Minggu, 31 Januari 2021

SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG JILID 24-02

*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 24-02*

Karya.   : SH Mintardja

“Mereka adalah orang-orang kepercayaanku.” kata orang bertubuh tinggi itu, “Meskipun jumlah kami hanya lima belas, tetapi kami dapat meratakan hutan ini.”

“Siapakah namamu Ki Sanak.“ bertanya Empu Sanggadaru tiba-tiba.

Orang itu mengerutkan keningnya. Sekilas ia memandang Empu Baladatu. dua orang cantrik dan dua orang pengawal. Baru kemudian ia berkata, “Tidak ada gunanya kau bertanya tentang namaku. Juga nama orang-orangku. Yang penting, kami adalah orang-orang yang tidak dapat dihina dengan cara apapun juga. Kami adalah orang-orang dari Perguruan Serigala Putih.”

“O.” desis Empu Sanggadaru “Ciri serigala itu menunjukkan siapakah kalian. Kalian adalah orang-orang yang disebut berilmu hitam. Tetapi bahwa kau menyebut perguruamnu dengan nama serigala putih adalah sangat mengejutkan.”

Pemimpin perguruan serigala putih itu tertawa terbahak-bahak. Katanya, “Kenapa kau persoalkan nama yang telah kami pilih. Serigala Putih. Bagus selagi. Meskipun orang lain menyebut kami berilmu hitam.”

Empu Sanggadaru mengangguk-angguk. “Memang tidak ada hubungan antara nama dan landasan ilmumu itu. Kau dapat memilih nama yang paling bagus sekali pun Menur putih misalnya. Atau barangkali nama sejenis burung yang paling indah.”

“Cukup.” bentak pemimipin Serigala Putih itu, ”Jangan mencoba bergurau untuk melunakkan hatiku. Sekarang aku akan menuntut tanggung jawabmu atas kematian orang-orangku di padepokanmu.”

“Baiklah.” Empu Sanggadaru menarik nafas, “Tetapi apakah kau sudah mengetahui sebab-sebabnya?“

“Orang-orangku sudah mengatakan kepadaku.”

“Apakah mereka berkata dengan jujur?”

“Orang-orangku adalah orang-orang yang jujur. Mereka mengatakan kepadaku, bahwa orang-orangmu marah karena orang-orangku yang kebetulan bermalam di padepokanmu menginginkan seorang gadis. Hanya seorang gadis yang tidak berarti. Tetapi kau membunuh orang-orangku. Orang laki-laki.”

Empu Sanggadaru mengerutkan keningnya. Dengan ragu-ragu ia berkata, “Ya. Orang-orangmu ternyata jujur. Orang-orangmu ingin merampas seorang gadis Dan itu menumhuhkan kemarahan pada kami.”

“Itu adalah alasan yang gila. Seharusnya kalian membiarkan gadis itu. apalagi berakibat jatuhnya korban. Dan korban itu adalah laki-laki.”

“Aku tidak mengerti.” desis Empu Sanggadaru.

“Itulah kebodohanmu. Bagi kami. perempuan tidak ada harganya. Setiap perempuan yang masih belum dimiliki oleh siapapun juga, ia tidak berhak menolak keinginan seorang laki-laki atasnya. Perempuan bagi kami adalah beban. Jika mereka bukannya lantaran untuk melahirkan keturunan, maka mereka tentu akan kami musnakan.”

Terasa sesuatu bergejolak di dalam dada Empu Sanggadaru. Sekilas ia memandang wajah Empu Baladatu yang berkerut.

Ternyata Empu Baladatu pun menjadi heran. Bahkan hampir diluar sadarnya ia bertanya “Jadi, kalian benar-benar tidak menghargai perempuan?”

“Ilmu kami adalah ilmu yang paling baik di seluruh muka bumi. Bagi kami, perempuan adalah mahluk yang sama sekali tidak berharga. Tetapi meskipun demikian, kami memerlukannya, karena kami menginginkan anak. Terutama anak. laki-laki, meskipun kami memelihara anak-anak perempuan pula.”

“Jadi, harga seorang perempuan tidak lebih dan tidak kurang dari yang kau katakan?”

“Masih ada nilai yang lain. Kadang-kadang kami memerlukan perempuan seperti yang terjadi pada orang-orangku yang kalian bunuh itu.”

Empu Sanggadaru mengangguk-angguk. Katanya, “Itulah sebabnya, maka kalian disebut berilmu hitam. Tentu kalian pernah pula pada suatu kali mengorbankan seorang gadis untuk ilmumu yang sesat itu.”

“Darimana kau mengetahuinya?“ berkata pemimpin serigala putih itu.

“Aku pernah mendengar ilmu seperti yang kau anut sekarang Tetapi masih ada jenis ilmu hitam yang lain. Ilmu yang mempergunakan titik darah seseorang bagi kekuatan tenaga yang terlontar dari ilmu itu. Dan sudah tentu, bahwa keduanya adalah ilmu yang biadab.”

Dada Empu Baladatu tergetar mendengar kata-kata kakaknya itu. la sadar, bahwa kakaknya banyak mengetahui tentang ilmu yang disebut ilmu hitam yang ternyata ada beberapa macam jenis dan cara penyadapannya.

Namun demikian, Empu Baladatu masih berusaha menyimpan gejolak perasaanya di dalam hatinya. Bahkan ia masih bertanya Ki Sanak. Seandainya kalian tidak menghargai perempuan, itu adalah tata cara di dalam lingkunganmu. Tetapi kau tidak dapat menerapkan adat itu pada orang lain yang memiliki tata cara dan adat yang berbeda.”

“Itu adalah perbuatan pengecut. Kau sangka bahwa aku merasa wajib menghargai tata cara dan adat orang lain Ternyata kalian telah terperosok ke dalam kebodohan. Kalian menganggap bahwa kematian itu merupakan peringatan yang membuat kami jera. Tidak. Kami justru datang untuk menguasai kalian, padepokan kalian dan semua perempuan di dalamnya. Dan kalian tahu, apa gunanya kami masih juga memelihara perempuan-perempuan, seperti kami memelihara ternak, agar jenis manusia seperti juga jenis bermacam-macam binatang tidak punah karenanya.”

“Itu pikiran gila.” geram Empu Baladatu, “Mungkin aku juga termasuk orang liar seperti kalian, tetapi aku masih menghargai jenis manusia, apakah ia perempuan apakah laki-laki seperti kami masih merasa memerlukan kawan dari orang-orang yang harus memelihara anak keturunan kami.”

“Jangan mengigau. Aku tidak peduli anggapan orang-orangku. Karena yang bertanggung jawab adalah Sanggadaru, maka aku akan membunuhnya sekarang.”

Empu Sanggadaru menarik nafas. Dalam sekali. Sekilas dipandanginya Empu Baladatu dan kedua pengawalnya. Katanya kemudian, “Baladatu. Kau adalah tamu di sini. Kau seharusnya tidak terlibat dalam kesulitan semacam ini. Karena itu, jika kau merasa bahwa kau tidak ikut bertanggung jawab, tinggalkan tempat ini, Mudah-mudahan orang-orang berilmu hitam itu cukup jantan dengan membiarkan orang-orang yang tidak bersalah menyingkir.”

Tetapi Empu Baladatu bukanya seorang penakut meskipun ia cukup licik. Orang-orangnya pun pernah melakukan seperti yang dilakukan oleh orang-orang yang disebut kakaknya berilmu hitam itu. Bahkan ia sendiri pernah melakukan kebiadaban yang barangkali senada. Namun kini, ia merasa dirinya terikat pada jalur darah keturunan. Empu Sanggadaru adalah kakaknya, sehingga ia tentu tidak akan dapat membiarkannya terjerumus dalam kesulitan justru di depan hidungnya.

Karena itu, maka menjawab, “Kakang, aku sudah berada di sini. Aku kira, yang paling baik aku lakukan adalah bersamamu melawan orang-orang itu. Aku tidak menghiraukan apakah mereka benar atau salah. Tetapi yang penting, ia sudah memusuhi orang yang di sini bersamaku dalam perburuan ini. TerIebih lagi ia adalah kakakku.”

“Persetan “ geram pemimpin dari kelompok yang menyebut diri mereka Serigala Putih, “Aku akan membunuh kalian. Seandainya kau akan laripun tidak akan aku berijalan. Kalian, siapapun juga, harus mati di sini. Dan aku akan kembali ke padadepokanmu sambil.membawa kepalamu. Dengan demikian seisi padepokan itu akan menyerah dan menjadi orang-orangku. Mereka tentu tidak akan dapat mencegah lagi, apapun yang akan kami lakukan terhadap perempuan-perempuan di padepokan itu.”

Empu Sanggadaru menggeretakkan giginya. Katanya, “Baiklah Ki Sinak. Sebenarnyalah bahwa kami pun bukan orang alim yang lembut. Kami juga orang liar dan mungkin juga biadab. Karena itu, seperti yang dikatakan adikku, marilah, seperti seekor harimau yang bertemu dengan kawanan serigala. Tentu saja di antara kami tidak akan dapat dengan lemah lembut mempersilahkan pihak lain menggigit leher, atau menyobek perut.”

Orang-orang dari kelompok Serigala Putih itu menjadi tegang. Dengan satu isyarat mereka pun kemudian menebar, lima belas orang dengan senjata telanjang di tangan.

Empu Sanggadaru mengerutkan keningnya ketika terpandang olehnya seekor harimau hidup yang terikat. Harimau itu adalah milik Maharaja Singasari. Jika ia terbunuh, tidak mustahil harimau itupun akan dirampas pula oleh orang-orang yang mengaku diri bernama Serigala Putih.

Sejenak kemudian, maka kelima belas orang berilmu hitam itu tiba-tiba telah melingkari keenam orang yg sedang menunggui dua ekor harimau hasil buruan itu.

Empu Baladatu menjadi bedebar-debar melihat sikap itu. Sepercik pertanyaan telah melonjak di dalam hatinya. “Apakah orang yang menyebut Serigala Putih itu juga mempergunakan ilmu yang serupa ?“

Sejenak Empu Baladatu masih menunggu. Namun tangannya telah menggenggam sebatang tombak pendek. Dengan sengaja ia tidak mempergunakan pisau belatinya, agar ia tidak terjerat ke dalam tindakan yang dapat memperkenalkan dirinya sebagai orang berilmu hitam pula.

Kedua pengawal Empu Baladatu telah menggenggam pedangnya. Dengan isyarat kedua pengawalnya menyadari, bahwa mereka tidak langsung masuk ke dalam ilmu mereka yang paling mantap.

Sementara itu Empu Sanggadaru dan kedua cantriknya telah bersiap pula. Mereka berdiri berdekatan. Agaknya cara itu adalah cara yang paling baik untuk melawan jumlah yang jauh lebih banyak.

“Jika kalian menyerah.” berkata pemimpin Serigala Putih itu, ”Mungkin aku masih mempunyai beberapa pertimbangan. Yang harus mati adalah Sanggadaru. Yang lain mungkin masih akan dapat melihat matahari terbit esok pagi.”

Tidak ada yang menjawab. Empu Baladatu berdiri tegak bagaikan patung dengan tombak bertangkai pendek di tangannya. Namun setiap kali diluar sadarnya, ia masih juga meraba pisau belati panjangnya.

Sejenak ketegangan telah mencengkam tempat itu. Orang-orang berilmu hitam dari kelompok Serigala Putih itu telah siap dengan senjata masing-masing. Ternyata senjata mereka bukanlah pisau-pisau belati pendek atau panjang atau pisau belati rangkap, tetapi sebagian besar dari mereka adalah bersenjata pedang. Pemimpinnya memegang senjata yang agak lain, sebuah bindi yang bergerigi. Sedangkan seorang yang lain, memegang sebilah keris yang besar dan panjang, seperti sebilah pedang.

Pemimpin Serigala Putih itu kemudian melekatkan jari-jarinya di mulutnya. Ketika terdengar mulut itu bersuit nyaring, maka mulailah kelima belas orang itu bergerak. Mereka melangkah maju dengan senjata yg teracu.

Keenam orang yang berada di dalam lingkaran itu telah bersiap menghadapi kemungkinan. Senjata mereka bagaikan bergetar di tangan yang bergetar pula.

Sejenak kemudian, maka terdengar sebuah teriakan nyaring, bukan lagi sebuah suitan. Agaknya perintah itulah yang menentukan, kapan orang-orang Serigala Putih itu mulai berloncatan menyerang dengan dahsyatnya.

Ternyata bukan senjata mereka sajalah yang bergerak menyambar, tetapi mulut mereka pun berteriak-teriak tidak keruan. Keras dan kasar.

Empu Sanggadaru mengerutkan keningnya melihat sikap yang kasar dan keras itu. Tetapi ia tidak boleh membuat pertibangan-pertibangan terlalu banyak karena lawan-lawannya telah berloncatan menyerang dengdn garangnya.

Dengan hati-hati Empu Sanggadaru menempatkan dirinya dekat dengan kedua cantriknya. Mereka berdiri saling membelakangi. Beberapa langkah dari mereka Empu Baladatu telah mempersiapkan diri pula bersama kedua pengawalnya. Tetapi mereka pun bersikap lain dari Empu Sanggadaru. Mereka lebih senang bertempur di tempat yang luas, karena sudah menjadi kebiasaan mereka untuk mempergunakan tata gerak yang panjang meskipun untuk melayani lawannya kali ini, mereka tidak langsung berada di dalam sebuah lingkaran yang berputaran.

Ternyata orang-orang yang berilmu hitam yang tergabung di dalam kelompok yang disebut Serigala Putih itu tidak mempergunakan cara yang selama itu dipakai oleh Empu Baladatu, Mereka tidak bergerak dalam lingkaran yang berputaran.Tetapi mereka menyerang lawannya bersama-sama. Mereka telah membagi diri untuk menghadapi lawannya yang terpecah pula.

Pemimpin Serigala Putih itu bersama beberapa orang pengiringnya bersama-sama menyerang Empu Sanggadaru yang bertempur berpasangan dengan kedua cantriknya. Sementara itu beberapa orang yang lain telah menyerang Empu Baladatu dan kedua pengawalnya yang bertempur terpisah.

Dalam benturan pertama, sudah terasa, betapa Empu Sanggadaru mempunyai kekuatan yang tidak terduga oleh lawannya. Pemimpin Serigala Putih itu terkejut ketika senjatanya membentur senjata Empu Sanggadaru. Hampir saja senjatanya terlepas. Untunglah bahwa ia sempat meloncat surut dan memperbaiki keadaan, sementara beberapa orang-orangnya telah melindunginya.

Dengan demikian maka Empu Sanggadaru dapat menjajagi, bahwa meskipun lawannya berlipat jumlahnya, namun ia masih mempunyai kesempatan untuk keluar dari lingkaran maut itu.

Dalam pada itu sekilas ia melihat adikmu yang sedang menghadapi tiga orang sekaligus. Dengan garangnya Empu Baladatu menangkis setiap serangan, dan bahkan kemudian ia pun menyerang dengan garangnya pula.

Empu Sanggadaru menjadi agak tenang. Nampaknya adiknya tidak segera mengalami kesulitan.

“Mudah-mudahan kami mampu mempertahankan diri.” gumam Empu Sanggadaru di dalam hatinya.

Ternyata bahwa Empu Sanggadaru yang telah berhasil membunuh seekor harimau dengan tangannya itu benar-benar memiliki kekuatan yang luar biasa. Meskipun masih nampak goresan-goresan luka di tubuhnya, yang sudah tidak mengalirkan darah lagi, namun itu sama sekali tidak mempengaruhinya. Ia masih tetap lincah dan garang.

Namun dalam pada itu, kedua pengawal Empu Baladatu yang masing-masing harus bertempur melawan dua orang, ternyata pada permulaan perkelahian itu sudah nampak, bahwa mereka akan segera menemui kesulitan, justru karena mereka bertempur dengan cara yang tidak biasa mereka lakukan.

“Bertahanlah dengan caramu itu.” teriak Empu Baladatu.

Kedua pengawalnya tidak menyahut. Tetapi mereka terdesak mundur.

Empu Baladatu yang kemudian mempergunakan setiap kesempatan untuk menolong kedua pengawalnya. Ia bertempur seperti seekor burung. Meskipun ia tidak berlari-lari melingkari lawannya, namun ia mempergunakan ruang yang luas untuk mengatasi kesulitannya.

Sikapnya memberikan contoh kepada kedua pengawalnya. Seperti Empu Baladatu, maka mereka pun mempergunakan cara yang serupa. Meskipun mereka tidak dapat melingkari lawannya, namun gerakan yang panjang itu rasa-rasanya telah memberikan nafas kepada mereka.

Loncatan-loncatan yang jauh, dan sekali-sekali tidak dapat menyembunyikan unsur gerakan melingkar, telah membuat lawannya harus menyesuaikan diri.

Itulah kemenangan mereka. Mereka sudah terbiasa berkelahi dengan gerakan dan tenaga yang banyak. Berlari-lari berputaran untuk waktu yang lama. Dan kini mereka pun tidak segera diganggu oleh pernafasan mereka yang terlatih ketika mereka bertempur sambil berloncatan, dan bahkan berlari-lari.

“Licik.” tiba-tiba salah seorang dari kelompok Serigala Putih itu berteriak karena lawannya selalu menghindar menjauhkan kemudian dengan tiba-tiba menyerang dengan loncatan yang panjang.

“Siapkah yang lebih licik.“ jawab salah seorang pengawal Empu Baladatu, “Kalian bertempur berpasangan. Jika aku hanya menghadapi seorang lawan, aku akan mempergunakan cara yang lain.”

Lawannya menggeram. Mereka mencoba untuk mengurung gerak pengawal Empu Baladatu. Tetapi mereka tidak berhasil karena pengawal-pengawa itu mampu bergerak jauh lebih lincah dan cepat. Selebihnya pernafasan mereka pun lebih terlatih untuk melakukan gerakan yang jauh lebih banyak lagi.

Sementara itu, lawan Empu Sanggadaru dan kedua cantriknya telah membelah kelompoknya dan mengepung mereka bertiga. Delapan orang yang dipimpin langsung oleh pimpinan gerombolan orang berilmu hitam yang bernama Serigala Putih itu.

Namun nampaknya Empu Sanggadaru memang memiliki kekuatan yang melampaui kekuatan orang kebanyakan. Bahkan melampaui pemimpin gerombolan Serigala Putih itu, sehingga karena itu, maka setiap serangannya tentu telah menyibakkan lawan-lawannya.

Tetapi lawan terlalu banyak. Sebanyak yang menyibak, maka sebanyak itu pulalah yang datang menyerang, sehingga Empu Sanggadaru dan kedua cantriknya harus bertempur mati-matian.

Namun betapun mereka mengerahkan tenaganya, tetapi mereka tidak banyak dapat bernafas. Mereka bahkan kemudian hampir-hampir tidak sempat menyerang sama sekali. Yang dapat mereka lakukan adalah sekedar mempertahankan diri.

Meskipun demikian, Empu Sanggadaru masih berusaha. untuk melihat kelemahan kepungan lawannya. Jika dengan serta merta Empu Sanggadaru menyerang dinding kepungan yang hanya selapis itu. ia masih melihat kemungkinan untuk keluar. Tetapi ia tidak mau meninggalkan kedua cantriknya didalam kesulitan.

Karena itulah, sebelum menemukan suatu cara yang paling baik untuk mematahkan kepungan itu, maka Empu Sanggadaru masih membatasi diri, sekedar bersama-sama dengan kedua cantriknya untuk bertahan.

Dalam pada itu, Empu Baladatu ternyata dapat lebih leluasa melakukan perlawan meskipun lebih banyak berloncatan dan berputar-putar. Bahkan dengan sengaja ia membuat lawan-lawannya menjadi semakin marah karena Empu Baladatu dan kedua pengawalnya telah membuat pepohonan menjadi perisai dan perlindungan. Mereka berlari-lari berputaran mengelilingi pohon-pohon besar yang tumbuh di sekitarnya.

“Licik, gila.” teriak salah seorang lawannya, “Kenapa kau tidak bersikap jantan? Kemarilah. Kita bertempur di tempat yang lapang dan terbuka.”

“Jika kalian berjanji untuk berkelahi seorang melawan seorang, aku tidak berkeberatan. Aku akan melawan tiga orang berurutan, tidak sekaligus. Dan aku akan membunuh tiga orang itu pula berurutan.“ jawab Empu Baladatu.

“Persetan.” geram lawannya.

Dengan demikian, maka Empu Baladatu masih saja bertempur di antara pepohonan dan gerumbul-gerumbul perdu. Sekali-sekali ia berlari-larian di antara pepohonan, namun tiba-tiba ia meloncat menyerang dengan tiba-tiba. Bahkan tanpa dapat menghindarkan diri dari pengaruh ilmunya yang sebenarnya, kadang-kadang Baladatu pun berlari berputaran.

Demikian pula kedua pengawalnya. Mereka pun bertempur dengan cara yang sama. Tetapi karena mereka tidak memiliki ilmu semantap Empu Baladatu, maka mereka lebih banyak berlari-lari menghindar daripada menyerang. Namun demikian kadang-kadang mereka pun dapat menyerang dengan tiba-tiba dan membahayakan lawannya.

Empu Sanggadaru melihat cara bertempur adiknya dengan heran. Ia sama sekali tidak segera dapat melihat, ilmu yang manakah yang nampak pada adiknya itu. Ia mendapat ilmu dasar yang sama dengan Baladatu. Namun dalam perkembangannya menjadi sangat jauh berbeda.

Tetapi Empu Sanggadaru tidak sempat menilai adiknya lebih lama lagi. Ia mengambil kesimpulan, bahwa yang dilakukan oleh Baladatu adalah semata-mata untuk mengatasi kesulitan sesaat yang datang tidak terduga-duga itu. Memang tidak terlalu mudah untuk melawan tiga orang sekaligus. Seperti yang dialaminya, bahwa ia harus melawan delapan orang bersama-sama dengan dua orang cantriknya itu.

Namun bagaimanapun juga, karena orang-orang Serigala Putih itupun memang sudah membekali dirinya dengan ilmu pula, ternyata bahwa lawan-lawan mereka akan sulit dapat bertahan terlalu lama. Empu Baladatu yang berlari-larian pun akhirnya harus mengakui kelebihan tiga orang lawannya bersama-sama. Mereka kemudian menemukan cara untuk memotong setiap gerakan Empu Baladatu. Sementara itu kedua pengawalnya pun mengalami kesulitan pula.

Seperti Empu Baladatu, Empu Sangadaru pun mengalami tekanan yang sangat berat. Semakin lama terasa semakin berat. Apalagi pimpinan Serigala Putih itu ada di antara mereka yang beramai-ramai mengepung Empu Sanggadaru.

Sorak dan teriakan masih saja mengumandang di hutan itu. orang-orang berilmu hitam itu agaknya dengan sengaja mempengaruhi jiwanya dengan suara-suara yang mengejutkan dan keras. Sangat keras. Namun agaknya teriakan-teriakan itu juga memberikan tekanan dan dorongan pada setiap gerak yang mereka lakukan.

Jika untuk beberapa lama, keenam orang itu masih dapat bertahan, itu adalah karena ternyata mereka memiliki ilmu yang lebih baik dari lawan-lawannya. Tetapi perbedaan jumlah ternyata telah sangat menentukan pula.

Ketika desakan lawannya menjadi semakin berat, maka rasa-rasanya ujung senjata mereka telah mulai menyentuh kulit. Dengan mengerahkan ilmu dan tenaga, keenam orang itu masih dapat menghindar dan menangkis setiap serangan. Tetapi mereka pun mulai dirayapi oleh pengakuan, bahwa mereka menjadi sangat lelah karenanya, sehingga dengan demikian, maka perlawanan mereka pun mulai surut.

Pemimpin Serigala Putih itu melihat, bahwa Empu Sanggadaru dan kedua cantriknya tidak lagi segarang sesaat ketika mereka mulai dengan pertempuran itu. Meskipun kekuatan Empu Sanggadaru masih menggoncangkan hati lawan-lawannya, namun, terutama pada kedua orang cantriknya, rasa-rasanya perlawan sudah menjadi kendor.

“Kami hanya menunggu saat itu datang.“ berkata pemimpin Serigala Putih itu. “Kematian memang sudah membayang. Tetapi agaknya kalian ingin disebut jantan. Mati dengan senjata di tanganku.”

Empu Sanggadaru tidak menyahut. Ia memusatkan perhatiannya pada usaha untuk memecahkan kepungan.

“Apakah aku sendiri harus keluar dari kepungan itu dan membantu kedua cantrik itu dari luar lingkaran?” pertanyaan itu mulai menggelitik hatinya.

Tetapi Empu Sanggadaru tidak sampai hati meninggalkan kedua cantriknya yang setia itu. Jika ia terlambat, maka keduanya tidak akan tertolong lagi karena tekanan lawan seolah-olah sudah tidak terbendung lagi.

Demikian pula keadaan Empu Baladatu. Bagi Empu Baladatu sendiri, meskipun ia harus melawan tiga orang tetapi ia masih melihat kemungkinan baginya menyelamatkan diri di sela-sela pepohonan, meskipun seandainya ia harus melarikan diri. Tetapi kedua orang pengawalnya, benar-benar telah mengalami tekanan yang hampir tidak teratasi.

Yang kemudian terjadi adalah benar-benar mencemaskan. Seandainya pada saat yang dekat, Empu Baladatu dan Empu Sanggadam masih dapat bertahan, tetapi jika para pengawalnya dan cantriknya terbunuh, maka akan datang saatnya, keduanya pun akan terbunuh pula.

Tetapi Empu Sangggadaru tidak akan ingkar. Seandainya ia harus mati karena dendam yang menyala di hati lawan-lawannya itu, ia sudah ikhlas. Tetapi yang mendebarkan jantungnya justru akibat dari kematiannya. Orang-orangnya di padepokan tentu akan mengalami perlakukan yang sama sekali tidak diinginkan.

“Jika aku sempat mengumpulkan kekuatan di padepokan. maka tentu tidak akan dapat terjadi perlakuan serupa.“ desis Empu Sanggadaru di dalam hatinya. Tetapi yang terjadi sudah terlanjur terjadi. Ia tidak berada di antara anak buahnya.

“Adalah suatu kelengahan bahwa dalam keadaan yang gawat aku meniggalkan padepokanku.” ia melanjutkan di dalam hati, “Tetapi semata-mata karena keinginanku untuk mengantarkan adikku melihat isi hutan ini. Dan aku sama sekali tidak memperhitungkan bahwa hal itu akan terjadi saat ini, justru ketika aku sedang terpisah dari cantrik-cantrikku.”

Tetapi semuanya itu sekedar penyesalan yang tidak akan berarti apa-apa. Ia harus bertempur dan tanpa dapat lagi menghindari kemungkinan buruk yang bakal terjadi.

Namun dalam kesulitan itu, tiba-tiba semua pihak yang sedang bertempur terkejut ketika beberapa orang muncul dari balik gerumbulan-gerumbulan perdu di sekitar lapangan kecil yang menjadi arena perkelahian itu. Apalagi ketika mereka melihat, bahwa yang datang itu adalah beberapa orang prajurit dalam pakaian keprajuritan.

“Apakah yang telah terjadi.” berkatanya seorang paling di antara mereka.

Empu Sanggadaru segera mengenal orang itu, meskipun ia berpakaian keprajuritan. Karena itu, iapun menjawab, “Kami sedang menghadapi dendam yang membakar hati kelompok Serigala Putih. Sekelompok orang yang berilmu hitam.”

“He?” Lembu Ampal terkejut. Baru saja ia disangka oleh tiga orang yang tidak dikenalnya, sebagai orang-orang berilmu hitam. Dan kini ia benar-benar berhadapan dengan sekelompok orang yang disebut berilmu hitam.

Sejenak Lembu Ampal sempat mengamati pertempuran yang agaknya telah terganggu itu. Dengan kening yang berkerut ia berkata, “Aku sudah beberapa saat mengintip pertempuran ini dari balik gerumbul. Ketika aku mendekati tempat ini untuk mengambil harimau itu bersama beberapa orang prajurit, aku mendengar suara ribut. Orang-orang yang berteriak dan memaki-maki. Karena itulah, maka kami memutuskan untuk mendekati tempat ini dengan diam-diam. Dan sekarang, ternyata bahwa di tempat ini telah terjadi pertempuran.”

“Persetan.” geram pemimpin kelompok Serigala Putih itu, “Jangan ganggu kami. Jika kalian ingin mengambil harimau itu, ambillah. Kami tidak mempunyai persoalan apapun juga dengan kalian.”

“Mungkin. Tetapi kami mengenal Empu Sanggadaru. Karena itu, mau tidak mau, kami pun akan tersentuh juga oleh persoalan yang sedang terjadi sekarang ini.”

“Jika kau mengenalnya, itu bukan berarti bahwa kau telah terlibat dalam persoalannya. Sanggadaru telah membunuh beberapa orang dari padepokanku. Dan aku kini datang untuk menuntut balas.”

“Tetapi pembunuhan itu tidak terjadi dengan semena-mena.” sahut Empu Sanggadaru, “Orang-orangmu telah melanggar adab yang berlaku dalam pergaulan manusia.”

“Aku tidak mengakui peradaban orang lain, kecuali yang berlaku di dalam lingkungan kami. Karena itu, kami tidak dapat dipersalahkan. Apalagi dibunuh.”

Lembu Ampal yang mendengar keterangan itu, dapat mulai melihat meskipun samar, persoalan apakah yang sedang terjadi. Karena itu, maka ia pun kemudian melangkah maju sambil berkata, “Adalah kuwajiban kami untuk mencegah pertengkaran yang terjadi seperti sekarang ini. Karena itu, marilah kita selesaikan persoalan ini sebaik-baiknya.”

“Ia telah membunuh orang-orangku. Dan itu sudah terjadi. Penyelesaian yang paling baik bagiku adalah tebusan kematian dengan kematian.”

“Tetapi kematian itu tentu ada sebabnya. Jika sebabnya itu cukup besar, sehingga kematian itu tidak dapat dihindarkan, maka penilainya harus berbeda.“ jawab Lembu Ampal.

“Demikian juga kali ini. Jika terjadi pembantaian karena alasannya cukup kuat maka itupun tidak dapat dicegah dan harus mendapat penilan yang lain pula.“ teriak pemimpin Serigala Putih itu.

“Kami mempertahankan kehormatan seorang gadis.” tiba-tiba saja Empu Sanggadaru memotong, “Itulah sebabnya kami terpaksa membunuh beberapa saat yang lampau.”

“Kehormatan seorang perempuan tidak berarti apa-apa bagi kami.” teriak pemimpin Serigala Putih itu.

Lembu Ampal memandang wajah pemimpin kelompok yang menyebut dirinya Serigala Putih itu dengan tajamnya. Kemudian dengan suara yang datar ia bertanya, ”Apakah memang demikian penilaianmu terhadap seorang perempuan?“

“Ya.”

“Tetapi apakah kau menyadari bahwa kau juga dilahirkan oleh seorang perempuan? Bahkan ibumu yang mengasuhmu sejak bayi itupun seorang perempuan?”

Pemimpin Serigala Putih itu termangu-mangu sejenak. Tetapi karena ia sudah berdiri dialas suatu sikap yang keras, maka iapun berteriak, “Apa peduliku dengan ibuku? Ia memang seorang perempuan. Tetapi ia hanyalah sekedar alat untuk melahirkan aku dan memeliharaku karena kewajiban.“

Lembu Ampal mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Jika itu pendirianmu, maka sebaiknya aku memperingatkanmu, jangan mempertahankan sikap dan pendirian yang salah itu dengan menambah kematian. Apakah itu anak buahmu sendiri, atau anak buah orang lain.”

“Persetan. Apa pedulimu?”

“Lihat Ki Sanak.” berkata Lembu Ampal, “Aku tidak sendiri.”

“Berapa banyak prajuritmu. Kami dengan lima belas orang akan membinasakan seisi hutan ini, termasuk prajurit-prajurit yang tersesat ke dalamnya.”

Lembu Ampal menarik nafas dalam-dalam. Agaknya orang itu memang sudah mengeraskan hatinya, sehingga tidak dapat diajak berbincang lagi.

“Ki Sanak.“ berkata Lembu Ampal, “Kami datang dengan lima orang prajurit. Bahkan jika kami memberikan isyarat, maka kawan-kawan kami yang aku perintahkan menunggu di ujung hutan ini akan segera berdatangan.”

Pemimpin kelompok yang menyebut dirinya Serigala Putih itu justru tertawa. Katanya, “Kau mencoba menakut-nakuti aku. Aku bukan anak-anak lagi. Apapun yang akan kau lakukan, bahkan memanggil semua prajurit di seluruh Singasari, kami sama sekali tidak akan gentar.”

Lembu Ampal masih akan berbicara lagi. Tetapi perwira yang masih sangat muda, yang memimpin prajurit-prajurit Singasari itu sudah mendahului, “Kami adalah prajurit Singasari yang terucapkan adalah perintah. Kau kami anggap telah melanggar ketenteraman hidup rakyat Singasari. Karena itu, perbuatan kalian harus dicegah. Jika perlu dengan kekerasan.”

“Persetan?”

Perwira itu maju selangkah. Dengan wajah yang tegang ia berkata kepada Lembu Ampal, “Bagi kami sudah pasti. Orang inilah sebab dari pertengkaran yang telah terjadi, la sama sekali tidak bersedia mendengarkan pertimbangan kami.”

Lembu Ampal meng-angguk-angguk kecil. Katanya, “Masih ada kesempatan Ki Sanak. Aku sudah melihat, bahwa kau tidak segera dapat mengalahkan lawanmu yang jumlahnya jauh lebih .kecil dari jumlah anak buahmnu. Kami akan membuat pertimbangan lebih jauh jika kau mau mengurungkan niatmu untuk membunuh, karena nampaknya tidak ada niatmu yang lain kecuali melepaskan dendam dan menaburkan kematian di sini.”

“Tepat. Dan tidak ada orang yang dapat melarang. Jika kau ikut campur maka kematian akan bertambah. Dan kalian pun terpaksa menyesali nasib kalian yang malang.”

“Tidak ada gunanya lagi kita berbicara.” perwira muda yang datang bersama Lembu Ampal itu tidak sabar lagi, “Jika kalian memang keras kepala, maka kami pun akan mencegah perbuatan kalian yang biadab itu dengan kekerasan. Mungkin benar sebutan bagi kalian, bahwa kalian adalah orang-orang yang berilmu hitam seperti yang dikatakan oleh pemburu itu.”

“Apapun yang kalian katakan, aku tidak peduli. Kami akan membunuh kalian dan melemparkan kalian ke mulut harimau yang terikat tetapi masih hidup itu. Bahkan mungkin akan datang pula serigala lapar jika mencium bangkai kalian yang membusuk di sini.”

Perwira muda itu menjadi marah. Selangkah ia maju dan berkata kepada Empu Sanggadaru, “Aku dan para prajurit yang ada bersamaku ada di pihakmu.”

Empu Sanggadaru menarik nafas dalam-dalam. Bersama dengan Lembu Ampal, prajurit itu berjumlah enam orang. Dengan demikian maka jumlah mereka akan menjadi seimbang, meskipun masih berselisih beberapa orang.

“Besiaplah.” teriak pemimpin Serigala Putih ini, “Aku akan membunuh kalian. Jika kalian masih mempunyai kawan yang bersembunyi, berikan isyarat agar mereka segera membantu kalian. Karena dengan demikian tugasku akan segera selesai. Membunuh kalian semuanya. Kemudian menguasai padepokan pemburu gila itu bersama semua isinya termasuk perempuan-perempuan.”

Wajah Empu Sanggadaru rasa-rasanya menjadi panas seperti tersentuh bara. Dengan nada yang dalam tertahan-tahan ia menggeram, “Kalian memang biadab.”

Pemimpin Serigala Putih itu tidak menjawab. Dengan isyarat ia memerintahkan anak buahnya memencar dan siap menghadapi lawan yang lebih banyak.

Prajurit-prajurit Singasari pun segera mempersiapkan diri, tetapi mereka tidak segera melepaskan isyarat untuk memanggil kawan-kawannya yang ditinggalkan saat mereka mendahului melihat apa yang terjadi, karena mereka mendengar teriakan, yang liar dan kasar.

Lembu Ampal masih termangu-mangu sejenak. Namun ia tidak mendapat kesempatan karena pemimpin Serigala Putih itu sudah meloncat menyerang Empu Sanggadaru, sementara anak buahnya pun segera berloncatan pula menyerang setiap orang yang ada di dekat mereka termasuk Empu Baladatu dan Lembu Ampal.

Tetapi Lembu Ampal dan para prajurit, serta orang-orang lain yang mendapat serangan yang tiba-tiba itu masih sempat mengelak. Bahkan Lembu Ampal masih sempat berkata, “Ki Sanak, apakah kalian tidak dapat membuat pertimbangan? Sebelum kami turun di gelanggang, kalian sudah mendapat kesulitan untuk mengalahkan lawan-lawan kalian yang jumlahnya jauh lebih kecil dari jumlah kalian. Apalagi sekarang.”

“Persetan.” geram pemimpin kelompok Serigala Putih itu, “Waktunya sebenarnya sudah, tiba untuk membinasakan pemburu gila yang menyebut dirinya bernama Empu Sanggadaru itu. Tetapi kalian telah mengganggu sehingga saat itu tertunda beberapa saat. Namun kalian tidak akan mampu mencegahnya. Bahkan kalian pun akan ikut serta binasa bersama mereka.“

“Seandainya kami tidak cukup kuat, maka kami dapat memanggil kawan-kawan kami yang berada tidak jauh dari tempat ini.”

“Sudah aku katakan, aku tidak takut. Jangan mencoba menakut-nakuti kami dengan ceritera bohongmu itu.”

Lembu Ampal menarik nafas dalam-dalam. Ia meloncat surut ketika seorang lawannya menyerang dengan ujung pedangnya yang runcing.

Namun dalam pada itu, Perwira prajurit yang masih muda itu sama sekali tidak dapat menahan hati lagi. Kesabarannya tidak selapang Lembu Ampal yang umurnya sudah hampir dua kali lipat dari umur perwira muda itu.

Karena itulah, maka sambil berteriak ia menyerang, “Baiklah. Aku akan memperlihatkan kepada kalian, bahwa aku tidak sedang membual.”

Serangannya pun tiba-tiba menjadi semakin garang. Senjatanya berputaran menyambar-nyambar. Agaknya ia benar-benar akan membuktikan ucapannya, bahwa ia tidak sedang bergurau.

Lembu Ampal sendiri tidak banyak mengalami kesulitan melayani dua orang lawannya sekaligus. Tetapi keduanya bukannya orang terkuat di dalam lingkungan Serigala Pulih, sementara pemimpinnya yang mendendam sepanas api kepada Empu Sanggadaru dibantu oleh seorang pengawalnya, masih saja berusaha membunuh Empu Sanggadaru itu.

Kelebihan yang seorang lagi dari gerombolan Serigala Putih itu telah menggabungkan diri dengan seorang kawannya yang bertempur melawan Empu Baladatu. Agaknya mereka menyadari bahwa Empu Baladatu pun merupakan seorang yang pilih tanding.

Dengan demikian,maka orang-orang berilmu hitam dari gerombolan yang menyebut dirinya Serigala Putih ilu ternyata telah menjerumuskan diri mereka sendiri ke dalam kesulitan. Ternyata bahwa dendam yang menyala membakar jantung mereka, telah memburamkan mata mereka yang tidak lagi dapat melihat kenyataan.

Dengan demikian, maka keadaan pun segera berbalik. Orang-orang dari gerombolan Serigala Putih pun segera mengalami tekanan yang berat. Dalam pertempuran seorang lawan seorang, maka mereka sama sekali tidak akan mampu mengalahkan para prajurit Singasari. Apalagi perwira muda yang marah itu. Sedangkan pengawal Empu Baladatu pun adalah pengawal yang terpilih. Demikian juga agaknya para cantrik yang mengikuti Empu Sanggadaru.

Yang mengalami kesulitan di antara mereka adalah Empu Sanggadaru sendiri, meskipun ia masih merasa mampu untuk mempertahankan dirinya. Ia harus melawan pemimpin gerombolan yang menyebut dirinya Serigala Putih itu dibantu oleh seorang anak buahnya yang tidak kalah buasnya dengan pemimpin kelompok itu sendiri.

Karena itulah maka Empu Sanggadaru masih harus mengerahkan kemampuannya. Ia harus mempertahankan dirinya sejauh-jauh dapat dilakukan, sebelum kemudian dengan tiba-tiba ia mencari kesempatan untuk mengurangi jumlah lawannya.

Namun lawannya pun agaknya mempunyai pertimbangan yang cukup berbahaya baginya. Pemimpin Serigala Putih itu berusaha untuk dapat membunuh Empu Sanggadaru segera, sehingga ia kemudian dapat membantu kawan-kawannya, mengurangi jumlah lawannya seorang demi seorang.

Karena itulah maka pemimpin gerombolan Serigala Putih itu dengan bernafsu sekali berusaha menghancurkan Empu Sanggadaru secepat-cepatnya.

Tekanan itu memang terasa semakin berat. Pemimpin gerombolan itu agaknya benar-benar telah mengerahkan puncak kemampuannya.

Ketika ia dikepung oleh beberapa orang Serigala Pulih barsama kedua cantrik, agaknya pemimpin gerombolan itu masih belum mengungkapkan ilmu puncaknya, seperti yang dialaminya saat itu.

Namun kelika sekilas ia memandang pertempuran di sekitarnya, ia merasa berlega hati, karena nampaknya tidak seorangpun dari mereka yang berada di pihaknya mengalami kesulitan. Adiknya, Empu Baladatu yang juga harus melawan dua orang, juga tidak mengalami kesulitan karena keduanya bukanlah orang-orang puncak dari kelompok Serigala Putih itu. Demikian pula Lembu Ampal. Bahkan Empu Sanggadaru dapat melihat dengau jelas, bahwa Lembu Ampal, akan segera dapat memenangkan perkelahian itu apabila dikehendaki.

Tetapi Empu Sanggadaru tidak dapal berteriak agar Lembu Ampal melakukannya dan kemudian membantunya, meskipun sebenarnya bahwa ia merasa sangat berat melawan pemimpin gerombolan yang mempergunakan segala kemampuan yang ada padnnya itu.

Dengan baik kedua lawan Empu Sanggadaru itu dapat bekerja bersama, meskipun tingkat kemampuan mereka tidak sama. Setiap kali mereka berhasil saling melindungi dan mengisi kekurangan yang lain sehingga Empu Sanggadaru menjadi berdebar-debar.

Namun dalam pada itu, ketika pertempuran itu sedang berlangsung, tiba-tiba saja telah tumbuh sesuatu di hati Empu Baladatu. Jika benar orang-orang ini berilmu hitam, apapun jenisnya, maka mungkin pada suatu saat ia akan dapat menghubungi mereka. Mungkin mereka akan dapat diajak bekerja bersama. Bukan saja untuk mengembangkan niatnya, kekuasaan tertinggi di Singasari, tetapi juga ia akan dapat mengembangkan ilmunya dengan tata gerak yang memiliki nafas yang sejalan. meskipun ada beberapa perbedaan-perbedaan yang mungkin dapat tertembus oleh kepentingan bersama.

Karena itu maka Empu Baladatu tidak segera mengerahkan segenap kemampuannya untuk membinasakan kedua lawannya meskipun ia mampu. Yang dilakukannya kemudian adalah sekedar mempertahankan diri. Bahkan kadang dengan sengaja ia menunjukkan kepada lawannya, bahwa ia tidak ingin membunuh keduanya atau salah satu dari mereka.

Sementara itu. Lembu Ampal bertempur dengan sigapnya Tetapi nampaknya iapun tidak bernafsu untuk membunuh. Yang dilakukannya adalah sekedar bertahan dan menghindar. Tapi tentu saja dengan latar belakang niat yang jauh berbeda dengan Empu Baladatu.....

Bersambung....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...