BARA DI ATAS SINGGASANA : JILID-24-03
Tetapi tidak ada jawaban yang dapat diketemukan, sehingga akhirnya Mahisa Agni berkata, “Memang sulit tuan Puteri. Karena itu, sebaiknya tuan Puteri melemparkan hal ini kepada hamba saja. Tuan Puteri dapat mengatakan kepada Anusapati, bahwa tuan Puteri baru saja mengetahui bahwa Akuwu Tunggul Ametung terbunuh oleh Sri Rajasa baru saja. Tuan Puteri dapat mengatakan bahwa hambalah yang telah memberi tahukan hal itu, sehingga akhirnya tuan Puteri mengambil keputusan untuk berterus terang kepada Putera Mahkota. Baik tentang orang yang menurunkannya, maupun tentang pembunuhan yang pernah terjadi itu.”
Ken Dedes mengerutkan keningnya. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Baiklah kakang. Aku akan melemparkan persoalan ini kepada kakang Mahisa Agni. Tetapi tentu Anusapati akan datang kepada kakang Mahisa Agni dan bertanya, kenapa kakang baru sekarang memberi tahukan hal ini kepadaku.”
“Biarlah hamba menjawabnya tuan Puteri. Mudah-mudahan jawaban hamba dapat memberinya kepuasan.”
Ken Dedes mengangguk-angguk meskipun masih terbayang berbagai perasaan membayang di wajahnya. Kecemasan, keragu-raguan dan kadang-kadang takut yang amat sangat. Namun Mahisa Agni menanggap bahwa keputusan itu jangan sampai terlepas lagi. Ken Dedes jangan sampai mencabut kembali niatnya yang sudah bulat itu. Karena itu, maka Mahisa Agni-pun berkata, “Sudahlah tuan Puteri. Hamba mohon diri. Mungkin dalam waktu yang singkat Putera Mahkota akan menghadap tuan Puteri. Hamba mengharap bahwa perasaan Putera Mahkota tidak melonjak dan tidak kehilangan pengamatan diri.”
“Aku akan berusaha kakang. Tetapi aku kira, dari bangsal ini ia akan mencari kakang Mahisa Agni, karena aku tahu, bahwa kakang telah mengasuhnya dan membuatnya menjadi Anusapati yang sekarang. Bukan Anusapati yang ingin diciptakan oleh Sri Rajasa.”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Lalu, “Apakah maksud tuan Puteri?”
“Keputusanku ini juga didorong oleh kenyataan bahwa Sri Rajasa dengan sengaja ingin membuat Anusapati kehilangan pribadinya, sehingga ia akan menjadi seorang anak muda yang sama sekali tidak berarti apa-apa bagi Singasari.”
“Dari siapa tuan Puteri mengetahuinya?” bertanya Mahisa Agni meskipun ia sudah mengetahuinya dari cara pendidikan yang sangat timbang bagi Anusapati dan bagi Tohjaya.
“Dari emban Anusapati yang sampai sekarang masih menungguinya dan yang sebagian waktunya dipergunakannya untuk berada di sini. Emban itu-pun berada di dalam kecemasan setiap saat, karena Sri Rajasa dan Ken Umang dapat mengambil tindakan atasnya.”
“Kenapa?”
“Karena ia tidak berhasil membentuk Anusapati yang cengeng, yang pengecut, penakut dan segala macam sifat yang jelek.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Sepantasnya ia mengucapkan terima kasih kepada emban itu. Katanya, “Emban itu pantas mendapat perlindungan tuan Puteri.”
“Karena itulah aku tidak pernah berkeberatan ia berada di sini.”
“Baiklah tuan Puteri, perkenankanlah hamba mohon diri. Hamba akan menunggu Putera Mahkota yang pasti akan mencari hamba. Dan hamba akan mencoba memberikan jawaban yang dapat diterimanya, kenapa hamba baru sekarang memberitahukan kematian Akuwu Tunggul Ametung kepada tuan Puteri.”
Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu jawabnya dengan suara yang berat, “terima kasih kakang. Tetapi sudah terasa dihatiku bahwa akan ada badai yang bertiup di Singasari.”
Mahisa Agni mengangguk-angguk. Jawabnya, “Ya tuan Puteri. Mudah-mudahan hanya batang-batang yang rapuh sajalah yang akan patah, sedang tunas-tunas yang masih muda akan berkembang semakin subur.”
Demikianlah maka Mahisa Agni-pun segera meninggalkan bangsal Ken Dedes. Dengan kepala tunduk ia berjalan menyusur petamanan. Ketika terlihat olehnya Sumekar, maka ia-pun segera berhenti dan mendekatinya.
Sumekar yang sedang berjongkok tidak segera berdiri. Bahkan seolah-olah ia menundukkan kepalanya dalam-dalam menghormati kedatangan wakil Mahkota di Kediri itu.
“Kediri memerlukan petamanan yang beraneka seperti di Singasari,” katanya lantang. Beberapa juru taman-pun mendekat sambil berkata, “Tuan. apakah di Kediri tidak ada petamanan seperti disini?”
“Ada tetapi tidak selengkap Singasari. Aku akan memilih beberapa batang, dan aku akan membawanya jika aku kembali ke Kediri.”
“O. tentu tidak. Biarlah seorang hamba membawa untuk tuan.”
Mahisa Agni tertawa. Katanya, “Bekerjalah. Aku tidak ingin mengganggu kalian.”
Para juru taman itu-pun segera kembali kepekerjaan masing-masing. Hanya Sumekar sajalah yang tinggal, karena ia sedang menyiangi sebatang pohon bunga.
Sejenak keduanya tidak mengatakan sesuatu. Mahisa Agni berdiri saja memperhatikan Sumekar yang sedang sibuk dengan kerjanya. Jika satu dua orang juru taman yang lain berpaling kepadanya, maka mereka sama sekali tidak bercuriga, bahwa kedua orang itu kemudian telah memperbincangkan masalah yang sangat penting bagi Singasari.
“Jadi tuan Puteri sudah sampai pada batas kesabarannya?” bertanya Sumekar.
“Ya. Sebagian adalah karena desakan Sri Rajasa sendiri, ia ingin memaksa Anusapati untuk lari atas kemauan sendiri dari jabatannya. Namun akhirnya Ken Dedes harus memilih. Ia sadar, bahwa salah seorang dari keduanya harus menyingkir. Dan ternyata Ken Dedes memilih yang benar menurut penilaianku. Sri Rajasa sudah cukup berjasa bagi Singasari. Berbekal Tumapel yang kecil ia sudah berhasil menyatukan seluruh daerah Singasari yang sekarang. Karena itu, ia tidak boleh berbuat kesalahan dengan menyerahkan kerajaan yang dengan susah payah disusun ini kepada orang yang samasekali tidak akan mampu mempertahankan kehadirannya. Jika Singasari ini benar-benar jatuh ketangan Tohjaya, maka sia-sialah seluruh perjuangan Sri Rajasa. Aku sudah ikut serta menyabung nyawa mempersatukan Kediri yang goyah itu ke dalam lingkungan Singasari. Karena itu, aku adalah orang yang paling berkeberatan jika kemudian Tohjaya akan menduduki tahta, bukan karena Sri Rajasa yakin bahwa ia akan dapat memimpin pemerintahan. Tetapi semata-mata karena Ken Umang berpendapat demikian.”
Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia sudah menyangka bahwa pada suatu saat akan tiba waktunya hal itu terjadi.
“Karena itu Sumekar,” berkata Mahisa Agni, “hati-hatilah. Kau harus mengamat-amati Putera Mahkota. Jika sampai saatnya, maka kau harus bertindak tepat. Jika salah satu dari keduanya tersingkir, sudah tentu bahwa yang sudah hampir terbenamlah yang harus segera terbenam. Bukan karena kita tidak tahu menghargai jasa-jasanya, tetapi justru karena kita tidak mau kehilangan hasil kerjanya yang besar. Aku kira tidak akan ada orang lain yang dapat berbuat seperti Sri Rajasa pada waktu itu. Tetapi aku kira juga tidak ada seorang Maharaja lain yang akan melakukan kesalahan seperti yang sedang dilakukannya.”
“Baiklah,” jawab Sumekar, “aku akan mencoba.”
“Selama ini, aku akan minta bantuan Witantra dan Mahendra, agar ia berada tidak jauh dari istana. Setiap saat kau akan dapat menghubunginya dengan bermacam cara. Mungkin kau dapat membuat panah sendaren atau semacam apa-pun yang dapat kau kirimkan sebagai isyarat apabila kau menghadapi keadaan yang memaksa dan tiba-tiba.”
“Baiklah. Tetapi aku harap mereka memberitahukan, di mana mereka berada.”
“Aku akan berusaha bertemu dengan mereka. Pada saat aku kembali ke Kediri, mereka akan sudah berada ditempat yang akan diberitahukan kepadamu.”
Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Sebagai orang yang setiap saat menunggui Putera Mahkota, sebenarnya Sumekar sudah tidak telaten lagi. Bahkan ia ingin mendorong agar Putera Mahkota segera berbuat sesuatu.
“Putera Mahkota kurang cepat bertindak,” katanya, “meskipun ia memiliki kemampuan yang cukup, namun hatinya yang selalu ragu-ragu dan bimbang telah menahan semua tindakannya.”
“Tetapi jika ia tersudut, maka ia-pun akan mengambil sikap,” berkata Mahisa Agni sambil melangkah hilir mudik. Sejenak kemudian, “Sudahlah Sumekar. Sampai nanti. Aku masih akan tinggal untuk beberapa hari disini.”
Sepeninggal Mahisa Agni, Sumekar-pun merenung di luar sadarnya. Ia sudah mulai membayangkan peristiwa yang penting itu akan terjadi. Namun jika Putera Mahkota mampu melakukan dengan baik, maka tidak akan ada persoalan yang dapat mengguncang Singasari. Bahkan ia berkata di dalam hati, “Seperti pada saat Sri Rajasa membunuh Tunggul Ametung menurut ceritera mereka yang menyaksikan. Tidak ada keributan yang timbul kecuali kematian Kebo Ijo.”
Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Namun tiba-tiba ia tersentak seakan-akan menyadari sesuatu, “Kebo Ijo telah menjadi korban. Tetapi korbannya itu tidak sia-sia bagi Tumapel yang menjadi besar, meskipun bukan semata-mata hal itulah yang dipertautkan. Kebo Ijo sama sekali tidak menyadari bahwa kematiannya itu telah memberi kesempatan Sri Rajasa bertahta dan kemudian membuat Tumapel menjadi Singasari yang besar sekarang ini.”
Sumekar termenung sejenak. Nafasnya menjadi semakin cepat mengalir oleh deru yang berkecamuk di dalam dadanya. Seperti sebuah mimpi ia membayangkan, bahwa jika ada orang yang bersedia berkorban untuk berbuat sesuatu yang berguna bagi Singasari, alangkah baiknya. Jika ada orang yang berhasil menyingkirkan Sri Rajasa sekarang ini, selagi Putera Mahkota masih seorang yang bernama Anusapati, maka tidak akan ada pilihan lain, bahwa Anusapati lah yang berhak menggantikan kedudukan Sri Rajasa. Sedang apabila usaha itu gagal, maka sama sekali nama Anusapati tidak akan tersangkut didalamnya. Tetapi jika usaha itu berhasil, maka keributan, yang lebih besar akan dapat dihindarkan.
Ternyata bahwa pikiran itu telah membuat Sumekar menjadi gemetar. Keringatnya mengalir di seluruh tubuhnya. Apalagi ketika ia bertanya kepada diri sendiri, “Siapakah yang dapat membunuh Sri Rajasa?”
Sejenak Sumekar membeku di tempatnya. Namun kemudian keringat dinginnya mengalir di seluruh tubuhnya. Pergolakan di dalam hatinya membuatnya bagaikan dibakar di atas bara.
Tiba-tiba terasa kepala Sumekar menjadi pening, dan pepohonan di sekitarnya bagaikan berputar-putar. Dalam amukan gejolak perasaan itu seakan-akan ia mendengar suara, “Kenapa bukan kau Sumekar, kenapa bukan kau? Kau sudah berguru bertahun-tahun pada seorang Empu yang mumpuni, bahkan kau sudah berhasil mengembangkan ilmumu dengan caramu.”
“O,” terdengar Sumekar berdesah. Tubuhnya serasa menjadi terlalu berat dibebani oleh deru perasaannya.
Dalam keadaannya, Sumekar tidak lagi dapat berjongkok. Karena itu, maka ia-pun segera terduduk dengan lemahnya bertelekan kedua tangannya.
Seorang juru taman yang melihatnya menjadi heran. Baru saja ia melihat Sumekar berbicara dengan Mahisa Agni dalam keadaan sehat. Tetapi tiba-tiba kini ia seakan-akan menjadi kehilangan kekuatannya sama sekali.
“He, kau lihat orang itu?” desis kawannya.
Beberapa orang-pun kemudian mendekatinya. Mereka terkejut melihat Sumekar pucat dan berkeringat di seluruh tubuhnya.
“Kenapa kau he?” bertanya salah seorang dari mereka sambil mengguncang-guncang tubuhnya.
“Kenapa he,” sambung yang lain.
Sumekar mendengar pertanyaan-pertanyaan itu. Dengan sepenuh kekuatan ia mencoba menenangkan dirinya sendiri. Dicobanya untuk menghayati keadaannya dengan sepenuh kesadaran.
Perlahan-lahan ia berhasil menguasai gejolak di dalam dadanya dan karena itu, maka perlahan-lahan semuanya menjadi terang. Dirinya sendiri dan keadaan di sekelilingnya.
“Kenapa kau?”
Sumekar membuka matanya. Ia sudah berhasil menghentikan putaran yang melingkari dirinya. Karena itu, maka ia-pun dapat menjawab, “Aku tiba-tiba saja menjadi pening.”
“Ha, semalam kau pasti tidak tidur lagi. Kau terlalu sering tidak tidur menurut penghuni di sebelahmu.”
“Aku tidur sejak sore.”
“Jika demikian kau terlalu banyak tidur,” sahut yang lain.
“Mungkin,” berkata Sumekar sambil memijit-mijit kepalanya.
“Kembalilah kebilikmu. Berhentilah bekerja supaya kau tidak terlanjur pingsan.”
Sumekar mengangguk.
“Marilah, aku antar kau.”
Demikianlah maka Sumekar-pun dipapah oleh dua orang kawannya kembali ke rumah, sedang beberapa orang abdi yang lain memandangnya dari kejauhan. Seorang pekatik mendekatinya sambil bertanya, “Kenapa?”
“Tiba-tiba saja ia menjadi pening.”
“O.”
Beberapa emban, juru pengangsu saling berbisik, “Orang itu orang aneh. Ia hampir tidak pernah tidur.”
Demikianlah Sumekar-pun kemudian dibaringkannya didalam biliknya.
“Tidurlah. Jangan kau pikirkan pekerjaanmu.” Sumekar mengangguk.
Sejenak kemudian maka kawannya itu-pun meninggalkannya. Tetapi demikian pintu ditutup, Sumekar-pun bangkit dan duduk dibibir pembaringannya. Dipandanginya pintu gubugnya yang tertutup itu. Sekali ia menarik nafas dalam-dalam.
Seakan-akan suara yang didengarnya itu masih saja bergulung-gulung di dalam hatinya. Tetapi kini ia dapat menanggapinya dengan sadar dan tenang, sehingga ia tidak lagi dijerat oleh perasan pening dan bingung.
“Aku akan memikirkannya masak-masak,” berkata Sumekar, “apa salahnya jika aku mencoba. Mungkin aku menjadi seorang pembunuh, tetapi aku mempunyai suatu tujuan yang baik. Baik bagi Singasari yang dibina oleh Sri Rajasa, dan baik bagi Putera Mahkota. Jika seandainya di dalam matinya Sri Rajasa melihat hasil yang aku peroleh dari perbuatanku, maka ia tidak akan mengutukku.”
Namun yang menjadi persoalan kemudian adalah Anusapati. Apakah Anusapati sependapat dengan rencananya.
“Apakah aku harus mengatakan kepadanya tentang rencana ini?”
Sumekar menggeleng-gelengkan kepalanya. Katanya kepada diri sendiri, “Aku menjadi bingung.”
Namun Sumekar masih mempunyai waktu untuk mengendapkan perasaannya. Mahisa Agni masih ada di Singasari untuk beberapa lamanya. Bahkan mungkin ia akan dapat minta pertimbangannya.
Sekali lagi Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Ia-pun kemudian kembali membaringkan dirinya. Meskipun ia tidak dapat tertidur, namun ia sempat beristirahat badani. Namun perasaan dan nalarnya masih juga selalu berbenturan tiada hentinya.
Dalam pada itu, Mahisa Agni yang berada di bangsal yang khusus disediakan untuknya, berjalan hilir mudik di dalam biliknya. Puncak pergolakan yang selama ini membakar Singasari akan segera terjadi. Dan Mahisa Agni masih belum dapat memastikan, yang manakah yang akan berhasil keluar dari lingkaran api ini.
Dipuncak pimpinan Singasari kini benar-benar berhadapan dua pihak. Tohjaya dan Anusapati.
Sekilas terbayang wajah kedua anak muda itu. Keduanya memang memiliki kelebihannya masing-masing. Tetapi bahwa Tohjaya dipengaruhi oleh sifat-sifat tamak dan angkuh adalah karena tetesan sifat ibunya.
“Seandainya Ken Arok tidak berhasil dijebak oleh perempuan itu,” berkata Mahisa Agni di dalam hatinya. Terbayang sejenak, bagaimana Ken Umang berusaha untuk menyeretnya ke dalam pengaruhnya. Tetapi untunglah bahwa ia masih cukup sadar untuk mempertahankan dirinya. Bahkan setelah Ken Umang itu berada di istana, ia masih saja berusaha menjebaknya.
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Yang terjadi atas dirinya ternyata telah menjauhkannya dari setiap perempuan. Ken Dedes yang kemudian dengan Tunggul Ametung dan kemudian Ken Umang yang memuakkan itu, membuatnya seakan-akan tidak lagi dapat disentuh oleh perasaan yang wajar bagi seorang laki-laki. Pernah ia tergerak melihat seorang perempuan Kediri yang dijumpainya ketika ia sedang dikejar-kejar oleh pemburu-pemburu manusia yang tidak mengenal perikemanusiaan. Tetapi ketika beberapa lamanya ia tidak melihat, maka ia sama sekali tidak lagi dapat membayangkan wajah itu, yang seakan-akan menjadi beku sebeku hatinya.
Dan kini ternyata bahwa laki-laki yang berhasil ditundukkan oleh Ken Umang itu telah kehilangan pegangan hidupnya, meskipun ia seorang Maharaja yang telah berhasil menyatukan seluruh daerah Singasari yang luas ini.
“Sebenarnya Sri Rajasa adalah orang yang paling berjasa mempersatukan Singasari. Tetapi agaknya ia hampir terjerumus untuk menghancurkannya sendiri. Jika ia berhasil mengangkat Tohjaya sebagai penggantinya, maka Singasari yang dengan susah payah diikatnya menjadi satu ini, pasti akan pecah berserakkan,” berkata Mahisa Agni didalam hati.
Namun ia masih belum berhasil menguasai kegelisahan dihatinya. Karena itu, maka ia-pun kemudian melangkah keluar dan berdiri di muka pintu bangsalnya memandang ke kejauhan. Desir angin yang lembut mengusap keningnya dan membuat tubuhnya menjadi agak segar.
Ketika terpandang olehnya daun-daun kuning yang berguguran di tanah maka ia-pun bergumam di dalam hati, “Memang yang sudah tidak berguna lagi harus diruntuhkan seperti daun-daun yang kuning itu.”
Sekilas Mahisa Agni melihat dua orang prajurit dari pasukan pengawal lewat di depan bangsalnya. Keduanya menganggukkan kepalanya dalam-dalam. Ia sadar, bahwa sebagai wakil Mahkota di Kediri, maka ia-pun mendapat pengawalan yang cukup selama ia berada di Singasari.
Dalam pada itu, Ken Dedes yang masih berbaring dipembaringannya menjadi berdebar-debar. Anusapati pasti akan segera datang kepadanya setelah ia mengetahui bahwa Mahisa Agni telah datang kepadanya.
Tetapi ternyata bahwa Anusapati telah datang lebih dahulu kepada Mahisa Agni. Tanpa ragu-ragu ia langsung datang ke bangsal pamannya itu.
“Kau datang kemari?” bertanya Mahisa Agni.
“Aku tidak peduli lagi paman,” berkata Anusapati, “apa-pun tanggapan orang terhadapku. Dan aku harap paman-pun bersikap demikian sekarang ini. Agaknya semuanya menjadi semakin buruk.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Masuklah.”
Keduanya-pun kemudian duduk diruang dalam. Dengan wajah yang tegang Anusapati berkata, “Apakah paman sudah bertemu dengan ibunda?”
“Aku sudah menengok tuan Puteri.”
“Apakah yang paman katakan dengan ibunda.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Ibundamu mengatakan bahwa sekarang cucunya sudah besar. Sudah mulai berlatih naik kuda dan berkelahi. Bukankah puteramu dengan putera Mahisa Wonga Teleng tidak terpaut banyak sehingga keduanya dapat bermain bersama-sama. Dan yang terpenting berlatih bersama jika keduanya mulai tertarik?”
Anusapati-pun menarik nafas panjang pula. Sambil menganggukkan kepalanya ia berkata, “Ya paman. Anak itu nakal sekali. Keduanya sudah mulai berlatih naik kuda. Aku tidak tahu, kenapa hal itulah yang pertama-tama mereka minta sejak mereka menjadi semakin besar.”
“Asal keduanya mendapat pelatih yang baik dan dapat dipercaya, karena keduanya masih terlampau muda. Bahkan mereka masih kanak-kanak untuk menanggapi keadaan yang kini sedang berkecamuk di istana ini.”
Anusapati menganggukkan kepalanya. Katanya, “Kadang-kadang aku sendirilah yang mengajari mereka. Tetapi kini rasa-rasanya aku tidak sempat melakukan meskipun aku tidak berbuat apa-apa. Pekatikku yang baiklah yang kini aku serahi mengawasi keduanya. Dan adalah kebetulan sekali, aku mendapatkan dua ekor kuda yang tidak terlampau besar.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun sebelum ia melanjutkan kata-katanya, Anusapati sudah mendahuluinya, “Apakah paman sudah bertemu dengan ibunda dan mempersoalkan keadaanku sekarang?”
“Aku sudah bertemu dengan ibumu. Tetapi baru sejenak.”
“Apakah yang paman katakan kepada ibunda tentang aku?”
“Anusapati,” berkata Mahisa Agni, “sebaiknya ibumulah yang mengatakan kepadamu. Tetapi jangan membuatnya gelisah dan cemas. Berbuatlah seperti biasa. Seakan-akan tidak terjadi sesuatu, agar hati ibumu menjadi tenang.”
Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Dalam keadaan yang demikian parah, bagaimana mungkin ia dapat berbuat seolah-olah tidak terjadi sesuatu.
Karena itu sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata, “Paman, aku sudah mengutarakan semua isi hatiku kepada ibunda. Bahkan aku telah kehilangan pribadiku sebagai seorang laki-laki dan apalagi sebagai seorang Putera Mahkota, ketika aku tiba-tiba saja menjadi cengeng dan menangis di hadapan ibunda Permaisuri. Apakah jika aku sekarang menghadap aku dapat menghapuskan semua kesan yang pernah terlahir dari sikapku sebelumnya?”
Mahisa Agni meangguk-anggukkan kepalanya. Namun kemudian ia menjawab, “Tentu Anusapati. Kau tidak dapat berbuat lain dari pada mengulangi keluhanmu. Tetapi jika kemudian ibundamu mengatakan sesuatu kepadamu, menasihatimu atau memberikan petunjuk-petunjuk kepadamu, janganlah kau tanggapi semata-mata dengan perasaanmu. Kau harus bersikap sebagai seorang laki-laki. Kau harus mencoba mencapai keseimbangan antara perasaan dan nalar sehingga kau tidak terjerumus kedalam sikap yang tergesa-gesa dan apalagi menyusahkan ibundamu.”
Anusapati yang menundukkan kepalanya menangkap sesuatu yang tersirat didalam kata-kata Mahisa Agni. Seakan-akan sudah terngiang ditelinganya sesuatu yang sangat penting dan menentukan. Karena itu, maka tiba-tiba saja ia berkata, “Baiklah paman, aku akan pergi menghadap ibunda.”
“Nah, bukankah kau sudah mulai dirayapi oleh perasaanmu tanpa menghiraukan nalar. Seharusnya kau mendengarkan aku sampai selesai.”
“Apakah paman belum selesai?”
“Aku belum mengatakan selesai.”
“Duduklah dengan tenang. Aku ingin melanjutkan keteranganku,” Mahisa Agni berhenti sejenak. Lalu, “ibundamu sudah menjadi semakin tua. Kau harus mengingat akan hal itu, sehingga setiap tindakanmu pasti akan kau pertimbangkan baik-baik dengan keadaan ibumu. Selain dari itu, anakmu menjadi semakin meningkat umurnya. Sebentar lagi ia akan menjadi seorang anak remaja yang gagah dan nakal. Ia memerlukan tuntunan dan perlindunganmu.”
Terasa detak jantung Anusapati menjadi semakin keras. Ia sadar, bahwa jika ia salah langkah, maka akibatnya akan sangat pahit baginya dan bagi keluarganya.
Karena itu maka katanya kemudian, “Baiklah paman. Aku akan mencoba mengendalikan diriku. Aku akan mencoba bersikap sebaik-baiknya agar aku tidak tenggelam dalam arus perasaanku semata-mata.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Dipandanginya Anusapati sejenak. Lalu, “Jika demikian, maka bersiaplah. Pergilah menghadap ibundamu dengan hati yang tenang dan penuh pengertian. Ibundamu bukan tempat untuk menumpahkan segala kesalahan. Mungkin kata-kataku agak aneh bagimu. Dan mungkin membuat kau semakin berdebar-debar. Tetapi ingatlah. Kau harus berusaha membuat ibundamu berbahagia dihari tuanya.”
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata, “Aku mengerti paman. Sebenarnyalah bahwa aku menjadi berdebar-debar. Aku merasa seakan-akan aku akan dihadapkan pada suatu persoalan yang tidak pernah aku duga-duga sebelumnya. Tetapi aku berjanji, aku berjanji bahwa aku akan bersikap baik dan menjaga perasaan ibunda agar ibunda tidak menjadi gelisah dan bingung.” Namun didalam hati Anusapati berkata terus, “Biar aku sajalah yang menjadi bingung sepanjang umurku.”
Demikianlah Anusapati-pun kemudian meninggalkan bangsal tempat tinggal Mahisa Agni jika ia berada di Singasari. Dengan kepala tunduk Anusapati berjalan perlahan-lahan. Ia tidak melihat ketika dua orang prajurit yang berpapasan dengannya menganggukkan kepalanya dalam-dalam.
“Tampaknya Putera Mahkota selalu bersedih akhir-akhir ini.” gumam salah seorang dari kedua prajurit itu.
“Ya. Tampaknya memang ada sesuatu yang mengganggu perasaannya,” jawab yang lain.
“Adiknya itu selalu mengadu kepada Sri Rajasa. Dan Sri Rajasa semakin nampak berpihak kepadanya. Bahkan pernah Sri Rajasa marah kepada Putera Mahkota di dalam sidang para pemimpin Singasari dan yang tidak dapat dimengerti, Sri Rajasa telah mengancam Putera Mahkota, bahwa kedudukannya bukan kedudukan mati.”
“Aku juga mendengar,” sahut yang lain, “dan kami yang tua-tua ini tentu tahu apakah sebabnya, setidak-tidaknya pernah mendengar desas-desus tentang Putera Mahkota.”
“Tentang apa?”
“Siapakah Putera Mahkota yang sebenarnya.”
Kawannya menarik nafas dalam-dalam. Lalu, “Tetapi hal itu seharusnya sudah dilupakan. Apalagi Sri Rajasa sudah mengangkatnya menjadi Putera Mahkota.”
“Seharusnya. Tetapi kadang-kadang orang berbuat diluar keharusan, atau karena kekuasaan maka tidak ada keharusan yang dapat mengikatnya. Kekuasaannya itulah suatu bentuk keharusan yang dikehendakinya sendiri dan bahkan dapat dipaksakannya kepada orang lain.”
Kawannya mengerutkan keningnya. Katanya, “Jika kau yang berkuasa, maka kau dapat berbuat apa saja yang kau kehendaki. Dan orang lain harus tunduk kepada kemauanmu. Begitu?”
Yang lain memandanginya sejenak. Namun kemudian ia bersungut-sungut, “Jika aku berkuasa, aku gantung kau diregol depan dengan kakimu diatas. Setiap orang harus memukul perutmu seperti memukul kentongan.”
Kawannya berbicara tertawa. Lalu, “Belum lagi berkuasa kau sudah menjadi seorang pemarah.”
Keduanya-pun kemudian terdiam. Ketika mereka berhenti sejenak di sudut bangsal, mereka masih melihat Anusapati berdiri termangu-mangu. Namun Putera Mahkota yang tidak pernah merasa perlu membawa seorang pengawal-pun itu melangkah lagi menuju ke bangsal Permaisuri.
Ketika Anusapati sampai di halaman bangsal itu, hatinya menjadi berdebar-debar. Serasa ia akan memasuki rumah seorang Panglima perang yang akan memberikan perintah kepadanya untuk maju ke medan perang.
Karena itu, maka sekilas teringat anak laki-laki yang menjadi semakin besar. Sebentar lagi ia akan menjadi seorang remaja yang tampan.
“Kalau terjadi sesuatu, taruhanku adalah seluruh keluarga,” berkata Anusapati didalam hatinya. “Aku, isteriku dan anakku pasti akan menjadi korban. Mungkin menjadi pangewan-ewan di alun-alun. Mungkin dihukum picis di simpang empat atau digantung berjajar di depan regol istana. Bahkan mungkin ibunda Permaisuri akan diikut sertakan dalam kesalahan ini.”
Namun sekilas terbayang wajah Mahisa Agni yang perkasa. Dan timbullah pertanyaan di dalam hatinya, “Apakah paman Mahisa Agni akan tetap berdiam diri. Bukankah di istana ini ada juga paman Sumekar? Jika terjadi sesuatu, paman Mahisa Agni tentu akan melibatkan paman Witantra, paman Mahendra dan paman Kuda Sempana. Tentu tidak hanya empat orang itu, tetapi pasti ada pengikut-pengikut yang dapat bergerak sekedar mengguncang kekuasaan Sri Rajasa. Apalagi paman Mahisa Agni pernah menjadi panglima pasukan yang terdiri dari orang-orang Kediri itu sendiri ketika ia memecah Kediri waktu itu. Dalam keadaan yang tersudut, ia pasti masih mampu menggerakkan orang-orang itu dan bekas-bekas prajurit Kediri yang menyimpan dendam meskipun umur mereka menjadi semakin tua seperti paman Mahisa Agni. Bahkan para bangsawan di Kediri yang sampai sekarang masih diberi wewenang memerintah dibawah pengawasan paman Mahisa Agni pasti merasa lebih dekat dengan paman Mahisa Agni daripada kepada Ayahanda Sri Rajasa, dan apalagi Adinda Tohjaya.”
Memang sering terpercik didalam hati Anusapati suatu angan-angan, apakah kira-kira yang dapat terjadi jika ia minta kepada pamannya Mahisa Agni untuk merubah kekuasaan yang ada di Singasari dengan kekerasan. Tetapi ia tidak pernah dapat mengatakannya meskipun ia yakin bahwa Mahisa Agni mempunyai cukup kekuatan untuk itu. Namun sebagai seorang yang mencintai kesatuan Singasari yang sudah bulat itu, Anusapati tidak dapat berbuat demikian. Jika ia memaksa pamannya untuk melawan Sri Rajasa, berarti di Singasari akan pecah perang besar yang akan memecah belah kesatuan yang dengan susah payah sudah dihim-pun oleh Sri Rajasa.
“Aku harus membedakan antara ayahanda yang sekarang terlampau memanjakan Tohjaya dengan hasil kerja yang besar dari ayahanda itu,” berkata Anusapati didalam hatinya. Sambil menarik nafas dalam-dalam ia menyadari bahwa pengertian itu diperolehnya dari tuntunan pamannya Mahisa Agni.
Anusapati menjadi semakin berdebar-debar ketika ia melangkah kepintu bangsal ibunda yang terbuka. Sekali ia berpaling kearah prajurit yang bertugas mengawal bangsal itu. Tampaknya prajurit itu tidak begitu menghiraukannya. Setelah membungkukkan kepalanya, maka prajurit itu-pun kemudian memandang lagi kejauhan dengan tatapan mata yang kosong.
Sejenak kemudian maka Anusapati-pun melangkah kembali masuk ke dalam bilik ibunya. Ternyata ibunya berbaring seorang diri. Adik-adiknya tidak berada di dalam bilik itu.
“O, kau Anusapati,” sapa Ken Dedes yang kemudian segera bangkit dari pembaringannya. “Duduklah.”
Anusapati-pun kemudian duduk diatas sebuah dingklik kayu yang rendah di samping pembaringan ibunya itu.
“Baru saja Mahisa Wonga Teleng meninggalkan bangsal ini,” berkata Ken Dedes kemudian, “adik-adikmu yang lain ikut bersamanya.”
“O,” Anusapati mengangguk.
“Aku sudah menyangka bahwa kau akan kemari.”
Anusapati mengerutkan keningnya. Dan ibundanya berkata pula, “Apakah kau sudah menemui pamanmu?”
Anusapati mengangguk, “Ya ibunda, hamba baru saja menghadap Pamanda Mahisa Agni.”
Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam. Semuanya memang harus berakhir. Dan kedatangan Anusapati kini adalah permulaan dari akhir yang bagaimana-pun bentuk ujudnya.
Dengan dada yang berdebar-debar ia bertanya, “Apakah pamanmu mengatakan sesuatu kepadamu?”
Anusapati menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Tidak ibu. Pamanda Mahisa Agni tidak mengatakan apa-apa kepada hamba, selain beberapa macam nasehat.”
“O,” Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Dan Pamanda Mahisa Agni mengharap hamba untuk dengan tenang menghadapi segala macam masalah. Hamba tidak boleh kehilangan akal dan bertindak tergesa-gesa.”
Ken Dedes mengangguk-angguk pula. Katanya, “Memang semuanya harus segera menjadi jelas. Ibulah yang berkewajiban untuk mengatakan kepadamu.”
Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Rasa-rasanya ia berdiri di hadapan sebuah ruang yang gelap pekat. Seseorang siap untuk menyalakan obor di dalamnya. Dan ia akan melihat isi dari ruang yang akan segera menjadi terang. Mungkin di dalam ruang itu ada seekor harimau yang siap menerkamnya, atau seekor ular raksasa, atau seekor banteng dengan tanduknya yang runcing. Ia sama sekali tidak dapat membayangkan bahwa di dalam ruang yang gelap itu terdapat seekor burung merak yang indah atau seekor kijang yang jinak.
Karena itulah maka Anusapati menjadi berdebar-debar. Jantungnya semakin lama semakin keras berdetak dan rasa-rasanya darahnya menjadi semakin cepat mengalir.
Tetapi justru karena itu ia ingin segera melihat, rahasia apakah yang sebenarnya tersimpan di rongga dada ibundanya.
“Mungkin perasaan ibunda akan menjadi ringan setelah ibunda melepaskan rahasia yang agaknya sudah lama tersimpan itu,” berkata Anusapati di dalam hatinya, “apa-pun akibatnya buat aku dan adik-adikku.”
Sejenak kemudian Anusapati mengangkat wajahnya ketika ibunya berkata, “Kemarilah Anusapati, mendekatlah.”
Anusapati memandang ibunya sejenak. Nafasnya terasa semakin berdesakan di lubang hidungnya.
“Sudah sepantasnya kau mendengar,” berkata ibunya, “kau sudah cukup dewasa sekarang. Bukan saja dewasa, tetapi kau sudah mempunyai seorang anak yang menjadi semakin besar pula. Dan sebaliknya, jika kalian masih akan berkembang terus, maka ibumu akan menjadi semakin layu. Seperti matahari, ibumu sudah akan tenggelam diujung Barat.”
Anusapati menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Ibunya yang kemudian berdiri dan berjalan hilir mudik itu-pun kemudian melanjutkannya, “Anusapati. Kau dapat melemparkan kesalahan kepadaku, kepada ibumu, bahwa semuanya telah terjadi dan membuat kau sangat berprihatin.”
Anusapati sama sekali tidak menjawab.
“Setiap kali kau datang kepadaku, setiap kali hatiku menangis lebih parah dari titik air mataku yang kau lihat mengalir dari pelupukku, karena aku tahu jauh lebih banyak dari apa yang aku katakan.”
Anusapati menggigit bibirnya. Ia memang sudah merasa jahwa ibunya tentu menyembunyikan sesuatu.
“Dan sekarang rahasia ini tidak dapat aku simpan lebih lama lagi justru mengingat kedudukanmu yang semakin goyah. Jika hal ini aku lakukan, sama sekali bukan karena aku inginkan untuk tetap berada pada kedudukanku yang sekarang, tetapi adalah karena suatu perbandingan, apakah yang sebaiknya terjadi di Singasari.”
Anusapati yang untuk beberapa saat hanya berdiam diri itu-pun kemudian menjawab, “Ya ibunda.”
Namun demikian, hatinya seakan-akan tidak lagi dapat malahan kesabaran untuk segera mengetahui apakah yang akan likatakan oleh ibunya itu. Tetapi ia tidak dapat menanyakannya dan memaksa ibunya untuk segera mengatakannya.
“Anusapati,” berkata ibunya, “setiap kali kau selalu bertanya, kenapa sikap Ayahanda Sri Rajasa kepadamu dan kepada adik-adikmu, terutama Tohjaya terasa tidak adil.”
Anusapati menganggukkan kepalanya.
“Anakku. Yang sudah kau lihat, kau adalah anakku, sedang Tohjaya adalah anak Ken Umang. Aku adalah seorang perempuan yang lain dari Ken Umang. Aku tidak dapat membuat Sri Rajasa mengasihi anak-anakku seperti Sri Rajasa mengasihi anak-anak Ken Umang. Dan ini adalah kesalahanku.”
Anusapati menundukkan kepalanya. Jika ibunya bersikap demikian, dan mencari kesalahan pada diri sendiri, maka persoalannya tidak akan dapat diselesaikan. Dan agaknya ia sama sekali tidak menjumpai harimau, atau seekor ular raksasa, atau seekor banteng liar bertanduk runcing di dalam ruang yang gelap itu. Tetapi ia akan melihat ibunya sedang mencekik dirinya sendiri. Dan itu tidak boleh terjadi.
“Karena itu Anusapati,” ibunya melanjutkan.
“Aku tidak ingin mendengar ibu mengutuk diri sendiri. Jika memang hal itu yang akan ibu katakan, maka agaknya lebih baik hamba tidak mendengarnya, karena hal itu justru akan menambah hati hamba menjadi semakin parah. Lebih baik ibu marah kepada hamba, atau ibu memberikan perintah untuk suatu tugas yang berat dalam usaha membebaskan diri dari ikatan yang selama ini membelenggu hati.”
Ken Dedes memandang anak laki-lakinya itu dengan hati yang pedih.
“Aku akan mengatakannya Anusapati,” berkata Ken Dedes dengan suara parau.
Anusapati mengangkat wajahnya sejenak, namun wajah itu-pun segera tertunduk kembali.
Sejenak Anusapati menunggu, tetapi ia tidak mendengar kata-kata ibunya. Bahkan ia-pun terperanjat ketika ia merasa ibunya memeluknya dari belakang dan membelai kepalanya seperti ia membelai anaknya yang masih terlalu muda. “Anusapati,” berkata ibunya, “dengarlah. Adalah wajar jika Sri Rajasa tidak mengasihmu seperti adik-adikmu, terutama Tohjaya. Bukan saja karena aku tidak dapat melayani Sri Rajasa seperti Ken Umang, tetapi ada sebab lain yang jauh lebih dalam dari perbedaan ibu itu.”
Dada Anusapati terasa berdesir mendengar kata-kata ibunya itu. Dengan penuh minat ia menatap wajah ibunya yang melanjutkan kata-katanya, “Anusapati, apakah kau sudah siap mendengar penjelasanku lebih lanjut?”
Anusapati mengangguk. Dengan suara yang dalam ia menjawab, “Hamba sudah terbiasa mendengar persoalan-persoalan yang pahit bagiku ibu. Apa-pun yang akan hamba dengar, tidak akan menggetarkan dadaku lagi.”
Tetapi ibunya menggeleng. Jawabnya, “Kau justru pernah menitikkan air mata Anusapati.”
Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menyahut.
“Dengarlah,” berkata ibunya sambil membelai rambut naknya, “mungkin kata-kataku akan terdengar aneh ditelingamu dan akan membuat hatimu sakit. Tetapi kau harus mengetahuinya.” suara abunya menjadi sendat. Tetapi diteruskannya, “Sebenarnyalah bahwa kau bukan putera Sri Rajasa.”
“Ibu,” Anusapati hampir terpekik. Tetapi ibunya memeluknya erat-erat.
“Ya Anusapati. Kau lahir bukan karena tetesan darah Ken Arok yang sekarang bergelar Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi.”
Kata-kata ibunya itu cukup jelas terdengar ditelinga Anusapati. Betapa-pun ia menjaga keseimbangan perasaannya, namun tiba-tiba saja ia terlonjak berdiri sambil mengibaskan pelukan ibunya. Dengan sorot mata yang seakan-akan menyala ia memandang Permaisuri dengan tajamnya.
“Jadi, jadi,” suara Anusapati tergagap.
Namun dalam pada itu, setelah melepaskan kata-kata yang selama ini membebani perasaannya, justru Ken Dedes menjadi tenang. Didekatinya anaknya sambil berkata, “Anusapati. Itulah kenyataanmu anakku.”
“Jadi-jadi, jadi, siapakah hamba sebenarnya? Apakah hamba juga bukan putera ibunda Permaisuri?”
“Kau anakku Anusapati. Aku adalah ibumu. Ibu kandungmu.”
“Tetapi kenapa aku bukan putera Sri Rajasa? Apakah, apakah pernah terjadi sesuatu …. “ Anusapati tidak dapat meneruskan kata-katanya.
Namun agaknya ibunya mengerti apa yang tersirat dihati anaknya sehingga ia menyahut, “Tidak Anusapati. Tidak ada pelanggaran pagar ayu dan tidak ada perbuatan terkutuk di masa kegadisanku. Tetapi sebenarnyalah bahwa aku kawin dengan Sri Rajasa setelah aku menjadi janda.”
“Ibu,” mata Anusapati terbelalak karenanya.
“Kau adalah Putera Akuwu Tunggul Ametung yang dahulu berkuasa di Tumapel. Sri Rajasa yang kemudian menggantikan kedudukannya, berhasil mempersatukan Tumapel dan Kediri serta daerah-daerah lainnya sehingga disebutnya kemudian Singasari. Sebagian dari perjuangan Sri Rajasa mempersatukan Singasari pasti masih ada yang kau ingatnya.”
Anusapati berdiri tegak seperti patung. Meskipun benar seperti apa yang dikatakannya, bahwa ia sudah terbiasa mendengar kata-kata keras, kasar dan sindiran-sindiran tajam yang menyakiti hatinya, namun pengakuan ibunya itu benar-benar telah membuatnya bagaikan kehilangan perasaan. Bahkan bagaikan kehilangan dirinya sendiri.
“Anusapati,” berkata ibunya kemudian, “cobalah kau menanggapi hal ini dengan sikap dewasa. Bukankah kau sudah siap mendengar keteranganku yang bagaimana-pun pahitnya bagimu.”
Anusapati masih belum menjawab. Namun tiba-tiba saja tangannya menjadi gemetar. Dari sela-sela bibirnya terdengar ia menggeram, “Ibu, jika demikian, maka Tohjaya sama sekali tidak ada hubungan darah dengan hamba.”
Ibunya termangu-mangu sejenak. Namun ia-pun kemudian mengangguk.
“Jika demikian apa gunanya hamba selama ini merendahkan diri dan membiarkan diriku dihinakannya.” tiba-tiba wajah Anusapati menjadi tegang, “Hamba tidak peduli lagi akan anak itu. Hamba harus membuat perhitungan.”
“Anusapati.”
Anusapati tidak menghiraukannya. Wajahnya sudah menjadi semerah nyala di matanya. Namun sesaat sebelum ia meloncat, ibunya sudah berlari memeluknya. Dengan nada yang dalam ibunya berkata, “Anusapati. Kau sudah berjanji untuk mendengar keteranganku dengan hati yang tenang. Jangan tergesa-gesa berbuat sesuatu.”
“Lepaskan hamba ibu. Lepaskan. Buat apa hamba membiarkan diriku terhina jika aku sama sekali tidak mempunyai hubungan apa-pun dengan Tohjaya? Hanya karena hamba hormat kepada Sri Rajasa yang hamba anggap ayah kandung, itulah hamba tidak berbuat apa-apa atasnya. Tetapi ternyata bahwa hamba bukan anak Sri Rajasa.”
“Tenanglah Anusapati. Semua tindakan yang tergesa-gesa tidak akan menguntungkan. Tentu Sri Rajasa tidak akan membiarkan anaknya mengalami bencana.”
“Biarlah hamba dibunuhnya. Tetapi hamba mendendamnya.”
“Jangan memanjakan dendam di dalam hati. Tenanglah.”
Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Pelukan ibunya terasa semakin erat di tubuhnya. Bahkan kemudian setitik air yang hangat meleleh ditangannya.
“Anusapati, aku adalah ibumu. Apakah kau masih mau mendengarkan kata-kataku.”
Anusapati tidak menjawab. Tetapi ia tidak beranjak dari tempatnya.
“Anusapati, apakah kau masih mau mendengar keteranganku?”
Bersambung...!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar