalah hasil perbuatan paman Mahisa Agni, seperti juga kemampuan yang hamba miliki sekarang, sehingga hamba selamat dari kematian oleh tangan Kiai Kisi.”
Ken Dedes terhenyak dipembaringannya. Dengan kedua belah tangannya ia menutup wajahnya yang basah karena air mata. Namun agaknya dada Anusapati masih juga pepat, sehingga ia masih juga berkata, “Dan sekarang hamba harus melihat bahwa diri hamba sebenarnya tidak lebih dari seorang anak yang sudah tidak berbapa. Hamba adalah seorang yang memang sebenarnya tidak berharga bagi Sri Rajasa, karena hamba adalah anak orang lain. Anak yang ditinggalkan didalam perut ibunda oleh orang yang sama sekali tidak ada hubungan dan sangkut pautnya dengan Ken Arok. Bahkan hamba adalah manusia yang paling terkutuk dimata Ken Arok itu karena setiap kali Sri Rajasa melihat hamba, maka pasti ia akan teringat kepada Akuwu Tunggul Ametung. Betapa bencinya Ken Arok terhadap Akuwu Tunggul Ametung karena Akuwu itu telah merampas kegadisan Ibunda dimasa muda dan meninggalkan seorang anak laki-laki yang akan tetap membuatnya terkenang atas kekecewaannya itu. Dan apalagi anak laki-laki itu sekarang merasa dirinya berhak untuk menyebut dirinya Putera Mahkota,” suara Anusapati terputus sejenak. Lalu, “alangkah malunya hamba kepada diri sendiri. Jika aku tahu tentang diri hamba, maka hamba tidak akan menerima kedudukan itu. Hamba akan manyingkir dari istana ini dan mengikuti paman Mahisa Agni dipadepokan yang terpencil itu. Paman Mahisa Agni pasti akan rela melepaskan kedudukan yang betapa-pun tingginya, karena sebenarnya paman Mahisa Agni sama sekali tidak menginginkannya, ia ada di dalam istana pada waktu itu hanya semata-mata karena hamba. Dan ia kini berada di Kediri sebagai wakil Mahkota, adalah karena paman ingin tetap mempunyai pengaruh dalam pemerintahan Singasari juga semata-mata karena hamba.”
“Kau salah Anusapati,” sahut ibunya disela-sela isaknya yang tertahan, “pamanmu Mahisa Agni mengasihimu. Tetapi jangan disangka bahwa pamanmu tidak mencintai Singasari. Semua yang diperbuatnya adalah untuk Singasari.”
“Hamba tahu ibu. Tetapi Singasari bagi paman Mahisa Agni bukan sekedar kekuasaan Sri Rajasa. Singasari adalah keseluruhan wadah dan isinya. Dan Singasari adalah suatu kesatuan yang utuh sekarang ini. Tetapi paman Mahisa Agni-pun tahu, bahwa Singasari sedang diancam oleh ketamakan seorang isteri dan anak dari yang berkuasa sekarang. Jika hamba mengatakan bahwa paman Mahisa Agni telah berbuat banyak sekali untuk hamba sakarang ini, hamba yang sudah terlanjur menjadi Putera Mahkota itu-pun adalah karena Pamanda Mahisa Agni mencintai Singasari dan mengasihi hamba. Jika tidak, maka paman Mahisa Agni tidak akan membina hamba menjadi seorang yang mampu berbuat sesuatu seperti sekarang ini, dan paman Mahisa Agni tentu tidak akan berusaha membendung kekuasaan yang akan melimpah kepada tangan yang menurut paman Mahisa Agni tidak akan dapat mempertahankan dan apalagi mengembangkan Singasari yang sekarang ini. Jika paman Mahisa Agni tidak mempedulikan hamba, tetapi semata-mata mempedulikan Singasari, maka ia akan dapat berbuat lain dari yang dilakukannya sekarang. Tetapi jika paman Mahisa Agni hanya mengasihi hamba dan tidak mengingat Singasari, maka alangkah baiknya jika hamba pergi kepada paman Mahisa Agni di Kediri dan bersama-sama memberontak. Maka pasti Singasari akan pecah dan kemungkinan terbesar kami akan menang. Tetapi Singasari akan digenangi darah rakyatnya yang sedang berusaha mengembangkan negeri ini.”
Ken Dedes tidak lagi dapat membendung air matanya yang mengalir semakin banyak. Bahkan kemudian terdengar isaknya semakin lama menjadi semakin keras. Dan tiba-tiba saja diantara tangisnya ia berkata, “Sudah aku katakan Anusapati. Aku memang bersalah. Jika aku tidak bertemu dan tidak menerima orang itu disaat aku kehilangan Akuwu Tunggal Ametung, maka keadaannya akan jauh berbeda. Sebenarnyalah bahwa aku akan memilih hidup dipadepokan jika aku mendapat kesempatan. Tetapi tidak. Aku tidak dapat memilih selain harus pasrah diri di istana Tumapel.”
“Tentu tidak. Ibunda tentu akan dapat memilih. Jika ibunda tetap berbakti kepada ayahanda Tunggul Ametung, dan jika ibunda benar-benar mencintainya, maka ibunda tidak akan melakukannya meskipun orang yang bernama Ken Arok itu setiap hari duduk berimpuh di bawah kaki ibunda, namun yang kini akhirnya telah menginjak tengkuk keturunan ibunda. Tentu pada saat ibunda menerima lamaran Akuwu Tunggul Ametung, ibunda merasa sangat berbahagia, tetapi bukan karena mencintai Akuwu Tunggul Ametung. Ibunda saat itu hanya memandang bahwa ibunda menerima lamaran seorang Akuwu, sedangkan ibunda adalah seorang gadis padepokan. Tetapi karena itulah, maka sepeninggal Akuwu Tunggul Ametung, maka seketika itu pula ibunda sudah barhasil melupakannya.”
“Anusapati.”
“Kenapa ibu tidak berani melihat wajah sendiri betapa-pun buruknya.”
“Tidak. Tidak,” tiba-tiba Ken Dedes berdiri. Dipandanginya wajah anaknya dengan tajamnya. Dan tiba-tiba saja diluar sadarnya ia berkata, “Kau salah. Sama sekali salah. Akuwu Tunggul Ametung tidak datang kepada ayahku untuk melamar sebagai lazimnya seorang laki-laki meminang seorang gadis. Tetapi aku telah dirampas dan dilarikannya dengan paksa. Aku telah diambilnya tanpa setahu ayahku, seorang pendeta dipadepokan Panawijen. Kakekmu telah kehilangan aku bukan karena lamaran seorang Akuwu.”
Jawaban ibunya itu telah membuat dada Anusapati berdentangan. Semula ia ragu-ragu mendengar keterangan itu, seakan-akan bahwa ayahnya yang baru dikenalnya itu telah menculik ibunya yang bernama Ken Dedes itu dari padepokan, sehingga oleh hentakan berbagai perasaan di dadanya, ia bahkan tidak mempercayainya. Kebenciannya kepada Sri Rajasa, yang tertahan-tahan dan yang tiba-tiba saja meledak setelah mengetahui bahwa Sri Rajasa sama sekali bukan ayahnya, meluap tanpa dapat dikendalikannya. Dan itulah sebabnya maka ia tidak dapat menelan kenyataan yang dihadapkan ibunya kepadanya, bahwa ayahnya yang sebenarnya itu-pun telah melakukan kesalahan yang tidak dapat dimaafkan.
Karena itu maka katanya, “Ibunda. Ternyata bahwa ibunda telah memutar balikkan kenyataan. Hamba tidak dapat mengerti yang manakah yang benar. Ibunda mula-mula mengatakan bahwa ibunda mencintai ayahanda Akuwu Tunggul Ametung. Kemudian ibunda mengatakan bahwa ayahanda Akuwu Tunggul Ametung telah berbuat kesalahan. Ibunda tidak diambil dari padepokan dengan upacara kebesaran lamaran seorang Akuwu, tetapi ibunda telah dilarikannya. Yang manakah yang harus hamba percaya. Tetapi bahwa ibunda telah mencintai Sri Rajasa itulah yang benar. Bahkan mungkin kematian ayahanda Tunggul Ametung adalah suatu hal yang menyenangkan sekali bagi ibunda, karena ibunda telah terlepas dari sangkar yang telah dibuat oleh Akuwu Tunggul Ametung.”
“Anusapati,” wajah ibunnya menjadi merah padam, “kau adalah anakku. Aku melahirkan kau dengan bertaruh nyawa. Sekarang kau berani menghinaku. Anusapati, apa-pun yang telah aku lakukan, tetapi aku mencintaimu. Kau adalah anakku yang selalu membuat aku prihatin. Aku mengharap kau kelak tidak mengalami masa-masa yang paling pahit didalam hidupmu. Dan kini selagi aku berusaha dengan segenap hati, kau … kau … “ suara Ken Dedes terputus dikerongkongan.
Namun agaknya hati Anusapati telah tertutup. Kepahitan hidup dan kenyataan yang bercampur baur itu membuatnya kehilangan pegangan.
Karena itu maka katanya, “Ibunda. Kenapa ibunda masih juga mengatakan bahwa ibunda mencintai hamba, mencintai ayah? Jika ibunda mempertahankan kedudukanku sekarang sebagai Putera Mahkota, sebenarnya sama sekali bukan untuk kepentingan hamba, tetapi semata-mata karena ibunda ingin tetap duduk di atas kedudukan ibunda, seorang Permaisuri. Alangkah nistanya martabat seorang Permaisuri yang harus turun dari kedudukannya karena ada perempuan lain yang mendesaknya.”
“Anusapati, Anusapati,” Ken Dedes membentak hampir menjerit sehingga seorang emban yang mendengarnya diluar menjadi termangu-mangu. Tetapi justru karena ia mengetahui bahwa agaknya Permaisuri marah dan bahkan bertengkar dengan Putera Mahkota, ia sama sekali tidak berani berbuat apa-apa. Bahkan rasa-rasanya tubuhnya menjadi gemetar dan dadanya berdebar-debar.
Dalam pada itu, Ken Dedes yang menjadi marah pula, justru kehilangan kemampuan untuk mengucapkan kata-kata. Ia tidak pernah menyangka bahwa ia harus bertengkar dengan Anusapati. Anak yang selama ini membuatnya sangat berprihatin. Namun yang kemudian menjadi salah paham ketika ia mendengar kenyataan tentang dirinya itu.
Namun karena Ken Dedes seakan-akan menjadi terbungkam itulah, maka ternyata dadanya telah menggeletar. Yang tidak dapat diucapkannya itulah yang seakan-akan telah mengambang didalam dirinya, sehingga karena itulah maka tanpa disadarinya, dari dalam dirinya telah memancar cahaya yang hanya tampak oleh mata hati yang telah terbuka.
Ternyata bahwa selama ini, selama Anusapati mengalami pembajaan diri, serta dasar-dasar ilmu Gundala Sasra dan bahkan sekaligus kemampuan menyerapan dari kekuatan yang tersembunyi dalam dirinya, ternyata bahwa Anusapati yang muda itu-pun telah mampu mempergunakan mata hatinya di luar sadarnya. Dan itulah sebabnya, maka tiba-tiba saja ia melihat cahaya yang menyilaukan dari tubuh ibunya. Tubuh yang disaat-saat tertentu seakan-akan telah memancar dalam bentuk yang berlainan.
Anusapati sejenak membeku di tempatnya. Namun cahaya yang silau itu rasa-rasanya langsung menusuk tubuhnya dan menghunjam jauh kepusat jantungnya, sehingga tiba-tiba saja ia menutup wajahnya sambil berkata, “Ibu, jangan ibu …”
Sejenak Ken Dedes termangu-mangu. Ia tidak mengerti apakah yang sebenarnya telah terjadi.
Namun dalam pada itu, meskipun Anusapati telah menutup wajahnya dengan kedua tangannya, tetapi cahaya itu bagaikan menembus pelupuk matanya yang terpejam.
“Ibunda,” tiba-tiba Anusapati berlutut, “ampun ibunda. Ampun.”
Ken Dedes yang sedang marah itu tiba-tiba tergugah pula hatinya ketika ia melihat anaknya berlutut. Seakan-akan ia telah dihadapkan kembali kepada Anusapati dalam keadaan sehari-hari. Anak laki-lakinya yang selalu dirundung oleh kepahitan dan tekanan perasaan. Karena itulah maka hatinya-pun manjadi cair. Perlahan-lahan ia mendekati anaknya dan sekali lagi dipeluknya kepala anaknya yang sedang berjongkok itu. Katanya, “Anusapati. Bangkitlah. Ibu tidak marah lagi.”
Tetapi Anusapati masih memejamkan matanya dan menutup wajahnya meskipun terasa pelukan ibunya yang hangat.
“Anusapati, kenapa kau seakan-akan menjadi silau dan menutup wajahmu dengan tanganmu. Pandanglah, inilah ibumu.”
Anusapati mendengar suara ibunya itu. Suara yang lembut. Karena itu, maka perlahan-lahan ia membuka matanya dan mengangkat tangannya yang menutup wajahnya itu.
Kini ia tidak melihat apa-pun lagi. Perlahan-lahan ia memandang ibunya yang masih memeluknya. Tetapi ibunya itu adalah ibunya yang dilihatnya setiap hari.
Karena itu, maka sadarlah Anusapati, bahwa sebenarnyalah bahwa ibunya bukannya orang kebanyakan. Bukannya gadis padepokan seperti gadis-gadis padepokan yang lain. Tetapi ibunya tentu mempunyai kelebihan. Meskipun Anusapati tidak tahu apakah arti dari cahaya yang seakan-akan memancar dari jantung ibunya itu, namun bagi Anusapati, cahaya itu pasti mempunyai arti yang dalam.
Dengan demikian maka sambil memeluk ibunya ia tidak dapat lagi menahan air matanya yang mengambang dipelupuknya. Katanya dalam nada yang berat terputus-putus, “Ampunkan hamba ibunda. Hamba ternyata telah berbuat kasar terhadap ibunda. Sama sekali bukan maksud hamba. Mungkin didorong oleh gejolak perasaan yang tidak dapat hamba kuasai lagi.”
“Sudahlah Anusapati,” sahut Ken Dedes sambil membelai rambut anaknya yang masih berjongkok sambil memeluknya, “jangan hiraukan lagi dan lupakanlah apa yang sudah terjadi. Terimalah kenyataan tentang dirimu dengan sikap dewasa. Alangkah beratnya bagi ibunda untuk menunjukkan kenyataan ini kepadamu. Mungkin karena ibunda tidak mempunyai keberanian, tetapi juga mungkin karena ibunda menunggu sampai ibunda yakin bahwa kau sudah cukup kuat menerima kenyataan ini, maka barulah sekarang ibunda mengatakannya.”
“Ibunda,” berkata Anusapati, “lalu apakah yang seharusnya hamba perbuat. Kini hamba telah dapat melihat kenyataan tentang diri hamba.”
Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Cobalah, cernakan dahulu apa yang kau ketahui. Barulah kau berpikir dengan bening, apakah yang sebaiknya kau lakukan.”
Anusapati mengangguk. Perlahan-lahan dilepaskannya ibunya. Dan dengan kepala tunduk ia-pun kemudian duduk diatas dingklik kayu sambil merenung.
“Ibu,” tiba-tiba ia bertanya, “apakah sebabnya maka ayahanda Tunggul Ametung yang saat itu menjadi Akuwu Tumapel meninggal? Apakah ayahanda Tunggul Ametung memang sudah tua atau karena penyakit yang tidak dapat disembuhkan oleh para dukun yang paling pandai dari seluruh Tumapel?”
Pertanyaan itu adalah pertanyaan yang mendebarkan. Jika Ken Dedes menjawab yang sebenarnya, maka ia cemaskan bahwa Anusapati akan mengalami kejutan lagi dan kehilangan pengamatan diri. Tetapi jika ia tidak berkata sebenarnya, maka niatnya untuk mengungkapkan kenyataan tentang anaknya itu sama sekali belum tuntas. Dengan demikian maka anaknya tidak akan dapat mengambil sikap yang telah didasari oleh pengertian yang bulat tentang dirinya. Mungkin ia justru menjadi putus asa dan kehilangan segenap gairah untuk hidup dan kehilangan cita-cita buat masa depannya. Tetapi mungkin dendam telah membakar jiwanya namun dengan sasaran yang tidak seharusnya. Jika dendam Anusapati semata-mata ditujukan kepada Tohjaya dan ia bertindak terhadap putera Sri Rajasa itu, maka ia akan mengalami nasib yang tidak menguntungkan. Ia dapat ditangkap dan dihukum seberat-eratnya. Padahal Tohjaya bukannya sasaran dendam yang sebenarnya.
“Tetapi apakah aku akan membiarkan anakku mendendam?” Ken Dedes bertanya kepada diri sendiri.
Sebuah persoalan cepat berkecamuk di dalam hati Ken Dedes. Jika masalahnya tidak akan menyangkut masa depan anaknya, maka Ken Dedes sama sekali tidak akan membiarkan anaknya terjerumus kedalam dendam yang tidak ada ujungnya. Jika sekiranya Ken Arok tidak berusaha menyambut hari depan Anusapati, maka persoalannya pasti akan sudah dilupakan oleh Ken Dedes, meskipun ia sendiri mengalami kepahitan perasaan karena hadirnya Ken Umang. Hal itu adalah karena kesalahan yang telah dilakukannya sendiri. Tetapi bagi Anusapati, persoalan yang dihadapi bukan semata-mata persoalan dendam karena ayahnya telah terbunuh, tetapi yang lebih penting baginya adalah persoalan masa depannya. Karena itu jika Anusapati berbuat sesuatu, alasannya harus condong kepada kepentingan hari depan. Bukan semata-mata karena ia mendendam.
Karena ibunya tidak segera menjawab, maka Anusapati-pun mendesak, “Ibunda, bukan maksud hamba untuk menggubah persoalan yang sudah lama berlaku. Tetapi apakah ibunda dapat mengatakan, apakah sebabnya ayahanda Tunggal Ametung meninggal dunia, selagi hamba belum lahir?”
Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Anakku. Persoalan ini bagaikan hantu yang selalu membayangi hati ibu. Tetapi karena aku sudah mengatakan sebagian dari kenyataanmu maka aku tidak akan menyembunyikannya lagi.”
Anusapati menjadi semakin berdebar-debar. Tetapi kini ia berusaha sekuat-kuatnya untuk tidak diguncang oleh perasaannya dan kehilangan kendali. Apa-pun yang akan dikatakan oleh ibunya akan diterimanya dan dicernakannya baik-baik tanpa kehilangan akal dan berbuat kasar terhadap ibunya yang hampir seperti dirinya sendiri, selalu dicengkam oleh keprihatinan.
Dengan demikian, wajah Anusapati-pun menjadi tenang dan tidak lagi membayangkan kegelisahan yang melonjak-lonjak seperti ketika ia mendengar tentang ayahnya.
Melihat ketenangan Anusapati, hati Ken Dedes menjadi agak tatag. Sejenak ditatapnya anaknya yang duduk diam. Kemudian diaturnya perasaannya yang mulai bergejolak. Persoalan yang akan dikatakannya sebenarnya adalah persoalan yang lebih penting dari persoalan siapakah ayah Anusapati itu.
“Anusapati,” berkata ibunya, “Akuwu Tunggul Ametung meninggal bukan karena ia sudah terlalu tua. Bukan pula karena Akuwu sakit dan tidak dapat diobati lagi.”
“Jadi,” terasa hati Anusapati melonjak. Tetapi ia-pun segera berusaha menguasainya kembali. “Apakah ayahanda gugur di peperangan?”
Ken Dedes menggelengkan kepalanya.
“Apakah maksud ibu, ayahanda meninggal dengan tiba-tiba?”
“Ya Anusapati. Ayahanda itu meninggal dengan tiba-tiba.”
“Kenapa ibunda?”
“Anusapati. Alangkah sedihnya jika aku terpaksa mengatakan kepadamu. Ayahandamu meninggal karena pembunuhan.”
“Ayahku dibunuh orang?”
“Ya Anusapati.”
Wajah Anusapati menjadi merah padam. Tetapi dengan sekuat tenaga ia mencoba menguasai perasaannya. Bagaimana-pun juga ia masih juga bertanya, “Bagaimana hal itu dapat terjadi ibu. Jika ayahanda mati dibunuh orang, ibunda dapat juga melupakannya dalam waktu yang singkat. Masih belum seumur hamba di dalam kandungan.”
Mata Ken Dedes menjadi basah. Jawabnya, “Itu adalah dosaku Anusapati. Jangan kau ulang lagi. Aku sudah merasa bahwa hal itu adalah dosa yang beranak pinak, sehingga diriku seakan-akan tidak lagi dapat menempatkan diri dihadapan Yang Maha Agung. Sekali aku berbuat dosa, maka aku harus melindungi dosa itu dengan dosa-dosa yang lain terhadap sesama manusia. Tetapi aku sadar, bahwa aku tidak akan dapat menyembunyikannya terhadap Yang Maha Agung.”
Wajah Anusapati tertunduk lesu. Jika ia menyebut dosa itu lagi, maka hati ibunya pasti akan semakin remuk. Karena itu maka ia-pun bertanya, “Apakah orang-orang Tumapel waktu itu, pasukan-pasukan pengawal dan para prajurit tidak dapat menemukan siapakah yang membunuh ayahanda Tunggal Ametung, yang pada waktu itu menjabat sebagai Akuwu di Tumapel?”
Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam untuk mengendapkan perasaannya yang bergejolak. Dengan sisa keberanian, ketenangan dan pasrah diri yang tulus, maka ia-pun kemudian bertata, “Pada waktu itu tidak ada orang yang dapat mengetahui siapakah yang telah membunuh Akuwu Tunggul Ametung. Tuduhan yang utama ditujukan kepada seorang pelayan dalam yang memiliki sebilah keris yang masih tertancap ditubuh Tunggul Ametung.”
“Siapakah orang itu?”
“Orang itu bernama Kebo Ijo. Dan ia sudah menjalani, hukumannya. Ia dibunuh karena kesalahan itu.”
Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Hukuman yang setimpal baginya. Tetapi apakah pamrih Kebo Ijo dengan membunuh ayahanda Tunggal Ametung?”
Sejenak Ken Dedes tidak menyahut. Ia masih harus mengatasi gejolak didalam dirinya untuk dapat sampai pada keterangan yang sebenarnya tentang kematian Akuwu Tunggul Ametung.
“Anusapati,” berkata Ken Dedes kemudian, “tetapi ternyata bahwa tuduhan itu keliru. Akhirnya, setelah pembunuhan itu terjadi beberapa lama, dapat diketahui bahwa pembunuhnya sama sekali bukan Kebo Ijo.”
“O, dan Kebo Ijo sudah terlanjur dibunuh?”
“Ya. Kebo Ijo telah terbunuh.”
“Tetapi apakah pembunuh yang sebenarnya akhirnya dapat diketahui?”
Terasa debar didada Ken Dedes menjadi semakin cepat. Tetapi ia sudah bertekad untuk mengatakan keadaan yang sebenarnya kepada anaknya seutuhnya.
“Anusapati,” berkata Ken Dedes kemudian, “memang akhirnya pembunuh yang sebenarnya itu-pun diketahui pula. Ia tidak saja membunuh Akuwu Tunggal Ametung. Tetapi ia juga membunuh Empu Gandring, seorang Empu yang telah membuat keris untuknya dan keris itu pulalah yang telah mengakhiri hidup Akuwu Tunggul Ametung.”
“Alangkah terkutuknya. Tetapi apakah ibu mengetahui siapakah orang itu?”
Ken Dedes mengangguk dengan ragu-ragu.
“Siapakah orang itu ibunda?”
Sesaat Ken Dedes tidak dapat mengucapkan kata-kata. Sekali lagi ia merasa disimpang jalan yang panjang.
“Ibunda,” desak Anusapati.
Namun Ken Dedes-pun kemudian mengumpulkan semua kekuatan batin yang ada padanya untuk mengatakannya apa yang sebenarnya sudah terjadi. Karena itu dengan suara yang serak ia berkata, “Anusapati. Yang terjadi kemudian hampir diluar kemampuanku untuk mengatasinya. Selagi aku mengagumi usaha Ken Arok untuk menyatukan seluruh daerah Singasari, maka tahulah aku siapakah sebenarnya yang telah membunuh Akuwu Tunggul Ametung.” Ken Dedes berhenti sejenak. Lalu, “orang itu adalah orang yang kini berkuasa di Singasari.”
“Sri Rajasa,” suara Anusapati terputus.
Ken Dedes menganggukkan kepalanya. Namun untuk mengucapkan kata-katanya yang terakhir ternyata Ken Dedes telah memaksa diri dengan segenap kekuatannya. Karena itulah, maka setelah kata-kata itu terucapkan, ia-pun menjadi seolah-olah lemas tidak bertenaga lagi.
Betapa hati Anusapati bergejolak. Tetapi betapa ia berrusaha untuk menahan diri. Apalagi ketika ia melihat ibunya seakan-akan hendak menjadi pingsan karenanya.
Dengan sigapnya ia menangkap tubuh ibunya dan membawanya kepembaringan. Perlahan-lahan dibaringkannya tubuh itu. Ketika Anusapati memandang wajahnya, alangkah pucatnya.
Tetapi Ken Dedes tidak pingsan. Bahkan ia masih dapat tersenyum betapa pahitnya. Katanya hampir tidak terdengar, “Anusapati. Aku sudah memaksa diri untuk mengatakannya. Aku mengharap bahwa kau benar-benar dapat bersikap dewasa.”
Anusapati yang gemetar itu tidak segera menjawab. Dengan tegangnya ia berdiri di pinggir pembaringan ibunya.
“Anusapati,” desis ibunya, “duduklah.”
Seperti dipukau oleh pesona yang tidak dimengertinya. Anusapati-pun kemudian duduk disebuah dingklik kayu sambil menunduk dalam-dalam. Namun dari sela-sela bibirnya ia berkata, “Pembunuh itu kini duduk di atas tahta Singasari.”
“Ya Anusapati. Pembunuh itu kini berkuasa di Singasari dan berkuasa pula atas diri kita.”
“Tidak,” Anusapati menghentak, “aku akan melepaskan kekuasaan ini. Aku menarik keputusanku untuk membunuh Tohjaya dan mengasingkan diri apabila aku tidak terbunuh oleh Sri Rajasa. Tetapi sekarang aku berkeputusan lain. Aku akan tetap berada di istana. Bukan Tohjayalah yang harus dibunuh.”
Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam. Meskipun Anusapati tidak mengucapkan, tetapi ia mengerti makna dari kata-kata yang terpotong itu.
Meskipun demikian Ken Dedes sudah menyadari, bahwa hal itu memang mungkin sekali terjadi. Ia sudah menjatuhkan pilihan. Bukan lagi kenangan yang indah dimasa mudanya, yang penting baginya kini, tetapi adalah hari depan yang panjang bagi anaknya, bagi Singasari dan bagi keturunannya.
Tatapi Ken Dedes-pun sadar, bahwa Sri Rajasa bukannya seorang yang hanya pandai merayunya dimasa muda. Tetapi ia adalah seorang prajurit yang pilih tanding. Bahkan ia telah berhasil mengalahkan Maharaja di Kediri yang mempunyai kesaktian tiada taranya.
Karena itulah maka Ken Dedes-pun kemudian berkata dengan suara yang lemah, “Anusapati. Datanglah kembali kepada pamanmu. Katakan apa yang kau dengar dari mulutku. Kau harus menurut segala nasehatnya. Hanya pamanmulah orang yang memiliki kemampuan seimbang dengan Sri Rajasa, meskipun pamanmu seorang yang besar dan lahir dipadepokan yang terpencil.” Suara Ken Dedes terputus sejenak. Lalu, “Sri Rajasa-pun bukan seorang keturunan raja dimana-pun juga. Tetapi ia adalah kekasih dewa-dewa.”
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia memang tidak akan dapat meninggalkan Mahisa Agni yang selama ini telah menempatkannya pada tempat yang wajar di mata rakyat Singasari, bahwa sebenarnyalah ia Putera Mahkota. Dihadapan rakyat Singasari ia dapat menunjukkan, bahwa ia tidak kalah dari putera kebanggaan Sri Rajasa, Tohjaya. Dan di malam hari ia dikenal sebagai Kesatria Putih yang memberikan kedamaian hati bagi rakyatnya.
Karena itu, maka sejenak kemudian Anusapati-pun minta diri kepada ibunya. Katanya, “Ibunda, hamba akan menghadap paman Mahisa Agni. Agaknya paman Mahisa Agni-pun mengetahui semua persoalan yang ibunda katakan. Tetapi paman mengharap bahwa ibunda sendirilah yang menyampaikannya kepada hamba.”
Ken Dedes menganggukkan kepalanya. Jawabnya, “Ya. Pamanmu mengetahui semuanya. Tetapi akulah yang memang seharusnya mengatakan kepadamu.”
Dengan dada yang bergelora maka Anusapati-pun kemudian meninggalkan ibunya dan pergi mendapatkan pamannya. Ia tidak dapat menunggu sampai besok. Ia ingin segera mendengar apakah yang akan dikatakan oleh pamannya itu kepadanya.
Tetapi ternyata bahwa kesibukan Anusapati yang berjalan hilir mudik dari bangsal pamannya kebangsal ibunya kemudian kembali lagi itu mendapat perhatian dari seorang prajurit yang sangat dekat dengan Tohjaya. Bahkan kadang-kadang ia ikut mengawalnya, apabila Tohjaya memerlukan pengawal lebih dari pengawalnya sendiri jika ia keluar istana.
“Tentu ada sesuatu yang penting,” berkata prajurit itu didalam hati.
Tiba-tiba saja prajurit itu terkejut ketika seseorang menggamitnya. Ketika ia berpaling dilihatnya seorang juru taman berdiri dibelakangnya.
“Apakah yang kau perhatikan? Apakah kau sedang mengintip seseorang.”
“Persetan dengan kau.”
“Aku tahu pasti. Kau sedang mengintip Putera Mahkota.”
“Apakah kau gila?”
Juru taman itu menggeleng. Jawabnya sambil tersenyum, “Aku tidak gila. Tetapi aku tahu pasti. Kau mencurigainya dan kau akan mengatakannya kepada tuanku Tohjaya.”
“Aku sumbat mulutmu dengan tumitku jika kau mengigau.”
“Sst, aku tidak mengigau. Jika kau perlukan keterangan, aku dapat memberimu banyak sekali.”
“He,” prajurit itu ternyata tertarik pada keterangan juru taman itu.
“Kau dapat menemui aku nanti malam. Aku mempunyai banyak ceritera tentang Putera Mahkota. Kau mau? Aku menunggalmu di sudut taman yang gelap itu.”
Sumekar tidak menunggu jawaban prajurit itu. Dengan tenangnya ia melangkah pergi dan hilang dibalik dinding taman istana Singasari.
Prajurit itu termangu-mangu sejenak. Putera Mahkota sudah tidak tampak lagi. Tetapi kesanggupan juru taman itu untuk berceritera tentang Putera Mahkota sangat menarik perhatiannya, sehingga karena itu maka ia-pun berhasrat untuk datang malam nanti di sudut taman seperti yang dikatakan oleh juru taman itu.
Dalam pada itu, Anusapati-pun sudah menghadap pamannya dengan wajah yang gelisah. Tetapi agaknya Mahisa Agai sudah dapat mengerti, bahwa Anusapati sudah mendengar kenyataan tentang dirinya dari ibunya.
“Duduklah Anusapati,” pamannya mempersilahkan.
Anusapati-pun kemudian duduk dengan wajah yang tunduk.
“Kau tampak letih sekali.”
Anusapati mengangguk. Katanya dengan nada datar, “Ibunda sudah mengatakan semuanya tentang diriku dan tentang kematian ayahandaku yang sebenarnya. Akuwu Tunggul Ametung.”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Kemudian ia-pun menganggukkan kepalanya. Katanya, “Kau sekarang sudah cukup matang. Anakmu sudah semakin besar. Karena itu, pertimbanganmu sekarang bukan pertimbangan anak muda, tetapi pertimbangan orang tua.”
Anusapati menganggukkan kepalanya.
“Apakah kata ibumu tentang kematian Akuwu Tunggal Ametung?”
“Yang membunuh ayahanda Tunggal Ametung itulah yang sekarang duduk di atas tahta Singasari.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Ibumu benar. Ialah yang telah membunuh ayahandamu yang sebenarnya. Tetapi apakah kau telah dicengkam oleh dendam karena kematian ayahandamu itu?”
Anusapati tidak menyahut.
“Anusapati,” berkata Mahisa Agni, “memang lain rasanya orang yang langsung mengalaminya dan orang yang berdiri diluar. Tetapi justru karena aku tidak langsung terlibat didalamnya, maka aku sempat berpikir apakah yang sebaiknya kau lakukan.”
“Ya paman. Aku memerlukan sekali petunjuk disaat serupa ini.”
“Aku yakin bahwa Sri Rajasa benar-benar berhasrat menyingkirkan kau.”
“Ya paman. Aku-pun yakin.”
“Karena itu Anusapati, jalan yang harus kau tempuh sama sekali bukan pembalasan dendam itu. Kau harus melupakan apa yang sudah terjadi. Sri Rajasa telah menebus kesalahan yang besar itu dengan perbuatan yang besar.”
Anusapati mengangkat wajahnya. Dipandanginya Mahisa Agni dengan penuh pertanyaan. Dan bibirnya-pun mengucapkannya pula, “Apakah maksud paman?”
“Kau harus memandang kedepan. Kau sekarang adalah Putera Mahkota. Yang harus kau lakukan adalah menyiapkan dirimu untuk menjadi seorang Maharaja di Singasari.”
“Tetapi Ayahanda Sri Rajasa akan menggusir aku. Bukankah baru saja paman mengatakan demikian?”
“Itulah soalnya yang kau hadapi. Jika kau terpaksa mempertahankan diri, adalah karena kau Putera Mahkota yang akan disingkirkan. Maksudku, kau tidak usah mempersoalkan yang sudah terjadi. Tetapi kau tidak harus menyerahkan masa depanmu kepada orang yang pernah membunuh ayahmu itu. Apakah kau mengerti maksudku?”
Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Apakah ada perbedaan di antara keduanya paman? Apakah hal itu bukan sekedar untuk menenteramkan hati sendiri, agar kita tidak salalu dicengkam oleh dendam, dan seolah-olah nafsu kita telah dikuasai oleh dendam semata-mata. Tetapi yang pada hakekatnya akan melahirkan tindakan yang sama?”
Mahisa Agni menggelengkan kepalanya. Katanya, “Tidak Anusapati. Persoalannya tidak sama, dan yang akan kau lakukan-pun tidak akan sama. Jika kau digerakkan oleh dendam dihati, maka kau akan menjadi garang. Kau akan mencari kesempatan untuk melepaskan dendammu. Dan kaulah yang mengambil tindakan kapan saja yang kau anggap baik. Tetapi jika bukan itu soalnya, maka kau tidak akan mengambil tindakan apapun. Tetapi kau akan tetap berhati-hati. Kau akan melindungi dirimu sendiri. Aku yakin bahwa Sri Rajasa tidak akan mempergunakan para prajurit dan Senapati untuk memaksakan kehendaknya. Aku yakin bahwa jika demikian maka Singasari akan benar-benar terpecah, karena Sri Rajasa-pun tahu benar, bahwa aku mempunyai pengaruh yang kuat pula pada para Senapati di Singasari. Lebih daripada itu, aku telah minta agar kakang Witantra-pun berbuat sesuatu untuk menekankan pengaruh para Senapati dari Pasukan Pengawal, agar mereka tidak mudah diperalat oleh Sri Rajasa dan Tohjaya di dalam persoalan ini.”
“Apa yang dapat dilakukan oleh paman Witantra?”
“Mudah-mudahan ia berhasil meskipun hanya sekedar membantu rencana kita yang besar.”
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mengerti maksud pamannya. Ia tidak boleh mengambil sikap yang kasar terlebih dahulu. Ia harus menunggu. Tetapi berapa lama ia harus menunggu dalam kegelisahan dan kecemasan, karena setiap saat bahaya dapat menerkamnya dari segala penjuru.
Karena itulah maka Anusapati merasa bahwa dirinya benar-benar berdiri di atas titian yang telalu sempit di atas sebuah jurang yang dalam. Jika ia salah langkah, maka ia pasti akan terjerumus dan hancur berkeping-keping.....
Bersambung....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar