Kamis, 28 Januari 2021

BARA DI ATAS SINGGASANA JILID 27-03

BARA DI ATAS SINGGASANA : JILID-27-03
“Persoalan ini sebenarnya tumbuh sejak Ken Arok mengambil keputusan untuk kawin dengan Ken Dedes yang sedang mengandung. Itulah soalnya.”

“Dan siapakah yang paling baik bagi Singasari? Seharusnya kita tidak berbicara tentang siapakah orangnya. Tetapi apakah yang dilakukannya bagi Singasari yang sudah memiliki bentuknya ini.”

Perwira Singasari yang semula bernama Kebo Pamungkas itu mengerutkan keningnya. Dipandanginya wajah Witantra sejenak, lalu dengan sungguh-sungguh ia berkata, “Bagiku Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu adalah orang yang paling baik bagi Singasari. Baru kemudian Anusapati yang memang sudah menunjukkan darmanya bagi rakyat. Ia adalah orang yang terkenal dengan sebutan Kesatria Putih. Tetapi justru ketika rakyat Singasari dan juga kalangan istana mengetahui bahwa Kesatria Putih adalah Putera Mahkota, maka geraknya menjadi terbatas sekali.”

Witantra mengerutkan keningnya. Bahkan hampir di luar sadarnya ia berkata. “Jika demikian, maka yang terbaik sekarang adalah mempertahankan kekuasaan Sri Rajasa seandainya timbul persoalan, karena seperti yang kau katakan hubungan antara Sri Rajasa dan Anusapati agak kurang baik.”

“Jika persoalannya terbatas sampai disitu, maka kau benar. Tetapi persoalannya tidak berhenti sampai disitu.”

“Masih, akan timbul persoalan apa lagi?”

“Tentu umur Sri Rajasa betapa-pun ia manusia yang ajaib, tidak akan abadi. Pada suatu saat ia akan mati apa-pun sebabnya. Nah, jika ia meninggal, timbullah persoalan yang berat bagi Singasari.”

“Persoalan yang mana yang masih harus dinilai lagi?”

“Tentu Sri Rajasa ingin tahta Singasari jatuh pada keturunannya. Bukan kepada anak Tunggul Ametung. Karena ia tidak dapat ingkar bahwa anak Tunggul Ametung itu yang dianggap oleh rakyat Singasari sebagai puteranya yang sulung, maka ia adalah Putera Mahkota. Namun Sri Rajasa tidak ingin Putera Mahkota itu akan menggantikannya sebagai Maharaja, karena ia agaknya memilih tuanku Tohjaya.”

Witantra mengerutkan keningnya. Ia kagum atas penilaian Kebo Pamungkas. Agaknya Kebo Pamungkas tidak dipengaruhi oleh kepentingan pribadinya, sehingga ia dapat melibat setiap orang di dalam istana Singasari dengan tepat.

“Jadi apakah yang kira-kira akan dilakukan oleh Sri Rajasa?” bertanya Witantra.

“Tidak seorang-pun yang mengetahuinya,” jawab Kebo Pamungkas, “mungkin ia berusaha menyingkirkan Anusapati. Mungkin pula ia berusaha agar Anusapati menarik diri atas kehendaknya sendiri.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu. “Tetapi yang manakah tanda-tanda yang dapat kau lihat akan terjadi?”

Perwira itu menggelengkan kepalanya, “Tidak seorang-pun yang tahu. Semuanya dapat terjadi. Tetapi mungkin juga tidak terjadi sesuatu.”

Witantra mengangguk-angguk sambil tersenyum. Memang sulit untuk mengatakannya. Hanya orang-orang yang terlibat langsung sajalah yang dapat melihat kemungkinan yang lebih jelas akan terjadi di Singasari. Bahkan Mahisa Agni yang terlibat-pun masih juga mengharap bahwa yang mungkin terjadi itu tidak terjadi.

Demikianlah Witantra berada dirumah perwira itu untuk beberapa saat, sehingga akhirnya ia-pun minta diri. Tetapi ia masih bertanya, siapa sajakah kawan-kawan lamanya yang dapat dikunjunginya, sekedar untuk melepaskan perasaan sepi karena, untuk beberapa tahun lamanya ia tinggal dipadepokan yang terpencil.

“Kau benar-benar tinggal dipadepokan terpencil?”

“Benar. Untuk itu aku berkata sebenarnya.”

“Atau barangkali kau justru menjadi seorang pedagang yang kaya raya, tetapi tidak bernama Witantra?”

“Tidak. Aku tidak melakukannya. Aku hanya meminjam perlengkapan adikku yang memang menjadi seorang pedagang, agar kehadiranku di kota yang besar ini agak pantas dipandang orang.”

“Terutama kau yang dengan sengaja melepaskan semua bekas yang masih tertinggal pada seorang Panglima Pasukan Pengawal.”

“Bekas saja,” sahut Witantra.

Kebo Pamungkas tertawa. Katanya, “Baiklah Witantra jika kau mempunyai kesempatan, maka kawan-kawan lama yang kau kunjungi pasti akan menerimamu dengan senang hati. Tetapi jangan terkejut jika orang Singasari akan menyebut namamu lagi, karena masih banyak orang-orang tua yang ingat akan namamu.”

“Tentu tidak. Meskipun masih ada juga orang yang ingat akan namaku, tetapi mereka tidak akan menyebutnya lagi. Karena namaku sekarang tidak mempunyai arti apa-apa lagi.”

“Apa salahnya. Kadang-kadang sebuah kenangan mempunyai arti tersendiri didalam hidup ini. Juga kenangan atas seorang prajurit yang bernama Witantra, yang pada waktu itu menjabat sebagai seorang Panglima Pasukan Pengawal.”

Witantra tertawa. Katanya, “Terima kasih. Mudah-mudahan kawan-kawan lama mempunyai tanggapan seperti kau.”

Demikianlah maka Witantra-pun kemudian minta diri kepada perwira yang pernah mempergunakan nama Kebo Pamungkas itu. Seperti yang ditunjukkan kepadanya, maka ia-pun berjalan menuju ke rumah seorang perwira yang lain, yang seperti juga Kebo Pamungkas, kini menjabat di dalam keprajuritan Singasari, juga dalam Pasukan Pengawal, Tanggapan beberapa orang kawan yang dikunjunginya hampir tidak ada bedanya. Juga tanggapan mereka atas keadaan Singasari seutuhnya. Namun dari pembicaraan yang dilakukan, meskipun seakan-akan hanya sepintas lalu, ternyata bahwa para perwira menilai Anusapati lebih baik dari Tohjaya.

Namun seorang perwira berkata kepadanya. “Tetapi hati-hati kakang Witantra. Diantara para prajurit, bahkan para Panglima yang sekarang, ada yang dengan membabi buta berpihak kepada Tohjaya, meskipun hal itu telah dipengaruhi oleh pamrih pribadi.”

Pembicaraan-pembicaraan itu ternyata memberikan gambaran yang hampir lengkap bagi Witantra atas keadaan Singasari. Bagaimana-pun juga Sri Rajasa dan Mahisa Agni menyimpan perasaan masing-masing dan sejauh-jauhnya menimbulkan kesan pertentangan yang ada didalam dada mereka, namun ternyata bahwa hal itu terasa pula bagi para perwira di Singasari.

Perang yang berlangsung dengan diam-diam itu tidak dapat disembunyikan seutuhnya, sehingga dengan diam-diam pula hampir setiap perwira telah mencoba menilai keduanya, dan bahkan telah berusaha untuk menempatkan dirinya.

Namun lebih daripada itu, seperti yang memang dimaksudkan oleh Mahisa Agni, maka nama Witantra-pun mulai disebut-sebut lagi. Dari bibir kebibir, beberapa orang dari lingkungan Pasukan Pengawal mulai membicarakannya.

“Witantra, aku pernah mendengar nama itu,” berkata seorang prajurit muda.

“Tentu,” jawab yang lain, yang umurnya sudah jauh lebih tua. “Witantra adalah Panglima Pasukan Pengawal pada jaman Akuwu Tunggul Ametung bertahta di Tumapel.”

Prajurit yang masih muda itu mengerutkan keningnya. Lalu, “Aku memang pernah mendengar. Ia terusir oleh Mahisa Agni dalam perang tanding diarena, karena Witantra mencoba mempertahankan nama baik, kebo Ijo, yang mati terbunuh, setelah ia membunuh Akuwu Tunggul Ametung.”

“Nah, kau banyak mengetahui tentang Witantra,” berkata yang sudah lebih tua, “begitulah ceriteranya.”

“Tetapi kenapa ia sekarang datang lagi ke Singasari?”

Prajurit yang tua itu menggelengkan kepalanya, “Aku tidak tahu. Mungkin ia sekedar ingin melihat Singasari sekarang. Tetapi mungkin ia ingin menemui beberapa orang kawan-kawannya.”

Prajurit yang muda itu hanya sekedar mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Sedang prajurit yang tua itu berkata pula, “Jika kehadirannya ini didengar oleh Mahisa Agni maupun oleh Sri Rajasa, pasti akan menimbulkan persoalan baru, Mahisa Agni yang pernah bermusuhan di arena itu, tentu tidak akan segera dapat melupakan. Bahkan mungkin Witantra sekarang ingin melihat persoalan yang terjadi di Singasari dan siapa tahu, ia masih mampu menentukan sikap dan berbuat sesuatu, karena bagaimanapun juga ia adalah seorang Panglima yang besar pada waktu itu. Agaknya tidak ada orang lain kecuali Mahisa Agni sajalah yang dapat mengalahkannya, yang kebetulan karena kematian Empu Gandring, maka Mahisa Agni merasa berkepentingan untuk menghukum Kebo Ijo dan tetap menempatkannya pada kedudukannya sebagai seorang pembunuh.”

Prajurit yang muda itu hanya dapat mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Ceritera semacam itu pernah didengarnya meskipun tidak lengkap. Namun bagaimana-pun juga kehadiran Witantra menjadi bahan pembicaraan di setiap kalangan, terutama keprajuritan, bukan saja dari lingkungan pasukan Pengawal.

Ternyata bahwa ceritera tentang Witantra itu menjalar terus sehingga suatu ketika sampai juga ketelinga Tohjaya. Seperti hampir setiap prajurit dan orang-orang didalam lingkungan istana pernah mendengar nama itu, maka Tohjaya-pun pernah mendengarnya pula. Tohjaya mengetahui bahwa Witantra pernah melakukan perang tanding melawan Mahisa Agni, sehingga Witantra dengan menderita malu meninggalkan Tumapel pada waktu itu.

“Tentu Witantra itu masih tetap mendendam Mahisa Agni,” berkata Tohjaya di dalam hatinya, “mudah-mudahan dendamnya itu kini semakin menyala di dalam hatinya.”

Dengan harapan yang melonjak di dalam hatinya, maka Tohjaya-pun kemudian menyampaikan ceritera yang didengarnya itu kepada Ayahanda Sri Rajasa.

“Siapakah yang mengatakan kepadamu?” bertanya Sri Rajasa.
“Beberapa orang menceriterakan bahwa mereka mendengar tentang kehadiran Witantra di Singasari.”

Sri Rajasa mengerutkan keningnya. Namun ia-pun menggelengkan kepalanya, “Aku tidak memerlukannya lagi.”

“Ayahanda,” berkata Tohjaya kemudian, “jika Witantra itu dahulu pernah bermusuhan dengan Pamanda Mahisa Agni, apakah salahnya jika sekarang Witantra itu berada istana ini dan dihadapkan kepada kemungkinan yang dapat ditimbulkan oleh Pamanda Mahisa Agni? Atau barangkali ayahanda dapat mengambil kebijaksanaan, agar Kediri tidak terpengaruh terlampau dalam oleh Pamanda Mahisa Agni, ayahanda dapat mengangkat Witantra itu menggantikannya.”

Sri Rajasa menggelengkan kepalanya. Katanya. “Tentu tidak semudah itu Tohjaya. Inilah salah satu tugas yang harus dilakukan oleh seorang raja. Tidak sekedar menuruti gejolak perasaannya saja. Kita harus mempertimbangkan, akibat yang dapat ditimbulkan oleh keputusan-keputusan yang kita ambil. Memang terlampau mudah untuk mengambil keputusan itu. Tetapi akibat dari keputusan itulah nanti yang akan menimbulkan persoalan-persoalan yang membuat kita bertambah pening.”

“Baiklah ayahanda. Tetapi apa-pun yang dapat kita berikan kepadanya, sebaiknya Witantra itu kita undang untuk masuk kembali kedalam istana.”

Sri Rajasa tidak segera menyahut. Kini setiap kali ia selalu diganggu oleh kenangan masa lampaunya. Bagaimanakah kiranya jika Witantra itu mengetahui, siapakah sebenarnya yang telah membunuh Tunggul Ametung, Empu Gandring dan kemudian siapakah yang telah mendorong Kebo Ijo dengan licik, sehingga ia terbunuh sebagai seorang pembunuh.

Bahkan tiba-tiba saja timbul pertanyaan didalam hatinya, “Apakah Witantra sudah mengetahuinya dan kehadirannya itu didorong oleh sakit hatinya? Jika demikian tentu bukan Mahisa Agni yang dicarinya untuk melepaskan dendam dan sakit hatinya.”

Tetapi Sri Rajasa tidak dapat mengatakannya kepada Tohjaya. Tohjaya masih belum tahu apakah yang dilakukan oleh ayahandanya untuk mencapai kedudukannya yang sekarang. Dan tentu Sri Rajasa tidak akan membiarkan anaknya mengetahui bahwa ia adalah seorang pembunuh. Pembunuh yang licik meskipun kini setiap orang mengakuinya sebagai seorang Maharaja yang berani dan bijaksana. Tetapi sekali ini ia dibelit oleh persoalan keluarga yang kadang-kadang mengaburkan kebijaksanaannya.

Sri Rajasa terkejut ketika Tohjaya bertanya kepadanya, “Apakah ayahanda sependapat?”

Sri Rajasa menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Aku akan mempertimbangkannya Tohjaya. Tetapi tentu dengan segala macam perhitungan. Sebagai seorang raja yang mengemudikan Singasari dalam keseluruhan, bukan hanya sekedar di dalam istana ini, atau lebih sempit lagi hanya mengurusi kau dan Anusapati, mungkin juga Mahisa Agni. maka aku harus membuat pertimbangan-angan yang masak.”

“Ayahanda,” Tohjaya mencoba mendesak, “apakah persoalan ini akan ada sangkut pautnya dengan kebijaksanaan ayahanda bagi Singasari?”

“Tentu Tohjaya. Anusapati adalah seorang Pangeran Pati. Semua persoalan yang menyangkut Anusapati, tentu akan menyangkut Singasari.”

“Maksudku, jika kemudian Pamanda Mahisa Agni dan kakanda tersingkir dan ayahanda mengangkat penggantinya, maka persoalannya tentu akan selesai. Agar mereka tidak akan dapat berbuat apa-pun lagi untuk seterusnya, maka sebaiknya mereka itu harus disingkirkan untuk selama-lamanya.”

“Aku mengerti maksudmu. Dan aku akan memikirkannya.”

Tohjaya tidak berani mendesaknya lagi. Sejenak ia masih duduk sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kemudian ia-pun mohon diri meninggalkan bangsal ayahandanya Sri Rajasa.

Bersama dua orang pengawalnya ia berjalan di halaman istana Singasari. Dengan sengaja ia berjalan melalui lorong yang menyilang halaman bangsal Anusapati.

Ternyata seperti yang diharapkannya Anusapati berada di depan bangsalnya bersama anak laki-lakinya. Sejenak Tohjaya berhenti. Kemudian perlahan-lahan ia mendekatinya.

“Putera kakanda sudah pandai berkelahi,” berkata Tohjaya sambil tersenyum.

Anusapati-pun tersenyum pula. Sambil mengusap kepala anaknya ia berkata, “Sebentar lagi ia sudah pandai memacu seekor kuda.”

Tohjaya menganggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Tentu seperti ayahandanya. Sebagai Kesatria Putih kakanda adalah penunggang kuda yang baik.”

“Terima kasih,” sahut Anusapati mendengar pujian itu, lalu ia-pun mencoba mempersilahkan Tohjaya meskipun ia tahu pasti bahwa Tohjaya tidak akan bersedia melakukannya.

“Ah, aku hanya singgah sebentar Kakanda Anusapati, Aku baru saja menghadap Ayahanda Sri Rajasa.”

“O,” Anusapati mengangguk-angguk.

“Apakah Kakanda Anusapati sudah mendengar berita yang baru saja tersiar di seluruh kota Singasari ini?”

“Maksudmu?” bertanya Anusapati.

“Kakanda, apakah kakanda pernah mendengar nama Witantra?”

“Witantra,” Anusapati mengulangi.

“Ya. Witantra.”

Anusapati menjadi berdebar-debar. Tentu ia mengenal Witantra dengan baik. Tetapi kenapa Tohjaya bertanya kepadanya?

“Aku memang pernah mendengar,” jawab Anusapati ragu-ragu.

“Tentu sudah. Witantra pernah menjabat sebagai seorang Panglima pada jaman pemerintahan Tumapel yang dipimpin hanya oleh seorang Akuwu bernama Tunggul Ametung.”

Dengan kaku Anusapati menganggukkan kepalanya. Tunggul Ametung adalah nama yang dikenalnya dengan baik sejak ia mengetahui siapakah dirinya itu sebenarnya.

“Sudah lama Witantra menghilang. Kau tahu sebabnya kakanda?” bertanya Tohjaya pula.

Anusapati tidak menyahut.

“Tentu kau pernah mendengar. Witantra ternyata dikalahkan oleh Pamanda Mahisa Agni di arena, dalam usahanya membersihkan nama baik seorang prajurit bernama Kebo Ijo. Kau tentu pernah mendengar.”

Anusapati menjadi semakin berdebar-debar. Dan ia masih harus mendengarkan beberapa keterangan lagi mengenai Witantra itu, yang semuanya telah diketahuinya dengan baik.

“Yang penting kakanda,” berkata Tohjaya kemudian, “bahwa Witantra dan Pamanda Mahisa Agni adalah musuh bebuyutan,” ia berhenti sejenak. Lalu, “ternyata sekarang nama Witantra itu timbul kembali. Di hari terakhir Witantra telah menampakkan dirinya di antara rakyat Singasari. Kita tidak tahu maksudnya. Namun yang terdengar, setelah Witantra bertapa di atas bukit yang sangat jauh, ia kini memiliki kemampuan jasmaniah yang tiada terkira. Juga ilmu kejiwaan dan kekuatan rokhaniahnya. Pokoknya kini ia menjadi seorang yang mumpuni.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kini dadanya justru menjadi sedikit lapang. Ternyata tanggapan Tohjaya tentang Witantra tidak tepat seperti yang sebenarnya.

“Karena itu kakanda,” berkata Tohjaya kemudian, “aku ingin berpesan. Bukan maksudku merendahkan Pamanda Mahisa Agni, tetapi jika masih ada kesempatan, sebaiknya Pamanda Mahisa Agni segera meninggalkan Singasari sebelum Witantra berbuat sesuatu untuk melepaskan dendamnya terhadap paman Mahisa Agni. Kekalahannya di arena tidak akan pernah dapat dilupakan seumur hidupnya justru karena ia seorang kesatria.”

Terasa dada Anusapati terguncang pula mendengar kata-kata Tohjaya. Meskipun Anusapati mengerti, bahwa yang dikatakan oleh Tohjaya itu tidak akan terjadi, karena justru Witantra sudah terlampau sering, bukan saja bertemu, tetapi sudah bekerja sama untuk waktu yang lama, namun cara mengucapkan kata-katanya benar-benar menyakitkan hati.

“Jangan tersinggung kakanda,” berkata Tohjaya kemudian, “aku tahu bahwa Pamanda Mahisa Agni adalah pamanmu karena ia adalah kakak ibunda Permaisuri, namun sebenarnyalah aku memang bermaksud baik.”

Sejenak Anusapati terdiam. Dengan susah payah ia mencoba menahan perasaannya. Setelah gejolak dihatinya mereda, maka ia-pun menjawab, “Terima kasih atas pesanmu Adinda Tohjaya. Jika aku bertemu dengan Pamanda Mahisa Agni, biarlah aku memberitahukannya.”

“Bukan sekedar memberitahukan kakanda. Tetapi kakanda harus mohon kepada Pamanda Mahisa Agni, agar ia menyingkir. Mungkin ia sekarang merasa dirinya tidak terkalahkan selain oleh Ayahanda Sri Rajasa. Ia merasa menang pula atas prajurit Singasari dan Kediri secara pribadi. Namun mungkin ia harus berpikir lain terhadap orang yang bernama Witantra itu. Setelah bertahun-tahun Witantra hilang dari Tumapel, maka ia tentu bukan Witantra yang dahulu. Sedang apakah sebenarnya yang dimiliki oleh Pamanda Mahisa Agni?”

“Memang tidak ada,” berkata Anusapati, “karena itu aku memang akan menyampaikannya. Seperti katamu, aku akan minta Pamanda Mahisa Agni kembali saja ke Kediri.”

Tohjaya mengerutkan keningnya. Ia mengharap Anusapati menjadi sakit hati. Tetapi ternyata Anusapati kemudian sama sekali tidak memberi kesan bahwa ia telah tersinggung karenanya.

“Kakanda Anusapati,” berkata Tohjaya kemudian, yang memang berusaha membuat Anusapati marah, “jika Pamanda Mahisa Agni tidak ingin segera kembali ke Kediri karena ibunda Permaisuri sedang sakit, maka sebaiknya Pamanda Mahisa Agni bersembunyi saja di dalam istana. Di sini Pamanda Mahisa Agni akan mendapat perlindungan dari Ayahanda Sri Rajasa, jika Witantra mencarinya.”

Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Terlintas di kepalanya, pertengkaran yang hampir saja menyeretnya ke dalam suatu pertentangan yang terbuka. Karena itu, maka betapa-pun juga. Anusapati masih mencoba menahan hatinya. Bahkan ia-pun mencoba untuk segera mengakhiri pembicaraan yang membosankan itu, katanya, “Adinda Tohjaya. Apakah adinda sudah melihat kehadiran Witantra?”

Tohjaya termangu-mangu sejenak. Namun katanya, “Apakah aku perlu melihat sendiri? Aku dan ayahanda mempunyai beberapa orang petugas sandi. Mereka benar-benar sudah meyakini, bahwa Witantra kini ada di Singasari.”

“Maksudku,” berkata Anusapati. “Adinda Tohjaya sudah mendapat keterangan langsung dari mereka yang memang bertugas mengawasinya, atau orang-orang yang secara kebetulan menjumpainya?”

Tohjaya tidak segera menjawab. Dipandanginya wajah Anusapati sejenak, lalu katanya. “Aku sudah mendengarnya langsung dari petugas sandi.”

“Jika demikian, alangkah akan berterima kasihnya Pamanda Mahisa Agni, tentu tidak akan melupakan budi baik Adinda Tohjaya, karena dengan demikian Adinda Tohjaya sudah menyelamatkan nyawanya.”

Sepercik warna semburat merah membayang di wajah Tohjaya. Meskipun demikian ia masih juga menjawab, “Itu tidak perlu. Bagiku, tidak banyak kepentingannya apakah Pamanda Mahisa Agni terjebak oleh Witantra atau tidak. Terserahlah kepada kakanda. Apakah kakanda menganggap perlu menyampaikannya atau tidak.”

“O.” Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya, “baiklah, aku akan memberitahukan. Tetapi aku justru menjadi sangat cemas.”

“Karena itu, kakanda harus segera menemuinya.”

“Bukan karena Pamanda Mahisa Agni akan mengalami pembalasan dendam. Tetapi yang aku cemaskan, jika aku salah memberikan keterangan, justru Pamanda Mahisa Agnilah yang akan mencari Witantra itu.”

Dada Tohjaya berdesir. Cepat-cepat ia berkata, “Apakah Pamanda Mahisa Agni sudah jemu hidup? Witantra bukan lagi Witantra yang dikalahkan.”

“Perkembangan waktu yang berjalan dalam kehidupan Witantra akan dialami juga oleh Pamanda Mahisa Agni. Ingat, bahwa Pamanda Mahisa Agni telah berhasil mengalahkan Senapati Agung Kediri pada waktu itu. Bukan sekedar peorang Panglima Pasukan Pengawal istana Tumapel.”

Dada Tohjaya telah terguncang. Ia tidak dapat membantah, bahwa sebenarnyalah Mahisa Agni pernah mengalahkan Senapati Agung Kediri, pada saat Sri Rajasa berhasil memecah pertahanannya dan membunuh Maharaja Kediri pula.

Meskipun demikian Tohjaya masih berkata, “Terserahlah kepadamu. Cobalah sekali-sekali melihat kenyataan. Jika Pamanda Mahisa Agni ingin mencari Witantra, sebaiknya di persilahkan saja.”

“Baiklah Adinda Tohjaya,” berkata Anusapati kemudian, “aku akan menyampaikannya. Sikap yang akan diambil kemudian terserah kepada Pamanda Mahisa Agni. Apakah Pamanda Mahisa Agni akan mengulangi perang tanding di arena, atau pamanda ingin menemuinya dan langsung membunuhnya.”

“Pamanda Mahisa Agni yang akan dibunuhnya.”

“O begitu?” Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya.

Ternyata sikap Anusapati itu sama sekali tidak menyenangkan hati Tohjaya. Bahkan hampir saja ia tidak dapat mengendalikan dirinya lagi. Untunglah bahwa kedua prajurit pengawalnya itu kemudian mendekatinya dan berkata, “Tuanku, marilah. Ibunda tentu menunggu.”

Tohjaya memandang kedua pengawalnya yang juga menjadi penasehatnya sejenak. Tetapi ketika ia melihat prajurit yang ada didepan regol halaman bangsal Anusapati timbul kecurigaannya, bahwa pengawal-pengawalnya itu telah menjadi ketakutan.

Namun Tohjaya tidak berbuat apa-apa. Dipandanginya sekali lagi Anusapati sambil berkata, “berhati-hatilah. Mungkin Witantra tidak hanya sekedar menuntut balas kepada Pamanda Mahisa Agni saja.”

“Terima kasih atas peringatan ini. Tetapi kesatria Putih akan mencarinya sampai ketemu, apa-pun yang akan terjadi.”

Wajah Tohjaya menjadi merah padam. Ternyata hati Anusapati sama sekali tidak menjadi kecut. Bahkan sebaliknya. Namun Tohjaya masih juga berkata, “Jangan terlalu sombong. Kesatria Putih tidak ada harganya dihadapan Witantra.”

“Tetapi Kesatria Putih pernah membinasakan penjahat yang paling berbahaya di Singasari. Jika demikian, maka Kesatria Putih akan mencobanya jika ia gagal, biarlah ia terkubur bersama kesombongannya.”

Kemarahan Tohjaya sudah sampai di ubun-ubunnya. Tetapi ia tidak berbuat apa-apa, karena ia masih tetap sadar, bahwa ia berada di halaman bangsal Anusapati.

“Baiklah kakanda,” berkata Tohjaya, “aku minta diri. Aku sudah mengatakannya. Terserahlah kepada kakanda. Jika terjadi sesuatu dengan Mahisa Agni dan Kesatria Putih, sama sekali kakanda tidak dapat menyalahkan aku lagi.”

“Terima kasih adinda.”

Tohjaya-pun kemudian dengan tergesa-gesa melangkah meninggalkan bangsal Anusapati. Ia tidak berhasil menakut-nakuti Pangeran Pati itu, tetapi justru sebaliknya. Hatinya sendiri serasa terbakar. Namun untuk menyenangkan hatinya sendiri ia berkata kepada kedua pengawalnya, “Kakanda Anusapati memang sombong sekali. Tetapi ia tentu menjadi ketakutan. Mungkin ia akan berlari-lari kepada Pamanda Mahisa Agni dan mengatakan bahwa sebaiknya Pamanda Mahisa Agni pergi saja dari Singasari dan bahkan mungkin Kakanda Anusapati ingin ikut serta bersamanya. Tentu ia tidak akan dapat berbuat apa-apa dihadapan Witantra meskipun ia menamakan dirinya Kesatria Putih atau Kesatria hijau atau hitam sama sekali.”

Kedua pengawalnya sama sekali tidak menyahut. Mereka sudah mengenal Tohjaya dengan baik. Jika mereka berani membantahnya barang satu patah kata, maka Tohjaya itu tentu akan membentak-bentaknya.

Sebenarnyalah bahwa Anusapati-pun kemudian memang pergi kepada Mahisa Agni. Diceriterakannya apa saja yang dikatakan oleh Tohjaya kepadanya.

Mahisa Agni justru tersenyum mendengar ceritera Anusapati tentang Tohjaya tersebut. Katanya, “Tentu ia tidak mengetahui bagaimana perasaan ayahandanya. Jika ayahandanya menduga bahwa Witantra mengerti apa yang sudah terjadi, maka Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu tentu akan berpikir lain dari Tohjaya. Tetapi tentu ia tidak akan mengatakannya kepada puteranya itu.”

“Aku kira Adinda Tohjaya akan menunggu, apakah pamanda akan segera pergi ke Kediri atau tidak. Jika pamanda kemudian ternyata pergi ke Kediri, maka Adinda Tohjaya tentu menganggap bahwa pamanda menjadi ketakutan dan dengan tergesa-gesa meninggalkan Singasari.”

“Kasihan anak itu,” berkata Mahisa Agni kemudian.

“Jadi, apakah yang akan paman lakukan setelah paman Witantra sekarang mulai disebut-sebut orang lagi.”

“Aku menunggu perintah Sri Rajasa. Mungkin Sri Rajasa akan memanggilku dan mempersoalkan Witantra itu.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu, “Apakah pendapat Adinda Tohjaya itu juga pendapat Ayahanda Sri Rajasa?”

“Belum dapat ditentukan,” jawab Mahisa Agni.

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Ya, ayahanda tentu akan memanggil Pamanda Mahisa Agni, karena menurut Ayahanda Sri Rajasa, pamanda berkepentingan karena pamanda pernah melakukan perang tanding melawan Witantra. Dan agaknya hal itu semua orang mengetahuinya.”

“Terutama yang umurnya sudah cukup tua. Mungkin banyak di antara prajurit Singasari sekarang yang menyaksikan perang tanding pada waktu itu. Namun yang aku tidak mengerti, dari mana Tohjaya dapat mengatakan bahwa Witantra sekarang bukan Witantra yang dahulu.”

“Kesan setiap orang tentu demikian pamanda, karena paman Witantra seakan-akan baru saja turun dari pertapaannya. Tentu ia sudah membekali dirinya dengan ilmu yang paling sakti. Jika ia datang ke Singasari, maka tentu orang akan menghubungkannya dengan Pamanda Mahisa Agni.”

Makisa Agni tersenyum pula. Lalu katanya, “Anusapati. Aku akan menunggu. Tentu tidak akan lama lagi Sri Rajasa memanggil aku untuk membicarakan Witantra. Dan tentu tidak dalam sidang di paseban, meskipun aku telah dipanggil pula mengikuti sidang di paseban.”

“O, jadi paman akan mengikuti sidang di paseban?”

“Ya.”

“Dan aku, seorang Pangeran Pati tidak dipanggil untuk mengikuti sidang ini?”

“Bukan yang pertama kali terjadi Anusapati.”

Anusapati menggeretakkan giginya. Tetapi sambil menganggukkan kepalanya ia berkata, “Silahkan paman.”

Mahisa Agni-pun kemudian minta diri untuk pergi ke paseban, sedang Anusapati-pun meninggalkan bangsal pamannya itu dan berjalan tanpa tujuan dihalaman. Rasa-rasanya ia sudah jemu untuk bermain-main dengan diam-diam seperti itu. Tetapi apa boleh buat. Seperti kata pamannya, bahwa apabila mungkin biarlah persoalannya selesai dengan baik.

“Paman terlampau dipengaruhi oleh kelembutan hatinya. Sebagai seorang prajurit, paman pasti bersikap lain. Sebab dengan demikian, ia akan mengalami kesulitan,” berkata Anusapati di dalam hatinya.

Namun tiba-tiba saja ia tidak dapat ingkar mengingat kemenangan pamandanya itu di Kediri melawan Senapati Agung Kediri saat itu. Tanpa disadarinya maka langkah Anusapati-pun membawanya kedalam taman. Ketika ia melihat beberapa orang juru taman sedang beristirahat di bawah pohon yang rindang, ia-pun mendekatinya.

Juru taman yang sedang duduk-duduk itu-pun segera bangkit, seakan-akan mereka sedang bermalas-malasan dan tidak melakukan pekerjaannya. Kedatangan Anusapati membuat mereka terkejut dan justru merasa bersalah.

Tetapi Anusapati segera berkata, “Duduklah. Duduklah. Aku tidak sedang mengamat-amati kerja kalian. Jika kalian bermalas-malasan, biarlah aku pura-pura tidak melihat. Tetapi jika memang waktunya kalian beristirahat, itu adalah hak kalian.”

Para juru taman itu termangu-mangu sejenak. Namun Sumekarlah yang mula-mula duduk kembali ditempatnya, sedang kawan-kawannya-pun mengikutinya meskipun ragu-ragu.

Anusapati-pun kemudian mendekati mereka, dan bahkan duduk di antara mereka.

Juru taman yang ada disekitarnya menjadi segan-segan juga sehingga mereka berkisar menjauh.

“Duduklah. Kenapa kalian menjadi bingung? Aku sekali-sekali ingin duduk bersama kalian disini. Tidak dipaseban.”

Para juru taman itu menarik nafas dalam-dalam.

“Nah, berbicaralah tentang persoalan yang sedang kalian bicarakan sebelum aku datang.”

Sejenak para juru taman itu saling berpandangan. Lalu Sumekarlah yang menyahut, “Kami tidak membicarakan sesuatu tuanku.”

“jadi apa yang kalian perbuat?”

“Kami berbicara tentang isteri Ki Ruwe ini,” sahut salah seorang dari mereka.

“Kenapa dengan isterinya?”

“Isterinya adalah seorang juru masak yang paling pandai menurut penilaiannya. Ia sangat pandai membuat segala macam masakan. Masakan dari segala macam bahan. Daging, telur, ikan air, udang, yuyu, cengkerik dan bilalang.”

“Ah,” potong juru taman yang bernama Ki Ruwe, “siapa yang mengatakan cengkerik dan bilalang. Tentu isterimu sendiri.”

Kawan-kawannya tertawa. Salah seorang berkata. “O, jadi kau tidak menyebut cengkerik dan bilalang?”

Ki Ruwe memandang kawannya itu dengan mata terbelalak. Sedang kawan-kawannya yang lain tidak dapat menahan tertawanya.

Kemudian beberapa lamanya mereka berbicara tentang taman dan bunga-bungaan. Tentang pepohonan didalam dan diluar istana. Pohon beringin dan pohon preh yang hidup di sekitar istana. Pohon sawo kecik dan pohon tanjung.

Akhirnya, Anusapati-pun bertanya kepada para juru taman itu, “He, apakah kalian mendengar berita tentang sesuatu yang agak lain dari ceritera tentang pepohonan dan pohon buah-buahan?”

Juru taman itu saling berpandangan sejenak. Beberapa diantara mereka menggelengkan kepalanya sambil menjawab, “Tidak tuanku. Kami tidak mendengar berita tentang apa-pun juga. Mungkin karena kami hanya juru taman saja di istana ini.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun tiba-tiba ia bertanya, “Misalnya ceritera tentang seseorang yang sudah lama sekali hilang dari pembicaraan dan tiba-tiba saja sekarang muncul kembali.”

“O,” tiba-tiba juru taman yang bernama Ki Ruwe itu menyahut, “Aku mendengar.”

“Apa?” bertanya kawan-kawannya, “tidak tentang masakan.”

“Tidak. Aku baru saja mendengar para prajurit membicarakan seorang yang bernama Witantra.”

“Witantra,” sahut yang lain, “aku juga mendengar.”

“Ya, aku juga mendengar,” berkata juru taman yang sudah tua. “Aku mendengar kehadiran kembali Witantra di Singasari setelah bertahun-tahun lamanya ia menghilang dari Tumapel. Tentu tidak dari Singasari, sebab pada waktu itu pemerintahan di daerah ini dipimpin oleh seorang Akuwu yang terbunuh.”

“Akuwu Tunggul Ametung maksudmu?” bertanya Anusapati.

Ki Ruwe mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Ya, Akuwu Tunggul Ametung. Aku juga pernah mendengar.”

“Ah kau,” potong kawannya yang lain.

Dan juru taman yang sudah tua itu melanjutkan, “Sekarang Witantra itu kembali lagi.”

“Apakah kau pernah mengalami pemerintahan Akuwu Tunggul Ametung?” bertanya Anusapati.

“Ya, aku mengalaminya,” sahut juru taman yang tua itu.

“Bagaimana menurut penilaianmu?”

Juru taman itu mengerutkan keningnya. Tiba-tiba saja ia teringat, bahwa selagi Permaisuri yang melahirkan Anusapati itu kawin dengan Ken Arok, ia sudah mengandung muda. Karena itu maka ia-pun menjadi ragu-ragu untuk mengatakannya.

“Bagaimana?” desak Anusapati.

Juru taman itu menjadi semakin bingung. Bahkan timbul pertanyaan di dalam hatinya, “Apakah Putera Mahkota ini sudah mengetahui tentang dirinya?”

Sejenak Anusapati menunggu. Tetapi juru taman itu tidak mengatakan apa-pun juga.

“Bagaimana?” desak Anusapati, “bagaimanakah menurut penilaianmu?”

Juru taman itu menjadi bingung. Keringatnya mengalir di seluruh tubuhnya.

“Baiklah,” berkata Anusupati, “kau tidak mau mengatakannya?”

“Bukan tidak mau,” jawab juru taman itu, “tetapi hamba waktu itu belum menjadi seorang juru taman.”

“Meskipun kau belum seorang juru taman, tetapi kau tentu dapat mengingat, apa yang sudah terjadi di Tumapel waktu itu.”

“Ya, ya tuanku. Hamba memang mengingat serba sedikit. Tetapi yang hamba ingat, Tumapel adalah kota yang tenang.”

“Tenang sekali?” bertanya Anusapati.

Juru taman itu menjadi bingung. Karena itu maka jawabnya, “Yang tenang sekali.”

Anusapati tersenyum. Ia mengerti bahwa juru taman itu tidak dapat mengatakan apa yang sesungguhnya ada di dalam hatinya. Baik atau jelek. Namun tiba-tiba saja sesuatu berdesir di hati Anusapati. Agaknya banyak orang-orang Tumapel yang pada waktu itu pernah mengenal ibunda Permaisuri, bahwa sebenarnya ibundanya itu sudah mengandung pada saat ia kawin dengan Ken Arok.

“Tentu semua orang mengetahuinya waktu itu,” berkata Anusapati di dalam hatinya, “jika mereka tidak mengetahuinya dari bentuk jasmaniah ibunda, mereka-pun dapat menghitung waktu. Belum genap sembilan bulan ibunda kawin dengan Sri Rajasa, aku tentu sudah dilahirkan.”

Tiba-tiba saja Anusapati menjadi semburat merah. Namun ia berusaha untuk menyembunyikan gejolak perasannya itu. Bahkan kemudian ia-pun tertawa sambil berkata, “Suatu ukuran yang dapat kau pergunakan, apakah kau menjadi semakin kaya atau miskin. Jika kau menjadi semakin kaya, maka Singasari tentu lebih baik bagi rakyat kecil seperti kau. Tetapi jika kau menjadi semakin miskin tentu ada kesalahan. Apakah Singasari yang bersalah sehingga rakyatnya miskin, atau kaulah yang kemudian dihinggapi penyakit kemaksiatan. Judi barangkali?”

Juru taman yang gelisah itu menarik nafas dalam-dalam melihat Anusapati tertawa. Demikian juga juru taman yang lain, yang ikut menjadi tegang pula.

“Hamba, hamba tidak menjadi lebih kaya dan tidak menjadi lebih miskin, tuanku. Rasa-rasanya hamba dahulu dapat makan sekeluarga, dan sekarang juga hamba dapat makan sekeluarga.”

“Apakah jumlah keluargamu sama?”

“Tidak tuanku. Dahulu hamba seorang pengantin baru disaat Akuwu Tunggul Ametung meninggal. Sekarang hamba sudah mempunyai sembilan belas anak.”

“Sembilan belas?” Anusapati menjadi terheran-heran.

“Hamba tuanku.”

“Bagaimana mungkin kau mempunyai sembilan belas orang anak?”

“Hamba beristeri tiga orang, tuanku.”

“O,” Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Itulah sebabnya hidupmu sejak dahulu sampai sekarang tetap saja seperti itu. Sembilan belas orang anak.”

“Tetapi mereka semuanya mendapat bagiannya tuanku.”

Anusapati tersenyum. Lalu, “Dan kau tinggal juga di dalam halaman istana?”

“Tidak tuanku, hamba tinggal di luar. Hamba mempunyai sebidang tanah yang sempit, sebuah rumah yang besar meskipun buruk untuk menampung tiga orang isteri dan sembilan belas anak hamba itu.”

Anusapati menggeleng-gelengkan kepalanya. Lalu katanya, “Pantas jika isterimulah yang pandai memasak ikan air, yuyu, cengkerik dan bilalang.”

“Bukan tuanku, bukan isteri hamba.”

Anusapati hanya tersenyum saja. Namun kemudian ia berkata, “Aku akan berjalan-jalan. Di paseban sedang ada sidang. Tetapi aku tidak ikut serta.”

Bersambung....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...