Kamis, 28 Januari 2021

BARA DI ATAS SINGGASANA 28-01

BARA DI ATAS SINGGASANA : JILID-28-01
Juru taman yang ada di tempat itu hampir tak ada seorang pun yang menaruh perhatian, apakah Anusapati ikut serta di dalam sidang di paseban atau tidak. Tetapi bagi Sumekar pemberitaan itu merupakan pertanda, bahwa jarak antara Sri Rajasa dan Anusapati masih belum menjadi semakin dekat seperti yang diharapkan oleh Mahisa Agni. Keduanya pasti tetap di dalam pendirian dan sikap masing-masing.

“Jika demikian, perang dengan diam-diam ini tidak akan segera berakhir. Jika Mahisa Agni keluar dari bangsalnya, aku harus menegaskan sekali lagi.”

Tapi kemudian Sumekar mendengar Anusapati berkata, yang agaknya memang ditujukan kepada dirinya, “Aku akan menunggu paman Mahisa Agni setelah sidang dipaseban.”

Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Ternyata bahwa Mahisa Agni justru dipanggil menghadap Sri Rajasa di dalam sidang di paseban.

Sepeninggal Anusapati, maka para juru taman itu pun segera kembali pada kerja masing-masing. Sumekar pun kemudian mengambi cangkul kecil bertangkai panjang. Dengan hati-hati ia pun kemudian menyiangi sebatang pohon soka putih di sudut taman itu.

Anusapati yang merasa semakin tersisih itu mengisi waktunya dengan berjalan-jalan di sepanjang halaman. Kadang-kasang ia berhenti pada sebuah gardu peronda. Prajurit Pengawal yang berada di gardu-gardu itu ternyata telah mendengar pula dan bahkan membicarakan tentang Witantra.

“Nama itu masih mempunyai pengaruh,” berkata Anusapati di dalam hatinya.

Sementara itu di paseban Sri Rajasa dan para pemimpin Singasari tengah membicarakan beberapa masalah tentang Singasari. Tentang beberapa gerombolan penjahat yang sudah berhasil diusir dari tempat-tempat yang ramai dan tersudut di hutan-hutan, daerah yang selalu diserang banjir, dan beberapa persoalan lainnya yang penting.

Para Panglima yang ikut di dalam sidang itu pun melaporkan kegiatan pasukan masing-masing dari tingkat yang tertinggi sampai dengan tingkat yang terendah.

Seperti yang didengar oleh Mahisa Agni pada paseban yang lewat, pada umumnya semua laporan adalah ceritera tentang kebaikan, kemenangan, kemakmuran dan kedamaian. Meskipun atas pertanyaan Sri Rajasa disinggung-singgung pula tentang bahaya banjir tentang kejahatan, tentang hama tanaman yang meluas, namun pada umumnya para pemimpin itu mengatakan, bahwa semuanya sudah dapat diatasi.

Sri Rajasa mengangguk-anggukkan kepalanya seperti pada sidang dipaseban yang lewat. Karena itu, bagi Mahisa Agni, sidang itu hampir tidak dapat menarik perhatiannya sama sekali. Hanya karena keharusan ia memperhatikan setiap keterangan dan laporan. Hanya karena orang lain mengangguk-anggukkan kepalanya, maka Mahisa Agni pun mengangguk-anggukkan kepalanya pula.

Namun berbeda dengan sidang yang lewat, maka kali ini Mahisa Agni diminta oleh Sri Rajasa untuk memberikan keterangan tentang Kediri dan daerahnya. Hal yang serupa hampir tidak pernah dilakukan dipaseban. Biasanya Mahisa Agni dipanggil menghadap langsung kepada Sri Rajasa dan satu dua orang penasehatnya saja, termasuk guru Tohjaya. Tetapi kini ia harus berbicara dimuka sidang.

Sejenak Mahisa Agni menjadi ragu-ragu, jika ia berkata sebenarnya maka nada laporan adalah jauh berbeda dengan nada kidung yang mengalun dalam himbauan angin pegunungan. Jika ia berkata sebenarnya, maka nadanya bagaikan guruh yang meledak di langit yang bersih jernih.

Tetapi seperti yang ada di dalam nuraninya, maka Mahisa Agni tidak dapat berkata lain. Bahkan kemudian ia menganggap dirinya telah dipaksa oleh Sri Rajasa untuk membenturkan kepalanya sendiri pada dinding batu.

“Apakah aku akan dapat mengatakan keadaan yang benar-benar terjadi dengan jujur, sedang setiap orang di dalam paseban ini mengatakan bahwa mereka berhasil melakukan tugas masing-masing dengan baik,” bertanya Mahisa Agni kepada diri sendiri. Namun ternyata bahwa pertanyaan itu justru telah mendorongnya untuk menyatakan dirinya, pribadinya, meskipun akibatnya beberapa orang akan menyebutnya sebagai seorang Senapati Agung yang kurang mampu melaksanakan tugasnya karena di dalam laporannya masih terdapat cacat-cacat yang cukup besar.”

Sri Rajasa yang duduk diatas singgasananya yang beralaskan kulit harimau yang belum lama berhasil ditangkapnya di hutan selagi ia berburu, menunggu dengan berdebar-debar. Sebenarnyalah bahwa ia ingin mengetahui, apakah Mahisa Agni dapat mengatakan seperti yang dikatakannya langsung kepadanya tentang kekurangan-kekurangan yang terjadi di Singasari. Apakah ia tidak termasuk salah seorang dari para pemimpin Singasari yang selalu menyembunyikan kenyataan dihadapan banyak orang sekedar untuk mengangkat martabatnya sendiri.

Sejenak Mahisa Agni masih berdiam diri. Ketika ia memandang wajah Sri Rajasa yang tegang, maka ia pun segera bergeser sejenak sambil berkata, “Baiklah tuanku. Hamba akan mengatakan apa yang sebenarnya terjadi di daerah pengawasan hamba sebagai orang yang mendapat pelimpahan kekuasaan dari tuanku, Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi. Maharaja di Singasari.” Mahisa Agni berhenti sejenak. Lalu, “yang mendapat anugerah kewajiban atas Kediri yang telah dipersatukan dengan Singasari.”

Sri Rajasa mengangguk-anggukkan kepalanya, sedang para pemimpin yang lain pun menjadi berdebar-debar. Namun mereka merasa bahwa yang akan didengarnya adalah senada dengan setiap laporan yang disampaikan di dalam sidang di paseban itu.

“Ampun tuanku,” kata Mahisa Agni, “bahwa hamba akan mengatakan yang benar kepada tuanku, bukan sekedar berkata untuk menyatakan kebenaran diri sendiri. Sebenarnyalah bahwa Kediri masih belum memenuhi keinginan hamba sepenuhnya.”

Sri Rajasa mengerutkan keningnya, dan para pemimpin yang lain pun mulai merasakan kelainan di dalam nada laporan Mahisa Agni.

Demikianlah maka Mahisa Agni pun sagera melaporkan apa yang sebenarnya terjadi di Kediri. Yang baik, yang bahkan kadang-kadang melampaui batas keinginannya sendiri, namun juga yang jauh dari memuaskan. Bahaya kering di samping bahaya banjir, sehingga akan mengancam Kediri dengan paceklik yang panjang. Tetapi juga beberapa daerah yang mengalami panen berlimpah-limpah.

“Masih juga ada kejahatan,” berkata Mahisa Agni, “meskipun tangan Kasatria Putih terasa juga di daerah Kediri.”

Sri Rajasa mengerutkan keningnya. Ternyata Mahisa Agni adalah Mahisa Agni. Ketika Sri Rajasa memandang wajah-wajah para pemimpin di paseban itu, tampaklah wajah-wajah yang tegang dan kemerah-merahan. Laporan Mahisa Agni tentang daerah kekuasaannya bagaikan suatu sindiran yang tajam atas mereka yang tidak pernah mengakui kekurangan masing-masing.

Namun tanggapan Sri Rajasa ternyata sangat mengejutkannya. Ia tidak menyangka bahwa sebenarnyalah ia masuk kedalam jebakan rangkap. Apapun yang dikatakannya, maka ia tentu akan terperosok di dalam tanggapan yang pahit.

“Itulah katanya,” berkata Sri Rajasa, “tampaknya Mahisa Agni adalah seorang yang rendah hati. Yang mengakui kekurangan dan kebodohannya.”

Dada Mahisa Agni menjadi berdebar-debar. Sejenak ia diam mematung. Ketika ia sempat memandang para pemimpin Singasari yang ada dipaseban itu termasuk para Panglima, hatinya menjadi berdebar-debar.

“Para pemimpin Singasari yang bijaksana,” berkata Sri Rajasa, “apakah kita akan dapat memberikan gelar kepadanya sebagai seorang pahlawan? Pahlawan yang membela kepentingan rakyat yang menurut penilaiannya di dalam kesulitan? Itulah Mahisa Agni yang sebenarnya. Sombong dan kurang bijaksana. Ia mencoba menyindir dan mencemoohkan laporan para pemimpin Singasari yang lain, yang seolah-olah sekedar menjilat kepadaku.”

Wajah Mahisa Agni menjadi merah padam. Sekilas ia melihat para pemimpin itu bergeser dan hampir setiap mata memandanginya dengan tajamnya.

“Apa katamu Mahisa Agni?” bertanya Sri Rajasa kepada Mahisa Agni kemudian.

Mahisa Agni tidak segera dapat menjawab. Ia dicengkam oleh kebingungan menghadapi Sri Rajasa. Ia tidak mengerti, bagaimanakah sebenarnya sikap Sri Rajasa atasnya akhir-akhir ini.

Namun akhirnya Mahisa Agni mencoba menganggap bahwa sebenarnya Sri Rajasalah yang sedang berada dipuncak kebingungannya menghadapi persoalannya. Ia kadang-kadang bersikap seakan-akan manyesali dirinya. Tetapi kadang-kadang ia dikejar olen kengerian atas segala dosa yang telah diperbuatnya, sehingga ia berusaha untuk mempertahankan dirinya.

“Ini adalah salah satu bentuk dari kebingungan itu,” berkata Mahisa Agni di dalam hatinya, “sehingga kebingungan itu telah merambat di dalam diriku pula.”

“Mahisa Agni,” berkata Sri Rajasa, “coba katakan dihadapan sidang ini, apakah maksudmu sebenarnya mengucapkan sindiran yang tajam itu kepada para pemimpin yang lain sehingga kau korbankan dirimu sendiri sebagai contoh dari kebodohan seorang pemimpin?”

“Tuanku,” berkata Mahisa Agni kemudian, “hamba tidak bermaksud apapun dengan laporan yang hamba katakan.” Mahisa Agni berhenti sejenak. Dipandanginya wajah Sri Rajasa dengan saksama. Namun kemudian, seolah-olah tidak ada pilihan lain baginya dari pada mempertahankan ucapannya dengan segala akibatnya, “sebenarnyalah bahwa hamba tidak mempunyai prasangka dan maksud buruk. Hamba mengatakan tentang diri hamba. Bukan sebagai taruhan untuk mencemoohkan para pemimpin yang lain. Hamba tidak tahu apa yang telah terjadi di daerah-daerah lain di bawah pengamatan dan pimpinan pemimpin Singasari yang lain.”

“Jangan ingkar,” berkata Sri Rajasa, “kau pernah mengatakan kepadaku diluar sidang, bahwa daerah-daerah lain itu sebenarnya adalah daerah-daerah yang paling buruk. Laporan-laporan palsu itu sengaja dikatakan sekedar untuk mendapat pujian daripadaku.”

Terasa sesuatu bergejolak di dada Mahisa Agni. Namun ia masih juga menjawab, betapapun hatinya menjadi berdebar-debar, “Tuanku, memang ada kalanya seseorang mengatakan sesuatu tidak dihadapan orang lain. Jika hamba pernah mengatakan sesuatu tentang daerah-daerah lain tidak dihadapan orang lain tentu ada maksudnya. Tetapi jika tuanku menganggap, bahwa sebaiknya hamba mengatakan tentang daerah-daerah lain di luar harapan hamba, maka hamba pun tidak akan berkeberatan. Hamba akan mengatakan seperti yang hamba katakan, dengan harapan penilaian yang wajar dari para pemimpin Singasari, karena hamba yakin apa yang hamba katakan itu benar, dan tentu akan dibenarkan, jika kita semuanya adalah pemimpin-pimpinan Singasari yang sebenarnya, yang ingin melihat Singasari maju dan berkembang.” Mahisa Agni berhenti sejenak. Lalu, “tetapi jika hamba sudah mengatakannya tuanku, hamba mengharap agar tuanku pun mengucapkan tanggapan tuanku seperti yang pernah tuanku ucapkan kepada hamba itu terhadap para pemimpin Singasari yang lain. Ucapan dan tanggapan tuanku itu pun adalah tanggapan yang wajar dari seorang Maharaja yang berpandangan jauh kedepan bagi negerinya.”

“Cukup, cukup,” Sri Rajasa memotong kata-kata Mahisa Agni dengan suara yang bergetar. Wajahnya menjadi merah padam dan sorot matanya bagaikan menyala.

Namun demikian masih tampak padanya suatu usaha untuk menahan diri dan mengendalikan perasaannya. Karena itulah maka ia pun berkata tertahan-tahan, “Baiklah Mahisa Agni. Kau memang seorang pemimpin Singasari yang lengkap. Kau pandai bermain dengan pedang di peperangan, tetapi kau juga pandai bermain lidah di dalam paseban. Tetapi aku pun tidak akan ingkar. Aku menghargai sikapmu yang terbuka itu, tetapi aku pun menilai sikapmu itu sebagai sikap yang sangat sombong, seakan-akan kau tidak terpengaruh oleh kehadiranku dan tanpa menghargai kuasaku sama sekali.”

“Am pun tuanku,” jawab Mahisa Agni, “sama sekali bukan maksud hamba berbuat demikian.”

Sri Rajasa terdiam sejenak. Tampak betapa ia berusaha menahan hatinya yang bergejolak.

Sementara itu, para pemimpin yang lain, yang mula-mula perasaan mereka yang tersinggung bagaikan disentuh api, tiba-tiba mempunyai tanggapan yang lain. Pembicaraan itu mengingatkan mereka, bahwa sebenarnya Mahisa Agni adalah seorang Senapati Agung yang memiliki kekhususan. Bukan karena ia saudara tuan Permaisuri, tetapi Senapati Agung itu adalah Senapati perang yang pilih tanding.

Dalam pada itu, selagi para pemimpin terombang-ambing di dalam suasana yang tegang, maka Mahisa Agni pun berkata, “Am pun tuanku, masih ada yang ketinggalan di dalam laporan hamba agar hamba tidak ingkar atas segala masalah yang hamba ketahui. Bahwa telah hadir di dalam kota Singasari tanpa menyatakan diri kepada yang berkuasa, seorang yang bernama Witantra. Belum ada seorang pun yang menyebutnya di dalam paseban ini, atau barangkali ada kesengajaan untuk menyembunyikannya.”

Sri Rajasa sebenarnya sudah mengetahui bahwa Witantra telah menampakkan dirinya di dalam kota Singasari, sehingga laporan tentang kehadiran Witantra itu tidak mengejutkannya. Tetapi yang mengejutkan adalah bahwa Mahisa Agni menganggap perlu membicarakan orang itu secara khusus.

Karena itu, maka Sri Rajasa pun kemudian berkata, “Kehadiran itu memang tidak perlu dilaporkan dipaseban ini. Aku sudah mengerti bahwa Witantra telah menampakkan dirinya setelah ia hilang bertahun-tahun. Aku kira para pemimpin yang lain pun telah mengetahuinya pula. Mereka sama sekali tidak tertarik pada berita itu. Dan apakah gunanya kehadiran seseorang dibicarakan di dalam paseban? Apakah para pemimpin Singasari tidak mempunyai persoalan lain yang penting selain membicarakan orang-orang yang sudah lama sekali tidak kita lihat dan tiba-tiba muncul dikota ini.”

“Tidak tuanku, jika orang itu bukan Witantra,” sahut Mahisa Agni, “apakah tuanku tidak ingat lagi, bagaimana Witantra itu menghilang dari Tumapel?”

“Tentu,” jawab Sri Rajasa.

“Hamba telah mengalahkannya di dalam perang tanding. Karena itu maka hamba sangat berkepentingan dengan orang yang bernama Witantra itu.”

“Kau takut pembalasan dendam?”

Mahisa Agni mengangkat wajahnya. Lalu katanya, “Tentu tidak tuanku. Hamba tidak berkeberatan jika saat ini Witantra datang ke istana dan menuntut perang tanding untuk menebus kekalahannya. Tetapi yang penting bagi kita, apakah kedatangannya itu membawa persoalan baru baginya dan bagi kita.”

“Cukup.” wajah Sri Rajasa menegang sejenak, namun kemudian sekali lagi ia menguasai dirinya dan melanjutkannya, “baiklah kita tidak membicarakannya. Jika ia datang keistana, aku akan menemuinya dan jika ia masih mendendam karena kekalahannya, kini bukan tanggung jawabmu lagi. Jika saat itu kau bertempur tidak atas namamu sendiri, maka tanggung jawabnya tentu kini ada padaku.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Terima kasih tuanku. Jika demikian, maka persoalannya hamba serahkan kepada tuanku Sri Rajasa.”

“Kenapa kau menyerahkan persoalannya kepadaku? Seharusnya kau tidak mengatakan demikian. Tanggung jawab itu sudah ada padaku. Kau serahkan atau tidak kau serahkan.”

“Am pun tuanku, demikianlah kiranya maksud hamba.”

“Nah, sekarang, apakah masih ada persoalan-persoalan yang penting bagi Singasari. Aku hanya ingin berbicara tentang persoalan-persoalan yang penting, bukan persoalan seorang demi seorang yang hanya akan menghabiskan waktu saja.”

Tidak seorang pun yang menjawab. Sidang dipaseban itu rasa-rasanya menjadi tegang. Pusat perhatian para pemimpin Singasari kini tertuju kepada Sri Rajasa dan Mahisa Agni. Dua orang yang seakan-akan menjadi puncak pimpinan pemerintahan yang langsung tidak langsung telah mereka hubungkan dengan kedua putera laki-laki Sri Rajasa yang lahir dari dua orang ibu. Bahkan para pemimpin Singasari yang mengetahui dengan pasti bahwa Anusapati sama sekali bukan putera Sri Rajasa melihat seakan-akan pertentangan antara Sri Rajasa dan Tunggul Ametung kini berkobar lagi dalam bentuknya yang berbeda, yang seakan-akan telah diwarisi oleh Anusapati dan Tohjaya.

“Jika tidak ada persoalan lagi, sidang ini aku bubarkan. Aku tidak akan mengadakan pembicaraan khusus dengan si apapun.”

Sejenak kemudian maka para pemimpin Singasari itu pun segera meninggalkan paseban dengan hati yang berdebar-debar. Sebagian dari mereka masih merasa betapa jantungnya tergores oleh pengakuan Mahisa Agni terhadap kekurangan di dalam daerah kuasa yang dilimpahkan kepadanya oleh Sri Rajasa. Seperti yang dikatakan oleh Sri Rajasa, bahwa sebenarnyalah Mahisa Agni sama sekali bukan seorang yang rendah hati, yang mengakui kekurangannya, tetapi yang dengan sengaja telah menganggap bahwa para pemimpin adalah penjilat yang bodoh.

Tetapi beberapa orang yang lain merasa bahwa sebenarnyalah bahwa mereka telah melakukan suatu kesalahan. Mereka seakan-akan dengan sengaja berusaha menyembunyikan kekurangan yang ada pada diri mereka. Dengan sadar mereka berbangga bahwa masih ada juga orang yang dengan berani menyatakan kebenaran dihadapan Sri Rajasa dan dihadapan paseban.

Namun pada umumnya mereka merasa cemas, bahwa perkembangan keadaan di Singasari tidak begitu menggembirakan hati. Apalagi kehadiran Witantra seperti yang dikatakan oleh Mahisa Agni, tentu bukan sekedar persoalan kecil karena sejak semula Witantra menyimpan persoalan yang tentu dianggapnya belum selesai.

“Kehadirannya tentu akan menentukan suatu peristiwa yang penting di Singasari,” beberapa orang pemimpin Singasari saling berbisik. Seorang perwira yang sudah lanjut usia berkata, “Ia adalah seorang Senapati yang mapan.”

Namun dalam pada itu Panglima Pasukan Pengawal Singasari ternyata mempunyai perhatian khusus terhadap kehadiran Witantra. Meskipun Singasari sekarang jauh lebih besar dari Tumapel, namun nama Witantra sebagai seorang Senapati pasukan Pengawal adalah cukup besar dibandingkan dengan namanya sendiri.

Dengan demikian, maka berbagai kesan telah melibat hati para pemimpin Singasari yang baru saja meninggalkan sidang di paseban itu.

Ketika itu Sri Rajasa pun telah kembali pula kebangsalnya diiringi oleh para pengawal. Dengan wajah muram ia masuk kedalam biliknya. Dibantingnya dirinya di atas sebuah tempat duduk kayu yang dialasi dengan kulit menjangan berwarna coklat.

Sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata di dalam hatinya. “Peristiwa apa saja yang akan terjadi di Singasari. Justru pada saat-saat terakhir timbul berbagai persoalan yang tidak aku kehendaki. Gila juga Mahisa Agni itu.”

Ketika di luar pintu seseorang berdiri termangu-mangu, maka Sri Rajasa pun berteriak, “Siapa itu?”

“Hamba tuanku,” jawab seorang pelayan, “hamba menyiapkan pakaian tuanku.”

“Pergi, pergi.” bentak Sri Rajasa.

Pelayan itu menjadi ketakutan. Dengan ragu-ragu ditinggalkannya pintu bilik Sri Rajasa dengan berbagai pertanyaan di dalam hati. Tidak pernah terjadi bahwa Sri Rajasa tidak memerintahkannya menyediakan pakaian setelah ia selesai melakukan kuwajiban resminya sebagai seorang Maharaja di Singasari.

Di dalam bilik, pikiran Sri Rajasa masih tetap kusut. Sebenarnyalah seperti yang diduga oleh Mahisa Agni, dalam keadaan yang kisruh hati Sri Rajasa tidak dapat tetap. Pikirannya selalu berubah setiap saat didorong oleh kegelisahan yang semakin dalam. Kehadiran Witantra sebenarnya sama sekali tidak dapat diabaikannya.

Dalam kekeruhan hati itulah tiba-tiba ia berteriak memanggil seorang Pelayan Dalam yang bertugas di dalam bangsal itu.

Sambil berlari-lari kecil. Pelayan Dalam itu menghampiri pintu bilik Sri Rajasa. Kemudian dengan ragu-ragu ia bergumam, “Hamba menghadap tuanku.”

“Panggil Tohjaya,” teriak Sri Rajasa masih di dalam biliknya.

“Hamba tuanku,” perintah Sri Rajasa itu tidak perlu diulangi. Dengan tergesa-gesa Pelayan Dalam itu pun berlari-lari ke bangsal dibagian yang lain dari istana Singasari itu.

“Tuanku,” berkata Pelayan Dalam itu dengan nafas yang terengahengah, “Tuanku Sri Rajasa memanggil tuanku.”

“Ayahanda memanggil aku?” bertanya Tohjaya.

“Hamba tuanku.”

Tohjaya menjadi berdebar-debar. Tentu ada persoalan yang penting yang akan dikatakan oleh ayahandanya setelah sidang di paseban. Karena itu, maka dengan tergesa-gesa Tohjaya menghadap ibundanya yang mengatakan perintah ayahandanya itu.

“Memang sudah sampai waktunya Tohjaya. Semakin lama Anusapati menjadi semakin sombong. Jika semula ia sudah hampir kehilangan semua kesempatan dan kemungkinan untuk merebut hati rakyat Singasari, lambat laun ia sudah memperolehnya. Karena itu, jika ayahandamu memang memerintahkan lakukanlah dengan segera. Gurumu dan beberapa orang Senapati yang sudah kau hubungi akan dapat disiapkan segera, apalagi langsung di bawah perintah ayahandamu sendiri. Anusapati memang harus segera disingkirkan. Agar tidak timbul persoalan dikemudian hari, maka Mahisa Agni yang mumpung berada di istana ini pun harus dibinasakan pula.”

“Hamba akan mengatakannya kepada ayahanda. Jika ayahanda mengucapkan perintah itu kepada para Panglima, maka semuanya akan terjadi.”

“Kau harus berhati-hati. Mahisa Agni mempunyai cukup pengaruh, terutama di luar istana. Karena itu, maka yang dilakukan haruslah di dalam istana dan dalam waktu yang singkat. Jika kau ingin menangkap seekor ular berbisa, tangkaplah kepalanya. Jika kau gagal, maka kau sendirilah yang akan binasa karena racunnya.”

“Baik ibunda. Hamba akan segera menghadap ayahanda, sudah tentu bahwa dalam waktu yang singkat, kita akan melakukannya.”

“Dan beberapa hari kemudian, kau adalah putera Mahkota.”

“Ya. Aku akan menjadi Putera Mahkota di Singasari yang besar. Aku akan berbuat sebaik-baiknya sebagai Putera Mahkota. Tidak seperti Kakanda Anusapati.”

“Sekarang menghadaplah. Usahakan agar ayahandamu merintahkan aku menghadap pula.”

“Baiklah ibunda, hamba akan berusaha.”

Dengan tergesa-gesa Tohjaya pun kemudian pergi menghadap ayahandanya di bangsalnya. Dengan hati yang berdebar-debar ia menaiki tangga bangsal itu, sedang kedua pengawalnya tinggal di bawah tangga, bersama pengawal bangsal itu sendiri.

Perlahan-lahan Tohjaya membuka pintu bangsal itu. Kemudian dengan degup jantung yang keras ia melangkah masuk.

Tetapi Tohjaya tidak segera melihat ayahandanya.

Ketika ia melihat seorang Pelayan Dalam dipintu samping bangsal itu, maka ia pun kemudian bertanya, “Dimana Ayahanda Sri Rajasa.”

“Am pun tuanku,” Pelayan Dalam itu mengangguk. “Ayahanda tuanku ada di dalam biliknya.”

Tohjaya menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia pun kemudian melangkah kepintu bilik.

“Hanya untuk persoalan yang sangat penting dan sangat rahasia ayahanda memanggil kedalam biliknya,” berkata Tohjaya di dalam hatinya.

Dengan ragu-ragu akhirnya Tohjaya berdiri di depan pintu bilik Sri Rajasa. Sejenak ia termangu-mangu, namun kemudian ia berkata lirih, “Am pun ayahanda. Hamba sudah menghadap.”

Sejenak Sri Rajasa menunggu. Kemudian didengarnya jawab, “Masuklah Tohjaya.”

Dada Tohjaya menjadi semakin berdebar-debar. Perlahan-lahan didorongnya daun pintu itu ke samping. Dengan langkah yang terasa berat ia pun kemudian melangkah masuk.

Dilihatnya ayahandanya, Sri Rajasa duduk di atas tempat duduk kayu yang beralaskan kulit menjangan.

“Duduklah,” berkata Sri Rajasa kemudian.

Tohjaya termangu-mangu sejenak. Dan ia pun kemudian duduk di atas tempat duduk kayu di sudut bilik itu.

“Apakah seorang prajurit telah memanggilmu?”

“Hamba ayahanda. Bukankah ayahanda memanggil hamba menghadap?”

“Ya.”

“Hamba siap menerima perintah apapun, ayahanda. Agaknya memang sudah waktunya ayahanda memerintahkan kepada hamba untuk berbuat sesuatu.”

Sri Rajasa menarik nafas dalam-dalam.

Dan Tohjaya pun kemudian bertanya, “Dan apakah perintah itu ayahanda?”

Sri Rajasa memandang puteranya itu sejenak. Namun kemudian terdengar ia berdesah. Katanya, “Tidak ada perintah apapun saat ini Tohjaya.”

Bukan main terperanjatnya Tohjaya. Bahkan kemudian ia tidak percaya kepada pendengarannya sehingga ia bertanya, “Apakah yang ayahanda maksudkan?”

“Dengarlah sekali lagi Tohjaya,” jawab ayahandanya, “aku tidak akan memberikan perintah apapun juga.”

Dada Tohjaya terguncang karenanya. Dengan terbata-bata ia bertanya, “Tetapi, bukankah ayahanda memanggil hamba setelah sidang di paseban? Menurut dugaan hamba, ayahanda mendapat bahan-bahan yang cukup lengkap selama sidang sehingga Ayahanda memutuskan untuk menjatuhkan perintah terakhir. Bukankah ayahanda perlu mengambil tindakan tertentu untuk mengakhiri keadaan yang tidak ada ujung pangkalnya?”

Tetapi Sri Rajasa itu menggelengkan kepalanya. Katanya, “Aku tidak dapat menentukan sekarang. Aku masih harus memikirkannya.”

Tohjaya benar-benar menjadi bingung. Ia tidak mengerti, kenapa ayahandanya memanggilnya dengan tergesa-gesa. Namun kemudian ia sama sekali tidak memberikan perintah apapun juga. Sebenarnyalah bahwa Sri Rajasa sendiri sedang dilibat oleh kebingungan yang hampir tidak dapat dipecahkannya. Setiap kali sikapnya selalu dibayangi oleh keragu-raguan sehingga terombang-ambing tidak menentu.

Dengan demikian maka bilik itu pun sejenak dicengkam oleh kesepian. Sri Rajasa duduk sambil menundukkan kepalanya, sedang Tohjaya menjadi sangat gelisah menghadapi keadaan itu. Namun ia tidak berani lagi bertanya sesuatu kepada ayahandanya, karena Tohjaya pun kemudian menyadari bahwa agaknya ada sesuatu yang sedang bergejolak dihati ayahandanya.

“Tohjaya,” berkata Sri Rajasa kemudian memecahkan kebekuan suasana, “tinggalkan bilik ini.”

Tohjaya menjadi semakin bingung. Tetapi ia tidak dapat berbuat lain. Perlahan-lahan ia berdiri dan berkata, “Hamba ayahanda. Hamba mohon diri.”

Sri Rajasa hanya mengangguk kecil. Kemudian wajahnya itu pun tertunduk lagi. Bahkan kemudian disandarkannya dagunya pada kedua belah tangannya yang sikunya bertelekan pada lututnya.

Tohjaya pun kemudian melangkah keluar perlahan-lahan. Hatinya diamuk oleh kebingungan yang dahsyat, karena dengan demikian ia pun menyadari bahwa ayahandanya sendiri pun masih juga dikuasai oleh keragu-raguan.

“Kenapa ayahanda masih selalu ragu-ragu. Mungkin ayahanda masih saja terpengaruh oleh ibunda Permaisuri, justru karena ibunda Permaisuri lah maka ayahanda tidak dapat berbuat tegas atas Kakanda Anusapati. Seharusnya ayahanda tidak lagi menghiraukan ibunda Permaisuri itu. Jika ayahanda masih saja terlampau banyak pertimbangan, maka akhirnya ayahanda akan terlambat.”

Namun dengan demikian langkahnya pun menjadi tergesa-gesa. Kedua pengawalnya berlari-lari kecil mengikutinya di belakang.

Sementara itu, Ken Umang sudah dicengkam oleh angan-angan tentang tahta kerajaan Singasari sepeninggal Sri Rajasa. Jika Anusapati sudah disingkirkan, maka tentu Tohjaya akan segera diangkat menjadi Pangeran Pati menggantikan kedudukannya. “Tentu tidak akan ada persoalan apapun juga jika Sri Rajasa sudah memutuskan. Pengaruhnya terlampau besar, dan kekuasaannya adalah mutlak.” namun kemudian, “tetapi Mahisa Agni itu pun harus disingkirkan. Dan tentu Sri Rajasa tidak akan mengalami kesulitan. Betapapun saktinya Mahisa Agni, namun sudah barang tentu tidak akan dapat mengimbangi kesaktian Sri Rajasa sendiri.”

Ken Umang itu pun terloncat berdiri ketika ia melihat Tohjaya datang kedalam biliknya dengan wajah yang tegang. Dengan tergesa-gesa ia menyongsongnya dan bertanya, “Perintah apakah yang telah kau terima Tohjaya?”

Tohjaya pun kemudian duduk dengan lesunya. Sejenak ia termangu-mangu sehingga ibunya pun menjadi heran.

“Tohjaya, apakah kau terima perintah itu?”

Tohjaya menggelengkan kepalanya. Dengan nada yang aneh ia menjawab, “Hamba tidak menerima perintah apapun juga ibu.”

“He,” Ken Umang terperanjat. Sejenak ia memandangi anaknya dengan wajah yang tegang. Kemudian perlahan-lahan didekatinya anaknya yang duduk sambil menundukkan kepalanya. Diguncang-guncangnya pundak anaknya sambil berkata, “Apakah aku sudah pikun? Coba katakan sekali lagi Tohjaya.”

“Hamba tidak menerima perintah apapun ibunda. Ketika hamba menghadap, ayahanda berkata, “Kembalilah, tinggalkan aku.”

“Tohjaya, apakah kau sedang mengigau?”

“Sebenarnya ibunda, ayahanda memerintahkan hamba untuk meninggalkan bilik itu. Itulah perintah satunya yang hamba terima.”

Ken Umang memandang anaknya dengan wajah yang tegang, sehingga pelupuk matanya hampir tidak berkedip. Ia tidak dapat mengerti apakah yang sebenarnya dikatakan oleh anaknya itu.

“Ibunda,” berkata Tohjaya kemudian, “hamba pun tidak mengerti, kenapa ayahanda tidak memberikan perintah apapun kecuali memerintahkan hamba meninggalkan ayahanda itu seorang diri.”

“O,” Ken Umang pun kemudian terduduk pula, “aku tidak mengerti. Aku tidak mengerti.”

Tohjaya memandang wajah ibunya sejenak. Namun kepalanya pun segera tertunduk pula. Memang yang baru saja terjadi sama sekali tidak dapat dimengertinya, dan ibunya pun menjadi bingung karenanya.

Sejenak keduanya terdiam. Seakan-akan kabut yang kelam telah menyelubungi angan-angan dan pikiran mereka, sehingga mereka sama sekali tidak mengerti, apa yang harus mereka lakukan.

Dalam pada itu, Mahisa Agni yang masih juga dibayangi oleh pembicaraan- pembicaraan di dalam sidang, mencoba untuk menemukan suatu gambaran, apakah yang sebenarnya bergolak di dalam hati Sri Rajasa. Namun setiap kali yang diketemukannya, adalah sekedar menganggap bahwa Sri Rajasa memang sedang kebingungan.

“Tetapi kebingungan itu dapat membahayakan keadaan,” berkata Mahisa Agni di dalam hati, “setiap saat pikirannya dapat berubah dan setiap saat Singasari dapat bergejolak. Satu langkah yang salah dari Sri Rajasa, dan membuat Singasari menjadi berantakan. Sedangkan persoalan yang sebenarnya adalah persoalan ketamakan Ken Umang semata2. Namun apabila hati Sri Rajasa tidak goyah, maka hal yang seperti sekarang ini tidak perlu terjadi.”

Demikianlah ketika Mahisa Agni kemudian bertemu dengan Anusapati dan Sumekar, maka diceriterakannya apa yang terjadi di paseban.

“Sebenarnyalah bahwa ancaman itu sudah langsung ditujukan kepadamu,” berkata Sumekar kepada Mahisa Agni, “tetapi karena sikap para pemimpin Singasari yang tidak jelas, maka Sri Rajasa masih harus berpikir sekali lagi. Jika di dalam paseban itu tanggapan atas tuduhan Sri Rajasa terhadapmu, terhadap yang disebutkan kesombonganmu itu cukup baik baginya, maka ia tidak akan menunggu lebih lama lagi. Tetapi karena ia melihat keragu-raguan pada pemimpin Singasari, maka ia pun tidak segera memerintahkan saat itu juga untuk menangkapmu.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Memang dapat juga terjadi seperti yang dikatakan oleh Sumekar itu. Tetapi Mahisa Agni pun tahu, bahwa sebenarnya Sumekar telah dipenuhi oleh prasangka dan bahkan sikap yang pasti, yaitu Sri Rajasalah yang harus disingkirkan, justru untuk menyelamatkan hasil yang pernah dicapai oleh Sri Rajasa sendiri. Singasari yang besar dan kuat. Namun bagi Mahisa Agni sendiri, masih harus ditempuh pertimbangan-angan yang semasak-masaknya meskipun kadang-kadang orang lain menganggapnya tidak berbuat apa-apa.

Dalam pada itu, Anusapati pun sebenarnya mempunyai tanggapan persoalan yang dikatakan oleh Mahisa Agni itu sejalan dengan pendapat Sumekar. Namun Anusapati menyerahkan persoalannya kepada Mahisa Agni, karena ia percaya, bahwa pertimbangan pamannya didasari oleh pengalaman dan pengetahuannya yang luas.

Namun mendung yang semula membayang di atas istana Singasari itu kini bagaikan mekar meliputi seluruh kota dan bahkan menjalar keseluruh negeri. Terasa bahwa ada sesuatu yang kurang pada tempatnya telah terjadi di dalam lingkungan keluarga Sri Rajasa. Jika semula persoalan itu hampir tidak mendapat perhatian karena yang berkepentingan masih mampu membatasi diri masing-masing, maka semakin lama persoalannya menjadi semakin jelas dapat dilihat oleh para pemimpin Singasari.

Dalam keadaan yang demikian itulah, Singasari mulai menyebut-nyebut nama Witantra.

Namun sebenarnyalah bahwa nama Witantra itu telah mengganggu hati Sri Rajasa pula. Ia tidak mengerti dengan pasti apakah sebenarnya yang dikehendakinya. Sehingga karena itulah maka dengan diam-diam Sri Rajasa pun berusaha untuk mencari hubungan dengan Witantra, meskipun ia berpesan dengan sungguh-sungguh, agar Witantra tidak mengetahuinya, bahwa Sri Rajasa yang memberikan perintah itu kepada beberapa orang petugas sandi yang dipercayainya.

Ternyata sangat sulitlah untuk mencari hubungan dengan Witantra itu, karena Witantra tidak pernah lagi kelihatan di kota Singasari. Hanya namanya dan beberapa ceritera sajalah yang dapat ditangkap oleh para petugas sandi itu.

“Ya, ia datang kepadaku,” berkata seorang perwira yang menghubungi orang-orang yang diduga dapat bertemu langsung dengan Witantra.

“Apa saja yang dilakukannya?”

“Tidak apa-apa. Ia hanya bertanya tentang keselamatanku sekeluarga, dan sedikit tentang padepokannya di puncak gunung.”

“Gunung yang mana?” bertanya petugas sandi itu.

“Witantra tidak mau menyebutkannya.”

“Apakah ia sering datang kemari?”

“Hanya satu kali. Hanya satu kali. Tetapi ia berkata kepadaku, bahwa pada suatu saat ia akan datang kembali mengunjungi sahabat-sahabat lamanya.”

“Apakah benar ia tidak mempersoalkan apapun juga yang dapat menjadi petunjuk arah perhatiannya selama ini?”

“Tidak. Ia tidak mengatakan apapun juga. Tetapi ia menyatakan kegembiraannya melihat perkembangan Singasari sekarang ini. Singasari yang jauh lebih besar dari Tumapel di jaman Akuwu Tunggui Ametung.”

Petugas sandi itu hanya dapat mengangguk-anggukkan kepalanya. Bahan yang didapatkannya untuk mengetahui keadaan Witantra ternyata terlampau sedikit. Para petugas itu sama sekali tidak dapat menyimpulkan, apakah sebenarnya maksud Witantra datang ke Singasari. Bahkan setelah mereka menghubungi beberapa orang yang pernah dikunjungi oleh Witantra itu.

“Baiklah,” berkata seorang petugas sandi kepada seorang perwira yang pernah mendapat kunjungan Witantra, “jika ia datang sekali lagi, tolong, beritahukan aku.”

Perwira itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Perwira itu pun mengetahui bahwa orang yang datang itu adalah seorang prajurit sandi. Dan perwira itu pun tahu pasti, kepada siapa ia harus melaporkan jika Witantra datang sekali lagi.

“Ternyata pihak istana menaruh perhatian besar sekali,” berkata perwira itu.

Namun begitu, mereka pun menjadi gelisah karena jika timbul sesuatu karena perbuatan Witantra, maka mereka yang diketahui telah mendapat kunjungan Witantra itu pasti akan menjadi sumber keterangan.....

Bersambung....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...