Sabtu, 30 Januari 2021

SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG JILID 12-02

*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 12-02*

Karya.   : SH Mintardja

Sebenarnyalah bahwa bangsal itu sudah dijaga oleh orang-orang Rajasa dan Sinelir. Tetapi atas isyarat Witantra, maka dibiarkannya Ken Umang lewat diikuti oleh Witantra. Mahendra dan beberapa orang pengawal.

Sebenarnyalah, seperti yang dikatakan oleh Ken Umang, di dalam bangsal itu terdapat sebuah pintu rahasia. Sebuah pintu yang samar dan tidak akan dapat dikenal oleh siapapun juga. Pintu itu justru terdapat di bawah sehelai permadani yang indah yang datang dari seberang. Jika permadani itu disingkapkan, akan nampak sebuah pintu yang besar.

“Bukalah pintu itu.” perintah Ken Umang.

Beberapa orang pengawal berusaha membuka pintu yang berat, namun yang akhirnya terbuka juga. Witantra menarik nafas dalam-dalam. Ia melihat sebuah lubang yang besar dengan sebuah tangga menurun yang dalam.

“Benar-benar suatu pintu rahasia yang hampir sempurna.” desis Witantra.

Namun kemudian ia pun berkata, ”Mahendra, jagalah tuan puteri. Aku akan melihat ke ujung pintu rahasia ini.”

Mahendra mengangguk. Katanya, ”Tetapi hati-hatilah kakang. Mungkin ada sesuatu yang tidak wajar. Jika kakang menjumpai suatu kesulitan, berilah isyarat.”

“Aku akan berhati-hati. Aku akan pergi dengan beberapa orang pengawal.”

Witantra pun kemudian bersiap utk menuruni tangga itu. Kepada Ken Umang ia berkata, ”Tinggallah tuan puteri di sini sejenak. Hamba akan melihat, apakah jalan ini aman bagi tuan puteri.”

“Ya, cepat.”

Witantra pun kemudian menuruni tangga itu. Dua orang pengawalnya telah mendapatkan dua buah obor yang dapat dipergunakan untuk menerangi jalan rahasia yang dalam.

“Jalan ini cukup mendapatkan udara.” berkata Witantra, ”Ternyata obor-obor itu tidak menjadi suram.”

“Ya.” sahut pengawalnya, ”Tentu jalan ini tidak ter-lampau panjang.”

Meskipun menyusur lubang yang menjadi semakin, sempit. Tetapi cukup untuk berjalan terbungkuk-bungkuk. Beberapa tiang menahan papan-papan kayu yang melintang dibagian atas lubang itu. Tetapi agaknya lubang itu memang cukup kuat.

Dihadapan kaki Witantra. ia memang melihat jejak yang baru. Bahkan ia menemukan beberapa titik darah dan satu dua senjata yang terjatuh.

“Mereka mundur dengan tergesa-gesa.” berkata Witantra.

“Ya. Dan mereka tidak sempat menutup pintu rahasia ini dengan baik, sehingga kami akan dapat mengikutinya.”

Ternyata seperti yang mereka duga, jalan rahasia itu memang tidak terlampau panjang. Beberapa saat kemudian mereka telah merasakan udara di dalam lubang itu bergerak.

“Kita sudah dekat dengan mulut goa ini.” desis Wi-tantra.

Ternyata beberapa saat kemudian, mereka melihat cahaya yang buram, dan sejenak kemudian, mereka telah sampai pada sebuah lubang.

Perlahan-lahan mereka naik pada tangga yang curam. Ketika Witantra kemudian menjulurkan kepalanya, maka ia pun berdesis, ”Sebuah pintu rahasia yang sempurna.”

Ternyata, bahwa mereka telah keluar dari lubang itu di dalam sebuah gerumbul yang lebat, sehingga lubang itu memang sama sekali tidak nampak dari tempat di sekitarnya.

“Kita berada dimana sekarang ini?” bertanya Witantra ketika mereka telah berada di luar pintu.

Beberapa orang pengawalnya pun segera mencoba mengenali tempat itu. Dua tiga orang mencoba menerobos gerumbul itu.

“Mereka berjalan ke arah ini.” berkata salah seorang pengawalnya.

“Ya. Mereka menuju ke jurusan ini. Marilah kita mencoba mengikutinya.” berkala Witantra kemudian.

Para pengawalnya pun kemudian mengikutinya ketika Witantra mengikuti jejak kaki yang meninggalkan lubang jalur rahasia itu, menerobos gerumbul-gerumbul liar yang cukup lebat.

Akhirnya mereka sampai ketepi gerumbul-gerumbul liar itu. Demikian mereka muncul, maka seorang prajurit berteriak, ”Kita berada di pinggir kota. Jalan itu adalah jalan langsung menuju ke alun-alun.”

Witantra mengangguk-angguk. Katanya, ”Ya. Aku sekarang mengetahui dengan tepat, dimana kita berada. Agaknya Tohjaya berhasil muncul di belakang pasukan kita yang sudah mengepung istana, sehingga ia berhasil meloloskan diri.”

“Kita harus mengejarnya. Kita dapat mengikuti jejaknya dengan jelas, karena mereka sama sekali tidak sempat menghapus jejak. Bahkan titik-titik darah masih dapat kita lihat di sini.”

Witantra menganggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak segera pergi. Katanya kemudian kepada pengawalnya, ”Pergilah menghadap Mahisa Agni. Katakan apa yang kau lihat di sini.”

“Baik. Dan kemudian apakah tuanku Mahisa Agni harus datang kemari?”

“Sebaiknya ia melihat jejak ini. Biarlah ia mengambil keputusan.”

Pengawal itu pun kemudian dengan tergesa-gesa pergi ke istana untuk menyampaikan laporan tentang jalan rahasia. Tetapi agaknya jalan dibawah tanah itu jauh lebih dekat dari jalan yang menuju ke alun-alun. Apalagi ia masih harus melalui sisa-sisa pertempuran yang barangkali masih belum mereda sama sekali, sehingga di sana-sini masih ada pertempuran yang dapat mengganggu perjalanannya.

Karena itu, ia tidak memilih jalan yang menuju ke alun-alun itu, tetapi ia kembali melalui jalan rahasia di bawah tanah.

Demikianlah dengan obor di tangan, ia muncul kembali di bangsal darimana ia memasuki jalan itu.

“Bagaimana.” Mahendra yang masih tetap menunggui Ken Umang bertanya.

Pengawal itu termangu-mangu. Apalagi ketika tiba-tiba saja Ken Umang berteriak, ”Ayo katakan, apa yang kau ketemukan? Apakah kau bertemu dengan anakku, Maharaja Singasari?”

Pengawal itu menjadi bingung. Mahendra pun termangu-mangu sejenak, namun ia kemudian bertanya mendahului jawaban pengawal itu, ”Tuan Puteri. Kami memang sedang menyelidiki segala kemungkinan. Biarlah kami memanggil kawan-kawan kami agar perjalanan kami menjadi lebih aman.”

Ken Umang mengerutkan keningnya.

“Apakah musuh masih terlampau banyak?” bertanya Mahendra.

Pengawal yang semula menjadi bingung itu pun kemudian mengangguk-angguk sambil menjawab, ”Ya. ya tuan puteri. Musuh terlampau banyak di ujung jalan rahasia ini.”

“Tunggulah di sini sebentar tuan puteri.” berkata Mahendra, ”Hamba akan keluar bangsal ini sebentar.”

Ken Umang menjadi sangat gelisah.

“Duduklah sebentara tuan puteri.”

“Tetapi bagaimana dengan puteraku Tohjaya.”

“Tuanku Tohjaya berhasil melalui musuh yang banyak itu. Tuanku Tohjaya sekarang pergi ke tempat yang aman.”

Ken Umang mengangguk-angguk. Lalu katanya, ”Tetapi kau harus cepat. Aku tidak dapat bersabar lagi untuk menyusul anakku.”

Mahendra tidak menjawab. Ia pun kemudian pergi ke luar bangsal itu bersama pengawal yang baru saja datang melalui pintu rahasia itu.

Kemudian kepada Mahendra dilaporkannya semua yang dilihat dan pesan Witantra untuk menemui Mahisa Agni.

“Pergilah kepada Mahisa Agni. Cepat. Tetapi aku harus menyingkirkan Ken Umang lebih dahulu. Jika ia melihat Mahisa Agni, maka persoalannya akan bergeser.”

Pengawal itu mengerutkan keningnya.

“Kau tidak perlu mengetahui sebabnya. Tuan puteri Ken Umang agaknya sedang terganggu syarafnya sehingga kadang-kadang ia menjadi lupa sama sekali akan dirinya dan orang-orang yang pernah dikenalnya. Kecewa, pedih dan sakit hati sudah agak lama mencengkamnya. Dan kini goncangan terakhir adalah sebab utama yang telah membuatnya terganggu ingatannya.”

“Jadi, apakah aku harus menunggu?”

“Tidak perlu. Pergilah kepada Mahisa Agni. Sebaiknya ia melalui jalan rahasia ini. Tetapi jika ia mendapatkan beberapa ekor kuda, maka ia dapat mempergunakannya.”

Pengawal itu termangu-mangu sejenak. Katanya, ”Apakah kuda-kuda yang ada di halaman istana ini telah dilepaskan semuanya?”

“Aku tidak tahu.”

“Tentu masih ada. Tidak seorang pun yang mengganggu kuda-kuda itu, sedangkan tuanku Tohjaya tentu tidak dapat mempergunakan seekor pun dari kuda-kuda itu.”

“Cobalah. Tetapi aku harus menyingkirkan tuan puteri. Jika kau tidak berhasil mendapatkan kuda maka kau akan menempuh jalan ini agar tidak terlampau jauh ketinggalan. Aku tidak akan pergi, karena halaman ini masih memerlukan pengawasan.”

Demikianlah, penghubung itu pun kemudian mencari Mahisa Agni ke paseban. Agaknya pertempuran di halaman Istana itu sudah hampir selesai seluruhnya. Beberapa orang prajurit yang tidak bersenjata lagi telah menyerahkan diri di berbagai tempat.

Ketika Mahisa Agni yang masih berada di paseban mendengar laporan itu, maka ia pun terperanjat. Beberapa saat ia berada di paseban. Lembu Ampal sedang mencari keterangan, dimanakah kira-kira Tohjaya berada. Dalam pada itu, laporan itu mengatakan bahwa Tohjaya berhasil lolos dari halaman istana.

“Baiklah.” berkata Mahisa Agni, ”Aku akan segera menghadap kakang Witantra. Biarlah Mahendra berada di halaman istana. Masih akan timbul bermacam-macam persoalan di sini. Halaman ini memang tidak dapat ditinggalkan begitu saja.”

“Apakah tuanku memerlukan kuda.” bertanya penghubung itu.

Mahisa Agni mengerutkan keningnya, lalu, ”Jika kau berhasil mendapatkannya barang lima atau enam ekor, aku akan berkuda.”

Sejenak kemudian penghubung itu pun membawa beberapa orang pengawal untuk mencari kuda. Ternyata di kandang kuda yang disediakan bagi para prajurit, sama sekali sudah tidak diketemukan seekor kuda pun karena kuda-kuda itu telah dipergunakan oleh pasukan berkuda keluar halaman istana, ketika prajurit-prajurit di luar halaman mendapat serangan. Tetapi pasukan berkuda itu tidak kembali lagi dengan kuda-kuda mereka. Sebagian besar dari mereka telah tertangkap dan terbunuh. Yang lain menyerah, dan ada satu dua di antara mereka yang lari tanpa tujuan.

Tetapi, penghubung itu masih mencarinya terus ke kandang kuda di belakang bangsal induk. Ternyata di kandang itu masih ada beberapa ekor kuda yang dapat dipergunakannya.

Dengan tergesa-gesa kuda itu pun disiapkannya. Kemudian kuda yang masih ada empat ekor itu pun dibawanya kepada Mahisa Agni, sementara pengawal yang lain telah mendapatkan kuda pula dari Mahisa Wonga Teleng.

Demikianlah Mahisa Agni akhirnya dapat mengumpulkan tujuh ekor kuda. Setelah memberikan beberapa pesan, maka ia pun minta diri kepada Lembu Ampal.

Mahendra masih ada di bangsal tuan puteri Ken Umang. “Terserahlah kepada kalian untuk mengawasi isi halaman ini. Aku akan menjumpai kakang Witantra. Seterusnya aku akan berusaha mengikuti jejak tuanku Tohjaya.”

“Bagaimana dengan tuanku Ranggawuni dan Mahisa Cempaka?”

“Aku akan menghadap sejenak dan bertanya apakah keduanya akan pergi bersamaku.”

“Keduanya sudah berada di dalam kota, di tempat yang sudah ditentukan.”

“Beritahukan kepada Mahendra. bahwa aku pergi berkuda. Karena itu aku tidak melalui jalan rahasia itu.”

Mahisa Agni pun kemudian meninggalkan halaman istana. Gerbang halaman sudah berhasil dibuka dan sudah dikuasai oleh pasukan yang mempergunakan gelang lawe wenang di pergelangan tangannya.

Sejenak kemudian tujuh ekor kuda itu pun berpacu di sepanjang jalan kota. Bekas-bekas pertempuran masih berserakkan di sana-sini. Beberapa orang sedang berusaha mengumpulkan korban yang berceceran di mana-mana.

Mahisa Agni mengusap dadanya yang berdebaran. Banyak nyawa yang melayang. Pembunuhan terjadi di mana-mana di dalam peperangan tanpa pertimbangan lagi.

Tetapi semuanya itu telah terjadi. Setiap orang mengerti dan kadang-kadang dengan tulus hati mengutuk kekejaman perang yang pernah terjadi. Tetapi setiap kali peperangan itu timbul lagi. Orang-orang yang mengutuk perang itu akhirnya terlibat dalam peperangan baru yang juga mengakibatkan kematian dan penderitaan tiada taranya.

Dalam pada itu, Mahisa Agni masih berpacu terus bersama pengawal-pengawalnya dan seorang penghubung yang mengenal tempat Witantra menunggu. Mereka langsung menuju ke tempat yang sudah ditentukan. Tempat yang sudah disediakan buat Ranggawuni dan Mahisa Cempaka.

Kedatangan Mahisa Agni yang tergesa-gesa itu mereka songsong dengan dada yang berdebar-debar. Sebelum Mahisa Agni berkata sesuatu, Mahisa Cempaka sudah mendahuluinya, ”Apa yang sudah terjadi paman?”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam.

“Bagaimana dengan pamanda Tohjaya? Bukankah pamanda Selamat?”

Mahisa Agni memandang kedua anak-anak yang masih sangat muda itu dengan hati yang tertegun-tegun. Keduanya ternyata masih diterangi dengan cinta kasih sehingga bagaimana pun juga mereka masih berharap pamandanya selamat, meskipun Ranggawuni dan Mahisa Cempaka mengetahui, Tohjaya telah memerintahkan Lembu Ampal untuk membunuh mereka. Dan terlebih-lebih lagi Tohjaya telah membunuh Anusapati pula.

Mahisa Agni pun kemudian melaporkan serba singkat tentang apa yang terjadi. Dikatakannya pula bahwa Witantra sedang menunggu di ujung pintu rahasia itu.

“Tuanku Ranggawuni dan tuanku Mahisa Cempaka. Apakah tuanku juga ingin mengikuti jejak pamanda tuanku yang telah meninggalkan istana?”

Ranggawuni dan Mahisa Cempaka saling berpandangan sejenak, dan akhirnya keduanya menganggukkan kepalanya.

Mahisa Agni pun kemudian memerintahkan menyiapkan kuda bagi Ranggawuni dan Mahisa Cempaka serta beberapa orang pengawal.

“Kita akan pergi menemui Witantra di ujung pintu rahasia itu. Kita akan membawa beberapa ekor kuda untuknya tuanku. Kita akan berusaha menyusul pamanda tuanku.” berkata Witantra.

“Jika kita dapat menyusul, apakah yang akan kalian lakukan atas pamanda Tohjaya?”

“Tidak apa-apa tuanku, selain menyerahkan kekuasaan dengan baik kepada tuanku Ranggawuni dan tuanku Mahisa Cempaka. Kemudian berjanji tidak akan mengganggu pemerintahan untuk selanjutnya.”

“Setelah pamanda berjanji?”

“Tuanku.” berkata Mahisa Agni, ”Kita akan memikirkannya kemudian. Tetapi percayalah, bahwa kami tidak akan berbuat apa-apa tanpa perintah tuanku. Sebab jika ada dendam kepada keduanya, maka dendam yang terbesar tentu tersimpan di hati tuanku berdua. Jika tuanku sama sekali tidak menden-dam, maka orang lain sama sekali tidak berhak untuk melakukannya.”

“Baiklah paman.” berkata Ranggawuni kemudian, ”Kita akan segera pergi.”

Demikianlah maka sekelompok pengawal berkuda mengikuti Ranggawuni dan Mahisa Cempaka pergi mendapatkan Witantra bersama Mahisa Agni dan prajurit penghubung yang mengetahui pintu rahasia yang menghubungkan bagian dalam dan luar istana itu. Selain kuda yang mereka pergunakan, maka kelompok itu juga membawa beberapa ekor kuda bagi Witantra dan beberapa orang pengawalnya.

Dalam pada itu, maka Mahendra yang ada di dalam istana, sibuk menyabarkan Ken Umang yang mulai gelisah. Kegelisahan yang menyulitkan. Karena Ken Umang tidak lagi dapat menahan gelojak perasaan karena gangguan ingatannya, maka ia pun kemudian berteriak-teriak. Menangis melolong-lolong, namun kemudian tertawa berkepanjangan.

“Anakku akan menguasai seluruh bumi.” katanya di sela-sela derai tertawanya, ”Semua orang akan berlutut di hadapannya. Juga Mahisa Agni. Ia akan dipaksa untuk mencium telapak kakiku. Dan aku tidak akan mencuci kakiku yang kotor.”

Mahendra menarik nafas dalam-dalam ketika ia kemudian melihat Ken Umang tertawa terbahak-bahak sehingga tubuhnya terguncang-guncang.

“Ia benar-benar kehilangan dirinya sendiri.” berkala Mahendra kepada seorang pengawal yang ada disisinya.

“Ya. Selama ini hatinya digelorakan oleh nafsu ketamakan tiada taranya. Pada saat seperti ini, semuanya yang seakan dapat diendapkan itu, teraduk tanpa dapat dikendalikan lagi.”

Demikianlah maka Mahendra dan beberapa orang pengawal hanya dapat menyaksikan Ken Umang dalam sikapnya yang tidak terkendali itu. Kadang-kadang tertawa, namun kemudian menangis berguling-guling seperti kanak-kanak.

Sekali-sekali Mahendra mencoba menyabarkannya juga. Tetapi hanya untuk sesaat, karena jiwa yang sakit itu tiba-tiba telah meledak pula.

Karena kemudian Mahendra mengetahui bahwa Mahisa Agni tidak akan melalui lubang rahasia itu, maka ia tidak memaksa Ken Umang untuk menyingkir. Karena menurut penilaian Mahendra, jika Ken Umang melihat Mahisa Agni, maka dendam dan kebenciannya akan memuncak dan sulit untuk di tenteramkan lagi.

Sementara itu, Ranggawuni dan Mahisa Cempaka yang diantar oleh Mahisa Agni telah sampai ketempat Witantra yang menunggu. Sejenak keduanya dan Mahisa Agni melihat, betapa pintu dari jalan rahasia itu muncul ke atas permukaan tanah di dalam gerumbul yang cukup rinbun.

“Jadi, apakah yang akan kita lakukan?” bertanya Ranggawuni.

“Menurut pendapat hamba.” berkata Witantra, ”Kita akan mengikuti jejak yang ditinggalkan oleh tuanku Tohjaya. Kita harus dapat menyusulnya dan mohon agar dengan suka rela menyerahkan kekuasaannya.”

Ranggawuni mengerutkan keningnya.

“Bagaimana jika mereka kita biarkan saja pergi?” bertanya Mahisa Cempaka.

“Tuanku.” berkata Mahisa Agni, ”Hamba berpendapat, bahwa tuanku Tohjaya sebaiknya dapat kita ketemukan. Dengan demikian kita akan dapat berbicara dan menjelaskan persoalan yang sebenarnya. Tetapi jika kita tidak berhasil menjumpainya, maka Tuanku Tohjaya akan menganggap bahwa kita akan selalu memusuhinya. Bahkan mungkin tuanku Tohjaya menduga bahwa tuanku berdua akan membalas dendam dan membunuhnya.”

Ranggawuni dan Mahisa Cempaka mengangguk-angguk lemah.

“Karena itu tuanku.” berkata Mahisa Agni kemudian, ”Adalah sudah sebaiknya kita menyusulnya dan memberikan penjelasan yang sejauh-jauhnya sehingga tuanku Tohjaya dapat mempercayainya.”

“Baiklah paman.” berkata Ranggawuni, ”Jika demikian, maka sebaiknya kita pun segera berangkat. Bukankah pamanda Tohjaya hanya berjalan kaki saja?”

“Ya. Tetapi siapa tahu bahwa di sepanjang perjalanannya pamanda tuanku mendapatkan beberapa ekor kuda.” sahut Mahisa Agni.

Ranggawuni dan Mahisa Cempaka pun kemudian mempersiapkan diri untuk pergi bersama Witantra dan Mahisa Agni diikuti oleh beberapa orang pengawal. Mereka masih belum tahu kekuatan yang ada bersama Tohjaya. Mungkin sekelompok kecil. Tetapi mungkin juga pasukan yang kuat.

“Jika keadaan memaksa, maka kita harus mengambil sikap.” berkata Witantra.

Ranggawuni dan Mahisa Cempaka saling berpandangan sejenak, lalu, ”Apakah maksud paman?”

“Jika kekuatan tuanku Tohjaya ternyata jauh melampaui pasukan kecil ini. maka kita wajib menyelamatkan diri. Tetapi menilik jejaknya, pasukan itu tidak terlampau kuat.” berkata Mahisa Agni.

“Mudah-mudahan kita tidak salah duga.” sahut Witantra, lalu, ”Tetapi menilik jejaknya, jumlah mereka memang tidak terlampau banyak.”

Demikianlah pasukan kecil itu mengikuti jejak pasukan yang meninggalkan Singasari. Sekali-sekali mereka mendapatkan tanda bahwa ada orang-orang yang terluka di dalam pasukan yang sedang mereka ikuti itu. Kadang-kadang nampak darah berceceran. Bahkan kadang-kadang mereka dapat menemukan senjata yang tergolek di tanah.

“Jika seorang prajurit masih mampu menggenggam senjata maka senjata itu tidak akan dilepaskan.” berkata salah seorang pengawal.

Dengan demikian, maka pasukan yang sedang mengikuti jejak itu mengambil kesimpulan, bahwa ada orang-orang yang sudah sangat parah, sehingga tidak mampu lagi membawa senjatanya.

Tiba-tiba, pasukan itu terhenti ketika mereka melihat sesosok tubuh yang tergolek di tepi jalan. Mahisa Agni yang berjalan di depan, perlahan-lahan mendekatinya. Ia tidak dapat dengan tergesa-gesa melihat tubuh yang terbaring itu. Mungkin ia justru akan dapat dijebak dan diserang dengan tiba-tiba.

Tetapi ternyata tubuh itu benar-benar sudah tidak berdaya. Darah mengalir dari luka yang menganga di lambungnya.

Ketika Mahisa Agni berjongkok di sisi tubuh yang lemah itu, maka iring-iringan itu pun berhenti.

“Apakah kau salah seorang dari pengawal tuanku Tohjaya yang sedang menyingkir dari istana?” bertanya Mahisa Agni.

Orang itu memandang Mahisa Agni dengan tatapan mata yang sayu. Kemudian ketika bibirnya bergerak, terdengar suaranya parau, ”Ya. Aku adalah pengawalnya.”

“Apakah kau terluka di pertempuran yang terjadi di halaman istana?”

Prajurit yang terluka itu menganggukkan kepalanya.

“Apakah kau tahu, siapakah kami?”

“Ya. Kalian adalah pengkhianat yang telah memberontak kepada tuanku Tohjaya.”

“Apakah tuanku Tohjaya mengatakan demikian?”

“Setiap orang yang setia kepada Singasari mengatakan demikian.”

“Dan kau bersedia mati dalam kesetiaanmu kepada Singasari atau kepada tuanku Tohjaya.”

“Tuanku Tohjaya adalah satu dengan Singasari.”

“Bagaimana dengan tuanku Anusapati? Apakah kau belum pernah mendengar, bagaimana tuanku Tohjaya merebut kedudukannya.”

“Aku tidak peduli.” wajah orang itu menjadi merah padam. Namun tiba-tiba tubuhnya menjadi semakin lemah. Matanya sudah setengah terpejam.

“Aku akan mencoba mengobati lukamu.” berkata Witantra, ”Setidak-tidaknya menahan aliran darah.”

Tetapi sekali lagi orang itu menghentakkan kepalanya dan bangkit bertelekan sikunya, ”Jangan sentuh aku pengkhianat.”

Witantra mengerutkan keningnya. Katanya, ”Dengarlah. Apakah kau pernah mendengar nama tuanku Anusapati?”

“Aku tidak peduli.”

“Cobalah kau kenang masa pemerintahannya yang pendek itu. Cobalah kau membuat perbandingan dengan masa pemerintahan tuanku Tohjaya dalam waktu yang hampir sama.”

Orang itu tiba-tiba menjadi lemah dan hampir saja kepalanya yang tidak tertahankan lagi terantuk tanah. Tetapi Mahisa Agni cepat menyambarnya.

“Dengarlah.” berkata Mahisa Agni, ”Jika kau sempat membuat pertimbangan, siapakah yang sebenarnya memberontak terhadap kekuasaan yang sebenarnya di Singasari? Tuanku Tohjaya telah membunuh tuanku Anusapati.”

“Anusapati telah membunuh tuanku Sri Rajasa.”

“Kau yakin?”

“Menurut tuanku Tohjaya.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak mau berbantah dengan orang yang sudah menjadi sangat lemah. Karena itu, maka ia pun kemudian bertanya, ”Baiklah. Tetapi dimanakah tuanku Tohjaya sekarang?”

“Aku tidak tahu.”

“Kami melihat jejaknya. Maksud kami baik. Barangkali kau dapat memberi penjelasan? Apakah tuanku Tohjaya naik kuda atau berjalan kaki?”

Prajurit itu tidak mau menjawab. Tubuhnya menjadi semakin lemah dan wajahnya bertambah pucat.

Perlahan-lahan Witantra mendekatinya. Dicobanya menaburkan obat diatas luka orang itu. Namun diluar dugaannya, orang itu justru meronta sambil berteriak, ”Pergi, pergi pengkhianat.”

Witantra tidak menghiraukannya. Ia masih saja menaburkan obatnya.

Tetapi agaknya luka orang itu memang terlampau parah dan darah sudah terlampau banyak yang mengalir, sehingga karena itu, ia sudah sangat lemah.

Meskipun demikian ia masih saja tetap bergumam, ”Kau pengkhianat seperti Anusapati yang membunuh Rajasa.”

Witantra tidak menjawab. Ditungguinya orang itu sejenak. Jika lukanya dapat tertolong, maka apabila ia tidak dapat mengikuti jejak Tohjaya seterusnya, orang itu barangkali dapat memberikan sedikit petunjuk.

Tetapi luka itu sudah terlambat mendapat pengobatan. Karena itu, maka dengan tatapan kebencian perlahan-lahan orang itu kehilangan nafasnya, sehingga akhirnya ia pun meninggal dunia.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Orang itu memang sudah tidak mungkin lagi diselamatkan.

“Marilah kita ikuti jejak itu seterusnya.” berkata Mahisa Agni, ”Kita harus menemukannya dan menyelesaikan persoalan Singasari sebaik-baiknya agar perang tidak berkepanjangan di hari-hari mendatang.”

Demikianlah maka kelompok itu pun melanjutkan perjalanan tanpa mendapat gambaran apapun tentang pengikut-pengikut Tohjaya. Apalagi tentang kekuatan dan jumlah orang-orangnya.

“Sampai di sini mereka masih tetap berjalan kaki.” berkata Witantra.

“Jika mereka kemudian mendapatkan kuda di perjalanan, kita akan dapat memperhitungkan kekuatannya menilik jejaknya.” sahut Mahisa Agni.

Witantra mengangguk-angguk. Namun mereka harus tetap berhati-hati.

Dalam pada itu. sebenarnyalah Tohjaya berusaha untuk menyingkir menjauhi istana. Ia berhasrat untuk menyusun kekuatan dan melawan Ranggawuni dan Mahisa Cempaka. Tohjaya masih berniat untuk tetap menguasai tahta Singasari.

Dengan sejumlah pengikutnya Tohjaya yang terluka diusung dengan tandu. Mereka berjalan dengan tergesa-gesa di sepanjang jalan padesan yang sempit. Setiap kali tandunya terguncang Tohjaya berteriak memaki-maki prajurit-prajuritnya yang mengusung tandu itu.

“Kalian telah gila. Aku terluka. Kalian harus berjalan dengan baik. Setiap goncangan membuat lukaku semakin sakit. Darah semakin banyak mengalir dari lukaku.”

Prajurit-prajuritnya sama sekali tidak berani berbuat apapun juga. Mereka berjalan dengan tergesa-gesa tetapi selalu berusaha agar tandu itu tidak terguncang.

Ketika mereka sampai di ujung sebuah padesan terpencil, maka Tohjaya pun menghentikan tandunya. Ketika ia berpaling hatinya menjadi tenang. Prajurit yang mengawalnya cukup banyak sehingga merupakan sebuah barisan yang cukup panjang.

“Kita berhenti di sini.” berkata Tohjaya, ”Aku ingin beristirahat.”

“Tetapi sebaiknya tuanku beristirahat di seberang padesan ini.” berkata seorang Senapati yang mengawalnya, ”Dengan demikian, jika ada pasukan yang mengikuti jejak kita, mereka tidak segera dapat melihat apabila mereka muncul diujung bulak.”

Tohjaya mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia berteriak, ”Apakah kau takut menghadapi orang-orang Rajasa dan Sinelir?”

“Tidak tuanku. Tetapi sekedar sikap berhati-hati.”

Tohjaya termenung sejenak. Namun kemudian dengan wajah tegang ia berkata, ”Kita pergi ke ujung lain dari padesan ini. Senapatiku sudah menggigil mendengar nama orang-orang Rajasa dan Sinelir.”

Tidak ada yang menjawab. Prajurit-prajurit yang mengusung tandu itu pun segera mengangkat tandu Tohjaya dan membawanya melalui lorong di padesaan kecil itu sampai ke ujung yang lain.

Kepada beberapa orang prajurit Senapati itu memerintahkan untuk berjaga-jaga di ujung lorong.

“Aku mempunyai firasat bahwa mereka akan mengejar kita. Kita tidak sempat melenyapkan jejak.”

“Apakah mereka akan dapat menemukan lorong rahasia di bawah tanah itu?”

“Tidak mustahil. Mereka akan menjelajahi setiap sudut ruangan bangsal yang manapun juga. Tetapi mungkin juga ada orang yang melihat iring-iringan ini dan dengan sengaja berkhianat.”

Demikianlah maka beberapa orang prajurit sambil berlindung mengawasi bulak panjang yang terbentang di hadapan mereka. Dengan demikian mereka dapat melihat setiap orang yang muncul di ujung bulak di kejauhan, sementara Tohjaya beristirahat di padesan itu.

Tanpa minta ijin kepada pemilik-pemiliknya yang ketakutan dan bersembunyi di dalam gubug-gubug kecil, prajurit-prajurit yang lelah itu telah memanjat batang-batang kelapa. Airnya dapat diminum dan kelapa-kelapa yang masih muda itu pun dikunyahnya sekedar mengisi perut.

Bahkan, kemudian bukan saja kelapa dan buah-buahan. Tetapi beberapa orang prajurit telah masuk ke dalam dapur dan mengambil makanan apa pun yang ada di dalam dapur itu.

Namun dalam pada itu, prajurit-prajurit yang berjaga-jaga di ujung lorong telah melihat debu yang berhamburan. Kemudian nampak beberapa ekor kuda muncul dan maju perlahan-lahan.

“Itulah mereka?” bertanya salah seorang prajurit yang berjaga-jaga itu.

Kawannya menjadi berdebar-debar. Di kejauhan mereka melihat sekelompok orang-orang berkuda yang nampaknya memang sedang mencari jejak.

“Cepat laporkan.” berkata yang seorang kepada yang lain, ”Aku dan beberapa prajurit tetap berada di sini.”

Salah seorang dari prajurit-prajurit itu pun segera berlari-lari menyampaikan laporan tentang sekelompok pasukan berkuda yang telah menyusul mereka.

“Pasukan berkuda yang mana?” bertanya seorang Senapati.

“Maksudku orang-orang berkuda.”

Senapati itu termangu-mangu sejenak. Kemudian ia pun memberanikan diri mendekati Tohjaya yang sedang beristirahat. Dengan ragu-ragu ia mencoba untuk mengatakan laporan yang disampaikan oleh prajurit itu. Tetapi ia harus sangat berhati-hati, karena Tohjaya agaknya benar-benar telah berubah menjadi seorang yang cepat sekali tersinggung, marah dan ber-tindak seakan-akan di luar sadarnya.

“Tuanku.” berkata Senapati itu, ”Beberapa orang prajurit yang mengawasi bulak itu menyampaikan laporan.”

Tohjaya yang lelah dan terluka itu mengerutkan keningnya. Dan tiba-tiba saja ia membentak, ”Coba, katakan sekali lagi.”

Senapati itu menjadi ragu-ragu. Tetapi ia sadar, bahwa ia harus menyampaikan berita itu.

“Tuanku, di ujung bulak nampak sekelompok orang-orang berkuda menuju ke arah ini.”

“Gila.” teriak Tohjaya, ”Kenapa mereka menuju ke-mari?”

“Agaknya mereka menemukan jejak kita.”

“Bodoh sekali. Dungu dan gila. Kenapa jejak kita dapat dikenali?”

Senapati itu menjadi bingung.

“Persetan dengan pencari jejak itu.”

“Tetapi mereka benar-benar menuju ke arah ini tuanku.”

“Aku tidak peduli. Aku ingin beristirahat di sini.”

Senapati itu menjadi semakin bingung. Lalu katanya, ”Tetapi bagaimana jika benar-benar datang?”

“Apakah kau sudah menjadi lumpuh. Usir mereka.”

“Tuanku.” berkata Senapati itu, ”Hamba akan berusaha mengusir mereka. Tetapi demi keselamatan tuanku, apakah tidak sebaiknya tuanku melanjutkan perjalanan. Jika mereka telah terusir, maka tuanku akan dapat beristirahat lebit tenang lagi.”

“Jadi, kau mengganggu istirahatku kali ini?” Tohjaya berteriak semakin keras.

Senapati itu termangu-mangu. Namun kemudian ia berkata, ”Hamba akan menurut segala perintah tuanku. Apakah yang harus hamba lakukan sekarang tuanku?”

Tohjaya termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia menyadari bahwa ia sedang dalam perjalanan untuk menyelamatkan diri. Sikap Senapati yang seakan-akan menyerahkan segalanya kepadanya itu justru membuat Tohjaya menjadi bimbang.

Akhirnya ia pun berteriak, ”Kita berjalan terus.” Lalu katanya kepada Senapati, ”Bagi orang-orangmu. Sebagian ikut bersamaku, yang lain jebak orang-orang berkuda itu di sini. Kau tentu dapat memperhitungkan jumlah yang kau perlukan untuk membinasakan orang-orang berkuda itu.”

Senapati itu menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, ”Baiklah tuanku. Hamba akan melakukannya.”

Senapati itu pun kemudian memerintahkan beberapa orang prajurit menyiapkan tandu. Sejenak kemudian perjalanan Tohjaya itu pun dilanjutkannya, dikawal oleh prajurit-prajurit pilihan dengan senjata telanjang di tangan.

Namun dalam pada itu, wajah-wajah mereka menjadi semakin kuyu. Bahkan beberapa orang di antaranya telah sampai pada batas ketahanan jiwanya. Mereka menjadi putus asa dan tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Tetapi mereka berjalan terus. Betapapun sulitnya. Jalan yang mereka lalui semakin lama menjadi semakin sempit dan berbatu-batu.

Dalam pada itu. Senapati pengiring Tohjaya itu dengan tergesa-gesa pergi kemulut lorong. Ia ingin melihat sendiri, seberapa banyak orang-orang berkuda yang menyusul perjalanannya.

Sekilas ia melihat, bahwa orang-orang berkuda itu jumlahnya tidak begitu besar. Tetapi ia pun mengerti bahwa mereka tentu terdiri dari orang-orang pilihan.

“Mungkin Mahisa Agni ada di antara mereka.” berkata Senapati itu.

Karena itu, maka diperintahkannya sebagian besar dari prajuritnya untuk tinggal di padukuhan itu.

“Kalian harus menahan orang-orang berkuda itu. Kalian tidak boleh ragu-ragu. Mereka harus kalian binasakan sampai orang yang terakhir.” berkata Senapati itu, ”Aku akan melanjutkan perjalanan mengawal tuanku Tohjaya. Kami akan menunggu kalian di padukuhan berikutnya. Jika kalian sudah berhasil, kalian harus segera menyusul kami.”

Prajurit-prajurit itu pun kemudian diserahkannya kepada seorang pemimpin kelompok yang berpengalaman. Orang itu memiliki kemampuan yang cukup, sehingga menurut penilaian Senapati itu. maka pemimpin kelompok dengan pasukannya itu akan dapat menyelesaikan tugasnya.

Setelah memberikan perintah itu, maka Senapati itu pun dengan tergesa-gesa menyusul Tohjaya yang mendahuluinya. Rasa-rasanya ia sedang melepaskan seorang bayi dipinggir sumur yang dalam. Cemas, ragu-ragu dan kadang-kadang ketakutan mengenang masa yang mendatang.

Dalam pada itu Tohjaya telah meninggalkan padesan yang baru saja disinggahinya. Ia pun kemudian juga diburu oleh kecemasan. Apabila orang-orang Rajasa dan Sinelir sempat memburunya, maka mereka tentu akan melepaskan dendamnya kepadanya, karena ia sudah membunuh beberapa orang di antara mereka dan menyisihkan mereka dari tugas-tugasnya.

Dalam pada itu Mahisa Agni dan Witantra bersama Ranggawuni. Mahisa Cempaka dan pengiring-pengiringnya sudah menjadi semakin dekat dengan padesan yang sudah siap menyambut mereka. Di balik dinding batu dan pepohonan, prajurit-prajurit pengawal Tohjaya telah menunggu dengan senjata di tangan. Apabila pasukan yang mendatang itu mendekat, dan memasuki regol, maka prajurit-prajurit itu akan menyergap mereka, seperti seekor tikus yang sudah ada di dalam perangkap.

Mahisa Agni dan Witantra yang berkuda di ujung pasukannya maju terus perlahan-lahan sambil mengamati jejak di depan kaki kudanya. Jejak yang masih sangat jelas nampak.

“Semakin lama kita menjadi semakin dekat dengan mereka.” berkata Mahisa Agni, ”Ternyata dengan jejak yang menjadi semakin jelas.”

Witantra mengangguk-angguk. Katanya, ”Jejak ini tentu baru saja ditinggalkan oleh pengawal-pengawal tuanku Tohjaya. Kita memang sudah berada pada jarak yang sangat dekat.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Diangkatnya kepalanya dan memandangi regol padukuhan kecil yang ada di hadapannya.

“Padukuhan itu nampaknya terlampau sepi.” berkata Mahisa Agni, ”Tidak ada anak-anak yang bermain-main di ujung desa. Dan tidak ada seorang pun yang berada di sawah di sekitar padesan itu.”

“Tentu mereka menjadi ketakutan. Tuanku Tohjaya baru saja lewat padukuhan itu.”

Sejenak Mahisa Agni terdiam. Dipandanginya padukuhan itu dengan saksama. Seakan-akan ia ingin melihat langsung kebalik pepohonan dan dinding batu yang mengitari padukuhan itu.

Tetapi ternyata tatapan mata Mahisa Agni dan Witantra memang sangat tajam, dibantu oleh firasatnya. Karena itu, maka setelah mereka menjadi semakin dekat, mereka pun telah diganggu oleh keragu-raguan untuk meneruskan perjalanan.

‘Witantra.” berkata Mahisa Agni, ”Aku melihat ujung senjata yang berkilat di balik pepohonan.”

Wirantra menganggukkan kepalanya. Katanya, ”Aku juga melihat sesuatu. Beberapa buah ranting kecil bergerak-gerak tidak sewajarnya. Jika angin bertiup dan menggerakkan ranting-ranting itu, maka kita akan melihat gerak yang seirama Tetapi dedaunan itu bergerak dengan kesan yang lain.”

Mahisa Agni menarik kekang kudanya sehingga kudanya pun berhenti beberapa puluh langkah didepan regol. Dengan isyarat ia menghentikan seluruh iring-iringan.

“Kenapa kita berhenti di sini pamanda?” bertanya Ranggawuni.

Mahisa Agni tidak segera menyahut. Ditatapnya padukuhan dihadapannya dengan tanpa berkedip.

Dan Mahisa Agni pun kemudian yakin bahwa ia melihat sesuatu. Ia melihat ujung senjata mencuat dari balik dinding batu. Dan ia melihat dedaunan yang bergerak tidak wajar seperti dikatakan oleh Witantra.

“Kita menghadapi sesuatu tuanku.” berkata Mahisa Agni, ”Dibalik dinding batu itu telah menunggu sekelompok prajurit. Kita tidak tahu berapa besar kekuatan mereka.”

“Jadi maksud pamanda?”

“Tuanku berdua harus terhindar dari bahaya. Aku yakin bahwa di antara mereka yang menunggu kita tidak ada yang berkuda. Karena itu, tuanku berdua sebaiknya berada di ekor pasukan. Jika jumlah mereka terlampau besar, kita harus menghindar. Dan tuanku harus lebih dahulu terhindar dari tangan mereka.”

“Kita melarikan diri?”

“Bukan melarikan diri tuanku.” Witantralah yang menyahut, ”Tetapi kita menghindari lawan yang tidak terlawan. Itu bukan cacat atau cela bagi prajurit di peperangan. Memang berbeda halnya jika kita berperang tanding, atau menurut pertimbangan tidak ada jalan keluar dari kesulitan itu. Maka kita akan melawan sampai nafas kita yang terakhir.”

Ranggawuni dan Mahisa Cempaka termangu-mangu sejenak. Lalu, ”Jadi, apa yang harus kami kerjakan?” bertanya Ranggawuni.

“Tuanku berdua berada di bagian belakang dari pasukan ini. Bukan suatu sikap yang licik. Tetapi tuanku berdua masih terlalu muda untuk mengatasi kesulitan di medan perang yang tidak seimbang.”

“Jika keadaannya seimbang?”

“Terserahlah kepada tuanku. Tetapi sebaiknya tuanku tidak berada di peperangan.”

Ranggawuni dan Mahisa Cempaka termangu-mangu sejenak. Tetapi mereka percaya bahwa Mahisa Agni dan Witantra memiliki pengalaman dan pengetahuan yang cukup tentang medan. Karena itu mereka tidak membantah lagi. Diiringi oleh empat orang pengawal terpilih keduanya pun kemudian menempatkan diri di ekor pasukan.

“Kita harus maju perlahan-lahan.” berkata Mahisa Agni.

“Kita jangan memasuki regol itu.” desis Witantra.

“Ya. Kita akan berada di luar regol dan memancing mereka meloncati dinding batu. Dengan demikian kita akan mengetahui, setidak-tidaknya mendapat gambaran dari kekuatan mereka.”

“Jika jumlah mereka membahayakan tuanku Ranggawuni dan Mahisa Cempaka, apa salahnya kita menyelamatkannya lebih dahulu sebelum kita akan menghadapinya.”

Mahisa Agni mengangguk-angguk. Beberapa langkah mereka maju lagi mendekati regol padukuhan yang sepi itu.

Dalam pada itu, prajurit yang menunggu di balik dinding batu dan pepohonan menjadi termangu-mangu. Sebagian dari mereka melihat dengan jelas, bahwa yang ada dipaling depan adalah Mahisa Agni. Bahkan ada satu dua orang yang dengan berdebar-debar menyebut, ”Yang seorang itu adalah Panji Pati-pati.”

“Darimana kau tahu?”

“Aku pernah melihatnya. Aku pernah bertugas mengikuti Panglima Pelayan Dalam ke Kediri dan melihat orang yang mendapat kuasa dari Mahisa Agni itu.”

“Kau pernah menjadi Pelayan Dalam?”

“Tidak. Tetapi aku pernah diperbantukan mengawal tunggul kerajaan.”

Yang lain tidak menyahut lagi. Tetapi hati mereka telah dirayapi oleh perasaan gelisah dan cemas. Mahisa Agni bagi para prajurit telah dikenal sebagai orang yang tidak teratasi. Ia adalah imbangan dari tuanku Sri Rajasa.

“Tetapi apakah ia dapat melawan sejumlah orang sekaligus.” prajurit-prajurit itu menenteramkan diri mereka. Mereka merasa bahwa jumlah mereka lebih banyak dari para pengawal yang datang bersama Mahisa Agni dan Witantra itu.

Namun demikian, rasa-rasanya mereka tidak sabar lagi menunggu. Jika Mahisa Agni memasuki regol, maka orang-orang yang ada di sebelah menyebelah regol itu akan melontarkan tombak mereka serentak.

“Sebagian mereka akan terbunuh pada serangan yang pertama.” berkata para prajurit itu di dalam hati.

Tetapi Mahisa Agni tidak membawa pasukannya masuk melalui regol padukuhan itu.

Sejenak Mahisa Agni duduk diam di atas kudanya. Namun dalam pada itu suasana menjadi tegang. Orang-orang bersembunyi di balik dinding batu dan pepohonan rasa-rasanya sudah tidak dapat menunggu lebih lama lagi. Nafas mereka seolah-olah menjadi sesak, dan tubuh mereka bagaikan terhimpit oleh ketegangan yang semakin memuncak.

Tetapi pasukan yang mendatang itu masih tetap diam di luar regol.

“Apakah mereka sudah mengetahui bahwa kami menunggu di sini.” desis seorang prajurit kepada orang yang diserahi memimpin kelompok itu.

“Mungkin.” Jawabnya, ”Tetapi aku belum yakin.”

”Kita masih harus menunggu?”

“Ya.”

“Darahku hampir membeku.”

”Sebentar lagi kalian akan mendapat kesempatan mencucurkan darah dari tubuh mereka.”

Prajurit itu terdiam. Dan mereka memang masih harus menunggu beberapa lama, sehingga mereka menjadi benar-benar tidak tahan lagi.

Dalam pada itu, prajurit dan pengawal yang menyertai Mahisa Agni pun menjadi gelisah pula. Mereka sudah terlampau lama menunggu di atas punggung kuda. Tetapi mereka mengerti bahwa di hadapan mereka tentu ada bahaya yang menunggu.

Dari mulut ke mulut mereka mendengar bahwa di balik dinding batu itu telah menunggu sepasukan prajurit. Bila mana mereka memasuki regol, maka senjata akan berhamburan membunuh mereka sebelum sempat melawan.

Karena itulah, setiap prajurit yang ada di punggung kuda itu pun mencoba memperhatikan dengan saksama, apakah yang ada dihadapan mereka.....

Bersambung.....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...