*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 24-01*
Karya. : SH Mintardja
“Tiidak apa-apa Ki Sanak. Namun aku masih tetap menganggap kalian sebuah teka-teki, justru karena salah seorang dari kalian menamakan diri Mahisa Bungalan.”
Linggadadi mengerutkan keningnya. Tetapi Linggapati yang menjawab lebih dahulu, “Sekali lagi kami mohon maaf. Sebenarnya itu adalah sekedar terdorong dari kebencian kami kepada orang-orang berilmu hitam, sehingga kami diluar sadar, telah meminjam nama-nama orang yang paling ditakuti pula oleh orang-orang berilmu hitam.”
Lembu Ampal tersenyum. Katanya, ”Tetapi aku tidak akan bertanya, siapakah kalian ini sebenarnya, karena agaknya kalian memang tidak ingin kami kenal. Baiklah, silahkanlah berjalan terus. Tetapi aku minta kalian agak berhati-hati menghadapi orang-orang berilmu hitam.”
“Terima kasih Ki Sanak. Tetapi siapakah sebenarnya kedua anak muda yang berkuda bersama Ki Sanak di hutan perbuan itu?”
Lembu Ampal termangu-mangu sejenak. Ia sebenarnya agak ragu-ragu menyebut nama keduanya. Namun kemudian ia berkata, “Aku tidak akan menyembunyikan nama mereka, karena terlalu banyak orang yang sudah mengenalnya.”
Linggapati, Linggadadi dan pengiringnya termangu-mangu. Namun serasa ada ketegangan di dalam dadanya.
“Ki Sanak.“ berkata Lembu Ampal, “Keduanya adalah tuanku Ranggawuni dan tuanku Mahisa Canipaka, Maharaja dan Ratu Angabhaya dari kerajaan Singasari.”
“O.“ Suatu hentakkan telah menggelepar di dada ketiga orang itu. Ternyata yang dihadapi adalah kedua orang anak muda yang sering disebut sepasang Ular Naga dalam Satu Sarang. Kedua anak muda yang memegang tampuk pimpinan tertinggi di Singasari.
“Sekali lagi aku mohon beribu ampun.“ berkata Linggapati, “Hanya karena kemurahannya saja aku tidak dihukumi mati.”
Lembu Ampal tersenyum melihat sikap Linggapati. Namun keningnya berkerut ketika ia memandang wajah Linggadadi yang buram. Agaknya Linggadadi yang menyebut dirinya bernama Mahisa Bungalan itu mempunyai sikap yang lain dari kakaknya.
Sebenarnyalah bahwa Linggadadi mempunyai sikap yang berbeda. Tetapi ia masih sekali tidak dapat menyatakannya. Karena itulah maka yang nampak di wajahnya hanyalah kemuraman yang gelap.
“Ki Sanak.“ berkata Lembu Ampal kemudian, “Tentu tidak begitu mudah untuk menjatuhkan hukuman mati. Juga atas Ki Sanak bertiga, sehingga bukannya karena kemurahanya semata-mata. Tetapi memang tidak sepantasnya kalian bertiga harus dihukum mati hanya karena salah paham semata-mata.”
“Tentu karena kemurahannya saja.“ sahut Linggapati, “Katakanlah bahwa kita masing-masing tidak mempunyai wewenang apapun untuk menjatuhkan hukuman kepada sesama. Tetapi tanpa kemurahannya, maka dalam perkelahian itu, kami bertiga memang sudah terbunuh. Dengan jujur kami mengakui, bahwa kami bertiga tidak mampu mempertahankan diri dari ilmu yang jauh diluar jangkauan kami itu.”
Lambu Ampal tersenyum. Tetapi ketika ia memandang wajah Linggadadi, maka Lembu Ampal pun menarik nafas dalam-dalam.
“Sudahlah Ki Sanak.“ berkata Lembu Ampal: kemudian, “Kita akan berpisah. Kali ini aku tidak bertanya siapakah kalian karena suasananya agaknya masih kurang tepat.”
“Ki Sanak menganggap bahwa kami masih akan bersembunyi dibalik nama yang asal saja kami sebut?”
Lembu Ampal tersenyum. Jawabnya, “Sebenarnyalah bahwa kita masing-masing masih saling mencurigai. Itulah sebabnya, maka aku tidak bertanya, siapakah kalian sebenarnya, karena kalian tentu akan menyebut nama yang salah. Dan kami tidak akan mendapatkan bukti apapun juga untuk menyatakan kesalahan itu. Bahkan seandainya nama-nama itu adalah nama-nama kalian yang sebenarnya.”
Linggapati mengangguk-angguk. Jawabnya, “Ki Sanak memang bijaksana. Baiklah. Tetapi berterima kasihlah kami bahwa kami diperkenankan mengetahui keadaan Ki Sanak yang sebenarnya, dan terlebih-lebih kedudukan kedua tuanku yang memimpin Singasari ini.”
Lembu Ampal masih tersenyum. Lalu, “Baiklah kita berpisah. Aku akan mengambil harimau yang masih hidup, yang berhasil ditangkap oleh tuanku Ranggawuni dengan tangannya tanpa luka segorespun pada kulit harimau itu.”
“Ha.“ Linggapati mengerutkan keningnya.
“Ya, demikianlah. Tuanku Ranggawuni menangkap harimau itu tanpa mempergunakan senjata apapun juga selain tangannya sendiri.”
Tetapi Lembu Ampal melihat sekilas senyum yang asam di bibir Linggadadi. Namun demikian, Lembu Ampal sama sekali tidak menghiraukannya, meskipun sebagai seorang yang memiliki ketajaman indera dapat menangkap bahwa sebenarnya persoalannya bukanlah persoalan yang dapat selesai tanpa menimbulkan akibat apapun juga. Namun demikian Lembu Ampal masih berharap bahwa orang yang agaknya mempunyai pengaruh yang lebih besar itu dapat mengendalikan orang yang menyebut dirinya bernama Mahisa Bungalan.
Demikianlah, maka Lembu Ampal pun kemudian melanjutkan perjalanannya diikuti oleh para prajurit yang terheran-heran, karena mereka tidak mengetahui apakah yang sebenarnya dibicarakan oleh Lembu Ampal dengan ketiga orang itu. Hanya kemudian, di perjalanan selanjutnya, Lembu Ampal sempat menceriterakan apakah yang sudah terjadi dengan Ranggawuni dan Mahisa Cempaka.
Perwira muda ilu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Memang tuanku Ranggawuni dan tuanku Mahisa Cempaka ternyata terlampau baik hati. Aku masih tetap curiga terhadap orang yang kedua itu. Tatapan matanya sama sekali tidak meyakinkan, bahwa ia dapat mengerti terhadap persoalan yang sebenarnya dihadapinya.”
“Ya.” jawab Lembu Ampal, “Tetapi agaknya yang lain akan dapat meyakinkannya kemudian.”
“Atau sebaliknya.”
Lembu Ampal tertawa. Tetapi ia tidak memberikan tanggapan apapun juga.
Dalam pada ilu, Linggapati, Linggadadi dan seorang pengiringnya masih termangu-mangu. Mereka memandang iring-iringan yang maju dengan lambatnya karena harus mengikuti pedati yang ditarik oleh sepasang lembu.
Dalam pada itu, Linggadadi yang menahan hati tidak dapat membiarkan dadanya retak. Karena itu, dengan suara yang berat ia berkata, “Kakang terlampau merendahkan diri. Apakah sudah selayaknya kita menganggap bahwa atas kemurahan anak-anak itu kita terlepas dari kematian?”
Linggapati tertawa. Jawabnya, “Marilah kita mencoba jujur terhadap diri sendiri. Aku kira, kita memang tidak akan dapat memenangkan perkelahian itu. Tetapi sudah tentu bahwa kita tidak seharusnya menimbulkan kesan, bahwa sebenarnya kita tidak ikhlas mengalami kekalahan itu.”
“Maksudmu?“
“Biarlah mereka mendapat kesan, bahwa tidak akan ada perlawanan apapun juga yang akan pecah di Singasari. Seolah-olah setiap orang sudah mengakui kebenaran dan kekuasaan kedua anak-anak itu. Juga orang-orang berilmu hitam itu tidak boleh menimbulkan kesan, bahwa Singasari pada suatu saat akan digoncang oleh gempa yang paling dahsyat.”
Linggadadi termenung sejenak. Namun kemudian kepalanya terangguk-angguk kecil.
Sementara itu kakaknya masih juga tertawa. Katanya kemudian, “Linggadadi, Kita ternyata harus lebih berhati-hati lagi setelah kita mengenal kedua anak muda itu, bahkan dengan langsung. Kita tidak usah malu mengakui bahwa kita memang tidak mempunyai ilmu yang timbang dengan kemampuan mereka. Pengakuan itu penting sekali bagi kita. Dengan demikian kita akan berusaha untuk meningkatkan ilmu kita. Jika kita sudah merasa memiliki kemampuan yang cukup, maka untuk seterusnya kita akan tetap seperti sekarang. Dan ternyata ilmu kita sekarang tidak banyak berarti bagi kedua anak-anak muda itu. Apalagi dengan dukungan kekuatan Mahisa Agni, Witantra Mahendra dan anak-anak muda yang tentu memiliki kemampuan seperti Mahisa Bungalan.”
Linggadadi mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Kakang benar. Tetapi dengan demikian bukan berarti bahwa kita harus berkecil hati. Kita masih memiliki beberapa orang tua yang dapat kita anggap tanpa tanding. Jika ternyata bahwa kita terbentur kepada kemampuan ilmu yang tidak terjangkau, maka kita tidak akan kehilangan kesempatan, sebab orang-orang tua yang selama ini berada di antara kita tentu tidak akan tinggal diam.”
“Kau tidak boleh berpikir begitu.“ jawab Linggapati “Kau selalu ingin menyelesaikan persoalan dengan mudah dan cepat. Landasan pikiran kita sekarang, adalah meningkatkan ilmu sehingga kemampuan kita akan dapat memadai untuk melawan kedua anak-anak muda yang kebetulan saja lahir dalam garis keturunan raja-raja di Singasari.”
Linggadadi mengerutkan keningnya Tetapi ia tidak menjawab lagi.
“Baiklah.” berkata Linggapati kemudian, “Marilah kita meneruskan perjalanan kita. Kita akan singgah sebentar di Kota Raja.”
“Bagaimana jika kita bertemu dengan kedua anak muda itu?” bertanya Linggadadi.
“Kemungkinan itu akan kecil sekali terjadi. Di Kota Raja kedua anak-anak muda itu tidak akan dapat leluasa bergerak, justru karena keduanya adalah Maharaja dan Ratu Angabhaya. Apalagi mereka baru saja kembali dari sebuah perburuan yang lain dari kebiasaan para bangsawan.” Linggapati berhenti sejenak, lalu, “Tetapi justru itulah kelebihan kedua anak-anak muda itu. Mereka tidak berburu di atas tandu, diiringi oleh prajurit segelar sepapan yang akan menggiring binatang buruan agar lewat di muka tandunya. Perburuan yang demikian adalah perburuan yang tidak berarti.”
“Dan ternyata kedua anak muda itu tidak puas dengan cara yang demikian.” sahut Linggadadi, ”Bahkan menurut perwira yang mengawalnya. Ranggawuni telah menangkap hidup-hidup harimau itu dengan tangannya. Apakah kau percaya?”
Linggapati berpikir sejenak. Namun kemudian ia menganggukkan kepalanya sambil berkata, “Aku percaya. Tentu tuanku Ranggawuni dapat melakukannya. Aku juga melihat beberapa goresan pada tubuhnya. Tentu luka-luka yang dideritanya saat ia berkelahi dengan harimau itu.”
“Goresan-goresan kecil. Apakah kuku macan itu tidak dapat menyobek perutnya.”
“Apakah tuanku Ranggawuni terlelang diam tanpa mengadakan perlawan.“
“Maksudku, karena ia tidak bersenjata apapun juga. Jika ia mempergunakan sebuah pisau belati seperti yang dipergunakannya melawan kita, aku masih dapat mengerti.”
Linggapati menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Itupula kelebihannya.”
Linggadadi tidak menjawab lagi. la sudah meneruskan perjalanan mereka melalui Kota Raja, meskipun ia agak cemas pula Karena mungkin sikap Ranggawuni dan Mahisa Cempaka berbeda dengan sikap Lembu Ampal.
Tetapi Linggapati sama sekali tidak mencemaskannya. Bahkan seandainya di Kota Raja ia berjumpa dengan kedua anak muda yang sedang memerintah itu, karena keduanya tentu lidak akan berbeda sikap dengan Lembu Ampal.
Dalam pada itu, ketika Linggapati, adiknya dan pengiringnya melanjutkan perjalanannya ke Kota Raja, maka Lembu Ampal pun menjadi semakin dekat dengan hutan perburuan yang lebat itu. Namun perjalanan mereka benar-benar merupakan perjalanan yang lambat dan menjemukan. Bahkan prajurit-prajurit muda yg berkuda di belakang pedati itupun mulai mengeluh.
“Kudaku menjadi lelah sekali dengan perjalanan yang demikian.” desis seorang prajurit yang bertubuh tinggi.
Kawannya menarik nafas dalam. Jawabnya, “Nafasku menjadi sesak. Hampir-hampir tidak tertahan lagi.”
Seorang prajurit yang lebih tua di sebelahnya memandang keduanya berganti-ganti. Lalu, “Kalian telah melalui pendadaran. Agaknya kalian tidak menempuh pendadaran kesabaran seperti yang pernah aku alami.”
“Aku mengalami pendadaran yang keras di arena.” desis prajurit yang bertubuh tinggi itu.
“Nah itulah sebabnya. Aku saat itu mengalami dua macam pendadaran. Pendadaran jasmaniah dan pendadaran rohaniah.”
“Aku juga.” desis prajurit muda itu.
“Tetapi tentu berbeda dengan pengalaman yang pernah aku alami semasa aku memasuki masa pendadaran setelah untuk tiga bulan aku mengalami tempaan sebagai calon prajurit.”
“Tentu aku juga.” desis prajurit muda itu.
“Tetapi kalian sama sekali tidak memiliki kesabaran itu.“
“Ceriterakan, apakah yang pernah kau alami dalam pendadaran kesabaran itu.”
Prajurit yang lebih tua itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia pun berceritera. “Menarik sekali. Saat aku selesai pendadaran jasmaniah, maka aku bersama sekelompok calon prajurit yang dinyatakan berhasil dalam pendadaran jasmaniah, ditempatkan di sebuah tempat yang terpisah. Berhari-hari kami menunggu. Ketika kami sudah mulai menjadi jemu, maka perwira yang mengawasi kami itupun bertanya kepada kami, apakah kami masih bersedia untuk menunggu pendadaran yang terakhir. Ketika kami bertanya, kapan maka perwira itu tidak dapat mengatakan. Tergantung kedatangan perwira yang berwenang dari Pajang. Ketika kejemuan sudah memuncak, maka perwira itu berkata, “Kami minta maaf, bahwa perwira yg bertugas untuk menyelesaikan pendadaran itu masih belum datang. Kami tidak dapat mengatakan, kapan pendadaran itu akan diselenggarakan. Karena itu, daripada kalian kehilangan banyak waktu untuk menunggu dalam kejemuan, maka barang siapa yang tidak telaten lagi menunggu dipersilahkan meninggalkan tempat ini.”
“O, menarik sekali.” sahut prajurit-prajurit muda itu.
“Dan ternyata sebagian dari kami memang sudah tidak tahan lagi dalam kejemuan. Mereka pun kemudian meninggalkan tempat terpencil itu Karena menurut mereka, pendadaran itu tidak akan berlangsung untuk waktu yang lama.”
“Jadi, kapan pendadaran itu diselenggarakan.”
“Tidak ada seorang perwira yang datang.”
“Jadi. tidak ada pedadaran lagi?”
“Tidak.”
“ Bagaimana akhir dari pengasingan itu.”
“Itu sajalah Tanpa ada pendadaran yang lain, kami pun dinyatakan diterima menjadi seorang prajurit. Karena pendadaran yang sebenarnya adalah ketahanan menunggu tanpa berbuat apa-apa itu.“
Prajurit-prajurit muda itu tersenyum sambil mengangguk-angguk Mereka pun mengalami pendadaran kesabaran sesuai dengan keadaan sesaat, dan dengan cara yang berbeda-beda.
Demikianlah iring-iringan itu maju terus dengan lambannya. Para prajurit itu mengisi waktunya dengan bercakap-cakap dan berceritera tentang berbagai macam hal yang mereka anggap menarik. Prajurit-prajurit muda di bagaian belakang kadang-kadang terdengar tertawa meskipun mereka mencoba menahan sekuat-kuatnya.
Lembu Ampal dan perwira muda di sampingnya pun ternyata telah tenggelam dalam pembicaraan yang asyik pula, sehingga mereka hampir tidak menghiraukan lagi prajurit-prajurit yang bercakap-cakap pula di antara mereka. Bahkan prajurit-prajurit muda yang di paling belakang sempat pula bergurau untuk mengisi kejemuan mereka mengikuti pedati yang merayap seperti siput yang paling malas.
Ketika mereka melintasi sebuah padukuhan kecil, dan melintasi sebuah bulak yang panjang, maka Lembu Ampal pun berkata kepada perwira muda itu, “Bulak ini adalah bulak yang terakhir. Kita akan segera sampai pada sebuah padang ilalang dan hutan perdu sebelum kita memasuki hutan yang sudah nampak di hadapan kita itu.”
Perwira muda ilu mengangguk-angguk. Ia sadar, bahwa prajurit-prajuritnya sudah mulai menjadi jemu. Namun mereka tidak dapat berbuat lebih daripada melupakan kejemuan itu dengan bercakap-cakap dan bergurau.
Prajurit-prajurit yang ada di dalam iring-iringan itu baru memperhatikan hutan di hadapan mereka, setelah mereka melintasi bulak panjang itu. Meskipun jalan agak sulit dilalui oleh sebuah pedati, namun mereka pun kemudian memasuki hutan yang lebat itu. Tetapi terayata bahwa pada suatu saat, pedati itu tidak dapat maju lagi, sehingga Lembu Ampal harus mengambil kebijaksanaan lain.
“Kita tinggalkan pedati itu di sini, ditunggui oleh beberapa prajurit.” berkata Lembu Ampal.
“Apakah ada orang yang akan mencuri pedati ini.” bertanya seorang prajurit.
“Bukan orang yang akan mencurinya, tetapi mungkin seekor harimau yang garang, yang mencium bau lembu penarik pedati itu. akan datang dan menerkamnya.”
Prajurit itu mengangguk-angguk. Bahkan seorang prajurit muda berkata, “Jika diperintahkan, aku akan menunggui pedati itu. Jika ternyata ada seekor harimau yang datang, aku akan membunuhnya dan mengambil kulitnya.”
“Baiklah.” berkata perwira muda yg memimpin sekelompok prajurit itu, “Tetapi kau tidak boleh meninggalkan pedati ini sama sekali.”
Demikianlah maka empat orang prajurit telah mendapat perintah untuk menunggui pedati itu. Sedang yang lain akan berkuda memasuki hutan itu sampai ke sebuah lapangan kecil di dalam hutan itu.
“Mereka yang menunggui harimau itu tentu sudah menjadi jemu. Lebih jemu daripada kita yang berjalan mengikuti pedati yang merayap ini.” berkata Lembu Ampal kemudian.
Dalam pada itu, Empu Senggadaru memang sudah mulai gelisah menunggu. Tetapi ia masih menyabarkan dirinya. Sekali-sekali ia mendengar harimau yang terikat itu mengaum sambil meronta. Namun harimau itu seolah-olah menjadi putus asa, dan berdiam diri meskipun masih terdengar geramnya yang penuh kemarahan.
Dalam kesempatan itu, setiap kali Empu Baladatu mencoba menjajagi perasaan kakaknya, bagaimanakah sikapnya terhadap kedua anak muda yang sedang memegang pemerintah itu.
Tetapi setiap kali ia menjadi kecewa, karena menilik pengamatannya, Empu Sanggadaru terlalu mengagumi kedua anak-anak muda itu. Bukan saja kemampuan dan ilmunya, tetapi juga sikap dan wataknya.
Sambil merenungi harimau loreng yang masih hidup dan terikat keempat kakinya erat-erat dengan janget itu, Empu Sanggadaru berkata, “Jarang sekali, bahkan mungkin tidak ada seorang anak muda yang sebaya dengan Tuanku Ranggawuni, yang mampu melakukannya.”
Empu Baladatu mengangguk-angguk. Namun hampir di luar sadarnya ia bertanya, “Bagaimana dengan anak muda yang bernama Mahisa Bungalan?”
“Mahisa Bungalan pembunuh orang-orang berilmu hitam?” bertanya Empu Sanggadaru.
Empu Baladatu mengangguk, meskipun terasa getar yang keras mengguncang dadanya.
“Aku tidak tahu pasti tentang anak muda yang bernama Mahisa Bungalan itu. Tetapi menurut pendengaranku, ia adalah anak muda yang luar biasa pula. Menilik bahwa ia adalah anak Mahendra, maka aku kira ia memang mempunyai kelebihan.”
Empu Baladatu mengangguk-angguk. Lalu ia pun kemudian bertanya dengan ragu-ragu pula, “Kakang apakah kesetiaan rakyat Singasari terhadap kedua anak-anak muda itu cukup mantap?”
“Ya. Aku kira cukup mantap. Tidak ada alasan untuk menolak keduanya. Mereka adalah keturunan Ken Dedes, meskipun dari jalur suami yang berbeda.”
“Apakah pedengaran kakang benar, bahwa Ranggawuni adalah keturunan Tunggul Ametung. sedang Mahisa Cempaka adalah keturunan Ken Arok.”
“Tentu tidak ada orang yang tahu, apakah memang demikian?. Tidak seorangpun yang dapat membantah atau membenarkan, bahwa semasa Ken Dedes masih menjadi isteri Akuwu Tunggul Ametung ia memang sudah berhubungan dengan Ken Arok yang waktu itu merupakan salah seorang hamba istana yang paling dekat dengan Akuwu dan Permaisurinya itu. Tetapi keadaan lahiriahnya menunjukkan bahwa saat Ken Dedes kawin dengan Ken Arok yang telah menguasai keadaan itu sedang mengandung. Ketika bayi itu lahir, maka setiap orang menganggapnya bahwa bayi itu adalah putera Akuwu Tunggul Ametung.”
Empu Baladatu mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Bagaimanakah tanggapan kakang terhadap beberapa pendapat, bahwa kedua anak muda itu masih terlampau dungu untuk memegang tampuk pemerintahan, sehingga sebenarnya yang memerintah sekarang adalah orang lain sama sekali Ia adalah Mahisa Agni, saudara angkat Ken Dedes itu.”
Empu Sanggadaru tersenyum. Katanya, ”Itu adalah wajar sekali. Anak-anak muda itu memerlukan seorang yang mempunyai pengalaman dan pengetahuan cukup. Mahisa Agni adalah seorang tua yang memenuhi syarat itu.”
“Tetapi kakang, bukanlah dengan demikian Mahisa Agni akan dapat berbuat sesuatu yang menguntungkan dirinya sendiri saja.”
Empu Sanggadaru tersenyum pula. Katanya, “Seandainya demikian, itupun wajar. Tetapi berapa besar perbandingan yang dapat kita lihat. Usaha yang nampak pada Mahisa Agni sampai sekarang adalah usaha yang sama sekali tidak menyinggung rasa keadilan bagi rakyat Singasari. Meskipun nampak jelas pengaruhnya pada kedua anak-anak muda itu, namun yang dilakukan adalah suatu usaha yang justru membuat Singasari bertambah besar.”
“Apakah itu bukan berarti menarik segala perhatian rakyat ke arahnya, bukan ke arah kedua anak-anak muda yang seharusnya memegang pemerintahan itu?“
Empu Sanggadaru mengerutkan keningnya. Bahkan iapun kemudian bertanya, “Kenapa kau bertanya demikian Baladatu? Apakah kau merasa, atau mendengar atau melihat sikap seperti itu? Menurut pendapatku, sama sekali tidak ada tanda-tanda yang demikian. Bahkan orang tua yang bernama Mahisa Agni itu jarang sekali menampakkan dirinya di hadapan rakyat Singasari dengan menengadahkan dadanya, la tetap seorang yang rendah hati dan selalu mengingat akan asalnya. Ia selalu merasa bahwa sebenarnya ia adalah seorang anak padepokan terpencil. Padepokan kecil, sehingga ia tidak terpisah dari lapisan yang telah melahirkannya.”
Empu Baladatu mengangguk-angguk. Ia agaknya tidak mempunyai kesempatan untuk melihat kekurangan pada keluarga Ranggawuni, Mahisa Cempaka dan orang-orang di sekitarnya. Namun demikian ia masih belum berputus asa. la masih akan tetap mencari kelemahan pada Ranggawuni dan Mahisa Cempaka dari segala segi.
Tetapi dalam pada itu. Empu Sanggadaru berkata, “Baladatu. Akupun sudah termasuk orang tua. Aku mengenal beberapa orang yang memerintah di Singasari, bahkan sejak jaman Tumapel. Tidak ada seorang pun yang berhasil memerintah dengan lunak tetapi mantap seperti kedua anak-anak muda ini. Tunggul Ametung adalah seorang Akuwu yang besar, tetapi ia lebih senang mementingkan kesenangan pribadi. Ken Arok adalah seorang yang berusaha untuk mempersatukan daerah yang luas sehingga Singasari menjadi kuat. Tetapi ia telah mengorbankan beberapa ribu jiwa untuk mencapai maksudnya itu. Ia menyiram tanamannya dengan darah meskipun tanamannya menjadi subur. Setelah itu, maka bertahtalah seorang Maharaja yang terlalu baik hati. Kelemahan Anusapati terletak pada kelemahan hatinya itu. Meskipun ia tahu bahwa adiknya, Tohjaya siap membalas dendam, namun ia sendirilah yang justru memberikan kesempatan untuk melakukannya. Perasaan bersalah dan rendah diri selalu mencengkamnya, sehingga ia tidak mampu menjadi besar. Yang terakhir sebelum kedua anak-anak muda ini adalah tuanku Tohjaya. Seorang anak muda yang keras hati, garang dan terlampau dikuasai oleh nafsunya. Ibundanyalah sumber dari kehancurannya itu.”
Empu Baladatu menarik nafas dalam-dalam. Rasa-rasanya ia tidak mempunyai harapan lagi untuk memancing kakaknya, agar ia bersedia berdiri di pihaknya, atau setidak-tidaknya membantunya.
Bahkan Empu Baladatu menjadi semakin berdebar-debar ketika kakaknya berkata, “Baladatu. Aku kira pemerintahan kedua anak muda sekarang ini adalah pemerintahan yang paling mantap. Tidak ada alasan dari seorang pun di antara rakyat Singasari untuk tidak merasa puas atas pemerintahan yang dipimpinnya.”
Empu Baladatu mengangguk-angguk. Betapun perasaan kecewa menggelepar di dalam dadanya.
Namun demikian, Empu Baladatu tidak dapat melupakan kinginannya untuk mencapai sesuatu. Ketika ia sempat melihat ke dalam hatinya, sebenarnyalah bahwa yang mendorongnya untuk melawan pimpinan tertinggi di Singasari bukanlah karena perasaan kecewa atas pemerintahan itu sendiri. Tetapi semata-mata didorong oleh nafsunya untuk mendapatkan sesuatu yang dianggapnya paling berharga di muka bumi.
“Maharaja adalah jabatan yang paling utama Kebahagiaan tertinggi bagi seseorang adalah apabila ia dapat menjadi seorang raja yang besar dan memerintah daerah yang luas.“ berkata Empu Baladatu di dalam hatinya.
Dan ternyata bahwa Empu Baladalu tidak berpikir terlalu sederhana. lapun mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan yang dapat dihadapinya dalam ushanya memenuhi nafsu yang bergejolak di dalam hatinya. Ia juga mempertimbangkan hati rakyat Singasari dan memperhitungkan kekuatan yang dapat dihimpunnya.
Karena itulah, maka ia mulai dengan membangun kekuatan yang dianggapnya akan dapat menjadi kekuatan yang tidak terlawan.
Tetapi sebelum ia berhasil, maka rasa-rasanya, awan yang gelap telah mengalir di atas perguruannya. Hadirnya nama-nama Mahasa Bungalan dan Linggadadi membuatnya menjadi suram.
“Aku harus mencari cara lain.” berkata Empu Baladatu. Dan iapun telah memikirkannya.
“Yang mula-mula harus aku lakukan adalah membinasakan keduanya. Jika aku dapat membujuk kakang Empu Sanggadaru untuk memusuhi keduanya, maka aku akan dapat meneruskan usahaku, merintis jalan ke Singgasana. Meskipun mungkin masih memerlukan waktu yang lama.”
Dalam pada itu, kejemuan benar-benar sudah hampir tidak teratasi lagi oleh Empu Sanggadaru. Rasanya tangannya sudah, menjadi gatal, ia tidak biasa duduk termenung, apalagi dalam pakaian seorang pemburu. Meskipun ia dapat bersabar menunggu buruannya di dekat mata air, tetapi ia seolah-olah.telah kehilangan kesabarannya itu, untuk menunggui seekor harimau yang masih hidup tetapi terikat keempat kakinya erat-erat.
Setiap kali ia memandangi adiknya, dilihatnya adiknya sedang termenung, memandang gerak dedaunan yang gelisah disentuh angin yang lembut.
Namun dalam pada itu, selagi mereka merenungi kejemuan mereka, tetapi karena mereka sedang menjalani tugas yang dibebankan oleh kedua pemimpin tertinggi di Singasari meskipun tidak dalam kedudukannya, sehingga mereka tidak berani meninggalkannya, terasa sesuatu yang agak lain telah menyentuh firasat. Terutama Empu Sanggadaru.
Karena itulah maka rasa-rasanya ia menjadi semakin gelisah. Diluar sadarnya ia bangkit dan berjalan hilir mudik di antara kedua ekor harimau yang mereka dapatkan dalam perburuan itu. Yang seekor telah mati, sedang yang lain masih hidup meskipun terikat erat-erat.
“Kakang nampaknya gelisah sekali.” tiba-tiba Empu Baladatu bergumam.
“Aku menjadi jemu. Tetapi lebih dari itu, terasa ada sesuatu yang lain. Rasa-rasanya angin bertiup semakin gatal di kulit.”
“Apakah pakaian macanmu itulah yang gatal kakang?”
Empu Sanggadaru masih mengerutkan keningnya, ia masih sempat tersenyum sambil menjawab, “Tentu bukan. Tetapi mungkin pula karena sudah terlalu lama tidak aku pergunakan. Tetapi lebih dari itu, aku menjadi gelisah bukan saja karena kejemuan ini.”
“Apakah kira-kira ada sesuatu yang menyebabkan kakang gelisah? Mungkin kakang masih meninggalkan kuwajiban yang harus kakang lakukan? Atau barangkali karena kakang merasa bahwa sudah waktunya memasuki hutan yang lebat ini lebih dalam lagi “
“Tidak. Bukan itu. Tetapi memang ada persoalan yang belum selesai.”
Empu Baladatu mengerutkan keningnya. Lalu, “Maksudmu?”
Empu Sanggadaru memandang adiknya sejenak. Namun kemudian iapun menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Aku minta maaf kepadamu Baladatu. Justru pada saat kau berada di tempat ini. Kegelisahan ini mungkin hanyalah sekedar karena hatiku yang kecut.”
“Apakah sehenarnya yang telah terjadi?”
“Mudah-mudahan tidak ada sesuatu yang akan terjadi Dan untung pulalah bahwa kedua anak-anak muda, pemimpin tertinggi dari pemerintahan di Singasari itu sudah kembali.”
“Aku tidak mengerti.”
Sekali lagi Empu Sanggadaru menarik nafas dalam sekali. Lalu, “Setiap orang dapat saja tergelincir dalam sikap dan perbuatan yang tidak dikehendakinya sendiri. Dan aku sudah melakukannya.”
”Apa yang sudah kau lakukan?” bertanya adiknya.
”Sikap permusuhan. Benar-benar tidak aku kehendaki. Tetapi itu sudah terjadi.”
Empu Baladatu telah menjadi gelisah pula. Meskipun ia tidak mengetahui dengan pasti, apa yang telah terjadi dengan kakaknya, namun iapun dapat menduga, bahwa agaknya sesuatu yang tidak menyenangkan akan terjadi.
“Baladatu.” berkata Empu Sanggadaru kemudian, “Tanganku telah terlanjur melakukan tindak kekerasan ketika sekelompok orang-orang yang tidak aku kenal lewat di sebelah padepokan.”
”Apa yang telah terjadi?”
“Empat orang singgah di padepokan. Aku mengira bahwa mereka adalah orang-orang yang memerlukan persinggahan. Dan aku telah memberikannya. Tetapi ternyata mereka bukannya orang yang berhati bersih.”
“Apakah mereka telah mencuri?”
“Tidak.” Empu Sanggadaru mengeleng, “Aku kira mereka tidak menyadari bahwa mereka berada di dalam sebuah perguruan. Yang nampak pada mereka adalah sebuah padepokan dan hasil buruan itu. Itulah sebabnya, sejak mereka memasuki padepokanku sikapnya benar-benar memuakkan. Meskipun demikian kepada mereka kami berikan tempat untuk bermalam.“ Empu Sanggadaru berhenti sejenak, lalu, “Tetapi sayang, bahwa salah seorang dari mereka menjumpai seorang endang kecil dari padepokan sedang mengambil air di sumur. Ternyata bahwa gadis itu sangat menarik perhatiannya. Bahkan ternyata kemudian, ia tidak dapat menahan untuk menyapanya. Pembicaraan yang pendek dan keramah-tamahan gadis itu membuat laki-laki itu hilangan nalar, sehingga ia berusaha untuk berbuat sesuatu yang bertentangan dengan peradaban manusia.
Ketika gadis yang ramah itu menjerit, beberapa orang berlari-larian medatanginya. Dan yang terjadi kemudian, benar-benar tidak dapat dicegah lagi. Keempat orang itu menganggap para cantrik di padepokanku adalah tikus kecil yang hanya mengenal cangkul dan batang-batang jagung. Karena itulah, maka mereka sama sekali tidak minta maaf, bahkan menuntut agar gadis itu diserahkan kepada mereka. Itulah awal dari peristiwa yang sama sekali tidak aku kehendaki. Ketika aku datang ke tempat itu, karena aku berada di pategalan ketika seorang catrik berlari-lari mencariku, aku menjumpai dua sosok mayat dari keempat orang itu. Sedang yang dua lainnya berhasil melarikan diri.
Baru pada mayat itu aku dapat mengenal bahwa orang-orang itu adalah orang-orang yang memiliki ilmu yang bersumber .pada roh-roh jahat. Ilmu yang sering disebut ilmu hitam.”
Empu Baladatu terkejut mendengar keterangan itu. la sudah terlanjur menerima julukan dari orang-orang yang tidak senang kepadanya, bahwa ilmu yang disadapnya adalah ilmu hitam. Dan kini ada golongan lain yang juga menyedap ilmu yang disebut ilmu hitam itu.
Karena itulah maka dengan serta merta ia bertanya, “Kakang, apakah kakang mengenal ciri-ciri dari orang-orang yang kakang sebut berilmu hitam itu?”
“Aku pernah menjumpai sebelumnya Baladatu. Aku pernah melihat ciri seperti yang nampak pada kedua sosok mayal itu.”
“Apakah ciri itu kakang?”
“Aku melihat kepala serigala yang sedang menganga.”
Empu Baladatu menarik nafas dalam-dalam. Tentu yang dimaksud bukanlah satu atau dua orang anak muridnya, karena tidak seorang pun yang mengenakan ciri-ciri semacam itu. Jika ada orang yang mengenal ciri-cirinya tentu dilihat dari segi tata gerak dan sikapnya. Bukan pada lukisan apapun juga.
“Baladatu.” berkata, Empu Sanggadaru kemudian, “Dua kali aku telah berbenturan dengan mereka. Yang pertama di perjalanan. Dan yang kedua adalah di padepokanku. Aku menduga bahwa dua peristiwa itu sudah cukup alasan bagi mereka untuk melepaskan dendamnya kepadaku.”
“Apakah kira-kira mereka akan menyerang padepokanmu kakang? sehingga kau berniat untuk segera pulang?”
“Aku mendapat firasat buruk. Tetapi aku tidak tahu, apa yang akan terjadi?”
Keduanya pun .kemudian terdiam sejenak. Angan-angan masing-masing melambung ke dalam kegelisahan. Bahkan kemudian Empu Sanggadarupun berkata, “Baladatu, beritahulah kepada kedua pengawalmu, agar mereka berhati-hati. Akupun akan memperingatkan kedua cantrikku pula.”
Empu Baladatu mengangguk. Jawabnya, “Baik kakang. Tetapi apakah menurut kakang ada kemungkinan, mereka akan datang kemari?“
“Aku adalah seorang pemburu, Baladatu. Hidungku sudah terbiasa dapat membedakan bau angin yang bertiup. Dan aku mencium bau yang lain dari bau hutan ini.”
“Ah, tentu orang-orang Singasari yang datang untuk mengambil harimau itu.”
Empu Sanggadaru menggeleng. Katanya, “Bukan. Aku dapat membedakannya.”
“Baiklah.” Empu Baladatu mengangguk sambil berdiri. “Aku akan memanggil kedua peugawalku.”
“Dan kedua cantrik itu sekaligus.“
Empu Baladatu termangu-mangu. Lalu katanya, “Baiklah. Aku akan memanggilnya kemari. Kakang sajalah yang memberitahukan kepada mereka, apa yang akan terjadi.”
Empu Sanggadaru tidak menjawab. Dipandanginya saja adiknya yang melangkah mendekati pengawal-pengawalnya yang sedang beristirahat. Kemudian dua orang cantrik yang sedang berbaring beberapa langkah dari kedua pengawal itu.
Sejenak kemudian, maka mereka pun datang mendekat Empu Sanggadaru yang termangu-mangu.
Empu Baladatu pun kemudian duduk pula di sebelah kakaknya yang nampak gelisah. Tetapi ia tidak mengatakan sesuatu, karena ia menunggu penjelasan yang akan diberikan oleh kakaknya itu.
“Apakah kalian ingat peristiwa yang telah terjadi di padepokan kita menjelang kedatangan Empu Baladatu?” bertanya Empu Sanggadaru kepada kedua cantriknya.
Kedua cantrik itu mengangguk-angguk. Salah seorang dari mereka menjawab, “Ya, aku ingat Empu. Pembunuhan yang sama sekali terjadi tanpa kami sengaja. Peristiwa itu demikian cepat berlangsung, sehingga ketika kesadaran kami timbul sepenuhnya, kami sudah melihat mayat-mayat yang terkapar.”
“Aku tidak menyalahkan kalian.“ desis Empu Sanggadaru, “Tetapi yang perlu kau ketahui sekarang adalah akibat dari peristiwa itu.”
“Dendam.”
“Ya. Agaknya mereka akan datang untuk membalas dendam. Aku tidak tahu pasti, apakah mereka akan melakukannya di sini atau di padepokan.”
Kedua cantrik itu termangu-mangu.
“Baladatu.” berkata Empu Sanggadaru, “Peristiwa inilah yang membuat kita terlampau berhati-hati. Ketika kau datang, kau disambut dengan penuh kecurigaan.”
Empu Baladatu mengangguk-angguk. Memang kehadirannya di padepokan kakaknya terasa sekali, betapa padepokan itu diselubungi oleh suatu rahasia. Dan kini ia mengetahui, salah satu sebab kenapa seisi padepokan itu menjadi sangat berhati-hati.
“Empu.” berkata salah seorang cantriknya, “Jika demikian, apakah tidak sebaiknya kita segera kembali ke padepokan. Jika mereka menemukan padepokan itu kosong, maka mereka akan berbuat apa saja tanpa dapat dikendalikan.”
Empu Sanggadaru mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Kita tidak perlu kembali ke padepokan. He, Baladatu. apakah kau masih mengira bahwa yang datang itu orang-orang dari Singasari.”
Mata Empu Baladatu tiba-tiba saja terbelalak. Telinganya memang mendengar sesuatu, dan matanya melihat daun yang bergerak-gerak, tetapi tidak oleh angin.
“Kau benar kakang.” jawabnya.
Tetapi Empu Sanggadru masih duduk dengari tenangnya. Katanya, “Mereka tidak usah kita sambut di padepokan. Agaknya mereka memang tidak sabar menunggu kehadiran kita dari perburuan.”
“Maksud Empu.“ desis salah seorang cantriknya.
“Perhatikanlah keadaan di sekitarmu. Mungkin kau akan segera mengetahui.”
Cantrik itu termangu-mangu. Demikian juga kedua pengawal Empu Baladatu.
Namun mereka tidak perlu terlalu lama berteka-teki Sejenak kemudian seorang yang bertubuh tinggi berdada bidang meloncat dari dalam semak-semak.
Kedua cantrik dan kedua pengawal Empu Baladatu terkejut. Mereka bergeser setapak. Namun kemudian mereka pun berloncatan pula sambil meraba hulu senjata masing-masing.
Empu Baladatu dan Empu Sanggadaru masih tetap duduk di tempatnya. Mereka sama sekali tidak terkejut, karena mereka sudah mendengar dan melihat dedaunan yang bergerak. Namun demikian, dada mereka bergejolak ketika mereka melihat di sekitarnya beberapa orang yang berloncatan pula. Jumlahnya terlalu banyak dari dugaan mereka.
“Siapa di antara kalian yang bernama Sanggadaru.” geram orang bertubuh tinggi dan berdada bidang itu.
Empu Sanggadaru dan Empu Baladatu berdiri sambil memandang berkeliling.
“Limabelas orang. Aku hanya membawa lima belas orang Tetapi lima belas orang ini akan cukup membinasakan kalian semuanya, dan orang-orang di padepokanmu.”
Empu Sanggadaru maju selangkah. Jawabnya, “Akulah yang bernama Sanggadaru.”
“Aku sudah menyangka. Kau yang mengenakan pakaian aneh-aneh itulah yang bernama Sanggadaru, yang merasa dirinya jantan tanpa tanding.”
“Aku kurang mengerti. Tetapi menilik ciri gambar pada pergelangan tanganmu itu. aku sudah menduga, apakah yang telah mendorongmu mencari aku.”
“Kau benar-benar seorang yang jantan. Kau benar. Aku memang ingin menuntut balas. Kematian kedua muridku membuat perguruanku goncang.”
“Kau sudah dalang ke padepokanku?”
“Ya.”
“Kau sudah membakar padepokan itu dan membunuh semua isinya.”
“Belum. Aku mendengar dari cantrik-cantrikmu yang menggigil ketakutan, bahwa kau sedang pergi berburu. Aku bukan pengecut. Aku sengaja mencarimu. Jika aku sudah membunuhmu, maka padepokanmu akan aku kuasai dengan seluruh isinya. juga gadis yang menumbuhkan persoalan itu. Bahkan semua perempuan yang ada.”
Empu Sanggadaru menarik nafas dalam-dalam. Sekilas dipandanginya beberapa orang yang berdiri tegak di sebelah menyebelah orang yang bertubuh tinggi dan berdada bidang itu.....
Bersambung....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar