BARA DI ATAS SINGGASANA : JILID-17-02
“Jadi, nanti malam kita akan mendekati padukuhan itu.”
“Siapa yang akan pergi?”
“Aku,” jawab Senapati itu, “bersama kedua petugas sandi. Tetapi karena keadaan yang berubah, aku memerlukan kesiagaan kalian kalau terjadi sesuatu. Pasukan ini-pun akan bergerak mendekati gumuk itu. Tetapi tidak akan berbuat apa-apa kalau tidak ada perintahku karena keadaan memaksa. Pasukan ini akan bersiaga agak jauh dari padukuhan terpencil itu, tetapi setiap saat dapat langsung terjun ke medan apabila diperlukan.
Prajurit-prajurit yang mendengarkannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan kepada mereka-pun Senapati itu memberikan beberapa gambaran tentang padukuhan terpencil itu.
“Sekarang, siapkan pasukan ini sebaik-baiknya. Kita sudah cukup beristirahat, dan kita masih mempunyai waktu setengah hari sebelum senja. Kita akan berangkat setelah menjadi agak gelap.”
“Baiklah, kita akan bersiap-siap” jawab beberapa orang hampir berbareng.
Namun salah seorang prajurit yang diserahi tugas mengawal Anusapati bertanya, “Bagaimana dengan Putera Mahkota?”
“Tentu bersama kami. Tetapi jagalah baik-baik. Mudah-mudahan malam nanti tidak terjadi sesuatu, sehingga kami akan bergerak setelah aku mendapat gambaran yang jelas.”
Demikianlah, maka pasukan kecil itu telah mulai berkemas-kemas. Yang masih merasa lelah, berusaha beristirahat sebaiknya sebelum menjalani tugasnya yang baru.
Dalam pada itu, Anusapati yang telah bangun dan bangkit dari pembaringannya dibalik batu itu-pun segera mendengar pula rencana gerakan pasukan kecil itu dimalam nanti.
“O, kita akan menyerang di malam hari?” ia bertanya kepada seorang prajurit yang memberitahukan kepadanya.
“Tidak tuanku. Kita hanya berjaga-jaga. Tetapi apabila terjadi sesuatu dengan Senapati dan petugas-tugas sandi itu, kita akan melindunginya.”
“Jadi kita akan bertempur dimalam hari?”
“Tidak. Tidak. Hanya apabila terpaksa saja.”
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia telah membayangkan, apa yang akan dilakukannya malam nanti. Sebenarnya ia ingin juga melihat padukuhan itu dari dekat. Mungkin ia akan mendapat bahan yang cukup untuk mempertimbangkan sikapnya menghadapi keadaan. Apakah ia akan tetap menjadi seorang prajurit kecil atau ia harus berbuat jauh lebih banyak lagi.
“Mudah-mudahan aku mendapat kesempatan. Menilik sikap dan sambutan yang diberikan oleh orang-orang padukuhan itu, ketiga tamu berkuda itu pasti orang-orang yang mempunyai banyak kelebihan dari mereka, sehingga menghadapi mereka bertiga, aku harus berhati-hati,” berkata Anusapati itu di dalam hatinya.
Demikianlah, semakin rendah matahari, pasukan itu menjadi semakin sibuk mengemasi kelengkapan masing-masing.
Ketika senja kemudian turun perlahan-lahan, maka pasukan kecil itu telah berada dalam kesiagaan tertinggi. Seakan-akan mereka telah menghadapi lawan yang siap untuk bertempur pula. Senjata mereka telah berada di lambung, dan bekal yang tidak ada hubungannya dengan pertempuran, mereka tinggalkan di atas pepohonan atau begitu saja diletakkan di atas bebatuan, karena isinya yang memang sudah hampir habis.
“Apakah tuanku sudah bersiap?” bertanya Senapati itu kepada Anusapati.
“Ya, aku sudah siap.”
“Sebaiknya tuanku mempergunakan perisai. Kalau kita benar-benar akar bertempur, maka perisai itu perlu sekali bagi tuanku.”
“Kenapa aku harus mempergunakan perisai, sedang yang lain tidak?”
“Beberapa orang juga membawa perisai seperti tuanku lihat sendiri. Bukankah dengan perisai, kita menjadi lebih aman.”
“Perisai hanya akan mengganggu saja. Aku tidak akan leluasa mempergunakan pedangku.”
“Diperkelahian seorang lawan seorang memang kadang-kadang perisai tidak menguntungkan. Tetapi di peperangan semacam ini, tuanku akan memerlukannya.”
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Dilihatnya beberapa orang prajurit membawa perisai pula. Tetapi prajurit-prajurit yang terpilih justru tidak mempergunakan perisai.
Namun Anusapati harus menurut petunjuk itu supaya apabila terjadi sesuatu, Senapati itu tidak merasa bersalah. Sehingga dengan demikian Anusapati-pun memilih perisai yang paling sesuai baginya. Sebuah perisai yang memanjang dan berwarna kelam.
Demikianlah, maka pasukan kecil itu-pun segera bergerak meninggalkan tempatnya, menuruni tebing yang rendah dan menyusup di antara hutan rindang. Kemudian mereka-pun sampai ke padang ilalang dan pohon-pohon perdu.
Sejenak kemudian, dari kejauhan mereka telah melihat warna kemerah-merahan di atas pepohonan. Dan sejenak kemudian tampaklah nyala api dipadukuhan terpencil itu. Agaknya mereka sedang mengadakan suatu perayaan untuk menyambut tamu mereka dengan makan-makan dan minum tuak di halaman sambil menghangatkan diri di samping sebuah perapian.
Perlahan-lahan pasukan kecil itu bergerak maju. Semakin lama semakin dekat. Namun sebelum mereka melihat dengan jelas apa yang terjadi. Senapati itu sudah memerintahkan mereka berhenti.
“Kalian tinggal di sini. Aku akan mendekat. Kalau terjadi sesuatu, aku akan memanggil kalian. Aku kira suaraku dapat mencapai jarak ini. Tetapi ingat, jangan membuat pertanda apa-pun yang dapat menarik perhatian mereka. Sebenarnya jarak ini tidak terlampau jauh.”
Prajurit-prajuritnya mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun sebelum Senapati itu melangkah, Anusapati bertanya kepadanya, “jadi aku ikut dengan kau?”
“Jangan tuanku. Tuanku tinggal bersama pasukan ini.”
“Tetapi bukankah aku bertugas untuk ikut mengintai sarang lawan?”
“Tetapi kita menghadapi keadaan yang agak lain. Di padukuhan itu ada seorang tamu yang agaknya cukup penting diikuti oleh dua orang pengiringnya.”
“Kebetulan sekali. Aku ingin melihat, siapakah mereka itu?”
“Jangan tuanku. Biarlah hamba bertiga saja berangkat lebih dahulu. Hamba ingin meyakinkan keadaan. Barulah hamba akan mengambil sikap tertentu.”
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Beberapa orang prajurit memandang Anusapati dengan tegangnya. Agaknya Putera Mahkota yang belum berpengalaman itu sama sekali tidak menyadari bahaya yang tersembunyi dibalik pagar padukuhan itu. Seakan-akan Putera Mahkota itu sedang berburu kijang yang sama sekali tidak akan membahayakan. Tetapi kali ini mereka tidak sekedar berburu kijang. Kali ini mereka memburu penjahat-penjahat yang bersenjata dan bahkan telah timbul suatu keadaan di luar perhitungan mereka.
Dengan demikian, maka Anusapati terpaksa tinggal bersama para prajurit yang lain di balik semak-semak yang rimbun. Ia hanya dapat memandang ke kejauhan, kepada api yang menyala dan memancarkan cahayanya kededaunan dan atap-atap rumah.
Sepeninggal Senapati itu Anusapati meletakkan perisainya sambil bersungut-sungut, “Buat apa aku membawa perisai kalau aku hanya akan tidur disini?”
“Tuanku,” berkata prajurit yang harus memimpin pasukan sementara Senapati itu pergi, “keadaan memang cukup berbahaya. Tetapi mungkin pula tidak, karena kita belum tahu pasti apa yang terjadi dipadukuhan itu. Kalau tamu yang datang itu sekedar tamu-tamu terhormat yang tidak mempunyai kemampuan dalam olah kanuragan, maka keadaannya sama sekali tidak akan menegangkan urat syaraf. Tetapi kalau mereka termasuk orang-orang penting dan bahkan mungkin pemimpin-pemimpin perampok dari kelompok-kelompok yang lain, maka semuanya harus diperhitungkan sebaik-baiknya.”
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Tiba-tiba ia berkata, “Bagaimana kalau aku tidur sebentar?”
“Tidur? Didalam keadaan ini tuanku akan tidur?”
“Bukankah masih ada waktu untuk beristirahat sebentar? Seandainya ada sesuatu yang terjadi, tentu tidak akan begitu tiba-tiba saja. Kalau perlu bangunkan aku.”
“Dimana tuanku akan tidur?”
“Digerumbul itu.”
Pemimpin prajurit itu mengerutkan keningnya. Sejenak dipandanginya kawan-kawannya untuk mendapatkan pertimbangan.
“Tetapi,” bertanya salah seorag dari mereka, “kalau tuanku terkejut, maka tuanku akan menjadi pening.”
Anusapati mengerutkan keningnya. Ditatapnya wajah prajurit itu sejenak, lalu jawabnya, “Tentu di dalam keadaan yang memaksa, mau tidak mau aku akan bangun. Meskipun aku akan pening sejenak, namun pemusatan perhatian terhadap sesuatu akan segera menyembuhkannya.”
Prajurit itu menarik nafas dalam-dalam. Sejenak ia menjadi agak bingung. Namun kemudian ia berkata, “Tetapi dalam keadaan ini sebaiknya tuanku tidak tidur. Semua prajurit harus berada di dalam kesiagaan penuh menghadapi setiap kemungkinan yang dapat terjadi.”
“Tetapi bukankah belum pasti ada persoalan di antara kita dengan orang-orang itu sekarang? Barangkali akan lebih baik apabila setiap prajurit mendapat kesempatan untuk tidur sejenak. Mereka akan menjadi segar dan segenap kekuatan mereka akan pulih kembali.”
“Waktu beristirahat sudah cukup tuanku. Justru sudah berlebihan.”
Anusapati mengerutkan keningnya. Lalu, “Baiklah. Aku tidak akan tidur. Aku hanya akan berbaring saja di dalam gerumbul itu. Kalau ada sesuatu, lemparlah aku dengan batu. Aku akan segera datang.”
Prajurit itu menjadi termangu-mangu sejenak. Agaknya Putera Mahkota sudah mulai jemu melakukan tugas seorang prajurit yang berat. Ia mulai menuruti keinginannya sendiri.
Meskipun demikian prajurit itu berkata, “Tuanku. Tuanku dapat saja berada di gerumbul itu. Tetapi sebaiknya tuanku tidak tidur. Sebaiknya tuanku ikut memperhatikan perkembangan keadaan sehingga setiap saat tuanku siap untuk bertindak apa-pun juga sebagaimana seorang prajurit.”
“Ya, ya. Aku tidak akan tidur. Kalau kau memerlukan aku, kau tidak perlu datang ke gerumbul itu. Seperti sudah aku katakan, lempar saja dengan batu. Aku akan datang.”
Tetapi sebelum Anusapati pergi, prajurit itu berkata, “Sebaiknya seorang prajurit tidak meninggalkan kelengkapan perangnya. Perisai tuanku tertinggal di sini.”
“O,” dengan segannya Anusapati memungut perisainya, lalu melangkah meninggalkan prajurit itu menuju ke sebuah gerumbul di balik sebuah batu.
Beberapa orang prajurit mengawasinya selagi ia melangkah meninggalkan tempatnya. Tetapi tidak seorang-pun yang berani bertanya. Salah seorang dari mereka berkata, “Agaknya tuanku Putera Mahkota masih terlampau lelah.”
Prajurit yang untuk sementara memimpin pasukan itu selama Senapatinya mendekati padukuhan terpencil itu mengangguk. Katanya, “Sebenarnya aku kasihan juga melihatnya. Ia tentu terlampau lelah. Tetapi agaknya ia menjadi kecewa juga, karena ia tidak diperkenankan mengikuti penyelidikan yang sedang dilakukan, karena hal itu akan sangat berbahaya baginya. Sedang tuanku Putera Mahkota agaknya tidak mengenal bahaya itu seakan-akan ia sedang pergi berburu.”
Prajurit-prajurit yang lain mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun mereka melihat, bahwa sesungguhnya Anusapati memiliki niat yang mantap untuk melakukan tugas-tugas keprajuritan, meskipun ia masih memerlukan pengalaman untuk memantapkan sikapnya.
Tidak seorang-pun yang mengusik ketika Anusapati kemudian berbaring di pinggir gerumbul di belakang sebuah batu. Sejenak ia terbatuk-batuk. Namun sejenak kemudian suaranya tidak terdengar lagi.
“Mungkin Putera Mahkota itu tertidur,” desis salah seorang prajurit.
“Ingat, kalau terjadi sesuatu Putera Mahkota itu jangan dilupakan. Begitu kita mendapat isyarat, begitu kita berlari-lari sehingga kita tinggalkan saja Putera Mahkota itu seorang diri,” berkata yang lain.
“Tentu tidak. Kami akan melemparkan batu untuk membangunkannya.”
“Lebih baik goyang kakinya.”
“Biarkan saja ia tidur,” berkata prajurit yang lain, “agaknya kita tidak akan berbuat apa-apa malam ini. Kita baru akan mendapat keterangan tentang tamu-tamu itu. Kalau kita tidak segera mendapat perintah untuk berbuat sesuatu, sebaiknya kita menyimpan tenaga untuk bosok. Kita dapat berganti-gantian tidur disini.”
Yang lain-pun mengangguk-anggukkan kepala. Memang mereka belum dapat menentukan apa yang akan mereka lakukan malam itu.
Namun dalam pada itu, selagi para prajurit itu berbicara di antara mereka, Anusapati sudah tidak berada di tempatnya. Diam-diam ia bergeser pergi, menyusul Senapati dan kedua petugas sandi. Di malam hari Anusapati merasa lebih aman, karena orang lain tidak akan mudah melihatnya.
Sejenak kemudian Anusapati telah berhasil mengikuti jejak pemimpin pasukannya bersama kedua petugas sandi. Meskipun mereka hanya sekedar berbisik-bisik, tetapi telinga Anusapati yang tajam segera menangkapnya dan menemukan di mana mereka bersembunyi.
Ternyata mereka bertiga-pun tidak segera mendekat. Mereka agaknya menjadi sangat berhati-hati. Untuk beberapa lamanya, mereka bersembunyi di balik batu yang besar, di antara pohon-pohon perdu, sehingga Anusapati segera dapat menemukan mereka.
Baru ketika malam menjadi semakin malam, dan api yang menyala di halaman itu menjadi semakin redup, Senapati dan kedua petugas sandi itu-pun mulai bergerak mendekat.
Dengan hati-hati sekali mereka memanjat tebing yang tidak begitu tinggi di arah yang bertentangan dengan letak gerbang padukuhan itu. Ketika mereka mencapai dinding-dinding batu, mereka sejenak diam menunggu. Ternyata masih ada beberapa kesibukan di dalam padukuhan kecil itu, sehingga mereka-pun tidak segera berbuat sesuatu.
Anusapati yang mengikuti mereka bertiga itu-pun berhenti pula beberapa langkah di belakang mereka. Di balik gerumbul yang agak rimbun. Namun dari tempatnya, Anusapati juga dapat mendengar kesibukan di dalam padukuhan kecil itu. Tetapi ia tidak dapat melihatnya.
Sejenak Anusapati berpikir. Ia ingin dapat melihat ke dalam, tetapi tidak kehilangan ketiga prajurit itu. Kalau di saat wajar, ketiga prajurit itu mencemaskan kepada Anusapati, namun disaat-saat yang gawat itu, justru Anusapatilah yang mencemaskan nasib mereka, karena sepengetahuannya, meskipun ketiganya adalah prajurit pilihan, yang mempunyai kelebihan dari prajurit-prajurit yang lain, namun menghadapi orang-orang yang memiliki ilmu yang tinggi, agaknya masih menemui kesulitan juga.
Namun dalam pada itu, padukuhan itu-pun semakin lama menjadi semakin sepi. Satu-satu mereka masuk ke dalam rumah dan satu-satu obor di halaman-pun menjadi padam. Agaknya mereka sudah lelah dan kenyang, sehingga sambutan makan minum bagi ketiga tamu mereka itu-pun sudah berakhir.
Ketiga prajurit Singasari yang masih berada di luar dinding batu itu-pun menjadi semakin mendekat. Salah seorang dan mereka mencoba berdiri beralaskan sebuah batu untuk menjenguk keadaan di dalam dinding batu.
“Sepi,” desisnya.
“Tunggu sebentar,” berkata Sempati itu, “sebentar lagi kita masuk.”
Kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya, sementara Anusapati mengerutkan keningnya. Katanya di dalam hati, “Prajurit-prajurit Singasari memang prajurit-prajurit yang berani. Mereka tidak segan masuk ke sarang serigala untuk melakukan tugasnya. Namun kali ini mereka benar-benar telah melakukan tugas yang berbahaya.”
Namun Anusapati tidak mencegah mereka. Dipandanginya saja dengan dada yang berdebar-debar, ketiga orang itu kemudian satu demi satu memanjat dan meloncat ke dalam.
Anusapati-pun tidak tinggal diam. Sejenak ia menunggu. Kemudian ia-pun menjengukkan kepalanya dengan hati-hati. Ketika ketiga orang ia tidak lagi memperhatikan dinding batu di belakangnya, maka ia-pun segera meloncat dibalik sebatang pohon yang besar, sehingga ketiga prajurit Singasari itu tidak melihatnya.
Agaknya kelelahan dan makan yang terlampau banyak, membuat orang-orang di padukuhan kecil itu segera tertidur. Tidak ada lagi suara apa-pun hampir di setiap rumah.
“Kita lihat rumah yang paling mungkin dipergunakan oleh ketiga tamu itu,” desis Senapati itu.
Kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan ketiganya-pun kemudian merayap semakin ke tengah, menyusup di antara pepohonan dan pagar batu yang rendah.
Mereka-pun kemudian sampai di belakang halaman yang luas dan berpagar agak tinggi. Di halaman masih berserakan bekas makan dan minum yang belum sempat dibersihkan.
“Agaknya rumah inilah yang mereka pergunakan sebagai pusat pimpinan mereka,” desis Senapati itu.
Kedua petugas sandi itu menganggukkan kepalanya hampir berbareng. Tetapi mereka tidak menyahut.
Sejenak mereka menunggu. Ketika mereka kemudian bergeser sedikit ke samping, mereka melihat dua orang pengawal lewat menyilang halaman.
“Masih ada juga yang berjaga,” desis salah seorang prajurit sandi itu.
“Ya. Dengan demikian kita dapat memastikan bahwa, di sinilah tamu-tamu itu ditempatkan.” jawab Senapati itu.
“Kita akan mendekat,” berkata prajurit sandi yang lain.
“Ya. Kita akan mendekat. Tetapi salah seorang dari kita akan mengawasi keadaan.”
“Ya. Kita masuk bersama-sama. Kita bersembunyi di longkangan belakang rumah itu. Dari sana kita dapat mendengar kalau masih ada pembicaraan di dalam rumah itu, sedang dari sana kita dapat mengawasi keadaan di bagian belakang rumah itu.”
Ketiganya-pun kemudian meloncat masuk dan lewat kebun belakang yang agak rimbun mereka mendekati rumah itu. Di belakang rumah itu terdapat sebuah kandang yang kosong dan setumpuk kayu bakar.
Ketiga orang itu-pun segera bersembunyi di sebelah kandang di balik setumpuk kayu. Dengan sangat hati-hati Senapati itu mencoba memperhatikan keadaan di sekitarnya.
“Kau tinggal disini,” katanya kepada salah seorang petugas sandi, “aku berdua akan mencoba memperhatikan keadaan di bagian dalam.”
“Kalian akan masuk?”
“Ya. Kami akan memanjat regol butulan yang langsung masuk ke longkangan belakang. Mudah-mudahan orang-orang di dapur sudah tertidur nyenyak.”
Petugas sandi yang seorang itu mengangguk.
Anusapati menjadi berdebar-debar. Tindakan Senapati itu memang sangat berbahaya. Tetapi memang tidak ada jalan lain untuk mengetahui keadaan di dalam rumah itu.
Dengan penuh kewaspadaan, bahkan kedua orang itu sudah menggenggam masing-masing sebilah pisau yang siap dipergunakan setiap saat, mereka-pun memanjat regol butulan. Sejenak mereka menjenguk ke dalam. Tetapi karena tidak mendengar suara apapun, bahkan desah natas-pun tidak, mereka-pun segera meloncat ke dalam.
Ternyata tidak seorang-pun berada di dapur. Agaknya dapur itu memang tidak dipergunakan, karena tidak ada bara sepeletik-pun didalam perapian. Bahkan perapian itu sudah dingin sama sekali. Agaknya mereka telah mempergunakan rumah sebelah untuk memasak dan menanak nasi yang berlimpah-limpah banyaknya.
Sejenak mereka berdua berdiri termangu-mangu. Namun sejenak kemudian mereka terperanjat oleh langkah yang sedang mendekat.
Dengan tergesa-gesa keduanya segera bergeser dan bersembunyi, yang seorang dibalik geledeg kayu sedang yang lain di sisi paga yang kosong.
Sejenak kemudian pintu butulan dari ruang dalam-pun terbuka. Seorang yang bertubuh pendek besar dan berjambang panjang keluar dari pintu itu. Langkah terhuyung-huyung berpegangan pada tiang-tiang pintu. Sedang di belakangnya seorang yang bertubuh sedang mengikutinya.
“Kau benar-benar akan pulang ke gubugmu?” bertanya yang bertubuh sedang.
“Buat apa aku tetap disini menunggui orang tidur. Bukankah guru Ki Lurah itu sudah tidur.”
“Tetapi Ki Lurah sendiri masih duduk di pendapa.”
“Kau sajalah mengawaninya. Aku akan kembali ke gubug itu. Perempuan itu pasti sudah menungguku.”
“Kau mabuk?”
“Tidak, tidak. Aku tidak mabuk. Aku biasa minum tuak sampai dua tiga bumbung tanpa mabuk.”
“Macammu. Kau mabuk sekarang.”
“Tidak. Aku tidak mabuk.”
“Terserahlah.”
Orang yang pendek berjambang itu-pun kemudian melangkah sambil berpegangan dinding. Tetapi pintu longkangan juga tertutup sehingga dengan setengah sadar ia mengetuk-ngetuk pintu.
“Gila kau,” desis yang bertubuh sedang, “tidak akan ada orang yang menjaga pintu itu. Kau sendirilah yang harus membuka.”
“O,” tangannya-pun segera meraba-raba selarak, tetapi tidak juga segera diketemukan.
Orang yang bertubuh sedang itu-pun segera meloncat kepintu itu. Dengan satu hentakan, maka pintu itu sudah terbuka. “Pergilah.”
Orang gemuk itu-pun melangkah pergi. Dengan menyeret kakinya ia berjalan tertatih-tatih di kegelapan malam. Ia tidak mau lewat pintu depan, karena pemimpinnya masih duduk di pendapa beserta beberapa orang yang lain. Yang mabuk di antara mereka-pun segera berbaring di atas tikar yang sudah terbentang dipendapa itu pula. Tetapi agaknya orang gemuk itu sedang menyimpan seorang perempuan di rumahnya sehingga ia telah memaksa dirinya untuk kembali ke pondoknya.
Senapati dan seorang petugas sandi yang menyertainya menjadi berdebar-debar. Mereka kini mendapat sebuah keterangan yang sangat penting bagi mereka. Tamu itu adalah guru dari pemimpin gerombolan yang tinggal di padukuhan kecil ini.
Sejenak mereka termangu-mangu sambil menahan nafas, sampai orang yang bertubuh sedang itu hilang di balik pintu butulan dari ruang dalam, dan pintu itu-pun kemudian tertutup pula rapat-rapat.
Petugas sandi yang menunggu di luar-pun melihat pula orang gemuk yang agak mabuk itu berjalan terhuyung-huyung dikebun belakang. Tetapi ia tidak berbuat apa-apa, supaya kehadiran mereka bertiga tidak meninggalkan kesan apa-apa.
Ketika suasana di belakang rumah itu telah menjadi sunyi kembali, maka Senapati itu-pun memberikan isyarat kepada kawannya untuk mendekat.
“Kita berhadapan dengan orang yang agak lain dari yang kita perhitungkan,” bisik Senapati itu.
Kawannya menganggukkan kepalanya. Desisnya, “Bahkan guru pemimpin dari gerombolan ini.”
“Kita harus berhati-hati.” Kawannya menganggukkan kepalanya.
“Kita kembali kepada pasukan itu. Kita bicarakan apa yang sebaiknya kita lakukan.”
Sekali lagi kawannya menganggukkan kepalanya.
Demikianlah maka kedua orang itu-pun segera meninggalkan dapur yang tidak dipergunakan lagi itu. Setelah mereka berada di luar, maka diajaknya petugas yang seorang itu-pun pergi bersama mereka.
Dalam pada itu, Anusapati-pun masih juga mengikuti mereka. Ia-pun mendengar apa yang dibicarakan oleh kedua orang anggauta gerombolan dipintu butulan. Ia-pun mengetahui, bahwa tamu yang dihormati itu adalah guru dari pemimpin gerombolan yang tinggal dipadukuhan kecil itu.
Ketiga orang prajurit Singasari itu-pun segera menyusup di antara tetumbuhan dan pagar-pagar batu menjauhi rumah yang dipergunakan oleh para tamu yang terhormat itu. Beberapa langkah di belakang mereka, Anusapati-pun selalu mengikutinya.
Namun ketika mereka sudah hampir sampai di dinding padukuhan itu, Anusapati terkejut. Ia merasa bahwa sesuatu yang tidak dikehendaki telah terjadi. Telinganya yang tajam telah mendengar desir kaki. Bukan kaki ketiga prajurit itu.
Karena itu, sambil menahan nafas ia meloncat masuk ke dalam sebuah kebun yang agak rimbun. Sejenak ia merunduk sambil melekatkan tubuhnya pada pagar dinding.
Tetapi Anusapati tidak mendengar apa-pun lagi. Meskipun ia tetap tidak bergerak sama sekali, namun ia tidak mendengar dan tidak melihat seorang-pun yang lewat.
Dengan demikian Anusapati menjadi semakin berdebar-debar. Agaknya bukan saja telinganya yang mendengar betapa-pun lemahnya, tetapi terlebih-lebih dari itu adalah firasatnya.
Pasti ada orang yang mengikuti kami meskipun agak jauh.
Anusapati-pun segera bangkit. Ia tidak mau kehilangan pengawasan atas ketiga prajurit itu, sehingga dengan demikian, meskipun ia tetap berhati-hati, berusaha menyusul ketiga prajurit yang telah mendahuluinya.
Demikianlah, maka di malam yang semakin gelap itu, Anusapati melangkah dengan sangat hati-hati. Sekali lagi firasatnya menangkap sebuah desir di sekitarnya. Dan karena itu maka ia-pun menjadi semakin berhati-hati.
Ketika Anusapati sampai di dinding batu yang mengelilingi padukuhan itu, ia berhenti sejenak. Dengan saksama diperhatikannya keadaan di sekelilingnya. Namun ia tidak mendengar apa-pun juga. Bahkan rasa-rasanya malam menjadi semakin sepi.
Tetapi ia menjadi semakin cemas atas nasib ketiga prajurit Singasari yang telah mendahuluinya. Seakan-akan tangan-tangan yang berbisa sedang terjulur untuk menerkam mereka.
“Mereka bukan kanak-anak lagi,” berkata Anusapati di dalam hatinya. Namun ia tidak dapat menyingkrkan kecemasannya.
Setelah ia menyakini kesenyapan malam di sekitar tempatnya berhenti, Anusapati-pun segera meloncati pagar batu itu. Sambil merunduk di antara pepohonan ia-pun segera menuruni tebing yang rendah di belakang padukuhan itu untuk menyusul ketiga prajurit Singasari yang telah mendahuluinya.
Sejenak kemudian langkahnya terhenti. Sekali lagi ia merasakan sesuatu bergetar di dadanya. Karena itu, maka ia-pun menjadi semakin berwaspada.
Beberapa langkah kemudian hatinya benar-benar bergejolak ketika dilihatnya tiga orang yang berjalan beberapa langkah dihadapannya. Tetapi ketiga orang itu sama sekali bukan prajurit Singasari yang sedang disusulnya.
Anusapati mengusap keningnya yang berkeringat. Ia kini harus benar-benar berhati-hati. karena dihadapannya itu pasti bukannya orang kebanyakan seperti para perampok dipadukuhan itu. Karena itu maka ia harus mengatur langkahnya sebaik-baiknya, bahkan pernafasannya. Beruntunglah ia bahwa ia dapat melihat ketiga orang itu lebih dahulu, sehingga ia dapat mengatur dirinya menghadapi setiap kemungkinan.
Agaknya ketiga orang itu masih belum mengetahui bahwa Anusapati telah melihatnya lebih dahulu.
Demikianlah ketiga orang itu berjalan dengan tergesa-gesa. Sedang Anusapati masih terus mengikutinya di belakang.
Dalam pada itu, ketiga prajurit Singasari itu-pun telah menuruni tebing yang rendah itu pula. Sejenak mereka berhenti dan berpaling. Tampak oleh mereka padukuhan itu masih tetap sunyi.
“Kita telah berhasil mengetahui keadaan yang sebenarnya dipadukuhan itu. Untunglah bahwa kita dapat mendengar bahwa yang datang adalah guru dari pemimpin perampok itu. Kalau tidak, apabila kita salah menilai kekuatan lawan, maka hal itu pasti akan sangat berbahaya. Apalagi di antara kita terdapat Putera Mahkota,” berkata Senapati itu.
“Ya. Kita sudah mempunyai bahan untuk memperhitungkannya. Sebaiknya kita harus berbuat cepat.”
“Ya. Kita harus mempertimbangkannya dengan matang.”
“Kita masih belum tahu pasti kelebihan dari guru itu. Tetapi kemampuannya tentu jauh lebih besar dari pemimpin perampok itu sendiri. Bahkan mungkin kedua orang yang menyertainya itu-pun termasuk orang-orang yang pilih tanding.”
“Kemungkinan itulah yang harus segera kita bicarakan. Apakah kita akan menyerang mereka dengan tiba-tiba untuk mengurangi kemungkinan-kemungkinan perlawanan yang kuat, karena dengan serangan yang tiba-tiba itu kita akan mendapat kesempatan lebih dahulu mengurangi kekuatan lawan. Dengan demikian kita sempat menyusun kelompok-kelompok kecil untuk melawan orang-orang pilihan di antara mereka. Atau kita akan menentukan sikap yang lain.”
“Baik. Marilah kita kembali. Kita akan berbincang.” Ketiga prajurit itu-pun segera meneruskan langkahnya.
Tetapi baru selangkah mereka maju, tiba-tiba mereka terkejut ketika mereka mendengar suara dibalik gerumbul, “Kalian tidak akan sempat memperbincangkan dengan siapapun. Akulah orang yang kalian maksud. Akulah guru dari pemimpin perampok itu.”
Dada ketiga prajurit itu-pun tergetar mendengar kata-kata itu. Namun sebagai seorang prajurit, maka dengan gerak naluriah mereka-pun segera mempersiapkan diri menghadapi setiap kemungkinan.
“Nah. kau tidak usah bersusah payah mencari aku. Aku sudah datang sendiri kepadamu,” berkata guru perampok itu, “lebih baik aku memperkenalkan diriku lebih dahulu. Akulah yang disebut orang Kiai Kisi. Pemimpin perampok itu memang muridku.”
Dada ketiga prajurit Singasari itu menjadi berdebar-debar.
“Aku sangat tertarik kepada pembicaraanmu. Agaknya kau telah membawa Putera Mahkota bersamamu sekarang. Itu bagus sekali. Aku ingin mendapatkannya. Aku ingin menangkap Putera Mahkota itu agar dapat aku jadikan alat untuk memeras Sri Rajasa yang perkasa. Apabila Putera Mahkota ada di tanganku, maka semua permohonanku pasti akan dikabulkan.”
“Persetan,” Senapati itu menggeretakkan giginya, “kau memang bodoh. Di dalam pasukan yang manapun, apabila Putera Mahkota ada bersama mereka, maka pasukan itu adalah pasukan yang tidak akan terkalahkan karena pengawalan yang sangat kuat. Kalau kau ingin menghancurkan kepalamu dan seluruh anak buah muridmu, marilah, aku tundjukkan kepadamu dimana Putera Mahkota sekarang ini berada.”
Tetapi Kiai Kisi itu tertawa. Katanya, “Kalau kau cukup kuat untuk melawan aku, kau tidak akan bingung menyusun pasukanmu. Kau tidak usah menyusun kelompok-kelompok kecil atau menyerang dengan tiba-tiba. Aku mengerti, bahwa kehadiranku di sini benar-benar tidak kau perhitungkan, sehingga dengan demikian, maka kau menjadi bingung menghadapi keadaan ini.”
“Dugaan yang sangat dangkal. Sebagai seorang prajurit kami memang harus berhati-hati. Tetapi jangan kau sangka bahwa kau tidak dapat dikalahkan.”
Kiai Kisi tertawa lagi. Justru lebih keras. Katanya, “Jangan menyembunyikan kelemahanmu. Sekarang kita berhadapan. Kami memang berhasrat membunuh kalian bertiga. Lalu kami akan menyerang kawan-kawanmu yang kini sedang melindungi Putera Mahkota itu. Kami ingin menangkapnya hidup-hidup.”
Senapati itu menggeretakka giginya. Namun demikian sebenarnyalah bahwa hatinya telah dicengkam oleh kecemasan. Bukan karena dirinya sendiri. Tetapi justru karena nasib Putera Mahkota yang seakan-akan telah diserahkan kepadanya.
Kalau orang yang menyebut dirinya bernama Kiai Kisi ini benar-benar orang yang tidak terkalahkan, dan kemudian berhasil menangkap putera Mahkota, maka persoalan yang semula merupakan semacam suatu alat pendadaran ini, akan menjadi suatu bencana yang sebenarnya bagi Anusapati.
Dalam kecemasan itu ia mendengar Kiai Kisi berkata, “Jangan menyesal, bahwa kalian telah terjebak dalam sarang harimau. Kalian mungkin menyangka bahwa gerombolan perampok dipadukuhan kecil itu sama sekali tidak berarti sehingga kalian telah membawa Putera Mahkota itu kemari. Tetapi bagaimana-pun juga kalian menyesal, namun kalian tidak akan mendapat kesempatan lagi untuk meninggalkan tempat ini.”
“Jangan mengigau,” bentak Senapati itu, “dengan satu isyarat aku akan dapat memanggil pasukan datang saat ini.”
“Jangan kau kira bahwa aku tidak akan terbuat serupa. Aku akan dapat memanggil para perampok yang tinggal di atas bukit kecil ini. Mereka masih belum seluruhnya tertidur. Mereka akan segera menyiapkan kawan-kawan mereka dan langsung menuju ketempat ini. Sebagian dari mereka sedang dalam keadaan agak mabuk sehingga mereka pasti akan bertempur membabi buta. Nah, apakah kira-kira pasukanmu akan mampu melawan para perampok yang sedang mabuk itu?”
“Tentu. Mereka akan dihancurkan sama sekali bersama kau dan muridmu.”
“Lucu sekali kedengarannya. Tetapi yang sekarang berhahadapan adalah kita. Kau bertiga dan kebetulan sekali aku juga bertiga. Tetapi bertiga bagimu sama sekali tidak berarti. Kedua kawanku hanya akan menjadi penonton. Aku sendiri yang akan berkelahi membinasakan kalian bertiga. Nah, terserahlah kepada kalian, apakah kalian percaya atau tidak. Kalau kalian tidak percaya, marilah kita coba. Sedangkan kalau kalian percaya, kalian dapat memanggil kawan-kawan kalian untuk mati bersama selain putera Mahkota itu.”
Senapati itu tidak menjawab. Tetapi wajahnya menjadi merah padam karena marah. Yang terdengar kemudian adalah gemeretak giginya.
“Aku akan segera mulai, bersiaplah,” berkata Kiai Kisi.
Senapati itu masih tetap berdiam diri. Tetapi ia sudah menyiapkan diri untuk menghadapi segala kemungkinan yang segera akan terjadi.
Namun demikian ia tidak segera berhasrat memanggil orang-orangnya. ia akan menjajagi dahulu ketangguhan lawannya. Hanya dalam keadaan yang memaksa ia akan memberikan isyarat, asalkan dalam keadaan demikian tidak justru akan mengacaukan anak buahnya yang sedang menunggunya, apalagi di antara mereka terdapat Putera Mahkota.
Selagi Senapati itu merenung sejenak, Kiai Kisi berkata kepada kedua pembantunya, “Menyingkirlah. Lihat sajalah bagaimana aku membunuh ketiganya dengan caraku. Tetapi kalau salah seorang dari mereka sempat memberikan isyarat kepada kawan-kawannya, salah seorang dari kalian kembali ke padukuhan untuk memanggil kawan-kawanmu kemari. Kita musnakan semua orang yang datang kemari selain Putera Mahkota yang akan menjadi tawanan kita, yang dapat kita jadikan alat pemeras yang bagi Sri Rajasa yang berkuasa di Singasari. Sebelum kita puas memeras Sri Rajasa putera Mahkota tetap kita biarkan hidup. Tetapi apabila kita sudah jemu memerasnya, maka anak itu akan kita bunuh saja.
Kemarahan dihati Senapati itu sudah tidak tertahankan lagi. Tiba-tiba saja ia meloncat menyerang Kiai Kisi dengan garangnya.
Namun ternyata Kiai Kisi benar-benar seorang yang pilih tanding. Meskipun serangan Senapati itu tiba-tiba saja meluncur seperti tatit, namun Kiai Kisi sempat mengelak sambil tertawa. Katanya, “He, ternyata prajurit Singasari dapat juga berbuat licik, yang menyerang dengan tiba-tiba sebelum memberitahukan lebih dahulu kepada lawannya.”
Tetapi Senapati itu tidak peduli. Ketika ia sadar bahwa serangannya tidak menyentuh sasarannya, maka ia-pun segera mempersiapkan serangan berikutnya.
Kedua prajurit sandi yang menyertainya itu-pun tidak tinggal diam saja melihat Senapatinya sudah mulai. Keduanya-pun segera berloncatan pula menyerang dengan cepatnya.
Namun Kiai Kisi berhasil mengelak serangan-serangan mereka dengan mudahnya. Bahkan dengan gerakan yang sederhana, hampir tidak dapat dilihat dengan mata telanjang didalam keremangan malam, ia telah menyerang lawannya pula. Sebuah pukulan yang tidak begitu keras telah mengenai punggung Senapati dari Singasari itu sehingga ia terdorong jatuh menelungkup.
Untunglah bahwa kedua kawannya cepat melakukan serangan beruntun sehingga Kiai Kisi itu harus menghindarinya.
Kesempatan itu agaknya telah dipergunakan baik-baik oleh Senapati yang terjatuh itu. Dengan cepat ia melenting berdiri dan mempersiapkan diri menghadapi setiap kemungkinan berikutnya. Apalagi kini tangannya telah menggenggam senjatanya. Sebilah pisau belati panjang di tangan kanannya dan sebuah pisau pendek di tangan kirinya. Demikian juga kedua prajurit sandi itu. Mereka-pun telah menggenggam pisau belati di tangan masing-masing.
“Kalian memang ingin mati secepat-cepatnya,” desis Kiai Kisi. Lalu, “Tetapi ternyata aku berkeputusan sebaliknya. Kalian harus mati perlahan-lahan karena kalian telah berani melawan Kiai Kisi dalam suatu perkelahian. Penghinaan itu harus kalian tebus dengan harga yang mahal sekali.”
Senapati Smgasari itu menggeram. Sejenak ia berdiri tegak bagaikan patung, sedang kedua kawannya-pun telah siap pula menghadapi lawannya yang aneh ini.
Namun, dalam pada itu, masih ada dua orang lagi yang berdiri disebelah arena. Dua orang kawan Kiai Kisi yang masih belum berbuat apa-apa. Seperti yang diperintahkan oleh Kiai Kisi, maka keduanya itu hanya sekedar melihat apa yang akan terjadi di arena.
Sejenak kemudian, maka Kiai Kisi itu berkata, “He prajurit-prajurit Singasari. Kalau kalian bersedia menyerahkan Putera Mahkota tanpa peperangan, maka kalian akan mendapat pengampunan. Kalian akan aku lepaskan untuk kembali ke Singasari. Kalau kelak kau akan digantung di alun-alun, itu bukan salahku. Justru atasanmu sendirilah yang tidak menaruh belas kasihan kepadamu dengan seluruh pasukanmu.”
“Persetan,” Senapati itu menggeram. Berbareng dengan itu maka ia-pun telah meloncat menyerang Kiai Kisi itu pula, diikuti oleh kedua kawannya berturut-turut.
Bagaimana-pun juga tiga orang prajurit pilihan dari Singasari itu tidak dapat diabaikannya. Serangan yang datang berurutan itu telah membuat Kiai Kisi sibuk menghindarinya. Namun ia-pun kemudian tidak membiarkan dirinya terus-menerus menghindar dan menghindar. Akhirnya datang juga saatnya ia mulai menyerang lawan-lawannya.
Agaknya ketiga prajurit Singasari itu bukan pula prajurit kebanyakan. Yang seorang adalah pemimpin pasukan kecil yang mendapat kepercayaan untuk membawa Putera Mahkota bersamanya, sedang yang dua orang adalah petugas-tugas sandi yang terpilih. Itulah sebabnya, maka Kiai Kisi masih juga memerlukan waktu untuk menguasai ketiganya. Bahkan ternyata bahwa perkelahian yang terjadi di antara mereka-pun menjadi semakin lama semakin seru.
“Kalian ternyata sangat memuakkan,” geram Kiai Kisi, “aku terpaksa berbuat lebih banyak lagi. Jangan kalian sangka bahwa aku sudah sampai pada puncak ilmuku.”
Ketiga prajurit Singasari itu tidak menjawab sama sekali. Mereka justru menyerang semakin dahsyat. Berurutan seperti gelombang laut yang satu-satu membentur batu-batu karang dipantai. Ternyata bahwa Kiai Kisi tidak hanya sekedar berbicara. Tandangnya menjadi semakin lama semakin mantap, sehingga segera tampak bahwa ketiga prajurit Singasari itu yang justru prajurit pilihan, telah terdesak.
Senapati Singasari itu menjadi ragu-ragu untuk bertindak selanjutnya ketika ia sadar, bahwa lawannya benar-benar seorang yang pilih tanding. Bahkan ia menjadi sangat cemas akan nasib Putera Mahkota. Di dalam perkelahian yang telah menjadi berat sebelah, meskipun ia bertempur betiga bersama kedua prajurit sandi itu, ia membayangkan, bagaimanakah kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi, baik bagi pasukan kecilnya mau-pun baik Putera Mahkota yang ada di antara mereka.
Sekilas Senapati itu melihat dua orang kawan Kiai Kisi yang masih berdiri menonton perkelahian itu, sehingga dengan demikian Senapati itu sempat membuat perhitungan, bahwa tiga orang itu akan mampu melawan paling sedikit lima orang termasuk dirinya sendiri bersama kedua petugas sandi itu.
“Keadaan yang sama sekali tidak diperhitungkan sebelumnya,” ia bergumam di dalam hatinya.
Karenan itu, ia benar-benar telah dicengkam oleh kebimbangan. Apakah ia akan memanggil kawan-kawannya, atau ia akan mencoba bertempur terus bersama kedua orang petugas sandi itu. Kalau ia bertempur terus, maka hampir dapat dipastikan bahwa ia bersama kedua petugas sandi itu akan terbunuh. Hal itu tidak akan banyak memerlukan pertimbangan seandainya dengan demikian Putera Mahkota akan dapat di selamatkan. Tetapi agaknya bagaimana-pun juga, akan sulitlah bagi Putera Mahkota untuk membebaskan diri.
Dalam kebimbangan itulah, maka Kiai Kisi menjadi semakin menguasai ketiga orang prajurit itu. Bahkan, sekali-sekali serangan Kiai Kisi telah berhasil menyentuh lawannya. Namun senjata ditangan prajurit-prajurit itu telah berhasil menahan serangan-serangan Kiai Kisi yang terlampau cepat bagi mereka.
Senapati yang semakin terdesak itu masih belum segera dapat menentukan sikapnya terhadap pasukannya. Ia sadar, bahwa Kiai Kisi tidak akan sekedar menakut-nakutinya apabila kedua kawannya atau salah seorang daripadanya akan memanggil kawan-kawannya yang meskipun sebagian dari mereka sedang mabuk. Namun melawan para perampok bersama Kiai Kisi dan kedua kawannya yang masih belum dijajagi kemampuannya itu, agaknya pasukannya akan menjumpai kesulitan.
Dalam kebimbangan itu para prajurit Singasari mendengar Kiai Kisi berkata, “He, kenapa kalian masih belum memanggil kawan-kawanmu. Panggillah agar aku segera dapat menyelesaikan pekerjaan ini. Aku-pun akan memanggil muridku dan orang-orangnya untuk segera menangkap Putera Mahkota.”
Senapati Singasari itu hanya dapat menggeram. Dicobanya untuk mengerahkan kemampuannya. Tetapi ia sama sekali tidak berdaya menghadapi Kiai Kisi yang memiliki ilmu yang jauh lebih tinggi dari mereka bertiga.
“Ternyata kalian tidak mau memanggil kawan-kawan kalian. Apakah kalian menyangka bahwa dengan demikian mereka akan dapat lolos dari tangan kami? Sayang, bahwa segala cara yang akan kau tempuh tidak akan dapat menyelamatkan pasukanmu dan Putera Mahkota. Kamilah yang akan menentukan nasib kalian yang malang itu, sehingga secara kebetulan kalian telah menjumpai kami diantara perampok-perampok yang kalian cari, yang kalian anggap telah mengganggu ketenteraman Singasari itu. Namun yang terjadi ternyata sebaliknya. Kalianlah yang akan hancur dan Putera Mahkota akan menjadi tawanan kami,” Kiai Kisi itu-pun kemudian tertawa berkepanjangan.
Senapati itu menggeretakkan gigi. Dengan segenap kemampuannya ia menyerang Kiai Kisi bersama dua orang prajurit sandi yang menyertainya. Namun serangan-serangan itu tidak banyak berarti. Meskipun Kiai Kisi harus berloncatan menghindar namun serangan-serangan itu tidak akan dapat menentukan akhir dari pertempuran itu.....
Bersambung....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar