BARA DI ATAS SINGGASANA : JILID-19-02
Sumekar hampir tidak sabar menunggu. Tetapi akhirnya, seseorang keluar dari pondok itu. Setelah menutup pintu maka ia-pun segera melangkah meninggalkan rumahnya. Orang itu adalah penasehat Sri Rajasa, guru Tohjaya.
Ketika orang itu lewat dekat, dengan segerumbul batang-batang perdu tempat Sumekar bersembunyi, maka ia-pun tertegun. Ia mendengar seolah-olah suara seseorang yang sedang merintih kesakitan di dalam kegelapan.
Penasehat Sri Rajasa itu termangu-mangu sejenak. Tetapi suara terdengar semakin jelas.
Bagaimana-pun juga suara itu sangat menarik perhatiannya, justru saat-saat istana Singasari sedang sibuk dengan perkawinan seorang Putera Sri Rajasa. Sebagai seorang yang memiliki kemampuan yang tinggi, maka ia-pun tidak ragu-ragu lagi. Namun demikian ia-pun cukup berhati-hati mendekati suara yang mencurigakan itu.
Tetapi suara itu seakan-akan semakin lama menjadi semakin jauh. Seakan-akan suara itu dapat merayap ke dalam kegelapan. Semakin lama semakin dalam-dalam.
Namun Penasehat Sri Rajasa yang juga menjadi guru Tohjaya itu-pun mengikutinya. Justru semakin lama ia-pun semakin ingin mengetahui, apakah yang sedang dihadapinya.
Demikian ia sampai ditempat yang agak terpencil, tiba-tiba ia melihat sesosok tubuh berdiri di dalam kegelapan. Sesosok tubuh yang hanya tampak kehitam-hitaman saja.
“O, jadi kau yang memancing aku kemari?” bertanya penasehat Sri Rajasa itu.
Bayangan yang kehitam-hitaman yang tidak lain adalah Sumekar itu berdesir mendengar pertanyaan yang tatag itu. Maka jawabnya, “Ya. Aku yang memancingmu. Aku memerlukan kau sejenak.”
“Siapa kau?”
“Kau tidak mengenal aku.”
“Jadi apakah kepentinganmu menemui aku kalau kau tahu bahwa aku tidak mengenalmu.”
“Aku ingin bertanya, aku harap kau tidak berkeberatan menjawabnya dengan jujur.”
Penasehat Sri Rajasa itu mengerutkan keningnya. Lalu, “Apa yang ingin kau ketahui?”
“Terima kasih,” berkata Sumekar, “semula aku tidak mengenalmu dan tidak mengenal setiap orang di dalam istana ini. Tetapi akhirnya aku memerlukan datang untuk menemuimu.”
“Kenapa aku?”
“Aku ingin kau tidak usah mangelak. Bukankah kau yang menyiapkan jebakan untuk menangkap Putera Mahkota beberapa saat yang lampau, ketika Puteran Mahkota mengalani pendadaran.”
Penasehat Sri Rajasa tu mengerutkan keningnya. Lalu katanya, “O, beberapa waktu yang lalu katamu? Aku tidak mengerti, apakah kau sedang mengigau atau bermimpi. Putera Mahkota telah kembali dengan selamat. Tidak ada apa-apa yang terjadi saat itu.”
“Ya. Putera Mahkota telah kembali dengan selamat, adalah bahwa rencanamu telan gagal. Begitu? Aku tidak akan berbuat apa-apa. Aku hanya ingin meyakini, bahwa demikianlah yang terjadi saat itu. Bukankah memang demikian?”
“Aku tidak tahu ujung pangkal pembicaraanmu. Sudahlah, apa yang sebenarnya kau maui?”
Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Dilihatnya penasehat Sri Rajasa itu berdiri tegak siap untuk menghadapi segala kemungkinan.
“Ia memang bukan orang kebanyakan,” gumam Sumekar di dalam hatinya.
“Ki Sanak,” berkata Sumekar kemudian, “beberapa saat yang lampau, kawan-kawanku pernah mendapat kesempatan menemuimu. Bahkan salah seorang dari kami telah dilayani langsung oleh Sri Rajasa. Sebenarnya aku tidak ingin ikut bermain-main dengan isi istana ini. Tetapi ternyata bahwa aku telah terlempar kemari juga pada suatu saat. Adalah kebetulan sekali bahwa aku menemui Kiai Kisi selagi ia mendapat perintah dari istana ini untuk menjebak Putera Mahkota. Orang yang disebut-sebut menghubunginya adalah kau. Nah, apa katamu? Aku tidak akan berbuat apa-apa. Aku hanya ingin membuktikan, apakah benar kaulah yang telah menghubungi Kiai Kisi?”
“Persetan. Aku tidak mengenal nama orang itu.”
“Jangan ingkar Ki Sanak. Kiai Kisi dengan bangga menyebut kau sebagai orang yang paling tahu tentang rencana ini. Dan kalau kau tidak mempunyai hubungan apa-pun dengan Kiai Kisi, kenapa kau bunuh kedua orang tawanan itu?”
“Persetan.”
“Jangan ingkar. Aku tidak mempunyai persoalan dengan kau. Aku hanya ingin berpesan kepadamu, jangan bertindak terlampau ceroboh. Sebenarnya aku kasihan melihat kegagalanmu. Tetapi apaboleh buat, karena aku memang harus membunuh Kiai Kisi.”
“Gila. Itu urusanmu.”
“Kenapa kau memilih Kiai Kisi.”
“Diam. Diam,” bentak penasehat Sri Rajasa, “aku tidak tahu apa yang kau katakan. Sekarang apa maumu? Pergilah, atau aku akan membunuhmu.”
“Jangan sombong. Ternyata isi istana ini tidak seperti yang aku duga. Kawanku tidak berhasil ditangkap oleh Sri Rajasa sendiri. Apalagi kau? Mahisa Agni, para Panglima. Semuanya tidak banyak berarti.” orang diam sejenak. Lalu, “He. apakah kau sudah lama berhubungan dengan Kiai Kisi.”
“Diam, diam,” dan tiba-tiba, “apa pedulimu? Kalau kau memang tidak mempunyai kepentingan apa-pun juga, kenapa kau datang kemari dan membicarakan kematian Kiai Kisi yang sudah lalu itu.”
“Jadi kau menanggap persoalannya sudah selesai?”
“Diam, diam. Aku tidak peduli lagi.”
“Kau tidak mendendam karena kegagalan itu?”
“Persetan. Aku bunuh kau.”
“Aku ingin menawarkan jasa kepadamu. Kau sudah gagal mempergunakan Kiai Kisi. Bagaimana kalau kita berhubungan untuk kepentingan yang sama. Niat itu baru terpikir setelah aku merenung cukup lama. Kenapa saat itu aku tidak mengambil alih tugas Kiai Kisi, menangkap Putera Mahkota.”
Penasehat Sri Rajasa itu terkejut mendengar tawaran itu. Ia tidak menyangka sama sekali, bahwa orang yang tidak dikenal itu telah menyatakan keinginannya untuk bekerja bersama.
“Apakah kau bersedia memikirkannya? Kau tentu menyanggupi upah yang cukup banyak kepada Kiai Kisi, atau kau memberi kesempatan kepadanya untuk memeras istana Singasari. Bagaimana-pun juga lewat Permaisuri aku akan mendapatkan kesempatan untuk memeras. Bukankah demikian juga agaknya yang akan dilakukan oleh Kiai Kisi.”
Penasehat itu merenung sejenak. Lalu katanya, “Siapakah kau sebenarnya?”
“Kita tidak perlu berkenalan. Aku hanya minta kepadamu, berilah kesempatan kepadaku untuk melakukannya, seperti yang akan dilakukan oleh Kiai Kisi. Aku tidak minta upah berapa-pun juga. Aku ingin mendapat upah itu dari usaha pemerasan.”
“Aku tidak tahu menahu. Persetan. Kalau kau ingin menculik Putera Mahkota, lakukanlah. Tetapi aku tidak ikut campur.”
“Jangan ingkar. Aku tidak memerlukan banyak bantuanmu. Kau hanya akan memberitahukan kepadaku, kemana Putera Mahkota akan melakukan pendadaran berikutnya, setelah pendadarannya yang pertama. Aku yakin bahwa masih akan ada perjalanan yang harus dilakukannya. Mungkin dalam waktu dekat setelah peralatan ini selesai seluruhnya.”
“Aku tidak tahu.”
“Kau akan tahu. Kita akan berhubungan. Berilah aku petunjuk Kalau aku berhasil memeras istana Singasari, maka kau akan mendapatkan bagian. Dan sekaligus kau mendapat keuntungan bahwa Putera Mahkota telah tersisih tanpa memberikan kecurigaan, karena ia gugur dalam menjalankan tugas. Sementara itu, kau-pun pasti akan mendapatkan upah atau kedudukan atau apa-pun yang dapat menjamin hari tuamu dari Tohjaya atau malahan dari Sri Rajasa sendiri.”
“Aku akan digantung oleh Sri Rajasa.”
“Ia akan berterima kasih kepadamu.”
“Sama sekali tidak. Sri Rajasa menjadi sangat murka karena usaha pembunuhan atas Putera Mahkota.”
Sumekar mengerutkan keningnya. Kini ia yakin bahwa Sri Rajasa benar-benar tidak terlibat didalam usaha pembunuhan itu.
“Jadi, apakah kita dapat berbuat di luar pengetahun Sri Rajasa? Tetapi bukankah lenyapnya Anusapati dapat memberikan tempat yang baik bagi Tohjaya?”
“Ada Mahisa Wonga Teleng,” penasehat itu bergumam seolah-olah kepada diri sendiri.
“Apa pedulimu kepada anak itu, Tohjaya mempunyai kesempatan lebih baik. Ia lebih dikenal oleh rakyat Singasari dari adik Anusapati yang lahir dari ibu yang sama itu.”
“Ya.”
“Jadi? Apakah kau setuju?”
Penasehat itu berpikir sejenak. Namun tiba-tiba ia membentak, meskipun tidak terlampau keras, “Jangan ganggu aku. Pergi. Pergilah atau aku akan membunuhmu.”
“Jangan marah.” sahut Sumekar, “tetapi bagaimanakah dengan tawaranku? Aku akan dapat berbuat lebih baik dari Kiai Kisi yang sudah aku bunuh itu.”
“Aku tidak peduli.”
Dan aku tidak memerlukan apa-pun juga selain petunjuk, kapan dan kemana Putera Mahkota akan pergi. Justru kaulah yang akan mendapat bagian dari pemerasan yang bakal terjadi itu, selain hadiah dari tuanku Tohjaya.”
“Persetan.”
Sumekar tertawa. Nada suaranya terdengar tinggi mengombak. Katanya, “Jangan terlampau berhati-hati. Usaha yang demikian adalah wajar. Jangan menunggu kedudukan Putera Mahkota menjadi semakin kuat. Kau tidak akan pernah mendapat kesempatan untuk menyingkirkannya.”
“Sri Rajasa sendiri akan melakukannya,” tiba-tiba orang itu terkejut mendengar suaranya sendiri. Dengan serta-merta ia berkata, “maksudku, persoalan putera-puteranya adalah persoalan Sri Rajasa sendiri. Demikian juga masalah Putera Mahkota. Aku tidak tahu. Aku tidak mencampturi persoalannya.”
“Benar, Aku tahu bahwa semuanya berada di tangan Sri Rajasa. Juga tentang Putera Mahkota. Tetapi kalau Anusapati sudah tidak ada, maka mau tidak mau, Putera Mahkota pasti beralih.” Sumekar yang berkerudung itu terdiam sejenak, “memang tidak pantas kau menentukan rencana sendiri di luar rencana Sri Rajasa dalam keseluruhan. Tetapi apabila hasilnya menguntungkan, kau tidak akan mendapat marah.”
Penasehat itu ragu-ragu sejenak. Terngiang kembali pesan Sri Rajasa, agar ia tidak membuat rencana tersendiri. Tetapi ternyata dugaan orang berkerudung itu tepat.
Namun demikian katanya, “Bukalah kerudungmu. Kita akan berbicara secara terbuka.”
Sumekar menjadi berdebar-debar. Tetapi tentu ia tidak dapat melakukannya. Karena itu maka jawabnya, “Aku tidak ingin mengenal dan dikenal lebih jauh dari persoalan kita masing-masing. Kita bersangkutan di dalam persoalan Putera Mahkota. Sesudah itu kita tidak mempunyai hubungan apa-apa lagi. Karena itu, biarlah kita tidak saling mengenal lebih dalam.”
“Kau memerlukan kepercayaan. Kalau tidak, aku tidak akan membuat persoalan apa-pun juga. Aku tidak tahu menahu. Habis perkara.”
“Kalau aku membuka kerudung ini, kau memberi tahu persoalan Putera Mahkota?”
“Aku tidak mengatakan.”
Sumekar menjadi termangu-mangu. Apakah ia akan dapat memenuhi permintaan Penasehat itu? Dan apakah ia tidak akan ingkar janji apabila ia telah membuka kerudungnya.
Tetapi untuk membuka kerudungnya, dan memperkenalkan dirinya adalah tidak mungkin sama sekali. Ia tidak akan mendapat kesempatan apa-pun juga, karena atas permintaan penasehat itu, Sri Rajasa pasti akan segera menangkapnya dan membunuhnya tanpa ampun.
Dengan demikian maka ceriteranya tentang juru taman akan segera berakhir sebelum ia berhasil melihat Putera Mahkota duduk di singgasana.
Karena itu, maka katanya, “Kita tidak perlu saling mengenal lebih banyak. Sudah aku katakan, persoalan kita terbatas pada persoalan ini saja.”
“Bagaimana mungkin kita berbicara satu sama lain tidak saling mengenal?”
“Apa pula untungnya aku membuka kedokku kalau kau juga tidak mengenal aku?”
“Itu lebih baik bagiku daripada kau berada dibalik tabir hitam itu.”
“Sudahlah. Katakan bahwa kau akan memberi aku kesempatan serupa dengan Kiai Kisi. Kapan aku harus menghubungi kau lagi untuk menerima petunjuk itu? Sepekan lagi, sebulan atau kapan saja? Aku dapat juga datang setiap sepekan sekali, misalnya. Jika keadaan dapat diperhitungkan beritahukan hal itu kepadaku.”
“Cukup. Aku tidak punya waktu untuk berbicara dengan orang yang tidak aku kenal.”
“Kau juga belum mengenal Kiai Kisi sebelumnya?”
“Bohong.”
“He? Jadi kau sudah mengenalnya?”
“Tidak. Tidak.”
“Jangan ingkar Ki Sanak. Kau sangka aku tidak tahu sama sekali tentang ilmu kanuragan? Nah, apakah kau masih juga akan menyangkal bahwa ilmumu pasti bersumber dari cabang ilmu yang sama dengan ilmu Kiai Kisi?”
“Bohong.”
“Kau mengigau.”
Sumekar yang berkerudung hitam itu tertawa. Lalu katanya, “Sebenarnya kau tidak akan dapat menghindarkan diri lagi. Aku dapat mengatakannya kepada Sri Rajasa, bahwa kaulah yang telah berkhianat. Kau telah menjebak Putera Mahkota dan membunuh dua orang tawanan itu.”
“Aku tidak peduli.”
“Mungkin Sri Rajasa mengampuni kau. Tetapi aku dapat mengumumkan kepada rakyat Singasari, bahwa penasehat Sri Baginda lah yang telah berkhianat. Karena ia mengetahui dengan pasti, hari dan tujuan Putera Mahkota, maka ia telah menghubungi seorang penjahat besar yang bernama Kiai Kisi. Tetapi Kiai Kisi telah aku bunuh, sehingga akulah pahlawan yang telah menyelamatkan Putera Mahkota.” Sumekar berhenti sejenak. Lalu, “kecuali kau mempunyai persetujuan tersendiri dengan aku. Misalnya, kau bersedia bersetuju seperti terhadap Kiai Kisi.”
Tiba-tiba penasehat Sri Rajasa itu menggeram. Katanya, “Jangan banyak bicara. Aku melihat dua kemungkinan. Kau membuka kerudungmu kemudian berbicara, atau membunuh kau seperti kedua tawanan itu untuk menghilangkan segala jejak persoalan. Meskipun kau tidak tahu apa-apa, tetapi sikapmu yang pura-pura mengetahui semua persoalan itu berbahaya bagiku.”
“Kau akan membunuh aku? “ Sumekar tertawa dengan nada yang tinggi meskipun tidak terlalu keras, “Sri Rajasa tidak dapat menangkap aku. Kiai Kisi aku bunuh dengan semena-mena. Dan kau sendiri pernah gagal menangkap aku.”
“Aku yakin, semuanya itu tidak hanya dilakukan oleh satu orang. Kau bukan orang yang dapat melepaskan diri dari tangan Sri Rajasa, dan bukan yang telah mengalahkan aku dahulu. Seorang dari orang-orang macam kalian hampir saja aku bunuh waktu itu. Dan kau-pun aku bunuh sekarang. Apalagi kalau aku bersuit dan para peronda akan berdatangan.”
Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Namun di dalam pembicaraan itu ia sudah dapat menarik kesimpulan, bahwa dugaannya dan juga dugaan Mahisa Agni itu benar. Pasti orang inilah yang telah berkhianat terhadap Putera Mahkota. Namun dengan demikian Sumekar juga mempunyai dugaan, bahwa Sri Rajasa tidak dengan sungguh-sungguh berusaha mencari pengkhianat dan menghukumnya. Ternyata bahwa para pengawal itu-pun dengan tanpa pengusutan apa-pun juga telah dibebaskan, dan tidak ada seorang-pun yang kemudian dipanggil oleh Sri Rajasa atau orang yang diperintahkan untuk mengusut persoalan itu.
Karena Sumekar memang hanya ingin mendapat kesimpulan itu, maka ia tidak akan berbuat lebih jauh lagi. Yang ingin dilakukan adalah memberi peringatan kepada penasehat itu, bahwa setiap saat ada orang yang dapat membayangi tindakan-akannya yang sisip itu.
“Ki Sanak,” berkata Sumekar kemudian, “kau adalah seorang Penasehat Sri Rajasa. Kau sudah mendapat kedudukan baik. Tetapi kenapa kau hanya mempergunakan Kiai Kisi untuk tujuan yang penting itu? Seharusnya kau melihat aku. Memberi aku kesempatan atau aku akan membuka rahasiamu.”
“Persetan.” geram penasehat Sri Rajasa itu, “ternyata aku memang harus membunuhmu.”
“Tidak mudah untuk berbuat demikian meskipun mengatakannya terlampau ringan.”
“Aku akan membuktikannya.”
“O, jadi kau tidak setuju untuk bekerja bersama, bahkan kau ingin bertempur?”
“Aku hanya ingin membunuhmu.”
Sumekar tertawa. Jawabnya, “Marilah, kita akan berkelahi.”
Penasehat Sri Rajasa itu maju selangkah. Tiba-tiba saja ia telah meloncat menyerang dengan garangnya. Namun Sumekar berhasil mengelak dan berkata, “Apakah kau tidak memanggil para prajurit untuk menangkap aku?”
Penasehat Sri Rajasa itu benar-benar merasa tersinggung. Karena itu maka jawabnya, “Kau sangka aku sendiri tidak dapat menangkapmu?”
“Tentu tidak. Sri Rajasa-pun tidak dapat. Apalagi kau.”
“Persetan. Aku yakin bahwa bukan kaulah yang berhasil meloloskan diri dari tangan Sri Rajasa itu. Ia tidak akan memerlukan keterangan tentang waktu, kapan Putera Mahkota akan keluar dari istana dengan sepasukan kecil prajurit seperti yang baru saja terjadi. Orang itu pasti akan langsung mengambil Putera Mahkota dari halaman istana.”
Tetapi Sumakar tertawa. Katanya, “Baiklah. Kau menolak kerja sama itu. Sekarang kau mau menangkap aku. Barangkali itu memang lebih baik. supaya aku dapat berceritera panjang lebar tentang Kiai Kisi dan usahanya. He, aku belum mengatakan. Sebelum Kiai Kisi meninggal ia memberitahukan kepadaku, siapa yang telah menghubunginya. Kau masih ingkar.”
“Persetan. Persetan. Setiap orang dapat mengarang ceritera demikian. Sekarang aku akan membunuhmu, supaya kau berhenti mengigau.”
Sekali lagi Sumekar tertawa. Tetapi ia tidak lengah sama sekali, karena penasehat Sri Rajasa itu benar-benar telah bersiap untuk menerkamnya.
Dan dugaan Sumekar itu benar-benar terjadi. Tiba-tiba saja penasehat Sri Rajasa itu benar-benar menyerangnya. Sebuah sambaran jari-jarinya yang mengembang hampir saja menyobek pelipisnya. Untunglah bahwa Sumekar cepat memiringkan kepalanya, sehingga jari-jari itu meluncur senyari dari wajahnya.
Sambil meloncat mundur Sumekar berkata, “Serangan Kiai Kisi tepat seperti tata gerak ini.”
“Omong kosong.”
“Jangan menyangkal. Aku mengenal caramu bertempur sebaik-baiknya.”
Penasehat Sri Rajasa itu tidak menyahut. Tetapi ia mengulangi serangannya lebih garang lagi.
Sumekar sekali lagi surut selangkah. Namun tiba-tiba ia menyerang lawannya. Bahkan ia berhasil menirukan beberapa unsur tata gerak yang kasar itu. Sejak ia berada dipadepokan Empu Sada ia sudah mulai mempelajari tata gerak yang agak kasar dari gurunya. Dengan sedikit memaksa diri, ia benar-benar berhasil bertempur dengan kasar dan bahkan hampir tidak ada bedanya dengan lawannya.
Tata gerak itu benar-benar telah mengherankan penasehat Sri Rajasa. Bagaimana mungkin orang itu mampu menirukan beberapa unsur tata geraknya.
“Ia pernah berkelahi dengan Kiai Kisi,” katanya di dalam hati, “ia mencoba menirukan tata geraknya.”
Sedang Sumekar-pun kemudian berkata, “Kau masih akan ingkar melihat tata gerak ini? Aku mempelajari dari Kiai Kisi. Dan kau tidak akan dapat mengelakkan kenyataan bahwa tata gerak ini mirip sekali dengan tata gerakmu sekarang.”
Penasehat Sri Rajasa itu sama sekali tidak menyahut. Tetapi ia menyerang Sumekar semakin garang. Tangannya terayun-ayun mengerikan dengan jari yang mengembang dan seperti kuku burung garuda yang menyambar-nyambar, ia mencoba menerkam leher lawannya.
Sumekar menjadi berdebar-debar melihat tata gerak itu. Semakin lama menjadi semakin kasar. Jauh lebih kasar dari ilmu yang pernah dipelajarinya dari Empu Sada.
Dalam pada itu, dipaseban dalam, Sri Rajasa duduk dihadap oleh Mahisa Agni dan beberapa orang pemimpin yang lain. Mereka masih sibuk membicarakan masa-masa peralatan yang ramai di istana. Bahkan di luar istana-pun diadakan berbagai macam keramaian untuk menyambut perkawinan Mahisa Wonga Teleng.
Dalam kesibukan itu, Sri Rajasa selalu duduk bersama dengan beberapa orang pemimpin pemerintahan sambil mengikuti laporan bagaimana sambutan rakyat Singasari terhadap perkawinan ini. Bagaimana tanggapan rakyat atas Mahisa Wonga Teleng.
“Jika Anusapati tersisih, apakah rakyat Singasari akan menerima Tohjaya atau Mahisa Wonga Teleng?” pertanyaan itulah yang kadang-kadang mengganggu Sri Rajasa.
Namun Sri Rajasa sendiri menganggap, bahwa Tohjaya akan berhasil menguasai seluruh minat rakyat Singasari apabila Putera Mahkota kelak memang sudah dapat disingkirkannya.
Tetapi saat itu Sri Rajasa masih menunggu seorang penasehatnya yang masih belum hadir. Biasanya ia tidak pernah datang kemudian. Kadang-kadang ia datang mendahului kawan-kawannya. Apalagi setelah ia mendapat peringatan keras dari Sri Rajasa, bahwa rencananya itu dapat merusakkan rencana yang lebih besar, bahkan akan dapat mengorbankan Singasari yang selama ini diperjuangkannya untuk menjadi suatu negara yang besar, yang dapat mengikat kesatuan dari pecahan-pecahan daerah yang terjadi selama kekuasaan Kediri sudah dipengaruhi oleh nafsu kebesaran diri sendiri. Kebesaran pribadi Sri Kertajaya. Sementara itu, penasehat Sri Rajasa itu masih bertempur mati-matian. Dengan sekuat tenaga ia berusaha menguasai lawannya yang menurut pertimbangannya tidak terlampau berat. Orang berkerudung itu selalu terdesak, sehingga ia harus berkelahi melingkar.
“Kau tidak akan dapat lari,” berkata pesehat itu.
“Kalau kau tangkap aku, aku dapat berceritera tentang Kiai Kisi,” jawab Sumekar.
“Persetan. Aku tidak akan menangkapmu, tetapi membunuhmu.”
Sumekar tidak menjawab. Tetapi ia selalu berloncatan surut. Serangan penasehat Sri Rajasa itu datang bagaikan air bah yang mengalir menghantam dinding padas.
“Ternyata kemampuanmu tidak seimbang dengan kesombonganmu. Aku tidak mengerti, kenapa dengan caramu ini kau berhasil membunuh Kiai Kisi.”
Sumekar tidak menyahut. Tetapi ia terdesak semakin jauh.
Penasehat Sri Rajasa itu-pun menjadi semakin bernafsu. Ia bertempur semakin garang, sehingga setiap kali Sumekar dikenai oleh serangannya, terdorong dan terbanting jatuh.
Tetapi ia masih sempat meloncat berdiri dan melawan sekuat-kuat tenaga.
Namun ternyata bahwa orang berkerudung hitam itu tidak berhasil mengimbangi kemampuan lawannya. Betapa-pun ia berjuang, namun setiap kali ia selalu terdesak dan bahkan jatuh berguling-guling di tanah.
Dalam pada itu Sri Rajasa dipaseban dalam masih tetap mengharap kedatangan penasehatnya. meskipun di dalam beberapa hal Sri Rajasa telah berbicara dengan para pembantunya yang sudah hadir. Meskipun pembicaraan itu sama sekali bukan pembicaraan yang penting. Pembicaraan yang hanya sekedar berkisar pada upacara-upacara peralatan yang sedang terjadi.
Meskipun demikian, pembicaraan itu kadang-kadang juga merambat ke persoalan-persoalan yang lain. Bahkan mereka sampai juga pada usaha mengikat persatuan Singasari lebih erat lagi, sesuai dengan perkawinan yang terjadi. Kediri sepeninggal Sri Kertajaya harus merasa satu dengan Singasari, bukan sekedar daerah yang telah dikalahkan.
“Hamba telah berhasil meskipun perlahan-lahan,” berkata Mahisa Agni, “bahwa pada suatu saat keturunan Kertajaya akan menjadi satu dengan keturunan Sri Rajasa di dalam membina kesejahteraan negeri ini.”
Sri Rajasa mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun setiap kali ia-pun selalu memandang ke pintu yang tertutup.
“Kenapa ia tidak hadir saat ini,” bertanya Sri Rajasa di dalam hatinya sendiri. Tetapi pertanyaan itu tidak diucapkannya.
Bukan saja Sri Rajasa yang gelisah, karena penasehatnya yang biasanya di dalam setiap pertemuan pasti datang lebih dahulu, selain karena ia tinggal di istana, juga karena ia selalu diajak berbicara mengenai apapun, namun juga Manisa Agni menjadi berdebar-debar. Ia sadar, bahwa pasti saat inilah Sumekar melakukan rencananya.
Dengan demikian maka Mahisa Agni membayangkan, bahwa saat itu memang sedang terjadi pertempuran yang pasti merupakan pertempuran yang sengit antara Sumekar dengan penasehat Sri Rajasa, karena penasehat Sri Rajasa yang sekaligus guru Tohjaya itu-pun memiliki ilmu yang cukup tangguh.
Demikianlah agaknya yang telah terjadi. Sumekar harus bertempur mati-matian untuk mempertahankan dirinya. Sementara lawannya telah mendesaknya tanpa ampun lagi. Serangan-serangan datang beruntun seperti angin ribut, sehingga seakan-akan Sumekar sama sekali tidak sempat menarik nafas.
Malam-pun semakin lama menjadi semakin dalam. Para peronda telah mulai lewat mengintai halaman istana. Tetapi perkelahian yang terjadi itu adalah perkelahian di antara orang berilmu sehingga tidak banyak menumbuhkan keributan. Apalagi mereka semakin jauh terperosok kedalam rimbunnya dedaunan di halaman yang agak sepi.
“Nah, apakah kau sekarang masih mampu membanggakan dirimu?” bertanya penasehat Sri Rajasa.
Sumekar tidak menjawab. Tetapi ia terdesak terus.
“Apakah aku masih percaya kepadamu, bahwa kau akan dapat menggantikan kedudukan Kiai Kisi?”
“Tetapi aku sudah membunuhnya.”
“Aku tidak percaya. Pasti orang lain yang melakukannya. Kau hanya sekedar mendengar berita tentang kematian Kiai Kisi. Kemudian kau ingin menarik keuntungan dari peristiwa itu.”
“Akulah yang lelah membunuhnya dengan tanganku.”
“Omong kosong.”
Sumekar tidak menjawab lagi. Tetapi ia kini terdorong semakin jauh. Namun demikian, ia berusaha untuk tetap berada di dalam kegelapan, sehingga tidak segera dapat diketahui oleh para peronda.
Karena penasehat Sri Rajasa masih juga belum datang, selain Sri Rajasa, Mahisa Agni-pun menjadi semakin gelisah. Seharusnya Sumekar tidak menimbulkan kematian di dalam halaman istana. Jika demikian, maka keadaan akan menjadi berubah sama sekali. Peralatan perkawinan yang berlangsung untuk beberapa hari akan menjadi kacau. Namun selain daripada itu. Sri Rajasa pasti akan segera mengambil tindakan-akan yang lebih mantap lagi, karena ia merasa bahwa rahasia penasehatnya itu sudah diketahui orang. Demikian juga pasti dengan Tohjaya yang dengan diam-diam ditempa oleh penasehatnya itu di dalam olah kanuragan. Dengan demikian maka setiap orang pasti akan dicurigainya. Termasuk Anusapati dan Sumekar sendiri, langsung atau tidak langsung. Karena saat itu ia berada bersama Sri Rajasa, maka ia akan dapat membebaskan dirinya dari segala tuduhan, namun seisi istana pasti akan menjadi kalang kabut.
Tetapi ternyata Sumekar sendiri tidak dapat segera mengatasi keadaan. Bahkan semakin lama semakin jelas bagi lawannya, bahwa ia akan berhasil membunuh orang berkerudung itu.
“Aku akan dengan bangga mempersembahkan kepalamu kepada Sri Rajasa,” berkata penasehat itu, “kalau benar Sri Rajasa pernah gagal menangkapmu, maka sekarang akulah yang berhasil. Kalau selama ini Sri Rajasa selalu bertanya-tanya siapakah orang berkerudung hitam itu, maka jawabnya akan segera aku dapatkan.”
“Tidak semudah itu,” sahut Sumekar.
Penasehat Sri Rajasa tertawa. Namun dengan tiba-tiba saja ia menyerang dada orang berkerudung hitam itu dengan kakinya.
Sumekar masih berusaha menangkis serangan itu, tetapi agaknya serangan itu terlampau dahsyat, sehingga Sumekar terpelanting jatuh di tanah. Dengan nafas terengah-engah Sumekar berusaha berdiri. Namun ia-pun sekali lagi terjatuh dengan lemahnya bersandar pada keduabelah tangannya. Penasehat Sri Rajasa itu kini berdiri bertolak pinggang dihadapan orang berkerudung hitam yang kini terduduk dengan lemahnya, seolah-olah tidak mungkin untuk bangun lagi.
Sambil tertawa penasehat Sri Rajasa itu berkata, “Nah, sekarang baru kau kenal, siapa aku. Mungkin kau pernah lolos dari tanganku ketika kau datang bertiga. Tetapi mungkin yang datang waktu itu juga bukan kau sendiri, sehingga aku tidak dapat mengalahkannya. Tetapi kini, kau tidak berdaya lagi melawan aku. Sebentar lagi nyawamu akan melayang.”
“Jangan. Jangan kau bunuh aku.”
“He, kau merengek seperti anak-anak. Dengar. Aku tidak pernah menghidupi lawan-lawanku. Apalagi kau telah membunuh saudaraku. Meskipun tidak seperguruan, tetapi kami menghisap ilmu dari sumber yang sama. Gurunya adalah saudara seperguruan dengan guruku.”
“Siapa? Aku tidak membunuh siapapun.”
“Kiai Kisi.”
“O,” orang berkerudung hitam itu beringsut surut, “tetapi aku tidak tahu, bahwa ia orang yang telah mendapat tugas darimu.”
“Sebentar lagi kau akan mati. Biarlah aku berterus terang. Memang akulah yang menyuruhnya menangkap Putera Mahkota. Tetapi kau sudah merusak semua rencanaku. Bahkan kau sudah membunuhnya. Karena itu, kau akan mati.”
“Jangan kau bunuh aku. Aku berjanji tidak akan mengatakannya kepada siapa-pun juga.”
“Aku bukan orang yang dungu. Sebelum aku membunuhmu, aku ingin tahu, siapakah sebenarnya kau. Dan siapakah kawan-kawanmu itu. Siapa pula orangnya yang telah berhasil lolos dari tangan Sri Rajasa, karena orang itu pasti bukan kau.”
“Aku tidak tahu. Aku bergerak seorang diri.” minta orang berkerudung hitam itu, “aku jangan kau bunuh. Aku akan bersedia melakukan tugas apa-pun juga. Misalnya membunuh Putera Mahkota.”
“Kau tidak akan dapat dipercaya. Kau tidak akan dapat melakukannya, sedangkan kiai Kisi-pun tidak berhasil melakukannya dengan sempurna.” penasehat itu berhenti sejenak. Lalu, “tetapi aneh sekali bahwa kau dapat membunuh Kiai Kisi dan menangkap kedua kawan-kawannya itu. Ternyata kemampuanmu sama sekali tidak berarti bagiku.”
“Aku minta ampun.”
“Tidak ada ampun. Kau akan aku bunuh, dan kepalamu akan aku bawa menghadap Sri Rajasa. Aku akan dianggapnya berjasa. Dan kepalamu itu tentu tidak akan dapat berceritera lagi.”
“Tetapi juga tidak tentang kawan-kawanku. Kalau aku kau hidupi aku akan menyatakannya siapa saja kawan-kawanku yang lain.”
Penasehat Sri Rajasa itu termenung sejenak. Lalu, “Tentu tidak mungkin. Tetapi aku memang ingin mendengar siapakah kawan-kawanmu itu.”
“Aku tidak akan mengatakannya. Tanpa harapan lain kecuali mati, buat apa aku mengatakannya.”
“Ada bermacam-macam cara untuk mati. Kalau kau mau mengatakan siapa saja kawan-kawanmu, maka kau akan mati dengan cara yang paling kau sukai. Tetapi kalau tidak?”
Orang berkerudung hitam itu tidak menjawab.
“Sekarang, buka sajalah kerudungmu. Aku kira tidak ada gunanya lagi.”
Sumekar beringsut sedikit. Tetapi penasehat Sri Rajasa itu tertawa, “Apakah kau akan lari. Ayo, kalau kau masih mampu bangkit, bangkitlah.”
“Aku tidak mau membuka kerudungku, dan aku tidak mau menyebut nama kawan-kawanku tanpa jaminan bahwa aku akan tetap hidup.”
“Tidak ada yang akan menjamin bahwa kau akan tetap hidup. Baiklah kalau kau tidak mau mengatakan siapa kau sebenarnya dan siapa kawan-kawanmu, aku akan berbuat sesuka hatiku. Aku akan mematahkan tanganmu lalu kakimu. Kalau kau masih diam saja, aku biarkan saja kau mati perlahan-lahan. Baru esok pagi aku akan mengambil kepalamu.”
“Itu kejam sekali.”
“Aku memang kejam. Aku sekejam Kiai Kisi dan sekasar perampok-perampok di padukuhan terpencil itu. Tetapi kalau kau berbuat baik, aku-pun dapat berbuat baik. Membunuhmu dengan sekali tikam di dada. Aku membawanya sebilah keris atau kalau kau ingin, dengan kerismu sendiri-pun jadilah.”
Orang berkerudung hitam itu tidak menyahut.
“Cepat. Pilihlah. Aku harus segera menghadap Sri Rajasa. Tetapi meskipun aku terlambat, asal aku membawa kepalamu, Sri Rajasa pasti tidak akan marah. Seluruh paseban akan berterima kasih, termasuk Mahisa Agni yang dungu itu. Ia adalah satu-satunya orang yang pantas dicurigai. Ia tentu akan berpihak kepada Putera Mahkota apabila terjadi sesuatu. Tetapi semua orang di Singasari akan berpihak kepada Tohjaya.”
“Jangan bunuh aku.”
“Persetan. Aku akan mematahkan tanganmu.”
Penasehat Sri Rajasa itu maju setapak demi setapak. Matanya bagaikan menyala. Dan tiba-tiba suaranya menjadi seperti getaran suara hantu di dalam kubur, “Sebut namamu dan nama kawan-kawanmu.”
Orang berkerudung hitam itu beringsut surut. Tetapi ia masih terduduk di atas tanah.
“Cepat.”
Sekali lagi orang itu beringsut.
“Kau menjadi ketakutan. Tetapi kau tidak mau menyebut namamu. Atau kau memang ingin lari? Kalau kau mampu larilah.”
Tiba-tiba saja penasehat Sri Rajasa itu terkejut, ketika ia melihat orang berkerudung hitam itu kemudian berdiri dengan tenangnya. Sambil mengibaskan pakaiannya ia bergumam, “Ah, tanah di istana Singasari ini telah mengotori pakaianku. Seharusnya aku tetap berdiri sejak tadi.”
Sejenak penasehat Sri Rajasa itu termangu-mangu. Ditatapnya saja orang yang berkerudung hitam yang kini tiba-tiba berdiri sambil membersihkan debu yang melekat.
“Kenapa kau tiba-tiba menjadi seperti patung?” orang berkerudung itu bertanya.
“Persetan. Apakah kau sedang kepanjingan iblis sehingga kau mampu bangkit berdiri lagi.”
“Aku kira tidak,” sahut Sumekar, “aku memang tidak apa-apa.”
“Kau hampir mati.”
Tetapi kini orang berkerudung hitam itulah yang tertawa, “Mudah-mudahan tidak. Aku tidak hampir mati.”
“Gila,” penasehat Sri Rajasa itu menggeram. Kini ia baru sadar, bahwa orang berkerudung hitam itu telah menjebaknya. Dengan berpura-pura tidak berdaya lagi ia telah berhasil menyadap keterangan dan pengakuan yang diperlukan, bahwa sebenarnyalah ia telah bersepakat dengan Kiai Kisi untuk membunuh atau menangkap Putera Mahkota yang akan dipergunakannya untuk memeras Sri Rajasa lewat Permaisuri.
Oleh kesadarannya itu maka tiba-tiba giginya gemeretak karena kemarahan yang serasa meledakkan dadanya. Ia sudah terlanjur mengatakan, bahwa ia telah melakukan pengkhianatan itu, karena ia yakin akan dapat membunuh orang berkerudung hitam itu. Namun tiba-tiba orang berkerudung hitam itu bangkit dan seperti tidak terjadi apa-apa ia berdiri tegak menghadapinya.
“Terima kasih,” berkata Sumekar, “kau sudah berterus terang. Aku memang hanya memerlukan pengakuan itu. Nah, sekarang apakah kau tetap menolak untuk bekerja bersama?”
“Persetan. Aku akan membunuhmu.”
Tetapi orang berkerudung hitam itu tertawa. Katanya, “Kita sudah cukup lama bertempur. Kita sudah mengetahui kemampuan kita masing-masing. Apakah masih perlu kita bertempur lagi?”
Penasehat Sri Rajasa yang telah dibakar oleh kemarahan itu tidak dapat menahan diri lagi. Dengan serta-merta ia menyerang lawannya sejadi-jadinya.
Tetapi keadaan perkelahian itu kini sudah berubah sama sekali. Lawannya tidak lagi terbanting jatuh dan bergulingan di tanah. Orang berkerudung hitam itu kini melawannya sambil tertawa. Katanya di sela-sela suara tertawanya, “Jangan menjadi gila karenanya.”
Penasehat Sri Rajasa itu seolah-olah tidak mendengar lagi. Ia bertempur semakin kasar dan liar. Tandangnya seperti kehilangan arah dan pegangan. Tangannya terayun-ayun dengan jari-jarinya yang mengembang. Tetapi ia sama sekali tidak dapat menyentuh lawannya sama sekali.
“He, kau telah menjadi gila.”
“Persetan,” penasehat Sri Rajasa itu menjadi seperti orang gila.
Tetapi lawannya rasa-rasanya menjadi semakin lincah. Bagaimana-pun juga ia berusaha, tetapi ia sama sekali tidak berhasil mengenainya.
Ketika akalnya menjadi semakin buram, maka tiba-tiba tangannya telah menarik kerisnya. Dengan suara bergetar ia berkata, “Aku akan membunuhmu, membunuhmu dengan cara yang paling parah bagimu.”
“Kau masih bermimpi,” sahut Sumekar. “aku tidak akan berpura-pura lagi. Aku tidak akan mengotori pakaianku lagi dengan berguling-guling di atas debu.”
Penasehat Sri Rajasa itu tidak menghiraukannya. Kini kerisnyalah yang menyambar-nyambar. Tetapi karena hatinya yang gelap dan lawannya yang terlampau lincah, maka ia tidak berhasil mengenainya.
“Nah,” berkata orang berkerudung hitam itu, “aku sudah mengetahui rahasiamu. Apakah kau masih menolak kerja sama dengan aku? Semula aku hanya mendengarnya dari Kiai Kisi. Tetapi aku meragukan kebenarannya. Ternyata kau mengiakannya tanpa sadar, atau justru karena kau terlampau sadar, bahwa kau akan berhasil membunuhku.”
“Persetan.”
“Berteriaklah. Jika para prajurit itu mendengar dan datang mengepung aku, maka aku akan berbicara dengan mereka. Aku akan mengatakan bahwa kau telah berkhianat dan berusaha membunuh Putera Mahkota.”
“Mereka tidak akan percaya.”
“Semua orang mengetahui, bahwa pengkhianat itu berada di dalam istana ini, ternyata ia berhasil membunuh kedua tawanan itu. Dan pengkhianat itu adalah kau.”
“Tidak ada yang akan mempercayaimu. Sri Rajasa juga tidak.”
Sumekar tertawa. Katanya, “jika memang demikian, aku tidak memerlukan kepercayaan itu. Tetapi bagaimana dengan tawaranku itu? Apakah kita akan bekerja bersama?”
Serangan Penasehat Sri Rajasa itu menjadi semakin mata gelap. Serangannya sama sekali tidak terarah lagi. Tetapi seperti pesan Mahisa Agni, Sumekar memang tidak ingin menimbulkan kematian. Ia hanya sekedar meyakinkan, siapakah sebenarnya pengkhianat didalam istana ini. Dan ia sudah menemukannya. Mahisa Agnilah kelak yang akan mengolah, apakah yang sebaiknya dilakukan untuk menyelamatkan Putera Mahkota.
Karena itu, maka Sumekar seakan-akan hanyalah tinggal bermain-main saja. Ketika serangan membabi buta itu menjadi semakin liar, Sumekar-pun mempergunakan kesempatan itu untuk menunjukkan, bahwa kemampuan Penasehat Sri Rajasa itu-pun belum sempurna sama sekali.
Demikianlah ketika keris orang itu terjulur lurus keperutnya. Sumekar hanya bergeser setapak mundur. Dengan sisi telapak tangannya ia memukul pergelangan tangan lawannya, sehingga kerisnya itu-pun terjatuh beberapa langkah daripadanya.
Penasehat Sri Rajasa itu terkejut bukan buatan. Pukulan tangan orang berkerudung hitam itu serasa telah mematahkan pergelangan tangannya.
Namun ia tidak boleh menyerah. Dengan sigapnya ia meloncat memungut kerisnya. Tapi ia menggeram ketika ternyata kaki orang berkerudung itu telah menginjak hulu kerisnya itu.....
Bersambung....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar