*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 21-01*
Karya. : SH Mintardja
Mahisa Bungalan memandang perempuan itu sejenak, lalu ia pun berdiri sambil berkata, “Nyai, apakah anak ini anak Nyai?”
Perempuan itu justru menjadi ketakutan.
“Kami tidak akan berbuat apa-apa. Kami hanyalah sekedar lewat. Ternyata padukuhan ini terasa sepi dan lengang meskipun hari masih siang.”
Perempuan itu masih tetap berdiam diri.
“Nyai, jika nyai keberatan memberikan keterangan apapun juga, apakah nyai dapat menunjukkan dimana rumah Ki Buyut dari padukuhan ini?”
Perempuan itu tidak segera menyahut.
“Aku kira lebih baik nyai menunjukkan arahnya daripada aku harus mengajak anak nyai bersama kami pergi ke rumah Ki Buyut.”
“Jangan, jangan bawa anak itu.”
Mahisa Bungalan tersenyum. “Tentu tidak jika Nyai berkeberatan Tetapi tolonglah Nyai. Tunjukkan saja di mana rumah Ki Buyut.”
Perempuan itu nampak ragu-ragu. Kecemasan yang sangat telah mencengkam wajahnya. Sekilas dipandanginya anaknya yang kebingungan. Tetapi anak itu justru sudah tidak menangis lagi.
“Tetapi, tetapi…” perempuan itu tergagap.
“Nyai tidak usah berbuat apa-apa. Tunjukkan saja di mana rumahnya. Aku tidak berniat buruk.”
“Tetapi” perempuan itu masih ragu-ragu.
“Jika aku berniat buruk Nyai, aku akan melakukannya sekarang. Bahkan meskipun setiap pintu tertutup, aku dapat saja membukanya dengan paksa. Tetapi bukan itu niatku datang kemari.”
Perempuan itu masih meragu. Sekilas dipandanginya anaknya yang berdiri kebingungan. Lalu katanya, “Pergilah sepanjang jalan ini. Di simpang tiga, dekat sebatang pohon nyamplung, berbeloklah kekanan. Kalian akan sampai ke banjar. Di dekat banjar itu adalah rumah Ki Buyut.”
“Terima kasih. Kami akan menemui Ki Buyut.” Perempuan itu tidak menjawab,
Mahisa Bungalan pun kemudian berkata kepada anak kecil itu, “Jangan nakal lagi ya. Aku mempunyai sekeping uang.”
Anak itu ragu-ragu. Tetapi Mahisa Bungalan sambil tersenyum menyelipkan sekeping uang ditangannya.
“Jangan menangis dan jangan berlari-lari di jalan” lalu kepada perempuan itu ia berkata, “terima kasih nyai. Kami akan pergi.”
Ketiganya pun kemudian meloncat ke atas punggung kudanya dan melanjutkan perjalanan seperti yang ditunjukkan oleh perempuan itu, menuju ke rumah Ki Buyut yang belum dikenalnya.
Perempuan yang ditinggalkan itu termangu-mangu sejenak. Dipandanginya tiga ekor kuda yang berlari di jalan padukuhan itu, sehingga ketiganya menjadi semakin lama semakin jauh.
Perempuan itu tersadar ketika ia mendengar anaknya itu memanggilnya. Dengan ragu-ragu anak kecil itu menunjukkan sekeping uangnya kepada ibunya.
Perempuan itu berjongkok di hadapan anaknya Sambil memeluk anak itu ia berkata, “Kau tidak mengucapkan terima kasih Ngger.”
Anak itu termangu-mangu.
“Seharusnya kau mengatakannya. Terima kasih tuan.” Anaknya tidak menjawab. Dengan lengannya ia mengusap matanya yang masih basah meskipun ia tak menangis lagi.
“Marilah, kita pulang” berkata ibunya sambil mengangkat anak itu ke dalam dukungannya.
Anak itu tidak meronta lagi. Dipermainkannya sekeping uang di tangannya. Bahkan kemudian ia pun tersenyum.
Sementara itu, Mahisa Bungalan, Mahisa Agni dan Witantra telah berbelok di simpang tiga di bawah sebatang pohon nyamplung. Rupanya di bagian yang lebih dalam, padukuhan itu terasa juga sangat lengang. Meskipun demikian, mereka masih melihat satu dua orang lewat dengan tergesa-gesa. Apalagi jika mereka mendengar ada derap kaki kuda, maka mereka pun segera berlari-lari masuk ke dalam rumah.
Seperti yang dikatakan oleh perempuan itu, ketiganya pun kemudian sampai ke dekat sebuah banjar yang tidak begitu besar, sesuai dengan padukuhannya. Di dekat banjar itu terdapat sebuah rumah yang agak lebih besar dari rumah-rumah di padukuhan itu pada umumnya.
“Agaknya rumah itulah rumah Ki Buyut” berkata Mahisa Bungalan.
“Marilah kita lihat” desis Witantra.
Ketiganya pun kemudian dengan ragu-ragu dan hati-hati memasuki regal halaman rumah yang agak besar itu. Terasa juga, betapa lengangnya. Tidak ada seorang pun yang nampak di halaman. Tetapi pintu rumah itu tidak tertutup.
Dengan ragu-ragu Mahisa Bungalan pun kemudian berdiri di atas tangga pendapa. Sejenak ia mencoba memandang ke dalam rumah yang lengang itu lewat pintu pringgitan yang terbuka. Tetapi ia tidak melihat seorang pun .
Akhirnya Mahisa Bungalan pun memberanikan diri melintasi pendapa dan mengetuk pintu yang terbuka itu.
Baru setelah ia mengetuk beberapa kali terdengar suara seseorang dari dalam, “Siapa di luar?”
“Kami bertiga Kiai. Apakah benar rumah ini rumah Ki Buyut?”
Seorang yang sudah tua, sebaya dengan Witantra keluar dan ruang dalam. Dengan ragu-ragu ia menjengukkan kepalanya lewat lubang pintu yang terbuka. Dengan tegangnya ia memandang Mahisa Bungalan yang berdiri di dekat pintu itu, kemudian dua orang yang masih berada di tangga pendapa.
“Siapakah kalian Ki Sanak?”
“Kami adalah orang-orang Singasari Ki Buyut” jawab Mahisa Bungalan. Ia sadar, bahwa jawabannya tidak boleh membuat orang itu semakin ketakutan.
“Singasari?” Orang itu mengerutkan keningnya, “Lalu apakah keperluanmu?”
“Apakah aku berhadapan dengan Ki Buyut?” Orang itu ragu-ragu. Namun kemudian ia mengangguk. Katanya, “Ya, aku Buyut di padukuhan ini.”
“Terima kasih Ki Buyut. Kami memang mempunyai beberapa kepentingan dengan Ki Buyut.”
Ki Buyut masih tetap ragu-ragu. Ia masih saja berdiri di tempatnya sambil sekali-kali memandang Mahisa Bungalan dan kedua orang kawannya di ujung pendapa.
“Kami adalah hamba istana Singasari Ki Buyut” Mahisa Bungalan menjelaskan.
“Hamba istana? Dan kenapa kalian sampai di tempat ini?”
“Kami sedang dalam perjalanan menjalankan tugas.” Ki Buyut termangu-mangu sejenak. Namun menilik sikap dan kata-kata Mahisa Bungalan ia mulai menduga, bahwa ketiga orang itu bukannya orang-orang yang bermaksud jahat.
“Duduklah” ia pun kemudian mempersilahkan ketiganya duduk di pendapa. Di atas sehelai tikar pandan yang memang sudah terbentang.
Mahisa Bungalan memberikan isyarat kepada kedua orang pamannya agar mereka pun duduk di tikar itu bersamanya, sementara Ki Buyut masuk ke dalam rumahnya, yang agaknya sedang membenahi pakaiannya.
Sejenak kemudian Ki Buyut itu pun keluar dari ruang dalam. Seperti yang diduga, ia memang membenahi pakaiannya. Bahkan bukan saja pakaiannya, tetapi ia benar-benar menemui tamunya dengan kelengkapan seorang Buyut. Dengan sebilah keris di punggung.
Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan sadar, bahwa padukuhan itu memang sedang dibayangi oleh kecemasan, sehingga nampaknya Ki Buyut pun sangat berhati
Apalagi sejenak kemudian tiga orang anak muda keluar dari rumah itu pula dan duduk di belakang Ki Buyut. Seperti Ki Buyut, maka ketiganya pun menyandang keris pula di punggungnya.
“Mereka adalah anak-anakku” Berkata Ki Buyut.
“O” Mahisa Bungalan mengangguk-angguk, “Ketiga-tiganya Ki Buyut?”
“Anakku enam orang. Seorang di antaranya perempuan. Dua laki-laki yang lain masih berada di belakang.”
Mahisa Bungalan, Mahisa Agni dan Witantra mengangguk-angguk. Sejenak mereka memandangi anak-anak Ki Buyut yang bertubuh kekar dan kuat. Nampaknya mereka adalah anak-anak muda yang dapat dibanggakan.
Dalam pada itu Ki Buyut pun berkata selanjutnya, “Adalah menjadi kebiasaanku untuk membawa anak-anakku yang aku anggap sudah cukup dewasa untuk menerima tamu-tamuku bersamaku.”
“O” Mahisa Bungalan mengangguk-angguk, “Itu adalah kebiasaan yang baik. Ayahku juga banyak memberikan kesempatan kepadaku seperti Ki Buyut. Bahkan ayahku dalam beberapa hal menyerahkan persoalan kepadaku.”
Ki Buyut memandang Mahisa Bungalan sejenak. Kemudian kedua orang tua yang bersamanya.
“Yang manakah ayah Ki Sanak?” tiba-tiba saja Ki Buyut bertanya.
“Kedua-duanya bukan” Jawab Mahisa Bungalan, “Kami adalah hamba istana. Meskipun demikian keduanya bukan saja kawan dalam kerja, tetapi juga pamanku.
“O” Ki Buyut mengangguk-angguk.
Sementara itu, Mahisa Bungalan, Mahisa Agni dan Witantra melihat beberapa orang yang memasuki regol halaman. Mereka semuanya menyandang senjata masing .
“Ha” desis Ki Buyut, “mereka yang datang adalah bebahu padukuhan ini. Mereka adalah pembantuku yang baik
“Apakah Ki Buyut memanggil mereka?” bertanya Mahisa Bungalan.
“Ya. Agaknya salah seorang anak laki-lakiku telah memanggil mereka. Tetapi bukankah sepantasnya hamba-hamba istana mendapat kehormatan di padukuhan kecil seperti ini.”
Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Katanya, “Terima kasih atas kehormatan yang kami terima. Tetapi apakah hanya sekedar kehormatan itu saja?“
Mahisa Agni menggamit lengan anak muda itu. Tetapi kata-kata itu sudah terucapkan. Bahkan masih juga terlanjur terlontar pertanyaannya, “Apakah ada hubungan lain dengan kehadiran kami Ki Buyut?”
Ki Buyut tidak segera menjawab. Tetapi ia kemudian bangkit dan mempersilahkan beberapa orang bebahu yang berdatangan.
“Ternyata padukuhan ini tidak sekosong yang aku sangka” desah Mahisa Bungalan di dalam hatinya.
Sejenak kemudian mereka pun telah duduk kembali. Kini mereka duduk dalam lingkaran yang semakin luas, karena semakin banyak orang yang ikut serta.
Mahisa Bungalan yang merasa lengannya disentuh oleh Mahisa Agni menjadi ragu-ragu. Tetapi agaknya bahwa Ki Buyut dapat meraba maksud pertanyaan yang telah terlontar. Ternyata ia kemudian bertanya, “Maaf Ki Sanak. Apakah Ki Sanak merasa sesuatu yang lain dari sambutan kami?”
Pertanyaan itu memang membingungkan. Tetapi ternyata Mahisa Bungalan tidak mau menyimpan persoalan sekedar di dalam hati. Karena itu, maka ia pun menjawab, “Agaknya memang demikian Ki Buyut. Sejak aku memasuki padukuhan ini, aku sudah merasa ada suasana yang lain dengan padukuhan-padukuhan yang pernah aku lalui sepanjang perjalananku. Dan kini. suasana penerimaan yang terasa lain dari keramahan yang mantap. Kehadiran anak-anak Ki Buyut dan sekarang para bebahu, tentu bukan sekedar cara untuk menyambut kedatangan hamba istana di padukuhan terpencil dan kecil seperti ini. Tetapi tentu ada hubungannya dengan kelengangan yang nampak .pada padukuhan ini.” Mahisa Bungalan berhenti sejenak, lalu, “Ki Buyut, justru karena itulah, apakah kami dapat bertanya, apakah sebenarnya yang telah terjadi di padukuhan ini?”
Ki Buyut memandang Mahisa Bungalan sejenak. Kemudian ia pun bertanya, “Apakah Ki Sanak masih perlu bertanya?
Mahisa Bungalan menjadi heran. Tetapi dengan demikian ia menjadi semakin pasti.
“Ki Buyut” katanya, “jawaban Ki Buyut itu semakin menjelaskan kepada kami, bahwa Ki Buyut telah mencurigai kami. Tetapi seperti yang telah aku katakan, kami adalah orang-orang yang lewat dan ternyata, menjumpai peristiwa yang agak lain di padukuhan ini.”
“Tiga orang berkuda merupakan sebuah teka-teki besar bagi kami Dan apakah kalian dapat menjawab teka-teki itu sehingga kami tidak mencurigai kalian.”
“Teka-teki yang mana?” bertanya Mahisa Bungalan.
“Tiga orang berkuda. Seperti kalian juga berjumlah tiga orang.”
Mahisa Bungalan menjadi berdebar-debar. Ia pun segera teringat kepada tiga orang yang pernah menumbuhkan keributan karena mereka telah membunuh orang-orang berilmu hitam. Yang menurut dugaannya, mereka adalah Linggadadi dan pengiringnya Atau tiga orang yang lain. Mahendra dan kedua anaknya. Tetapi seandainya yang dimaksud adalah Mahendra dan kedua anak nya, tentu mereka tidak akan menumbuhkan kecurigaan dan ketakutan di padukuhan ini.”
Karena itu, maka Mahisa Bungalan pun segera bertanya, seperti keterbukaan hatinya. “Ki Buyut, apakah di padukuhan ini telah terjadi kerusuhan yang ditimbulkan oleh tiga orang berkuda? Karena jumlah kami juga tiga, maka agaknya Ki Buyut telah mencurigai kami. Tetapi seandainya pernah terjadi sesuatu yang ditimbulkan oleh tiga orang berkuda, apakah Ki Buyut dapat menyebutkan ciri-ciri mereka? Jika ciri-ciri mereka sesuai dengan ciri-ciri yang terdapat pada kami. maka sewajarnyalah jika Ki Buyut mencurigai kami dan mungkin akan melakukan tindakan lebih jauh.”
Untuk beberapa saat lamanya Ki Buyut termangu-mangu. Namun kemudian terdengar salah seorang anak Ki Buyut menggeram, “Tentu kami tidak akan dapat mengatakan ciri apapun juga. Seandainya ada juga ciri-ciri itu, maka dalam waktu yang singkat, ciri-ciri semacam itu akan segera dapat dihapuskan dan diganti dengan ciri-ciri yang lain.”
Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya kedua pamannya berganti-ganti, seolah-olah ia ingin mendapatkan petunjuk, apakah yang sebaiknya dikatakan kepada Ki Buyut dan orang-orangnya.
Mahisa Agni termangu-mangu sejenak. Kemudian ia pun bergeser maju setapak sambil berkata, “Ki Buyut. Memang sulit untuk membuktikan, bahwa kami yang bertiga ini berbeda dengan tiga orang berkuda yang telah datang lebih dahulu di padukuhan ini.”
“Tidak di padukuhan ini” jawab Ki Buyut.
“Tidak di padukuhan ini?” Bertanya Mahisa Bungalan
“Ya. Memang tidak. Di padukuhan ini belum pernah didatangi oleh tiga orang berkuda itu. Tetapi padukuhan di sebelah hutan rindang itu pernah mengalaminya. Padukuhan yang tidak terlalu jauh dari padukuhan ini.”
“Apakah yang telah terjadi?” bertanya Mahisa Agni
“Kalianlah yang harus berceritera, apakah yang telah kalian lakukan di sana.”
Mahisa Agni pun menarik nafas. Lalu, “Ki Sanak, sebenarnyalah bahwa kami tidak mengetahui apa yang telah terjadi. Kami menyadari, seandainya pernah terjadi bencana yang ditimbulkan oleh tiga orang berkuda, dan kebetulan kami juga bertiga, maka kecurigaan kalian terhadap kami adalah wajar. Tetapi karena kami benar-benar tidak mengetahui apa yang telah terjadi, maka perkenankanlah kami bertanya tentang peristiwa itu”
Seorang anak Ki Buyut menyahut, “Kalian ingin melepaskan tanggung jawab dan berbuat seolah-olah tidak bersalah? Ki Sanak. Kalian ternyata telah masuk perangkap. Padukuhan ini memang berbeda dengan padukuhan di sebelah hutan itu. Mereka sama sekali tidak menduga, bahwa akan terjadi sesuatu di padukuhan mereka, sehingga peristiwa itu dapat terjadi. Tetapi kalian tidak dapat berbuat seperti itu di sini. Kecuali padukuhan ini telah siap, maka anak-anak muda di padukuhan ini pun lebih banyak jumlahnya dan lebih tangkas bermain dengan senjata. Di padukuhan ini terdapat seorang bekas prajurit di masa kejayaan Tumapel. Meskipun ia kini sudah terlalu tua, tetapi ternyata ia masih sempat menurunkan ilmunya kepada kami. anak-anak muda. Terutama kami bersaudara.
“Itu bagus sekali” sahut Witantra, “dengan demikian padukuhan ini akan menjadi aman. Namun justru karena itu, sudah barang tentu, kami pun tidak akan berani mengganggu padukuhan ini, siapa pun kami.” Ia berhenti sejenak, lalu, “karena itu, apakah Ki Buyut tidak berkeberatan mengatakan kepada kami, apakah yang telah terjadi itu?”
Ki Buyut mengerutkan keningnya. Lalu katanya. “Baiklah. Aku akan mengatakannya. Mungkin kalian telah lupa apa yang telah kalian lakukan itu.”
Mahisa Bungalan menelan ludahnya. Tetapi ia tidak men jawab.
“Ki Sanak” Berkata Ki Buyut, “Tiga orang berkuda di padukuhan itu telah merampok dan membunuh. Anak-anak muda yang tidak siap mencoba untuk menangkapnya, tetapi justru karena itu, dua orang telah terbunuh. Tiga orang terluka parah, dan lebih dari sepuluh orang yang luka-luka.”
“O, hanya tiga orang dapat berbuat seperti itu?”
“Memang luar biasa. Kematian yang terjadi sangat mengerikan sekali. Kulitnya tersayat-sayat sehingga seolah-olah tidak selapis pun yang tersisa.”
“O” Ketiga orang itu terkejut. Segera mereka menyadari, bahwa yang telah melakukan itu adalah orang-orang berilmu hitam.
“Nah, apakah kalian sudah puas” berkata salah seorang anak Ki Buyut yang lain, “Kalian sudah mendengar, bagaimana orang lain menyebut kalian sebagai orang-orang yang tidak terkalahkan. Tiga orang yang dengan mudah dapat mengalahkan lebih dari duapuluh orang. Bahkan hampir semuanya telah terluka” Ia berhenti sejenak, lalu, “Nah, apakah kalian akan melakukannya di sini?”
Mahisa Bungalan. Mahisa Agni dan Witantra termangu-mangu sejenak. Mereka mencoba membayangkan, apakah yang telah terjadi itu.
Namun Mahisa Agni dan Witantra mengambil kesimpulan, bahwa ketiga orang itu tentu bukannya murid-murid perguruan ilmu hitam yang baru merasa dirinya mekar, jika demikian, maka korban tentu akan jatuh jauh lebih banyak lagi. Yang terbunuh tentu bukannya hanya dua orang. Tetapi mungkin semuanya.
“Agaknya justru orang terpenting dari perguruan itulah yang telah melakukannya, sehingga nafsunya untuk membunuh anak-anak tidak seganas murid-muridnya” Berkata Mahisa Agni dan Witantra di dalam hatinya. Agaknya keduanya mempunyai dugaan yang sama. Sedangkan Mahisa Bungalan yang masih muda tidak mempertimbangkan lebih jauh. Baginya, siapa pun orangnya, tetapi tentu orang berilmu hitam itulah yang melakukannya.
Namun dalam pada itu, seorang anak Ki Buyut yang lain berkata, “Nah. apakah yang akan kalian lakukan disini sekarang? Kami sudah siap menghadapi kalian. Meskipun kalian berhasil membunuh di padukuhan di pinggir hutan itu, namun, kalian tidak akan dapat melakukannya di sini. Dan barang kali juga di padukuhan-padukuhan yang lain yang telah menjadi bersiaga pula”
Mahisa Bungalan, Mahisa Agni dan Witantra menjadi bingung, bagaimana harus meyakinkan mereka. Rasa-rasanya mereka telah memasuki padukuhan yang salah, yang melibatkan mereka ke dalam kesulitan.
Kedatangan mereka di padukuhan itu semata-mata karena mereka ingin bermalam. Hanya itu.
Sementara itu pun langit menjadi semakin buram. Warna merah di langit menjadi semakin pudar pula. Beberapa orang nampak mulai menyalakan obor di serambi pendapa. Tidak hanya dua atau tiga. Tetapi seakan-akan halaman itu pun kemudian menjadi terang benderang.
“Apakah artinya ini?” Desis Mahisa Bungalan tertuju kepada dirinya sendiri.
Karena ketiga orang berkuda itu untuk beberapa saat lamanya hanya termangu-mangu saja, maka seorang anak Ki Buyut pun berkata pula, “Nah, apakah yang akan kalian lakukan?”
“Tentu kami tidak akan berbuat apa-apa. Sejak semula kami memang tidak akan berbuat apa-apa” Jawab Mahisa Agni, “Sebenarnyalah kami hanya ingin bermalam di sini.”
“O” hampir semua orang mengangguk-angguk. Salah seorang bebahu yang bertubuh kekar dan berjambang berkata, “tepat seperti yang dilakukan oleh ketiga orang itu. Mereka bermalam di padukuhan kecil di pinggir hutan itu, Di malam hari mereka mulai merampok milik orang yang telah memberikan tempat bermalam. O, itukah yang akan kalian lakukan di sini? Di malam hari kalian memaksa untuk mengambil pendok emas dan sebuah cincin bermata akik Kuncara Bumi? Heh. kalian tidak akan melakukan tipuan licik itu sampai dua kali.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ternyata usahanya untuk meredakan ketegangan justru sebaliknya. Tiga orang itu pun telah minta sekedar bermalam, tetapi kemudian mereka melakukan kejahatan itu.
Dengan demikian, maka seolah-olah semua jalan telah tertutup bagi ketiga orang itu, sehingga mereka pun menjadi semakin bingung. Jika orang-orang di padukuhan itu melakukan; kekerasan, apakah mereka juga akan mengimbanginya atau mereka harus melarikan diri?
Dalam keragu-raguan itu, tiba-tiba saja seorang anak Ki Buyut berkata, “Ki Sanak. Aku kira kalian tidak mempunyai kesempatan apapun juga sekarang. Kalian harus menyerah. Kami ingin menangkap kalian, mengikat dan membawa kepada Ki Buyut di padukuhan yang telah kau lukai dengan membunuh dua orang anak mudanya yang paling baik, melukai beberapa orang yang lain.
Mahisa Agni menarik nafas. Tetapi Witantra sempat menggamit Mahisa Bungalan yang bergeser setapak. Bahkan mendahuluinya berkata, “Apakah menurut pertimbangan kalian, itu merupakan penyelesaian yang paling baik?”
“Ya” Jawab anak Ki Buyut itu dengan tegas. Witantra mengangguk-angguk. Katanya kemudian seolah-olah lebih banyak tertuju kepada dirinya sendiri dan dua orang kawannya, “Baiklah. Kami akan menurut segala perintah kalian. Tetapi dengan syarat.”
Mahisa Bungalan terkejut mendengar kata-kata Witantra itu, karena ia tidak menyangka sama sekali. Tetapi ia tidak sempat memotong, karena Witantra berkata selanjutnya, “Jika kalian bersedia memenuhi syarat itu, maka kami akan menurut.”
“Apakah syarat itu?” bertanya Ki Buyut-
“Jika ternyata orang-orang di padukuhan itu tidak mengenal kami, atau mereka tahu pasti, bahwa yang telah melakukan kejahatan itu bukan kami, maka kami akan dibebaskan dari segala tuduhan dan kami diperkenankan bermalam di sini.”
“Kalian tidak perlu bermalam. Perjalanan ke padukuhan itu memerlukan waktu yang panjang. Kemudian jika benar kalian bersalah, maka kalian akan bermalam untuk waktu yang tidak terbatas.
“Maksudmu” Mahisa Bungalan tidak dapat menahan hati lagi.
“Kalian akan berkubur di padukuhan itu.” Wajah Mahisa Bungalan menjadi merah. Tetapi untunglah, bahwa cahaya obor yang kemerah-merahan telah menyamun warna yang membara di wajahnya itu.
“Baiklah Ki Sanak” Mahisa Agni pun cepat mendahului Mahisa Bungalan yang menggeram, “kami akan bersedia bersama kalian pergi ke padukuhan itu.
“Kami akan mengikat tangan dan kaki kalian” berkata bebahu yang bertubuh kekar.
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Namun sebelum Mahisa Bungalan menjawab, ia mendahului, “Itu tidak perlu Ki Sanak. Kami sudah menyerah sesuai dengan keputusan kalian dan syarat yang kami ajukan. Bawalah kami dengan kekuatan yang ada. Kami tidak akan mengingkari perjanjian yang telah kami buat. Sebab, jika demikian, maka kami akan mengalami nasib yang tidak baik di sepanjang jalan, karena kami akan berhadapan dengan kekuatan yang tidak terlawan dari padukuhan ini.”
Beberapa saat lamanya Ki Buyut mempertimbangkan kata-kata Mahisa Agni, sementara Mahisa Agni pun menjadi cemas. Adalah tidak akan mungkin Mahisa Bungalan menyerahkan tangan dan kakinya untuk diikat. Dan apakah agaknya ia sendiri dan Witantra bersedia?
Namun yang paling mencemaskan adalah Mahisa Bungalan yang sudah menjadi gelisah dan seolah-olah tidak dapat bertahan lebih lama lagi.
Namun ternyata bahwa Ki Buyut dapat mengerti kata Mahisa Agni. Karena itu, maka ia pun kemudian berkata, “Baiklah Ki Sanak. Agaknya masih ada sisa kepercayaanku kepada kalian. Kalian dapat berkuda tanpa diikat kaki dan tanganmu.”
“Ayah” potong salah seorang anak Ki Buyut.
“Aku masih percaya kepadanya. Tetapi jika mereka ternyata menyalahi janji, maka mereka akan kami cincang di bulak panjang itu dan kulit dagingnya akan kami serakkan sepanjang tanggul untuk menjadi makanan anjing-anjing liar.
Mahisa Bungalan menggigit bibirnya, seolah-olah ia sedang berusaha untuk menahan agar mulutnya tidak terbuka dan meneriakkan kemarahan yang melonjak di dalam dadanya.
“Marilah” Berkata Ki Buyut, “Kita pergi ke padukuhan di dekat hutan itu. Biarlah orang-orang di padukuhan itu menentukan, apakah orang-orang inilah yang telah melakukan kejahatan di padukuhan mereka, dan membunuh dua orang serta melukai banyak orang yang lain.
Nampaknya anak-anak Ki Buyut tidak puas dengan keputusan ayahnya itu. Tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka harus menurut seperti yang dikatakannya meskipun mereka tidak sependapat.
“Kita mengawal mereka dengan kuat” Berkata salah seorang dari anak Ki Buyut itu.
Yang lain tidak menjawab. Tetapi mereka bersiaga untuk membawa ketiga orang itu dan bertindak dengan cepat apabila ketiga orang itu mencoba berbuat sesuatu yang tidak mereka kehendaki di sepanjang jalan.
Ternyata anak-anak Ki Buyut itu merasa bahwa mereka adalah termasuk orang-orang berilmu. Di sekitar padukuban mereka, maka mereka adalah orang-orang yang paling disegani, karena mereka telah mempelajari ilmu kanuragan dari bekas seorang prajurit di masa kejayaan Tumapel. Meskipun prajurit itu sudah cukup tua, tetapi mereka masih sempat mendapat tuntunan yang memadai bagi keselamatan padukuhannya.
Demikianlah, maka padukuhan itu rasa-rasanya telah berubah menjadi riuh. jika semula padukuhan itu nampak lengang dan sepi, justru semakin gelap, padukuhan itu rasa-rasanya telah terbangun dari tidurnya yang lelap.
Sejenak kemudian, maka sebuah iringan telah meninggalkan halaman rumah Ki Buyut. Tiga orang berkuda dikawal oleh beberapa orang yang dianggap terkuat di padukuhan itu. Semua anak laki-laki Ki Buyut ikut serta bersama Ki Buyut sendiri dan sepuluh orang lain yang pernah mempelajari olah kanuragan pula pada bekas prajurit Tumapel itu.
Dengan demikian maka, seolah-olah sepasukan berkuda telah siap berangkat ke medan perang dengan mendambakan kemenangan.
Mahisa Bungalan menjadi sangat gelisah mengalami perlakuan itu. Namun ketika ia berpaling memandangi wajah Mahisa Agni, di dalam keremangan bayangan cahaya obor, nampak ia tersenyum.
“Paman tidak tersinggung mengalami perlakuan ini?” Mahisa Agni menarik nafas. Katanya, “Tentu saja aku merasa tersinggung. Tetapi terhadap orang-orang yang tidak mengerti seperti Ki Buyut dan anaknya, apakah yang sebaiknya kita lakukan? ”
Mahisa Bungalan beralih memandang Witantra. Tetapi kesan wajah orang tua itu pun tidak berbeda dengan kesan yang ditangkapnya di wajah Mahisa Agni.
Ketika mereka keluar dari jalan padukuhan, dua orang berkuda telah mendahului mereka dan berkuda di paling depan. Sedangkan di antara para pengiring, terdapat beberapa orang yang membawa obor.
Di sepanjang jalan yang mereka lalui, agaknya iring-iringan itu benar-benar telah menarik perhatian- Ketika mereka mendekati sebuah padukuhan, maka padukuhan itu menjadi gempar. Setiap laki-laki segera mencari senjata, jenis apapun yang dapat mereka ketemukan, karena mereka pun telah pernah mendengar berita tentang tiga orang yang telah melakukan kejahatan di padukuhan di dekat hutan kecil itu, sehingga mereka pun telah bertekad untuk bersiaga setiap saat menghadapi segala kemungkinan.
Ketika memasuki padukuhan itu, maka dua orang yang sudah dikenal mendahului iring-iringan itu dan memberitahukan siapakah yang akan lewat.
“Tiga orang penjahat itu dapat kalian tangkap tanpa perlawanan?” Bertanya seorang anak muda.
“Ya, Mereka semula ingin bermalam di rumah Ki Buyut. Tetapi langsung Ki Buyut menangkap mereka dan membawa mereka ke padukuhan di pinggir hutan itu untuk meyakinkan apakah benar mereka yang bersalah.
“O” Anak muda itu mengangguk-angguk, “Sudah sepantasnya demikian. Putera-putera Ki Buyut itu adalah anak-anak muda yang tidak ada imbangannya di daerah ini. Adalah nasib malang yang telah membenturkan tiga orang penjahat itu dengan anak-anak Ki Buyut.”
Ternyata Mahisa Bungalan dapat mendengar percakapan itu meskipun tidak seluruhnya. Terasa darah mudanya bagaikan menggelegak di dadanya. Namun setiap kali ia berpaling ke pada kedua orang pamannya, nampaknya mereka masih tetap tenang dan bahkan seakan-akan sama sekali tidak mengacuhkan atas apa yang sedang terjadi.
Dalam pada itu, maka iringkan itu berjalan terus, melalui bulak-bulak panjang dan jalan-jalan padukuhan yang suram
Namun dengan demikian iring-iringan itu rasa-rasanya semakin lama menjadi semakin panjang. Beberapa anak muda yang mempunyai seekor kuda di padukuhan-padukuhan yang dilewati, yang sempat mengambil kuda-kuda mereka, segera menggabungkan diri pada iringkan itu untuk melihat, apa yang akan terjadi di padukuhan yang pernah mengalami bencana itu.
“Jika benar-benar ketiga orang itu yang telah melakukan kejahatan, maka mereka pun akan mengalami nasib yang sama seperti kedua orang yang terbunuh dengan tatu arang keranjang itu” desis seorang anak muda.
“Lebih dari itu. Kemarahan orang-orang di padukuhan itu agaknya tidak akan dapat terbendung lagi. Mungkin mereka bertiga akan dicincang sampai lumat dengan perlahan-lahan” Sahut yang lain.
“Ah, tentu tidak” Berkata seorang anak muda yang sudah nampak lebih matang, “Jika mereka harus dibunuh, mereka akan dibunuh. Tetapi tidak dengan cara yang biadab. Jika kita pun melakukan hal yang serupa, lalu apakah bedanya antara mereka dan kita?”
“Mereka sudah mendahului. Mereka telah membangkitkan kemarahan kami” sahut anak muda yang pertama, “Jika kami melakukannya, itu adalah semacam hukuman yang setimpal bagi mereka.”
“Tetapi kita memiliki perasaan yang seharusnya lebih dalam tentang perikemanusiaan. Itulah yang agaknya tidak mereka miliki”
Yang lain tidak menyahut lagi. Tetapi dari sorot matanya nampak dendam yang menyala meskipun ia tidak mengalami perlakuan yang ganas dari ketiga orang penjahat itu.
Demikianlah iring-iringan berobor itu menjadi semakin lama semakin dekat dengan padukuhan di pinggir hutan itu. Di tengah-tengah bulak nampaknya bagaikan seekor ular yang bersisikkan bara sedang merambat dengan cepat, meluncur seolah-olah sedang menyergap mangsanya.
“Kalian melihat obor-obor itu” tiba-tiba seorang peronda di padukuhan di dekat hutan itu berdesis.
“Ya. Agaknya menuju kemari” Jawab yang lain.
“Apakah mereka kawan-kawan penjahat itu?”
“Jika demikian, kita akan celaka. Bukan hanya dua orang yang akan terbunuh, tetapi semua laki-laki akan mati”
“Agaknya demikian jika kita dengan suka rela menyerahkan kepala kita. Kita sekarang sudah bersiaga. Beberapa saat yang lampau, peristiwa itu terjadi demikian mengejutkan sehingga kita tidak sempat berbuat apa-apa.”
Yang lain mengangguk-angguk. Namun kemudian wajahnya menjadi tegang. “Ya. Mereka menuju kemari.”
“Siapkan semua laki-laki.”. Tiba-tiba terdengar perintah pemimpin peronda itu” Seorang dari kalian, pergi ke rumah Ki Buyut dan melaporkan, bahwa iringan berkuda dan berobor sedang menuju kemari.”
Seorang dari mereka pun kemudian dengan tergesa-gesa pergi ke rumah Ki Buyut, sedang yang lain dengan tergesa-gesa pula memanggil setiap orang laki-laki, dengan beruntun yang seorang kepada yang lain
Dengan demikian, maka dalam waktu yang singkat, setiap orang telah mendengar, bahwa sebuah iring-iringan berobor sedang meluncur dengan cepat menuju ke padukuhan mereka. Karena itulah maka mereka pun segera mempersiapkan diri untuk menghadapi segala kemungkinan. Mereka tidak mau membiarkan diri mereka dibantai dengan semena-mena.
“Siapkan kentongan” Perintah Ki Buyut yang kemudian telah berada di antara orang-orangnya, “Jika ternyata mereka penjahat-penjahat, maka bunyikan tengara, agar orang-orang dari padukuhan sebelah menyebelah mendengar dan datang membantu. Kami sudah membuat perjanjian dengan mereka, bahwa dalam keadaan yang gawat, kita akan saling membantu. Bagaimanapun juga kemampuan para penjahat, jika jumlah kita berlipat ganda, maka mereka tidak akan dapat berbuat banyak. Mungkin akan jatuh banyak korban di antara kita. Tetapi mereka harus kita musnahkan.”
Beberapa orang pun kemudian menyiapkan kentongan. Tidak hanya di satu tempat, tetapi di beberapa tempat yang sudah ditentukan.
Padukuhan itu pun bagaikan telah diguncang oleh kegelisahan. Berpuluh-puluh orang laki-laki termasuk anak-anak mudanya telah bersiap menghadapi segala kemungkinan. Meskipun mereka tidak memiliki kemampuan berkelahi, tetapi mereka telah dibakar oleh dendam karena peristiwa yang pernah terjadi. Apalagi mereka telah saling bersepakat dengan orang-orang di padukuhan sebelah menyebelah, jika terjadi sesuatu, maka mereka akan menghadapi bersama-sama.
Sejenak orang-orang di padukuhan itu menunggu. Tetapi mereka tidak berkumpul menjadi satu. Mereka membagi diri dalam kelompok-kelompok yang terpencar.
Iring-iringan berkuda itu meluncur semakin dekat Namun agaknya seperti yang selalu dilakukan, di antara mereka dua orang telah mendahului yang lain untuk memberitahukan, agar tidak terjadi salah paham.
Namun agaknya dendam yang membara di hati setiap laki-laki di padukuhan itu benar-benar telah siap untuk meledak. Itulah sebabnya, maka setiap orang di antara mereka telah mencabut senjata mereka masing-masing untuk menghadapi segala kemungkinan. Namun demikian, mereka masih belum membunyikan tengara untuk memanggil tetangga-tetangga di padukuhan sebelah menyebelah.
Dalam pada itu, ketegangan semakin mencengkam setiap orang yang menunggu kedatangan iring-iringan berkuda itu. Bahkan ada di antara mereka yang sudah tidak sabar lagi untuk menunggu lebih lama di kegelapan.
Ternyata kehadiran dua orang yang mendahului iring-iringan itu telah sangat menarik perhatian. Beberapa orang segera berloncatan ke tengah jalan untuk menghentikan kedua orang berkuda yang mendahului iringkan berobor itu.
Kedua orang berkuda itu segera menarik kekang, sehingga kedua ekor kuda itu pun berhenti dengan serta-merta.
Sementara itu, beberapa ujung tombak pun segera mengarah ke lambung kedua penunggang kuda itu, sementara seorang yang bertubuh pendek maju mendekat sambil bertanya, “Siapakah kalian he?”
“Kakang Kusung”
“Kau kenal aku?” bertanya Kusung.
“Lihatlah aku baik-baik” jawab orang berkuda itu, “kau pun tentu mengenal aku. .”
Kusung memperhatikan orang berkuda itu sejenak. Lalu katanya dengan wajah yang tegang, “He. kau. Apa kerjamu di sini he? Apakah kau yang membawa iringkan berkuda itu?”
“Ya.”
“Apa maksudmu?”
“Kami membawa tiga orang asing”
“Tiga orang?” Kusung menjadi semakin tegang, “Si apakah mereka?”
“Sebentar lagi kau akan melihat. Mereka adalah orang-orang yang memang pantas dicurigai. Kami sudah mendengar apa yang terjadi disini, sehingga karena itu, maka tiga orang itu telah kami tangkap dan kami bawa kemari. Mungkin mereka adalah orang-orang yang pernah datang ke padukuhan ini dan membunuh beberapa orang.”
“Mungkin, mungkin sekali. Dimanakah orang itu?”
“Sebentar lagi, mereka berada di dalam iring-iringan itu”
Orang yang disebut Kusung itu pun tertegun sejenak Namun kemudian katanya, “Pergi kepada Ki Buyut. Katakan apa yang sudah kau dengar.”
Dua orang anak muda yang ada di antara mereka segera berlari-lari mencari Ki Buyut di gardu induk. Mereka melaporkan apa yang mereka dengar tentang tiga orang berkuda itu.
Ki Buyut termangu-mangu sejenak Namun kemudian katanya, “Baiklah. Aku akan melihat, siapakah mereka itu. Jika mereka benar-benar orang yang telah membunuh saudara-saudara kita disini, maka terserah kepada kalian, apakah yang akan kalian lakukan atas mereka.”
“Cincang saja mereka itu. Cincang sampai lumat seperti apa yang pernah mereka lakukan terhadap saudara-saudara kita.”
Ki Buyut menarik nafas. Kemudian katanya, “Tetapi bagaimana mungkin mereka dapat menangkap ketiga orang itu?
“Anak Ki Buyut dari padukuhan di ujung bukit itulah yang telah menangkapnya.” Desis seorang berambut putih-
“Darimana kau tahu?” bertanya Ki Buyut.
Orang berambut putih itu mengangkat wajahnya. Desisnya, “Aku tahu benar kemampuan mereka. Bekas prajurit di padukuhan mereka itulah yang telah mengajar mereka, sehingga mereka memiliki kemampuan seperti seorang prajurit. Kemauan mereka mempelajari ilmu itu, agaknya telah mendorong mereka sehingga mereka justru memiliki kemampuan melebihi prajurit kebanyakan.”
Ki Buyut mengangguk-angguk Ia pun pernah mendengar, bahwa anak-anak muda di padukuhan di ujung bukit itu mempunyai kelebihan dari anak-anak muda yang lain.
“Marilah” Katanya kemudian, “Kita menyongsong mereka di luar padukuhan. Mungkin ada persoalan yang tiba-tiba saja terjadi. Agaknya tidak terlampau mudah menangkap tiga orang yang pernah membuat onar disini.”
Dengan tergesa-gesa mereka pun kemudian pergi ke ujung lorong menyongsong iring-iringan yang sudah menjadi semakin dekat.
Ki Buyut menjadi semakin ragu-ragu ketika ia mendengar dari kedua orang yang mendahului itu, bahwa ketiga orang itu dapat mereka tangkap tanpa perlawanan.
“Nampaknya mustahil” Berkata Ki Buyut, “Ketiga orang itu nampaknya sangat garang. Apakah mereka dengan begitu mudahnya menyerah? Seandainya putera-putera Ki Buyut itu memiliki kemampuan yang tinggi, ketiga orang itu tentu tidak mengetahuinya. Agaknya sulitlah untuk memaksa mereka menyerah hidup-hidup. Kecuali itu hanya sekedar tipu muslihat”
“Kenapa tipu muslihat?”
“Mereka berpura-pura menyerah. Tetapi pada suatu saat mereka justru akan mengambil korban lebih banyak lagi.”
Orang yang mendengar pertimbangan Ki Buyut itu menjadi ragu-ragu. Juga dua orang yang mendahului iring-iringan itu
“Apakah mungkin begitu Ki Buyut?” Bertanya salah seorang dari kedua orang itu.
“Hanya sekedar dugaan. Tetapi kita memang perlu berhati-hati. Tetapi mungkin pula dugaan itu keliru. Mereka sebenarnya adalah penakut yang mudah menyerah jika lawannya menunjukkan keberanian untuk melawan.”
“Tetapi bukankah di padukuhan ini juga telah terjadi pertempuran saat itu?”
“Tetapi kami menunjukkan keragu-raguan sehingga ketiga orang itu rasa-rasanya telah mendapat kepastian untuk menang.”
Kedua orang itu mengangguk-angguk. Tetapi mereka tidak sempat untuk bertanya lagi, karena iring=iringan itu pun telah menjadi semakin dekat, meskipun tidak terlampau cepat.
Nyala obor yang kemerah-merahan nampak menyusuri bulak panjang, berkelok-kelok di sepanjang jalan di tengah-tengah tanah persawahan yang luas. Karena itulah, maka selagi jaraknya masih panjang, orang-orang di padukuhan itu sudah melihatnya. Bahkan sebelum iring-iringan itu menyusup ke padukuhan kecil yang terakhir sebelum mencapai padukuhan itu.
Kini iring-iringan itu menjadi dekat sekali. Karena itulah maka Ki Buyut pun kemudian melangkah maju menyongsong iring iringan itu-
Di paling depan dari iring-iringan itu adalah Ki Buyut yang kemudian menempatkan diri di ujung bersama dua orang anak laki-lakinya, sedangkan anaknya yang lain. berada di sekitar ketiga orang yang telah mereka tangkap tanpa perlawanan.
Ki Buyut dari padukuhan di ujung Bukit itu pun menarik kekang kudanya ketika ia melibat beberapa orang menyongsongnya. Diantara mereka nampak kedua orangnya yang mendahului iring-iringan itu dan Ki Buyut dari padukuhan di sisi hutan rindang, yang telah mengalami bencana itu.
“Selamat datang di padukuhan kami Ki Buyut.” berkata Ki Buyut padukuhan di sisi hutan.
Ki Buyut dan padukuhan di ujung bukit pun segera turun dari kudanya sambil menjawab, “Terima kasih. Kami datang membawa beberapa orang yang barangkali penting bagi padukuhanmu.”
Sejenak mereka pun kemudian berbincang, sementara iring iringan itu terhenti
Mahisa Bungalan yang merasa dirinya diperlakukan tidak adil, hampir tidak dapat menahan hatinya lagi. Namun setiap kali kedua pamannya selalu memberinya isyarat, agar ia tidak berbuat apa-apa.
Namun ketiga orang itu pun kemudian tertegun ketika mereka melihat beberapa orang mendekatinya. Diantara mereka adalah Ki Buyut dari padukuhan di pinggir hutan itu
Sejenak Ki Buyut termangu-mangu. Di bawah cahaya obor, ketiganya diamat-amati seperti tertuduh yang akan mendapat pengadilan.
“Turunlah” terdengar suara Ki Buyut yang besar dan dalam
Mahisa Bungalan menggigit bibirnya. Namun ketika ke dua orang pamannya telah meloncat turun pula. maka ia pun segera turun betapapun segannya.
Agaknya beberapa orang yang sedang mengamat-amatinya masih belum puas melihat ketiganya yang berdiri diam betapapun dada Mahisa Bungalan bergejolak
Betapapun juga, ternyata Mahisa Agni dan Witantra menjadi berdebar-debar juga. Rasa-rasanya mereka memang sedang menunggu keputusan yang akan dijatuhkan atas mereka. Bersalah atau tidak.
Ketiga orang itu sempat melihat Ki Buyut yang kemudian berbicara dengan beberapa orang pembantunya. Sekali-kali anak Ki Buyut dari ujung bukit ikut pula berbicara di antara mereka. Namun ketiga orang yang sedang menjadi pusat perhatian itu tidak mendengar, apakah yang sedang mereka bicarakan itu.
Tetapi ketiga orang itu terkejut ketika mereka tiba-tiba saja mendengar seseorang berbicara cukup keras, “Aku tidak peduli. Mereka tentu kawan-kawan dari tiga orang berkuda yang terdahulu, yang dengan semena-mena telah membunuh di padukuhan ini”
Mahisa Bungalan memandang kedua pamannya berganti-ganti. Meskipun ia tidak mengatakan sesuatu, namun terdengar giginya gemeretak menahan kemarahan yang hampir meledak.
“Tenanglah Bungalan” Bisik Witantra, “Kita menunggu keputusan terakhir.”
“Jika keputusan itu menjerat leher kita. apakah yang akan kita lakukan?”
“Ssss” desis Witantra, “jangan terlampau keras. Jika mereka mendengarnya, tentu akan mempengaruhi keputusan yang akan mereka ambil.
Mahisa Bungalan terdiam. Kini pembicaraan di antara orang-orang padukuhan itu menjadi perlahan-lahan lagi, sehingga Mahisa Bungalan, Mahisa Agni dan Witantra tidak dapat mendengarnya.....
Bersambung....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar