BARA DI ATAS SINGGASANA : JILID-29-01
“Itulah kesalahan tuanku, Justru karena tuanku merasa memiliki kekuasaan yang tidak terbatas.”
“Lalu apa maumu sebenarnya.”
“Sudah hamba katakan.”
“Gila, aku tidak mau mendengar kata-katamu itu. Aku berhak mengatakan apa saja yang ingin aku katakan. Dan aku berhak memutuskan apa yang ingin aku putuskan.”
“Tuanku” berkata Sumekar yang bagaikan orang kehilangan, nalar “hamba tidak dapat membiarkan hal itu terjadi. Hamba mohon tuanku berjanji.”
“Tidak.”
“Kenapa tidak?”
“Kau gila.”
“Tidak tuanku, hamba tidak gila. Hamba ingin hal itu terjadi. Tuanku harus berjanji.”
“Aku tidak mau.”
“Jika tidak, hamba terpaksa melakukan kekerasan. Untuk kepentingan kebesaran hasil usaha tuanku atas Singasari, maka hamba terpaksa menyingkirkan tuanku.”
“Kau gila. Kau benar-benar sudah menjadi gila.”
“Tinggal ada dua pilihan. Memenuhi permohonan hamba, atau hamba terpaksa membunuh tuanku. Lihat, hamba sudah membawa pusaka yang pasti tuanku kenal.”
Sri Rajasa memandang keris di tangan Sumekar itu dengan dada yang ber-debar-debar. Ia tahu bahwa keris itu tentu jatuh ke tangan Anusapati lewat ibundanya. Maka katanya, “Kau tentu mendapat perintah dari Anusapati, atau Mahisa Agni atau bahkan dari Ken Dedes sendiri.”
“Tidak. Tidak seorang pun memerintahkan kepada-hamba. Hamba justru telah menipu tuanku Anusapati, sehingga hamba mendapatkan keris buatan Empu Gandring ini. Keris yang sudah pernah menjilat darah.”
Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu menjadi ber-debar-debar. Dipandanginya keris buatan Empu Gandring itu. Keris yang pernah dipergunakannya untuk membunuh beberapa orang. Diantaranya adalah Empu Gandring sendiri.
Sri Rajasa menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Apakah kau sudah gila? Kau tentu tahu bahwa aku adalah Sri Rajasa. Seseorang yang pernah mengalahkan dan membinasakan Maharaja di Kediri. Sekarang, kau seorang pengalasan yang bodoh mencoba untuk membunuh aku. Apapun yang kau genggam, namun tentu nyawamu sendirilah yang akan direnggut oleh ujung senjata itu. Karena itu, urungkan niatmu. Aku tidak akan menuntut hukuman apapun karena aku tahu, bahwa kau sedang terganggu syarafmu. Aku akan melupakannya. Dan kau dapat bekerja seperti biasa di taman istana Singasari ini. Tetapi, serahkan keris itu kepadaku.”
“Maaf tuanku. Hamba mohon jawaban tuanku. Apakah tuanku mengurungkan niat tuanku untuk menyingkirkan tuanku Anusapati apa tidak. Jawaban tuanku adalah jawaban seorang Maharaja yang tentu tidak akan dijilat kembali meskipun musim berubah sehari tujuh kali.”
Sri Rajasa menjadi tegang. Kemarahan yang menyala di-dadanya bagaikan membakar jantung. Namun ia masih tetap berusaha menjaga diri sebagai seorang Maharaja. Tentu tidak pantas bahwa seorang Maharaja yang besar harus berkelahi melawan seorang juru taman meskipun di dalam beberapa saat saja juru taman itu akan terbunuh. Dan apakah kata para prajurit yang bertugas di regol, bahwa dilongkangan ini terdapat mayat seorang pengalasan?
Namun tiba-tiba Sri Rajasa menggeretakkan giginya. Katanya, “Para prajurit memang terlampau malas. Kenapa mereka tidak melihat seorang pengalasan yang tiba-tiba saja sudah berada di longkangan ini?”
“Tuanku” berkata Sumekar kemudian “tuanku belum memberikan jawab.”
“Pangalasan yang dungu” berkata Sri Rajasa kemudian, “seharusnya kau dapat mengerti, bahwa usahamu ini akan sia-sia. Mungkin kau memang memiliki beberapa kelebihan karena ternyata kau dapat sampai di longkangan ini tanpa diketahui oleh seorangpun. Tetapi kau seharusnya mengerti, siapakah yang sedang kau hadapi sekarang. Karena itu, serahkan keris itu dan tinggalkan longkangan ini. Aku akan mengampunimu, karena seperti yang aku katakan, bahwa aku menganggap kau sekarang sedang dihinggapi setan, atau katakanlah bahwa kau memang mempunyai penyakit gila.”
Sumekar memang tidak melihat bahwa Sri Rajasa akan mengerti maksudnya. Karena itu maka katanya, “Ampun tuanku. Untuk kepentingan Singasari yang besar, dan sebagai timbangan yang tidak berarti bagi kesatuan Singasari yang telah tuanku bina hamba terpaksa membunuh tuanku, agar tuanku Tohjaya tidak akan mendapat kesempatan untuk menduduki tahta Singasari. Sebenarnya bukan niat hamba untuk membunuh. Tetapi apa boleh buat, karena ternyata tuanku tidak bersedia berjanji untuk tidak memberi kesempatan kepada tuanku Tohjaya yang manja dan tamak itu.”
“Pangalasan dari Batil” berkata Sri Rajasa “jangan membunuh diri disini. Jika kau memang terganggu oleh pikiran gila sehingga kau ingin membunuh diri, lakukanlah. Tetapi jangan disini.”
Sumekar memandang Sri Rajasa dari ujung rambut sampai keujung kakinya. Dan tiba-tiba saja matanya menjadi liar, sehingga sambil menggeram ia melangkah maju “Kesempatan terakhir bagi tuanku.”
Ketika kilat menyambar dilangit, Sri Rajasa melihat wajah Sumekar semakin jelas. Matanya menjadi merah dan wajah itu menegang. Tangan yang menggenggam keris itu menjadi gemetar.
Sri Rajasa ter-mangu-mangu sejenak. Se-akan-akan ia melihat dirinya sendiri ketika ia mengambil keputusan untuk membunuh Empu Gandring untuk menghilangkan jejak pembunuhan yang akan dilakukannya. Juga se-akan-akan dilihatnya bayangan dirinya sendiri pada saat ia membunuh Akuwu Tunggul Ametung di Tumapel
“Apakah memang sudah waktunya aku menebus kesalahan itu setelah aku berhasil dengan cita-citaku mempersatukan Singasari?” ia bertanya kepada diri sendiri.
“Tetapi tidak lantaran seorang pangalasan. Tidak lantaran seorang budak yang rendah. Seandainya aku akan mati juga, maka biarlah orang yang pantas telah membunuhku.”
Tetapi sekali lagi terbayang, bahwa Akuwu Tunggul Ametung pun mati dibunuh oleh seorang prajurit rendahan, Ken Arok yang pernah menjadi penghuni Padang Karautan, berkawan Maling, berselimut awan dan beralaskan bumi jika malam telah datang.
“Tuanku” berkata Sumekar, “tuanku jangan mengulur waktu untuk mendapat kesempatan memanggil para prajurit yang bertugas di depan bangsal ini. Langit yang berawan gelap dan angin yang kencang serta guruh yang bersahutsahutan adalah pertanda bahwa niatku telah mendapat restu dari Yang Maha Agung. Tuanku tidak akan dapat memanggil siapapun. juga, karena mereka tidak akan mendengar suara tuanku.”
“Pangalasan dari Batil. Aku tidak perlu memanggil siapa pun juga. Aku dapat membunuhmu seperti aku membunuh seekor lalat. Yang aku pikirkan justru bagaimana aku menyelamatkanmu dari kegilaan ini.”
“Tuanku jangan berpikir tentang hamba. Lihatlah langit yang gelap untuk yang terakhir kalinya. Hamba sudah kehabisan kesabaran dan waktu.”
Sebenarnyalah Sri Rajasa pun sudah jemu pula dengan permainan yang memuakkan itu. Karena itu, maka ia pun ingin segera mengakhirinya. Apapun yang dikatakan oleh para prajurit, bahwa di dalam longkangan itu terdapat seorang pengalasan yang mati, ia tidak peduli. Biarlah mereka membuang mayat itu seperti membuang mayat pengemis yang paling rendah derajadnya karena pengkhianatan yang gila itu.
Karena itu, maka Sri Rajasa tidak menjawab lagi. Tak menunggu Sumekar menyerangnya. Kemudian dengan sebuah pukulan ia ingin membunuhnya.
Namun melihat sikap Sumekar, Sri Rajasa menjadi heran. Sikap itu bukan sekedar sikap seorang juru taman yang bodoh, bahkan yang telah terganggu urat syarafnya. Ia melihat sikap yang lain pada juru taman itu, sehingga karena itu, maka Sri Rajasa pun menjadi curiga.
Ternyata dugaan itu benar. Untunglah bahwa ia sudah bersiap menghadapi segala kemungkinan, karena ternyata serangan Sumekar kemudian adalah bagaikan tatit yang sedang berloncatan di langit.
Sri Rajasa masih sempat mengelak. Dan dengan kemarahan yang rasa-rasanya membakar jantungnya, maka ia pun menyerang kembali dengan dahsyatnya pula.
Demikianlah maka keduanya pun segera terlihat dalam perkelahian yang sengit. Ternyata bahwa kemampuan Sumekar di luar dugaan Sri Rajasa. Ia mampu meloncat-loncat dengan lincahnya seperti anak kijang di padang yang luas.
Tetapi, lawannya adalah Sri Rajasa. Seorang yang memiliki kemampuan yang ajaib. Yang tidak dapat dimengerti oleh siapapun juga, bahkan oleh Sri Rajasa sendiri.
Dengan demikian, maka perkelahian itu pun semakin lama menjadi semakin dahsyat. Di sela-sela deru guruh di langit dan desah angin yang keras, keduanya telah mempertaruhkan jiwa masing-masing dalam perkelahian yang tiada taranya. Bahkan Sumekar tidak ragu lagi mempergunakan ilmunya yang paling menakjubkan.
Meskipun demikian, ternyata bahwa ia tidak segera dapat menguasai lawannya. Bahkan kemudian, ketika semakin lama kemampuan aji puncaknya berhasil mendesak Sri Rajasa, tampaklah, betapa kemarahan yang menyala di dalam dada Sri Rajasa itu telah mempengaruhi tata geraknya, yang semakin lama menjadi semakin kasar. Tangannya yang terayun ke segala arah, beserta kakinya yang berloncatan, membuat Sumekar kadang-kadang menjadi bingung. Namun karena Sumekar cukup memiliki bekal, maka ia pun tetap berhasil menguasai dirinya.
Namun tiba-tiba dada Sumekar menjadi ber-debar-debar semakin dahsyat. Tiba-tiba ia melihat sesuatu yang aneh. Sesuatu yang hanya pernah didengarnya. Kini ia benar-benar melihat.
Dalam perkelahian yang semakin sengit itu, tampaklah sesuatu di atas ubun-ubun Ken Arok yang kemudian bergelar Sri Rajasa itu. Cahaya yang samar-samar, yang semakin lama menjadi semakin jelas. Warna merah bara yang tampak antara ada dan tidak ada.
“Inilah pertanda kebesarannya” bertanya Sumekar kepada diri sendiri.
Namun ia sudah bertekad untuk membunuh Ken Arok itu dengan keris Empu Gandring. Keris yang pernah dibasahi dengan darah orang yang menciptakannya, Empu Gandring oleh Ken Arok itu sendiri. Sekarang keris itu menuntut imbalan yang seimbang. Darah Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi.
Tetapi tidak mudah untuk membunuh Sri Rajasa. Betapapun juga Sumekar mengerahkan segenap kemampuan yang ada padanya, namun ia tidak segera berhasil menyentuh kulit Sri Rajasa dengan ujung kerisnya, segores pun tidak. Betapa ia menghentakkan aji pamungkasnya, yang mendorong setiap tata geraknya menjadi senakin cepat dan semakin kuat, berlipat ganda, namun ternyata Sri Rajasa dapat mengimbanginya Bahkan tandangnya semakin lama menjadi semakin kasar, dan adalah di luar dugaan Sumekar, bahwa cara Ken Arok bertempur benar-benar mencerminkan tata perkelahian sesosok Hantu di Padang Karautan.
Agaknya cahaya yang kemerah-merahan itulah yang menuntun segala gerak Ken Arok yang tidak dimengertinya sendiri itu. Kemanapun ujung keris Sumekar bergerak dan menyambar, tubuh Ken Arok itu seakan-akan memiliki mata di setiap jengkal, sehingga ia masih juga mampu menghindarinya.
Bahkan kadang-kadang kecepatan gerak Ken Arok benar-benar di luar dugaan, sehingga justru Sumekar lah yang sering menjadi bingung dan kehilangan lawannya.
“Gila” Sumekar berdesis “inilah agaknya yang telah dapat menolongnya membunuh Maharaja Kediri itu. Kemampuan yang luar biasa tetapi juga betapa kasar dan liarnya. Kecepatan bergerak dan menyerang. Kadang-kadang di luar jangkauan nalar.”
Meskipun demikian Sumekar tidak gentar sama sekali. Selain aji yang pernah diterimanya dari gurunya, ia juga menggenggam sipat kandel yang jarang ada duanya di muka bumi. Keris yang memiliki kemampuan tiada taranya. Setiap sentuhan, pasti akan berarti maut.
Maka Sumekar mencoba mempergunakan keris itu sebaiknya. Diputarnya keris itu bagaikan baling-baling. Kemudian mematuk seperti mulut ular yang paling berbisa.
Tetapi ia masih belum berhasil menyentuh lawannya.
Sri Rajasa pun menjadi semakin heran melihat kemampuan Sumekar. Karena itu, maka la pun kemudian bertanya “Siapakah sebenarnya kau, dan siapakah yang menyuruhmu datang kemari?”
Sumekar tidak segera menjawab, tetapi ia menyerang semakin dahsyat, sehingga perkelahian itu pun menjadi semakin seru karenanya.
Sri Rajasa yang sudah kehilangan kesabaran itu pun kemudian menggeram “Persetan. Aku tidak peduli, siapakah yang menyuruh kau kemari. Tetapi kau memang harus segera dibinasakan.”
Demikianlah Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa, dan yang pernah merajai Padang Karautan sejak ia masih sangat muda itu, mengerahkan segenap kemampuannya oleh kemarahan yang mendesak. Karena itu, maka cahaya yang kemerah-merahan diubun-ubunnya itu menjadi semakin terang. Namun dalam pada itu kemampuannya pun se-akan-akan telah berlipat-lipat. Dengan kecepatan yang liar Sri Rajasa telah menyerang Sumekar sejadi-jadinya.
Sumekar akhirnya benar-benar telah terdesak. Ia tidak mempunyai ruang gerak isama sekali. Namun ia masih percaya kepada kerisnya. Jika ia masih sempat menggoreskannya pada tubuh Sri Rajasa, maka ia tentu akan mati. Cepat atau lambat..
Tetapi yang menjadi benar-benar di luar dugaan. Tusukan Sumekar, yang se-akan-akan merupakan kesempatan yang terbuka, ternyata telah masuk kedalam perangkap tangan Ken Arok. Sesuatu yang tidak disangka-sangka sama sekali telah menghentikan setiap harapan yang pernah tumbuh di dada Sumekar.
Ketika Sri Rajasa tampaknya lengah, maka Sumekar pun segera menusuk lambung kanannya. Namun ternyata Ken Arok masih sempat mengelak. Dan adalah di luar kemampuan Sumekar, bahwa tangan Ken Arok begitu cepatnya menangkap pergelangan Sumekar. Yang terjadi kemudian hanyalah sekejap saja ketika justru keris ditangannya, yang dipertahankan mati-matian meskipun pergelangan tangannya ditangkap oleh Ken Arok, telah dihentakkan oleh Ken Arok itu, sehingga justru telah menyentuh lengan kirinya sendiri.
“Gila, kau gila” Sumekar mengumpat sejadi-jadinya. Ia sadar apa yang akan terjadi atas dirinya. Karena itu, dengan membabi buta ia kemudian mengayunkan kerisnya bagaikan orang gila melanda Ken Arok, meskipun Ken Arok masih tetap tidak melepaskan genggamannya.
Ken Arok terkejut melihat sikap itu. Ternyata sentuhan keris Empu Gandring pada lengan Sumekar membuatnya berputus asa dan kehilangan segala macam harapan untuk tetap hidup.
Adalah di luar dugaan Ken Arok, maka keputus-asaan itu membuat Sumekar memiliki kemampuan terakhir yang tidak dapat dibayangkan. Dengan hentakan yg menyentak Sumekar berhasil melepaskan tangannya yang memegang keris dari genggaman Ken Arok. Kemudian seperti serigala lapar ia meloncat menerkam mangsanya.
Namun sekali lagi Ken Arok berhasil menghindar, sehingga Sumekar sama sekali tidak berhasil menyentuhnya.
Ternyata bahwa Sumekar telah menghentakkan segenap kekuatannya yang terakhir. Dengan demikian, ketika ia tidak berhasil menyentuh Ken Arok dan kemudian jatuh tertelungkup, maka Sumekar sudah tidak mampu bergerak sama sekali. Ia hanya dapat menggeliat sambil mengacungkan kerisnya dan berkata “Ken Arok, kau sekarang dapat melepaskan diri dari keris ini, tetapi pada suatu saat, kau akan disentuhnya juga.”
Dalam pada itu, Ken Arok berdiri dengan tegang. Sekali terdengar guruh meledak di langit, dan angin bagaikan semakin keras bertiup. Awan yang hitam bergulung-gulung hanyut di langit didorong oleh angin yang kencang.
Tiba-tiba Ken Arok terkejut ketika ia mendengar desir di atas dinding longkangan. Dengan gerak naluriah ia meloncat surut dan segera mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan.
Ternyata bahwa pada saat Sumekar kehilangan semua kekuatannya, Anusapati yang telah cukup lama mengintai perkelahian itu, tidak sampai hati membiarkannya terbaring diam. Sebagai seorang yang merasa dirinya dilindungi, dibantu dan bahkan yang terakhir, Sumekar telah berjuang untuk dirinya, Anusapati tidak dapat membiarkan Sumekar mati tanpa seorang pun yang memperhatikannya, selain pandangan yang penuh amarah dari Sri Rajasa.
Karena itulah maka ketika Sumekar telah sampai pada saat-saat menjelang akhir hidupnya, maka Anusapati telah mengabaikan segala macam akibat yang dapat terjadi atas dirinya.
“Anusapati, kau” terdengar Ken Arok berdesis.
Anusapati telah berjongkok di samping Sumekar. Dengan tatapan mata yang sayu ia berkata, “Paman Sumekar, apakah yang telah terjadi ?”
Sumekar membuka matanya. Dilihatnya Anusapati berjongkok di sampingnya.
“O, tuanku. Kenapa tuanku kemari ?”
“Aku sedang mencari paman. Tetapi aku tidak menemukan paman di bangsal Pamanda Mahisa Agni.”
“Maafkan tuanku. Aku telah menipu tuanku. Aku memang tidak akan membawa keris itu kepada Mahisa Agni, tetapi aku ingin segera menyelesaikan persoalan ini dengan Ken Arok. Tetapi aku ternyata gagal tuanku. Ternyata Ken Arok adalah jelmaan iblis yang paling laknat di padang Karautan.”
Anusapati berpaling sejenak. Dipandanginya Ken Arok yang masih berdiri diam. Namun ketika ia melihat sorot mata Anusapati, maka ia pun berkata penuh kemarahan “Jadi kau yang menyuruhnya Anusapati ?”
“Tidak ayahanda. Seperti yang dikatakan, ia telah menipu aku.”
Ken Arok memandang Anusapati sejenak. Lalu dengan nada yang datar ia bertanya “Jadi kau mendengar apa yang dikatakannya ?”
Anusapati menjadi ragu-ragu sejenak. Lalu jawabnya “Ya ayahanda. Hamba mendengar beberapa bagian dari pembicaraan ayahanda dengan pengalasan dari Batil.”
“Jika orang ini bukan atas namamu, kau tentu tidak hanya akan tinggal diam. Jika benar ia telah menipumu, maka kau tentu akan dengan tergesa-gesa mencegahnya.” Ken Arok berhenti sejenak, lalu “dan kau tidak, akan datang dengan diam-diam lewat longkangan belakang. Kau tentu akan menemui prajurit yang mengawal bangsal ini di depan.”
“Ampun ayahanda” desis Anusapati “hamba sebenarnya memang sedang mencarinya.”
“Kenapa kau tidak mencegahnya ketika kau sudah mengetahui bahwa ia sudah berada di sini?”
Pertanyaan itu benar-benar telah membingungkan Anusapati. Karena itu, maka ia tidak segera dapat menjawabnya.
“Anusapati” berkata Ken Arok “ternyata bahwa kau benar-benar telah berkhianat. Jika tidak, tentu tidak akan terjadi persoalan seperti ini. Karena itu, maka seperti kau juga rela atas kematianku, maka aku pun rela jika kau mati di longkangan ini.”
“Ken Arok” Sumekar masih mencoba berbicara “sebenarnyalah tuanku Anusapati tidak bersalah. Aku telah menipunya dan menguasai keris itu.”
“Omong kosong.” potong Sri Rajasa “tentu kalian sudah membicarakannya lebih dahulu untuk menghadapi kemungkinan seperti ini.”
Sumekar yang semakin lemah itu akhirnya tidak dapat lagi berbicara terlampau keras, sehingga hampir tidak terdengar ia berkata “Ken Arok. Aku bukan seorang yang licik seperti kau. Aku tidak membunuh orang dengan curang, atau meminjam tangan orang lain. Aku berusaha melakukannya sendiri atas kemauanku sendiri.”
“Gila” bentak Sri Rajasa, “bukan kau yang meminjam tangan orang lain. Tetapi ternyata Anusapati lah yang berusaha meminjam tanganmu. Tetapi sayang, bahwa kaulah yang mati, bukan aku.”
Sumekar masih akan menjawab. Tetapi warangan keris Empu Gandring telah bekerja di seluruh tubuhnya, sehingga Sumekar tidak dapat lagi mengucapkan sepatah katapun. Namun dengan matanya yang redup ia masih ingin mohon diri kepada Anusapati. Ketika kilat memancar di langit, maka Anusapati melihat Sumekar itu tersenyum.
“Paman, paman” panggil Anusapati.
Tetapi Sumekar tidak dapat menjawab lagi. Wajahnya menjadi pucat, dan akhirnya Sumekar menghembuskan nafasnya yang terakhir.
“Ayahanda telah membunuhnya” desis Anusapati.
“Ya, aku telah membunuhnya. Bukan saja Pangalasan dari Batil. Tetapi juga kau harus mati.”
“Apakah ayahanda akan membunuh aku?”
“Ya,”
“Hamba memang sudah merasa bahwa ayahanda akan melakukannya. Seandainya hamba tidak datang kemari malam ini, maka ayahanda pasti akan melakukannya besok. Hamba sudah tahu rencana itu. Pergantian prajurit yang agak mencurigakan, kegiatan yang di luar kebiasaan, bahwa ayahanda telah memanggil paman Mahisa Apii bersidang di paseban besok dan semuanya yang tidak hamba mengerti, telah menimbulkan kecurigaan hamba.”
“Dan karena itu, kau telah menyuruh pangalasan ini untuk membunuhku?”
“Tentu tidak. Hamba tidak menyuruhnya seperti yang udah. hamba katakan.”
“Aku tidak percaya.”
“Terserah kepada ayahanda.”
“Dan sekarang, jangan menyesal. Aku akan membunuhmu juga. Aku tidak akan dapat dipersalahkan, karena kau berada di sini dengan pengalasan itu. Apalagi di sini ada keris Empu Gandring yang telanjang. Setiap orang tentu akan dapat mengerti apa yang telah terjadi, sehingga semua orang pun. mengerti, bahwa aku sekedar membela diriku.”
Anusapati menjadi ter-mangu-mangu sejenak.
“Jangan menyesal, bahwa kau sudah terperosok ke dalam kandang serigala. Kau akan mati, dan jabatanmu akan berpindah kepada Tohjaya.”
Anusapati tidak segera menyahut. Dipandanginya saja wajah ayahandanya yang tegang. Namun dalam pada itu, terkilas di dalam kepalanya kata-kata ibunya, bahwa Sri Rajasa sebenarnya memang bukan ayahnya. Dan justru Sri Rajasa lah yang telah membunuh ayahandanya yang sebenarnya, Akuwu Tunggul Ametung.
“Nah, apakah sebelum matimu kau akan mengucapkan pesan?” bertanya Sri Rajasa.
“Tidak ayahanda” jawab Anusapati “hamba tidak akan berpesan apapun. Tetapi biarlah sebelum hamba mati, apakah hamba boleh bertanya ?”
“Apa?”
“Apakah benar ayahanda memang akan membunuh hamba?”
Ken Arok menjadi ragu-ragu. Namun kemudian sambil mengangguk ia menjawab “Ya. Aku memang akan menyingkirkan kau yang selama ini bagiku merupakan sepucuk duri di dalam daging.”
Terasa dada Anusapati tersirap. Ternyata bahwa rencana yang pernah didengarnya itu bukan sekedar isapan jari saja.
Sambil menengadahkan kepalanya ia bertanya pula “Jadi benar kata orang bahwa ayahanda memang ingin melimpahkan kedudukanku kepada Adinda Tohjaya?” .
“Ya. Dan tentu kau tahu sebabnya. Kau sebenarnya bukan anakku. Tetapi kau dengan enaknya ingin merampas hak dari keturunanku. Akulah yang telah mempersatukan Singasari yang besar, bukan Akuwu Tunggul Ametung.”
“Ya ayahanda. Aku memang putera ayahanda Tunggul Ametung yang mati terbunuh. Tentu tidak salah pula pendengaranku, bahwa Ayahanda Sri Rajasa lah yang telah membunuhnya pula.”
“Ya. Aku yang sudah membunuhnya. Karena itu apa yang akan aku kerjakan sekarang, tidak berdiri sendiri. Kau adalah rangkaian dari sekian banyak pembunuhan. Karena itu kau memang harus mati. Singasari harus benar-benar jatuh ke dalam tangan keturunan Sri Rajasa.”
“Ayahanda” bertanya Anusapati “apakah adik-adik hamba yang lahir dari ibunda Permaisuri bukan keturunan Ayahanda Sri Rajasa ?”
Pertanyaan itu tidak diduga sama sekali oleh Ken Arok. Karena itu ia menjadi bingung sejenak. Namun kemudian jawabnya “Aku berhak menentukan, siapa saja yang akan aku angkat menjadi Putera Mahkota.”
“Tetapi adalah menjadi ketentuan, bahwa yang berhak menggantikan kedudukan seorang raja pertama-tama adalah putera Permaisuri. Jika yang dimaksud bagi Singasari bukannya Anusapati, maka tentu Mahisa-Wonga-Teleng yang berhak menggantikan ayahanda kelak, bukan Tohjaya”
“Diam” bentak Sri Rajasa “kau tidak berhak mengigau sekarang. Kau memang harus mati. Jika aku memberikan pengakuan yang barangkali sudah pernah kau dengar dari ibundamu itu tentu karena kau sudah akan mati, dan kau tidak akan dapat berbuat apa-apa lagi.”
“Ayahanda benar. Hamba memang tidak akan dapat berbuat apa-apa lagi. Tetapi apakah ayahanda tidak mengerti bahwa ada pihak yang tentu tidak akan dapat menyetujui bahwa Adinda Tohjaya akan menggantikan kedudukan ayahanda? Justru karena ayahanda mempunyai putera laki-laki yang lahir dari ibunda Permaisuri?”
“Aku tidak peduli. Aku mempunyai kekuasaan.”
“Jika kekuasaan adalah bentuk penindasan atas ketentuan yang berlaku, maka tentu orang lain tidak akan menghiraukan pula atas ketentuan-ketentuan yang ada. Dan mereka akan cenderung mempergunakan kekerasan untuk mencapai maksudnya daripada mengikuti ketentuan-ketentuan yang dianggap sah di dalam negeri ini.”
“Dan agaknya kau sudah memulainya. Kau sudah mempergunakan kekerasan untuk menyingkirkan aku. Itukah suatu sikap yang sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku?”
“Sudah hamba katakan, bahwa hamba sama sekali tidak menyuruhnya memasuki bangsal ini, apalagi untuk membunuh ayahanda, karena hamba sama sekali masih belum yakin bahwa sebenarnyalah ayahanda mempunyai rencana untuk membunuh hamba.”
“Jangan membohong. Sekarang, jika ada yang ingin kau pesankan katakanlah. Aku sudah mulai muak melihat wajahmu.”
“Hamba menyadari ayahanda. Tetapi seperti yang sudah hamba katakan, hamba tidak mempunyai pesan apapun karena pesan itu tidak akan ada artinya sama sekali.”
Wajah Sri Rajasa terbelalak karenanya. Katanya “Kau memang sombong seperti ayahmu. Baiklah, jika kau memang tidak mempunyai pesan yang lain, aku akan segera membunuhmu. Aku dapat memukul kepalamu sampai hancur, atau dadamu sehingga seluruh isi tubuhmu akan rontok. Akibatnya sama saja bagimu. Kau akan mati.”
“Kenapa ayahanda tidak mempergunakan cara seperti yang sudah ayahanda lakukan? Sudah berapa orang yang mati terbunuh oleh keris Empu Gandring ini ?”
Dada Ken Arok tiba-tiba berdesir tajam. Dilihatnya keris Empu Gandring yang terletak di tangan Sumekar yang sudah membeku.
Namun tiba-tiba terbayang diwajahnya keris yang itu jugalah yang telah mengakhiri hidup pembuatnya. Tanpa disadarinya ia mulai ber-angan-angan. Dan tanpa dikehendakinya tiba-tiba bayangan Empu Gandring itu bagaikan hadir dilongkangan itu. Ketika ia memandang wajah pangalasan yang mati itu, seakan-akan ia melihat kembali wajah Empu Gandring yang menyeringai menahan sakit ketika tiba-tiba saja ia menusuk lambungnya dengan keris itu. Dan tiba-tiba saja terbayang di wajah Anusapati itu wajah ayahandanya, Akuwu Tunggul Ametung.”
“Pergi,-pergi” Ken Arok tiba-tiba berteriak. Namun suaranya tenggelam di dalam ledakan guruh yang keras.
Anusapati menjadi termangu-mangu sejenak. Namun perlahan-lahan timbul pula gejolak di dalam hatinya. Jika ayahandanya terbunuh dan meninggalkan seorang anak laki-laki saja, maka apakah anak laki-laki itu akan menyerahkan dirinya pula untuk dibunuh? Dan kemudian jika Anusapati sudah terbunuh, bagaimanakah nasib anak laki-lakinya.
Ketika Anusapati teringat kepada anak laki-lakinya, yang tentu merupakan duri pula bagi Sri Rajasa, terasa hatinya menjadi ber-debar-debar.
Namun dalam pada itu Sri Rajasa sudah menggeram “Aku bunuh kau ular kecil yang berbisa. Aku bunuh kau dengan semua keturunanmu.”
Anusapati menjadi semakin ber-debar-debar. Kini jelas baginya, bahwa Ken Arok memang berniat untuk memusnahkan keturunan Akuwu Tunggul Ametung. jika tidak, maka keturunan Tunggul Ametung itu benar-benar akan menjadi duri di dalam dagingnya. Dan sudah terucapkan, bahwa Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu memang akan membunuhnya dan keturunannya.
“Apakah aku akan membiarkan keturunan Tunggul Ametung punah?” bertanya Anusapati kepada diri sendiri.
Terbayang wajah isteri dan anaknya yang tidak tahu menahu sama sekali tentang persoalan yang ada di Singasari itu. Dan apakah mereka harus juga ikut menanggung akibatnya.
Dalam ke-ragu-raguan itulah maka ia melihat Ken Arok melangkah maju. Tatapan matanya bukan lagi tatapan seorang Maharaja. Tetapi sorot matanya menjadi liar, seperti liarnya Hantu yang haus akan darah.
T
erasa bulu tengkuk Anusapati meremang. Bahkan kemudian ia berdesis “Jangan ayahanda.”
Tetapi Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu tidak menghiraukan kata-kata itu. Setapak demi setapak ia maju dengan jari-jari tangan yang mengembang. “Aku akan mencekik kau sampai mati. Jangan berbuat sesuatu. Jangan sentuh keris Empu Gandring itu, supaya kau tidak mati karena racunnya seperti pengalasan yang gila itu.”
“Tetapi jangan bunuh anak dan isteriku.”
“Aku akan membunuh mereka semua, termasuk Mahisa Agni.”
“Tidak, jangan.”
“Aku tidak peduli.”
Jawaban yang meyakinkan itu membuat darah Anusapati tiba-tiba saja bergetar. Hampir di luar sadarnya tangannya telah menggapai hulu keris Empu Gandring.
“Anusapati, kau akan melawan aku? Kau akan mencoba menghindarkan diri dari keharusan yang akan berlaku atasmu?. Kau memang harus mati, dan kau akan kehilangan darah keturunanmu, sebagai penerus nafas kehidupan Akuwu Tunggul Ametung.”
“Ayahanda, anak dan isteri hamba tidak mengetahui semua persoalan ini. Jika ayahanda akan membunuh hamba, ayahanda tidak akan mengalami kesulitan tetapi jika ayahanda berjanji, sebagai seorang Maharaja yang tidak pemah ingkar, bahwa ayahanda tidak akan membunuh anak. dan isteriku, juga paman Mahisa Agni.”
“Persetan” geram Sri Rjasa “aku tidak peduli. Aku akan membunuh kau dan semua keluargamu, termasuk Mahisa Agni.”
Wajah Ken Arok menjadi merah, semerah sorot matannya yang benar-benar menjadi liar.
Anusapati yang cemas menjadi semakin cemas. Tetapi hampir di luar sadarnya ia telah menggenggam keris itu.
Anusapati mundur selangkah. Ia sudah hampir berputus-asa. Sumekar yang membawa keris itu pula tidak dapat melawan Sri Rajasa, apalagi dirinya yang masih belum berhasil menyempurnakan ilmunya sejauh Sumekar.
“Menyerahlah. Kau dan anak isterimu akan aku bunuh malam ini juga.” geram Sri Rajasa.
Ternyata bahwa suara itu bagaikan membangunkan Anusapati dari mimpinya. Ia sadar, bahwa yang terjadi ini benar-benar di luar rencana siapapun. Juga bukan rencana Sri Rajasa, karena Sumekar telah mengambil sikap sendiri. Namun demikian tentu ia tidak akan dapat menyerahkan seluruh keluarganya itu.
“Aku harus lari dari tempat ini” berkata Anusapati, “setidak-tidaknya aku berhasil menyelamatkan diri sampai ke bangsal Pamanda Mahisa Agni. Persoalannya tentu akan menjadi berbeda jika ayahanda malam ini bertemu dengan salah seorang yang ada di dalam bangsal itu. Apakah ia paman Kuda Sempana yang telah berhasil menyempurnakan diri dengan ilmunya, atau paman Mahendra, atau kedua-duanya. Atau bahkan paman Witantra.”
“Kau tidak akan dapat lari” geram Sri Rajasa “semuanya sudah terjadi. Dan yang sudah terjadi tidak akan dapat dicegah lagi. Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa, sudah menentukan, bahwa kau dan keluargamu harus mati. Tidak ada kekuasaan dan kemampuan yang dapat mencegah.”
Anusapati terus melangkah surut, sedang Sri Rajasa-mengikutinya dengan jari-jari tangan yang mengembang.
“Aku akan mencekikmu. Aku sendiri bukan orang lain. Bukan para prajurit, dan bukan pula seorang Senapati.
Dada Anusapati bagaikan menjadi pepat. Tetapi tiba-tiba saja tangannya yang menggenggam keris itu telah bersilang di depan dadanya.
”Kau akan melawan he, kau akan melawan? Tidak ada gunanya. Itu hanya akan memperpanjang caramu mati. Dan itu sangat merugikan kau sendiri.”
Anusapati tidak menyambut. Ia telah berdiri di depan dinding, sehingga ia tidak akan dapat melangkah lagi. Karena itulah, maka ia pun kemudian berdiri di atas kakinya yang merenggang sambil mengacungkan senjatanya. Keris Empu Gandring yang sudah berbau darah itu. Darah beberapa orang yang sama sekali tidak bersalah.
Ken Arok tertegun sejenak memandang Anusapati yang se-akan-akan sudah tidak dapat bergeser lagi. Namun sorot matanya yang bagaikan menusuk langsung kedalam jantung Putera Mahkota itu membuat Anusapati bergetar.
Kemudian selangkah demi selangkah Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi itu melangkah maju dengan jari-jari tangan yang mengembang. Anusapati baginya tidak lebih dari anak-anak yang tidak berdaya.
Dalam pada itu, Mahisa Agni sedang merunduk-runduk di sekitar bangsal Ken Umang. Dengan hati-hati ia berusaha untuk mendekati bangsal itu. Ternyata seperti yang diduganya, bangsal itu mendapat pengawasan yang sangat ketat. Para. prajurit tidak saja berada di depan bangsal, tetapi juga dibagi-an belakang telah mendapat pengawasan yang seksama.
“Tidak mudah mendekati bangsal itu, apalagi memasukinya tanpa diketahui orang” berkata Mahisa Agni di dalam hatinya.
Namun demikian ia mempunyai dugaan yang kuat, bahwa Sumekar telah datang kebangsal itu. Agaknya kebenciannya kepada Tohjaya tidak dapat ditahankannya lagi.
“Jika terjadi pembunuhan di bangsal ini, maka tuduhan yang pertama tentu akan jatuh kepada Anusapati, siapakah yang telah melakukannya. Bahkan seandainya pelakunya tertangkap, maka tentu Anusapati lah yang disangka telah meminjam tangan untuk membinasakan Tohjaya dan barangkali juga Ken Umang” berkata Mahisa Agni di dalam hati “dan itu sangat merugikan perjuangan Anusapati, karena setiap orang akan menyangka, bahwa Anusapati telah melakukan perbuatan yang terkutuk itu untuk mempertahankan kedudukannya.”
Karena itulah maka Mahisa Agni mencoba untuk berusaha menemukan Sumekar di sekitar bangsal itu.
Tetapi beberapa lamanya ia berada di sekitar bangsal itu, ia sama sekali tidak melihat sesosok bayangan pun. Ia telah berada di bagian belakang bangsal itu, yang menurut dugaannya adalah satu-satunya jalan untuk memasuki longkangan.
Namun Mahisa Agni tidak melihat seseorang- Ia tidak melihat Sumekar memasuki longkangan, atau berada di dalam longkangan itu.
“Apakah ia tidak datang kemari?” bertanya Mahisa Agni di dalam hatinya.
Tetapi untuk beberapa lamanya Mahisa Agni masih menunggu. Ia masih mengharap bahwa ia dapat menemukan Sumekar di sekitar tempat itu.
“Mungkin ia tidak segera memasuki daerah ini” katanya di dalam hati “atau barangkali Sumekar belum menemukan jalan yang paling baik untuk memasuki daerah ini.”
Untuk beberapa saat mahisa Agni masih tetap bersembunyi sambil menunggu. Tetapi beberapa saat kemudian hatinya menjadi cemas. Agaknya Sumekar memang tidak datang ke-tempat itu.
“Mungkin ia langsung pergi kebangsal Sri Rajasa” katanya di dalam hati.
Dalam pada itu, hatinya menjadi bergetar. Bahkan kemudian ia hampir pasti, bahwa Sumekar pergi kebangsal Sri Rajasa.
“Aku harus menengoknya. Jika benar ia pergi ke sana mudahkan Anusapati sempat mencegahnya. Ia agaknya dapat dilunakkan oleh Anusapati yang hampir setiap hari dilayaninya seperti muridnya yang paling manja.
Sejenak kemudian, maka Mahisa Agni pun berusaha meninggalkan tempat itu. Seperti pada saat ia datang, maka iapun harus sangat ber-hati-hati ketika ia melalui beberapa orang prajurit yang mengawasi bagian balakang dari bangsal itu.
Ketika Mahisa Agni telah berada agak jauh dengan para penjaga itu, ia pun menarik nafas dalam-dalam, se-olah-olah ia terlepas dari terkaman serigala.
Namun ia pun segera sadar, bahwa sesuatu yang penting sedang menunggunya. Sumekar yang masih belum dapat diketemukannya.
Dengan hati-hati sekali Mahisa Agni pun meninggalkan bagian istana yang dihuni oleh Ken Umang dan putera- puteranya itu. Dengan penuh kewaspadaan ia meloncati dinding yang memisahkan kedua bagian dari istana Singasari itu. Ketika kemudian la meloncat turun, maka Mahisa Agni itu pun sudah berada di bagian yang lain dari istana itu.
Setiap kali ia harus memperhatikan setiap gerak dan bunyi. Ia sadar, bahwa penjagaan halaman istana malam itu diperkuat. Bahkan seperti yang dikatakan oleh Sumekar, beberapa orang Senapati telah ikut di dalam penjagaan yang kuat di halaman itu.
Mahisa Agni itu pun bergeser semakin maju mendekati bangsal Sri Rajasa. Meskipun bangsal ini tidak dijaga sekuat Bangsal Tohjaya, karena Sri Rajasa sendiri yakin akan dirinya dan pengaruhnya, namun Mahisa Agni masih juga harus menembus beberapa bagian yang agak sulit.
Tetapi tiba-tiba Mahisa Agni tertegun. Telinganya yang tajam mendengar sesuatu berdesir tidak begitu jauh daripadanya. Oleh karena itu, maka ia pun berhenti. Dengan segenap kemampuannya ia berusaha menangkap suara yang makin lama menjadi semakin dekat itu.....
Bersambung....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar