*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 11-01*
Karya. : SH Mintardja
Terasa suasana yang jauh berbeda dengan suasana paseban di Singasari. Bukan karena tempatnya yang terlampau sederhana, tetapi hubungan yang rapat antara Ranggawuni, Mahisa Cempaka dengan para pembantunya. Dengan para Senapati dan pengawahnya.
“Kami memang menunggu kedatanganmu berdua,” berkata Ranggawuni kemudian, “Kami memang berharap, mudah-mudahan kami dapat bertemu dengan kalian. Jika tidak malam ini, mungkin besok atau lusa. Tapi pertemuan ini benar benar aku harapkan dalam waktu yang dekat ini.”
Kedua Senapati dari Singasari itu tidak menjawab. Tetapi mereka mengangguk-angguk kecil seakan-akan kata-kata yang diucapkan oleh Ranggawuni itu memberikan harapan yang cerah bagi mereka.
“Kami berterima kasih atas kunjungan kalian,” kata Ranggawuni kemudian, “Kedatangan kalian berdua memberikan gambaran yang lebih baik bagi masa datang Singasari.”
“Tuanku,” kata salah seorang Senapati itu, “Hamba tidak tahu, apakah yang sepantasnya hamba katakan. Tetapi hamba mendapat tugas dari Panglima untuk menghadap tuanku, justru karena kunjungan Lembu Ampal yang menyebut dirinya sebagai utusan tuanku.”
“Ya. Akulah yang memerintahkan kepadanya untuk menghubungi kedua Panglima. Kami mengetahui apa yang terjadi dan apa yang berkembang di Singasari. Pertentangan, kecurigaan dan prasangka. Oleh karena itu aku tidak dapat menunggu terlampau lama. Penasehat-penasehatku memberikan petunjuk kepadaku bahwa aku harus segera berbuat sesuatu.”
Kedua Senapati itu menjadi heran. Ranggawuni dan Mahisa Cempaka masih terlampau muda. Tetapi seakan-akan ia telah cukup masak untuk memimpin Singasari.
Tetapi kedua Senapati itu pun kemudian dapat mengerti, jika di ruangan itu terdapat beberapa orang yang dianggapnya memiliki segala macam ilmu dan kepandaian di dalam olah pemerintahan.
“Sekarang kalian telah melihat keadaan kami,” kata Ranggawuni kemudian, “Terserahlah kepada kalian, keputusan apakah yang akan kalian ambil. Apakah kalian bersedia bekerja bersama kami, atau kalian akan menentukan sikap sendiri.”
Salah seorang Senapati itu menjawab, “Tuanku, hamba akan laporkan apa yang hamba ketahui tentang tuanku berdua dan tentang kesiagaan tuanku. Selain kenyataan yang hamba lihat, hamba akan memberikan pertimbangan pula kepada Panglima hamba.”
“Terima kasih.” sahut Ranggawuni, “Tetapi agaknya yang kalian lihat belum lengkap jika kalian hanya melihat padukuhan ini saja. Padukuhan kecil yang tidak berarti apa-apa. Sebaiknya kalian melihat pedukuhan-pedukuhan yang lain, yang nanti akan diantarkan oleh Lembu Ampal.”
“Hamba sangat berterima kasih atas kesempatan ini tuanku.”
“Baiklah. Aku tahu kesempatan tidak terlampau banyak. Tetapi aku berpendapat, bahwa sebaiknya kalian kembali masuk kelingkungan kota Singasari besok malam saja. Sebentar lagi matahari akan terbit, dan kalian tidak akan dapat masuk dengan diam-diam.”
“Pergilah bersamaku.” berkata Mahisa Agni, “Tetapi jika kalian masih ingin melihat beberapa pedukuhan yang lain, biarlah seperti yang dikatakan tuanku Ranggawuni, kembali sajalah besok malam.”
“Apakah Tuan akan kembali?” bertanya salah seorang Senapati itu.
“Sebelum fajar, aku harus sudah berada di bangsalku.”
“Sebelum fajar?” Senapati itu heran.
“Ya. Sebelum fajar.”
Kedua Senapati itu saling berpandangan. Saat itu Mahisa Agni masih tenang-tenang saja di tempatnya dan sebelum fajar ia sudah berada kembali di bangsalnya.
“Apakah aku berada di tengah-tengah kumpulan hantu-hantu?” bertanya kedua Senapati itu di dalam hatinya.
Dalam pada itu, maka Lembu Ampal pun kemudian mengajak kedua Senapati itu untuk melihat padukuhan yang lain. Setelah mohon diri kepada Ranggawuni, Mahisa Cempaka, Mahisa Agni dan orang-orang lain yang ada di ruang itu, maka kedua Senapati itu pun meninggalkan halaman yang tidak begitu luas itu.
Dengan menunggang kuda, maka mereka pun segera menyusuri jalan-jalan sempit di persawahan. Kemudian melintasi bulak-bulak panjang dan menembus gelapnya malam dan dinginnya embun.
Sesaat kemudian, maka mereka pun telah memasuki sebuah padukuhan kecil yang lain. Seperti padukuhan yang pernah dilihatnya, maka ia pun melihat beberapa kelompok prajurit yang berserakan di halaman-halaman.
Mereka kemudian menemui Senapati yang bertanggung jawab di padukuhan kecil itu. Mereka berbicara sejenak. Kemudian Senapati-Senapati itu pun meneruskan perjalanan mereka bersama Lembu Ampal.
“Kita mengitari kota Singasari.” berkata Lembu Ampal.
Kedua Senapati itu menarik nafas dalam-dalam. Salah seorang dari mereka berkata, “Aku mengerti, bukan semuanya prajurit-prajurit Singasari yang ada di Kediri, atau kesatuan-kesatuan yang ada di luar kota Singasari yang dapat dihimpun oleh tuanku Ranggawuni. Namun meskipun di antara mereka adalah rakyat kebanyakan, namun mereka telah bertekad untuk mengabdikan dirinya bagi Singasari di bawah pimpinan tuanku Ranggawuni dan Mahisa Cempaka.”
Lembu Ampal mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Kota Singasari sendiri memang sudah terkepung. Kami sengaja memilih tempat pada padukuhan-padukuhan kecil dan terpencil, agar kehadiran kami di seputar kota tidak segera diketahui. Di siang hari, mereka tidak pernah keluar dari padukuhan, apalagi berkeliaran. Sedang mereka yang masih mempunyai pekerjaan di rumah atau di sawah, dapat saja mereka lakukan. Tetapi di malam hari kami bersiap, dan terutama mengadakan latihan-latihan bagi mereka yang pada dasarnya bukan prajurit. Dan agaknya latihan-latihan itu telah menyenangkan hati mereka.”
Kedua Senapati yang menyertai Lembu Ampal itu mengangguk-angguk. Mereka tidak dapat mengingkari kenyataan yang dilihatnya.
Apalagi kemudian mereka pun telah di bawa oleh Lembu Ampal ke beberapa tempat lainnya. Kepadukuhan-padukuhan kecil di bulak-bulak yang luas atau ke tempat-tempat terpencil yang lain yang merupakan tempat yang menjadi pemusatan kekuatan Ranggawuni dan Mahisa Cempaka.
Ketika mereka sampai ke sebuah padukuhan di arah lain dari kota Singasari, mereka mendengar dari Senapati yang bertanggung jawab di tempat itu, bahwa sebagian besar dari orang-orangnya sedang kembali ke padukuhan masing-masing, karena kebetulan musim menuai padi baru saja mulai.
“Kami biarkan mereka berada di padukuhan masing-masing untuk satu dua hari. Tetapi mereka sudah berjanji, jika terdengar isyarat mereka akan segera bekumpul untuk tiga malam mereka tidak mengadakan latihan. Bahkan barang kali lebih lama lagi apabila mereka belum selesai dengan pekerjaan mereka di sawah. Bahkan jika mereka kembali kemari, beberapa pekan lagi mereka akan kembali lagi untuk mulai menggarap sawah dan menanam padi.”
“Jadi yang ada di sini sekarang?” bertanya Lembu Ampal.
“Yang tersisa adalah prajurit-prajurit yang sebenarnya prajurit. Merekalah yang memberikan latihan-latihan kepada orang-orang yang dengan suka rela menyerahkan dirinya untuk membebaskan Singasari dari ketidak tentuan sekarang ini.”
Kedua Senapati itu mengangguk-angguk. Mereka mendapat gambaran yang lengkap tentang persiapan Ranggawuni dan Mahisa Cempaka. Dari para Senapati mereka pun mendengar bahwa Ranggawuni dan Mahisa Cempaka telah memperhitungkan pula persediaan makanan dan kesatuan-kesatuan cadangan jika diperlukan.
“Yang kita lihat adalah garis pertama jika perang timbul.” berkata Lembu Ampal, “Dan di belakang garis pertama ini, masih ada lapisan-lapisan yang lengkap. Persediaan perlengkapan perang dan persediaan makanan, di samping tenaga-tenaga yang harus menghimpun kekuatan jika diperlukan, selain sudah disediakan tenaga cadangan khusus.”
Kedua Senapati itu mengangguk-angguk. Tetapi salah seorang dari mereka bertanya, “Lembu Ampal. Apakah kita akan dapat mempercayai bahwa tuanku Ranggawuni dan tuanku Mahisa Cempaka yang masih terlampau muda itu mampu membuat persiapan seperti ini betapapun cemerlangnya daya pikir mereka?”
Lembu Ampal tersenyum. Dan ia pun bertanya, “Apakah kalian tidak percaya bahwa tuanku Ranggawuni dan tuanku Mahisa Cempaka memiliki kemampuan diluar jangkauan nalar?”
“Aku percaya. Tetapi aku lebih percaya jika kau katakan bahwa kaulah yang telah mempersiapkan ini semua. Kaulah yang telah menyusun rencana ini dengan teliti, kemudian kau lakukan semuanya atas nama tuanku Ranggawuni dan tuanku Mahisa Cempaka.”
Lembu Ampal tersenyum. Katanya, “Terima kasih atas dugaanmu itu. Tetapi ingat, bahwa selain aku, masih ada seorang Senapati Besar Singasari yang dikuasakan di Kediri, dan yang sekarang berada di lingkungan tuanku Ranggawuni meskipun nampaknya ia berada di bangsalnya setiap saat. Selain Senapati Agung yang bernama Mahisa Agni itu, juga ada bekas seorang Panglima Pasukan Pengawal yang bernama Witantra, kemudian di antara mereka terdapat pula adik seperguruannya yang bernama Mahendra, yang memiliki kelebihan dari sesamanya. Dan jika kau heran melihat Kesatria Putih yang kadang-kadang lebih dari seorang dan memiliki kemampuan melebihi para prajurit dan bahkan Senapati yang manapun, maka dari mereka itulah yang kalian jumpai.”
“Benar-benar suatu susunan rencana yang rapi dan matang.” desis salah seorang dari kedua Senapati itu. Dan sebelum salah seorang Senopati itu meneruskan, maka Lembu Ampal telah mendahului, “Sebenarnyalah kami harus menyesuaikan diri dengan rencana yang lain yang agaknya telah tersusun dengan masak pula. Kematian seorang prajurit dari golongan Rajasa yang kemudian disusul oleh terbunuhnya seorang dari golongan Sinelir, yang dapat dipergunakan sebagai alasan untuk menarik prajurit-prajurit pendukung Tohjaya masuk ke dalam lingkungan istana, diikuti pula pembunuhan semena-mena yang dilakukan atas kedua Senapati dari kedua golongan itu, telah memaksa kami untuk bersiap. Menilik urut-urutan kejadian itu, maka Tohjaya telah mempersiapkan diri untuk menyapu setiap orang yang tidak sesuai dengan sikapnya selanjutnya. Terutama usahanya untuk membunuh tuanku Ranggawuni dan Mahisa Cempaka yang sebenarnya sama sekali tidak bersalah dan semula tidak berhasrat untuk berbuat apapun juga. Tetapi tuanku Tohjaya telah dibayangi oleh ketakutan-ketakutan yang mendorongnya untuk melakukan usaha pembunuhan yang gagal itu.”
“Darimana kau mengetahui hal itu?”
“Aku adalah orangnya yang mendapat perintah langsung untuk melakukannya. Sudah barang tentu atas petunjuk Pranaraja dan ibunda tuanku Tohjaya.”
Kedua Senapati itu mengerutkan keningnya. Agaknya Lembu Ampal tidak berbohong bahwa ialah yang mendapat perintah untuk melakukan pembunuhan itu.
“Nah, sekarang kalian berdua sudah tahu segala-galanya. Terserah kepada kalian, apakah yang akan kalian katakan kepada Panglima kalian masing-masing.” Lembu Ampal berhenti sejenak, lalu, “Tetapi agaknya jelas bagi kalian untuk tidak dapat memasuki gerbang saat ini. Lihat, langit sudah menjadi merah.”
Kedua Senapati itu menengadahkan kepalanya. Mereka telah melihat warna merah yang membayang di langit. Warna fajar.
“Sebaiknya kalian kembali apabila malam berikutnya telah datang. Kau dapat berada di antara kami satu hari, sehingga dengan demikian kalian akan melihat lebih banyak lagi dari persiapan kami yang mantap.”
Senapati itu mengerutkan keningnya. Salah seorang dari keduanya berkata, “Sebenarnya aku senang sekali berada sehari lagi di antara kalian. Tetapi jika aku tidak segera menghadap Panglima, maka akan dapat menimbulkan salah paham. Mungkin Panglima mengira bahwa kami berdua telah terjebak dan tidak akan dapat kembali.”
“Tetapi jika saatnya kau datang, maka kedua Panglima itu akan mengerti.”
“Namun selama ini Panglima dapat mengambil langkah-langkah yang barangkali justru merugikan kita semuanya.”
Lembu Ampal mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Tetapi bagaimana kalian akan memasuki kota. Kalian keluar dengan diam-diam. Jika kalian memasuki kota lewat gerbang, mungkin kalian akan mendapat kesulitan, karena kalian tentu akan dicurigai oleh para prajurit yang bertugas di pintu gerbang.”
Kedua Senapati itu terdiam sejenak. Tetapi mereka tidak segera mendapatkan jalan. Di siang hari mereka tidak akan dapat memasuki lingkungan kota dengan cara seperti di malam hari pada saat mereka keluar.
“Senapati.” berkata Lembu Ampal, “Jika kalian memang berkeras untuk memasuki kota, mungkin kalian dapat menempuh satu jalan. Berbuatlah seolah-olah kalian adalah rakyat kecil yang hilir mudik untuk menjual barang-barang dari anyaman bambu. Mungkin kalian dapat membawa beberapa buah barang-barang anyaman seperti itu. Alat-alat dapur dan alat-alat rumah yang lain.”
Kedua Senapati itu saling berpandangan. Namun salah seorang dari mereka tersenyum dan berkata, “Itu baik sekali. Aku akan mencoba.”
“Tetapi cepatlah. Lepaskan pakaian Senapatimu. Orang-orang yang menjual barang-barang anyaman bambu itu memasuki kota pada saat menjelang fajar seperti sekarang ini.”
“Tetapi darimana kami mendapat barang-barang itu.” bertanya salah seorang Senapati itu.
“Jangan cemas. Aku akan dapat mengusahakan berapa saja kau dapat membawa. Tetapi kau harus mengikat barang-barangmu seperti orang-orang lain menjual dagangannya ke kota.”
“Aku akan belajar.” sahut salah seorang dari kedua Senapati itu.
Demikianlah kedua Senopati itu pun berganti pakaian. Sejenak mereka mempelajari bagaimana mereka harus membawa barang-barang anyaman yang akan dijual di dalam kota Singasari.
Ternyata Lembu Ampal sama sekali tidak mendapat kesulitan apapun untuk mendapatkan barang-barang yang kemudian akan dibawa oleh kedua Senapati itu. Bahkan Lembu Ampal pun telah mendapat pakaian yang akan dipakai oleh kedua Senapati itu pula.
Dengan beberapa pesan kepada orang-orang yang akan memasuki gerbang Lembu Ampal menitipkan kedua Senapati itu kepada mereka. Karena sebagian dari mereka adalah orang-orang yang telah menyatakan diri berada di dalam lingkungan pasukan yang dipersiapkan oleh Ranggawuni dan Mahisa Cempaka, maka kedua Senapati itu pun tidak akan mendapat kesulitan dari kawan-kawannya yang memasuki kota dalam iring-iringan.
Meskipun demikian, kedua Senapati itu harus berhati-hati. Mereka tidak biasa menjinjing seikat barang-barang anyaman bambu di atas kepala. Rasa-rasanya leher mereka menjadi sakit dan lelah. Tetapi mereka harus menahankannya.
Ketika iring-iringan itu memasuki pintu gerbang induk, hati kedua Senapati itu menjadi tegang. Rasa-rasanya mata setiap prajurit yang berugas di gerbang itu memandanginya dengan tajamnya.
Namun ternyata bahwa iring-iringan itu berhasil memasuki kota seperti biasanya. Agaknya para penjaga tidak menaruh kecurigaan apa-apa kepada setiap orang dalam iring-iringan itu, karena mereka tidak meneliti seorang demi seorang dari mereka. Cara mereka menjinjing barang-barang dagangannya di atas kepala. Pakaian mereka dari cara mereka berbicara.
Kedua Senapati itu menarik nafas lega ketika mereka telah berada di dalam kota. Tetapi mereka tidak segera memisahkan diri dari iring-iringan itu. Mereka berjalan terus bersama dengan orang-orang lain menjinjing barang-barangnya sampai ke tempat mereka biasa menjajakan barang-barang anyaman itu.
Baru ketika barang-barang mereka telah diletakkan di antara barang-barang yang lain, maka kedua Senapati itu pun minta diri kepada orang-orang yang mendapat titipan dari Lembu Ampal.
“Aku mengucapkan terima kasih kepada kalian.” berkata Senapati itu, “Mumpung masih belum pagi. Kami akan kembali ke rumah kami.”
“Silahkanlah.” jawab orang itu.
Kedua Senapati itu pun kemudian meninggalkan mereka setelah menitipkan barang-barangnya dan menyerahkan kepada mereka untuk menjualnya. Ternyata keduanya merasa betapa tinggi kesadaran orang-orang yang berada di bawah pengaruh Ranggawuni dan Mahisa Cempaka.
“Untunglah bahwa hari masih remang-remang.” berkata seorang Senapati kepada kawannya.
Kawannya tersenyum. Lalu, “Seandainya hari telah menjadi terang sekalipun, para prajurit di pintu gerbang tidak akan mencurigai kita.”
Dengan pakaian penjual barang-barang anyaman, mereka pun kemudian berjalan di sepanjang jalan kota ke rumah masing-masing. Dengan sengaja mereka membiarkan diri mereka berpapasan dengan orang-orang yang sudah mengenalnya Tetapi ternyata orang-orang itu sama sekali tidak memperhatikannya, sehingga kadang-kadang kedua Senapati itu harus tersenyum sendiri sambil mengamat-amati pakaiannya.
Baru kemudian mereka sadari, bahwa pakaian yang mereka pakai, setelah hari menjadi terang, benar-benar pakaian yang kotor dan kumal. Pakaian yang sudah sobek di beberapa bagian, dan yang sudah tidak pantas dipakai lagi.
Tiba-tiba saja tubuh mereka terasa menjadi gatal-gatal, seakan-akan pakaian itu penuh dengan kuman-kuman penyakit yang mulai menjalari tubuh mereka.
Karena itulah maka mereka pun melangkah semakin cepat. Mereka ingin segera sampai ke rumah, mandi dan berganti dengan pakaian yang bersih.
Tetapi, hampir bersamaan, keduanya mengalami perlakuan yang menjengkelkan di regol halaman masing-masing. Seorang pengawal yang melihat kedatangan seorang berpakaian kumal, segera membentaknya, “He, kau mau kemana?”
Senapati itu memandang pengawalnya sambil tersenyum. Katanya, “Apakah kau mabuk, sehingga kau tidak mengenal aku lagi.”
Pengawalnya mengerutkan keningnya. Namun ia pun membentak pula, “Siapa kau dan apakah maksudmu?”
“He, kau benar-benar tidak mengenal aku.”
“Cepat, jawab. Atau aku putar kepalamu.”
“Buka matamu.” berkata Senapati itu, “Siapa aku he?”
Pengawal itu termangu-mangu. Namun kemudian perlahan-lahan ia mulai mengenali Senapatinya. Karena itu, ia pun menjadi gemetar sambil berkata, “Tetapi tuan, kenapa tuan berpakaian seperti orang-orang padesan yang miskin?”
“Tidak apa. Cepat pergi, dan jangan katakan kepada siapapun. Aku ingin cepat membuka pakaian yang membuat menjadi gatal-gatal.”
Pengawal itu tidak menjawab. Dipandanginya saja Senapati yang memakai pakaian yang aneh itu naik ke tangga pendapa.
Sekilas pengawal itu mendengar isteri Senapati itu menjerit kecil. Namun suara itu segera terdiam. Namun demikian beberapa orang dengan tergesa-tergesa menuju ke biliknya.
“Kenapa kau berteriak?” bertanya Senapati itu. lsterinya menutup mulunya dengan telapak tangannya.
“Kenapa kakang memakai pakaian itu?”
“Aku sedang dalam tugas sandi.”
“O, maafkan aku.” berkata isterinya yang kemudian pergi ke luar biliknya sambil tersenyum dan berkata kepada pelayan-pelayannya yang berkerumun di luar pintu bilik, “Tidak ada apa-apa. Aku hanya terkejut sedikit.”
Para pelayan menjadi heran. Tetapi karena mereka tidak melihat sesuatu, maka mereka pun segera meninggalkan bilik itu.
Setelah para pelayan pergi, maka isteri Senapati itu kembali masuk ke dalam bilik. Dengan suara yang tertahan-tahan ia bertanya, “Kenapa kakang memakai pakaian seperti ini?”
“Aku dalam tugas sandi.”
“Tetapi sudah barang tentu tidak perlu dengan pakaian kumal dan kotor.”
Sambil melepas pakaian yang kotor itu, Senapati berkata, “Aku memerlukan pakaian ini.”
Isterinya yang menyediakan ganti pakaian itu pun kemudian menjadi bingung dan bertanya, “Apakah kakang akan langsung memakai pakaian ini?”
Senapati itu termangu-mangu. Lalu, “Aku harus mandi dahulu. Tetapi bagaimana aku akan pergi kepakiwan?”
Akhirnya Senapati itu memutuskan untuk mengorbankan satu pengadeg pakaiannya lagi, yang dipakainya dari biliknya sampai kepakiwan.
Setelah ia selesai mandi dan keramas, maka ia pun berpesan, “Pakaianku yang aku pakai ke pakiwan itu pun harus dicuci dengan air panas, lerak dan dijemur selama tiga hari.”
“Kedatangan kakang dalam pakaian kumal itu sangat mengejutkan aku.” berkata isterinya, “Bukankah kakang kemarin pergi untuk bertugas bersama dengan Panglima atau barangkali di rumah Panglima?”
“Ya. Dan aku kemudian menjalankan tugas sandi yang aneh ini.”
“Apakah yang sudah kakang lakukan?”
Senapati itu ragu-ragu sejenak. Namun seperti biasanya jika ia menganggap persoalannya belum saatnya diketahui oleh orang lain walaupun isterinya sendiri, maka ia pun tersenyum sambil berkata, “Besok kau akan mengetahuinya.”
Isterinya pun mengerti. Jika suaminya menjawab demikian maka artinya, ia tidak boleh mengetahui tugas yang sedang dilakukannya.
Demikianlah maka setelah berganti pakaian, mempersiapkan diri maka Senapati itu pun segera minta diri kepada isterinya dan pergi menghadap Panglima masing-masing.
Hampir bersamaan pula terjadinya ketika kedua Senapati itu menghadap Panglima masing-masing.
Dan hampir bersamaan pula apa yang telah mereka katakan kepada Panglimanya, sehingga tidak ada pilihan lain bagi kedua Panglima itu kecuali menerima tawaran Lembu Ampal bekerja bersama dengan Ranggawuni dan Mahisa Cempaka dalam tugas yang berat menghadapi masa depan Singasari.
Panglima Pasukan Pengawal yang saat itu dikawani oleh dua orang Senapati kepercayaannya yang lain mendengarkan keterangan dari Senapati yang melihat sendiri kesiagaan Ranggawuni dengan seksama. Tidak ada sepatah kata pun yang tidak didengarkannya dengan baik.
“Kau yakin akan kekuatannya?” bertanya Panglima.
“Memang masih belum meyakinkan. Jika kita dan Pasukan Pelayan Dalam tidak pasti berada di pihak mereka, maka yang dapat terjadi adalah benturan kekuatan yang belum dapat diperhitungkan dengan pasti, siapakah yang akan menang. Tetapi tuanku Ranggawuni dan tuanku Mahisa Cempaka berkeyakinan, bahwa rakyat Singasari akan berpihak kepada mereka. Dengan demikian, maka meskipun mereka bukan prajurit yang terlatih, tetapi kekuatan rakyat Singasari yang bangkit itu tidak akan dapat diabaikan. Apalagi di antara mereka terdapat Senapati seperti Mahisa Agni, Witantra dan adik seperguruannya. Orang-orang yang sudah menjadi semakin tua itu agaknya masih akan mampu bergerak sebaik-baiknya di medan perang.”
Panglima Pasukan Pengawal itu mengangguk-angguk. Dengan suara yang datar ia bertanya kepada kedua Senapati yang lain, “Apa pendapatmu?”
Salah seorang dari keduanya menyahut. “Mungkin pendapatku bukan lagi berdasarkan kepada perhitungan murni seorang prajurit. Sebenarnyalah aku menjadi sangat kecewa terhadap sikap tuanku Tohjaya. Lebih-lebih sikapnya saat terakhir. Tanpa memeriksa lebih dalam, ia sudah menjatuhkan hukuman mati kepada kedua Senapati dihadapan para pemimpin yang lain. Apalagi sikap para prajurit yang dengan semena-mena telah melepaskan anak panahnya yang agaknya sudah dipersiapkan dengan sebaik-baiknya.”
Yang lain pun berkata, “Demikianlah agaknya. Apakah yang dapat kita harapkan bagi masa depan Singasari dalam keadaan seperti ini. Kebimbangan, kecemasan dan tiada harapan. Kematian demi kematian akan menyusul dalam lingkungan Pasukan Pengawal dan Pelayan Dalam. Prajurit-prajurit yang sekarang mendapat kepercayaan dari Tuanku Tohjaya akan merasa dirinya manusia-manusia yang paling tinggi kedudukannya di Singasari.”
Panglima Pasukan Pengawal itu pun mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Kita harus menghubungi Panglima Pelayan Dalam. Kita harus mendapat kepastian, apakah kita akan bekerja bersama dan berpihak kepada tuanku Ranggawuni.”
“Tentu kami sependapat.” sahut para Senapati.
Demikianlah maka Panglima Pasukan Pengawal itu pun segera mempersiapkan diri untuk pergi menemui Panglima Pelayan Dalam. Dengan beberapa orang pengawal ia pun berpacu di jalan kota.
Panglima itu sadar sepenuhnya, bahwa tentu segala sikap dan tingkah lakunya itu sama sekali tidak terlepas dari pengawasan petugas-petugas sandi yang dikirim oleh Tohjaya. Namun ia sudah bersedia jawaban apabila Tohjaya bertanya kepadanya tentang hal itu. Tetapi lebih dari itu, ia sudah mempersiapkan dirinya baik-baik bersama seluruh pasukannya. Jika ia harus mati, maka akan timbul juga kematian-kematian yang jumlahnya tidak terhitung lagi.
Ia kemudian diterima oleh Panglima Pelayan Dalam dengan penuh pengertian, karena Panglima Pelayan Dalam itu pun telah mendengar laporan sepenuhnya dari Senapatinya.
“Golongan Rajasa dan Sinelir agaknya benar-benar akan disingkirkan.” berkata Panglima Pelayan Dalam.
“Jadi, apakah kita akan berkisar lagi dari garis perjuangan kita pada saat kita mendukung tuanku Tohjaya?” bertanya Panglima Pasukan Pengawal.
“Kita adalah orang-orang yang memang berhati lapuk. Kita seolah-olah berdiri menghadap kemana angin bertiup. Tidak lebih dari sebatang ilalang di padang yang luas. Namun dalam keadaaan seperti ini, sikap itu agaknya sikap yang paling baik.”
“Tetapi kita dapat mengatakannya dengan bahasa yang lain. Bukan pendirian dan hati kita yang lapuk. Tetapi sikap kitalah yang berkembang melihat kenyataan ini. Kita tidak akan dapat membiarkan diri kita sendiri tersesat semakin jauh dan terlebih-lebih lagi Singasari akan kita biarkan saja tenggelam kedalam kedung yang paling dalam tanpa harapan untuk dapat timbul kembali.”
“Itu adalah istilah yang paling baik yang dapat kita pergunakan. Baiklah, yang manapun juga yang akan kita pakai, namun aku sependapat bahwa kita melepaskan kesetiaan kita kepada tuanku Tohjaya. Sejak aku mendapat perintah untuk memanggil Mahisa Agni dari Kediri, aku sudah meragukan, apakah Mahisa Agni akan berdiam diri saja menjalani keadaan yang diterapkan kepadanya? Nampaknya ia memang menerima segala keadaannya di bangsalnya dengan beberapa pengawalnya. Namun demikian, seperti pada saat ia berdiri di balik tabir kemenangan tuanku Anusapati atas tuanku Tohjaya, kini Mahisa Agni pun telah melakukan hal yang sama. Ia seakan-akan dapat berada di dua tempat sekaligus. Di bangsalnya dan di tempat pemusatan pasukan tuanku Ranggawuni dan tuanku Mahisa Cempaka.”
“Dengan demikian, bukankah kita telah sepakat?”
“Ya. Kita telah sepakat.”
Ternyata kedua Panglima itu pun telah menemukan kesepakatan untuk bersikap terhadap Singasari. Akhirnya mereka tidak dapat berpijak pada kepentingan pribadi masing-masing. Tetapi mereka harus memikirkan persoalan yang jauh lebih besar dari persoalan pribadi mereka.
“Jika demikian, kita akan menyampaikannya (kepada?) tuanku Ranggawuni dan tuanku Mahisa Cempaka.” berkata Panglima Pasukan Pengawal.
“Ya. Kapan kita akan menghadap?”
“Sebaiknya segera.” potong Senapati dari Pasukan Pengawal, yang kemudian disahut oleh Senapati Pelayan Dalam yang telah menemui Ranggawuni dan Mahisa Cempaka. “Ya. Agaknya tuanku Ranggawuni dan tuanku Mahisa Cempaka pun sudah siap menghadapi setiap kemungkinan yang akan berkembang. Dengan atau tidak dengan kita, tuanku Ranggawuni dan Mahisa Cempaka akan segera bertindak.”
“Baiklah.” berkata Panglima Pelayan Dalam, “Besok kita menghadap tuanku Ranggawuni dan Mahisa Cempaka. Kedua Senapati yang mendahului kita akan dapat menunjukkan jalan kepada kita.”
“Kita harus keluar dari kota ini malam hari.” berkata Senapati Pengawal, “Setiap lorong dan jalan mendapat pengawasan yang ketat sekali, sehingga sulit bagi kita untuk dapat keluar tanpa mereka ketahui di siang hari.”
“Tetapi kalian dapat memasuki kota dengan penyamaran. Apakah kita tidak melakukan hal yang sama ketika kita berangkat keluar.”
“Kami berdua memasuki kota ketika masih remang-remang. Apalagi kami berada dalam iring-iringan yang cukup banyak dari orang-orang yang membawa barang dagangan mereka. Sebagian besar adalah barang-barang anyaman yang mereka bawa masuk kota sepekan sekali.”
Kedua Panglima itu mengangguk-angguk. Lalu Panglima Pelayan Dalam berkata, “Jika demikian, nanti malam kita keluar kota.”
“Baiklah, kita akan menghadap langsung. Menurut pendapatku. Lembu Ampal pasti ada di sana pula.” berkata Senapati Pelayan Dalam.
Demikianlah kedua orang itu pun mempersiapkan diri mereka untuk menghadap tuanku Ranggawuni dan Mahisa Cempaka diiringi oleh Senapati masing-masing yang telah pernah menghadap lebih dahulu.
Menjelang malam, mereka telah mempersiapkan diri sebaiknya. Mereka membawa senjata masing- masing di bawah pakaian mereka, agar tidak segera menarik perhatian.
Dalam pakaian rakyat kebanyakan mereka pun kemudian pergi ke tempat yang sudah mereka janjikan. Para Senapati yang pernah pergi bersama Lembu Ampal mengetahui dengan pasti, jalan manakah yang harus mereka lalui. Namun demikian mereka harus masih selalu berhati-hati karena setiap saat mereka dapat bertemu dengan bahaya yang bukan saja mengancam jiwa mereka, tetapi juga dapat menimbulkan huru hara yang lebih Iuas. Jika kepergian mereka diketahui oleh petugas-petugas sandi, maka pada saat mereka tidak ada di tempat, maka pasukannya akan dapat digilas oleh kekuatan-kekuatan lain yang ada di Singasari.
Meskipun kedua Panglima itu telah menyerahkan segala kebijaksanaan kepada Senapati yang terpercaya, tetapi mereka merasa lebih baik bahwa semuanya tidak terjadi lebih dahulu sebelum kedua Panglima itu bertemu langsung dengan Ranggawuni dan Mahisa Cempaka.
Melalui jalan yang pernah mereka tempuh, maka kedua orang Senapati itu pun berhasil membawa kedua Panglimanya ke luar kota. Dengan hati-hati mereka berjalan menyusuri jalan yang pernah mereka lalui pula, sehingga akhirnya mereka pun sampai ke sebuah pedukuhan kecil yang pernah mereka datangi bersama Lembu Ampal.
Ke empat orang itu terkejut ketika mereka memasuki padukuhan kecil itu. Mereka sama sekali tidak menemukan seorang pun di mulut lorong. Bahkan ketika mereka memasuki padukuhan itu, ternyata padukuhan itu kosong sama sekali. Yang ada hanyalah beberapa buah rumah kecil dengan pintu terbuka. Tetapi rumah-rumah itu sama sekali tidak berisi, dan bahkan tidak ada sebuah pelita pun yang menyala.
Padukuhan kecil itu benar-benar bagaikan pekuburan. Kosong dan gelap.
“Apakah kau sudah gila?” bertanya Panglima Pasukan Pengawal, “Kenapa kami kau bawa ke tempat ini?”
“Tempat ini adalah tempat tuanku Ranggawuni dan tuanku Mahisa Cempaka menerima kami. Aku ingat betul, inilah rumahnya, rumah ini. Regol itu aku kenal pula. Dan halamannya adalah halaman yang ini pula.”
“Tetapi padukuhan ini kosong sama sekali. Penghuninya pun sama sekali tidak ada.”
“Tiba-tiba Panglima Pelayan Dalam berkata, “Apakah tuanku Tohjaya mengetahuinya dan menyergapnya sehingga padukuhan ini digilasnya sampai bersih.”
“Tidak ada bekas pertempuran.” desis Senapatinya.
“Ya. Tidak ada bekas pertempuran.”
Ke empatnya termangu-mangu sejenak di dalam kegelapan malam. Namun sebagai prajurit-prajurit pilihan mereka mendapat semacam firasat, bahwa di sekitar mereka ada beberapa orang yang sedang mengintai.
Panglima Pasukan Pengawal yang berada di ujung tanpa sesadarnya telah meraba hulu senjatanya. Desisnya perIahan-Iahan. “Aku merasa bahwa kita tidak hanya berempat.”
“Ya.” sahut Panglima Pelayan Dalam, “Ada orang di sekitar kita.”
Para Senapati pun merasakan sesuatu yang telah meraba dinding hati. Sebagai prajurit mereka pun segera dapat menanggapi firasat itu. Tanpa berjanji maka mereka berempat pun segera berdiri menghadap ke arah yang berlainan.
“Agaknya kita telah terjebak.” desis Panglima Pasukan Pengawal.
“Tentu bukan oleh tuanku Ranggawuni dan tuanku Mahisa Cempaka. Aku yakin akan keiklasan mereka.”
Mereka tidak berbicara lagi. Mereka kini mendengar suara berdesir melangkah mendekat. Tidak hanya seorang, tetapi beberapa orang.
Keempat orang itu pun segera mempersiapkan diri menghadapi setiap kemungkinan. Tangan mereka telah siap menarik senjata mereka apabila diperlukan.
Namun sejenak kemudian mereka mendengar suara tertawa tertahan. “Maaf.” terdengar kata-kata itu di sela-sela derai tertawanya, “Kami tidak dapat menyambut kedatangan kalian sebaiknya-baiknya.”
Ketika suara itu terhenti, nampaklah seseorang muncul dari dalam gerumbul dipinggir halaman. Ternyata orang itu adalah Lembu Ampal diikuti oleh beberapa orang pengawalnya.
“Sebenarnya apalagi yang sedang kau lakukan sekarang, Lembu Ampal?” bertanya Panglima Pelayan Dalam.
“Maaf Mungkin kalian terkejut melihat keadaan padukuhan ini. Padukuhan ini benar-benar padukuhan yang pernah didatangi oleh kedua Senapati yang mewakili Panglima masing-masing.”
“Kenapa padukuhan ini sekarang kosong?”
“Waktu itu aku lupa mengatakan, bahwa setiap saat tempat kami dapat berpindah. Jika kami menganggap bahwa tempat yang kami pergunakan sudah tidak aman lagi, maka kami pun segera bergeser ke tempat yang lain.”
Panglima Pelayan Dalam itu memandang Lembu Ampal dengan tajamnya. Di dalam keremangan malam ia tidak dapat menangkap sorot mata Lembu Ampal. Tetapi agaknya yang dikatakan itu bukannya dibuat-buat.
“Jadi kalian telah berpindah tempat?” bertanya Senapati Pelayan Dalam.
“Ya. Kami mendapat firasat, bahwa ada petugas sandi yang mencurigai pedukuhan ini. Kami pun segera berpindah tempat dengan berangsur-angsur. Ternyata bahwa sore tadi, sekelompok prajurit benar-benar mendatangi tempat ini. Untunglah bahwa kami telah pergi. Jika tidak, maka mereka tidak akan pernah kembali ke Singasari. karena jumlah mereka tidak cukup banyak. Tetapi dengan demikian akan berarti perang segera akan mulai.”
“Tetapi kenapa kau berada di sini?” bertanya Senapati dari Pasukan Pengawal.
“Aku yakin kalau kalian akan datang. Karena itu aku menunggu di sini. Jika malam ini kalian tidak datang, aku masih akan menunggu beberapa malam lagi di sini.”
“Bagaimana dengan kelompok prajurit itu?”
“Mereka tidak melihat aku. Bahkan aku ada di sini pula ketika mereka tadi datang kemari. Tetapi mereka tidak mencari dengan teliti. Apalagi karena daerah ini benar-benar telah kosong. Penghuni padukuhan ini pun telah mengungsi pula ketika kami meninggalkannya pergi.”
“Jadi prajurit Singasari mendapatkan daerah ini kosong sama sekali?”
“Ya. Dan hal itu tentu menumbuhkan kecurigaan mereka.”
“Mereka pasti akan kembali, besok atau lusa.”
“Ya.” jawab Lembu Ampal, “Kami pun sudah menduga. Tetapi itu memang kami harapkan. Jika kami sudah menerima ketetapan hati kalian, maka semuanya akan segera dimulai.”
“Dimanakah tuanku Ranggawuni dan tuanku Mahisa Cempaka sekarang?”
“Kami memang menunggu kalian untuk membawa kalian menghadap.”
Kedua Panglima itu saling berpandangan sejenak. Namun akhirnya keduanya menganggukkan kepalanya.
Dalam pada itu, maka Lembu Ampal pun segera membawa mereka meninggalkan padukuhan kecil itu. Ternyata Lembu Ampal sudah menyediakan beberapa ekor kuda. Bahkan kuda yang disediakan melampaui jumlah orang yang hanya empat itu.
Dengan diiringi oleh beberapa pengawal Lembu Ampal, maka mereka pun segera berpacu menuju ketempat yang sebenarnya tidak begitu jauh. Juga sebuah desa kecil yang berada di bulak yang luas.
Kedatangan kedua Panglima itu diterima dengan senang oleh Ranggawuni dan Mahisa Cempaka. Setelah mempersilahkan mereka duduk, maka mereka pun segera terlibat dalam pembicaraan yang bersungguh-sungguh.
Seperti pada saat kedua Senapati mendahului menghadap, maka pada malam itu hadir juga Mahisa Agni, Witantra dan Mahendra. Orang-orang yang meskipun sudah menjadi semakin tua, namun nampak masih memiliki pengaruh yang cukup besar di lingkungannya.
“Kami menyatakan diri berada di bawah perintah tuanku berdua.” berkata Panglima Pasukan Pengawal itu, “Dan kami bertanggung jawab bahwa semua orang di dalam pasukan kami masing-masing akan mentaati perintah kami.”
“Terima kasih.” berkata Ranggawuni, “Tetapi apakah hal ini sudah kau pikirkan masak-masak?”
Kedua Panglima itu tertegun sejenak. Seakan-akan mereka telah dihadapkan pada cermin yang bening.
Kedua Panglima itu seolah-olah melihat dirinya sendiri pada saat mereka menentukan sikap mendukung Tohjaya kira-kira setahun yang lalu. Kematian Anusapati semula memberikan harapan kepada mereka, bagi kepentingan pribadi, untuk mendapatkan keuntungan vang sebesarnya. Jabatan dan harta duniawi.
Namun akhirnya mereka menjadi kecewa. Kepentingan pribadi bagi mereka sama sekali tidak dapat dipisahkan dengan kepentingan Singasari, karena ternyata bahwa mereka betapa pun tipisnya masih disentuh oleh kecintaan kepada tanah kelahiran.
“Tuanku Ranggawuni.” Panglima Pasukan Pengawal itu pun kemudian berkata, “Sebenarnyalah bahwa kami seakan-akan telah kehilangan kepribadian kami. Kami pada masa tuanku Tohjaya merebut tahta, kami tidak mampu lagi melihat, manakah yang baik dan manakah yang buruk. Kini kami berdua tuanku hadapkan lagi pada persoalan itu. Tetapi kini kami sudah berdiri di tempat yang lebih mantap. Kami kini mulai mengenal, hakekat dari hidup kami sebagai prajurit Singasari, yang harus melihat Singasari di atas segala kepentingan. Terutama kepentingan pribadi.”
Ranggawuni menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Terima kasih. Mudah-mudahanan kau benar-benar telah menemukan kepribadianmu. Bukan lagi harapan-harapan seperti yang pernah kau impikan pada masa pamanda Tohjaya merebut tahta.”
“Ampun tuanku.” berkata Panglima Pelayan Dalam, “Kini hamba melihat dengan mata hati. Bukan sekedar mata wadag hamba, bahwa tuanku berdua akan benar-benar membuat Singasari menjadi semakin besar. Tuanku berdua akan dapat melanjutkan usaha tuanku Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi, mempersatukan segenap isi Tanah Kelahiran ini.”
Ranggawuni tersenyum. Yang kemudian berkata adalah Mahisa Cempaka, “Aku percaya bahwa kau berbicara dengan nuranimu. Aku tidak pantas mencurigaimu lagi.”
“Jelasnya.” berkata Mahisa Agni, “Kalian diterima dalam lingkungan kami. Karena itu, kalian pun mempunyai pertanggungan jawab atas sikap kalian. Apakah kalian sudah mengerti?”
“Kami mengerti.” sahut Panglima Pasukan Pengawal, “Di belakang kami adalah seluruh pasukan kami.”
“Bagus.” desis Witantra, “Dengan demikian, maka semuanya akan dapat berlangsung dengan cepat.”
“Ya. Semakin cepat semakin baik.” sahut Mahisa Agni.
Ranggawuni memandang Mahisa Cempaka sejenak, seolah-olah ingin mengetahui perasaannya. Namun kemudian ditatapnya wajah Mahisa Agni dalam-dalam, karena sebenarnyalah bahwa semua rencana telah disiapkan oleh Mahisa Agni, Lembu Ampal, dan Witantra.
“Tuanku.” berkata Mahisa Agni, “Agaknya waktunya memang sudah tiba. Jika tuanku menghendaki, maka setiap saat tuanku dapat memerintahkan kepada kami untuk mulai dengan perjuangan kami, memulihkan kebesaran nama Singasari yang sudah dicemarkan oleh tuanku Tohjaya.”
Ranggawuni mengerutkan keningnya, lalu, “Bagaimana menurut pertimbangan paman?”
“Bagi hamba, semuanya sudah siap.”
Ranggawuni mengangguk-angguk. Ketika ia memandang Lembu Ampal, maka Lembu Ampal pun berkata, “Tidak ada keberatan apapun lagi tuanku. Selagi persoalan ini belum diketahui oleh lawan, kita harus segera bertindak. Dengan demikian korban akan dapat dibatasi. Tetapi jika kita harus berhadapan di medan, maka korban akan bertimbun tanpa dapat dihitung lagi.”
Ranggawuni masih mengangguk-angguk. Dan Mahisa Agni pun kemudian berkata, “Kita dapat mempersiapkan seluruh pasukan semalam ini. Besok kita dapat memberikan penjelasan yang perlu, dan di malam hari kita dapat mendekati dinding kota. Menjelang fajar, kita bersama-sama memasuki kota, sedang yang ada di istana harus segera menguasai istana. Terutama pasukan Pengawal dan Pelayan Dalam. Dengan demikian maka perhatian prajurit-prajurit yang ada di dalam kota akan terpecah. Sebagian dari mereka harus membendung arus lawan yang memasuki gerbang, sedang yang lain harus berhadapan dengan Pasukan Pengawal dan Pelayan Dalam.”
Kedua Panglima itu pun mengangguk-angguk pula. Mereka mengerti rencana itu. Jika mereka dapat bertindak cepat, maka lawan mereka akan segera menjadi bingung dan menyerah, sehingga jumlah korban memang dapat dibatasi.
“Nah.” berkata Ranggawuni kemudian kepada kedua Panglima itu, “Kalian sudah mendengar rencana itu. Apakah kalian bersedia menjalankan?”
“Kami bersedia tuanku. Yang kami harapkan hanyalah tanda-tanda dan isyarat yang akan tuanku berikan sebagai aba-aba bagi kami untuk mulai bergerak di istana.”
“Kami akan melontarkan panah-panah api dan sendaren.” berbicara Witantra, “Pada saatnya kalian harus bergerak.”
“Baiklah. Kami sudah mengerti semuanya.”
Ranggawuni kemudian berkata, “Jika demikian, sebaiknya kita segera mulai. Bagaimana menurut pertimbangan pamanda Mahisa Agni mengenai ketentuan waktu.”
“Sebaiknya kita tentukan tuanku. Seperti yang hamba katakan, malam ini kita mulai bersiap. Besok kita memberikan penjelasan kepada setiap pemimpin kelompok di luar dinding kota, sedang Panglima kedua pasukan itu akan menjelaskannya kepada pemimpin-pemimpin kelompoknya. Malam hari kita maju dan mengepung kota, sedang yang ada di dalam harus mempersiapkan semua kekuatan yang ada. Tanpa kekuatan cadangan, karena kami akan segera berada di dalam kota.”
Ranggawuni mengangguk-angguk. Ia sependapat dengan setiap rencana Mahisa Agni, karena ia percaya sepenuhnya, bahwa perhitungan Mahisa Agni. Witantra, Mahendra dan bahkan kemudian Lembu Ampal, pada umumnya dapat berjalan baik.
Namun kemudian Ranggawuni pun bertanya, “Lalu bagaimana dengan pamanda sendiri?”
“Hamba tetap berada di dalam bangsal dengan beberapa orang pengawal. Hamba harus mempersiapkan pamandamu yang lain, agar mereka tidak menjadi sasaran kemarahan Tohjaya. Juga ibunda tuanku Ranggawuni dan tuanku Mahisa Wonga Teleng berdua. Juga neneknda Ken Dedes yang sudah hampir tidak dapat berbuat apa-apa lagi selain berprihatin untuk cucu-cucunya.”
“Pasukan Pengawal dan Pelayan Dalam akan mendapat perintah untuk melindungi mereka.” berkata Panglima Pasukan Pengawal.
“Terima kasih.” sahut Mahisa Agni, “Tetapi sebaiknya aku berada di arena yang paling gawat itu. Sedang pasukan yang akan memasuki kota akan dipimpin oleh Witantra dan Mahendra. Menurut pendapatku, Lembu Ampal pun sebaiknya berada di dalam kota bersama beberapa orang Senapati Pasukan Pengawal yang berada di luar halaman istana. Tuanku Ranggawuni dan tuanku Mahisa Cempaka akan segera memasuki kota setelah keadaan kota dapat dikuasai.”
“Aku serahkan semuanya kepada pamanda semuanya.” berkata Ranggawuni.
Mahisa Agni mengangguk-angguk. Kemudian ia pun mengadakan beberapa persetujuan khusus. Isyarat yang harus diketahui segala pihak. Di dalam perang brubuh yang kisruh, maka isyarat sandi sangat diperlukan. Para prajurit akan sangat sulit membedakan yang satu dengan yang lain di dalam perang brubuh. Apalagi di malam hari. Mereka tidak akan mendapat banyak kesempatan untuk mengenal ciri-ciri khusus mereka masing-masing. Bahkan selain isyarat sandi, mereka pun merasa perlu untuk mempergunakan tanda-tanda khusus.
“Setiap orang di dalam pasukan kita harus mempergunakan gelang lawe berwarna putih di kedua pergelangan tangan mereka.” berkata Lembu Ampal kemudian.
Semua pemimpin pasukan yang ada di ruang itu sependapat, sehingga akhirnya menjadi keputusan pula, bahwa ciri itu harus dipergunakan. Jika ada di antara mereka yang tidak mempergunakannya, juga setiap orang di dalam pasukan, maka apabila terjadi sesuatu atas mereka itu adalah karena kelengahan mereka sendiri.....
Bersambung... !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar