*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 16-02*
Karya. : SH Mintardja
Untuk beberapa hari kemudian ternyata bahwa Mahisa Bungalan masih saja di perjalanan petualangannya. Ia mengembara dari satu tempat ke tempat yang lainnya. Kepada orang-orang yang pernah menyebut daerah bayangan hantu, Mahisa Bungalan mengatakan bahwa daerah itu sebenarnya tidak ada.
Baru beberapa hari kemudian ia sampai di rumahnya. Ayahnya dan kedua adik-adiknya yang pergi ke Singasari rintuk menghadiri upacara wafatnya seorang permaisuri dari seorang Raja yang besar telah kembali pula.
Ketika saat senggang di sore hari, Mahisa Bungalan yang duduk bersama ayahnya mulai menceriterakan perjalanannya. Perjalanan yang sudah sering dilakukannya tentu tidak mempunyai persoalan yang dapat menarik hati ayahnya, jika ia tidak menyebut tiga orang iblis yang berilmu hitam itu.
Mahendra mengerutkan keningnya. Lalu dengan nada ragu-ragu ia bertanya, “Apakah kau benar-benar yakin, bahwa yang kau lihat adalah ilmu hitam yang pernah disebarkan oleh Empu Paguh kira-kira seratus tahun yang lalu.”
“Ayah. Aku belum pernah melihat keturunan atau mu¬rid orang yang bernama Empu Paguh. Tetapi ayah pernah menceriterakan kepadaku, ciri-ciri dari ilmu hitam semacam itu. Dan yang aku lihat adalah ciri-ciri seperti yang ayah ceriterakan kepadaku. Dan seperti yang ayah ajarkan kepadaku pula, aku mencoba untuk memecahkan ilmu itu.”
Mahendra mengangguk-angguk. Katanya, “Ya, aku pernah mengalami pula. Tetapi sudah berpuluh tahun yang lalu, ketika aku masih muda. Seperti ajaran yang aku terima pula, bagaimana melawan ilmu itu, maka aku pun memberikan kepadamu karena sebenarnya aku pun kadang-kadang masih menyangsikan, bahwa ilmu itu benar-benar telah punah. Ternyata seperti saat aku menjumpai ilmu semacam itu, kau pun telah menjumpainya pula. Untunglah bahwa yang kau temui bukannya puncak dari ilmu itu. Jika kau temui puncak dari ilmu itu, maka aku kira kau tidak akan mampu memecahkannya begitu mudah.”
“Apakah dengan demikian berarti, bahwa masih ada orang yang memiliki ilmu hitam yang lebih tinggi dari ketiga orang itu?”
Mahendra termenung sejenak. Ia mencoba mengingat-ingat, apa yang pernah dilakukannya saat itu, selagi ia masih muda. Pada saat ia merasa bahwa ia sudah berada di antara jajaran orang-orang yang memiliki ilmu sempurna, namun yang sebenarnya barulah sekedar impian saja.
“Ketika aku tiba-tiba saja terlempar ke Panawijen dan bertemu dengan seorang anak muda yang mengaku bernama Wiraprana, tetapi yang ternyata adalah Mahisa Agni, barulah aku merasa bahwa aku bukan orang terkuat di dunia.“ katanya di dalam hati. Karena saat itu, Mahendra sama sekali tidak dapat memenangkan perkelahian seorang lawan seorang melawan Mahisa Agni.
Masih terbayang, bagaimana adik seperguruannya, Kebo Ijo mencoba untuk menolongnnya, tetapi justru oleh saudara seperguruannya yang tertua, Witantra, usaha itu telah dicegahnya.
Mahisa, Bungalan termangu-mangu sejenak melihat ayahnya termenung. Namun kemudian ia mendengar ayahnya itu berkata, “Mahisa Bungalan, aku kira masih ada orang yang lebih dalam menguasai ilmu semacam itu. Pada saat aku masih muda, aku sudah menjumpainya. Tentu orang itu pulalah yang kemudian berusaha menurunkan ilmunya kepada murid-muridnya. Aku tidak tahu apakah orang yang pernah aku jumpai itu masih hidup atau sudah mati. Tetapi untuk sementara kau harus tetap beranggapan bahwa masih ada orang yang lebih tinggi ilmurnya dari ketiga orang itu.”
Mahisa Bungalan mengangguk-angguk.
“Karena itu, tidak mustahil bahwa orang itu pada suatu saat akan mencarimu. Bukan saja kau, tetapi juga adik-adikmu dan aku. Bukankah kau menyebut-nyebut namaku.”
“Ya, ayah.”
“Bagiku, sama sekali tidak berkeberatan jika pada suatu saat dihari tua ini, aku masih harus menghadapi iblis-iblis dari neraka itu. Tetapi yang penting adalah persiapanmu sendiri dan barangkali kedua adik-adikmu yang tidak tahu menahu itu pun akan mengalami akibatnya.”
“Mereka masih terlampau muda.”
Mahendra menggelengkan kepalanya. Katanya, “Di Singasari adikmu hampir saja mengalami kesulitan.”
“Ya.“ sahut Mahendra, “Mereka sudah menceriterakan kepadaku, bahwa mereka berdua telah dicegat oleh tiga orang yang tidak dikenal.”
“Nah, jika demikian, maka kau dan adik-adikmu harus mempersiapkan dirimu baik-baik. Mungkin masih ada sedikit kesempatan dihari tua ini untuk membimbingmu memperdalam ilmu yang telah kau miliki.”
Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya sambil menundukkan kepalanya “Maaf ayah. Bahwa sampai saat aku dewasa, aku masih selalu mengganggu ketenangan ayah. Seharusnya aku dapat mengolah bakal yang sudah ayah berikan tanpa menyulitkan ayah lagi, karena memang sudah saatnya ayah beristirahat. “
Mahendra tersenyum. Katanya, “Aku memang tidak akan berbuat apa-apa. Aku hanya akan memberikan beberapa petunjuk. Kau sendirilah yang harus menyempurnakan ilmumu.“ ia berhenti sejenak, lalu, “Dan sebuah peringatan bagimu, bahwa kau masih harus merasa, dan selalu merasa, bahwa yang kau miliki itu sama sekali belum sempurna. Kau masih harus berusaha untuk meningkatkannya setiap saat. Karena aku pernah mengalami suatu masa dimasa mudaku, merasa bahwa seakan-akan aku adalah orang yang tidak terkalahkan. Tetapi ternyata bahwa ilmuku masih terlampau rendah dibandingkan dengan orang-orang lain yang lebih tekun daripadaku.”
Mahisa Bungalan mengangguk-angguk.
“Untuk melengkapi diri.“ berkata Mahendra kemudian, “Kau pun harus menjumpai pamanmu Mahisa Agni. Ia memiliki dasar ilmu yang berbeda dengan dasar ilmu kita dan pamanmu Witantra. Selama ini kau sudah menyadapnya serba sedikit dan telah berhasil kau luluhkan dengan ilmumu. Namun kau wajib berterus terang bahwa kau telah menjumpai sedikit kesulitan dengan ilmu hitam yang kau jumpai itu.”
Mahisa Bungalan mengangguk-angguk.
“Mudah-mudahan ilmu iblis tidak cepat menjalar karena kematian ketiga orang itu.”
“Maksud ayah?”
“Untuk mencari pengikut, mereka mengumpulkan orang sebanyak-banyaknya dan sadar atau tidak sadar, mereka akan mengajari orang-orangnya dengan ilmu semacam itu untuk membantu mereka menghadapi lawan-lawannya. Dan lawan yang dianggap bebuyutan sudah barang tentu kau, aku dan adik-adikmu.”
Mahisa Bungalan mengangguk-angguk pula.
“Nah, pada suatu saat yang pendek, kau harus memberi lakukan kepada paman-pamanmu agar mereka bersiap-siap menghadapi setiap kemungkinan karena nama mereka telah kau sebut-sebut pula.”
“Baiklah, ayah.“ jawab Mahisa Bungalan, “Aku akan segera pergi ke Singasari.”
“Kau jangan membawa adik-adikmu agar tidak timbul persoalan yang lain lagi. Aku menduga, bahwa ketiga orang yang menyerang adik-adikmu itu sama sekali bukan ketiga orang yang kau maksud memiliki ilmu hitam itu.“ Mahendra berhenti sejenak, lalu, “Dengan demikian tidak akan membuatmu bermusuhan dengan banyak pihak yang mungkin tidak dapat kau duga kekuatannya.”
Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Ia mengerti maksud ayahnya. Jika ia pergi bersama adiknya, maka ia pun akan terlibat dalam permusuhan dengan ketiga orang yang pernah menyerang adiknya tanpa sebab. Dan itu berarti bahwa musuhnya telak bertambah.
Mahisa Bungalan sama sekali tidak mengetahui, bahwa tiga orang yang menyerang adiknya itu adalah orang-orang yang justru pernah ditolongnya di daerah yang disebut daerah bayang-bayang hantu, yang hampir saja ikut terkelupas oleh ilmu hitam iblis yang tidak dikenalnya sebelumnya itu.
Demikianlah, maka Mahisa Bungalan pun bersiap-siap untuk pergi ke Singasari menghadap Mahisa Agni. Namun sementara ia masih berada di rumahnya, maka ayahnya telah membawanya setiap malam ke dalam sanggarnya untuk memperdalam ilmu yang pada dasarnya seluruhnya telah diberikan kepada anaknya. Tetapi masa pematangan dan sentuhan pengalaman yang masih jauh dari mencukupi, maka masih banyak yang harus dipelajari oleh Mahisa Bungalan.
“Kau dapat mengambil makna dari keadaan di sekitarmu.“ berkata ayahnya, “Dan kemudian kau terapkan di dalam perkembangan ilmumu.”
“Aku akan mencoba ayah.”
“Kehidupan yang luas dari segenap mahluk yang ada dapat kau pelajari dan kau sadap bagi ilmumu. Pada dasarnya setiap yang hidup akan mempertahankan hidupnya dengan cara apapun. Setiap jenis mempunyai caranya sendiri-sendiri.”
Mahisa Bungalan mengangguk-angguk.
“Kau dapat melihat binatang kecil yang berusaha mele¬paskan dirinya dari binatang-binatang yang jauh lebih besar daripada¬nya untuk tetap hidup. Dan kau melihat bahkan kadang mereka pun dapat berhasil.”
Mahisa Bungalan masih saja mengangguk-angguk. Terbayang sekilas betapa seekor cacing menggeliat jika ujung ekornya terinjak kaki. Dan betapa lemahnya seekor tikus menghadapi seekor kucing. Namun kadang-kadang seekor kucing tidak juga berhasil menangkapnya.
Dengan tekun Mahisa Bungalan melatih diri, menyempurnakan ilmu yang dasarnya sudah dikuasainya. Beberapa petunjuk telah diberikan oleh ayahnya khusus menghadapi ilmu iblis yang ganas itu.
Bahkan untuk menyempurnakan ilmunya, Mahisa Bungalan harus melawan ayahnya yang bertempur dengan cara yang dipergunakan oleh ketiga orang iblis seperti yang diceriterakan oleh Mahisa Bungalan dan yang memang pernah dilihatnya dan dilawannya pada saat Mahendra masih muda.
“Ayah mampu menirukan ilmu itu.” desis Mahisa Bungalan.
Mahendra tersenyum. Jawabnya, “Tentu hanya gerak lahiriahnya saja. Tetapi barangkali dapat kau pergunakan sebagai bahan untuk menyusun perlawananmu.“ ia berhenti sejenak, lalu, “Tetapi seperti yang pernah kau alami sendiri, ilmu hitam itu mempunyai ciri watak tersendiri. Kau sudah berhasil memecahkan tata gerak dari tiga orang iblis itu. Tetapi menurut perhitunganku, mereka bukannya orang-orang yang memiliki ilmu tertinggi, sehingga kau masih harus menyusun cara-cara yang lebih rumit untuk memecahkannya.”
Mahisa Bungalan menyadari kata-kata ayahnya. Karena itu maka ia pun menjadi semakin tekun berlatih di bawah petunjuk-petunjuk ayahnya yang serba sedikit dapat menirukan gerak-gerak lahiriah ilmu hitam itu. Namun yang sedikit itu sudah cukup bagi Mahendra dan Mahisa Bungalan untuk memantapkan ilmu perlawanan mereka, jika pada suatu saat mereka harus bertempur melawan orang-orang yang memiliki ilmu hitam yang lebih tinggi tingkatnya.
Setelah Mahisa Bungalan menjadi semakin masak, khususnya menghadapi ilmu hitam itu, maka Mahendra pun menganjurkan untuk pergi menemui Mahisa Agni. Selain memberitahukan kemungkinan munculnya orang-orang lain lagi dengan ilmu itu, maka Mahisa Bungalan harus memperdalam pula ilmunya dengan gerak dasar yang pernah diperolehnya dari Mahisa Agni.
“Pamanmu tentu tidak akan berkeberatan.“ berkata Mahendra kemudian.
Mahisa Bungalan pun kemudian mempersiapkan dirinya untuk segera berangkat. Kedua adiknya semula ingin mengikutinya. Tetapi ayahnya menahannya agar mereka tidak justru mengganggu kakaknya diperjalanan.
“Kakakmu tidak pergi bertamasya ke Singasari.“ ber¬kata ayahnya, “Tetapi kepergian kakakmu kali ini seperti juga kepergiannya di saat-saat yang lalu, adalah untuk memperbanyak pengalamannya, agar ia dapat mengetrapkan ilmu di dalam kenyataan hidup yang akan dihadapinya di hari-hari mendatang.”
“Bukankah hal itu perlu juga bagi kami?“ bertanya Mahisa Murti.
“Tentu. Tetapi tidak sekarang. Kau harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Lebih-lebih lagi dengan munculnya ilmu hitam yang sudah lama hilang itu.”
“Bukankah kami sudah cukup dewasa?“ bertanya Mahisa Pukat.
Ayahnya tersenyum. Katanya, “Kalian harus tinggal di rumah bersama ayah. Pada saatnya kalian pun akan mengalami masa seperti kakakmu. Tetapi kalian masih harus tekun belajar, sehingga bekalmu mencukupi, sebanyak bekal yang dimiliki kakakmu sekarang.”
Kedua anak muda itu pun menjadi sangat kecewa. Tetapi mereka tidak dapat memaksa agar ayahnya mengijinkannya. Karena itu, maka sambil bersungut-sungut Mahisa Murti bertanya, “Kapankah bekalku menjadi cukup seperti bekal kakang Mahisa Bungalan?”
“Sebentar lagi. Tidak lama. Kau sudah memiliki separoh lebih.”
Mahisa Murti tidak membantah lagi, meskipun ia tidak dapat menyembunyikan perasaan kecewanya.
Dengan beberapa pesan, maka Mahisa Bungalan pun kemudian berangkat ke Singasari menemui Mahisa Agni. Tetapi seperti perintah ayahnya, ia akan singgah di rumah Witantra, untuk memberitahukan pula kepadanya, bahwa ternyata ilmu hitam itu masih belum lenyap sama sekali. Bahkan dengan tiba-tiba telah menjumpainya meskipun belum pada tataran yang tinggi.
Sepeninggal Mahisa Bungalan, maka kedua adiknya pun segera merengek minta agar ayahnya mempercepat waktu penurunan ilmunya kepada mereka.
“Aku sudah cukup dewasa, dan aku masih belum mampu berbuat apa-apa.“ desah Mahisa Pukat.
Mahendra tertawa. Katanya, “Itu pertanda bahwa jiwamu masih belum masak. Jika kau benar-benar sudah dewasa, kau tidak akan dapat minta agar aku mempercepat penurunan ilmu itu kepadamu. Kau bukan pelembungan getah jarak yang dapat ditiup dan melembung menjadi besar. Bahkan pelembuan getah jarak itu pun akan pecah jika kita tidak berhati-hati meniup. Apalagi kau.”
Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia mengerti maksud ayahnya.
Namun karena keinginan yang melonjak-lonjak di dalam dada kedua anak-anak muda itu, maka mereka pun kemudian berlatih semakin tekun. Kapan saja mereka mempunyai kesempatan, maka mereka pun mempergunakannya sebaik-baiknya.
Tetapi ayahnya selalu memperingatkan, “Jangan kalian memaksakan diri untuk mempercepat meningkatkan ilmu kalian dengan cara yang berlebih-lebihan. Dengan demikian, maka kau akan melampaui kemampuan jasmaniahmu, sehingga justru kau akan kehilangan pengamatan atas beberapa segi pemeliharaan tubuh dan kematangan ilmu menurut lapis yang sewajarnya.”
Karena itulah, maka akhirnya betapa pun mereka ingin, namun mereka harus berlatih sesuai dengan petunjuk dan tuntunan ayahnya, setingkat demi setingkat. Namun karena desakan hasrat dan gairah yang mantap, maka semuanya dapat berjalan dengan lancar, secepat rencana ayahnya bagi kedua anak-anak nya yang muda itu.
“Kalian pun harus dapat menjaga diri sehingga pada suatu saat kalian bertemu dengan iblis semacam yang pernah dijumpai oleh kakakmu, kalian akan dapat menyelamatkan diri sendiri, selebihnya dapat menolong orang lain jika mereka memerlukannya.“ berkata Mahendra kepada kedua anaknya yang muda itu.
Ternyata bahwa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memang tidak mengecewakannya. Mereka bukan saja berlatih dengan tekun, namun pada diri mereka memang mengalir darah Mahendra yang memiliki kemampuan ilmu kanuragan yang mengagumkan.
Sementara itu, Mahisa Bungalan telah berada di rumah pamannya. Dengan singkat ia menceriterakan pertemuannya dengan orang-orang berilmu hitam itu.
Witantra mengangguk-angguk. Katanya, “Memang sebaiknya pamanmu Mahisa Agni kau beritahu tentang orang-orang itu. Bahkan sampaikan pesanku, bahwa tuanku Ranggawuni dan tuanku Mahisa Cempaka pun harus mengetahui pula, bahwa di Singasari masih hidup ilmu semacam itu.”
Setelah bermalam beberapa malam di rumah Witantra, dan serba sedikit mendapatkan petunjuk-petunjuk yang berguna baginya bukan saja menghadapi orang-orang berilmu hitam, tetapi juga kekuatan-kekuatan yang mungkin akan mengganggunya selama ia mengembara mencari pengalaman yang bermanfaat bagi masa: mendatang, maka Mahisa Bungalan pun segera minta diri.
“Ilmumu sudah meyakinkan.“ berkata Witantra, “Kau tinggal mematangkannya. Jika kau ingin serba sedikit mendapat bahan dari pamanmu Mahisa Agni, maka kau harus berhasil memadukannya sehingga tidak justru saling mengganggu. Sebelumnya kau memang pernah mempelajari beberapa tata gerak dasar yang pernah diberikan oleh pamanmu Mahisa Agni dalam warna yang lain dari ilmu yang kita miliki, namun jika kau ingin memperdalam, maka kau memerlukan waktu untuk menyesuaikan ilmu kita dan ilmu perguruan Panawijen itu dengan wataknya masing-masing. Perlu kau ketahui bahwa sebenarnya Mahisa Agni pun pernah mendalami beberapa jenis ilmu dari cabang perguruan yang berbeda-beda. Ia pernah menekuni ilmu sudah barang tentu dari gurunya, Empu Purwa dari Panawijen, kemudian juga ilmu dari Empu Sada dan bahkan dari cabang perguruan kita. Maka, agaknya pamanmu Mahisa Agni akan dengan senang hati memberikan beberapa petunjuk dan bahkan arah yang harus kau tempuh untuk meluluhkan ilmu itu, agar kau menjadi orang yang memiliki kemampuan yang cukup untuk menghadapi kenyataan yang kadang-kadang tidak kita kehendaki di atas dunia yang penuh dengan rahasia ini.”
“Aku mohon doa paman, agar aku dapat memenuhi harapan paman dan ayah.”
“Dan harapan banyak orang yang lemah. Karena mereka memang memerlukanmu. Kau mengerti?”
Mahisa Bungalan mengangguk, “Aku mengerti paman.”
Witantra mengangguk. Ia berbangga atas anak muda itu. Anak adik seperguruannya itu agaknya akan dapat menjadi seorang yang memiliki bukan saja kelebihan jasmaniah, tetapi juga rohaniah. Jika ia kemudian menjadi masak lahir dan ba¬tinnya, maka ia akan menjadi seorang yang mumpuni dalam olah kanuragan, tetapi juga seorang yang memiliki pengabdian yang tinggi bagi sesamanya.
Ketika kemudian Mahisa Bungalan berangkat meninggalkannya menuju ke Kota Raja, maka rasa-rasanya Witantra melihat bayangan dari masa lampau. Seorang anak muda yang dengan sepenuh hati mengabdikan dirinya kepada sesama, Mahisa Agni.
Ia berbuat apa saja tanpa pamrih bagi dirinya sendiri. Bahkan kadang-kadang dengan mempertaruhkan nyawanya.
Tetapi ada sesuatu yang tidak dimengerti oleh Witantra. Bahwa, Mahisa Agni pernah terlempar dari gapaian cita-citanya untuk memetik bunga di lereng Gunung Kawi. Untunglah bahwa ia mampu mengendapkan kekecewaannya, dan menyalurkannya pada garis perjuangan hidup yang bermanfaat bagi sesamanya. Seandainya ia gagal dengan penguasaan diri dan kehilangan arah, maka ia adalah orang yang paling berbahaya di dunia pada waktu itu, melampaui Kuda Sempana yang menjadi seolah-olah gila setelah ia kehilangan kemungkinan untuk memiliki Ken Dedes. Namun untung pulalah, bahwa pada saat terakhir Kuda Sempana pun menemukan arah hidupnya yang benar dan berbuat bagi kebenaran, meskipun ia harus mengorbankan hidupnya.
Kenangan jang demikian itulah yang kadang-kadang menimbulkan kebanggaan tetapi juga kerisauan di hati Witantra. Ia pernah mengalami pahit getirnya perkembangan Singasari sejak jaman pemerintahan Akuwu di Tumapel. Ia pernah terlempar dari percaturan pemerintahan setelah ia dikalahkan oleh Mahisa Agni, karena ia membela nama baik adik seperguruannya yang dituduh telah membunuh Akuwu Tunggul Ametung dan dihukum mati, serta namanya telah dihinakan orang.
Witantra menarik nafas dalam-dalam. Kenangan itu berjalan seperti peristiwa-peristiwa yang sebenarnya pernah terjadi, hingga pada suatu saat Mahisa Agni datang kepadanya untuk minta maaf atas segala kekhilafannya.
Namun bagaimanapun juga, Mahisa Agni telah berbuat untuk suatu pengabdian apapun alasannya. Karena ia masih seorang manusia biasa, maka ia pun dapat juga berbuat kesalahan. Dan memang Mahisa Agni pernah berbuat kesalahan. Terapi dalam perbandingan keseluruhan hidupnya, Mahisa Agni adalah seorang manusia yang baik.
“Mudah-mudahan Mahisa Bungalan akan mewarisi sifat-sifat itu jika ia berada dibawah bimbingan Mahisa Agni untuk waktu yang agak lama.“ berkata Witantra di dalam hatinya.
Dalam pada itu, dengan hati yang mantap, Mahisa Bungalan menuju ke Singasari. Ia akan menghadap Mahisa Agni, dan seperti pesan ayahnya dan pamannya Witantra, ia harus bersedia untuk melakukan apa saja yang diperintahkan oleh Mahisa Agni.
Seperti yang diduga sebelumnya, bahwa Mahisa Agni telah menerimanya dengan senang hati. Kehadiran Mahisa Bungalan di Singasari, telah memberikan kegembiraan kepadanya.
Disaat-saat terakhir hidupnya terasa menjadi semakin sepi. Setelah Ranggawuni dan Mahisa Cempaka dinobatkan menjadi Maharaja dan Ratu Angabhaya, maka ia tidak lagi dapat bermain-main dan bercanda lagi dengan keduanya seperti masa-masa sebelumnya. Keduanya telah dikenakan ketentuan-ketentuan yang harus mereka taati. Meskipun pada saat-saat tertentu keduanya masih juga berlatih dibawah bimbingan Mahisa Agni, namun waktunya menjadi semakin terbatas. Semakin tinggi ilmu yang telah dituangkan kepada kedua pimpinan pemerintahan di Singasari itu, maka semakin jarang pula ia bertemu. Bahkan kadang-kadang pertemuannya menjadi bersifat terlampau resmi.
Ranggawuni dan Mahisa Cempaka sendiri sebenarnya tidak ingin membatasi diri pada ketentuan-ketentuan yang demikian. Sejauh mungkin mereka berdua telah melepaskan diri dari segala macam peraturan dan membiarkan Mahisa Agni selalu dekat pada mereka. Namun waktu itu pun rasa-rasanya menjadi sangat terbatas.
Kehadiran Mahisa Bungalan, rasa-rasanya dapat menjadi isi bagi kekosongan yang kadang-kadang terasa di hati Mahisa Agni. Meninggalnya Ken Dedes, terasa membekas juga di hatinya. Meskipun menilik hubungan lahiriah, Mahisa Agni adalah saudara angkat puteri itu, namun sebenarnya ada sesuatu yang lebih dalam daripada itu, yang tersimpan saja di hati Mahisa Agni sejak masa mudanya.
“Kau sebaiknya tinggal di Singasari saja Bungalan.“ minta Mahisa Agni, “Disini kau akan banyak mendapat pengalaman dan sudah barang tentu kemajuan.”
“Terima kasih paman. Memang menyenangkan sekali tinggal bersama paman disini.“ jawab Mahisa Bungalan.
“Kalian akan segera, berkenalan dengan tuanku Ranggawuni dan tuanku Mahisa Cempaka.”
“Aku pernah menghadap paman.”
“Tetapi untuk selanjutnya kau dapat mengabdikan diri disini.”
Mahisa Bungalan tidak menjawab. Tetapi sebenarnyalah ia senang sekali jika ia dapat mengabdikan dirinya di Singasari.
Namun sementara itu, ia pun tidak lupa menyampaikan pesan ayahnya dan pamannya tentang orang-orang yang memiliki ilmu hitam yang ternyata masih tetap berkeliaran.
Mahisa Agni agaknya memang sudah menduga, bahwa ilmu itu tentu masih belum punah sama sekali. Seperti Mahendra, Mahisa Agni pun pernah pada suatu kali melihat dan mengalami benturan dengan ilmu semacam itu, meskipun pada tataran yang tidak terlampau tinggi.
Namun itu bukan berarti bahwa tidak ada tataran ilmu hitam yang lebih tinggi dari yang dijumpainya. Jika didaerah terpencil dan yang disebut daerah bayangan hantu itu ada tiga orang yang memiliki ilmu itu, dan yang karenanya mereka seolah-olah iblis yang tidak dapat dicegah segala kehendaknya, maka di belakang ketiga orang itu tentu masih ada orang-orang lain lagi yang memiliki ilmu semacam itu dan yang bahkan lebih tinggi daripada mereka bertiga, karena tidak mustahil bahwa orang itu adalah gurunya.
“Memang mungkin sekali kematian ketiga orang itu bukan merupakan akhir dari perbuatan-perbuatan serupa.“ berkata Mahisa Agni, “Karena itu, adalah benar pesan ayahmu dan pamanmu Witantra bahwa kita wajib bersiaga. Jika kau memang meninggalkan nama dan hubungan keluargamu di daerah yang semula disebut daerah bayangan hantu itu, maka kita semuanya memang harus bersiap-siap menghadapi setiap kemungkinan yang akan dapat terjadi.”
“Aku memang meninggalkan nama paman. Tetapi bukan sekali-sekali niatku untuk menyombongkan diri. Aku mempunyai perhitungan bahwa dengan demikian orang-orang yang mendendam atas kematian ketiga orang yang berilmu iblis itu tidak akan mencelakai orang-orang yang ada di padukuhan itu. Karena menurut pengamatanku, meskipun semula Ki Buyut pun terlibat dalam perbuatan yang terkutuk, namun ia bersama bebahu yang lain masih belum terhisap dalam ilmu hitam itu, sehingga mereka menurut penglihatanku, akan melepaskan diri dari pengaruh ilmu itu.”
“Bagaimana jika ada beberapa orang yang kemudian menetap di padukuhan itu?”
“Maksud paman, orang-orang yang berilmu hitam itu?“
“Ya.”
“Tentu akan merupakan persoalan paman. Tetapi apa salahnya jika sekali-sekali kita pergi ke tempat itu?”
Mahisa Agni mengangguk-angguk. Katanya, “Ada juga baiknya. Tetapi sebelum kita akan pergi juga kesana, kau harus menempa dirimu lebih dahulu, sehingga kau akan menjadi seorang anak muda yang benar-benar dapat dilepaskan untuk suatu pengabdian.”
“Agaknya memang untuk itulah aku telah dikirim ayah kemari.”
“Sebenarnya kau sudah memiliki segala-galanya. Aku hanya dapat memberikan beberapa kelengkapan dan sudah barang tentu petunjuk-petunjuk yang sebenarnya tidak lebih baik dari yang dapat diberikan oleh ayahmu. Bedanya, bahwa yang dapat aku berikan mempunyai beberapa kelainan ujud dan watak dari yang sudah kau miliki dari ayahmu. Itulah yang menarik, sehingga dengan demikian kau akan mempunyai ilmu yang lebih baik dari yang lain.”
“Itulah yang aku inginkan paman. Seperti paman Mahisa Agni yang memiliki ilmu bukan saja dari perguruan Panawijen tetapi juga dari perguruan yang lain, yang kemudian luluh manunggal menjadi satu di dalam diri paman.”
Mahisa Agni tersenyum. Katanya, “Tetapi puncak-puncak ilmu masing-masing agaknya tidak berada di bawah ilmu yang bercampur baur itu.”
“Tentu ada bedanya paman. Dan perbedaan itulah agaknya yang membuat paman Mahisa Agni mempunyai kelainan pula dari ayah dan paman Wtiantra.”
“Kau benar. Aku memiliki kelainan. Tetapi yang lain itu seperti sudah aku katakan, belum tentu lebih baik dari yang sudah kau miliki.”
Mahisa Bungalan pun tersenyum pula. Katanya, “Paman selalu merendahkan diri. Ayah dan paman Witantra pun berkata demikian.”
“Satu pujian yang terlampau tinggi bagiku, Bungalan.”
“Ayah menceriterakan segala-galanya. Bahkan menurut penilaian ayah, paman memiliki beberapa kelebihan dari Maharaja yang besar di Singasari, Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa Batara Sang Amurwabhumi.”
Mahisa Agni tertawa. Lalu katanya, “Sudahlah. Kau ternyata mendapat beberapa keterangan yang berlebih-lebihan tentang aku dari ayah dan pamanmu. Baiklah. Kau akan membuktikan sendiri, bahwa yang kau hadapi tidak lebih dari aku yang tidak banyak dapat membantumu. Sebaiknya kau beristirahatlah beberapa saat disini, sebelum kau mulai dengan segalanya. Mungkin besok atau lusa, aku dapat membawamu menghadap Maharaja tuanku Ranggawuni yang bergelar Wisnuwardhana dan Ratu Angabhaya, tuanku Mahisa Cempaka yang bergelar Narasimha.”
“Menyenangkan sekali.“ desis Mahisa Bungalan. Terbayang di angan-angannya bahwa pada suatu saat ia akan dapat mengabdikan dirinya di Singasari. Bukan lagi sekedar bertualang tanpa tujuan. Tetapi pengabdiannya akan menjadi terarah.
Karena itulah maka kehadirannya di Singasari membawa banyak harapan dan angan-angan. Bukan karena dengan demikian ia akan mendapat pangkat yang tinggi dan kedudukan yang baik. Namun dengan demikian ia adalah salah satu dari mereka yang sempat mengabdi kepada Singasari.
Demikianlah maka selama dua hari ia berada di Singasari, Mahisa Bungalan benar-benar beristirahat dari segala macam kegiatan. Ia mempergunakan waktunya untuk mengenal kota itu bersama pamannya Mahisa Agni. Namun dari pamannya itu pulalah Mahisa Bungalan mengetahui lebih jelas bahwa pernah terjadi kedua adiknya Mahisa Murti dan Mahisa Pukat diserang oleh tiga orang yang tidak dikenal disuatu tempat dalam kota itu.
“Persoalan dan alasan penyerangan itu pun masih merupakan teka-teki sampai sekarang.“ berkata Mahisa Agni kemudian, “Mungkin karena orang itu mendendam kepada ayahmu, mungkin kepadaku atau pamanmu Witantra. Tetapi mungkin pula karena salah paham.”
Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Tetapi ia pun menyadari, bahwa pusat pemerintahan yang nampaknya tenang dan damai itu, merupakan tempat yang cukup menegangkan.
Didalam ketenangan dan kedamaian itu justru tersimpan seribu macam kemungkinan, seperti tenangnya sebuah kedung, maka sulitlah untuk dijajagi betapa dalamnya.
“Kau pun harus berhati-hati.“ berkata Mahisa Agni, “Di dalam kota ini bercampur baur sikap dan sifat manusia. Keluhuran budi, pengabdian, tetapi juga ketamakan dan pura-pura. Untuk sesaat sikap dan sifat itu dapat menyesuaikan diri dengan serasi, sehingga kota ini nampaknya menjadi tenang dan damai. Tetapi jika terdapat sedikit perubahan pada keseimbangan itu, maka akan dengan mudahnya timbul keributan yang kadang-kadang sulit dikendalikan.”
Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Menilik ceritera pamannya, ternyata kota ini tidak ubahnya dengan daerah yang disebut daerah bayangan hantu. Daerah yang menilik wajannya sepintas merupakan daerah yang tenang dan damai, tetapi isinya adalah kengerian yang tiada taranya.
Tanpa disadarinya Mahisa Bungalan memandang rumah-rumah yang megah yang berdiri di pinggir-pinggir jalan raya. Rumah yang berhalaman luas dan beregol tinggi, dilingkungi oleh dinding batu yang rapat.
Tetapi seperti yang dikatakan pamannya, dibalik dinding batu dan daun pintu regol itu, terdapat rahasia yang seolah-olah tidak dapat dipecahkannya.
“Nampaknya mereka menerima kehadiran tuanku Ranggawuni dan Mahisa Cempaka dengan senang hati. Tetapi kita tidak tahu isi hati seseorang. Mudah-mudahan aku adalah orang tua yang banyak dipengaruhi oleh ketuaanku yang hampir pikun, sehingga kecurigaanku pun sekedar akibat dari gejala-gejala kepikunanku itu.”
“Agaknya kecurigaan paman cukup beralasan.“ sahut Mahisa Bungalan, “Tetapi sudah barang tentu, masih harus dinilai dengan saksama. Apakah yang sebenarnya ada di dalam pusaran Kota Raja yang ramai, sibuk dan gelisah ini, di bawah wajahnya yang tenang dan damai.”
“Itu sudah lebih dari cukup bagimu Mahisa Bungalan.” sahut Mahisa Agni, “Ternyata tanggapan perasaanmu atas Kota Raja ini cukup tajam. Kota yang berisi seribu satu macam persoalan, yang masih menunggu urutan pemecahannya. Namun sementara itu akan timbul persoalan-persoalan baru yang tidak kalah rumitnya. Namun demikian, kami masih beruntung bahwa kota besar ini nampaknya tetap tenang dan damai.”
Dengan demikian maka pada waktu yang pendek itu, Mahisa Bungalan sudah melihat kota itu sepenuhnya. Dari pintu gerbang kota yang satu sampai kepintu gerbang kota yang lain. Ditelusurinya setiap lorong dan jalan yang simpang siur di dalam Kota Raja itu, seolah-olah ia ingin mengetahui segala-gala nya tanpa terlampaui.
Baru pada hari berikutnya, Mahisa Agni sempat mengajak Mahisa Bungalan menghadap Maharaja Singasari dan Ratu Angabhaya, tuanku Ranggawuni dan bergelar Wisnuwardhana dan tuanku Mahisa Cempaka yang bergelar Narasimka.
Ternyata kehadiran Mahisa Bungalan membuat kedua pemimpin pemerintahan yang masih muda itu bergembira.
Apalagi ketika mereka mengetahui bahwa yang datang itu adalah putera Mahendra.
“Ayahmu telah banyak memberikan sumbangsih bagi Singasari.“ berkata Ranggawuni, “Kami mengharap bahwa kau pun akan dapat berbuat serupa.”
“Hamba akan mencoba, tuanku. Tetapi sudah tentu hanya sejauh dapat dilakukan oleh kemampuan hamba yang kerdil.”
Ranggawuni dan Mahisa Cempaka tersenyum. Di antara senyumnya Mahisa Cempaka berkata, “Seperti ayahmu, kau adalah seorang anak muda yang rendah hati. Tetapi justru karena itulah maka kami mempunyai harapan besar padamu dikemudian hari.”
Mahisa Bungalan hanya menundukkan kepalanya saja, sementara Mahisa Agni berkata, “Tuanku berdua. Mahisa Bungalan ternyata telah dititipkan kepada hamba. Ia membawa pemberitahuan tentang orang-orang yang berilmu hitam yang perlu juga tuanku ketahui. Namun selebihnya, sebagai anak-anak muda, maka tuanku berdua akan mendapat kawan dalam mesu diri dan olah kanuragan, karena Mahisa Bungalan memiliki ilmu yang hampir sempurna dari ayahnya, namun yang masih memerlukan penyesuaian pengetrapan dengan persoalan-persoalan yang akan dihadapinya.”
Mahisa Cempaka mengangguk-angguk. Katanya, “Banyak ke¬mungkinan yang akan kau hadapi Bungalan. Ceriterakan ten¬tang orang-orang berilmu hitam itu.”
Dengan singkat Mahisa Bungalan pun segera menceriterakannya penglihatannya atas orang-orang berilmu hitam itu.
“Singasari memang wajib memperhatikan paman.“ berkata Ranggawuni kemudian.
Mahisa Agni mengangguk-angguk. Sebenarnyalah bahwa, orang berilmu hitam itu harus mendapat perhatian khusus. Untuk beberapa lamanya, mereka tentu akan bergerak di bawah bayangan yang gelap. Tetapi pada suatu saat, jika mereka merasa sudah kuat, maka mereka tentu akan muncul dan melakukan kegiatan yang membahayakan ketenangan Singasari.
“Namun demikian.“ berkata Mahisa Agni kemudian kepada Ranggawuni dan Mahisa Cempaka, “Kita tidak perlu cemas. Masih ada waktu untuk mempersiapkan diri, karena mereka pun tentu tidak akan dengan tiba-tiba saja muncul dan mengganggu tlatah Singasari. Namun demikian, sudah barang tentu bahwa kita harus tetap waspada menghadapi setiap kemungkinan.”
Demikianlah maka kehadiran Mahisa Bungalan di Singasari telah memberikan kesibukan baru bagi Mahisa Agni, tetapi juga bagi Ranggawuni dan Mahisa Cempaka didalam olah kanuragan. Kadang-kadang mereka mencari kesempatan di antara kesibukan mereka di dalam pemerintahan, untuk berlatih bersama-sama. Dengan demikian mereka mendapatkan pengalaman baru yang dapat saling menguntungkan.
Dengan langsung kedua belah pihak mendapat sentuhan baru pada ilmu masing-masing. Sedangkan Mahisa Agni mencoba untuk mengemukakan unsur baru dari luluhnya kedua ilmu yang bersumber dari perguruan yang berbeda.
Namun ternyata kemudian bahwa Mahisa Agni tidak saja menuntun mereka pada landasan yang sempit. Seperti Mahisa Agni sendiri, maka mereka pun mendapatkan beberapa unsur dasar dari beberapa cabang perguruan yang berbeda, sehingga dengan demikian, kehadiran Mahisa Bungalan di Singasari bukannya tanpa arti bagi Ranggawuni dan Mahisa Cempaka.
Para pemimpin pemerintahan yang membantu Ranggawuni dan Mahisa Cempaka kadang-kadang menjadi bingung karena keduanya telah meninggalkan bangsalnya tanpa diketahui oleh siapa pun juga, selain satu dua orang kepercayaannya. Tidak seorang pun yang mengetahui, bahwa keduanya telah pergi bersama Mahisa Agni dan Mahisa Bungalan, mencari tempat yang sepi untuk memperdalam ilmu mereka masing-masing.
Dalam pada itu, selagi Mahisa Agni mencoba untuk meningkatkan ilmu ketiga anak-anak muda itu, maka di ujung hutan di kaki Gunung Lawu, berkumpul beberapa orang yang nampaknya memang sedang mengasingkan diri.
Seorang yang berambut putih, bertongkat sepotong besi baja, dekerumuni oleh beberapa orang muridnya yang sedang mendengarkan penjelasannya.
“Siapakah yang membawa kabar itu?“ orang berambut putih itu bertanya.
“Empu Baladatu.“ sahut seseorang di antara mereka yang berkerumun itu, “Aku sengaja mencari mereka bertiga seperti yang Empu perintahkan. Gejala-gejala kehadirannya dapat aku cium di suatu padukuhan yang disebut daerah bayangan hantu. Daerah yang tidak dapat dikenal oleh siapa pun juga. Siapa yang tersesat masuk ke daerah itu, maka ia tidak akan dapat keluar lagi.”
“Hem.“ Empu Baladatu mengangguk-angguk.
“Yang nampak hanyalah sudut lorong kecil di tengah- tengah hutan. Jika kita memasukinya, maka kita akan sampai ke seberang hutan, ke sebuah padukuhan. Padukuhan yang berada di daerah bayangan hantu.”
“Hem.“ orang berambut putih itu berdesis lagi.
“Daerah yang disebut daerah bayangan hantu itulah yang memberikan pertanda kehadiran ketiga orang saudara kami yang hilang itu.”
“Dan kau berhasil menemukan mereka?”
Orang itu menggeleng. Jawabnya, “Tidak Empu. Kami tidak menemukun mereka. Beberapa hari kami berempat bersembunyi di hutan itu untuk melihat kebenaran dugaan kami. Tetapi yang kami ketemukan adalah asap pembakaran sebuah bangsal pemujaan yang telah dibakar oleh Ki Buyut padukuhan itu, bersama dengan hilangnya ketiga saudara kami itu untuk selama-lamanya.”
“Gila.“ Empu Baladatu menggeram, “Dan kau tidak berbuat apa-apa.”
“Aku menunggu perkembangan keadaan. Aku datang kepadukuhan itu sebagai orang-orang yang lembut. Namun dengan demikian kami dapat menyadap rahasia padukuhan itu. Ketiga saudara kami memang ada di sana. Mereka berhasil mempengaruhi Ki Buyut yang sedang diamuk oleh dendam dan kecewa. Demikian juga isterinya yang menjadi hampir gila karena selalu diburu oleh ayah tirinya. Dengan memanfaatkan keadaan itulah, maka Ki Buyut telah membuat sebuah bangsal pemujaan lengkap dengan peralatannya.”
“Agaknya ketiga saudaramu ini ingin menyaingi aku.”
“Itulah dosa dan kesalahan mereka, sehingga tidak terampuni lagi. Mereka mati terbunuh oleh seorang anak muda yang tiba-tiba saja hadir di daerah bayangan hantu itu.”
Empu Baladatu mengangguk-angguk.
“Bangsal itu telah lengkap, sebelum menjadi abu.“ berkata salah seorang murid Baladatu itu, “Berbagai alat untuk memeras darah dari tubuh seseorang yang masih tetap hidup dapat diketemukan di dalam bangsal itu.”
“Hem. Aku memerlukan bangsal semacam itu.”
“Yang tinggal adalah abunya.”
“Siapakah yang membunuh ketiga orang yang memang sudah sepantasnya mati itu?”
“Namanya Mahisa Bungalan.”
“Orang yang tidak banyak dikenal namanya. Memalukan sekali. Tiga orang murid-muridku, meskipun mereka lari dari perguruannya, dapat dikalahkan oleh seseorang yang tidak berarti sama sekali.”
Murid-murid Empu Baladatu tidak menyahut. Mereka pun menjadi panas karena kematian ketiga saudara seperguruannya. Meskipun ketiga orang itu lari dari perguruannya, dan beberapa orang diantara mereka mendapat perintah untuk menangkapnya hidup atau mati, namun kekalahan yang dialaminya dari orang yang tidak banyak disebut namanya, membuat mereka menjadi merasa terhina.
Namun dalam pada itu, salah serang dari mereka yang mencari ketiga saudara seperguruan yang lari itu berkata, “Guru menurut pendengaran kami kemudian, orang yang telah membunuh ketiga saudara kami itu adalah anak seorang yang dekat dengan istana Singasari. Namanya Mahendra.”
“Mahendra.“ desis Empu Baladatu, “Aku memang pernah mendengar nama itu. Tetapi nama itu pun sama sekali tidak penting bagiku.”
“Mahendra tentu mempunyai hubungan dengan beberapa orang Singasari lainnya.“ sahut muridnya yang lain. “Orang-orang dari padukuhan yang ditinggalkan itu mengatakan bahwa Mahendra mempunyai saudara seperguruan yang bernama Witantra dan bergelar Panji Pati-pati. Sedangkan nama-nama lain yang disebutnya adalah Mahisa Agni, Lembu Ampal dan aku tidak ingat lagi yang lain.”
Empu Baladatu mengangguk-angguk. Katanya, “Aku pernah mendengar nama Mahisa Agni dan Panji Pati-pati. Mereka adalah orang yang memiliki ilmu yang tinggi.“ ia berhenti sejenak, lalu, “Tetapi kemampuan mereka adalah kemampuan manusia sewajarnya. Sedangkan kita memiliki kemampuan yang lain dari bekal kemampuan kita sendiri. Ada masalah gaib yang membuat kita menjadi orang-orang yang sempurna. Jika ilmu kalian sudah mencapai tingkat yang lebih tinggi maka kalian akan dapat berbuat seperti yang aku lakukan. Tangan kalian akan dapat menyemburkan api, dan dari mulut kalian akan dapat memancar bisa setajam bisa ular. Pada saatnya kita akan menguasai Singasari dan bahkan seluruh muka bumi. Tidak ada lagi orang yang dapat mempelajari ilmu seperti yang sedang kita pelajari sekarang, meskipun dengan taruhan yang agak mahal. Dengan mengorbankan beberapa nyawa setiap waktu tertentu. Tetapi tidak ada usaha yang tanpa mempertaruhkan korban.”
Murid-muridnya mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Kita tidak berkecil hati bahwa tiga orang murid per¬guruan ini terbunuh, meskipun kita tersinggung karenanya. Mereka belum memiliki ilmu yang cukup untuk menyombongkan diri seperti yang mereka lakukan. Akibatnya harus mereka tanggungkan sendiri. Mati tanpa arti apapun juga bagi dirinya sendiri, dan bagi kita semuanya. Jika mereka tertangkap hidup oleh kalian, maka mereka adalah korban yang paling baik bagi kita karena dalam diri mereka pun telah tersimpan ilmu seperti yang sedang kalian sadap.”
Murid-muridnya masih saja mengangguk-angguk.
“Karena itu.“ berkata gurunya pula, “Kalian harus bekerja lebih keras. Ada tanda-tanda bahwa ilmu kita telah tercium oleh orang-orang yang bernama Mahendra, Panji Pati-pati, Mahisa Agni Lembu Ampal dan lain-lainnya. Tetapi pada suatu saat me¬reka harus mengakui, bahwa mereka akan mati karena kesombongan mereka, seolah-olah tidak ada orang lain yang pada suatu kesempatan akan membunuh mereka dengan cara yang paling baik.“ ia berhenti sejenak, lalu, “Sejak saat ini kita akan berlatih semakin tekun dengan korban yang semakin teratur. Kita memerlukan darah yang menitik dari luka.“ sekali lagi ia berhenti sambil menarik nafas, “Namun kita tidak dapat menahan diri dengan tidak berbuat apa-apa atas kematian tiga orang murid-muridku yang gila itu. Meskipun aku akan membunuhnya juga, tetapi aku tetap akan menuntut balas atas kematian mereka. Setidak-tidaknya Mahisa Bungalan itulah yang harus dibunuh, sebelum Mahendra, Witantra, Mahisa Agni dan yang lain-lain.”
“Mahisa Bungalan adalah korban yang sangat baik buat kita, guru.”
“Itulah yang sedang aku pikirkan. Jika kita dapat menangkapnya hidup, maka ia akan menitikkan darah yang sangat berharga bagi kalian.”
“Jadi, apakah maksud guru ada beberapa orang di antara kami yang harus mencari anak muda yang bernama Mahisa Bungalan itu?”
“Tetapi kalian harus mengukur diri. Yang akan berangkat adalah dua orang yang memiliki bekal cukup. Ingat, Mahisa Bungalan dapat membunuh tiga orang saudara seperguruanmu. Sehingga dengan demikian, yang pergi mencarinya harus murid-muridku yang lebih tinggi tingkatnya dari ketiga orang yang telah terbunuh itu.”
Dari antara beberapa orang murid itu, seseorang yang bertubuh pendek, namun berdada bidang dan hampir diseluruh tubuhnya dijalari oleh otot-otot yang kuat, berkumis lebat dan melintang hampir sampai ketelinganya, mengacungkan tangannya sambil berkata, “Apakah guru akan mempercayakan tugas ini kepadaku?”
Empu Baladatu mengerutkan keningnya. Orang itu adalah muridnya yang terpercaya. Namun demikian ia menjawab, “Jika kau akan pergi, janganlah pergi seorang diri. Jika kau tidak berhasil menyingkirkan dirimu dari Mahisa Agni, Witantra dan Mahendra, maka kau harus bertempur. Karena itu, kau harus membawa seorang atau dua orang kawan. Kawan yang dapat kau percaya.”
Orang berkumis lebat itu mengerutkan keningnya. Hampir diluar sadarnya ia berpaling kepada saudara seperguruannya yang hampir setingkat dengan dirinya. Seorang yang bertubuh sedang, meskipun agak kekurus-kurusan sedikit.....
Bersambung...!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar