Rabu, 27 Januari 2021

BARA DI ATAS SINGGASANA JILID 20-02

BARA DI ATAS SINGGASANA : JILID-20-02
“Anusapati,” berkata Sri Rajasa, “tentu kau tidak akan dapat berbuat dengan terbuka. Kesatria Putih sangat disenangi oleh rakyat Singasari, sehingga kau harus berbuat dengan sangat hati-hati dan tersembunyi. Kematian Kesatria Putih harus diliputi oleh rahasia, sehingga rakyat tidak mendendammu dan mendendam kerajaan.”

Anusapati tidak segera menjawab. Tetapi getar didadanya serasa menjadi semakin dahsyat.

“Nah, terserah kepadamu. Apakah kau memilih keadaan seperti sekarang ini, atau kau sanggup membuka kesempatan baru,” berkata Sri Rajasa, “tetapi perintahku tetap. Singkirkan Kesatria Putih. Kalau kau sanggup, kau akan membuka jalan bagimu, kalau tidak, kau tetap seorang laki-laki cengeng.”

“Ampun ayahanda,” berkata Anusapati kemudian, “bagaimana-pun juga hamba akan mencobanya.”

“Aku tahu bahwa tugas ini bukan tugas yang ringan. Tetapi kau dapat memilih beberapa orang untuk membantumu. Misalnya pamanmu Mahisa Agni. Satu atau dua orang panglima yang kau pilih. Kau dapat memanggil mereka menghadap aku, dan aku akan memberikan perintah rahasia kepada mereka.”

“Hamba tuanku. Hamba akan melakukannya. Jika hamba diperkenankan mencari kawan didalam hal ini, hamba akan memilih paman Mahisa Agni.”

“Baiklah. Biarlah pamanmu Mahisa Agni aku panggil.”

“Hamba tuanku.”

“Dan kaulah yang harus pergi ke Kediri untuk memanggilnya.”

Anusapati mengangkat wajahnya, tetapi wajah itu-pun segera tertunduk.

“Bawa beberapa orang pengawal bersamamu.”

“Hamba ayahanda. Hamba akan pergi ke Kediri memenuhi perintah ayahanda.”

Demikianlah, maka kesempatan itu dipergunakan sebaiknya oleh Anusapati. Dengan tidak diketahui oleh siapa-pun juga, maka Sumekar telah diberitahukan semuanya itu. Dan Sumekar-pun harus mencari kesempatan untuk pergi ke Kediri di saat-saat Anusapati pergi juga ke Kediri.

“Tetapi jagalah, agar para pengawalku tidak mengetahui bahwa paman ada juga di Kediri saat aku tiba di sana. Kau harus mendahului aku dan mengatakan hal ini kepada paman Mahisa Agni. Paman Mahisa Agni pasti akan dapat mengaturnya.

Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Hamba akan mendahului tuanku.”

Demikianlah maka Sumekar-pun segera mencari kesempatan untuk mendapatkan waktu beristirahat untuk beberapa hari dengan alasan yang dibuat-buatnya seperti yang pernah dilakukan. Sumekar minta diri untuk menengok kampung halaman dan keluarganya yang sudah lama tidak dilihatnya.

Ternyata bahwa Sumekar berhasil mendapat kesempatan itu. Dengan demikian maka ia-pun segera pergi ke Kediri. Dengan hati-hati dan tanpa menimbulkan kecurigaan siapa-pun juga, Sumekar berhasil dilihat oleh Mahisa Agni duduk di pinggir jalan raya di Kediri, hanya beberapa langkah dari regol istananya.

“Hem,” desis Mahisa Agni, “orang itu pasti mempunyai kepentingan.”

Adalah, tanpa diduga-duga sama sekali, bahwa tiba-tiba saja kuda Mahisa Agni melonjak dan tidak dapat dikuasainya. Dengan liarnya kuda itu berputar-putar sambil melonjak-lonjak. Untunglah bahwa dengan tangkasnya Mahisa Agni berhasil meloncat dan terhindar dari malapetaka. Dan ternyata ia meloncat selangkah di dekat Sumekar.

Sumekar yang duduk di pinggir jalan dengan tergesa-gesa meloncat berdiri. Kemudian dengan kaki gemetar ia melekat dinding batu di depan istana Mahisa Agni.

Beberapa orang pengiring Mahisa Agni-pun segera berusaha menangkap kendali kuda yang tiba-tiba menjadi liar. Sementara itu Mahisa Agni sempat berbisik, “Masuklah nanti tengah malam meloncati dinding belakang. Aku sedang dalam pengawasan.”

Mahisa Agni tidak sempat mengatakan keterangan tentang dirinya lebih panjang lagi. Ketika beberapa orang pengiring mengerumuninya, ia tertawa sambil menepuk pundak Sumekar yang menggigil ketakutan, “Kau tidak apa-apa ?”

“O, tidak tuan, tidak. Hamba tidak apa-apa.” Sementara itu para pengiring Mahisa Agni telah berhasil menangkap kendali kuda Mahisa Agni dan menenangkannya.

“Bawa kuda itu kekandangnya,” berkata Mahisa Agni, “ada sesuatu yang kurang berkenan dihatinya.”

Para pengiring Mahisa Agni itu-pun segera menuntun kuda itu masuk halaman dan langsung dibawa kekandang, sementara Mahisa Agni berjalan memasuki halaman istananya. Dengan demikian maka para pengiringnya-pun tidak lagi naik ke atas punggung kuda masing-masing, tetapi mereka-pun menuntun kuda mereka memasuki regol.

Di malam hari, ketika bintang gubug penceng tepat berada di tengah, sesosok tubuh dengan hati-hati telah meloncati dinding bagian belakang halaman istana Mahisa Agni. Perlahan-lahan ia berlindung dibagian yang dibayangi oleh tetanaman perdu.

Sejenak Sumekar menunggu ketika kemudian sesosok tubuh yang lain-pun telah menyelinap di dalam bayangan tumbuhan mendekati tempat Sumekar berlindung.

“Kakang Agni,” panggil Sumekar berbisik.

Mahisa Agni yang sedang menjemput Sumekar itu berhenti sejenak. Meskipun ia belum melihat orangnya, tetapi ia sudah mendengar desah nafasnya, sehingga sejenak kemudian ia-pun segera dapat menemukannya.

“Marilah, masuklah ke ruang dalam.”

Sumekar tidak menyahut. Ia hanya mengikuti saja Mahisa Agni yang berjalan mengendap-endap di istananya sendiri.

“Aku merasa bahwa Sri Rajasa sedang mengawasi tingkah lakuku,” berkata Mahisa Agni.

“Darimana kau tahu?” bertanya Sumekar.

Mahisa Agni tidak segera menyahut. Baru setelah mereka berada didalam ia menjelaskan, “Firasatku mengatakan demikian. Apalagi ketika aku melihat dua orang prajurit dari pasukan pengawal berada di Kediri. Tentu bukan hanya mereka berdua. Pasti ada prajurit sandi pula yang selalu berkeliaran disini.”

“Kenapa Sri Rajasa mengawasi kakang Mahisa Agni?”

“Aku kira tentang orang yang disebut Kesatria Putih, Sri Rajasa agaknya curiga juga, apakah orang yang menyebut dirinya Kesatria putih itu bukan aku.”

“Apakah Sri Rajasa menebak tepat?”

“Tentu tidak. Aku tidak akan mendapat kesempatan keluar dari istana terlalu sering. Bagaimana-pun justru aku berusaha, tetapi jika demikian pada suatu saat pasti akan diketahuinya pula.”

“Jadi siapakah Kesatria Pulih itu?”

Mahisa Agni tersenyum. Katanya, “Akulah yang mengendalikannya, meskipun bukan aku sendiri.”

Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Aku sudah yakinkan sebelumnya. Permainan kalian sudah mulai. Sri Rajasa dengan permainannya dan kau dengan permainanmu. Agaknya usaha Sri Rajasa untuk menyemarakkan nama Tohjaya dapat kau potong dengan Kesatria Putihmu.”

Mahisa Agni masih tersenyum. Jawabnya, “Ya, demikianlah yang aku kehendaki.”

“Tetapi kau tidak mengetahui akibat selanjutnya. Ternyata permainan Sri Rajasa menjadi semakin keras?”

“Maksudmu?”

“Aku menduga bahwa prajurit-prajurit pengawal yang baru-baru ini dimusnahkan oleh Kesatria Putih adalah prajurit-prajurit yang sengaja dipasang oleh Sri Rajasa.”

Mahisa Agni mengangguk-angguk.

“Ternyata setelah prajurit-prajurit itu hancur, keluarlah perintahnya yang tidak terduga-duga.”

“Apakah perintahnya dan kepada siapa?”

“Anusapati,” jawab Sumekar. Lalu diceriterakannya apa yang harus dilakukan oleh Anusapati atas Kesatria Putih itu.

“Jadi Anusapati mendapat perintah untuk membinasakan Kesatria Putih?”

“Ya, dan ia boleh memilih diantara para Panglima dan Senapati untuk membantunya. Dan orang itu adalah kakang Mahisa Agni.”

“Ah,” Mahisa Agni berdesah.

Kemudian dikatakannya pula oleh Sumekar, bahwa Anusapati akan segera datang ke Kediri secara resmi memanggilnya menghadap Sri Rajasa, untuk menerima perintah rahasia itu.

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Setelah merenung sejenak, maka katanya kemudian, “Baiklah. Biarlah Anusapati bertemu sendiri dengan Kesatria Putih itu.”

“Apakah ia ada disini?”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya, “Ya. Ia ada disini. Apakah kau akan menemuinya?”

Sumekar termangu-mangu sejenak.

“Sore tadi aku memanggil mereka masuk.”

“Mereka?”

“Ya mereka.”

Sumekar menjadi semakin termangu-mangu. Apalagi ketika kemudian dari balik pintu keluarlah tiga orang dalam pakaian kesatria yang disebut Kesatria Putih lengkap dengan kerudung putihnya.

Ketiga orang itu berjalan hampir berbareng mendekatinya. Sumekar sama sekali tidak dapat mengenal mereka seorang demi seorang. Yang dapat dibedakan hanya perbedaan tinggi dari ketiganya yang tidak begitu menyolok. Yang seorang lebih tinggi dari yang lain, tetapi agak lebih kurus. Salah seorang dari ketiga bertubuh sedang dan segar berdiri di paling tengah.

“Apakah kau dapat mengenal mereka?” bertanya Mahisa Agni.

Sumekar menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Tentu tidak. Tetapi sekarang aku tahu, inilah agaknya rahasia Kesatria Putih yang seakan-akan naik kuda semberani yang dapat terbang dari ujung ke ujung Singasari yang lain. Sehari ia berada di Utara, sehari kemudian sudah diujung Selatan. Ternyata Kesatria Putih itu tidak hanya seorang. Sungguh, permainan yang mengasyikkan.”

Mahisa Agni tersenyum.

“Kau akan segera mengenalnya,” berkata Mahisa Agni, “merekalah yang telah merampas kesempatan Tohjaya untuk mendapat dukungan lebih besar lagi karena permainan yang baik dari Sri Rajasa. Setiap kali mereka memancing kerusuhan-kerusuhan, dan Tohjaya lah yang berhasil menyelesaikan. Tetapi sejak munculnya Kesatria Putih, maka kesempatan itu hampir tidak ada lagi. Semua orang kini mempercakapkan Kesatria Putih.”

Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Silahkan memperkenalkan diri,” berkata Mahisa Agni kepada ketiga Kesatria Putih itu.

Hampir berbareng ketiga melepaskan kerudungnya. Dan Sumekar yang melihat mereka seorang demi seorang menarik nafas dalam-dalam. Hampir tidak terdengar ia berdesah, “Yang seorang memang sudah aku duga. Tetapi yang dua sama sekali tidak.”

Yang seorang dari mereka adalah Witantra. Sambil tersenyum ia berkata, “Aku telah ikut di dalam permainan yang menyenangkan ini.”

Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Kini ia tahu pula, bahwa bekas tangan Kesatria Putih memang agak berbeda-beda. Kadang-kadang Kesatria Putih tidak membunuh korbannya. Tetapi kadang-kadang ditumpasnya habis-habisan.

Dan kini ia dapat menduga, siapa yang telah melakukannya. Bagaimana-pun juga sisa-sisa sifat yang pernah dimiliki oleh Kesatria Putih yang seorang masih juga membekas. Meskipun kini ia sama sekali sudah berubah, namun dalam saat-saat yang genting, tanpa disadarinya masih juga muncul kekerasan dan bahkan kekasarannya. Ia adalah kakak seperguruan Sumekar sendiri. Kuda Sempana.

Tetapi yang seorang dari ketiganya, Sumekar masih harus mengingat-ingat.

“Adi seperguruanku,” berkata Witantra, “namanya Mahendra.”

“O,” Sumekar mengangguk-angguk.

“Nah,” berkata Mahisa Agni, “jika ada kesempatan, kau dan aku dapat ikut bermain juga. Tetapi kesempatan itu terlampau sulit kita dapatkan.”

Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi masih ada sesuatu yang ingin ditanyakannya. Meskipun pertanyaan itu belum terucapkan, namun Mahisa Agni yang seolah-olah telah mengerti apa yang tersimpan didalam hatinya berkata, “Mereka bertiga adalah orang-orang yang tidak terikat pada waktu dan keadaan. Mereka hidup dipadepokan terpencil, dan waktu bagi mereka tergantung kepada mereka sendiri. Sedang Mahendra pernah menjadi seorang pedagang yang berhasil. Agaknya ia tidak perlu lagi menambah timbunan kekayaannya. Kini ia memilih bermain-main dengan jiwanya, karena panggilan yang dalam dari dasar hati. Selain diwaktu mudanya, Mahendra memang seorang petualang, di dalam tugasnya sebagai seorang saudagar keliling, ia masih juga bertualang menghadapi penyamun-penyamun dan perampok-perampok. Adalah tepat sekali apabila ia mengenakan kerudung putih dan bertempur melawan setiap kejahatan.”

“Ah,” desis Mahendra. Tetapi ia tidak memberikan tanggapan selain sebuah senyum dibibirnya.

Mahisa Agni-pun tiba-tiba menarik nafas dalam-dalam. Terkilas didalam angan-angannya, peristiwa yang pernah melihat mereka berempat. Witantra, Mahendra, Kuda Sempana dan Mahisa Agni sendiri. Mereka pernah bertempur yang satu dengan yang lain, bahkan sampai pada kebulatan tekad untuk saling membunuh. Namun kini keadaan telah mempertemukan mereka di dalam suatu usaha yang dapat mereka pertemukan. Menyelamatkan Anusapati, anak Ken Dedes.

“Tak dapat dipungkiri. Tentu masih ada bekas-bekas sentuhan dihati mereka. Baik Kuda Sempana mau-pun Mahendra pernah mengharap dapat memperisteri seorang gadis dari padepokan Panawijen yang bernama Ken Dedes,” berkata Mahisa Agni di dalam hati. Namun tiba-tiba sebuah pertanyaan melonjak dihatinya pula, “Dan bagaimana dengan aku sendiri.”

Mahisa Agni terperanjat ketika Sumekar kemudian bertanya, “Siapakah diantara Kesatria Putih bertiga ini yang paling akhir membunuh beberapa orang prajurit dan melemparkan senjata mereka dipintu gerbang.”

Ketiganya tidak menjawab, ketiga tersenyum. Tetapi karena Witantra dan Mahendra berpaling kepada Kuda Sempana, maka tahulah Sumekar, bahwa Kesatria Putih itu adalah Kuda Sempana. Itulah sebabnya ia mengenal bahwa orang-orang yang dihadapinya itu sebenarnya adalah prajurit-prajurit Singasari, karena ia pernah menjadi Pelayan Dalam, di dalam istana Tumapel. Sehingga ia memerlukan melemparkan pedang para prajurit itu di muka regol.

“Tetapi kalian akan segera menghadapi lawan yang tidak akan dengan mudah kalian kalahkan,” berkata Sumekar kemudian.

“Siapa?” bertanya Witantra.

“Telah turun perintah Sri Rajasa, bahwa Putera Mahkota lah yang akan menangkap Kesatria Putih itu.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya mendengar keterangan Sumekar itu. Dengan memperhatikan ketika orang yang berpakaian sebagai Kesatria Putih itu, Mahisa Agni ingin mengetahui, bagaimanakah tanggapan mereka atas berita itu.

Mahisa Agni melihat wajah-wajah itu menengang. Tetapi justru karena itu ia berkata, “Selain Putera Mahkota masih ada lagi orang yang harus kalian perhitungkan.”

“Siapa?” bertanya Kuda Sempana.

Mahisa Agni tersenyum. Katanya, “bertanyalah kepada adi Sumekar.”

Ketiga orang yang berpakaian Kesatria Putih itu serentak berpaling kepada Sumekar. Dan sebelum mereka bertanya Sumekar telah menjelaskan, “Ia adalah yang atas nama Sri Rajasa mengawasi pemerintahan di Kediri.”

“Mahisa Agni,” desis Witantra.

Sumekar mengangguk.

Sejenak mereka termenung. Namun hampir berbareng mereka tertawa.

“Mereka tentu akan berhasil menangkap Kesatria Putih itu,” berkata Mahendra, “soalnya tinggal menunggu waktu yang paling baik. Dan siapakah diantara kita bertiga yang akan mewakili menjadi tawanan di istana Kediri.”

“Bukan menangkap,” sahut Sumekar, “tetapi membinasakan mereka.”

Mahisa Agni-pun tertawa pula. Katanya, “Jika kalian bertiga tidak lagi muncul, maka Kesatria Putih itu akan lenyap dengan sendirinya. Aku dan Putera Mahkota akan menyampaikan laporan kepada istana, bahwa kami telah berhasil membinasakan mereka, eh, maksudku Kesatria Putih itu.”

Ketiganya mengangguk-angguk. Dan Kuda Sempana bertanya, “Apakah tidak ada pertanda yang harus diserahkan sebagai bukti kematian Kesatria Putih.”

“Tidak ada. Kematian Kesatria Putih jangan diketahui oleh rakyat yang semakin lama semakin menaruh perhatian kepadanya. Bukti yang diharapkan oleh Sri Rajasa adalah, Kesatria Putih itu tidak akan muncul kembali.” jawab Sumekar, tetapi ia segera menyambung, “namun demikian, semuanya akan menjadi lebih jelas apabila Putera Mahkota telah datang.”

“Apakah Putera Mahkota akan datang?”

“Ya. Putera Mahkota akan memanggil kakang Mahisa Agni dengan resmi untuk menghadap Sri Rajasa. Ia akan menerima perintah tentang Kesatria Putih itu.”

“Baiklah. Besok malam kita akan segera menemuinya di sini.”

“Aku akan menunggu kalian.”

“Dan bukankah malam ini kita tidak mampunyai persoalan lain?”

Mahisa Agni menggeleng. Mahendra-pun segera berkata, “Aku akan segera minta diri. Aku mendengar sekelompok padagang akan menyeberangi hutan di sebelah kota ini, besok dini hari. Mudah-mudahan tidak ada penyamun yang mengganggunya. Aku hanya akan melihat saja, dan apabila perlu baru berbuat sesuatu, karena agaknya para pedagang itu sendiri sudah merasa dirinya kuat.”

“Tetapi ingat, besok malam kalian ada disini pula. Mungkin Anusapati akan sagera datang.”

“Baik. Dan bagaimana dengan kakang Witantra?”

“Aku juga akan minta diri.”

“Baiklah. Hubungilah Kuda Sempana apabila perlu,” berkata Mahisa Agni kemudian, lalu katanya kepada Sumekar, “ia juga menjadi juru taman di istana ini.”

“O,” Sumekar tersenyum.

“Kalau ada yang pernah mangenalnya ketika ia tinggal di istana Tumapel, maka mereka sekarang pasti tidak akan dapat mengingatnya lagi.”

Sumekar masih mengangguk sambil tersenyum.

Demikianlah Witantra dan Mahendra meninggalkan istana Mahisa Agni, sedang Kuda Sempana dengan diam-diam pergi ke rumahnya yang terletak di halaman itu pula.

“Tidurlah dirumahku. Tidak akan banyak mendapat perhatian apabila kau tidak berbuat sesuatu yang aneh.”

“Terima kasih kakang.”

“Kami-pun minta diri,” berkata Kuda Sempana, “besok kita akan bertemu lagi. Biarlah Sumekar berada dipondokku.”

Demikianlah Kuda Sempana membawa Sumekar ke pondoknya. Dari Kuda Sempana, Sumekar banyak mendengar tentang Kesatria Putih. Ada kalanya Kesatria Putih tidak bekerja sendiri. Tetapi berdua, meskipun yang seorang tidak dengan berterus terang. Dalam menghadapi lawan yang kuat, dua atau bahkan tiga orang itu telah bekerja bersama. Tetapi pasti hanya ada satu Kasatria Putih di satu tempat dan diwaktu yang sama.”

Ternyata setelah terpaut sehari, barulah Putera Mahkota itu benar-benar telah datang ke Kediri dengan resmi sehingga rakyat Kediri telah menyambutnya. Beberapa orang Senapati terpilih telah mengiringinya. Kehadiran Anusapati benar-benar telah mendapat sambutan yang baik, justru karena Mahisa Agni bersikap baik terhadap mereka.

Mahisa Agni-pun telah mangadakan sambutan yang resmi pula. Namun dalam pada itu, di pondok Kuda Sempana telah menunggu Witantra, Mahendra dan Sumekar. Mereka harus mendapat kesempatan untuk bertemu dengan Anusapati.

Sementara itu Mahendra sempat menceriterakan saat-saat ia mengikuti para pedagang yang menyeberangi hutan di sebelah kota.

“Ternyata perjalanan itu telah tercium oleh segerombol perampok. Meskipun iring-iringan pedagang itu menyeberang tepat dini hari, namun penyamun itu telah menunggunya. Agaknya mereka benar-benar telah mamperhitungkan kekuatan mereka.

Witantra, Kuda Sempana dan Sumekar mendengarkan ceritera itu sambil mengangguk-angguk. Mahendra yang juga sering mengenakan pakaian Kesatria Putih itu lebih senang menolong para pedagang, karena ia sendiri pernah menjadi seorang pedagang. Seperti Kuda Sempana ia tidak tanggung-tanggung menghancurkan setiap penjahat. Namun kadang-kadang masih juga ada seorang dua orang yang tersisa. Tetapi lain dengan Kuda Sempana. Ia menyapu setiap gerombolan sejauh mungkin dapat dilakukannya.

“Apakah mereka bertempur?” bertanya Sumekar kemudian.

“Ya. Para penyamun itu menjebak para pedagang dengan sebuah kepungan yang rapat sekali. Tetapi ternyata bahwa para pedagang itu-pun memiliki kemampuan perlawanan yang tinggi, sehingga tidak mudah bagi para penyamun untuk menundukkannya.

“Tetapi para pedagang itu kalah,” sahut Witantra, “dan ceritera itu disambung dengan kehadiran Kesatria Putih untuk menolong mereka dan menghancurkan para penjahat itu.”

Mahendra tertawa. Katanya, “Tidak. Aku tidak menunggu para pedagang itu kalah, karena penyamun itu benar-benar kuat. Aku datang selagi para pedagang itu masih bertahan sekuat-kuat tenaga mereka. Dengan demikian, maka pakerjaanku tidak begitu berat karena aku dibantu oleh para pedagang itu sendiri. Namun demikian, berita yang tersiar, Kasatria Putih seorang diri telah berhasil membinasakan segerombolan penyamun yang maha kuat.”

Mereka yang mendengarkan ceritera itu tertawa. Bahkan Sumekar-pun berkata, “Seandainya aku mendapat kesempatan, aku ingin juga sekali-sekali menjadi orang yang paling terkenal di seluruh Singasari sekarang, tetapi juga orang yang selalu diliputi oleh rahasia yang tidak terungkapkan.”

Witantra tersenyum. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Mungkin selama kau berada disini, kau akan mendapat kesempatan.”

“Berapa hari kau berada di sini?” bertanya Kuda Sempana.

“Aku harus segera kembali, sebelum Putera Mahkota kembali ke istana.”

“Kau tidak akan mendapat kesempatan. Biasanya sampai dua tiga pekan setelah Kesatria Putih bertindak, tidak ada seorang penjahat-pun yang berani berbuat sesuatu.”

“Sayang,” desis Sumekar, “agaknya permainan itu mengasyikkan sekali.”

“Mudah-mudahan Putera Mahkota tidak segera kembali,” berkata Mahendra.

“Tetapi akulah yang harus segera kembali, karena aku hanya mendapat waktu tujuh hari.”

Kawan-kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya, dan Sumekar-pun menyambung, “Mudah-mudahan lain kali aku akan mendapatkan kesempatan itu.”

“Tetapi bukankah kita akan segera ditangkap oleh Putera Mahkota dan Mahisa Agni.”

Hampir serentak meledaklah suara tertawa mereka, sehingga Kuda Sempana meletakkan jarinya di muka bibirnya sambil berdesis, “Sst, tetangga-tetanggaku, para abdi istana ini akan menjadi heran dan curiga mendengar kalian adalah saudara-saudaraku yang datang dari desa. Tetapi kalau kalian tertawa terbahak-bahak, mereka akan mencurigainya. Orang-orang yang datang dari desa tidak pernah tertawa terlampau keras.”

“Bohong,” sahut Mahendra, “aku benar-benar datang dari desa, tetapi mungkin akulah yang paling keras tertawa.”

Kawan-kawannya-pun kemudian menutup mulut mereka, karena tertawa mereka hampir meledak kembali.

Dalam pada itu, Mahisa Agni telah mengatur suatu acara khusus untuk mempertemukan Kesatria Putih dengan Anusapati tanpa diketahui oleh para pengiringnya. Di dalam ruangan tersendiri, dan tanpa menimbulkan kecurigaan, Anusapati sempat menjadi terheran-heran ketika ia dihadapkan kepada tiga orang Kesatria Putih.

“Aku hampir tidak percaya kepada penglihatanku,” ia berdesis.

“Hamba-pun semula tidak mempercayainya,” bisik Sumekar yang duduk disampingnya.

“Siapakah mereka?”

“Hamba tidak boleh menjelaskan tuanku. Biarlah kakang Mahisa Agni menyebut mereka seorang demi seorang.”

Mahisa Agni tersenyum. Katanya, “Aku akan memperkenalkan mereka.”

Anusapati memandang mereka dengan terheran-heran ketika ketiganya membuka kerudung masing-masing.

“Nah,” berkata Mahisa Agni, “kau sudah berhadapan dengan Kesatria Putih. Apakah kau akan menangkap mereka?”

Anusapati masih merenungi ketiga orang itu. Witantra lah yang kemudian berkata sambil membungkukkan kepalanya, “Hamba menunggu perintah tuanku. Apakah tuanku akan menangkap hamba, atau tuanku akan mengijinkan hamba meneruskan permainan ini.”

Anusapati menjadi termangu-mangu. Ia tahu benar bahwa Witantra berdiri dipihaknya di dalam perbandingan kekuatan yang ada, yang berujung pada dirinya sendiri dan adiknya Tohjaya.

“Apakah sebenarnya maksud paman dengan permainan ini?” bertanya Anusapati.

“Merebut perhatian rakyat Singasari dari Tohjaya. Permainan mereka-pun sudah dimulai. Dan kita-pun harus mengimbanginya jika kita tidak ingin tertinggal.”

“Tetapi apakah keuntunganku dengan permainan paman ini.”

“Setidak-tidaknya, rakyat Singasari tidak lagi selalu mengelukan Tohjaya sebagai seorang yang paling mereka sukai di lseluruh Singasari.”

“Kemudian?”

“Kita akan melihat perkembangan seterusnya.”

Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Sejenak dipandanginya ketiga orang yang disebut Kesatria Putih itu dengan saksama, kemudian ia berpaling dan memandang Mahisa Agni yang sedang merenunginya pula.

“Anusapati,” berkata Mahisa Agni kemudian, “memang kau tidak akan mendapat keuntungan langsung dari hadirnya Kesatria Putih ini di bumi Singasari, tetapi pada suatu saat kau akan merasakan manfaatnya.”

“Tetapi paman Mahisa Agni, apakah yang harus aku lakukan dengan perintah Ayahanda Sri Rajasa untuk menyingkirkan Kesatria Putih? Bahkan bersama paman Mahisa Agni?”

“Kita harus menyanggupinya. Tetapi tentu saja kita tidak dapat memberikan batas waktu.”

“Namun ternyata bahwa Kesatria Putih masih saja berkeliaran.”

“Kita tentu dapat mengemukakan alasan, bahwa kita belum dapat menjumpainya. Kesatria Putih selalu menghindari kita berdua.”

“Mungkin ayahanda dapat mempercayainya sebulan dua bulan. Tetapi pada suatu saat ayahanda akan menjadi curiga juga terhadap kita.”

“Dalam pada itu kita akan mencari jalan. Kalau perlu, kegiatan Kesatria Putih kita hentikan. Bukankah dengan demikian kita dapat mengatakan bahwa kita sudah berhasil menyingkirkannya?” Mahisa Agni berhenti sejenak. Lalu, “tetapi kita-pun harus bersiap menghadapi permainan Tohjaya berikutnya.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Nah Anusapati,” berkala Mahisa Agni kemudian, “kau tidak usah menjadi gelisah oleh perintah Sri Rajasa itu.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kapalanya. Selama ini pamannya banyak memberikan tuntunan dan jalan keluar dari hampir setiap kesulitan. Karena itu, maka kali ini-pun ia percaya bahwa pamannya akan dapat memberikan jalan kepadanya, keluar dari kesulitannya kali ini.”

Demikianlah maka pada saatnya, setelah Sumekar mendahului, Anusapati-pun kembali pula ke Singasari bersama Mahisa Agni, yang kemudian menerima perintah langsung dari Sri Rajasa untuk menyingkirkan Kesatria Putih bersama Anusapati.

“Aku percaya kepadamu,” berkata Sri Rajasa, “bahwa kau akan dapat melakukannya untuk kepentingan Putera Mahkota, yang seakan-akan telah kehilangan kesempatan untuk dikenal oleh rakyat Singasari.”

“Hamba tuanku,” jawab Mahisa Agni sambil menundukkan kepalanya, “hamba akan mencobanya.”

“Kau harus berhasil. Jika tidak, maka nasib Anusapati kelak tidak akan dapat kita bayangkan. Ia tidak lebih dari seorang Kesatria yang selalu dibayangi oleh Kesatria lain yang tidak dikenal. Dan tidak mustahil, bahwa setelah mendapatkan perhatian sedemikian besarnya dari rakyat Singasari, Kesatria Putih akan berani melakukan perbuatan yang dapat menghanyutkan Anusapati dari tahtanya.” Sri Rajasa berhenti sejenak. Lalu, “Mungkin hal itu tidak akan dapat dilakukannya selagi aku masih ada. Tetapi pada suatu saat, aku akan kembali kepada Yang Maha Agung. Nah, sesudah datang saat itu, aku tidak akan dapat berbuat apa-apa lagi atas Anusapati dan melindunginya dari setiap bahaya yang mengancamnya.”

“Baiklah tuanku,” berkata Mahisa Agni, “hamba mengerti, betapa pentingnya tugas ini, tetapi juga betapa sulitnya. Hamba harus melakukannya tanpa setahu rakyat Singasari, karena bagi mereka Kesatria Putih adalah seorang pahlawan.”

“Ya.”

“Mudah-mudahan hamba dapat melakukannya bersama tuanku Putera Mahkota.”

Demikianlah Mahisa Agni dan Anusapati mempersiapkan diri untuk melakukan tugas itu. Namun Mahisa Agni telah memohon kepada Sri Rajasa, agar ia diperkenankan melakukan tugas itu berdua saja dengan Anusapati, tanpa pengiring dan pasukan pengawal sama sekali.

“Kenapa? “ bertanya Sri Rajasa.

“Sepasukan prajurit, batapa-pun kecilnya akan mudah sekali diketahui oleh Kesatria Putih, sehingga mereka akan selalu menghindar.”

“Kenapa mereka? Apakah Kesatria Putih itu lebih dari seorang?”

“Maksud hamba, ia akan selalu menghindar.”

“Bagaimana kalau kau mempergunakan cara yang justru akan mamancing Kesatria Putih itu.”

“Maksud tuanku, hamba menyamar sebagai segerombolan perampok?”

“Ya.”

“Kesatria Putih akan segera mengenal dan dapat membedakan karena hamba tentu tidak akan benar-benar melakukan perampokan itu.”

Sri Rajasa menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “terserah kepadamu. Yang penting, Kesatria Putih itu dapat kita singkirkan. Setidak-tidaknya ia tidak dapat melakukan kegiatannya lagi.”

Demikianlah, maka Mahisa Agni dan Anusapati mulai dengan tugasnya yang baru. Mahisa Agni tidak segera kembali ke Kediri, karena ia harus mengawani Anusapati mencari Kesatria Putih.

Tidak seorang-pun yang mengetahui tugas itu. Ken Dedes tidak, isteri Anusapati-pun tidak. Usaha manyingkirkan Kesatria Putih tidak boleh diketahui oleh siapa-pun juga. Jika berita itu sampai menyusup ketelinga rakyat Singasari, maka pasti akan menimbulkan persoalan di antara mereka, karena Kesatria Putih bagi mereka, justru seorang pahlawan.

Setelah mencium anaknya yang tumbuh semakin besar dan mohon diri kepada ibunya, maka Anusapati pergi meninggalkan istana diiringi oleh Mahisa Agni.

Kepergian Anusapati diiringi dengan berbagai macam pertanyaan dihati seisi istana. Yang mereka ketahui adalah, bahwa Anusapati sedang menjalankan tugasnya sebagai seorang Putara Mahkota.

“Sebuah tugas rahasia,” berkata salah seorang Senapati.

“Ya,” sahut yang lain.

Tetapi ada sesuatu yang menggetarkan jantungnya. Kenapa tugas itu sama sekali tidak diketahui oleh para pemimpin prajurit sekalipun.

Sepeninggal Anusapati, maka mulailah Tohjaya mengharap mendapat kesempatan lagi untuk melakukan tindakan-akan yang dapat mengangkat namanya, ia berharap bahwa Mahisa Agni akan berhasil menyingkirkan Kesatria Putih, karena dari Anusapati sendiri tidak dapat diharapkan apa-pun juga.

“Tanpa paman Mahisa Agni, Kakanda Anusapati tidak akan dapat kembali. Hanya namanya sajalah yang akan tetap dikenang oleh rakyat Siugasari, bahwa pernah tersebut seorang Putera Mahkota yang belum sempat menduduki tahta, telah mati terbunuh oleh Kesatria Putih,” berkata Tohjaya di dalam hatinya.

Namun bagi Anusapati sendiri, ternyata kesempatan itu adalah kesempatan yang tidak diduga-duganya. Kepergiannya bersama Mahisa Agni telah memberikan kesempatan kepadanya untuk menyempurnakan ilmunya. Di sepanjang perjalanannya yang tanpa tujuan, Anusapati telah membentuk dirinya menjadi seorang yang menguasai ilmunya dengan matang.

Ternyata bahwa bukan saja Mahisa Agni, tetapi di dalam kesempatan itu, Witantra dan Kuda Sempana sempat memberikan ilmu perbandingan kepada Anusapati. Dengan bekal yang ada padanya. Anusapati mampu menerima ilmu dari kedua orang itu, sebagai bahan untuk menyempurnakan ilmunya sendiri. Seperti Mahisa Agni maka Anusapati-pun mencoba meluluhkan ilmu yang dipelajarinya itu menjadi suatu bentuk yang benar-benar mendebarkan jantung. Darah Tunggul Ametung dan Empu Purwa yang bergabung didalam dirinya, membuatnya menjadi seorang anak muda yang perkasa, yang mantap menguasai ilmu yang tidak terkirakan dahsyatnya.

Mahisa Agni, Witantra, Mahendra dan Kuda Sempana yang selalu menungguinya, apabila Anusapati berlatih, menjadi berdebar-debar. Bahkan akhirnya mereka percaya, bahwa ilmu yang dimiliki oleh Anusapati itu adalah ilmu yang tidak ada duanya. Dengan bekal itu, seandainya ia di desak oleh suatu keharusan, maka ia pasti akan dapat mengimbangi kemampuan Sri Rajasa yang memiliki ilmu tanpa dipelajarinya dari perguruan mana-pun juga.

Sementara Anusapati menempa dirinya, maka Sumekar selalu berdebar-debar menungguinya. Apa saja yang telah dilakukan oleh Anusapati di dalam perjalanannya. Namun Sumekar telah membayangkan pula, bahwa Anusapati pasti akan mempergunakan kesempatan itu untuk menyempurnakan diri.

“Mudah-mudahan Putera Mahkota berhasil membuat dirinya menjadi laki-laki terbaik di Singasari,” desisnya.

Dalam pada itu, maka Sumekar berusaha memenuhi pesan Anusapati dan Mahisa Agni sebaik-baiknya, sementara Putera Mahkota tidak ada, Sumekar harus menjaga isterinya dan Ibunda Permaisuri sebaik-baiknya.

Demikianlah, maka atas permintaan Mahisa Agni, ketiga orang yang sering melakukan petualangan sebagai Kesatria Putih, untuk beberapa saat lamanya telah menghentikan kegiatannya.

Dengan demikian maka untuk beberapa saat nama Kesatria Putih tidak lagi disebut-sebut dalam suatu tindakan baru. Orang-orang Singasari justru mulai bertanya-tanya, dalam beberapa saat terakhir Kesatria Putih tidak lagi pernah muncul. Disaat-saat yang lampau, meskipun tidak sedang melakukan tugasnya, menghancurkan perampok dan penjahat. Kesatria Putih sering menampakkan dirinya kepada para peronda. Melambaikan tangannya dan bahkan kadang-kadang berbicara sepatah kata.

“Sudah agak lama kita tidak mendengar sasuatu tentang Kesatria Putih,” desis seseorang, “apakah hilangnya Kesatria Putih itu pertanda bahwa Singasari akan diguncang oleh kejahatan dan kekacauan?”

“Ah tentu tidak. Seandainya Kesatria Putih sudah jemu melakukan tugas-tugas kemanusiaannya, maka kita akan tetap mendapat perlindungan dari Sri Rajasa. Bukankah sebenarnya Kesatria Putih itu hanya membantu tugas para prajurit Singasari.”

“Tetapi pernah terjadi. Kesatria Putih menghancurkan sekelompok prajurit Singasari.”

“Bukan prajurit Singasari. Meskipun mereka prajurit, tetapi Kesatria Putih menghancurkan mereka sebagai segerombolan perampok.”

“Itulah yang mencemaskan. Ternyata ada juga prajurit yang kehilangan keseimbangannya dan melakukan perbuatan terkutuk itu.”

Namun bagaimana-pun juga, rakyat Singasari merasa seakan-akan kehilangan apabila benar-benar Kesatria Putih tidak akan muncul lagi di atas bumi Singasari.

Hilangnya Kesatria Putih untuk beberapa saat itu ternyata didengar pula oleh Sri Rajasa dan Tohjaya. Meskipun mereka belum yakin, kalau Mahisa Agni dan Anusapati berhasil, namun kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Tohjaya. Meskipun tidak segarang Kesatria Putih, maka Tohjaya-pun nulai melakukan tindak kepahlawanan bersama Penasehat Sri Rajasa, yang tidak lain adalah guru Tohjaya sendiri.

Tidak segan-segan Tohjaya mengumpankan beberapa orang prajurit untuk berperan sebagai perampok-perampok yang bengis. Kemudian Tohjaya dan pengiringnya hadir mengusir mereka ketika mereka sedang melakukan kejahatan.

“Untunglah,” berkata salah seorang rakyat Singasari, “selagi Kesatria Putih menghilang beberapa lama, tuanku Tohjaya telah mengambil alih tugasnya yang mulia itu.”

“Apakah Kesatria Putih itu justru Tuanku Tohjaya?”

Rakyat Singasari memang mulai menghubung-hubungkan kepahlawanan Tohjaya dengan Kesatria Putih. Tetapi mereka-pun bertanya di dalam hati, “Jika demikian, apakah gunanya Tohjaya menutup wajahnya dengan selembar kain putih dan disebut sebagai Kasatria Putih.”

Tidak seorang-pun yang dapat menjawab. Namun mereka condong kepada suatu pendirian, bahwa Kesatria Putih memang bukan Tohjaya.

Namun demikian, yang kemudian tersebar adalah pertanyaan tentang Putera Mahkota. Rakyat Singasari menganggap bahwa Putera Mahkota kurang gairah di dalam ikut serta membina pemerintahan di Singasari. Anusapati ternyata tidak selincah Tohjaya yang meskipun bukan seorang Putera Mahkota, tetapi ia telah melakukan tindakan-akan yang nyata bagi rakyat Singasari.

Dalam pada itu, setelah melakukan tugasnya beberapa lama, maka Anusapati dan Mahisa Agni menghadap kembali kehadapan Sri Rajasa untuk menyampaikan hasil tugas mereka.

“Kami tidak berhasil mengusirnya,” berkata Mahisa Agni, “Kesatria Putih terlampau sulit untuk diketemukan. Namun dengan usaha ini, ternyata Kesatria Putih sudah menghilang. Mungkin ia mendengar bahwa hamba dan tuanku Putera Mahkota sedang mencarinya.”

“Apakah kau yakin bahwa ksatria Putih tidak akan muncul lagi?”

“Itulah yang hamba bimbangkan. Memang mungkin pada suatu saat ia muncul kembali.”

“Mahisa Agni dan Anusapati,” berkala Sri Rajasa kemudian, “adalah tugasmu dan tugas setiap keluarga istana untuk melakukannya. Jika Kesatria Putih itu telah benar lenyap, datanglah kesempatan bagi Anusapati. Kini ternyata bahwa Tohjaya sudah berhasil merintis jalannya kembali. Saat mendatang, adalah masa-masa yang akan menentukan kedudukanmu Anusapati. Berbuat sesuatu seperti yang dilakukan oleh Tohjaya.”

Anusapati hanya dapat menundukkan kepalanya saja. Sementara Sri Rajasa berkata selanjutnya, “Tugas ini berlaku terus-menerus. Kapan-pun jika kalian menjumpai Kesatria Putih, kalian harus bertindak.”

“Hamba tuanku,” jawab Mahisa Agni, “hamba akan selalu berusaha, karena Kesatria Putih dikenal oleh Rakyat Kediri pula sebagai seorang pahlawan.”

“Nah, sementara kalian masih meyakinkan hilangnya Kesatria Putih, Mahisa Agni sebaik-baiknya masih berada di Singasari.”

“Hamba tuanku,” jawab Mahisa Agni kemudian sambil bertanya, “Tuanku, apakah sementara ini, seperti juga tuanku Tohjaya yang disertai oleh penasehat tuanku beserta pengawalnya yang terpercaya, apakah hamba juga diperkenankan mengikuti tuanku Putera Mahkota untuk berbuat jasa seperti yang dilakukan oleh tuanku Tohjaya.”

Sri Rajasa mengerutkan keningnya. Sejenak kemudian ia bertanya, “Apakah Anusapati tidak dapat melakukannya sendiri?”

“Seperti tuanku Tohjaya, ia memerlukan seorang kawan.”

“Penasehat itu tidak berbuat apa-apa, selain menasehatinya apabila ia terdorong langkah.”

“Mungkin hamba dapat berbuat lebih dari itu,” sahut Mahisa Agni, “mungkin hamba tidak saja dapat menahannya apabila tuanku Putera Mahkota terdorong langkah, tetapi apabila diperlukan, hamba akan mencoba melindungi Putera Mahkota apabila keadaan memaksa. Bukankah Putera Mahkota kelak akan menggantikan kedudukan Sri Rajasa, sehingga karena itu harus dijauhkan dari bencana yang mungkin dapat timbul.”

Sri Rajasa merenung sejenak, namun kemudian jawabnya, “Mungkin ada juga baiknya. Tetapi dengan demikian kau tidak memberikan didikan yang tepat kepada Anusapati. Ia akan selalu tergantung kepadamu dan kepada orang lain. Ia tidak membiasakan diri berbuat sesuatu atas tanggung jawabnya.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Dengan sudut matanya ia memandang wajah Anusapati yang tertunduk dalam-dalam.

“Tetapi,” berkata Sri Rajasa kemudian, “sekali dua kali kau dapat menyertainya. Tetapi untuk selanjutnya. Anusapati harus belajar menjadi seorang yang sudah dewasa. Bukankah ia sudah mempunyai seorang anak laki-laki? Ia bukan lagi anak-anak yang harus selalu dilindungi.”

Mahisa Agni menganggukkan kepalanya dalam-dalam sambil menjawab, “Hamba tuanku. Hamba mengerti. Perlahan-lahan hamba akan melepaskannya.”

Demikianlah, maka seperti berlomba Tohjaya dan Anusapati berusaha mendapatkan pengaruh dari rakyat Singasari. Tetapi ternyata setiap kali Tohjaya dapat lebih banyak berbuat dari Anusapati.

Beberapa kali Tohjaya berhasil menyelamatkan rakyat Singasari dari kejahatan. Hampir seperti Kesatria Putih. Tetapi Tohjaya tidak pernah berhasil memusnahkan mereka seperti yang sering dilakukan oleh Kesatra Putih.....

Bersambung.....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...