*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 04-03*
Karya. : SH Mintardja
Mahisa Wonga Teleng pun kemudian membimbing Mahisa Campaka keluar bangsalnya. Pemimpin prajurit yang sudah siap menunggunya itu pun kemudian mengantarkannya bersama dua orang prajurit bawahannya.
Kedatangan Mahisa Wonga Teleng telah mengejutkan Ken Dedes yang tampak semakin tua dan kurus. Meskipun anaknya kini telah menjadi raja di Singasari, namun rasa-rasanya ada sesuatu yang selalu mengejarnya. Ia merasa bersalah sejak permulaan. Dan kadang-kadang ia merasa bahwa garis hidupnya dipenuhi oleh kemalangan dan kepahitan hati. Sejak kematian Wiraprana, sampai saat menjelang akhir hayatnya, Ken Dedes selalu dibayangi oleh kegelisahan. Di saat-saat Ken Arok mencapai puncak kejayaannya, Ken Umang merupakan bayangan yang paling buram di dalam hatinya. Kemudian disusul oleh peristiwa-peristiwa yang menyayat.
Sejenak Mahisa Wonga Teleng duduk bersama ibundanya. Tetapi tak banyak yang bisa dikatakan selain tentang keselamatan ibundanya, karena prajurit yang mengawalnya rasa-rasanya berdiri di muka pintu bilik itu.
Ketika di luar langit menjadi gelap, maka Mahisa Wonga Teleng pun segera mohon diri untuk kembali ke bangsalnya.
Ken Dedes menjadi termangu-mangu. Ia melihat di wajah anaknya ada sesuatu yang akan dikatakannya. Tetapi agaknya tersangkut di kerongkongan. Karena itu, maka dengan ragu-ragu ia bertanya, “Mahisa Wonga Teleng, apakah ada sesuatu yang akan kau katakan? Apakah kau memang sekedar ingin menengokku?”
“Ampun Ibunda. Hamba sekedar ingin menengok Ibunda. Hamba berharap bahwa Ibunda menjadi semakin sehat.”
“Aku sehat Wonga Teleng. Tetapi aku memang menjadi semakin tua, sehingga aku hampir tidak pernah keluar dari bangsal. Dibanding dengan perempuan sebayaku, aku memang tampak terlalu tua.”
Mahisa Wonga Teleng tersenyum. Katanya, “Ibunda masih tetap muda seperti saat Ibunda melahirkan hamba.”
“Ah,” ibunya pun tersenyum, lalu, “jadi tidak ada persoalan yang akan kau sampaikan kepadaku?”
“Tidak Ibunda. Hamba memang sekedar ingin menengok Ibunda. Mahisa Campaka agaknya sudah rindu sekali dengan Ibunda.”
Ken Dedes mencium cucunya sambil berbisik, “Kau sekarang sudah hampir sebesar ayahandamu. Karena itu, kau tidak boleh nakal lagi Campaka.”
Mahisa Campaka menggeliat sambil menjawab, “Hamba Neneknda. Hamba sekarang sudah tidak nakal.”
“Bagus. Kau kelak akan menjadi seorang kesatria utama di Singasari bersama dengan Kakanda Ranggawuni.”
Mahisa Campaka tidak menjawab. Tetapi sambil bergayutan ayahandanya ia tersenyum.
Demikianlah Mahisa Wonga Teleng meninggalkan bangsal itu. Ibundanya menjadi heran. Ia melihat sesuatu yang terselip di hati putranya. Tetapi putranya tidak mengatakannya.
“Mungkin ia tidak sampai hati melihat aku yang sudah menjadi semakin tua,” berkata Ken Dedes di dalam hatinya.
Sepeninggal Mahisa Wonga Teleng, maka Ken Dedes pun duduk tepekur di tepi pembaringannya. Rasa-rasanya ada sesuatu yang ikut pergi bersama Mahisa Wonga Teleng, sehingga semakin lama ia justru menjadi semakin gelisah.
Di sepanjang langkahnya, Mahisa Wonga Teleng pun menjadi gelisah. Tetapi ia tidak dapat berbuat lain. Prajurit-prajurit itu selalu mengawasinya apapun yang dikatakan oleh mereka. Betapa mereka merasa tersiksa oleh tugas mereka, namun mereka pasti akan tetap menjalankan tugas itu sebaik-baiknya. Jika mereka harus membunuh, apakah yang dibunuhnya Mahisa Wonga Teleng, atau istrinya atau anaknya, maka tugas itu tentu dilaksanakannya jika ia sendiri tidak ingin mati digantung oleh Tohjaya.
Dalam pada itu, ketika nyala lampu menjadi semakin terang di dalam setiap bilik, rasanya Ken Dedes melihat sesuatu di lantai biliknya. Semula ia tidak menghiraukannya. Tetapi akhirnya dipungutnya juga selembar lontar yang terletak di sebelah kaki pembaringannya.
Hampir di luar sadarnya ia membaca lontar itu. Namun bunyinya pun tidak menarik perhatian. Sekali lagi ia mengulang membaca, “Hulu cangkring itu akan disarungkan pada pokok pohon hidup di halaman istana besok ketika ayam jantan mulai bersabung.”
Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia menggelengkan kepalanya. Namun diletakkannya lontar itu di pembaringannya. Ia ingin bertanya kepada anak-anaknya yang mungkin datang kepadanya besok.
Selama itu Ken Dedes tidak lagi menghiraukan lontar yang berada di bawah alas pembaringannya. Ia menganggap bahwa lontar itu bagian dari kidung yang pernah dibaca oleh seseorang dan kemudian dituliskannya kembali, karena kalimat itu sangat menarik pada bagian ke seluruhan dari kidung itu, tetapi tidak berarti apa-apa baginya.
Demikian pula ketika matahari terbit di timur, Ken Dedes tidak segera teringat kepada lontar itu.
Yang diingatnya adalah sinar matahari yang cerah. Putra-putranya yang bermain di halaman dan burung-burung yang berkicau di pepohonan.
Sekali-kali teringat pula olehnya cucu-cucunya yang menjadi semakin besar mendekati usia remajanya. Ranggawuni dan Mahisa Campaka.
Ken Dedes yang duduk di muka bangsalnya berjemur di panasnya matahari pagi itu terkejut ketika seorang putranya berlari-lari mendekatinya.
“Ada apa Agnibhaya?” bertanya Ken Dedes.
“Ibunda, apakah hamba diperkenankan pergi ke taman Kakanda Tohjaya.”
“Kenapa?”
“Hari ini Kakanda Tohjaya menyelenggarakan sabung ayam besar-besaran. Ayam yang paling baik di Singasari akan bersabung. Hamba dan Kakanda Saprang akan pergi melihat sabung ayam itu.”
“Ah, jangan Agni. Kau di bangsal ini saja bersama Ibunda.”
“Bukankah hamba tidak akan pergi ke mana-mana, Ibunda. Masih di halaman istana. Hamba dengar Kakanda Anusapati juga akan datang ke arena sabung ayam.”
“Tetapi kau masih terlampau muda untuk melihat ayam jantan bersabung sehingga menitikkan darah.”
Agnibhaya bersungut-sungut. Ketika ia berpaling dilihatnya kakandanya di regol halaman sambil memberi isyarat agar adiknya segera turun.
Tetapi Angibhaya justru menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Dengan siapa kau berbicara?” bertanya Ibundanya.
“Kakanda Saprang.”
“Katakan kepada Kakandamu, bahwa Ibunda tidak mengizinkan kalian pergi ke arena sabung ayam itu.”
Kedua putranya itu menjadi kecewa. Tetapi mereka adalah anak-anak yang patuh, sehingga karena itu, mereka tidak juga meninggalkan halaman. Dengan permainan yang ada mereka menghibur diri di halaman belakang. Bahkan kemudian mereka pun segera berlatih olah kanuragan untuk mengisi waktu.
Namun ternyata sabung ayam itu telah mengingatkan Ken Dedes kepada lontar yang dibacanya. Karena itu, ketika emban pemomong Anusapati yang kini selalu ada di sampingnya, datang kepadanya, maka katanya, “Ambillah lontar di bawah alas pembaringanku.”
“Lontar apa Tuanku? Hamba belum pernah melihat lontar di bawah alas pembaringan Tuan Putri,” jawab embannya.
“Baru kemarin sore aku meletakkannya. Hanya selembar.”
“Oh, bukan lontar berisi kidung, Tuanku?”
Ken Dedes menggelengkan kepalanya.
Emban itu pun kemudian masuk ke dalam bilik Ken Dedes. Emban itu memang menemukan selembar lontar di bawah alas pembaringan Ken Dedes.
Meskipun ia hanya seorang emban, tetapi sebenarnya ia adalah orang yang mula dipercaya oleh Ken Umang untuk membentuk Anusapati menjadi seorang yang lemah. Lahir dan batinnya. Tetapi ternyata emban itu telah gagal. Ada sesuatu yang menghalanginya untuk berbuat demikian. Bahkan Anusapati kemudian dirawatnya seperti anaknya sendiri.
Tanpa sesadarnya, emban itu pun membawa lontar yang ditemukan. Sebagai seorang yang mendapat kepercayaan dari Ken Umang, maka ia dapat juga membaca dan mengguratkan huruf pada lontar.
Namun tiba-tiba saja terasa keringatnya mengalir. Ia memiliki firasat yang justru lebih tajam dari Ken Dedes. Permaisuri itu sama sekali tidak mudah menjadi berprasangka meskipun ia mengalami beberapa kali bencana karena akal madunya. Namun ia tidak berpikir terlampau jauh tentang anak-anak keturunannya.
Emban itu dengan tergesa-gesa mendapatkan Ken Dedes yang masih duduk di serambi bangsalnya memandang dedaunan yang seakan-akan menjadi semakin cerah disentuh oleh cahaya matahari pagi.
“Tuan Putri,” berkata emban itu dengan nafas terengah-engah, “dari siapa Tuanku mendapat lontar ini?”
Ken Dedes mengerutkan keningnya. Katanya, “Aku tidak tahu. Yang aku ketahui lontar itu tiba-tiba saja ada di bawah pembaringanku.”
“Tetapi siapakah yang masuk ke dalam bilik Tuanku.”
Ken Dedes merenung sejenak, lalu, “Mahisa Wonga Teleng. Ia datang bersama Mahisa Campaka.”
“Ampun Tuanku,” tiba-tiba saja emban itu bersimpuh di bawah kaki Ken Dedes, “Tuanku Anusapati harus segera mendengar berita lontar ini.”
“Apa maksudmu?”
“Menurut dugaan hamba lontar ini merupakan peringatan bagi Tuanku Anusapati, agar tidak datang ke arena sabung ayam.”
“Kenapa?”
“Agaknya Tuanku Mahisa Wonga Teleng telah mendengar sesuatu yang akan terjadi di arena. Tetapi Tuanku Mahisa Wonga Teleng tidak sempat menyampaikannya sendiri.”
Wajah Ken Dedes menjadi pucat. Demikian juga emban yang menganggap bahwa Anusapati sebagai anaknya sendiri. Yang diasuhnya sejak kanak-kanak, sehingga ia menjadi seorang maharaja di negara yang besar.
“Emban,” bertanya Ken Dedes, “kenapa kau menganggap bahwa lontar itu sebagai suatu peringatan bagi Ananda Anusapati?”
“Cobalah Tuan Putri perhatikan. Pada lontar ini tergurat kalimat, ‘Hulu cangkring itu akan disarungkan pada pokok pohon hidup di halaman istana besok ketika ayam mulai bersabung’. Dan hari ini, Tuanku Tohjaya mengadakan sabung ayam yang terbesar yang pernah diselenggarakan.”
Emban itu berhenti sejenak, lalu, “Tuan Putri, bukankah keris Empu Gandring itu berhulu kayu cangkring. Dan siapakah sebenarnya pokok pohon hidup bagi Singasari yang besok akan mengunjungi arena sabung ayam. Maksudnya, hari ini.”
“Emban,” wajah Ken Dedes menjadi semakin pucat. Lalu, “Jadi maksudmu bahwa keris Empu Gandring itu akan disarungkan hari ini?”
Emban itu tidak segera menjawab.
“Jika demikian, sebaiknya Anusapati segera diberi tahu. Perintahkan kepada seorang pengawal untuk memanggil Anusapati menghadap aku sejenak, atau aku yang harus menghadapnya.”
“Tuan Putri,” berkata emban itu dengan ragu-ragu, “sebenarnyalah hamba ragu-ragu mengatakan, bahwa hamba menaruh curiga kepada setiap pengawal. Mereka selalu memandang ke pintu bangsal ini. Mereka berada di segala sudut rumah dan halaman. Jika seandainya Tuanku memerintahkan seorang pengawal, hamba sangsi apakah pesan Tuan Putri akan disampaikan.”
“Jadi bagaimana sebaiknya menurut pendapatmu, emban?”
“Biarlah hamba saja yang pergi Tuan Putri.”
Ken Dedes termangu-mangu sejenak, lalu, “Baiklah, pergilah. Dan bawalah lontar ini. Kau tahu apa yang harus kau kerjakan di bangsal putraku.”
“Hamba Tuan Putri. Perkenankanlah hamba pergi.”
Demikianlah maka emban itu pun segera keluar dari bangsal permaisuri. Agar tidak menumbuhkan kecurigaan apapun, maka emban itu berjalan dengan langkah yang wajar. Dibawanya seorang emban lain yang masih muda dan cantik.
“Apakah yang harus aku lakukan bibi?” bertanya emban yang masih muda itu.
“Tidak apa. Kau hanya berjalan saja mengawani aku. Dan sekali-kali kau boleh tersenyum kepada para pengawal. Tetapi hanya tersenyum saja. Tidak boleh lebih daripada itu.”
Emban yang masih muda itu tertawa sambil mencubit lengan emban tua yang mengajaknya.
“He, sakit,” emban pemomong Anusapati itu mengaduh. Keduanya pun kemudian meninggalkan halaman bangsal Ken Dedes. Seperti yang dikatakan oleh pemomong Anusapati, maka di regol emban itu pun tersenyum kepada para pengawal yang menghentikan langkah mereka.
“Mau ke mana?” bertanya pemimpin penjaga.
“He, apakah hakmu menghentikan aku? Aku adalah emban yang bertugas melayani Tuan Putri.”
“Aku tahu, sekarang kau akan pergi ke mana?”
“Kepada putranda Tuanku Ken Dedes, Tuanku Anusapati. Hamba mengemban pesan Tuan Putri, bahwa Tuan Putri sangat mengharap kedatangan Tuanku Anusapati di bangsalnya, karena tubuh Tuan Putri menjadi semakin lemah.”
Pengawal itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Tuanku Anusapati tentu tidak berada di bangsalnya.”
“Jadi ke mana?”
“Tuanku Anusapati akan mengunjungi sabungan ayam di arena.”
Dada emban itu menjadi berdebar-debar. Tetapi dicobanya untuk tetap tenang dan berkata, “Ah, biarlah Tuanku Anusapati pergi. Aku dapat berpesan kepada para pengawal dan pelayan. Bahkan aku akan dapat menghadap Tuanku Permaisuri dan menyampaikan pesan Ibundanya.”
Pemimpin prajurit itu tidak menjawab lagi. Dibiarkannya saja emban itu lewat. Tetapi ia sempat tersenyum ketika emban muda yang cantik itu tersenyum pula kepadanya.
Sebenarnya emban tua itu tidak lagi dapat bersabar. Rasanya ia ingin meloncat dan berlari ke bangsal Anusapati untuk mencegah agar Anusapati tidak pergi ke arena sabung ayam.
“Mudah-mudahan Tuanku Anusapati masih belum berangkat.”
Tetapi emban itu tidak dapat benar-benar berlari. Jika demikian tentu akan segera timbul kecurigaan. Sehingga karena itu, betapa hatinya bergelora tetapi ia tetap saja berjalan seperti biasanya.
Apalagi ketika ia sudah melihat regol bangsal yang dipergunakan oleh Maharaja Singasari. Darahnya serasa menggelegak dan didorongnya untuk terbang ke dalam bangsal itu.
Tetapi emban itu masih harus berhenti di regol. Prajurit yang bertugas di regol itu pun menghentikannya sambil bertanya, “He, kau akan ke mana?”
“Aku adalah emban Tuanku Ken Dedes. Aku harus menghadap Tuanku Anusapati.”
Prajurit itu termangu-mangu sejenak, namun kemudian, “Tuanku Anusapati tidak berada di dalam bangsal.”
Jawaban itu benar-benar telah menggetarkan jantung emban pemomong Anusapati yang kemudian berada di bangsal Ken Dedes itu. Namun ia masih tetap sadar, bahwa ia tidak dapat menunjukkan gejolak perasaannya itu. Karena itu ia masih bertanya lagi, “Apakah kau berkata sebenarnya, atau sekedar berolok-olok.”
“Aku berkata sebenarnya. Tuanku Anusapati sedang melihat sabung ayam terbesar yang pernah diselenggarakan di halaman istana ini.”
“Tetapi, apakah Tuanku sudah lama pergi?”
“Belum terlalu lama.”
“Dengan siapa Tuanku Anusapati pergi?”
“Dengan siapa?”
“Kau ini seperti orang linglung. Tentu dengan beberapa orang pengawal.”
Emban itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Apakah aku dapat masuk?”
“Untuk apa. Sudah aku beri tahu bahwa Tuanku Anusapati tidak ada di bangsal.”
“Aku akan menghadap Tuanku Permaisuri.”
Prajurit itu termangu-mangu sejenak. Namun emban itu bukan orang yang pantas dicurigai. Sehingga karena itu, maka akhirnya ia mengangguk sambil berkata, “Cepat. Kau harus segera pergi dari bangsal ini.”
“Kenapa tergesa-gesa?” emban yang masih muda itulah yang bertanya, “apa salahnya kalau aku berada di sini agak lama?”
Prajurit itu membelalakkan matanya. Tetapi karena emban yang cantik itu tersenyum, maka ia pun tersenyum pula, “Masuklah. Terserahlah kepada kalian.”
Keduanya pun kemudian masuk ke regol halaman bangsal induk istana Singasari. Setelah melalui longkangan sempit, maka mereka pun berada di serambi belakang dari bangsal itu.
Lewat emban dan seorang pelayan dalam, maka emban pemomong Anusapati itu pun berhasil menghadap Permaisuri Tetapi sebenarnyalah Anusapati sudah pergi.
“Apakah ada persoalan yang penting yang kau bawa dari Ibunda, emban?” bertanya Permaisuri itu.
Emban itu menjadi termangu-mangu sejenak. Namun ia tidak dapat mengatakan kecemasan yang sedang disandang, karena ia tidak tahu pasti apa yang akan terjadi.
“Tuan Putri,” berkata emban itu kemudian, “tidak ada hal yang penting yang harus hamba sampaikan kepada Tuanku, selain kerinduan Ibunda Tuanku yang kesehatannya menjadi semakin mundur itu.”
“Oh, baiklah. Aku akan mengatakannya kepada Kakanda Anusapati jika Kakanda sudah kembali dari arena. Adinda Tohjaya pagi ini mohon agar Kakanda Anusapati tidak berkeberatan untuk menyabung ayam. Meskipun Kakanda Anusapati tidak pernah melakukannya, tetapi dipenuhinya juga permohonan Adinda Tohjaya itu.”
Emban itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi dalam pada itu, dengan segenap kemampuannya, ia berusaha untuk tidak mengesankan kegelisahan yang terasa semakin mengganggu jantungnya.
“Jika demikian Tuanku,” berkata emban itu, “perkenankanlah hamba kembali kepada Ibunda Tuanku, dan menyampaikan pesan Tuan Putri, bahwa Tuan Putri akan menyampaikan hal ini kepada Tuanku Anusapati.”
“Oh, baiklah. Sampaikan kepada Ibunda, bahwa Kakanda Anusapati, aku dan cucunda Ranggawuni menyampaikan baktinya dan tentu kami akan segera menghadap.”
Permaisuri itu tertegun sejenak, lalu, “Tetapi apakah kesehatan Ibunda menjadi sangat mundur akhir-akhir ini?”
Emban itu termangu-mangu, lalu, “Demikianlah Tuan Putri, tetapi juga tidak terlampau mencemaskan.”
“Baiklah. Jika Kakanda Anusapati tidak terlibat dalam kesibukan yang tidak dapat ditinggalkan, kami akan menghadap hari ini.”
Demikianlah emban itu pun kemudian mohon diri dan meninggalkan bangsal itu. Di regol ia terpaksa berhenti lagi betapa hatinya dicengkam oleh kegelisahan.
“Kenapa kau cepat pergi?” bertanya prajurit yang bertugas.
“Keperluanku sudah selesai.”
“Katanya kau akan tinggal di sini cukup lama.”
“Tidak.”
“Tadi, kawanmu itu yang mengatakannya.”
Emban yang masih muda dan cantik itu menyahut, “Semuanya sudah selesai. Keperluan kami sudah selesai. Kami sudah menghadap Tuanku Permaisuri.”
“Kau tidak tinggal di sini saja? Sebaiknya kau pindah saja dari bangsal Ibu Suri itu ke bangsal ini.”
“Baik.”
“Bagaimana?”
“Ya.”
“He, kenapa kau bilang baik dan kemudian ya.”
“Ya, baik juga pindah kemari.”
Prajurit itu tidak sempat bertanya lagi ketika emban itu kemudian dengan tergesa-gesa meninggalkan regol.
“Emban itu memang cantik,” desis prajurit yang lain ke telinga kawannya yang memandang langkah emban itu dengan tanpa berkedip.
“Ya, ya,” ia menjadi tergagap, “emban itu memang cantik dan muda.”
Dalam pada itu kedua emban yang baru saja meninggalkan bangsal Maharaja Singasari itu pun termangu-mangu sejenak. Emban pemomong itu ragu-ragu untuk kembali kepada Ken Dedes. Tetapi ia tidak mempunyai kesempatan apapun untuk berbuat sesuatu, karena ia tidak lebih dari emban pemomong.
“Ke mana lagi kita akan pergi?” bertanya emban yang masih muda.
Emban pemomong itu menarik nafas dalam-dalam sambil berdesah, “Aku menjadi bingung.”
“Kenapa?”
Sejenak ia terdiam, namun kemudian katanya, “Tidak apa-apa.”
“Lalu, ke mana kita sekarang?”
Sejenak emban pemomong itu merenung, lalu, “Kita pergi ke bagian sebelah dari istana ini.”
“Ke belahan Tuanku Ken Umang?”
“Ya.”
“Lebih baik tidak. Emban-emban di sana tinggi hati. Mereka menganggap kita yang berada di lingkungan Tuanku Ken Dedes adalah orang-orang yang bodoh atau barangkali tidak berharga.”
“Itu dahulu. Tetapi sejak Tuanku Anusapati menggantikan kedudukan Tuanku Sri Rajasa, keadaannya sudah berubah.”
“Tetapi sikap mereka tidak berubah. Ireng hampir saja berkelahi dengan emban Tuanku Ken Umang yang berwajah seperti keledai.”
“Kenapa?”
“Rasa-rasanya ia adalah orang yang paling cantik di muka bumi, dan mengolok-olok Ireng yang kulitnya memang hitam. Tetapi Ireng memang seorang yang berhati keras. Tanpa banyak bicara, emban itu diterkam sanggulnya. Jika tidak dipisah, emban itu akan digigit telinganya sampai putus.”
Betapapun hatinya dicengkam kegelisahan, tetapi emban pemomong itu tersenyum juga. Katanya, “Kita tidak akan berkelahi. Biarpun mereka bersikap buruk terhadap kita, kita tidak akan berbuat apa-apa.”
Emban yang cantik itu tidak menyahut lagi. Tetapi sebenarnya ia tidak senang pergi ke bagian istana yang dihuni oleh keluarga Sri Rajasa yang lain itu.
Sebenarnyalah bahwa suasananya agak berbeda. Sifat Ken Dedes dan Ken Umang, masing-masing telah mempengaruhi sikap para emban dan pelayan. Ken Umang yang merasa dirinya lebih awet muda, lebih cerdik dan banyak kelebihan-kelebihan yang lain, berpengaruh pula atas emban-embannya.
Tetapi emban pemomong Anusapati itu sama sekali tidak menghiraukan sikap mereka. Perlahan-lahan ia mendekati arena untuk melihat, apakah benar Anusapati ada di arena itu.
Dengan dada yang berdebar-dehar ia melihat beberapa orang mengerumuni arena. Begitu pepetnya, sehingga ia tidak dapat melihat, apakah Anusapati ada di antara mereka.
“Mereka tidak mengenal sopan santun lagi,” berkata emban itu di dalam hatinya, “mereka tidak lagi menghormati Maharaja Singasari.”
Tetapi emban itu hanya dapat menahan perasaannya. Dari kejauhan ia melihat ciri-ciri kebesaran Maharaja Singasari. Sebuah tombak pusaka yang berhiaskan sehelai kain berwarna kuning. Sebuah payung kebesaran dan dua batang tombak pengiring. Tetapi yang tampak pada emban itu hanyalah ujung-ujungnya saja.
Di arena sabung ayam, maka semua adat dan tata kesopanan seakan-akan sudah terlupakan. Setiap orang berbuat seperti yang terloncat di dalam hatinya. Berteriak, melonjak di dalam saat kegirangan dan mengaduh seperti orang tertusuk perutnya, di saat mereka kecewa melihat ayam yang dipertaruhkan mengecewakannya.
“Apakah kita akan mendekat?” bertanya emban yang cantik itu.
Tetapi sebelum emban pemomong Anusapati menjawab, seorang pelayan dalam yang tanpa mereka ketahui sudah ada di dekat mereka berkata, “He, bukankah kalian emban dari seberang.”
Emban pemomong Anusapati itu terkejut. Hampir di luar sadarnya ia bertanya, “Maksudmu?”
“Maksudku dari seberang regol pemisah.”
“Aku adalah emban dari istana Singasari. Yang manapun juga.”
Pelayan dalam itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia tersenyum, “Pelayan Tuan Putri Ken Dedes memang cantik-cantik meskipun Tuan Putri sendiri tidak cantik.”
“Diam!” emban yang cantik itu tiba-tiba saja membentak, “kau memang tidak sopan. Apakah semua pelayan dalam dan para emban di bagian ini sengaja diajari untuk berlaku tidak sopan?”
“Sst,” emban yang tua mencegahnya sambil berdesis, “sudahlah. Kita tidak usah menghiraukannya.”
Pelayan dalam itu masih saja tertawa. Katanya, “Kau galak sekali. Tetapi biasanya orang yang galak seperti kau itu sangat menarik perhatian. Kau tentu hangat juga di dalam bercinta.”
Hampir saja emban yang cantik itu menampar mulut pelayan dalam itu. Tetapi emban pemomong yang tua itu mencegahnya. Katanya, “Sudahlah. Kita tidak mempunyai sifat seperti sifat pelayan dalam itu. Marilah kita kembali.”
Emban itu tidak menunggu lagi. Dibimbingnya emban yang muda itu seperti membimbing anaknya yang nakal sedang marah.
Dengan tergesa-gesa keduanya bermaksud kembali ke bangsal Ken Dedes. Tetapi kini emban pemomong Anusapati itu sudah dapat menyimpulkan apa yang sebenarnya terjadi. Seakan ada firasat di dalam hatinya, bahwa prajurit-prajurit yang ada di bagian lain dari istana itu pun sebenarnya telah dikuasai oleh Tohjaya. Apalagi ketika terlihat olehnya, beberapa orang panglima ada di sekitar arena itu pula.
“Oh, agaknya bencana memang akan menimpa Singasari,” katanya di dalam hati, “dalam keadaan seperti ini, Tuanku Mahisa Agni harus hadir.”
Tetapi emban itu sama sekali tidak mempunyai cara yang dapat dipergunakannya untuk menyampaikan persoalan yang sedang dihadapi oleh Singasari ini kepada Mahisa Agni yang berada di Kediri.
Dengan ragu-ragu emban itu melintasi regol yang memisahkan bagian istana yang seakan-akan dihuni oleh keluarga Sri Rajasa yang dilahirkan oleh Ken Dedes, dengan keluarga yang berdarah Ken Umang. Namun mereka harus berhenti ketika seorang prajurit bertanya, “Akan ke mana kalian berdua?”
Emban itu menyahut, “Kembali. Kembali ke tugasku.”
“Kenapa kau kemari?”
“Mencari Tuanku Agnibhaya,” sahut emban itu asal saja.
“Tuanku Agnibhaya tidak berada di sini.”
“Karena itu aku akan kembali. Ibundanya, Tuanku Ken Dedes mencarinya. Pagi-pagi Tuanku Agnibhaya pergi ke gelanggang.”
“Tidak ada di gelanggang,” terdengar suara di belakang emban itu. Ketika ia berpaling, dilihatnya seorang anak laki-laki yang meningkat dewasa memandanginya dengan tajamnya.
“Oh, Tuanku Panji Sudhatu,” emban itu membungkukkan kepalanya dalam-dalam. Yang berdiri di belakangnya itu adalah putra Sri Rajasa dari istrinya Ken Umang. Adik Tohjaya yang mulai berkuasa di Singasari meskipun belum dengan terbuka.
“Kau akan kembali ke bangsal Ibunda Ken Dedes?” bertanya Panji Sudhatu.
“Hamba Tuanku.”
“Baiklah. Katakan kepada Ibunda Ken Dedes, bahwa Kakanda Anusapati sedang bersabung ayam. Suatu kegemaran baru baginya. Jika ia menang, maka ia akan menjadi semakin kaya raya, karena yang hadir di arena saat ini adalah saudagar-saudagar yang paling kaya di Singasari.”
“Jika kalah?”
“Tidak ada pengaruhnya. Tidak seorang pun yang berani menuntut hak kemenangannya atas Kakanda Anusapati, karena Kakanda Anusapati adalah seorang Maharaja yang berkuasa.”
Sudhatu berhenti sejenak, lalu, “He, bukankah engkau emban pemomongnya semasa Kakanda Anusapati masih muda? Nah, agaknya kaulah yang mendidiknya sehingga Kakanda Anusapati dapat menjadi seorang besar seperti sekarang ini.”
“Ah,” emban itu menjadi berdebar-debar.
“Dan bukankah semuanya itu atas jasa Ibunda Ken Umang. Bukankah Ibunda Ken Umang yang meletakkan kau di bangsal Ibunda Ken Dedes saat Kakanda Anusapati kecil? Aku telah mendengar semuanya. Mendengar cerita tentang kau, tentang pengkhianatmu dan tentang seribu satu macam persoalan yang sebenarnya.”
Emban itu sama sekali tidak menjawab, selain menundukkan kepala.
“Dan sekarang agaknya kau akan menyesali pengkhianatanmu itu. Tetapi sudah terlambat. Kau tidak akan dapat berada di dalam lingkungan kami. Dan kami sama sekali tidak cemas, jika kau mengatakan persoalanmu yang sebenarnya kepada siapa pun juga.”
Emban itu masih tetap berdiam diri.
“Pergilah. Kakanda Agnibhaya tidak ada di sini.”
Emban itu menunduk dalam-dalam.
“Nah, pergilah!”
Dengan dada yang berdebar-debar emban itu meninggalkan regol pemisah itu. Ketika ia menginjak bagian yang lain dari halaman istana, rasa-rasanya hatinya menjadi dingin. Tetapi ketika dilihatnya dua orang prajurit pengawal lewat dan memandanginya dengan penuh curiga, maka terasalah, bahwa istana Singasari memang sudah dipanggang di atas bara.
“Terlambat,” desis emban itu kepada diri sendiri.
“Apa yang terlambat,” emban yang masih muda itu bertanya.
“Tidak. Tidak ada apa-apa.”
Keduanya pun kemudian berjalan dengan tergesa-gesa ke bangsal Ken Dedes. Tetapi emban itu telah memutuskan di dalam hatinya, bahwa ia tidak akan mengatakan apapun juga kepadanya, agar permaisuri yang sudah menjadi semakin tua dan lemah itu tidak terguncang hatinya.
Dalam pada itu, di arena, suasananya menjadi semakin panas. Meskipun ayam jantan yang disebutnya paling baik itu masih belum diturunkan di arena, namun para penonton di sekitar arena sudah mulai berteriak-teriak melihat ayam-ayam jantan yang terdahulu bersabung dengan sengitnya.
Anusapati sendiri, yang tidak biasa melihat sabung ayam, menjadi berdebar-debar. Darah yang mengucur dari luka-luka di kepala membuatnya gelisah. Meskipun ia seorang senapati di peperangan, namun melihat darah di kepala dua ekor ayam itu rasa-rasanya hatinya tertekan.
Tetapi ia tetap duduk di tempat yang disediakan. Ia harus menunggu sampai ayam jantan yang paling baik di seluruh Singasari itu dilepaskan di gelanggang.
Betapapun ia merasa tidak senang berada di antara suara yang kisruh di dalam arena, maka Anusapati itu pun harus menahan diri.
Namun dalam pada itu, Anusapati merasakan pula sesuatu yang asing di dalam hatinya. Sebagai maharaja, ia selalu dihormati. Kata-katanya diterima tanpa persoalan dan semua perintahnya terlaksana. Tetapi di dalam suasana arena sabung ayam, seakan-akan semuanya itu tidak berlaku. Orang-orang yang ada di sekitar arena, di dalam gejolak arus perasaan mengikuti gerak dan sikap ayam yang sedang bersabung itu, mereka sama sekali tidak menghiraukan kehadiran seorang maharaja.
Tetapi Anusapati bukan seorang yang kasar. Yang membentak-bentak apabila ia tersinggung. Bahkan Anusapati mencoba untuk mengerti suasana di arena sabung ayam itu.
Meskipun kadang-kadang jantungnya serasa terhenti melihat ujung-ujung taji yang menyobek kulit ayam yang sedang bersabung, kemudian darah yang memancar dari luka itu, namun ada semacam dorongan di hatinya untuk setiap kali melihatnya. Jika dua ekor ayam jantan selesai bersabung karena salah seekor di antaranya sudah koyak oleh pisau yang dipasang di kaki ayam-ayam jantan itu, maka di arena diturunkan lagi dua ekor ayam jantan yang terpilih, setelah pada kakinya masing-masing dipasang taji yang tajam, keduanya pun dilepaskan di gelanggang untuk sebentar kemudian salah seekor di antaranya mati pula di arena.
Dalam pada itu, emban pemomong Anusapati pun kemudian dengan ragu-ragu memasuki bangsal. Di ruang depan, ketika dilihatnya, Ken Dedes masih menunggunya, hatinya menjadi semakin berdebar-debar.
“Di manakah Anusapati emban?” bertanya Ken Dedes dengan serta-merta.
Emban itu pun kemudian merayap maju dan duduk di sisi Ken Dedes. Dengan suara yang patah-patah, maka jawabnya, “Hamba melihat Tuanku berada di arena.”
“Kau tidak menyampaikan pesan agar ia segera datang kemari?”
Emban itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Tuanku, suasana sabung ayam itu sama sekali tidak menyenangkan. Apalagi bagi seorang perempuan. Karena itu hamba tidak berani mendekat. Tetapi hamba melihat tanda kebesaran Tuanku Anusapati.”
“Tadi, bagaimana dengan lontar itu?”
“Hamba tidak tahu dengan pasti Tuanku. Tetapi jika ada cara lain, barangkali Tuan Putri dapat memanggil Tuanku Anusapati.”
“Jadi menurut pertimbanganmu, apakah ia harus dipanggil sekarang?”
“Itulah yang hamba tidak dapat mengatakannya. Tuanku adalah seorang Maharaja. Karena itu, maka yang dapat Tuan Putri lakukan sebenarnya hanyalah sekedar memberikan pesan.”
Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya dengan nada datar, “Aku mengerti emban. Aku memang tidak berhak memanggilnya, karena ia seorang Maharaja. Tetapi aku adalah seorang ibu. Aku merasa bahwa sesuatu akan terjadi dengan anakku.”
Emban itu melihat setitik air mengambang di pelupuk mata Ken Dedes. Mata yang sudah terlampau sering menitikkan air mata.
“Tuan Putri,” berkata emban itu kemudian, “hamba memang tidak berani mendekati arena, apalagi masuk ke dalam lingkungan para penonton sabung ayam yang kasar itu. Juga karena hamba merasa, bahwa hamba telah mengkhianati Tuan Putri Ken Umang di saat-saat Tuanku Anusapati masih remaja. Karena itulah, maka hamba hanya dapat melihat dari kejauhan saja apa yang telah terjadi. Namun hamba mengerti bahwa Tuanku Anusapati sebaiknya diberitahukan tentang sesuatu agar Tuanku Anusapati meninggalkan arena. Mungkin Tuanku dapat menyampaikan pesan atau sekedar pemberitahuan bahwa Tuanku sakit keras.”
Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya, “Panggillah Agnibhaya.”
Emban itu termangu-mangu sejenak.
“Biarlah Agnibhaya menghadap Kakandanya dan menyampaikan pesan yang sekedar memberitahukan bahwa aku sakit keras. Tetapi aku akan berbaring dahulu di pembaringan, sehingga Agnibhaya benar-benar mendapat kesan, bahwa aku memang sakit, karena anak itu tidak akan dapat berbohong sama sekali.”
“Baiklah Tuan Putri. Marilah Tuanku berbaring, dan biarlah hamba memanggil Tuanku Agnibhaya.”
Ken Dedes pun kemudian berbaring di pembaringannya. Sejak ia membuat dirinya sendiri seperti orang sakit di saat Sri Rajasa masih hidup, rasa-rasanya badannya memang selalu sakit-sakitan. Karena itulah, maka kesan yang tampak pada Ken Dedes itu, seakan-akan Ken Dedes memang sedang sakit keras.
Agnibhaya yang kemudian dipanggil oleh emban itu pun terkejut melihat Ibundanya berbaring, berselimut rapat dengan mata yang agak redup.
“Ibunda,” desis Agnibhaya, “bukankah baru saja Ibunda duduk di ruang depan?”
“Ya Agnibhaya. Tetapi rasa-rasanya badanku kini lemah sekali. Sampaikan kepada Kakandamu di arena, bahwa Ibunda sakit keras. Terserah kepadanya, apakah ia dapat meninggalkan arena itu atau tidak.”
Agnibhaya menjadi termangu-mangu. Ia pun mengerti bahwa Ibundanya memang menjadi sakit-sakitan di saat-saat terakhir. Karena itu maka ia tidak bertanya lebih banyak lagi. Segera ia minta diri dan pergi ke arena sabung ayam itu.
Di halaman langkahnya terhenti ketika pemimpin prajurit yang mengawal bangsal itu bertanya, “Tuanku Agnibhaya. Apakah Tuanku akan pergi ke arena?”
“Ya,” jawab Agnibhaya singkat, “Ibunda sakit keras.”
“Biarlah kedua prajurit pengawal itu mengawal, Tuanku.”
“Aku tidak memerlukan pengawal. Bukankah aku tidak akan keluar dari istana?”
“Tetapi Tuanku adalah putra seorang maharaja besar di Singasari. Dan kini Tuanku adalah dinda seorang maharaja yang menggantikan ayahanda Tuanku. Jika Tuanku pergi ke arena, dan ada orang lain yang melihat bahwa Tuanku tidak berpengawal meskipun itu atas kehendak Tuanku sendiri, agaknya kurang baik bagi Singasari. Seolah-olah Singasari tidak menghormati kepada keluarga maharaja.”
Agnibhaya sama sekali tidak berprasangka. Karena itu maka ia tidak berkeberatan sama sekali seandainya kedua orang itu mengikutinya.
Demikianlah maka dengan tergesa-gesa Agnibhaya pun meninggalkan bangsalnya menuju ke arena. Di sepanjang langkahnya Agnibhaya hampir tidak berbicara sama sekali, sedang kedua prajurit yang mengawalnya pun mengikutinya saja dengan langkah-langkah panjang.
Sementara itu. di arena sabung ayam, semua orang seolah-olah terpukau oleh pertarungan setiap ayam jantan yang dilepaskan di arena. Sekali-kali terdengar teriakan para penonton yang meledak. Namun kemudian terdengar desah kekecewaan dan penyesalan jika ayam di arena itu membuat kesalahan.
Tetapi ayam-ayam yang bersabung di arena itu sama sekali tidak memedulikan penonton-penontonnya. Mereka turun ke gelanggang dengan satu di antara dua pilihan. Hidup atau mati. Dan kematian-kematian yang menjemput ayam-ayam jantan yang kalah itu agaknya memberikan kegembiraan kepada orang-orang yang berada di seputar arena yang semakin lama semakin banyak digenangi dengan darah.
Semakin lama Anusapati menjadi semakin pening melihat perkelahian berdarah itu. Ia sendiri adalah seorang prajurit. Tetapi agaknya hatinya lebih tenang mengalami pertempuran di arena peperangan daripada duduk melihat ayam bersabung di arena aduan itu.
Ketika keringatnya telah membasahi seluruh tubuhnya, maka barulah Tohjaya berdiri dan mengumumkan kepada setiap orang di arena, bahwa segera akan diturunkan ayam jantan yang paling baik di arena.
Anusapati yang sudah jemu berada di arena itu menarik nafas dalam-dalam. Agaknya sabung ayam itu sudah mendekati akhirnya. Jika kedua ayam yang disebutnya ayam jantan yang paling baik itu sudah selesai bersabung, maka ia akan dapat meninggalkan arena itu, sehingga adiknya itu tidak akan menjadi kecewa.
Namun rasa-rasanya ada sesuatu yang bergetar di dadanya. Getaran yang aneh yang terasa sejak ia akan meninggalkan bangsalnya. Semacam firasat yang suram telah membayanginya.
Anusapati menjadi termangu-mangu. Ia tidak tahu kenapa ketika ia berangkat ke arena, istrinya menggenggam tangannya erat-erat. Dan ia juga tidak mengerti, kenapa ia melarang Ranggawuni untuk ikut bersamanya.
“Aku bermimpi buruk Kakanda,” desis istrinya di muka pintu.
Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Rasa-rasanya ada hubungannya antara mimpi buruk dan kegelisahan di dalam hatinya.
“Hanya sebuah prasangka, justru karena keris itu masih berada di tangan Adinda Tohjaya,” Anusapati mencoba untuk menenangkan hatinya sendiri.
Tetapi ia tidak dapat ingkar. Ada sesuatu yang lain di dalam hatinya saat ia melihat Tohjaya berdiri, dan kemudian berbicara dengan orang-orang yang berada di sekitar arena.
“Inilah ayam jantan yang paling baik yang ada di Singasari,” katanya sambil mengangkat seekor ayam jantan. Lalu, “Dan itulah keseimbangannya. Ayam yang tidak kalah baik dari ayam yang pertama. Di arena ini kita akan menentukan, yang manakah yang paling baik dari keduanya.”
Terdengar suara riuh di antara para penonton. Meskipun ada di antara mereka bangsawan, para senapati dan orang-orang kaya, tetapi seolah-olah tingkah mereka di arena sama sekali sudah berubah. Bahkan hanya apabila mereka ingat saja mereka menghormati kehadiran maharajanya. Tetapi jika ayam yang sedang bersabung itu hampir menentukan akhir dari setiap sabungan, maka mereka sudah melupakan, bahwa Anusapati ada di antara mereka.
Dalam kecemasan itu tanpa sesadarnya Anusapati memandang keris yang berada di punggung Tohjaya. Keris itu adalah keris yang bagus, wrangkanya berukiran lembut dan berlapis emas, sedang hulunya berwarna cokelat berbentuk kepala seekor ular berbulu di atas sepasang tanduk kecil.
“Sebilah keris yang sangat bagus,” desis Anusapati di dalam hatinya. Tetapi keris itu sama sekali tidak mencemaskannya seperti seandainya Tohjaya membawa sebilah keris yang hulunya sekedar terbuat dari kayu cangkring yang masih belum dibentuk sama sekali, karena keris itu adalah keris buatan Empu Gandring.
Demikian, maka sejenak kemudian ayam jantan yang paling baik dari Singasari itu pun diturunkannya ke arena. Berbeda dengan ayam jantan yang terdahulu, yang pada kakinya dipasang sebilah pisau kecil yang dengan cepat dapat mengakhiri setiap pertarungan, maka bagi kedua ayam jantan yang disebut oleh Tohjaya sebagai ayam yang paling baik itu, sama sekali tidak dipergunakan pisau itu.
“Ayam-ayam jantan itu adalah ayam jantan yang sudah memiliki taji yang baik, panjang dan setajam ujung pisau. Karena itu biarlah mereka berkelahi menurut kemampuan yang ada pada mereka tanpa mempergunakan apapun juga,” berkata Tohjaya sambil berdiri di tengah-tengah arena.
Semua orang yang berada di sekitar arena itu memandanginya dengan heran. Adalah tidak biasa mereka lakukan menyabung ayam tanpa pisau di kaki. Dengan demikian maka pertarungan itu akan memiliki bentuk yang berbeda, sehingga mereka yang biasa bertaruh dengan sejumlah uang yang besar pun menjadi ragu-ragu.
“Nah,” berkata Tohjaya, “kalian akan melihat sesuatu yang baru di arena sabung ayam. Lihatlah apa yang akan terjadi pada ayam-ayam itu nanti. Pertarungan akan berlangsung lebih lama dan itulah sebenarnya pertarungan jantan yang sebenarnya.”
Beberapa orang masih tetap ragu-ragu.
“Nah, yang akan bertaruh, bertaruhlah.”
Orang-orang yang biasa bertaruh itu pun mulai menilai kedua ekor ayam jantan yang sudah dibawa ke dalam gelanggang. Tetapi mereka tidak berani bertaruh seperti biasanya. Karena itulah maka beberapa orang menjadi kecewa. Mereka menunggu ayam jantan yang disebut paling baik dari Singasari itu, dan mereka pun telah bersedia bertaruh dengan taruhan yang besar. Tetapi karena pertarungan itu tidak berlangsung seperti biasanya, maka pertaruhan itu pun terasa dilambari oleh perasaan bimbang.
Tetapi Tohjaya tidak menghiraukannya lagi. Diperintahkannya melepaskan dua ekor ayam jantan yang akan bersabung tanpa mempergunakan pisau seperti kebiasaan di dalam arena sabung ayam.
Begitu kedua ekor ayam itu dilepaskan, maka keduanya bagaikan meloncat sambil menengadahkan kepalanya. Berganti-ganti mereka berkokok dengan garangnya. Beberapa saat keduanya berjalan berputar-putar, seakan-akan sedang menilai lawannya sambil menunjukkan kelebihan diri sendiri.
Sejenak kemudian maka kedua ayam itu pun saling merundukkan kepalanya. Mulailah bulu-bulu leher mereka berdiri tegak, dan mulailah keduanya menyentuh lawannya dengan ujung paruh mereka.
Demikianlah maka kedua ekor ayam jantan itu pun mulai bersabung. Mereka saling mematuk dan saling menghantam dengan sayap dan taji masing-masing. Semakin lama menjadi semakin sengit. Kadang-kadang leher mereka saling membelit, namun kemudian paruh mereka mematuk kulit kepala yang menjadi luka dan berdarah.....
Bersambung.....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar