*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 07-02*
Karya. : SH Mintardja
“Ki Sanak.” berkata pemimpin penjaga itu kemudian, ”Aku adalah orang yang malam ini bertugas memimpin penjagaan di sekitar bangsal ini. Kami terpaksa minta agar Ki Sanak berdua mematuhi permintaanku.”
Salah seorang pengawal Mahisa Agni itu kemudian bertanya, ”Ki Sanak, sebenarnya selama ini kami selalu bertanya-tanya di dalam hati. Apakah yang sebenarnya sedang kalian jaga di sini?”
“Kami menjaga keselamatan tuanku Mahisa Agni.”
“Itulah yang tidak aku mengerti. Jika kalian memang bertugas untuk menjaga keselamatan tuanku Mahisa Agni, maka kalian tidak usah berkeberatan jika kami berdua berada di sini. Kami pun sedang melakukan tugas yang sama seperti kalian.”
“Kami tidak menyangkal. Tetapi tugas kalian adalah di dalam bangsal. Tugas kami di luar bangsal. Ki Sanak tentu juga seorang prajurit. Dengan demikian Ki Sanak tentu mengetahui bahwa pembagian daerah pengawasan itu perlu, agar tidak terjadi salah paham di antara kita yang sebenarnya mempunyai tugas yang sama.”
Kedua pengawal itu termangu-mangu sejenak rasa-rasanya mereka sudah cukup lama berbantah. Ketika mereka menebarkan tatapan mata mereka berkeliling, dilihatnya di bawah cahaya obor di sudut-sudut ragol dan gardu, beberapa orang prajurit sedang memperhatikan mereka dengan saksama.
“Mudah-mudahan Pati-pati sudah berhasil memasuki bangsal.” mereka berharapan di dalam hati.
Karena itu, maka salah seorang dari keduanya itu pun kemudian berkata, ”Baiklah Ki Sanak. Agaknya memang tidak seharusnya kami berbantah. Apalagi di malam hari yang akan dapat menarik banyak perhatian para prajurit. Aku tidak akan berkeliaran di halaman. Tetapi minta ijin untuk duduk di depan pintu sambil membuka pintu bangsal bagian depan. Sampai saatnya kami merasa tubuh kami segar kembali dan keringat kami sudah kering, maka kami akan menutup pintu dan tidur dengan nyenyak.”
“Terserahlah kepada kalian.” berkata pemimpin penjaga itu.
Demikianlah maka kedua orang pengawal itu pun naik tangga bangsal dan kemudian duduk di pintu yang mereka buka lebar-lebar. Tetapi mereka telah memadamkan lampu minyak di ruang depan dari bangsal itu, sehingga ruang itu nampaknya hanya hitam pekat dari luar.
Di dalam bangsal, Witantra dan Mahisa Agni telah mempersiapkan segala keperluan kedua anak-anak itu. Bahkan ternyata Mahendra pun ikut memasuki bangsal itu pula.
“Kita harus mendukung anak-anak itu meloncat dinding.” desis Witantra, ”Karena itu aku membawa Mahendra serta.”
Setelah semua pembicaraan telah cukup, serta pesan-pesan dan rencana-rencana di saat yang akan datang, maka kedua anak-anak itu pun kemudian dibangunkannya.
“Apakah semuanya sudah siap?” bertanya Ranggawuni masih setengah tidur.
“Ssst, jangan berbicara apapun.” desis Mahisa Agni di telinga anak itu. ”Bangunlah dan bersiaplah.”
Kedua anak-anak itu pun kemudian membenahi diri. Sejenak mereka memulihkan kesadaran mereka. Kemudian setelah minum barang seteguk, maka Ranggawuni pun berkata, ”Aku sudah siap. Apakah kita akan pergi sekarang?”
“Kau akan pergi bersama Paman Pati-pati.” berkata Mahisa Agni.
Ranggawuni mengerutkan keningnya. Dipandanginya Witantra yang beridir termangu-mangu di sisinya.
“Yang seorang adalah paman Mahendra.”
Ranggawuni dan Mahisa Cempaka mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Kalian harus percaya kepada mereka. Turutlah segala perintahnya. Aku tidak pergi bersama kalian agar tidak menimbulkan kecurigaan dan menimbulkan akibat yang amat jauh. Jika kalian pergi tanpa menyangkut namaku akibatnya akan dapat dibatasi pada Lembu Ampal saja.”
Kedua anak-anak itu tidak begitu mengerti maksud Mahisa Agni, namun keduanya mengangguk-anggukkan kepalanya.
Sejenak kemudian, maka saat yang mereka tunggu telah datang. Mahisa Agni pun kemudian memberikan isyarat kepada beberapa orang pengawalnya untuk memancing perhatian pera penjaga itu kembali kepintu depan.
Demikianlah maka beberapa orang pengawal pun kemudian berkumpul di muka pintu depan. Mereka berbicara dengan seenaknya saja sehingga sangat mengganggu para penjaga di regol halaman dan bahkan di sekitar bangsal itu.
Pemimpin penjaga bangsal itu menjadi kian curiga. Ternyata yang dua orang masih belum masuk kembali, bahkan kemudian disusul oleh beberapa orang lagi yang duduk di muka pintu yang terbuka.
Dengan dada yang berdebar-debar pemimpin penjaga bangsal mendekatinya. Kemudian ia pun bertanya, ”Apakah yang kalian bercakapkan di malam hari begini?”
“Panas sekali. Ternyata di luar udara terasa sejuk. Namun menurut kedua kawanku ini, kami tidak boleh turun kehalaman.”
“Jangan membuat ribut. Seharusnya kalian masuk dan pintu itu pun ditutup.”
“Bagaimana jika aku minta ijin untuk berada di halaman. Tentu kami tidak akan berbuat apa-apa. Kami tidak memakai pakaian lain kecuali selembar lancingan. Jika kami bersenjata, senjata itu tentu akan nampak.”
Pemimpin penjaga itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia menggelengkan kepalanya sambil berkata, ”Tidak Ki Sanak. Itu tidak perlu.”
“Udara panasnya bukan main.”
“Kau sudah beberapa malam berada di Singasari. Dan kau tidak pernah merasa kepanasan dan berbuat seperti ini.”
Para pengawal itu terdiam sejenak. Ternyata bahwa pemimpin penjaga itu cukup cermat mengamati keadaan, sehingga karena itu, para pengawal itu tidak memaksanya lagi, agar dengan demikian tidak akan menumbuhkan kecurigaan yang lebih besar dan bahkan mungkin akan dapat mengganggu usaha Witantra untuk melarikan kedua anak-anak dari lingkungan istana Singasari.
Namun waktu yang sedikit itu, telah dapat dipergunakan sebaiknya oleh Witantra dan Mahendra. Selagi para prajurit yang bertugas di sekitar bangsal itu tertarik kepada pembicaraan pemimpinnya dengan beberapa pengawal yang berkumpul di muka pintu, dan yang memang menumbuhkan kecurigaan sehingga diam-diam para prajurit itu pun bersiaga. Witantra dan Mahendra telah berhasil membawa kedua anak-anak muda dari bangsal, Witantra menyusup gerumbul dan pohon bunga-bungaan yang memang terdapat di sekitar bangsal Mahisa Agni itu.
Beberapa saat Mahisa Agni masih dicengkam oleh ketegangan. Namun ia pun sudah siap menghadapi segala kemungkinan. Jika kepergian Ranggawuni dan Mahisa Cempaka itu dapat diketahui oleh para penjaga, maka tidak ada jalan lain daripada kekerasan untuk melindunginya.
Tetapi setelah beberapa saat tidak terdengar keributan maka Mahisa Agni pun menarik nafas dalam-dalam. Ia merasa agak lapang dadanya, karena menurut perhitungannya Witantra sudah tidak berada di daerah pengawasan prajurit-prajurit di bangsalnya.
Meskipun demikian Mahisa Agni masih harus bersiapa. Jika Witantra gagal meloncat dinding karena ia membawa kedua anak-anak itu, maka persoalannya masih akan sama saja. Kekerasan.
Dalam pada itu .Witantra dengan hati-hati membawa Ranggawuni merayap di dalam gelapnya malam, sedang Mahendra mengikuti di belakang sambil membimbing Mahisa Cempaka. Mereka menerobos petamanan yang penuh dengan pohon-pohon bunga di dalam sisa malam yang dingin. Menjelang fajar para penjaga di sekitar istana sudah merasa lelah dan kantuk. Dan biasanya menjelang fajar tidak akan terjadi apa-apa lagi, sehingga dengan demikian mereka menjadi sedikit lengah karenanya, dibandingkan saat-saat sebelumnya.
“Kita harus segera meloncat dinding.” desis Witantra.
“Aku tidak dapat.” sahut Ranggawuni.
Witantra memandang Ranggawuni sejenak. Tetapi ia pun kemudian tersenyum sambil berkata, ”Aku akan mendukungmu.”
“Dan andinda Mahisa Cempaka?” bertanya Ranggawuni.
“Biarlah Mahendra yang mendukungnya.”
Ranggawuni mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia percaya bahwa kedua orang itu akan mampu melakukannya. Apalagi ia tidak begitu menyadari bahaya yang sedang mengancam dirinya sehingga karena itu, maka kedua anak-anak itu tidak begitu merasa kecemasan.
Berbeda dengan kedua anak-anak itu, maka baik Witantra maupun Mahendra telah dicengkam oleh ketegangan. Mereka merasa dibebani oleh tanggung jawab yang sangat berat, karena kedua anak-anak itu bukan sekedar anak-anak kebanyakan yang harus diselamatkan nyawanya. Tetapi bagi Singasari kedua anak-anak itu mempunyai arti tersendiri.
Ketika Witantra dan Mahendra sudah sampai di tepi halaman, maka mereka pun beristirahat sejenak. Dengan saksama mereka mengamati kadaan di sekitarnya. Namun agaknya malam terlampau sepi dan hening.
Dalam pada itu, selagi Witantra dan Mahendra diam melekat dinding halaman di balik bayangan gerumbul pohon-pohon bunga, Mahisa Agni telah keluar pula di pintu depan. Dengan lantang ia membentak-bentak pengawalnya dan menyuruh mereka masuk dan menutup pintu.
“Apakah kalian sangka, kalian berada di rumah kakekmu?” geram Mahisa Agni, ”Untunglah aku terbangun dan mengetahui bahwa kalian telah berbuat tidak sewajarnya malam ini. Coba kesan apakah yang terdapat pada para prajurit Singasari tentang kawan-kawannya yang selama ini berada di Kediri? Seakan-akan kalian telah kehilangan tata laku sebagai seorang prajurit. Duduk berdesakkan hampir telanjang di depan pintu bangsal ini, bangsalku, seorang yang mendapat kekuasaan Maharaja Singasari di Kediri.”
Para pengawal itu pun kemudian dengan tersipu-sipu masuk ke dalam dan menutup pintu bangsal itu kembali.
Para prajurit memperhatikan keadaan itu dengan berdebar-debar. Ternyata Mahisa Agni dapat berbuat tegas pula terhadap para pengawalnya yang menurut para prajurit penjaga, memang berlaku agak berlebih-lebihan.
Sementara itu Witantra sudah siap untuk meloncat. Ia telah mendukung Ranggawuni di punggungnya dan mengikat tubuh anak itu pada tubuhnya dengan kain panjang agar anak itu tidak terjatuh selagi ia melayang.
Demikian juga Mahendra telah mendukung Mahisa Cempaka di punggungnya pula.
“Hati-hatilah. Kita akan terbang sejenak.” desis Witantra.
“Paman akan terbang?” bertanya Ranggawuni. Witantra tersenyum. Tetapi ia tidak menjawab lagi.
Sejenak ia berpaling dan memberi isyarat kepada Mahendra yang sudah siap pula. Dan dengan isyarat pula Mahendra memberitahukan bahwa ia akan mendahuluinya sambil melihat keadaan.
Witantra mengiakannya, sehingga dengan demikian maka Mahendralah yang lebih dahulu bersiap untuk meloncat.
“Hati-hatilah dan berpeganglah baik-baik.” pesan Mahendra kepada Mahisa Cempaka.
Sejenak kemudian, maka Mahendra pun telah meloncat. Ranggawuni yang melihat Mahendra melayang sambil mendukung Mahisa Cempaka berdesis, ”Ya, paman Mahendra telah terbang seperti seekor burung. Apakah paman Witantra juga akan terbang?”
“Ya. Tetapi tidak seperti burung.”
“Seperti apa?” bertanya Ranggawuni.
“Seperti katak.”
Ranggawuni tertawa. Tetapi cepat-cepat Witantra berdesis, “Sssst, kita berada dalam bahaya?”
“O, bahaya apa paman ?”
“Diamlah.”
Sejenak Witantra menunggu. Mahendra yang sudah ada di atas dinding batu yang mengelilingi istana itu pun berjongkok sambil mengawasi keadaan. Dan ternyata bahwa tidak ada sesuatu yang mencurigakannya.
Dengan isyarakat Mahendra pun kemudian memberi tahukan bahwa keadaan cukup aman.
Dengan demikian maka Witantra pun kemudian meloncat pula keatas dinding batu. Kemudian keduanya meloncat bersama-sama turun.
Namun agaknya penjagaan di sekitar istana benar-benar sangat ketat. Itulah sebabnya, maka mereka tidak dapat menghindarkan diri dari pengamatan para penjaga. Jika saja mereka berdua tidak membawa beban di punggung masing-masing, maka mereka akan dengan mudah bersembunyi meskipun hanya sekedar menelungkup datar di atas tanah. Tetapi kini mereka masing-masing membawa bebannya sehingga tata gerak mereka agak menjadi lambat justru karena mereka menjaga agar kedua anak-anak itu tidak terjatuh.
Kelambatan yang hanya sekejap itulah yang telah mengganggu mereka. Seorang penjaga yang berkeliling melihat sekelebatan bayangan lari melintasi jalan yang mengelilingi istana di luar dinding batu.
“Kau melihat sesuatu?” desisnya kepada kawannya.
“Ya. Aku melihat sesuatu.”
“Seseorang berlari melintasi jalan?”
“Ya. Tetapi aku agak kurang yakin.”
Prajurit itu pun kemudian berpikir sejenak, lalu, ”Kau tetap di sini. Aku akan melaporkan kepada Ki Lurah.”
Prajurit itu termangu-mangu sejenak. Dipandanginya gerumbul-gerumbul di pinggir jalan. Jika benar yang mereka lihat, seseorang melintasi jalan, maka orang itu tentu masih ada di gerumbul itu. karena gerumbul itu terletak di daerah yang terbuka di sekitar dinding istana.
“He, bagaimana?” desak kawannya.
“Cepat. Aku akan mengawasinya di sini.”
Prajurit yang seorang itu pun dengan tergesa-gesa meninggalkan kawannya untuk melaporkan apa yang dilihatnya kepada para penjaga di regol.
Dalam pada itu, baik Witantra maupun Mahendra menyadari bahwa ada orang yang telah melihatnya. Karena itu. maka sejenak mereka berunding, apakah yang sebaiknya dilakukan sambil bersembunyi di balik gerumbul perdu di pinggir jalan itu.
“Kita harus mencapai tempat yang sudah ditentukan.” berkata Witantra.
“Ya. Mereka tentu telah menyediakan dua ekor kuda buat kita selain kuda yang mereka pergunakan sendiri.”
“Dan prajurit itu?”
“Biarlah. Jika ia mengejar, apaboleh buat.”
Demikianlah maka Witantra dan Mahendra pun memutuskan untuk meninggalkan tempat itu meskipun harus melintasi daerah terbuka. Namun dengan demikian mereka tentu akan diketahuinya oleh prajurit itu. Tetapi apaboleh buat. Mereka harus menyingkir dan berusaha melepaskan diri dari mereka.
Sejenak Witantra memberikan pesan kepada kedua anak-anak yang masih saja mereka, dukung agar mereka berhati-hati dan berpegangan baik-baik.
“Kita akan berlomba lari.” berkata Witantra, ”Sudah lama paman Witantra dan paman Mahendra tidak melakukannya. Dan kalian pun akan ikut berlomba.”
Kedua anak-anak itu mengangguk. Tetapi kini mereka mulai dijalari oleh kecemasan bahwa sebenarnya mereka sedang menempuh perjalanan yang berbahaya. Meskipun Witantra dan Mahendra berusaha untuk berbuat sebaik-baiknya agar tidak menambah kecemasan kedua anak-anak itu, namun peristiwa yang mereka hadapi menjadi semakin jelas.
Setelah keduanya siap, maka dengan satu isyarat serentak mereka meloncat berlari meninggal gerumbul di pinggir jalan itu sekencang-kencangnya.
Prajurit yang melihat dua orang berlari-larian mendukung anak-anak muda, maka ia pun segera berteriak sambil berusaha mengejarnya, ”Berhenti, berhenti atau aku bunuh kalian”
Tetapi Witantra, Mahendra berlari terus. Apalagi keduanya tidak berlari sekedar dengan kecepatan gerak kakinya. Namun keduanya adalah orang-orang yang memiliki kemampuan lebih dari orang-orang kebanyakan. Karena itu, maka prajurit itu tidak dapat berbuat terlampau banyak. Jarak antara kedua orang yang dikejarnya menjadi semakin jauh dari dirinya.
Tetapi ternyata hal itu lebih baik baginya. Jika ia berhasil mendekati Witantra atau Mahendra, maka umurnya tidak akan lebih panjang dari malam itu.
Namun demikian teriakannya sudah menggemparkan para penjaga di luar istana. Mereka sadar, bahwa sesuatu telah terjadi, ditambah dengan laporan prajurit yang melihat bayangan itu melintasi jalan.
Sejenak kemudian beberapa orang prajurit pilihan telah berloncatan kepunggung kuda. Dengan sigapnya mereka pun melarikan kuda mereka kearah suara prajurit yang berteriak menghentikan orang yang dikejarnya.
“Kesana. Mereka berlari kesana.” teriak prajurit yang nafasnya menjadi terengah-engah tetapi tidak berhasil mendekati kedua orang yang dikejarnya, dua orang, dan masing-masing mendukung seorang anak atau apapun juga. Aku tidak begitu pasti di dalam gelap.
Kuda-kuda itu pun kemudian berderap kearah yang ditunjuk oleh prajurit itu. Bahkan kemudian beberapa ekor kuda yang lain menyusul di belakang.
Ternyata hal itu segera menjalar sampai ketelinga para pemimpin prajurit yang sedang bertugas malam itu. Beberapa orang Senapati pun segera berloncatan kepunggung kuda dan ikut mengejar. Jika ada orang yang meninggalkan halaman istana, tentu orang itu mempunyai kepentingan yang mencurigakan.
Dengan demikian maka gelombang demi gelombang telah meninggalkan regol. Dengan mengikuti jejak kuda-kuda yang lebih dahulu maka para prajurit yang menyusul kemudian itu pun berhasil mengikuti kawan-kawannya yang terdahulu. Di depan setiap kelompok prajurit, seorang yang mengetahui tentang jejak mendahului sambil membawa obor di tangannya.
Berita itu pun segera tersebar di halaman istana. Para prajurit yang bertugas pun segera bersiaga menghadapi segala kemungkin yang dapat terjadi.
Dalam pada itu, keributan itu pun terdengar oleh Mahisa Agni. Sejenak ia termangu-mangu. Jika Witantra dan Mahendra sudah berada di luar halaman, mereka mempunyai kesempatan untuk melepaskan diri dari para prajurit, jika tidak terjadi kesalahan apapun.
Tetapi Mahisa Agni harus memikirkan dirinya sendiri pula. Bahkan Mahisa Wonga Teleng dan isterinya serta ibu Ranggawuni dan bahkan Ken Dedes. Jika Tohjaya menjadi mata gelap, maka sesuatu akan dapat terjadi atas mereka.
Karena itu, maka dengan hati yang tegang Mahisa Agni pun kemudian membenahi dirinya dan memerintahkan semua pengawalnya berbuat demikian pula.
Para pengawal yang sudah menyadari tugas mereka sejak mereka meninggalkan Kediri, segera menyiapkan diri. Mereka sadar bahwa mereka bagaikan serangga dikelilingi oleh api yang menyala. Sayap mereka akan segera menjadi hangus dan kemudian hilang ditelan api. Tetapi mereka sudah bertekad menghadapi segala kemungkinan sampai desah nafas yang terakhir.
Dalam pada itu, para prajurit Singasari menjadi semakin sibuk. Beberapa ekor kuda berlari-larian susul menyusul. Sedang di halaman beberapa orang penghubung berlari-lari hilir mudik dari satu gardu ke gardu yang lain.
Panglima prajurit Singasari yang selalu berada di halaman istana di saat terakhir sehubungan dengan perintah Tohjaya kepada Lembu Ampal, segera mendapat laporan pula. Karena itu, maka ingatannya atas dua orang beban dalam dukungan kedua orang yang sedang berlari setelah meloncat dari dinding istana itu adalah Ranggawuni dan Mahisa Cempaka.
Karena itu, maka ia pun segera memerintahkanseorang Senapati dan beberapa orang prajurit untuk membuktikannya.
“Pergi kebangsal Ranggawuni. Cari anak itu di sana.” perintahnya.
Senapati yang mendapat perintah itu pun segera melakukannya dengan tergesa-gesa. Dengan tegangnya ia pun segera mengetuk pintu bangsal Ranggawuni.
Ibu Ranggawuni yang sama sekali tidak dapat memejamkan matanya terkejut mendengar pintu bangsalnya diketuk orang. Dengan demikian, maka justru ia tidak dapat beranjak dari tempatnya oleh perasaan yang bergumul di dalam hatinya.
Seorang emban yang terbangun mendengar ketukan pintu itu dengan ragu-ragu bangkit. Tetapi ia tidak segera pergi membukakan pintu itu. Perlahan-lahan ia berjalan menuju kebilik ibu Ranggawuni yang menjadi sangat cemas.
“Tuan Puteri.” bisik emban yang melihat ibunda Ranggawuni itu sudah terbangun, ”Pintu bangsal ini diketuk orang.”
Memang tidak ada pilihan lain daripada membuka pintu itu. Karena itu, dengan suara gemetar ia berkata, ”Bukalah pintu itu.”
Sebenarnya emban itu pun menjadi ketakutan. Tetapi ia terpaksa membuka pintu dengan tangan gemetar.
“Dimana tuan puteri?” bertanya Senapati yang berdiri di muka pintu.
“Aku di sini.” sahut ibunda Ranggawuni yang dengan memaksa diri keluar dari biliknya.
“Ampun tuan puteri.” berkata Senapati itu kemudian, ”Hamba sekedar menjalankan perintah untuk mencari tuanku Ranggawuni. Apakah tuanku Ranggawuni ada di dalam biliknya?”
“O.” ibundanya menyahut dengan menyembunyikan kegelisahan, ”Ranggawuni berada bersama Mahisa Cempaka di bangsalnya. Sehari-harian mereka berdua bermain-main bersama. Sore tadi Ranggawuni minta ijin untuk tidur di bangsal pamandanya, Adinda Mahisa Wonga Teleng.” jawab ibundanya seperti pesan Mahisa Agni jika hal serupa itu terjadi.
Terasa sesuatu berdesir di dada Senapati itu. Rasa-rasanya Suatu permulaan yang suram dari usahanya mencari Ranggawuni.
Namun demikian Senapati itu pun minta diri sambil berkata, ”Hamba akan menengoknya di bangsal tuanku Mahisa Wonga Teleng.”
“Baiklah. Bahkan aku pesan jika kau menemukannya di sana, aku minta diberi tahu. Aku menjadi berdebar-debar bahwa kalian mencari anak itu di malam hari begini. Tentu ada sesuatu yang penting telah terjadi.”
“Tidak tuan puteri. Tidak ada apa-apa yang terjadi.” Senapati itu pun kemudian meninggalkan bangsal itu.
Demikian pintu bangsal itu tertutup maka ibunda Ranggawuni itu pun berlari kedalam biliknya. Dijatuhkannya dirinya menelungkup sambil menutup wajahnya dengan kedua belah telapak tangannya. Dan ia tidak dapat menahan air matanya mulai menetes dari pelupuknya.
“Tuan puteri menangis.” desis embannya yang kemudian duduk di sampingnya.
“Aku mencemaskan Ranggawuni.”
“Tuan Puteri tidak usah cemas. Serahkanlah kepada Yang Maha Agung agar tuanku Ranggawuni selalu mendapat perlindungannya.”
Ibunda Ranggawuni itu tidak menjawab. Ia mencoba menahan isaknya. Namun ia tidak berhasil.
Senapati yang meninggalkan pintu bangsal itu pun segera pergi kebangsal Mahisa Wonga Teleng. Seperti yang telah dilakukan, maka ia pun bertanya kepada Mahisa Wonga Teleng yang membukakan pintu bangsalnya, apakah Ranggawuni ada di bangsal itu bersama Mahisa Cempaka.
“O, aneh. Mahisa Cempaka minta diri untuk bermalam di bangsal kakandanya Ranggawuni. Mereka pergi sebelum senja.”
“Di bangsal itu, mereka berdua tidak ada. Bahkan tuanku Ranggawuni pun tidak ada.”
Mahisa Wonga Teleng termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia berkata, ”Mungkin di bangsal pamanda Mahisa Agni. Marilah kita melihatnya.”
Mereka pun kemudian pergi beriringan dengan beberapa orang pengawal ke bangsal Mahisa Agni. Senapati itu pun berniat untuk melihat apakah Mahisa Agni ada di bangsalnya. Jika Mahisa Agni tidak ada, maka sudah dapat dipastikan bahwa Mahisa Agnilah salah seorang yang telah melarikan kedua anak-anak muda itu.
Namun Senapati itu menarik nafas dalam-dalam ketika Mahisa Agnilah yang ternyata membuka pintu bagi mereka. Sambil menggosok matanya Mahisa Agni bertanya, ”He, apakah perlu kalian malam-malam begini? Belum lama kami tidur karena udara yang panas sekali.”
Dengan demikian Senapati itu seolah-olah tidak dapat menemukan jalur untuk memulai pencahariannya lebih lanjut. Semula ia menyangka bahwa Mahisa Agnilah yang telah melarikan kedua anak-anak muda itu. Tetapi ternyata Mahisa Agni masih ada di bangsalnya.
“Tuan.” berkata Senapati itu, ”Kami baru mencari anak-anak itu?”
“Siapa maksudmu?” lalu Mahisa Agni pun bertanya kepada Mahisa Wonga Teleng, ”Siapa yang kalian cari? Dan kenapa kau datang pula kemari.”
“Paman, Mahisa Cempaka tidak ada. Aku kira Mahisa Cempaka berada di bangsal Ranggawuni, ternyata Ranggawuni pun tidak ada di bangsalnya. Aku kira keduanya ada di bangsal ini.”
Mahisa Agni terkejut. Kemudian katanya, ”Jadi kedua anak-anak itu tidak ada? Di sini pun keduanya tidak ada. Memang sore tadi anak-anak itu datang kemari, tetapi mereka pergi hilir mudik tidak menentu.”
“Kedua anak-anak itu hilang paman.”
“Kapan kalian mengetahui bahwa kedua anak itu hilang?”
“Baru saja. Justru para prajuritlah yang mencari mereka. Mereka melihat dua orang meloncat dinding sambil membawa dua orang anak-anak. Tentu mereka adalah Ranggawuni dan Mahisa Cempaka.”
Pemimpin prajurit yang meronda di bangsal Mahisa Agni yang ikut pula berkerumun di depan pintu itu mulai menghubungkan hilangnya kedua anak-anak itu dengan sikap yang mencurigakan dari para pengawal Mahisa Agni. Namun sebelum ia berkata sesuatu, Mahisa Agni sudah mendahului, ”Rasa-rasanya memang ada firasat buruk. Tetapi alangkah bodohnya aku. Hampir semalaman kami di bangsal ini tidak dapat tidur. Rasanya kami berada di dalam tungku api. Beberapa orang di antara kami justru pergi keluar bangsal. Tetapi kami tidak dapat mengerti, bahwa sesuatu telah terjadi.” Mahisa Agni berhenti sejenak, lalu, ”Apakah tuanku Tohjaya sudah mengetahui bahwa kedua anak-anak itu hilang?”
“Sudah tuan.” jawab Senapati itu.
“Jika demikian kita dapat memohon perlindungan. Kedua anak-anak itu harus diketemukan. Jika tidak.”
“Tuan.” potong Senapati itu, ”Apakah dengan demikian tuanku Mahisa Agni menuduh bahwa hilangnya kedua anak-anak itu justru karena tuanku Tohjaya?”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Kemudian ia bertanya dengan nada yang tinggi, ”Siapa yang mengatakannya demikian?”
Senapati itu tergagap karenanya. Sebenarnyalah karena ia mengetahui bahwa kedua anak itu harus diawasi sebaliknya, sehingga di dalam lubuk hatinya memang tersirat anggapan yang condong pada kebencian Tohjaya terhadap kedua anak-anak muda itu.
“Bukankah aku justru mengatakan bahwa aku akan mohon perlindungan kepada tuanku Tohjaya?”
Senapati itu masih termangu-mangu.
“Nah.” berkata Mahisa Agni kemudian, ”Marilah kita menghadap. Kita mohon agar diambil tindakan segera.”
“Tuanku Tohjaya sudah mengetahuinya dan memberikan perintah kepada para prajurit untuk mencarinya.”
“Aku akan mohon ijin bersama Mahisa Wonga Teleng untuk ikut mencarinya.”
Senapati itu termangu-mangu. Namun kemudian katanya, ”Terserahlah kepada tuanku Tohjaya.”
Mahisa Agni pun bergegas meninggalkan bangsalnya. Ia sama sekali tidak membawa seorang pengawal pun untuk menghindari kecurigaan. Bersama Mahisa Wonga Teleng ia menghadap Tohjaya untuk menyampaikan permohonan agar ia diijinkan untuk ikut mencari kedua anak-anak itu.
Ternyata Tohjaya sendiri masih diliputi oleh suasana yang gelap. Ia tidak begitu mengerti keadaan yang sedang dihadapinya. Bahkan Tohjaya tidak pasti, apakah sebenarnya kedua anak-anak itu telah dilarikan orang.
Namun hanya di dalam hati Tohjaya berkata, ”Apakah Lembu Ampal sudah melakukan tugasnya, menyingkirkan anak itu tanpa diketahui oleh orang lain, bahkan oleh para prajurit agar ia tidak menjadi sasaran dendam Mahisa Agni apabila pada suatu saat ceritera tentang hal itu sampai ketelinganya?”
Karena keragu-raguan itulah maka Tohjaya menjadi bingung. Untuk beberapa saat ia tidak dapat menanggapi permintaan Mahisa Agni.
“Tuanku.” berkata Mahisa Agni, ”Hamba mohon beberapa orang kawan yang terpercaya. Mungkin orang-orang yang melarikan kedua anak-anak itu bukan orang kebanyakan.”
Tohjaya yang tidak ingin langsung dituduh terlibat jika ternyata kedua anak-anak itu benar-benar terbunuh, tidak dapat berbuat lain. Karena itu maka diperintahkannya saja langsung Senapati yang datang bersama Mahisa Agni itu untuk bersama-sama mencari kedua anak yang hilang itu.
Sejenak kemudian Mahisa Agni dan Mahisa Wonga Teleng sudah berderap di atas punggung kuda menyusuri jalan kota. Namun kemudian seperti kepada diri sendiri Mahisa Agni bertanya, ”Kita akan kemana?”
“Kita kelilingi seluruh kota.” berkata Mahisa Wonga Teleng. “Jika kita tidak menemukannya, kita akan mencarinya kemana saja.”
“Baiklah.” sahut Mahisa Agni, ”Kita kelilingi semua jalan dan padukuhan.”
Demikianlah maka iring-iringan itu pun menembus gelapnya sisa malam di sepanjang jalan kota. Tetapi Mahisa Agni yang tahu pasti kemanakah kedua anak-anak itu dibawa, sengaja mencari jalan lain.
Namun dalam pada itu, sekelompok pasukan yang lain telah berhasil menemukan jejak Witantra dan Mahendra. Karena itu maka mereka pun berusaha untuk dapat menyusulnya.
Witantra dan Mahendra dengan secepat dapat dilakukan nya betusaha mencapai kawan-kawannya yang telah menunggu. Mereka sadar, bahwa sekelompok prajurit sedang mengejarnya. Bahkan mungkin akan disusul oleh kelompok-kelompok yang lain. Karena itu, maka ia harus dengan segera meninggalkan kota.
Ternyata Witantra berhasil mencapai sekelompok kecil kawannya yang sudah menunggu dengan dua ekor kuda selain kuda-kuda yang mereka pergunakan sendiri. Ketika mereka melihat dua orang berlari-lari sambil masing-masing mendukung seorang anak maka mereka pun segera mempersiapkan diri.
Sambil meloncat kepunggung kuda yang sudah disediakan maka Witantra pun berkata, ”Kita harus segera meninggalkan tempat ini.”
Peringatkan itu jelas. Karena itu, sejenak kemudian maka kuda-kuda itu pun segera berderap menebarkan debu yang putih.
Tetapi beberapa saat kemudian maka beberapa ekor kuda yang lain segera menyusulnya. Mereka adalah prajurit Singasari yang sedang mengejar orang-orang yang memang disangka melarikan Mahisa Cempaka dan Ranggawuni.
Sejenak kemudian terjadilah perburuan yang dahsyat. Sekelompok orang-orang berkuda berusaha mengejar kelompok yang lain. Kelompok yang sama sekali tidak mereka ketahui, siapa dan kemana. Namun di belakang kelompok yang sedang mengejar itu ternyata susul menyusul kelompok-kelompok yang lain yang menyadari bahwa halaman istana Singasari telah berhasil dijelajahi oleh orang-orang yang tidak dikehendaki, apapun yang mereka lakukan.
Ternyata prajurit-prajurit Singasari adalah prajurit-prajurit yang tangkas. Kuda-kuda mereka pun adalah kuda yang baik dan tegar, sehingga perburuan itu merupakan perburuan yang menegangkan.
Witantra dan Mahendra kecuali berpegangan pada kendali kudanya juga harus menjaga agar anak-anak di pangkuan masing-masing tidak terjatuh. Karena itu, kadang-kadang kedua anak itu mengganggu kelincahan tangan mereka. Namun demikian kuda-kuda itu pun berlari kencang sekali.
Ternyata Ranggawuni dan Mahisa Cempaka adalah anak-anak yang berani. Mereka sama sekali tidak menjadi ketakutan meskipun kuda-kuda mereka berlari kencang sekali. Bahkan sekali-sekali harus meloncati lubang-lubang kecil di tengah jalan.
Semetara itu, langit di ujung Timur menjadi semakin lama semakin semburat merah. Fajar mulai merekah dan malam pun perlahan-lahan terdesak oleh cahaya pagi.
Dengan demikian maka kuda-kuda yang sedang berpacu itu pun menjadi semakin jelas dari jarak . yang semakin jauh. Debu yang mengepul pun mulai tampak memutih. Sehingga dengan demikian maka akhirnya mereka yang sedang berkejaran itu saling dapat melihat jarak yang memisahkan mereka.
“Paman.” desis Ranggawuni, ”Kita telah dikejar.”
“Dan kita sudah lari kencang sekali.” sahut Witantra.
“Apakah mereka akan dapat menyusul kita?”
“Kita tidak tahu. Mudah-mudahan tidak. Bukankah kuda kita terbang secepat burung srigunting?”
Ranggawuni mengerutkan keningnya. Namun anak itu justru tertawa sambil berkata, ”Lebih cepat paman. Cepat sedikit. Mereka tidak boleh menyusul kita.”
Witantra menarik nafas dalam-dalam. Disentuhnya perut kuda nya dengan sebuah cemeti pendek sehingga kuda itu seakan-akan terbang semakin cepat.
Ranggawuni tertawa. Tiba-tiba saja ia justru berteriak ke pada Mahisa Cempaka, ”Adinda Mahisa Cempaka. Ayo, kejarlah aku.”
Mahisa Cempaka yang berkuda bersama Mahendra di belakang Witantra pun menjawab sambil berteriak, ”Kami akan segera mendahului. Minggir.”
Tetapi Ranggawuni menjawab, ”Cari jalan sendiri.” Witantra dan Mahendra hanya dapat menggeleng-gelengkan kepalanya. Anak-anak itu kadang-kadang merasa cemas juga melihat beberapa ekor kuda yang mengejar mereka, namun kadang-kadang mereka merasa gembira karena mereka bagaikan terbang di atas punggung kuda.
Namun dalam pada itu, Witantra merasa bahwa ia tidak akan dapat melepaskan diri lagi dari para prajurit yang sedang mengejarnya. Langit yang menjadi semakin cerah, membuat ia semakin sulit untuk melepaskan diri dari pengawasan orang-orang yang mengejarnya. Karena itu, maka ia pun memberi isyarat kepada Mahendra agar ia mendekat dan berpacu di sisinya.
“He. aku akan mendahuluimu kakanda.” teriak Mahisa Cempaka.
“Cepat, cepat paman Witantra. Jangan didahului oleh Mahisa Cempaka.”
Witantra pun tersenyum. Jawabnya, ”Mereka tidak akan mendahului. Aku akan berbicara sedikit dengan pamanmu Mahendra.”
Ranggawuni mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak mengatakan apa-apa lagi.
Sesaat kemudian Mahendra sudah berpacu di sebelah Witantra. sehingga Mahisa Cempaka menghentak-hentakkan kakinya sambil menepuk leher kudanya agar kudanya berlari semakin cepat.
“Cepat paman Mahendra. Cepat.”
Mahendra tidak dapat menahan senyumnya. Tetapi ia tidak menyahut.
“Mahendra.” berkata Witantra kemudian, ”Bagaimana pun juga kita memacu kuda kita, tetapi agaknya kita tidak akan dapat mehindarkan diri dari orang-orang itu.”
“Jadi maksud kakang Witantra?”
“Aku kira di belakang mereka, masih akan menyusul beberapa orang lagi. Bahkan mungkin berturut-turut.”
Mahendra tidak menyahut.
“Mahendra. Bagaimana jika kita berhenti.”
Mahendra tidak segera menjawab. Tetapi ia masih berpikir sejenak. Sekali-sekali ia berpaling dan melihat debu putih terhambur dari kaki-kaki kuda yang mengejar iring-iringan mereka.
“Bagaimana?” bertanya Witantra.
Namun sebelum Mahendra menjawab, Ranggawuni sudah menyahut, ”Jadi paman bermaksud menyerah?”
“Tidak Ranggawuni. Tentu tidak.”
“Lalu?”
“Kita melawan. Kita akan membinasakan mereka.”
Ranggawuni termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia berkata lantang, ”Kita akan bertempur paman?”
“Tetapi bukan kau. Kami, orang-orang tua inilah yang akan bertempur. Kau dan Mahisa Cempaka menunggu di punggung kuda.”
“Kami akan bertempur.” teriak Mahisa Cempaka. Mahendra menepuk punggungnya sambil berkata, ”Kau masih terlampau kecil.”
“Jadi kapan aku boleh bertempur?” bertanya Mahisa Cempaka pula.
“Alangkah baiknya jika kau tidak perlu mengalaminya. Bertempur adalah cara terakhir bagi mereka yang sudah kehabisan akal.”
“Jadi paman juga kehabisan akal sekarang?” bertanya Ranggawuni.
“Ya Ranggawuni.” sahut Witantra, ”Kami sudah kehabisan akal. Tetapi kami menyadari bahwa kau berdua harus diselamatkan. Karena itu kami akan mempergunakan cara orang yang sudah tidak melihat jalan lain. Jalan yang sebenarnya harus dihindari.”
Ranggawuni dan Mahisa Cempaka tidak menyahut lagi. Ia tidak mengerti arti kata Witantra yang dirasanya berputar-putar tidak menentu.
Dalam pada itu kuda-kuda itu masih berpacu terus. Di belakang mereka, para prajurit Singasari masih saja mengejar dengan kemarahan yang tertahan. Semakin terang cahaya pagi memancar di atas tanah persawahan dan bulak-bulak yang panjang, semakin jelas bagi para prajurit, bahwa yang dilarikan oleh orang-orang berkuda itu adalah dua orang anak-anak yang masih sangat muda. Dan sudah tentu mereka pun segera meyakini bahwa kedua anak itu adalah Ranggawuni dan Mahisa Cempaka, yang justru harus mereka awasi sebaik-baiknya meskipun sebagian dari para prajurit itu tidak mengetahui dengan pasti, karena keduanya harus selalu mendapat pengawasan.
Setelah berpikir sejenak, maka Mahendra pun kemudian berkata, ”Kakang, aku kira, memang lebih baik kita berhenti. Kita memang tidak akan mempunyai kesempatan untuk melenyapkan jejak ini. Kita tidak mempunyai tempat untuk bersembunyi.”
“Baiklah Mahendra. Jika demikian, kita akan segera menghentikan kuda-kuda kita.”
“Tetapi lebih baik jika kita mengambil jarak yang agak jauh dari kota.”
“Bukankah kita sudah jauh?”
“Beberapa puluh patok lagi.”
Witantra tidak menyahut. Kudanya masih saja berpacu di atas jalan berbatu-batu. Ketika Mahendra kemudian berpacu di belakang Witantra kembali, Mahisa Cempaka sudah tidak berteriak-berteriak lagi. Agaknya ia pun merasakan ketegangan di dada Witantra dan Mahendra.
Demikianlah Witantra masih berpacu beberapa saat lagi. Seperti laju anak panah kuda-kuda itu berlari melintasi sebuah padukuhan kecil. Beberapa orang yang sedang membersihkan jalan, berlari-lari dan berloncatan masuk kehalaman. Mereka menjadi ketakutan melihat beberapa ekor kuda berpacu dan saling memburu.
Setelah padukuhan itu mereka lampaui, dan setelah mereka berada kembali di sebuah bulak yang panjang, bahkan kemudian sampai kesebuah lapangan rumput yang agak luas dan kering sehingga tidak memungkinkan untuk dijadikan tanah persawahan, Witantra memberikan tanda-tanda kepada anak buahnya. Tanda-tanda yang memang sudah disepakati lebih dahulu.
Ketika tangan Witantra terentang, maka kuda-kuda itu pun tiba-tiba saja menebar. Sebagian mengikuti Witantra berbelok ke kiri, yang lain mengikuti Mahendra berbelok kekanan. Dengan cekatan Witantra dan Mahendra meloncat kepunggung kuda yang lain, dan penunggangnya berganti berpindah ke kuda Witantra dan Mahendra untuk menjaga Ranggawuni dan Mahisa Cempaka.
“Kau tenang saja di situ.” berkata Witantra, ”Paman akan menghalau orang itu.”
Gerakan yang dilakukan oleh sekelompok kecil yang dipimpin langsung oleh Witantra dan Mahendra itu sama sekali tidak diduga oleh prajurit-prajurit Singasari yang mengejarnya, sehingga karena itu, kelambatan beberapa saat telah mendorong mereka masuk kedalam jebakan. Mereka kemudian seolah-olah berada di dalam kepungan.
Belum lagi mereka dapat mempersiapkan diri menghadapi keadaan yang tiba-tiba itu, Witantra dan Mahendra telah menyerang mereka diikuti oleh beberapa orang pengawalnya dari sebelah menyebelah.
Tidak banyak dapat mereka lakukan. Serangan itu begitu tiba-tiba, dan terlebih-lebih lagi dilakukan oleh Witantra dan Mahendra sendiri beserta beberapa pengawalnya.
Prajurit Singasari yang terkejut itu, sebagai prajurit-prajurit terlatih secara naluriah segera mengadakan perlawanan. Namun seorang demi seorang mereka terluka dan bahkan beberapa orang telah terpental dari kudanya.
“Kita tinggalkan mereka.” Witantra kemudian memberikan perintah kepada anak buahnya yang dengan segera mempersiapkan diri melepaskan sisa-sisa lawannya.
Sejenak kemudian Witantra dan Mahendra diikuti oleh anak buahnya telah melanjutkan perjalanan mereka meninggalkan lawannya yang termangu-mangu. Beberapa orang yang masih utuh menjadi ragu-ragu. Jumlah mereka tinggal tidak lebih dari separo. Karena itu maka mereka tidak ingin menyerahkan diri ketangan orang-orang yang mereka buru.
Tetapi dengan demikian mereka telah dapat memastikan bahwa sebenarnyalah yang dilarikan oleh orang-orang itu adalah Ranggawuni dan Mahisa Cempaka.
Dalam keragu-raguan itu, para prajurit Singasari itu hampir saja bersorak ketika mereka melihat iringan kedua telah menyusul mereka di bawah pimpinan seorang Senapati pilihan.
“Kami telah menemukan mereka.” berkata pemimpin kelompok prajurit yang telah dilumpuhkan itu.
“Kenapa kalian berhenti?” bertanya Senapati itu.
“Kami tidak mampu melawan mereka. Sebagian dari kawan-kawan kami telah terluka. Lebih dari separo. Bahkan mungkin ada yang tidak tertolong lagi.”
Senapati itu mengerutkan keningnya. Dipandanginya beberapa orang yang terbaring berserakan.
“Rawatlah mereka.” berkata Senapati itu, ”Sebagian dari kalian ikutilah bersama kami. Kami harus menemukan mereka.”
“Kami telah memastikan bahwa yang mereka larikan adalah tuanku Ranggawuni dan Mahisa Cempaka.”
“Kami sudah menduga. Marilah. Kita tidak boleh kehilangan jejak.”
Demikianlah sekelompok pasukan itu pun segeta menyusul. Mereka mengikuti jejak kaki-kaki kuda Witantra dan anak buahnya, karena mereka bertekad untuk membawa Ranggawuni dan Mahisa Cempaka kembali.
Sementara itu, Lembu Ampal yang sedang dicengkam oleh keragu-raguan, terkejut bukan kepalang mendengar berita hilangnya Ranggawuni dan Mahisa Cempaka. Belum lagi ia dapat mengambil sikap, ternyata kedua anak-anak itu telah hilang. Bagi Lembu Ampal, hilangnya kedua anak-anak itu tentu ada hubungannya dengan perintah yang diterima dari Tohjaya.
“Yang mendengar dengan pasti perintah tuanku Tohjaya hanyalah aku sendiri. Kemudian pendeta istana itu mendengar dari mulutku.” berkata Lembu Ampal kepada dirinya sendiri, ”Jika kedua anak-anak itu hilang dan aku gagal melakukan tugasku, maka akulah yang akan digantung.”
Justru karena kedua anak-anak itu telah hilang, maka sebuah hentakan telah mendorong Lembu Ampal untuk mengambil keputusan. Ia merasa tersinggung sekali karena kedua anak-anak yang diserahkan kepadanya itu hilang. Usaha menyelamatkan Ranggawuni dan Mahisa Cempaka oleh orang lain, adalah suatu tantangan baginya.
“Mungkin aku tidak akan sampai hati membunuh kedua anak-anak itu jika keduanya masih tetap berada di istana. Tetapi bahwa ada orang lain yang ikut campur itu benar-benar telah menghinaku.”
Namun bagi Lembu Ampal, orang yang pertama-pertama harus dihubungi adalah pendeta istana itu. Baginya tidak ada orang lain yang dapat merembeskan rahasia itu selain pendeta itu.
Dengan tergesa-gesa Lembu Ampal memacu kudanya, pergi mendapatkan pendeta itu di sanggarnya. Dengan wajah yang tegang ia datang menghadap dan langsung bertanya, ”Apakah tuan sudah mendengar berita tentang hilangnya kedua anak-anak itu?”
Pendeta itu mengangguk perlahan, ”Aku sudah mendengarnya Lembu Ampal.”
“Tuan.” Lembu Ampal menggeram, ”Tidak ada orang lain yang mengetahui tugasku dengan pasti kecuali tuanku Tohjaya, aku dan tuan. Mungkin ada satu dua orang Senapati terpercaya yang mendapat tugas untuk membayangi kedua anak-anak itu. Namun perintah itu hanya diberikan kepadaku. Sedangkan para prajurit dan Senapati itu hanyalah sekedar mendapat perintah untuk mengawasi kedua anak-anak yang akan dijadikan korban ketenangan Singasari.”
“Memang tidak ada orang lain yang mendengar. Tetapi aku sudah memberitahukan hal itu kepada seseorang. Akulah yang melakukannya.”
“Tuan. Apakah tuan tahu artinya?”
“Kau akan dihukum mati. Tetapi jika kau berterus terang tentang keragu-raguanmu dan kedatanganmu kepadaku, juga tentang rahasia yang telah terbuka itu, maka kau akan dibebaskan. Dan akulah yang akan mengantikanmu. Mungkin aku akan digantung, dipacung atau hukuman apapun juga. Tetapi itu lebih baik dari tiada kedua anak-anak yang tidak bersalah sama sekali itu.”
Terasa darah Lembu Ampal bagaikan mendidih. Ia menaruh hormat terhadap pendeta istana itu. Bahkan secara rohani ia banyak menggantungkan dirinya kepadanya. Sampai saatnya ia kehilangan akal karena ia mendapat perintah untuk membunuh Ranggawuni dan Mahisa Cempaka yang tidak bersalah sama sekali.....
Bersambung.....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar