*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 15-02*
Karya. : SH Mintardja
Tapak Lamba mengerutkan keningnya.
“He.” perempuan itu tiba-tiba saja menjadi tegang, “Kenapa orang-orang itu berdiri di sana?”
“Itu menjadi syarat pembicaraanku dengan orang ini. Sahabatku.”
“Gila. Tidak ada orang yang dapat memberikan syarat apapun di sini. Akulah yang paling berkuasa. Ayo, panggil mereka kemari.”
Ki Buyut menjadi bimbang. Tetapi isterinya membentaknya, “Cepat, panggil mereka kemari.”
Dalam ke-ragu-raguan itu ia melihat Tapak Lamba tersenyum sambil berkata, “Jangan memaksa suamimu. Akulah yang minta agar mereka tetap berada di tempatnya.”
“Persetan.” perempan itu berteriak, “Bukan kau yang mengatur. Tetapi aku.”
“Kali ini akulah yang mengatur. Aku bersenjata. Dan senjataku ini dapat aku pergunakan setiap saat. He, apakah suamimu tidak pernah mengatakan sesuatu tentang aku? Aku adalah algojo yang paling disegani di Singasari. Aku dapat memancung kepala seseorang dengan sekali sentuh. Pedangku ini memiliki kekuatan dan ketajaman tujuh kali lipat pedang pada umumnya.”
“Kau bohong.” jawab perempuan itu, “Pedang itu adalah pedang yang kau rampas dari orang-orangku.”
“He.” Tapak Lamba mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia mengangguk sambil berkata, “Ya. Aku lupa. Aku telah merampas pedang anak buahmu yang tidak mau menurut perintahku. Tetapi aku tetap seorang algojo yang menarik. Aku kadang-kadang membunuh korbanku tidak dengan senjata. Tetapi aku gantung terbalik. Aku ikat kakinya dan aku tutup hidung dan mulutnya dengan tanganku sampai ia mati lemas. Bukankah itu menyeyangkan sekali? Tetapi lain kali aku biarkan korban-korbanku mati dengan sebelah tangannya aku ikat pada sebatang pohon. Lucu sekali. Ada yang lima hari baru mati. Ada yang tujuh hari. Tetapi ada yang hanya satu hari. Nah, kau dapat meniru caraku. Membunuh dengan semut tidak menarik lagi bagiku.”
Perempuan itu mengerutkan keningnya. Wajahnya yang bengis nampak menjadi semakin bengis. Namun sekali Iagi dada Tapak Lamba berdesir ketika ia melihat perempuan itu tersenyum. Dengan sepenuh hati ia berusaha untuk tetap menguasai kesadarannya menghadapi perempuan yang menyimpan seribu macam rahasia itu.
“Baiklah.” berkata perempuan itu, “Kau memang seorang algojo yang menarik. Tetapi suamiku tidak pernah mengatakannya sesuatu kepadaku tentang kawan-kawannya. Apalagi seorang algojo dari Singasari. Ia mengatakan, bahwa baru satu kali ia berada di kota raja ketika ia melihat wisuda tuanku Tohjaya. Sesudah itu ia merantau dari satu tempat ketempat yang lain, sehingga akhirnya ia sampai ke rumah ini.”
Tapak Lamba mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Disini sua¬mimu itu kau ajari membunuh setiap orang yang kau kehendaki.”
“Tidak. Aku tidak pernah mengajarinya membunuh. Ia memang seorang pembunuh yang baik.”
“Ya.” desis Tapak Lamba, “Tetapi tidak untuk selalu membunuh setiap saat seperti yang dilakukannya sekarang.”
“Ia memang seorang pembunuh.” teriak perempuan itu, “Bertanyalah kepadanya. Ia sudah membunuh laki-laki yang akan menjadi suamiku. Yang aku cintai dan yang mencintai aku dengan sepenuh hati.”
“He?” mata Tapak Lamba terbelalak, “Jadi?”
“Bukan, bukan begitu.” sahut Ki Buyut.
“Diam.” bentak isterinya, “Aku tahu. Kau tentu akan mengatakan bahwa ayahkulah yang menyuruhmu karena ayahku tidak setuju dengan laki-laki itu. Sebagai upahmu maka kau akan diambilnya menjadi menantunya dan akan menggantikan kedudukannya. Dan janjinya itu dipenuhinya. Kau diambilnya menjadi menantunya, dan selang beberapa pekan, ia kedapatan mati membunuh diri dengan pesan, bahwa kau akan mendapatkan kedudukannya.”
“Itu tidak benar.”
“Benar. Apakah kau akan membantah?”
Tiba-tiba saja Ki Buyut menundukkan kepalanya, sedang isterinya berkata seterusnya, “Tetapi kau harus tetap ingat akan janjimu. Aku mau menjadi isterimu asal kau memenuhi segala permintaanku.”
“Dan permintaanmu yang pertama adalah permintaan yang paling gila. Kau minta aku membunuh ayahmu.”
“Tidak. Bukan aku yang memintanya. Ia membunuh diri.”
Tapak Lamba termangu-mangu sejenak. Tetapi dibiarkannya saja kedua orang suami isteri itu saling mempertahankan kebenarannya masing-masing. Dengan demikian ia bermaksud mengetahui apakah sebenarnya yang telah terjadi di padukuhan itu.
Ki Buyut Kidang Pengasih yang agaknya masih akan mencuci kesalahannya dihadapan kawan lamanya itu berkata, “Kau jangan mengada-ada. Bukankah kau minta aku melepaskan dendammu karena kau menyangka bahwa ayahmulah yang menyuruh membunuh laki-laki yang akan merampas kehormatanmu itu?”
“Bohong. Ia sama sekali tidak akan berbuat demikian. Aku mencintainya dan ia mencintai aku.”
“Jika demikian kau tidak akan melemparkan pisau itu ke arahnya meskipun meleset.”
“Aku tidak pernah melakukannya. Ayahkulah yang melakukannya, ketika aku sedang duduk berdua dengan laki-laki itu. Yang pernah aku lakukan adalah sebaliknya, aku telah melemparkan pisau kepada ayah. Aku akan membunuhnya ketika itu. Ketika ia disusupi iblis.”
Tapak Lamba mengerutkan keningnya. Ia menjadi bingung mendengar percakapan yang tidak berujung pangkal itu. Bahkan yang setiap kalimat rasa-rasanya saling bertentangan.
Tetapi kemudian ia menjadi agak jelas melihat persoalannya ketika ia mendengar perempuan itu berkata diantara sedu sedannya yang tiba-tiba saja meledak, “Ayah itu bukan ayahku sendiri. Dan itulah sumber dari segala kejahatan yang pernah terjadi di padukuhan ini.”
Ki Buyut tidak menyahut lagi. Kepalanya pun kemudian tertunduk lesu.
“Aku telah dihinggapi dendam tiada taranya. Ibuku dibunuh atas perintah ayah tiriku, karena ayah tiriku mempunyai niat-niat buruk terhadapku. Laki-laki yang aku cintai itu pun dibunuhnya pula.” ia berhenti sejenak, lalu, “Dan mulailah aku dengar permainan iblis itu pula. Aku mencari jalan untuk membunuh ayah tiriku. Dan setelah itu iblis itu benar-benar telah merasuk kedalam diriku.”
Tapak Lamba menarik nafas dalam-dalam. Kini ia menjadi semakin jelas apakah yang sebenarnya telah terjadi. Agaknya dipadukuhan ini telah berkobar api dendam yang melingkar-lingkar. Dendam di antara keluarga, dibumbui oleh dendam yang menyala di hati Sunggar Watang. Akibatnya, pedukuhan ini menjadi tempat pembantaian. Sunggar Watang yang diburu oleh ketakutan, bahwa seseorang akan dapat mengenalinya, isterinya yang mendendam kepada setiap laki-laki karena bakal suaminya terbunuh, berbaur menjadi suatu bentuk yang sangat mengerikan sekali.
Dalam kerisauan itu, terdengar Tapak Lamba berkata, “Nah, Ki Buyut. Jika dendam memang masih tetap menyala di dalam hati, marilah kita mencari saluran yang sewajarnya. Aku pun seorang pembunuh yang tidak tanggung-tanggung. Dan kau ternyata benar-benar bertangan dan berhati iblis. Bagaimana jika kita menyebut sekali lagi nama Linggapati.”
Ki Buyut Kidang Pengasih termangu-mangu sejenak. Agaknya ia pun menjadi bingung atas peristiwa-peristiwa yang terjadi di padukuhannya. Yang ia mengerti ialah, perempuan itu minta ia melakukan sesuatu. Dan ia pun telah melakukannya.
“Aku tidak tahu, pesona apakah yang telah membelengguku waktu itu.” ia berkata kepada diri sendiri, “Sehingga aku seolah-olah tidak tahu lagi apa yang pantas aku lakukan, dan yang manakah yang tidak.”
Ki Buyut memandang isterinya sekilas. Isterinya itu masih tetap cantik, meskipun membayang kebengisan iblis di wajahnya.
“Ia waktu itu masih lumpuh seperti sekarang.” berkata Ki Buyut di dalam hatinya. Tetapi peristiwa itu memang tidak lapat dihindari. Lumpuh bagi isterinya bagaikan penyakit keturunan. Ibunya juga lumpuh sebelum tangan-tangan yang jahat membunuhnya. Kemudian beberapa saat setelah itu, isterinya itu pun mennjadi lumpuh pula.
Tetapi setelah isterinya itu perIahan-Iahan menjadi lumpuh, kebengisan dan kekejamannya justru menjadi semakin bertambah-tambah.
Sakit hatinya, ditambah kecewa yang membara oleh cacatnya itu, dibumbui oleh dendam dan kebencian didada suaminya, menjelmalah istana pembantaian yang mengerikan itu.
Tapak Lamba yang liar itu pun merasa ngeri membayangkan apa yang telah pernah terjadi dibagian belakang rumah itu.
“Ki Buyut.” berkata Tapak Lamba kemudian, “Kau belum menjawab pertanyaanku. Daripada kau hidup di bawah bayang-bayang yang gelap, oleh dendam dan sakit hati, bagaimanakah jika kita menghubungkan diri dengan Linggapati? Meskipun dengan demikian masih akan berarti pembunuhan dan pembunuhan, namun hal itu kita lakukan untuk tujuan yang jelas. Berhasil atau tidak berhasil. Kita tidak sekedar membunuh dan menguliti seseorang seperti menguliti seekor kambing. Tetapi kita membunuh dengan cita-cita yang mapan dan jelas.”
“Siapakah Linggapati itu?” bertanya isteri Ki Buyut.
“Seorang yang memiliki pengaruh bukan saja pengaruh, tetapi juga ilmu yang tiada taranya.” jawab Tapak Lamba.
“Ialah yang harus datang kemari.” geram isteri Ki Buyut itu.
“Nyai Buyut.” berkata Tapak Lamba, “Aku tidak akan berani mengatakannya seandainya pada suatu kali akan bertemu lengan Linggapati. Sebenarnyalah Linggapati jauh lebih perkasa dari kita masing-masing. Dan ia memiliki alas perjuangan yang jauh lebih kuat dari sebuah padukuhan seperti ini.”
“Bohong.” Nyai Buyut itu hampir berteriak, “Kau sangka ada orang yang lebih kuat dari Ki Buyut dan pengawalnya. Aku dapat menangkap setiap orang yang aku kehendaki. Juga Linggapati.”
Tapak Lamba menarik nafas dalam-dalam. Agaknya Nyai Buyut itu masih belum mengetahui, betapa lebatnya hutan diluar semak-semak perdu di sekitar padukuhannya.
“Nyai.” berkata Tapak Lamba, “Aku pernah bertemu dengan Linggapati dan adiknya Linggadadi. Aku pernah bertempur melawan Linggadadi. Aku mengetahui betapa tinggi ilmu yang ada padanya sehingga aku tidak dapat mengatakannya apakah aku rangkap lima dapat melawannya.”
“Mungkin kau tidak dapat melawannya meskipun rangkap lima. Tetapi suamiku dan tiga orang pengawalnya itu akan sanggup melawan siapa pun juga.”
“Mungkin. Tetapi Linggapati adalah manusia luar biasa.”
Nyai Buyut memandang Tapak Lamba sejenak. Namun tiba-tiba saja ia tersenyum sambil berdesis, “Wajahmu memang menarik sekali Ki Sanak. Kau mempunyai tahi lalat dipelipis. Kumismu adalah kumis yang jarang terdapat meskipun hanya tipi sekali. Sepasang matamu menunjukkan sifat-sifatmu yang keras, tetapi licik. He, wajahmu pantas sekali diabadikan.”
Tapak Lamba mengerutkan keningnya. Namun kemudiai ia pun tersenyum, “Suamimu tadi juga sudah mengatakan, bahwa mungkin kau akan tertarik sekali kepada wajahku. Wajah yang mungkin ingin kau ambil begitu saja dan kau simpan sebagai hiasan dinding rumahmu bersama-sama beberapa buah topeng kayu. Bukankah begitu?”
Nyai Buyut memandang Tapak Lamba dengan tajamnya. Orang ini memang aneh. Ia sama sekali tidak menjadi ketakutan dan ngeri. Bahkan ia masih dapat tersenyum sambil berkat, “Nyai Buyut. Aku mengerti bahwa kau dan suamimu sudah dihinggapi penyakit semacam penyakit gila. Aku tahu bahwa kadang-kadang kau berbicara dan bersikap dengan sadar, namun kadang-kadang tidak. Tetapi cobalah kau mengenang peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi atasmu dan suamimu. Maka kau sendiri akan tahu dengan pasti, bahwa kalian berdua telah dihinggapi penyakit jiwa yang parah.”
“Cukup.” bentak Nyai Buyut. Bahkan kemudian ia tertawa, “Menarik sekali. Aku mau menyimpan wajah itu dengan kepalanya sama sekali. Aku akan membuat reramuan obat yang dapat mengawetkan kepalamu.”
Nyai Buyut justru terkejut ketika ia melihat Tapak Lamba justru tertawa terbahak-bahak. Katanya, “Jangan salah sikap. Aku pun sering memotong kepala orang lain dan menyimpannya. Tetapi biasanya aku rendam pada semacam cairan yang asam-asam. Dan aku pun ingin menyimpan kepala seorang perempuan sakit ingatan seperti kau.”
Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja Ki Buyut Kidang Pengasih itu pun berteriak keras-keras. “Cukup. Sudah cukup. Permainan ini dapat membuat aku gila.”
Bentakan itu memang mengejutkan. Dan karena itulah agaknya ada semacam kejutan yang menghentak di kepala Nyai Buyut itu. Dan kejutan itu ternyata telah merubah sikapnya pula dengan tiba-tiba.
Perlahan-lahan Nyai Buyut itu menyadari keadaan dirinya. Dan karena itulah maka setitik air mata telah mengembun di matanya.
“Kita semuanya telah menjadi gila.” berkata Ki Buyut, “Marilah kita hentikan kegilaan ini. Marilah kita berpikir seperti seorang yang waras.”
Tapak Lamba mengerutkan keningnya. Katanya di dalam hati, “Mudah-mudahan keduanya tersadar dari mimpi gila yang mengerikan itu.”
Dengan hati yang berdebar-debar Tapak Lamba melihat Nyai Buyut itu pun kemudian menangis. Seolah-olah ia dihadapkan pada sebuah gambaran masa lalu yang sangat pahit dan menyedihkan.
“Tidak, tidak.” desisnya disela-sela tangisnya, “Aku tidak mau melihat itu lagi.”
Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam. Diusapnya bahu isterinya sambil berkata, “Sudahlah Nyai. Marilah kita hentikan semuanya itu. Meskipun aku tidak akan berhenti sebagai pembunuh, tetapi sebaiknya kita pikirkan pendapat tamu kita kali ini. Meskipun kita masih akan tetap membunuh, sebaiknya pembunuhan itu lebih terarah dan berencana. Apakah kau dapat mengerti?”
Nyai Demang mengusap matanya. Sambil mengangguk ia berkata, “Aku mengerti kakang.”
“Nah, dengan demikian, maka kita mempunyai masa depan yang lebih baik dari sekarang. Kita tidak hanya akan menunggui kuburan raksasa ini dan memaksa diri mencari kepuasan dengan cara yang paling gila, tetapi mungkin pada suatu saat kita benar-benar menemukan suatu kesempatan yang baik.
”
Nyai Buyut mengangguk pula.
“Tegasnya, kita akan bersama-sama dengan Ki Linggapati memberontak. Bukankah begitu?”
“Begitulah.” jawab Tapak Lamba.
“Kita akan melawan kekuasaan Ranggawuni dan Mahisa Cempaka meskipun kita tidak akan dapat menghidupkan tuanku Tohjaya lagi.”
“Kita tidak usah terikat kepada seseorang. Tetapi yang penting, arah dendam kita dan kesempatan bagi kita sendiri.”
Ki Buyut mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Baiklah Ki Sanak. E, siapakah namamu?”
Sebelum Tapak Lamba menjawab, isterinya menjadi heran dan bertanya, “Bukankah seharusnya kau sudah mengenal namanya?”
Ki Buyut termangu-mangu. Tetapi ia pun tak mau menyebut na¬ma kawannya itu, seperi juga kawannya tidak mau menyebut namanya.
“Panggil aku Tapak Lamba.” sahut Tapak Lamba.
“Ya, Tapak Lamba. Aku ingat sekarang.” gumam Ki Buyut meskipun ia tahu betul bahwa nama itu pun bukan nama yang pernah dikenalnya dahulu.
“Sekarang.” berkata Ki Buyut pula, “Marilah kita mulai dengan jalan kehidupan yang baru. Aku akan berusaha untuk mengarahkan cara hidup rakyat padukuhan ini sesuai dengan rencana kita.”
“Bagaimana dengan pengawal-pengawalmu yang kebingungan itu?” bertanya Tapak Lamba.
Ki Buyut yang menyebut dirinya bernama Kidang Pengasih itu pun berkata, “Biarlah aku memanggilnya dan berbicara dengan mereka. Jika aku berhasil mempengaruhi mereka, maka yang lain tentu akan tunduk dan mengikut saja.”
“Lalu bagaimana dengan orang-orangku?” bertanya Tapak Hamba.
“Sebaiknya, biarlah mereka mengamati suasana.”
“Aku tidak mengerti.” sahut Tapak Lamba, “Aku akan memanggil orang-orangmu dan tetap menjauhkan aku dari orang-orang ku yang berdiri dimuka gerbang itu.”
Ki Buyut termangu-mangu. Lalu katanya, “Nyai. Marilah kita berpikir waras. Bagaimana dengan ketiga orang-orangmu itu? Apakah ia akan dapat mengerti jika kita berubah pikiran? Mereka sudah terlalu lama hidup dan berbuat gila seperti yang kita lakukan.”
Nyai Buyut menundukkan kepalanya. Katanya, “Aku tidak mengerti. Aku tidak yakin, seperti aku tidak yakin akan diriku sendiri.”
“Kau harus yakin, seperti aku yakin akan diriku. Aku harus meletakkan harapan bagi masa depanku. Dan mereka pun dapat menumpang pada tujuan ini.”
“Kau dapat mencobanya.” berkata Nyai Demang itu. “Tetapi jika gagal, dan menganggap kita kehilangan kiblat, maka aku tidak tahu apa yang harus kita lakukan.”
“Bagaimanapun juga mereka masih tetap mempunyai akal budi. Aku akan mencobanya. Mudah-mudahan kegilaan kita semuanya masih ada batasnya.”
Nyai Buyut tidak menjawab. Dengan tatapan yang sayu ia memandang kearah ketiga orang pengawalnya yang melekat dinding, sedang yang lain bertebaran dipinggir halaman.
“Panggillah mereka.” berkata Nyai Buyut kemudian.
“Aku akan menyingkir.” berkata Tapak Lamba.
“Kau masih tetap bercuriga.”
“Ya. Aku lebih tidak yakin lagi, apakah yang akan dapat terjadi kemudian.”
“Terserahlah.” berkata Ki Buyut, “Pergilah kepada orang-orangmu. Aku akan memanggil orang-orangku.”
“Aku akan berada di halaman.” berkata Tapak Lamba.
Ki Buyut tidak menghiraukannya lagi. Ia pun kemudian berdiri dan sebuah suitan yang nyaring terdengar menggelepar di halaman rumah itu.
Beberapa orang yang berada di halaman itu pun tiba-tiba bergerak serentak mengepung pendapa dengan senjata masing-masing. Tiga orang pengawal terdekat Ki Buyut pun segera naik. Bahkan mereka langsung bersiap menghadap kepada Tapak Lamba yang sudah bersiap untuk melangkah turun.
Tapak Lamba terkejut melihat sikap mereka. Hampir saja ia bertindak dan memanggil kawan-kawan mereka. Untunglah bahwa ia belum terlanjur, karena Ki Buyut pun kemudian berteriak, “Kemarilah. Aku akan berbicara dengan kalian.”
Orang-orang itu termangu-mangu sejenak. Mereka saling berpanda¬ngan dengan terheran-heran.
“Kemarilah.” Ki Buyut mengulangi, “Biarkan orang itu turun kehalaman dan menemui kawan-kawannya.”
Para pengawal Ki Buyut tidak segera menyadari apa yang sebenarnya terjadi. Apalagi ketika mereka memandang Ki Buyut dan Nyai Buyut yang duduk dengan kepala tunduk di pendapa itu.
“Kemarilah.” sekali lagi Ki Buyut memanggil.
Dengan ragu-ragu orang-orang itu pun bergeser mendekatinya. Namun sekali-sekali mereka masih berpaling dan memandang kepada Tapak Lamba yang berjalan turun kehalaman dan langsung mendekati kawan-kawannya.
“Apakah benar ia tidak akan berbuat apa-apa?” bertanya salah seorang kawannya tidak sabar.
“Agaknya demikian.” berkata Tapak Lamba.
“Aku sudah tidak sabar.” berkata kawannya yang lain, “Dan sekarang pun sebenarnya aku masih tetap curiga. Karena itu, bagaimana jika kita pergi saja?”
“Jangan. Agaknya ia sudah hampir terbangun dari mimpinya. Jika kita pergi, maka ia akan kembali ke dalam mimpi buruknya.”
Dengan singkat Tapak Lamba menceriterakan tanggapannya atas Sunggar Watang yang kemudian menyebut dirinya benama Kidang Pengasih itu.
“Mereka benar-benar menjadi gila.” berkata kawannya, “Mungkin hari ini mereka menjadi waras. Tetapi besok mereka akan dapat kambuh lagi dan berbuat diluar pengamatan nalarnya.”
Kawan-kawannya termangu-mangu sejenak. Dilihatnya para pengawal yang berada dipendapa mengelilingi Ki Buyut dan isterinya. Anak muda yang mengajak tapak Lamba datang ke halaman itu pun telah sadar pula dan dengan kekuatan yang belum pulih sama sekali, tertatih-tatih naik pula kependapa dan ikut duduk di sekitar Ki Buyut dan isterinya.
“Kita akan mengambil sikap lain.” berkata Ki Buyut, “Sudah sekian lama kita hidup dalam cengkaman ketakutan dan kecemasan. Dibumbui oleh dendam dan kebencian, maka hidup kita telah menemukan bentuk yang mengerikan.”
“Apakah cara yang pernah kita tempuh itu salah?” salah seorang dari ketiga orang pengawal terdekat Ki Buyut itu pun bertanya, “Aku tidak melihat cara hidup yang lebih baik dari cara yang pernah kita tempuh. Dengan memusnahkan setiap orang yang kita curigai, maka padukuhan kita yang aman dan damai ini tidak akan terganggu.”
Ki Buyut mengerutkan keningnya. Tentu mereka tidak memiliki ketakutan seperti dirinya. Mereka tidak takut untuk dikenal sebagai salah seorang pelarian Senapati Singasari pe¬ngikut Tohjaya yang sudah terbunuh.
Namun justru karena itu, maka alasan mereka yang selama ini mereka anggap tepat adalah alasan yang sulit untuk disisihkan dari hati mereka.
“Anak-anak.” berkata Ki Buyut, “Kita sudah cukup lama berada di dalam dunia yang kelam. Kita tidak akan dapat hidup dalam pengasingan terus menerus seperti sekarang ini.”
“Ki Buyut.” berkata salah seorang pengawal-pengawalnya, “Ke¬napa tiba-tiba saja Ki Buyut mempersoalkan cara hidup kita?”
“Aku sudah jemu dengan cara hidup seperti ini.” berkata Nyai Buyut, “Aku ingin hidup sewajarnya seperti saat ibu ku masih ada.”
Ketiga pengawalnya mengerutkan keningnya, sedang yang lain pun termangu-mangu.
“Apakah kalian tidak ingat lagi, apa yang pernah kalian alami saat itu?”
“Aku tidak begitu ingat. Tetapi yang jelas, saat itu padukuhan ini bukan padukuhan yang tenang dan damai seperti sekarang. Kadang-kadang masih ada gangguan yang datang dari luar padukuhan ini.”
Nyai Buyut menarik nafas dalam-dalam. Yang paling jelas nampak dalam ingatan para pengawalnya adalah justru kekacauan dan gangguan yang setiap kali datang kepadukuhan ini.
“Anak-anak.” berkata Nyai Buyut kemudian, “Kalian benar bahwa saat itu ada gangguan-gangguan kecil yang kadang-kadang menja¬mah padukuhan ini. Tetapi sebagai imbangannya, kami dapat hidup dalam lingkungan yang jauh lebih luas. Kami tidak selalu dibayangi oleh kecemasan bahwa pada suatu saat ada sekelompok orang yang akan datang untuk membalas dendam karena ada satu atau dua orangnya yang hilang dipadukuhan ini.”
“Tidak seorang pun yang mengetahuinya.” desis salah seorang pengawalnya.
“Tetapi pada suatu saat tentu ada. Karena itu, marilah cara hidup ini kita hentikan. Kita akan berusaha menjalin kehidupan yang lebih baik. Kawan-kawanmu sebaiknya perlu mendapat penjelasan.”
“Aku sendiri tidak jelas, apakah yang harus aku lakukan.” desis yang lain.
“Dengarlah baik-baik.” berkata Ki Buyut, “Ketahuilah bahwa yang datang itu, dan yang telah menunjukkan kelebihannya di dalam olah kanuragan, adalah seorang yang memiliki ketajaman pengamatan dan kecerdasan berpikir. Ia telah menyarankan, agar kita disini merubah tata cara kehidupan yang selama ini kita tempuh.”
“Gila.” geram salah seorang dari para pengawalnya itu, “Sudah bertahun-tahun kita menempuh cara hidup ini. Kini, tiba-tiba saja dengan mudahnya seseorang berusaha untuk merubahnya. Sudah barang tentu setelah ia menganggap bahwa cara hidup kita adalah salah.”
“Kau benar. Ia berhasil meyakinkan aku, bahwa cara hidupku sama sekali tidak benar. Aku terlibat dalam tindak dan sikap yang sangat biadab. Baru saja aku menyadarinya setelah kawanku membentangkan pendapatnya dengan segala alasannya.”
“Bohong.” geram yang lain, “Tentu ada persoalan-persoalan lain yang membuat Ki Buyut berdua berubah pikiran. Apakah Ki Buyut takut menghadapi hanya empat orang itu saja?”
“Tentu tidak.” jawab Ki Buyut, “Kau tahu, bahwa aku mampu bertempur dengan kekuatan dan kecepatan yang tidak ada duanya di padukuhan ini? Juga kalian semuanya tidak ada yang dapat menyamai kemampuanku? Nah, kalian tidak akan dapat menuduh aku sebagai seorang pengecut yang ketakutan menghadapi lawan yang hanya empat orang itu.”
“Jadi, jika demikian apakah alasan Ki Buyut yang sebenarnya?”
“Sudah aku katakan. Ada semacam kesadaran dalam diriku bahwa cara yang kita tempuh selama ini adalah salah.”
“Ah, itu adalah sesuatu yang terlampau tiba-tiba bagi kami. Kami tidak mengerti, kesadaran macam manakah yang telah merubah sikap Ki Buyut.”
“Anak-anak.” berkata Ki Buyut, “Aku tahu bahwa untuk meninggalkan kegemaran seperti yang pernah kita lakukan itu adalah sangat sulit. Tetapi marilah kita coba. Hidup dalam keadaan pahit getir selama ini membuat kita semuanya menjadi kehilangan akal. Tetapi kepahitan yang paling dalam sebenarnya terjadi pada Nyai Buyut. Pada isteriku. Sedangkan ia dapat melihat dengan mata hatinya, bahwa cara hidup yang selama ini kita tempuh adalah cara yang ingkar dari tata kehidupan manusia.”
“Omong kosong.” tiba-tiba salah seorang dari ketiga orang pengawal itu berteriak, “Aku tidak percaya. Kita sudah menempuh cara yang benar. Cara yang paling baik.”
Dalam ketegangan itu, tiba-tiba anak muda yang baru sadar dari pingsannya berkata, “Rasa-rasanya memang ada sesuatu yang pantas dipikirkan saat ini. Baru saja aku sadar dari pingsan. Tetapi rasa-rasanya baru saja aku sadar dari tidur yang pulas tetapi yang dibayangi oleh sebuah mimpi yang sangat buruk.”
“Diam kau.” bentak salah seorang pengawal.
“Dengarlah. Aku akan berbicara sedikit lagi. Agaknya memang masih ada tata cara hidup yang lebih baik dari tata cara hidup kita sekarang.”
“Tidak.” teriak salah seorang dari ketiga pengawal itu, “Membunuh adalah kesenangan yang dapat mendatangkan kebahagiaan. Dengan demikian kita akan dapat melihat kesan dari berpuluh-puluh wajah dari orang-orang yang mengalami berbagai macam perasaan menjelang saat-saat kematian.”
“Itulah yang kita lihat selama ini. Tetapi tentu bukan itulah tata cara kehidupan seseorang yang sewajarnya. Dan aku cenderung untuk menempuh tata cara kehidupan yang baru.”
“Tutup mulutmu.” pengawal yang lain berteriak, “Aku dapat membunuhmu, kau dengar.”
Tetapi pengawal-pengawal yang lain, kecuali tiga orang itu, ternyata bersikap lain. Salah seorang dari mereka berkata, “Kita tidak tergesa-gesa menentukan sikap. Semuanya memang tidak akan dapat berubah dengan tiba-tiba. Tetapi persoalan ini wajib kita pikirkan dan kita pertimbangkan.”
“Tidak. Tidak ada yang harus kita pikirkan dan kita pertimbangkan. Keempat orang itu pun harus dibunuh seperti orang-orang lain yang pernah datang kepadukuhan ini.”
Pendapa itu pun kemudian menjadi tegang. Ternyata kedatangan Tapak Lamba, orang yang sudah dikenal dengan baik oleh Ki Buyut yang menyebut dirinya bernama Kidang Pengasih itu, telah menumbuhkan kegoncangan. Tetutama di dalam alam pikir mereka.
Seorang yang bertubuh kurus diantara para pengawal yang sudah bertempur melawan Tapak Lamba dan kawan-kawannya itu pun berkata, “Agaknya memang ada cara hidup yang lain di dunia ini, selain hidup sebagai seorang pembunuh. Meskipun sudah lama berlalu, tetapi rasa-rasanya aku masih merasa betapa damainya hati pada saat itu. Pada saat padukuhan ini masih belum dikotori dengan darah yang disusul oleh tetes-tetes darah berikutnya.”
“Omong kosong.” bentak salah seorang dari ketiga pengawal Ki Buyut yang khusus itu, “Kau bermimpi di siang hari. Jangan kau ingat yang sudah lampau. Saat itu tidak akan dapat kembali sekarang ini. Kita sudah menghayati kehidupan yang penuh dengan sifat-sifat kejantanan dan kepahlawanan. Semakin banyak korban yang terbunuh karena tangan kita, maka kita akan menjadi semakin menyadari betapa tinggi arti hidup kita ini. Sebelum kita pun akan mati pada suatu saat, maka kita ha¬rus mengenal bentuk-bentuk kematian sebanyak-banyaknya, agar disaat kematian tiba, berduyun-duyun orang yang akan mengantarkan kita dialam akhir itu. Orang-orang yang telah mati oleh tangan kita itu akan menjadi hamba-hamba kita dikemudian hari. Semakin menarik cara kematian yang kita berikan, maka ia akan menjadi semakin setiap mengawal kita kelak. Sudah barang tentu, siapakah yang hambanya paling banyak, maka dialam mendatang itu, akan menjadi penghuni yang paling berpengaruh.”
“Gila.” teriak Ki Buyut, “Mimpimulah yang paling berbahaya. Kita semuanya belum pernah melihat kehidupan yang akan datang. Tetapi sudah barang tentu tidak akan terjadi seperti yang kau katakan. Setiap pembunuhan adalah kesalahan yang mendatangkan hukuman. Hukuman aku akan berkurang jika kita berbuat baik bagi sesama.”
“O.” tiba-tiba ketiga orang pengawalnya tertawa berbareng, “Sejak kapan Ki Buyut mengenal kebajikan dengan memperbandingkan perbuatan baik dan buruk? Jika benar demikian, maka kesalahan Ki Buyut tidak akan dapat ditebus dengan berbuat baik sepanjang sisa umurmu.”
“Gila, Aku pun tidak tahu yang sebenarnya. Tetapi aku berpendapat bahwa kita tidak boleh lebih lama lagi dibayangi oleh tata cara hidup yang gila ini.” ia berhenti sejenak, lalu, “Sekarang dengarlah. Aku perintahkan kalian berbuat lain daripada perbuatan-perbuatan yang terkutuk yang pernah kalian lakukan. Kita akan memikirkan bentuk kehidupan yang akan kita jalani kelak.”
“Tidak.” pengawalnya yang paling besar segera memotong kata-katanya Ki Buyut. “Sebenarnyalah bahwa Ki Buyut tidak mempunyai kekuasaan apa-apa disini. Jika Ki Buyut masih tetap dalam cara hidup yang selama ini kita tempuh, aku akan tetap setia kepadamu. Tetapi jika kau ingin merubah tata cara kehidupan yang sampai saat ini kia lakukan, maka akulah orang yang akan menentang pertama-tama.”
“Gila.” teriak Ki Buyut, “Jika aku tidak berkuasa di sini, isterikulah yang memiliki kekuasaan itu, karena ia adalah anak Ki Buyut yang sah.”
“Tidak. Justru ia adalah anak durhaka. Ia telah meminjam tanganmu membunuh ayahnya yang telah membesarkannya.”
“Tidak. Tidak.” Nyai Buyut berteriak, “Ia bukan ayahku. Dan ia selalu menghantuiku siang dan apalagi malam.”
Orang yang bertubuh kekar itu membantah, “Omong kosong. Kalian sudah bersekongkol untuk membunuhnya dan kemudian mengambil alih kekuasaan disini untuk melakukan kegilaan ini. Aku sudah terseret dalam tindakan-tindakan yang mula-mula aku anggap sebagai tindakan yang paling gila. Tetapi ketika aku menjadi tertarik sekarang ini, kalian mencoba untuk menghentikannya.” Ia berhenti sejenak, lalu, “Tidak. Aku tidak mau. Ki Buyut masih harus tetap dalam sikap dan perbuatan seperti yang pernah kita lakukan bersama.”
“Bagaimanapun juga, akulah buyut disini.” bentak Ki Buyut tidak kalah garangnya, “Sah atau tidak sah, tetapi kini akulah yang diakuinya. Meskipun demikian, jika kau mengungkat saluran kekuasaan atas padukuhan ini, maka aku pun akan bertanya, siapakah kalian sebenarnya? Dan sejak kapan kalian berada di padukuhan ini menjadi pengawalku? Sekarang kalian tidak akan dapat membusungkan dada. Kalian tetap budak-budakku disini. Kau datang dengan membawa nafas kekejaman. Dendamku kau rabuk dengan sifat-sifat liar dan buasmu itu sehingga terjadilah kehidupan yang sama sekali tidak mencerminkan kehidupan seorang manusia yang mengenal peradaban betapapun terkebelakangnya.”
“Omong kosong.” bentak pengawal yang lain, “Sebenarnyalah bahwa kami bertigalah yang berkuasa sampai sekarang. Kekuatan dan kemampuan kami adalah lambang dari kekuasaan kaki. Siapa yang menentang kami, akan berarti maut. Maut lewat jalan yang paling mengerikan yang belum pernah kita lakukan disini? Mungkin dengan cara-cara baru yang akan segera dapat aku ketemukan. Nah, apa katamu Ki Buyut. Kau adalah debu yang tidak berarti disini. Kawan-kawanmu diregol itu tidak akan berarti pula bagi kami.”
Ki Buyut termangu-mangu sejenak. Ia melihat sorot mata para pengawalnya yang semula dianggapnya setia itu, seolah-olah telah menyala.
Namun Ki Buyut pun kemudian tertawa. Katanya, “Anak-anak. Kalian memang aneh. Kalian mencoba un¬tuk menggertak aku. Dengarlah. Kita sudah lama berkumpul. Kita sudah saling mengetahui, sampai dimana tingkat kemampuan kami masing-masing. Kenapa kau menyebut-nyebut seolah-olah kalian adalah orang yang paling perkasa disini? Aku tidak dapat kau takut-takuti seperti anak-anak. Aku tahu, sampai dimana batas kemampunmu, kemampuan setiap pengawalku. Pengawalku yang terdekat dan paling setia, yaitu kalian bertiga atau pengawal-pengawalku yang lain.”
“Persetan.” berkata ketiga pengawal itu, “Jika Ki Buyut tetap pada pendiriannya, maka aku akan mengambil jalan kekerasan.”
“Kami bukan cacing tanah.” teriak Ki Buyut, “Agaknya aku memang masih harus membunuh meskipun ia adalah pengawalku sendiri.”
Tiba-tiba saja ketiga orang pengawalnya itu pun berloncatan mundur. Mereka langsung menggenggam senjata masing-masing.
Tetapi dalam pada itu, beberapa orang yang lain telah berdiri pula. Mereka bergeser di sebelah menyebelah Ki Buyut. Salah seorang dari mereka berkata, “Aku sadar, bahwa kalian memiliki kelebihan dari kami. Tetapi selain jumlah kami lebih banyak, juga Ki Buyut ada di antara kami. Dan kita semuanya tahu, bahwa Ki Buyut memiliki kemampuannya tersendiri.”
“Persetan cucurut dungu. Kau adalah pengkhianat. Kau tidak setia kepada tujuan hidupmu. Karena itu kau pun harus mati dan menjadi hambaku di alam seberang dari hidup kita ini.”
“Pikiranmu adalah pikiran yang sesat. Meskipun aku masih akan tetap menjadi pembunuh, tetapi mungkin caraku akan lebih kesatria dengan cara-cara yang kita lakukan sekarang.”
“Tutup mulutmu.” teriak salah seorang dari ketiga orang pengawal yang menentang sikap Ki Buyut itu.
Ki Buyut pun kemudian melangkah maju mendekati ketiga orang pengawalnya itu sambil berkata, “Kita akan bertempur. Tetapi jangan kalian ganggu isteriku. Biarlah ia melihat akhir dari perkelahian ini. Siapakah yang akan mati terkapar di halaman, dan siapakah yang masih akan tetap hidup.”
“Persetan.” geram pengawal Ki Buyut yang paling muda, “Aku akan memperisterikannya, dan aku adalah Buyut di padukuhan ini. Meskipun lumpuh, tetapi isterimu cantik sekali.”
Ki Buyut menjadi marah bukan kepalang. Ia sudah tidak dapat menahan diri lagi. Meskipun yang ada dihadapannya itu adalah pengawalnya, namun ia sudah kehilangan kesabarannya sama sekali.
Dengan demikian, maka Ki Buyut itu pun tiba-tiba telah me¬nyerang dengan garangnya, diikuti oleh beberapa orang pengawalnya yang lain.
Namun ternyata bahwa ketiga pengawalnya itu memiliki beberapa kelebihan dari pengawal-pengawal Ki Buyut yang lain. Karena itu, meskipun jumlah mereka jauh lebih banyak, tetapi dalam benturan yang pertama, ternyata bahwa mereka sudah harus terdesak surut.
Hanya Ki Buyut sendirilah yang ternyata mampu mengimbangi kemampuan pengawalnya itu Karena itu, ia dapat mengikat salah seorang dari mereka dalam perkelahian yang sengit, sedang yang lain harus melawan beberapa orang sekaligus, yang agaknya sama sekali tidak membuat mereka menjadi gelisah.
“Kali ini kami akan melakukan sejenis pembantaian yang lain.” berkata salah seorang pengawal itu.
Sejenak kemudian maka perkelahian itu pun menjadi semakin sengit. Masing-masing mengerahkan segenap kemampuannya untuk dapat segera mengalahkan lawannya.
Tetapi agaknya dua orang pengawal Ki Buyut yang tidak dapat menyetujui sikapnya itu, segera nampak lebih unggul dari pengawal-pengawal yang mengeroyoknya. Bahkan dengan pasti mereka dapat mendesak lawannya untuk beberapa langkah.
Nyai Buyut yang lumpuh itu menjadi semakin lama semakin gelisah. Ia tidak dapat berubat lain kecuali duduk di tempatnya dengan kecemasan. Apalagi ketika ia melihat, pengawal-pengawal yang masih tetap setia kepada Ki Buyut mulai terdesak.
Meskipun demikian, namun pertempuran itu agaknya masih akan berlangsung lama. Masing-masing tentu akan tetap bertahan sampai kemungkinan yang terakhir. Sebab mereka masing-masing menyadari, bahwa mati di dalam perkelahian itu akan jauh lebih baik daripada mati dibelakang tembok yang menyekat halaman Ki Buyut itu.
Karena itulah, maka agaknya ketiga orang pengawal yang memiliki kelebihan itu pun tidak segera dapat mengalahkan lawan-lawan mereka.
Dalam pada itu, tiba-tiba saja salah seorang dari ketiga pengawal yang melawan Ki Biyut itu mendapat pikiran untuk mempercepat perkelahian. Jika ia berhasil menangkap Nyai Buyut dan mengancam akan membunuhnya, maka Ki Buyut tentu akan berhenti bertempur.
Meskipun demikian, ia tidak segera dapat melakukannya. Ia masih harus menunggu kesempatan yang sebaik-baiknya.
Namun dalam pada itu, setiap kali ia pun selalu berpaling memandang Ki Buyut yang sedang berkelahi melawan salah seorang dari mereka dan kemudian memandang Nyai Buyut dan duduk dengan gelisah.
Sementara itu, perkelahianpun menjadi semakin ramai. Dimuka regol, Tapak Lamba yang tidak mendengar pembicaraan orang-orang di pendapa itu seluruhnya, menjadi bingung. Ia sudah menduga bahwa telah terjadi perbedaan sikap dan penda¬pat. Namun perkelahian yang dahsyat itu benar-benar telah sangat menarik perhatiannya.
“Kakang Sunggar Watang masih tetap seorang prajurit yang memiliki kelebihan.” berkata Tapak Lamba.
“Tetapi lawannya juga mampu bertempur dengan gagahnya.” sahut salah seorang kawannya.
Tapak Lamba termangu-mangu sejenak. Kemudian katanya, “Ketiga orang itu memang mencurigakan. Menilik sikap, tutur katanya, ia memang mempunyai kelainan dengan orang-orang padukuhan ini.”
“Mungkin mereka adalah pendatang seperti kakang Sunggar Watang.” desis Tapak Lamba kemudian.
Namun mereka pun terdiam ketika mereka melihat perkelahian menjadi semakin seru. Agaknya mereka tidak lagi dapat mengekang diri. Mereka bukan lagi sekedar berkelahi untuk memaksakan pendapatnya, tetapi mereka sudah benar-benar berusaha untuk saling membunuh.
Sementara itu, salah seorang dari ketiga pengawal itu masih tetap dalam rencananya. Ia akan memaksa Ki Buyut berhenti dengan caranya. Kemudian ia akan dapat membunuh Ki Buyut dengan cara yang paling menyenangkan, yang belum pernah dilakukannya sampai saat terakhir. Mereka baru sering membicarakannya cara itu, tetapi belum pernah melakukannya.
“Ia akan aku masukkan kedalam sebuah jambangan yang sangat besar. Di bawah jambangan itu akan dinyalakan api yang tidak terlampau panas, sehingga tidak membunuhnya dengan segera. Aku akan mendapat kesempatan untuk melihat saat-saat yang paling menyedihkan didalam hidup Ki Buyut itu sebelum kematian akan merenggutnya.” berkata pengawal itu di dalam hatinya.
Tiba- saja tersenyum sendiri. Sekali-sekali sambil bertempur ia pun berpaling kepada Ki Buyut, kemudian kepada Nyai Buyut yang bukan saja gelisah, tetapi menjadi ketakutan.
“Tunggulah saatnya.” berkata pengawal itu di dalam hatinya, “Jika di dalam jembangan yang besar iu ditaburkan sedikit garam, asam dan gula kelapa, maka Ki Buyut akan menjadi hidangan yang lezat.”
Sementara itu, Tapak Lamba memperhatikan perlahian itu dengan saksama. Ia mulai cemas melihat pengawal-pengawal Ki Buyut yang lain menjadi semakin terdesak. Hanya Ki Buyut sendirilah yang mampu bertahan dengan gigihnya.
“Cepat, selesaikan mereka.” desis pengawal yang bertempur melawan Ki Buyut itu.
Dengan sepenuh tenaga, kedua kawannya pun berusaha untuk segera memenangkan pertempuran. Namun setiap kali seorang di antaranya selalu saja diganggu oleh rencananya yang dianggapnya akan sangat menyenangkan.
Tapak Lamba dan kawan- kawannya yang menyaksikan perkelahian itu, seolah-olah diluar sadarnya telah berjalan mendekat. Bahkan diantara mereka ada yang memungut sepotong kayu di halaman.
“Untuk apa?” bertanya kawannya.
“Jika kami harus bertempur, kayu ini akan dapat membantu di samping keling di tangan.”
Yang lain mengangguk-angguk. Ia melihat pedang di tangan Tapak Lamba. Tetapi mereka tidak dapat menemukan pedang semacam itu.
“Selarak itu menarik sekali.” desis yang seorang lagi.
“Ya.” sahut yang lain, yang belum menemukan apa pun juga. Tetapi ia pun segera tersenyum sambil berkata, “Aku juga menemukan senjata.”
Dipungutnya sepotong besi yang tidak terlampau besar, dan tidak terlampau panjang. Agaknya besi itu pun bekas senjata atau semacam sumbat kelapa, karena pada salah satu ujungnya agak pipih dan sedikit tajam.
“Kita tidak akan turut campur.” desis Tapak Lamba, “Biar apapun yang akan terjadi, kita adalah orang asing disini.”
“Bagaimanakah dengan kakang Sunggar Watang. Jika ia kalah, mungkin kita akan benar-benar dibantai disini.” sahut salah seorang kawannya.
“
Pintu itu masih terbuka dan kita akan dapat lari dari halaman ini, demikian Sunggar Watang terbunuh.”
Kawannya-kawannya menjadi ragu-ragu. Salah seorang berdesis, “Sebaiknya kita tidak membiarkan terjadi pembunuhan yang akan sangat mengerikan atas mereka.”
Tapak Lamba tidak segera menyahut. Namun tiba-tiba saja ia memalingkan wajahnya ketika ia melihat salah seorang pengawal yang berhasil melukai lawannya, tiba-tiba benar-benar seperti orang yang kehilangan akal. Diancangnya lawannya itu dihadapan pengawal yang lain yang menjadi sangat ngeri karenanya.
Ternyata ketiga kawan-kawannya menjadi ngeri pula karenanya. Darah memancar dari luka-nya dan bahkan kemudian tubuhnya pun menjadi tidak berbentuk lagi.
“Iblis.” desis kawan Tapak Lamba.
Yang lain berkata, “Kita akan mencegah pembunuhan berikutnya, atau kita akan lari saja dari tempat ini.”
Yang seorang menyahut, “Mungkin aku sendiri tidak akan menjadi ngeri seandainya aku yang terbunuh seperti itu. Tetapi untuk menyaksikannya benar-benar sangat menyinggung harga diri dan martabat kemanusiaan meskipun aku juga seorang pembunuh.”
Tapak Lamba berpikir sejenak. Kemudian ia pun berkata, “Agaknya ketiga orang itulah yang telah mendorong dan menjerumuskan Sunggar Watang ke dalam dunianya sekarang.”
“Jadi, apakah yang akan kita lakukan?”
Selagi Tak Lamba termangu-mangu, maka ia pun melihat sesuatu yang mencurigakan. Hampir diluar sadarnya ia pun bergeser maju semakin dekat dengan arena perkelahian itu.
Ternyata ketajaman mata Tapak Lamba tidak dapat dikelabuinya lagi. Karena itu, maka ia pun kemudian berdesis, “Bukan saja kejam dan bengis, tetapi agaknya mereka juga licik. Cepatlah, kita tidak dapat berpangku tangan. Kita pun pembunuh yang lengkap. Dan sekarang kita akan membunuh lagi. Tetapi membunuhlah dengan cara yang baik.”
Sekilas Tapak Lamba termangu-mangu. Namun ia melihat lagi wajah yang bengis dan licik itu berpaling kepada Nyai Buyut yang lumpuh.
Tatapan mata itulah yang seolah-olah menjadi aba-aba Tapak Lamba. Ia pun kemudian meloncat semakin dekat.....
Bersambung.....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar