Jumat, 29 Januari 2021

SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG JILID 03-02

*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 03-02*

Karya.   : SH Mintardja

Beberapa orang pelayan dalam yang kini telah sadar itu pun kemudian diperintahkan oleh Mahisa Agni untuk mengambilkan beberapa buah lampu sehingga bilik itu menjadi terang benderang. Dengan demikian Mahisa Agni dapat melihat dengan jelas bahwa dua mayat itu memang keracunan. Tetapi menurut pengamatan Mahisa Agni, racun itu sama sekali bukan membunuhnya dari luar, tetapi justru dari dalam.

“Mungkin sebangsa paser itu lagi,” desis Mahisa Agni. Karena Mahisa Agni kemudian yakin, bahwa racun itu tidak membunuhnya dari luar, tetapi justru lewat saluran darah, maka ia pun kemudian berani meraba mayat-mayat itu dan mencari luka yang barangkali menjadi pintu masuk racun itu sehingga menyentuh darah.

Tapi kali ini Mahisa Agni tidak menemukannya. Sehingga dengan demikian ia mengambil kesimpulan, “Tuanku, menurut pengamatan hamba, agaknya kedua orang ini telah bunuh diri.”

“Bagaimana mungkin ia membunuh diri. Ketika kita menangkap mereka, mereka langsung kita ikat tangan dan kemudian kakinya.”

“Mereka tentu membawa semacam butiran racun. Agaknya mereka telah menelan racun itu demikian mereka merasa tidak dapat memenangkan perkelahian ini.”

“Aku kurang yakin. Apakah demikian besar kesetiaan mereka kepada orang yang memberikan perintah kepada mereka itu, sehingga mereka bersedia dengan suka rela mengorbankan nyawanya?”

“Agaknya demikian yang harus mereka lakukan. Mungkin mereka memang orang- yang setia. Tetapi mungkin juga karena di dalam perjanjian jual beli, tercantum ketentuan, bahwa jika mereka gagal, mereka harus mati.”

“Bagaimana jika mereka tidak usah membunuh diri dan menempatkan diri di dalam perlindungan kami?”

“Jika mereka bertiga langsung mengikat perjanjian dengan orang yang berkepentingan memang mungkin sekali Tuanku. Tetapi jika yang mengadakan perjanjian itu justru guru mereka, dan perintah bagi ketiganya benar-benar datang dari seorang yang disebutnya gurunya dan bernama Empu Badara, maka keadaannya akan lain. Tentu mereka tidak akan berani ingkar apapun yang harus mereka lakukan, termasuk bunuh diri.”

Anusapati menarik nafas dalam-dalam.

Dan Mahisa Agni berkata selanjutnya, “Sebab bagi seorang murid, kata-kata gurunya adalah perintah yang tidak dapat dibantah lagi. Termasuk mati. Karena jika perintah itu tidak dijalankan, mungkin mereka akan mengalami bencana yang lebih dahsyat daripada mati.”

“Misalnya?”

“Cacat seumur hidup. Atau siksaan badaniah yang tidak tertanggungkan, dan masih banyak lagi yang akan dapat terjadi.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Mungkin sekali. Dan ketiga orang itu lebih takut kepada gurunya daripada kepada mati. Dan karena itulah maka mereka telah memilih mati.”

Dengan demikian, maka sekali lagi Singasari dihadapkan pada suatu persoalan yang rumit. Beberapa kali Singasari kehilangan orang-orang yang mereka anggap penting sebagai sumber keterangan. Para perwira yang telah memberontak itu mati oleh paser-paser beracun, kemudian kini orang-orang yang sudah berhasil ditangkap itu telah membunuh diri dengan menelan racun pula.

Demikianlah, di pagi harinya, Singasari telah digemparkan oleh peristiwa malam itu. Betapapun hal itu dirahasiakan, namun berita itu pun tersebar di seluruh kota, bahkan kemudian di seluruh negeri. Bahwa sekelompok orang yang tidak dikenal telah berusaha membunuh langsung Tuanku Anusapati, setelah beberapa saat yang lampau, sekelompok prajurit mencoba berkhianat pula terhadap pemerintahannya.

Dengan demikian, maka Anusapati mulai menjadi cemas, bahwa dendam yang ada di antara keluarganya menjadi semakin besar. Meskipun tidak ada bukti-bukti yang dapat disebutkannya, namun dugaannya kuat bahwa yang telah menggerakkan semua kekacauan itu adalah keluarga sendiri.

Namun demikian Anusapati masih menyimpannya saja di dalam hati. Ia tahu pasti, bahwa Mahisa Agni, bahkan adiknya, Mahisa Wonga Teleng juga berpendapat demikian. Namun ia ingin menemukan bukti yang dapat dipakainya untuk menjadi alasan setiap tindakan yang akan dilakukannya, sehingga orang lain tidak akan dapat menuduhnya, sekedar karena dengki dan sakit hati, justru karena orang yang dicurigainya itu adalah saudara seayah tetapi lain ibu. Bahkan sama sekali tidak ada hubungan keluarga.

Anusapati setiap kali hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Orang-orang tua di Singasari pasti mengetahui bahwa pada saat Akuwu Tunggul Ametung terbunuh, Ibundanya, Ken Dedes sedang mengandung, dan kemudian lahirlah dirinya, Anusapati. Dengan demikian, pasti banyak orang yang sebenarnya tahu, bahwa ia sama sekali bukan putra Sri Rajasa. Dan karena itu pulalah, maka agaknya memang ada tuduhan, bahwa kematian Sri Rajasa, memang dikehendakinya.

Tetapi lebih daripada itu, ia tidak mau menerima akibat tuduhan bahwa jika ia menyangkutkan Tohjaya di dalam persoalan ini tanpa bukti yang nyata, maka apa yang dilakukan yaitu adalah fitnah semata-mata justru karena Tohjaya adalah putra Sri Rajasa apalagi lahir dari istrinya yang kedua, Ken Umang.

Namun sudah dua kali ia kehilangan kesempatan untuk mendapatkan saksi, siapakah yang telah berbuat dibalik usaha pengancaman dan pembunuhan atas dirinya itu.

Di dalam paseban Agung yang diadakan kemudian, maka Anusapati sudah menunjukkan kemurahan hatinya lagi, bahwa ia tidak menjatuhkan hukuman yang setimpal atas para prajurit dan pelayan dalam yang bertugas di malam yang menggemparkan itu. Tetapi ia tetap memberikan peringatan, bahwa jika terjadi sekali lagi pada saat mereka itu bertugas, maka mereka akan disangkutkan pada kesalahan yang dilakukan oleh orang-orang yang berkhianat itu.

Dalam pada itu, Mahisa Agni yang masih selalu mencemaskan nasib Baginda Anusapati itu pun tidak lagi melontarkan usulnya dengan diam-diam, langsung kepadanya, tetapi pendapatnya itu pun dinyatakannya di dalam paseban yang terbuka.

“Ampun Tuanku,” berkata Mahisa Agni, “adalah demi keselamatan Tuanku dan kelangsungan pemerintahan Singasari, perkenankanlah hamba mengusulkan, agar keselamatan Tuanku terjaga, maka sebaiknya kolam yang kini merupakan hiasan yang indah di sebelah bangsal itu diperbesar lagi. Selain akan menambah keindahan pemandangan di seputar bangsal, maka hal itu akan mencegah terulangnya usaha pembunuhan seperti yang pernah terjadi.”

“Maksud Pamanda?”

“Kolam itu diperluas mengelilingi bangsal Tuanku.”

“Ah, apakah justru akan menghilangkan keindahan kolam itu sendiri?”

“Tidak Tuanku, bangsal Tuanku akan menjadi seolah-olah sebuah perahu yang berlayar di lautan. Tetapi lebih daripada itu, Tuanku dan putranda Tuanku, akan bebas, setidak-tidaknya akan memperkecil kemungkinan, terjadinya pengkhianatan.”

Anusapati mengerutkan keningnya. Ketika ia memandang wajah-wajah di paseban itu, dilihatnya beberapa orang mengangguk-anggukkan kepalanya. Bahkan kemudian seorang senapati tidak saja mengangguk-anggukkan kepalanya, tetapi tanpa disadarinya terdengar ia berdesis, “Benar, sesungguhnya itu benar.”

“Apa yang benar?” bertanya Anusapati.

Senapati itu terkejut. Dengan gugup ia menjawab, “Ampun Tuanku. Sebenarnyalah yang dikatakan Tuanku Mahisa Agni itu benar.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Dilihatnya bahwa hampir semua orang sependapat, bahwa perlu diambil tindakan pengamanan atas dirinya.

“Tuanku,” seorang senapati yang lain, yang sudah beruban berkata, “apakah salahnya jika kita berhati-hati. Selebihnya bangsal itu benar-benar akan menjadi suatu pemandangan yang sedap di dalam halaman istana Singasari. Sebuah kolam yang mengelilingi bangsal agung, dan ditaburi dengan pohon-pohon bunga. Tetapi yang penting Tuanku, telah terbukti bahwa ada pihak yang memang akan berkhianat terhadap Tuanku.”

Anusapati pun kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya sambil bersabda, “Baiklah Pamanda Mahisa Agni. Jika memang tidak ada yang mengajukan keberatan, maka biarlah aku memerintahkan agar kolam itu diperluas sehingga mengelilingi bangsal. Dan apabila masih ada yang berkeberatan, maka aku masih akan mendengarkan dan mempertimbangkan pendapatnya.”

Sejenak paseban itu menjadi hening. Baru kemudian seorang panglima bergeser setapak. Sambil membungkukkan kepalanya dalam-dalam ia berkata, “Ampun Tuanku yang Maha Bijaksana. Sebenarnyalah hamba menjadi sangat prihatin atas peristiwa yang baru saja terjadi. Apalagi hamba adalah panglima pelayan dalam, yang tidak dapat menghindarkan diri dari pertanggungjawaban atas kelalaian yang tidak termaafkan dari beberapa orang pelayan dalam yang malam itu bertugas di dalam bangsal. Namun demikian Tuanku, bagi hamba kolam yang mengelilingi bangsal Tuanku itu kurang hamba pandang perlu, kecuali jika hal itu memang akan menyenangkan hati Tuanku. Semata-mata dari segi pengamanan, maka yang lebih penting adalah kesiagaan prajurit dan pelayan dalam yang lebih banyak. Dan itu adalah kewajiban para panglima. Panglima pasukan pengawal, panglima pasukan pengamanan dan panglima pelayan dalam yaitu hamba sendiri, dan pada senapati dan segenap prajurit.”

Terasa dada Anusapati berdesir. Demikian juga Mahisa Agni, dan terutama Mahisa Wonga Teleng yang masih lebih muda dari Anusapati sendiri. Tetapi untunglah bahwa Mahisa Agni sempat menggamitnya dan memberi isyarat, biarlah Anusapati sendiri yang menjawab.

Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya Anusapati pun kemudian berkata, “Kau benar. Sebenarnyalah pengamanan semua yang ada di dalam istana ini bergantung kepada para panglima dan prajurit. Tetapi bagiku kolam itu tidak ada salahnya, seperti juga dinding yang melingkari halaman istana ini.”

Panglima pelayan dalam itu mengerutkan keningnya. Sejenak ia berpikir, namun ia tidak segera dapat menyahut.

Dalam pada itu maka Anusapati pun melanjutkan kata-katanya, “Bagiku, kolam itu memang mempunyai dua arti. Aku memang senang melihat air di sekeliling bangsalku. Dan aku tidak dapat mengabaikan nasihat Pamanda Mahisa Agni. Jika para panglima dan prajurit tersinggung jika kolam itu dimaksudkan untuk mengamankan bangsal, maka seharusnya para panglima dan prajurit juga tersinggung melihat dinding batu halaman istana ini. Jika kita mempercayakan diri kepada para prajurit, dinding batu itu sama sekali tidak akan berarti.”

“Ampun Tuanku,” berkata panglima itu kemudian, “ternyata ada bedanya antara dinding batu dan kolam di seputar bangsal itu apabila kelak benar-benar akan dibuat. Dinding itu semata-mata untuk mempermudah pengawasan dan untuk menahan arus kekuatan lawan jika pada suatu saat kita terpaksa berperang. Dari atas dinding kita mempunyai kesempatan untuk melawan musuh dengan kesempatan yang lebih banyak daripada musuh yang datang dan terhalang oleh dinding itu.”

“Nah, bukankah tidak ada bedanya? Kolam itu pun bukan berarti, tidak ada tanggung jawab lagi dari para prajurit yang bertugas. Tetapi kolam itu sekedar mempermudah pengawasan dan memperkecil kemungkinan penyusupan seperti yang pernah terjadi.”

Panglima itu menundukkan kepalanya. Ia tidak dapat membantah lagi. Sehingga karena itu, maka ia pun tidak mengucapkan sepatah kata pun.

“Baiklah,” berkata Anusapati, “yang harus kita lakukan kemudian adalah membuat kolam itu dan menyiapkan kesiagaan yang lebih besar. Pengawasan dan ketelitian. Bukan saja mereka yang bertugas di seputar bangsal dan kolam itu, tetapi juga di seluruh halaman, karena ternyata ada orang-orang di luar halaman istana yang berhasil menyusup masuk dan bahkan sampai ke dalam bangsal.”

Tidak seorang pun lagi yang mengajukan pendapatnya, sehingga paseban itu pun kemudian dibubarkan.

Namun Mahisa Agni dan Mahisa Wonga Teleng masih tinggal beberapa lamanya di ruang dalam bangsal paseban itu. Masih ada yang mereka bicarakan secara khusus tentang setiap orang di dalam lingkungan pemerintahan dan keprajuritan.

“Panglima pelayan dalam itu pantas mendapat pengawasan,” berkata Mahisa Wonga Teleng yang tidak sadar lagi.

“Bagaimana pendapat Paman?” bertanya Anusapati.

“Ampun Tuanku. Sebenarnyalah bahwa orang itu memang harus mendapat perhatian. Ia adalah salah seorang dari mereka yang sering datang ke kalangan sabung ayam bersama Tuanku Tohjaya.”

“Apakah kau menarik garis hubungan antara keduanya?” bertanya Anusapati.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia menjawab, “Hamba Tuanku. Sebenarnyalah hamba berpendapat bahwa keduanya telah bekerja bersama untuk kepentingan ini.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan ketika ia memandang adiknya, Mahisa Wonga Teleng, maka adiknya justru telah mendahului, “Tentu ada hubungan. Aku sependapat dengan Pamanda Mahisa Agni.”

“Baiklah,” berkata Anusapati, “kita harus mengawasinya. Dan yang tidak kalah berbahayanya adalah usaha setiap pihak yang ingin memecahkan hubungan baik antara golongan yang kini mendukung pemerintahan Singasari dengan golongan yang setia kepada Ayahanda Sri Rajasa, yang mengatakan bahwa akulah yang telah menyingkirkan Ayahanda itu. Ternyata orang-orang yang memasuki bangsal itu pun berpendapat demikian pula. Sehingga aku mengambil kesimpulan, bahwa usaha untuk mengacaukan dukungan terhadap pemerintahanku sekarang ini berjalan terus dan bahkan berhasil sebagian dari rakyat Singasari dan Kediri.”

“Hamba akan berusaha Tuanku,” berkata Mahisa Agni, “namun agaknya sumbernyalah tidak dapat bergeser dari sumber yang sudah hamba sebutkan.”

“Tetapi Paman,” berkata Mahisa Wonga Teleng kemudian, “bagaimanakah caranya kita dapat mengawasi orang-orang yang ada di dalam kalangan sabung ayam itu.”

“Memang sulit sekali. Tetapi ada seorang yang dapat dipercaya berada di dalam lingkungan mereka, meskipun sekedar di saat-saat sabung ayam. Tetapi kadang-kadang ia dapat melihat suasana. Dan agaknya kehadirannya itu bermanfaat pula bagi kita.”

Mahisa Wonga Teleng mengangguk-anggukkan kepalanya. Sedang Anusapati pun segera mengetahui bahwa yang dimaksudkannya adalah Kuda Sempana.

Sekilas Anusapati mengenang orang-orang terpenting yang ada di belakangnya. Tetapi mereka tidak akan dapat dengan terbuka berada di istana. Witantra adalah orang yang memegang kendali pada masa pemerintahan Akuwu Tunggul Ametung, sehingga kehadirannya akan dapat menimbulkan pertanyaan pada mereka yang setia kepada Sri Rajasa. Demikian juga Kuda Sempana. Sehingga karena itu, maka mereka hanya selalu berada di belakang selubung saja.

Demikianlah, maka Anusapati pun segera memerintahkan untuk memperluas kolam di sekitar bangsalnya. Kolam itu melingkar di seputar bangsal. Di tepi kolam ditanaminya berbagai macam pohon-pohon bunga. Dua buah jembatan kecil menghubungkan bangsal itu dengan halaman istana di sekelilingnya. Di depan jembatan terdapat sebuah regol dan gardu penjaga, di samping gardu-gardu lain di segala penjuru.

Dengan demikian, bangsal istana yang dihuni oleh Maharaja Singasari itu bagaikan sebuah perahu yang terapung di lautan yang tenang, dihiasi berbagai macam pohon-pohon bunga. Pohon kemungi, pacar berwarna kuning dan putih, bunga soka berwarna putih dan jingga. Bunga ceplok piring dan bunga menur dan melati sungsun. Di dalam kolam terdapat bunga apung berwarna kemerah-merahan dan berdaun lebar. Bunga teratai dan jenis ikan berwarna-warni.

Dengan demikian, bukan saja kolam itu berarti bagi keamanan Sri Maharaja, tetapi juga merupakan suatu hiasan yang sangat indah.

Tetapi dengan demikian, para abdi harus selalu waspada terhadap putra Anusapati yang bernama Ranggawuni. Anak itu ternyata nakal sekali. Kadang-kadang meskipun sudah diawasi dengan ketat, namun ia sempat juga melepaskan pakaiannya dan meloncat ke dalam kolam yang dihuni oleh berbagai jenis ikan itu. Terutama ikan hias yang berwarna emas.

“Kau tidak boleh mandi di kolam itu,” berkata Ibunda permaisuri setiap kali.

Dan setiap kali Ranggawuni hanya menundukkan kepalanya saja.

“Kau belum pandai berenang.”

“Kolam itu dangkal di tepi bagian dalam Ibunda.”

“Tetapi kau dapat tergelincir dan masuk ke bagian yang dalam.”

“Tetapi hamba sekarang sudah pandai berenang.”

“He?”

“Ya Ibunda. Jika Ibunda tidak percaya, cobalah hamba menunjukkan bahwa hamba memang sudah berenang,” berkata Ranggawuni sambil mencoba melemparkan pakaiannya.

“Jangan, jangan,” cegah Ibundanya, “kau tidak boleh mandi di kolam itu meskipun kau sudah pandai berenang. Kolam itu airnya tidak sebenarnya tidak sebersih yang nampak.”

“Oh, airnya bening sekali. Ikan emas dan jenis-jenis ikan yang lain itu tampak dari permukaan Ibunda.”

“Tetapi bukankah jika kau masuk ke dalamnya, lumpur di bawah kolam itu pun kemudian teraduk dan mengotori air itu? Selain daripada itu, air itu mengalir parit-parit di luar halaman istana. Orang dapat memasukkan apa saja ke dalam parit itu sebelum air itu masuk ke dalam kolam.”

“Maksud ibu?”

“Sampah atau semacamnya. Tetapi ada yang lebih berbahaya dari itu.”

“Tetapi ada semacam alat penyaring sebelum air itu masuk ke dalam kolam.”

“Ya. Yang tersaring adalah sampahnya. Tetapi jika seseorang menaburkan semacam racun ke dalam kolam itu?”

“Jika yang ditaburkan racun, maka ikan yang ada di kolam itu akan mati semuanya Ibunda.”

Permaisuri menarik nafas dalam-dalam. Ia merasa sulit menanggapi kemampuan berpikir putranya, sehingga kadang-kadang ia berdesis, “Anak-anak sekarang kadang-kadang sulit untuk ditertibkan. Ada-ada saja alasannya dan caranya untuk mempertahankan sikapnya.”

Namun demikian, akhirnya permaisuri itu berkata, “Ranggawuni, kau tidak boleh mandi di kolam yang kotor itu. Mungkin ada bibit penyakit yang hanya dapat menyerang manusia. Misalnya gatal-gatal, dan bahkan yang lebih dari itu, sehingga dapat membuat kulitmu luka.”

Ranggawuni menganggukkan kepalanya.

“Nah, baiklah. Kau boleh bermain-main di tepi kolam.”

Tetapi Ranggawuni sekali lagi mengangguk.

“Jangan mandi!”

Tetapi di hari lain, Ranggawuni ditemukan mandi pula di kolam itu bersama saudara sepupunya, putra Mahisa Wonga Teleng yang sedikit lebih muda daripadanya, tetapi nakalnya bukan main. Jika ia terlepas sedikit dari pengawasan pengasuhnya, maka ia pun segera berlari mendapatkan Ranggawuni dan bersama-sama menceburkan diri ke dalam kolam. Bahkan jika para pengasuhnya dengan tergesa-gesa mencoba mencegah sebelum mereka sempat membuka pakaian, maka mereka berdua bersama-sama meloncat dengan pakaian mereka sekaligus.

Para prajurit yang bertugas pun kadang-kadang terpaksa mengejar keduanya jika keduanya memasuki jembatan di atas kolam itu, karena jembatan itu merupakan papan loncat yang menyenangkan sekali.

Kadang-kadang para prajurit hanya dapat menggeleng-gelengkan kepalanya, karena para prajurit itu tidak berhasil menangkap mereka.

Kadang-kadang Anusapati yang melihat dari kejauhan justru tersenyum. Ternyata menilik sikap dan geraknya, Ranggawuni adalah seorang anak laki-laki yang kuat dan tangkas. Demikian juga dengan saudara sepupunya itu.

“Mudah-mudahan mereka akan menjadi anak-anak muda yang memiliki kemampuan untuk meneruskan pemerintahan di atas Singasari ini,” berkata Anusapati di dalam hatinya.

Namun dalam pada iu, setelah kolam itu selesai, maka Mahisa Agni pun merasa, bahwa Anusapati telah menjadi semakin aman. Sebenarnya ilmunya yang semakin meningkat, dan mendekati kesempurnaan itu nilainya tidak kurang dari kolam yang melingkari bangsalnya. Namun usaha orang-orang yang tidak dikenal untuk menyusup ke dalam bangsal akan sangat sulit. Jika ada juga yang mencoba, maka asal para prajurit sempat membangunkan Anusapati, maka ia akan dapat menjaga dirinya. Apalagi jika kemudian datang membantunya para perwiranya yang setia.

Hal itulah yang kemudian membuat Mahisa Agni tidak lagi merasa wajib untuk berada di istana Singasari lebih lama lagi. Selain ia memang memiliki tugas di Kediri, maka baginya Anusapati tidak lagi membuatnya cemas.

Tetapi berbeda dengan Mahisa Agni, justru Anusapati mulai merasa dirinya seakan-akan selalu diintai oleh bahaya. Bagaimanapun juga, ia tidak dapat mengingkari, apakah yang sebenarnya telah terjadi atas Sri Rajasa. Kematian Sri Rajasa sebenarnya adalah karena tangannya.

Seperti Sri Rajasa, tiba-tiba Anusapati mulai merasa bahwa apa yang dapat dicapainya itu sama sekali tidak memberikan ketenteraman di hatinya. Ia seakan-akan dibayangi oleh dendam yang membara di hati saudaranya yang lahir dari Ibundanya Ken Umang. Bahkan ia bertanya kepada diri sendiri, “Apakah yang akan dikatakan oleh Mahisa Wonga Teleng tentang dirinya apabila adiknya itu mengetahui bahwa sebenarnya ia sendirilah yang telah membunuh Sri Rajasa, dengan keris Empu Gandring, apapun alasannya.”

Dalam pada itu, ketika kolam itu telah selesai dan memberikan kesegaran pada istana Singasari, beberapa orang menjadi kecewa karenanya. Beberapa orang yang memang sedang berusaha untuk menyingkirkan Anusapati dari tahta dan membunuhnya sekali.

Kolam itu memang merupakan pagar yang sangat sulit dilintasi. Adalah lebih mudah seandainya di seputar bangsal itu di bangun dinding batu yang tebal dan tinggi. Masih ada kemungkinan untuk meloncatinya. Tetapi kolam yang luas itu terlampau sulit untuk di seberangi. Orang yang akan pergi ke bangsal itu harus melalui salah satu dari dua buah jembatan di atas kolam atau berenang sama sekali. Sedangkan kedua jembatan itu tidak akan terlepas dari pengawasan para penjaga karena di ujung jembatan itu terdapat regol dan gardu. Sedang mereka yang berenang, tidak akan dapat menghindarkan diri dari gejolaknya air. Seandainya seseorang berenang di bawah permukaan air, maka ketika ia masuk dan kemudian keluar dari air, tentu akan sangat sulit untuk menghindarkan diri dari pengamatan para petugas yang selalu waspada. Apalagi, tentu tidak ada seorang pun yang dapat berenang di bawah air dari tepi sampai ke tepi melintasi kolam yang luas itu.

“Kita harus mendapatkan cara lain,” berkata salah seorang dari mereka.

“Ya. Kita tidak boleh tergesa-gesa. Kita akan mempelajari apakah sebenarnya yang dapat kita lakukan.”

“Kita sudah menunggu terlalu lama,” berkata yang lain.

Namun mereka bersepakat, bahwa mereka harus berhati-hati melakukan usaha yang gawat itu.

Dalam pada itu, Anusapati pun justru menjadi semakin waspada. Seakan-akan bahaya yang mengancamnya semakin lama menjadi semakin besar dan semakin dekat.

Anusapati yang gelisah itu terperanjat ketika pada suatu hari adiknya Mahisa Wonga Teleng datang kepadanya dengan sikap wajah yang agak lain dari kebiasaannya.

“Apa yang terjadi Adinda?” bertanya Anusapati.

Mahisa Wonga Teleng mencoba mengedapkan perasaannya. Kemudian dengan suara yang sendat ia berkata, “Ampunkan Adinda ini. Sebenarnya Adinda tidak perlu datang kepada Kakanda Anusapati karena aku harus dapat menyaring, manakah yang pantas aku dengarkan dan mana yang tidak.”

Anusapati menjadi semakin berdebar-debar.

”Apakah yang meragukanmu Mahisa Wonga Teleng?” bertanya Anusapati kemudian.

“Kakanda,” berkata Mahisa Wonga Teleng kemudian, “jika aku mengatakannya kepada Kakanda, sebenarnya sekedar untuk melepaskan keragu-raguan di dalam hati. Karena aku yakin bahwa aku sudah dapat menjawabnya sendiri meskipun aku tidak mengatakannya.”

“Katakan Adinda.”

“Kakanda Anusapati,” berkata Mahisa Wonga Teleng dengan ragu-ragu, “beberapa hari yang lampau seseorang telah datang kepadaku. Aku tidak tahu, siapakah orang itu. Tetapi ia membawa cerita seperti yang pernah tersebar di antara beberapa orang yang membenci Kakanda.”

“Maksudmu?”

“Orang itu mengatakan, bahwa Kakanda adalah yang telah membunuh Ayahanda Sri Rajasa.”

Dada Anusapati menjadi semakin berdebar-debar. Tetapi ia berhasil menguasai perasaannya. Katanya, “Aku juga mendengar Mahisa Wonga Teleng. Bahkan seseorang pernah melontarkan tuduhan itu langsung kepadaku. Dan aku telah memaafkannya karena ia tidak mengetahui apakah yang sebenarnya telah terjadi. Dan seperti yang kau katakan, memang ada golongan yang dengan sengaja menyebarkan berita semacam itu. Jadi yang kau dengar bukanlah berita yang pertama kali tersebut di daerah ini dan bahkan di luar kota Singasari.”

“Aku tahu Kakanda. Dan sudah sejak lama aku tidak memercayainya.”

“Dan kenapa tiba-tiba saja sekarang kau menjadi ragu?”

“Itulah yang aneh Kakanda. Tetapi sebenarnya aku yakin bahwa berita itu hanyalah fitnah semata-mata. Tetapi di samping berita yang pernah aku dengar sejak beberapa waktu itu, aku mendengar berita lain yang sangat menggelisahkan jika sampai tersebar di antara rakyat Singasari.”

Anusapati mengerutkan keningnya. Terasa dadanya men-jadi berdebar-debar. Karena itu, maka wajahnya pun tampak menegang.

“Adinda Mahisa Wonga Teleng. Kau benar-benar telah membuat aku menjadi gelisah,” berkata Anusapati kemudian.

“Bukan maksudku menggelisahkan Kakanda. Tetapi biarlah Kakanda tidak terkejut kelak apabila Kakanda mendengarnya. Daripada Kakanda mendengar dari orang lain, maka aku menganggap bahwa lebih baik Kakanda mendengar dari aku sendiri,” berkata Mahisa Wonga Teleng.

“Katakanlah Adinda. Barangkali aku memang perlu mendengarnya.”

“Kakanda,” berkata Mahisa Wonga Teleng kemudian setelah ia bergeser setapak. Tampak wajahnya masih saja dibayangi oleh keragu-raguan, “akhir-akhir ini aku benar-benar telah dibingungkan oleh keterangan orang yang tidak aku kenal itu.”

Anusapati menganggukkan kepalanya, “Katakanlah.”

Mahisa Wonga Teleng menelan ludahnya. Tetapi dipaksanya juga untuk berkata, “Kakanda. Orang itu mengatakan, bahwa bukan saja Kakanda telah membunuh Ayahanda Sri Rajasa, dengan meminjam tangan Pengalasan dari Batil itu dan kemudian Kakanda membunuhnya, namun orang itu juga mengatakan bahwa Kakanda bukanlah putra Ayahanda Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi.”

Pertanyaan itu bagaikan petir yang meledak di ujung telinga Anusapati. Karena itu sejenak wajahnya menjadi merah dan terasa mulutnya terbungkam. Dipandanginya wajah adiknya dengan sorot mata yang aneh, sehingga Mahisa Wonga Teleng menjadi kecut hatinya. Ada semacam penyesalan melonjak di hatinya bahwa ia sudah mengatakannya. Jika Anusapati menjadi marah, maka mungkin ia akan mengalami sesuatu yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.

Sejenak mereka berdua saling berdiam diri. Anusapati yang dikejutkan oleh pertanyaan itu, dengan susah payah mencoba menenangkan hatinya.

Sambil menarik nafas dalam-dalam, maka Anusapati pun kemudian berkata, “Kau sudah melakukan sesuatu yang benar menurut penilaianku Adinda. Memang sebaiknya aku mendengar darimu daripada orang lain.”

Mahisa Wonga Teleng tidak mengetahui, apakah yang sebenarnya tersimpan di hati Kakandanya itu, sehingga karena itu untuk beberapa lamanya ia masih tetap berdiam diri sambil menundukkan kepalanya.

“Adinda Mahisa Wonga Teleng,” berkata Anusapati, “tentu berita yang kau dengar itu belum kau katakan seluruhnya. Maksudku, menurut pendengaranmu dari orang yang belum kau kenal itu.”

Anusapati berhenti sejenak, lalu, “berita itu tentu ada kelanjutannya Adinda. Jika aku bukan putra Ayahanda Sri Rajasa, maka menurut orang itu, siapakah sebenarnya aku ini? Maksudku, menurut ceritanya, anak siapakah aku ini?”

“Maafkan aku Kakanda. Aku hanya mengatakan apa yang dikatakan oleh orang itu.”

“Ya. Aku tahu.”

“Katanya, Kakanda adalah putra seorang akuwu yang dahulu memerintah daerah yang kini disebut Singasari. Pada waktu itu daerah ini masih bernama Tumapel. Dan akuwu itu bernama Tunggul Ametung.”

Anusapati mencoba menahan perasaan yang bergejolak. Bahkan kemudian ditekankannya tangannya di dadanya. Katanya, “Adinda. Berita itu memang mengejutkan aku. Aku mengerti urut-urutan cerita orang itu. Karena aku bukan putra Ayahanda Sri Rajasa, dan karena aku putra akuwu yang dahulu memerintah daerah ini, maka aku menuntut hakku dan membunuh Ayahanda Sri Rajasa. Begitu?”

“Begitulah kira-kira, Kakanda.”

“Adinda. Jika demikian coba katakan, siapakah ibuku?”

Mahisa Wonga Teleng mengerutkan keningnya. Perlahan-lahan ia berkata, “Ibundamu juga Ibunda Ken Dedes.”

Tetapi jawaban itu ternyata telah menggetarkan hatinya sendiri. Ken Dedes adalah ibundanya, sehingga dengan demikian maka ibundanya pernah menjadi seorang istri dari orang lain, atau jika mempergunakan istilah lebih kasar maka sebelum ibundanya menjadi permaisuri di Singasari, ibundanya mencintai laki-laki lain selain ayahandanya.

“Oh, tidak, tidak,” desisnya sebelum Anusapati mengatakan sesuatu.

“Apa yang tidak Adinda?”

“Tentu tidak. Bahwa Ibunda pernah mencintai laki-laki lain selain Ayahanda. Tentu tidak bahwa Ibunda pernah berhubungan dengan laki-laki lain sebelum Ayahanda menjadi istri Ayahanda sehingga mengandung dan melahirkan seorang anak.”

“Tenanglah Adinda,” berkata Anusapati, “memang kabar itu sangat pahit bagi kita, terutama apabila Ibunda yang sudah tua itu mendengarnya. Tentu berita itu bukannya sekedar fitnah, tetapi juga hinaan atas kesetiaan Ibunda. Berita itu berarti bahwa aku adalah anak seorang laki-laki lain daripada Ayahanda Sri Rajasa. Dan itu adalah hinaan atas kesetiaan Ibunda.”

“Ya Kakanda. Itu tentu fitnah yang sangat keji atas Ibunda.”

“Dan kau tahu maksudku?”

“Untuk memisahkan kita berdua. Maksudnya agar aku mendendam atas kematian Ayahandaku, dan adalah lebih baik jika aku bertindak atas Kakanda, karena Kakanda bukan saudaraku seayah.”

Anusapati menganggukkan kepalanya. Ia berharap agar ia berhasil meyakinkan Mahisa Wonga Teleng bahwa cerita itu hanyalah fitnah semata-mata.

“Kakanda,” berkata Mahisa Wonga Teleng kemudian, “aku minta maaf bahwa aku telah menyampaikan hal ini kepada Kakanda. Seharusnya aku tahu, bahwa tidak sepantasnya aku memikirkannya. Apalagi meragukannya, dan menyampaikannya kepada Kakanda. Seharusnya aku tahu, bahwa Kakanda terlampau sibuk dan banyak hal yang harus dipikirkan, sehingga yang aku sampaikan hanya akan menambah kesibukan Kakanda.”

“Tidak Adinda,” berkata Anusapati, “sebaiknya hal ini memang harus kau sampaikan. Dengan demikian hatimu segera menjadi terang. Kau tidak perlu lagi berteka-teki tentang diriku dan tentang hubungan keluarga di antara kita.”

Mahisa Wonga Teleng mengangguk dalam-dalam. Katanya, “Aku memang dungu sekali. Tetapi biarlah lain kali aku dapat menyelesaikan masalah-masalah seperti ini tanpa mengganggu Kakanda.”

Anusapati hanya tersenyum saja. Ia mulai yakin, bahwa Mahisa Wonga Teleng dapat dikuasainya, sehingga adindanya itu tidak akan meragukan lagi kebenaran ceritanya.

Namun sepeninggal Mahisa Wong Teleng, Anusapati merasakan sesuatu yang pahit di dalam hatinya. Meskipun ia berhasil meyakinkan adindanya itu, dan barangkali juga beberapa perihal di Singasari, namun bahwa seseorang telah berusaha mengungkit kebenaran tentang dirinya, adalah sangat mendebarkan hati. Anusapati yang berhasil menguasai tahta Singasari itu merasa, bahwa ia harus hidup di dalam suatu keadaan yang tidak dikehendakinya sendiri. Kebimbangan, kecemasan, pura-pura dan bahkan kepalsuan seperti itu. Ia harus mengingkari kebenaran tentang dirinya sendiri. Ia harus mengingkari ayahandanya sendiri yang sebenarnya.

“Alangkah pahitnya hidup seperti ini,” katanya di dalam hati.

Dan kadang-kadang Anusapati harus menelusuri jalan yang pernah dilaluinya. Sejak ia masih muda. Hidupnya yang seakan-akan terasing dari kasih sayang orang tua. Hidup yang seakan-akan selalu diancam oleh bahaya. Bahkan usaha-usaha untuk menyingkirkannya.

Puncak dari semuanya itu adalah kematian Sri Rajasa yang menggetarkan itu.

Dan ia harus mengingkari semuanya. Mengingkari ayahandanya yang menurunkannya, mengingkari kematian Sri Rajasa. Mengingkari kebaikan hati Sumekar, mengingkari banyak hal yang menyiksa dirinya.

Dengan demikian, maka Anusapati pun menjadi sangat prihatin. Seakan-akan hidup yang dihayatinya adalah hidup yang semu semata-mata, karena semuanya disaput oleh kepalsuan dan pura-pura.

Dengan demikian, maka seakan-akan Anusapati merasa dirinya berjalan di jalan yang sangat panjang, melalui kesulitan demi kesulitan, melalui kepalsuan demi kepalsuan. Dan jalan itu rasa-rasanya tidak akan ada habis-habisnya. Ia harus menyembunyikan setiap kepalsuan dengan kepalsuan yang lain, mengingkari kebohongan dengan kebohongan yang lain.

Namun Anusapati merasa bahwa ia tidak akan dapat kembali. Baginya Singasari adalah pusat dari segalanya, sehingga apapun yang akan terjadi atas dirinya, maka ia harus berusaha agar Singasari tidak pernah guncang. Bahwa apa yang pernah dicapai oleh ayahandanya, meskipun bukan yang sebenarnya, harus dipertahankannya.

“Apa yang sudah ada ini tidak boleh terlepas,” berkata Anusapati di dalam hatinya, karena ia merasa bahwa ia tidak mempunyai kesempatan untuk mengembangkannya.

“Kenapa aku merasa diriku terbelenggu oleh sesuatu?” tiba-tiba Anusapati mencoba menghentakkan diri dari bayangan-bayangan yang suram dari hidupnya itu, “aku sudah bertekad untuk melakukannya. Aku harus berani mempertahankannya dan bertanggung jawab. Aku adalah Maharaja Singasari.”

Namun di dalam kegelisahannya, Anusapati tidak dapat lari dari kejaran pengakuan di dalam dirinya sendiri, sehingga ia terpaksa memanggil Mahisa Agni ke Singasari. Satu-satunya orang yang paling dipercayainya, dan orang yang memang mengetahui segala rahasianya.

“Pamanda,” berkata Anusapati, “aku selalu dikejar oleh bayangan yang suram tentang diriku sendiri. Apakah di dalam kelanjutan hidupku ini, aku akan selalu dikejar oleh kepalsuan yang harus aku pertahankan?”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Semuanya sudah terjadi. Seperti Anusapati sendiri, maka yang dihadapi adalah yang tidak diharapkannya sama sekali.

“Tuanku,” berkata Mahisa Agni kemudian. Ia tidak mendapat jalan lain, kecuali berusaha menenteramkan hati Anusapati, “dahulu Ayahanda Sri Rajasa pun hidup di dalam dunia yang lain dari kebenaran itu. Ayahanda Sri Rajasa justru dengan sengaja dan diperhitungkan lebih dahulu, hidup di dalam dunia yang lain dari kebenaran itu. Ayahanda Sri Rajasa justru dengan sengaja dan diperhitungkan lebih dahulu hidup di dalam dunia yang penuh dengan kepalsuan. Kematian pamanku Empu Gandring, Kebo Ijo dan Akuwu Tunggul Ametung. Kemudian perkawinannya dengan Ken Umang, dan kepura-puraannya yang paling gila adalah mengangkat Tuanku menjadi Putra Mahkota. Karena di satu pihak Sri Rajasa bersikap jujur karena Tuanku adalah putra permaisuri yang tertua, namun di lain pihak, Sri Rajasa ingin menyingkirkan Tuanku dengan cara apapun, karena Sri Rajasa ingin memaksa niatnya, mengangkat Tuanku Tohjaya menjadi Pangeran Pati.”

Mahisa Agni berhenti sejenak, “Namun di dalam waktu yang lama itu, Sri Rajasa berhasil menguasai keadaan dan dirinya sendiri.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mengerti bahwa juga Sri Rajasa hidup di dalam dunia yang palsu. Namun ia berhasil menguasainya sehingga ia berhasil memanfaatkan dunianya yang dibayangi oleh kepura-puraan itu untuk kerja yang besar. Mempersatukan Singasari, Kediri dan daerah-daerah lain di sepanjang pulau.

“Aku harus mempertahankannya,” Anusapati menarik nafas sambil berkata kepada diri sendiri, “aku harus hidup di dalam dunia yang pernah dihuni oleh ayahanda Sri Rajasa dan berbuat seperti Ayahanda Sri Rajasa pula.”

Demikianlah Anusapati mencoba untuk dapat melupakan peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi. Ia mencoba berbuat seperti yang pernah dilakukan oleh ayahandanya, Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi.

Tetapi ternyata bahwa Anusapati mempunyai sifat dan watak yang berbeda. Sri Rajasa, yang semasa kecilnya bernama Ken Arok, dan yang hidup di padang belantara itu, sudah terbiasa hidup di dalam bayangan yang kelam. Adalah sudah menjadi kebiasaannya untuk melakukan tindakan-tindakan yang kasar. Merampok, menyamun, memerkosa dan bahkan membunuh. Dengan demikian, maka kematian demi kematian yang direncanakan tidak terlampau banyak membekas di hatinya, meskipun di saat-saat yang khusus Sri Rajasa tidak berhasil menghindarkan diri dari kejaran dosa-dosanya itu.

Berbeda dengan Sri Rajasa, Anusapati di masa kecilnya hidup dalam suasana yang sepi, meskipun di dalam keramaian suasana istana Singasari. Namun ia menjadi dekat dengan perasaannya lebih dari nalarnya. Ia memandang manusia dari segi yang lain dari Ken Arok. Ken Arok adalah orang yang hidup dalam dunia wadagnya yang kasatmata. Kekuatan, kemampuan berkelahi, perang dan keris Empu Gandring. Sedang Anusapati memandang manusia lebih banyak dari segi pribadi dan hidup mereka yang tidak kasatmata. Meskipun Anusapati juga mempelajari ilmu kanuragan, namun baginya manusia adalah kesatuan yang utuh. Bagi Anusapati, yang kasatmata justru sekedar bayangan dari yang tidak kasatmata wadagnya. Sehingga dengan demikian Anusapati lebih menghargai manusia pada segi rohaniahnya, bukan jasmaniahnya.

Itulah sebabnya ia tidak semudah Ken Arok untuk melupakan apa yang pernah terjadi. Bahkan keris di tangannya pernah menusuk orang yang bernama Ken Arok dan bergelar Sri Rajasa yang diakunya sebagai ayahnya sendiri. Dan karena itu pulalah ia tidak segera dapat melupakan, bahwa ia telah berbohong kepada rakyat Singasari. Jika setiap orang menyebut nama pengalasan dari Batil sambil meludah, maka alangkah perih hati Anusapati, karena ia menyebut nama Sumekar dengan menundukkan kepala dan hormat yang setinggi-tingginya. Dan itu pun merupakan kebohongan yang besar dan tidak berperikemanusiaan.,

Selesainya ia harus mempertahankan kebohongannya itu kepada adiknya seibu, Mahisa Wonga Teleng. Ia menolak kebenaran yang pernah dikatakan oleh adiknya.

“Kenapa aku menjadi ketakutan mengaku bahwa aku adalah putra Akuwu Tunggul Ametung di hadapan Mahisa Wonga Teleng?” ia bertanya kepada diri sendiri.

Namun sebenarnyalah bahwa Anusapati yang pernah dikenal dengan gelar Kesatria Putih, dan yang berani menyusuri kehidupan malam yang penuh dengan kejahatan, sama sekali tidak mempunyai keberanian untuk mengakui di hadapan adiknya tentang dirinya sendiri. Tentang ayah yang sebenarnya menitikkan darah keturunan ke dalam dirinya.

Dengan demikian, maka ternyata kolam yang sudah dibangunnya mengelilingi bangsalnya itu hanya mampu mengamankan badannya, tubuhnya saja. Tetapi tidak berhasil mengamankan kegelisahan hatinya. Kolam itu berhasil menyingkirkan kecemasan bahwa ia akan terancam oleh orang-orang yang tidak dikenal, dan barangkali oleh adiknya, Tohjaya, yang sebenarnya tidak mempunyai sangkut paut sama sekali dengan dirinya. Tetapi tidak berhasil membentengi dirinya dari pengakuan betapa hidupnya dibayangi oleh kepalsuan dan pura-pura.

Dengan demikian, maka Anusapati semakin lama justru semakin dalam tenggelam suasana yang buram. Ia menjadi semakin sering merenungi dirinya sendiri dan Singasari.

Rasa-rasanya tidak ada yang pantas lagi dilakukan selain menyerahkan segalanya bagi Singasari. Rasa-rasanya hidupnya akan menjadi terlampau sempit, sehingga ia mempergunakan segala yang ada padanya bagi kebesaran negerinya.,

Tetapi karena hati yang suram, maka yang memancar pun bukannya cahaya yang cerah. Anusapati lebih senang melihat Singasari tenang, tenteram dan damai. Ia lebih senang memelihara yang sudah ada sambil merenungi kepedihan di dalam diri.

Namun dengan demikian Singasari tetap seperti Singasari sejak ia naik ke atas tahta. Singasari yang tenang dan damai, yang sawahnya menjadi hijau dari ujung sampai ke ujung cakrawala. Yang lembah dan ngarainya dialiri oleh sungai-sungai yang jernih, di sela-sela pegunungan yang menjulang ke langit.

Dengan demikian maka Singasari bagaikan seorang bayi yang sedang berbaring di dalam buaian. Ia tidak bergejolak dan tidak menggelegak seperti saat Sri Rajasa naik ke atas tahta. Singasari tidak berhias dan membenahi dirinya. Apalagi menimang senjata, menebas hutan, membendung bengawan, lebih-lebih mengarungi lautan.

Meskipun demikian, sebenarnyalah Singasari tidak seluruhnya tenggelam di dalam hidup yang tenang dan terhenti. Di dalam dada Ranggawuni yang meningkat dewasa, sebenarnyalah menggelegak gejolak yang belum kasatmata. Kenakalan dan kelincahannya, memberikan harapan bagi masa depannya.

Di dalam umurnya yang masih sangat muda, telah tampak pada anak itu, bahwa ia memiliki kelebihan dari anak-anak sebayanya. Bukan saja karena ia adalah putra seorang maharaja yang berkuasa di Singasari, tetapi Ranggawuni memang memiliki sesuatu yang lain.

Dan Mahisa Agni yang memiliki pengamatan yang tajam itu dapat melihat kelebihan itu. Itulah sebabnya maka ia menaruh harapan pada anak itu. Dengan telaten Mahisa Agni membimbing anak itu, selain Anusapati sendiri. Tetapi karena ilmu Anusapati juga bersumber dari Mahisa Agni, maka sama sekali tidak ada persoalan di dalam latihan-latihan yang dilakukan oleh anak itu. Apalagi setelah ia mendapat kawan yang hampir sebaya, meskipun agak lebih muda. Adik sepupunya ternyata juga seorang anak laki-laki yang nakal seperti dirinya sendiri, sehingga keduanya adalah dua orang yang memiliki hampir kesamaan di banyak hal.

Anusapati sendiri melihat anak laki-lakinya dengan sepenuh harapan. Bahkan kadang-kadang jika ia sedang merenungi dirinya dirinya sendiri, selalu berakhir dengan sebuah tarikan nafas, “Mudah-mudahan Ranggawuni tidak mengalami kesuraman di dalam hidupnya. Ia tidak boleh hidup di dalam dunia yang palsu dan pura-pura ia harus berada di tempatnya seperti yang ada padanya.”

Demikianlah, maka tumpuan harapan Anusapati semata-mata ada pada anak laki-lakinya. Ia sendiri tidak lagi berhasrat untuk berbuat banyak atas Singasari, selain memelihara ketenteraman dan kedamaian. Yang sudah ada itulah yang dipeliharanya.

Meskipun demikian, ia berharap bahwa kelak Ranggawuni akan berhasil membuat Singasari menjadi jauh lebih besar, lebih baik dan lebih kuat. Sawah-sawah yang ada harus menjadi berlipat, air harus semakin banyak naik ke sawah dan pategalan. Jalan-jalan yang menghubungkan tempat yang satu dengan tempat yang lain. Jembatan-jembatan dan bendungan-bendungan.

Agaknya Ranggawuni pun menaruh perhatian atas cita-cita yang demikian. Setiap kali ayahandanya mengatakan tentang masa depan Singasari, Ranggawuni selalu mendengarkan dengan seksama. Meskipun umurnya belum menginjak dewasa, tetapi ternyata ia sudah tertarik kepada persoalan-persoalan yang besar.

Namun dalam pada itu, selagi Anusapati mencurahkan harapannya pada masa depan, karena ia merasa tidak memiliki kekuatan lagi untuk mengatasi kekalutan di dalam dirinya, beberapa orang selalu mencari jalan untuk menyingkirkannya.

Kolam di sekeliling bangsal memang merupakan rintangan besar bagi setiap usaha untuk membunuhnya. Tak mudah menembus kolam itu betapapun tinggi ilmu seseorang, karena di sekitar kolam itu pun diletakkan pengawal-pengawal yang mumpuni. Setiap gejolak air yang tidak sewajarnya takkan terlepas dari pengamatan mereka, sehingga seakan-akan seekor itik pun tidak akan dapat menyeberangi tanpa diketahui oleh para penjaga.....

Bersambung.....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...